RELATIONS WITH THE USE OF SOAP CLEANING WOMANHOOD WHITISH IN WOMEN OF CHILDBEARING AGE EVENTS IN THE KADIREJO KARANGANOM KLATEN

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

RELATIONS WITH THE USE OF SOAP CLEANING WOMANHOOD WHITISH IN WOMEN OF CHILDBEARING AGE EVENTS IN THE KADIREJO

KARANGANOM KLATEN

Ayou Auliyaˡ, R. Taufiq Nur Muftiyanto², Putri Kusumawati Priyono³(dhiyaskusuma@gmail.com)

ABSTRACT

Background: Central Java in 2009 the number of women in Central Java, which is 2.9 million, 45% of them experienced vaginal discharge (Semarang Health Office, 2010). While the incidence of vaginal discharge in Klaten district reached 25%. The use of excessive feminine hygiene soaps can cause vaginal discharge, because of feminine hygiene soaps contain chemicals that are very hard, which can irritate the soft areas such as the vagina and can shut off the natural ecological balance on the genital area.

Aim: To determine the use of soap and feminine hygiene correlation with the incidence of vaginal discharge in women of childbearing age in the village Kadirejo Karanganom Klaten district.

Research Methods: The research design was analytical survey, which surveys or research. The population in this study were all women of childbearing age in the village Kadirejo Karanganom Klaten district. A population of 728 respondents. Instrument research questionnaire and data analysis using chi square.

Research Result: Respondents who experience vaginal discharge as many as 27 people (51.9%). Respondents who use soap femininity as many as 26 people (50%). No use of soap and feminine relationship with the incidence of vaginal discharge in women of childbearing age.

Conclusion: No use of soap and feminine relationship with the incidence of vaginal discharge in women of childbearing age.

Keywords: Use of Soap Feminine, Whitish, Women Of Childbearing Age

1

Student of Midwifery of STIKES Duta Gama Klaten

2

Lecturer I of STIKES Duta Gama Klaten

3

(2)

PENDAHULUAN

Berdasarkan survey dari Human Development Indeks (HDI), Indonesia masih menduduki peringkat 112 dari 175 negara yang disurvey, dengan tiga peringkat di bawah Vietnam. Masalah kesehatan reproduksi yang sedang dihadapi Negara ini, dimana sebagian persoalan lainnya adalah hal-hal yang menyangkut penularan penyakit menular seksual (PMS), pembuangan bayi, perkosaan, aborsi, HIV/AIDS, serta kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), dan lain-lain (Hadikusumo, 2005).

Indonesia merupakan negara padat penduduk dengan populasi terbesar adalah wanita. Angka kejadian keputihan di Indonesia mencapai 75% pada wanita Indonesia dan mengenai hampir semua umur. Jika dibandingkan dengan Eropa angka ini sangat berbeda, karena di Eropa perempuan yang menderita keputihan hanya 25% (Dinas Kesehatan, 2010). Berdasarkan data statistik Jawa Tengah tahun 2009 jumlah perempuan di Jawa

Tengah yaitu 2,9 juta jiwa 45%

diantaranya mengalami keputihan (Dinas Kesehatan Semarang, 2010). Sedangkan angka kejadian keputihan di Kabupaten Klaten mencapai 25% (Dinkes Kabupaten Klaten, 2015).

Berdasarkan hasil penelitian dari Panda S et al (2013) data keputihan pada wanita usia subur bahwa dari 50 orang wanita usia subur di kawasan Asia Selatan

terutama India yang terdeteksi

Trikomoniosis Vaginalis sebanyak 3 kasus (6%) dan Candida Albicans dalam 26 kasus (52%). Terinfeksi Trikomoniosis Vaginalis dan Candidia Albicans sebanyak 4 kasus (8%). Hampir 83 % penyebab keputihan adalah bakteri Candidia Albicans yang banyak terjadi pada wanita usia subur dan berasal dari daerah pedesaan. (IJCRR, 2013).

Banyak perempuan Indonesia yang membersihkan vagina mereka dengan cairan pembersih (antiseptic) agar terbebas dari bakteri penyebab keputihan. Mereka berfikir vagina yang kesat adalah vagina yang sehat. Padahal hal itu justru membunuh bakteri laktobacilus yang berguna untuk menjaga derajat keasaman vagina.

Keputihan yang tidak segera diobati akan timbul penyakit radang panggul yang berlarut-larut dan dapat menyebabkan kemandulan (infertilitas) karena kerusakan dan tersumbatnya saluran telur. Padahal keputihan tidak bisa dianggap mudah, karena akibat dari keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani. Tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher rahim, yang biasanya ditandai dengan cairan banyak, berbau busuk, sering disertai darah tidak segar dan dapat berujung pada kematian (Pribakti, 2010).

(3)

Banyak sekali life event yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menetapkan masa ini sebagai masa kritis. Pada usia tersebut organ reproduksi pada wanita sudah berfungsi dengan baik walaupun tidak mengenal batasan usia tetapi pada usia reproduksi atau remaja seorang wanita lebih sering

mengalami keputihan oleh karena

gangguan hormon atau pengaruh lain diantaranya adalah stress (Iskandar, 2010).

Masalah kesehatan reproduksi

merupakan masalah yang komplek dan berkaitan erat dengan isu ketidaksetaraan gender dan pemenuhan hak-hak reproduksi bagi perempuan maupun laki-laki sehingga memerlukan penanganan secara intensif dan terkoordinasi baik lintas program, lintas sektor maupun lintas disiplin ilmu dengan memperhatikan sosial budaya. Ada beberapa komponen kesehatan reproduksi yang dapat memberikan gambaran umum keadaan kesehatan reproduksi di Indonesia (Kusmiran, 2011).

Salah satu cara untuk mencegah

keputihan, diantaranya yaitu

membersihkan organ intim dengan

pembersih yang tidak mengganggu

kestabilan pH di sekitar vagina, menghindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan, menggunakan celana dalam yang kering, saat haid sering mengganti pembalut. Perawatan daerah intim yang

dilakukan dengan benar, kemungkinan terjadinya keputihan akan menjadi berkurang. Sedangkan apabila seseorang yang perawatan organ genitalnya tidak terjaga dengan baik maka akan dapat menimbulkan keputihan. Salah satu keluhan klinis dari infeksi atau keadaan abnormal alat kelamin tersebut adalah keputihan. Cairan ini bersifat selalu membasahi dan menimbulkan iritasi, rasa gatal dan gangguan rasa aman pada penderita. Keputihan normal ditandai oleh keluarnya lendir jernih pada saat masa subur atau sebelum menstruasi, tidak berbau, serta tidak ada keluhan gatal pada vagina. Sebaliknya, keputihan yang abnormal menandakan adanya infeksi pada vagina (Anurogo, 2011).

Keputihan ada yang fisiologik (normal) dan ada yang patologik (tidak normal). Keputihan yang fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedangkan pada keputihan yang patologik terdapat banyak leukosit (Shadine, 2010).

Penggunaan sabun pembersih

kewanitaan yang berlebihan dapat

menyebabkan keputihan, karena sabun pembersih kewanitaan mengandung zat kimia yang sangat keras, yang dapat mengiritasi daerah-daerah yang lunak seperti vagina dan dapat mematikan keseimbangan ekologi alamiah pada

(4)

perempuan yang secara rutin menggunakan cairan pembersih ke dalam vagina

cenderung mempunyai lebih banyak

masalah yang berhubungan dengan

kesehatan vaginanya dari pada perempuan yang tidak rutin melakukannya. Masalah – masalah yang dapat ditimbulkan karena menggunakan cairan pembersih kedalam vagina adalah iritasi vagina, infeksi vagina serta dapat mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya (Pribakti, 2010).

Dari hasil penelitian yang dilakukan di Amerika mengungkapkan lebih dari 20 juta perempuan Amerika menggunakan cairan pembersih kedalam vagina secara rutin. Sekitar 37% perempuan Amerika yang berusia 15-44 tahun menggunakan cairan pembersih ke dalam vagina secara teratur separuh dari perempuan yang menggunakan cairan pembersih ke dalam vagina secara teratur seminggu sekali. Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukkan 75% wanita di Indonesia pernah menggunakan cairan pembersih dalam vagina yang telah menjadi bagian dari personal higienis mereka yang dilakukan secara rutin. Bahkan yang biasa digunakan adalah (51%) sabun (18%) pembersih cair dengan berbagai merek (Pribakti, 2010).

Dari survey awal yang dilakukan pada 12 WUS di Desa Kadirejo Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten, 6 WUS tersebut menggunakan sabun pembersih kewanitaan tiap pagi dan sore, dimana 3

responden mengalami keputihan yang banyak, 2 responden hanya mengalami sedikit keputihan. Dan 1 responden tidak mengalami keluhan keputihan sama sekali. Sisanya 6 WUS tidak menggunakan pembersih vagina, dimana 2 responden tersebut mengalami keputihan hal ini dapat

terjadi karena kurangnya menjaga

kebersihan, sisanya 4 responden tidak mengalami keputihan.

Berdasarkan hasil dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Pemakaian Sabun Pembersih Kewanitaan Dengan Kejadian Keputihan Pada Wanita Usia Subur di Desa Kadirejo Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten”.

METODE PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah survey analitik, pendekatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah

cross sectional yaitu jenis penelitian yang mengukur variabelnya dilakukan satu kali pada satu saat.

2. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling Populasi dalam penelitian ini adalah semua wanita usia subur di Desa

Kadirejo Kecamatan Karanganom

Kabupaten Klaten. Populasi sebanyak 728 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive sampling.

(5)

penelitian ini adalah angket yang meliputi karakteristik responden dan pemakaian sabun pembersih kewanitaan serta keputihan. Analisis bivariat

dilakukan untuk mengetahui ada

tidaknya hubungan kedua variabel, maka analisis data yang digunakan adalah chi square dengan bantuan program SPSS dengan taraf signifikasi 95% dengan  = 0,05 (Sugiyono, 2012:245).

HASIL PENELITIAN

a. Univariat

Analisis univariat adalah analisis untuk mengetahui jumlah pemakaian sabun kewanitaan dan terjadinya keputihan. 1) Pemakaian Sabun Kewanitaan

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Pemakaian Sabun Kewanitaan No Pemakaian f % 1 2 Ya Tidak 28 24 53,8 46,2 Jumlah 52 100

Sumber : Data Primer 2016

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan responden yang memakai

sabun kewanitaan di Desa

Karanganom adalah sebesar 28 responden (53,8%) dan yang tidak memakai sabun kewanitaan sebanyak 24 responden (46,2%). Rata-rata pemakaian sabun kewanitaan adalah 1,46 yaitu memakai.

2) Kejadian Keputihan

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Kejadian Keputihan No Kejadian Keputihan f % 1 2 Terjadi Tidak terjadi 27 25 51,9 48,1 Jumlah 52 100

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan responden di Desa Kadirejo Karanganom Klaten terjadi keputihan sebanyak 27 responden (51,9%) dan yang tidak terjadi keputihan sebesar 25 responden (48,1%). Sedangkan untuk kejadian keputihan rata-rata 1,48 mengalami keputihan.

b. Analisis Bivariat

Tabel 4.6 Hubungan Pemakaian Sabun Pembersih kewanitaan dengan Kejadian Keputihan Pemakaian Sabun Kejadian Keputihan Jumlah P value  Terjadi Tidak Terjadi f % f % f % Ya Tidak 26 1 92,9 4,2 2 23 7,1 95,8 28 24 100 100 0,000 0,05 Jumlah 27 51,9 25 48,1 52 100

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 28 orang

memakai sabun kewanitaan yang

mengalami keputihan sebanyak 26 orang (92,9%) dan tidak terjadi keputihan 2 orang (7,1%). Responden yang tidak memakai sabun kewanitaan sebanyak 24 orang yang mengalami keputihan sebanyak 1 orang (4,2%) dan tidak mengalami keputihan sebanyak 23 orang (95,8%).

Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square didapatkan

(6)

nilai p value = 0,000 (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa ada hubungan pemakaian sabun kewanitaan dengan kejadian keputihan pada wanita usia subur di Desa Karanganom Klaten.

PEMBAHASAN

1. Pemakaian sabun kewanitaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 52 responden sebanyak 28

orang (53,8%) memakai sabun

kewanitaan. Hal ini disebabkan karena

adanya iklan yang memamerkan

keunggulan produkya sehingga dapat menarik kita untuk menggunakan alat pembersih daerah kewanitaan sebagai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.Menurut Syarif (2007) bahwa efek samping dari kesalahan dalam merawat alat reproduksi eksterna, yaitu : Jika ada pembersih/sabun berbahan daun sirih digunakan dalam waktu lama, akan menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu dan produk pembersih wanita

yang mengandung bahan providen

lodine mempunyai efek samping dermatis kontak sampai reaksi efek yang berat (http://ayohidupsehat.net/ semprotan).

Menggunakan sabun kewanitaan

dalam arti selama seminggu

menggunakan 3 kali sbaun kewanitaan. Pembersih vagina (Vaginal Douching) adalah suatu cara yang dilakukan untuk

membersihkan vagina dan daerah

sekitarnya dengan menyemprotkan vagina (biasanya ada alat khusus yang menyemprotkan cairan ke vagina) yang banyak dijual bebas. Bahan yang digunakan pada pembersih vagina sebagian besar yaitu bahan komersial

yang mengandung zat asam,

bakteriostatik antimikrobial dan surfaktan lemah dengan berbagai kombinasi (Pribakti, 2010).

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 24 orang (46,2%) tidak menggunakan sabun kewanitaan. Hal ini disebabkan karena adanya ketakutan remaja dalam penggunaan pembersih

genetalia eksterna, kurangnya

pemahaman remaja tantang manfaat

penggunaan pembersih genetalia

eksterna dan keterlibatan dari orang tua atau ibu. Menurut Septian (2009),

bahwa ekosistem vagina adalah

lingkaran kehidupan yang ada di vagina ekosistem ini dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu phatogen dan laktobasilus (bakteri baik) jika keseimbangan ini terganggu, bakteri laktobasilus akan mati dan bakteri phatogen akan tumbuh subur dan bakteri phatogen ekosistem vagina adalah penggunaan sabun pembersih organ intim yang terlalu sering. Sangat banyak pilihan produk pembersih genetalia eksterna dipasaran, bahkan hampir setiap hari bermunculan iklan

(7)

produk pembersih vagina itu. Dari sekian banyak produk yang beredar rata-rata memiliki tiga bahan dasar. Estrak daun sirih, bahan providone, kombinasi laktoserum dan asam lakta.

Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita di Indonesia

menunjukkan 75% pernah

menggunakan pembersih vagina yang telah menjadi bagian dari personal higienis mereka yang dilakukan secara rutin. Bahkan yang bisa digunakan adalah (51%) sabun (18%) pembersih cairan dengan berbagai merek yang di pasarkan (Septian, 2009).

2. Keputihan

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kejadian keputihan terjadi pada 27 orang ibu (51,9%). Keputihan dalam penelitian ini ditandai dengan keluarnya cairan berwarna putih dari alat kelamin atau jalan lahir. Hubungan antara faktor psikologi dengan keputihan berkaitan erat dengan persoalan hormonal. Saat stres, hormon

estrogen mengalami peningkatan

produksi sehingga menstimulasi epitel vagina dan serviks menghasilkan glikogen lebih banyak dari jumlah normal yang kemudian dilepaskan pada lumen vagina untuk membasahi daerah sekitarnya. Selain itu saat stres terjadi, daya tahan tubuh mengalami penurunan sehingga ikut menambah kerentanan seseorang terserang invasi bakteri

(Ranti, 2009). Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim sebagai tindakan pencegahan

sekaligus mencegah berulangnya

keputihan yaitu dengan pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga rutin, istirahat cukup, hindari rokok dan

alkohol serta hindari stres

berkepanjangan (Agustini, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 25 responden (48,1%) tidak terjadi keputihan, hal ini dikarenakan tidak terdapat cirri-ciri keputihan pada responden saat dilakukan penelitian maupun sebelum dilakukan penelitian. 3. Hubungan Pengetahuan dengan tingkat

kepuasan pelayanan program jampersal Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 28 orang

memakai sabun kewanitaan yang

mengalami keputihan sebanyak 26 orang (50%) dan tidak terjadi 2 orang (3,8%). Hasil ini menunjukkan bahwa pemakaian sabun kewanitaan cenderung menyebabkan keputihan. Penggunaan sabun pembersih kewanitaan yang

berlebihan dapat menyebabkan

keputihan, karena sabun pembersih kewanitaan mengandung zat kimia yang sangat keras, yang dapat mengiritasi daerah-daerah yang lunak seperti vagina dan dapat mematikan keseimbangan ekologi alamiah pada daerah genital. Diketahui bahwa perempuan yang secara rutin menggunakan cairan

(8)

pembersih ke dalam vagina cenderung mempunyai lebih banyak masalah yang

berhubungan dengan kesehatan

vaginanya dari pada perempuan yang tidak rutin melakukannya. Masalah-masalah yang dapat ditimbulkan karena

menggunakan cairan pembersih

kedalam vagina adalah iritasi vagina, infeksi vagina serta dapat mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya (Pribakti, 2010).

Responden yang tidak memakai sabun kewanitaan sebanyak 24 orang yang mengalami keputihan sebanyak 1 orang (1,9%) dan tidak mengalami keputihan sebanyak 23 orang (44,2%). Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square didapatkan nilai p value = 0,000 (p<0,05). Nilai p = 0,000 karena menggunakan tingkat signifikasi 95%. Hasil ini menunjukkan bahwa ada hubungan pemakaian sabun kewanitaan dengan kejadian keputihan pada wanita usia subur di Desa Karanganom Klaten. Pembersih kewanitaan pada umumnya mengandung banyak senyawa kimia seperti kandungan petroleum, syntetic cheminal, dan petrocheminal (chemicals hamful). Zat-zat yang ada di dalam bahan-bahan tersebut dapat merusak keseimbangan normal di dalam vagina. (Anurogo, 2011).

Sabun mempunyai beberapa defisi tergantung seberapa besar yang anda inginkan. Secara teknis, sabun adalah

hasil reaksi kima antara fatty acid dan

alkali. Membersihkan vagina yang mempergunakan rempah atau sabun yang mempunyai pH normal dilakukan 1 – 2 kali sehari sehabis mandi (untuk

perawatan), sebaiknya dilakukan

sebulan sekali setelah menstruasi atau datang bulan. Perawatan ini perlu, selain untuk aroma harum, pH menjadi lebih segar dan sehat. Di dalam vagina terdapat berbagai macam bakteri 95% laktobasillus, 5% pathogen, dalam ekosistem vagina seimbang, bakteri pathogen tidak akan mengganggu. Misalnya tingkat keasaman menurun. Pertahanan alamiah turun dari rentan mengalami infeksi (Junita, 2009).

Analisis data menggunakan uji statistik dengan menggunakan chi square didapatkan nilai p value = 0,000 (p<0,05). Hasil ini sesuai dengan

penelitian Chandarini (2003),

karakteristik leukorhea pada peserta KB RSU Sarjito. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Dianis Wulan Sari

(2010), menunjukkan terdapat

hubungan yang signifikan antara perilaku higiene pribadi dengan kejadian keputihan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :

(9)

1. Responden yang mengalami keputihan sebanyak 27 orang (51,9%) dengan rata-rata 1,46.

2. Responden yang memakai sabun

kewanitaan sebanyak 26 orang (50%) dengan rata-rata 1,48.

3. Ada hubungan pemakaian sabun

kewanitaan dengan kejadian keputihan pada wanita usia subur.

SARAN

1. Bagi Desa Kadirejo

Dapat memberikan gambaran tentang pemakaian sabun pembersih kewanitaan yang baik dan benar sehingga dapat mencegah terjadinya keputihan pada warga desa dengan cara memberikan pendidikan kesehatan tentang keputihan pada warga desa.

2. Bagi Tenaga Kesehatan

Informasi tentang pemakaian cairan pembersih genetalia harus tetap disosialisasikan lebih luas dan lebih

optimal dan tenaga kesehatan

hendaknya meningkatkan dalam

memberikan penyuluhan kepada

masyarakat khususnya remaja putri bahwa penggunaan cairan pembersih

genetalia secara rutin dapat

menimbulkan masalah dengan

kesehatan organ intim pada wanita dengan memberikan penyuluhan.

3. Bagi WUS di Desa Kadirejo Kecamatan Karanganom Kabupaten Klaten

Dapat digunakan sebagai sumber

informasi sehingga dapat mengambil langkah dan strategi yang tepat dalam

memberikan dan meningkatkan

pengetahuan tentang hubungan

pemakaian sabun pembersih kewanitaan dengan kejadian keputihan pada WUS

di Desa Kadirejo Kecamatan

Karanganom Kabupaten Klaten 4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian hendaknya dapat dijadikan sebagai gambaran bagi peneliti lain dan dapat dikembangkan

lebih dalam mengingat adanya

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Anurogo. Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid. Yogyakarta: ANDI; 2011. h. 132-147.

Chandarini. 2003. Karakteristik leukorhea pada peserta KB RSU Sarjito, KTI. Yogyakarta.

Departemen Kesehatan Republik

Indonesia. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan. http://id.wikipedia.org/wiki/promosi kesehatan. 05 Januari 2015.

Dinas Kesehatan. Kabupaten Klaten. 2015. Profil Kabupaten Klaten. 1992

tentang kesehatan. http://id.wikipedia.org/wiki/promosi kesehatan. 05 Januari 2015. Hadikusumo, M. 2005. Kesehatan Reproduksi. http://www.DPRD Provinsi DIY.html

Iskandar, M. 2010. Solusi Keluarga. http://www.mitra keluarga.com

Kusmiran, E. 2011. Kesehatan Reproduksi

Remaja dan Wanita. Jakarta:

Salemba Medika.

Pribakti, B. Tips dan Trik Merawat Organ Intim. Jakarta: Sagung Seto; 2010. h. 28-32.

Shadine, M. 2010. Penyakit Wanita. Yogyakarta: Citra Pustaka. H. 1-24.

Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

___ . 2004. Statistik Untuk Penelitian. Cetakan keenam. Bandung: Alfabeta.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :