• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata Kunci: kolaborasi; medical intelligence bin; bidang kesehatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata Kunci: kolaborasi; medical intelligence bin; bidang kesehatan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

How to cite: Rodon Pedrason (2022) Optimalisasi Peran Medical Intelegence dalam Menghadapi Ancaman Bidang Kesehatan Studi Kasus Covid 19 di Indonesia, Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(4).

E-ISSN: 2548-1398 Published by: Ridwan Institute

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia p–ISSN: 2541-0849 e-ISSN: 2548-1398

Vol. 7, No. 4, April 2022

OPTIMALISASI PERAN MEDICAL INTELEGENCE DALAM MENGHADAPI ANCAMAN BIDANG KESEHATAN STUDI KASUS COVID 19 DI INDONESIA Rodon Pedrason

Universitas Pertahanan, Indonesia Email: [email protected] Abstrak

Tujuan penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui peran unsur medical intelligence BIN dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan serta Mengetahui kolaborasi unsur medical intelligence BIN dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya persepsi, motivasi, tindakan-tindakan dan lain lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Dari hasil analisis SWOT mengenai strategi unsur MEDINT menunjukkan bahwa strategi yang paling baik yaitu dengan menggunakan jenis kolaborasi primer pola kedua yaitu unit PIM BIN dilebur kedalam NUBIKA BIN dengan catatan NUBIKA. BIN telah berbentuk Direktorat dan PIM BIN diubah nomenklatumya menjadi Pusat Medical BIN.

Altematif kedua yaitu menggunakan jenis kolaborasi sekunder yaitu kerjasama antara PIM BIN dan NUBIKA BIN dengan tujuan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Namun, perlu diantisipasi adanya dominasi PIM BIN (Es. II) kepada NUBIKA BIN (Es. Ill) yang rawan menimbulkan konflik internal.

Kata Kunci: kolaborasi; medical intelligence bin; bidang kesehatan Abstract

The purpose of this study was to find out the role of bin medical intelligence elements in dealing with threats in the health sector and to know the collaboration of BIN medical intelligence elements in facing threats in the health sector. The research approach used in this research is a qualitative approach that is research that intends to understand the phenomenon of what is experienced by the research subject such as perception, motivation, actions and others, holistically and by way of description in the form of words and language, in a special context that is natural and by utilizing various natural methods. From the results of the SWOT analysis on the MEDINT element strategy shows that the best strategy is to use the second type of primary collaboration pattern, namely the PIM BIN unit merged into NUBIKA BIN with NUBIKA records. BIN has been in the form of a Directorate and PIM BIN changed its nomenclature to the BIN Medical Center.

The second altematif is to use a secondary type of collaboration, namely cooperation between PIM BIN and NUBIKA BIN with the aim of complementing each other's shortcomings. However, it is necessary to anticipate the dominance of

(2)

3590 Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 PIM BIN (Es). II) to NUBIKA BIN (Es. Ill) which is prone to cause internal conflicts.

Keywords: collaboration; medical intelligence bin; health field Pendahuluan

Seluruh dunia saat ini sedang mengalami pandemi COVID-19 termasuk Indonesia. Dilaporkan jumlah kasus infeksi virus SARS-CoV-2 ini telah mencapai sekitar 41,5 juta kasus dan tersebar hingga ke 215 negara dengan total kematian mencapai sekitar 1,1 juta kasus. Sementara itu jumlah pasien yang sembuh mencapai sekitar 31 juta kasus atau 74,54% dari total kasus . Dari laporan tersebut menunjukkan bahwa Case Fatality Rate (CFR/persentase tingkat kematian) virus SARS-CoV-2 tergolong sangat rendah dibandingkan dengan beberapa wabah di dunia yang hanya mencapai 2,74% . Pandemi SARS (severe acute respiratory syndrome} yang menyebar pada tahun 2003 dilaporkan memiliki CFR mencapai 11 %, MERS (middle east respiratory syndrome) 34,4%, dan Ebola 41,3% . Namun, ditinjau dari penyebarannya, COVID-19 sangat jauh dibandingkan dengan SARS dengan total kasus 8.098 kasus, MERS 2.949 kasus, dan Ebola 26.661 kasus (Tahrus, 2020).

Di Indonesia penyebaran COVID-19 dilaporkan pertama kali pada 02 Maret 2020 yaitu kasus 1 dan 2 terhadap Ibu dan Anak asal Depok, Jawa Barat yang diduga terpapar virus SARS-CoV-2 dari rekan mereka yang berkewarganegaraan Jepang yang tinggal di Malaysia. Kemudian laporan kematian pertama disampaikan pada 11 Maret 2020 pada 1 orang WNA di RS Sanglah, Bali, dan 1 Orang WNI di RSUD Moewardi, Solo, Jawa Tengah . Hingga saat ini, Indonesia dilaporkan telah menduduki peringkat ke-20 penyebaran COVID-19 global dan ke-5 di Asia dengan total kasus mencapai 373.109 kasus. Dengan jumlah peningkatan kasus tersebut, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus terbesar di Asia Tenggara.

Gambar 1

Perbandingan CFR Antara Beberapa Wabah Penyakit di Dunia

(3)

Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 3591 Bedasarkan kamus Merriam-webster, pandemi didefinisikan sebagai penyakit yang terjadi di atas area geografis yang luas (beberapa negara atau benua) dan mempengaruhi proporsi populasi yang signifikan. Selain COVID-19, beberapa pandemi global dapat dilihat pada 1.

Tabel 1

Daftar Pandemi di Dunia (Madhav et al., 2018)

Tahun Pandemi Luas

Penyebaran

Dampak

Kesehatan Dampak Lain

1347 Plague (Black

Death) Eurasia

30-50%

tingkat kematian pada populasi Eropa

Mempercepat berakhimya sistem feodal di Eropa

1500-

an Smallpox Benua

Amerika

50% tinkat kematian

Mengecilnya populasi masyarakat asli Amerika dan awal dari hagemoni Eropa

1881 Kolera Global

1,5 juta penduduk meninggal

Memicu serangan terhadap pemerintahan Rusia (Tsarist)

1918 Flu Spanyol Global

20-100 juta penduduk meninggal

Penurunan GDP di sejumlah negara mencapai 3- 17%

Sebagian besar pandemi yang terjadi berasal melalui transmisi patogen antara hewan dan manusia atau zoonoZzc/zoonosis. Transmisi ini terjadi melalui hewan peliharaan (peternakan, seperti kasus Flu Burung) dan satwa liar (perilaku perburuan dan konsumsi spesies liar, perdagangan hewan liar, dan kontak dengan satwa liar, seperti kasus Ebola di Afrika Barat). Kondisi ini dianggap menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kerawanan ancaman pandemi karena memiliki ruang lingkup sosial budaya yang dekat dengan kehidupan satwa liar maupun peternakan.

Dalam kasus COVID-19, terdapat dua aspek yang dianggap menjadi faktor penyebab cepatnya penyebaran COVID-19 di seluruh dunia yaitu nilai kebaruan dari COVID-19 dan tidak tersedianya secara cepat alat deteksi virus tersebut. Kebaruan dari COVID-19 menyebabkan informasi mengenai virus Sars-CoV-2 menjadi terbatas sehingga banyak negara yang abai dan terlambat dalam menerapkan kebijakan yang bersifat pencegahan secara dini dan tepat terhadap wabah ini (Gupta, 2020). Selain itu, kurangnya jumlah tes terkait dengan keterbatasan lab dan juga test-kit menyebabkan informasi mengenai tingkat infeksi dan persebaran COVID-19 menjadi tidak lengkap.

Kedua hal ini berimplikasi serius terhadap pemahaman situasi penyebaran COVID-19.

Dalam situasi pandemi yang menyebar cepat, informasi, terutama yang terkait dengan

(4)

3592 Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 karakteristik epidemiologis dari penyakit, adalah kunci bagi intervensi kesehatan non- medis (Vermonte & Wicaksono, 2020).

Gambar 2

Peta Persebaran COVID-19 di Dunia

Kemampuan deteksi Indonesia terhadap virus SAR.S-CoV-2 dianggap sangat kurang akibat kurangnya informasi mengenai virus tersebut dan minimnya peralatan deteksi yang memadai yaitu hanya memanfaatkan thermal scanner dan thermometer untuk petugas di lapangan. Padahal karakteristik virus ini baru menimbulkan gejala rata- rata 5-6 hari bahkan mencapai 14 hari setelah terinfeksi. Sehingga penggunaan thermal scanner menjadi tidak efektif. Sementara itu, penggunaan health alert card dianggap sangat baik dalam rangka meningkatkan upaya cegah dini melalui informasi riwayat aktivitas masyarakat yang masuk ke Indonesia. Namun, hal ini menjadi tidak efektif dikarenakan rendahnya tingkat kebenaran dari informasi yang disampaikan oleh masyarakat dan tidak adanya protokol pengecekan kebenaran dari informasi yang disampaikan tersebut. Hal itu ditunjukkan oleh masuknya virus SARS-CoV-2 ke Indonesia akibat tidak terdeteksinya pergerakan WNA asal Jepang yang terkonfirmasi positif COVID-19 setelah berada di Malaysia. Bahkan pada kasus setelahnya mulai ditemukan banyak imported case di Indonesia yang berasal dari warga Indonesia yang pulang dari bepergian ke luar negeri. Diduga hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah hanya memberikan atensi pada jalur lalu-lintas Intemasional yang berasal dari China, padahal pada saat itu COVID-19 telah menyebar bahkan hingga ke Asia Tenggara.

Pengujian (testing) COVID-19 dalam mendeteksi dan menggambarkan penyebaran COVID-19 justru tidak dapat dilakukan secara maksimal dikarenakan hanya dilaksanakan oleh satu laboratorium yaitu Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan. Akibatnya dengan tingginya jumlah sampel uji menyebabkan pasien mendapatkan hasil lebih lama dan beresiko terlambat dalam mendapatkan pengobatan (treatment) yang tepat . Hal ini dapat dilihat dari Tabel 1 yang menggambarkan bagaimana Indonesia memiliki proporsi pengujian COVID-19 yang sangat sedikit dibandingkan negara-negara di ASEAN

(5)

Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 3593 ditinjau dari jumlah pengujian per 1 juta penduduk. Sehingga potensi masih banyaknya kasus positif yang tidak terdeteksi atau terlaporkan di Indonesia cukup besar.

Pada 17 Maret 2020, pemerintah barn mengumumkan penambahan layanan uji laboratorium specimen COVID-19 yaitu laboratorium UNAIR Surabaya, Lembaga Eijkman, dan Universitas Indonesia . Penggunaan rapid test di Indonesia pun mulai dilaksanakan pada Akhir Maret 2020 yaitu di wilayah Jabodetabek sebagai daerah dengan jumlah kasus terbesar saat itu dengan jumlah test kit mencapai 125.000 alat.

Tabel 2

Perbandingan Jumlah Tes COVID-19 di ASEAN pada Awal Testing

Cases (+)

% positive test

testing/1 miIlion population

Indonesia 55.732 7.775 14,0 204

Philippines 72.346 6.981 9.6 660

Malaysia 113.755 5.603 4.9 3.515

Singapore 94.796 11.178 11,8 16.203

Thailand 142.589 2.839 2,0 2.043

Vietnam 206.253 268 0,1 2119

Brunei 12.149 138 M 27.770

South Korea 583.971

10.70

2 1.8 II 390

Gambaran penyebaran pandemi COVID-19 jelas menunjukkan bahwa dunia belum siap dalam menghadapi ancaman pandemi khususnya yang bersifat barn atau emerging disease. Ancaman ini sebenarnya telah diantisipasi oleh World Health Organization (WHO) dengan mengeluarkan regulasi kesehatan dunia atau International Health Regulations (IHR) yang bertujuan mencegah, melindungi dan mengendalikan penyebaran penyakit (baik menular yang sudah ada, barn maupun yang muncul kembali serta penyakit tidak menular yang dapat menyebabkan PHEIC) secara lintas negara dengan melakukan tindakan sesuai dengan risiko kesehatan yang dihadapi tanpa menimbulkan gangguan yang berarti bagi lalu lintas dan perdagangan internasional.

Implementasi dari IHR juga telah didukung dengan dibentuknya sebuah kerangka kesehatan multilateral yaitu Global Health Security Agenda (GHSA) yang terdiri atas lebih dari 60 negara termasuk Indonesia. Namun, implementasi IHR maupun GHSA justru dianggap telah gagal dalam menghadapi pandemi COVID-19 yang menyebabkan setiap negara terpaksa harus mengandalkan kekuatannya sendiri bahkan bantuan dan dukungan secara internasional justru didapatkan melalui jalur-jalur bilateral.

(6)

3594 Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 Penyebaran COVID-19 telah menjadi ancaman global yang telah berdampak terhadap aktor {level of analysis') dan aspek {aspects or issues). Pertama, penyebaran virus ini telah berdampak luar biasa setiap tingkatan aktor, mulai dari individu, komunitas, masyarakat luas, perusahaan atau pihak swasta, negara bahkan global.

Kedua, wabah penyakit dan penyebaran COVID-19 jelas telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan, yang terutama adalah aspek kesehatan, selain juga aspek sosial, ekonomi, dan politik. Maka dapat dikatakan bahwa situasi ini telah melahirkan ancaman keamanan bagi manusia (human security) sekaligus bagi negara (state security) dan lebih luas lagi yaitu secara global (global security) (Anggia marshel).

Untuk itu, pandemi COVID-19 ini telah menjadikan kesehatan sebagai isu keamanan yang dapat menggangu stabilitas nasional suatu negara.

Menurut UNDP (United Nations on Development Program) keamanan manusia (human security) terdiri dari beberapa isu meliputi: Economic Security, Health Security, Food Security, Environmental Security, Personal Security, Community Security, dan Political Security. Health Security (keamanan kesehatan) dapat berupa ancaman penyakit menular atau tidak menular, serta bioterorisme, yang dimana adanya serangan biologi, atau pelepasan virus, bakteri atau agen biologi lainnya secara sengaja yang dapat membuat korbannya - orang, binatang atau tanaman - menjadi sakit atau bahkan mati (Centers for Disease Control and Prevention, 2016) (Damayanti, 2019). Dalam Intruksi Presiden No. 4 tahun 2019, gambaran isu ancaman di bidang kesehatan yaitu wabah penyakit, pandemi global serta kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia (NUBIKA).

Keamanan kesehatan dapat mempengaruhi stabilitas ketahanan nasional, karena ekonomi negara dan global dipengaruhi kesehatan masyarakat. Maka dari itu, isu kesehatan global menjadi perhatian dunia internasional. Meskipun isu kesehatan sebenarnya merupakan suatu permasalahan yang bersifat umum dan terikat erat dengan kondisi kesehatan individu secara internal, tapi mempunyai efek secara sosial yang tidak bisa dihindarkan. Efek tersebut bahkan bisa melintasi batas negara yang pada akhimya menjadi sebuah fenomena global. Masalah kesehatan tidak hanya menimpa individu, namun masalah kesehatan juga menyangkut dan berimbas kepada kepentingan masyarakat.

Keamanan kesehatan global telah menjadi ancaman yang serius bagi sistem kesehatan nasional dan masalah ini dapat mengakibatkan kerusakan besar bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Selain pandemi COVID-19, wabah Flu Burung tahun 2004 s.d 2006 telah menggambarkan bagaimana dampak dari ancaman di bidang kesehatan terhadap penurunan perdagangan dan pariwisata nasional dengan beban ekonomi mencapai Rp4 triliun. Hal ini menunjukkan ancaman keamanan kesehatan global mengakibatkan dampak kerusakan terhadap pembangunan ekonomi dan stabilitas negara serta perdagangan barang dan jasa, pariwisata, dan stabilitas demografi.

(7)

Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 3595 Pandemi COVID-19 sebagai ancaman di bidang kesehatan juga tidak luput dari keterlibatan Intelijen. Di Indonesia hal tersebut dijelaskan pada Undang-Undang No. 17 tahun 2011 tentang Intelijen Negara pada BAB II pasal 4 tentang Peran yang berbunyi :

“Inteljien Negara berperan melakukan upaya, pekerjaan, kegiatan, clan tindakan untuk deteksi dini dan peringatan dim dalam rangka pencegahan, penangkalan, dan penanggulangan terhadap setiap hakikat ancaman yang mungkin timbul dan mengancam kepentingan dan keamanan nasional ”,

Dalam hakikat ancaman tersebut, ancaman di bidang kesehatan merupakan bagian dari ancaman terhadap keamanan manusia.

Keterlibatan Intelijen dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan bukan menjadi hal yang baru karena telah dilakukan oleh beberapa negara sejak perang dunia kedua yaitu Medical Intelligence Branch dibawah U.S Army (1941) yang kemudian bertransformasi menjadi Medical Intelligence and Information Activity (MIIA) pada tahun 1959, dan terakhir pada Desember 1982 terbentuk The Armed Forced Medical Intelligence (AFMIC) dibawah Defense Intelligence Agency yang mengaplikasikan metode intelijen yaitu pengumpulan informasi dan analisis terhadap kondisi, sistem, dan infrastruktur kesehatan. Organisasi Intelijen ini dianggap merupakan cikal bakal penerapan metode dan teknik mengenai Intelijen Medis . Pada tahun 2010, AFMIC bertransformasi kembali menjadi National Center for Medical Intelligence (NCMI) yang melakukan pengawasan (survailans) penyakit dunia dengan menggunakan kekuatan militer. Di Prancis terdapat The Institut de Veille Sanitaire (InVS) yang memiliki unit epidemic intelligence yang melakukan deteksi, verifikasi, dan menilai informasi dengan cepat tentang potensi ancaman kesehatan internasional, yang dapat memengaruhi populasi di Prancis atau warga negara Prancis di seluruh dunia.

Metode Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya persepsi, motivasi, tindakan-tindakan dan lain lain, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2014). Penggunaan pendekatan tersebut bertujuan untuk mendapatkan penjelasan yang mendalam dan menyeluruh mengenai rumusan masalah yaitu bagaimana peran dan kolaborasi unsur medical intelligence BIN dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan.

Peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan fakta dan menguraikan secara menyeluruh serta teliti sesuai dengan persoalan yang akan dipecahkan (Bungin, 2012). Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini adalah deskriptif kualitatif (Sugiyono, 2017).

(8)

3596 Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 Hasil dan Pembahasan

A. Gambaran Umum Hasil Penelitian

Keterlibatan intelijen negara dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan telah dijelaskan pada BAB Penjelasan UU Intelijen Negara mengenai hakikat ancaman. Dalam hakikat ancaman tersebut, ancaman di bidang kesehatan merupakan bagian dari ancaman terhadap keamanan manusia yang dapat berdampak terhadap keamanan nasional. Dalam Intruksi Presiden No. 4 tahun 2019, ancaman di bidang kesehatan terdiri atas tiga isu utama yaitu wabah penyakit, pandemi global serta kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia (NUBIKA). Menurut Deputi-V BIN, Mayjen TNI Afini Boer menjelaskan bahwa permasalahan di bidang kesehatan merupakan ancaman faktual yang mendapatkan perhatian dari pimpinan BIN karena berdampak besar terhadap keamanan nasional. Ancaman di bidang kesehatan khususnya NUBIKA sangat banyak namun belum terdeteksi karena sifat ancamannya yang intangibel (tidak terlihat) dan memberikan efek jangka panjang terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Keterlibatan BIN dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan sudah dilaksanakan bahkan sebelum disahkannya UU Intelijen Negara tahun 2011 melalui pcndirian Direktorat NUBIKA Deputi-V BIN pada tahun 2006. Berdasarkan penjelasan dari Alfa Antariksa, ST, M.Si selaku anggota Subdirektorat NUBIKA BIN bahwa NUBIKA BIN telah melaksanakan kegiatan dan operasi intelijen sejak tahun 2006 seperti pada operasi intelijen mengantisipai antraks, flu burung, dan bahkan sampai limbah rumah sakit.

Mantan Direktur NUBIKA BIN, Dr. Drs. Isroil Samihardjo juga menambahkan bahwa NUBIKA BIN telah berperan aktif dalam menanggulangi wabah Flu Burung dan kasus paket teror Antraks di Kedutaan Besar Perancis untuk Indonesia. Isroil menjabarkan ancaman di bidang kesehatan antara lain, permasalahan safety pada laboratorium, pengembangan senjata pemusnah massal, bioterorisme, ketergantungan medis dari pihak asing, penyebaran wabah penyakit (zoonosis), serta rendahnya kesadaran masyarakat dan negara terhadap ancaman dibidang kesehatan. Sementara, Kolonel (Czi) Willem Wilhelmuz Diaz Vierra, selaku mantan Kasubdit NUBIKA BIN menambahkan ancaman dari adanya kemungkinan penjualan data ke luar negeri khususnya yang berkaitan dengan jenis virus dan bakteri di Indonesia yang dapat bertujuan untuk menyerang ekosistem Indonesia dan kapitalisasi obat atau vaksin.

Berdasarkan definisi Medical Intelligence (MEDINT) menurut The Joint Publication 1-02 Department of Defence Dictionary of Military and Assosiated Termas (JP 1-02) dapat disimpulkan bahwa MEDINT merupakan suatu kategori intelijen yang dihasilkan dari pengumpulan, evaluasi, analisis, dan interpretasi kondisi kesehatan dunia baik dalam dan luar negeri yang dapat berdampak terhadap kepentingan nasional suatu negara. Merujuk definisi tersebut maka unsur MEDINT Badan Intelijen Negara (BIN) yaitu Subdirektorat Rekayasa NUBIKA Deputi-V BIN dan Pusat Intelijen Medis (Settama) BIN. Hal tersebut dikeranakan kedua unsur

(9)

Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 3597 tersebut memiliki tugas pokok dan fungsi yang berkaitan dengan aspek-aspek yang menjadi ranah operasi MEDINT seperti permasalahan wabah penyakit (zoonosis dan non- zoonosis), efek medis agen NUBIKA, dan pengembangan senjata pemusanah massal.

Tugas pokok dan fungsi unsur-unsur MEDINT tersebut tercantum dalam Peraturan BIN No. 4 tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Intelijen Negara yaitu:

1) Subdirektorat Rekayasa NUBIKA Deputi-V BIN (NUBIKA BIN) melaksanakan penyiapan bahan penyusunan rencana, pelaksanaan kegiatan dan operasi intelijen, pengordinasian, dan penyelenggara kerja sama, pengamanan dan pengembangan penganalisaan, pemberi dukungan, pengelolaan, pemeliharaan, inventaris, penyiapan pengusulan pengadaan serta penyiapan bahan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan dan operasi intelijen pada rekayasa NUBIKA.

2) Pusat Intelijen Medis (Settama) BIN (PIM BIN)

melaksanakan identifikasi dan analisis setiap ancaman penyakit, peningkatan penggunaan metode dan teknologi baru intelijen medis, serta pelaksanaan pelayanan intelijen medis sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Dalam PerBIN kedua unsur MEDINT dikategorikan secara teppisah berdasarkan kedudukan dalam organisasi pemerintahan yaitu Subdirektorat Rekayasa NUBIKA Deputi-V BIN sebagai unsur pelaksana sebagian tugas dan fungsi BIN di bidang Intelijen Teknologi dan Pusat Intelijen Medis (Settama) BIN sebagai unsur penunjang di Lingkungan BIN yang bertanggung jawab melalui Sekertariat Utama. Namun kedua unsur tersebut secara struktur kelembagaan berada pada level yang berbeda yaitu PIM BIN pada level Es. II sementara NUBIKA BIN berada pada level Es. III.

Gambar 1

Struktur Kelembagaan Unsur Medical Intelligence BIN

Dalam PerBIN juga menjelaskan mengenai tugas pokok dan fungsi kedua unsur MEDINT tersebut sesuai dengan kedudukan tersebut yaitu,

1) NUBIKA BIN

(10)

3598 Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 a) Penyiapan rencana kegiatan atau operasi intelijen bidang rekayasa NUBIKA.

b) Pelaksanaan kegiatan atau operasi intelijen bidang rekayasa NUBIKA

c) Pengembangan dan pengamanan bidang rekayasa N UBIKA d) Pemberian dukungan bidang rekayasa NUBIKA

e) Pengelolaan, pemeliharaam, dan inventaris bidang rekayasa NUBIKA

f) Pelaksanaan evaluasi kegiatan atau ops intelijen bidang rekayasa NUBIKA g) Penyusunan laporan intelijen bidang rekayasa NUBIKA

h) Penyusunan perkiraan keadaan bidang rekayasa NUBIKA

i) Pengusulan pengadaan dan pengembangan bidang rekayasa NUBIKA j) Pembentukan jaringan intelijen

k) Tatausaha 2) PIM BIN

a) Penyusunan rencana, program, dan anggaran.

b) Pengumpulan data dan informasi berbagai penyakit infeksi yang berpotensi pandemik

c) Penelitian dan penyajian analisis berbagai penyakit infeksi yang berpotensi pandemik serta risiko kesehatan lingkungan global yang berpengaruh terhadap kepentingan dan keamanan nasional.

d) Penelitian serta penyajian metode dan teknologi baru dalam rangka pelaksanaan intelijen medis.

e) Pelayanan kesehatan bagi pegawai dan keluarga

f) Penelitian dan pengembangan laboratorium intelijen medis g) Pengawasan tindak lanjut hasil pemeriksaan laboratorium h) Pemberian dukungan medis untuk kegiatan/ops

i) Kerjasama dengan pihak lain dalam rangka pengembangan intelijen medis dan laboratorium intelijen medis.

j) Pembentukan jaringan intelijen bidang kesehatan di kalangan akademisi, praktisi dan industri farmasi.

k) Tata usaha

l) Tugas lain oleh kepala BIN

Dari gambaran tugas pokok dan fungsi tersebut menunjukkan bahwa kedua unsur MEDINT memiliki tupoksi yang berbeda namun menangani permasalahan yang sama yaitu ancaman di bidang kesehatan antara lain wabah penyakit, pandemi global, dan ancaman NUBIKA. Perbedaan antara kedua unsur tersebut dapat disimpulkan antara lain:

a) Kedudukan dalam organisasi. NUBIKA BIN merupakan unsur pelaksana sebagian tugas BIN (Operasional), sementara PIM BIN merupakan unsur penunjang di lingkungan BIN (Pendukung). Selain hal ini telah tercantum dalam PerBIN tentang Organisasi dan Tatalaksana, hal itu juga ditekankan kembali oleh Alfa Antariksa, ST, M.Si yang menjelaskan bahwa dengan kedudukan

(11)

Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 3599 NUBIKA BIN sebagai unit operasional maka NUBIKA BIN memiliki tugas pokok untuk melaksanakan kegiatan dan operasi intelijen, penyusunan laporan intelijen, dan penyusunan perkiraan keadaan. Sementara PIM BIN sebagai unit pendukung memiliki tugas pokok untuk melakukan penelitian dan pengembangan, analisis medis, dan pemberian dukungan medis. Hal serupa juga dijelaskan oleh dr. Sri Wulandari selaku Kepala Pusat Intelijen Medis BIN yang menjelaskan tugas PIM yaitu mengidentifikasi dan menganalisis setiap ancaman penyakit, penggunaan teknologi baru di bidang medis, dan pelayanan medis yang disampaikan secara langsung melalui fasilitas yang ada dan assesment berupa data dan informasi.

b) Ruang lingkup tugas. NUBIKA BIN memiliki ruang lingkup tugas yang lebih luas dibandingkan PIM BIN karena terdiri atas tiga bidang permasalahan yaitu nuklir, biologi, dan kimia. Sementara PIM BIN terfokus pada satu bidang permasalahan yaitu penyakit khususnya pada manusia. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Mayjen TNI Afini Boer yang menjelaskan bahwa PIM hanya menjalankan sebagian peran dari NUBIKA BIN yaitu pada aspek klinis dan mikrobiologi pada suatu kasus permasalahan wabah penyakit. Serupa dengan Deputi-V BIN, Dr. Drs. Isroil Samihardjo, M. Def.Stud juga menjelaskan bahwa tupoksi PIM merupakan bagian kecil dari lingkup tuhas NUBIKA yaitu pada bidang biologi sehingga dalam implementasinya PIM seharusnya merupakan unsur yang mendukung kerja NUBIKA BIN. Kepala PIM, dr. Sri Wulandari juga membenarkan bahwa fokus tugas PIM yaitu terhadap ancaman penyakit, sementara ancaman bidang NUBIKA lainnya yang menjadi lingkup tugas PIM yaitu berkaitan dengan dampak atau risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh agen NUBIKA. Keberadaan MEDINT di Badan Intelijen Negara tidak luput dari proses sekuritisasi ancaman bidang kesehatan oleh pimpinan BIN. Hal itu ditunjukkan dari pendirian Direktorat NUBIKA Deputi-V BIN pada tahun 2006 sebagai respon dari adanya wabah Flu Burung saat itu. Hal ini selaras dengan definisi Sekuritisasi menurut Barry Buzan, Ole Waever dan Jaap de Wilde atau yang dikenal sebagai Copenhagen School yaitu sebagai suatu cara pandang dalam memahami atau memperlakukan isu yang berkembang sebagai suatu bahaya yang luar biasa disertai ancaman tingkat tinggi di luar batas kewajaran yang ada. Proses sekuritisasi ini juga yang mendorong terbentuknya Pusat Intelijen Medis BIN yang disebabkan oleh kondisi pandemi COVID-19 dan penurunan struktur organisasi NUBIKA BIN menjadi Subdirektorat pada tahun 2013 yang juga melalui proses desekuritisasi.

(12)

3600 Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 Gambar 2

Struktur Unit NUBIKA BIN (2006-2013) yang

Menjalankan Fungsi MEDINT melalui Subdirektorat Biologi

Proses desekuritisasi NUBIKA BIN menjadi Subdirektorat (Es. Ill) menurut Mayjen Afini Boer dikarenakan adanya pergeseran sudut pandang mengenai prioritas ancaman yang dihadapi seiring dengan peningkatan trend ancaman di bidang cyber tahun 2013 sehingga Direktorat NUBIKA digantikan oleh Direktorat Mayantara. Pada tahun 2017 seiring dengan dibentuknya Deputi-VI Cyber Intelligence sebagai peningkatan struktur organisasi dari Direktorat Mayantara Deputi-V, NUBIKA BIN tidak menjadi prioritas untuk mengisi kekosongan direktorat yang ditinggalkan Dit. Mayantara akibat prioritas pimpinan terhadap ancaman di bidang geospasial sehingga yang terbentuk adalah Direktorat Geospasial. Sementara menurut Isroil Samihardjo, proses desekuritisasi tersebut dikarenakan rendahnya awareness pimpinan terhadap ancaman NUBIKA. Willem Wilhelmuz Diaz Vierra mengatakan, keterbatasan wawasan di kalangan pengambilan keputusan di BIN juga menjadikan NUBIKA sulit untuk berkembang terutama fokus Deputi-V yang cenderung berfokus pada ancaman di bidang teknologi komunikasi. Dalam teori sekuritisasi menjelaskan bahwa pada praktiknya tindakan sekuritisasi (dan desekuritisasi) cenderung dilakukan oleh pemimpin dalam suatu kelompok. Hal ini selaras dengan proses pengembangan MEDINT BIN yang sangat bergantung dengan kebijakan pimpinan.

Kesimpulan

Pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa ancaman di bidang kesehatan bukan lagi ancaman yang bersifat potensial tetapi merupakan ancaman yang bersifat faktual.

Sifat dari ancaman di bidang kesehatan khususnya NUBIKA yang tidak terlihat (Intangible) menjadikan ancaman ini sulit untuk terdeteksi dan diantisipasi.

Keterlibatan intelijen negara dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan telah dijelaskan pada BAB Penjelasan UU Intelijen Negara mengenai hakikat ancaman.

Dalam hakikat ancaman tersebut, ancaman di bidang kesehatan merupakan bagian dari ancaman terhadap keamanan manusia yang dapat berdampak terhadap keamanan nasional. Dalam Intruksi Presiden No. 4 tahun 2019, ancaman di bidang kesehatan terdiri atas tiga isu utama yaitu wabah penyakit, pandemi global serta kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia (NUBIKA). Keterlibatan BIN dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan sudah dilaksanakan bahkan sebelum disahkannya UU Intelijen Negara tahun 2011 melalui pendirian Direktorat NUBIKA Deputi-V BIN pada tahun 2006.

(13)

Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 3601 Berdasarkan defmisi Medical Intelligence (MEDINT) menurut The Joint Publication 1-02 Department of Defence Dictionary of Military and Assosiated Termas (JP 1-02) dapat disimpulkan bahwa unsur MEDINT Badan Intelijen Negara (BIN) mencakup Subdirektorat Rekayasa NUBIKA Deputi-V BIN dan Pusat Intelijen Medis (Settama) BIN. Hal tersebut dikeranakan kedua unsur tersebut memiliki tugas pokok dan fungsi yang berkaitan dengan aspek-aspek yang menjadi ranah operasi MEDINT seperti permasalahan wabah penyakit (zoonosis dan non-zoonosis), efek medis agen NUBIKA, dan pengembangan senjata pemusanah massal.

Peran unsur MEDINT BIN dalam menghadapi ancaman di bidang kesehatan sangat berkaitan dengan kedudukan unsur MEDINT dalam organisasi dan ruang lingkup tugas yang dilaksanakan. Jika ditinjau dari kedudukan unsur MEDINT dalam organisasi maka dapat dikategorikan NUBIKA BIN merupakan unsur pelaksana sebagian tugas BIN (Operasional), sementara PIM BIN merupakan unsur penunjang di lingkungan BIN (Pendukung) sesuai yang tercantum dalam PerBIN tentang OTK. Sementara ditinjau dari ruang lingkup tugasnya maka NUBIKA BIN memiliki ruang lingkup tugas yang lebih luas dibandingkan PIM BIN karena terdiri atas tiga bidang permasalahan yaitu nuklir, biologi, dan kimia. Sementara PIM BIN terfokus pada satu bidang permasalahan yaitu penyakit khususnya pada

Implementasi fungsi MEDINT BIN dianggap belum optimal karena unit yang melaksanakan fungsi MEDINT pada awal penyebaran pandemi berada pada tingkat struktur organisasi terkecil yaitu Subdirektorat Rekayasa NUBIKA Deputi-V BIN sehingga pelaksanaan tupoksinya menjadi terbatas dari segi anggaran operasional, SDM dan fasilitas. Pembentukan Pusat Intelijen Medis BIN juga dianggap tidak tepat karena diletakkan pada struktur unsur penunjang di lingkungan BIN dan bukan pada unsur operasional. Hal tersebut menyebabkan fungsi MEDINT pada PIM BIN yang seharusnya fokus pada upayanya mengindetifikasi dan menganalisis ATHG di bidang kesehatan justru menjadi unit pelayanan medis di BIN. Hal ini dianggap disebabkan oleh proses pendirian dan pengembangan unsur-unsur MEDINT yang sangat dipengaruhi oleh situasi politik atau sekuritisasi.

Konsep MEDINT juga merupakan hal yang baru dalam organisasi BIN meskipun secara konseptual dan aplikasinya di beberapa negara telah diterapkan sejak Perang Dunia ke-2. Kebaruan dari konsep MEDINT ini menyebabkan penerapan kebijakan dibidang tersebut menjadi tidak tepat sasaran khusunya mengenai unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Pada kenyataanya, MEDINT cenderung melekat pada fungsi Pusat Intelijen Medis dan melupakan keberadaan NUBIKA BIN yang juga memiliki fungsi MEDINT tersebut.

(14)

3602 Syntax Literate, Vol. 7, No. 4, April 2022 BIBLIOGRAFI

Bungin, B. (2012). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Wancana dan Teoritis Penafsiran. Raja Grafindo Persada. Google Scholar

Damayanti, D. A. (2019). Peran Indonesia Sebagai Ketua Global Health Security Agenda Tahun 2016 Dalam Menghadapi Ancaman Keamanan Kesehatan.

Perpustakaan. Google Scholar

Gupta, S. D. (2020). Coronavirus pandemic: a serious threat to humanity. In Journal of Health Management (Vol. 22, Issue 1, pp. 1–2). SAGE Publications Sage India:

New Delhi, India.

Madhav, N., Oppenheim, B., Gallivan, M., Mulembakani, P., Rubin, E., & Wolfe, N.

(2018). Pandemics: risks, impacts, and mitigation. Google Scholar

Moleong, L. J. (2014). Metode penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

2017. Metode Penelitian Kualitatif. Cetakan Ke 36, Bandung. Google Scholar

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta:

Bandung

Tahrus, Z. N. H. (2020). Dunia dalam ancaman pandemi: kajian transisi kesehatan dan mortalitas akibat Covid-19. Research Gate. Google Scholar

Vermonte, P., & Wicaksono, T. Y. (2020). Karakteristik dan Persebaran Covid-19 di Indonesia: Temuan Awal. CSIS Commentaries, 1, 1–12. Google Scholar

Copyright holder:

Rodon Pedrason (2022) First publication right:

Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia This article is licensed under:

Referensi

Dokumen terkait

Adapun jenis penelitian ini adalah bersifat deskriftif dan yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah warga masyarakat di Kecamatan Bilah barat.Adapun

Selain itu, meskipun ada beberapa penelitian yang sudah membahas penelitian dalam menangani kasus deforestasi dan kebakaran hutan melalui organisasi internasional

suatu lembaga yang pembentukan pertama dengan surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Barat Nomor 135 Tahun 1990 tanggal 26 Maret 1990 tentang susunan Organisasi

Selain jujur, karakter kepemimpinan yang harus ditonjolkan yaitu sikap Adil. Karena seorang pemimpin lembaga pendidikan di era modern ini harus benar-benar adil

Penetapan Pejabat Pengelola Keuangan Satuan Kerja dan Tim Pengelola TP BOK dilakukan setelah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menerima Surat Keputusan Menteri Kesehatan

Penemuan teknologi SEMS memberikan pilihan baru yang lebih baik sebagai terapi drainase bilier baik temporer maupun paliatif karena memberikan tingkat kesuksesan yang

kesemuanya dilakukan dengan teknik opaque dan brushstroke , selain itu highlight juga mendukung terciptanya volume pada objek akar. Setiap akar dibagian tepi diberikan

Perbandingan posisi objek tegal lurus (a) dengan objek tidak tegak lurus (b).. Berikut adalah hasil dari pengukuran yang didapatkan untuk objek tulang ayam, kambing, dan sapi