• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGRISTA : Vol. 5 No. 3 September 2017 : ISSN :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "AGRISTA : Vol. 5 No. 3 September 2017 : ISSN :"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI BERSAING USAHA MEDIA TANAM (BAGLOG) JAMUR (STUDI KASUS DI ALAS JAMUR SUKOHARJO)

Nurul Hidayah, Mohamad Harisudin, Erlyna Wida Riptanti Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36A Kentingan Surakarta 57126 Telp./Fax (0271) 637457

Email : [email protected] Telp. 085725289484

ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi bersaing usaha baglog jamur Alas Jamur dibandingkan pesaingnya; mengidentifikasi faktor internal dan eksternal; merumuskan alternatif strategi dan menentukan prioritas strategi bersaing yang tepat untuk diterapkan Alas Jamur. Metode dasar penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan teknik studi kasus. Lokasi penelitian di Alas Jamur Desa Polokarto, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Alat analisis data yang digunakan adalah CPM, IFE, EFE, Matriks SWOT, dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis CPM usaha baglog jamur Alas Jamur atau usaha A (3,050) menempati posisi pertama dibandingkan pesaingnya. Penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi kondisi internal dan kondisi eksternal yang mempengaruhi kemampuan bersaing Alas Jamur. Berdasarkan hal tersebut dirumuskan 3 alternatif strategi menggunakan Matriks SWOT, yaitu membuat promosi penjualan serta periklanan produk melalui media onlinedisertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi; mempertahankan dan meningkatkan kualitas baglog;produsen bekerja sama dengan pengusaha baglog lainnya untuk memenuhi permintaan pasar. Prioritas strategi berdasarkan QSPM diperoleh skor sebesar 6,4848 adalah Melakukan promosi penjualan dan periklanan produk melalui online disertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi.

Kata Kunci :Alas Jamur, Baglog, CPM, Strategi Bersaing, QSPM.

ABSTRACT : This research aims to determine the competitive position of mushroom planting business (baglog) mushroom in Alas Jamur compared to its main competitors; Identifying internal and external factors; Formulate alternative strategies and determine the right competitive strategy priorities to apply Alas Jamur. The basic method of this research is analytical descriptive with case study technique. Research location in Alas Jamur Polokarto, Polokarto, Sukoharjo District. Data analysis tools used are CPM, IFE, EFE, SWOT Matrix, and QSPM. The results showed that based on CPM analysis baglog business mushrooms Alas Jamur (3,050) occupies the first position compared to competitors. This study also successfully identified the internal conditions and external conditions that affect the ability to compete Alas Jamur. Based on the above three formulation strategies are formulated using SWOT Matrix, which is to make sales promotion and advertising products through online media along with human resource training to improve the quality of human resources to facilitate promotional activities; maintain and improve baglog quality; producers work with other baglog entrepreneurs to meet market demand. Priority of strategy based on QSPM obtained score of 6,4848 is Do promotion of sales and advertising product through online with human resource training to improve quality of human resources to facilitate promotion activities.

Keywords :Alas Jamur, Baglog, CPM, Competitive Strategy, QSPM

(2)

377 PENDAHULUAN

Jamur merupakan salah satu komoditas holtikultura yang dikonsumsi masyarakat. Jamur menjadi bahan pangan alternatif yang disukai semua lapisan masyarakat termasuk di Indonesia. Menurut Marlina dan Abbas (2001), beberapa jamur merupakan sumber makanan yang setara dengan daging, ikan, dan bergizi lainnya.

Jamur memiliki kandungan protein sekitar 19-35%, 9 macam asam amino esensial, lemak tak jenuh, vitamin, mineral dan serat kasar 7,4-27,6 % yang dapat memperlancar pencernaan (Sumarni dan Cahyo, 2010).

Permintaan masyarakat akan jamur konsumsi meningkat dari tahun ke tahun, sehingga banyak petani yang mulai membudidayakan jamur. Petani-petani ini menghendaki cepat menghasilkan, modal cepat kembali maka langkah yang paling praktis adalah dengan membeli baglognya langsung (Setyawati, 2011).Hal ini berdampak pada meningkatnya permintaan bibit maupun baglog jamur. Peningkatan permintaan baglog menjadi peluang bagi masyarakat untuk mendirikan usaha pembuatan baglog. Teknis produksinya yang relatif mudah, menyebabkan banyak produsen yang mengusahakan baglog jamur termasuk di Jawa Tengah khususnya Kabupaten Sukoharjo. Berdasarkan data BAPPEDA Kabupaten Sukoharjo terdapat 39 produsen baglog jamur yang letaknya tersebar.

Salah satu usaha pembuatan baglog yang terbesardi Kabupaten Sukoharjo yaitu Alas Jamur yang berlokasi di Dukuh Denokan, Desa Polokarto, Kecamatan

Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Pada tahun 2016 Alas Jamur mengalami fluktuasi penjualan baglog jamur seperti yang terdapat pada tabel berikut :

Tabel 1. Jumlah Penjualan Baglog Jamur di Alas JamurBulan Januari-Desember Tahun

2016.

No Bulan Jumlah

1 Januari 18.000

2 Februari 27.120

3 Maret 19.550

4 April 26.350

5 Mei 21.650

6 Juni 29.730

7 Juli 10.500

8 Agustus 21.950

9 September 21.350

10 Oktober 13.550

11 November 21.700

12 Desember 46.200

Jumlah 277.65

Sumber: Data Sekunder, 2016.

Tabel 1 menunjukkan fluktuasi penjualan dari bulan ke bulan, hal tersebut dikarenakan adanya perubahan permintaan dari konsumen. Banyaknya usaha sejenis di wilayah tersebut membuat konsumen memiliki banyak referensi tempat untuk membeli media tanam (baglog) jamur, sehingga mempengaruhi tingkat permintaan baglog jamur di Alas Jamur. Jumlah penjualan yang tidak stabil ini dapat berpengaruh terhadap penerimaan yang diterima oleh Alas Jamur.

Terdapat beberapa pesaing kuat usaha pembuatan baglog jamur Alas Jamur.

Perbandingan usaha baglog Alas Jamur dengan usaha pesaingnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.Perbandingan Usaha Baglog Alas Jamur dengan Usaha Pesaingnya.

Nama Usaha Harga/baglog Tenaga kerja Jumlah rata-rata produksi baglog tiap bulan

Alas Jamur Rp. 1.800,00 9 26.000

Griya Jamur Rp. 1.800,00 11 30.000

Jamur Abata Rp. 1.900,00 20 60.000

Sumber Makmur Jamur Rp. 2.000,00 –Rp. 2.100,00 17 50.000

Jamur Kuping Super Rp. 1.800,00 52 125.000

Sumber : Data Primer, 2017.

(3)

378 Berdasarkan Tabel 2 jumlah rata-rata produksi baglog Alas Jamur merupakan yang paling rendah dibandingkan dengan pesaing utamanya. Hal ini mendorong pentingnya untuk dilakukan penelitian agar usaha media tanam baglog jamur di Alas Jamur dapat membuat prioritas strategi bersaing usaha yang dapat diterapkan sehingga mampu meningkatkan dan

mengembangkan usaha yang

dijalankan.Penggunaan strategi bersaing dapat membantu usaha meningkatkan posisi yang kompetitif, meningkatkan pangsa pasar serta meningkatkan laba usaha (Yannopoulus, 2011). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui posisi bersaing usaha baglog jamur di Alas Jamur dibandingkan pesaing utamanya; mengidentifikasi faktor internal dan eksternal; merumuskan alternatif strategi dan menentukan prioritas strategi bersaing yang tepat untuk diterapkan Alas Jamur.

METODE PENELITIAN Metode Dasar Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Februari-Maret 2017 dengan menggunakan metode dasar penelitian deskriptif analitik.

Teknik yang digunakan adalah studi kasus.

Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja atau purposive yaitu di Alas Jamur dengan pertimbangan bahwa Alas Jamur merupakan salah satu produsen baglog terbesar di Kabupaten Sukoharjo yang saat ini dihadapkan pada masalah fluktuasi penjualan dan banyaknya usaha sejenis di Kabupaten Sukoharjo.

Metode Penentuan Informan Kunci Pemilihan key informan dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa key informan paham akan kondisi lokasi penelitian. a. Informan kunci untuk penentuan faktor-

faktor keberhasilan penting

Informan kunci (key informan) merupakan hal yang sangat penting sebagai sumber informasi sesuai dengan fokus penelitian. Pemilihan key informan

lebih tepat dilakukan dengan cara sengaja (purposive) (Bungin, 2003). Informan kunci yaitu pemilik usaha media tanam (baglog) jamur Alas Jamur. Dalam hal ini pemilik di posisikan sebagai konsumen dari media tanam (baglog) jamur.

b. Informan kunci untuk penentuan bobot dan rating pada analisis Competitive Profile Matrix (CPM).

Penentuan bobot dilakukan terlebih dahulu dengan menyusun kuisioner yang berisi faktor-faktor penting keberhasilan penting dalam persaingan usaha media tanam (baglog) jamur di Alas Jamur Sukoharjo. Responden untuk penentuan bobot dan rating ini konsumen media tanam (baglog) jamur sejumlah 10 orang.

c. Informan kunci untuk identifikasi faktor internal dan eksternal.

Alas jamur mempunyai beberapa stakeholder yang berpengaruh dalam usahanya tersebut, mulai dari karyawan, pemasok, konsumen, pesaing serta dari pemerintah daerah Kabupaten Sukoharjo khususunya BAPPEDA dan Dispertan.

Beberapa stakeholder tersebut nantinya akan menjadi sumber informasi untuk mengetahui faktor internal dan faktor eksternal.

d. Informan kunci untuk bobot dan rating dalam Matriks IFE dan Matriks EFE Penetapan skor bobot dan rating matriks IFE dan EFE membutuhkan kontribusi dari para ahli. Informan yang dipilih ada 3 informan yaitu BAPPEDA Sukoharjo, Pemilik dan Tenaga Kerja Alas Jamur Sukoharjo.

e. Informan kunci dalam perumusan alternatif strategi dan prioritas strategi.

Perumusan alternatif strategi dan penetapan bobot dan nilai daya tarik untuk menentukan prioritas strategi dalam QSPM, sehingga harus sesuai pertimbangan dan pemikiran pihak yang mengetahui kondisi usaha Alas Jamur.

Dalam penelitian ini informan yang

(4)

379 dipilih yaitu pemilik usaha Alas Jamur karena pada dasarnya pihak usaha yang akan melaksanakan hasil strategi dari QSPM.

Metode Analisis Data

Untuk mengetahui faktor-faktor keberhasilan penting dalam usaha baglog jamur dan mengetahui posisi bersaing Alas Jamur digunakan Matriks Profil Kompetitif yang dikembangkan Fred R. David (2011).

Alat analisis yang digunakan mengetahui faktor internal dan eksternal yaitu Matriks IFE dan Matriks EFE, kemudian hasil kedua matriks tersebut dimasukkan ke dalam Matriks SWOT pendekatan kuantitatif untuk mengetahui posisi perusahaan yang dikembangkan oleh Pearce dan Robinson (2013). Selanjutnya merumuskan alternatif strategi dengan Matriks SWOT pendekatan kualitatif. Penentuan strategi dianalisis dengan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) yang dikembangkan Fred R.

David (2011).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Baglog Jamur

Adapun Faktor-faktor penentu keberhasilan usaha baglog yang berhasil diidentifikasi adalah sebagai berikut :

a. Harga

Harga menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli baglog jamur. Perbedaan harga antara produsen satu dengan produsen menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli baglog walaupun selisihnya kecil. Harga tersebut akan berbeda antara produsen satu dengan produsen yang lain tergantung seberapa efisien mereka dalam melakukan proses produksi dan berapa besar keuntungan yang akan diambil pada setiap baglog yang dihasilkan.

b. Banyak miselium merambat

Banyaknya miselium merambat adalah banyaknya jumlah miselium jamur yang sudah merambat pada baglog, biasanya

dinyatakan dalam satuan persen (%).

Produsen menjual baglognya pada jumlah miselium merambat yang berbeda-beda, hal ini sesuai dengan pengetahuan, pengalaman dan keberanian produsen dalam menanggung resiko. Banyaknya miselium merambat pada baglog yang dijual menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli baglog. Karena semakin banyak miselium yang merambat maka kemungkinan kegagalan produk semakin rendah.

c. Sistem pembayaran

Sistem pembayaran dalam hal ini adalah cara pembayaran yang harus dilakukan oleh konsumen untuk memperoleh baglog. Produsen menawarkan beberapa alternatif sistem pembayaran yang dapat dilakukan oleh konsumen. Sistem pembayaran menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli baglog, konsumen akan memilih sistem pembayaran yang mudah jika dibandingkan sistem pembayaran yang berbelit-belit.

d. Layanan purna jual yang ditawarkan Layanan purna jual adalah jasa yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumennya setelah transaksi penjualan dilakukan sebagai jaminan mutu untuk produk yang ditawarkan. Layanan purna jual yang ditawarkan menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli baglog. Konsumen lebih memilih produsen yang mau memberikan arahan mengenai cara budidaya jamur yang benar serta bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan produk yang dijualnya.

e. Kualitas baglog

Kualitas baglog akan menentukan jamur yang dihasilkan, jika produknya baik maka jamur yang dihasilkan juga akan banyak. Kualitas baglog dapat dilihat dari merambatnya miselium apakah merata dan melingkar sempurna atau tidak. Jika miselium jamur tidak merambat merata

(5)

380 atau bahkan terdapat bercak- bercakkarena terkontaminasi pada baglog maka kualitas baglog tersebut buruk.

f. Kepadatan baglog

Kepadatan serbuk gergaji baglog sangat menentukan hasil panennya. Semakin padat baglog tersebut, semakin banyak hasil panen jamur yang dapat dipanen dan baglog semakin awet atau tidak cepat habis nutrisi didalamnya.

Hasil Analisis Posisi Bersaing Usaha Baglog Jamur pada Alas Jamur dengan Competitive Profile Matrix (CPM)

Analisis matriks profil kompetitif dilakukan dengan membandingkan 4 usaha baglog jamur yaitu Alas Jamur, Griya Jamur, Sumber Makmur Jamur dan Jamur Abata. Dimana usaha baglog Alas jamur merupakan usaha A, Griya Jamur merupakan usaha B, Sumber Makmur Jamur merupakan usaha C dan Jamur Abata merupakan usaha D. Berdasarkan evaluasi faktor penentu keberhasilan usaha baglog yang didekati dengan analisis Matriks Profil Kompetetif dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3. Matriks Profil Kompetitif Usaha Baglog Jamur di Kabupaten Sukoharjo.

No Atribut Bobot Usaha A Usaha B Usaha C Usaha D

Rating Skor Rating Skor Rating Skor Rating Skor

1 Harga 0,2 3 0,600 3 0,600 2 0,400 3 0,600

2 Banyak Miselium Merambat 0,1 3 0,300 2 0,200 3 0,300 2 0,200

3 Sistem Pembayaran 0,15 4 0,600 3 0,450 4 0,600 3 0,450

4 Layanan Purna Jual yang Ditawarkan 0,2 4 0,800 4 0,800 4 0,800 3 0,600

5 Kualitas Baglog 0,25 3 0,750 3 0,750 3 0,750 3 0,750

6 Kepadatan Baglog 0,1 3 0,300 2 0,200 3 0,300 3 0,300

Total 1 3,350 3,000 3,150 2,900

Sumber : Analisis Data Primer, 2017.

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 3, diketahui bahwa total skor usaha A lebih tinggi dibandingkan dengan usaha B, C, dan D. Total skor usaha A sebesar 3,350 menduduki posisi pertama dibandingkan dengan usaha yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa usaha A lebih unggul dibandingkan dengan Usaha B, C, D. Posisi kedua, ketiga dan keempat secara berurutan yaitu Usaha C (3,150), Usaha B (3,000) dan Usaha D (2,900).

Faktor Internal dan Faktor Eksternal Usaha Baglog Jamur pada Alas Jamur

Faktor internal dan faktor eksternal usaha baglog jamur pada Alas Jamur diidentifikasi untuk mengetahui faktor- faktor internal dan eksternal yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman serta membantu dalam pengelompokkan faktor-faktor tersebut. Berikut hasil

identifikasi faktor internal dan eksternal usaha baglog jamurpada Alas Jamur:

1. Faktor Kekuatan dan Kelemahan usaha baglog jamur pada Alas Jamur

Hasil identifikasi pada strategi bersaing usaha baglog jamur pada Alas Jamur yang menjadi faktor kekuatan adalah komunikasi yang baik antara pemiliki dengan karyawan, pembukuan dilakukan secara tertib, kualitas produk baik, harga terjangkau, pelayanan purna jual yang baik, sistem pembayaran sangat mudah, tenaga kerja terpercaya.

Sedangkan hasil identifikasi faktor internal strategi bersaing usaha baglog jamur pada Alas Jamur yang menjadi faktor kelemahan adalah adanya jabatan rangkap pemilik dalam struktur organisasi tata kerja, proses produksi masih sederhana, modal masih meminjam dari pihak ekternal, promosi dan

(6)

381 periklanan masih minim, belum ada program peningkatan mutu SDM.

2. Faktor Peluang dan Ancaman Usaha Baglog Jamur pada Alas Jamur

Hasil identifikasi faktor eksternal strategi bersaing usaha baglog jamur pada Alas Jamur yang menjadi faktor peluang adalahperkembangan ekonomi masyarakat baik, penetapan kampung jamur polokarto, pelatihan dan pembinaan dari pemerintah, mendapat respon yang baik dari masyarakat, perkembangan tekonolgi pesat, terjadi hubungan yang baik antara produsen dan pemasok, permintaan konsumen semakin meningkat. Sedangkan hasil identifikasi faktor eksternal strategi bersaing usaha baglog jamur pada Alas Jamur yang

menjadi faktor ancaman adalah harga alat-alat produksi semakin tinggi, harga bahan baku utama semakin tinggi, tuntutan konsumen semakin tinggi, banyaknya usaha sejenis, pesaing sudah melakukan promosi melalui media online.

Hasil Analisis Faktor Internal dan Faktor Eksternal Usaha Baglog Jamur pada Alas Jamur.

Setelah dilakukan analisis terhadap kondisi internal dan eksternal usaha, selanjutnya dilakukan penilaian terhadap faktor-faktor tersebut. Kondisi internal usaha dianalisis dalam Matriks IFE dan kondisi eksternal dianalisis dalam Matriks EFE.

Tabel 4. Matriks IFE Usaha Baglog Jamur pada Alas Jamur

Faktor Internal Bobot Rating Skor

Kekuatan

1. Komunikasi yang baik antara pemilik dengan karyawan 0,0684 4 0,2736

2. Pembukuan dilakukan secara tertib 0,0732 3 0,2196

3. Kualitas produk baik 0,1206 4 0,4822

4. Harga terjangkau 0,0929 4 0,3718

5. Pelayanan purna jual yang baik 0,0910 4 0,3640

6. Sistem pembayaran sangat mudah 0,0804 4 0,3215

7. Tenaga kerja terpercaya 0,0569 3 0,1706

Total kekuatan 2,2033

Kelemahan

1. Adanya jabatan rangkap pemilik dalam struktur organisasi tenaga kerja 0,0832 2 0,1665

2. Proses produksi masih sederhana 0,0727 2 0,1454

3. Modal masih meminjam dari luar pihak eksternal 0,0792 2 0,1583

4. Promosi dan periklanan masih minim 0,1048 2 0,2096

5. Belum ada program peningkatan mutu sumberdaya manusia (SDM) 0,0768 1 0,0768

Total Kelemahan 0,7565

Selisih (Total Kekuatan-Total Kelemahan) 1,4468

Sumber : Analisis Data Primer, 2017.

Berdasarkan Tabel 4 faktor kekuatan terbesar usaha baglog Alas Jamur adalah kualitas produk baik dengan skor 0,4822.

Sedangkan kelemahan utama Alas Jamur adalah promosi dan periklanan masih minim dengan skor 0,2098. Berdasarkan matriks IFE tersebut diperoleh selisih dari skor kekuatan dan skor kelemahan sebesar 1,4468. Nilai skor tersebut menunjukkan bahwa kondisi internal perusahaan berada dalam posisi positif karena lebih besar dari 0 (Pearce dan Robinson, 2013). Hal ini berarti

perusahaan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahan yang dimiliki perusahaan.

(7)

382

Tabel 5. Matriks EFE Usaha Baglog Jamur pada Alas Jamur

Faktor Eksternal Bobot Rating Skor

Peluang

1. Perkembangan ekonomi masyarakat baik 0,0836 3 0,2507

2. Penetapan Kampung Jamur Polokarto 0,0798 4 0,3193

3. Pelatihan dan pembinaan dari Pemerintah 0,0825 4 0,3300

4. Mendapat respon yang baik dari masyarakat 0,1021 4 0,4086

5. Perkembangan tekonolgi pesat 0,0700 3 0,2099

6. Terjadi hubungan yang baik antara produsen dan pemasok 0,0719 3 0,2158

7. Permintaan konsumen semakin meningkat 0,0934 4 0,3735

Total peluang 2,1079

Ancaman

1. Harga alat-alat produksi semakin tinggi 0,0765 1 0,0765

2. Harga bahan baku utama semakin tinggi 0,0704 1 0,0704

3. Tuntutan konsumen semakin tinggi 0,0996 2 0,1992

4. Banyaknya usaha sejenis 0,0819 2 0,1638

5. Pesaing sudah melakukan promosi melalui media online 0,0883 2 0,1766

Total Ancaman 0,6865

Selisih (Total Peluang-Total Ancaman) 1,4214

Sumber : Analisis Data Primer, 2017.

Berdasarkan Tabel 5 faktor peluang terbesar usaha baglog Alas Jamur adalah mendapat respon yang baik dari masyarakat dengan skor 0,4086. Sedangkan ancaman utama Alas Jamur adalah tuntutan konsumen semakin tinggi dengan skor 0,1992.

Berdasarkan matriks EFE tersebut diperoleh selisih dari nilai skor peluang dan ancaman sebesar 1,4214. Nilai skor tersebut menunjukkan bahwa kondisi eksternal usaha berada dalam posisi positif karena lebih dari 0 (Pearce dan Robinson, 2013). Hal ini berarti usaha memiliki kemampuan untuk memanfaatkan peluang serta menghindari ancaman diluar perusahaan.

Alternatif Strategi Bersaing Usaha Baglog Jamur di Alas Jamur Sukoharjo

Alternatif strategi dirumuskan setelah dilakukan analisis faktor internal dan faktor eksternal perusahaan. Perumusan alternatif strategi dilakukan menggunkan alat analisis Matriks SWOT dengan dua pendekatan yaitu pendekatan secara kuantitatif dan pendekatan secara kualitatif.

1. Matriks SWOT Pendekatan Kuantitatif

Perolehan hasil dari Matriks IFE dan Matriks EFE dapat disusun pada Matriks SWOT dengan pendekatan kuantitatif yang dapat menunjukkan

posisi perusahaan dalam tampilan 4 kuadran. Pada sumbu x dari Matriks SWOT pendekatan kuantitatif diperoleh dari Matriks IFE usaha baglog jamur di Alas Jamur dan diperoleh angka sebesar 1,4468 (+). Pada sumbu y dari Matriks SWOT pendekatan kuantitatif diperoleh dari Matriks EFE usaha baglog jamur di Alas Jamur dan diperoleh angka sebesar 1,4214 (+). Apabila digambarkan ke dalam Matriks SWOT pendekatan kuantitatif, maka posisi usaha baglog Alas Jamur adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Matriks SWOT Pendekatan Kuantitatif usaha Alas Jamur

(8)

383 Gambar 1 menunjukkan bahwa usaha baglog Jamur di Alas Jamur berada pada kuadran I yaitu progresif. Pada kuadran ini, strategi yang dapat dilakukan adalah dengan memaksimalkan kekuatan serta memanfaatkan peluang perusahaan.

Menurut Perace dan Robinson (2013) alternatif strategi yang sesuai dengan posisi I adalah strategi pertumbuhan terkonsentris melalui pengembangan pasar, pengembangan produk atau kombinasi keduanya. Strategi lain adalah integrasi melalui akuisisi perusahaan baik integrasi vertikal maupun integrasi horizontal, strategi diversifikasi konsentris, serta strategi ventura bersama melalui penggabungan beberapa

perusahaan membentuk bisnis yang dimiliki bersama dan beroperasi untuk keuntungan bersama.

2. Matrisk SWOT Pendekatan Kualitatif Berdasarkan analisis pada kuadran Matriks SWOT dengan pendekatan kuantitatif diketahui bahwa usaha baglog Alas Jamur berada pada kuadran I, sehingga dalam Matriks SWOT pendekatan kualitatif strategi yang dirumuskan adalah SO. Perumusan strategi dengan menyesuaikan posisi usaha ini akan menghasilkan alternatif strategi yang sesuai dengan keadaan usaha. Hasil Analisis Matriks SWOT pendekatan kualitatif sebagai berikut:

Tabel 6 Matriks SWOT Pendekatan Kualitatif Usaha Baglog Jamur Pada Alas Jamur

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

Faktor internal 1. Komunikasi yang baik antara pemilik dengan karyawan

1. Adanya jabatan rangkap pemilik dalam struktur organisasi tenaga kerja 2. Pembukuan dilakukan secara tertib 2. Proses produksi masih sederhana

3. Kualitas produk baik 3. Modal masih meminjam dari pihak eksternal 4. Harga terjangkau 4. Promosi dan periklanan masih minim 5. Pelayanan purna jual yang baik 5. Belum ada program peningkatan mutu SDM

Faktor eksternal 6. Sistem pembayaran sangat mudah

7. Tenaga kerja terpercaya

Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O

1. Perkembangan ekonomi masyarakat baik

1. Melakukan promosi penjualan dan periklanan produk melalui online disertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi (S3,S4,S5, S6,O1,O2,O5,O7)

2. Mempertahankan dan meningkatkan kualitas baglog (S1, S3, S7, O4, O5, O6, O7)

3. Produsen bekerjasama dengan pengusaha baglog lainnya untuk memenuhi permintaan pasar (S3, S4, O2, O7)

2. Penetapan Kampung Jamur Polokarto 3. Adanya pelatihan dan pembinaan dari

Pemerintah

4. Mendapat respon yang baik dari masyarakat

5. Perkembangan tekonolgi pesat 6. Terjadi hubungan yang baik antara

produsen dan pemasok 7. Permintaan konsumen semakin

meningkat

Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T

1. Harga alat-alat produksi semakin mahal 2. Harga bahan baku utama semakin tinggi 3. Tuntutan konsumen semakin tinggi 4. Banyaknya usaha sejenis 5. Pesaing sudah melakukan promosi

melalui media online

Sumber : Analisis Data Primer, 2017.

Berdasarkan analisis dengan Matriks SWOT pendekatan kualitatif diatas diperoleh beberapa alternatif strategi yang telah disesuaikan dengan posisi usaha.

Alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk menghadapi persaingan usaha baglog jamur pada Alas Jamur sebagai berikut :

1. Melakukan promosi penjualan dan periklanan produk melalui media online disertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi (S3,S4,S5, S6,O1,O2,O5,O7).

(9)

384 Melakukan promosi penjualan dan periklanan melalui media online disertai pelatihan SDM guna meningkatkan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi petani jamur maupun menarik konsumen baru untuk memulai bisnis budidaya jamur.

Disertainya pelatihan SDM sangat membantu dalam kegiatan promosi karena karyawan yang awalnya gaptek atau gagap teknologi menjadi paham bagaimana mengoperasikan teknologi informasi terutama dalam menggunakan media sosial untuk promosi melalui online. Dengan adanya promosi dan periklanan melalui media sosial diharapkan dapat dijangkau oleh semua kalangan karena saat ini hampir setiap orang memiliki kemudahan dalam mengakses internet. Inti dari promosi ini adalah memperkenalkan dan menginformasikan kepada masyarakat terutama petani jamur bahwa terdapat produk baglog yang tidak kalah bagus dengan produk lainnya. Setelah konsumen mengetahui produk tersebut, diharapkan konsumen akan terpengaruh dan terbujuk sehingga membeli produk baglog tersebut.

2. Mempertahankan dan meningkatkan kualitas baglog (S1, S3, S7, O4, O5, O6, O7).

Produk baglog jamur memiliki kesempatan pasar yang lebih luas karena saat ini banyak masyarakat yang mulai membudidayakan jamur, dimana hasil produksinya menjadi salah satu sumber pemasukan bagi masyarakat. Strategi mempertahankan atau meningkatkan kualitas produk dilakukan Alas Jamur sebagai upaya pemenuhan permintaan baglog yang semakin meningkat.

Kualitas baglog menjadi hal yang penting dalam menjaga kepercayaan konsumen.

Kualitas baglog yang semakin baik akan

menarik pelanggan untuk membeli baglog di Alas Jamur dan konsumen yang sudah menjadi pelanggan akan loyal terhadap produk baglog dari Alas Jamur.

3. Produsen bekerja sama dengan pengusaha baglog lainnya untuk memenuhi permintaan pasar (S3, S4, O2, O7).

Produsen bekerja sama dengan pengusaha baglog lainnya untuk memenuhi permintaan pasar merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan usaha yang sudah ada. Produsen dapat mensubkontrakkan kepada pengusaha baglog lain jika terdapat pesanan dalam jumlah besar dan tidak dapat dipenuhi langsung oleh Alas Jamur. Sebelum melakukan subkontrak ke pengusaha lainnya, Alas Jamur melakukan survey terlebih dahulu kepada pengusaha- pengusaha baglog yang menurutnya dapat untuk diajak bekerja sama.

Pengusaha lain yang akan diajak bekerja sama adalah pengusaha yang memiliki kualitas produk sejenis dan harga produk sama. Selain itu, dalam bekerja sama harus dibuat perjanjian secara tertulis mengenai kedua belah pihak, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan.

Prioritas Strategi Bersaing Usaha Baglog Jamur Pada Alas Jamur

Penentuan prioritas strategi bersaing usaha baglog jamur dapat dilakukan dengan menggunakan Matriks QSP (Quantitative Strategic Planning Matriks) sebagai alat analisis. Analisis alternatif strategi untuk memperoleh prioritas Strategi bersaing usaha baglog jamur pada Alas Jamur dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

(10)

385

Tabel 7. Matriks QSP Usaha Baglog Jamur Pada Alas Jamur

Alternatif Strategi

Faktor-Faktor Kunci Bobot Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3

AS TAS AS TAS AS TAS

Kekuatan

1. Komunikasi yang baik antara pemiliki dengan

karyawan 0,0684 3 0,2052 4 0,2736 2 0,1368

2. Pembukuan dilakukan secara tertib 0,0732 4 0,2928 2 0,1464 3 0,2196

3. Kualitas produk baik 0,1206 3 0,3617 4 0,4822 2 0,2411

4. Harga terjangkau 0,0929 4 0,3718 3 0,2788 2 0,1859

5. Pelayanan purna jual yang baik 0,0910 3 0,2730 4 0,3640 2 0,1820

6. Sistem pembayaran sangat mudah 0,0804 3 0,2411 2 0,1607 1 0,0804

7. Tenaga kerja terpercaya 0,0569 2 0,1137 3 0,1706 1 0,0569

Kelemahan

1. Adanya jabatan rangkap pemilik dalam

struktur organisasi tata kerja 0,0832 2 0,1665 1 0,0832 3 0,2497

2. Proses produksi masih sederhana 0,0727 2 0,1454 3 0,2180 1 0,0727

3. Modal masih meminjam dari pihak eksternal 0,0792 4 0,3166 2 0,1583 3 0,2375

4. Promosi dan periklanan masih minim 0,1048 4 0,4193 2 0,2097 3 0,3145

5. Belum ada program peningkatan mutu

sumberdaya manusia (SDM) 0,0768 4 0,3070 3 0,2303 2 0,1535

Jumlah 1 3,2141 2,7759 2,1305

Peluang

1. Perkembangan ekonomi masyarakat baik 0,0836 3 0,2507 2 0,1671 4 0,3343

2. Penetapan Kampung Jamur Polokarto 0,0798 3 0,2395 2 0,1597 4 0,3193

3. Pelatihan dan pembinaan dari Pemerintah 0,0825 2 0,1650 3 0,2475 4 0,3300

4. Mendapat respon yang baik dari masyarakat 0,1021 4 0,4086 2 0,2043 3 0,3064

5. Perkembangan tekonolgi pesat 0,0700 4 0,2799 3 0,2099 2 0,1400

6. Terjadi hubungan yang baik antara produsen

dan pemasok 0,0719 3 0,2158 2 0,1439 1 0,0719

7. Permintaan konsumen semakin meningkat 0,0934 4 0,3735 2 0,1867 3 0,2801

Ancaman

1. Harga alat-alat produksi semakin tinggi 0,0765 1 0,0765 2 0,1529 3 0,2294

2. Harga bahan baku utama terus naik 0,0704 4 0,2816 3 0,2112 2 0,1408

3. Tuntutan konsumen semakin tinggi 0,0996 3 0,2988 4 0,3984 2 0,1992

4. Banyaknya usaha sejenis 0,0819 4 0,3277 3 0,2458 2 0,1638

5. Pesaing sudah melakukan promosi melalui

media online 0,0883 4 0,3531 3 0,2649 2 0,1766

Jumlah 3,2707 2,5923 2,6919

Total 6,4848 5,3682 4,8224

Sumber : Analisis Data Primer, 2017.

Berdasarkan Tabel 7 diperoleh strategi terbaik yang dapat diterapkan dalam menghadapi persaingan usaha baglog jamur pada Alas Jamur Strategi I yaitu melakukan promosi penjualan dan periklanan produk melalui media online disertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi dengan nilai STAS 6,4848. Selain strategi tersebut, strategi lain yang dapat dilakukan adalah Strategi II merupakan mempertahankan dan meningkatkan kualitas baglog dengan nilai STAS5,3682. Selain strategi II, ada Strategi III yaitu Produsen bekerja sama dengan

pengusaha baglog lainnya untuk memenuhi permintaan pasar dengan nilai STAS 4,8224.

Strategi melakukan promosi penjualan serta periklanan produk melalui media online disertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi diharapkan dapat menarik konsumen baru, memperluas pasar dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk sehingga penjualan produk di Alas Jamur meningkat.

Peningkatan penjualan ini akan berdampak positif pada pendapatan yang diterima oleh Alas Jamur.

(11)

386 SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian strategi bersaing usaha baglog jamur pada Alas Jamur, Posisi bersaing usaha baglog jamur pada Alas Jamur menempati posisi pertama dibandingkan dengan usaha baglog jamur lainnya dengan total skor usaha sebesar 3,350. Kondisi internal usaha yang menjadi kekuatan Alas Jamur adalah komunikasi yang baik antara pemiliki dengan karyawan, pembukuan dilakukan secara tertib, kualitas produk baik, harga terjangkau, pelayanan purna jual yang baik, sistem pembayaran sangat mudah, tenaga kerja terpercaya.

Sedangkan faktor internal yang menjadi kelemahannya adalah adanya jabatan rangkap pemilik dalam struktur organisasi tata kerja, proses produksi masih sederhana, modal masih meminjam dari pihak ekternal, promosi dan periklanan masih minim, belum ada program peningkatan mutu SDM.

Kondisi eksternal yang menjadi peluang bagi usaha Alas Jamur adalah perkembangan ekonomi masyarakat baik, penetapan kampung jamur polokarto, pelatihan dan pembinaan dari pemerintah, mendapat respon yang baik dari masyarakat, perkembangan tekonolgi pesat, terjadi hubungan yang baik antara produsen dan pemasok, permintaan konsumen semakin meningkat. Sedangkan kondisi eksternal yang menjadi ancamannya adalah harga alat- alat produksi semakin tinggi, harga bahan baku utama semakin tinggi, tuntutan konsumen semakin tinggi, banyaknya usaha sejenis, pesaing sudah melakukan promosi melalui media online.

Berdasarkan matriks SWOT pendekatan kuantitatif perusahaan berada pada kuadran I yaitu progresif. Alternatif strategi yang dapat dirumuskan adalah Melakukan promosi penjualan dan periklanan produk melalui media online disertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi, mempertahankan dan

meningkatkan kualitas baglog, dan produsen bekerja sama dengan pengusaha baglog lainnya untuk memenuhi permintaan pasar.

Prioritas strategi yang sebaiknya dilakukan pada usaha media tanam (baglog) jamur pada Alas Jamur adalah Melakukan promosi penjualan dan periklanan produk melalui online disertai pelatihan SDM guna meningkatakan mutu SDM untuk memperlancar kegiatan promosi dengan nilai total TAS sebesar 6,4848.

Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah Mempertahankan keunggulan bersaing dengan membuat standar operasional usaha secara tertulis termasuk didalamnya faktor penentu keberhasilan usaha dan menerapkan standar operasional sehingga mempunyai acuan dalam menjalankan usaha, memilih media promosi dan periklanan online yang paling efektif digunakan seperti facebook, blog, dan instagram. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya menggunakan baglog dalam kondisi yang sama terutama jumlah miselium merambat.

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2003. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grapindo Persada.

David, Fred R. 2011. Konsep Manajemen Stategis. Edisi Ke Duabelas. Versi Bahasa Indonesia. Jakarta : Salemba Empat.

Marlina, Nunung D., Abbas Siregar D. 2001.

Budidaya Jamur Kuping Pembibitan dan Pemeliharaan. Yogyakarta : Kanisius.

Pearce, J.A. dan Robinson, R.B. 2013.

Manajemen Strategis Formulasi, Implementasi, dan Pengendalian.

Jakarta : Salemba Empat.

Setyawati, Tutik. 2011. Analisis Biaya Dan Pendapatan Industri Benih (Bag Log) Jamur Tiram Putih (Pleurotus Astreatus Strain Florida) Di

(12)

387 Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur.

Sumarni, Yohana I., Cahyo Saparinto. 2010.

Usaha 6 Jenis Jamur Skala Rumah Tangga. Bogor : Penebar Swadaya.

Yannopoulos, Peter. 2011. Defensive and Offensive Strategies for Market Success. International Journal of Business and Social Science, Vol. 2 No. 13.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, menurut Arista dan Astuti (2011) berpendapat bahwa suatu kepercayaan konsumen terhadapproduk jelas mempengaruhi niat pembelian, karena konsumen memiliki

Hal tersebut karena realisasi bahan baku yang disediakan PG Madukismo seringkali belum memenuhi target yang ditentukan oleh perusahaan.Oleh karena itu,penelitian ini

Hal tersebut berarti target pemerintah dalam program P2KP diaplikasikan sungguh-sungguh secara baik oleh kelompok wanita tani di Kecamatan Nguter (3) Faktor

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis faktor internal bertujuan untuk mengidentifikasi faktor- faktor internal kunci yang menjadi kekuatan dan kelemahan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prioritas strategi yang dapat diterapkan adalah; (1) Meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar, (2) Meningkatkan

Metode analisis dilakukan dengan Material Requirement Planning yang memerlukan beberapa masukan yaitu jadwal induk produksi yang dirumuskan dari angket pesanan pelanggan,

Hasil perhitungan angka pengganda tenaga kerja sektor pertanian di Kabupaten Klaten dalam kurun waktu 2011-2015 fluktuatif dengan nilai rata-rata 1,25 yang artinya

Quantitative Strategic Planning Matrix Pengembangan Usaha Klaster Jamur di Kabupaten Sukoharjo 2022 Alternatif Strategi Faktor-faktor Kunci Bobot Faktor Internal Strategi I