2
Januari 2021
Semangat
Baru, Karya Baru
Visi : Menjadi Lembaga Pengelolah Sedekah yang amanah dan peofesional untuk memuliakan Al Qur’an
Misi : Bersama berusaha menebar kemanfaatan di bidang Dakwah dan Pendidikan serta Pelayanan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi
Dewan Pembina : Anang Suharto, Nurul Huda, M. Th oni, S. Kom
Penasehat: Muzakki Ubaidillah, M. Sarbini
Pengawas : Pahlevi Santoso Pengurus : Ketua : Hudi Asyida’, SE; Sekretaris : Fayshol Suri Adi;
Benahara : Ir. Rustiyani
Pelaksana : Direktur : Hadi Prasetyo, A.ma; Kasi Keuangan : Khusnul ; Kasi Umum : Muliya Wati
Sekretariat : Perum. Mutiara Kebonagung B-17, Sukodono - Sidoarjo, Telp. 031 883 2057 Kantor Surabaya : Jambangan Tama no 19, Surabaya, Telp. 031 8251 2835
Email : omahquran@yahoo.
co.id
Notaris : Tri Wiharno, SH.Mkn No. 207/26-06-2012
SK.MENKUM HAM
No. AHU-0006473.AH.01.12 Th 2015
Rekening :
Bank Mandiri Syariah No. 703- 915-6088
Bank Bukopin Syariah No. 8800 199-124
an. Yayasan Omah Qur’an
Redaksi : Pimpinan Redaksi : Hudi; Redaktur Pelaksana : Imam; Editor : Galih;
Reporter : Arifi n; Disain : Dakonmedia; Fotografer : Rayhan, Jery, Galih;
Media Partner : Dakonmedia
Redaksi menerima segala bentuk kritik dan saran, karya tulis maupun artikel.
Silahkan dikirim via email : [email protected]
, Karya Semangat
, Karya Semangat
Oleh : Hudi Asyidda’
(Ketua Yayasan Omah Qur’an)
K
ini kita sudah berada di tahun 2021 M. Lebih dari sekedar merayakan tahun baru, bagi umat Islam peristiwa tahunan tersebut kiranya memberikan semangat baru untuk terus memacu memperbaiki hidup. Pergantian tahun ini selayaknya memberikan kita semangat baru dalam membuat karya nyata dan prestasi hidup.Bagi umat Islam memiliki keyakinan bahwa waktu merupakan merefleksikan diri dalam kehidupan dunia yang akan
dipertangungjawabkan di akherat nanti. Sebagaimana firman Allah, “Adalah orang yang merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin dan hari esok lebih buruk dengan hari ini. Dan kamu akan termasuk kaum yang beruntung jika hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.
Pemahaman itu memberikan keyakinan bagi kita bahwa waktu bukan sekadar kumpulan angka-angka yang tertera pada jarum jam atau di kalender. Tetapi waktu adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan oleh Allah SWT, Sang Pemilik Zaman.
Perubahan menjadi lebih baik di era perubahan itu harus dimulai dari rumah tangga dan dilanjutkan melalui lembaga pendidikan akan membawa dampak positif sejalan dengan perkembangan. Semua itu harus dimulai dari sekarang sebagai menciptakan negerasi muda Islami yang mampu melakukan perubahan dalam kehidupan. Sebab sudah digariskan dalam Islam bahwa “Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang akan mengubahnya”.
Karena itu ada tidaknya perubahan dalam kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat sangat tergantung pada individu atau kelompok tersebut. Itu langkah minimal yang sejatinya dilakukan setiap muslim dalam memaknai pergantian tahun ini.
Intinya, Islam juga mengajarkan, bahwa hari-hari yang dilalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setiap Muslim dituntut untuk selalu berprestasi, yaitu menjadi lebih baik dari hari ke hari, begitu seterusnya.
Semoga di tahun 2021 ini kita senantiasa menggelorakan semangat dan harapan baru dengan prestasi dan karya-karya baru yang lebih bermanfaat, tak hanya bagi diri sendiri, namun juga bagi lingkungan sekitar. (*)
3
Januari 2021
Kolom
Tahun
Pembaruan Iman
(Oleh: KH. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA.)
4
Januari 2021
Hikmah Utama
K
ita sedang berada di awal tahun 2021 M. Bagaimana seharusnya seorang muslim atau keluarga muslim secara khusus dan umat Islam secara umum menyikapi fenomena pergantian tahun seperti ini? Berikut beberapa catatan yang perlu diingat dan diperhatikan:Pertama: Mari memanfaatkan fenomena pergantian waktu : siang-malam, hari, pekan, bulan, tahun dan seterusnya, yang merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran dan
kekuasaan Allah, untuk melakukan hal-hal yang semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, seperti dengan banyak ber-tafakkur dan berdzikir mengingat muraqabatullah (pengawasan Allah) terhadap segala prilaku kita dalam hidup ini.
Dan bukan justru untuk merayakannya dengan cara-cara yang berlebih-lebihan, penuh kesia- siaan, apalagi penuh dengan aksi “demonstrasi”
dosa dan kemaksiatan, yang semakin membuat kita lupa, lalai dan menjauh dari Allah Dzat Pemilik waktu dan Pengatur pergantiannya.
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran/kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal “ (QS. Ali Imran [3] : 190).
Kedua: Berdasarkan sunnah Nabi shallallahu
’alaihi wasallam, tidak ada contoh aktifitas atau praktik amalan tertentu dalam menyambut pergantian tahun, baik tahun hijriyah apalagi tahun miladiyah (masehi). Namun tidak ada
salahnya, jika momentum ini digunakan untuk hal-hal bermanfaat yang tidak bersifat ritual khusus, seperti untuk dijadikan sebagai terminal pengambilan ibrah dan pelajaran darinya,
disamping dimanfaatksn untuk ber-muhasabah dan berinstropeksi diri.
Karena setiap muslim harus selalu melakukan muhasabah diri, disamping setiap saat, juga yang bersifat harian, pekanan, bulanan, tahunan dan seterusnya. Umar bin Al Khatthab radhiyallahu
’anhu berkata:
”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang paling besar (hari menghadap Allah)”, Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang
tersembunyi (bagi Allah “. (QS Al-Haaqqah : 18).
Ketiga: Pergantian tahun juga bisa dijadikan momen penting merenungkan apa-apa yang telah berlalu dalam hidup kita selama setahun ini. Tunjuannya minimal tiga: disatu sisi untuk kita syukuri, disisi lain untuk kita istighfari, dan disisi yang lainnya lagi untuk kita ambil ibrah dan pelajaran darinya bagi masa depan kita yang lebih baik.
Ya, terhadap segala hal baik, positif dan konstruktif, serta beragam kenikmatan tak
terhingga yang telah kita terima dan reguk dalam hidup selama setahun berlalu ini, semua itu wajib kita sykuri. Disertai harapan semoga Allah Ta’ala mempertahankannya dan bahkan menambah
“ Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba dari pengadilan Allah dihari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, dihabiskan untuk apa, tentang ilmu pengetahuannya, apa yang telah diamalkan darinya, tentang hartanya dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang raganya, untuk apa digunakan
“ (HR. At-Tirmidzi).
5
Januari 2021
Hikmah Utama
serta meningkatkannya bagi kita.
Keempat: Dengan berakhirnya tahun 2020 dan hadirnya tahun baru 2021, berarti telah bertambah satu tahun lagi dalam usia masing- masing kita. Dan sebagai kaum beriman, itu harus kita pahami dan sikapi sebagai bertambah banyaknya nikmat umur dalam hidup yang yang akan kita pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah di
akherat.
“ Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba dari
pengadilan Allah dihari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, dihabiskan untuk apa, tentang ilmu pengetahuannya, apa yang telah diamalkan darinya, tentang hartanya dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang raganya, untuk apa digunakan “ (HR. At- Tirmidzi).
Di sisi lain bertambahnya umur juga berarti berkurangnya waktu dan kesempatan kita untuk beramal dan berkarya di dunia ini, sebagai investasi dan bekal bagi kehidupan akherat nanti, dan juga berarti waktu kita menjemput kematian yang pasti datang dan kembali ke
haribaan Allah, telah semakin pendek dan dekat. Dan perenungan serta muhasabahnya disini adalah: Sudahkan kita benar-benar siap untuk menghadapinya?
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).
Kelima: Akhirnya, mari berazam bersama – dengan izin dan taufiq Allah – untuk menjadikan tahun baru 2021 M., sebagai tahun
pembaruan iman, ilmu, amal, moral dan mentalitas yang lebih syar’i dan islami. Juga mari bertekad bersama – dengan izin dan taufiq Allah – untuk menjadikan tahun baru ini, sebagai tahun perubahan positif dan konstruktif bagi diri masing-masing kita secara khusus, bagi keluarga kita, bagi masyarakat kita, bagi bangsa kita, dan lebih luas lagi bagi ummat kita dimanapun berada. Sehingga dengannya insya-allah bangsa kita akan tampil lebih terhormat dan bermartabat, serta ummat kita akan lebih eksis sebagai ummat yang berjaya! Semoga! Aamiin! (*)
“Hai orang- orang yang ber- iman, bertak- walah kepada Allah dan hen-
daklah setiap diri memperha-
tikan apa yang telah diperbuat-
nya untuk hari esok (akhirat);
Dan bertakwa- lah kepada Al- lah, sesungguh- nya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.
Al-Hasyr [59]:
18).
6
Januari 2021
Hikmah Utama
Utamakan Adab,
Baru Kemudian Ilmu
S
udah sewajarnya suami dan istri saling memberi manfaat bagi satu sama lain. Namun, alangkah indahnya jika kita dapat menjadi pasangan yang bermanfaatbagi banyak orang. Kemanfaatan ini bisa diumpamakan dengan sebuah mata air.
Sebagaimana makhluk hidup, semuanya
membutuhkan air. Di mana ada mata air, maka di situ ada kehidupan.
“Sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain”, begitu pula dengan sebuah pernikahan yang juga seharusnya memberi manfaat, setidaknya bagi tetangga di
lingkungannya. Seperti Kota Makkah berdiri karena adanya mata air yang kita kenal
dengan nama zamzam. Begitu pula dengan rumah tangga, di manapun pasangan suami istri akan tinggal, maka di sana pula akan ada
kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
Jika orang-orang mendatangi mata air untuk membasuh mukanya yang tampak kuyu, maka jika dia datang pada pasangan rumah tangga yang serupa mata air ini, wajahnya akan
pulang dengan rona yang berseri-seri. Seakan apa yang membebaninya dapat dihadapi
dengan energi positif. Apalagi, jika dia mandi di mata air tersebut, terbayang bagaimana bersih dan perasaan segar yang didapatkan sehingga melakukan aktivitas sehari-hari pun dengan baik. Rumah tangga yang jernih dapat menghapus dahaga dan menjadi
tujuan banyak orang untuk mendapatkan manfaatnya.
Nah, bagaimana cara membangun rumah tangga sejernih itu? Salah satunya dengan
7
Januari 2021
Klinik Pranikah
Oleh : Ust. Achmad Sukron
(Konsultan Pernikahan Islami / Narasumber Radio Sham FM)
ilmu. Seumpama air, di mana ada ilmu maka di sana pula banyak orang-orang yang haus akan ilmu berdatangan. Keberkahan akan mengalir di mana saja ilmu berada. Ilmu Allah sangat luas, tapi yang perlu kita utamakan adalah ilmu agama. Islam mengatur seluruh aspek hidup manusia. Jika dipelajari secara keseluruhan, ilmu ini akan terhubung dengan keilmuan-keilmuan lainnya.
Seperti bagaimana Rasul memberi contoh agar kita minum dengan sikap duduk, yang kemudian dapat diulas alasannya oleh
ilmu kedokteran. Begitu pula dengan ilmu psikologi yang mengungkap bahwa fase-fase bulan mempengaruhi mood manusia, oleh karena itu sejak dulu Rasulullah menyunahkan puasa ayyamul bidh (tengah bulan kalender Hijriyah). Ilmu Allah tidak pernah habis, maka tidak ada alasan untuk mencukupkan belajar.
Lalu, bagaimana jika keilmuan yang dimiliki suami dan istri berbeda? Perbedaan ilmu, baik secara penguasaan maupun penafsiran memang tidak akan mudah jika ada paksaan agar menjadi sama. Namun, yang perlu kita utamakan adalah adab, kemudian baru ilmu.
Mari kita simak bersama perumpamaan berikut: Dua imam besar umat Islam pernah memberi contoh yang mulia. Saat itu, Imam Hambali menjadi makmum shalat Imam Syafi’i, beliau mengikuti semua yang dilakukan oleh Imam Syafi’i, padahal keduanya memiliki tata cara berbeda dalam menjalankan shalat.
Begitulah adab seorang yang berilmu.
Contoh berikutnya mengapa adab harus didahulukan sebelum ilmu, adalah fiqih yang menyebutkan aurat laki-laki yaitu mulai dari pusar sampai lutut. Jadi, dengan memakai celana pendek yang menutup bagian tersebut, boleh, dan sholatnya sah.
Nah, coba bayangkan jika di antara kita ada orang yang memakai celana pendek dengan telanjang dada begitu hadir ke masjid,
apakah pantas? Begitulah contoh agar kita mengutamakan norma-norma lain dan tidak
selalu mendahulukan hukum perkara dalam ilmu fiqihnya. Di dalam rumah tangga, adab yang berlaku adalah suami sebagai pemimpin istri. Jadi, perlu kelapangan hati istri dalam mengikuti apa yang menjadi sikap suaminya.
Ini bukan sikap mengalah dari istri yang konotasinya cenderung negatif, tetapi sikap memahami.
Namun, sebelumnya suami juga wajib
memberikan pandangan serta alasan-alasan mengapa dia mengambil sikap demikian, tentu saja berdasarkan keilmuan. Jika hikmahnya adalah kebaikan, maka tidak ada alasan bagi istri untuk menolak sikap suaminya. Apakah ilmu yang seolah adalah mata air ini menjamin keutuhan sebuah rumah tangga? Jika kita sempat menemui pasangan
orang-orang berilmu yang tidak lagi dapat mempertahankan keutuhan rumah tangganya, wallahua’lam, kemungkinan ada faktor lain yang menjadi alasan bercerai. Sebab, orang berilmu dan paham dengan keilmuannya akan mendahulukan adab daripada ilmunya.
Sebagaimana dokter, dia tidak akan merokok atau minum alkohol jika paham bahwa benda tersebut dapat merusak tubuhnya. Sehingga, jika pun pasangan yang dimuliakan oleh ilmu ini berpisah, maka keduanya akan menjaga kehormatan satu sama lain. Mantan istri tidak akan menjelek-jelekkan mantan suaminya, mantan suami pun tidak akan pernah
menjelek-jelekkan mantan istrinya. Begitulah hakikat ilmu bagi orang-orang yang benar- benar mengamalkannya.
Mari kita membangun keluarga yang dekat dengan ilmu agar bisa menjadi mata air bagi banyak orang. Sebuah rumah tangga yang jernih dan dalam persediaan airnya.
Semoga dengan cara ini Allah turut menjaga keharmonisan keluarga kecil kita dan orang- orang yang mendapatkan manfaat dari
keberadaannya. Wallahu a’lam bisshowab. (*)
8
Januari 2021
Klinik Pranikah
Hadapi dengan
Ikhlas dan Lapang
Dada
D
alam kehidupan keseharian ada kalanya kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak atau jauh dari yang diinginkan. Bila kita tidak bisa menerima atau mengendalikan diri yang terjadi adalah apa yang disebut dengan trauma.Secara akademis trauma adalah
"respon emosional akibat kejadian yang sangat menyakitkan dalam hidup yang menimbulkan dampak jangka
pnjang baik secara fisik maupun mental,
menjadi luka batin yang terus membayangi hidup".
Agar kehidupan berjalan serasi dan normal serta berkelanjutan dalam arah-arah yang positif maka, terhadap masalah yang kita hadapi dan menyebabkan trauma harus cepat dicarikan solusinya. Agar tidak
menjadi masalah yang berkepanjangan. Intinya, tataplah masa depan dan tak ada gunanya menyesali masa lalu.
Lalu bagaimana solusi menghadapi trauma tersebut?
1. Segeralah move-on, tutup buku...tidak perlu membuka lagi yang sudah-sudah! Jadikan yang lalu sebagai pelajaran dan pengalaman, tidak perlu disesali.
Hapuslah semua kenangan yang ada dan terimalah kenyataan bahwa hubungan telah berakhir. Lupakan masa lalu dan yakinkan bahwa orang lain berhak mendapatkan kesempatan dari anda yang jauh lebih baik
2. Sadarilah bahwa anda memegang kendali atas diri dan hidup!
3. Membuka diri unttk hal-hal baru dan lakukanlah kegiatan yang positif, sibukkan diri dan bergaullah dengan orang-orang dalam lingkungan yang supportif.
4. Berpikirlah yang positif sebab ia akan membuat anda lebih relaks, tenang dan mampu menerima kenyataan.
5. Berpikir secara dewasa dengan menatap masa depan... dan segeralah lawan rasa takut gagal bahwa anda boleh gagal dengan 1 orang namun belum tentu gagal dengan orang lain...
6. Beranilah untuk kembali lagi melangkah dan
yakinkan diri bahwa anda berhak untuk mencintai dan dicintai orang yang terbaik !
7. Berolahraga akan membantu meningkatkan
endorphin dan pemulihan stres... mandi dengan produk yg mengandung aromatic laut akan membangkitkan kadar endorphin dalam tubuh dan meningkatkan produksi B-endorphine/hormone "bahagia".
8. Lakukanlah terapi-terapi fisik, relaksasi, yoga, meditasi, zikir, qiyamul lail dan lainnya.
Yang penting tawakkal dan berdoa, percaya pada takdir karena semua sudah tertulis di " lauh mahfudz"...
forgive and forgotten… maafkan dan lupakan...hadapi semua kenyataan dengan ikhlas dan lapang dada...
Insha Allah fi amani Allah... Barakah Allah… (*)
9
Januari 2021
Konsultasi Psikologi
oleh : Dra. Uchy Khadijah, M.Psi,
(Dosen Psikologi Agama UINSA Surabaya)
Pelaku Kriminal
dalam
Perspektif Fiqh
S
ahabat OQ yang dirahmati Allah Swt, terlepas dari kepentingan apapun, Alhaqir ingin menuliskan pandangan fiqih dalam menghukumi pelaku criminal. Secara umumpelaku kriminal dibagi menjadi 3 bagian:
1.Melakukannya dengan murni kesengajaan dengan gambaran bermaksud atau sengaja melakukan dan obyeknya juga sudah ditentukan dengan menggunakan sesuatu yang pada kebiasaan umumnya dapat mematikan, maka konsukewensinya haruslah di qishas .
Kalimat "bermaksud atau sengaja melakukan" memberikan pengertian bahwa ketika melakukan tidak ada maksud atau tidak ada kesengajaan tentunya tidak termasuk bagian yang pertama ini dan tentunya pula tidak ada konsukewensi qishas semisal seseorang memanjat pohon lalu jatuh dan menimpa orang lain yang menyebabkan kematian pada
Oleh : Ust. Akrom Khozin
10
Januari 2021
Fiqh
orang lain tersebut maka dalam kasus ini tidak ada konsukewensi qishas.
Kalimat "objeknya sudah ditentukan "
memberikan pengertian bahwa ketika objeknya tidak ditentukan maka tidak termasuk dalam bagian yang pertama ini semisal seseorang melempari jama'ah atau segerombalan orang dengan tanpa ditujukan pada perseorangan yang terdapat dalam rombongan tersebut maka tidak diwajibkan qishas, demikian menurut pendapat yang unggul.
Kalimat "dengan menggunakan sesuatu yang pada kebiasaan umumnya dapat
mematikan" lebih umum dibandingkan dengan menggunakan alat atau lainnya baik yang
tajam atau yang berat, sehingga memberikan pengertian penyebab kematiannya tidak diharuskan menggunakan alat.
Termasuk dalam kriminal bagian pertama (melakukan dengan murni sengaja)
adalah seandainya seseorang membakar, menenggelamkan, menyalib, merobohkan tembok ,merobohkan atap, menyeret dengan binatang atau menguburkan hidup-hidup yang dilakukan pada pada orang lain yang
mengakibatkan akan kematiannya maka pelaku dikenakan hukum qishas.
Contoh yang tidak menggunakan alat sangatlah bermacam semisal : seandainya seseorang memenjarakan orang lain dan tidak memberinya makan dan minum dan tidak diizinkan keluar untuk mencari makan dan minum sehingga menyebabkan kematian maka sipelaku dikenakan hukum qishas. Ini termasuk pula dalam kriminal bagian pertama pembunuhan yang tidak menggunakan alat seandainya seseorang memenjarakan orang lain dalam keadaan telanjang dan tidak memberikan pakaian atau selimut sehingga ia mati sebab kedinginan maka sipelaku dikenakan hukum qishas.
Sebagaimana dijelaskan Al-Qhadhi
syaikh Husain ra, berbeda bila seandainya
memenjarakan di gurun pasir dan memberinya makan , minum dan pakaian kemudian mati karena kelaparan ,kehausan atau kedinginan maka pelaku tidak dikenakan pertanggung jawaban karena penyebab kematiaannya disebabkan bukan karena ulah yang
memenjarakan karena yang memenjarakan
sudah memberi makanan , miuman dan pakaian.
Termasuk pada kriminal bagian pertama pula bila seandainya ada empat orang bersaksi atas seseorang dihadapan hakim bahwa seseorang tersebut telah melakukan pembunuhan, atau murtad atau zina muhshan yang mewajibkan sesorang tersebut dihukum mati kemudian
setelah kematiannya mereka (empat orang yang bersaksi) mencabut persaksiannya dan mengakui bahwa persaksiannya memang sengaja dilakukan agar orang terdakwa mendapatkan hukuman mati maka empat orang yang bersaksi dikenakan hukum qishas.
Demikian juga misalnya memberikan persaksian palsu yang mengakibatkan terdakwa dihukum potong tangan karena didakwa mencuri maka orang yang bersaksi dikenakan hukuman
sebaliknya (potong tangan pula).
Termasuk pula kriminal yang dikenakan
hukum qishas adalah orang yang menyuguhkan makanan yang dicampur dengan racun. Apabila yang disuguhi itu anak kecil atau orang gila atau orang yang memang tidak tahu bahwa makanan itu beracun maka yang menyuguhkan dikenakan hukum qishas berbeda bila yang disuguhi adalah orang baligh berakal dan tahu bahwa makanan tersebut sudah dibubuhi atau dicampur racun namun ia tetap memakannya maka yang
menyuguhkan tidak dikenakan qishas, karena yang disuguhi dihukumi bunuh diri.
Jika diwajibkan qishas maka dalam wajibnya qishas menuntut adanya perbedaan pandangan seperti kasus berikut ini ,Apabila ada sebuah
sumur atau lobang yang sudah ditutupi disebuah lorong atau jalan dan kemudian mengajak
seseorang untuk bertamu kerumahnya dengan melewati lorong atau jalan tersebut dan memang kebiasaannya lorong atau jalan tersebut memang dijadikan akses menuju kerumahnya, lalu orang yang diajak untuk bertamu kerumahnya jatuh kedalam sumur atau lobang tersebut.
Dalam hal ini ada dua pendapat : menurut qaul al-adzhar tidak wajib qishas tetapi wajib bayar diyah (tebusan) sebab keberadaan sumur atau lobang tersebut lebih kuat dibandingkan dengan sedang menggali sumur atau masih tahap penggalian, namun sebagian pendapat tetap juga tidak wajib bayar diyah, sedangkan menurut muqobilul adzhar wajib qishas.
(Bersambung)
11
Januari 2021
Fiqh
Keberanian
Abu Dzar
Al-Ghifari
K
etika dia mendengar kabar tentang kerasulan Nabi, dia mengutussaudara laki-lakinya menyelidiki lebih lanjut mengenai Nabi. Setelah puas menyelidiki, saudaranya pun melaporkan kepada Abu Dzar bahwa Nabi
Muhammad itu seorang yang sopan, santun, dan baik budi pekertinya.
Ayat-ayat yang ia bacakan kepada manusia
bukanlah puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair.
Laporan itu masih belum memuaskan hati Abu Dzar. Akhirnya ia pun berangkat sendiri ke Makkah untuk mencari tahu tentang Muhammad.
Pada suatu hari menjelang malam di Kota
Makkah, ia dilihat oleh Ali. Oleh karena ia seorang musafir, Ali terpaksa membawanya ke rumahnya dan melayaninya dengan baik sebagai tamu.
12
Januari 2021
Shiroh
Ali tidak bertanya apapun dan Abu Dzar tidak pula memberitahu Ali tentang maksud kedatangannya ke Makkah.
Pada keesokkan harinya, Abu Dzar pergi ke Baitul Haram untuk
mengetahui siapa Muhammad. Abu Dzar gagal menemui Nabi karena pada waktu itu orang-orang Islam sedang diganggu hebat oleh orang- orang kafir musyrikin. Pada malam yang kedua, Ali kembali membawa Abu Dzar ke rumahnya.
Pada malam itu Ali bertanya: “Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?”
Sebelum menjawab Abu Dzar meminta Ali berjanji untuk berkata
benar. Kemudian dia pun bertanya kepada Ali tentang Nabi. Ali berkata:
“Sesungguhnya dialah pesuruh Allah. Besok engkau ikutlah aku dan aku akan membawamu menemuinya. Tetapi awas, bencana yang buruk akan menimpa kamu kalau hubungan kita diketahui orang. Ketika berjalan besok, kalau aku mendapati bahaya mengancam kita, aku akan berpisah agak jauh darimu dan berpura-pura membetulkan sepatuku. Tetapi
engkau teruslah berjalan supaya orang tidak curiga hubungan kita.”
Pada keesokkan harinya, Ali pun membawa Abu Dzar bertemu dengan Nabi. Tanpa banyak tanya jawab, Abu Dzar pun memeluk agama Islam.
Karena takut dia diapa-apakan oleh musuh, Nabi menasehatinya supaya cepat-cepat balik dan jangan mengabarkan keislamannya kepada
khalayak ramai.
Tetapi Abu Dzar menjawab dengan berani: “Ya Rasullulah, aku bersumpah dengan nama Allah yang jiwaku berada di tanganNya, bahwa aku akan mengucap dua kalimah syahadah di hadapan orang- orang kafir musyrikin itu.”
Janjinya kepada Rasulullah ditepatinya. Selepas meninggalkan Rasulullah, dia mengarahkan langkah kakinya ke Baitul Haram. Di
hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Tatkala mendengar ucapan Abu Dzar itu, orang-orang kafir pun
menyerbunya lalu memukulnya. Kalau tidak karena Abbas, paman Nabi yang ketika itu belum Islam, tentulah Abu Dzar menemui ajalnya di situ.
Kata Abbas kepada orang-orang kafir musyrikin yang menyerang Abu Dzar: “Tahukah kamu siapa orang ini? Dia adalah turunan Bani Ghifar. Kafilah-kafilah kita yang pulang pergi ke Syam terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, sudah tentu mereka menghalangi perniagaan kita dengan Syam.”
Pada hari berikutnya, Abu Dzar sekali lagi mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan orang-orang kafir Quraisy dan pada kali ini juga ia diselamatkan oleh Abbas. Luar biasa memang keberanian seorang Abu Dzar Al-Ghifari. (*)
Janjinya kepada Rasulullah ditepatinya.
Selepas meninggalkan Rasulullah, dia mengarahkan langkah kakinya ke Baitul Haram. Di hadapan kaum musyrikin dan dengan suara lantang dia mengucapkan dua kalimah syahadah. “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
13
Januari 2021
Shiroh
Oleh : Ust Fauzi AS, S.Hum, M.Pdi (Pengajar STAI Syehkhona Cholil Bangkalan)
Tips Mendidik Anak Secara
Islami
K
eberadaan seorang anak memang akan menjadipelengkap kebahagiaan orang tuanya. Namun, orang tua terkadang tidak benar-benar menyadari serta memahami makna dari keberadaan anak tersebut. Anak merupakan anugerah dan sekaligus amanah yang dititipkan oleh Allah kepada hambaNya. Orang tua akan dimintai pertanggung jawabannya atas amanah tersebut di akhirat kelak. Orang tua
seringkali lalai dalam hal mengasuh dan mendidik anaknya. Hal ini biasanya terjadi karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan
14
Januari 2021
Lentera Quran
atau karirnya. Anak yang menjadi dambaan bagi setiap orang tua selayaknya memperoleh kasih sayang, perhatian, perlindungan, perawatan, dan juga pendidikan yang memadai.
Berikut ini ada beberapa konsep yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua berkaitan dengan pendidikan anak. Konsep-konsep dalam mendidik anak tersebut antara lain:
Memberikan pendidikan tauhid
Tauhid merupakan landasan Islam yang paling penting bagi anak, oleh karenanya mengajarkan pendidikan tauhid terhadap anak merupakan kewajiban yang mutlak dan utama. Sebagaimana Luqman telah mengajarkan tauhid kepada
anaknya yang disebutkan dalam firman Allah SWT sebagai berikut. Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya kesyirikan itu merupakan
kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).
Mengajarkan adab dan akhlak
Terdapat sebagian orang tua yang menganggap bahwa membiasakan anak untuk berakhlak baik pada usia dini belum perlu karena berbagai alasan. Ada orang tua yang beranggapan
kenakalan pada anak itu wajar karena masih kecil dan perlu dimaklumi sebab pada akhirnya kelak besar bisa berubah. Ada juga yang beranggapan orang tua hanya mencukupi kebutuhan jasmani saja, sedangkan kebutuhan rohani anak-
anak akan mendapatkannya pada pendidikan formal kelak. Anggapan-anggapan tersebut merupakan anggapan yang keliru. Orang tua wajib memberikan pendidikan akhlak pada anak-anaknya terlebih lagi dimulai sejak usia dini. Hal ini dikarenakan bila anak sudah tumbuh besar akan lebih sulit untuk membentuk dan menanamkan akhlak yang baik.
Sertakan anak dalam beribadah
Memperkenalkan anak tentang agama sejak dini merupakan hal yang cukup penting. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara selalu menyertakan anak dalam kegiatan-kegiatan ibadah. Allah telah berfirman dalam surat Al-
Ahzaab ayat 21 sebagai berikut, “Sungguh telah aku utus Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan.”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita sebagai orang tua dalam mendidik anak hendaknya menjadi contoh atau panutan dalam melaksanakan ibadah bukan menyuruh untuk beribadah saja. Jika ingin anaknya memiliki pondasi agama yang baik, orang tua hendaknya memberi contoh kepada anak-anak dalam
beribadah bukan hanya memerintahkannya saja.
Bersikap lemah lembut dan tegas.
Adakalanya orang tua harus bersikap lembut dan mengasihi anaknya namun orang tua juga perlu bersikap tegas bila diperlukan. Orang tua di samping dituntut bisa menjadi pemimpin bagi anaknya, harus bisa juga menjadi teman yang penuh kasih sayang bagi anaknya. Peran orang tua sebagai teman yaitu misalnya dengan mengajak bermain, mencandai, dan mencium sebagai bentuk kasih sayang. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada sahabat aqro’ yang mempunyai 10 anak, tetapi tidak pernah mencium satu anakpun dengan penuh kasih sayang. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim beliau bersabda:
“Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi”. Sikap tegas kepada anak terkadang juga diperlukan manakala anak melanggar ketentuan syar’i. Sikap tegas yang dimaksud bukanlah sikap kasar, kekerasan, atau menganiaya, tetapi sikap tegas disini ditujukan sebagai metode pendidikan anak untuk
memberikan efek jera.
Perhatikan perkembangan jasmani dan rohani Orang tua tidak hanya berkewajiban
untuk memenuhi kebutuhan anak saja tetai juga memperhatikan perkembangannya.
Perkembangan kesehatan baik jasmani maupun rohani pada anak harus diperhatikan orang tua, sejauh mana perkembangan fisik anak dan adab atau akhlak anak terhadap Allah SWT, Rasul, diri sendiri, orang lain bahkan segala ciptaan Allah SWT. Pendidikan Islam sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohani dan jasmaninya juga harus berlangsung secara bertahap. (*)
15
Januari 2021
Lentera Quran
Masjid Kapal Munzalan yang Memberdayakan
P
eradaban Islam, dulu dan kini tidak terlepas dari hadirnya masjid.Terbukti, bangunan pertama yang dibangun nabi Muhammad SAW saat hijrah di Madinah yakni membangun Masjid Nabawi.Kemudian para sahabat dan para pemimpin besar Islam lainnya selalu menjadikan masjid sebagai wadah perjuangan, kegiatan amal dan kebesaran Islam itu sendiri.
Konsep peradaban besar dimulai dari masjid kini juga diterapkan Masjid Kapal Munzalan.
Masjid yang dibangun pada tahun 2011 dan mulai beroperasi pada tahun 2012 memiliki hal yang unik selain karena bentuknya seperti kapal, juga karena aktivitasnya yang bukan hanya
untuk ibadah shalat lima waktu saja namun lebih dari itu seperti lahirnya puluhan lembaga amal soleh untuk membangun peradaban yang besar tersebut.
Masjid yang terletak di Gang Imaduddin Jalan Sungai Raya Dalam 2, Kabupaten Kubu
Raya tersebut berada di kawasan 95 persen penduduknya adalah non muslim. Aktivitas sehari – hari kegiatan masjid sama sekali tidak mengganggu warga sekitar dan hal itu dibuktikan dengan tetap saling harmonis dalam keberagaman.
Masjid tersebut dibangun dan dikelola M. Nur Hasan dan Rahman dan Ustaz Luqmanulhakim tersebut memiliki luas 11 x 17 meter dengan daya tampung 200 jamaah. Masjid Kapal Munzalan mengelola puluhan lembaga amal soleh. Lembaga amal itu dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu pendidikan, sosial, serta usaha
Dalam bidang pendidikan, Masjid Kapal
Munzalan memiliki kelompok bermain dan Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar (SD), Munzalan
Boarding School (setara SMP), Balai Tahfiz Quran (BTQ), Bimbingan Belajar, dan aktivitas pendidikan bagi Santri Penerima Amanah (SPA).
Dua lembaga amal pendidikan di Masjid Kapal
16
Januari 2021
Tadabur
Munzalan, yaitu KB/ TK dan BTQ saat ini telah memiliki beberapa cabang; KB/TK sebanyak 5 cabang, sementara BTQ sudah berkembang menjadi 5 cabang. Jumlah seluruh santri yang belajar di Masjid Kapal Munzalan saat ini tak kurang dari 700 orang.
Untuk dalam bidang sosial, Masjid Kapal Munzalan merintis Gerakan Infaq Beras (GIB).
Gerakan ini telah berdiri di 70 kabupaten/ Kota di Indonesia dan tersebar di 22 Provinsi dengan jumlah Pasukan Amal Sholeh (PASKAS/ relawan) tak kurang dari 2500 orang.
Pada tahun 2019, rata-rata, GIB telah
mendistribusikan beras sebesar 350.000 kilogram tiap bulan, atau 4,2 juta kilogram beras dalam setahun atau senilai Rp63 milyar per tahun. Beras itu didistribusikan kepada kepada anak yatim, santri pengahafal Alquran, fisabilillah. Pada tahun 2019 Beras tersebut dapat dinikmati sepanjang hari oleh tak kurang dari 140.000 anak yatim/
santri/ fisabilillah/ mustahik yang berasal dari sekitar 1800 panti asuhan/ pesantren di seluruh Indonesia.
Sementara pada tahun 2020, beras yang didistribusikan per bulan rata-rata telah
mencapai 450.000 kg, dengan jumlah penerima manfaat sekitar 250.000 anak yatim/ santri/
fisabilillah/ mustahik.
Selain itu Masjid Kapal Munzalan juga
mengembangkan Baitulmaal yang telah memiliki 9 cabang di seluruh Indonesia dengan omset penerimaan ziswaf rata-rata per bulan mencapai Rp6 milyar(2019).
Masjid Kapal Munzalan juga memiliki Rumah Sehat yang dikelola oleh 2 orang dokter dan 40-an orang perawat, dimana sebagian besar diantaranya berpendidikan sarjana muda (D3).
Di rumah sehat yang bernama Rumah Sehat Munzalan ini dikembangkan metode kesehatan thibun nabawi, pengobatan medis, herbal,
hijamah, dan rukyah syariah.
Masjid Kapal Munzalan memiliki belasan bisnis produktif seperti perusahaan kuliner, toko, mini market, distributor, hingga eksport komoditas unggulan. Seluruh bisnis ini dikelola oleh devisi khusus dan dioperasikan oleh sekitar 70-an tenaga produktif. Keuntungan dari bisnis ini 100% diserahkan untuk mendukung aktivitas dakwah di Masjid Kapal Munzalan.
Saat ini Masjid Kapal Munzalan mengelola aset waqaf dengan nilai tak kurang dari Rp 50 milyar, aset itu sebagian besar berasal dari masyarakat, dan sebagian kecil dibeli dari wasilah tijarah (usaha/ bisnis).
Saat ini para penggiat amal sholeh Masjid Kapal Munzalan didukung oleh 14 kendaraan roda 4 berbagai jenis, mulai dari pickup, avanza, suzuki R 3, triton, CRV, Alphard, hingga Velvire. Masjid Kapal Munzalan juga mengelola tak kurang dari 20-an kendaraan roda 2.
Seluruh lembaga amal sholeh di Masjid Kapal Munzalan dioperasikan oleh santri. Jumlahnya tak kurang dari 300 orang. Seluruh pengelola bekerja sepanjang hari. Di Masjid Kapal Munzalan para pengelola lembaga amal sholeh itu disebut dengan SPA.
Seluruh SPA diwajibkan untuk mengikuti
aktivitas pendidikan yang diselenggarakan setiap hari di masjid, melaksanakan shalat berjamaah di Masjid, dan membaca Alquran sebanyak 4 halaman setiap melaksanakan shalat. Masjid Kapal Munzalan juga memiliki sekitar 5 Rumah Dinas Pemegang amanah yang ditempati oleh para pengurus yang memiliki rumah yang jauh dari masjid Kapal Munzalan.
Masjid Kapal Munzalan juga mempunyai Munzalan Tower, sebuah bangunan setinggi 6 lantai yang berfungsi sebagai lembaga
pendidikan berbasis masjid, serta wisma untuk ulama. (*)
17
Januari 2021
Tadabur
Cendikiawan Muslim Raih Physics World 2020
S
eorang cendekiawan Muslim dan timnya telah menerima penghargaan Physics World 2020 Breakthrough of the Year di Eindhoven University of Technology di Belanda.Kemenangan ini karena mereka menciptakan bahan berbasis silikon dengan celah pita langsung yang memancarkan cahaya pada panjang gelombang yang digunakan untuk telekomunikasi optik.
Tim ini terdiri dari Elham Fadaly, seorang kandidat PhD di jurusan Fisika Terapan,
menerima penghargaan tersebut bersama Alain Dijkstra dan Erik Bakkers. Penemuan mereka merupakan hasil kerjasama dengan Jens Renè Suckert dari Friedrich-Schiller-Universität Jena di Jerman, serta tim kolaborator internasional.
Menurut Physics World, selain memiliki aplikasi di telekomunikasi optik dan komputasi optik, bahan berbasis silikon baru dapat digunakan untuk membuat sensor kimia.
“Perangkat silikon menggerakkan masyarakat berbasis informasi kami, tetapi celah pita tidak langsung material (properti inheren dari struktur atom, yang mencegahnya memancarkan cahaya) telah menahannya ketika berhubungan dengan telekomunikasi dan aplikasi optik mutakhir
lainnya,” kata anggota juri dan editor Fisika Dunia Hamish Johnston dilansir dari About Islam, akhir bulan lalu.
“Dengan membuat bahan berbasis silikon yang memancarkan cahaya pada panjang gelombang
telekomunikasi, tim Bakkers telah membuka pintu ke dunia aplikasi baru untuk perangkat silicon,”tambahnya.
Physics World adalah publikasi dari UK Institute of Physics. Setiap tahun mereka mengumumkan penemuan fisika baru sebagai “Breakthrough of the Year” atau penemuan terobosan tahun ini.
Siapa Elham Fadaly?
Elham lahir dan besar di Mesir. Dia belajar
Teknik Elektronika di American University di Kairo di Mesir. Selama satu semester di luar negeri
di tengah program sarjana di Amerika Serikat di Universitas Drexel, dia menjadi terpesona oleh nanoteknologi dan betapa transformatif aplikasinya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Oleh karena itu, dia memutuskan untuk mengejar hasratnya ke dunia keajaiban yang sangat kecil dan tersembunyi ini dengan mempelajari gelar master dalam nanosains dan nanoteknologi, dengan spesialisasi dalam nano-elektronik di Katholieke Universiteit di Leuven di Belgia dan Universitas Teknologi Chalmers di Swedia.
Setelah studinya, ia memulai gelar PhD dalam Fisika Terapan di Universitas Teknologi Eindhoven di Belanda. Penelitian doktoralnya difokuskan pada fabrikasi bahan nano untuk aplikasi cahaya dan memeriksa sifat optik dan elektroniknya.
Penghargaan tersebut bukanlah yang pertama bagi Fadaly, karena ia juga telah menerima penghargaan Teknologi Terbaik 2020 dari majalah teknologi Kijk. (republika)
18
Januari 2021
Dunia Islam
Sinatriyo Puguh Nuswantoro:
Investasi Dunia
Akhirat dan
S edekah itu tak hanya merupakan investasi di dunia, namun juga di akhirat. Sebab sedekah
merupakan amal jariyah seseorang apabila meninggal kelak. Apabila
seseorang itu masih sehat, sedekah itu akan mengundang banyak dampak- dampak positif bagi dirinya, seperti semakin lancar rejekinya, mendapatkan kesehatan, ketentraman dalam hidup, bahkan hartanya berlipat ganda.
Demikian pendapat yang juga
merupakan pengalaman nyata hikmah berbagi yang diutarakan Pak Sinatriyo Puguh Nuswantoro, salah satu donatur Yayasan Omah Qur’an yang sehari-hari selaku Kabag HRD Lottemart Marvell City Surabaya, tentang hikmah berbagi.
Bagi Pak Puguh, hidup haruslah berarti dengan saling berbagi terhadap sesama.
”Banyak-banyaklah berbagi, maka
kemudahan akan kita dapat,” demikian kembali ditegaskan anggota Komunitas Sahabat Masjid (SAMAS) tersebut.
Banyak yayasan sosial yang sudah
dikenali bapak kelahiran Surabaya, 2 Mei 1987 tersebut, termasuk dengan Yayasan Omah Qur’an. Bahkan sejak pertama kali bergabung, beliau mengajak anak-anak buahnya untuk juga turut berbagi di sini, dan menjadi koordinator donatur di sana.
Di samping kesehariannya di Lottemart, ayah dari Natisha (sekarang kelas 3 di MI Baiturrohim Ganting, Gedangan Sidoarjo) juga aktif mengisi materi-materi tentang motivasi bagi pencari kerja, di grup
komunitas” Hrpreneur”. Juga join di di Grup Komunitas HRD, dan sharing online dengan tema "Tersesat di Jalan Yang
Benar"
”Semoga peran yayasan senantiasa konsisten dan berkembang dalam
berdakwah di bidang kepengasuhan anak yatim. Dan di masa pandemi ini selalulah bersemangat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat yang
terdampak,” demikian harapan suami dari Ibu Winda Fitria Rachmawati ini kepada Yayasan Omah Qur’an. (*)
”Banyak-banyaklah berbagi, maka
kemudahan akan kita dapat,”
19
Januari 2021
Profi l Donatur
Berharap Semoga
Dilancarkan Hajatnya
S
eorang Muslim yang baik bercita-cita agar hidupnya bermanfaat bagi orang lain sebagai manifestasi rasa syukur atas nikmat Ilahi. Ketika Rasulullah SAW ditanya, ''Siapakah manusia yang paling baik?'' beliau menjawab, ''Manusia yangsanggup memberi manfaat kepada sesamanya.'' Selanjutnya ditanya, ''Amal apa yang paling utama?'' Beliau menjawab, ''Memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman.'' (HR Thabrani).
Sebagai perwujudan dari syukur atas nikmat Allah yang selama ini diterima, sekaligus untuk saling berbagi pada sesama, awal Desember bulan lalu, salah satu donatur Yayasan Omah Qur’an bersilaturrahmi ke sekretariat yayasan di Jambangan Tama 19 Surabaya. Donatur tersebut adalah Mbak Yessika, yang sehari-hari bekerja di The Body Shop Royal Surabaya.
Kedatangan Mbak Yessika kali ini di samping ingin berbagi dengan anak-anak asuh Yayasan Omah Qur’an, namun juga memohon doa pengurus dan terutama anak-anak yatim piatu untuk sebuah hajat yang direncanakannya. Dan
anak-anak asuh semenjak bakda sholat ashar satu persatu datang, dan tepat pada pukul
16:00 acara pun dimulai, hingga usai menjelang maghrib.
Yayasan Omah Qur’an bagi Mbak Yessika sudah tak tentu tak asing lagi. Ia pun mengenal dan berbagi di sini, karena yayasan ini senantiasa berupaya menjadi lembaga pengelolah sedekah yang amanah dan peofesional
untuk memuliakan Al Qur’an serta berupaya menebar kemanfaatan di bidang dakwah dan pendidikan serta pelayanan sosial pan pemberdayaan ekonomi.
Beragam program yayasan pun tak asing bagi beliau, di antaranya program Besyafa (Beasiswa Yatim dan Dhuafa), yakni pemberian bantuan beasiswa ( biaya pendidikan ) terhadap anak-anak yatim dan fakir miskin. Beasiswa ini diberikan setiap bulan, guna mempermudah anak-anak membayar biaya sekolahnya. Selain program pemberian beasiswa, diberikan pula program bantuan peralatan sekolah, sepatu, baju (secara berkala) kepada anak-anak yatim dan dhuafa’. (*)