I Made Dwiki Putrawan (1404205035)1), I Made Suarya2), dan Ni Made Swanendri3)–Sirkuit Nasional Balap Motor dan
Drag Bike di Bali
105
SIRKUIT NASIONAL BALAP MOTOR DAN DRAG BIKE DI BALI Studi Penataan Zoning dalam Tapak
I Made Dwiki Putrawan1), I Made Suarya2), dan Ni Made Swanendri3)
1)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
2)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
3)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana [email protected]
ABSTRACT
The national circuit is a facility to hold national and local automotive championships, which has closed track and supporting facilities to accommodate the spectators, committee and track officers so that an automotive championship can run optimally. Road race and drag bike are two-wheeled automotive sports that continue to develop in Indonesia, but due to the absence of a permanent circuit, the intensity of activities every year was found continue to decline, especially in Bali. In order to create a safe and feasible circuit to hold an automotive race and is able to solve the automotive problems that exist in Bali, an appropriate design process is needed. The initial stage that plays an important role in the design process is the placement of each function in the site (zoning arrangement). The zoning arrangement process applied in the site is divided into several stages, namely 1) site characteristics analysis; 2) adjustment of space organization to the concept of circulation in sports facilities; 3) zoning arrangement process; 4) circulation in the site. The results of the zoning arrangement in the site form the basis for the next design phase, resulting in a National Road Race and Drag Bike Circuit design in Bali.
Keywords: circuit design, motor race, drag bike ABSTRAK
Sirkuit nasional merupakan sebuah fasilitas untuk menyelenggarakan kejuaraan otomotif tingkat nasional dan lokal, dengan lintasan tertutup dan fasilitas pendukung didalamnya untuk mewadahi penonton, panitia, dan petugas lintasan sehingga suatu kejuaraan otomotif dapat berjalan dengan optimal. Balap motor dan drag bike merupakan cabang olahraga otomotif roda dua yang terus berkembang di Indonesia, namun akibat ketiadaan sirkuit permanen intensitas kegiatan setiap tahunnya terus mengalami penurunan khususnya di Bali. Guna menciptakan sebuah sirkuit yang aman dan layak untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan perlombaan otomotif serta mampu menjawab permasalahan otomotif yang ada di Bali, maka diperlukan proses perancangan yang tepat. Tahap awal yang berperan penting dalam proses perancangan adalah penempatan masing-masing fungsi dalam tapak (penataan zoning). Proses penataan zoning yang diterapkan dalam tapak terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu 1) analisis karakteristik tapak; 2) penyesuaian organisasi ruang terhadap konsep sirkulasi dalam fasilitas olahraga; 3) proses penataan zoning; 4) sirkulasi dalam tapak. Hasil dari penataan zoning dalam tapak menjadi landasan bagi tahapan rancangan selanjutnya, sehingga dihasilkan sebuah rancangan Sirkuit Nasional Balap Motor dan Drag Bike di Bali.
Kata Kunci: rancangan sirkuit, balap motor, drag bike
PENDAHULUAN
Balap motor dan drag bike merupakan olahraga otomotif cabang roda dua yang terus mengalami perkembangan dan secara rutin diadakan, namun dalam beberapa tahun terakhir intensitas kejuaraan balap motor dan drag bike khususnya di Bali mengalami penurunan akibat dari ketiadaan sarana yang layak (sirkuit pemanen). Kondisi tersebut merupakan alasan utama diangkatnya judul Sirkuit Nasional Balap Motor dan Drag Bike di Bali. Balap motor dan drag bike merupakan ajang adu kecepatan menggunakan kendaraan roda dua yang dilakukan pada lintasan tertutup tanpa penghalang. Guna menciptakan sebuah sirkuit yang aman dan layak untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan perlombaan otomotif, maka diperlukan proses
perancangan yang tepat. Selain menciptakan fasilitas yang layak, proses perancangan yang tepat juga diperlukan guna menciptakan sebuah sarana yang sesuai dengan tujuan lain yang ingin dicapai diantaranya sebagai sarana latihan sekaligus melahirkan bibit muda pembalap, menyelenggarakan cabang otomotif lain, dan mengakomodasi minat masyarakat Bali dibidang otomotif.
PENGERTIAN
Sirkuit nasional merupakan sebuah fasilitas untuk menyelenggarakan kejuaraan otomotif tingkat nasional atau dibawahnya yang dilengkapi lintasan tertutup dan fasilitas pendukung didalamnya untuk mewadahi pembalap, penonton, panitia, dan petugas lintasan sehingga suatu kejuaraan otomotif dapat berjalan dengan optimal. Balap motor dan drag bike merupakan jenis olahraga otomotif dengan menggunakan ken- daraan roda dua, dimana perbedaannya terdapat pada spesifikasi lintasan, spesifikasi kendaraan, dan regu- lasi masing-masing. Zoning dalam tapak adalah perletakan dari masing-masing pembagian fungsi yang ter- dapat pada organisasi ruang pada bagian atau daerah dalam tapak secara mendatar. Penempatan zoning yang sesuai pada tapak terkait dengan fasilitas yang dirancang adalah guna menciptakan sebuah sirkuit yang layak untuk menyelenggarakan perlombaan otomotif dan mampu untuk menjawab segala permasala- han atau kendala di bidang otomotif Bali.
PERANCANGAN
Sebuah fasilitas sirkuit yang layak serta mampu menjawab permasalahan otomotif yang ada di Bali dihasilkan dari tahapan dalam proses perancangan terutama proses penataan zoning tapak. Tahap pena- taan zoning tapak merupakan landasan untuk melanjutkan ke tahapan perancangan selanjutnya. Proses penataan zoning tapak terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu 1) analisis karakteristik tapak; 2) penyesuaian organisasi ruang terhadap konsep sirkulasi dalam fasilitas olahraga; 3) proses penataan zon- ing; 4) sirkulasi dalam tapak. Sebelum melalui tahapan penataan zoning, terdapat dua kajian teori yang menjadi pedoman yaitu mengenai alur sirkulasi dan pembagian zona dalam fasilitas olahraga. Terkait dengan Gambar 1, sirkulasi dalam fasilitas olahraga terbagi menjadi tiga yaitu alur sirkulasi penonton, sir- kulasi pengelola, dan sirkulasi pemain. Pada Gambar 2 terdapat lima pembagian zona dalam proses perancangan fasilitas olahraga yaitu: 1) area kegiatan olahraga (termasuk fungsi pendukung kegiatan); 2) area penonton (tribun); 3) ruang berkumpul dan ruang pertemuan; 4) daerah sirkulasi civitas (berhubungan langsung dengan area berkumpul); 5) area diluar fasilitas olahraga (termasuk parkir dan sirkulasi ken- daraan).
Karakteristik Tapak
Lintasan merupakan fungsi utama yang ada dalam fasilitas sirkuit. Akibat dari kebutuhan tapak yang besar, sehingga tapak yang dipilih memanfaatkan daerah non build-up yaitu daerah sempadan pantai (100 meter).
Berdasarkan kriteria pemilihan lokasi, maka didapatkan tapak yang berada di Kecamatan Pekutatan, Kabu- paten Jembrana. Sesuai dengan Gambar 3, tapak memiliki luasan 17 hektar dengan dimensi terpanjang yai- tu 920 meter dan lebar 190 meter. Panjang tapak (920 meter) dimanfaatkan untuk membuat lintasan drag bike yang lebih panjang yaitu 804 meter, sedangkan kemiringan yang relatif datar yaitu 1% memudahkan
Gambar 2. Pembagian zona dalam fasilitas olahraga Sumber: FLA. 2008.
Gambar 1. Alur sirkulasi civitas pada fasilitas olahraga Sumber: Departemen Pekerjaan Umum,1994
I Made Dwiki Putrawan (1404205035)1), I Made Suarya2), dan Ni Made Swanendri3)–Sirkuit Nasional Balap Motor dan
Drag Bike di Bali
107
dalam perancangan sirkuit balap motor. Pada Gambar 4, daerah sempadan pantai yang ada dalam tapak merupakan daerah non build-up sehingga akan dimanfaatkan sebagai area lintasan. Akses yang berada disekitar tapak berpengaruh terhadap perletakan area fasilitas yang dominan dalam tapak, sehingga sir- kulasi menuju masing–masing fasilitas dapat lebih efisien.
Organisasi Ruang
Organisasi ruang memproyeksikan hubungan antara masing–masing ruang yang memiliki perbedaan fungsi, yang dibuat berdasarkan hubungan ruang dan sirkulasi ruang. Hubungan ruang merupakan prinsip dasar dalam menentukan sirkulasi antar kelompok ruang berdasarkan sifatnya (privat, semi publik, dan publik).
Merujuk pada gambar 5, sirkulasi dalam fasilitas sirkuit terbagi menjadi tiga yaitu 1)sirkulasi penonton (pub- lik); 2) sirkulasi pengelola dan tamu (semi publik); 3) sirkulasi pembalap, team, panitia, dan medis (privat).
Hubungan serta sirkulasi ruang yang didapatkan kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan kebu- tuhan ruang sehingga menjadi menjadi organisasi ruang, seperti terlihat pada Gambar 6. Organisasi ruang yang diperoleh kemudian menjadi acuan dalam menempatkan masing–masing pembagian zona berdasar- kan sifatnya.
Gambar 5. Hubungan dan sirkulasi ruang
Gambar 3. Dimensi dan kondisi sekitar tapak Gambar 4. Daerah sempadan pantai dan akses sekitar tapak
Pembagian zoning dalam tapak juga memperhatikan bentuk dan karakteristik tapak yaitu adanya daerah non build-up dan perletakan area fasilitas berdasarkan akses sekitar tapak seperti terlihat pada Gambar 7.
Sesuai dengan gambar 8, sirkulasi yang diterapkan pada tapak adalah sirkulasi linier, artinya area semi pub- lik sebagai perantara antara area privat dan area publik.
Proses Penataan Zoning pada Rancangan
Penataan zoning dalam tapak didasarkan pada dua aspek yaitu merujuk pada gambar 2 terkait teori pemba- gian zoning dalam fasilitas olahraga dan konsep sirkulasi dalam tapak pada gambar 8. Akibat dari adanya batasan sempadan pantai, maka area kegiatan olahraga (zona 1) tidak dapat ditempatkan di tengah tapak sehingga perlu adanya adaptasi bentuk zona pada tapak terhadap karakteristik tapak sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 10.
Zona kegiatan olahraga merupakan penggabungan dari daerah semi publik dan privat, karena terdiri dari ar- ea penyelenggaraan kegiatan (lintasan) dan ruang-ruang pendukung kegiatan (ruang panitia dan team balap motor, ruang panitia dan team drag bike, dan ruang keselamatan). Dikarenakan terdapat dua jenis olahraga yang ditampung dalam fasilitas, maka bentuk lintasan dalam zona 1 sangat mempengaruhi perletakan mas- ing-masing zoning dalam tapak terutama fungsi balap motor, fungsi drag bike, dan fungsi keselamatan.
Gambar 9. Adaptasi bentuk pembagian zona terhadap karakteristik tapak
Gambar 11. Bentuk dan penempatan lintasan pada zona 1 Gambar 7. Faktor penentu penempatan sirkulasi dalam
tapak
Gambar 8. Penyesuaian konsep sirkulasi dalam tapak
Gambar 12. Penataan fungsi balap motor, drag bike, dan keselamatan pada zona 1
Gambar 10. Pembagian zona dalam tapak
I Made Dwiki Putrawan (1404205035)1), I Made Suarya2), dan Ni Made Swanendri3)–Sirkuit Nasional Balap Motor dan
Drag Bike di Bali
109
Zona 2 merupakan zona yang diperuntukan sebagai area tribun penonton. Tribun penonton terbagi menjadi dua yaitu tribun penonton balap motor dan tribun penonton drag bike, yang penempatannya disesuaikan dengan kebutuhan sekaligus ruang panintia dan team balap motor atau drag bike. Zona 3 merupakan zona yang diperuntukan untuk ruang berkumpul sekaligus zona transisi bagi pengelola dan civitas berkepentingan lainnya. Berdasarkan kondisi tersebut maka diperlukan adanya ruang berkumpul yang ditempatkan diantara tribun balap motor dan drag bike sekaligus area lobby yang berada di tengah fasilitas sebagai vocal point.
Zona 4 merupakan area sirkulasi civitas sekaligus area sirkulasi servis, sehingga fungsi servis (ruang utilitas dan area suci) ditempatkan pada zona 4. Sedangkan zona 5 merupakan sirkulasi diluar fasilitas olahraga, dimana termasuk area parkir dan sirkulasi kendaraan dalam tapak.
Sirkulasi dalam Tapak
Sirkulasi dalam tapak terbagi menjadi dua jenis yaitu sirkulasi publik dan sirkulasi privat, guna menghindari penonton masuk kedalam zona 1 (area lintasan). Berdasarkan kondisi tersebut maka diperlukan dua jenis entrance yaitu main entrance dan side entrance dengan sirkulasi kendaraan linier (satu jalur) dengan akses masuk dan keluar pada lokasi yang berbeda, guna menghindari kemacetan dalam fasilitas akibat dari inten- sitas kendaraan yang tinggi pada waktu tertentu (waktu pengadaan kegiatan perlombaan).
Gambar 13. Penataan tribun balap motor dan drag bike pada zona 2
Gambar 14. Penataan ruang berkumpul dan lobby pada zona 3
Gambar 17. Area sirkulasi publik dan sirkulasi privat Gambar 18. Sirkulasi kendaraan dalam tapak Gambar 15. Penataan area sevis dan daerah sirkulasi
pengunjung pada zona 4
Gambar 16. Penempatan area sirkulasi kendaraan dan parkir pada zona 5
Hasil
Keseluruhan alur sirkulasi pada tapak kemudian dihubungkan dengan penataan zoning dalam tapak yang sudah dibahas sebelumnya, sehingga didapatkan penataan zoning yang sesuai. Penataan tapak yang didapatkan kemudian menjadi acuan dalam proses perancangan selanjutnya.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan rancangan tapak yang dihasilkan pada fasilitas Sirkuit Nasional Balap Motor dan Drag Bike di Bali sebagaimana ditampilkan pada gambar 21, maka dapat dilihat penataan tapak yang optimal dengan penataan zona, konsep sirkulasi, dan regulasi otomotif yang sesuai sehingga layak untuk menyelenggara- kan kejuaraan otomotif tingkat nasional dan lokal. Hasil rancangan sekaligus mampu menjawab segala per- masalahan otomotif yang ada di Bali dengan adanya area serbaguna sebagai sarana latihan, wadah penye- lenggaraan cabang otomotif lain (slalom, free style, mini moto), dan sarana menyelenggarakan kegiatan otomotif lainnya (pameran, launching product, test drive kendaraan). Pengembangan lebih lanjut perlu dil- akukan pada area serbaguna, sehingga sebuah kegiatan dapat berjalan lebih optimal sekaligus aman dan nyaman bagi seluruh civitas yang terlibat didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum. 1994. Tata Cara Perencanaan Teknik Bangunan Gedung Olahraga. Ban- dung: Yayasan LPMB.
Fédération Internationale de Motocyclisme. 2017. FIM Standards For Circuits.
FLA. 2008. ‘Guide to Safety at Sports Ground’. United Kingdom: TSO.
Ikatan Motor Indonesia. 2017. Peraturan Nasional Olahraga Kendaraan Bermotor. Jakarta: Ikatan Motor In- donesia.
Laksito, Boedhi. 2014. Metode Prencanaan dan Perancangan Arsitektur. Jakarta : Griya Kreasi.
Peraturan Daerah Kabupaten Jembrana No. 11 Tahun 2012. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jembrana Tahun 2012 – 2032
Gambar 19. Hasil penataan zoning tapak Gambar 20. Rancangan Sirkuit Nasional Balap Motor dan Drag Bike di Bali
Gambar 21. Siteplan Sirkuit Nasional Balap Motor dan Drag Bike di Bali