• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 1.1 Susunan Tata Surya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 1.1 Susunan Tata Surya"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Astronomi merupakan ilmu yang paling awal dalam peradaban manusia.

Ilmu astronomi sudah dikenal sekitar 3000 tahun sebelum zaman Babilonia kuno.

Pada masa itu manusia sudah tertarik untuk mengetahui gejala-gejala alam dengan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi di langit, yang kemudian banyak melahirkan mitos-mitos yang kemudian melahirkan ilmu Astrologi, yang mempelajari tentang pergerakan benda-benda langit, seperti matahari, bulan, planet-planet dan bintang-bintang, yang dipercaya mempunyai dampak dan pengaruh terhadap kehidupan seseorang. Oleh karena itu maka ilmu Astronomi dan Astrologi tidak terlepas dari peran bangsa Yunani dan Romawi.

Gambar 1.1 Susunan Tata Surya

Secara perlahan pemikiran-pemikiran baru bermunculan sejalan dengan kemajuan teknologi yang berkembang, hal ini menimbulkan pemahaman alam semesta semakin berkembang. Ilmu Astronomi modern dimulai pada saat meninggalnya Nicolaus Copernicus pada tahun 1543. Copernicus memberikan andil yang besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dengan teori Heliosentrisnya.

Teori tersebut kemudian mendapat dukungan dari Galileo pada tahun 1609, dan

(2)

untuk pertama kalinya melakukan penelitian terhadap keadaan langit dengan menggunakan teleskop.

Wilayah Indonesia terdiri dari banyak pulau, oleh karena itu Indonesia disebut juga Negara kepulauan. Pada zaman dulu nenek moyang kita menjadikan pelayaran sebagai sarana transportasi antar pulau, mereka menggunakan peta bintang untuk mengetahui arah selama melakukan pelayaran. Tetapi perkembangan ilmu astronomi di Indonesia sekarang ini kurang mendapat perhatian dari masyarakat, selain disebabkan oleh kurangnya sumberdaya manusia yang berkualitas, faktor lainnya yaitu kurangnya lembaga yang memberikan pengenalan dan pendidikan terhadap penguasaan sains dan teknologi, khususnya teknologi antariksa. Lembaga di Indonesia yang ada saat ini hanyalah Planetarium Jakarta, Planetarium Surabaya, Planetarium Tenggarong dan Observatorium Boscha di Lembang.

Gambar 1.2 Planetarium kuno oleh David Hahn (Orrery, jam astronomis, bola langit), dibuat untuk Herzog Ernst II dari Gotha, tahun 1780

Lahirnya planetarium itu sendiri didorong oleh keinginan dari diri manusia yang senantiasa mencari tahu dan memahami hakikat kehidupan ini. Hal-hal yang terjadi di sekelilingnya berusaha dipahami dengan akalnya. Sejarah mencatat bahwa manusia sudah mulai memperhatikan benda-benda langit dengan

(3)

karakternya masing-masing sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi –ribuan tahun dari sekarang. Pada waktu itu manusia telah mencoba membedakan benda- benda langit satu dengan lainnya. Manusia juga telah mengamati letak dan pergerakan benda-benda langit tersebut.

Dalam proses memahami itulah, sejak sekitar dua abad SM dicoba dibuat alat-alat yang menirukan gerak benda-benda itu, yang juga berfungsi sekaligus untuk menguji ketepatan teori yang ada saat itu. Kemudian sekitar abad 17 telah dikenal alat peraga yang disebut planetarium, stellarium, tellurium, dan lunarium.

Pada akhir abad 17 telah dibuat dinding bola yang permukaan dalamnya digambari bintang-bintang atau diberi lubang kecil-kecil untuk dilalui cahaya matahari sebagai penggambaran letak bintang-bintang.

Planetarium kuno pertama adalah alat peraga atau model miniatur Tata Surya dengan menggunakan mesin mekanik, hasil karya tinggi dari tangan pembuat arloji. Alat peraga tersebut memang dibuat untuk mengenal waktu, dengan membuat peraga benda-benda langit yang bergerak yang dapat dijadikan acuan waktu astronomis. Dari sinilah cikal bakal planetarium

1.1.1 Peradaban Awal Astronomi di Indonesia

Berabad-abad lampau ketika peradaban baru dimulai, catatan dan cerita turun temurun dalam budaya masyarakat sudah menunjukkan berbagai kisah rakyat yang terkait astronomi. Cerita-cerita dari langit ini memberi interpretasi tersendiri akan obyek langit yang mereka lihat. Sebagai contoh ada kisah Bulan Pejeng (Bali), Pasaggangan’ Laggo Samba Sulu atau Pertempuran Matahari dan Bulan (Mentawai), Memecah Matahari (Papua), Manarmakeri (Papua), Hala Na Godang (Batak), Kilip dan Putri Bulan (Dayak Benoaq), Lawaendrona Manusia Bulan (Nias), Bima Sakti (Jawa), Mula Rilingé’na Sangiang Serri’ (Bugis), Batara Kala, Nini Anteh (Jawa Barat).

Penamaan rasi bintang berdasarkan nama lokal menunjukkan, masyarakat Indonesia di masa lampau juga melakukan pengamatan langit. Dalam budaya Jawa, dikenal Gubug Penceng (Salib Selatan), Lintang Wulanjar Ngirim (rasi Centaurus), Joko Belek, Lintang Banyak Angrem, Bintang Layang – Layang, Lintang Pari, Lintang Kartika (Pleiades), Wuluh (Pleaides), Kalapa Doyong

(4)

(Scorpio), Sapi Gumarang (Taurus), adalah contoh penamaan rasi bintang secara lokal di Indonesia, yang sekaligus menandai kegiatan astronomi amatir di tengah masyarakat di masa lalu.

Setiap interpretasi tidak sekedar memberi akan benda-benda langit, baik itu bulan, bintang, matahari, rasi bintang, Bima Sakti, namun juga kisah tentang proses terjadinya alam semesta. Benda-benda langit ini juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penentu waktu bercocok tanam, sarana pemujaan, kalender, maupun navigasi.

Kehidupan agraris masyarakat Indonesia juga menjadikan benda-benda langit sebagai petunjuk musim menanam dan musim panen. Di Jawa, rasi Lintang Kartika diasosiasikan juga sebagai tujuh bidadari, yang direpresentasikan dalam tarian Bedhaya Ketawang di Keraton Mataram. Di wilayah Pantai Utara Jawa rasi ini digunakan untuk menandakan waktu (kalender) dalam penanggalan Jawa. Jika rasi ini sudah terbit sekitar 50° di langit, maka musim ketujuh (mangsa kapitu) pun dimulai. Pada musim ini, beras muda harus mulai ditanam di sawah.

Saat belum ada kalender, masyarakat setempat telah menggunakan perbintangan untuk menentukan siang dan malam, pasang surut air laut, berbunga dan berbuahnya tanaman, maupun migrasi dan pembiakan hewan. Bagi mereka gejala alam adalah cerminan lintasan waktu. Masyarakat di masa itu juga menentukan saat menanam dengan menggunakan bambu yang diisi air untuk mengukur ketinggian bintang. Pada posisi tertentu mereka akan bisa mengetahui apakah sudah saatnya memulai bercocok tanam atau belum.

Sedangkan masyarakat Maritim Indonesia, menjadikan obyek langit sebagai panduan navigasi dalam pelayaran. Salah satu kisah yang diyakini merupakan bagian dari penggunaan langit sebagai navigasi adalah ditemukannya peninggalan berupa puisi dan gambar-gambar perjalanan masyarakat dari Indonesia menuju Afrika Selatan.

Di tahun 800 Masehi, pembangunan candi Borobudur menjadi penanda lainnya keberadaan astronomi di Indonesia. Borobudur yang dibangun oleh wangsa Syailendra diduga merupakan penanda waktu raksasa di abad ke -8, dimana stupa utama candi berfungsi sebagai penanda waktu. Pembangunan candi

(5)

seperti Borobudur memberi penegasan dan petunjuk kemampuan nenek moyang dalam astronomi.

1.1.2 Komunitas Astronomi di Indonesia Masa Kini

Perkembangan pengenalan astronomi di Indonesia ternyata lebih banyak diberikan dalam pendidikan kepanduan atau Pramuka. Pengenalan rasi bintang dan navigasi langit menjadi point penting yang membawa siswa untuk mengenal lebih dekat langit dan isinya. Di Indonesia, kelompok amatir yang menjadi wadah para pecinta astronomi belum ada sampai dengan era 80-an, namun hal ini terjawab karena di awal tahun 1920-an, Nederlandsch-Indische Sterrekundige Vereeniging / NISV (Perhimpunan Astronom Hindia Belanda) yang merupakan gabungan intelektual astronom Belanda, ahli fisika mau pun para pecinta astronomi di Hindia Belanda, merasakan kebutuhan untuk mendirikan observatorium di Indonesia.

Tahun 1968 Planetarium Jakarta diresmikan dan menjadi mercusuar pengenalan astronomi kepada publik di ibukota negara Indonesia yang kemundian disusul dengan dibangunnya Planetarium Bumimoro di Surabaya satu tahun setelahnya, yaitu pada tahun 1969. Pada tahun 2002 planetarium lainnya juga dibangun di Tenggarong dengan nama Planetarium Jagat Raya Tenggarong, dibuka di Tenggarong Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Di tahun 1977, dibentuklah Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), tujuannya adalah untuk menampung keinginan astronomi di Indonesia termasuk di dalamnya astronom amatir sekaligus mendorong pengamatan astronomi oleh masyarakat. Dan untuk merealisasikan hal tersebut, sekretaris pertama HAI adalah seorang wartawan Pikiran Rakyat yang juga penyuka astronomi. Hal ini dimaksutkan agar informasi astronomi dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Keberadaan HAI juga menjadi kunci penting diterimanya Indonesia di IAU.

Di tahun 1983 saat fenomena gerhana matahari total melewati Indonesia, terjadi peningkatan minat masyarakat terhadap astronomi. Kala itu, Planetarium Jakarta mengadakan pengamatan Gerhana Matahari Total (GMT) 1983 dan dalam persiapannya ada salah satu anggota Pramuka yang sering ikut serta bernama Kak

(6)

Har. Dan ternyata setelah pengamatan GMT berakhir, Kak Har dkk masih sering berkumpul dengan Pak Darsa untuk membicarakan persiapan pengamatan komet Halley di tahun 1985 / 1986. Maka akhirnya dibentuklah Himpunan Astronomi Amatir Jakarta di tahun 1984. HAAJ kemudian berkiprah untuk menampung para pecinta astronomi di Jakarta dan sekitarnya, serta melakukan pengamatan publik di sekolah-sekolah. Di Tahun 1989 HAAJ sempat vakum dan setelah Widya Sawitar masuk ke Planetarium Jakarta di tahun 1992, pada tahun 1994 HAAJ memulai kembali kegiatannya. Di tahun 2010, HAAJ kehilangan salah seorang motor penggeraknya yang juga mantan ketua HAAJ yakni Tersia Marsiano yang meninggal tanggal 6 Desember 2010.

Sampai hari ini terhitung HAAJ adalah kelompok astronomi amatir paling aktif yang ada di Indonesia. HAAJ juga membina kelompok KIR di sekolah- sekolah seperti FOSCA (Forum Of SCientist teenAgers), Kastro Sirius (SMAN 89), Kastro Polaris (SMAN 38), Kastro Lunar (SMAN 3 Bogor), KIR Orbit (SMAN 1 Bogor), Forum Pelajar Astronomi (FPA). Kelompok pecinta astronomi juga berkembang secara mandiri di sekolah-sekolah seperti di Sekolah Madania Bogor ataupun di SMA Negeri 1 Subang dll.

Di era-90an, mahasiswa Astronomi ITB sempat membentuk beberapa kelompok pecinta astronomi untuk mewadahi penggemar langit ini di Bandung seperti misalnya HAAB dan Zenith yang kemudian non aktif sampai saat ini. Di luar astronomi ITB, kelompok mahasiswa Fisika UPI juga membentuk himpunan pecinta astronomi bernama Cakrawala.

Di Indonesia saat ini selain kelompok astronomi yang sudah disebutkan masih ada beberapa klub astronomi di daerah yang berbasiskan klub daerah ataupun dari sekolah. Seperti halnya JAC dan CASA di Jogjakarta dan Solo yang aktif melakukan pengamatan untuk keperluan hilal maupun populerisasi di masyarakat. Selain itu ada juga Aceh Astro Club yang terbentuk setelah Observatorium Hilal di Aceh dibangun untuk keperluan pengamatan hilal di ujung barat Indonesia. Di Jawa Timur, beberapa anggota HAAJ juga merintis terbentuknya Asosiasi Astronomi Surabaya sedangkan para guru pembina astronomi di Bandung membentuk Forum Pembina Astronomi (FPA) yang

(7)

bertujuan untuk berbagi ilmu pengetahuan dalam hal astronomi sebagai bahan ajar di sekolah.

Di dunia maya, kegiatan memperkenalkan astronomi dimulai oleh mailing list Astronomi Indonesia di tahun 2001 yang sampai saat ini sudah memiliki 984 peserta. Di tahun 2005, alumni astronomi yang juga ingin berbagi ilmu astronomi kepada pecinta astronomi di Indonesia mencoba membuat majalah astronomi namun sayangnya tidak berhasil.

Di tahun 2007, para penggagas majalah astronomi ini kemudian membangun langit selatan sebagai media edukasi dan informasi astronomi pada masyarakat. Media tersebut kemudian berkembang sebagai komunitas dunia maya yang juga melakukan berbagai kegiatan publik dan terlibat aktif sebagai kontak bagi beberapa komunitas astronom amatir di dunia seperti Astronomer Without Border dan Sidewalk Astronomer.

Perkembangan astronom amatir dalam berkiprah di dunia astronomi tidak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun hanya sebagai hobi, para astronom amatir ini bisa juga memberi kontribusi dalam berbagai penemuan maupun kontribusi profesional layaknya profesional astronomi. Selain bagi pecinta astronomi yang membutuhkan wadah, kegiatan astronomi bagi siswa dan guru juga punya wadah tersendiri yakni di Global Hands on Universe dan Galileo Teacher Training Program yang bertujuan untuk memberika edukasi dasar bagi para guru mengenai astronomi dan alat-alat yang dipergunakan agar dapat diajarkan kepada siswa untuk kemudian dikembangkan sendiri maupun berkontribusi dalam penelitian sederhana.

Di masa depan, diharapkan perkembangan astronomi di Indonesia akan dapat terus berkembang. Hal ini membutuhkan kerjasama aktif antara astronom profesional dan astronom amatir yang didukung dengan wadah yang memadai untuk menghasilkan hasil ilmiah sekaligus edukasi aktif pada masyarakat.

(8)

1.2 Deskripsi Proyek 1.2.1. Pengertian Judul

Proyek yang dipilih yaitu “ Planetarium dan Galeri Astronomi“, dengan pengertian sebagai berikut :

 Planetarium adalah gedung teater untuk memperagakan simulasi susunan bintang dan benda-benda langit. Atap gedung biasanya berbentuk kubah setengah lingkaran. Di planetarium, penonton bisa belajar mengenai pergerakan benda-benda langit di malam hari dari berbagai tempat di bumi dan sejarah alam semesta. Planetarium berbeda dari observatorium. Kubah planetarium tidak bisa dibuka untuk meneropong bintang.

 Galeri adalah tempat untuk memamerkan barang-barang yang di anggap berharga dan bernilai untuk diperkenalkan ke masyarakat. ( Galeri memiliki sirkulasi yang lebih radial dibandingkan dengan museum ).

Astronomi merupakan ilmu sains yang mempelajari tentang tata surya dan benda-benda langit lainnya.

Jadi Planetarium dan Galeri Astronomi yaitu suatu tempat yang bergerak di bidang edutainment ( education and entertainment ), yang difungsikan untuk mempelajari dan mendalami angkasa luar, serta memamerkan dan memperkenalkan benda-benda yang berhubungan dengan angkasa luar.

1.2.2 Fungsi Bangunan

Fungsi utama fasilitas edukasi dan entertainment ini adalah memberikan fasilitas bagi masyarakat awam maupun peneliti astronomi untuk dapat mengenal dan mendalami ilmu astronomi, sehingga ilmu astronomi dapat berkembang.

Untuk memberikan pendidikan dan entertainment dunia astronomi bagi masyarakat, maka fasilitas dalam proyek ini terdiri dari:

Fasilitas Utama a. Planetarium

 Teater untuk memperagakan simulasi susunan bintang dan benda- benda langit. Di ruangan ini pengunjung dapat menonton film-film yang memperkenalkan tentang benda langit.

(9)

 Pemutaran film pada planetarium disesuaikan dengan jadwal yang telah disusun.

b. Galeri

 Tempat untuk memamerkan benda-benda langit kepada pengunjung.

 Tempat untuk berdiskusi mengenai benda-bnda langit yang dipamerkan.

 Wadah bagi pengunjung untuk dapat saling bersosialisasi

Fasilitas Penunjang a. Perpustakaan

 Wadah bagi pengunjung untuk memperdalam pengetahuan ilmu astronomi

b. Area Bermain Outdoor

 Wadah bagi pengunjung untuk dapat saling bersosialisasi

 Tempat untuk mempelajari benda luar angkasa dalam bentuk yang lebih informal

c. Ruang Club Astronomi

 Wadah bagi pengunjung untuk dapat berdiskusi mengenai ilmu astronomi.

 Wadah bagu opengunjung untuk belajar lebih dalam mengenai ilmu astronomi

d. Ruang Auditorium

Wadah indoor bagi pegunjung untuk saling berkumpul ataupun belajar dalam suasana yang lebih formal, atau dapat digunakan untuk mengadakan seminar mengenai ilmu astronomi, dimana fasilitas ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung disekitarnya. Seperti misalnya : backstage, control room, dan gudang.

e. Cafetaria

Menyediakan tempat bagi pengunjung untuk menikmati sajian makanan sambil beristirahat sejenak

(10)

1.3 Tujuan dan Manfaat Proyek 1.3.1. Tujuan Proyek

Adapun tujuan dari perencanaan proyek ini secara khusus adalah :

 Sebagai salah satu usaha untuk memeratakan pembangunan di bidang pelayanan informasi, terutamainformasi dibidang astronomi pada masyarakat Surabaya.

 Sebagai wadah ilmu astronomi yang dapat menunjang kemajuan di bidang pendidikan keangkasaan.

Tujuan umum dari proyek ini antara lain :

 Memberikan pengenalan dan menanamkan kecintaan akan ilmu pengetahuan tentang planet-planet dan elemen tata surya lainnya.

 Sebagai sarana entertaiment yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan.

 Sebagai salah satu usaha pengembangan kawasan wisata di Surabaya.

 Menghasilkan karya arsitektur yang berorientasi ke depan.

 Menciptakan karya arsitektur sebagai visualisasi dari ilmu astonomi itu sendiri

1.3.2. Manfaat Proyek

Proyek ini disusun dengan harapan dapat memberikan manfaat yaitu:

a. Manfaat bagi pelajar

 Memberikan pengenalan awal mengenai ilmu astronomi

 Memberikan ilmu tambahan yang tidak dapat didapati melalui fasilitas pendidikan formal

 Memberi kecintaandan keingintahuan para pelajar terhadap benda- benda astronomi

b. Manfaat bagi pengajar

 Memberikan sarana pembelajaran bagi pengajar agar dapat mempelajari lebih dalam mengenai ilmu astronomi dan dapat di bagikan kepada pelajar di fasilitas pendidikan formal

 Memberikan sarana bagi para pengajar untuk berkumpul dan bertukar

(11)

 Memberikan tempat untuk dapat mengajari para pelajar c. Manfaat bagi masyarakat umum

 Memberikan kesempatan bagi masyarakat Surabaya untuk mengenal ilmu astronomi

 Memberikan kesempatan bagi masyarakat Surabaya untuk lebih memperdalam ilmu astronomi

d. Manfaat bagi peneliti

 Memberikan wadah para peneliti untuk memperdalam dan memperkaya ilmu astronomi

 Memberikan sarana bagi para peneliti untuk berkumpul dan bertukar pikiran

 Memberikan wadah para peneliti untuk mengembangkan ilmu astronomi

e. Manfaat bagi pemerintah

 Menarik masyarakat di luar Surabaya untuk datang mengunjungi Planetarium dan Galeri Astronomi ini

 Memberikan tempat edukasi dan entertainment baru bagi masyarakat Surabaya

1.4 Sasaran / Lingkup Pelayanan 1.4.1. Sasaran Pelayanan

Fasilitas ini mempunyai sasaran pengguna, yaitu antara lain:

 Untuk masyarakat awam :

Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat indonesia masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, sehingga diharapkan dengan adanya fasilitas ini semua lapisan masyarakat dapat merasakan dan mempelajari kemajuan IPTEK. Jadi bukan hanya masyarakat kelas atas saja yang dapat mempelajarinya dengan studi ke luar negeri atau ke sekolah-sekolah terkemuka yang hampir dipastikan tidak dapat dicapai oleh masyarakat menengah ke bawah.

(12)

 Untuk peneliti :

Sebagai tempat dan sarana untuk melakukan riset, baik untuk kemajuan teknologi maupun untuk mempelajari ilmu astronomi secara lebih mendalam.

1.4.2 Lingkup Pelayanan

Lingkup yang dilayani oleh Planetarium dan Galeri Astronomi di Surabaya ini adalah:

a. Wilayah

Lingkup wilayah yang ingin dijangkau oleh Planetarium dan Galeri Astronomi ini dikhususkan pada wilayah kota Surabaya. Namun, tidak menutup kemungkinan masyarakat dari kota – kota di sekitar kota Surabaya dapat datang untuk menikmati film di gedung planetarium ini

b. Usia

Lingkup usia yang ingin dilayani oleh Planetarium dan Galeri Astronomi ini dimulai dari anak kecil hingga orang.

c. Tingkat sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi yang dilayani oleh Planetarium dan Galeri Astronomi adalah segala kalangan masyarakat baik yang berekonomi rendah maupun kelas ekonomi atas.

d. Tingkat pengetahuan

Tidak ada batas minimal pengetahuan bagi pengguna pada Planetarium dan Galeri Astronomi ini, yaitu memberikan fasilitas pengenalan pada masyarakat awam hingga mewadahi para peneliti hingga pelajar dalam mendalami ilmu astronomi.

(13)

1.5 Rumusan Masalah

 Bagaimana mendesain sebuah wadah / bangunan yang yang menggabungkan fasilitas rekeasi dan edukasi yang baik untuk menarik minat masyarakat dalam mempelajari Ilmu Astronomi.

 Bagaimana mengaplikasikan konsep dan program kegiatan dalam fasilitas planetarium dan galeri dalam suatu desain perancangan dan organisasi ruang secara utuh dan terintegrasi.

1.6 Metode Pengumpulan Data

Untuk mendukung keakuratan serta ketepatan dari perancangan proyek ini, dilakukan pengumpulan informasi serta data pendukung. Beberapa metode pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Studi literatur

Studi literatur dilakukan melalui pengumpulan data – data yang berhubungan melalui media buku, artikel koran, dan informasi dari sumber internet yang dapat dipercaya. Contoh informasi yang didapatkan melalui studi literatur adalah besaran ruang yang dibutuhkan serta informasi tentang nilai – nilai musik klasik.

b. Wawancara

Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan proyek dari pelaku pengurus planetarium di Surabaya.

c. Studi observasi

Survey observasi dilakukan untuk mendapatkan data – data lapangan yang berhubungan dengan pembuatan proyek ini, seperti pemilihan tapak, situasi dan kondisi tapak, besar ruang, dsb.

1.7 Prakiraan Kapasitas Pengunjung

Untuk memperkirakan kapasitas pengunjung Planetarium dan Galeri Astronomi ini, menggunakan pendekatan terhadap jumlah pengunjung Planetarium Jakarta.

(14)

Tabel 1.1 Jumlah Pengunjung Planetarium Jakarta per 5 tahun

No TAHUN JUMLAH PENGUNJUNG PROSENTASE

1.

2.

3.

4.

5.

1987-1991

1992-1996

1997-2001

2002-2006

2007-2010

319.000

279.018

513.318

747.690

658.240

-

-12,53 %

+83,97%

+12,92%

-11,96%

Catatan:

-Pada tanggal 12 Agustus 1996 planetarium ditutup untuk melaksanakan persiapan dan proses penggantian proyektor serta renovasi bangunan.

- Pada tanggal 23 Januari 2007 pertunjukan ditutup, karena terjadi kerusakan pada instrumen untuk pengoperasian pertunjukan ini. N1 Juni 2007

Dari tabel jumlah pengunjung planetarium Jakarta tahun 1989-2011 seperti terlihat pada table di atas, maka prakiraan jumlah pengunjung pada tahun 2020 dapat dihitung, dengan menggunakan rumus Murray S. Spiegel, yaitu:

Yt = prakiraan jumlah pengunjung pada tahun ke t = a + ( a x t )

a = ( ∑ y ) ( ∑ t2) – ( ∑ t ) ( ∑ Yt ) N ∑ t2 – (_∑ t)2

a = N ∑ Yt - ( ∑ t ) ( ∑ y ) N ∑ t2 – (_∑ t)2

(15)

Keterangan :

N = jumlah data kebutuhan masa lalu T = waktu

Tabel 1.2 Perhitungan proyeksi jumlah Pengunjung Planetarium Jakarta

Tahun t y t2 Yt

1990-1994 0 319.000 0

1994-1998 5 279.018 25 1.395.090

1999-2003 10 513.318 100 5.133.180

2004-2008 15 747.690 225 11.215.350

2008-2011 20 658.240 400 13.164.800

50 2.517.266 750 30.908.420

a = ( ∑ y ) ( ∑ t2) – ( ∑ t ) ( ∑ Yt ) N ∑ t2 – (_∑ t)2

= (2.517.266 x 750) – ( 50 x 30.908.420) (20 x 750) – 2500

= 342.528.500 12.500 = 27.402,3

a = N ∑ Yt - ( ∑ t ) ( ∑ y ) N ∑ t2 – (_∑ t)2

= (20 x 30.908.420) – (50 x 2.517.266) (20 x 750) – 2500

= 416.805.100 12500 = 33.344,4

t = tahun 1990 sampai dengan tahun 2017 = 27 tahun

(16)

Y2017 = a + a x t

= 27.402,3 + (33.344,4x 27)

= 927.701 orang

Diperkirakan jumlah pengunjung tiap 927.701 orang.

Jumlah pengunjung pada bulan teramai 12,9 % jumlah pengunjung pertahun.

Bulan teramai adalah bulan Juni dan Desember = 12,9% x 927.701

= 119.673 orang per tahun = 9.972 orang bulan = 332 orang perhari

Jika dibandingkan dengan di Surabaya, diasumsikan jumlah pengunjung Planetarium Dan Galeri Astronomi adalah 65% x 332= 215 orang per hari.

Waktu efektif kunjungan diasumsikan 1½ - 2 jam per hari, sedangkan jam operasional per hari adalah 7jam (pukul 09.00 – pukul 16.00), maka jumlah pengunjung pada peak hour adalah 2/7 x 215 orang = 61 orang per dua jam.

Referensi

Dokumen terkait

Media objek 3 dimensi kabel fiber optic ini telah melalui proses validasi dan hanya sampai tahap validitas media saja. Kegiatan validasi dilakukan oleh ahli materi berjumlah satu

Hasil uji t menunjukan bahwa variabel Physical Evidence (X6) memiliki t hitung sebesar 1.373 > dari t tabel sebesar 1.99254 dengan tingkat signifikan sebesar 0,174 >

Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Granul Hasil pemeriksaan sifat fisik granul tablet hisap ekstrak daun kemangi dengan variasi pemanismanitol dan laktosa dapat dilihat pada

Arrangement concernant les recouverments 1957 (Persetujuan tentang penagihan uang 1957); bahwa Perjanjian dan Persetujuan-persetujuan tersebut perlu disetujui dengan undang-undang;

Siswa “WAJIB” menanyakan satu atau dua soal dari Questions of the Week (QOW) pada minggu yang bersangkutan atau materi yang sedang di pelajari di minggu bersangkutan satu kali

(3) Mengetahui Tanggapan siswa dengan model pembelajaran tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan jenis penelitian eksperimen. Populasi

dengan merubah µ(step size) Setelah dilakukan pergantian nilai beta, maka dapat diketahui bahwa nilai beta yang paling cocok digunakan adalah 6E-11, karena bila

Dari hasil uji beda independent t-test pada tabel 4.13, dapat terlihat bahwa, untuk variabel pemahaman akuntansi, dari kedua kelompok sampel yaitu UGM dan UNDIP diperoleh