• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 DATA ANALISA. 2.1 Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 DATA ANALISA. 2.1 Penelitian"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

DATA ANALISA

2.1 Penelitian

Jenis Penelitian yang digunakan oleh peneliti, yaitu penelitian Etnografi. Dimana peneliti melakukan sebuah studi lapangan secara langsung dengan memberikan perhatian pada hal-hal yang terjadi di seputar keraton, yang berkaitan dengan sistem yang berlangsung didalamnya mulai dari sejarah, sampai antusiasme pengunjung yang datang ke keraton-keraton yang berada di Cirebon. Tidak hanya itu, penulis mempelajari sejarah keraton melalui sumber-sumber artefak yang berada didalamnya.

2.1.1 Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian yang dilakukan kali ini, pendekatan yang dilakukan ialah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan, karena pada dasarnya data-data yang akan diperoleh peneliti nantinya tidak akan dikuantifikasi. Karena penelitian yang dilakukan lebih kepada penggambaran suatu sikap masyarakat terhadap eksistensi keraton, dan keraton itu sendiri. 2.1.2 Lokasi Penelitian

Dalam hal ini, lokasi penelitian yang diambil oleh penulis ialah kota Cirebon, yang mana didalamnya tersebar empat lokasi keraton tersebut.

2.2 Sumber Data

Dalam melakukan penelitiannya, penulis memperoleh data dari beberapa sumber, baik yang sifatnya primer, maupun yang sekunder. Pengumpulan data tersebut bertujuan untuk mendukung penelitian, adapun data yang diperoleh sebagai berikut;

Data Primer, dari sumber langsung: • Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan

• Bapak Eka Supriyatna selaku penduduk asli Cirebon dan pengamat Sejarah Cirebon.

• Bapak Chaerul Soleh selaku Kabid I dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Cirebon.

• Rosdiana dan Lisna selaku pemandu wisata kawasan Keraton Kasepuhan. • Bapak Elang Bandi, Selaku staff kesultanan Keraton Kasepuhan.

• Bapak Nur Rochim (Aim) Selaku staff kesultanan Keraton Kanoman. • Bapak Nono selaku staff kesultanan Keraton Kacirebonan dan

Keprabonan.

(2)

Data Sekunder, dari Dokumen atau Tinjauan pustaka

• Agustina, Lia Lestari. 2000. Ragam Hias Keraton Kasepuhan dan Kanoman Kasultanan Cirebon. Universitas Indonesia

Irianto, Bambang . 2012. Bendera Cirebon. Jakarta. Museum Tekstil Indonesia.

Irianto, Bambang dan Dyah Komala. 2012. Baluarti Keraton

Kacirebonan. Perpustakaan Nasional RI.

Argadikusuma, E Nurmas. 1998. Baluarti Keraton Kasepuhan Cirebon. Cirebon.

Tim Yayasan Mitra Budaya Indonesia. 1982. Cerbon. Yayasan Mitra Budaya Indonesia. Sinar Harapan. Jakarta.

Sedyawati, Edy. 2006. Budaya Indonesia (Kajian Arkeologi, Seni dan

Sejarah). Bentang Budaya. Jakarta.

Supriyatna, Agus. 2011. Napak Tilas Keraton Kanoman. Jakarta: Koran Jakarta.

Dinas Pemuda Olah Raga Kebudayaan dan Pariwisata. 2010. Pesona

Wisata dan Seni Budaya Kota Cirebon. Cirebon Sumber data Online (Internet)

• http://www.tripadvisor.co.id • http://www.cirebonkab.go.id • http://wisatacirebon.com/ • http://www.disparbud.jabarprov.go.id • http://www.indotravelers.com/jawa-barat/cirebon/index.html • http://budayacirebon.wordpress.com

2.3 Metode Pengumpulan Data Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data, yang dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan keterangan secara lisan melalui proses percakapan secara langsung dan berhadapan dengan muka orang yang dapat memberikan data penelitian.(Mardalis. 2006. Metode penelitian suatu pendekatan proposal). Metode ini dianggap penting dilakukan oleh peneliti, karena dengan metode ini diharapkan dapat memeroleh data yang valid dan lebih teruji, adapun wawancara yang dilakukan dengan nara sumber berikut:

• Bapak Eka Supriyatna selaku penduduk asli Cirebon dan pengamat Sejarah Cirebon.

• Bapak Chaerul Soleh selaku Kabid I dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Cirebon.

• Rosdiana dan Lisna selaku pemandu wisata kawasan Keraton Kasepuhan. • Bapak Elang Bandi, Selaku staff kesultanan Kasepuhan.

• Bapak Nur Rochim (Aim) Selaku staff kesultanan Kanoman. • Bapak Nono selaku staff kesultanan Kacirebonan dan Keprabonan.

(3)

Dokumen

Tidak kalah penting dari metode-metode lainnya, metode pengumpulan data melalui dokumen juga sangat penting dalam penelitian. Yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan transkrip, buku, majalah, koran, notulen, prasasti, tabloid, brosur, booklet dan sebagainya (Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik). Adapun dokumen serta naskah yang digunakan peneliti ialah:

Ragam Hias Keraton Kasepuhan dan Kanoman Kasultanan Cirebon. Bendera Cirebon.

Baluarti Keraton Kacirebonan. Baluarti Keraton Kasepuhan Cirebon. Cerbon.

Budaya Indonesia (Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah). Napak Tilas Keraton Kanoman.

2.4 Analisa Data Penelitian 2.4.1 Teori Kebudayaan

“…Kata Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi yang berarti akal dan budi, sehingga kebudayaan disangkut pautkan dengan kebudayaan dan akal. Adapun istilah lain mengenai Kebudayaan adalah berasal dari bahasa asing yaitu culture, yang bermuara dari bahasa latin colere yang artinya ialah mengolah dan mengerjakan. Dari kata tersebut munculah makna bahwa culture ialah kegiatan mengolah atau mengerjakan alam…”. Koentjaraningrat dalam (Soerjono Soekanto. 1982:150 )

Dalam perjalannnya kemudian kebudayaan bertransformasi menjadi sesuatu pengertian yang tidak lagi sederhana, berkembang menjadi sebuah pengertian, bahwa budaya merupakan sebuah kegiatan untuk mengubah dan mengolah serta memanfaatkan kekayaan alam yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu peninggalan atau peradaban bagi masyarakat selanjutnya, karena pada dasarnya unsur geografis tiap wilayah memiliki karakter yang bebeda-beda, maka cara manusia mengolah dan memanfaatkan nya pun berbeda, sehingga kebudayaan yang muncul dari setiap wilayah juga berbeda pula, sehingga setiap wilayah dapat dipastikan memiliki kebudayaannya masing-masing.

Soerjono Soekanto (1982:154) menyatakan “Adapun unsur-unsur kebudayaan yang dianggap sebagai Cultural Universals adalah;”

• Peralatan dan perlengkapan kehidupan manusia • Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi • Sistem kemasyarakatan

Bahasa, baik verbal maupun non-verbal • Kesenian

• Sistem pegetahuan

(4)

2.4.2 Teori Akulturasi Budaya

Menurut peneitian “Akulturasi memiliki banyak definisi…”(Soerjono Soekanto 2005:155) dimana akulturasi pada dasarnya ialah sebuah proses sosial adaptif masyarakat, yang muncul ketika masyarakat dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing sehingga dalam jangka waktu tertentu melalui tahap adaptasi, kebudayaan asing tersebut dapat diterima secara perlahan lahan dan diolah kedalam kebudayaannya sendiri tanpa kehilangan kebudayaan lama yang telah mengakar di masyarakat tersebut. Proses akulturasi pun telah ada sejak zaman dahulu kala. Indonesia merupakan salah satu contoh negara yang memiliki tingkat akulturasi budaya yang begitu majemuk, begitu kompleks, karena Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan, hal tersebut menjadikan posisinya begitu strategis, karena diapit oleh dua benua dan dua samudera, hal ini serta merta menjadikan Indonesia sebagai pusat pelabuhan dunia, tidak hanya itu, posisi tersebut menjadikannya sebagai negara yang memiliki percampuran budaya yang luas, dan memiliki hibriditas tinggi, karena hampir setiap kebudayaan Indonesia merupakan perpaduan dari kebudayaan lain yang secara perlahan menyatu dengan kebudayaan awal masyarakat.

2.4.3 Cirebon dan Akulturasi Budayanya

Menurut Manuskrip Purwaka Caruban Nagari, pada abad 15 di pantai Laut Jawa ada sebuah desa nelayan kecil bernamaMuara Jati . Pada waktu itu sudah banyak kapal asing yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat.

”…Ki Gedeng Alang-Alang kemudian memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon. Pada Perkembangan selanjutnya, Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan Gelar Cakrabumi. Pangeran inilah yang mendirikan Kerajaan Cirebon, diawali dengan tidak mengirimkan upeti kepada Raja Galuh.

Raja Galuh kemudian mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang. Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon dengan Raja bergelar Cakrabuana. Berdirinya kerajaan Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara…” (Mitra Budaya Indonesia. 1982. Cerbon)

Cerita tersebut kemudian lantas berkembang, sehingga menimbulkan pendapat bahwa dikemudian hari Cirebon berasal dari kata Caruban yang berarti percampuran, hal ini lantas menjadi pertanda bahwa sudah dapat terlihat kaitan Akulturasi budaya memang telah ada sejak zaman dulu. Sebagai pusat pelabuhan internasional, menjadikan Cirebon sebagai tempat persinggahan masyarakat dari kebudayaan lain, baik Eropa, Timur tengah, Cina dan Afrika, melalui proses asimilasi budaya, maka terjadilah penerimaan budaya baru dengan budaya lama yang mengakibatkan sebuah akulturasi budaya. Akulturasi tersebut menyisakan peradaban yang kaya untuk wilayah Cirebon, banyak peninggalan-peninggalan yang merupakan bukti nyata adanya akulturasi di Cirebon. Bahkan akulturasi tersebut menyentuh sampai tingkat pusat pemerintahan yang dahulu berada di keraton.

(5)

Sehingga keraton-keraton di Cirebon sendiri mengalami dampak akulturasi yang dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan yang berada di dalamnya.

2.4.4 Definisi Keraton, dan Berdirinya Keraton-Keraton di Cirebon Keraton merupakan sebuah bangunan yang terdiri dari beberapa bagian bangunan, yang berfungsi sebagai tempat tinggal raja dan ratu menetap dan memerintah.

Dengan demikian sama halnya, bahwa keraton Cirebon merupakan sebuah pusat pemerintahan tempat Raja dan Ratu tinggal, sekaligus memerintah kota Cirebon. Sejarah awal kesultanan Cirebon berdasarkan Baluarti Keraton Kasepuhan, ialah di mulai dalam Keraton Pakung Wati, dimana pada tahun 1430 Pangeran Cakrabuana sang putra mahkota Pajajaran membangun sebuah keraton yang dipersembahkan kepada anaknya Ratna Ayu Pakungwati. Kemudian Ratna Ayu Pakungwati menikah dengan sepupunya yaitu anak dari adik pangeran Cakrabuana, Putra Mas Larasantang yang dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Setelah itu Sunan Gunung Jati menetap di Cirebon dan memimpin Cirebon.

Pada masa selanjutnya dibangun keraton baru yaitu keraton Kanoman. Karena sebagai keraton muda maka dinamakan Kanoman, sedangkan keraton Pakungwati sebagai yang sepuh, maka dinamakan keraton Kasepuhan. Kemudian dalam perjalanannya, unsur politik mewarnai pemerintahan dalam keraton yang menyebabkan Keraton Kanoman membangun keraton baru yaitu Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabonan yang lebih berfungsi sebagai pusat kesenian dan peguron.

2.4.5 Keraton-Keraton di Cirebon

Keraton di wilayah Cirebon sendiri terdapat empat buah, yaitu; Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keprabonan. Keraton-keraton tersebut lahir melalui sejarah yang cukup panjang lewat permasalahan politik dan intervensi kekuasaan Belanda terhadap penguasa keraton pada waktu itu.

Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan, merupakan keraton tertua yang berada di Cirebon, itulah sebabnya keraton Kasepuhan dinamakan Kasepuhan yang berasal dari kata sepuh . bagian setiap keraton ini pun dikenal paling banyak memiliki makna sejarah didalamnya. Setiap inchi dari bangunan ini memiliki sejarah dan filosofinya sendiri, tidak heran keraton kasepuhan menjadi keraton yang paling banyak dikunjungi masyarakat, karena dari keraton inilah lahir keraton-keraton lain.

(6)

Keraton Kanoman awalnya adalah pusat peradaban keraton Cirebon yang kemudian terpecah menjadi beberapa bagian: Kacirebonan dan Keprabonan. Keraton ini merupakan salah satu jejak peninggalan Sunan Gunung Jati. Keraton ini terbilang masih teguh dalam memegang pakem-pakem serta adat istiadat. Diantaranya melangsungkan acara-acara grebeg khas keraton. Keraton Kanoman terletak di wilayah Kanoman, didepan keraton sendiri terdapat pasar yang menjadi gerbang utama sebelum memasuki kompleks keraton Kanoman. Didalam keraton ini masih tersimpan benda-benda peninggalan jaman Sunan Gunung Jati seperti kereta Paksi Naga Lima dan Jempana yang masih terawat dengan baik hingga saat ini. Hal menarik yang berada di keraton ini ialah museum yang banyak menyimpan benda-benda bersejarah lain seperti piring-piring serta keramik peninggalan dari Cina. Selain itu berbagai macam hasil rampasan perang pun masih bisa dijumpai dimuseum keraton. Dibagian depan juga terdapat alun-alun untuk dilaksanakannya kegiatan masyarakat seperti muludan atau acara sura’an.

Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan merupakan pecahan dari keraton Kanoman, keraton ini berdiri lebih sebagai pusat kesenian bagi keraton, sejarah awal keraton ini dimulai Setelah Pangeran Aria Cirebon meninggal, Kacirebonan awal ditiadakan oleh Belanda, selain itu campur tangan Belanda terhadap kehidupan keraton semakin sewenang-wenang, akibatnya semua warga keraton memilih untuk pergi dari Kacirebonan karena tidak suka dengan sikap Belanda.

Berdasarkan penelitian melalui literatur “...Karena masyarakat merasa enggan dengan Belanda maka pemberontakan pun marak dilakukan, Pemberontakan yang dilakukan rakyat semakin meluas sehingga Belanda menganggap harus benar-benar menangkap dan mengasingkan Raja Kanoman. Setelah raja diasingkan dan masyarakat memintanya kembali, akhirnya sang raja kembali dan memiih untuk tidak memerintah, dan memutuskan hubungan dengan Belanda. Sampai akhirnya sang raja tidak mendapatkan hak apapun dari Belanda. Sampai akhirnya istri rajalah yang berinisatif mengumpulkan hak-hak raja atas kerjanya terhadap Belanda untuk kemudian membangun keraton ini, dan diwariskan pada anaknya...” (Irianto.2012:4)

Keraton Keprabonan

Keprabonan pada dasarnya adalah sebuah peguron yang berarti sebuah kantor pembantu kesultanan keraton. Dalam perkembangannya keraton keprabon merupakan tempat untuk memperdalam dan belajar ilmu keagamaan, sehingga keprabonan lebih menjadi pusat belajar keagamaan bagi kasultanan Cirebon. Didalamnya juga terdapat pesantren yang menjadi tempat menimba dan mengajarkan ilmu agama.

(7)

2.4.6 Keraton kini

Pada perkembangannya kini Keraton sudah banyak mengalami pergeseran fungsi. Setelah munculnya sistem demokrasi di masyarakat, maka sistem kekuasaan secara feodal dihapus digantikan dengan sistem pemerintahan yang demokratis. Hal ini lantas membuat keraton tidak lagi memiliki sebuah legitimasi atas rakyatnya, kewibawaan keraton kini menurun, sehingga pada masa sekarang keraton lebih berfungsi sebagai sebuah pusat kebudayaan. Tidak hanya itu, modernisasi serta masalah perekonomian membuat semua lapisan masyarakat yang berada dalam lingkungan keraton berpikir lebih rasional, hal ini dibuktikan kini banyak sultan-sultan yang telah membaur menjadi masyarakat biasa yang memiliki kehidupan yang sama dengan rakyat pada umumnya.

Bahkan dari mereka kini banyak yang terjun menjadi pengusaha dan memiliki rumah pribadi diluar lingkungan keraton, selain itu banyak anak-anak sultan pun yang telah mengenyam pendidikan diluar keraton bahkan sampai keluar negeri. Hal ini pelak membuktikan bahwa relevansi kehidupan keraton dengan gerusan globalisasi dan modernitas memang sudah tidak lagi sejalan, sehingga upaya-upaya adaptif pun dilakukan pihak keraton untuk bertahan hidup di era global. Meskipun demikian, usaha mereka untuk tetap melestarikan warisannya masih terlihat, hal ini ditunjukan dari acara-acara seperti grebeg, pajang jimat dan sebagainya yang masih dilakukan hingga saat ini, bukan hanya itu masyarakat pun masih antusias dalam merayakan tradisi tersebut, hanya saja konteks pemahamannya berbeda dengan konteks pemahaman masa lalu.

2.4.6 Masyarakat kini dan Keraton

Meskipun masyarakat masih memperlihatkan antusiasmenya terhadap kehidupan keraton, namun gilasan modernisasi jauh lebih mendominasi pola pikir masyarakat. Hal ini menyebabkan sikap masyarakat, khususnya masyarakat modern menjadi lupa akan sejarah, dalam hal ini keraton. Keinginan mereka dalam mengenal keraton pun terkikis oleh laju modernisasi. Sehingga menjadikan keraton dan sejarahnya luput dari perhatian.

2.5 Data Wisatawan ke Cirebon

2.5.1 Komparasi wisatawan kota Cirebon dan kunjungan ke Keraton Berikut ini adalah gambar tabel keterangan jumlah wisatawan, baik dalam maupun luar negeri yang datang ke kota Cirebon di tahun 2012.

(8)

No Bulan Wisatawan Jumlah Wisman Wisnus 1 Januari 57 22111 79111 2 Februari 71 27231 98231 3 Maret 84 18578 102578 4 April 102 12713 114713 5 Mei 87 15145 102145 6 Juni 132 20838 152838 7 Juli 124 20594 144594 8 Agustus 104 27797 131797 9 September 153 23364 175364 10 Oktober 143 22443 165443 11 November 151 23925 174925 12 Desember 53 19745 19798 Jumlah 1261 253484 254745

Table 2.1 Tabel Data Pengunjung Kota Cirebon tahun 2012

Dari tabel berikut, dapat diperoleh keterangan, bahwa pengunjung yang datang mengunjungi kota Cirebon ditahun 2012 mengalami peningkatan setiap bulannya. Merujuk pada data diatas, bisa dikatakan bahwa faktanya perkembangan pariwisata kota Cirebon menunjukan peningkatan yang positif. Hal ini berarti, Cirebon memiliki banyak potensi wisata yang sangat menarik, karena terbukti dari tingginya antusiasme para pengunjung yang mengunjungi kota ini.

Melihat data tersebut, hal yang dikomparasi oleh peneliti ialah jumlah wisatawan yang datang ke Cirebon dan pengunjung yang datang ke keraton-keraton di Cirebon, yang ternyata tidak berbanding lurus, karena berdasarkan pengamatan peneliti, ternyata jumlah pengunjung yang mengunjungi keraton tidak lah terlalu banyak, kebanyakan para wisatawan berkunjung untuk sekedar wisata yang sifatnya komersil atau kepentingan ziarah ke makam-makam suci di Kota Cirebon.

2.5.2 Data Pembanding

“CIREBON (bisnis-jabar.com) – Tingkat kunjungan wisatawan di Kota Cirebon sepanjang 2012 meningkat sekitar 20% dari tingkat kunjungan tahun lalu yang hanya mencapai 360.807 orang. Berdasarkan data dari Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon hingga Desember 2012 tercatat 433.000 wisatawan yang berkunjung di sejumlah hotel dan obyek wisata di Kota Cirebon. Kabid Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon Chaerul Soleh mengatakan untuk peningkatan kunjungan wisatawan di Kota Cirebon pada 2012 sebesar 20% disumbang oleh kunjungan wisatawan asing yang bertambah sebanyk 1.391 orang, dan wisatawan domestik sebanyak 70.802 orang. Hal ini boleh dikatakan berbanding lurus dengan jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia dimana dikutip dari badan pusat statistik bahwa “Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada

(9)

Agustus 2012 mencapai 634,2 ribu orang atau naik 2,11 persen dibandingkan jumlah wisman Agustus 2011, yang sebesar 621,1 ribu orang” keduanya mengalami kenaikan meski persentasi kenaikannya berbeda…” (sumber Koran Bisnis Jabar)

Data diatas jelas menjadi parameter mengenai kemajuan pariwisata Indonesia dan juga Cirebon yang semakin membaik tiap waktunya. Hal tersebut tentu tidak boleh disia-siakan, butuh adanya upaya untuk menciptakan media-media pendukung agar keingintahuan masyarakat tentang potensi wisata yang ada dapat terpenuhi. Selain itu mengingat potensi yang begitu positif, seharusnya dinas pariwisata kota Cirebon, harus bisa mengklasifikasikan jenis pariwisata kedalam kelompok tertentu, terutama wisata budaya, hal ini agar bisa dijadikan parameter lanjutan mengenai peran serta masyarakat dalam mengenal dan mempelajari budayanya sendiri

2.6 Data Khalayak

2.6.1 Consumer Behaviour

Perilaku Konsumen yang menjadi bidikan dari proyek ini adalah konsumen yang pada dasarnya berasal dari kalangan menengah atas, dimana rata-rata dari mereka berpikiran sangat terbuka dengan perubahan, dan akrab dengan modernisasi dan globalisasi, mereka juga senang dengan hal-hal baru, memiliki mobilitas yang tinggi dan aktivitas yang cukup padat. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk menyukai hal-hal yang sifatnya modern dan komersil.

2.6.2 Data Demografi • Usia: 30-40 tahun • Gender: Pria dan Wanita • Kelas: Menengah Atas (A)

• Pekerjaan: Pengusaha, Pekerja, Eksekutif muda, Ekspatriat 2.6.3 Data Geografis

Secara Geografis, target yang disusur ialah masyarakat perkotaan dan pinggiran perkotaan yang sudah banyak merasakan perubahan sosial di masyarakat.

2.6.4 Data Psikologis

Seperti yang telah dibahas diatas, berdasarkan psikologisnya target market yang disasar ialah masyarakat yang aktif, mobilitasnya tinggi, modern, dan lebih cenderung mencintai hal-hal yang sifatnya komersil.

(10)

2.7 Analisa SWOT

Berikut beberapa analisa yang mengacu pada Strength. Weakness, opportunity dan threat untuk menganalisa data, dan membaca kecenderungan peluang terhadap proyek yang akan dijalankan.

Strength

• Belum ada buku sejarah mengenai keraton-keraton Cirebon secara spesifik dan kaya sajian visual.

Weakness

Tidak secara eksplisit membahas seluruh keraton-keraton di Cirebon.

Opportunities

• Menjadi media informasi tentang keraton yang edukatif, sekaligus inpiratif untuk memprovokasi pembaca, agar kembali menyadari dan mencintai peninggalan budayanya—keraton.

• Berisi sajian visual menarik yang dikemas menyerupai foto essay.

• Tidak ada buku yang menjelaskan keraton-keraton di Cirebon dengan sajian visual yang optimal.

• Kebanyakan informasi yang disajikan hanya melalui media internet, dan jarang ada yang dibukukan.

Threat

• Tidak semua orang menyukai buku yang sifatnya tektual dan terlalu hystorical.

• Banyak yang lebih memilih destinasi yang lebih komersil dibanding Keraton-Keraton di Cirebon.

• Minat masyarakat terhadap Keraton masih sangat minim.

• Kurangnya promosi mengenai keraton di Cirebon, membuatnya tidak familiar di telinga masyarakat.

Gambar

Table 2.1 Tabel Data Pengunjung Kota Cirebon tahun 2012

Referensi

Dokumen terkait

Analisa kinerja angkutan umum digunakan untuk mengetahui kondisi angkutan umum (khususnya angkutan kota 03,08 dan 09) saat ini dibandingkan dengan Rencana Umum Jaringan

Strategi pembelajaran langsung adalah salah satu strategi pembelajaran yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar peserta didik yang berkaitan dengan pengetahuan

Berdasarkan hasil uji validitas isi serta analisis butir tes yaitu tingkat kesukaran, daya beda dan efektifitas distraktor pada penyusunan instrumen tes kemampuan berpikir

Penghapusan data dosen tetap dapat dilakukan dengan mengklik tombol “Hapus” pada dosen yang akan dihapus.. Jika dilakukan, sistem akan menampilkan dialog konfirmasi

Adapun Karya Tulis ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah mendukung saya selama ini : Bapak Agus Sachari sebagai pembimbing, Bapak Wenten, Mbak

Hubungan Antara Persepsi Terhadap Keadilan Organisasi dengan Komitmen Karyawan pada organisasi di PT.. Haji Ali

Hal yang penting dan fundamental di dalam sebuah organisasi adalah komitmen dari setiapnya yang akan sangat menentukan kemajuan dan perkembangan organisasi

Ciri-ciri masyarakat miskin Indonesia adalah kebanyakan mereka tinggal di pedesaan dengan tingkat pendidikan yang rendah, bahkan tidak tamat SD, tidak memiliki faktor