• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi Konflik Eksploitasi Hutan Lindung Melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi: Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang - Universitas Negeri Padang Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Solusi Konflik Eksploitasi Hutan Lindung Melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi: Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang - Universitas Negeri Padang Repository"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN PADI ORGANIK DAN ANORGANIK SEBAGAI WUJUD IMPLEMENTASI PERTANIAN YANG RAMAH LINGKUNGAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR SUMATERA SELATAN ETIKA LINGKUNGAN DALAM REVITALISASI HUTAN KOTA (STUDI DI KOTA MALANG, JAWA TIMUR) PENGARUH PENGGUNAAN SAMPAH PLASTIK JENIS LDPE DAN ABU SEKAM PADI TERHADAP KUAT GESER TANAH LEMPUNG LUNAK KETENTUAN ETIKA DALAM PERJANJIAN INTERNASIONAL DIBIDANG PERLINDUNGAN FAUNA PERENCANAAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK GREY WATER DI ASRAMA RUSUNAWA UNIVERSITAS SRIWIJAYA, INDRALAYA, OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN POLIMORFISME GEN ALAD PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI JAKARTA TIMUR – INDONESIA SOLUSI KONFLIK EKSPLOITASI HUTAN LINDUNG MELALUI PENDEKATAN MEDIASI BERDASARKAN KONSEP VALUASI EKONOMI (STUDI KASUS TAMBANG BUKIT KARANG PUTIH

(2)
(3)

JURNAL

PUSAT STUDI LINGKUNGAN

PERGURUAN TINGGI SELURUH INDONESIA

ENVIRONMENT & DEVELOPMENT

ISSN 0216 - 2717 VOLUME 02, NOMOR 2; 2016

(4)

JURNAL LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN JOURNAL OF ENVIRONMENT AND DEVELOPMENT

Penanggung Jawab

Ketua Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL)

Dewan Editor

Fisika dan Pendidikan

Prof. Dr. Lambang Subagiyo, MSc.

Kesehatan dan Lingkungan Prof. dr. Haryoto Kusnoputranto, SKM. Dr. PH

Teknik Kimia

Prof. Dr. Ir. Tjandra Setiadi, M.Eng.

Arsitektur

Prof. Ir. Agus Budi Purnomo, MS. PhD.

Biologi

Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA

Pertanian Prof. Dr. Ir. Nasfryzal Carlo, MSc

Editor Pelaksana

Dr. Ir. Hefni Effendi, MPhil. dan Dr. Melati Ferianita Fachrul, MS.

Asisten Editor Sri Muslimah, S.Si.

Andreas Pramudianto, SH., MHum.

Alamat Redaksi

Jurnal Lingkungan dan Pembangunan

Sekreatariat Eksekutif Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan

Gedung C Lantai V, Jl. Salemba Raya No. 4, Jakarta 10430 Telp. 021-31930318, 021-31930309, Fax. 021-31930266 Homepage: www.bkpsl.org/jurnal / email: [email protected]

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Kampus IPB, Dramaga 16680

(5)

LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN

Analisis Perbandingan Pendapatan Padi Organik dan Anorganik sebagai Wujud Implementasi Pertanian yang Ramah Lingkungan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Sumatera Selatan

Muhammad Arbi

402

Etika Lingkungan dalam Revitalisasi Hutan Kota (Studi di Kota Malang, Jawa Timur)

Mohamad Amin, Erik Setyo Santosa

417

Pengaruh Penggunaan Sampah Plastik Jenis LDPE dan Abu Sekam Padi terhadap Kuat Geser Tanah Lempung Lunak

Hendrik Jimmyanto

426

Ketentuan Etika dalam Perjanjian Internasional dibidang Perlindungan Fauna

Andreas Pramudianto

438

Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik Grey Water di Asrama Rusunawa Universitas Sriwijaya, Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan

Nyimas Septi Rika Putri, Sapar Linudin, Helmi Hakki

453

Polimorfisme Gen Alad pada Anak Sekolah Dasar di Jakarta Timur – Indonesia

Rini Puspitaningrum, Gilang Ainan Drajat, Ria Amelia, Ristika Putri Istanti, Gladis Mercya Gramienie

466

Solusi Konflik Eksploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)

Indang Dewata

475

Distribusi Vertikal N, P dan Klorofil-A serta Tingkat Eutrofikasi terkait Aktivitas KJA di Perairan Waduk Cirata, Jawa Barat

Endang Sri Utami, Sigid Hariyadi, Hefni Effendi

(6)

DARI REDAKSI

Terbitan Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Volume 2 No. 2 tahun 2016 ini memuat beberapa tulisan hasil penelitian dan tinjauan masalah lingkungan dari berbagai wilayah di negara kita.

Jurnal ini terdiri dari delapan naskah. Naskah pertama berjudul analisis perbandingan pendapatan padi organik dan anorganik sebagai wujud implementasi pertanian yang ramah lingkungan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur Sumatera Selatan. Naskah kedua dan ketiga berjudul etika lingkungan dalam revitalisasi hutan kota (studi di Kota Malang, Jawa Timur) dan pengaruh penggunaan sampah plastik jenisLDPEdan abu sekam padi terhadap kuat geser tanah lempung lunak. Naskah keempat dan kelima berjudul ketentuan etika dalam perjanjian internasional dibidang perlindungan fauna dan perencanaan instalasi pengolahan air limbah domestik grey water di Asrama Rusunawa Universitas Sriwijaya, Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Naskah keenam berjudul polimorfisme gen alad pada anak sekolah dasar di Jakarta Timur – Indonesia. Naskah ketujuh berjudul solusi konflik eksploitasi hutan lindung melalui pendekatan mediasi berdasarkan konsep valuasi ekonomi (studi kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang). Naskah terakhir berjudul distribusi vertikal N, P dan klorofil-A serta tingkat eutrofikasi terkait aktivitas KJA di Perairan Waduk Cirata, Jawa Barat.

Harapan redaksi, terbitan kali ini dapat memberikan informasi dan menambah wawasan yang berkaitan dengan perkembangan lingkungan hidup. Akhirul kata, redaksi senantiasa menerima kritik, masukan, dan saran yang membangun demi keberlanjutan penerbitan Jurnal Lingkungan dan Pembangunan.

(7)

Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Volume 2, Nomor 2, 2016

475

Lingkungan dan Pembangunan

SOLUSI KONFLIK EKSPLOITASI HUTAN LINDUNG

MELALUI PENDEKATAN MEDIASI BERDASARKAN

KONSEP VALUASI EKONOMI (STUDI KASUS TAMBANG

BUKIT KARANG PUTIH OLEH PT. SEMEN PADANG)*

Indang Dewata

Pusat Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Negeri Padang

Email: [email protected]

Abstrak

(8)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

476 Kata kunci : solusi konflik, valuasi ekonomi lingkungan.

SOLUTION CONFLICT OF PROTECTED FOREST

EXPLOITATION THROUGH MEDIATION APPROACH BASED

ON CONCEPT OF ECONOMIC VALUATION

(Case Study Bukit Karang Putih Mine By PT. Semen

Padang)

Abstract

PT. Semen Padang undergoes expantion of the mining area of 412 Ha consisting of 245 Ha of Protected Forest that has been given permission by the Minister of Forestry. However it still becomes a problem because of presumed degradation of environmental quality, social and economic as well as the absence of an agreement of compensation. Total production is 8.5 million tons/year, if one sack of cement is assumed 50,000 rupiahs; the amount would be 8.5 trillion rupiah/year. If net profit per year is only 10% of total production, the profit is 850 billion rupiah/year. The direct contribution from PT. Semen Padang on Padang city in the form of taxes is less than 10% of total profit estimated 850 billion. On the other hand the results of laboratory tests of Batang Arau river water quality indicated above the water quality standard. Those are at the upper part of the river, BOD5 15.4 mg/l (quality standard/QS 3 mg/l), TSS 52 mg/l (QS 50 mg/l); the central part of the river BOD5 7.4 mg/l (QS 3 mg/l), TSS 54 mg/l (QS 50 mg/l), the downstream of the river BOD5 19.52 mg/l (QS 3 mg/l), TSS 56 mg/l (QS 50 mg/l). Economic valuation on mining area is 26.8 billion rupiah/year, excavation taxes class C paid by PT. Semen Padang is an average of 21 billion rupiah per year with a shortfall of 5.8 billion/year as the value of environmental damage that must be born by the society of Padang.

Keywords: solution-conflict, environmental economic valuation.

1. PENDAHULUAN

Keberadaan perusahaan PT. Semen Padang di Sumatera Barat tidak dapat lagi dipungkiri sebagai badan usaha yang betul-betul menopang perekonomian terutama bagi pemerintahan kota Padang. Disamping sebagai pertumbuhan ekonomi berpusat di sektor pertambangan tersebut juga dikenal sebagai usaha yang bersifat destruktif dan ekstraktif yang kegiatan mulai dari penambangan sampai pasca

(9)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

477

tambang. Kekhawatiran manusia atas masalah lingkungan dapat diciptakan oleh suatu kondisi berupa kerusakan ekologi, longsor, erosi, hilanganya daya dukung lingkungan serta terganggunya berbagai fungsi kehidupan sosial dan ekonomi karena berkurangnya daya dukung tersebut (Wardhana, 2004).

Namun dilain pihak, pemerintah kota berkewajiban melindungi seluruh warganya dan tetap berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan perekonomian yang salah satunya dipicu dengan peningkatan investasi daerah. Namun demikian keberadaan perluasan areal tambang semen padang menimbulkan konflik kepentingan antara masyarakat dan pihak perusahaan PT. Semen Padang.

Kecamatan Lubuk Kilangan merupakan kecamatan yang beruntung dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya di Kota Padang. Hal ini karena di kawasan ini terdapat bukit karang putih seluas 618,96 Ha yang mengandung batu kapur dan batu silica. Kedua bahan ini merupakan bahan baku dalam pembuatan semen. Keberadaan PT. Semen Padang sebagai salah satu industri semen terkemuka nasional

merupakan kebanggaan masyarakat Sumatera Barat, secara

administratif berada di wilayah Kota Padang dengan ikatan emosional, kultural dan ekonomi yang sangat kuat dengan masyarakat setempat. Kegiatan penambangan batu kapur dan batu silica yang dilakukan oleh PT Semen Padang selama ini masih berada pada kawasan Areal Penggunaan Lain (APL). Perencanaan ke depan PT. Semen Padang yang bernaung dibawah Semen Gersik Group (SG Group) akan melakukan perluasan areal penambangan seluas 412 yang sebagian besar yaitu sekitar 245 Ha merupakan hutan lindung.

(10)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

478 ekonomi serta kompensasinya terhadap pembangunan masyarakat kota Padang belum tergambar dengan sempurna.

Dilihat dari potensi bukit karang putih, menurut Fandri (2009) deposit bahan baku semen di areal 412 Ha, potensi batu kapur (CaO) adalah sekitar 601.137.000 ton. Jika harga per ton adalah Rp 427.500 maka nilai ekonominya adalah Rp 256.986.067.500 (256 triliyun rupiah), sedangkan kandungan batu silica pada kawasan 412 Ha ini adalah 313.164.000 ton dengan harga per ton adalah Rp 47.500 maka nilai

ekonomi untuk batu silica (SiO2) adalah Rp 14.875.290.000.000 (14

triliyun rupiah). Jadi areal 412 Ha mempunyai potensi batu kapur dan

batu silica sebesar Rp 271.861.357.500.000. Dengan asumsi full mining

maka deposit ini akan habis dalam 56 tahun, atau diperkirakan potensi total sebesar Rp 4.854.667.098.214 (4,8 triliyun rupiah) per tahun.

Jika menengok ke persoalan lingkungan, kawasan areal penambangan

412 Ha merupakan daerah tangkapan air (catchment area) yang

seyogyanya dipelihara atau dilestarikan, namun untuk kepentingan pembangunan dan aspek perekonomian bangsa dan rakyat serta setelah melalui perdebatan panjang, pertimbangan dan kajian-kajian di tingkat nasional maka saat ini areal 412,03 Ha sudah dialih fungsikan. Walaupun pengalih fungsian lahan sudah memiliki kekuatan peraturan perundang-undangan, namun dampak yang ditimbulkan tidak serta merta dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap lingkungan. Masyarakat Kota Padang merupakan daerah penerima dampak langsung dari kegiatan industri ini, mulai dari persoalan pencemaran air dan sungai, pencemaran udara, kerusakan lahan pertanian dan penurunan produksi padi akibat erosi tanah serta berkurangnya hutan yang

mengandung keanekaragaman hayati dan merupakan asimilator CO2,

masalah jalan, pendangkalan pelabuhan dan masalah lingkungan lainnya maka sudah selayaknya menjadi pertimbangan khusus dan tersendiri dalam pengembangan pembangunan ke depan.

Mengacu kepada Peraturan Menteri Kehutanan No.

P18/Menhut-II/2011 tentang ”Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan” maka izin

(11)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

479

314 Ha kawasan hutan yang merupakan hulu DAS Batang Arau serta Cagar Alam Barisan I yang didalamnya terdapat habitat dari 135 jenis flora dan 67 jenis fauna.

Manfaat terindentifikasi dari keberadaan hutan sebagai kawasan konservasi tersebut antara lain adalah stok kayu (walaupun tidak

ditebang), fungsi tata guna air (catchment area) baik untuk pertanian

maupun sumber air bersih untuk rumah tangga serta pencegah sedimentasi sungai Batang Arau.

Tujuan penelitian ini mencari penyelesaian konflik kepentingan antara dunia usaha dan masyarakat yang terkena dampak lingkungan akibat penambangan melalui pembukaan hutan lindung dan peran pemerintah melalui valuasi ekonomi.

2. METODOLOGI

Penyelesaian konflik dari berbagai pihak ditempuh sebagai berikut :

1. Membentuk tim independen yang bekerja terdiri dari ahli

lingkungan, kimia, biologi, dan ekonomi, kehutanan, dan sosial.

2. Mempresentasikan rencana penelitian ke pihak-pihak yang

bersengketa yang dihadiri oleh Pemda setempat.

3. Membuat kesepakatan (MOU) antara dua pihak yang bersengketa

menerima segala hasil penelitian oleh tim independen yang diketahui pemerintah setempat.

4. Melakukan penelitian mencakup kualitas lingkungan berupa

variabel kimia dan fisika ( Alloway,1994)

5. Melakukan valuasi ekonomi lingkungan berupa skema berikut

(Wisnu dan Subandar , 2003)

(12)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

480

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lokasi penelitian ditunjukkan pada Gambar 2

Gambar 2. Lokasi perluasan penambangan PT. Semen Padang pada kawasan hutan lindung dan lokasi perkampungan penduduk.

Berikut merupakan hasil penelitian kualitas air Batang Arau (TSS) (Tabel 1).

Tabel 1. Hasil penelitian kualitas air Batang Arau (TSS).

(13)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

481

12. Ganting (sekitar Rumah Sakit Rekso)

Catatan : Baku mutu yang dipakai adalah baku mutu untuk air sungai kelas II

Dalam PP nomor 82 tahun 2001 pasal 55 dinyatakan bahwa untuk sungai yang belum ditetapkan peruntukannya, maka dipakai kelas II sebagai standar/baku mutu dari sungai tersebut.

Sumber: Labaoratorium Bapedalda KotaPadang.

Hasil analisa kualitas air sungai Batang Arau terutama untuk parameter TSS menujukkan diatas baku mutu peruntukkan. Hasil uji laboratorium kualitas air Sungai Batang Arau PT. Semen Padang rata-rata diatas baku mutu yaitu di bagian hulu adalah BOD5 15,4 mg/l (BM 3 mg/L), TSS 52 mg/L (BM 50 mg/L) dan bagian tengah BOD5 7,4 mg/L (BM 3 mg/L), TSS 54 mg/l (BM 50 mg/L), bagian hilir BOD5 19,52 mg/L (BM 3 mg/L), TSS 56 mg/L (BM 50 mg/L). Berikut ini merupakan foto-foto kondisi

sungai Batang Arau (Gambar 3).

(a) (b) (c)

Gambar 3. Kondisiair sungai Batang Arau (a: sebelum penambangan, b: hulu tambang, c: hilir tambang).

(14)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

482

3.1. Valuasi Ekonomi Kawasan Hutan Lindung 412 PT. Semen Padang

Berikut ini informasi dasar dan manfaat teridentifikasi (Tabel 2).

Tabel 2. Informasi dasar dan manfaat teridentifikasi.

Informasi Dasar Manfaat Teridentifikasi

Kawasan perluasan areal tambang PT. Semen Padang seluas 412,03 Ha, dengan rincian :

Bagian dari Cagar Alam Barisan I yang merupakan habitat dari 135 jenis flora dan 67 jenis fauna.Merupakan DAS Batang Arau, Luas DAS Hulu 172 km (bersumber dari Gunung Bolak).

A. Stok Kayu

B. Fungsi Tata Guna Air (catchment area) G. Kehilangan unsur hara tanah H. Penurunan produktivitas pertanian

Berikut ini merupakan tabel yang menunjukkan poin-poin nilai

teridentifikasi dan penjelasannya (Tabel 3).

Tabel 3. Nilai teridentifikasi.

Nilai Kayu Jumlah lahan adalah 412 ha x jika diasumsikan 50 % = 206

ha (asumsi adanya kemiringan /lembah pada areal 412 Ha sehingga lahan efektif adalah 206 Ha).

Jika volume komersial adalah 50 m3/ha dan harga kayu bersih di lokasi sebesar Rp 3.000.000/m3, maka nilai kayu pada areal ini maka 206 ha x 50 m3/ha x Rp 3.000.000 /m3= Rp 30.900.000.000. atau sekitar 30,9 Milyar rupiah.

Nilai Tata Guna Air untuk Persawahan

Dari data sekunder diketahui :

(15)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

483

581 ha x 2 musim/tahun x 125.000 m3/ha/musim x Rp 5/ m3 = Rp 726.250.000/tahun.

Nilai Tata Guna Air untuk Rumah Tangga

Jumlah Rumah Tangga di DAS hulu adalah : 20.000

KK/rumah tangga. Kebutuhan air per rumah tangga adalah 3/tahun/Rumah Tangga harga air menurut PDAM Kota Padang : Rp 1.500/m3.

Maka nilai air untuk rumah tangga := 20.000 KK x 200 m3/tahun/KK x Rp.1.500/ m3= Rp 6.000.000.000/tahun

Erosi Tanah Asumsi : 0,20 m x 10.000 m2 = 2.000 m3/Ha/tahun.412 Ha x

2.000 m3/Ha/tahun = 824.000 m3/tahun.

Jadi, diperkirakan tanah yang tererosi = 824.000 m3/tahun Dengan pendekatan replacement cost/ biaya yang

diperlukan armada angkutan truk, tenaga, dan waktu untuk mengangkut tanah galian dari daerah hilir ke hulu : Jika 1 truk diasumsikan mampu mengangkut 10 m3 tanah per hari, maka diperlukan 82.400 truk.

Kalau masing-masing truk disewa selama 1 (satu) tahun atau 300 hari kerja, maka diperlukan 275 truk/tahun. Dengan perkiraan nilai sewa 1 truk Rp 200.000/truk, maka biaya yang diperlukan untuk mengembalikan tanah ter erosi dari hilir ke hulu adalah : = 275 truk/tahun x Rp.

200.000/truk = Rp 55.000.000/tahun

Hilangnya Unsur Hara Tanah

Tanah yang tererosi = 412 Ha x 2.000 m3/Ha/= 824.000 m3, maka biaya kehilangan nutrisi dihitung dengan :

(Asumsi menggunakan pupuk NPK)

 Luas Lahan Top Soil yang hilang

 N : 70 % x 824.000 m3 = 576.800 m3

Nilai hilangnya unsur hara tanah = 286,72 M

Penurunan Produksi Pertanian

Erosi tanah akan menyebabkan terjadinya penimbunan lahan pertanian di bagian hilir.

Di bagian hilir dari DAS Batang Arau terdapat sekitar 250 Ha sawah dan ladang. Menurut Suparmoko (2000), dengan adanya penimbunan tanah sawah dan lahan, maka akan terjadi penurunan produktifitas lahan pertanian .

Diasumsikan turunnya produksi padi = 3 ton/ha x 2 musim tanam = 6 ton/ha. Harga 1 kg Padi = Rp 2.000

(16)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

484 : 250 Ha x Rp 12.000.000/Ha/Tahun = Rp

3.000.000.000/Ha/Tahun

Berdasarkan hasil survey lapangan Suparmoko (2000), untuk revegetasi 1 hektar dibutuhkan 1150 pohon mahoni dan biaya per pohon sebesar Rp 5.000

Jadi revegetasi hutan per hektar adalah:

1150 pohon/ha x Rp 5.000/pohon = Rp 5,75 juta/ha.

412 ha x Rp 5.750.000/ha = Rp 2.369.000.000 (2,3 milyar rupiah), Total nilai biaya langsung jika hutan lindung 412 ha, dikoversi menjadi Rp 327.401.250.000 Milyar/ tahun serta nilai pilihan Rp 16.956.000/ tahun menjadi Rp 327.418.206.000 / tahun.

4. KESIMPULAN

1. Penambahan areal tambang PT. Semen Padang seluas 412 Ha akan

memberikan dampak kepada sungai Batang Arau dan lingkungan.

2. Nilai ekonomi yang harus dikeluarkan untuk konversi areal 412 Ha

(APL, Hutan Lindung dan HSAW) menjadi areal penambangan adalah Rp 327.418.206.000 (Tiga Ratus Dua Puluh Tujuh Milyar Rupiah

3. Biaya Revegetasi Pasca Tambang lahan seluas 412 Ha adalah Rp

2.360.000.000 (Dua Koma Tiga Milyar Rupiah).

4. Biaya pemilihan ini ditanggung oleh perusahaan agar terhindar

konflik kepentingan dan kerugian masyarakat tidak dirasakan.

5. DAFTAR PUSTAKA

Alloway, B.J. and Ayres, D.C. 1994. Chemicall principles of environmental

pollution. 3rd ed. Chapman & Hall Alden Press. United Kingdom.

(17)

Indang Dewata/Solusi Koflik Ekploitasi Hutan Lindung melalui Pendekatan Mediasi Berdasarkan Konsep Valuasi Ekonomi (Studi Kasus Tambang Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang)/2015

485

Suparmoko. 2000. Ekonomi lingkungan. BPFE, Yogyakarta.

Wardhana, W.A. 2004. Dampak pencemaran lingkungan. Edisi ke 3. Andi Offset. Yogyakarta.

Wisnu, R dan Subandar. 2003. Metoda valuasi eknomi untuk penilaian kerusakan ekosistem di Pantura. Edisi pertama. BPFE. Yogyakarta. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan

(18)

PETUNJUK BAGI PENULIS

1. NASKAH

a. Naskah yang diterima adalah naskah yang berisi makalah yang ada hubungannya dengan lingkungan, dan belum pernah dipublikasikan dalam jurnal lain.

b. Format naskah dapat diunduh di www.bkpsl.org.

c. Naskah yang sudah pernah dipresentasikan, agar diberi keterangan pada catatan kaki di halaman pertama (pada forum apa, dimana, dan tanggal berapa).

d. Naskah yang ditulis dalam bahasa Indonesia diusahakan menggunakan bahasa yang mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang benar. Penggunaan istilah yang belum lazim, harap disertai penjelasan pada kalimat di dalam naskah dimana istilah itu dipakai untuk pertama kalinya.

e. Naskah dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

f. Nama instansi tempat penulis bekerja ditulis lengkap sesuai dengan tempat kerja penulis tersebut.

g. Redaksi berhak memperbaiki kerangka penulisan dan susunan bahasa yang digunakan.

2. TABEL/ILUSTRASI

Tabel/skema/grafik/ilustrasi/gambar yang melengkapi naskah harus disertai :

a. Keterangan yang jelas, dan jika ada tabel/ilustrasi dari sumber lain harus dicantumkan keterangan sumber.

b. Diberi nomor sesuai urutan dengan naskah.

c. Selengkapnya dapat diunduh petunjuk penulisan bagi penulis di website BKPSL yaitu www.bkpsl.org.

3. PENULISAN DAFTAR PUSTAKA

(19)

a. Sumber acuan yang dicantumkan dalam naskah hendaknya dicantumkan pula seluruhnya dalam daftar acuan.

b. Penulisan pustaka mengikuti pola kalimat biasa diawali dengan huruf capital diakhiri dengan titik seperti: Biomonitoring of environmental change using plants distribution patterns.

c. Daftar acuan disusun menurut abjad dengan pedoman sebagai berikut:

i. Untuk buku: Nama pengarang. Tahun terbit. Judul buku. Edisi. Nama penerbit. Kota penerbit.

Contoh:

Manning, W.J. and Feder, W.A. 1980. Biomonitoring air pollutions with plants. Applied Science Publisher. London.

ii. Untuk artikel dalam buku: Nama pengarang. Tahun. Judul artikel. Nama editor. Judul buku. Nama penerbit. Kota penerbit. Halaman.

Contoh:

Weinert, E. 1991. Biomonitoring of environmental change using plants distribution patterns. Dalam: Jeffrey, D.W. and Madden, B. (eds). Bioindicator and Environmental Management. Academic Press. London. 179-190 p.

iii. Untuk buku hasil terjemahan: Nama pengarang. Tahun. Judul buku hasil terjemahan. Judul buku asli. Nama penerjemah. Nama penerbit. Kota penerbit.

Contoh:

Fitter, A.H. and Hay, R.K.M. 1991. Fisiologi lingkungan tanaman. Diterjemahkan dari Environmental Physiology of Plants, oleh Andani, S. dan Purbayanti, E.D. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

iv. Untuk artikel dalam majalah atau jurnal: Nama pengarang. Tahun. Judul artikel. Nama majalah/jurnal volume ke-(nomor): halaman artikel.

Contoh:

(20)

Bansal, A.K. Mitra, A. Arora, R.P. Gupta, T. and Singhvi, B.S.M. 2007. Biological treatment of domestic wastewater for aquaculture. Journal of Agricultural and Biological Science 2(1):6-12.

v. Untuk makalah dalamseminar: Nama pengarang. Tahun. Judul makalah. Nama seminar. Tebal makalah.

Contoh:

Haeruman, H. 1993. Pembangunan menuju tahun 2018. Perencanaan untuk keberlanjutan: masalah, pendekatan dan pengarahan untuk masa depan. Makalah disampaikan pada seminar Natural Resources Management Project (BAPPENAS-Ministry of Forestry-USAID). Jakarta. 8 p.

vi. Untuk laporan penelitian yang telah dipublikasi: Nama peneliti. Tahun. Judul laporan penelitian. Laporan penelitian. Nomor laporan penelitian. Penerbit. Kota penerbit.

Contoh:

Muslimah, S. 2012. Hubungan antara panjang hari dan produktivitas tanaman padi di Indonesia. Laporan penelitian 12. Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB. Bogor.

vii. Untuk penulisan daftar pustaka sumber internet: Nama penulis. Tahun. Judul. Diakses dari: alamat URL (tanggal akses). Contoh:

Pramusetia, I. 2015. Keragaman iklim Indonesia. Diakses dari: www.iklimindo.com/keragamaniklimindonesia/ (18 Maret 2015).

4. PENGUTIPAN ACUAN DALAM NASKAH

Dalam naskah, pengutipan sumber informasi dapat merupakan bagian kalimat dengan pencantuman nama belakang pengarang diikuti dengan tahun terbitan dalam kurang, atau keduanya di dalam tanda kurung yang dipisahkan dengan koma.

Contoh:

(21)

Apabila nama penulis dua orang maka dapat ditulis sebagai berikut: Sari dan Muslimah (2010) atau (Sari dan Muslimah, 2010)

Apabila nama penulis lebih dari tiga maka dapat ditulis sebagai berikut:

Sari et al. (2008) atau (Sari et al., 2008)

Apabila suatu kalimat dikutip dari banyak sumber, maka acuan dalam naskah dapat ditulis sebagai berikut:

(22)

Gambar

Gambar 1. Metode penilaian lingkungan untuk penentuan valuasi ekonomi lingkungan.
Gambar 2. Lokasi perluasan penambangan PT. Semen Padang pada kawasan hutan lindung dan lokasi perkampungan penduduk
Gambar 3. Kondisi air sungai Batang Arau (a: sebelum penambangan, b: hulu tambang, c: hilir tambang)
Tabel 2. Informasi dasar dan manfaat teridentifikasi.

Referensi

Dokumen terkait