• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS RUMUS TRIGONOMETRI DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS RUMUS TRIGONOMETRI DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RUMUS TRIGONOMETRI DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

dalam Ilmu Pendidikan Matematika

Oleh : Susheri 083511028

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2012

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Susheri

NIM : 083511028

Jurusan/Program Studi : Tadris Matematika

menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali bagian tertentu yang dirujuk sumbernya.

Semarang, 28 Mei 2012 Saya yang menyatakan,

Susheri

NIM: 083511028

(3)

iii

PENGESAHAN Naskah skripsi dengan:

Judul : Analisis Rumus Trigonometri dalam Penentuan Arah Kiblat Nama : Susheri

NIM : 083511028

Jurusan : Tadris Matematika

Telah diujikan dalam sidang munaqosah oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo dan dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Pendidikan Matematika.

Semarang, 27 Juni 2012 DEWAN PENGUJI

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi ABSTRAK

Judul : Analisis Rumus trigonometri dalam penentuan arah kiblat Penulis : Susheri

NIM : 083511028

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui rumus-rumus trigonometri yang dipakai dalam teori penentuan arah kiblat dan mengetahui penerapan rumus- rumus trigonometri dalam teori penentuan arah kiblat. Adapun rumusan masalahnya; pertama, rumus apa sajakah yang digunakan dalam teori penentuan arah kiblat. Kedua, bagaimanakah aplikasi/penerapan rumus trigonometri dalam teori penentuan arah kiblat.

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research). Penelitian ini menelaah konsep trigonometri dalam aplikasinya pada teori penentuan arah kiblat, yaitu teori trigonometri bola (Spherical Trygonometri), geodesi dan navigasi. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dengan melakukan penelusuran dan penelaahan dengan cara membaca buku-buku yang terkait dengan penelitian ini. Adapun dalam teknik analisis menggunakan logika induksi untuk memperoleh kesimpulan yang dapat menjawab permasalahan dalam permasalahan ini.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan; pertama, Teori penentuan arah kiblat sampai saat ini yang sudah diketahui ada tiga, yaitu trigonometri bola (Spherical Trigonometry), geodesi dan navigasi. Dalam teori trigonometri bola (Spherical Trigonometry), aturan trigonometri yang dipakai adalah aturan trigonometri pada bidang lengkung. Lebih tepatnya bidang bola, karena teori yang digunakan adalah teori trigonometri bola. Sehingga rumus trigonometri yang ada juga bervariasi, mulai dari aturan sinus, cosinus, rumus tangen, secan, cosecan dan cotangen. Meskipun demikian, dalam praktik perhitungannya rumus yang digunakan tidaklah semua, tetapi lebih menyesuaikan kebutuhan. Sedangkan pada teori geodesi aturan trigonometri yang diterapkan lebih pada bidang lengkung, namun cenderung mendekati bentuk bola yang sebenarnya, yaitu elips. Rumus trigonometri yang digunakan dalam penentuan arah kiblat juga hampir sama, yaitu rumus sinus, cosinus, tangen, secan, cosecan dan cotangen. Namun, dalam perhitungannya rumus yang dipakai juga tidak semuanya, menyesuaikan. Berbeda dengan teori navigasi, dalam teori ini aturan yang dipakai adalah aturan trigonometri pada bidang datar. Sebab, acuannya memang berdasar peta bidang datar. Meskipun demikian, rumus yang diterapkan dalam perhitungan arah kiblat juga tak jauh beda, yakni tetap memuat rumus sinus, cosinus dan tangen.

Kedua, adapun aplikasi/penerapan rumus-rumus trigonometri tersebut, baik dalam teori trigonometri bola (Spherical Trigonometry), geodesi dan navigasi tidak terlepas dari alat bantu dalam perhitungan arah kiblat. Pada teori trigonometri bola (Spherical Trigonometry), supaya mempermudah perhitungan/penentuan arah kiblat maka bisa menggunakan alat bantu kalkulator.

Sedangkan dalam teori geodesi, dalam penentuan/perhitungan arah kiblat bisa menggunakan metode vincenty. Adapun dalam teori navigasi, aplikasinya lebih mengacu pada konsep peta bidang datar.

(7)

vii

Adapun saran dari penelitian ini bahwa pada dasarnya, kajian konsep trigonometri terutama dalam aplikasinya pada ilmu falak tidak hanya terbatas penentuan arah kiblat saja. Melainkan ada yang lainnya, seperti penentuan awal tahun bulan komariyah, awal waktu sholat, dan kalender hijriyah. Oleh sebab itu, hendaknya penelitian ini memotivasi untuk mengkaji lagi konsep trigonometri tersebut. Penelitian seperti yang penulis lakukan ini masih jarang dijumpai pada rak buku koleksi jurusan tadris matematika. Oleh karena itulah, harapannya penelitian ini menjadi pelengkap koleksi buku jurusan tadris matematika. Di samping demikian, tentunya penelitian ini juga diharapkan menjadi inspirasi untuk menelaah konsep-konsep matematika lainnya.

Kata kunci: trigonometri, arah kiblat, geodesi, navigasi

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Rabb al-Izzati, Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat kepada semua hamba-Nya. Terlebih kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, Nabi akhir zaman dan pembawa rahmat bagi makhluk seluruh alam.

Tidak ada kata yang pantas penulis ungkapkan kepada pihak-pihak yang membantu proses pembuatan skripsi ini, kecuali terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Dr. Suja’i, M.Ag.

2. Dosen pembimbing Minhayati Saleh M.Si, dan Dr. Hj. Sukasih, M.Pd, yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses penulisan skripsi.

3. Kajur Prodi Matematika, Bpk. Saminanto,M.Si yang selalu memberikan motivasi untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

4. Segenap dosen Fakultas Tarbiyah yang telah membekali banyak pengetahuan kepada penulis dalam menempuh studi di Fakultas Tarbiyah.

5. Kedua orang tua (Bpk Kasmun, Alm dan ibu Sutini) dan saudara-saudaraku (Mukhlisin dan Ahmad Ulil) yang tidak henti-hentinya memberikan dorongan baik moril maupun materiil dan tidak pernah bosan mendoakan penulis dalam menempuh studi dan mewujudkan cita-cita.

6. Keluarga besar bapak Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag, yang selalu mendidik dan mengajar penulis dengan penuh kesabaran.

7. Keluarga bapak h. Ciptono hadi dan keluarga besar RT 10 RW 14 Perumnas Beringin Lestari yang telah banyak memberikan pelajaran kepada penulis.

8. Sahabat-sahabat sejati seperjuangan (Mas Munif, S. H.I, Lutfi Adnan MZ dan Agus Sopar) yang selalu memberikan motivasi kepada penulis.

9. Seluruh teman-teman satu angkatan yang selalu memberikan semangat.

10. Semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu, baik moral maupun materi dalam penyusunan skripsi ini.

(9)

ix

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi, metodologi dan analisisnya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya hanya kepada Allah penulis berharap, semoga apa yang tertulis dalam skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya. Amin.

Semarang, 28 Mei 2012 Penulis

Susheri

Nim: 083511028

(10)

x DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PENGESAHAN ... iii

NOTA PEMBIMBING I ... iv

NOTA PEMBIMBING II ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 3

D. Kajian Pustaka ... 4

E. Metode Penelitian ... 6

BAB II : TRIGONOMETRI DAN TEORI PENENTUAN ARAH KIBLAT A. Trigonometri . ... 9

1. Pengertian Trigonometri ... 9

2. Sejarah Trigometri ... 10

3. Konsep Dasar Trigonometri ... 14

B. Rumus-rumus Trigonometri . ... 19

1. Rumus Trigonometri untuk Jumlah dan Selisih Dua Sudut... 25

2. Rumus Trigonometri Sudut Rangkap dan Tengahan ... 28

3. Rumus Perkalian Sinus dan Cosinus... 30

4. Rumus Penjumlahan dan Pengurangan Sinus dan Cosinus ... 31

C. Aturan Sinus dan Cosinus ... 31

1. Aturan Sinus... 31

2. Aturan Cosinus... 32

(11)

xi

D. Teori Penentuan Arah Kiblat ... 33

1. Teori Trigonometri Bola (Spherical Trigonometry) ... 33

2. Teori Geodesi ... 34

3. Teori Navigasi ... 37

BAB III : PENERAPAN RUMUS TRIGONOMETRI DALAM TEORI PENENTUAN ARAH KIBLAT A. Pengertian Arah kiblat ... 39

B. Metode Penentuan Arah Kiblat ... 42

C. Rumus Trigonometri dalam Perhitungan Arah Kiblat ... 53

D. Istilah-Istilah dalam Ilmu Falak ... 65

BAB IV : ANALISIS RUMUS TRIGONOMETRI DALAM PENERAPANNYA PADA TEORI PENENTUAN ARAH KIBLAT A. Analisis Rumus Trigonometri dalam Penerapannya pada Teori Trigonometri Bola (Spherical Trigonometri) ... 67

B. Analisis Rumus Trigonometri Dalam Penerapannya Pada Teori Geodesi ... 76

C. Analisis Rumus Trigonometri Dalam Penerapannya Pada Teori Navigasi ... 82

BAB V : PENUTUP A. Simpulan ... 84

B. Saran ... 85

C. Penutup ... 85

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Aplikasi ilmu matematika pada dasarnya sangatlah luas cakupannya.

Hampir di setiap disiplin ilmu pengetahuan menggunakan aplikasi ilmu matematika. Dalam ilmu matematika sendiri juga banyak terdapat konsep dan teori yang sangat membantu dan berguna dalam kehidupan umat manusia.

Sebagai contoh ialah konsep/rumus trigonometri yang sangat membantu dalam teori penentuan arah kiblat.

Konsep trigonometri dalam sejarah perkembangan sains Islam sangat berperan sekali pada aplikasi ilmu falak. Hal ini dapat diketahui dengan banyaknya ilmuwan muslim yang turut mengembangkan ilmu falak, seperti Al- Khawarizmi (305 H/917 M) dengan magnum opusnya dalam kitab al- Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah. Selain Al-Khawarizmi, tokoh Islam yang ikut membangun ilmu falak juga banyak sekali, diantaranya ialah, Abu Ma’syar al-Falaky (wafat 272 H/885 M) dengan karyanya yang berjudul Isbatul Ulum dan Haiatul Falak, Jabir Batany (wafat 319 H/931 M) dengan karyanya Kitabu Ma’rifati Mathli’il Buruj Baina Arbail Falak, Abu Raihan al- Biruni (wafat 363 H-440 H/973 M-1048 M) dengan karyanya al-Qonun al- Mas’udi.1

Tokoh ilmwuan muslim yang berkontribusi dalam ilmu trigonometri ialah Abul Wafa Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Ismail al Buzjani yang lahir pada tahun 940 M. Abul Wafa Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Yahya Ibnu Ismail al Buzjani dikenal sebagai peletak dasar dari rumus-rumus trigonometri2. Generasi berikutnya ialah ahli matematika bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M –

1Susiknan Azhari, Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007 ), hlm. 7

2Republika.co.id, “Al Buzjani, Peletak Dasar Rumus Trigonometri” dalam http://rumahislam.com/tokoh/3-ilmuwan-muslim/2-al-buzjani.html, diakses 28 September 2011.

(13)

2

1036M). Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur dikenal sebagai penemu hukum sinus3.

Selanjutnya seiring dengan perkembangan ilmu matematika, rumus-rumus trigonometri yang biasanya dipakai dalam ilmu matematika diantaranya ialah;

rumus trigonometri jumlah dan selisih dua sudut, rumus trigonometri sudut rangkap dan sudut tengahan, rumus perkalian sinus dan kosinus, rumus penjumlahan dan pengurangan sinus dan kosinus, hukum/aturan sinus dan hukum/aturan kosinus4

Rumus-rumus trigonometri tersebut pada dasarnya memang terlihat sederhana, karena kebanyakan dipakai/telah dipelajari dalam jenjang pendidikan seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP)/sederajat dan Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat. Tetapi lebih dari itu, trigonometri punya kelebihan tersendiri bukan hanya sekadar untuk pengetahuan saja.

Trigonometri punya sisi lain yang menarik untuk dikaji secara lebih lagi, terutama terkait dalam aplikasinya pada teori penentuan arah kiblat.

Sampai saat ini teori penentuan arah kiblat yang sudah diketahui diantaranya ialah;5 teori trigonometri bola (spherical trigonometry),teori geodesi, dan teori Navigasi. Dari ketiga teori tersebut dua diantaranya (teori trigonometri bola dan geodesi) mengacu pada tipologi makna arah sudut tetap/tidak konstan (ortodrom) dengan jarak tempuh terdekat. Namun keduanya memiliki perbedaan dalam hal perhitungannya. Masing-masing teori tersebut memiliki kriteria sesuai dengan dasar-dasar teorinya6.

Kontribusi rumus trigonometri pada ilmu falak sangatlah besar, terlebih pada teori penentuan arah kiblat. Mengingat trigonometri berbicara masalah sudut, maka mustahil arah kiblat (ka’bah) suatu titik tertentu (tempat, kota,

3Admin, “Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus”, dalam http://tanbihun.com/sejarah/profil-ulama/abu-nasr-mansur-sang-penemu-hukum-sinus/, diakses 28 September 2011.

4Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, (Jakarta: Gelora Aksara Pertama, 2006), hlm. 113-132.

5Ahmad Izzuddin, “Kajian Terhadap Metode-Metode Penentuan Arah Kiblat dan Akurasinya”, Disertasi (Semarang : Program Doktor IAIN Walisongo, 2011), hlm. 170-210.

6Ahmad Izzuddin, “Abu Raihan Al-Biruni dan Teori Penentuan Arah Kiblat (Studi Penelusuran Asal Teori Panentuan Arah Kiblat)”, Laporan Peneltian Individual (Semarang : Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo, 2011), hlm.35-51.

(14)

3

wilayah) dapat ditentukan tanpa mengetahui sudut tempat dan sudut kiblatnya.

Dari sinilah kemudian muncul korelasi mutualisme antara matematika khususnya bidang trigonometri) dan ilmu falak khususnya teori penentuan arah kiblat). Bangunan kerangka teoritis pada teori-teori penentuan arah kiblat tersebut tidak lepas dari konsep trigonometri, baik itu teori trigonometri bola, teori geodesi maupun teori navigasi.

Sepengetahuan penulis, sampai saat ini penulis belum menemukan penelitian yang membahas spesifikasi rumus trigonometri matematika dalam ilmu falak, yakni pada teknik penentuan arah kiblat. Baik itu mengacu pada rumus apa saja yang dipakai/digunakan dalam teori penentuan arah kiblat ataupun tentang bagaimana penerapan/aplikasi rumus trigonometri pada teori penentuan arah kiblat.

Atas dasar alasan itulah penulis memberanikan diri untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian “Analisis Rumus Trigonometri Dalam Penerapannya Pada Ilmu Falak (Telaah Atas Teori Penentuan Arah Kiblat)” . Harapannya penelitian ini nantinya menjadi acuan untuk penelitian berikutnya tentang kajian teori yang ada dalam ilmu matematika. Mengingat masih sedikit ditemukan penelitian yang mengkaji konsep/rumus-rumus yang ada dalam ilmu matematika.

B. Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:

1) Rumus trigonometri matematika apa sajakah yang dipakai dalam teori penentuan arah kiblat?

2) Bagaimana penerapan rumus trigonometri matematika dalam teori penentuan arah kiblat?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dan manfaat penelitian ini ialah sebagai berikut:

1) Tujuan

(15)

4

Adapun tujuan dilaksanakannya penelitian ini ialah sebagai berikut:

a) Untuk mengetahui rumus-rumus trigonometri yang dipakai dalam teori penentuan arah kiblat

b) Untuk mengetahui penerapan rumus-rumus trigonometri dalam teori penentuan arah kiblat

2) Manfaat

Selanjutnya, setelah dilaksanakannya penelitian, peneliti berharap penelitian ini memiliki banyak manfaat. Baik bagi peneliti sendiri maupun bagi orang lain yang membaca penelitian ini. Adapun manfaat dari penelitian ini ialah sebagai berikut:

a) Memberikan pengetahuan tentang rumus-rumus trigonometri yang dipakai dalam teori penentuan arah kiblat.

b) Memberikan pengetahuan tentang penerapan rumus-rumus trigonometri dalam teori penentuan arah kiblat.

D. Kajian Pustaka

Seperti halnya pada penelitian-penelitian lainnya, dalam penelitian ini juga harus mempertimbangkan kajian pustaka. Terutama kajian pustaka yang relevan dengan penelitian ini. Kajian pustaka dalam sebuah penelitian berfungsi untuk mendukung penelitian yang dilakukan oleh seseorang. Dalam kesempatan penelitian ini terdapat beberapa buku, skripsi dan disertasi yang masih relevan dengan penelitian ini sehingga dapat dijadikan sebagai rujukan dan acuan dalam proses penulisan ide-ide peneliti.

Adapun buku, skripsi dan disertasi tersebut penjelasannya secara berturut- turut ialah sebagai berikut:

1. Disinggung juga teori penentuan arah kiblat, yakni teori trigonometri bola (spherical trigonometry) dalam bukunya Ahmad Izzuddin yang berjudul Fiqih Hisab Rukyah Menyatukan NU dan Muhammadiyah dalam Penentuan Awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha.

2. Dalam penelitian individual yang dilakukan oleh Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag dengan judul penelitian Abu Raihan Al-Biruni dan Teori Penentuan

(16)

5

Arah Kiblat (Studi Penelusuran Asal Teori Penentuan Arah Kiblat), 2011 juga dijelaskan teori-teori penentuan arah kiblat yaitu teori trigonometri bola dan teori geodesi. Kedua teori tersebut dalam aplikasinya menggunakan rumus trigonometri, tetapi penjelasan tentang rumus trigonometri apa saja yang dipakai dan bagaimana penerapannya masih dibahas dalam garis besarnya.

3. Disertasinya Dr. H. Ahmad Izzuddin dengan judul Kajian Terhadap Metode- Metode Penentuan Arah Kiblat dan Akurasinya, 2011 juga membahas teori- teori penentuan arah kiblat. Dalam disertasinya itu, teori-teori penentuan arah kiblat dijelaskan secara detail. Namun pembahasannya masih belum mengarah pada spesifikasi rumus trigonometri apa saja yang dipakai dan bagaimana penerapannya. Dalam disertasi tersebut pembahasannya lebih fokus pada tingkat akurasinya dari ketiga teori penentuan arah kiblat yang ada yaitu teori trigonometri bola, teori geodesi dan teori navigasi.

4. Skripsi dengan judul “Konsep Trigonometri Pada Segitiga Bola Dan Aplikasinya Dalam Menentukan Arah Kiblat” karya Anis Oktriawardani dengan nomor induk mahasiswa (NIM) (01320108) Jurusan Pendidikan Matematika dan Komputasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2008. Dalam skripsi tersebut dibahas tentang konsep trigonometri dalam teori segitiga bola dan aplikasinya dalam penentuan arah kiblat. Hasil dari penelitian skripsi ini menunjukan bahwa konsep segitiga bola dapat digunakan dalam perhitungan menentukan arah kiblat.

5. E-book/ pdf, Algebra 2 and Trigonometry dan E-book/pdf, 103 Trigonometry Problems yang menjelaskan tentang konsep trigonometri dan geometri.

Meskipun demikian, keterangan-keterangan dari beberapa referensi yang relevan di atas menurut penulis sangat membantu sekali dalam penelitian yang diangkat oleh penulis ini. Meskipun pembahasannya juga masih belum mengarah pada spesifikasi rumus-rumus trigonometri apa saja yang dipakai dan bagaimana penerapannya. Sehingga menurut penulis, hal ini layak diangkat sebagai penelitian.

(17)

6

Adpun posisi atau kedudukan daripada penelitian ini adalah sebagai tindak lanjut dari penelitian yang sudah ada. Lebih khusus, penelitian ini menindak lanjuti peneletian tentang trigonometri dalam penentuan arah kiblat.

Harapannya nanti akan ditemukan korelasi antara matematika dan falak.

Lebih khusus lagi, akan ditemukan rumus trigomometri apa saja yang dipakai dalam ilimu falak pada teori penentuan arah kiblat yaitu teori trigonometri bola (spherical trigonometry), teori geodesi dan teori navigasi.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library reseach), sehingga penelitian ini berupaya melakukan pengkajian dan penelaahan terhadap literatur yang terkait dengan tema yang penulis angkat, yakni aplikasi rumus trigonometri dalam teori penentuan arah kiblat yang meliputi teori trigonometri bola, geodesi dan navigasi.

2. Sumber penelitian

Sumber penelitian dalam penelitian ini ialah berdasar dari data primer dan data sekunder. Data primer ialah data pokok dan utama meliputi referensi pokok yang mengacu pada judul penelitian ini yakni rumus-rumus trigonometri dan teori penentuan arah kiblat. Sumber primer yang dijadikan acuan dalam penelitian ini diantaranya adalah; buku Geodesi Satelit (Hasanudin Zainal Abidin : 2001) yang membahas tentang teori geodesi dan Navigasi, E-book/ pdf, Algebra 2 and Trigonometry dan E-book/pdf, 103 Trigonometry Problems yang menjelaskan tentang konsep trigonometri, disertasi DR. Ahmad Izzuddin yang berjudul Kajian Terhadap Metode Penentuan Arah Kiblat dan Akurasinya yang membahas metode penentuan arah kiblat, perhitungannya dan keakurasiannya. Sedangkan data sekunder yaitu data pendukung yang melengkapi kajian-kajian dalam penelitian ini.

Baik data primer maupun data sekunder diperoleh dari dokumentasi dan buku-buku yang berkaitan tentang penelitian ini.

(18)

7

Peneliti melakukan dokumentasi tentang sumber referensi yang berkaitan dengan penelitian. Baik itu berasal dari buku-buku, kitab-kitab, jurnal, artikel-artikel dan lain sebagainya.

3. Fokus Penelitian

Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu “analisis rumus trigonometri dalam penerapannya pada ilmu falak (telaah atas teori penentuan arah kiblat) maka fokus penelitian ini ialah tentang rumus-rumus trigonometri dan teori penentuan arah kiblat serta bagaimana aplikasinya/penerapannya dalam teori tersebut.

4. Teknik Pengumpulan data

Dalam suatu penelitian terdapat banyak teknik pengumpulan data, diantaranya ialah teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, kuesioner atau angket, dokumentasi dan lain sebagainya.

Namun dalam penelitian ini peneliti mengunakan teknik dokumentasi atau dokumenter.

Teknik dokumenter ialah suatu metode atau cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, seperti arsip, termasuk juga buku tentang teori, pendapat, dalil atau hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian.7

5. Teknik Analisis Data

Pada umumnya, metode kualitatif berorientasi dalam hal eksplorasi, pengungkapan dan logika induktif. Sedangkan pendekatan suatu evaluasi yang dipakai ialah bersifat induktif. Hal ini dimaksudkan bahwa evaluator (penganalisis) berupaya menyikapi dengan akal sehat suatu situasi tanpa mengedapankan harapan yang sudah diduga sebelumnya mengenai suatu program tertentu.8

Sedangkan dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis induktif. Analisis induktif artinya bahwa pola, tema, dan kategori analisis

7 Nurul Zuriah, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan, hlm. 191

8Michael Quinn Patton, Metode Evaluasi Kualitatif, penj. Budi Puspo Priyadi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 15-16.

(19)

8

datang dari data (mereka muncul keluar dari data).9 Data yang diperoleh dari proses dokumentasi dianalisis mengggunakan pola khusus ke umum.

Sehingga dapat diperoleh suatu kesimpulan yang dapat menjawab rumusan masalah pada peneletian ini.

9Michael Quinn Patton, Metode Evaluasi Kualitatif, penj. Budi Puspo Priyadi, hlm. 261

(20)

9 BAB II

TRIGONOMETRI DAN TEORI PENENTUAN ARAH KIBLAT

A. Trigonometri

1. Pengertian Trigonometri

Trigonometri berasal dari bahasa Yunani yaitu trigonon yang artinya tiga sudut dan metro artinya mengukur. Oleh karena itu trigonometri adalah sebuah cabang dari ilmu matematika yang berhadapan dengan sudut segi tiga dan fungsi trigonometrik seperti sinus, cosinus, dan tangen. Sedangkan definisi dari trigonometri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ilmu ukur mengenai sudut dan sempadan dengan segitiga (digunakan dalam astronomi).10

Istilah trigonometri11 juga sering kali diartikan sebagai ilmu ukur yang berhubungan dengan segitiga. Tetapi masih belum jelas yang dimaksudkan apakah itu segitiga sama kaki (siku-siku), segitiga sama sisi, atau segitiga sembarang. Namun, biasanya yang dipakai dalam perbandingan trigonometri adalah menggunakan segitiga sama kaki atau siku-siku. Dikatakan berhubungan dengan segitiga karena sebenarnya trigonometri juga masih berkaitan dengan geometri.12 Baik itu geometri bidang maupun geometri ruang.

Trigonometri sebagai suatu metode dalam perhitungan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perbandingan-perbandingan pada bangun geometri, khususnya dalam bangun yang berbentuk segitiga.

Pada prinsipnya trigonometri merupakan salah satu ilmu yang berhubungan

10KBBI, (Jakarta: PT Gramedia, 2008), hlm. 1487.

11Definisi trigonometri dari bahasa Inggris trigonometry, (lihat Kamus Inggris-Indonesia, John M. echols dan Hassan Shadily, Jakarta: PT Gramedia, 2003), hlm. 603.

12Geometri disini adalah cabang dari ilmu matematika yang mempelajari tentang bidang atau disebut juga ilmu ukur bidang, Hamid, Farida, Kamus Ilmiyah Populer Lengkap, (Surabaya:

Apollo, t.th), hlm. 172.

(21)

10

dengan besar sudut, dimana bermanfaat untuk menghitung ketinggian suatu tempat tanpa mengukur secara langsung sehingga bersifat lebih praktis dan efisien.

Kesimpulan dari beberapa definisi di atas bahwa trigonometri adalah cabang dari ilmu matematika yang mengkaji masalah sudut, terutama sudut segitiga yang masih ada hubungannya dengan geometri. Sedangkan dalam aplikasinya, trigonometri dapat diaplikasikan dalam bidang astronomi. Dalam hal ini adalah ilmu falak, yaitu dalam praktik perhitungan arah kiblat.

2. Sejarah Trigonometri

Sejarah awal trigonometri dapat dilacak dari zaman Mesir Kuno, Babilonia dan peradaban Lembah Indus, lebih dari 3000 tahun yang lalu.

Matematikawan India adalah perintis penghitungan variabel aljabar yang digunakan untuk menghitung astronomi dan juga trigonometri. Lagadha adalah matematikawan yang dikenal sampai sekarang yang menggunakan geometri dan trigonometri untuk penghitungan astronomi dalam bukunya Vedanga, Jyotisha, yang sebagian besar hasil kerjanya hancur oleh penjajah India.

Pelacakan lain tentang awal mula munculnya trigonometri adalah bersamaan dengan kemunculan tokoh matematikawan yang handal pada masa itu. Diantaranya matematikawan Yunani Hipparchus sekitar tahun 150 SM dengan tabel trigonometrinya untuk menyelesaikan segi tiga. Matematikawan Yunani lainnya, Ptolemy sekitar tahun 100 mengembangkan penghitungan trigonometri lebih lanjut. Disamping itu pula matematikawan Silesia Bartholemaeus Pitiskus menerbitkan sebuah karya yang berpengaruh tentang trigonometri pada tahun 1595 dan memperkenalkan kata ini ke dalam bahasa Inggris dan Perancis.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ada banyak aplikasi trigonometri. Terutama adalah teknik triangulasi yang digunakan dalam astronomi untuk menghitung jarak ke bintang-bintang terdekat, dalam

(22)

11

geografi untuk menghitung antara titik tertentu, dan dalam sistem navigasi satelit.

Bidang lainnya yang menggunakan trigonometri termasuk astronomi (dan termasuk navigasi, di laut, udara, dan angkasa), teori musik, akustik, optik, analisis pasar finansial, elektronik, teori probabilitas, statistika, biologi, pencitraan medis/medical imaging (CAT scan dan ultrasound), farmasi, kimia, teori angka (dan termasuk kriptologi), seismologi, meteorologi, oseanografi, berbagai cabang dalam ilmu fisika, survei darat dan geodesi, arsitektur, fonetika, ekonomi, teknik listrik, teknik mekanik, teknik sipil, grafik komputer, kartografi, kristalografi.13

Selanjutnya, penemuan-penemuan tentang rumus dasar trigonometri oleh para tokoh ilmuwan muslim adalah sebagai berikut :

a. Al Buzjani

Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al Buzjani, merupakan satu di antara sekian banyak ilmuwan Muslim yang turut mewarnai khazanah pengetahuan masa lalu. Dia tercatat sebagai seorang ahli di bidang ilmu matematika dan astronomi. Kota kecil bernama Buzjan, Nishapur, adalah tempat kelahiran ilmuwan besar ini, tepatnya tahun 940 M. Sejak masih kecil, kecerdasannya sudah mulai nampak dan hal tersebut ditunjang dengan minatnya yang besar di bidang ilmu alam. Masa sekolahnya dihabiskan di kota kelahirannya itu.

Konstruksi bangunan trigonometri versi Abul Wafa hingga kini diakui sangat besar kemanfaatannya. Dia adalah yang pertama menunjukkan adanya teori relatif segitiga parabola. Tak hanya itu, dia juga mengembangkan metode baru tentang konstruksi segi empat serta perbaikan nilai sinus 30 dengan memakai delapan desimal. Abul Wafa pun mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2)14.

13Wikipedia ensiklopesi bebas, “Trigonometri”, dalam www.wikipedia.com , diakses 16 Oktober 2011.

14 Republika.co.id, “Al Buzjani, Peletak Dasar Rumus Trigonometri”, diakses 28 September 2011.

(23)

12 b. Abu Nasr Mansur

Nama lengkap dari Abu Nasr Mansur adalah Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M – 1036 M). Abu Nasr Mansur terlahir di kawasan Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982M.

Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:

𝑎/𝑠𝑖𝑛 𝐴 = 𝑏/𝑠𝑖𝑛 𝐵 = 𝑐/𝑠𝑖𝑛 𝐶.15

Selanjutnya seiring dengan perkembangan ilmu matematika, rumus- rumus trigonometri yang biasa dipakai dalam ilmu matematika adalah sebagai berikut: 16

a) Rumus kosinus jumlah dan selisih dua sudut

b) Rumus sinus jumlah dan selisih dua sudut

c) Rumus tangen jumlah dan selisih dua sudut

d) Rumus sinus sudut rangkap

e) Rumus kosinus sudut rangkap

15 Admin, “Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus”.

16Noormandiri, Matematika SMA Jilid 2A, (Jakarta: Erlangga, 2004), hlm. 161-180, lihat juga (Sartono Wirodikromo, Matematika 2000, 2003) dan beberapa buku matematika SMA lainnya.

cos(A + B) = cos A cos B – sin A sin B cos(A – B) = cos A cos B + sin A sin B

sin(A + B) = sin A cos B + cos A sin B sin(A – B) = sin A cos B – cos A sin B

tan(A + B) =

B A

B A

tan tan 1

tan tan

tan(A – B) =

B A

B A

tan tan 1

tan tan

sin 2A = 2 sin A cos A sin 3A = 3 sin A – 4 sin3A

cos 2A = cos2A – sin2A = 1 – 2 sin2A = 2 cos2A – 1

cos 3A = 4 cos3A – 3 cos A

(24)

13 f) Rumus tangen sudut rangkap

g) Rumus sudut tengahan

h) Rumus perkalian kosinus dan kosinus

i) rumus perkalian sinus dan sinus

j) rumus perkalian kosinus dan sinus

k) Aturan/hukum sinus

l) Aturan/hukum kosinus tan 2A =

A A tan2

1 tan 2

tan 3A =

A A A

2 3

tan 3 1

tan tan

3

2 cos A cos B = cos(A + B) + cos(A – B)

2 sin A sin B = - cos(A + B) + cos(A – B)

2 cos A sin B = sin(A + B) – sin(A – B) 2 cos A cos B = cos(A + B) + cos(A – B)

sin 2 1A =

2 cos

1 A

cos 2

cos 1 2

1 A

A 

tan A

A A

cos 1

cos 1 2

1

 

=

A

A cos 1

sin

A A sin

cos 1

a

sin A= b

sin B= c

sin C

a2= b2+ c2− 2bc cos A b2= a2+ c2− 2ac cos B c2= a2+ b2− 2ab cos C

(25)

14

m) rumus penjumlahan dan pengurangan sinus dan kosinus

Rumus-rumus trigonometri yang tersebut di atas adalah rumus hasil kombinasi dan relasi antara rumus trigonometri yang satu dengan rumus trigonometri yang lainnya. Dalam beberapa buku referensi yang berbeda namun masih pada bahasan yang sama yaitu trigonometri, ditemukan beberapa metode yang berbeda untuk mendapatkan rumus-rumus tersebut. Hal demikian sah-sah saja, karena masing-masing ahli matematika punya asumsi-asumsi yang berbeda dalam menafsirkan rumus itu. Namun demikian, tentunya mereka masih menggunakan kaidah-kaidah yang sama, yaitu aturan geometri, relasi dan kombinasi dalam menafsirkan rumus-rumus trigonometri.

Namun, dalam kaitannya dengan penelitian ini peneliti hanya menyoroti relasi antara trigonometri dengan bidang astronomi atau ilmu falak.

Diantaranya adalah dalam teori penentuan arah kiblatnya yaitu teori trigonometri bola (spherical trigonometry), teori geodesi dan teori navigasi.

Adapun pembuktian dari rumus-rumus tersebut di atas adalah pada sub bab selanjutnya.

3. Konsep Dasar Trigonometri

Pada dasarnya, segitiga merupakan bentuk dasar dalam matematika terutama trigonometri. Sebab, kata trigonometri sendiri mengandung arti ukuran tentang segitiga. Dimana pengetahuan tentang bumi, matahari dan benda-benda langit lainnya sebenarnya juga diawali dari pemahaman konsep tentang rasio (ratios) pada segitiga. Sebagaimana contoh pada zaman dahulu (sebelum istilah trigonometri populer) keliling bumi sudah bisa ditentukan dengan menggunakan konsep segitiga siku-siku, meskipun hanya sebatas masih

sin A + sin B = 2 sin 2

1(A + B) cos 2

1(A – B )

sin A – sin B = 2 cos 2

1(A + B) sin 2

1(A – B)

cos A + cos B = 2 cos 2

1(A + B) cos 2

1(A – B)

cos A – cos B = -2 sin 2

1(A + B) sin 2

1(A – B)

(26)

15

dalam perkiraan saja. Waktu itu keliling bumi diperkirakan mencapai 25.000 mil, sedangkan bila menggunakan metode modern keliling bumi adalah 24.902 mil.17

Meskipun dalam sejarah matematika aplikasi trigonometri berdasar pada konsep segitiga siku-siku, tetapi sebenarnya cakupan bidangnya sangatlah luas.

Dan sekarang, trigonometri juga sudah mulai merambah pada bidang komputer, satelit komunikasi dan juga astronomi.18

Konsep dasar trigonometri tidak lepas dari bangun datar yang bernama segitiga siku-siku. Segitiga siku-siku didefinisikan sebagai segitiga yang memiliki satu sudut siku-siku19 dan dua sudut lancip20 pelengkap. Selanjutnya sisi dihadapan sudut siku-siku merupakan sisi terpanjang yang disebut dengan sisi miringnya (hypotenuse), sedangkan sisi-sisi dihadapan sudut lancip disebut kaki (leg) segitiga itu.21

Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar berikut ini:

Keterangan:

 Hypotenuse: sisi miring

 Leg: sisi kaki segitiga

Gambar 1. Segitiga siku-siku, dengan C sebagai sudut penyiku.

Pada gambar di atas terlihat jelas bahwa ∆𝐴𝐵𝐶 merupakan segitiga siku- siku dengan 𝐶 sebagai sudut siku-sikunya, dan 𝐴𝐵 merupakan sisi miringnya (hypotenuse). Sedangkan kaki-kakinya adalah 𝐵𝐶 yang posisinya di hadapan

∠𝐴, dan 𝐴𝐶 di hadapan ∠𝐵.

17 E-book/ pdf, Algebra 2 and Trigonometry, dalam www.amscopub.com, hlm. 353.

Diakses pada 09-02-2011.

18 E-book/ pdf, Algebra 2 and Trigonometry, dalam www.amscopub.com, hlm. 353

19Sudut siku-siku adalah sudut yang besarnya 90°.

20Sudut lancip adalah sudut yang besarnya kurang dari 90° (< 90°).

21E-book/ pdf, Algebra 2 and Trigonometry, hlm. 354.

(27)

16

Selanjutnya dapat dituliskan perbandingan (ratios) sebagai berikut:

sin 𝐴 =𝐵𝐶

𝐴𝐵, cos 𝐴 =𝐴𝐶

𝐴𝐵, 𝑑𝑎𝑛 tan 𝐴 =𝐵𝐶 𝐴𝐶

Versi lain untuk mendapatkan perbandingan fungsi trigonometri seperti 𝑠𝑖𝑛, 𝑐𝑜𝑠, 𝑡𝑎𝑛, 𝑐𝑠𝑐, 𝑠𝑒𝑐 dan 𝑐𝑜𝑡 adalah sebagai berikut:22

Gambar 2

Pada gambar 2 di atas, 𝑂𝐴 dan 𝑂𝐵 membentuk sudut 𝜃, 𝑃 terletak pada 𝑂𝐴, 𝑄 tegak lurus dengan 𝑃 di 𝑂𝐵. Dari gambar tersebut, maka fungsi sin, cos, tan, csc, sec dan 𝑐𝑜𝑡 dapat didefinisikan sebagai berikut, dengan ketentuan 𝑃𝑄 menunjukan panjang garis 𝑃𝑄.

sin 𝜃 = 𝑃𝑄

𝑂𝑃 , cos 𝜃 = 𝑂𝑄

𝑂𝑃 , tan 𝜃 = 𝑃𝑄 𝑂𝑄 csc 𝜃 = 𝑂𝑃

𝑃𝑄 , sec 𝜃 = 𝑂𝑃

𝑂𝑄 , ctn 𝜃 = 𝑂𝑄 𝑃𝑄

Di samping demikian, perlu juga ditunjukan bahwa fungsi tersebut telah didefinisikan oleh sudut 𝜃, bukan titik 𝑃. Dari gambar 2 di atas 𝑃1 juga merupakan titik di garis 𝑂𝐴, dan 𝑄1 tegak lurus 𝑃1 di garis 𝑂𝐵, sehingga jelas

∆𝑂𝑃𝑄 dan ∆𝑂𝑃1𝑄1 sebangun karena itu juga diperoleh hubungan seperti 𝑃𝑄

𝑂𝑃

dan 𝑃𝑄1

𝑂𝑃1 . Oleh karena itulah, maka semua fungsi trigonometri telah didefinisikan.

22E-book/pdf, 103 Trigonometry Problems, dalam www.birkhauser.com , hlm. 1-3.

Diakses pada 11-02-2011.

𝑂

𝐴

𝜃 𝐵 𝑃

𝑄

𝑃1

𝑄1

(28)

17

Dari penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa sin 𝜃, cos 𝜃, dan tan 𝜃 merupakan perbandingan terbalik dengan csc 𝜃, sec 𝜃, dan cot 𝜃 secara beturut- turut. Oleh sebab itu, dalam beberapa hal cukup mempertimbangkan sin 𝜃, cos 𝜃, dan tan 𝜃 saja. Dari hubungan tersebut, maka dapat diketahui pula:

sin 𝜃

cos 𝜃

=

tan 𝜃

dan cos 𝜃

sin 𝜃

=

cot 𝜃

Dengan menggunakan kaidah pada ∆𝐴𝐵𝐶 dengan 𝑎, 𝑏, dan 𝑐 adalah panjang sisi-sisi 𝐵𝐶, 𝐶𝐴, dan 𝐴𝐵, ∠𝐴, ∠𝐵, dan ∠C secara berturut-turut adalah

∠𝐶𝐴𝐵, ∠𝐴𝐵𝐶, dan ∠𝐵𝐶𝐴. Sedangkan ∆𝐴𝐵𝐶 adalah segitiga siku-siku dengan sudut sikunya di 𝐶.

Perhatikanlah gambar berikut:

Gambar 3

Gambar di atas dapat memberikan penjelasan tentang perbandingan trigonometri sebagai berikut:

sin 𝐴 =𝑎

𝑐, cos 𝐴 =𝑏

𝑐, tan 𝐴 =𝑎 𝑏 sin 𝐵 = 𝑏

𝑐, cos 𝐵 =𝑎

𝑐, tan 𝐵 =𝑏 𝑎

Dari rumus tersebut diperoleh:

𝑎 = 𝑐 sin 𝐴, 𝑎 = 𝑐 cos 𝐵 𝑎 = 𝑏 tan 𝐴 𝑏 = 𝑐 sin 𝐵, 𝑏 = 𝑐 cos 𝐴 𝑏 = 𝑎 tan 𝐵

𝑐 = 𝑎 csc 𝐴 𝑐 = 𝑎 sec 𝐵 𝑐 = 𝑏 csc 𝐵 𝑐 = 𝑏 sec 𝐴 𝐴

𝐵 𝑎 𝐶

𝑐 𝑏

(29)

18

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep trigonometri pada dasarnya memang mengacu pada perbandingan segitiga siku- siku. Dari perbandingan tersebut maka diperoleh fungsi trigonometri seperti:

sinus (𝑠𝑖𝑛), 𝑐𝑜𝑠𝑖𝑛𝑢𝑠 (𝑐𝑜𝑠), 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑒𝑛 (𝑡𝑎𝑛), 𝑐𝑜𝑠𝑒𝑐𝑎𝑛 (𝑐𝑠𝑐), 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑛 (𝑠𝑒𝑐) dan 𝑘𝑜𝑡𝑎𝑛𝑔𝑒𝑛 (𝑐𝑜𝑡). Namun, karena fungsi 𝑐𝑜𝑠𝑒𝑐𝑎𝑛 (𝑐𝑠𝑐), 𝑠𝑒𝑐𝑎𝑛 (𝑠𝑒𝑐) dan 𝑘𝑜𝑡𝑎𝑛𝑔𝑒𝑛 (𝑐𝑜𝑡) merupakan perbandingan terbalik (reciprocal) dari fungsi 𝑠𝑖𝑛𝑢𝑠 (𝑠𝑖𝑛), 𝑐𝑜𝑠𝑖𝑛𝑢𝑠 (𝑐𝑜𝑠), 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑒𝑛 (𝑡𝑎𝑛) maka yang sering digunakan adalah fungsi 𝑠𝑖𝑛𝑢𝑠 𝑠𝑖𝑛 , 𝑐𝑜𝑠𝑖𝑛𝑢𝑠 𝑐𝑜𝑠 , 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑒𝑛 (𝑡𝑎𝑛).

Supaya lebih jelas dalam memahami konsep trigonometri tersebut maka diberikan contoh sebagai berikut:

1) Dalam ∆PQR dengan 𝑅 sebagai sudut siku-sikunya, 𝑃𝑄 = 25 satuan, 𝑄𝑅 = 24 satuan, dan 𝑃𝑅 = 7 satuan, tentukan!

𝑎) sin⁡𝑃, 𝑏) cos⁡𝑃, 𝑐) tan⁡𝑃 𝑑) sin⁡𝑄, 𝑒) cos⁡𝑄, 𝑒) tan⁡𝑄 Jawab:

Hipotenusa adalah 𝑃𝑄 karena merupakan sisi terpanjang yaitu 25 Gambarnya sebagai berikut:

𝑎) sin 𝑃 = 𝑅𝑄

𝑃𝑄 = 24

25 satuan 𝑏) cos 𝑃 =𝑃𝑅

𝑃𝑄 = 7

25 satuan 𝑐) tan 𝑃 =𝑄𝑅

𝑃𝑅 = 24

7 satuan 𝑑) sin 𝑄 =𝑃𝑅

𝑃𝑄

=

7

25 satuan 𝑒) cos 𝑄 =𝑃𝑅

𝑃𝑄 = 24

25 satuan P

R 24 Q

25 7

s a t u a n

(30)

19 𝑓) tan 𝑄 =𝑃𝑅

𝑄𝑅 = 7

24 satuan

B. Rumus-Rumus Trigonometri

Secara umum rumus-rumus trigonometri diperoleh dari hubungan atau relasi antara rumus yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini maka dapat juga dikatakan rumus trigonometri diperoleh dari derivasi rumus yang lain.

Misalnya sinus, cosinus, tangen, secan, cosecan dan cotangen antara yang satu dengan yang lain sebenarnya masih ada hubungannya.

Dalam beberapa referensi yang penulis peroleh dari beberapa buku terutama yang menggunakan bahasa Indonesia rumus-rumus trigonometri dibedakan menjadi beberapa kategori. Diantaranya adalah sebagai berikut:23 1. Rumus trigonometri untuk jumlah dua sudut dan selisih dua sudut 2. Rumus trigonometri sudut rangkap dan tengahan

3. Rumus perkalian sinus dan kosinus

4. Rumus penjumlahan dan pengurangan sinus dan kosinus

Penjelasan dari beberapa rumus di atas akan dibahas secara berurutan, namun sebelum itu akan dijelaskan tentang sudut (angel) rotasi, koordinat titik pada lingkaran dengan pusat 0 dan jari-jari 𝑟, lingkaran satuan dan hasil- hasil dari trigonometri itu sendiri sebagai pengantar. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

a) Sudut (angle) dan rotasi

Pembahasan sudut dan rotasi yang dimaksudkan di sini adalah dalam ruang lingkup suatu lingkaran sebagai permisalan. Artinya, sudut di sini adalah sudut yang terbentuk karena suatu rotasi pada lingkaran tersebut.

Misalnya rotasi dari titik 𝐴 ke titik 𝐵, baik itu rotasi berlawanan arah jarum jam (counterclockwise) ataupun searah dengan arah jarum jam (clockwise direction). Dalam hal ini jika rotasinya searah dengan jarum jam maka sudut

23Noormandiri, Matematika SMA Jilid 2A, hlm. 161-180, lihat juga (Sartono Wirodikromo, Matematika 2000, 2003) dan beberapa buku matematika SMA lainnya.

(31)

20

yang terbentuk adalah negatif, tetapi bila berlawanan dengan arah jarum jam maka sudut yang terbentuk adalah sudut positif.24

Ilustrasinya adalah pada gambar berikut:

Gambar 4 dan Gambar 5. Ilustrasi perputaran sudut searah dan berlawanan jarum jam

Pada gambar 4 mengilustrasikan bahwa sudut yang dibentuk oleh

∠𝐴𝑂𝐵 adalah positif karena rotasinya berlawanan dengan jarum jam, yaitu dari titik 𝐴 menuju titik 𝐵. Sedangkan pada gambar 5 mengilustrasikan bahwa sudut yang dibentuk oleh ∠𝐴𝑂𝐵 adalah negatif karena rotasinya searah dengan jarum jam.

Selanjutnya klasifikasi sudut berdasarkan letak kuadrannya dibedakan menjadi empat bagian, yaitu sudut yang terletak di kuadran I, kuadran II, kuadran III dan kuadran IV, untuk lebih jelasnya perhatikan penjelasan gambar berikut:25

1) Bila 0 < 𝜃 < 90°, maka sudut 𝜃 terletak pada kuadran I.

Gambar 6

24 E-book/ pdf, Algebra 2 and Trigonometry, hlm. 358

25E-book/ pdf, Algebra 2 and Trigonometry, 358.

A

B O

O B

A

𝑦

𝜃 𝑥

(32)

21

2) Bila 90° < 𝜃 < 180°, maka sudut 𝜃 terletak pada kuadran II.

Gambar 7

3) Bila 180° < 𝜃 < 270°, maka sudut 𝜃 terletak pada kuadran III.

Gambar 8

4) Bila 270° < 𝜃 < 360°, maka sudut 𝜃 terletak pada kuadran IV.

Gambar 9 𝑦

𝑥 𝜃

𝑦

𝜃 𝑥

𝑦

𝑥 𝜃

(33)

22

Selain sudut-sudut kuadran tersebut, terdapat juga sudut-sudut kelipatan dari 90°, yaitu 180° , 270°, dan 360°. Gambarnya adalah sebagai berikut:

Gambar 10 Gambar 11

gambar 12 Gambar 13

b) Koordinat titik pada lingkaran dengan pusat 𝟎 dan jari-jari 𝒓 Perhatikan gambar berikut:

Gambar 14 𝑦

𝑂 𝑥 90°

𝑦

𝑂 𝑥 180°

𝑦

𝑂 𝑥 270°

𝑦

𝑂 𝑥

360°

𝛽

𝐴

𝐵

0 𝑟

𝑟

−𝑟

−𝑟 𝛼 𝑋+

𝑌

(34)

23

Pada gambar 14 di atas, titik A dan B terletak pada lingkaran. Misalkan

∠𝑋+0𝐴 = 𝛼 dan ∠𝑋+0𝐵 = 𝛽, 𝛼 dan 𝛽 diukur berlawanan dengan perputaran arah jarum jam, maka diperoleh:

𝐴 = 𝑟 cos 𝛼 , 𝑟 sin 𝛼 𝐵 = 𝑟 cos 𝛽 , 𝑟 sin 𝛽

Dari sini maka dapat disimpulkan bahwa koordinat sembarang titik 𝑃 pada lingkaran dengan sudut ∠𝑋+0𝑃 = 𝜃 adalah 𝑟 cos 𝜃 , 𝑟 sin 𝜃 .26

c) Lingkaran satuan

Lingkaran satuan adalah lingkaran yang berpusat di 0 dengan jari-jari 𝑟 = 1. Kemudian, misalkan koordinat sembarang titik 𝑃 pada lingkaran satuan sehingga ∠𝑋+0𝑃 = 𝜃 adalah 𝑟 cos 𝜃 , 𝑟 sin 𝜃 = cos 𝜃 , sin 𝜃 . Panjang busur 𝐴𝐵 =2𝜋𝛼 . 2𝜋𝑟 = 𝛼𝑟 = 𝛼 𝑟𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 . Sedangkan panjang busur 𝐴𝐶 =2𝜋𝛽 . 2𝜋𝑟 = 𝛽𝑟 = 𝛽 𝑟𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛. Maka diperoleh panjang busur 𝐵𝐶 = 𝛽 − 𝛼 𝑟𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛. Ilustrasi gambarnya adalah sebagai berikut:

Gambar 15

Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila terdapat panjang sembarang busur, misalkan 𝑃𝑄 sehingga ∠𝑃0𝑄 = 𝜃, maka panjang busar 𝑃𝑄 adalah 𝜃 𝑟𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛.

26 Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 112.

𝐴 𝐵

1 1

−1

−1 𝛼 𝑋+

𝐶

𝛽

(35)

24 d) Hasil-hasil dari trigonometri27

sin2𝜃 + cos2𝜃 = 1 sin 𝜃 = cos 90° − 𝜃 cos 𝜃 = sin 90° − 𝜃

sin 𝜃 = sin 180° − 𝜃 = − sin 180° + 𝜃 = − sin 360° − 𝜃 = − sin −𝜃 cos 𝜃 = −cos 180° − 𝜃 = − cos 180° + 𝜃 = cos 360° − 𝜃 = cos −𝜃 tan 𝜃 = −tan 180° − 𝜃 = tan 180° + 𝜃 = − tan 360° − 𝜃

Sudut-sudut istimewa:

0° 30° 45° 60° 90°

𝑆𝑖𝑛 0 1

2

1

2 2 1

2 3 1

𝐶𝑜𝑠 1 1

2 3 1

2 2 1

2 0

𝑡𝑎𝑛 0 1

3 3 1 3 ~

Tanda fungsi trigonometri dalam berbagai kuadran:

Kuadran I II III IV

Tanda positif Semua Sin Tan Cos

Selanjutnya penjelasan tentang rumus-rumus trigonometri adalah sebagai berikut:

27 Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 112.

(36)

25

1. Rumus trigonometri untuk jumlah dua sudut dan selisih dua sudut a) Rumus untuk cos(𝛼 ± 𝛽)28

Gambar 16

Pada gambar 16 di atas diperlihatkan sebuah lingkaran satuan, sehingga koordinat titik 𝐴 adalah (1,0). Misalkan ∠𝐴𝑂𝐵 = 𝛼, dan ∠𝐵𝑂𝐶 = 𝛽, maka

∠𝐴𝑂𝐶 = ∠𝐴𝑂𝐵 + ∠𝐵𝑂𝐶 = 𝛼 + 𝛽. Dengan mengambil sudut pertolongan

∠𝐴𝑂𝐷 = −𝛽, maka ∆𝐴𝑂𝐶 kongruen dengan ∆𝐵𝑂𝐷, akibatnya 𝐴𝐶 = 𝐵𝐷 atau 𝐴𝐶2= 𝐵𝐷2.

Kita ingat bahwa koordinat kartesius sebuah titik dapat dinyatakan sebagai (𝑟 cos 𝛼 , 𝑟 sin 𝛼), sehingga koordinat titik 𝐵 adalah (cos 𝛼 , sin 𝛼), titik 𝐶 adalah cos 𝛼 + 𝛽 , sin 𝛼 + 𝛽 , dan titik 𝐷(cos 𝛼 , −sin 𝛽).

Dengan menggunakan rumus jarak antara dua titik diperoleh:

 Jarak titik A(0,1) dan 𝐶(cos 𝛼 + 𝛽 , sin(𝛼 + 𝛽)) adalah 𝐴𝐶2 = cos 𝛼 + 𝛽 − 1 2+ {sin(𝛼 + 𝛽) − 0}2

= cos2 𝛼 + 𝛽 − 2 cos(𝛼 + 𝛽) + 1 + sin2(𝛼 + 𝛽)

= cos2 𝛼 + 𝛽 + sin2(𝛼 + 𝛽) + 1 − 2 cos(𝛼 + 𝛽) =1

𝐴𝐶2 = 2 − 2 cos(𝛼 + 𝛽)

 Jarak titik 𝐵(cos 𝛼 , sin 𝛼) dan 𝐷(cos 𝛽, − sin 𝛽) adalah :

28 Sartono Wirodikromo, Matematika untuk SMA Kelas XI, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2001), hlm. 82-83.

𝐴(1,0) 𝐵(cos 𝛼 , sin 𝛼)

1 𝑌

−1

−1 𝛼 𝑋+

𝐶(cos 𝛼 + 𝛽 , sin(𝛼 + 𝛽))

𝛽

−𝛽

𝐷(cos 𝛽 , −sin 𝛽) 0

(37)

26

𝐵𝐷2 = cos 𝛽 − cos 𝛼 2+ − sin 𝛽 − sin 𝛼 2

= 𝑐𝑜𝑠2𝛽 − 2 cos 𝛼 cos 𝛽 + cos2𝛼 + 𝑠𝑖𝑛2𝛽 + 2 sin 𝛼 sin 𝛽 + sin2𝛼 = 𝑐𝑜𝑠2𝛽 + 𝑠𝑖𝑛2𝛽 + (cos2𝛼 + sin2𝛼) − 2 cos 𝛼 cos 𝛽 +

2 sin 𝛼 sin 𝛽

𝐵𝐷2= 2 − 2 𝑐𝑜𝑠 𝛼 cos 𝛽 + 2 sin 𝛼 sin 𝛽 Karena 𝐴𝐶2 = 𝐵𝐷2, maka diperoleh hubungan

2 − 2 cos(𝛼 + 𝛽) = 2 − 2 𝑐𝑜𝑠 𝛼 cos 𝛽 + 2 sin 𝛼 sin 𝛽 cos(𝛼 + 𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 − sin 𝛼 sin 𝛽

Jadi rumus untuk cos(𝛼 + 𝛽) adalah:

cos(𝛼 + 𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 − sin 𝛼 sin 𝛽

Sedangkan rumus untuk cos(𝛼 − 𝛽) dapat diperoleh dari rumus cos(𝛼 + 𝛽) dengan cara mengganti sudut 𝛽 menjadi – 𝛽.29

cos(𝛼 − 𝛽) = cos(𝛼 + (− 𝛽))

= cos 𝛼 cos(−𝛽) − sin 𝛼 sin(−𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 − sin 𝛼 (−sin 𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 + sin 𝛼 sin 𝛽 Sehingga rumus untuk cos(𝛼 − 𝛽) adalah:

cos(𝛼 − 𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 + sin 𝛼 sin 𝛽

Dari kedua rumus di atas, maka dapat disederhanakan menjadi:

cos(𝛼 ± 𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 ± sin 𝛼 sin 𝛽

b) Rumus untuk 𝐬𝐢𝐧(𝜶 ± 𝜷)30

Rumus sinus jumlah dua sudut dapat dicari dengan menggunakan rumus kosinus selisih dua sudut, yaitu sebagai berikut:

sin(𝛼 + 𝛽) = cos 𝜋2− (𝛼 + 𝛽) = cos (𝜋2− 𝛼) − 𝛽

29 Sartono Wirodikromo, Matematika untuk SMA Kelas XI, hlm. 82-83.

30 Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 113-114.

(38)

27

= cos 𝜋2 − 𝛼 cos 𝛽 + sin 𝜋2 − 𝛼 sin 𝛽 = sin 𝛼 cos 𝛽 + cos 𝛼 sin 𝛽

Jadi,

sin(𝛼 + 𝛽) = sin 𝛼 cos 𝛽 + cos 𝛼 sin 𝛽

Selanjutnya, untuk mencari rumus sin(𝛼 − 𝛽) dapat dicari dengan mengubah sin(𝛼 − 𝛽) menjadi sin(𝛼 + (−𝛽)). Dengan cara yang sama seperti di atas pada rumus sin(𝛼 + 𝛽) akan diperoleh;

sin(𝛼 − 𝛽) = sin 𝛼 cos 𝛽 − cos 𝛼 sin 𝛽 Sehingga rumus untuk sin(𝛼 ± 𝛽) adalah:

sin(𝛼 ± 𝛽) = sin 𝛼 cos 𝛽 ± cos 𝛼 sin 𝛽 c) Rumus untuk 𝐭𝐚𝐧(𝜶 ± 𝜷)31

Rumus tangen jumlah dan selisih dua sudut dapat diturunkan dari rumus jumlah dan selisih dua sudut sinus dan kosinus. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

tan 𝛼 + 𝛽 = sin (𝛼+𝛽)

cos (𝛼+𝛽)

= sin 𝛼 cos 𝛽+cos 𝛼 sin 𝛽 cos 𝛼 cos 𝛽−sin 𝛼 sin 𝛽

=

sin 𝛼 cos 𝛽

cos 𝛼 cos 𝛽+cos 𝛼 sin 𝛽 cos 𝛼 cos 𝛽 cos 𝛼 cos 𝛽

cos 𝛼 cos 𝛽sin 𝛼 sin 𝛽 cos 𝛼 cos 𝛽

=

sin 𝛼

cos 𝛼+cos 𝛽sin 𝛽 1−sin 𝛼 sin 𝛽

cos 𝛼 cos 𝛽

=

tan 𝛼+tan 𝛽 1−tan 𝛼 tan 𝛽

Dengan menggunakan cara yang sama, diperoleh:

tan 𝛼 − 𝛽 = tan 𝛼+tan 𝛽 1−tan 𝛼 tan 𝛽

31 Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 116.

Bagi pembilang dan penyebut dengan cos 𝛼 cos 𝛽

(39)

28

2. Rumus trigonometri sudut rangkap dan tengahan32 a) Sinus sudut rangkap

Sinus sudut rangkap dinyatakan dengan sin 2𝛼. Rumus ini diperoleh dari rumus sinus jumlah dua sudut. Penjelasannya sebagai berikut:

sin 2𝛼 = sin 𝛼 + 𝛼

= sin 𝛼 cos 𝛼 + cos 𝛼 sin 𝛼

= 2 sin 𝛼 cos 𝛼 b) Kosinus sudut rangkap

Seperti pada sin 2𝛼, rumus cos 2𝛼 dapat diperoleh dari rumus kosinus jumlah dua sudut. Penjelasannya sebagai berikut:

cos 2𝛼 = cos 𝛼 + 𝛼

= cos 𝛼 cos 𝛼 − sin 𝛼 sin 𝛼

= 𝑐𝑜𝑠2𝛼 − sin2𝛼

Dengan menggunakan identitas 𝑐𝑜𝑠2𝛼 + 𝑠𝑖𝑛2𝛼 = 1, maka akan diperoleh bentuk lain dari cos 2𝛼.

cos 2𝛼 = 𝑐𝑜𝑠2𝛼 − sin2𝛼

= 𝑐𝑜𝑠2𝛼 − (1 − cos2𝛼)

= 2𝑐𝑜𝑠2𝛼 − 1

Selain itu cos 2𝛼 juga dapat dinyatakan dalam bentuk:

cos 2𝛼 = 𝑐𝑜𝑠2𝛼 − sin2𝛼

= (1 − 𝑠𝑖𝑛2𝛼) − sin2𝛼

= 1 − 2sin2𝛼

Dari beberapa rumus di atas, maka diperoleh:

cos 2𝛼 = 𝑐𝑜𝑠2𝛼 − sin2𝛼

= 2𝑐𝑜𝑠2𝛼 − 1

= 1 − 2sin2𝛼

32 Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 120.

(40)

29 c) Tangen sudut rangkap33

Rumus tan 2𝛼 dapat diperoleh dari rumus tan 𝛼 + 𝛽 dengan mensubtitusikan 𝛽 = 𝛼, sehingga diperoleh:

tan 2𝛼 = tan 𝛼 + 𝛼

= tan 𝛼+tan 𝛼 1−tan 𝛼 tan 𝛼

= 2 tan 𝛼

1−𝑡𝑎𝑛2𝛼

d) Trigonometri sudut tengahan34

Rumus trigonometri sudut tengahan dapat diturunkan dari rumus trigonometri sudut rangkap. Penjelasannya adalah sebagai berikut;

cos 2𝛼 = 2 𝑐𝑜𝑠2𝛼 − 1 → 𝑐𝑜𝑠2𝛼 =1 + cos 2𝛼

2 … … … . . (1) cos 2𝛼 = 1 − 2 𝑠𝑖𝑛2𝛼 → 𝑠𝑖𝑛2𝛼 =1 − cos 2𝛼

2 … … … . . (2)

Dengan menggunakan identitas tersebut dapat diturunkan tiga identitas yang baru. Misalkan 2𝛼 = 𝜃, maka

𝛼 =

𝜃2. Sehingga jika disubtitusikan

𝛼 =

𝜃

2 ke persamaan (1) dan (2) akan diperoleh:

𝑐𝑜𝑠

2 𝜃

2

=

1+cos 𝜃

2

𝑠𝑖𝑛

2 𝜃

2

=

1−cos 𝜃

2

atau

𝑐𝑜𝑠

𝜃2

= ±

1+cos 𝜃2

𝑠𝑖𝑛

𝜃

2

= ±

1−cos 𝜃

2

33 Sartono Wirodikromo, Matematika untuk SMA Kelas XI, hlm. 91.

34Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 123.

(41)

30 Sedangkan untuk 𝑡𝑎𝑛 𝜃

2 diperoleh dengan menggunakan hubungan:

𝑡𝑎𝑛

𝜃

2

=

𝑠𝑖𝑛

𝜃 2 𝑐𝑜𝑠𝜃2

= ±

1+cos 𝜃

1−cos 𝜃

3. Rumus perkalian sinus dan kosinus35

Rumus yang digunakan untuk mencari rumus perkalian sinus dan kosinus adalah rumus jumlah dan selisih dua sudut. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

a) Perkalian kosinus dan kosinus

cos(𝛼 + 𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 − sin 𝛼 sin 𝛽 cos 𝛼 − 𝛽 = cos 𝛼 cos 𝛽 + sin 𝛼 sin 𝛽

cos 𝛼 + 𝛽 + cos 𝛼 − 𝛽 = cos 𝛼 cos 𝛽 + cos 𝛼 cos 𝛽 cos 𝛼 + 𝛽 + cos 𝛼 − 𝛽 = 2 cos 𝛼 cos 𝛽

Jadi,

2 cos 𝛼 cos 𝛽 = cos 𝛼 + 𝛽 + cos 𝛼 − 𝛽 atau cos 𝛼 cos 𝛽 =12cos 𝛼 + 𝛽 + 12cos 𝛼 − 𝛽 b) Perkalian sinus dan sinus

cos(𝛼 + 𝛽) = cos 𝛼 cos 𝛽 − sin 𝛼 sin 𝛽 cos 𝛼 − 𝛽 = cos 𝛼 cos 𝛽 + sin 𝛼 sin 𝛽

cos 𝛼 + 𝛽 − cos 𝛼 − 𝛽 = − sin 𝛼 sin 𝛽 − sin 𝛼 sin 𝛽 cos 𝛼 + 𝛽 − cos 𝛼 − 𝛽 = −2 sin 𝛼 sin 𝛽

Jadi,

−2 sin 𝛼 sin 𝛽 = cos 𝛼 + 𝛽 − cos 𝛼 − 𝛽 atau 𝑠𝑖𝑛 𝛼 𝑠𝑖𝑛 𝛽 =12cos 𝛼 − 𝛽 − 12cos 𝛼 + 𝛽

35Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 126.

+

-

(42)

31

4. Rumus penjumlahan dan pengurangan sinus dan kosinus36

Rumus penjumlahan dan pengurangan sinus dan kosinus dapat diperoleh dari rumus perkalian sinus dan kosinus. Penjelasannya adalah sebagai berikut;

Seperti diketahui, rumus perkalian sinus dan kosinus adalah:

2 cos 𝛼 cos 𝛽 = cos(𝛼 + 𝛽) + cos(𝛼 − 𝛽)

2 sin 𝛼 sin 𝛽 = cos(𝛼 − 𝛽) − cos(𝛼 + 𝛽) = −(cos 𝛼 + 𝛽 − cos(𝛼 − 𝛽)) 2 sin 𝛼 cos 𝛽 = sin(𝛼 + 𝛽) + sin(𝛼 − 𝛽)

2 cos 𝛼 sin 𝛽 = sin(𝛼 + 𝛽) − sin(𝛼 − 𝛽) Misalkan A = 𝛼 + 𝛽 dan B = 𝛼 − 𝛽 maka:

A + B = (𝛼 + 𝛽) + (𝛼 − 𝛽) = 2 𝛼 → 𝛼 = 𝐴+𝐵2 A - B = (𝛼 + 𝛽) - (𝛼 − 𝛽) = 2 𝛽 → 𝛽 = 𝐴−𝐵2

Bila permisalan di atas disubtitusikan pada rumus perkalian sinus dan kosinus maka akan diperoleh rumus penjumlahan dan pengurangan sinus dan kosinus sebagai berikut:

cos 𝐴 + cos 𝐵 = 2 cos 𝐴+𝐵2 cos 𝐴−𝐵2 cos 𝐴 − cos 𝐵 = −2 sin 𝐴+𝐵2 sin 𝐴−𝐵2 sin 𝐴 + sin 𝐵 = 2 sin 𝐴+𝐵2 cos 𝐴−𝐵2

sin 𝐴 − sin 𝐵 = 2 cos 𝐴+𝐵2 sin 𝐴−𝐵2 C. Aturan Sinus dan Kosinus

1. Aturan Sinus37

Misalkan ada sebuah segitiga, katakanlah ABC, maka akan dapat dibuktikan bahwa [ABC] = 𝑎𝑏 sin 𝐶

2 yang secara simetri juga dapat diperoleh rumus sebgai berikut:

[ABC] = 𝑎𝑏 sin 𝐶

2 = 𝑏𝑐 sin 𝐴

2 = 𝑎𝑐 𝑠𝑖𝑛 𝐵 2

36 Sulistiyono, et.al., Matematika SMA untuk Kelas XI, hlm. 129.

37 E-book/pdf, 103 Trigonometry Problems, hlm. 18

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui dasar-dasar yang digunakan ulama-ulama Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon dalam menentukan arah kiblat dan untuk mengetahui proses penentuan

Arah kiblat adalah suatu arah (kiblat di Mekah) yang wajib dituju oleh umat Islam ketika ibadah shalat. Penerapan dari teori trigonometri bola langkah-langkahnya adalah..

Problematika konsep bentuk Bumi tentu membawa dampak terhadap ibadah umat Islam yaitu dalam hal penentuan arah kiblat dengan metode perhitungan: apakah menggunakan

Setelah diketahui metode-metode yang digunakan dalam penentuan arah kiblat juga hasil yang diperoleh dari pengukuran ulang masjid-masjid di Tulungagung, maka peneliti

Jika dibandingkan antara dua metode dalam penentuan arah kiblat yaitu metode perkiraan dan metode azimuth atau rashdul kiblat, maka yang harus dimenangkan adalah metode

Buku berjudul Ilmu Falak (Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern) karya Susiknan Azhari tahun 2007 yang memaparkan contoh perhitungan arah kiblat dengan rumus

Berdasarkan hasil studi literatur yang dilakukan penulis tentang aplikasi trigonometri dalam penentuan arah kiblat menggunakan pendekatan ruang vektor dan

Dalam menentukan arah Matahari dapat digunakan rumus segitiga bola (Spherical Trigonometry) yang telah disederhanakan yaitu Cotan Am = tan δo cos φ ÷ sin to – sin φ ÷ tan δo