• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISU-ISU GLOBAL & KONTEMPORER. Analisis dan Fakta Lapangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ISU-ISU GLOBAL & KONTEMPORER. Analisis dan Fakta Lapangan"

Copied!
283
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

ISU-ISU GLOBAL &

KONTEMPORER

Analisis dan Fakta Lapangan

(3)

ii

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronik maupun mekanis, termasuk memfotocopy, merekam dan dengan sistem penyimpanan lainnya tanpa izin tertulis dari penulis.

(4)

iii

ISU-ISU GLOBAL &

KONTEMPORER

Analisis dan Fakta Lapangan

BOOK CHAPTER

PENULIS

Akhyar Anshori, Ananda Mahardika, Agung Saputra, Fadhil Pahlevi Hidayat, Efendi Agus,

Jehan Ridho Izharsyah, Sahran Saputra, Sigit Hardiyanto, Wahyudi Winarjo, Faizal Hamzah

Lubis, Yurisna Tanjung

(5)

iv Judul :

Isu-Isu Global & Kontemporer Analisis dan Fakta Lapangan

Penulis

Akhyar Anshori, Ananda Mahardika, Agung Saputra, Fadhil Pahlevi Hidayat , Efendi Agus, Jehan Ridho Izharsyah, Sahran Saputra, Sigit Hardiyanto, Wahyudi Winarjo, Faizal Hamzah Lubis, Yurisna Tanjung

Editor :

Winarti dan Nadra Amalia Desain Sampul

Prayoga Dinata

Cetakan Pertama ; Oktober 2021 xviii ; 264 hlm; 15 x 23 cm

ISBN : 978-623-6402-77-1 E-ISBN : 978-623-6402-78-8 (PDF) Penerbit

Redaksi

Jalan Kapten Muktar Basri No 3 Medan, 20238 Telepon, 061-6626296,Fax. 061-6638296 Email; [email protected]

Website; http://umsupress.umsu.ac.id/

Anggota IKAPI Sumut, No : 38/Anggota Luar Biasa/SUT/2020 Anggota APPTI (Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia)

Anggota APPTIMA (Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah)

(6)

v

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR _______________________________ vii DAFTAR TABEL _________________________________ ix DAFTAR DIAGRAM ______________________________ xi PRAKATA _____________________________________ xiii PENGANTAR EDITOR ____________________________ xv PENGANTAR PENERBIT __________________________ xvii BAB 1

Prolog: Analisis dan Fakta Lapangan Dunia

Perpolitika hingga Interaksi Sosial Remaja di Era Digital

Winarti ____________________________________ 1 BAB 2

Politik Uang dan Korupsi dalam Pemilihan Kepala Daerah: Tinjauan Sosiologi Politik

Akhyar Anshori ____________________________ 5 BAB 3

Mengobati Kemiskinan dengan Sosiologi Kebijakan Publik

Ananda Mahardika ___________________________ 27 BAB 4

Pertukaran Sosial antara Kemiskinan dan Kepentingan Politik

Agung Saputra _____________________________ 55 BAB 5

Interaksi Sosial Remaja di Era Digital

Fadhil Pahlevi Hidayat ________________________ 77 BAB 6\

Studi Analisis Bank Sampah dan Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarkat

Efendi Agus ________________________________ 95

(7)

vi BAB 7113

Investasi Internasional dalam Integrasi Ekonomi Regional di Sumatera Utara113

Jehan Ridho Izharsyah _______________________ 113 BAB 8137

Islamophobia dan Geliat Gerakan Sosial Kaum Muda Muslim

Sahran Saputra ____________________________ 137 BAB 9167

Aktualisasi Praktik Sosial dalam Kehidupan Keluarga di Kota Medan167

Sigit Hardiyanto ____________________________ 167 BAB 10187

Radikalisme, Nasionalisme, dan Ketahanan Keluarga Berbasis Budaya187

Wahyudi Winarjo __________________________ 187 BAB 11203

Patologi Sosial Dinasti Politik dalam Polarisasi Demokrasi Otonomi Daerah

Faizal Hamzah Lubis _______________________ 203 BAB 12

Partisipasi Politisi Perempuan di Partai Politik

Yurisna Tanjung ___________________________ 223 BAB 13245

Epilog : Isu-isu Global dan Kontemporer yang Dianalisis245 Nadra Amalia ________________________________ 245 GLOSARIUM ____________________________________ 249 INDEKS _______________________________________ 251 TENTANG PENULIS ______________________________ 255 TENTANG EDITOR_______________________________ 263

(8)

vii

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Keterangan Halaman

2.1 Ilustrasi Politik Uang 16

2.2 Ilustrasi Korupsi 18

4.1 Kerangka Konsep 74

7.1 Diskusi Presiden dengan beberapa menteri di Pinggiran

Danau Toba 122

7.2 Indikator Pengembangan

Transportasi 123

7.3 Pendataan Pekerja Asal Cina

oleh Imigrasi Sumatera Utara 125 7.4 Bidang Investasi Di KEK Sei

Mangkei Pembahasan 127

7.5 Konsep Investasi di Sumatera

Utara 131

10.1 Implementasi deradikalisasi 193 10.2 Tri sentra pendidikan 196 11.1 Ilustrasi Dinasti Politik 207 11.2 Skema Teori Pertukaran 210 11.3 Ilustrasi Dinasti Politik Jokowi 216 12.1 Hirarki Bentuk Partisipasi Politik

menurut

Michael Rush & Philip Althoff 237

(9)

viii

(10)

ix

DAFTAR TABEL

No. Tabel Keterangan Halaman

2.1 Tindak Pidana Korupsi

Berdasarkan Instansi 20

7.1 Rekomedasi Pengembangan

Geopark Kaldera Toba 122 7.2 Data Kasus dan Pelanggaran TKA

Di Indonesia 126

8.1

Perubahan Sosial Politik Gerakan Hijrah dalam Perspektif Islam Populisme dan Post- Islamisme

160

12.1 Pengurus Partai 238

12.2 Nomor Urut Pencalegkan Pemilu

2019-2024 240

12.3 Jumlah Pemenang Pada Pemilu

2019-2024 241

(11)

x

(12)

xi

DAFTAR DIAGRAM

No.

Diagram Keterangan Halaman

Diagram.1

Persepsi Pemilih Kota Medan Terkait Politik Uang Pada

Pilkada Kota Medan Tahun 2020

15

(13)

xii

(14)

xiii

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan karunia-Nya, sehingga book chapter dengan judul Isu-isu Global dan Kontemporer (Analisis dan Fakta Lapangan) ini dapat terbit sebagaimana yang diharapkan.

Terdapat sebanyak 11 paper hasil penelitian dan kajian pustaka dibukukan dalam book chapter ini. Book chapter ini merupakan bagian proses dari pembelajaran mata kuliah isu-isu global & kontemporer pada program studi Doktoral Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang dengan dosen pengampu mata kuliah ibu Dr.

Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si dan Bapak Dr.

Wahyudi, M.Si.

Harapan kami, dengan terbitnya book chapter ini, semoga dapat menambah referensi dan wawasan terkait dengan isu-isu global dan kontemporer serta dapat digunakan sebagai rujukan oleh berbagai pihak.

Hormat kami,

Medan, 20 Oktober 2021 Tim Penulis

(15)

xiv

(16)

xv

PENGANTAR EDITOR

Penulis adalah pengamat dan pembaca yang hebat. Ia mampu menangkap sesuatu yang kebanyakan orang tidak berhasil menangkapnya, sekalipun itu hal yang kecil dan rumit mampu ia jadikan sebagai bahan tulisan yang bermanfaat. Demikian kiranya dengan para penulis di book chapter ini, ditulis oleh 11 orang dengan judul rangkuman tulisan Isu-isu Global dan Kontemporer Analisis dan Fakta Lapangan.

Semua tulisan punya ciri khas “penangkapan”

tersendiri, keahlian tersendiri, dan cara mengemas tersendiri dalam membahas tentang politik uang, sosiologi kebijakan publik, pertukaran sosial, kehidupan sosial remaja di era digital, studi analisis bank sampah, integrasi ekonomi nasional, Islamophobia, aktualisasi praktik sosial, radikalisme, nasionalisme, dinasti politik, dan partisipasi politisi perempuan.

Tulisan di book chapter ini akan menjadi rekam jejak bagi para penulisnya dan menjadi amal jariyah karena pembaca yang akan terus mencari, membaca, dan memanfaatkan informasi di dalamnya. Semua membahas tentang isu-isu global dan kontemporer seputar tentang politik, meski begitu tulisan ini masih dapat dibaca oleh mereka yang bukan berasal dari latar belakang politik karena sifat tulisan yang global.

Selamat membaca untuk para pembaca dan selamat kepada para penulis yang berhasil menulis. Harapan saya tetaplah menulis untuk mengungkap hal yang belum berhasil ditangkap oleh masyarakat.

Medan, 23 Oktober 2021 Editor

(17)

xvi

(18)

xvii

PENGANTAR PENERBIT

Sebagai penerbit perguruan tinggi, UMSU Press berupaya secara konsisten menyediakan terbitan ilmiah yang berkualitas sesuai dengan visi UMSU Press menjadi penerbit perguruan tinggi yang unggul secara nasional tahun 2025.

Melalui book chapter berjudul Isu-Isu Global &

Kontemporer Analisis dan Fakta Lapangan pembaca diajak untuk memahami terkait isu-isu global dan kontemporer seputar tentang Politik Uang dan Korupsi dalam Pemilihan Kepala Daerah: Tinjauan Sosiologi Politi, Mengobati Kemiskinan dengan Sosiologi Kebijakan Publik, Pertukaran Sosial antara Kemiskinan dan Kepentingan Politik, Interaksi Sosial Remaja di Era Digital, Studi Analisis Bank Sampah dan Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat, Investasi Internasional dalam Integrasi Ekonomoi Regional di Sumatera Utara, Islamaphobia dan Geliat Gerakan Sosial Kaum Muda Muslim, Aktualisasi Praktik Sosial dalam Kehidupan Keluarga di Kota Medan, Radikalisme, Nasionalisme, dan Ketahanan Keluarga Berbasis Budaya, Patologi Sosial Dinasti Politik dalam Polarisasi Demokrasi Otonomi Daerah, dan Partisipasi Politisi Perempuan di Partai Politik.

Buku ini sangat cocok bagi pembaca yang ingin mendapatkan pemahaman tentang isu-isu global dan kontemporer dari berbagai sudut pandang yang ditulis apik oleh 11 penulis. Akhirnya, UMSU Press mengucapkan ribuan terimakasih kepada semua pihak yang berpartisipasi dan membantu penerbitan buku ini.

Selamat membaca.

UMSU Press

(19)

xviii

(20)

1

BAB 1

Prolog: Analisis dan Fakta Lapangan Dunia Perpolitika hingga Interaksi Sosial Remaja di Era Digital

Winarti A. Pendahuluan

Book chapter ini dimulai dari perbincangan tentang politik uang yang masih tetap memunculkan banyak persoalan yang terjadi baik di tataran lokal maupun di tataran nasional, di antaranya adalah semakin menjamurnya politik uang dan korupsi. Dalam kontestasi politik, politik uang merupakan tindakan yang disengaja oleh seseorang atau kelompok dengan memberi atau menjanjikan uang atau bentuk materi lainnya kepada orang lain sebagai upaya mempengaruhi sikap politik orang lain.

Fenomena politik uang cenderung hadir menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan pada saat terselenggaranya kontestasi pemilihan umum. Baik pemilihan umum tingkat nasional maupun pemilihan umum tingkat daerah bahkan sampai pemilihan tingkat aras bawah yakni pemilihan kepala desa. Maraknya praktik politik uang yang terjadi ini, tidak terlepas dari cara pandang masyarakat atau pemilih dalam menyikapinya.

Masyarakat menilai praktik politik uang adalah sebuah kewajaran dan merupakan bagian dari pesta masyarakat dalam memperoleh uang atau barang tanpa melihat dampak bahaya dari praktik tersebut.

(21)

2

Lalu disusul dengan masalah kemiskinan yang merupakan suatu kondisi yang dihadapi oleh setiap negara.

Kemiskinan seperti penyakit yang menginfeksi tubuh negara. Infeksi kemiskinan menyebabkan masyarakat menjadi tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Masyarakat menjadi lemah, berada dalam keterasingan dan keterbelakangan, serta terhambat untuk memperoleh berbagai akses yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupannya seperti pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, maupun akses dalam bidang politik.

Oleh karena itu, untuk menyembuhkan penyakit kemiskinan ini, negara melakukan berbagai upaya yang dituangkan dalam bentuk kebijakan publik. Namun kebijakan yang sudah dijalankan pemerintah, hanya mampu mengobati atau menghilangkan sementara rasa nyeri kemiskinan yang dialami masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi kebijakan publik, diharapkan mampu memberikan solusi untuk menanggulangi masalah kemiskinan.

Kemudian ditemani dengan bab-bab lain yang menjadi keasikan tersendiri dalam book chapter ini seperti bank sampah, Islamopobhia, radikalisme, investasi ekonomi sosial, hingga partisipasi perpolitikan perempuan.

B. Pembabakan

Dalam pandangan Islam, politik uang dikategorikan ke dalam risywah. Risywah atau penyuapan merupakan tindakan yang dilarang keras, hal ini dapat dilihat dari firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 188 yang artinya: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. Cara-cara yang bathil

(22)

3

dalam ayat tersebut mengisyaratkan pada beberapa kegiatan seperti sumpah dusta, mencuri, suap dan riba.

Perbuatan-perbuatan tersebut merupakan sebuah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah Swt. Akhyar Anshori mencoba membongkar tentang politik uang dalam bab tulisannya yang berjudul Politik Uang dan Korupsi dalam Pemilihan Kepala Daerah: Tinjauan Sosiologi Politik.

Sumber data yang didapat tahun 2018 dari APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia) menjelaskan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai angka 64,8% atau sekitar 171,17 juta pengguna. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa pengguna internet di Indonesia juga mencapai separuh dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 264,16 juta penduduk.

Kehadiran dunia digital yang memunculkan internet membuat manusia dapat melakukan segala hal dengan mudah dan praktis, seperti kemudahan dalam memperoleh dan mencari informasi, membangun dan menjalin hubungan serta berkomunikasi satu sama lain dengan orang-orang yang ada di seluruh dunia. Internet juga membentuk sesuatu dunia yang baru yang disebut dengan dunia maya. Demikian galauan Fadhil Fahlevi Hidayat dalam babnya tentang Interaksi Sosial Remaja di Era Digital yang telah meresahkan jika mereka tidak mampu menahan godaannya.

Perbincangan hal lainnya yang menarik tentang bank sampah juga menjadi bagian yang sangat bermanfaat jika dibaca, belum lagi tentang pembahasan jenggot, tanda hitam di kening, celana cingkrang yang membuat mata tidak mau berhenti membaca. Perempuan yang mengambil alih perpolitikan dianggap lemah menjadi pelengkap book chapter ini. Selamat menikmati hidangan lezat di book chapter ini.

(23)

4 Daftar Pustaka

D. P. Nasional, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

“Quran Surat AL-Baqarah Ayat 188.”

https://tafsirweb.com/699-quran-surat-al-baqarah- ayat-188.html.

APJII, “Penetrasi & Profil Perilaku Pengguna Internet Indonesia Tahun 2018,” Apjii, p. 51, 2019.

(24)

5

BAB 2

Politik Uang dan Korupsi dalam Pemilihan Kepala Daerah: Tinjauan Sosiologi Politik

Akhyar Anshori1,2

1Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang e-mail:

[email protected]

2Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Abstrak

Persoalan politik uang dan korupsi merupakan sebuah persoalan yang masih selalu menjadi perbincangan di Indonesia. Politik uang yang selalu menghiasi setiap momentum kontestasi pemilu menciptakan para pemilih menjadi pemilih yang apatis dan pragmatis. Pemakluman politik uang di tengah-tengah masyarakat memberikan cerminan betapa pendidikan politik tidak terbangun secara baik di Indonesia. Modal politik yang besar berakibat tumbuhnya potensi korupsi yang tidak hanya dilakukan oleh para pejabat, tetapi juga orang-orang yang berada di lingkaran pejabat tersebut. Kajian ini dilakukan melalui kajian literatur guna melihat bagaimana politik uang dan korupsi yang terjadi di Indonesia. Dalam kajian ini ditemukan bahwa politik uang terjadi karena tidak berjalannya pendidikan politik yang dilakukan oleh elemen yang berperan, terutama pemerintah dan partai politik. Keberadaan politik uang merupakan bentuk mendelegitimasi proses demokrasi.

Sementara itu terkait korupsi, modal besar yang dikeluarkan seseorang pada momentum pemilihan umum, mengharuskannya untuk dapat mengembalikan modal dan mengakumulasi modal tersebut. Sanksi yang diberikan kepada pelaku korupsi hingga saat ini belum memberikan efek jera bagi para pelaku lainnya, terbukti catatan pelaku korupsi semakin meningkat bahkan dengan teganya melakukan tindakan korupsi terhadap dana bantuan sosial tengah pandemi Covid-19 ini.

Kata kunci: Politik uang, korupsi, pemilihan kepala Daerah

(25)

6

Pascareformasi 1998, perjalanan dan dinamika politik yang terjadi di Indonesia masih tetap memunculkan banyak persoalan yang terjadi baik di tataran nasional maupun di tataran lokal, di antaranya adalah semakin menjamurnya politik uang dan korupsi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, politik uang (money politic) sama dengan makna suap yaitu uang sogok[1]. Dalam kontestasi politik, politik uang merupakan tindakan yang disengaja oleh seseorang atau kelompok dengan memberi atau menjanjikan uang atau bentuk materi lainnya kepada orang lain sebagai upaya mempengaruhi sikap politik orang lain. Sedangkan korupsi menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah perbuatan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri seperti menggelapkan uang atau menerima uang sogok[1].

Fenomena politik uang cenderung hadir menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan pada saat terselenggaranya kontestasi pemilihan umum. Baik pemilihan umum tingkat nasional maupun pemilihan umum tingkat daerah bahkan sampai pemilihan tingkat aras bawah yakni pemilihan kepala desa. Maraknya praktik politik uang yang terjadi ini, tidak terlepas dari cara pandang masyarakat atau pemilih dalam menyikapinya.

Masyarakat menilai praktik politik uang adalah sebuah kewajaran dan merupakan bagian dari pesta masyarakat dalam memperoleh uang atau barang tanpa melihat dampak bahaya dari praktik tersebut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)[2] pascapemilu 2019, menemukan bahwa 40% responden dari total 1.500 responden menyatakan menerima pemberian uang tetapi tidak mempertimbangkan untuk memilih yang memberikan uang tersebut, sedangkan 37% lainnya mengaku menerima pemberian uang dan akan mempertimbangkan si pemberi uang untuk dipilih.

(26)

7 Pendahuluan

Politik uang dalam kontestasi pemilihan umum menjadikan masyarakat pemilih sebagai objek yang dapat di umpamakan sama halnya dengan pasar. Dalam kajian teori Karl Polanyi[3] terkait regulasi pasar dan gerakannya dalam membuat tatanan demokrasi melalui logika kebutuhan pasar menjadi sebuah dasar praktik politik uang dalam menjawab kebutuhan riil dari pemilih. Pemberian uang atau barang merupakan salah satu wujud kepedulian kandidat dalam menjawab persoalan masyarakat, hal ini dilihat dari perspektif kandidat.

Keterlibatan langsung dalam kontestasi pemilihan umum memang sangat dipengaruhi oleh kekuatan modal ekonomi dan juga modal sosial. Kesanggupan modal ekonomi yang tidak sejalan dengan kemampuan memobilisasi masyarakat menjadi sebuah persoalan mendasar akan terciptanya politik uang. Kontestan cenderung beranggapan bahwa uang dapat membeli hak suara dari masyarakat, padahal masyarakat yang mulai tersadarkan akan menentukan sikap politiknya tidak hanya dalam bentuk sebatas pemberian uang ataupun barang.

Dalam kontestasi pemilihan umum ini sendiri, memaknai penggunaan uang dalam aktivitas pemilihan umum harus dapat dilihat dari 2 definisi yaitu uang politik dan politik uang. Uang politik[4] adalah akumulasi modal yang dimiliki untuk mendukung operasional kegiatan- kegiatan yang dilakukan oleh kandidat. Sedangkan politik uang adalah sebagaimana yang telah diutarakan sebelumnya terkait dengan upaya mempengaruhi sikap politik masyarakat.

Posisi politik uang sendiri dalam kegiatan pemilihan umum terjadi melalui pemberian janji terhadap seseorang atau sekelompok orang lainnya dengan harapan menggunakan hak suaranya untuk memilih kandidat tertentu ataupun sebagai upaya agar seseorang atau

(27)

8

kelompok tersebut tidak menyalurkan hak suaranya pada hari pemungutan suara. Pemberian yang dimaksud dalam hal ini tidak hanya dalam bentuk uang semata, tetapi juga dapat berupa barang lainnya.

Maraknya potensi politik uang yang terjadi pada pelaksanaan pemilihan umum, memunculkan berbagai asumsi terkait dengan roda pemerintahan dan kinerja legislatif pasca terselenggaranya pemilihan umum. Modal ekonomi besar yang harus dikeluarkan oleh kandidat pada saat pemilihan umum, memunculkan potensi akan terjadinya korupsi pada saat kandidat tersebut telah memegang tampuk kekuasaan.

Berbagai data yang disajikan oleh beberapa lembaga yang fokus membahas tentang fenomena korupsi, menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu keluar dari zona maraknya pelaku korupsi. Padahal, salah satu harapan yang dicetuskan dari proses reformasi adalah bagaimana korupsi yang terjadi di era orde baru akan dapat teratasi melalui gerakan reformasi? Korupsi yang terjadi tidak hanya terdapat pada lembaga-lembaga pemerintahan saja, akan tetapi juga melanda pada perusahan swasta yang menjamur hingga ke penjuru negeri.

Korupsi yang dilakukan oleh oknum pejabat dan anggota legislatif, tidak terlepas dari upaya untuk melakukan pengembalian modal politik dalam proses pemilihan yang terjadi. Biaya politik yang cukup besar yang dikeluarkan oleh seseorang dalam mengikuti proses pemilihan, memunculkan spekulasi untuk dapat mengembalikan modal tersebut bahkan sebagai upaya untuk memperkaya diri dan kelompoknya yang dilakukan melalui korupsi.

Sebagai kasus terakhir yang menjerat dua orang menteri dalam Kabinet Indonesia Maju yang merupakan kader partai politik besar di Indonesia, menunjukkan bahwa korupsi masih sangat sulit untuk bisa diatasi di Indonesia.

(28)

9

Hal ini diperparah lagi dengan kondisi yang sedang melanda dunia, pandemi covid-19 masih terus membayangi sendi- sendi kehidupan, akan tetapi masih banyak terdapat oknum yang mencoba memperkaya diri di tengah kondisi yang ada.

Kajian ini berupaya untuk melihat dampak yang terjadi dari pertumbuhan tingkat politik uang dan korupsi yang terjadi di Indonesia. Perilaku politik uang dan korupsi ini sangat berdampak bagi kehidupan bangsa Indonesia di tengah persaingan pertumbuhan ekonomi di dunia. Politik uang dan korupsi telah menjadi wabah yang sangat berbahaya di tengah ketimpangan sosial dan ekonomi yang semakin jauh jaraknya.

Kajian Pustaka

Teori Konstruksi Realitas Sosial

Berger dan Luckman[5] menjelaskan bahwa realitas dibangun atas dua hal yaitu realitas subyektif dan realitas obyektif. Realitas subyektif berbicara tentang pengetahuan individu dan dikonstruksi melalui proses internalisasi diri individu. Sedangkan realitas obyektif lahir dari tindakan dan tingkah laku yang telah mapan terpola sebagai sebuah fakta. kehidupan sehari-hari yang terjadi di dunia ini menurut Berger dan Luckman[6]merupakan penampilan diri dalam bentuk kenyataan yang diterjemahkan oleh manusia.

Dengan memandang masyarakat sebagai proses yang berlangsung dalam tiga momen dialektis yang simultan (eskternalisasi, objektivasi, dan internalisasi) serta masalah yang berdimensi kognitif dan normatif, maka yang dinamakan kenyataan sosial itu adalah suatu konstruksi sosial produk masyarakat sendiri (social constructions of reality) dalam perjalanan sejarahnya di masa lampau, ke masa kini, dan menuju masa depan.[6]

Bagi Berger dan Luckmann[6], masyarakat merupakan kenyataan objektif dan sekaligus kenyataan subjektif.

Sebagai kenyataan objektif, individu berada di luar diri

(29)

10

manusia dan berhadap-hadapan dengannya. Sedangkan sebagai kenyataan subjektif, individu berada di dalam masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Individu adalah pembentuk individu. Maka itu, kenyataan sosial bersifat ganda dan bukan tunggal, yaitu kenyataan objektif dan sekaligus subjektif.

Teori konstruksi sosial dalam pandangan Berger dan Luckman mengandaikan bahwa agama sebagai bagian dari kebudayaan, merupakan konstruksi manusia. Artinya terdapat proses dialektika ketika melihat hubungan masyarakat dengan agama bahwa agama merupakan entitas yang objektif karena berada di luar diri manusia.

Dengan demikian, agama mengalami proses objektivasi, seperti ketika agama berada di dalam teks atau menjadi tata nilai, norma, aturan, dan sebagainya. Teks atau norma tersebut kemudian mengalami proses internalisasi ke dalam diri individu sebab agama telah diinterpretasikan oleh masyarakat untuk menjadi pedomannya. Agama juga mengalami proses eksternalisasi karena ia menjadi acuan norma dan tata nilai yang berfungsi menuntun dan mengontrol tindakan masyarakat.[6]

Politik Uang (Money Politic)

Politik uang (Money Politic) menurut Thahjo Kumolo [7]

adalah upaya membujuk dan merayu orang lain (masyarakat) dengan memberikan imbalan tertentu karena proses tersebut dilakukan dalam upaya mengubah sikap dan prilaku masyarakat terhadap pilihan politiknya, baik dalam tataran politik tingkat nasional maupun tataran politik tingkat lokal. Proses yang dilakukan tersebut merupakan sebuah wujud dari tindakan yang dilakukan secara sengaja dan terencana.

Politik uang ini sendiri dapat berupa bentuk uang tunai maupun dalam bentuk barang lainnya. Bahkan penulis pernah menemukan bagian dari politik uang ini dalam

(30)

11

bentuk pembagian daging ayam. Dimana kontestan yang berkompetisi pada saat berlangsungnya Pemilihan Umum Kepala Daerah, sang kandidat yang turut serta berkompetisi merupakan salah seorang pengusaha di bidang ayam potong. Hal ini dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya mempengaruhi sikap politik orang lain.

Dalam hal pendistribusian nya, politik uang ini memiliki beberapa bentuk, diantaranya dilakukan melalui pembagian uang atau barang yang dilakukan pada waktu fajar menjelang di mulainya pemungutan suara atau yang lebih dikenal dengan istilah serangan fajar. Selain serangan fajar, bentuk pendistribusian politik uang ini juga terjadi pada saat masa kampanye sedang berlangsung. Kampanye yang membutuhkan dukungan masyarakat banyak juga sangat berpotensi dijadikan sebagai sarana untuk melakukan praktik politik uang.

Menurut Johnston dan Pattie[8] peran uang dalam pemilu saat ini menjadi perbincangan yang sangat menarik.

Dimana dampak yang terjadi dalam penggunaan uang untuk mempengaruhi orang lain sangat berdampak pada sistem pemilu dan politik. Hal ini tidak terlepas dari biaya yang dikeluarkan setiap kandidat dalam pemilu serta berapa banyak kandidat tersebut memperoleh dukungan politik melalui perolehan suara yang diraih.

Berkembangnya politik uang ini sendiri, tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang ada, dimana kemiskinan, pengetahuan masyarakat tentang pemilu serta budaya yang terdapat ditengah-tengah masyarakat Indonesia menjadi dasar maraknya politik uang. Kemiskinan melahirkan sikap untuk memperoleh uang secara instan dengan cara menerima pemberian yang dilakukan oleh kandidat. Dalam sisi pengetahuan tentang pemilu, masyarakat masih sangat acuh dengan aktifitas pemilu yang berlangsung. Sedangkan dari sisi budaya, dalam masyarakat Indonesia telah tertanam jiwa saling memberi dan tidak boleh menolak

(31)

12

pemberian yang akhirnya menciptakan semakin menjamurnya politik uang yang berlangsung dalam kontestasi pemilu.

Korupsi

Korupsi merupakan kegiatan memberi atau menerima sesuatu dari sebuah aktifitas yang telah dilakukan dan bertentang dengan peraturan yang berlaku terkait dengan tugas rutin sehari-hari. Korupsi merupakan penyalahgunaan jabatan publik untuk keuntungan pribadi dan kelompok.[9]

Dalam pandangan Islam, kasus korupsi ini sendiri pernah terjadi di masa Rasulullah, dimana dalam hadist yang di riwayatkan Al-bukhori yang artinya: “Dari Abdullah ibn Amr ra, ia berkata: “Ada seseorang yang bernama Karkirah, yaitu pembawa barang-barang Nabi SAW, ia mati dalam peperangan, lalu Nabi mengatakan: “ia masuk neraka”. Kemudian para sahabat memeriksanya, ternyata mereka mendapatkan sehelai pakaian yang ia korup dari ghanimah. Bila melihat riwayat itu jelas bahwa seorang pelaku korupsi hukuman di akhirat nya adalah hajab neraka meskipun dia meninggal dunia dalam kondisi perang menegakkan agamanya, tetapi prilaku korupsi nya telah membuat ia masuk ke neraka.

Korupsi merupakan kata yang paling sering di dengar oleh masyarakat Indonesia berkat informasi yang disampaikan oleh media. Terlebih korupsi ini terjadi di seluruh lini kehidupan bangsa Indonesia, hal ini dapat dilihat dari index persepsi korupsi yang dilakukan oleh Corruption Perception Index (CPI).

Terkait dengan korupsi ini, presiden Joko Widodo dalam kunjungan nya ke Amerika Serikat pada tahun 2015 ketika berdialog dengan Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Amerika Serikat, mengutarakan bahwa terdapat 9 Menteri, 19 Gubernur dan 300 Bupati/Walikota yang dipenjara karena terlibat kasus korupsi.[10] Data ini

(32)

13

tentunya mengalami peningkatan, dimana hingga Awal desember 2020 ini, kasus korupsi masih banyak terjadi bahkan dilakukan di tengah penanganan mewabahnya kasus covid-19.

Tertangkapnya dua orang menteri yang merupakan pembantu presiden Joko Widodo, menunjukkan bahwa mental dan moral yang melanda pejabat Indonesia masih dalam tataran yang sangat rendah. Bahkan kasus korupsi dalam pengelolaan dana bantuan Covid-19 menambah luka mendalam bagi masyarakat Indonesia.

Pemilihan Kepala Daerah

Pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020 merupakan bagian dari proses demokrasi di tingkat lokal yang telah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 yang telah mengalami perubahan menjadi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2020.

Pelaksanaan pilkada tahun 2020 ini meliputi 270 daerah di Indonesia yang terdiri dari 9 propinsi, 37 kota dan 224 kabupaten.

Pilkada yang berlangsung di masa pandemi covid-19 ini menimbulkan banyak pertentangan terkait dengan faktor keamanan dan perlindungan kesehatan terhadap pemilih. Kesan memaksakan pelaksanaan pilkada untuk tetap bergulir di situasi seperti ini, melahirkan berbagai persepsi dan anggapan di tengah-tengah masyarakat. Biaya besar yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan pilkada ini sendiri, seharusnya dapat lebih diprioritaskan demi kesejahteraan dari masyarakat. Kondisi pandemi covid-19 membuat masyarakat banyak yang mengalami kondisi keuangan yang tidak baik, bahkan hal ini diperparah dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang di rumah kan akibat dampak Covid-19.

(33)

14 Hasil Dan Pembahasan

Berbagai kajian dan studi yang berlangsung, terkait dengan persepsi politik uang yang terjadi dalam kontestasi pemilihan umum, menunjukkan bahwa kecenderungan masyarakat Indonesia memaklumkan hal tersebut terjadi.

Sebagaimana hasil penelitian LIPI pasca pemilu 2019 yang mengemukakan bahwa ada sekitar 40% pemilih dari 1.500 responden yang menyatakan akan menerima pemberian uang dan tidak akan memilih yang memberikan serta terdapatnya 37% pemilih yang menerima uang dan akan mempertimbangkan untuk memilih yang memberikan uang, menunjukkan bahwa politik uang yang terjadi di tengah penyelenggaraan pemilu merupakan sebuah hal yang wajar dan tidak dipermasalahkan.

Hasil kajian yang dilakukan oleh LIPI sejalan dengan hasil kajian yang dilakukan oleh laboratorium Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada awal Nopember 2020 yang menunjukkan bahwa terdapat sekitar 34,5% masyarakat Kota Medan akan menolak pemberian uang yang dilakukan oleh kandidat. Dimana terdapat 23,9

% pemilih dari 1.100 responden yang akan menerima pemberian uang tersebut tetapi tidak akan memilih kandidat yang memberikannya. Serta terdapat 21,4%

pemilih yang akan memilih kandidat yang telah memberikan uang kepada pemilih.

(34)

15

20,2 21,4

23,9 34,5

Tidak Tahu/Tidak Jawab Akan menerima dan akan memilih

calon yang memberi uang Akan menerima uangnya, tapi

tidak akan memilih calonnya Tidak akan menerima pemberian

uang tersebut

Diagram 1. Persepsi Pemilih Kota Medan Terkait Politik Uang Pada Pilkada Kota Medan Tahun 2020

Sumber: Hasil Penelitian Laboratorium Sosial Politik FISIP UMSU, 28 Oktober-1 Nopember 2020

Praktik politik uang sendiri telah menjadi rahasia umum di masyarakat Indonesia di tengah semakin tingginya pragmatisme pemilih terkait dengan pelaksanaan pemilu.

Pemilih cenderung menjadikan pemilu sebagai ajang transaksional dalam menentukan sikap memilihnya.

Rendahnya rasionalitas pemilih dalam menentukan sikapnya membuat politik uang tidak dapat dipisahkan dari setiap momentum pemilu yang berlangsung.

Dalam pandangan Islam, politik uang dikategorikan ke dalam risywah. Risywah atau penyuapan merupakan tindakan yang dilarang keras, hal ini dapat dilihat dari Firman Allah Swt. dalam surat Al-baqarah ayat 188[11] yang artinya: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. Cara-cara yang bathil dalam ayat tersebut mengisyaratkan pada beberapa kegiatan seperti sumpah dusta, mencuri, suap dan riba.

Perbuatan-perbuatan tersebut merupakan sebuah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah Swt.

(35)

16

Di ayat lain Allah Swt. berfirman yang artinya: “wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.[12]. Karena menerima suap merupakan tindakan yang dilarang oleh Islam, maka apa yang dikonsumsi dari hasil suap tersebut merupakan sebuah keburukan, oleh karena itu Allah mempertegas kepada manusia untuk senantiasa makan makanan yang baik, yaitu makanan yang diperoleh dengan jalan halal dan baik.

Upaya untuk menanggulangi maraknya politik uang yang terjadi dalam setiap perhelatan pemilu merupakan sebuah usaha dan ikhtiar bersama guna mewujudkan pemilu yang bersih dan memiliki integritas. Sanksi hukum pidana dan administrasi yang telah ditetapkan terhadap pelaku politik uang, nyatanya tidak menghentikan aktivitas ini berlangsung. Politik uang yang terjadi dalam pemilu pastinya memberikan dampak yang luas bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Terganggunya proses kedaulatan rakyat yang berlangsung dalam pemilu melalui praktik politik uang akan merusak proses dan demokratisasi yang berlangsung dalam periode sirkulasi kepemimpinan. Modal besar yang dikeluarkan seorang kandidat kepala daerah untuk meraih kursi kepemimpinan, tidaklah berbanding lurus dengan penghasilan yang saah selama ia memimpin.

Gambar 2.1. Ilustrasi Politik Uang

(36)

17

Sebagai contoh Pilkada Kota Medan Tahun 2020, kota yang dihuni oleh 1.600.001 orang pemilih sesuai Daftar pemilih Tetap (DPT) 2020 yang tersebar di 21 kecamatan, 151 kelurahan, dan 2001 lingkungan, pastinya membutuhkan biaya operasional yang cukup besar dalam misi memenangkan kontestasi pilkada. Jangankan berbicara tentang dana serangan fajar, untuk memenuhi kebutuhan operasional tim sukses saja, dengan struktur administrasi yang begitu besarnya, pastinya akan membutuhkan dana yang cukup besar. Artinya jika diasumsikan setiap lokasi yang berjumlah 2.173 orang memiliki tim sukses yang diberikan tunjangan operasional sebesar Rp.1.000.000, dengan masa kerja selama 6 bulan, maka dikeluarkan biaya sekitar Rp.13.038.000.000,.

Sebuah pengeluaran yang sangat besar ditambah lagi periodisasi yang berlangsung hanyalah terhitung 3 tahun, yakni 2021-2024.

Besarnya biaya politik yang dikeluarkan seseorang dalam momentum kontestasi politik, sangat berpotensi untuk melahirkan para pemimpin yang bertindak korup.

Tindakan korupsi tidak hanya terjadi pada individu yang hendak meraih kekuasaan semata, tetapi juga terjadi kepada individu atau kelompok yang memiliki hubungan erat dengan kandidat. Perilaku korupsi ini tidaklah berdiri sendiri tetapi dilakukan dalam berbagai bentuk seperti penyuapan, nepotisme, pencurian dan penyalahgunaan kewenangan serta sumber daya publik lainnya.

(37)

18

Gambar 2.2. Ilustrasi Korupsi

Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lahir dari rahim reformasi berdasarkan amanat Undang- Undang nomor 30 Tahun 2002 memberikan angin segar dalam upaya memberantas segala bentuk tindakan korupsi yang berlangsung di Indonesia. Dalam pembentukan KPK ini, setidaknya terdapat lima kewenangan yang luar biasa, pertama, KPK didirikan sebagai sebuah struktur otonom yang dalam tindakannya tidak dapat diintervensi oleh pihak manapun. Kedua, dalam menjalankan tugasnya, KPK diberikan kewenangan untuk dapat menyelidiki dan mengadili kasus korupsi yang terjadi. Ketiga, terkait kasus korupsi, penyelesaiannya dilakukan di pengadilan khusus anti korupsi dan keempat KPK diberikan hak untuk melakukan penyadapan komunikasi dalam usahanya melakukan penyelidikan serta yang kelima penetapan komisioner KPK dilakukan secara terbuka dan transparan.

Dalam menjalankan tugasnya di sepuluh tahun pertama terbentuknya KPK, komisi ini memperlihatkan kinerja yang sangat luar biasa dalam upaya pemberantasan tindakan korupsi yang terjadi. Tercatat pada periode ini, banyak pejabat publik yang menjadi pesakitan atas ulah mereka sendiri yang bertindak korup, seperti anggota DPR dan menteri kabinet. Tidak hanya itu, di tahun 2009 KPK juga menorehkan catatan baik dalam menumbuhkan tingkat

(38)

19

kepercayaan masyarakat kepada institusi ini. Pada tahun tersebut KPK mengadili Aulia Pohan yang merupakan Deputi Bank Indonesia sekaligus besan atau orang tua laki-laki dari menantu Presiden Indonesia saat itu Susilo Bambang Yudhoyono. Tindakan yang dilakukan oleh KPK menunjukkan ke publik bahwa tidak ada seorang pun yang bisa terbebas dari jeratan hukum, meski orang tersebut berada dekat di sisi penguasa.

Tidak hanya berhenti pada penyelesaian kasus Aulia Pohan, pada tahun 2010 KPK kembali melakukan gebrakan dengan menetapkan seorang Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004. Kasus ini berawal dari pemberian cek pelawat beberapa anggota DPR RI periode 1999-2004 sebagai upaya suksesi kepemimpinan. Dalam kasus ini tercatat 27 orang mantan anggota DPR yang terlibat menerima suap pada pemilihan tersebut.

Catatan-catatan keberhasilan KPK dalam menyelesaikan kasus-kasus korupsi yang terjadi, ternyata tidak sepenuhnya diterima dengan baik oleh oknum-oknum yang ada. Bukan hanya itu saja, DPR dan pihak kepolisian juga mencoba untuk membatasi kewenangan luar biasa yang dimiliki KPK. Tercatat berbagai upaya pelemahan KPK dilakukan baik oleh DPR dan kepolisian. Usaha yang dilakukan oleh DPR dalam membatasi kewenangan KPK dilakukan melalui perubahan Undang-Undang KPK, Undang- Undang No 30 Tahun 2002 telah direvisi menjadi Undang- Undang No 19 Tahun 2019.

Kelahiran Undang-Undang No 19 Tahun 2019 yang disertai penambahan struktur di KPK dengan keberadaan Dewan Pengawas membuat lembaga ini tidak dapat menjalankan fungsinya secara efektif. tindakan penyadapan yang dilakukan oleh KPK harus terlebih dahulu memperoleh izin dari dewan pengawas sebelum tindakan itu dilakukan. Tidak efektifnya tindakan KPK ini berdampak

(39)

20

bagi tingkat kepercayaan masyarakat kepada lembaga anti rasuah tersebut.

Tabel 2.1. Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Instansi

Instansi 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Juml ah

DPR dan DPRD 2 3 15 9 4 7 0 74

Kementrian/

Lembaga 26 21 39 31 47 44 2 367

BUMN/BUMD 0 5 11 13 5 17 5 78

Komisi 0 0 0 0 0 0 0 20

Pemerintah

Provinsi 11 18 13 15 29 11 6 145

Pemkab/Pemko

t 19 10 21 53 114 66 30 391

Jumlah 58 57 99 121 199 145 43 1075

Sumber: https://www.kpk.go.id/id/statistik/penindakan/tpk-berdasarkan-instansi 1 Juni 2020[14]

Kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, nyatanya belum dapat dituntaskan dengan sangat baik. Catatan yang disampaikan ICW [13] ternyata sejak 1996 hingga tahun 2020 masih terdapat sekitar 36 buronan kasus korupsi yang belum dapat ditangkap oleh KPK dan aparatur keamanan lainnya. Buronan teranyar kasus korupsi ini adalah Harun Masiku yang merupakan mantan calon anggota legislatif dari PDIP yang tersangkut kasus suap terkait pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI periode 2019-2024 yang juga melibatkan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan.

Dari data yang disajikan tabel 1, menunjukkan bahwa kasus korupsi merupakan sebuah persoalan yang serius untuk dapat segera diselesaikan, mengingat pembangunan

(40)

21

bangsa ini masih sangat jauh tertinggal dibandingkan negara-negara maju yang ada. Potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia pada dasarnya merupakan sebuah kekuatan untuk dapat mensejajarkan negara ini dengan negara-negara lainnya. Prilaku korup yang dilakukan oleh para oknum, seharusnya dijatuhi tindakan tegas dan memberikan efek jera bagi pelaku dan masyarakat lainnya yang memanfaatkan situasi serta kondisi untuk berlaku korup.

Politik uang dalam perhelatan pemilu membawa dampak negatif yang cukup signifikan dalam perjalanan roda pemerintahan serta keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Politik transaksional yang terjadi dalam momentum pemilu menjadi tunas pertumbuhan korupsi di Indonesia. Tercatat bahwa banyak kasus korupsi yang terjadi di Indonesia merupakan bagian dari penggalangan dana haram guna suksesi pemilu. Catatan dari KPK pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 179 tersangka korupsi yang ditangani merupakan aktor politik, yaitu mereka yang pada saat kasus itu terjadi sedang menduduki jabatan anggota DPR, DPRD dan kepala daerah. Bahkan catatan dari Indonesian Corruption Watch (ICW) menemukan sejak 2010 hingga 2018, terdapat sekitar 503 orang anggota dewan baik DPR maupun DPRD serta 253 kepala daerah yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

Di penghujung tahun 2020 ini di tengah masa pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan oleh dua orang oknum menteri yang melakukan tindakan pidana korupsi. Kasus pertama yang melibatkan menteri kelautan dan perikanan merupakan kasus terkait izin ekspor benih lobster yang merupakan bagian dari kewenangannya.

Sementara itu kasus yang kedua menjerat menteri sosial dalam kaitannya dengan korupsi dana bantuan sosial di masa pandemi Covid-19.

(41)

22

Berkaca dari beberapa persoalan yang terjadi terkait politik uang dan korupsi, kiranya diperlukan sebuah aturan terkait sanksi yang tegas terhadap pelaku politik uang dan korupsi. Meskipun dalam aturan yang berlaku, sanksi yang ditetapkan telah tertulis sangat jelas, namun pada kenyataannya sanksi tersebut tidak memberikan efek jera bagi pelakunya. Bahkan perilaku korupsi semakin tumbuh subur dan menjamur di tengah-tengah kehidupan masyakat Indonesia.

Selain mempertegas aturan yang berlaku, pendidikan politik bagi masyarakat merupakan sebuah keharusan yang senantiasa dilakukan oleh seluruh elemen yang ada, terutama oleh pemerintah dan partai politik.

Kecenderungan partai politik di Indonesia yang hadir di tengah-tengah masyarakat pada saat momentum pemilihan saja, secara tidak langsung melahirkan para pemilih yang bersikap apatis dan pragmatis. Dimana pemilih hanya disodorkan deretan daftar nama-nama kontestan yang ada, tanpa jauh jauh hari diberikan pemahaman tentang betapa pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan di negara yang menganut sistem demokrasi ini.

Penutup

Persoalan politik uang yang terjadi di tengah-tengah pelaksanaan pemilihan umum merupakan sebuah persoalan serius yang harus segera diatasi. Keberadaan politik uang itu sendiri pada hakikatnya merupakan bentuk mendelegitimasi proses demokrasi. Proses yang berlangsung akan senantiasa dilakukan melalui pendekatan pragmatis dan transaksional.

Biaya politik yang besar dalam proses pemilihan umum, pada akhirnya menimbulkan potensi korupsi sesaat setelah ditetapkan sebagai pemenang. Korupsi yang terjadi merupakan bagian dari upaya mengembalikan modal yang

(42)

23

telah dikeluarkan serta upaya untuk mengakumulasikan dana sebagai bagian dari proses pemenangan berikutnya.

Transaksional politik dan korupsi politik ini seharusnya dapat segera diatasi dengan memberikan sanksi yang tegas, bukan saja sanksi pidana, tetapi juga meliputi sanksi sosial. Hukuman pidana kurungan, perampasan harta koruptor bahkan hukuman mati yang dijatuhkan kepada para koruptor, hingga saat ini belum mampu menjadi efek jera bagi pelaku lainnya. Terlebih, ringannya hukuman pidana bagi koruptor yang menurut hemat penulis sangat menyakiti hati masyarakat Indonesia membuat prilaku korup semakin menjamur hingga ke lingkup yang paling kecil.

(43)

24 Kau, Pembunuh Berdarah Dingin Katamu tentang korupsi,

Ingat ini saja kamu jangan lupa,

kalau kenapa-kenapa nanti kasihan anak istrimu, kasihan suamimu. Mereka pasti keluar malu.

Anak-anak yang masih kecil dia sekolah nanti di-bully pasti nangis.

Tapi kini, kau yang jadi tersangka Katamu,

korupsi adalah musuh utama yang harus kita perangi.

korupsi bukan hanya sekadar mengambil uang,

tetapi juga tidak melayani rakyat dengan baik adalah salah satu bentuk korupsi.

Tapi kini, kau yang jadi pesakitan Mulut mu manis tapi sifatmu Iblis

Di tengah Covid-19 kau semakin mengiris Kata-katamu indah tapi kau serakah

Di tengah musibah kau mencoba memperkaya Ya, Kau, pembunuh Berdarah Dingin

Karenamu, banyak rakyat yang menjadi korban Karenamu, anak-anak kehilangan harapan Karenamu, negeri ini menjadi bahan cercaan Ya, kau, kau pembunuh Berdarah Dingin Kelakuanmu menambah kedukaan negeri ini Tindakanmu membuktikan kegagalan negeri ini Perbuatanmu menambah catatan kelam negeri ini Terlalu ringan hukum di negeri ini

Pada pelaku korupsi yang terbukti mencuri Terlalu tak berpengaruh hukuman di negeri ini

Bagi Pelaku Korupsi untuk tetap bisa memperkaya diri

Medan, 10 Desember 2020 Akhyar Anshori

(44)

25 References

[1] D. P. Nasional, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta:

Pusat Bahasa, 2008.

[2] D. M. Purnamasari, “Survei LIPI: Masyarakat Memandang Politik Uang Bagian dari Pemilu, Tidak Dilarang,” kompas.com, Jakarta, Aug. 29, 2019.

[3] M. Cangiani, “‘Freedom in a Complex Society’: The Relevance of Karl Polanyi’s Political Philosophy in the Neoliberal Age,” Int. J. Polit. Econ., vol. 41, no. 4, pp. 34–53, 2012, doi: 10.2753/IJP0891-1916410403.

[4] D. Saputro and Erni Zuhriyati, “Perkembangan Money Politik Di Pilkada Tahun 2018 di Kabupaten Ponorogo,” in Prosiding Konferensi Nasional ke-8 Asosiasi Program Pascasarjana Perguruan Tinggi Muhammadiyah (APPPTMA), 2018, pp. 1–10, [Online].

Available: http://www.appptma.org/wp- content/uploads/2019/07/62.978-623-90018-0- 3.pdf.

[5] M. M. Poloma, Sosiologi Kontemporer. Jakarta:

Rajawali Press, 2010.

[6] P. L. Berger and T. Luckmann, Tafsir Sosial atas Kenyataan. Jakarta: LP3ES, 1990.

[7] T. Kumolo, Politik Hukum Pilkada Serentak, Cet. 1.

Bandung: Mizan Publika, 2015.

[8] R. Johnston and C. Pattie, “Money and votes: a New Zealand example,” Polit. Geogr., vol. 27, no. 1, pp.

113–133, Jan. 2008, doi:

10.1016/j.polgeo.2007.07.002.

[9] A. C. Drury, J. Krieckhaus, and M. Lusztig,

“Corruption, Democracy, and Economic Growth,” Int.

Polit. Sci. Rev., vol. 27, no. 2, pp. 121–136, Apr.

2006, doi: 10.1177/0192512106061423.

[10] M. P. Ratya, “Jokowi: 9 Menteri, 19 Gubernur, 300 Bupati/Walikota Dipenjara,” news.detik.com, Oct.

(45)

26 26, 2015.

[11] “Quran Surat AL-Baqarah Ayat 188.”

https://tafsirweb.com/699-quran-surat-al-baqarah- ayat-188.html.

[12] “Quran Surat Al-Baqarah Ayat 168.”

https://tafsirweb.com/650-quran-surat-al-baqarah- ayat-168.html.

[13] N. Habibie, “ICW Catat Masih Ada 36 Buronan Koruptor Berkeliaran di Luar Negeri,” merdeka.com, Jakarta, Nov. 06, 2020.

[14] KPK, “Statistik Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan

Instansi,” KPK, 2020.

https://www.kpk.go.id/id/statistik/penindakan/tpk -berdasarkan-instansi (accessed Dec. 01, 2020).

(46)

27

BAB 3

Mengobati Kemiskinan dengan Sosiologi Kebijakan Publik

Ananda Mahardika 1 , 2

1Mahasiswa Program Doktoral Sosi ologi Uni versitas Muhammadi yah Mal ang e-mail: [email protected]

2Dosen Program Studi Il mu Admi ni strasi Publik Uni versitas Muhammadi yah Sumatera Utara Abstrak

Masalah kemiskinan merupakan suatu kondisi yang dihadapi oleh setiap negara. Kemiskinan seperti penyakit yang menginfeksi tubuh negara. Infeksi kemiskinan menyebabkan masyarakat menjadi tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Masyarakat menjadi lemah, berada dalam keterasingan dan keterbelakangan, serta terhambat untuk memperoleh berbagai akses yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupannya seperti pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, maupun akses dalam bidang politik. Oleh sebab itu, untuk menyembuhkan penyakit kemiskinan ini, negara melakukan berbagai upaya yang dituangkan dalam bentuk kebijakan publik. Namun kebijakan yang sudah dijalankan pemerintah, hanya mampu mengobati atau menghilangkan sementara rasa nyeri kemiskinan yang dialami masyarakat. Tulisan ini, bertujuan untuk memberikan gambaran desain kebijakan publik yang dikombinasikan dengan pendekatan sosiologi khususnya pada teori struktur fungsional. Dengan Menggunakan pendekatan Sosiologi kebijakan publik, diharapkan mampu memberikan solusi untuk menanggulangi masalah kemiskinan.

Kata Kunci: Kemiskinan, Sosiologi, Kebijakan Publik,

(47)

28 Pendahuluan

Kemiskinan adalah masalah yang sangat populer bagi suatu pemerintahan. Masalah kemiskinan seperti penyakit kronis yang dapat menjangkiti setiap negara. Ancaman kemiskinan tidak hanya dihadapi oleh negara terbelakang atau negara berkembang tetapi juga dihadapi oleh negara maju. Sebagai penyakit kronis yang menjangkiti suatu negara, kemiskinan belum ditemukan obatnya. Pada umumnya diagnosa kemiskinan seringkali disebabkan oleh dua gejala utama yakni gejala ekonomi dan gejala sosial. Gejala ekonomi ditandai dengan rendahnya pendapatan masyarakat, daya beli yang rendah, angka pengangguran tinggi, dan berbagai indikator ekonomi lain yang dapat menjelaskan ukuran kemiskinan. Sedangkan gejala sosial dapat dilihat dari kondisi masyarakat berdasarkan ukuran sosialnya seperti ketidakberdayaan, keterbelakangan, keterbatasan akses, dan keterasingan. Semua hal tersebut dapat ditandai dengan berbagai indikator seperti tingkat pendidikan rendah, akses terhadap kesehatan sulit, pola perilaku, akses terhadap layanan publik, kondisi pemukiman yang kumuh, dan lain–

lain.

Dalam konteks negara sebagai pemegang kuasa penyelenggara pemerintahan, Kedua gejala tersebut muncul akibat dari proses penyelenggaraan negara yang tidak stabil.

Untuk mengatasi masalah kemiskinan tersebut, negara melalui pemerintah merancang kebijakan sebagai formula untuk mengobati penyakit kemiskinan. Namun ironisnya, formula kebijakan tersebut belum mampu mengobati infeksi kemiskinan. Padahal pemerintah sudah mampu mendiagnosa gejala-gejala kemiskinan yang terjadi. Kebijakan yang dirancang pemerintah hanya berfungsi atau bersifat sebagai obat bius yang menghilangkan rasa sakit kemiskinan yang bertahan untuk beberapa saat. Ketika dosis bius kebijakan sudah habis maka kemiskinan akan kambuh kembali dengan peradangan dan infeksi yang lebih akut.

(48)

29

Kemiskinan yang dialami oleh suatu negara tidak bisa dilihat melalui pendekatan teori kemiskinan semata.

Masyarakat hidup, tumbuh, dan berkembang dalam negara.

Kemiskinan yang terjadi tidak bisa disimpulkan hanya sebatas ukuran relatif atau absolut, struktural atau kultural.

Kemiskinan yang terjadi memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyelenggaraan Negara, sehingga kemiskinan tersebut harus diobati dengan pendekatan administrasi publik, baik yang berdimensi administrasi pembangunan maupun kebijakan publik. Oleh sebab itu negara memiliki peran yang paling besar untuk mengatasi masalah kemiskinan.

Bius Kebijakan untuk mengobati kemiskinan yang dirancang pemerintah, merupakan sebuah kelalaian pemerintah untuk mengidentifikasi gejala – gejala kemiskinan yang muncul di masyarakat. Identifikasi yang dilakukan pemerintah hanya menghasilkan diagnosa sederhana yang menyatakan bahwa kemiskinan yang terjadi menyebabkan masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. Fakta tersebut memang benar seratus persen, namun tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan obat kebijakan yang akan menyembuhkan penyakit kemiskinan masyarakat. Ketika fakta tersebut dijadikan sebagai dasar untuk meramu obat guna menyembuhkan kemiskinan, maka akibatnya kebijakan hanya sekedar menjadi bius yang akan menghilangkan rasa sakit kemiskinan untuk sementara waktu. Di sisi lain masyarakat menjadi candu dan ketergantungan dengan bius kebijakan tersebut.

Kebijakan yang didesain pemerintah seharusnya menjadi obat yang dapat menyembuhkan kemiskinan. Sekalipun tidak mampu menyembuhkan kemiskinan secara total, kebijakan setidaknya mampu mencegah penularan penyakit kemiskinan dan mencegah timbulnya komplikasi kemiskinan dalam kehidupan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut

(49)

30

pemerintah harus meramu obat kebijakan dengan mengkombinasikan pendekatan administrasi publik, kebijakan publik, dan pendekatan sosiologi.

Ketiga pendekatan tersebut harus dikombinasikan untuk merancang kebijakan yang mampu mengobati kemiskinan masyarakat. Kemiskinan tidak melulu bicara soal ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang dapat diatasi pendekatan ekonomi dan finansial.

Kompleksitas masalah kemiskinan melibatkan faktor individu, kelompok, budaya, perilaku, dan aturan-aturan yang berlaku dalam sebuah negara. Oleh sebab itu, ketika berbicara soal penanggulangan kemiskinan maka harus melibatkan tiga komponen yang berkaitan dengan masalah kemiskinan yakni negara, masyarakat, kebijakan publik.

Negara merupakan tempat terjadinya kemiskinan, sehingga untuk mengatasi masalah kemiskinan perlu digunakan pendekatan yang mampu menganalisis bagaimana cara pengelolaan negara atau pemerintahannya dijalankan.

Untuk melakukan analisis tersebut pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan administrasi publik. Secara filosofis administrasi dapat diartikan ke dalam tiga kata yakni mengatur, mengurus, dan mengelola, sehingga secara harfiah administrasi publik dapat dimaknai sebagai cara bagaimana pemerintah mengatur, mengurus, dan mengelola berbagai urusan kebutuhan dan kepentingan publik.

Masyarakat merupakan aktor yang terlibat langsung atau komponen yang terpapar oleh penyakit kemiskinan.

Masyarakat dapat dipandang sebagai individu atau kelompok yang menjadi pelaku dan merasakan dampak kemiskinan.

Untuk menjelaskan kondisi masyarakat ini diperlukan pendekatan sosiologi sebagai alat analisisnya. Sosiologi merupakan suatu pendekatan yang berusaha untuk menjelaskan posisi masyarakat dalam kemiskinan melalui aspek sosial yang meliputi perilaku, interaksi, stratifikasi,

(50)

31

gerakan, proses dan perubahan baik sebagai individu maupun kelompok.

Kebijakan publik merupakan alat bagi negara untuk bertindak, baik tindakan sebagai pemerintah maupun tindakan untuk memberikan pelayanan kepada publik.

Kebijakan publik meliputi tiga komponen utama yang meliputi tindakan, strategi, dan solusi. Ketiga komponen ini yang akan bekerja dalam tindakan pemerintah. Dalam kebijakan publik tindakan dimaknai sebagai aksi atau kegiatan yang diwujudkan secara nyata sesuai dengan tujuan kebijakan. Strategi dimaknai sebagai cara cerdas yang terencana, tersusun, berjangka, sistematis, mekanistik dan terkoordinir untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Solusi dimaknai sebagai cara konkret untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan penyakit kronis yang menyerang tubuh sebuah negara. Oleh sebab itu, untuk menyembuhkan penyakit kemiskinan harus dilakukan dengan memberikan obat yang tepat untuk mengatasi setiap organ yang terjangkit oleh virus kemiskinan, yakni dengan cara mengkombinasikan pendekatan sosiologi dalam administrasi dan kebijakan publik.

Kajian Pustaka Teori Kemiskinan

Dalam pandangan Islam kata miskin berasal dari bahasa Arab yang bersumber dari kata sakana. Sakana memiliki arti tenang atau diam. Kata tersebut merujuk pada orang yang tidak memiliki daya atau kemampuan untuk menggerakkan atau mengubah keadaan hidupnya, sehingga kehidupan orang tersebut tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kata miskin dapat ditemukan dalam Alquran dan selalu disandingkan dengan kata faqir, seperti yang terdapat

(51)

32

dalam surat Al – Balad ayat 16[1] yang terjemahannya berbunyi atau orang miskin yang sangat fakir.

Islam mengkonstruksikan kemiskinan sebagai suatu kondisi dari manusia yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara utuh. Dalam syariat Islam kebutuhan dasar manusia meliputi tiga aspek yakni sandang, pangan, papan. Hal ini didasarkan kepada beberapa dalil berikut. Pertama, Alquran surat Al-Baqarah ayat 223[1]Kewajiban ayah adalah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Kedua dalam surat At Thalaq ayat 6[1] Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal, sesuai dengan kemampuanmu. Ketiga Hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi Ingatlah bahwa hak mereka atas kalian adalah agar kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan(HR Ibnu Majah)[2].

Berdasarkan dalil di atas dapat disimpulkan bahwa syariat Islam memandang bahwa kemiskinan berkaitan erat dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang meliputi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Ketiga aspek tersebut tidak hanya sebagai kebutuhan pokok yang harus dipenuhi tetapi juga berkaitan dengan eksistensi kehidupan dan kehormatan manusia. Oleh sebab itu, jika manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya maka akan terjadi kemunduran, keterbelakangan, kesengsaraan, atau bahkan kemudharatan yang menyebabkan hilangnya kehormatan manusia. Karena itu Islam memandang kemiskinan sebagai sebuah ancaman yang harus dihindarkan dari kehidupan manusia. Hal ini tertuang dalam dalil Alquran surat Al-Baqarah ayat 268[1] yang berbunyi,Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan. Berdasarkan dalil diatas juga dapat disimpulkan bahwa Islam mengkategorikan manusia ke dalam kemiskinan atau kefaqiran ketika manusia tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar yang mendukung eksistensi

(52)

33

kehidupannya sebagai manusia yang meliputi kebutuhan sandang, pangan, dan papan[2].

Melalui pendekatan di atas Islam memandang bahwa upaya pengentasan kemiskinan harus diarahkan pada program-program yang ditujukan untuk membuat manusia menjadi berdaya dan terhormat dalam kehidupannya dengan terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang menjadi kebutuhan mutlak manusia. Islam tidak memandang kemiskinan dengan hanya mengukur kriteria ekonomi seperti pendapatan atau pekerjaan. Oleh karena itu, program pengentasan kemiskinan harus diarahkan pada orang-orang yang termasuk dalam kategori tersebut. Dengan kata lain program pengentasan kemiskinan dalam Islam tidak didasarkan pada indikator ekonomi semata melainkan pada aspek-aspek yang sesuai dengan tuntunan syariah.

Secara umum, terdapat tiga sebab utama kemiskinan.

Pertama, kemiskinan alami, merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi seseorang baik fisik maupun mental, dan ketidakmampuan individu karena bertambahnya usia sehingga tidak mampu bekerja, dan sebagainya. Kedua, Kemiskinan Kultural, merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh minimnya kualitas sumber daya manusia di suatu negara sebagai dampak dari budaya yang terdapat pada suatu masyarakat, contohnya malas, mengharapkan harta warisan, dan bergantung hidup pada orang lain, dan sebagainya. Ketiga, kemiskinan struktural, yakni kemiskinan yang disebabkan kesalahan sistem tata kelola kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk mengatur urusan publik (masyarakat). Dilihat dari beberapa penyebab kemiskinan diatas, kemiskinan struktural merupakan penyebab utama sehingga dampak kemiskinan menjadi sangat luas.

Kemiskinan pada kategori ini yang banyak muncul di berbagai negara, baik negara dunia ketiga, ataupun negara maju.

(53)

34

Dalam perspektif Islam, munculnya kemiskinan disebabkan oleh faktor struktural. Hal ini dapat didasarkan pada dalil-dalil berikut.

Pertama, kemiskinan timbul karena kejahatan manusia terhadap alam, yang menyebabkan manusia merasakan akibat dari kerusakn tersebut. hal ini tercantum dalam Alquran surat Ar-Ruum ayat 41[1] yang berbunyi Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Selanjutnya dalam Alquran surat As-Syura ayat 30[1] yang berbunyi Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Kedua, kemiskinan disebabkan oleh ketidakpedulian dan kebakhilan kelompok kaya. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Ali – Imran ayat 180 dan surat Al - Al Ma’aarij ayat 18[1] yang berbunyi Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya sehingga si miskin tidak mampu keluar dari lingkaran kemiskinan

Ketiga, kemiskinan disebabkan oleh sifat buruk manusia seperti kedzaliman, tamak dan serakah (eksploitatif) serta perampasan hak dengan cara yang tersistem atau terstruktur. Hal ini tercantum dalam beberapa surat Alquran sebagai berikut.

Surat At Taubah ayat 34[1] Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang

(54)

35

alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang- orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih memakan harta anak yatim.

Surat An-Nisaa’ ayat 4,2,6, dan 10[1] yang berbunyi, Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka.

Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu) Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara lalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) dan memakan harta riba.

Kemudian dalam surat Al-Baqarah ayat 275[1] yang berbunyi Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka

Gambar

2.1  Ilustrasi Politik Uang  16
Diagram  Keterangan  Halaman
Diagram 1. Persepsi Pemilih Kota Medan Terkait Politik  Uang Pada Pilkada Kota Medan Tahun 2020
Gambar 2.2. Ilustrasi Korupsi
+6

Referensi

Dokumen terkait