• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANUSKRIP OLEH : ABDULLAH NPM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MANUSKRIP OLEH : ABDULLAH NPM"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI SEJAHTERA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

DI BANJARBARU TAHUN 2017

MANUSKRIP

OLEH : ABDULLAH NPM.1614201120321

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN FAKULSTASKEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN BANJARMASIN, 2017

(2)

i

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI SEJAHTERA PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

DI BANJARBARU TAHUN 2017

DiajukanUntukMemenuhiSatuSyaratKelulusan Pada Program Studi S.1 Keperawatan

Oleh : ABDULLAH NPM. 1614201120321

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN FAKULSTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN BANJARMASIN, 2017

(3)
(4)

1 Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia

di PSTW Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru Tahun 2017

Abdullah**, Linda** Sri Mulyani*** Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Fakultas Keperawatan Dan Ilmu Kesehatan

Program Studi S.1 Keperawatan Email: [email protected]

Abstract

Background Depression is a severe mood disorder and is manifested by a social function and physical function were terrific, old and settled on the individual concerned. Depression can be overcome by the presence of coping in the elderly with the communication.

Objective To identify therapeutic communication links with the decrease in the level of depression in the elderly in PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru South Kalimantan province.

Research Method This research uses analytic with cross sectional approach. Population of 111 elderly in PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru South Kalimantan Province. Elderly sample depressed 40 people with purposive sampling technique. Data analysis through Sperman Rank test.

The results of this study were carried out therapeutic communication with the level of depression was 32 people (80%). Based on the results of non-parametric Spearman Rho sig (2-tailed) 0.44 <α 0,05 so can diinterprestasikanterdapat relationship between therapeutic communication with the level of depression Corralation Coefficient = -0,320berarti strength of the relationship between therapeutic communication with the level of depression in the elderly in mind PSTW Banjarbaru Prosperous South Kalimantan is low.

Keywords: elderly, Depression, therapeutic communication

Abstrak

Latar Belakang Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan fungsi sosial dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan. Depresi dapat diatasi dengan adanya koping pada lansia yaitu dengan adanya komunikasi.

Tujuan Penelitian Mengidentifikasi hubungan komunikasi terapeutik dengan penurunan tingkat depresi pada lansia di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan.

Metode Penelitian Penelitian ini mengguanakan analitik dengan pendekatan cross sectional. populasi 111 lansia di PSTW Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. Sampel lansia yang mengalami depresi 40 orang dengan teknik purposiv sampling. Analisis data melalui uji Sperman Rank.

Hasil Penelitian ini komunikasi terapeutik yang terlaksana dengan tingkat depresi sedang sebanyak 32 orang (80%).Berdasarkan hasil non parametric Sperman Rho sig (2-Tailed) 0,44 < α 0,05 sehingga dapat diinterprestasikanterdapat hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat depresi dengan Corralation Coefficient = -0,320berarti kekuatan hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat depresi pada lansia di PSTW budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan adalah rendah.

(5)

2 1. Pendahuluan

Lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun atau lebih. Secara global pada tahun 2013 proporsi dari penduduk berusia lebih dari 60 tahun adalah 11,7% dari total populasi dunia dan diperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat seiring dengan peningkatan usia harapan hidup. Data World Health Organization (WHO) menunjukan pada tahun 2000 usia harapan hidup orang didunia adalah 66 tahun, pada tahun 2012 naik menjadi 70 tahun dan pada tahun 2013 menjadi 71 tahun. (World Health Organization WHO, 2013)

Di kawasan Asia Tenggara populasi lansia sebesar 8% atau sekitar 142 juta jiwa. Pada tahun 2050 diperkirakan populasi lansia akan meningkat tiga kali lipat dari tahun2013. Pada tahun 2000 jumlah lansia sekitar 5.300.000(7,4%) dari total populasi, sedangkan pada tahun 2010 jumlah lansia sekitar 24.000.000 (9.77%) dari total populasi. Dan tahun 2020 jumlah lansia mencapai 28.800.000 (11,34%) dari total populasi. (World Health Organization WHO,2013)

Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas sekitar 7,18%. Jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2006 sebesar kurang lebih 19 juta, dengan usia harapan hidup 66,2 tahun, pada tahun 2010 jumlah lansia sebanyak 14,439.967 jiwa (7,18%) dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 23.993.553 jiwa (9,77%) sementara pada tahun 2011 jumlah lansia sebesar 20 juta jiwa (9,51%). Dengan usia harapan hidup 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup 71,1 tahun (Departemen Kesehatan, 2013)

Data badan pusat statistik menunjukan bahwa penduduk lanjut usia di Indonesia pada tahun 2007 berjumlah 18,7 juta jiwa selanjut pada tahun 2010 meningkat menjadi 23,9 juta jiwa (9,77%). Pada tahun 2020 diperidiksi jumlah lanjut usia mencapai 28,8 juta jiwa (11,34%). Kementrian Kesehatan RI (2013)

Menurut data Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, sensus penduduk Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2010, jumlah lansia usia 45-59 tahun adalah 478,618 jiwa, usia 60-74 tahun adalah 174,261 jiwa, usia 75-90 tahun adalah 32,822 jiwa, dan usia di atas 90 tahun adalah berjumlah 4,331. Badan Pusat Statistik (2015).

Penduduk usia lanjut di Kota Banjarmasin pada tahun 2014 sebanyak 54.670 orang, yang laki-laki sebanyak 27.849 orang dan perempuan sebanyak 26.821 orang. Dinas kesehatan Kalsel (2015).

Prevalensi depresi pada populasi lansia diperkirakan 1-2%, prevalensi perempuan 1,4% dan laki-laki 0,4%. Suatu penelitian menunjukkan variasi prevalensi depresi pada lansia antara 0,4-35%, rata-rata prevalensi depresi mayor 1,8%, depresi minor 9,8%, dan gejala klinis depresi nyata 13,5%. Sekitar 15%

(6)

3 lansia tidak menunjukkan gejala depresi yang jelas dan depresi terjadi lebih banyak pada lansia yang memiliki penyakit medis (Licinio, 2005 dalam Irawan,2013). Harian kompas yang terbit 29 september 2011 menyebutkan bahwa 11,6% dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa atau setara dengan 17,4 juta jiwa mengalami gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi. Kompas (2011).

Proses penuaan merupakan proses alamiah seorang manusia menuju masa dewasa tua. Hal ini akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi, maupun kesehatan. Ditinjau dari aspek kesehatan, dengan semakin bertambahnya usia maka lansia lebih rentan terhadap berbagai keluhan fisik, baik karena faktor alamiah maupun karena penyakit. Pusdatin Kementrian Kesehatan (2014).

Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1 ayat 2 yang berbunyi Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. Sedangkan Word Helth Organiszation (WHO)membagi menjadi empat kriteria lansia sebagai berikut: usia pertengahan (midle age) ialah 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah usia 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) ialah 75-90 tahun, dan usia sangat tua (very old) adalah di atas 90 tahun. Sunaryo ( 2016).

Menurut Sumedi dalam Sunaryo (2016) penuaan dapat dilihat dari tiga perspektif, yaitu usia biologis yang berhubungan dengan kapasitas fungsi organ, usia psikologis yang berhubungan dengan kapasitas perilaku adaptasi, serta usia sosial yang berhubungan dengan perubahan peran dan perilaku sesuai usia manusia. Salah satu contoh perubahan psikologis menurut Dwi dan Fitrah (2010) yang terjadi pada lansia ditandai dengan perasaan kesepian, kehilangan, ditolak dan tidak disenangi, hubungan yang tegang dengan sanak keluarga, apatis, dan lain-lain. Keadaan tersebut cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.Perubahan-perubahan psikologik, biologik dan sosial yang terjadi pada lansia juga menjadi salah satu penyebab depresi.

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa, dan tak berdaya serta gagasan bunuh diri ( Kaplan & Sadock, 1998 dalam Azizah, 2011). Depresi dapat dibedakan menjadi depresi ringan yang tidak mengganggu aktifitas, depresi sedang yang agak mengganggu aktifitas dan depresi berat yang sangat mengganggu aktifitas. Dwi dan Fitrah (2010).

Depresi yang terjadi pada lansia sangat merugikan lansia baik bagi kesehatan fisik maupun kesehatan mental lansia. Depresi adalah gangguan mental yang paling sering terjadi dan paling mudah diatasi pada kehidupan usia lanjut, namun sering kali kondisi ini tidak terdiagnosis dan tidak teratasi Depression Guidline panel (1993, dalam Maas 2011).

(7)

4 Gangguan depresi pada lansia dihubungkan dengan peningkatan layanan perawatan kesehatan (lintas fasilitas kesehatan dan lintas budaya), peningkatan moralitas peningkatan rasa nyeri penurunan fungsi fisik, sosial dan peran, penyembuhan melambat fraktur panggul dan peningkatan resiko bunuh diri dibandingkan dengan lansia yang tidak mengalami depresi (Parmelee, Katz & Lawton, 1992; Mossey dkk, 1992; Manton dkk, 1987 dalam Maas, 2011). Terkadang gejala depresi yang terjadi pada lansia dianggap sebagai suatu hal yang normal yang diakibatkan proses penuaan lansia tersebut padahal kebanyakan depresi pada lansia timbul karena suatu keadaan medis ringan atau berat dan masalah-masalah yang dihadapi lansia yang memperburuk keadaan lansia. Dwi dan Fitrah (2010).

Stanley & Beare (2007) menyebutkan bahwa depresi menyerang 10-15% lansia dengan tahun keatas yang tinggal dikeluarga dan angka depresi meningkat secara drastis pada lansia yang tinggal di institusi, dengan sekitar 50-75% penghuni perawatan jangka panjang memiliki gejala depresi ringan sampai sedang.

Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam proses pemberian asuhan keperawatan. Komunikasi yang terjalin baik akan menimbulkan kepercayaan sehingga terjadi hubungan yang lebih hangat dan mendalam. Kehangatan suatu hubungan akan mendorong pengungkapan beban perasaan dan pikiran yang dirasakan oleh klien yang dapat menjadi jembatan dalam menurunkan tingkat depresi yang terjadi.. A. Tamsuri (2015)

Untuk membantu kesembuhan pasien dengan gangguan depresi diperlukan adanya terapi komunikasi terapeutik dan tidak bisa dipungkiri bahwa komunikasi terapeutik sebenarnya dominan menjadi solosi bagi kesembuhan pasien dengan gangguan kejiwaan. Arwani (2013)

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi khusus yang dilaksanakan oleh penyelenggara jasa kesehatan dalam hal ini adalah perawat dan tenaga kesehatan lain yang direncanakan dan berfokus pada kesembuhan pasien. Hubungan antara perawat dan pasien yang bersifat terapeutik karena komunikasi yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki emosi. Perawat menjadikan dirinya secara terapeutik dengan berbagai tehnik komunikasi secara optimal dengan tujuan untuk mengubah perilaku pasien ke arah yang positif. Suryani (2010)

Sejauh ini depresi dapat dikurangi dengan obat-obat farmakologis dan psikoterapi, tetapi kebanyakan orang mmemilih teknik alternatif yang murah dan aman, terdapat berbagai macam teknik alternatif yang dapat dipilih seperti pijat refleksi, yoga, siatzu, meditasi dan aromaterapi, salah satunya terapi yang dapat digunakan untuk menurunkan depresi pada lansia adalah dengan memberikan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antara orang-orang secara

(8)

5 tatap muka yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung. Baik secara verbal dan non verbal. Muslihah dan Fatimah (2014)

Perawat perlu memiliki keterampilan khusus untuk menambah nilai plus pada dirinya. Salah satunya adalah dengan menguasai komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah pendekatan secara pisikologis yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Damaiyanti (2014)

Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru menyebutkan berdasarkan data bulan November 2016 jumlah lanjut usia yang berada di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera berjumlah 111 orang. PSTW (2016).

Berdasarkan observasi yang dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru.pada tanggal 26 dan 31 November 2016, peneliti melakukan observasi dan wawancara terhadap lansia yang berada di PSTW Budi SejahteraProvinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru, dari 40 lansia depresi didapatkan lansia yang mengalami depresi ringan adalah 32 lansia, lansia yang mengalami depresi sedang adalah 8 lansia, dan tidak ada lansia yang mengalami depresi berat.Dari semua lansia mengaku belum pernah dilakukan komunikasi terapeutik untuk mengurangi depresi yang mereka alami.

Dari pemaparan diatas maka bisa disimpulkan komunikasi terapeutik berhubungan dengan penuruntingkat depresi pada lansia itu sendiri. Dengan mencermati hal tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk membuktikan anggapan dasar peneliti kedalam penelitian yang berjudul. hubungan komunikasi terapeutik dengan penurunan tingkat depresi pada lansia Dipanti Sosisal Trersna Werdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru

2. Metode penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik, penelitian survei analitik adalah penelitian yang mencoba menggali mengapa fenomena kesehatan itu terjadi, dari analisa korelasi dapat diketahui seberapa jauh kontribusi faktor risiko tertentu terhadap adanya suatu kejadian (Notoatmodjo, 2010). Dengan menggunakan pendekatan cross sectional yaitu pendekatan dimana variabel-variabel yang masuk faktor resiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama (Notoatmodjo,2010).

Selain itu Supardi et al (2013) menyatakan cross sectional adalah suatu penelitian dimana faktor risiko/penyebab dan efeknya diambil sekaligus pada saat yang bersamaan. Pada penelitian ini variabel-variabel yang diteliti oleh peneliti adalah variabel-variabel independen “komunikasi terapeutik” dan variabel-variabel dependen “tingkat depresi”

(9)

6 3 Hasil

a. Analisa Univariat

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi komunikasi terapeutik dengan penurunan tingkat depresi pada

Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan

Selatan di Banjarbaru Tahun 2017.

No. Komunikasi Terapeutik Frekuensi (Orang) Presentase (%) 1 Terlaksana 39 97.5% 2 Tidak terlaksana 1 2.5% Total 40 100

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi tingkat depresi Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha

Budi SejahteraProvinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru Tahun 2017.

No Tingkat depresi Frekuensi (Orang) Presentase (%) 1 Tidak depresi/normal 0 0% 2 Depresi ringan 32 80% 3 Depresi sedang/berat 8 20% Total 40 100% b. Analisa Biariat

Tabel 4.6 Tabulasi Silang Antara Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Tingkat

Depresi Pada Lansia Dipanti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Provinsi

Kalimantan Selatan di Banjarbaru

Komunikasi Terapeutik Tingkat Depresi Tidak depresi/normal Depresi ringan Depresi sedang/berat F % F % F % F % Terlaksana 0 0% 32 80% 7 17,5% 39 97% Tidak Terlaksana 0 0% 0 0% 1 2,5% 1 2.5% Total 32 80% 8 20% 0 0% 40 100% Sperman Rho P = 0,044 < α 0,05 r = -0,320

Tabel 4.6 menunjukan bahwa terdapat 39 responden yang melakukan komunikasi terapeutik yang terlaksana dengan tingkat depresi ringan sebanyak 32 orang (80%), dan depresi sedang sebanyak 7 orang (17,5%). terdapat 1 orang (2,5%) responden yang melakukan komunikasi terapeutik tidak terlaksana dengan depresi sedang.

Berdasarkan hasil non parametric Sperman Rho sig (2-Tailed) 0,044 < α 0,05 sehingga dapat diinterprestasikan bahwa terdapat hubungan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat depresi pada lansia Dipanti Sosial Tresna Wherdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru dengan Corralation Coefficient = -0,320 yang berarti kekuatan hubungan antara komunikasi terapeutik tingkat depresi pada lansia Dipanti Sosial Tresna Wherdha Budi Sejahtera

(10)

7 Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan adalah rendah. Sedangkan arah hubungannya adalah negatif karena (r) negatif, berarti Semakin rendah tingkat depresinya maka semakin terlaksana komunikasi terapeutik dan sebaliknya semakin tinggi tingkat depresi semakin tidak terlakasan komunikasi terapeutiknya. Hal ini membuktikan bahwa hipotesis yang menyatakan adanya Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Tingkat Depresi Pada Lansia diPanti Sosial Tresna Wherdha Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru.

4. Pembahasan

4.4.1 Komunikasi Terapeutik

Dari hasil penelitian komunikasi terapeutik dari 40 responden yang terlaksana sangat tinggi yaitu 39 orang (97.5%) dan yang tidak terlaksana terdapat 1 orang (2.5%). Sedangkan untuk kuesioner yang mendapatkan skor paling tinggi dari 15 pertanyan terdapat pada nomer 1 yaitu pada fase pra interaksi dengan pertanyaaan “apakah pada awal bertemu Bapak/Ibu perawat menyapa/tersenyum kepada Bapak/Ibu”. Dan untuk pertanyaan yang mendapatkan skor paling sedikit terdapat pada nomer 13 fase terminasi dengan pertanyaan “apakah perawat tidak memberikan saran kepada Bapak/Ibu atau menentukan waktu selanjutnya untuk melakukan percakapan”

Komunikasi terapeutik bukan hanya tentang apa yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Tetapi bagaimana petugas itu melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien serta mengembangkan hubungan saling pecaya dan saling membantu antara perawat degan pasien yang dengan tujuan untuk kesembuhan pasien tersebut. Salah satu hal yang dilakukan oleh petugas dalam menjaga kerjasama yang baik dengan pasien dalam membantu mengatasi masalah pasien adalah dengan berkomunikasi. Dengan berkomunikasi petugas dapat mendengarkan perasaan pasien dan menjelaskan prosedur tindakan keperawatan. Komunikasi petugas dan pasien memegang peranan penting dalam membantu pasien memecahkan masalah yang dihadapi diharuskan seorang petugas kesehatan menerapkan kemampuannya dalam berkomuniksi terapeutik secara efektif ketika melayani pasien, karena tujuan dari komunikasi terapeutik adalah untuk kesembuhan pasien sendiri. Mundakir (2014)

Perubahan pada lansia perlu disikapi dengan menjaga kestabilan emosi klien lansia , misalnya dengan mengiyakan, senyuman dan dan mengangungkan kepala sebagai sikap hormat dan menghargai lansia, sikap ini dapat menumbuhkan kepercayaan lansia kepada petugas dan diri lansia sendiri. Gerrad,D (1996, dalam Suryani 2010).

Sejalan dengan penelitian yang dilakkukan oleh Siskayanti Astia (2015). Tentang pengaruh terapi komunikasi terapeutik terhadap kemampuan berinteraksi klien isolasi sosial di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang . Dengan p-value (p < 0,05).

(11)

8 Disadari ataupun tidak terbentuknya komunikasi terapeutik dapat menyediakan ruang yang aman bagi pasien untuk menjelaskan perasaan, harapan dan depresi serta menyediakan ruang bagi perawat untuk memberikan informasi dan emotional support serta dapat menciptakan suasana yang dapat memotivasi pasien sehingga dapat dicapai status kesehatan baik fisik maupun fsikologis yang maksimal. Komunikasi yang dibangun oleh petugas terhadap pasien akan mempengaruhi persepsi pasien terhadap suatu penampilan pelayanan yang diberikan kepada pasiennya. Machfoedz (2009).

4.4.2 Tingkat Depresi

Dari hasil penelitian didapatkan depresi ringan sebanyak 32 orang (80%), depresi sedang sebanyak 8 (20%)dan depresi berat 0 oran (0%). Menurunnya tingkat depresi sangat dipengaruhi oleh terlaksananya komunikasi terapeutik, semakin terlaksana komunikasi terapeutik semakin menurunkan tingkat depresi. Oleh karena itu tingkat depresi sangat mempengaruhi terlaksana atau tidaknya komunikasi terapeutik pada lansia. Dari hasil penelitian pederita depresi untuk kategori jenis kelamin didominasi oleh perempuan sebanyak 21 orang yaitu (52,5%0 dan laki-laki hanya 19 orang yaitu (47,5%) sedangkan untuk kategori usia didominasi oleh kelompok usia 70-79 tahun yaitu 23 orang (57,5%) sedangkan untuk kelompok usia 60-69 tahun hanya 1 orang (35%) dan kelompok usia 80-89 tahun hanya 3 orang (7,5%). Sedangkan untuk kuesioner yang mendapatkan skor paling tinggi dari 15 pertanyaan terdapat pada no 6 yaitu “apakah Bapak/Ibu takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjai pada Bapak/Ibu” dan untuk pertanyaan yang mendapatkan skor paling rendah terdapat pada nomer 2 “apakah Bapak/Ibu telah meninggalkan banyak kegiatan dan minat atau kesenangan Bapak/Ibu”.

Perempuan lebih sering terkena depresi hal ini dikarenakan perempuan sering terpajan dengan stressor lingkungan dan memiliki tingkatan ambang stressor lebih rendah dibanding dengan laki-laki. selain itu, adanya depresi pada perempuan juga erat kaitannya dengan ketidak seimbangan hormon sehingga depresi lebih sering terjadi pada perempuan (Amir, 2013)

Teori diatas diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Ninda Dwi Kurnia Sari tentang Faktor-faktor yang berhubungan dengan depresi (jenis kelamin) pada lansia di Dusun Kalimanjung Ambarketawang Gamping Sleman Yogyakarta (2014). Lansia dengan jenis kelamin perempuan sebagian besar mengalami depresi sedang dengan jumlah 23 responden (39,7%). Berdasarkan uji analisis menggunakan uji analisis Spearman Rank menunjukan nlai signifikasi0,045 (p<0,05) artinya hubungan jenis kelamin dengan depresi ada pada lansia.

(12)

9 4.4.3 Hubungan Komunikasi Terapeutik Dengan Penurunan Tingkat Depresi Pada Lansia Dipanti

Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan.

Hasil penelitian dari tabulasi silang menunjukan bahwa komunikasi terapeutik yang terlaksana sangat dipengaruhi oleh rendahnya tingkat depresi dan penurunan tingkat depresi sangat dipengaruhi oleh terlaksananya komunikasi terapeutik pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil uji korelasi menggunankan sperman rho diperoleh hasil sig (2-Tailet) 0,044 < α 0,05 sehingga dapat diinterprestasikan bahwa terdapat hubungan antara komunikasi terapeutik dengan penurunan tingkat depresi pada lansia Dipanti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan correlation coeffecient -0,320 yang berarti kekuatan hubungan antara komunikasi terapeutik dengan penurunan tingkat depresi pada lansia dipanti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan adalah rendah. Semakin terlaksana komunikasi terapeutik maka semakin menurunkan tingkat depresi dan sebaliknya semakin rendah tingkat depresi semakin terlaksana komunikasi terapeutik.

Pengaruh proses menua sering menimbulkan bermacam-macam masalah bagi lansia baik secara biologik, psikologik, dan sosial-ekonomi, serta spritual. Azizah (2011). Pada masalah kesehatan jiwa yang sering timbul lansia yaitu depresi penyebab depresi yang sering dialami lansia adalah kondisi lingkungan atau tempat tinggal seseorang, emosi yang ditekan, sebab-sebab fisik. Ramainah (2013).

Komunikasi yang terjalin dengan baik akan menimbulkan kepercayaan sehingga terjadi hubungan yang lebih hangat dan mendalam. Kehangatan suatu hubungan akan mendorong pengungkapan beban perasaan dan pikiran yang dirasakan oleh klien yang dapat menjadi jembatan dalam menurunkan tingkat depresi yang terjadi. Tamsuri (2015)

Diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Siti Azizah, Puji Lestari, dan Liya Vitasari yaitu Pengaruh Komunikasi Terapeutik Terhadap Depresi Lansia Yang Tinggal diBalai Rehabilitasi Sosial “Mandiri” Pucang Gading semarang (2014). Dengan hasil didapatkan 0,000 < α (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh komunikasi terapeutik terhadap depresi lansia di Balai rehabilitasi Sosial “Mandiri” Pucang Gading, Semarang.

5. Kesimpulan

5.1.1 Komunikasi terapeutik yang terlaksana pada lansia Dipanti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebanyak, 39 orang (97,5%). 5.1.2 Tingkat depresi pada lansia Dipanti Sosial Tresna Wherdha Budi Sejahtera Banjarbaru

(13)

10 5.1.3 Terdapat hubungan antara komunikasi terapeutik dengan penurunan tingkat depresi pada lansia Dipanti Sosial Tresna Wheda Budi Sejahtera Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan.

6. Saran

5.2.1 Bagi peneliti

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan wawasan mengenai penerapan komunikasi terapeutik pada lansia dan dapat dijadikan sebagai ilmu pembelajaran peneliti tentang keperawatan gerontik.

5.2.2 Bagi Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu cara alternatif yang dapat digunakan sebagai intervensi mandiri yang dilakukan dalam penatalaksanaan penuruna tingkat depresi pada lansia.

Daftar Rujukan

Azizah, M. L. (2011). Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta : Graha Ilmu Amir.(2013). Mengenal usia lanjut dan perawatannya. Jakarta : Salemba Medika

Arwani. (2013).Hubungan Antara Tingkat Depresi Dengan Interaksi Sosial Pada Lansia Di Panti Wherdha Dharma Bhakti Surakarta.

BPS, 2015. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2014. Jakarta: Badan Pusat Statistik Volume 2. Jakarta: EGC. Damaiyanti, 2014. Jurnal “Persepsi Pasien Tentang Pelaksaan Komunikasi Terapeutik Perawat dalam Asuhan Keperawatan Pada Pasien di Unit Gawat Darurat RS. Maerdi Rahayu Kudus”.

JurnalKeperawatanRespati, di (akses 20 November 2016)

Depkes. (2013). Populasi Lansia Diperkirakan Terus Meningkat Hingga Tahun 2020. Jakarta.

Tersedia dalam: <http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=13110002> (Diunduh 25 Nopember

2016)

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan. 2015. Laporan Tahunan Dinkes

Dwi dan Fitrah, (2010). Memahami kesehatan pada lansia. Jakarta: TIM.

Kementrian Kesehatan RI, 2014. Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Jakarta: Pusat

Data dan Informasi KEMENKES RI.

Kompas, Septermber 2011. 17,4 Juta Orang Alami Stres dan Depresi. Jakarta: KOMPAS. Di akses

pada 7 November

2016.http://www.kompasiana.com/atep_afia/17-4-juta-orang-alami-stres-dan-depresi_5508e6a2a333112a452e39af

Maas, 2011. Asuhan Keperawatan Geriatrik: Diagnosi NANDA, Kriteria Hasil NOC, & Intervensi

NIC. Jakarta: EGC.

(14)

11

Mahfoed,Mahmud, 2009. Komunikasi Keperawatan (Komunikasi Terapeutik).Yogyakarta: Ganbika

Mundakir. (2014). Komunikasi Keperawatan: Aplikasi dalam Pelayanan. Yogyakarta : Graha Ilmu

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tamsuri, A. (2015). Komunukasi Dalam Keperawatan. Jakarta : EGC

Ramainah, S. (2013). Depresi : Bagaimana Mengatasi Penyebabnya. Jakarta : Pusataka Populer

Obor

Sunaryo, Dkk, 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: ANDI.

Supardi, S. & Rustika. (2013). Buku Ajar Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: TIM.

Suryani, (2010). Komunikasi Terapeutik Terapi Dan Praktik. Jakarta: EGC

WHO, 2013. Jumlah Penduduk Lansia di dunia. Di akses pada 7 november 2016

http//:www.M.Liputan6.com/healt/read/2470233/jumlah-penduduk-lansia-di-dunia.

*Abdullah, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Banjarmasih

**Linda, Ns., M.Kep. Dosen Universitas Muhammadiyah Banjarmasih

***Hj. Sri Mulyani, S. Kep, Ns., MM. Pegawai RSUD Uin Banjarmasin

(15)

Gambar

Tabel  4.5  Distribusi  frekuensi  tingkat  depresi  Pada  Lansia  di  Panti  Sosial  Tresna  Werdha  Budi SejahteraProvinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru Tahun 2017

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor yang paling menghambat permintaan gigi tiruan pada lansia Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera

HASIL OBSERVASI LANJUT USIA DI PTSW (PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA) SENJARAWI BANDUNG HASIL OBSERVASI LANJUT USIA DI.. PTSW (PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA)

Dengan Demikian Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera adalah panti sosial yang mempunyai tugas memberikan bimbingan dan pelayanan bagi lanjut usia terlantar

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor yang paling menghambat permintaan gigi tiruan pada lansia Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera

Gangguan tidur yang dialami lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera Banjarbaru antara lain jumlah jam tidur yang kurang dari 5 jam, sulit untuk memulai tidur,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat spiritualitas dengan tingkat depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha PSTW Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan

Karakteristik Klinis dan Skor Ankle Brachial Index (ABI) Pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 Jakarta

2 Kualitas hidup lanjut usia di panti sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera dapat dilihat dalam tiga bentuk dasar, a harapan dan tujuan hidup yang tercapai ketika tinggal di panti sosial,