Diterima 30 Januari 2010 / Direvisi 24 Pebruari 2010 / Disetujui 20 Mei 2010
Penelitian dilaksanakan pada Tahun 2006 di Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain dan di Balai Riset dan Standarisasi Industri dan Perdagangan Manado, Sulawesi Utara. Buah kelapa yang digunakan adalah dari buah kelapa Dalam Mapanget (DMT), berumur 11 – 12 bulan. Penelitian pendahuluan adalah pembuatan minyak starter menggunakan enzim alami. Penelitian lanjutan pengolahan VCO menggunakan minyak starter dengan konsentrasi enzim kasar yang rendah. Penelitian terdiri atas 2 faktor, yaitu: Faktor A menggunakan minyak starter yang diproses dengan bantuan ekstrak kasar enzim alami, terdiri atas : A1) enzim kasar dari ekstrak kulit buah pepaya, A2) enzim kasar dari ekstrak buah nenas, Faktor B, yaitu lama penyimpanan , terdiri dari : B1) 0 bulan, B2) 1 bulan, B3) 2 bulan dan B4) 3 bulan. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan faktorial 2 x 4 x 3 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Ulangan sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Peubah yang diamati terdiri atas : rendemen hasil, kadar air, kadar asam lemak bebas, bilangan peroksida dan profil asam lemak. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa rendemen minyak starter dari penggunaan enzim kasar papain dan bromelin pada konsentrasi 10-30% berkisar 26.10-28.27%. Kadar air VCO pada penyimpanan 0 bulan adalah 0.078% dan setelah 1 sampai 3 bulan penyimpanan meningkat menjadi 0.106%-0.116% (terjadi peningkatan 35.89%-48.72%). Kadar asam lemak bebas VCO sebelum penyimpanan (penyimpanan 0 bulan) adalah 0.073% dan setelah 1 sampai 3 bulan bulan meningkat menjadi 0.101%-0.141% (terjadi peningkatan sebesar 35.36%-93.15%). Bilangan peroksida tertinggi pada VCO yang diproses menggunakan minyak starter dari enzim alami papain, yakni 1.893 meq/kg minyak, sedangkan dari enzim alami bromelin hanya 0.704 meq/kg minyak. Komposisi asam lemak, terutama C12 (asam laurat) berkisar 50.35-54.30%. Secara umum hasil yang diperoleh memenuhi standar yang ditetapkan APCC.
Research was conducted in 2006 at The Indonesian Coconut and Other Palm Research Institute, and at the Institute for Research and Standardization of Trade and Industry, Manado North
pada Pembuatan Minyak Starter dan Pengaruhnya pada Mutu
Virgin Coconut Oil (VCO) Selama Penyimpanan
RINDENGAN BARLINA DAN DANIEL J. TORAR
Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Manado Jalan Raya Mapanget, Kotak Pos 1004 Manado 95001
ABSTRAK
ABSTRACT
Kata kunci : VCO, ekstrak enzim papain, bromelin, mutu.
Utilization of Crude Enzyme Extracts, Papain and Bromelain in
Starter Oil Making and Its Effects to the Quality of
Sulawesi. Initially starter oil was prepared using two natural enzymes. The research on processing VCO using the starter oil with low concentration of crude enzymes was taken place. Research was done in factorial experiment 2 x 4 x 3, using Completely Randomized Design with three replicate. There were 24 units of the experiment. Factor A crude extract of natural enzymes, consists of: A1) crude enzyme extract of papaya fruit peel and, A2) crude enzyme of pineapple fruit extract; Factor B, duration storage, consists of: B1) 0 month, B2) 1 month, B3), 2 months and B4) 3 months. Variables observed consisted of: Rendemen, water content, free fatty acid content, peroxide value and fatty acid profile. The results showed that rendemen of starter oil using crude enzyme papain at concentration of 10-30% ranged 26.10-28.27%. Water content of VCO without storage (0 month) was 0.078% and after one month to three months increased to 0.106% -0.116% (an increase of 35.89% -48.72%). Free fatty acids content of VCO at 0 month 0.073% and after one to three months increased to 0.101% 0.141% (an increase of 35.36% -93.15%). Highest of peroxide value VCO is using starter oil from the natural enzyme papain, is 1893 meq/kg oil, while the natural enzymes bromelain only 0.704 meq/kg oil. The composition of fatty acids, especially C12 (lauric acid), range 50.35-54.30%. In generally, the results obtained fullfill the APCC standard.
(VCO) adalah minyak yang dihasilkan dari buah kelapa segar, tidak melalui penambahan bahan kimia ataupun proses yang melibatkan panas yang tinggi. Selain warna dan rasa yang berbeda, VCO mempunyai asam lemak yang tidak terhidrogenasi seperti pada minyak kelapa biasa.
menjadi populer karena manfaatnya untuk kesehatan, ini dise-babkan VCO mengandung banyak asam lemak rantai menengah (
).
memiliki sifat yang mudah diserap sampai ke mitokondria, sehingga me-ningkatkan metabolisme tubuh. Penam-bahan energi yang dihasilkan oleh meta-bolisme tersebut menghasilkan efek sti-mulasi dalam tubuh manusia, sehingga meningkatkan energi yang dihasilkan. yang paling banyak terkandung dalam VCO adalah asam laurat (Timoti, 2005).
Selain itu VCO meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan mempercepat proses penyembuhan. Hal ini disebabkan terjadinya peningkatan
metabolisme tubuh karena penambahan energi yang dihasilkan, sehingga sel-sel dalam tubuh bekerja lebih efisien. Tubuh membentuk sel-sel baru lebih cepat untuk mengganti sel-sel yang rusak. Di dalam tubuh VCO hanya menghasilkan energi, sedangkan minyak nabati lainnya menghasilkan energi, kolesterol dan lemak (Bruce Fife, 2004; Price, 2004; Timoti, 2005; Darmoyuwono, 2006).
Oleh karena banyak konsumen yang ingin menikmati manfaat VCO untuk kesehatan, maka hampir di setiap provinsi ditemui pengolahan VCO, baik skala rumah tangga maupun kelompok tani, sehingga VCO mudah diperoleh. Dalam kurun waktu 2003-2005, berbagai cara pengolahan VCO telah dihasilkan, diantaranya adalah cara pemanasan ber-tahap dan penggunaan minyak pancing. Minyak pancing berfungsi untuk meng-ikat minyak sehingga terjadi emulsi mi-nyak dalam air (Cahyana, 2004). Kedua cara ini memiliki kendala, yakni untuk pemanasan membutuhkan bahan bakar sedangkan minyak pancing membutuh-kan bahan awal minyak pancing, yang seringkali sulit diperoleh. Cara yang mudah diterapkan sebenarnya adalah
Keywords: VCO, papain, bromela
Virgin Coconut Oil
Virgin Coconut Oil
Medium Chain Fatty Acid/MCFA Medium Chain Fatty Acid
Medium Chain Fatty Acid
extract enzymes in, quality. PENDAHULUAN
cara fermentasi yang sudah biasa dilakukan secara tradisional, tetapi cara ini sering tidak terkontrol karena dilan-jutkan dengan pemanasan untuk memi-sahkan minyak lebih sempurna.
Oleh karena itu, diperlukan tek-nologi fermentasi yang lebih baik, sehingga tanpa proses lanjut dengan pemanasan, VCO dapat terpisah dengan baik. Untuk itu penggunaan bahan-bahan yang berpotensi, memecah emulsi krim perlu ditelusuri. Teknologi peng-olahan VCO menggunakan bahan nabati sudah banyak dilaporkan, tetapi masih dilanjutkan dengan pemanasan. Bebe-rapa bahan alami yang telah banyak diteliti mempunyai kemampuan untuk memecah emulsi santan (krim) adalah ekstrak buah nanas dan kulit pepaya (Husna, 1998), serta ketam air tawar (Mahlil dan Wahyuno, 1988). Akan tetapi dari penelitian-penelitian yang dilaku-kan umumnya dilakudilaku-kan pemanasan.
Buah pepaya (umur 2.5-3 bulan) merupakan sumber enzim papain yang memiliki aktivitas proteolitik sekitar 400 MCU/g, tidak bersifat toksik, tak ada reaksi sampingan, tidak mengubah suhu dan pH secara drastis dan pada konsen-trasi rendah berfungsi dengan baik (Anonim, 2004a). Enzim ini memiliki stabilitas tinggi dan resisten terhadap panas dan pelarut organik, pH berkisar 2.8-10.8 dengan pH optimum antara 6.0-7.0 dan suhu optimum 65oC (Anonim,
2004b). Buah nenas merupakan sumber enzim bromelin yang tergolong enzim protease, dapat menghidrolisa protein dan polipeptida, memiliki kisaran pH 3.0-8.0 dan pH optimum 3.0-4.0 (Anonim, 2004c). Bromelin bersama dengan enzim-enzim lainnya dapat membantu mencerna makanan (Anonim, 2004d). Enzim-enzim ini telah banyak diteliti pemanfaatannya dalam
peng-olahan minyak kelapa, baik dalam bentuk ekstrak kasar maupun enzim murni
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menggunakan ekstrak enzim alami buah nanas dan kulit buah papaya untuk menghasilkan minyak starter dan (2) mengetahui sifat fisikokimia VCO yang diolah menggunakan minyak starter. Diharapkan cara pengolahan VCO ini lebih mudah untuk dilaksanakan, diban-ding dengan cara yang sudah lazim diterapkan.
Penelitian dilaksanakan di Labo-ratorium Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain Manado, Labora-torium Balai Riset dan Standarisasi Industri dan Perdagangan Manado, Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2006. Bahan-bahan yang digunakan ter-diri atas : buah Kelapa Dalam Mapanget (DMT) umur 11-12 bulan, buah pepaya, buah nanas,
Peralatan yang digunakan terdiri dari : pemarut, kain saring, kertas saring, kapas, kompor, oven, glass ware, saringan plastik, bahan pembersih dan lain-lain. Kelapa Dalam (Dalam Mapanget) diperoleh dari Kebun Perco-baan Kima Atas. Buah nenas dan buah pepaya mentah (sebagai sumber enzim alami) diperoleh dari petani.
Pra penelitian dilakukan untuk membuat minyak starter menggunakan ekstrak enzim kasar dari kulit buah pepaya mentah dan daging buah nanas yang matang/dan segar. Buah pepaya dikupas dan kulitnya dikumpulkan, ditambah air dan diblender lalu disaring. Demikian juga dengan buah nanas, di-kupas dan daging buah diblender tanpa
BAHAN DAN METODE
penambahan air. Krim kelapa (kaya minyak) yang telah diperoleh dari proses pendiaman santan selama 2 jam, dicampur masing-masing dengan ekstrak enzim kasar kulit buah pepaya dan daging buah nanas, dengan perban-dingan 3:1 (3 bagian krim dan 1 bagian enzim kasar). Kemudian diaduk homo-gen dan difementasi selama 10-12 jam. Minyak starter yang terpisah disaring dengan batu zeolit dan kertas saring. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan faktorial 2 x 3 x 3, menggu-nakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor A adalah jenis enzim, terdiri atas: A1) ekstrak enzim kasar kulit buah pepaya dan A2) ekstrak enzim kasar daging buah nenas. Faktor B, yaitu kon-sentrasi ekstrak enzim kasar, terdiri atas : B1) 10%, B2) 20% dan B3) 30%. Ulangan sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 18 satuan percobaan. Pengamatan dilaku-kan terhadap rendemen hasil minyak starter.
Penelitian tahap 2 adalah peng-olahan VCO, menggunakan minyak starter dengan enzim kasar dengan kon-sentrasi yang rendah yaitu 10% (supaya efisien), tetapi menghasilkan rendemen cukup baik. Cara ini dilakukan 3 kali, supaya minyak starter yang diperoleh lebih bening. Penelitian dilakukan dalam bentuk percobaan faktorial 2 x 4 x 3, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor A pengolahan VCO meng-gunakan minyak starter hasil dari penggunaan ekstrak enzim kasar alami (konsentrasi rendah), yaitu : A1) enzim kasar dari ekstrak kulit buah papaya, A2) enzim kasar dari ekstrak buah nanas. Faktor B, lama penyimpanan, terdiri atas C1) 0 bulan, C2) 1 bulan, C3) 2 bulan dan C4) 3 bulan. Ulangan seba-nyak 3 kali, sehingga terdapat 24 satuan percobaan.
Peubah yang diamati adalah rendemen hasil, kadar air, kadar asam lemak bebas dan komposisi asam lemak. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisa Sidik Ragam (Anova) dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil.
1. Rendemen hasil minyak starter
Hasil pra penelitian, menunjukkan bahwa jenis dan konsentrasi enzim kasar papain dan bromelin serta interaksi keduanya tidak berpengaruh terhadap rendemen minyak starter. Rata-rata rendemen minyak starter dari penggu-naan enzim kasar papain dengan konsen-trasi 10-30% berkisar 26.27-28.27%, sedangkan enzim kasar bromelin ber-kisar 26.10-27.55%. Berdasarkan hasil yang diperoleh, ternyata peningkatan konsentrasi enzim kasar tidak diikuti peningkatan rendemen minyak starter yang berarti, baik enzim kasar papain maupun bromelin. Hal ini kemungkinan terjadi kejenuhan antara enzim dan substrat. Pada Gambar 1 dapat dilihat grafik hubungan antara penambahan konsentrasi enzim dengan rendemen yang diperoleh.
Gambar 1. Hubungan antara konsentrasi ekstrak enzim alami dengan rendemen minyak starter.
Rendemen yang diperoleh jika dibandingkan dengan pengolahan mi-nyak kelapa cara tradisional masih jauh lebih tinggi. Cara tradisional rata-rata hanya mencapai rendemen 18%, sedang-kan hasil yang diperoleh pada penelitian ini menggunakan enzim kasar papain dan bromelin pada konsentrasi 10%, diperoleh rendemen hasil 26.10%. Ber-dasarkan rendemen yang diperoleh, maka untuk membuat minyak starter dari 10 butir kelapa dengan berat daging buah 450 g/butir (total berat daging buah 4500 gram) dengan menggunakan ekstrak enzim kasar papain dan bromelin (10%) diperoleh minyak starter, masing-masing 1283.04 ml dan 1281.65 ml (berat jenis minyak masing-masing 0.9157 dan 0.9164).
2. Kadar air VCO
Hasil penelitian tahap 2, menun-jukkan bahwa jenis ekstrak enzim alami yang digunakan dan interaksinya
dengan lama penyimpanan tidak berpe-ngaruh terhadap kadar air dan asam lemak bebas VCO. Dalam penelitian ini hanya lama penyimpanan yang berpe-ngaruh terhadap kadar air dan asam lemak bebas (Tabel 1). Kadar air selama penyimpanan mengalami peningkatan, yaitu sebelum penyimpanan (0 bulan), kadar air hanya 0.078% dan setelah 1 sampai 3 bulan meningkat menjadi 0.106%-0.116% atau terjadi peningkatan sebesar 35.89%-48.72%. Bawalan (2002), melaporkan bahwa VCO yang diproses secara tradisional (fermentasi 6-12 jam), menghasilkan kadar air 0.07-0.14%. Hasil penelitian Rindengan . (2003) terhadap minyak kelapa yang diproses secara fermentasi menggunakan ragi roti dan dilanjutkan dengan pemanasan, menunjukkan bahwa lama penyimpanan hingga 4 bulan, kadar air mencapai 0.09-0.15%. Hasil penelitian ini, walaupun tanpa pemanasan kadar air VCO pada penyimpanan 3 bulan tergolong
25 25.5 26 26.5 27 27.5 28 28.5 10 20 30
Papain kasar Bromelin kasar
Figure 1. Relation between concentration of natural enzymes extract and rendement of starter oil.
et al Konsentrasi ekstrak enzim/
Rendemen
minyak
starter
(%)
Concentration of natural enzymes(%)
Rendemen
of
starter
oil
Duration Storage (month) Water content (%) Free fatty acid (%) Lama penyimpanan (bulan) Kadar air (%) Asam lemak bebas (%)
0 0.078 b 0.073 c
1 0.106 a 0.101 bc
2 0.115 a 0.123 ab
3 0.116 a 0.141 a
Tabel 1. Pengaruh lama penyimpanan terhadap kadar air dan asam lemak bebas VCO. baik, lebih rendah dari standar
yang menetapkan kadar air berkisar 0.1-0.5% (Anonim, 2005), dan Filipina menetap-kan maksimum 0.2% (Rethinam, 2006), serta Rancangan Akhir Standar Nasional Indonesia (RASNI) menetapkan mak-simum 0.2%.
3. Kadar asam lemak bebas VCO
Kadar asam lemak bebas (ALB) selama penyimpanan mengalami pening-katan (Tabel 1). Sebelum penyimpanan (0 bulan), kadar asam lemak bebas hanya 0.073% dan setelah 1 - 3 bulan meningkat menjadi 0.101%-0.141% atau terjadi pe-ningkatan sebesar 35.36%-93.15%. Hasil penelitian Rindengan . (2003) ter-hadap minyak kelapa yang diproses secara fermentasi (12 jam) menggunakan ragi roti yang dilanjutkan dengan pe-manasan, menunjukkan bahwa penyim-panan hingga 4 bulan, kadar ALB mencapai 0.20%. Dikaitkan dengan hasil penelitian ini, yang tidak dilanjutkan dengan pemanasan, kadar ALB hingga 3 bulan penyimpanan hanya mencapai 0.141%. Pembentukan asam lemak bebas merupakan akibat dari adanya kan-dungan air, sehingga terjadi proses hidrólisis (Ketaren, 1986). Jadi apabila kadar air rendah, maka proses hidrólisis yang dapat membentuk asam lemak bebas dapat ditekan. Standar kadar ALB
yang ditetapkan APCC maksimum 0.5%, sedangkan Rancangan Akhir Standar Nasional Indonesia (RASNI) maksimum 0.2%. Berdasarkan hasil pengamatan, kisaran kadar asam lemak bebas VCO sampai 3 bulan masih sangat rendah dibanding standar yang di tetapkan APCC maupun RASNI.
4. Bilangan peroksida VCO
Jenis ekstrak enzim alami ber-pengaruh nyata terhadap bilangan peroksida VCO, sedangkan lama pe-nyimpanan dan interaksinya dengan jenis ekstrak enzim tidak berpengaruh (Gambar 2). Bilangan peroksida tertinggi pada VCO yang diproses menggunakan minyak starter dari enzim alami papain, yakni 1.893 meq/kg VCO, sedangkan dari enzim alami bromelin hanya 0.704 meq/kg VCO. Bilangan peroksida ter-bentuk akibat terjadinya proses oksidasi pada minyak. Proses oksidasi terjadi karena adanya oksigen yang bereaksi dengan asam lemak tidak jenuh. Proses oksidasi juga akan dipercepat dengan adanya katalis. Kemungkinan bahan baku buah nanas dan buah pepaya sebagai sumber enzim, mengandung mineral yang dapat berfungsi sebagai katalis dalam mempercepat proses oksidasi, misalnya pada buah pepaya (mentah) ada mineral besi (Fe) 0.4 mg dan Kalsium (Ca) 50 mg (Taung, 2002). Table 1. Effect of storage duration to water content and free fatty acid of VCO.
Ketetangan : Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 0.5%. Note : Numbers followed by the same letter at the same columm are not sigfnificant at the 0.5% of LSD test.
Asian Pacific Coconut Community (APCC),
Papain Bromelin
Gambar 2. Pengaruh jenis ekstrak enzim alami terhadap bilangan peroksida VCO
Satyavati (1980), melaporkan bahwa minyak kelapa yang disimpan hingga 5 bulan pada suhu ruang dalam keadaan gelap yang dikemas dalam botol berwarna coklat, hanya memiliki bi-langan peroksida berkisar 0.20–0.40 meq/ kg.
menetapkan bilangan peroksida maksimum 3 meq/kg (Anonim, 2005), Filipina juga menetapkan maksimum 3 meq/kg (Rethinam, 2006). Oleh karena itu, bagi yang telah dan akan membuat VCO menggunakan sumber minyak starter dari ekstrak enzim alami, perlu mengatur cara penyimpanan VCO, yakni sebaiknya setelah selesai proses VCO langsung dikemas dalam volume yang diinginkan dan dilanjutkan dengan ke-masan kedua, yaitu kertas karton supaya proses oksidasi dapat dicegah.
5. Komposisi Asam Lemak VCO
Hasil analisis menunjukkan, bahwa komposisi asam lemak C8 (kaprilat) berkisar 0.06-0.08%, C10 (kaprat) 3.36-5.38% dan C12 (laurat) 50.35-54.30%, C14 (miristat) 23.70-25.90%, C16 (palmitat) 10.30-10.70%, C18 (stearat) 2.88-3.58%, C18:1 (oleat) 1.26-1.42% dan C18:2 (linoleat) 1.01-1.34%) (Gambar 3). Standar menetapkan C12 (asam laurat) berkisar 43-53%, tetapi kalau dikaitkan dengan standar harus di atas 55%. 0 0.5 1 1.5 2 a b
Keterangan: Huruf yang tidak sama pada grafik berbeda nyata pada taraf uji BNT 0.5% Note : The different letter on the graphic are sigfnificantly different at the 0.5% of LSD test.
Figure 2. Effect of two kinds of natural extract enzymmes on peroxide value of VCO
et al.
Asian Pacific Coconut Community (APCC),
Asian Pacific Coconut Community (APCC),
Food Drug Administration/ FDA Jenis ekstrak enzim alami/
Bilangan
peroksida
(meq/kg
minyak)
Kinds of natural extract enzymes
Peroxide
value
(meq/kg
Gambar 3. Komposisi asam lemak (VCO)
Rendemen minyak starter dari penggunaan enzim kasar papain pada konsentrasi 10-30% berturut-turut ber-kisar 26.10-28.27%. Kadar air awal VCO sebelum penyimpanan adalah 0.078% dan setelah 1 hingga 3 bulan meningkat menjadi 0.106% - 0.116% (peningkatan sebesar 35.89% - 48.72%). Kadar air ini lebih ren-dah dari standar APCC.
Kadar asam lemak bebas sebelum penyimpanan 0.073%, dan setelah 1 hingga 3 bulan meningkat menjadi 0.101% -0.141% (terjadi peningkatan sebesar 35.36%-93.15%). Kadar asam lemak ini masih sangat rendah dibandingkan dengan standar APCC dan RASNI.
Bilangan peroksida tertinggi pada VCO yang diproses menggunakan mi-nyak starter dari enzim alami papain, yakni 1.893 meq/kg VCO, sedangkan dari enzim alami bromelin hanya 0.704 meq/kg VCO. Bilangan peroksida dari VCO yang dihasilkan ini jauh lebih rendah dari standar APCC. Komposisi asam lemak, terutama asam laurat (C12)
50.35-54.30%. Secara umum hasil yang diperoleh memenuhi standar APCC.
Untuk memproduksi VCO meng-gunakan sumber minyak starter dari ekstrak enzim alami, perlu diatur cara penyimpanannya, yakni sebaiknya se-telah selesai proses, langsung dikemas dalam wadah dengan volume sesuai yang diinginkan dan dilanjutkan meng-gunakan kemasan kedua, yaitu kertas karton supaya proses oksidasi dapat dicegah.
Anonim. 2004a. Manfaat getah papaya. http://www.kompas.com/kompas-cetak/205/22/daerah/dari 26.htm. (Download 25 Juli 2004. _______, 2004b. Papain EC 3.4.22.2. http:www.servade/product/sheet/ 31600.shtml. (Download 11 Agustus 2004). _______, 2004c. Bromelain. PDR Health. http://www.gettingwell.com/drug info/nmdrugprofiles/nutsupdrug 0 10 20 30 40 50 60 C8 C10 C12 C14 C16 C18 C18:1 C18:2
Ekstrak papain (papain extract) Ekstrak bromelin (bromelain extract)
Virgin Coconut Oil Figure 3. Fatty acids composition of Virgin Coconut Oil (VCO)
KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Jenis asam lemak/
Komposis
asam
lemak
(%)
Kinds of fatty acid
Atty
acid
composition
s/bro0330.shtml (Download 11 Agustus 2004). ______, 2004d. Bromelain. http://www. Supplemenwatch.com/supatoz/ supplement.asp/supplement.id= 52 (Download 10 Agustus 2004). Anonim. 2005. Cocoinfo Internasional.
12(1):39. Asian and Pasific Coco-nut Community (APCC).
Bawalan DD. 2002. Production, Uti-lization and Marketing of Virgin Coconut Oil. Cocoinfo International. Volume 9 Nomor 1.p. 5-9.
Bruce Fife CNND. 2004. The Coconut Oil Miracle. Penguin Group (USA) Inc. 375 Hudson Street. New York, NY 10014. 239p.
Cahyana D. 2004. Misi menjemput sang perawan. Majalah Trubus No. 420-November 2004/XXXV. p.81. Darmoyuwono W. 2006. Gaya hidup
sehat dengan Virgin Coconut Oil. PT. Indeks Kelompok Gramedia. 108 Hal.
Husna H. 1998. Pembuatan minyak kelapa dari santan kelapa segar menggunakan ekstrak kasar enzim papain dan enzim bromelin. Skripsi pada Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), IPB. Bogor. p 77.
Ketaren S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI Press, Jakarta. 315 Hal.
Mahlil AH dan Wahyuno R. 1988. Mengolah minyak goreng dengan bantuan ketam. Buletin Manggar 1(2):12-16.
Price. 2004. Terapi minyak kelapa. Judul asli : Coconut oil for your health. Diterjemahkan oleh Ulum B. Prestasi Pustaka, Jakarta. p 262. Rindengan B, Karouw S, dan Pasang
PM. 2003. Kualitas minyak kelapa dari daging buah kelapa dengan dan tanpa testa. Warta Pusat Pe-nelitian dan Pengembangan tanaman industri. 9(2):12-14. Rethinam. 2006. Virgin Coconut
Oil-Healthy Oil for All. Asian Pasific Coconut Community. Jakarta. 62 p. Satyavati K, Balachandran C, Krishnaswamy
C. and Sreemulanathan H. 1980. Studies on Improving the Storage Life of Coconut Oil. Proceeding of the Third Annual Symposium on Plantation Crops. St. Joseph’S Press, Trivandrum. p. 180 – 188. Taung F. 2002. Ekstraksi minyak kelapa
sawit dengan menggunakan bagian tanaman papaya sebagai penghasil enzim papain. Fakultas Teknologi Pertanian IPB.Bogor. Timoti H. 2005. Aplikasi Teknologi
Membran pada Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO). PT. Nawa-panca Adhi Cipta. 42 halaman.