• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jakarta, 21 Juni Prof. Joas Adiprasetya, Th.D.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jakarta, 21 Juni Prof. Joas Adiprasetya, Th.D."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

LAPORAN PENUNJANG MENJADI KETUA KOMITE ETIK

Semester Genap 2021

Berdasarkan Surat Pengangkatan Ketua STFT Jakarta Nomor 047/Ketua/III/2021 tanggal 3 Maret 2021, saya menjalankan tugas sebagai Ketua Komite Etik STFT Jakarta mulai Semester Genap 2021. Komite yang beranggotakan 9 orang ini terdiri atas semua profesor, sebagai wakil dosen, perwakilan karyawan, dan perwakilan mahasiswa. Tugas pertama yang direncanakan selesai pada akhir semester ini adalah merumuskan kode-kode etik bagi dosen, mahasiswa, dan karyawan. Pertemuan yang dilakukan secara virtual melalui Zoom terjadi sebulan sekali atau dua kali. Sejauh ini telah terlihat hasil kerja yang

memuaskan. Draft akhir Kode Etik telah mencapai tahap akhir dan siap untuk disampaikan kepada senat dosen untuk disahkan. Demikian laporan yang dapat saya sampaikan.

Jakarta, 21 Juni 2021

Prof. Joas Adiprasetya, Th.D.

(4)

KODE ETIK

SEKOLAH TINGGI FILSAFAT THEOLOGI JAKARTA

(5)

KETENTUAN UMUM

BAB I DEFINISI

Pasal 1 Definisi

1. Kode Etik adalah aturan tertulis yang ditetapkan oleh STFT Jakarta bagi setiap anggota sivitas akademika (mahasiswa, dosen, dan karyawan) STFT Jakarta sebagai pedoman berpikir, bertindak, dan berperilaku dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya;

2. Sivitas Akademika adalah masyarakat akademik yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan karyawan; di dalam Kode Etik ini, sivitas akademika menunjuk pada mahasiswa, dosen, dan karyawan;

3. Mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi;

4. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan di lingkungan STFT Jakarta dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, menyebarluaskan, dan mentransfer ilmu teologi melalui pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat;

yang tergolong ke dalam dosen di dalam Kode Etik ini adalah Dosen Tetap dan Dosen Tidak Tetap;

5. Karyawan adalah mereka yang diterima bekerja di STFT Jakarta setelah memenuhi syarat- syarat yang ditentukan yang diserahi tugas dan tanggung jawab dalam pekerjaan di lingkungan STFT Jakarta dan diberi upah sesuai dengan peraturan yang berlaku; yang tergolong ke dalam karyawan di dalam Kode Etik ini adalah tenaga kependidikan dan non- kependidikan;

6. Ketua adalah pemimpin tertinggi di lingkungan STFT Jakarta;

7. Tim Pemimpin ialah para pejabat yang diangkat oleh pengurus Yayasan LPTTI untuk memimpin STFT Jakarta, yang dikepalai oleh Ketua dan dibantu oleh Wakil-wakil Ketua dan Formator Spiritual Ekumenis;

8. Komite Etik adalah badan yang diangkat oleh Ketua STFT Jakarta, yang bertugas dan berwenang mengawasi pelaksanaan Kode Etik, menerima dan memeriksa pengaduan pelanggaran Kode Etik, dan menyerahkan hasilnya kepada Tim Pemimpin untuk diselesaikan serta diberikan sanksi sesuai dengan Ketentuan Peraturan yang berlaku (selengkapnya lihat Tata Kerja Komite Etik);

9. Hak adalah segala sesuatu yang seharusnya diterima oleh seseorang (mahasiswa, dosen, atau karyawan) sesuai dengan peraturan yang berlaku di dalam lingkungan STFT Jakarta;

10. Kewajiban adalah segala sesuatu yang harus dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab oleh seseorang (mahasiswa, dosen, atau karyawan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

11. Larangan adalah segala perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang (mahasiswa, dosen, atau karyawan);

12. Pelanggaran adalah setiap perkataan, sikap, dan perilaku yang bertentangan dengan Kode Etik ini dan dengan ketentuan yang berlaku;

13. Sanksi adalah tindakan atau hukuman yang diberikan kepada seseorang (mahasiswa, dosen, atau karyawan) yang melanggar Kode Etik yang berlaku;

(6)

14. Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas yang meliputi pemberian uang, barang, komisi, pinjaman tanpa bunga, dan fasilitas lainnya yang diberikan atau diterima berhubungan dengan jabatan dan menimbulkan konflik kepentingan atau penyalahgunaan wewenang;

15. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh sivitas akademika untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar seorang mahasiswa secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, gereja, masyarakat, bangsa dan negara;

16. Pengajaran adalah pengembangan penalaran mahasiswa untuk mendalami kaidah-kaidah keilmuan sebagai pelaksanaan tugas fungsional dosen yang terdiri dari pemilihan dan pengorganisasian materi, pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan penilaian proses serta hasil pembelajaran, sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan dan yang berlaku;

17. Penelitian adalah kegiatan telaah ilmiah yang dilakukan oleh sivitas akademika dalam upaya menemukan kebenaran dan/atau menyelesaikan masalah ilmu teologi dan/atau kesenian demi menyelesaikan masalah teologi dan sosial-keagamaan;

18. Pengabdian kepada masyarakat adalah pengamalan ilmu teologi yang dilakukan oleh sivitas akademika secara kelembagaan bagi masyarakat yang membutuhkan upaya pemberdayaan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia guna memperbaiki kualitas hidup.

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2

Maksud

1. Kode Etik ini dimaksudkan sebagai pedoman dasar bagi anggota sivitas akademika (mahasiswa, dosen, dan karyawan) untuk bersikap, berkata, dan berperilaku di lingkungan STFT Jakarta, terkait dengan kewajiban, hak, larangan, serta sanksi dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya;

2. Kode Etik mahasiswa ini dimaksudkan sebagai landasan bagi Tim Pemimpin STFT Jakarta, berdasarkan pertimbangan dari Komite Etik, untuk mengambil kebijakan terkait pelaksanaan tugas dan kewajiban anggota sivitas akademika (mahasiswa, dosen, dan karyawan).

Pasal 3 Tujuan

Kode Etik ini bertujuan untuk:

1. Membina dan membentuk sikap dan perilaku anggota sivitas akademika (mahasiswa, dosen, dan karyawan) STFT Jakarta di bidang akademis, spiritual, dan praktik hidup;

2. Memelihara harkat, martabat, dan kewibawaan nama baik STFT Jakarta sesuai dengan nilai- nilai yang dianutnya;

3. Menciptakan suasana yang kondusif dalam proses belajar-mengajar di STFT Jakarta;

4. Meningkatkan mutu pendidikan (bagi mahasiswa dan dosen) dan mutu kerja-layan (bagi karyawan) di lingkungan STFT Jakarta.

(7)

BAB III

DASAR, ACUAN, DAN NILAI Pasal 4

Dasar dan Acuan

1. Ajaran dan Kebenaran Kristiani sebagaimana terdapat di dalam Alkitab;

2. Undang-undang nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;

3. Statuta STFT Jakarta, terutama Bab XIV, Kode Etik, Penghargaan, dan Sanksi; Pasal 57: Kode Etik;

4. Surat Keputusan Ketua STFT Jakarta no. 047/ Ketua/III/2021 ttgl. 03 Maret 2021 tentang pembentukan dan pengangkatan Komite Etik STFT Jakarta, serta tentang Kode Etik STFT Jakarta;

5. Peraturan STFT Jakarta tentang Mahasiswa;

6. Peraturan STFT Jakarta tentang Dosen;

7. Peraturan STFT Jakarta tentang Karyawan;

8. Pedoman Anti-Kekerasan STFT Jakarta.

Pasal 5

Nilai-nilai yang Dianut dan Ditegakkan

1. Sesuai dengan yang dimuat dalam Statuta STFT Jakarta (Bab II, Pasal 3: Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran STFT Jakarta; dan Bab XIV, Pasal 57), nilai-nilai yang dianut dalam rangka memberlakukan dan menerapkan Kode Etik STFT Jakarta ini adalah: Kedewasaan Spiritual, Kontekstualitas, Profesionalitas dan Akuntabilitas, Ekumenisitas, Keterbukaan, Kesetaraan, Kejujuran, Inklusivitas, Penghargaan atas Harkat dan Martabat Kemanusiaan, Anti- Kekerasan, Kebebasan Berpendapat, dan Kelestarian Lingkungan Hidup.

2. Sejalan dengan itu, juga sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah dan dasar Negara RI, Pancasila, yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang adil dan beradab;

Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(8)

BAGIAN SATU

KODE ETIK MAHASISWA

BAB I

HAK, KEWAJIBAN, DAN LARANGAN Pasal 1

Hak

Mahasiswa berhak untuk:

1. Mendapat pelayanan akademik, administratif, dan spiritual-psikologis yang memadai;

2. Menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan secara bertanggung jawab;

3. Mengikuti kegiatan kampus yang bersifat umum maupun yang sesuai dengan tugasnya sebagai mahasiswa;

4. Menyuarakan pendapat dan kebebasan akademis secara santun, damai, bertanggung jawab, dengan tetap menghormati hak-hak orang lain;

5. Memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi studinya;

6. Memperoleh kesempatan yang sama dan perlakukan yang adil, termasuk pelayanan bagi yang berkebutuhan khusus;

7. Memperoleh perlindungan dan rasa aman dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;

8. Memiliki kebebasan untuk berpartisipasi dalam organisasi kemahasiswaan;

9. Mengundurkan diri sebagai mahasiswa STFT Jakarta.

Pasal 2 Kewajiban

Mahasiwa memiliki kewajiban untuk:

1. Menjunjung tinggi kewibawaan dan nama baik STFT Jakarta;

2. Mengutamakan kepentingan STFT Jakarta dan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau golongan;

3. Mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran STFT Jakarta sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya;

4. Memelihara suasana kekeluargaan yang akrab dan harmonis dengan semua anggota sivitas akademika STFT Jakarta demi mewujudkan suasana kerja yang kondusif;

5. Menghargai dan menghormati orang lain tanpa membedakan suku, kondisi disabilitasnya, agama, ras, gender dan seksualitas, dan status sosial;

6. Memiliki sikap anti-kekerasan dan mempraktikkan nilai kehidupan nir-kekerasan (lihat Pedoman Anti-Kekerasan STFT Jakarta);

7. Memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban, dan keamanan STFT Jakarta;

8. Mematuhi semua peraturan dan tata tertib yang berlaku di STFT Jakarta;

9. Bersikap terbuka dan menjunjung tinggi kejujuran akademik;

10. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan.

Pasal 3

Larangan

Mahasiswa dilarang untuk:

(9)

1. Melakukan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan kehormatan, mencemarkan nama baik dan martabat STFT Jakarta beserta seluruh sivitas akademika STFT Jakarta, serta mengganggu proses pendidikan, keamanan, kenyamanan, dan ketertiban kampus.

2. Berperilaku yang tidak pantas dalam kehidupan bersama sebagai sivitas akademika;

3. Melakukan kekerasan fisik, seksual, emosional, spiritual, verbal, dan tulisan, baik secara luring (offline) maupun daring (online), sesuai dengan Pedoman Anti-Kekerasan yang berlaku;

4. Melakukan perbuatan atau tindakan yang menimbulkan keonaran, keributan, kegaduhan, pertengkaran, dan/atau perkelahian yang mengakibatkan ketidaktenteraman dan ketidaktertiban di lingkungan STFT Jakarta;

5. Melakukan tindakan ceroboh dan kelalaian yang mengakibatkan kerugian material dan moril bagi STFT Jakarta;

6. Menjual dan/atau mengonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang;

7. Melakukan kecurangan akademik dalam bentuk plagiarisme dan bentuk-bentuk pemalsuan yang berkaitan dengan tugas perkuliahan;

8. Menggantikan orang lain dalam melakukan tugas-tugas akademik atas permintaan orang lain tersebut ataupun atas kehendak pribadi;

9. Melakukan tindakan penyuapan dalam bentuk bujukan, pemberian gratifikasi, atau ancaman yang dapat memengaruhi penilaian secara akademis;

10. Menyalahgunakan, merusak sarana-prasarana, menggelapkan, mencuri barang-barang, uang, surat-surat berharga, dan/atau dokumen milik STFT Jakarta;

11. Melakukan tindakan pemaksaan ideologi tertentu, yang menghalangi kebebasan berpendapat;

12. Mengedarkan literatur atau video yang berbau pornografi, melakukan tindakan pornoaksi, berzinah, dan melakukan tindakan asusila;

13. Terlibat dalam kegiatan terorisme dan/atau organisasi-organisasi terlarang;

14. Membocorkan dan/atau memanfaatkan rahasia STFT Jakarta untuk kepentingan atau keuntungan pri-badi, golongan, dan/atau pihak lain.

BAB II

PELANGGARAN DAN SANKSI Pasal 4

Pelanggaran

1. Pelanggaran ringan adalah pelanggaran Kode Etik yang masih dapat dibina oleh STFT Jakarta;

2. Pelanggaran sedang adalah pelanggaran Kode Etik yang masih dapat dibina oleh STFT Jakarta, meskipun telah menimbulkan kerugian yang melebihi pelanggaran ringan;

3. Pelanggaran berat adalah pelanggaran Kode Etik yang tidak dapat dibina oleh STFT Jakarta.

4. Sanksi atas setiap kategori pelanggaran ini diatur pada Pasal 5.

Pasal 5

Sanksi

(10)

a. Sanksi ringan berupa teguran lisan atau tertulis, dan penggantian kerugian yang ditimbulkan;

b. Sanksi sedang berupa pembatal-an nilai akademik, penundaan pemberian ijazah, atau larangan mengikuti kuliah dalam jangka waktu tertentu;

c. Sanksi berat berupa pencabutan hak sebagai mahasiswa (drop out) dan/atau dilaporkan kepada pihak yang berwajib jika menyangkut pelanggaran hukum pidana.

3. Panduan sanksi pada ayat 2 di atas tidak berlaku secara mutlak. Tim Pemimpin, dengan pertimbangan dari Komite Etik, dapat menjatuhkan sanksi yang berbeda berdasarkan diskresi bersama.

BAB III

PIHAK YANG BERWENANG MENETAPKAN SANKSI DAN TATA CARA PENJATUHAN SANKSI

Pasal 6

Pihak yang Berwenang Menetapkan Sanksi

Pihak yang berwenang menetapkan sanksi kepada mahasiswa adalah:

1. Wakil-wakil Ketua terkait sanksi ringan;

2. Tim Pemimpin STFT Jakarta untuk sanksi sedang;

3. Senat Dosen STFT Jakarta untuk sanksi berat.

Pasal 7

Tata Cara Penjatuhan Sanksi

1. Wakil Ketua bidang kemahasiswaan menjatuhkan sanksi ringan berdasarkan temuan pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa dan rekomendasi dari Komite Etik STFT Jakarta;

2. Tim Pemimpin STFT Jakarta menjatuhkan sanksi sedang berdasarkan laporan Wakil Ketua bidang kemahasiswaan dan rekomendasi dari Komite Etik STFT Jakarta, yang ditetapkan dalam rapat Tim Pemimpin STFT Jakarta. Keputusan ditetapkan dengan surat keputusan dengan memberikan tembusan kepada mahasiswa dan orangtua/wali mahasiswa;

3. Senat Dosen STFT Jakarta menjatuhkan sanksi berat berdasarkan laporan Tim Pemimpin, Wakil Ketua bidang kemahasiswaan dan rekomendasi dari Komite Etik STFT Jakarta, yang ditetapkan dalam rapat Senat Dosen STFT Jakarta. Keputusan ditetapkan dengan surat keputusan dengan memberikan tembusan kepada mahasiswa dan orangtua/wali mahasiswa.

BAB IV

PERLINDUNGAN SAKSI-PELAPOR, PEMBELAAN DIRI, DAN REHABILITASI Pasal 8

Perlindungan Saksi-Pelapor

Saksi-pelapor berhak mendapat perlindungan, keamanan, dan keselamatan dari STFT Jakarta.

(11)

Pasal 9 Pembelaan Diri

Mahasiswa yang dinyatakan melanggar Kode Etik dapat mengajukan pembelaan diri jika kesalahan/pelanggaran yang didakwakan menurut yang bersangkutan tidak benar, atau sanksi yang dijatuhkan dipandang yang bersangkutan tidak sesuai dengan asas keadilan.

Pasal 10 Rehabilitasi

1. Rehabilitasi diberikan kepada mahasiswa yang tidak terbukti melakukan pelanggaran, baik dalam proses investigasi, dalam pembelaan diri, maupun setelah dijatuhi sanksi namun di kemudian hari ditemukan bukti-bukti yang sah bahwa yang bersangkutan tidak melakukan pelanggaran.

2. Rehabilitasi yang diberikan terhadap mahasiswa yang tidak terbukti melakukan pelanggaran dapat diumumkan kepada seluruh sivitas akademika.

(12)

BAGIAN DUA KODE ETIK DOSEN

BAB I

HAK, KEWAJIBAN, DAN LARANGAN Pasal 1

Hak

Dosen berhak untuk:

1. Memperoleh penghasilan dan jaminan sosial dalam rangka pelaksanaan tugas;

2. Menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan secara bertanggung jawab;

3. Mengikuti kegiatan kampus yang bersifat umum maupun khusus sesuai dengan tugasnya sebagai dosen;

4. Menyuarakan pendapat dan kebebasan akademis secara santun, damai, bertanggung jawab, dengan tetap menghormati hak-hak orang lain;

5. Memperoleh penghargaan sesuai dengan darma baktinya;

6. Memperoleh kesempatan yang sama dan perlakukan yang adil, termasuk pelayanan bagi yang berkebutuhan khusus;

7. Memperoleh perlindungan dan rasa aman dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;

8. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi/organisasi profesi keilmuan;

9. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi akademik dan/atau memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya;

10. Bagi dosen tetap, mendapat cuti tahunan, termasuk cuti sabatikal dan cuti melahirkan;

11. Memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan menentukan kelulusan mahasiswa;

12. Mengajar di perguruan tinggi lain sebagai dosen tamu dengan izin dari Wakil Ketua I bidang Akademik;

13. Mengundurkan diri sebagai dosen STFT Jakarta.

Pasal 2 Kewajiban

Dosen memiliki kewajiban untuk:

1. Menjunjung tinggi kewibawaan dan nama baik STFT Jakarta;

2. Mengutamakan kepentingan STFT Jakarta dan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau golongan;

3. Mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran STFT Jakarta sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya;

4. Memelihara suasana kekeluargaan yang akrab dan harmonis dengan semua anggota sivitas akademika STFT Jakarta demi mewujudkan suasana kerja yang kondusif;

5. Menghargai dan menghormati orang lain tanpa membedakan suku, kondisi disabilitasnya, agama, ras, gender dan seksualitas, dan status sosial;

6. Memiliki sikap anti-kekerasan dan mempraktikkan nilai kehidupan nir-kekerasan (lihat Pedoman Anti-Kekerasan STFT Jakarta);

7. Memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban, dan keamanan STFT Jakarta;

8. Mematuhi semua peraturan dan tata tertib yang berlaku di STFT Jakarta;

(13)

9. Mengusahakan tercapainya tujuan STFT Jakarta yang diwujudkan dalam pekerjaan yang dilakukan secara konkret sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dipikul berdasarkan Tridharma Perguruan Tinggi (lihat UU Pendidikan Tinggi No. 12 Bab 2 paragraf 3, Pasal 12, dan Statuta STFT Jakarta Bab IV Pasal 10);

10. Menaati semua peraturan dosen STFT Jakarta dan bersedia mengikuti semua kebijakan yang ditetapkan oleh Tim Pemimpin STFT Jakarta dan Yayasan LPTTI dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab;

11. Menyimpan rahasia jabatan;

12. Mengikuti pembinaan dan pengembangan dosen serta formasi spiritual-ekumenis melalui program Faculty Development Plan;

13. Menjaga dan mengembangkan kolegialitas antardosen;

14. Memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan oleh STFT Jakarta;

15. Menegakkan integritas keilmuan, kejujuran, objektivitas, keadilan, dan sikap apresiatif terhadap anggota sivitas akademika lainnya;

16. Menegakkan Kode Etik serta semua tata tertib yang berlaku bagi mahasiswa;

17. Mengikuti dan berpartisipasi dalam rapat senat dosen dan acara-acara resmi STFT Jakarta.

Pasal 3 Larangan

Dosen dilarang untuk:

1. Melakukan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan kehormatan, mencemarkan nama baik dan martabat STFT Jakarta beserta seluruh sivitas akademika STFT Jakarta, serta mengganggu proses pendidikan, keamanan, kenyamanan, dan ketertiban kampus;

2. Berperilaku yang tidak pantas dalam kehidupan bersama sebagai sivitas akademika;

3. Melakukan kekerasan fisik, seksual, emosional, spiritual, verbal, dan tulisan, baik secara luring (offline) maupun daring (online), sesuai dengan Pedoman Anti-Kekerasan yang berlaku;

4. Melakukan perbuatan atau tindakan yang menimbulkan keonaran, keributan, kegaduhan, pertengkaran, dan/atau perkelahian yang mengakibatkan ketidaktenteraman dan ketidaktertiban di lingkungan STFT Jakarta;

5. Melakukan tindakan ceroboh dan kelalaian yang mengakibatkan kerugian material dan moril bagi STFT Jakarta;

6. Menjual dan/atau mengonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang;

7. Melakukan kecurangan akademik dalam bentuk plagiarisme dan bentuk-bentuk pemalsuan dalam pelaksanaan Tridharma;

8. Mengalihkan kewajiban untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, antara lain dengan melakukan kegiatan bersama dengan orang lain di dalam maupun di luar lingkungan STFT Jakarta, yang bertujuan untuk mendapat keuntungan pribadi atau golongan maupun pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan negara dan STFT Jakarta;

9. Menyalahgunakan jabatan atau wewenang yang berkaitan dengan tugas pekerjaan, antara lain berupa sogokan, komisi, pungutan-pungutan tidak sah, serta menerima gratifikasi;

10. Menyalahgunakan, merusak sarana-prasarana, menggelapkan, mencuri barang-barang, uang, surat-surat berharga, dan/atau dokumen milik STFT Jakarta;

(14)

12. Mengedarkan literatur atau video yang berbau pornografi, melakukan tindakan pornoaksi, berzinah, dan melakukan tindakan asusila;

13. Terlibat dalam kegiatan terorisme dan/atau organisasi terlarang;

14. Membocorkan dan/atau memanfaatkan rahasia STFT Jakarta untuk kepentingan atau keuntungan pribadi, golongan, dan/atau pihak lain;

15. Menjalin hubungan asmara dengan mahasiswa.

BAB II

PELANGGARAN DAN SANKSI Pasal 4

Pelanggaran

1. Pelanggaran ringan adalah pelanggaran Kode Etik yang masih dapat dibina oleh STFT Jakarta;

2. Pelanggaran sedang adalah pelanggaran Kode Etik yang masih dapat dibina oleh STFT Jakarta, meskipun telah menimbulkan kerugian yang melebihi pelanggaran ringan;

3. Pelanggaran berat adalah pelanggaran Kode Etik yang tidak dapat dibina oleh STFT Jakarta.

4. Sanksi atas setiap kategori pelanggaran ini diatur pada Pasal 5.

Pasal 5 Sanksi

1. Sanksi diberikan kepada dosen yang melanggar Kode Etik;

2. Sanksi terdiri atas:

a. Sanksi ringan berupa teguran lisan atau tertulis, dan penggantiuan kerugian yang ditimbulkan;

b. Sanksi sedang berupa pencabutan hak-hak mengikuti kegiatan-kegiatan dalam jangka waktu tertentu serta pencabutan hak-hak mendapat tugas Tridharma Perguruan Tinggi;

c. Sanksi berat berupa pemberhentian dengan tidak hormat sebagai dosen atas dasar rekomendasi Tim Pemimpin STFT Jakarta dan/atau dilaporkan kepada pihak yang berwajib jika menyangkut pelanggaran hukum pidana.

3. Panduan sanksi pada ayat 2 di atas tidak berlaku secara mutlak. Tim Pemimpin, dengan pertimbangan dari Komite Etik, dapat menjatuhkan sanksi yang berbeda berdasarkan diskresi bersama.

BAB III

PIHAK YANG BERWENANG MENETAPKAN SANKSI DAN TATA CARA PENJATUHAN SANKSI

Pasal 6

Pihak yang Berwenang Menetapkan Sanksi

Pihak yang berwenang menetapkan sanksi kepada dosen adalah:

1. Rapat Senat Dosen STFT Jakarta untuk sanksi ringan;

2. Rapat Senat Dosen STFT Jakarta untuk sanksi sedang;

(15)

3. Pengurus Yayasan LPTTI untuk sanksi berat berdasarkan rekomendasi Rapat Senat Dosen STFT Jakarta.

Pasal 7

Tata Cara Penjatuhan Sanksi

Sanksi dijatuhkan oleh pihak yang berwenang berdasarkan rekomendasi dari Komite Etik STFT Jakarta setelah melakukan investigasi dan diskresi sesuai dengan bukti dan temuan pelanggaran yang dilakukan dosen.

BAB IV

PERLINDUNGAN SAKSI-PELAPOR, PEMBELAAN DIRI, DAN REHABILITASI Pasal 8

Perlindungan Saksi-Pelapor

Saksi-pelapor berhak mendapat perlindungan, keamanan, dan keselamatan dari STFT Jakarta.

Pasal 9 Pelapor

Pelapor dapat menyampaikan temuan terkait pelanggaran, kepada Komite Etik STFT Jakarta dengan menyertakan bukti-bukti yang kuat.

Pasal 10 Pembelaan Diri

Dosen yang dinyatakan melanggar Kode Etik dapat mengajukan pembelaan diri jika kesalahan/

pelanggaran yang didakwakan menurut yang bersangkutan tidak benar, atau sanksi yang dijatuhkan dipandang yang bersangkutan tidak sesuai dengan asas keadilan.

Pasal 11 Rehabilitasi

1. Rehabilitasi diberikan kepada dosen yang tidak terbukti melakukan pelanggaran, baik dalam proses investigasi, dalam pembelaan diri, maupun setelah dijatuhi sanksi;

2. Rehabilitasi yang diberikan terhadap dosen yang tidak terbukti melakukan pelanggaran dapat diumumkan kepada seluruh sivitas akademika.

(16)

BAGIAN TIGA KODE ETIK KARYAWAN

BAB I

HAK, KEWAJIBAN, DAN LARANGAN Pasal 1

Hak

Karyawan berhak untuk:

1. Memperoleh penghasilan dan jaminan sosial dalam rangka pelaksanaan tugas;

2. Menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas kerja secara bertanggung jawab;

3. Mengikuti kegiatan kampus yang bersifat umum maupun sesuai dengan tugasnya sebagai karyawan;

4. Menyuarakan pendapat secara santun, damai, bertanggung jawab, dengan tetap menghormati hak-hak orang lain;

5. Memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi kerjanya;

6. Memperoleh kesempatan yang sama dan perlakuan yang adil, termasuk pelayanan bagi yang berkebutuhan khusus;

7. Memperoleh perlindungan dan rasa aman dalam melaksanakan tugasnya;

8. Memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi/organisasi profesi keilmuan;

9. Mengundurkan diri sebagai karyawan STFT Jakarta;

10. Memperoleh peningkatan pendidikan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan STFT Jakarta;

11. Memperoleh cuti tahunan dan cuti melahirkan.

Pasal 2 Kewajiban

Karyawan memiliki kewajiban untuk:

1. Menjunjung tinggi kewibawaan dan nama baik STFT Jakarta;

2. Mengutamakan kepentingan STFT Jakarta dan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau golongan;

3. Mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran STFT Jakarta sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya;

4. Memelihara suasana kekeluargaan yang akrab dan harmonis dengan semua anggota sivitas akademika STFT Jakarta demi mewujudkan suasana kerja yang kondusif.

5. Menghargai dan menghormati orang lain tanpa membedakan suku, kondisi disabilitasnya, agama, ras, gender dan seksualitas, dan status sosial;

6. Memiliki sikap anti-kekerasan dan mempraktikkan nilai kehidupan nir-kekerasan (lihat Pedoman Anti-Kekerasan STFT Jakarta);

7. Memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban, dan keamanan STFT Jakarta;

8. Mematuhi semua peraturan dan tata tertib yang berlaku di STFT Jakarta;

9. Mengusahakan tercapainya tujuan STFT Jakarta yang diwujudkan dalam pekerjaan yang dilakukan secara konkret sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dipikul;

(17)

10. Menaati semua peraturan karyawan STFT Jakarta dan bersedia mengikuti semua kebijakan yang ditetapkan oleh Tim Pemimpin STFT Jakarta dan Yayasan LPTTI dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab;

11. Menyimpan rahasia jabatan;

12. Mengikuti pembinaan dan pengembangan karyawan serta formasi spiritual-ekumenis;

13. Menjaga dan mengembangkan kolegialitas antarkaryawan.

Pasal 3 Larangan

Karyawan dilarang untuk:

1. Melakukan tindakan-tindakan yang dapat menurunkan kehormatan, mencemarkan nama baik dan martabat STFT Jakarta beserta seluruh sivitas akademika STFT Jakarta, serta mengganggu proses pendidikan, keamanan, kenyamanan, dan ketertiban kampus;

2. Berperilaku yang tidak pantas dalam kehidupan bersama sebagai sivitas akademika;

3. Melakukan kekerasan fisik, seksual, emosional, spiritual, verbal, dan tulisan, baik secara luring (offline) maupun daring (online), sesuai dengan Pedoman Anti-Kekerasan yang berlaku;

4. Melakukan perbuatan atau tindakan yang menimbulkan keonaran, keributan, kegaduhan, pertengkaran, dan/atau perkelahian yang mengakibatkan ketidaktenteraman dan ketidaktertiban di lingkungan STFT Jakarta;

5. Melakukan tindakan ceroboh dan kelalaian yang mengakibatkan kerugian material dan moril bagi STFT Jakarta;

6. Menjual dan/atau mengonsumsi narkotika dan obat-obatan terlarang;

7. Melakukan kecurangan dan bentuk-bentuk pemalsuan dalam kegiatan operasional pekerjaan;

8. Melakukan tugas rangkap secara penuh waktu di lembaga atau perusahaan lain yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan rangkap, sehingga tugas pokoknya di STFT Jakarta tidak dapat dipenuhi dengan optimal;

9. Menyalahgunakan jabatan atau wewenang yang berkaitan dengan tugas, antara lain berupa sogokan, komisi, pungutan-pungutan tidak sah, serta menerima gratifikasi;

10. Menyalahgunakan, merusak sarana-prasarana, menggelapkan, mencuri barang-barang, uang, surat-surat berharga, dan/atau dokumen milik STFT Jakarta;

11. Melakukan tindakan pemaksaan ideologi tertentu, yang menghalangi kebebasan berpendapat;

12. Mengedarkan literatur atau video yang berbau pronografi, melakukan tindakan pornoaksi, berzinah, dan melakukan tindakan asusila;

13. Terlibat dalam kegiatan terorisme dan/atau organisasi terlarang;

14. Membocorkan dan/atau memanfaatkan rahasia STFT Jakarta untuk kepentingan atau keuntungan pribadi, golongan, dan/atau pihak lain.

BAB II

PELANGGARAN DAN SANKSI

(18)

1. Pelanggaran ringan adalah pelanggaran Kode Etik yang masih dapat dibina oleh STFT Jakarta;

2. Pelanggaran sedang adalah pelanggaran Kode Etik yang masih dapat dibina oleh STFT Jakarta, meskipun telah menimbulkan kerugian yang melebihi pelanggaran ringan;

3. Pelanggaran berat adalah pelanggaran Kode Etik yang tidak dapat dibina oleh STFT Jakarta.

4. Sanksi atas setiap kategori pelanggaran ini diatur pada Pasal 5.

Pasal 5 Sanksi

1. Sanksi diberikan kepada karyawan yang melanggar Kode Etik;

2. Sanksi terdiri atas:

a. Sanksi ringan berupa teguran lisan atau tertulis, dan penggantiuan kerugian yang ditimbulkan;

b. Sanksi sedang berupa penundaan kenaikan upah berkala, penundaan kenaikan pangkat, mutasi, penurunan pangkat, penurunan golongan, pembebasan tugas sementara, dan lain-lain sesuai dengan peraturan tentang karyawan yang berlaku di STFT Jakarta;

c. Sanksi berat berupa pembebasan dari jabatan, pemberhentian dengan hormat atau dengan tidak hormat, dan/atau dilaporkan kepada pihak yang berwajib jika menyangkut pelanggaran hukum pidana.

3. Panduan sanksi pada ayat 2 di atas tidak berlaku secara mutlak. Tim Pemimpin, dengan pertimbangan dari Komite Etik, dapat memberikan sanksi yang berbeda berdasarkan diskresi bersama.

BAB III

PIHAK YANG BERWENANG MENJATUHKAN SANKSI DAN TATA CARA PEMBERIAN SANKSI

Pasal 6

Pihak yang Berwenang Menjatuhkan Sanksi

Pihak yang berwenang menjatuhkan sanksi kepada karyawan adalah:

1. Wakil Ketua bidang Keuangan dan Umum terkait sanksi ringan;

2. Tim Pemimpin STFT Jakarta untuk sanksi sedang;

3. Pengurus Yayasan LPTTI untuk sanksi berat, berdasarkan rekomendasi Tim Pemimpin STFT Jakarta.

Pasal 7

Tata Cara Pemberian Sanksi

1. Teguran Lisan. Teguran lisan yang dijatuhkan kepada seseorang karyawan wajib disampaikan secara tegas.

2. Teguran Tertulis:

a. Teguran tertulis ditetapkan dengan surat keputusan;

b. Dalam surat teguran harus disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan.

3. Penundaan kenaikan upah berkala:

a. Ditetapkan dengan surat keputusan;

(19)

b. Ditetapkan untuk masa sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun;

c. Dalam surat penundaan harus disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan;

d. Masa penundaan kenaikan upah berkala dihitung penuh untuk masa kenaikan upah berkala berikutnya.

4. Penundaan kenaikan pangkat:

a. Ditetapkan dengan surat keputusan;

b. Ditetapkan untuk masa sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan dan untuk masa paling lama 1 (satu) tahun, tehitung mulai tanggal kenaikan pangkat yang bersangkutan;

c. Dalam surat penundaan harus disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan.

5. Pembebasan dari jabatan:

a. Ditetapkan dengan surat keputusan;

b. Dalam surat pembebasan dari jabatan disebutkan pelanggaran yang dilakukan;

c. Selama menjalani hukuman pembebasan dari jabatan, karyawan yang bersangkutan masih tetap menerima penghasilan penuh sebagai karyawan, kecuali tunjangan jabatan;

d. Karyawan yang dijatuhi hukuman, baru dapat diangkat lagi dalam suatu jabatan setelah ia sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun menjalani hukuman.

6. Pemberhentian dengan hormat:

a. Ditetapkan dengan surat keputusan;

b. Diberikan hak-hak kepegawaian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

7. Pemberhentian dengan tidak hormat:

a. Ditetapkan dengan surat keputusan;

b. Tidak diberikan hak-hak kepegawaiannya.

8. Diadukan ke pihak berwajib secara hukum. Apabila seseorang karyawan melakukan tindakan yang melanggar hukum, maka STFT Jakarta akan mengadukan yang bersangkutan ke pihak yang berwajib secara hukum di wilayah kedudukan hukum STFT Jakarta.

BAB IV

PERLINDUNGAN SAKSI-PELAPOR, PEMBELAAN DIRI, DAN REHABILITASI Pasal 8

Perlindungan Saksi-Pelapor

Saksi-pelapor berhak mendapat perlindungan, keamanan, dan keselamatan dari STFT Jakarta.

Pasal 9 Pelapor

Pelapor dapat menyampaikan temuan, terkait pelanggaran, kepada Komite Etik STFT Jakarta dengan menyertakan bukti-bukti yang kuat.

Pasal 10 Pembelaan Diri

Karyawan yang dinyatakan melanggar Kode Etik dapat mengajukan pembelaan diri jika

(20)

Pasal 11 Rehabilitasi

1. Rehabilitasi dapat dilakukan terhadap karyawan yang tidak terbukti melakukan

pelanggaran, baik dalam proses investigasi, dalam pembelaan diri, maupun setelah dijatuhi sanksi.

2. Rehabilitasi yang diberikan terhadap karyawan yang tidak terbukti melakukan pelanggaran dapat diumumkan kepada seluruh sivitas akademika.

(21)

TATA KERJA KOMITE ETIK

Pasal 1

Objek Pemberlakuan

Seluruh unsur dan pengampu kepentingan STFT Jakarta, sebagaimana diatur dalam Statuta STFT Jakarta, terutama mahasiswa, dosen (tetap dan tidak tetap), dan karyawan.

Pasal 2

Tugas dan Wewenang

1. Menyusun dokumen Kode Etik STFT Jakarta;

2. Mensosialisasikan dokumen Kode Etik STT Jakarta kepada seluruh pengampu kepentingan;

3. Mengamati dan mengevaluasi secara berkala pemberlakuan Kode Etik STFT Jakarta di lingkungan STFT Jakarta;

4. Mengamati dan menginventarisasi kasus-kasus penyimpangan/pelanggaran Kode Etik STFT Jakarta;

5. Membahas kasus-kasus pelanggaran Kode Etik STFT Jakarta dalam pertemuan Komite Etik STFT Jakarta, sejauh belum diatur dalam berbagai peraturan yang ada dan berlaku di STFT Jakarta, termasuk mengundang dan mendengar kesaksian/pengakuan dari pihak-pihak terkait;

6. Menetapkan kategori pelanggaran Kode Etik (ringan, sedang, dan berat) sejauh belum diatur dalam berbagai peraturan yang ada dan berlaku di STFT Jakarta.

7. Menyampaikan rekomendasi kepada Tim Pemimpin STFT Jakarta tentang langkah dan/atau keputusan yang akan diambil untuk menyelesaikan kasus-kasus itu.

Pasal 3

Proses dan Prosedur Pemberlakuan/Penerapan

1. Tim Kode Etik STFT Jakarta bertemu secara reguler untuk menghimpun dan/atau bertukar informasi dan menginventarisasi kasus-kasus penyimpangan/pelanggaran Kode Etik.

2. Tim Kode Etik STFT Jakarta menyepakati dan menetapkan kasus yang mendesak (prioritas) dan mendalaminya, dengan a.l. menghimpun dan mengkonfirmasi data dan informasi yang relevan dari sebanyak mungkin pihak yang terkait (termasuk pelaku).

3. Tim Kode Etik STFT bertemu lagi secara khusus untuk kasus yang mendesak (prioritas) dan menyampaikan rekomendasi kepada Tim Pemimpin STFT Jakarta tentang langkah dan/atau keputusan yang akan diambil.

4. Pihak yang berwenang (sebagaimana telah diatur di atas tentang Pelanggaran Sanksi) menerbitkan surat keputusan tentang pemberlakuan sanksi atas pelaku dalam kasus yang sudah dibahas/didalami.

(22)

PENUTUP

1. Kode Etik STFT Jakarta bersifat mutlak;

2. Ketentuan-ketentuan yang belum diatur dalam Kode Etik ini akan diatur kemudian;

3. Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi para kepala sekolah untuk memberikan pelayanan pada para guru dan staf karyawan secara optimal sehingga dengan

Aplikasi mobile ini dibuat sebagai media informasi seputar bursa transfer pemain sepakbola yang selalu mengupdate khusus berita-berita terbaru tentang bursa

Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui tolak ukur mana yang memiliki pengaruh signifikan terhadap stock return apakah residual income yang

Dengan menggunakan metode aerated static pile pada kegiatan pengomposan di IPAL Domestik Mojosongo ini tidak memakan banyak tempat dibandingkan dengan metode

Subelemen komitmen pemangku kepentingan atas tujuan program, SDM pelaksana KUR yang kompeten, instrumen monitoring dan evaluasi, pemahaman pemangku kepentingan atas

Berdasarkan hasil kuesioner, dilakukan pengujian penilaian responden pada kuesioner tahap dua terhadap tiap butir pernyataan dengan uji rata-rata dan pengujian untuk

Setelah identifikasikan masalah konseli, masalah yang dialami konseli adalah mudah stress dan depresi yang memberikan dampak negatif sehingga memberi impak yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kebugaran jasmani pada atlet PUSLATKOT Kediri cabang olahraga terukur menuju PORPROV VII Tahun 2021 dalam masa COVID-19 memiliki