Kalkulasi efesiensi daya mesin PLTGU dengan pola operasi 2-2-1 dan 3-3-1 PT. Indonesia Power Unit Pembangkitan Semarang.

109 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

vi Abstrak

Tujuan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu : a. Menghitung efisiensi energi pada sistem pembangkit listrik PLTGU Tambak Lorok; b. Menghitung efisiensi Gas Turbin Generator (GTG); c. Menghitung efisiensi Heat Recovery Steam Generator (HRSG); d. Menghitung efisiensi Steam Turbin Generator (STG).

Parameter dalam penelitian ini adalah kondisi beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW. Variabel bebas adalah pola kerja mesin pembangkit listrik, yakni a. 2-2-1 (2GTG-2HRSG-1STG); b. 3-3-1 (3GTG-3HRSG-1STG). Variabel terikat adalah laju aliran, tekanan, temperature pada pada pembangkit listrik PLTGU, GTG, HRSG, STG. Analisa data dilakukan dengan cara membandingkan antara efisiensi simple cycle pada saat combined dan efisiensi combined cycle dengan beberapa pembebanan dan pola operasi PLTGU.

Hasil penelitian pada efisiensi PLTGU blok 1 dengan pola operasional 2-2-1 : a. Analisis Efisiensi PLTGU Pada Blok 1 Dengan Pola Operasional 2-2-2-1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 42,90% - 44,35%; b. Analisis efisiensi Gas Turbin Generator 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 25,04% - 27,29%. Nilai efisiensi sistem Gas Turbin Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 35,31% - 37,76%; c. Analisis efisiensi Heat Recovery Steam Generator 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 67,49% - 74,73%. Nilai efisiensi Heat Recovery Steam Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 60,48% - 71,37%; d. Analisis efisiensi Steam Turbin Generator pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar antara 54,66% - 57,24%. Hasil penelitian pada Pada penelitian efisiensi PLTGU blok 2 dengan pola Operasi 1 : a. Analisis efisiensi PLTGU Pada blok 2 dengan pola operasi 3-3-1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 3-3-100 MW berkisar 38,3-3-16% - 40,56%; b. Analisis efisiensi Gas Turbin Generator 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW sebesar 94%. Nilai efisiensi Gas Turbin Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 92,19% - 94,13%. Nilai Gas Turbin Generator 3 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 93,73% - 94,83%; c. Analisis efisiensi Heat Recovery Steam turbin 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 63,83% - 70,94%. Nilai efisiensi Heat Recovery Steam Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 65,62% - 69,84%. Nilai efisiensi Heat Recovery Steam Generator 3 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 64,43% -73,59%; d. Analisis efisiensi Steam Turbin Generator pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW sebesar 62%.

(2)

vii Abstract

Objective raised in this study are: a. Calculating the energy efficiency of the power generation system PLTGU Tambak Lorok; b. Calculating the efficiency of Gas Turbine Generator (GTG); c. Calculating the efficiency of Heat Recovery Steam Generator (HRSG); d. Calculating the efficiency of Steam Turbine Generator (STG).

The parameters in this study is 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW. The independent variable was the work patterns of engine power, namely a. 2-2-1 (2GTG-2HRSG-1STG); b. 3-3-1 (3GTG-3HRSG-1STG). The dependent variable is the rate of flow, pressure, temperature in the PLTGU power plant, GTG, HRSG, STG. Data analysis is done by comparing the simple cycle efficiency when combined and efficiency combined cycle with several loading and patterns of power plant operation.

The results of the study on the efficiency of power plant operational pattern blocks 1 with 2-2-1: a. Efficiency Analysis of Combined Cycle Power Plant Block 1 With Pattern On Operational 2-2-1 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 42.90% - 44.35%; b. Analysis of the efficiency of Gas Turbine Generator 1 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 25.04% - 27.29%. Value system efficiency Gas Turbine Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 35.31% - 37.76%; c. Analysis of the efficiency of Heat Recovery Steam Generator 1 at a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 67.49% - 74.73%. The efficiency value Heat Recovery Steam Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 60.48% - 71.37%; d. Analysis of Steam Turbine Generator efficiency at load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging between 54.66% - 57.24%. Results of research on research efficiency power plant block 2 with a 3-3-1 Operation pattern: a. Analysis of efficiency PLTGU In block 2 with a pattern of 3-3-1 operations in the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 38.16% - 40.56%; b. Analysis of the efficiency of Gas Turbine Generator 1 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW by 94%. Rated efficiency Gas Turbine Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 92.19% - 94.13%. Value Gas Turbine Generator 3 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 93.73% - 94.83%; c. Analysis of the efficiency of Heat Recovery Steam turbine 1 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 63.83% - 70.94%. The efficiency value Heat Recovery Steam Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 65.62% - 69.84%. The efficiency value Heat Recovery Steam Generator 3 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 64.43% -73.59%; d. Analysis of Steam Turbine Generator efficiency at load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW by 62%.

(3)

i

KALKULASI EFISIENSI DAYA MESIN PLTGU DENGAN

POLA OPERASI 2-2-1 DAN 3-3-1 PT. INDONESIA POWER

UNIT PEMBANGKITAN SEMARANG

SKRIPSI

Untuk memenuhi persyaratan

Mencapai derajat Sarjana S-1 Teknik Mesin

diajukan oleh

Dede Mavendra

NIM : 105214011

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(4)

ii

CALCULATE EFFICIENCY POWER MACHINE WITH

PATTERN OPERATIONS PLTGU 2-2-1 AND 3-3-1 PT.

INDONESIA POWER GENERATION UNIT SEMARANG

FINAL PROJECT

A requirement to obtain Sarjana Teknik degree in Mechanical Engineering

Presented by

Dede Mavendra

NIM : 105214011

MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM

FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY

SANATA DHARMA UNIVERSITY

YOGYAKARTA

(5)
(6)
(7)
(8)

vi Abstrak

Tujuan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu : a. Menghitung efisiensi energi pada sistem pembangkit listrik PLTGU Tambak Lorok; b. Menghitung efisiensi Gas Turbin Generator (GTG); c. Menghitung efisiensi Heat Recovery Steam Generator (HRSG); d. Menghitung efisiensi Steam Turbin Generator (STG).

Parameter dalam penelitian ini adalah kondisi beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW. Variabel bebas adalah pola kerja mesin pembangkit listrik, yakni a. 2-2-1 (2GTG-2HRSG-1STG); b. 3-3-1 (3GTG-3HRSG-1STG). Variabel terikat adalah laju aliran, tekanan, temperature pada pada pembangkit listrik PLTGU, GTG, HRSG, STG. Analisa data dilakukan dengan cara membandingkan antara efisiensi simple cycle pada saat combined dan efisiensi combined cycle dengan beberapa pembebanan dan pola operasi PLTGU.

Hasil penelitian pada efisiensi PLTGU blok 1 dengan pola operasional 2-2-1 : a. Analisis Efisiensi PLTGU Pada Blok 1 Dengan Pola Operasional 2-2-2-1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 42,90% - 44,35%; b. Analisis efisiensi Gas Turbin Generator 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 25,04% - 27,29%. Nilai efisiensi sistem Gas Turbin Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 35,31% - 37,76%; c. Analisis efisiensi Heat Recovery Steam Generator 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 67,49% - 74,73%. Nilai efisiensi Heat Recovery Steam Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 60,48% - 71,37%; d. Analisis efisiensi Steam Turbin Generator pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar antara 54,66% - 57,24%. Hasil penelitian pada Pada penelitian efisiensi PLTGU blok 2 dengan pola Operasi 1 : a. Analisis efisiensi PLTGU Pada blok 2 dengan pola operasi 3-3-1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 3-3-100 MW berkisar 38,3-3-16% - 40,56%; b. Analisis efisiensi Gas Turbin Generator 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW sebesar 94%. Nilai efisiensi Gas Turbin Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 92,19% - 94,13%. Nilai Gas Turbin Generator 3 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 93,73% - 94,83%; c. Analisis efisiensi Heat Recovery Steam turbin 1 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 63,83% - 70,94%. Nilai efisiensi Heat Recovery Steam Generator 2 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 65,62% - 69,84%. Nilai efisiensi Heat Recovery Steam Generator 3 pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW berkisar 64,43% -73,59%; d. Analisis efisiensi Steam Turbin Generator pada beban 70 MW, 80 MW, 90 MW dan 100 MW sebesar 62%.

(9)

vii Abstract

Objective raised in this study are: a. Calculating the energy efficiency of the power generation system PLTGU Tambak Lorok; b. Calculating the efficiency of Gas Turbine Generator (GTG); c. Calculating the efficiency of Heat Recovery Steam Generator (HRSG); d. Calculating the efficiency of Steam Turbine Generator (STG).

The parameters in this study is 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW. The independent variable was the work patterns of engine power, namely a. 2-2-1 (2GTG-2HRSG-1STG); b. 3-3-1 (3GTG-3HRSG-1STG). The dependent variable is the rate of flow, pressure, temperature in the PLTGU power plant, GTG, HRSG, STG. Data analysis is done by comparing the simple cycle efficiency when combined and efficiency combined cycle with several loading and patterns of power plant operation.

The results of the study on the efficiency of power plant operational pattern blocks 1 with 2-2-1: a. Efficiency Analysis of Combined Cycle Power Plant Block 1 With Pattern On Operational 2-2-1 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 42.90% - 44.35%; b. Analysis of the efficiency of Gas Turbine Generator 1 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 25.04% - 27.29%. Value system efficiency Gas Turbine Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 35.31% - 37.76%; c. Analysis of the efficiency of Heat Recovery Steam Generator 1 at a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 67.49% - 74.73%. The efficiency value Heat Recovery Steam Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 60.48% - 71.37%; d. Analysis of Steam Turbine Generator efficiency at load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging between 54.66% - 57.24%. Results of research on research efficiency power plant block 2 with a 3-3-1 Operation pattern: a. Analysis of efficiency PLTGU In block 2 with a pattern of 3-3-1 operations in the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 38.16% - 40.56%; b. Analysis of the efficiency of Gas Turbine Generator 1 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW by 94%. Rated efficiency Gas Turbine Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 92.19% - 94.13%. Value Gas Turbine Generator 3 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 93.73% - 94.83%; c. Analysis of the efficiency of Heat Recovery Steam turbine 1 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 63.83% - 70.94%. The efficiency value Heat Recovery Steam Generator 2 on a load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 65.62% - 69.84%. The efficiency value Heat Recovery Steam Generator 3 at the load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW ranging from 64.43% -73.59%; d. Analysis of Steam Turbine Generator efficiency at load of 70 MW, 80 MW, 90 MW and 100 MW by 62%.

(10)
(11)
(12)
(13)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

DAFTAR SINGKATAN DAN SIMBOL ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Batasan Masalah ... 2

1.4. Tujuan Penelitian ... 3

1.5. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI ... 4

2.1. Tinjauan Pustaka ... 4

2.2. Konsep Energi ... 6

2.2.1. Definisi Energi ... 6

2.2.2. Bentuk-bentuk Energi ... 6

2.3. Konsep Dasar Termodinamika ... 9

2.3.1. Definisi dan Aplikasi Termodinamika ... 9

2.3.2. Hukum Pertama Termodinamika ... 11

(14)

xii

2.4. Siklus-siklus pada Mesin PLTGU ... 14

2.4.1. Siklus Bryaton ... 15

2.4.2. Siklus Rankine ... 16

2.5. Komponen Mesin PLTGU ... 18

2.5.1. Gas Turbin Generator ... 18

2.5.2. Heat Recovery Steam Generator ... 22

2.5.3. Steam Tubin Generator ... 24

2.6. Efisiensi Mesin PLTGU ... 27

BAB III METODE PENELITIAN... 28

3.1. Alur Penelitian ... 28

3.2. Variabel Penetian ... 34

3.3. Pengambilan Data ... 39

3.4. Analisis Data ... 40

3.5. Tempat dan Jadwal Penelitian ... 40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 41

4.1. Analisis Efisiensi PLTGU Pada Blok 1 Dengan Pola Operasi 2-2-1 ... 41

4.1.1. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Kompresor 1 dan Kompresor 2 ... 42

4.1.2. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Ruang Bakar 1 dan Ruang Bakar 2 ... 43

4.1.3. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin Gas 1 dan Turbin Gas 2 ... 44

4.1.4. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Gas Turbin Generator 1 dan Gas Turbin Generator 2 ... 45

4.1.5. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Heat Recovery Steam Generator 1 dan Heat Recovery Steam Generator 2 ... 47

(15)

xiii

4.1.7. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin

Uap ... 49 4.1.8. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi

Kondensor ... 50 4.1.9. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Pompa

Kondensat ... 50 4.1.10. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi PLTGU .... 51 4.2. Analisis Efisiensi PLTGU Pada Blok 1 Dengan Pola Operasi

3-3-1 ... 52 4.2.1. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi

Kompresor 1, Kompresor 2, dan Kompresor 3 ... 52 4.2.2. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Ruang

Bakar 1, Ruang Bakar 2, dan Ruang Bakar 3 ... 54 4.2.3. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin

Gas 1, Turbin Gas 2, dan Turbin Gas 3 ... 56 4.2.4. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Gas

Turbin Generator 1, Gas Turbin Generator 2, dan Gas

Turbin Generator 3 ... 57 4.2.5. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Heat

Recovery Steam Generator 1, Heat Recovery Steam

Generator 2, dan Heat Recovery Steam Generator 3 ... 58 4.2.6. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Pompa

HP Transfer 1, Pompa HP Transfer 2, dan Pompa HP

Transfer 3 ... 59 4.2.7. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin

Uap... 61 4.2.8. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi

Kondensor ... 61 4.2.9. Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Pompa

(16)

xiv

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

5.1. Kesimpulan ... 69

5.2. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

(17)

xiii

DAFTAR TABEL

(18)

xv DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Diagram Kesetimbangan Energi... 12

Gambar 2.2 Skematik diagram P-V dan T-s siklus Brayton pada sistem PLTG ... 15

Gambar 2.3 Skematik diagram T-S siklus Rankine pada sistem PLTU ... 16

Gambar 2.4 Skematik diagram P-V siklus Rankine pada sistem PLTU ... 16

Gambar 2.5 Skematik Kompresor ... 19

Gambar 2.6 Skematik Ruang Bakar ... 22

Gambar 2.7 Skematik Turbin Gas ... 23

Gambar 2.8 Skematik HRSG ... 25

Gambar 2.9 Skematik Pompa HP Transfer ... 27

Gambar 2.10 Skematik Turbin Uap ... 28

Gambar 2.11 Skematik Kondensor ... 29

Gambar 2.12 Skematik Pompa Kondensat ... 30

Gambar 3.1 Diagram alir Penelitian ... 32

Gambar 3.2 Skematik Mesin PLTGU Dengan Pola Operasi 2-2-1 ... 35

Gambar 3.3 Skematik Mesin PLTGU Dengan Pola Operasi 3-3-1 ... 36

Gambar 4.1 Grafik Efisiensi Kompresor Terhadap Beban. ... 43

Gambar 4.2 Grafik Efisiensi Ruang Bakar Terhadap Beban ... 44

Gambar 4.3 Grafik Efisiensi Turbin Gas Terhadap Beban ... 46

Gambar 4.4 Grafik Efisiensi Gas Turbin Generator Terhadap Beban ... 47

Gambar 4.5 Grafik Efisiensi Heat Recovery Steam Generator Terhadap Beban ... 48

Gambar 4.6 Grafik Efisiensi Pompa HP Transfer Terhadap Beban... 49

Gambar 4.7 Grafik Efisiensi Turbin Uap Terhadap Beban ... 50

Gambar 4.8 Grafik Efisiensi Kondensor Terhadap Beban ... 51

Gambar 4.9 Grafik Efisiensi Pompa Kondensat Terhadap Beban ... 52

Gambar 4.10 Grafik Efisiensi Sistem PLTGU Terhadap Beban... 53

Gambar 4.11 Grafik Efisiensi Kompresor Terhadap Beban. ... 54

(19)

xvi

Gambar 4.13 Grafik Efisiensi Turbin Gas Terhadap Beban ... 57

Gambar 4.14 Grafik Efisiensi Gas Turbin Generator Terhadap Beban ... 58

Gambar 4.15 Grafik Efisiensi Heat Recovery Steam Generator Terhadap Beban ... 60

Gambar 4.16 Grafik Efisiensi Pompa HP Transfer Terhadap Beban... 61

Gambar 4.17 Grafik Efisiensi Turbin Uap Terhadap Beban ... 62

Gambar 4.18 Grafik Efisiensi Kondensor Terhadap Beban ... 63

Gambar 4.19 Grafik Efisiensi Pompa Kondensat Terhadap Beban ... 64

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

. 1.1 Latar Belakang

Pada saat ini perkembangan di bidang industri, bidang teknologi dan bidang pembangunan sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini sangat berimbas pada naiknya kebutuhan listrik. Dengan melihat perkembangan tersebut, maka perlu adanya suatu peningkatan dalam hal produksi listrik dalam suatu negara. Produksi ini tidak hanya semata-mata menitik beratkan pada kapasitas daya yang mampu dihasilkan, tetapi juga dalam hal teknologi khususnya hal perekayasaan mesin, sistem operasi, serta hal pemeliharaan dalam mempriduksi tenaga listrik tersebut. Di Indonesia sendiri dewasa ini kebutuhan tenaga listrik dari tahun ke tahun terus meningkat. Sejalan dengan peningkatan kebutuhan tenaga listrik tersebut, produksi tenaga listrik juga harus meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik, maka dibangunlah berbagai pembangkit di Indonesia. Salah satu pembangkit listrik itu adalah pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU).

(21)

memiliki total kapasitas terpasang ± 1033,9 MW yang terdiri dari 6 gas turbin generator berdaya 109,65 MW dan 2 steam turbin generator berdaya 188 MW. Kapasitas oprasional saat ini dengan total 900 MW yang terdiri dari 1 gas turbin generator berdaya 100 MW dan 1 steam turbin generatornya berdaya 50% dari 1 gas turbin generator.

Berangkat dari permasalahan diatas penulis tertantang untuk menganalisis efisiensi energi di PLTGU PT. Indonesia Power – Unit Pembangkit Semarang Berdasarkan perbandingan kapasitas terpasang dengan kapasitas oprasional saat ini. Inilah yang menjadi latar belakang penulis melakukan penelitian ini.

1.2 Rumusan masalah

Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : a. Cara menghitung efisiensi energi PLTGU Tambak lorok.

1. Gas Turbin Generator (GTG)

2. Heat Recovery Steam Generator (HRSG) 3. Steam Turbin Generator (STG)

1.3 Batasan masalah

Untuk mempermudah analisa data mesin maka ada batasan-batasan masalah, yaitu :

a. PLTGU menggunakan sumber energi gas alam b. Aliran fluida diasumsikan steady state.

(22)

d. Sistem tertutup

e. Energi potensial dan energi kinetik diabaikan

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut : a. Mengitung efisiensi energi pada sistem pembangkit listrik b. Menghitung efisiensi Gas Turbin Generator (GTG)

c. Menghitung efisiensi Heat Recovery Steam Generator (HRSG) d. Menghitung efisiensi Steam Turbin Generator (STG)

1.5 Manfaat penelitian

Manfaat dari hasil analisis penelitian ini yaitu :

a. Dapat menambah kasanah ilmu pengetahuan tentang efisiensi PLTGU. b. Hasil penelitian dapat dipergunakan sebagai referensi dalam efisiensi

PLTGU.

(23)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Pembangkit listrik tambak lorok dengan sistem combined cycle menggunakan bahan bakar natural gas. Tambak Lorok Blok I phase I merupakan Pusat Listrik Tenaga Gas (Simple Cycle) beroperasi sejak tahun 1993 sampai sekarang. Sedangkan Tambak Lorok Blok II phase I dan Blok I phase II merupakan Pusat Listrik Site Kombinasi (Combined Cycle Power Plant) mulai beroperasi tahun 1997.

Pusat Listrik Sistem Kombinasi Tambak Lorok Blok II phase I dan Blok I phase II masing-masing berkapasitas 500 MW dan tiap-tiap blok terdiri dari:

1. Tiga Unit Gas Turbin Generator dengan kapasitas 3 x 100 MW 2. Tiga Unit Heat Recovery Steam Generator (HRSG)

3. Satu Unit Steam Turbin Gas (STG) dengan kapasitas 1 x 150 MW

Turbin gas tersebut buatan General Electrik (GE) dengan kode MS-9001 E GE. Turbin gas ini langsung memutar generator dengan putaran 3000 rpm dan tegangan keluar 11,5 KV. Beban setiap unit generator dapat diamati di ruang kontrol. Exhaust gas GTG dialirkan ke HRSG melalui Diventer Damper. Panas exhaust gas dari GTG tersebut digunakan menguapkan air di HRSG. Uap tersebut kemudian digunakan untuk memutar STG.

(24)

bahwa pembangkit listrik beroperasi menggunakan 1 jenis pembangkit yaitu mesin PLTG. Exhaust gas hasil pembakaran akan langsung dibuang ke atmosfir tanpa dimanfaatkan kembali. Sedangkan combined cycle dalam operasi pembangkit listrik memiliki pengertian pembangkit listrik beroperasi menggunakan 2 jenis mesin pembangkit listrik yaitu mesin PLTG dan PLTU. Mesin PLTU memperoleh panas pada boiler diperoleh dari exhaust gas dari PLTG, sehingga PLTU tidak mampu beroperasi sendiri tanpa beroperasinya PLTG.

PLTGU Tambak Lorok beropeasi sesuai permintaan beban dari P3B (Penyaluran Pengaturan Pusat Beban di Unggaran). Pola Operasi PLTGU Tambak Lorok berdasarkan kondisi beban adalah sebagai berikut.

1. Pada Beban Luar Puncak

PLTGU beroperasi dengan pola 2-2-1 yang berarti 2 unit GTG, 2 unit HRSG dan 1 unit STG beroperasi.

2. Pada Waktu Beban Puncak

PLTGU beroperasi maksimal dengan pola 3-3-1 yang berarti 3 unit GTG, 3 unit HRSG dan 1 unit STG beroperasi.

3. Pada waktu weekend

PLTGU beroperasi dengan beban minimal 1-1-1 yang berarti 1 unit GTG, 1 unit HRSG dan 1 unit STG beroperasi.

(25)

2.2 Konsep Energi

2.2.1 Difinisi Energi

Energi termal adalah bentuk dasar dari energi. Artinya, semua bentuk energi dapat dengan sempurna dikonversikan menjadi energi termal. Sebenarnya, semua energi akan dikonversikan dalam bentuk energi termal, kecuali disimpan dalam bentuk yang lain. Pengkorversian energi termal menjadi energi yang lain adalah terbatas hingga suatu harga yang lebih kecil dari 100%. Proses konversi energi di dalam suatu pembangkit memerlukan suatu masukan (input), yang berupa bahan bakar (fuel) dan udara.

2.2.2 Bentuk-Bentuk Energi

Energi dapat terwujud dalam berbagai bentuk, yaitu energi kimia, energi panas, energi mekanis, energi listrik, energi nuklir, energi gelombang elektromagnetik, energi gaya magnit, dan lain-lain. Suatu media pembawa energi dapat mengandung berbagai bentuk energi tersebut sekaligus, dan jumlah energinya disebut energi total (E). Dalam analisis termodinamika sering digunakan energi total setiap satuan masa media (m), yang disebut sebagai energi per-satuan massa (e) yaitu:

m E

e = (2.1)

(26)

kinetik (KE) dan energi potensial (PE). Keberadaan energi mikroskopik ditentukan oleh struktur internal dari zat pembawa energi sendiri dan tidak tergantung kepada lingkungannya, yaitu struktur dan gerakan molekul zat tersebut. Energi mikroskopik ini disebut sebagai energi internal (U).

Energi makroskopik berhubungan dengan gerakan masa pembawa energi, dan pengaruh luar seperti gaya gravitasi, pengaruh energi listrik, sifat magnit, dan tegangan pemukaan fluida. Energi kinetis KE adalah energi yang disebabkan oleh gerakan relatif terhadap suatu referensi, dan besarnya adalah:

2 mV KE

2

= (2.2)

atau dalam bentuk energi per-satuan massa:

2 V ke

2

= (2.3)

dengan,

m = satuan massa media pembawa energi V= satuan kecepatan gerakan massa.

Energi potensial adalah energi yang disebabkan oleh posisi elevasinya dalam medan gravitasi, dan besarnya adalah

mgz

PE = (2.4)

Atau dalam bentuk energi per-satuan massa, gz

pe = (2.5)

(27)

g = gaya gravitasi

z = posisi elevasi terhadap suatu referensi.

Energi internal meliputi semua jenis energi mikroskopik, yaitu akibat dari struktur dan aktivitas molekul dalam masa yang ditinjau. Struktur molekul adalah jarak antar molekul dan besar gaya tarik antar molekul, sedang aktivitas molekul adalah kecepatan gerak molekul. Energi laten adalah energi yang merubah jarak dan gaya tarik antar molekul, sehingga masa berubah fase antara fase padat atau cair menjadi gas. Energi sensible merubah kecepatan gerak molekul, yang ditandai oleh perubahan temperatur dari masa yang ditinjau.

Energi kimia adalah energi internal sebagai akibat dari komposisi kimia suatu zat, yang merupakan energi yang mengikat atom dalam molekul zat tersebut. Perubahan struktur atom menyebabkan perubahan energi pengikat atom dalam molekul, sehingga reaksinya dapat melepaskan energi (eksothermis) misalnya dalam reaksi pembakaran, atau memerlukan energi (indothermis). Bentuk energi internal lainnya adalah energi nuklir, yang merupakan energi ikatan antara atom dengan intinya.

(28)

pe

atau dalam bentuk energi per-satuan massa,

gz

Dalam aplikasi bidang teknik masin atau sistem termodinamika yang ditinjau biasanya tidak bergerak selama proses berlangsung, sehingga perubahan energi potensial dan energi kinetisnya sama dengan nol.

2.3 Konsep Dasar Termodinamika

2.3.1 Definisi dan Aplikasi Termodinamika

Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesifik membahas tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil rekayasa teknologi. Selain itu energi di alam semesta bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan, yang terjadi adalah perubahan energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada pengurangan atau penambahan. Prinsip ini disebut sebagai prinsip konservasi atau kekekalan energi.

(29)

proses alam lainnya. Proses di dalam diri manusia juga merupakan proses konversi energi yang kompleks, dari input energi kimia dalam maka akan menjadi energi gerak berupa segala kegiatan fisik manusia, dan energi yang sangat bernilai yaitu energi pemikiran.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka prinsip alamiah dalam berbagai proses termodinamika direkayasa menjadi berbagai bentuk mekanisme untuk membantu manusia dalam menjalankan kegiatannya. Mesin-mesin transportasi darat, laut, maupun udara merupakan contoh yang sangat dikenal dari mesin konversi energi, yang merubah energi kimia dalam bahan bakar atau sumber energi lain menjadi energi mekanis dalam bentuk gerak atau perpindahan di atas permukaan bumi, bahkan sampai ke luar angkasa.

(30)

energi, yang disebut pendekatan termodinamika klasik. Pendekatan tentang sifat termodinamis suatu zat berdasarkan perilaku kumpulan partikel-partikel disebut pendekatan mikroskopis yang merupakan perkembangan ilmu termodinamika modern, atau disebut termodinamika statistik. Pendekatan termodinamika statistik dimungkinkan karena perkembangan teknologi komputer, yang sangat membantu dalam menganalisis data dalam jumlah yang sangat besar.

2.3.2 Hukum Pertama Termodinamika

Hukum pertama termodinamika merupakan hukum konservasi energi. Pernyataannya menyebutkan bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dihancurkan. Bila panas diberikan pada suatu sistem, maka sistem tersebut akan berekspansi dan memberikan kerja disekeliling sistem. Tetapi disamping itu, pemanasan terhadapan sistem akan memberikan pertambahan molekular dari zat dan pertambahan jarak antara molekul-molekul sistem karena berekspansi. Energi yang diperlukan dalam hal ini disebut energi dalam (internal energi). Jadi sebagian panas yang diberikan diubah untuk pertambahan energi dalam. Selain itu sistem mengalami pertambahan energi kinetik dan energi potensial, akibat dari gaya luar seperti gaya gravitasi dan lain-lain.

(31)

)

Prinsip kekekalan massa pada sistem aliran juga dapat diterapkan dalam proses kesetimbangan energi yang digunakan untuk menunjukan adanya kebocoran aliran massa dari suatu proses atau perlengkapan yang nantinya dianggap sebagai kerugian energi.

Gambar 2.1 Diagram Kesetimbangan Energi

Pada diagram kesetimbangan energi (Gambar 2.1) menunjukan aliran massa dan jumlah energi yang masuk dan keluar dari diagram tersebut, didapatkan persamaan umum energi sebagai berikut:

(32)

2.3.3 Hukum Kedua Termodinamika

Hukum kedua menyatakan perbedaan kualitas diantara dua bentuk energi dan menerangkan mengapa beberapa proses dapat terjadi secara spontanitas, dimana yang lain tidak bisa terjadi. Ini menandakan suatu trend yang terjadi dan bisanya dinyatakan di dalam pertidaksamaan. Dari hukum kedua dapat diketahui bahwa suatu energi misalnya panas dapat diubah menjadi energi lain seperti kerja mekanik ataupun sebaliknya. Tetapi dalam penerapannya, walaupun kerja mekanik memang sepenuhnya dapat diubah menjadi panas, tetapi panas tidak dapat seluruhnya menjadi kerja (kerja yang dapat balik), ini menunjukan adanya panas yang terbuang percuma.

Pernyataan Hukum Kedua Termodinamika merupakan hal yang menjelaskan tetang hukum kedua termodinamika. Walaupun ada beberapa variasi dari formula hukum kedua, dua diantaranya di kenal dengan pernyataan Clausius dan pernyataan Kevin-Planc.

Pernyataan Clausius. Tidak memungkinkan untuk suatu sistem untuk

memindahkan panas dari suatu reservoar bertemperatur rendah menuju reservoar bertemperatur tinggi. Secara sederhana, perpindahan panas hanya dapat terjadi spontanitas dalam arah dari penurunan temperatur.

Pernyataan Kelvin-Planck. Tidak memungkinkan suatu sistem untuk menerima

(33)

merubah panas menjadi perpindahan energi panas yang sama adalah tidak mungkin, contohnya, kita tidak dapat membuat suatu mesin dengan efisiensi termal 100%.

2.4 Siklus siklus pada Mesin PLTGU

Mesin pembangkitan listrik tenaga gas dan uap menggunakan dua siklus termodinamika, yaitu siklus Brayton dan siklus Rankine. Hal tersebut karena mesin pembangkit listrik tenaga gas dan uap merupakan gabungan dari dua mesin pembangkit yang fluida kerjanya berbeda. Siklus Brayton adalah siklus yang digunakan pada mesin pembangkit listrik tenaga gas, sedangkan siklus Rankine adalah siklus yang digunakan pada mesin pembangkit listrik tenaga uap.

2.4.1. Siklus Brayton

Gambar 2.2 Diagram P-v dan T-s siklus Brayton Ideal pada sistem PLTG

(34)

3

4 9’

s

T

1 – 2 : Proses kompresi isentropic. Udara atmosfer masuk sistem turbin gas melalui inlet kompresor. Kompresor mengkompresikan udara tersebut sampai tekanan tertentu disertai penyempitan volume.

2 – 3 : Merupakan proses pembakaran isobaric. Udara terkompresi masuk ke ruang bakar di injeksika. Proses pembakaran terjadi menghasilkan energi panas, energi panas tersebut diserap oleh udara bertekanan dalam kompresor. Proses ini terjadi penambahan volume tetapi tidak terjadi pertambahan bertekanan.

3 – 4 : Proses ekspansi isentropic. Udara bertekanan yang memiliki energi panas dari hasil pembakaran berekspansi melewati turbin. Ketika terjadi proses ini udara bertekanan mengalami pertambahan volume.

4 – 1 : Proses pembuangan panas ke atmosfer. 2.4.2 Siklus Rankine

Proses kerja dari turbin uap ini dapat dijelaskan dalam siklus rankine atau siklus tenaga uap yang mana merupakan siklus teoritis paling sederhana yang mempergunakan uap sebagai media kerja sebagaimana dipergunakan pada Pusat Listrik Tenaga Uap.

Gambar 2.3 Diagram T – s Siklus Rankine pada sistem PLTU 1

2

5 6

7

8 9

(35)

1 4

2 3

5 6

9

10 8

7 P

Gambar 2.4 skematik diagram P-V siklus Rankine pada sistem PLTU

Proses yang terjadi pada siklus Rankine sesuai dengan P-V diagram sebagai berikut :

7 – 9 : ekspansi isentropic dari fluida kerja melalui turbin dari uap panas lanjut (superheated vapor) tekanan tinggi hingga mencapai uap panas lanjut tekanan rendah.

9 – 10 : ekspansi isentropic dari fluida kerja melalui turbin dari uap panas lanjut tekanan rendah hingga mencapai tekanan kondensor.

10 – 1 : perpindahan kalor dari fluida kerja ketika mengalir pada tekanan konstan menjadi cairan jenuh.

1 – 2 : kompresi isentropic dalam pompa menuju ke kondisi titik 2.

2 – 3 : perpindahan kalor pada fluida kerja yang terjadi pada tekanan konstan. 3 – 4 : kompresi isentropic dalam pompa menuju ke kondisi titik 4.

(36)

4 – 5 : perpindahan kalor pada fluida kerja yang terjadi pada tekanan konstan. 5 – 6 : perpindahan kalor pada fluida kerja yang terjadi pada tekanan konstan. Pada

proses ini air dipanaskan menjadi uap basah tekanan tinggi.

6 – 7 : perpindahan kalor pada fluida kerja yang terjadi pada tekanan konstan. Pada proses ini uap basah tekanan tinggi dipanaskan menjadi uap kering (superheated vapor) tekanan tinggi.

3 – 8 : perpindahan kalor pada fluida kerja yang terjadi pada tekanan konstan. Pada proses ini air dipanaskan menjadi uap basah.

8 – 9 : perpindahan kalor pada fluida kerja yang terjadi pada tekanan konstan. Pada proses ini uap basah tekanan rendah dipanaskan menjadi uap kering (superheated vapor) tekanan rendah.

2.5 Komponen PLTGU

PLTGU memiliki beberapa komponen utama diantaranya (a) Gas turbine generator (b) Heat recovery steam generator (c) Steam turbine generator. Berikut ini penjelajsanya :

2.5.1 Gas turbine generator

(37)

pembakaran pada combustion chamber untuk memutar turbin gas yang akan menghasilkan listrik dari generator.

Cara kerja dari gas turbine generator yaitu mula-mula motor cranking memutar kompresor untuk menghisap udara luar, kemudian udara luar akan diubah menjadi udara atomizing sebagaian kecil digunakan untuk pembakaran dan sebagian besar sebagai pendingin turbin. Disisi lain bahan bakar berupa gas alam dialirkan melalui pipa ke ruang bakar / combustion chamber. Pada saat bahan bakar gas dan udara atomizing yang berasal dari kompresor bercampur dalam combustion chamber, maka dalam waktu bersamaan dengan busi (spark plug) mulai memercikkan api untuk menyulut pembakaran sehingga terjadi proses pembakaran dalam combustion chamber dan menghasilkan gas panas. Gas panas yang dihasilkan dari proses pembakaran ini digunakan sebagai penggerak atau pemutar turbin gas. Akibat berputarnya turbin gas maka generator juga akan berputar dan generator akan menghasilkan listrik.

Gas turbine generator memiliki berberapa komponen, antara lain sebagai berikut :

1. Kompresor

(38)

tersebut dimaksudkan agar gas panas dari combustion chamber memiliki tekanan yang tinggi.

Gambar 2.5 Skematik Kompresor

Untuk menentukan isentropic keluaran kompresor dapat di hitung dengan Persamaan (2.10) :

( )

k

Untuk mengitung laju aliran udara dapat dihitung dengan Persamaan (2.11) :

)) kompresor, dan WGT adalah daya yang dihasilkan gas turbin.

(39)

) ideal pada temperatur 2’, T2' adalah temperatur keluar kompresor yang ideal, cpt1 adalah nilai kalor spesifik gas ideal pada temperatur 1, T1 adalah temperatur udara lingkungan, dan WGT adalah daya yang dihasilkan gas turbin.

2. Ruang Bakar (Combustion Chamber)

Ruang bakar adalah komponen dimana terjadinya proses pembakaran. Udara bertekanan dari kompresor akan bercampur dengan bahan bakar dan bereaksi. Proses pembakaran tersebut terjadi dengan bantuan percikan api dari spark plug proses pembakaran tersebut dimaksud untuk menambahkan nilai kalor gas.

Gambar 2.6 skematik Ruang Bakar

Untuk menentukan Efisiensi Ruang Bakar (Combustion Chamber) dapat dihitung dengan Persamaan (2.13) :

(40)

( )

Dengan T4 adalah temperatur keluar turbin, P1 adalah tekanan udara lingkungan,

2

P adalah tekanan absolute, k adalah konstanta rasio cp terhadap cv, mf adalah laju aliran bahan bakar, ma adalah laju aliran udara, mg adalah laju aliran gabungan, T0 adalah temperatur lingkungan, Δs adalah perubahan entropi pada sistem, HV adalah nilai heating value gas alam, cpt3 adalah nilai kalor spesifik gas ideal pada temperatur 3, cpt2' adalah nilai kalor spesifik gas ideal pada temperatur 2’, T2' adalah temperatur keluar kompresor yang ideal, dan Qbahanbakar adalah daya masukan bahan bakar.

3. Turbin Gas

(41)

Gambar 2.7 skematik Turbin Gas

Untuk menentukan Efisiensi Turbin Gas dapat dihitung dengan Persamaan (2.14):

( )

(k) adalah nilai kalor spesifik gas ideal pada temperatur 4’, dan T4' adalah temperatur keluar turbin yang ideal

Untuk menentukan Efisiensi Gas turbine generator / sistem PLTG dapat dihitung dengan Persamaan (2.15) :

Bakar

Dengan WGT adalah daya yang dihasilkan gas turbin, dan Qbahanbakar adalah daya masukan bahan bakar.

Bypass stack

(42)

HP LP 4. Exhaust

Exhaust adalah komponen yang berfungsi untuk membuang gas panas yang telah melewati turbin gas. Gas tersebut dibuang ke lingkungan sekitar. Pada saluran exhaust juga terpasang sebuah komponen yang disebut diverter damper. Diventer damper berguna sebagai katup untuk mengalirkan gas buang dari PLTG ke HRSG jika tidak dibuang ke lingkungan.

2.5.2. Heat recovery steam generator (HRSG)

Heat Recovery Steam Generator (HRSG) dapat dikatakan sebagai boiler. Komponen ini adalah penghasil uap panas mesin pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Panas HRSG diperoleh dari panas sisa gas buang pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Sebuah HRSG dapat menghasilkan dua uap dengan tekanan yang berbeda yaitu uap tekanan tinggi dan uap tekanan rendah. Uap yang dihasilkan adalah uap kering (super heated vapor).

Gambar 2.8 Diagram alir pada sistem HRSG. HP

LP

(43)

Untuk menentukan Efisiensi Heat Recovery Steam Generator (HRSG) dapat dihitung dengan Persamaan (2.16) :

) pompa HP transfer, hHPadalah entalphy air tekanan tinggi, mHPadalah laju aliran air tinggi, cpt4' adalah nilai kalor spesifik gas ideal pada temperatur 4’, T4' adalah temperatur keluar turbin yang ideal, mg adalah laju aliran gabungan,

HRSG keluar

cpt adalah nilai kalor spesifik gas ideal pada temperatur keluar HRSG, dan TkeluarHRSG adalah temperatur keluar HRSG.

(44)

Pompa HP Transfer

Gambar 2.9 Skematik Pompa HP Transfer

Untuk menentukan Efisiensi Heat transfer pump dapat dihitung dengan Persamaan (2.17)

) h m ( W

h m

η

LP LP Pom pa

HP HP Pum p

Transfer HP

× +

×

=

(2.17)

Dengan Wpom paHPtransfer adalah kerja pompa HP transfer, hHPadalah entalphy air tekanan tinggi, mHPadalah laju aliran air tinggi, hLPadalah entalphy air tekanan rendah, dan mLP adalah laju aliran air rendah.

2.5.3. Steam turbine generator (STG)

Steam turbine generator (STG) adalah pembangkit listrik sekunder dari PLTGU. Unit yang digerakkan oleh uap panas bertekanan dari heat recovery steam generator . Steam turbine generator memiliki berberapa komponen, antara lain sebagai berikut :

1. Turbin Uap

(45)

yang di alirkan ke turbin uap. Tekanan dan temperatur uap menurun setelah melewati turbin.

Gambar 2.10 Skematik Turbin Uap

Untuk menentukan Efisiensi Turbin Uap dapat dihitung dengan Persamaan (2.18):

kondensor

(46)

Kondensor 2. Kondensor

Kondensor adalah komponen yang berfungsi untuk melepas kalor dengan mengubah uap yang keluar dari turbin menjadi cair sehingga dapat disirkulasikan kembali dalam sistem.

Gambar 2.11 Skematik Kondensor

Untuk menentukan Efisiensi Kondensor dapat dihitung dengan Persamaan (2.19) :

kondensor g total out

kondenort f total in

h m Q

h m Q

× =

× =

• •

in out kondensor

Q Q

η = (2.19)

Dengan Qin adalah kerja kondensor saat masuk dan Qout adalah kerja kondensor saat keluar

3. Pompa kondensat

(47)

Pompa kondensat

Gambar 2.12 Skematik Pompa Kondensat

Untuk menentukan Efisiensi Pompa Kondensat dapat dihitung dengan persamaan (2.22) :

kondensat

2.6 Efisiensi Mesin PLTGU

Mesin PLTGU dapat beroperasi dengan 2 cara, yaitu simple cycle dan combined cycle. Efisiensi mesin PLTG (ηsistemPLTG ) dan efisiensi mesin PLTGU ((ηsistemPLTGU ) dapat dihitung dengan persamaan (2.23) dan (2.24).

(48)

Dengan ΣWGT.out

adalah penjumlahan nilai daya output PLTG dan ΣQbahanbakar

adalah penjumlahan nilai laju energi bahan bakar, sedangkan WST.out

(49)

30 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Alur Penelitian

Penelitian mesin PLTGU PT. Indonesia Power Unit Pembangkitan Semarang melalui serangkaian proses awal hingga akhir yang dapat dideskripsikan melalui diagram alir pada gambar 3.1.

Mulai

Survey Pembangkit Tenaga Gas dan Uap

Studi Literatur Perumusan Masalah

Menentukan Tujuan Penelitian

(50)

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian Tidak

Ya

A

Perhitungan dan Analisa

Kesimpulan dan Saran Pengambilan Data :

13. Parameter Sistem Pembangkit Listrik 14. Parameter Lingkungan Sistem

Pembangkit Listrik

Lengkap

(51)

Keterangan Diagram Alir Penelitian pada Gambar 3.1 adalah sebagai berikut : 1. Survey

Survey pembangkit listrik tenaga gas dan uap dilakukan untuk mengetahui operasi dan pola operasi sistem PLTGU.

2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah adalah munculnya permasalahan yang ada pada PLTGU, sehingga perlu diketahui penyebabnya.

3. Menentukan Tujuan

Menentukan target akhir dari penelitian yang akan dilaksanakan. 4. Studi Literatur

Mencari informasi dan mempelajari materi yang berhubungan dengan objek penelitian.

5. Pengambilan Data

Melakukan pengambilan data kuantitatif pada objek penelitian.

6. Memiliki kelengkapan data yang telah diambil. Apabila belum lengkap, harus melakukan pengambilan data kembali.

7. Perhitungan dan Analisa

Perhitungan adalah proses menghitung yang dilakukan setelah semua data terkumpul dengan metode yang ditentukan. Analisa dilakukan untuk mendeskripsikan permasalahan dengan indikasi-indikasi yang diperoleh dari perhitungan.

8. Kesimpulan dan Saran

(52)

LP

Pompa HP Transfer

Pompa kondensat

Gambar 3.2 Skematik Mesin PLTGU Dengan Pola Operasi 2-2-1

HRSG

HP BB

K

RB

T

Keterangan :

: Menunjukan Unit 1 : Menunjukan Unit 2

LP HP Turbin LP Turbin LP Turbin

(53)

B

K

R

T

Pompa kondensat

Pompa HP Transfer

Gambar 3.2 Skematik Mesin PLTGU Dengan Pola Operasi 3-3-1

BB

K

RB

T

BB

K

RB

T

HRSG

HP

Keterangan :

: Menunjukan Unit 1 : Menunjukan Unit 2 : Menunjukan Unit 3

HP Turbin LP Turbin LP Turbin

(54)

3.2. Variabel Penelitian

Ada beberapa macam variabel pada penelitian ini, yaitu variabel terikat dan variabel bebas.

a)Variabel Bebas

Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Sehingga variabel bebas dapat dikatakan sebagai variabel yang mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini antara lain :

1. Pola kerja mesin pembangkit listrik a. 2-2-1 (2 GTG, 2HRSG, 1STG) b. 3-3-1 (3GTG, 3HRSG, 1STG) 2. Variasi beban mesin pembangkit listrik

b)Variabel terikat

Variabel terikat sering juga disebut variabel criteria dan respond an output

(hasil). Variabel terikat yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Ada beberapa variabel terikat pada penelitian ini, variabel tersebut disajikan pada tabel (3.1).

Tabel 3.1 Tabel Variabel Terikat pada Penelitian

No. Variabel Terkait Simbol

1 a. Laju aliran massa udara masuk ke kompressor. b. Tekanan udara masuk ke kompresor.

c. Temperatur udara masuk ke kompresor.

(55)

b. Tekanan udara keluar dari kompresor. c. Temperatur udara keluar dari kompresor.

b. Pcomp,out c. Tcomp,out 3 a. Laju aliran massa udara masuk ke combustion

chamber.

b. Tekanan udara masuk ke combustion chamber. c. Temperatur udara masuk ke combustion

chamber.

a. mCC,in b. PCC,in c. TCC,in

4 a. Laju aliran massa bahan bakar masuk ke combustion chamber.

a. mfuel

5 a. Laju aliran massa gas hasil pembakaran keluar dari combustion chamber.

b. Tekanan gas hasil pembakaran keluar dari combustion chamber.

c. Temperatur gas hasil pembakaran keluar dari combustion chamber.

a. mCC,out b. PCC,out c. TCC,out

6 a. Laju aliran massa gas hasil pembakaran masuk ke turbin gas.

b. Tekanan gas hasil pembakaran masuk ke turbin gas.

c. Temperatur gas hasil pembakaran masuk ke turbin gas.

a. mGT,in b. PGT,in c. TGT,in

7 a. Laju aliran massa gas hasil pembakaran keluar dari turbin gas.

b. Tekanan gas hasil pembakaran keluar dari turbin gas.

c. Temperatur gas hasil pembakaran keluar dari turbin gas.

(56)

8 a. Laju aliran massa gas buang masuk ke HRSG. b. Tekanan gas buang masuk ke HRSG.

c. Temperatur gas buang masuk ke HRSG.

a. mexh,in b. Pexh,in c. Texh,in 9 a. Laju aliran massa air masuk ke LP HRSG.

b. Tekanan air masuk ke LP HRSG. c. Temperatur air masuk ke LP HRSG.

a. mHRSG,out b. PHRSG,out c. THRSG,out 10 a. Laju aliran massa air panas keluar dari LP

HRSG.

b. Tekanan air panas keluar dari LP HRSG. c. Temperatur air panas keluar dari LP HRSG.

d. mLP.HRSG,out e. PLP.HRSG,out f. TLP.HRSG,out 11 a. Laju aliran massa air panas masuk ke HP

transfer pump.

b. Tekanan air panas masuk ke HP transfer pump. c. Temperatur air panas masuk ke HP transfer

pump.

a. mtrans.pump,in

b. Ptrans.pump,in c. Ttrans.pump,in

12 a. Laju aliran massa air keluar dari HP transfer pump.

b. Tekanan air keluar dari HP transfer pump. c. Temperatur air keluar dari HP transfer pump.

a. mtrans.pump,out b. Ptrans.pump,out c. Ttrans.pump,out 13 a. Laju aliran massa air panas masuk ke HP

HRSG.

b. Tekanan air panas masuk ke HP HRSG. c. Temperatur air panas masuk ke HP HRSG.

a. mHP.HRSG,in

b. PHP.HRSG,in c. THP.HRSG,in 14 a. Laju aliran massa LP superheated vapor keluar

dari LP HRSG.

b. Tekanan LP superheated vapor keluar dari LP HRSG.

(57)

c. Temperatur LP superheated vapor keluar dari LP HRSG.

15 a. Laju aliran massa HP superheated vapor keluar dari HP HRSG.

b. Tekanan HP superheated vapor keluar dari HP HRSG.

c. Temperatur HP superheated vapor keluar dari HP HRSG.

a. mHP.HRSG,out b. PHP.HRSG,out c. THP.HRSG,out

16 a. Laju aliran massa gas buang keluar dari HRSG. b. Tekanan gas buang keluar dari HRSG.

c. Temperatur gas buang keluar dari HRSG.

a. mexh,out b. Pexh,out c. Texh,out 17 a. Laju aliran massa HP superheated vapor masuk

ke HP turbin uap.

b. Tekanan HP superheated vapor masuk ke HP turbin uap.

c. Temperatur HP superheated vapor masuk ke HP turbin uap.

a. mHP.ST,in b. PHP.ST,in c. THP.ST,in

18 a. Laju aliran massa HP superheated vapor keluar dari HP turbin uap.

b. Tekanan HP superheated vapor keluar dari HP turbin uap.

c. Temperatur HP superheated vapor keluar dari HP turbin uap.

a. mHP.ST,out b. PHP.ST,out c. THP.ST,out

19 a. Laju aliran massa LP superheated vapor masuk ke LP turbin uap.

b. Tekanan LP superheated vapor masuk ke LP turbin uap.

(58)

c. Temperatur LP superheated vapor masuk ke LP turbin uap.

20 a. Laju aliran massa LP superheated vapor keluar dari LP turbin uap.

b. Tekanan LP superheated vapor keluar dari LP turbin uap.

c. Temperatur LP superheated vapor keluar dari LP turbin uap.

a. mLP.ST,out b. PLP.ST,out c. TLP.ST,out

21 a. Laju aliran massa uap masuk ke kondensor. b. Tekanan uap masuk ke kondensor.

c. Temperatur uap masuk ke kondensor.

a. mcond,in b. Pcond,in c. Tcond,in 22 a. Laju aliran massa air keluar dari kondensor.

b. Tekanan air keluar dari kondensor. c. Temperatur air keluar dari kondensor.

a. mcond,out b. Pcond,out c. Tcond,out 23 a. Laju aliran massa air masuk ke recirculate

pump.

b. Tekanan air masuk ke recirculate pump. c. Temperatur air masuk ke recirculate pump.

a. mrecirc.pump,in b. Precirc.pump,in c. Trecirc.pump,in 24 a. Laju aliran massa air keluar dari recirculate

pump.

b. Tekanan air keluar dari recirculate pump. c. Temperatur air keluar dari recirculate pump.

a. mrecirc.pump,out

(59)

3.3. Cara Pengambilan Data

Keperluan pengambilan data pada sistem mesin pembangkit listrik dapat diperoleh dengan mengamati computer yang digunakan untuk mengoperasikan mesin pembangkit listrik. Setelah data-data yang diperlukan sudah lengkap, data tersebut dapat dihitung kemudian di analisa.

3.4. Analisis Data

Analisa data akan dilakukan dengan cara membandingkan antara efisiensi simple cycle pada saat combine dan efisiensi combine cycle dengan beberapa pembebanan dan pola operasi PLTGU. Analisa tersebut akan menunjukkan seberapa besar pengaruh pembebanan terhadap efisiensi simple cycle pada saat combine dan efisiensi combine cycle. Analisa juga dilakukan berdasarkan laju energi setiap komponen. Hasil analisa tersebut akan menjabarkan pada saat kapan dan pada komponen apa laju energi paling besar.

3.5. Tempat dan Jadwal Penelitian

a) Tempat Penelitian

Penelitian mesin PLTGU akan dilakukan di PT. Indonesia Power Unit Pembangkitan Semarang yang beralamat di Jalan Ronggowarsito Komplek Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah.

b)Jadwal Penelitian

(60)

41 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap PT. Indonesia

Power Unit Pembangkitan Semarang

Uraian satuan GTG 1.2 GTG 1.3

54610.44 54610.44

Data Output Data Output diperoleh melalui proses perhitungan, dimana data ini meliputi antara lain :

(61)
(62)

s

e) Efisiensi Kompresor kompresor)

(

)

f) Efisiensi Ruang Bakar ruangbakar)

(

)

g) Efisiensi Turbin Gas (ηTurbinGas)

(

)

(63)

% Flow LP Economizer kg/h 175000 165000 Press/Temp LP Drum Bar/C 6.5 / 128 6.4 / 152 Press/Temp LP Superheat Bar/C 6 / 302 6.1 / 305 Flow LP Superheat kg/h 19000 31000 Press/Temp HP Economizer Bar/C 121/ 168 122 / Flow HP Economizer kg/h 119500 119000 Press/Temp HP Drum Bar/C 22 / 269 53 / 267 Press/Temp HP superheat Bar/C 52 / 514 53 / 515 Flow HP Superheat kg/h 127000 110000 Arus Motor HP Xfer Pump Amp 71 70

Data Output Data Output diperoleh melalui proses perhitungan, dimana data ini meliputi antara lain :

a) Efisiensi HRSG

(64)

b) Efisiensi Pompa HP Transfer

Data Output Data Output diperoleh melalui proses perhitungan, dimana data ini meliputi antara lain :

(65)

KW

b) Efisiensi kondensor

%

(66)

(

)

d) Efisiensi mesin PLTGU

%

4.2 Analisis Efisiensi PLTGU Pada Blok 1 Dengan Pola Operasional 2-2-1

4.2.1 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Kompresor 1 dan

Kompresor 2

(67)

Gambar 4.1 menunjukan nilai efisiensi kompresor 1 pada beban 70 MW (93,60%) menurun menjadi (93,19%) pada beban 80 MW. Menurunnya efisiensi kompresor disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluaran. Pada beban 90 MW nilai efisiensi terus meningkat menjadi (94,30%). Meningkatnya efisiensi kompresor disebabkan energi keluaran semakin meningkat. Pada beban 100 MW nilai efisiensi kompresor terus meningkat menjadi (94,64%). Meningkatnya efisiensi kompresor disebabkan meningkatnya energi keluaran. Nilai efisiensi kompresor 2 pada beban 70 MW (94,37%) meningkat menjadi (94,51% dan 95,39%) pada beban 80 MW, 90 MW. Meningkatnya efisiensi kompresor disebabkan energi keluaran meningkat. Pada beban 100 MW nilai efisiensi kompresor 2 menurun menjadi (94,77%). Menurunnya efisiensi kompresor 2 disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluaran Dari gambar 4.1 nilai efisiensi kompresor 2 lebih baik disebabkan energi masuk dan energi keluaran lebih besar dari kompresor 1 .

4.2.2 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Ruang Bakar 1 dan

Ruang Bakar 2

(68)

meningkat menjadi (34,97%). Meningkatnya efisiensi ruang bakar disebabkan meningkatnya energi keluaran. Nilai efisiensi ruang bakar 2 pada beban 70 MW (43,06%)

Gambar 4.2 Grafik Efisiensi Ruang Bakar Terhadap Beban

(69)

4.2.3 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin Gas 1 dan Turbin

Gas 2

Gambar 4.3 menunjukan nilai efisiensi turbin gas 1 pada beban 70 MW (66,63%) menurun menjadi (65,91%, 65,21% dan 64,08%) pada beban 80 MW, 90 MW dan 100 MW. Menurunnya efisiensi turbin gas disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluaran. Nilai efisiensi turbin gas 2 pada beban 70 MW (66,86%) menurun menjadi (65,88%, 65,29% dan 64,39%) pada beban 80 MW, 90 MW dan 100 MW. Menurunnya efisiensi turbin gas 2 disebabkan energi masukan lebih besar dari energi keluaran. Dari gambar 4.3 nilai efisiensi turbin gas 2 lebih baik dari turbin gas 1 dikarenakan energi keluaran turbin gas 1 lebih besar dari turbin gas 2.

(70)

4.2.4 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Gas Turbin Generator 1 Dan Gas Turbin

Generator 2

Gambar 4.4 menunjukan nilai efisiensi gas turbin generator 1 pada beban 70 MW (25,04%) meningkat menjadi (25,70%, 26,80% dan 27,29%) pada beban 80 MW, 90MW dan 100 MW. Meningkatnya efisiensi sistem pembangkit listrik tenga gas disebabkan energi keluaran yang semakin meningkat. Nilai efisiensi gas turbin generator 2 pada beban 70 MW (35,31%) meningkat menjadi (36,35%, 37,63% dan 37,76%) pada beban 80 MW, 90 MW dan 100 MW. Meningkatnya efisiensi sistem pembangkit listrik tenaga gas disebabkan energi keluaran yang semakin meningkat. Dari gambar 4.4 nilai efisiensi sistem pembangkit tenaga gas pada saat di gabungkan dengan sistem pembangkit listrik tenaga uap, nilai efisiensi gas turbin generator 2 lebih baik dari gas turbin generator 1 disebabkan energi masukan yang lebih rendah sehingga nilai efisiensi meningkat.

(71)

4.2.5 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi HRSG 1 dan HRSG 2

Gambar 4.5 menunjukan nilai efisiensi HRSG 1 pada beban 70 MW (72,78%) menurun menjadi (71,93% dan 67,49%) pada beban 80 MW dan 90 MW. Menurunnya efisiensi HRSG 1 disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluar. Pada beban 100 MW nilai efisiensi HRSG 1 meningkat menjadi (74,73%). Meningkatnya efisiensi HRSG 1 disebabkan energi keluar yang semakin meningkat. Nilai efisiensi HRSG 2 pada beban 70 MW (71,37%) menurun menjadi (60,48%) pada beban 80 MW. Menurunnya efisiensi HRSG 2 disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluaran. Pada beban 90 MW dan 100 MW nilai efisiensi HRSG 2 meningkat menjadi (63,05% dan 63,28%). Meningkatnya efisiensi HRSG 2 disebabkan energi keluaran yang meningkat. Dari gambar 4.6 nilai efisiensi HRSG yang lebih baik adalah nilai efisiensi HRSG 1 dari HRSG 2 disebabkan energi keluaran pada HRSG 1 lebih besar dari HRSG 2.

(72)

4.2.6 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Pompa HP Transfer 1 Dan

Pompa HP Transfer 2

Gambar 4.6 Grafik Efisiensi Pompa HP Transfer Terhadap Beban

(73)

4.2.7 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin Uap

Gambar 4.7 menunjukan nilai efisiensi turbin uap pada beban 70 MW (54,66%) meningkat menjadi (57,21% dan 57,25%) pada beban 80 MW dan 90 MW. Meningkatnya nilai efisiensi turbin uap disebabkan meningkatnya energi keluaran. Pada beban 100 MW nilai efisiensi turbin uap menurun menjadi (57,24%). Menurunnya efisiensi turbin uap disebabkan energi masukan lebih besar dari energi keluaran.

Gambar 4.7 Grafik Efisiensi Turbin Uap Terhadap Beban

4.2.8 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Kondensor

(74)

disebabkan energi keluaran meningkat. Pada beban 90 MW nilai efisiensi kondensor menjadi (5,90%). Meningkatnya efisiensi kondensor disebabkan energi keluaran semakin meningkat. Pada beban 100 MW nilai efisiensi kondensor menurun menjadi (5,83%). Menurunnya efisiensi kondensor pada beban 100 MW disebabkan energi masukan lebih besar dari energi keluaran.

Gambar 4.8 Grafik Efisiensi Kondensor Terhadap Beban

4.2.9 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Pompa Kondensat

(75)

Gambar 4.9 Grafik Efisiensi Pompa Kondensat Terhadap Beban

4.2.10 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Sistem PLTGU

(76)

Gambar 4.10 Grafik Efisiensi Sistem PLTGU Terhadap Beban

4.3 Analisis Efisiensi PLTGU Pada Blok 2 Dengan Pola Operasional 3-3-1

4.3.1 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Kompresor 1,

Kompresor 2 Dan Kompresor 3

(77)

meningkat. Nilai efisiensi kompresor 2 pada beban 70 MW (92,19%) meningkat menjadi (92,48%) pada beban 80 MW. Meningkatnya efisiensi kompresor disebabkan energi keluar yang meningkat. Pada beban 90 MW nilai efisiensi kompresor meningkat menjadi (94,13%). Meningkatnya efisiensi kompresor disebabkan energi keluar yang semakin meningkat. Pada beban 100 MW nilai efisiensi kompresor menurun menjadi (93,03%). Menurunnya efisiensi kompresor disebabkan energi masukan lebih besar dari energi keluaran.

Gambar 4.11 Grafik Efisiensi Kompresor Terhadap Beban

(78)

(93,64%). Menurunnya efisiensi kompresor disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluar. Dari gambar 4.11 nilai efisiensi kompresor 3 lebih baik daripada kompresor 1 dan kompresor 2 disebabkan energi keluaran yang lebih besar.

4.3.2 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Ruang Bakar 1, Ruang

Bakar 2 dan Ruang Bakar 3

Gambar 4.12 Grafik Efisiensi Ruang Bakar Terhadap Beban

(79)

bakar 1 meningkat menjadi (36,17%). Meningkatnya efisiensi ruang bakar 1 disebabkan energi keluaran yang semakin meningkat. Nilai efisiensi ruang bakar 2 pada beban 70 MW (31,38%) meningkat menjadi (33,51%) pada beban 80 MW. Meningkatnya efisiensi ruang bakar 2 disebabkan meningkatnya energi keluar. Pada beban 90 MW nilai efisiensi ruang bakar 2 menurun menjadi (32,77%). Menurunnya efisiensi ruang bakar 2 disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluar. Pada beban 100 MW nilai efisiensi ruang bakar 2 meningkat menjadi (34,94%) pada beban 100 MW. Meningkatnya efisiensi ruang bakar 2 disebabkan energi keluar yang semakin meningkat. Nilai efisiensi ruang bakar 3 pada beban 70 MW (31,84%) meningkat menjadi (34,44%) pada beban 80 MW. Meningkatnya efisiensi ruang bakar 3 disebabkan energi keluar yang meningkat. Pada beban 90 MW nilai efisiensi ruang bakar 3 menurun menjadi (33,54%). Menurunnya efisiensi ruang bakar 3 disebabkan energi masuk lebih besar dari energi keluar. Pada beban 100 MW nilai efisiensi ruang bakar 3 meningkat menjadi (36,99%) pada beban 100 MW. Meningkatnya efisiensi ruang bakar 3 disebabkan energi keluar yang semakin meningkat. Dari gambar 4.12 nilai efisiensi ruang bakar 3 lebih baik dari ruang bakar 1 dan ruang bakar 2 disebabkan energi keluaran yang lebih besar.

4.3.3 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin Gas 1, Turbin Gas 2

Figur

Gambar 2.1 Diagram Kesetimbangan Energi
Gambar 2 1 Diagram Kesetimbangan Energi . View in document p.31
Gambar 2.2 Diagram P-v dan T-s siklus Brayton Ideal pada sistem PLTG
Gambar 2 2 Diagram P v dan T s siklus Brayton Ideal pada sistem PLTG . View in document p.33
Gambar 2.3 Diagram T – s Siklus Rankine pada sistem PLTU
Gambar 2 3 Diagram T s Siklus Rankine pada sistem PLTU . View in document p.34
Gambar 2.4 skematik diagram P-V siklus Rankine pada sistem PLTU
Gambar 2 4 skematik diagram P V siklus Rankine pada sistem PLTU . View in document p.35
Gambar 2.5 Skematik Kompresor
Gambar 2 5 Skematik Kompresor . View in document p.38
Gambar 2.6 skematik Ruang Bakar
Gambar 2 6 skematik Ruang Bakar . View in document p.39
Gambar 2.12 Skematik Pompa Kondensat
Gambar 2 12 Skematik Pompa Kondensat . View in document p.47
Gambar 4.8 Grafik Efisiensi Kondensor Terhadap Beban
Gambar 4 8 Grafik Efisiensi Kondensor Terhadap Beban . View in document p.74
Gambar 4.9 Grafik Efisiensi Pompa Kondensat Terhadap Beban
Gambar 4 9 Grafik Efisiensi Pompa Kondensat Terhadap Beban . View in document p.75
Gambar 4.10 Grafik Efisiensi Sistem PLTGU Terhadap Beban
Gambar 4 10 Grafik Efisiensi Sistem PLTGU Terhadap Beban . View in document p.76
Gambar 4.11 Grafik Efisiensi Kompresor Terhadap Beban
Gambar 4 11 Grafik Efisiensi Kompresor Terhadap Beban . View in document p.77
Gambar 4.12 Grafik Efisiensi Ruang Bakar Terhadap Beban
Gambar 4 12 Grafik Efisiensi Ruang Bakar Terhadap Beban . View in document p.78
Gambar 4.13 Grafik Efisiensi Turbin Gas Terhadap Beban
Gambar 4 13 Grafik Efisiensi Turbin Gas Terhadap Beban . View in document p.80
Gambar 4.14 Grafik Efisiensi Gas Turbin Generator Terhadap Beban
Gambar 4 14 Grafik Efisiensi Gas Turbin Generator Terhadap Beban . View in document p.81
Gambar 4.15 menunjukan nilai efisiensi HRSG 1 pada beban 70 MW (70,10%)
Gambar 4 15 menunjukan nilai efisiensi HRSG 1 pada beban 70 MW 70 10 . View in document p.82
Gambar 4.15 Grafik Efisiensi HRSG Terhadap Beban
Gambar 4 15 Grafik Efisiensi HRSG Terhadap Beban . View in document p.83
Gambar 4.16 Grafik Efisiensi Pompa HP Transfer Terhadap Beban
Gambar 4 16 Grafik Efisiensi Pompa HP Transfer Terhadap Beban . View in document p.84
Gambar 4.17 Grafik Efisiensi Turbin Uap Terhadap Beban
Gambar 4 17 Grafik Efisiensi Turbin Uap Terhadap Beban . View in document p.85
Gambar 4.18 Grafik Efisiensi Kondensor Terhadap Beban
Gambar 4 18 Grafik Efisiensi Kondensor Terhadap Beban . View in document p.86
Gambar 4.19 Grafik Efisiensi Pompa Kondensat Terhadap Beban
Gambar 4 19 Grafik Efisiensi Pompa Kondensat Terhadap Beban . View in document p.87
Tabel Data Hasil Pengamatan dengan Pola 2-2-1
Tabel Data Hasil Pengamatan dengan Pola 2 2 1 . View in document p.93
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Energi Kompresor 1
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Energi Kompresor 1 . View in document p.96
Tabel Data Hasil Pengamatan dengan Pola 3-3-1
Tabel Data Hasil Pengamatan dengan Pola 3 3 1 . View in document p.97
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi Kompresor 2
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi Kompresor 2 . View in document p.100
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Ruang Bakar 2
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Ruang Bakar 2 . View in document p.101
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi GTG 1
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi GTG 1 . View in document p.102
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi Pompa HP Transfer 2
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi Pompa HP Transfer 2 . View in document p.103
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi PLTGU
Tabel Hasil Analisi Efisiensi Energi PLTGU . View in document p.104
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Ruang Bakar 1
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Ruang Bakar 1 . View in document p.105
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Energi Turbin Gas 2
Tabel Hasil Analisis Efisiensi Energi Turbin Gas 2 . View in document p.106

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Kalkulasi efesiensi daya mesin PLTGU dengan pola operasi 2-2-1 dan 3-3-1 PT. Indonesia Power Unit Pembangkitan Semarang. Rumusan masalah Batasan masalah Tujuan Penelitian Manfaat penelitian Tinjauan Pustaka TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Difinisi Energi Bentuk-Bentuk Energi Definisi dan Aplikasi Termodinamika Hukum Pertama Termodinamika Konsep Dasar Termodinamika Siklus Brayton Siklus Rankine Kompresor Gas turbine generator Ruang Bakar Combustion Chamber Turbin Gas Heat recovery steam generator HRSG Steam turbine generator STG Efisiensi Mesin PLTGU TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Alur Penelitian METODE PENELITIAN Variabel Penelitian METODE PENELITIAN Perhitungan Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap PT. Indonesia Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Kompresor 1 dan Kompresor 2 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Ruang Bakar 1 dan Ruang Bakar 2 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin Gas 1 dan Turbin Gas 2 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Gas Turbin Generator 1 Dan Gas Turbin Generator 2 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi HRSG 1 dan HRSG 2 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin Uap Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Kondensor Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Pompa Kondensat Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Sistem PLTGU Pengaruh Variasi Analisis Efisiensi PLTGU Pada Blok 2 Dengan Pola Operasional 3-3-1 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi Turbin Gas 1, Turbin Gas 2 dan Turbin Gas 3 Pengaruh Variasi Beban Terhadap Nilai Efisiensi HRSG 1, HRSG 2 dan HRSG3