BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Saat era Deng Xiaoping bersama dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT), Deng Xiaoping melakukan reformasi kebijakan dan pintu terbuka (open door
policy) yang dicetuskan Deng Xiaoping. Kebijakan tersebut yaitu dengan
melakukan liberalisasi perdagangan guna meningkatkan alur perdagangan luar negeri Tiongkok ke tingkat dan struktur yang sebanding dengan negara industri modern. Setelah wafatnya Deng Xiaoping, Xi Jinping melanjutkan pemerintahan Deng Xiaoping dengan menggagas One Belt One Road. Setelah berhasil memenangkan pemilu kepresidenan ditahun 2012, dibawah kepemimpinan Xi Jinping. Xi Jinping ingin menjadikan Tiongkok sebagai kekuatan global yang baru dan salah satu pemain utama dalam kebijakan politik global dengan menggagas One
Belt One Road (OBOR).
OBOR pertama kali diperkenalkan oleh Xi Jinping pada kunjungannya di Kazakhstan pada tahun 2013. Dalam pidatonya kunjungan tersebut di Nazarbayev
University, Xi Jinping menyarankan terbentuknya kerjasama antara Tiongkok dan
Asia Tengah untuk menyukseskan proyek ini. Karena OBOR merupakan proyek yang melahirkan kembali jalur sutra peradaban kuno Tiongkok, OBOR dibagi menjadi dua jalur yaitu “Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Baru” (new Silk Road
Economic Belt) yang mengindikasikan hubungan ekonomi yang lebih kuat dengan
(21st Century Maritime Silk Road) yang dilihat sebagai upaya untuk mempererat
hubungan dengan Asia Selatan dan Asia Tenggara yang difokuskan pada keamanan perdagangan maritime1 dengan melewati 3 benua yaitu kontinen Asia, Eropa hingga Afrika menghidupkan sirkulasi hubungan ekonomi Asia Selatan dan mengembangkan sirkulasi ekonomi Eropa serta negara-negara yang memiliki potensi pembangunan ekonomi.2
Ide OBOR berawal dari rekomendasi Xi Jinping ingin meggunakan simpanan devisa Tiongkok yang melimpah untuk memberi pinjaman kepada negara-negara yang berkembang. Pada pertemuan Asia Pacific Economy Cooperation (APEC) di November 2014, Presiden Xi Jinping mengumumkan bahwa Tiongkok akan menyiapkan dana sebesar 40 Milyar USD untuk konstruksi OBOR.3 Pinjaman tersebut kemudian ditranslasikan menjadi proyek pembangunan infrastruktur yang akan melibatkan perusahaan-perusahaan Tiongkok4 dan akan terus mengalir. OBOR ditargetkan menghabiskan USD$ 4.4 Triliun yang terbagi dalam 65 negara proyek infrastruktur. Adapun dana proyek tersebut akan dikucurkan dari tiga institusi utama, yaitu the Export-Import Bank of Tiongkok, Asia Infrastructure
Investment Bank, dan the Silk Road Fund.5
1 Indriana Kartini, “Kebijakan Jalur Sutra Baru Tiongkok dan Implikasinya Bagi Amerika Serikat”, Pusat Penelitian Politik-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, hal 131.
2 Christoper K. Johnson, CSIS, “President Xi Jinping Belt and Road Initiatives” Hal 1.
https://www.csis.org/analysis/president-xi-jinping%E2%80%99s-belt-and-road-initiative Diakses pada 14 November 2018 Pukul 14.20 Wib.
3 Ibid.
4 R. Garnaut, ‘Mostly Slow Progress on the New Model of Growth,’ dalam Ligang Song, Ross
Garnaut, Cai Fang, dan Lauren Johnston (ed.), Tiongkok’s New Sources of Economic Growth: Vol. 1, ANU Press, Australia, p. 24.
5 TW Lim, ‘Introduction,’ dalam Tai Wei Lim, Wen Xin Lim, Henry Chan, dan Katherine Tseng
Hal ini merupakan momen pertama kalinya seorang pemimpin Tiongkok menjelaskan visi strategisnya. Xi Jinping mempresentasikan proposal yang terdiri dari 5 poin utama untuk membangun bersama “Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Baru”
(the New Silk Road Economic Belt).6 Proposal ini ditujukan untuk memperkuat hubungan antara Tiongkok, Asia Tengah dan Eropa. Kelima poin tersebut antara lain: (i) memperkuat komunikasi kebijakan yang dapat membantu ‘memberikan lampu hijau” bagi kerjasama ekonomi; (ii) memperkuat koneksi jalan atau
infrastruktur, dengan gagasan membentuk koridor transportasi yang besar dari Pasifik ke Laut Baltik, dan dari Asia Tengah ke Lautan Hindia, kemudian secara bertahap membangun jaringan koneksi transportasi antara Asia Timur, Asia Barat, dan Asia Selatan; (iii) memperkuat fasilitas perdagangan, dengan fokus pada penghapusan halangan dagang (trade barriers) dan mengambil langkah mengurangi biaya perdagangan dan investasi; (iv) memperkuat kerjasama keuangan, dengan perhatian khusus pada penyelesaian mata uang yang dapat mengurangi biaya transaksi dan mengurangi risiko finansial sambil meningkatkan ekonomi yang kompetitif; dan (v) memperkuat hubungan people-to-people dengan memakai aspek geopolitik.7
Hubungan Tiongkok dan Sri Lanka pertama terjalin pada tahun 1957 dimulai ketika kehadiran kedutaan besar Tiongkok di Sri Lanka yang berlokasi di Kolombo dan kedutaan besar Sri Lanka yang berlokasi di Beijing.8 Sri Lanka merupakan
6 Kartini Indriana, Loc, Cit hal 134 7 Ibid, Hal 134.
8 Vivi Ariesta Nurjayanti, Analisis Ketergantungan Tiongkok-Sri Lanka dalam Proyek
Pembangunan Pelabuhan Hambantota Tahun 2007-2017, hal 9, diakese pada Selasa 09 Oktober 2020. Pukul 20.32 Wib.
negara asia pertama yang mengakui kedaulatan RRC dan memiliki hubungan yang baik dengan Tiongkok. Bagi Tiongkok OBOR merupakan strategi atau upaya untuk mencapai kepentingan baik politik maupun ekonomi.
Peran Sri Lanka di Samudera Hindia tidak lepas dari alasan mengapa Tiongkok melakukan kerjasama dalam menginisiasi OBOR dengan Sri Lanka di
The 21st Century Maritime Silk Road (jalur laut). Pertama kali Jalur maritime
digagas oleh Li Keqiang dalam pertemuan KTT ASEAN + Tiongkok ke-16 di Brunei dan oleh Presiden Xi Jinping dalam pidatonya di Indonesia pada Oktober 2013.9 Peran Sri Lanka di Samudera Hindia menjadi alasan penting dikarenakan letak Sri Lanka di Samudera Hindia yang terbilang sangat geostrategis, memiliki sumber daya alam besar, serta menjadi tempat pusat politik dunia dinamika politik internasional.
Ada dua faktor internal Tiongkok menggagas kebijakan OBOR, Pertama adalah Tiongkok mengalami krisis ekonomi akibat krisis global tahun 2008, sehingga terjadi penurunan ekonomi yaitu penurunan ekspor secara drastis sehingga menimbulkan masalah bagi Tiongkok yaitu overkapasitas produksi dalam negeri dan investasi Tiongkok di luar negeri mengalami penurunan. Pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebagai dampak resesi Amerika Serikat, telah turun sebesar 3 hingga 4 persen dibawah tingkat pertumbuhannya pada masa sebelum sebelum krisis. Selain GDP, juga terdapat penurunan dalam hal masukan investasi asing serta kenaikan pada tingkat pengangguran di Tiongkok. Kedua, krisisnya kebutuhan energi sumber daya alam Tiongkok untuk kebutuhan industri
dalam negeri, sehingga memerlukan jalur perairan untuk menjamin jalur keamanan energi yang di suplai dari Afrika dan Timur Tengah. Industri merupakan tonggak bagi perekonomian domestik Tiongkok sehingga energi sangat penting bagi Tiongkok bagi keberlangsungan ekonominya. Keamanan transportasi jalur suplai minyak menjadi sangat penting bagi Tiongkok dalam strategi yang diambil Tiongkok di Samudera Hindia.
Faktor Eksternal yakni adanya kebijakan Amerika Serikat “Pivot to Asia-Pasifik” Kebijakan itu mencakup keamanan dan ekonomi, dengan mengatur
kembali 60% kekuatan udara dan laut AS ke Asia hingga 2020, mengepung Tiongkok, dan melakukan negosiasi dengan negara-negara sekutu perihal perjanjian Trans-Pacific Partnership, tanpa melibatkan Tiongkok.
Mengingat Tiongkok juga sedang mengahadapi ”Malacca Dilemma”. Dalam teori geopolitik Spykman, Spykman berkata sebenarnya bukanlah siapa yang menguasai daerah jantung Mackinder, namun “Who controls the Rimland rules
Eurasia; Who rules Eurasia controls the destinies of the world” siapa yang dapat
mengatur daerah pelosok (rimland) Spykman akan menguasai Eurasia, siapa yang menguasai Eurasia akan mengatur seluruh dunia.
Jalur perdagangan maritim ditujukan sebagai upaya untuk mempererat hubungan dengan meningkatkan akses pelabuhan serta mengembangkan hubungan diplomatis khusus Asia Selatan dimana difokuskan pada kemanan perdagangan maritim, rutenya Maritime Silk Road ini akan dimulai dari Tiongkok, pindah ke Laut Tiongkok Selatan dan kemudian Asia Tenggara, Samudera Hindia, Afrika,
dan Eropa. Contohnya Pelabuhan Hambatonta yang berada di Asia Selatan, Sri Lanka.
Jalur sutra atau One Belt One Road Maritim dimulai di Quanzhou di provinsi Fujian, melalui Guangzhou, Behai dan Haikou sebelum kearah Selat Malaka. Dari Kuala Lumpur, Jalur sutra maritime mengarah ke Kalkuta, India dan menyebrangi lautan Hindia hingga Nairobi, Kenya. Dari Nairobi, Jalur maritim mengarah ke utara mengelilingi Benua Afrika dan bergerak melalui laut mati ke Laut Mediterania, berhenti di Athne, sebelum bertemu dengan Jalur Sutra Darat di Venisia.10 Melihat kerja sama Tiongkok dan Sri Lanka berawal dari Tiongkok dan Sri Lanka pernah mencanangkan strategi String Of Pearls. Sri Lanka telah menjadi mitra kerja sama penting bagi Tiongkok dikarenakan letak geografi strategisnya. Menurut Spykman kawasan Rimland yang meliputi kawasan Eropa, Timur Tengah, Asia Barat Daya, Asia Tenggara, Asia Selatan merupakan kawasan yang diperkirakan kedepannya akan memiliki populasi besar dan produktivitias lebih dari
Heartland.
Pada 17 September 2014, Presiden Xi Jinping dan Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa melaksanakan inspeksi Terminal Colombo Selatan di Pelabuhan Colombo yang mana merupakan proyek kerjasama antara Tiongkok dan Sri Lanka guna mengimplementasikan One Belt One Road. Tanggal tersebut tidak hanya menjadi acara kunjungan Xi Jinping di Sri Lanka, namun juga peresmian kerjasama dari proyek tersebut.11
10 Indriana Kartini, Loc.cit
11http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/zjpcxshzzcygyslshdsschybdtjkstmedfsllkydjxg
Pelabuhan Hambantota yang merupakan proyek investasi Tiongkok yang terbesar di Sri Lanka, dengan empat tempat berlabuh kontainer dan dirancang untuk memenuhi standar kapasitas 2,4 juta kontainer. Kota pelabuhan ini dibangun oleh
Tiongkok Harbour Engineering Company Ltd dengan reklamasi lahan sekitar 2,76
juta meter persegi dan pembangunan infrastruktur termasuk jalan dan jalur pipa yang diharapkan akan selesai pada September 2017. Fasilitas lainnya direncanakan akan selesai pada 2022.12 Pembangunan ini akan menghubungkan pusat bisnis dan memperluas ruang pengembangan dari Kota Colombo.13
Bagi Sri Lanka, pembangunan ini ditujukan agar kota tersebut tidak hanya menjadi tempat persinggahan kargo. Colombo diproyeksikan akan menjadi sebuah kota dengan aktivitas ekonomi yang padat menyaingi Singapura dan Dubai. Dengan terbangunnya Pelabuhan tersebut, Colombo diharapkan menjadi lokasi yang menyediakan akses langsung ke pasar besar di subkontinen India, meningkatkan modal asing dan kesempatan lapangan pekerjaan bagi Sri Lanka.14 Dengan bekerja sama Tiongkok Sri Lanka dalam proyek Colombo menjadi kota metropolis, dapat meningkatkan populasi di Sri Lanka khususnya meningkatkan turis yang datang dan berdampak dalam meningkatkan peluang pasar di Sri Lanka. Sehingga membuat Tiongkok dapat menjadikan Sri Lanka salah satu akses pasar komoditas produk Tiongkok di Sri Lanka.
12 Ibid. 13 Ibid.
14
http://www.forbes.com/sites/wadeshepard/2016/08/12/a-look-at-colombo-port-city-the-frontline-of-Tiongkok-and-indias-geopolitical-showdown/#e0f72b17d1b4 diakses pada 27 Oktober Pukul 14.32 Wib.
Melihat lebih jauh, keterlibatan ekonomi Sri Lanka yang terus berjalan dikarenakan Tiongkok menimbulkan keprihatinan di seluruh peneliti didunia, satu sisi argumen berpendapat bahwa Tiongkok telah membuat kontribusi yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi Sri Lanka. Tiongkok memang telah melakukan beberapa pergerakan dalam mewujudkan proyek ini khususnya dengan meningkatkan hubungan kerjasama dengan negara – negara kawasan Asia Selatan.15 Keputusan Xi Jinping melakukakn kerja sama dengan Sri Lanka merupakan nilai yang strategis bagi Tiongkok. Pelabuhan Hambantota berlokasi tidak jauh dari rute perdagangan maritime terpadat di dunia, yang hanya berjarak 10 mil laut saja, bukan hanya rute terpadat perdagangan maritim, letak pelabuhan Hambantota semakin penting karena masuk dalam bagian Mairitime Silk Road (MSR) Tiongkok.
Menurut data dari Heritage Foundation yang berjudul ‘Tiongkok Global
Investement Tracker’ menyebutkan, sejak tahun 2005-2014 Tiongkok telah
menghabiskan dana bantuan investasi sebesar 870,4 Milyar USD, diantaranya 17,8 Milyar USD untuk Pakistan, 8,9 Milyar USD untuk Sri Lanka dan 3,8 Milyar USD untuk Bangladesh.16 Hal ini dilakukan untuk memperkuat pengaruh Tiongkok dari India dikawasan tersebut.17 Sebagai negara kecil yang muncul dari perang saudara, infrastruktur sangat penting memfasilitasi sektor perdagangan dan investasi Sr Lanka. Bank Dunia memperkirakan bahwa PDB Sri Lanka kemungkinan akan tumbuh besar sekitar 5% di 2017 dari 3,9 % di 2016.
15 Xi Jinping in Global Stage. Hal 18
16 Poltics of Port, Thilni Kahandalwaraachi Hal 1 17 Xi Jinping in Global Stage. Hal 18
Sehingga Sri Lanka merupakan komponen kunci dari strategi 21st Century
Maritime Silk Road, sehinga Sri Lanka menempati posisi kedua dalam pinjaman
atau bantuan investasi pembangunan yang diperoleh dari Tiongkok. Sri Lanka mendapatkan pinjaman investasi pembangunan pelabuhan Hambantota Colombo Port City dan Bandara Internasional Mattala Rajapaksa membuat Sri Lanka berutang $8 miliar dari Tiongkok dan utang nasional Sri Lanka US $64,9 miliar. 18
Kepemilikan pelabuhan-pelabuhan disepanjang rute maritime akan menjadi terminal dari proyek jalan maupun rel kereta api di daratan. Letak pelabuhan Hambantota akan menjadi gerbang yang menghubungkan Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan kembali ke daratan Tiongkok. Tidak hanya sebagai jalur perdagangan maritime, setidaknya Tiongkok dapat membenahi ketidakseimbangan struktural ekonomi seperti surplus produksi, membuka jangkauan pasar baru bagi Tiongkok untuk menyerap produk-produknya, integerasi pasar yang sejalan dengan proses integerasi keuangan, dan bisa menjadi landasan Tiongkok untuk menempatkan militernya di luar negeri.
Maka dari itu peneliti tertarik meneliti mengapa geopolitik benar bepengaruh penting terhadap kerjasama Tiongkok Sri Lanka, bagaimana Sri Lanka menjadi sangat penting dijadikan mitra kerja sama Tiongkok, serta mengetahui apa kepentingan dalam melakukan kerja sama dengan Sri Lanka melalui perspektif geopolitik. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk membahas mengapa geopolitik menjadi alasan kerjasama Tiongkok – Sri Lanka dalam mengemplementasikan One
Belt One Road Initiatives.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah mengenai judul penelitian diatas, peneliti tertarik untuk memahami kasus ini lebih dalam dengan rumusan masalah sebagai berikut :
Mengapa Sri Lanka menjadi alasan Tiongkok melakukan kerja sama dalam implementasi One Belt One Road Initiatives.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengapa Sri Lanka menjadi alasan kerja sama Tiongkok dalam implementasi OBOR
2. Bagaimana geopolitik menjadi alasan penting dalam mendorong One Belt One Road yang diusung oleh Tiongkok ditahun 2013-2019.
Adapun manfaat penelitian yang dilakukukan oleh peneliti ditujukan untuk menjadi salah satu cara baru dalam menjelaskan upaya-upaya Tiongkok dalam mencapai One Belt One Road Initiatives di kawasan Asia Selatan khususnya Sri Lanka dengan menjadikan perspektif geopolitik sebagai faktor pendorong kerja sama dan bagaimana dampak OBOR terhadap SrI Lanka dalam perspektif geopolitik.
1.4 Penelitian Terdahulu
Dalam Jurnal pertama yang berjudul Tiongkok’s Westward March: Strategic
Views of One Belt, One Road yang ditulis oleh Changhoon CHA, jurnal ini menulis
Inisiatif OBOR sebagian besar telah disambut oleh negara-negara tetangga Asia dan benua Tiongkok. Ini berpotensi dapat berkontribusi positif terhadap integrasi Eurasia. Tentu saja, keberhasilan OBOR akan memakan waktu beberapa dekade dan akan bergerak maju hanya selama perkembangan Tiongkok menopang momentum pertumbuhannya. Keberhasilan bergantung pada kerja sama para pemimpin regional dan lokal di berbagai tempat dan sejauh mana mereka dapat memobilisasi sumber daya politik dan keuangan dari para pemimpin pusat dan investor asing. Infrastruktur yang dibiayai oleh inisiatif Tiongkok adalah perdagangan dan investasi terhadap perangkat keras, yang diperlukan tetapi tidak cukup untuk memperdalam integrasi. Untuk keberhasilan inisiatif, perangkat lunak integrasi akan diperlukan, mengurangi hambatan perdagangan, membuka layanan untuk perdagangan dan investasi, dan memungkinkan para pemimpin politik pusat dan lokal untuk mengatasi berbagai hambatan regulasi untuk berdagang. Selama periode ini, kepentingan global Tiongkok yang luas dapat menciptakan konflik dan pengaruh baru untuk menggambarkan ambisinya sebagai pemecah masalah global. Jurnal kedua yaitu jurnal yang ditulis oleh Yu Sing Ong berjudul One Belt,
One Road: Enhancing Malaysian Students’ Mobility. Tulisan ini bertujuan untuk
mengembangkan kerangka kerja pada faktor penentu mobilitas mahasiswa internasional dari Malaysia. One Belt, One Road adalah tonggak penting bagi Malaysia karena kedua negara mencari hubungan ekonomi dan politik yang lebih
erat. Sektor pendidikan juga diuntungkan dari hubungan yang lebih dekat ini. Pentingnya makalah ini adalah bahwa ia merumuskan model regresi logistik yang mencakup berbagai parameter dalam pilihan siswa negara untuk belajar di luar negeri. Dengan pemahaman tentang berbagai faktor penentu mobilitas siswa, Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia akan dapat menyempurnakan kebijakan makro untuk menarik lebih banyak siswa internasional untuk belajar di Malaysia .
Jurnal ketiga yaitu ditulis oleh Picciau, Simona pada tahun 2016 yang berjudul The "One Belt One Road" Strategy Between Opportunities & Fears: A
New Stage in EU-Tiongkok Relations? Artikel ini bertujuan membahas dampak
OBOR pada hubungan antara Tiongkok dan Uni Eropa dan konsekuensinya dalam hal integrasi regional dan persatuan. Bagian pertama dari artikel ini menjelaskan strategi One Belt One Road. Secara berurutan, sebuah laporan sejarah singkat akan dipresentasikan mengenai kerja sama Uni Eropa-Tiongkok sejak pembentukan hubungan diplomatik pada tahun 1975, dicirikan oleh perbedaan, tetapi pada saat yang sama, kebutuhan untuk membangun kemitraan yang solid. Bagian ketiga mencakup analisis tanggapan UE terhadap OBOR, khususnya yang berfokus pada isu-isu mengenai kemampuan UE untuk menghasilkan strategi regional dan memanfaatkan peluang untuk meningkatkan hubungan regionalnya dan memperkuat hubungannya dengan raksasa Asia. Akhirnya, kami akan mempertimbangkan OBOR sebagai peluang untuk memperkuat hubungan UE-RRC tidak hanya dalam hal pertukaran perdagangan dan ekonomi (Hard
Connection) tetapi juga dalam kaitannya dengan Soft Connections yang diperlukan
kemitraan strategis berdasarkan saling pengertian. Artikel ini juga akan membahas peluang untuk menegosiasikan modalitas pelaksanaan OBOR tidak hanya di tingkat bilateral tetapi juga dalam contoh multilateral yang sudah ada, seperti ASEM (Asia-Europe Meeting) .
Jurnal keempat yang ditulis oleh Hermaputi pada tahun 2017 yang berjudul Review of “The Chinese Belt and Road Initiative”: Indonesia-Tiongkok Cooperation and Future Opportunities for Indonesia’s Port Cities Development.
Jurnal ini bertujuan untuk menguraikan One Belt One Road Tiongkok Initiative, melalui analisis SWOT hubungan Tiongkok-Indonesia dan kondisi investasi dan analisis deskriptif tentang dampak pembangunan kota pelabuhan Indonesia. The Belt and Road Initiative muncul sebagai strategi kerja sama pemerintah Tiongkok yang baru dengan negara-negara tetangga. Ini akan merevitalisasi Jalan Sutra yang ada dan membangun Jalur Sutera Maritim, menghubungkan Asia Tenggara melalui Samudera Hindia ke Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini menunjukkan kesamaan dengan program Tol Maritim di Indonesia. Keterlibatan Indonesia di Jalur Sutera Maritim menawarkan banyak peluang bagi negara-negara asing untuk berinvestasi dan berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi mereka. Namun, Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia menyatakan bahwa realisasi investasi Tiongkok di Indonesia tidak lebih dari 10% pada tahun 2014. Output dari makalah ini terdiri dari rekomendasi untuk kedua belah pihak untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan mengenal negara masing-masing dengan baik, menjamin realisasi investasi terencana, mengambil keuntungan dari Zona
Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN dan AIIB, dan meningkatkan sistem investasi.
Jurnal kelima adalah jurnal yang ditulis oleh Yakov Silin, Larisa Kapustina, Italo Trevisan , dan Andrei Drevalev pada tahun 2017 yang berjudul Tiongkok's economic interests in the “One Belt, One Road” initiative. Artikel ini mengkaji
inisiatif "One Belt - One Road" dari Tiongkok yang ditujukan untuk pengembangan infrastruktur transportasi dan logistik pada jalur perdagangan dari Tiongkok ke Eropa. Para peneliti memberi perhatian khusus pada sejarah Jalan Sutra, yang berfungsi sebagai b asis ideologis untuk inisiatif modern. Skala proyek baru ini memungkinkan para peneliti untuk berharap bahwa dampaknya terhadap perdagangan internasional akan sebanding dengan kontribusi Jalan Sutra yang bersejarah bagi perkembangan ekonomi global seperti yang kita ketahui. Para peneliti menganalisis prospek pengembangan dan implementasi inisiatif dalam hal kepentingan ekonomi Tiongkok. Ancaman paling signifikan yang terkait dengan inisiatif yang diidentifikasi.
Berdasarkan lpada lkelima ljurnal ldi latas, lyang lmembedakan ldengan lpenelitian
lini ladalah lBagaimana lgeopolitik lsebagai lfaktor lpendorong lkerja lsama lTiongkok l
-lSri lLanka l,sehingga lmembuat lSri lLanka lbersedia lmenerima linvestasi lTiongkok
lmelalui lkerja lsama lOne lBelt lOne lRoad. lSeperti lyang lkita lketahui lSri lLanka
lmenempati lposisi lkedua ldalam lpinjaman latau lbantuan linvestasi lpembangunan
lyang ldiperoleh ldari lTiongkok. lTiongkok lmemang ltengah lmemiliki lreputasi lyang
lcukup lberani ldalam lberinvestasi ldi lnegara-negara ldengan lrisiko lpolitik lyang
ldengan lbesarnya lnilai lyang lTiongkok lberikan lkepada lnegara-negara lpenerima.
lNamun, lmari lkita lmelihat lsatu lpersatu ldari lketiga lnegara ltersebut lsecara
lgeostrategis. lDengan lbekerja lsamanya lTiongkok lSri lLanka lmembangun
lPelabuhan lHambantota ldan lBandara lMattala lsehingga lmembuat lSri lLanka
lterjebak lutang lyang lmengharuskan lpemerintah lsetempat lmengekuitas lwilayah ldan
lbandara lMattala lguna lmembayar lsemua lutang lSri lLanka lterhadap lTiongkok, ldisini
lpeneliti lingin lmengetahui ldampak ldan lsudut lgeopilitik lterjadinya lkerja lsama
Tabel l1.4 Penelitian lTerdahulu
No. Nama ldan lJudul lPenelitian Metodologi,
lTeori/Konsep
Hasil
1. Changhoon lCHA
Tiongkok’s lWestward lMarch:
lStrategic lViews lof lOne lBelt,
lOne lRoad
Deskriptif -Kerjasama
linternasional
- lInisiatif lOBOR lsebagian lbesar
ltelah ldisambut loleh l negara-negara ltetangga lAsia ldan lbenua
lTiongkok. lIni lberpotensi ldapat
lberkontribusi lpositif lterhadap
lintegrasi lEurasia.kat lIndonesia”.
- lKeberhasilan lOBOR lakan
lmemakan lwaktu lbeberapa ldekade
ldan lakan lbergerak lmaju lhanya
lselama lperkembangan lTiongkok
lmenopang lmomentum
lpertumbuhannya 2. Yu lSing lOng l
One lBelt, lOne lRoad: lEnhancing
lMalaysian lStudents’ lMobility
Deskriptif -Kerjasama
linternasional
-beranggap luntuk
lmengembangkan lkerangka lkerja
lpada lfaktor lpenentu lmobilitas
lmahasiswa linternasional ldari
lMalays
- lOne lBelt, lOne lRoad ladalah
ltonggak lpenting lbagi lMalaysia
lkarena lkedua lnegara lmencari
lhubungan lekonomi ldan lpolitik
lyang llebih lerat. lSektor
lpendidikan ljuga ldiuntungkan ldari
lhubungan lyang llebih ldekat lin. 3. Picciau, lSimona l
The l"One lBelt lOne lRoad"
lStrategy lBetween lOpportunities
l& lFears: lA lNew lStage lin l EU-Tiongkok lRelations?
Deskriptif
-Kerjasama
linternasional
-dampak lOBOR lpada lhubungan
lantara lTiongkok ldan lUni lEropa
ldan lkonsekuensinya ldalam lhal
lintegrasi lregional ldan lpersatuan -OBOR lsebagai lpeluang luntuk
lmemperkuat lhubungan lUE-RRC
ltidak lhanya ldalam lhal lpertukaran
lperdagangan ldan lekonomi l(Hard
lConnection) ltetapi ljuga ldalam
lConnections lyang ldiperlukan
luntuk lmengurangi ljarak lbudaya,
ldalam lrangka lmembangun
lhubungan lyang lkuat 4. Hermaputi
“The lChinese lBelt land lRoad
lInitiative”: lIndonesia-Tiongkok
lCooperation land lFuture
lOpportunities lfor lIndonesia’s lPort lCities lDevelopment.
Deskriptif l
-Kerja lsama
linternasional -Geoekonomi
- lOne lBelt lOne lRoad lTiongkok
lInitiative, lmelalui lanalisis lSWOT
lhubungan lTiongkok-Indonesia
ldan lkondisi linvestasi ldan lanalisis
ldeskriptif ltentang ldampak
lpembangunan lkota lpelabuhan
lIndonesia
- lmerevitalisasi lJalan lSutra lyang
lada ldan lmembangun lJalur lSutera
lMaritim, lmenghubungkan lAsia
lTenggara lmelalui lSamudera
lHindia lke lTimur lTengah ldan
lAfrika lUtara 5. Yakov lSilin, lLarisa lKapustina,
lItalo lTrevisan l, ldan lAndrei
lDrevalev l
Tiongkok's leconomic linterests lin
lthe l“One lBelt, lOne lRoad” linitiative.
Deskriptif -Ekonomi -Kerjasama
lInternasional
- linisiatif l"One lBelt l- lOne lRoad"
ldari lTiongkok lyang lditujukan
luntuk lpengembangan
linfrastruktur ltransportasi ldan
llogistik lpada ljalur lperdagangan
ldari lTiongkok lke lEropa l
- lprospek lpengembangan ldan
limplementasi linisiatif ldalam lhal
lkepentingan lekonomi lTiongkok.
lAncaman lpaling lsignifikan lyang
lterkait ldengan linisiatif lyang
6 Andi lWira lGama lPutra
ALASAN lTIONGKOK
lMELAKUKAN lKERJA lSAMA
lONE lBELT lONE lROAD
lINITIATIVES lDENGAN lSRI
lLANKA lMELALUI lPERSPEKTIF lGEOPOLITIK Eksplanatif Geopolitik Teori lRimland lSpykman
Pengaruh lkerjasama lTiongkok
ldan lSri lLanka ldalam
lmelaksanakan lOne lBelt lOne lroad
1.5 Kerangka lPemikiran
Untuk lmenganalisa lsuatu lfenomena latau lpermasalahan ldalam lhubungan
linternasional ldibutuhkan lteori lyang lmampu lmenjelaskan lpaling lumum lmengapa
lsesuatu lterjadi ldan lkapan lperistiwa ltersebut lakan lterjadi llagi.19 lAdapun lteori ldapat
ldigunakan lsebagai lalat leksplanasi ldan lprediksi. lDengan lkata llain, ldapat ldikatakan
lbahwa lteori lberfungsi luntuk lmemberikan lkerangka lhipotesa lsecara llogis ldalam
lmenjelaskan lfenomena-fenomena lyang lterjadi. lOleh lkarena litu, lpeneliti
lmenggunakan lKonsep lGeopolitik ldan lteori lRimland lSpykman luntuk lmenjawab
lrumusan lmasalah lpenelitian lyang lkemudian lakan lmembantu lpeneliti luntuk
lmenjelaskan lbagaimana lgeopoltik lmenjadi lfaktor lpendorong lkerja lsama lTiongkok
l- lSri lLanka ldalam limplementasi lOBOR lserta lpengaruhnya.
1.5.1 lTeori lGeopolitik lSpykman lRimland
Membahas ltentang lgeografi ldalam lstudi lHubungan lInternasional,
lmaka lpara lpenstudi lHI ltidak lbisa llepas ldari lstudi lgeopolitik. lSeperti lyang
ldipaparkan loleh lMackinder l“Geopolitics lis la lnew lway lof lseeing
linternational lpolitics las lunified lworldwide lscene”.20 lGeopolitik lsecara
letimologi lberasal ldari lkata lgeo l(bahasa lYunani) lyang lberarti lbumi lyang
lmenjadi lwilayah lhidup. lSedangkan lpolitik ldari lkata lpolis lyang lberarti
lkesatuan lmasyarakat lyang lberdiri lsendiri latau lnegara ldan lteia lyang lberarti
lurusan l(politik) lbermakna lkepentingan lumum lwarga lnegara lsuatu lbangsa.
19 lMohtar lMas’oed, l1990 lIlmu lHubungan lInternasional lDisiplin ldan lMetodologi, lJakarta; lLP3ES, lhal. l217.
20 lIqbal lRamadhan, lTiongkok’s lBelt lRoad lInitiative l: lDalam lPandangan lTeori lGeopolitik lKlasik, ljal l140
lGeopolitik ldimaknai lsebagai lilmu lpenyelenggaraan lnegara lyang lsetiap
lkebijakannya ldikaitkan ldengan lmasalah-masalah lgeografi lwilayah latau
ltempat ltinggal lsuatu lbangsa. lGeopolitik ladalah lilmu lyang lmempelajari
lhubungan lantara lfaktor-faktor lgeografi, lstrategi, ldan lpolitik lsuatu lnegara,
lsedangkan luntuk limplimentasinya ldiperlukan lsuatu lstrategi lyang lbersifat
lnasional.
Pada lera limperialisme ldan lkolonialisme lhingga lberakhirnya lPerang
lDunia lII, larah lgeopolitik ldipengaruhi loleh lkekuatan lmiliter luntuk lmelakukan
lekspansi lterhadap lnegara-negara llain lsekaligus luntuk lmempertahankan
lnegaranya. lSedangkan lpada lera lPerang lDingin ltidak llagi lmenggunakan lcara
lekspansi lberupa lfisik lmelainkan ldengan lmelalui lpenyebaran lideologi.
lSetelah lberakhirnya lPerang lDunia lII ldan lPerang lDingin, lsistem linternasional
lmenjadi lmultipolar lyang lekonomi lseperti lTiongkok, lIndia, lBrasil, ldan
lJerman. lArah lgeopolitik lbergeser lterhadap lkebutuhan lnegara lakan lsumber
ldaya lalam latau lnegeri lsebagai lbentuk lkekuatan lnegara. lKebutuhan lnegara
lakan lsumber ldaya lalam lmembuat lnegara lberlomba-lomba lmenguasai
lwilayah lyang lstrategis. lMenurut lJakub lJ.Grygiel, lletak lstrategis lsuatu
lwilayah ldipengaruhi loleh ldua lhal lyaitu lline lof lcommunication ldan lcenters lof lresources.21 lSri lLanka lmemiliki lSea lLine lof lCommunication lyakni ljalur
lkeamnan llaut lsebagai lpotensi lletak lstrategis ldari lNegara lSri lLanka ldan
lmemiliki lkawasan lstrategis lyang lberbatasan llangsung ldengan lSamudera
21 lJakub lJ. lGrygiel, l2006, lGreat lPowers land lGeopolitical lChance, lBaltimore: lThe lJohns lHopkins lUniversity lPress, lhal. l27.
lHindia ldan lSri lLanka lmemiliki lsalah lsatu ljalur lperdagangan lterpadat ldari
lsumber ldaya lyang lada ldi ldunia.
Dalam lkonteks lmemahami lkerja lsama lTiongkok lSri lLanka,
lgeografi lhadir lmemainkan lperanan lpenting ldalam lkehidupan lmanusia. l lGeografi lmembentuk lidentitas, lkarakter, ldan lsejarah lnegara-bangsa l (nation-states); lgeografi ljuga lmembantu lsekaligus lmenghalangi lkemajuan lekonomis,
lsosial, ldan lpolitik; lgeografi ljuga lberperan lpenting ldalam lhubungan
linternasional. lSementara lgeopolitik lmerupakan lstudi lmengenai lpengaruh
lfaktor lgeografis lterhadap lperilaku lnegara, lyakni lbagaimana llokasi, liklim,
lsumber ldaya lalam, lpopulasi, ldan lkondisi lfisik lmenentukan lpilihan lkebijakan
lluar lnegeri lsuatu lnegara ldan lmenentukan lposisinya ldalam lhierarki lnegara.22 Sehingga lteori ldalam lilmu lhubungan linternasional lmenawarkan
lkerangka lkonseptual luntuk lmenjawab ltiga ltugas ldasar ldari lgeopoltik l: luntuk
lmenganalisis ldampak ldari lperaturan ldan lkeputusan ldari lperilaku lnegara;
luntuk lmemahami lperubahan ldimensi ldan lbatas lstruktur lkekuatan l(power),
linstitusi ldan ltatanan l(order), ltermasuk lperan ldari ltransparansi lyang llebih
lluas l(akses linformasi) ldan lakuntabilitas; ldan luntuk lmempromosikan
lkeadilan, linklusi lsosial lyang llebih lluas lserta lkesetaraan. lDengan lkata llain,
lteori ldigunakan luntuk lmenggambarkan lrealita ldan lmemaparkan
lpengetahuan lhistoris ldan lpraktis luntuk lmemecahkan lmasalah ldan
lmempromosikan lidealisme lyang ltelah ldisebutkan lsebelumnya lserta lakan
22 lGriffiths, lMartin, lTerry lO'callaghan, land lSteven lC. lRoach. lInternational lrelations: lThe lkey lconcepts. lTaylor l& lFrancis, l2008,122-123.
lberkesenimbungan ldengan lteori lyang lakan ldigunakan lpeneliti lnanti.
lBerdasarkan lpemikiran ltersebut, ltulisan lini lakan lmenjawab lpermasalahan
ldengan lmenggunakan lteori lyaitu lgeopolitik.
Untuk lmempermudah lpeneliti ldalam lmencari lpredikbilitas. lPeneliti
lmengambil lpeneliti lmengambil lteori lNicholas lJ. lSpykman l(1943) lyang lakan
ldi lkorelasikan ldengan lpenelitian. lSpykman ljuga lmengadopsi lpemetaan ldunia
ldari lteori lMackinder, lnamun lteori lini llebih lmenonjolkan ldaerah lpelosok
l(rimland). lDi lRimland, lSpykman lberkata lbahwa lKawasan lrimland lyang
ldiapit ldaratan ldan llautan lmemiliki lpotensi lekonomi ldan lpopulasi lyang llebih
ldibandingkan ldengan lhanya ldaratan lheartland.
Dalam lteori lSpykman ldisebutkan lbahwa ldunia ldiklasifikasikan
lmenjadi lbeberapa ldaerah lyakni lPivot lArea, lRimland, lOuter lCrescant ldan
lNew lWorld. l
Daerah-daerah lini lmencakup lbeberapa lkawasan lwilayah l:
1. Pivot larea, lmeliputi lkawasan lbagian lEurasia ldengan lpusat
lberada ldi lbagian lUtara lhingga lTengah, lyang lmana lsama
ldengan lkawasan ldaerah ljantung l(heartland) lMackinder.
2. Rimland, lmeliputi lkawasan lEropa, lTimur lTengah, lAsia lBarat
lDaya, lAsia lSelatan, lTiongkok, lKorea, ldan lJepang.
lSebenarnya lkawasan lini lpada lteori lMackinder ldisebut
ldengan linner lor lmarginal lcresent, lhanya lsaja ldalam lteori
lSpykman lkawasan lini ldisebut ldengan lrimland. lKawasan
lakan lmemiliki lpopulasi lbesar ldan ladanya lproduktivitas llebih
ldaripada lheartland.23 lDikarenakan lkawasan lrimland ljuga
ldaerah lyang lberbatasan llangsung ldengan lpivot larea. lSehingga, lmenurut lSpykman lkawasan lrimland lmerupakan
lkawasan lyang lmempunyai lkategori lgeopolitik lpenting. 3. Outer lCrescant, lmeliputi lkawasan lInggris, lAfrika lSelatan
ldan lAustralisa. lDisebut louter lcrescent lkarena lkawasannya
lberada lpada lbagian lterluar
4. New lWorld, lmeliputi lkawasan lAmerika lUtara lhingga lSelatan.
l lDisebut ldengan lnew lworld, lkarena lkawasan lAmerika
lmerupakan lkawasan lbaru lyang lberperan ldalam lgeopolitik.
Gambar l1.1 lPeta lSpykman l:
Sumber l: lsteemit.com
Diliat ldari lpemetaan lwilayah loleh lSpykman, ldapat ldi ltarik
lkesimpulan lbahwa luntuk lmenjadi lwilayah lberpotensi ldi ldunia lharuslah
lmempunyai lciri-ciri lsebagaimana ldaerah lrimland. lCiri-ciri ltersebut lbisa
lmeliputi ldaerah lberpotensi lyang lberada ldi lwilayah lstrategis, lstrategis lini
lmenjelaskan lbahwa lsuatu lwilayah lakan lberpotensi llebih ljika lberada ldiantara
ldaratan ldan llautan. lKarena ldaerah lrimland lterletak ldiantara lheartland ldan
lmarginal lsea lpower lmaka lkekuatan ldarat lharus ldiimbangi ldengan ladanya
lkekuatan llaut ltanpa lharus lmemisahkan ldua lkekuatan ltersebut.
Dua ltokoh lpemikir lgeopolitik lSpykman l& lMackinder lmenjelaskan
ltentang lpenggunaan lkekuatan ldalam lpertahanan ldaerah latau lkawasan. lJika
lMackinder lhanya lmengandalkan lkekuatan ldarat24 lmaka lSpykman
24 lImam lHidayat ldan lMardiyono, l1983, lGeopolitik l: lTeori ldan lPolitik ldalam lHubungan ldengan lManusia, lRuang, ldan lSDA, lSurabaya: lUsaha lNasional, lhal l70.
lmenggunakan lkombinasi lkekuatan ldarat, llaut, ludara luntuk lmenguasai
ldunia.25 l
Sri lLanka lyakni lmasuk lpada lRimland lmenjadi lperhatian lkhusus
lTiongkok ldalam lmenjalin lkerjasama lOBOR. lSpykman lmengatakan lbahwa
lHeartland ladalah lwilayah lFisiografi lkesulitan ldengan lhambatan ldan lkendala
liklim lekstrim lseperti lSiberia, lSumber ldaya ltidak laktif, lpopulasi lmanusia
ltidak lsebanyak lrimland. lIni lbukan lbenteng lalami latau lTanah lyang
ldilindungi. lHal lini ldilihat ldari lbanyak lbagian lyang lmemungkinkan lakses lke
llainnya lseperti lgurun lAsia ltengah, lStepa, lPegunungan lrendah, lLembah
lSungai ladalah lbeberapa lpintu lgerbang. lApalagi lwilayah lini ldihuni loleh lSuku
ldan lmemiliki lperadaban lprimitif ldan ltidak lberarti ldapat lmempengaruhi
lgeopolitik ldunia. lHeartland ladalah lTanah lKesengsaraan ltanpa lkemakmuran
lmenurut lSpykman.26 lSedangkan lRimland, lsama lseperti lBulan lSabit lDalam
ldi lHeartland, lmemiliki lsemua lkekuatan llaut lyang lmegah lserta lmenuliskan
lsejarah lperadaban lmodern. lSemua lwilayah lRimland lterhubung ldengan lair
lyaitu lLaut latau lsamudera lmisalnya lCina, lIndia, lNegara-negara lASEAN,
lNegara-negara lTeluk, ldll. lBerpopulasi llebih lseperti lcontohnya lNegara lIndia
ldan lCina ldan lberpotensi llebih lseperti lSri lLanka lyang lberbatasan ldengan
lSamudera lHindia.
Kata lSpykman“ lHeartland ltampak lkurang lpenting ldaripada lRimland” ldan ldiktumnya lyang lterkenal ladalah“Siapa lyang lmengendalikan lRimland
25 lIbid.
lmenguasai lEurasia, lSiapa lyang lmenguasai lEurasia lmengendalikan lnasib
lDunia”
Sehingga ldalam lperkembangannya, lkonsep lgeopolitik ldapat
lmengalami lperubahan lmenjadi lgeoekonomi ldengan lfokus lyang lberubah ldari
lgagasan lmiliter lmenjadi lfenomena lekonomi. lKonsep lini lberupaya
lmenunjukkan lbagaimana lmeraih ldan lmempertahankan lkeuntungan
lkompetitif lnasional lmelalui lalat latau lcara lekonomi. lPeperangan litu lsendiri,
ltidak llebih lmerupakan lalat lutama luntuk lmeraih ltujuan lyang lsama. lJika lsatu
lnegara lmemilih ljalan lperang, lnegara litu lharus lyakin lbahwa ljalan lyang
lditempuhnya lakan lmengarah lpada lpeningkatan lposisi lekonomi. lTeori
lgeopolitik ljuga lmengikuti lkonsep lgeoekonomi llebih lmemfokuskan lpada
lperkembangan lsosial, lyakni llebih lberkaitan ldengan lpertumbuhan lekonomi
ldan lfenomena lglobalisasi27. l
Kebijakan lTiongkok lmelalui lteori lgeopolitik lSpykman luntuk
lmenganalisis lkonsep lJalur lSutra lBaru lTiongkok lTwenty-First lCentury
lMaritime lSilk lRoad l(MSR) lyang lmelingkupi lwilayah lTiongkok lhingga lke
lbeberapa lwilayah llintas lbenua lAsia ldan lEropa lkhususnya lSri lLanka lyang
ljuga ldidorong loleh lkonektivitas lantara lAsia lTenggara, lOceania, lSamudera
lHindia ldan lAfrika lTimur lmemilik lmotif lkerja lsama lpembangunan lekonomi
lbaik ldomestik lmaupun linternasional
Gambar l1.2 lJalur l21st lMSR l: l
Sumber l: lMerries l2015
Letak lSri lLanka lyang ltermasuk ldalam ldaerah lRimland ldianggap
lstrategis lbagi lTiongkok lkarena lmemberikan lakses lsumber ldaya lalam lyang
ldibutuhkan lbagi lTiongkok. lSelain ldari lmemberikan ljalur lakses lsumber ldaya
lalam, lletak lgeografis lSri lLanka lmerupakan lmenjadi lmitra lpenting lkerja lsama
lTiongkok luntuk lmengamankan ljalur lsumber ldaya lalamnya lke lTiongkok.
lBerikut lalasan lTiongkok lmelakukan lkerjasama ldengan lSri lLanka lditinjau
lmelalui lgeopolitik lRimland lSpykman. lPertama, lSri lLanka lmemiliki lletak
lstrategis ldan lkawasannya lmemiliki ljalur lperdagangan ltersibuk ldi lsamudera
lhindia, lkedua lmengingat lSri lLanka lmemasuki ljalur lperdagangan l21st lCentury
lMaritime lSilk, lketiga lSilk lRoad lMairitime lberhubungan llangsung lke lLaut
lMediteranian lmelalui lSri lLanka ldan lIndia ldalam lOne lBelt lOne lRoad lini
llebih lke lpembangunan linfrastruktur lyang ldi linvestasikan lTiongkok ldi
lpelabuhan lmaritim lyang lada ldi lSrilanka lyaitu lPelabuhan lHambatota.
lKeempat lmeningkatkan lpengaruh lTiongkok ldi lkawasan lSamudera lHindia
lmembutuhkan lSri lLanka lmemperluas lpengaruhnya, lseperti ldikatakan
lSpykman lnegara lyang lmemiliki lkekuatan lmenguasai lwilayah lRimland lakan
lmenguasai lEurasia. lKelima, lmengamankan ljalur lperdagangan lkapal-kapal
lTiongkok lakan lkebutuhan lenergi lminyak ldan lgas.28 lKeenam, lTiongkok
ldapat lterhubung llangsung ldengan ljalur lutama lkawasan lnegara lsupplier
lkebutuhan leneri lseperti lTimur lTengah lmaupun lAfrika. lKetujuh, lSamudera
lPasifik ldan lSamudera lHindia lkawasan lrumah lyang lpenting lbagi lekonomi
lTiongkok, lmengingat lTiongkok ljuga lmemiliki lketegangan lnegara ldengan
lAS laliansi ldengan lJepang ldan lKorea lsehingga lmengganggu lkeamanan
lstabilitas lTiongkok lyang lberbatasan llangsung ldengan lJepang ldan lKorea.29 Banyak lcontoh lkerjasama lyang ldapat ldilakukan ldengan lSri lLanka,
lsalah lsatunya ldalam lrencana lOBOR ladalah lInvestasi linfrastruktur
lpembangunan lPelabuhan lHambantota. lSebuah lcontoh lklasik lmengapa
lTiongkok lsangat lmembutuhkan lSri lLanka lguna lmengamankan lpasokan
lminyaknya ldan lmelanjutkan lekspornya lke lAsia lSelatan, lAsia lTimur, lAfrika
ldan lEropa. lMaka ldari litu lpeneliti lmenggunakan lkonsep lgeopolitik lserta
lmenggunakan lteori lSpykman lwilayah lbulan lsabit ldalam l(rimland) lyang
lmencakup lTiongkok ldan lAsia lSelatan lyaitu lSri lLanka ldengan lpembangunan
lkerja lsama lPelabuhan lHambatonta lkarena lletak lstrategis lSri lLanka lyang
lberada ldi lwilayah lbulan lsabit ldalam lmenguatkan lpeneliti lmenggunakan lteori
28 lDushyant. l(2017). lHow lTiongkok’s l“String lof lPears lProject” lwould laffect lIndia’s lsecurity. lInternational ljournal lof lTrend lin lscientific lResearch land lDevelopment l(IJTSRD) lVol. l2 l(1) lhal
l1643-1647.
29 lSun, lT. l& lPayette, lA. l(2017). lTiongkok’s lTwo lOcean lStrategy: lControlling lwaterways land lthe
lgeopolitik. lAnalisa llebih llengkap lakan ldijelaskan loleh lpeneliti ldalam lbab
lanalisis.
1.6 Metode lPenelitian 1.6.1 lLevel lAnalisa
Penelitian lyang lmenggunakan lpendekatan leksplanatif
lmengharuskan lpeneliti luntuk lmenentukan ltingkat lAnalisa lterhadap lisu
lyang lditeliti. lMengenai lfaktor lyang lmelatar lbelakangi lkerjasama
lTiongkok l– lSri lLanka ldalam lmengimplementasi lOne lBelt lOne lRoad, ldiperlukan lpenjelasan ltentang lapa lyang lmenjadi lvariabel ldependen
ldan lvariabel lindependen lserta llevel lanalisa. l
Variabel ldependen latau lunit lanalisa ldalam lpenelitian lini ladalah
lgeopolitik lnegara lTiongkok lsebagai lunit lanalisa lNegara-Bangsa.
lSedangkan luntuk lvarial lindependen latau leksplanasi ladalah
limplementasi lkerja lsama lOne lBelt lOne lRoad lsebagai lunit leksplanasi
lNegara-Bangsa l(Variabel lindependent). lDengan ldemikian, lpenelitian
lini lmenggunakan lmodel lpenelitian lkorelasionis ldimana lunit lekplanasi
ldan lunit lanalisanya lpada ltingkat lyang lsama.
1.6.2 lJenis lPenlitian
Jenis lpada lpenelitian lini ladalah lmenggunakan lpenelitian leksplanatif
lyang lmana lfenomena lakan ldisesuaikan ldengan lteori lyang lakan ldi
lpakai. lSelain litu luntuk lmeninjau lkembali lalasan ldari lgeopolitik lyang
1.6.3 lTeknik lPengumpulan lData
Data lyang ldigunakan ldalam lpeneletian lini lialah lmemakai lTeknik
lLibrary lResearch lyang ldimana ldata lyang ldiperoleh lberasal ldari
lsumber-sumber lpustaka lbaik ldari lbuku, ljurnal, lmedia lonline, lartikel
lmaupun lsumber-sumber lyang lberada ldi linternet
1.6.4 lTeknik lAnalisa lData
Teknik lAnalisis ldalam lpenelitian lini lsecara lkeseluruhan lmemakai
lanalisis lkualitatif, lyaitu ldengan lmengumpulkan ldata-data lyang
lkemudian ldisatukan lsetelah lterkumpul lmaka ldata litu lakan ldipilah
lsesuai ldengan lkebutuhan lpenelitian.
1.6.5 lRuang lLingkup lPenelitian
A. Batasan lWaktu
Penelitian lini ldifokuskan lpada lpemerintahan lTiongkok lyang
lmengimplementasikan lOne lBelt lOne lRoad ldi lSri lLanka lsebagaimana
ldisepakatinya lkerja lsama lTiongkok l– lSri lLanka lmelalui lfaktor
lgeopolitik. lSehingga lrentan lwaktu lyang ldigunakan loleh lpeneliti ldalam
lmengumpulkan ldata ldan lmateri ladalah lmulai ldari ltahun l2013 lsaat
ldisepakatinya lkerja lsama lTiongkok l– lSri lLanka.
B. Batasan lMateri
Materi lberfokus lpada lanalisa lpengaruh lgeopolitik lterhadap
lkerjasama lTiongkok ldalam lmengimplementasikan lproyek lXi
ldampak ldan lbagaimana lperspektif lgeopolitik lsebagai lalasan lkerja
lsamanya lTiongkok ldan lSri lLanka lmelalui lteori lgeopolitik
lSpykman
1.7 Hipotesa
Dalam lpenelitian lini, lhipotesa lyang lakan ldiajukan lberdasarkan lkepada
lbeberapa lteori lyang lsudah lditentukan ldan lmenjadi lacuan lyaitu ladanya lupaya
ldari lkebijakan lTiongkok lmelakukan lkerja lsama ldengan lSri lLanka ldikarenakan
lSri lLanka lmemasuki lwilayah lstrategis lyakni ldaerah lrimland l(Spykman) lyang
ljuga lsehubungan ldengan lproyek lmairitm lroad lTiongkok. lTiongkok lyang
lmembutuhkan llingkungan linternasional ldamai ldemi lpembangunan lekonomi
lbaik lAsia lsampai lke lEropa. lMelalui lperspektif lgeopolitik, lTiongkok
lmengajukan lkerja lsama lterhadap lSri lLanka lkarna lletak lgeografis lSri lLanka ldi
lwilayah lmaritim lAsia lSelatan lialah lperan lyang lpenting ldengan litu lTiongkok
lmelakukan lkerjasama lyang lberbentuk ldi lPelabuhan lHambatonta ldan
lPelabuhan lSri lLanka llainnya lyang lberkaitan ldengan lkerjasama lOBOR.
lDengan lkerja lsama lTiongkok ldan lSri lLanka ldapat lsaling lmenguntungkan lbaik
lekonomi lmaupun ldiplomasi lkedua lnegara. lPeneliti lmengambil lkesimpulan
lbahwa lsuatu lnegara lakan lmenyesuaikan ldiri ljika lada lpeningkatan lkekuatan
lpada lnegara llain ldalam lsistem litu ldengan lcara lmeningkatkan lsumber-sumber
lkekuatan lmereka lsendiri. lSebuah lnegara lakan lmemilih luntuk lunilateral
lbalancing latau linternal lbalancing, lmembangun lsendiri lkapabilitas lmiliter
lnegara llain ldalam lusaha luntuk lmenjaga ldan lmeningkatkan lpengaruh ldi
lkawasan lkerjsama ltersebut. l
Tiongkok lberupaya luntuk lmembangun lekonomi lnegara-negara lwilayah
lAsia lPasifik ldengan lmengimplementasi lstrategi lTiongkok ldi lAsia lTimur ldan
lSelatan, lserta lmeningkatkan lpengaruh lTiongkok ldi lKawasan lSamudera lHindia
ldan lSamudera lPasifik llebih lspesifiknya ldi lSri lLanka. lTiongkok lmembutuhkan
lkeamnan ljalur lperdagangan lminyak ldari lTimur lTengah ldan lAfrika, lserta
lmeningkatkan lefisiensi lproduksi ldi lTiongkok. lMengingat lTiongkok ldan lIndia
lmemiliki lhubungan lkurang lbaik ldalam lpenguasaan lwilayah lgeografs. lKarena
lTiongkok lmembutuhkan llingkungan linternasional lyang ldamai ldemi
lpembangunan lekonomi, luntuk litu lTiongkok lmemerlukan lhubungan lbaik
ldengan lnegara-negara ltetangga. lIntegrasi lekonomi lregional ldibentuk lsebagai
lupaya laliansi lTiongkok ldi lwilayah lAsia lTimur ldan lTiongkok lsangatlah
lmengupayakan lmekanisme lintegrasi lekonomi lregional lseperti lASEAN l+ l3 ldan
lyang lterbaru ladalah lkerjasama lRCEP ldan lAIIB.30
1.8 Sistematika lPenelitian
Adapun lstruktur lpenelitian ldalam lpenelitian lini ldibagi lmenjadi llima lbab
lsebagai lberikut:
30 lHerbert lS. lYee land lIan lStorey.(2002).”The lTiongkok lThreat: lPerceptions, lMyths land lReality.” lLondon, lUK: lRoutledge lCurzon.
Tabel l1.2 lSistematika lPenelitian
No BAB POKOK lPEMBAHASAN/SUB lBAHASAN
1 BAB lI PENDAHULUAN
1.1 Latar lBelakang 1.2 Rumusan lMasalah
1.3 Tujuan ldan lManfaat lPenelitian 1.4 Penelitian lTerdahulu
1.5 Kerangka lTeori l/ lKonsep 1.5.1 Konsep lGeopolitik 1.5.2 Teori lRimland lSpykman 1.6 Metodologi lPenelitian
1.6.1 Level lAnalisa 1.6.2 Jenis lPenelitian
1.6.3 Teknik lPengumpulan lData 1.6.4 Teknik lAnalisa lData 1.6.5 Ruang lLingkup a. lBatasan lWaktu b. lBatasan lMateri 1.7 Hipotesa 1.8 Sistematika lPenelitian 1.9 Skema lPenelitian
2 BAB lII GAMBARAN lDINAMIKA lHUBUNGAN
lTIONGKOK-SRILANKA
2.1 Sejarah lPerkembangan lOne lBelt lOne lRoad l(OBOR)
2.2 Sejarah lHubungan lTiongkok-Sri lLanka 2.2.1 lKerjasama lSri lLanka l- lTiongkok ldalam
lOBOR
2.2.2 lString lOf lPearl
2.2.3 lJalur l21st lMaritime lSilk lRoad
2.2.4 lAIIB l(Asian lInfrastructure lInvestment
lBank)
2.3 lPotensi lSri lLanka ldalam lRimland
3 BAB lIII ANALISA lPENGARUH lGEOPOLITIK
lSEBAGAI lFAKTOR lPENDORONG lKERJA
lSAMA lTIONGKOK-SRI lLANKA lDALAM
lMENGIMPLEMENTASIKAN lOBOR
3.1 lPotensi lSri lLanka ldi lSamudea lHindia ldan
3.2 lSri lLanka lsebagai lkunci lpengamanan ljalur
lperdagangan ldan lsumber lenergi lTiongkok
3.2.1 lPengamanan lJalur lPerdagangan lMaritim
lSumber lEnergi lTiongkok ldi lKawasan lRimland 3.2.2 lSri lLanka lsebagai lMitra lStabilitas lkeamanan
lperdagangan lMaritim ldalam lmewujudkan
lgeopolitik lTiongkok.
3.3 lPeran lSri lLanka lsebagai ljembatan luntuk
lmeningkatkan lpengaruh lTiongkok ldi lSamudera
lHindia ldan lsebagai lrespon l“pivot lto lAsia” lAmerika l
4 BAB lIV PENUTUP
4.1 lKesimpulan 4.2 lSaran
1.9 lSkema lPenelitian
Konsep lGeopolitik
Teori lRimland lSpykman ldiklasifikasi lmenjadi l4 lwilayah l: 1. Pivot larea 3. lOuter lCrescant
2. Rimland l 4. lNew lWorld
Rimland ldapat lberpotensi ldan lberpopulasi llebih ldari
lpivot larea ldikarenakan lberbatasan ldengan llautan ldan
ldaratan
Eksplanatif
Proyek lOne lBelt lOne lRoad lTiongkok-Sri lLanka • Memperkuat lhubungan lTiongkok ldengan
lnegara-negara ltetangga lEURASIA lbaik
lekonomi lmaupun lpolitik
• Sri lLanka lnegara lkedua linvestasi lterbesar
ldiberikan lTiongkok ldalam lpembangunan
linfrastruktur ldi lAsia lSelatan LOCUS OBOR lXi lJinping
Xi lJinping lmelanjutkan lpemerintahan lDeng lXiaoping
ldengan lmenggagas lOne lBelt lOne lRoad. lSetelah lberhasil
lmemenangkan lpemilu lkepresidenan lditahun l2012, lXi
lJinping lingin lmenjadikan lTiongkok lsebagai lkekuatan
lglobal lyang lbaru ldan lsalah lsatu lpemain lutama ldalam
lkebijakan lpolitik lglobal ldengan lmencanangkan lOne
lBelt lOne lRoad -
ALASAN lTIONGKOK lMELAKUKAN lKERJASAMA
lONE lBELT lONE lROAD lDENGAN lSRI lLANKA
lMELALUI lPERSPEKTIF lGEOPLOITIK “Mengapa lSri lLanka lmenjadi lalasan lTiongkok
lmelakukan lkerjasama lOne lBelt lOne lRoad”
FOCUS
Kepentingan lgeopolitik lTiongkok ldalam lkerjasama ldengan
lSri lLanka lmelalui lOBOR • Pengaruh lLetak lstrategis lSri lLanka
• Mengamankan lJalur lperdagangan lsumber lenergi ldi
lSamudera lHindia ldengan lkerjasama ldengan lSri
lLanka
• Meningkatkan lpengaruh lTiongkok ldi lSamudera
lHindia ldan lAsia lSelatan
• Mengantisipasi lKebijakan lAmerika ldalam lpivot lto
lAsia l
Implementasi lkerja lsama lTiongkok ldan lSri lLanka
ldalam lOne lBelt lOne lRoad • Pembangunan lInfrastruktur lPelabuhan
lHambantota ldan lAirport lMattala lRajapaksa • Pembangunan lSanitasi
• Jalan lTol lColombo-Katunayake • Jalur lPipa lAir
• Pembangkit llistrik ltenaga lbatubara