I. PENDAHULUAN. peternak, merupakan sapi yang berasal dari Daerah Simme yang berada di

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sapi Simmental atau yang lebih dikenal dengan sapi metal dikalangan peternak, merupakan sapi yang berasal dari Daerah Simme yang berada di Switzeland. Namun sekarang lebih berkembang cepat di Benua Amerika, serta di Australia dan Selandia Baru (New Zeland). Sapi ini merupakan tipe sapi pesusu dan juga sapi pedaging.

Warna dari Sapi Simmental adalah bulunya bewarna kuning hingga kecoklatan. Bobot badan sapi simmental jantan bisa mencapai 1.400 kg, sedangkan betina dewasa 600-800 kg. Secara genetik Sapi Simmental merupakan sapi yang berasal dari wilayah beriklim dingin dan merupakan tipe sapi besar. Pertambahan bobotnya mencapai 1,5-2,1 kg per hari, sehingga sangatlah prospektif apabila dibudidayakan untuk menjadi sapi potong, karena memiliki nilai ekonomis yang sangat signifikan sekali. Sapi Simmental membutuhkan adaptasi yang baik karena terdapat perbedaan pemeliharaan lingkungan ditempat asalnya yang beriklim subtropis dan Indonesia yang beriklim tropis.

Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor sapi terbesar didunia. Beberapa tahun terakhir Indonesia masih mengimpor sapi dari negara lain. Menurut Ditjen Peternakan dalam Santosa dkk (2012), pada tahun 2008 kebutuhan daging nasional sebesar 411.120 ton baru bisa dipenuhi 291.892 ton sehingga harus mengimpor 119.228 ton. Tahun 2009 dari kebutuhan 425.519 terpenuhi 306.915 sehingga masih impor 119.004 ton. Sementara itu, pada tahun

(2)

2 2010, dari kebutuhan 441.003 ton terpenuhi 397.959 ton sehingga harus impor sebesar 43.044 ton.

Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan populasi sapi nasional adalah kurangnya pasokan bibit. Sektor bibit merupakan titik krusial dalam pengembangan sapi. Kondisi ini sangat ironis karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar se-Asia Tenggara yang memeliki sumber daya alam yang melimpah. Potensi alam yang beriklim tropis dan kekayaan alam yang luas sangat memungkinkan bagi negara ini untuk mengembangkan sektor pertanian terutama pada sub sektor peternakan.

Hadi dan Ilham (2002) menyatakan bahwa terdapat beberapa permasalahan dalam industri perbibitan sapi potong diantaranya yaitu tingkat mortalitas pedet prasapih yang tinggi, bahkan mencapai 50%. Rendahnya jumlah pedet yang dihasilkan disebabkan rendahnya jumlah pedet yang mampu bertahan hidup, dan ini sehubungan dengan rendahnya bobot lahir pedet. Terjadinya kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor induk, lingkungan atau faktor genetik dan non genetik ternak. Menurut Santosa (1997), pedet yang dilahirkan oleh sapi dara akan mempunyai bobot lahir yang rendah dan resiko kematian yang tinggi. Sebaliknya pedet yang dilahirkan oleh induk yang sering melahirkan akan mempunyai bobot lahir yang tinggi dan resiko kematian yang rendah. Paritas atau urutan kelahiran merupakan salah satu tolak ukur dalam melihat tingkat reproduksi pada suatu ternak. Menurut Doloksaribu, dkk (2005), Paritas adalah bobot lahir anak berdasarkan urutan kelahiran dan paritas menjadi salah satu tolak ukur dalam pengamatan penampilan reproduksi pada ternak.

(3)

3 BPTU HPT Padang Mengatas merupakan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak yang memiliki fungsi sebagai penghasil bibit sapi unggul. Tingkat kelahiran pedet di BPTU HPT Padang Mengatas cukup tinggi sehingga hampir setiap hari terjadi kelahiran. Jenis Sapi Simmental memiliki produksi bibit yang baik¸ sehingga seekor induk sapi Simmental dapat melahirkan setiap tahun. Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan pengamatan mengenai hubungan paritas terhadap bobot lahir Sapi Simmental di BPTU HPT Padang Mengatas.

1.2 Tujuan

Tujuan dari laporan tugas akhir sebagai berikut:

1. Merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan D3 Program Studi Peternakan di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh.

2. Melihat hubungan paritas terhadap berat lahir pada pedet Sapi Simental di BPTU HPT Padang Mengatas.

(4)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sapi Simmental

Sapi Simmental sudah lama dikembangkan di Indonesia. Menurut Sarwono dan Bimo (2001), Simmental dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1985 dengan semen beku lewat kawin suntik dengan induk lokal PO. Jenis sapi ini dikembangkan di Australia dan Selandia Baru sejak tahun 1972 lewat introduksi semen beku dari Inggris dan Kanada.

Sapi Simmental merupakan jenis sapi potong yang banyak dikembangkan di Indonesia dikarenakan memiliki sifat produksi daging yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat. Sapi Simmental merupakan sapi yang berasal dari daerah lembah Simme Newzeland. Sapi Simmental termasuk kedalam kelompok Bos Taurus dengan ciri tubuh yang berbentuk kotak memanjang. Simmental asli memiliki warna merah hingga kecoklatan dengan corak warna putih pada bagian kepala, kaki dan ekor. Sapi Simmental merupakan salah satu sapi pedaging dengan pertambahan bobot badan bisa mencapai 1-1,5 kg. sapi ini menjadi sapi yang paling terkenal di Eropa. Sapi ini terkenal karena menyusui anak dengan baik serta pertumbuhan juga cepat badannya panjang dan padat, termasuk berukuran berat, baik pada kelahiran, penyapihan, maupun saat mencapai dewasa. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahmat dan Bagus, (2012) bahwa Sapi Simmental memiliki keunggulan dengan bobot badan dewasa dapat mencapai 1.400 kg dan pertambahan bobot harian dapat mencapai 2,1 kg per hari.

Sapi Simmental memiliki adaptasi yang baik di Indonesia dan memiliki kualitas daging yang baik, hal ini sesuai dengan pendapat Santosa dkk, (2012)

(5)

5 sapi Simmental sangat cocok dipelihara ditempat yang beriklim sedang. Persentase karkas sapi jenis ini termasuk tinggi dan mengandung sedikit lemak. Sapi Simmental hampir sama dengan Sapi Limousin yang memiliki volume rumen yang besar.

Sapi Simmental memiliki sifat pertumbuhan dengan bobot lahir yang tinggi, pertumbuhan yang cepat dan bobot dewasa yang tidak terlalu tinggi. Hal ini didukung oleh pendapat Blakely dan David (1998), Simmental merupakan salah satu sapi yang memiliki berat yang tinggi, baik pada kelahiran, penyapihan maupun saat mencapai dewasa. Pendapat ini juga didukung oleh Sarwono dan Hario (2001), Sapi Simmental yang berumur 23 bulan bobotnya mencapai 800 kg dan pada umur 2,5 tahun bobot sapi mencapai 1,1 ton.

2.2 Urutan Kelahiran

Kelahiran merupakan salah satu fase setelah kebuntingan yaitu proses keluarnya foetus dari rahim induk sapi. Menurut Toelihere (1985) kelahiran atau partus adalah proses fisiologik yang berhubungan dengan pengeluaran foetus dan placenta dari induk. Sebelum partus induk harus sudah memperoleh makanan yang cukup dan seimbang supaya waktu melahirkan pedet tidak terlampau kurus atau terlampau gemuk. Hewan yang bunting harus diberi kesempatan untuk beristirahat. Pada 2 sampai 3 minggu terakhir sebelum melahirkan hendaknya dicegah kerja atau gerak yang berlebihan. Hewan tersebut sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya dan ditempatkan pada lingkungan yang bersih, tenang, hangat dan menyenangkan.

Menurut Feradis (2010) otot utama yang berkontraksi ketika melahirkan adalah nyometrium. Bila cervix dan vagina diperluas, sebuah refleks yang disebut

(6)

6 refleks ferguson dimulai yang menyebabkan kontraksi perut. Kontraksi perut dan uterus akan mendorong fetus keluar. Setelah pengeluaran fetus, membran plasenta dari kotiledon (pada ruminansia) dan plasenta dikeluarkan, normalnya dalam waktu tujuh sampai delapan jam setelah melahirkan.

2.3 Bobot Lahir

Bobot lahir merupakan bobot badan pedet setelah proses kelahiran. Pedet yang berkualitas baik akan memiliki bobot lahir yang tinggi dibandingkan dengan berat lahir normal pada sapi biasanya. Bobot lahir dapat diukur dengan melakukan penimbangan lansung atau dengan pengukuran lingkar dada. Hal ini didukung oleh pendapat Sugeng, (2004) pada saat pedet lahir pencapaian bobot badan baru sekitar 8%. Bobot pedet waktu lahir bervariasi, hal ini tergantung dari jenis atau bangsa sapi yang bersangkutan. Misalnya bangsa sapi luar seperti Aberdenen Angus 28 kg, Shorthorn 30 kg, Hereford 34 kg dan Devon 36 kg.

Menurut Hardjosubroto (1994), bobot lahir adalah bobot saat pedet dilahirkan. Namun, sering dijumpai kesulitan teknis untuk menimbang pedet tepat sesaat setelah dilahirkan, sehingga biasanya bobot lahir didefinisikan bobot pedet yang ditimbang dalam kurun waktu 24 jam sesudah lahir.

Bobot lahir pada pedet sangat dipengaruhi oleh induk, hal ini didukung oleh pendapat Williamson dan Payne (1993), induk memiliki pengaruh yang cukup banyak pada perkembangan anaknya selama kebuntingan dan menyusui. Biasanya bobot lahir pertama menurun dan semakin bertambah seiring dengan pertambahan anak yang lahir.

(7)

7

III. METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan tempat

Kegiatan PKPM dilaksanakan selama tiga bulan mulai tanggal 17 Maret sampai 31 Mei 2015 bertempat di Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Padang Mengatas, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat.

3.2 Alat dan bahan

Alat yang digunakan adalah fasilitas yang ada di BPTU HPT Padang Mengatas seperti timbangan, pita ukur, catatan kelahiran, sedangkan bahan yang digunakan adalah induk sapi dan pedet Sapi Simmental. Pengamatan bobot lahir dilakukan pada 40 ekor induk Simmental dewasa.

3.3 Pelaksanaan

Metode yang dilakukan dalam melihat hubungan paritas terhadap bobot lahir sapi Simmental di BPTU HPT Padang Mengatas adalah:

1. Melakukan recording kelahiran Sapi Simmental. Tolak ukur yang diamati dalam recording Sapi Simmental diantaranya bobot lahir pedet. Bobot lahir diukur setelah proses kelahiran, pengukuran menggunakan pita ukur. Pengukuran dilakukan pada lingkar dada pedet dengan perbandingan panjang 100 cm akan sama dengan bobot pedet 89 kg. setiap pertambahan 1 cm lingkar dada akan menambah 3 kg bobot badan pedet. Apabila dibandingkan dengan rumus Scrool menggunakan lingkar dada akan menghasilkan bobot badan 149 kg untuk ukuran lingkar dada 100 cm. Terjadi selisih bobot badan

(8)

8 sebesar 60 kg, hal ini meninjukan selisih yang sangat tinggi. Metode selanjutnya yaitu mencatat identitas induk sapi atau nomor telinga. Nomor induk berhubungan dengan pemberian nomor telinga pada pedet yang akan dipasangkan nomor telinga. Tahap selanjutnya mencatat jenis kelamin pedet pada dan paritas pada pedet tersebut. Pada pengamatan ini dilakukan pada paritas I sampai III, dikarenakan rata-rata induk Sapi Simmental di BPTU HPT Padang Mengatas mencapai paritas III. Pengambilan data pada catatan kelahiran ini dilakukan dengan melihat catatan rocording kelahiran di BPTU HPT Padang Mengatas.

2. Menyusun data recording sebanyak 40 ekor induk berdasarkan nomor induk, bobot lahir pedet berdasarkan paritas I, II dan III.

(9)

9

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil pengamatan hubungan paritas terhadap bobot lahir Sapi Simmental di BPTU HPT Padang mengatas dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hubungan paritas terhadap bobot lahir pedet Simmental di BPTU HPT Padang Mengatas.

No Nomor Induk

Bobot Lahir

Paritas I Paritas II Paritas III

1 E 064/000093 28 42 45 2 PKM 0901 38 35 45 3 PBM 0756 32 45 45 4 PKM 0902 38 42 47 5 PKM 0071 30 32 40 6 366/000094 28 50 36 7 PKM 0905 31 35 40 8 PBM 0829 30 35 40 9 321/000096 29 40 50 10 PKM 0903 34 32 37 11 PKM 0906 29 29 40 12 PBM 0002 26 30 44 13 PBM 0006 25 41 38 14 PBM 0007 32 31 40 15 PBM 0010 30 42 45 16 PKM 0085 35 34 45 17 PBM 0012 25 36 45 18 PBM 0013 30 32 45 19 EVITA/000041 32 41 35 20 0025/000035 37 30 44 21 0019/000021 34 34 50 22 ZAIRA/000038 30 39 45 23 DUCHES/000039 33 39 41 24 0022/000027 29 40 25 831/7/0024 27 32 48 26 0018/000031 34 42 48 27 0017/000022 30 41 42 28 B463/000076 28 47 29 29 B466/000067 24 36 50

(10)

10 30 PKM 0081 34 45 38 31 DAZE/000060 32 40 45 32 B198/000051 22 42 45 33 B495/000072 22 43 45 34 D 488/000054 39 51 38 35 B498/000059 23 40 38 36 B497/000074 23 45 46 37 B482/000055 25 50 47 38 B493/000069 24 50 43 39 B483/000070 39 46 52 40 D199/000080 30 38 38 40

Sumber: Data recording BPTU HPT Padang Mengatas (2015).

Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat diperoleh analisis data hubungan paritas terhadap bobot lahir sapi Simmental di BPTU HPT Padang Mengatas pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2. Hasil analisis data hubungan paritas terhadap bobot lahir pedet Simmental di BPTU HPT Padang Mengatas.

No Uraian Paritas I Paritas II Paritas III

1 Rata-rata bobot lahir

(kg) 30,03 39,08 42,90 2 Persentase peningkatan Bobot Lahir (%) 30,14 9,79 3 Persentase pedet jantan/betina (%) 45,00/55,00 52,50/47,50 57,50/42,50 4 Rata-rata bobot pedet

jantan (kg) 30.72 38.23 43.43

5 Rata-rata bobot pedet

betina (kg) 29.48 39.53 42.18

6 Persentase bobot pedet

kecil 30 kg (%) 25 5 2,5

4.2 Pembahasan

Hasil pengamatan data bobot lahir Sapi Simmental diperoleh rata-rata bobot lahir pada paritas I, II dan III secara berurut adalah 30,03 kg, 39,08 kg dan 42,90 kg. Peningkatan bobot lahir terjadi setiap paritas mulai dari paritas I,II dan III. Persentase peningkatan bobot lahir dari paritas I dan II adalah 30,14%,

(11)

11 sedangkan persentase peningkatan bobot lahir paritas II dan III adalah 9,79%. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi bobot lahir pedet diantaranya pakan, jenis kelamin dan paritas.

4.2.1 Pakan

Pakan merupakan faktor penting dan menjadi titik utama dalam pengembangan dunia peternakan. Sehingga produksi ternak yang tidak didukung oleh pakan yang berkualitas dan mencukupi kebutuhan ternak akan mengurangi tingkat produksi ternak. Salah satu penyebab banyak kegagalan peternak dalam mengembangkan budidaya ternak adalah kekurangan pakan.

Menurut Parakkasi (1999), secara umum dapat dikatakan bahwa semakin intensif pemeliharaan, faktor nutrisi harus semakin kritis diperhatikan. Nutrisi yang tidak cukup merupakan penghambat utama dalam peningkatan produksiternak yang efisien di negara yang sedang berkembang.

BPTU HPT Padang mengatas menggunakan pemeliharaan dengan sistem kombinasi yaitu perpaduan sistem pasture fattening dan dry lotPasture fattening yaitu sistem penggemukan sapi dengan melepaskan sapi pada padang pengembalaan sepanjang hari. Selain itu ternak juga diberikan pakan tambahan berupa kosentrat yang diberikan satu kali sehari setiap paginya. Menurut Endang (2012) penggemukan dengan sistem kombinasi membutuhkan waktu lebih lama dari pada sistem dry lot fattening, tetapi lebih singkat daripada sistem pasture fattening.

Padang pengembalaan di BPTU HPT Padang Mengatas memiliki jenis rumput BD (Brachiaria decumbens) dengan campuran leguminosa seperti siratro (Macroptilium atropurpureum), sentro (Centrocema pubescens). Selain

(12)

12 pemberian rumput di padang pengembalaan BPTU HPT Padang Mengatas juga melakukan pemberian kosentrat yang diberikan setiap paginya, sehingga kebutuhan gizi dari induk sapi tercukupi. Kebutuhan air terhadap sapi dipenuhi dengan pemberian secara ad libitum di padang pengembalaan. Penyediaan air dilakukan dengan membuat bak tempat air minum yang selalu dialiri oleh air setiap saat. Dengan kondisi pemberian pakan dan minum yang mencukupi dapat memenuhi kebutuhan induk sapi yang sedang bunting.

4.2.2 Jenis kelamin

Jenis kelamin mempengaruhi dalam penentu bobot lahir pada pedet. Pedet dengan jenis kelamin jantan memiliki bobot lebih tinggi dibandingkan pedet betina. Pendapat ini didukung oleh Parakkasi (1999), anak sapi jantan umumnya lebih berat pada waktu lahir dibandingkan anak sapi betina.Adanya korelasi antara lama kebuntingan dengan bobot lahir, sebab tingginya bobot lahir anak jantan adalah kerena lebih lama dalam kandungan.

Hasil pengamatan Tabel 2 dapat diamati pada paritas I persentase pedet betina lebih tinggi dibandingkan persentase pedet jantan. Tingginya persentase pedet betina mengakibatkan rata-rata bobot lahir Sapi Simmental pada paritas I menjadi rendah. Persentase pedet betina pada paritas I adalah 55% sedangkan persentase pedet jantan 44%. Pada paritas II persentase pedet jantan lebih tinggi dibandingkan pedet betina, persentase pedet jantan adalah 52,50% sedangkan pedet betina 47,52%. Pada paritas III persentase pedet jantan lebih tinggi dibandingkan pedet betina, persentase pedet jantan adalah 57,50 sedangkan pedet betina adalah 42,50%. Tingginya persntase pedet jantan dibandingkan dengan pedet betina mengakibatkan peningkatan peningkatan bobot lahir pada setiap

(13)

13 urutan kelahiran. Penelitian yang dilakukan Doloksaribu (2005), terhadap bobot lahir Kambing Kacang menghasilkan peningkatan bobot lahir dari paritas I sampai III. Kelahiran kambing jantan lebih tinggi dibandingkan dengan kelahiran kambing betina dengan jumlah jantan 108 ekor dan betina 97 ekor. Pernyataan ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Kaswati, dkk (2013), berat lahir Sapi Bali cendrung meningkat dari I sampai kelahiran V, dan selanjutnya mengalami penurunan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Prajaso,dkk (2010), rasio jenis kelamin Sapi Bali hasil inseminasi buatan menunjukan persentase kelahiran pedet jantan lebih tinggi dibandingkan pedet betina. Persentase kelahiran pedet jantan yaitu 55,69% sedangkan pada pedet betina 44,31%. Hasil penelitian ini juga didukung oleh pendapat Berry dan Cromie (2007) dalam Prajaso, dkk (2010), menyatakan peoses inseminasi buatan menigkatkan peluang untuk mendapatkan anak sapi jantan dibandingkan anak betina.

Pada Tabel 2 dapat diamat terjadi peningkatan rata-rata bobot lahir pada pedet jantan dan betina. Rata-rata bobot lahir pedet jantan pada paritas I, II dan III berturut-turut 30,72 kg, 38,23 kg dan 43,43 kg. rata-rata bobot lahir pedet betina pada paritas I, II dan III secara berturut-turut 29,48 kg, 39,53 kg dan 42,18 kg. Hasil tersebut berbeda dengan bobot lahir penelitian persilangan sapi Simmental dengan persilangan Simmental dan PO oleh Rohadi, dkk (2013), yang menghasilkan bobot lahir pada pedet jantan 39,55 kg dan pedet betina 34,07 kg, jika dibandingkan perbedaan ini tidak berbeda nyata.

(14)

14 4.2.3 Urutan kelahiran

Bobot lahir pada paritas I merupakan bobot lahir paling rendah dibandingkan dengan urutan kelahiran II dan III. Pada Tabel 2 dapat diamati rata-rata bobot lahir Sapi Simmental pada paritas I mencapai 30,03 kg. Faktor yang mempengaruhi rendahnya bobot lahir tersebut adalah fisiologi induk. Pada kelahiran pertama fisiologi induk belum dapat beradaptasi dengan baik terhadap proses kebuntingan dan kelahiran. Pendapat ini didukung oleh Aak (1990), dewasa kelamin pada sapi lebih dahulu dari pada dewasa tubuh, sehingga sering sapi yang dikawinkan terlalu muda. Pada sapi sub tropis bisa dikawinkan umur 1-1,5 tahun. Kelemahan perkawinan terlalu awal akan mengakibatkan induk sulit melahirkan, anak dilahirkan kurang sehat akibat pertumbuhan induk yang kurang sempurna sehingga produksi air susu yang dihasilkan sedikit untuk perkembangan pedet. Induk merupakan faktor penting dalam perkembangan foetus baik sebelum ataupun sesudah melahirkan, pendapat ini didukung oleh Santosa (1997), umur induk sangat mempengaruhi bobot lahir sapi. Pedet yang dilahirkan oleh sapi dara akan mempunyai bobot lahir yang rendah dan memiliki resiko kematian yang tinggi. Sebaliknya pedet yang dilahirkan oleh induk yang sering melahirkan akan mempunyai bobot lahir yang tinggi dan resiko kematian yang rendah. Sebagai contoh, bobot lahir pedet dari induk umur 3 tahun akan lebih tinggi 1,5-3 kg dibandingkan dengan bobot lahir pedet yang berasal dari induk yang berumur 2 tahun. Hal ini juga didukung oleh pendapat Feradis (2010), kontribusi genetik induk lebih besar dibandingkan pejantan dalam penentu ukuran foetus.Pada kenyataannya telah diperkirakan bahwa 50% sampai 75% variabilitas dalam bobot

(15)

15 lahir ditentukan oleh faktor induk. Besar induk mempunyai korelasi positif terhadap besar foetus.

Bobot lahir sapi yang rendah akan mempengaruhi peluang hidup hidup pedet pada fase selanjutnya. Pendapat ini juga didukung oleh Santosa (1997), pedet yang dilahirkan oleh sapi dara akan mempunyai bobot lahir yang rendah dan resiko kematian yang tinggi. Sebaliknya pedet yang dilahirkan oleh induk yang sering melahirkan akan mempunyai bobot lahir yang tinggi dan resiko kematian yang rendah.

Menurut Ismaya (2014), rata-rata bobot lahir pada Sapi Simmental 30 kg. Pada Tabel 2 dapat diperhatikan paritas I persentase pedet yang memilki bobot kurang dari 30 kg adalah 25%. Pada paritas II pedet yang memiliki bobot lahir di bawah 30 kg adalah 5%. Pada paritas III pedet yang memiliki bobot lahir kurang dari 30 kg adalah 2,5%. Rata-rata terjadi penurunan persentase kelahiran yang memilkiki bobot kurang dari 30 kg, hal ini menunjukan adanya pengaruh paritas terhadap bobot lahir Sapi Simmental. Bobot lahir yang rendah akan mengakibatkan kondisi pedet yang lemah, pernyataan ini didukung oleh Jackson (2004), menyatakan kelahiran foetus yang lemah diakibatkan kurangnya nutrisi selama kebuntingan. Pedet yang lemah akan sulit untuk berdiri dan suplai kolostrum tidak tercukupi. Pedet yang baru lahir harus segera mendapat kolostrum yang baik untuk menunjang pertumbuhan dan sekaligus antibodi bagi pedet. Menurut Rianto dan Endang (2009), kolostrum terdiri atas plasma darah dan susu yang sangat berguna bagi anak sapi yang baru lahir karena mengandung immunoglobulin dan vitamin yang lebih banyak dibandingkan susu biasa.

(16)

16

V. KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:

1. Rata-rata bobot lahir pedet Simmental paling tinggi pada paritas III (42,90 kg) dan yang terendah pada paritas I (30,03 kg).

2. Persentase jenis kelamin pedet Simmental paling banyak adalah betina (55,00%) pada paritas I, jantan (52,50%) pada paritas II, dan jantan (57,50%) pada paritas III.

3. Bobot pedet Simmental jantan lebih tinggi (37,86 kg) dibanding betina (36,64 kg).

4. Persentase pedet yang memiliki bobot di bawah 30 kg pada paritas I (25%), paritas II (5%) dan paritas III (2,5%).

5.2 Saran

Berdasarkan hasil pengamatan dan penulisan laporan tugas akhir, disarankan kepada peternak dalam memilih bibit sebagai bakalan pilihlah bibit yang berasal dari induk yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Pedet yang baik memiliki bobot lahir yang tidak rendah sehingga mendukung pertumbuhan pedet.

(17)

17 DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1990. Sapi Potong dan Kerja. Penerbit Kanisius. Girisonta.

Blakely, B. dan David H.B. 1998. Ilmu Peternakan .Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.

Doloksaribu.M, Simon. E, Fera. M dan Fitria. A P. 2005. Produktivitas Kambing kacang Pada kondisi di Kandangkan: 1 Bobot Lahir, Bobot Sapih, Jumlah Anak Sekelahiran, dan Daya Hidup Anak Prasapih. Sumatera Utara. Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Alfabeta. Bandung.

Hadi, P.U dan Nyak Ilham. 2002. Problem dan Prospek Pembangunan Usaha Pembibitan Sapi Potong di Indonesia. Bogor.

Hardjosubroto, Wartomo. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Ismaya. 2014. Bioteknologi Inseminasi Buatan Pada Sapi dan Kerbau. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Jackson, P.G.G. 2004. Obstetri Veteriner. Gadjah Mada University Press. Cambridge.

Kaswati, Sumadi dan Nono, N. 2013. Etimasi Nilai Heritabilitas Berat Lahir, Sapih dan Umur Satu Tahun Pada Sapi Bali Di Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Bali. Bali.

Parakkasi, A.1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia.Universitas Indonesia. Jakarta.

Prasojo. G, Iis. A dan Kusdianto. M. 2010. Korelasi Antara Lama Kebuntingan, Bobot Lahir dan Jenis Kelamin Pedet Hasil Inseminasi Buatan Pada Sapi Bali. Bali.

Rahmat dan Bagus, H. 2012. Tiga Jurus Sukses Menggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Rianto, E dan Endang, P. 2009. Panduan Lengkap Sapi potong. Penebar Swadaya. Semarang.

Rohadi, I.A, M. Nur, I dan Hary, N. 2013. Penampilan produksi pedet pada induk peranakan simental yang di inseminasi dengan sapi limousin dan simental. Blitar.

Santosa, K. Warsito dan Agus Andoko. 2012. Bisnis Penggemukan Sapi. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Santosa, U. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jayagiri.

Sarwono, B dan Hario Bimo Arianto.2001. Penggemukan Sapi potong Secara Cepat. Penebar Swadaya. Cimanggis.

(18)

18 Toelihere. M,R. 1977. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa. Bogor. Toeliehere. M,R. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Angkasa. Bandung. Williamson, G dan W.J.A Payne.1993. Pengantar Peternakan di Daerah

(19)

19 Lampiran 1. Profil Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak

Padang Mengatas 1.1 Sejarah

BPTU HPT Padang Mengatas pertama kali didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1916, ternak yang dikembangkan adalah kuda dan pada tahun 1935 didatangkan sapi Zebu dari Benggala India untuk dikembangbiakan. Pada zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 – 1949 kegiatan terhenti, pada tahun 1950 oleh Wakil Presiden Dr.Moh. Hatta dipugar kembali dan tahun 1951 – 1953 dijadikan sebagai Stasiun Peternakan Pemerintah dan diberi nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas. Pada tahun 1955 ITT Padang Mengatas merupakan stasiun peternakan yang terbesar di Asia Tenggara, dimana ternak yang dipelihara adalah ternak kuda, sapi, kambing dan ayam.Namun tahun 1958 – 1961 terjadi pergolakan PRRI, dan lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan sebagai basis pertahanan PRRI sehingga ITT Padang Mengatas rusak berat.Dibenahi kembali oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat pada tahun 1961. Tahun 1973 – 1974 pemerintah jerman mengadakan kebijakan di ITT Padang Mengatas maka tahun 1974 – 1978 dilakukan kerjasama pembangunan kembali ITT Padang Mengatas antara Pemerintah RI dan Jerman melalui proyek Agriculture Development Project (ADP).

1.2 Kondisi Geografis

BPTU HPT Padang mengatas merupakan unit pelaksanaan teknis Ditjen peternakan dan kesehatan hewan yang berperan dalam menghasilkan bibit sapi potong unggul, yang berlokasi di Padang Mengatas, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berjarak lebih kurang 12

(20)

20 km dari Kota Payakumbuh dan lebih kurang 136 km dari Kota Padang, Ibukota Provinsi Sumatera Barat dengan batas lokasi sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kenagarian Mungo dan Bukit Sikumpar Sebelah Selatan : Gunung Sago

Sebelah Timur : Dusun Talaweh

Sebelah Barat : Kenagarian Sungai Kamunyang Timur

BPTU HPT Padang Mengatas memiliki luas areal 280 Ha, yang terdiri dari 268 Ha kebun rumput dan pasture, 12 Ha untuk kandang, kantor, perumahan dan jalan. Lingkungan dengan status tanah merupakan milik negara dengan bukti Erpacht Vervonding No. 202 dan 207, sertifikat hak pakai Kementrian Pertanian No.5 tahun 1997.

Topografi BPTU HPT Padang mengatas bergelombang dan berbukit landai dengan ketinggian 700-900 mdpl, dengan beriklim tropis dan temperatur mencapai 1 Jenis tanah di BPTU HPT Padang Mengatas adalah Podsolik Merah Kuning dengan tekstur liat, pH 5,6 keadaan ini sangat baik untuk pengembangan peternakan sapi.

(21)

21 1.3 Struktur Organisasi

1.4 Sarana Produksi

Untuk mendukung kegiatan produksi bibit unggul BPTU HPT Padang Mengatas memiliki sarana produksi antaralain sebagai berikut: 28 plot padang pengembalaan dengan kode nomor 1 sampai 23 dan kode huruf A sampai F. BPTU juga memilki 6 buah kandang sebagai sarana pendukung produksi bibit. Kendaraan traktor sebagai pengolah lahan padang pengembalaan sebanyak 4 buah dan sarana transportasi 3 buah mobil. Sebagai tempar penyimpanan persediaan pakan BPTU HPT Padang Mengatas memiliki 3 buah gudang penyimpanan dan satu unit mikser kapasitas 750 kg sebagai pengaduk ransum. Sebagai biosecurity BPTU HPT Padang Mengatas memiliki 1 buah kandang restorasi tempat spraying

Pejabat Fungsional

Kasubag TU Ir.Irwandi. MP Kepala Balai

Ir.Sugiono. MP

Kasi Sarana dan Prasarana Drh. Darwis Kasi Pelayanan Teknis

Ir. Yanhendri, M.si

Kasi Informasi dan Jasa Produksi Drh.Indahwati MP

(22)

22 dan bak dipping serta gerbang utama yang dilengkapi dengan spraying untuk kesehatan ternak. BPTU HPT Padang Mengatas memilki sebuah labor sebagai pusat penelitian dan pengobatan terhadap ternak.Satu buah mesin coper sebagai pencoper rumput dan leguminosa sebelum diberikan terhadap ternak.

(23)

23 Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan PKPM

Gambar 1. Sapi Simmental bunting

(24)

24 Gambar 3. Sapi Simmental setelah kelahiran

(25)

25 Gambar 6. Pengukuran lingkar dada pada pedet sapi Simmental

(26)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :