FEMINISME DAN GENDER
(STUDI SEJARAH KEMUNCULAN
DAN PERKEMBANGAN)
Oleh: Warsito
(Dosen Sekolah Tinggi Islam al-Mukmin, Email: [email protected])
Abstraksi
Gerakan Feminisme lahir dari latar belakang ketidakadilan yang diterima perempuan dalam peradaban Barat. Mereka tidak memiliki hak kepemilikan materi, hak pendidikan tinggi dan hak politik. Gerakan femenisme menggunakan jargon kesetaraan gender dalam memperjuangkan hak-hak kaum hawa. Gerakan ini berhasil dalam dunia akademik dengan women studies dan mendapat restu PBB dengan diterbitkannya CEDAW Convention on
the Eliminating of All Farms of Discriminating Against Women. Bagaimana gerakan ini muncul
dan bagaimana perkembangan gerakan ini akan dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka dan termasuk dalam penelitian kualitatif.
Keyword: Feminisme, Gender dan Ketidakadilan Abstraction
The Feminism Movement was born from the background of the injustices that women received in Western civilization. They have no material ownership rights, higher education rights and political rights. The femenism movement uses the jargon of gender equality in fighting for the rights of women. This movement succeeded in the academic world with women studies and received the blessing of the United Nations with the issuance of the CEDAW Convention on the Eliminating of All Farms of Discriminating Against Women. How this movement emerged and how the development of this movement will be discussed in this study. This study uses
a literature study approach and is included in qualitative research.
Keyword: Feminism, Gender and Injustice A. PENDAHULUAN
Hari ini Amerika dan Eropa yang kemudian akan disebut Barat menguasai ilmu di berbagai bidang. Mereka mengembangkan dan menemukan tehnologi baik dalam pertanian, engineering, kontruksi bangunan, persenjataan militer, astronomi dalam masih banyak yang lain. Kemajuan ini menjadi daya tarik bagi Negara-negara berkembang atau miskin untuk mengikuti gaya hidup dan budaya Barat sehingga mereka bisa maju. Salah satu poin penting kemajuan Barat adalah sekulerisme, yaitu menjauhkan agama dalam kehidupan bernegara dan ruang publik. Pengalaman Barat yang terkungkung dalam doktrin Kristen yang mereka sebut sebagai zaman kegelapan dan membuat mereka jumud tidak berkembang, menuju zaman pencerahan dengan ditandai meninggalkan agama dalam ruang privat atau individu yang membuat ilmu pengetahuan dan tehnologi menjadi sangat maju. Salah satu contoh pimpinan Negara Islam yang mencoba sekulerisme ini adalah Kamal At-Tarturk. Dia menghapus kesultanan Turki, melarang jilbab di tempat umum, menutup madrasah-madrasah, menghapus pelajaran agama dan mengganti adzan dengan bahasa Turki. Tetapi hal ini tidak menjadikan Turki menjadi Negara maju bahkan mundur dibanding Turki dengan system Kesultanan.1
Salah satu budaya baru barat adalah
1 Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Jakarta: Gema Insani Press, 2005, hal 255-257
gerakan gender. Sebuah gerakan yang menuntut persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Gerakan ini sangat massif dan masuk dalam standar sebuah Negara maju atau berkembang. Meskipun pembuktian relasi kemajuan ekonomi, militer, ilmu pengetahuan dan tekhnologi di Barat dengan kesetaraan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan belum teruji, tetapi isu gender marak di semua Negara di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa. Isu gender yang dimotori oleh gerakan feminis ini berkembang sangat cepat baik dalam tataran keluarga maupun kebijakan Negara. Dalam dunia akademik, isu gender masuk dalam pembelajaran dengan nama women
studies. Dalam pemerintahan, gerakan
feminis mendapat restu dari PBB dengan dikeluarkannya undang-undang tentang perlindungan perempuan dari kekerasan keluarga atau di luar keluarga. Setelah itu, muncul subuah alat kemajuan suatu Negara yang salah satunya kesetaraan gender.2
Dalam bidang budaya, tumbuh gerakan-gerakan feminis di Negara-negara berkembang untuk mengikuti dan mengaplikasikan tuntutan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam peran dan hak. Mereka melihat bahwa ajaran ini merupakan ajaran kemajuan yang harus dilakukan di semua Negara meskipun antara Barat dan Negara-negara non Barat ini memiliki system moral dan nilai yang berbeda. Tidak hanya itu, ajaran ini bahkan masuk dalam ranah ajaran agama yang sudah tetap baik secara dalil maupun
2 Dinar Dewi Kania, “Isu Gender: Sejarah dan
Perkembangannya” Islamia voll No. 5,2010,
praktek keagamaan. Tuntutan supaya bayi laki-laki dan perempuan tidak dibedakan dalam penyembelihan hewan aqiqah, tuntutan supaya perempuan bisa menjadi imam, khotib atau pemimpin keluarga dan bahkan pemerintahan muncul dalam berbagai kajian.3
Tuntutan-tuntutan pergeseran aja-ran nilai, moral dan budaya supaya sama dan selaras dengan budaya Barat ini men-dorong penulis untuk mengungkapkan fenomena ini baik dari sudut pandang se-jarah kemunculan maupun perpecahan pemahaman dalam aliran ini. Penelitian menggunakan pendekatan studi pusta-ka dan menpusta-kategoripusta-kan sebagai penelitian deskriptif kualitatif. Sumber utama adalah buku-buku yang membahas tentang gender baik yang pro dengan gerakan ini maupun yang menolak.
B. PENGERTIAN FEMINISME DAN GEN-DER
1. Pengertian Feminis
Kata feminis pertama kali ditemukan pada awal ke-19 oleh seorang sosialis berkebangsaan Perancis, yaitu Charles Fourier.4 Terdapat perbedaan pendapat antara ilmuan tentang sejarah munculnya istilah feminisme.
Pendapat pertama menyatakan
3 Pembahasan kritik pemahaman agama bisa dilihat pada: Siti Zubaedah, Mengurai Problematika Gender dan Agama, Jurnal Studi Gender & Anak, ISSN: 1907-2791. Vol.5 No.2 Jul-Des 2010 pp.243-260. Umi Sumbulah, “Agama Dan Keadilan Gender,” Egalita, 2012.
4 Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan, 1999, Cet pertama, hal. 20.
bahwa Istilah Feminisme berasal dari bahasa Latin Femina (perempuan). Hamid Fahmy Zarkasi mengutip pendapat Ruth Tucker dan Walter L. Liefeld dalam buku mereka yang
Daughter of the Church yang menyatakan
bahwa kata istilah feminis berasal dari kata fe atau fides dan minus yang artinya kurang iman (less in faith).5
Pendapat kedua disampaikan
Jane Pilcher dan Imelda Whelehan dalam buku mereka yang berjudul
Fifty Key Concepts in Gender Studies.
Mereka menyatakan bahwa istilah
feminism berasal dari bahasa Perancis
yang muncul pada abad ke Sembilan belas. Feminisme merupakan istilah kedokteran yang menggambarkan unsur kewanitaan dalam tubuh laki-laki atau unsur kelaki-lakian dalam tubuh wanita. Setelah istilah ini masuk dalam kebendaharaan bahasa Amerika pada awal abad keduapuluh, istilah ini hanya mengacu pada nama sebuah kolompok pergerakan wanita.6
Pendapat ketiga juga memiliki
kesamaan dengan pendapat kedua dalam masalah asal kata. Julia T. Wood seorang professor humanity di Universitas North Carolina mengatakan bahwa kata feminism ditemukan di Perancis pada akhir tahun 1800. Istilah
5 Hamid Fahmy Zarkasyi “Problem Kesetaraan Gender
dalam Studi Islam,” Islamia, Vol III No.5,2010. Hal
3. Edisi tulisan dalam bahasa Inggris sebagai berikut. “The very word to describe woman, femina, according to the authors (of Witches hammer) is derived form fe and minus or fides and minus, interpreted as less in faith.”
6 Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, Fifty Key Concepts
in Gender Studies, London: Sage Publication, 2004,
Hal. 48.
ini merupakan gabungan antara kata
femme yang berarti perempuan dan suffix ism yang berarti posisi politik.
Untuk itu, makna feminism yang asli adalah sebuah posisi politik tentang perempuan. Dalam perkembangannya, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, yaitu sebuah gerakan yang menuntut persamaan sosial, politik, dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan.7
Istilah feminis sebagai nama suatu pergerakan aktivis perempuan dalam memperjuangkan hak mereka bukanlah yang pertama dalam tatanan bahasa. Sebelum istilah ini muncul, kata-kata seperti womanism, the woman
movement, atau woman question telah
digunakan terlebih dahulu.8 Seiring berkembangnya gerakan kelompok feminisme ini, istilah-istilah di atas berubah menjadi feminisme hingga sekarang.
Gerakan feminisme berkembang dengan baik tidak hanya di Barat tetapi juga di Negara-negara timur. Salah satu faktor yang mendorong cepatnya gerakan femenisme adalah gerakan ini menjadi gelombang akademik di universitas-universitas, melalui progam
women studies. Bahkan gerakan ini
mampu menyentuh bidang politik
7 The word feminism was coined in France in the late 1800s. it combined the French word for “woman” femme, with the suffix ism, meaning “political position.” Thus feminism originally meant “a political position about women”. ---- feminism is defined as “a movement for social, political, and economic
equality of women and men.” Julia T. Wood, Gendered
Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18, hal. 3.
8 Sheila dalam Dinar Dewi Kania, “Isu Gender: Sejarah
dan Perkembangannya” Islamia voll No. 5,2010, Hal.
dimana gerakan perempuan ini telah mendapat “restu” dari perserikatan Bangsa-bangsa dengan dikeluarkannya CEDAW (Convention on the Eliminating
of All Farms of Discriminating Against Women).9
Setelah munculnya rekomendasi dari PBB, gerakan ini berkembang sangat pesat. Perkembangan gerakan ini bisa dilihat dari kebijakkan PBB yang menunjukkan keberhasilan mereka. Sejak 1990, UNDP (United Nations
Development Program) melalui laporan
berkalanya (Human Development
Report) telah menyiapkan indikator
untuk mengukur kemajuan suatu negara. Selain pertumbuhan GDP (Growth Domestic Product) mereka menambah (Human Development
Index) HDI. HDI digunakan untuk
mengukur kemajuan suatu negara dengan melihat usia harapan hidup (life
expectancy), angka kematian bayi (infant mortality rate), dan kecukupan pangan
(food security). Sehingga inti kemajuan suatu negara adalah meningkatnya kualitas sumber daya manusia. Setelah lima tahun, UNDP menambah konsep HDI dengan kesetaraan gender (Gender
Equality).10
Sejak UNDP memasukkan kesetaraan gender dalam HDI, maka faktor kesetaraan gender harus selalu diikutsertakan dalam mengevaluasi keberhasilkan pembangunan nasional. Perhitungan yang dipakai adalah GDI (Gender Development Index) dan GEM
9 Ibid hal. 26.
10 Ratna Megawangi, Membiarkan..., Hal. 24.
(Gender Empowerment Measure). Perhitungan GDI mencakup kesetaraan antara pria dan wanita dalam usia harapan hidup, pendidikan, dan jumlah pendapatan. Sedangkan perhitungan GEM mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik dan dalam beberapa sektor yang lainnya. Ukuran ini bertitik tolak pada konsep kesetaraan sama rata.11
Perkembangan gerakan femi-nisme juga terasa di Indonesia dengan diratifikasinya isi CEDAW sehingga keluarlah UU no. 7 tahun 1984. Setelah itu, Pemerintah Indonesia mengeluar-kan undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan undang-undang perlindungan anak. Se-lain itu, mereka juga berusaha melaku-kan legalisasi aborsi melalui aman-demen UU kesehatan. Dalam bidang politik, feminis berada di belakang keluarnya UU pemilu tahun 2008 ten-tang kuota caleg perempuan sebanyak 30 persen.12
2. Pengertian Gender
Gender merupakan istilah baru yang muncul dalam dunia pendidikan termasuk pendidikan tinggi di Indonesia. Isu ini berkembang cukup cepat, para akademisi mendiskusikan istilah ini dalam workshop dan seminar-seminar. Istilah gender belum lama masuk dalam tatanan bahasa Indonesia, hal ini terbukti ketika penulis tidak menemukan istilah ini dalam
11 Ibid
kamus Besar Bahasa Indonesia yang
diterbitkan departemen pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia tahun 1988 atau dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminto
yang diterbitkan balai pustaka edisi ketiga tahun 2006.
Meskipun kata gender belum masuk dalam perbendaraan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi istilah ini lazim digunakan dalam dunia pendidikan dan pemerintahan khususnya kantor kementerian Negara urusan peranan wanita dengan ejaan “jender”. Gender diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan.13 Meskipun kantor kementerian menggunakan ejaan “jender”, tetapi dalam tesis ini, penulis menggunakan ejaan “gender”. Hal ini karena mayoritas buku-buku yang dijadikan rujukan baik berbahasa Indonesia maupun Inggris menggunakan ejaan “gender”.
Istilah ini memiliki kandungan yang sangat besar, karena isu ini memaksa suatu komunitas untuk mengganti tradisi yang sudah berjalan berabad-abad bahkan para pejuang gender tidak segan-segan untuk memaksa suatu agama mengubah ajarannya yang tidak sesuai dengan tuntutan gender. Para penganut
13 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender
Perspektif Al Qur’an, Jakarta: Paramadina, hal. 35.
paham ini meletakkan gender sebagai standar kebenaran, sebagai contoh para feminis menuduh banyak ajaran Islam yang memandang perempuan sebagai mahkluk yang harganya separoh dari laki-laki. Ajaran-ajaran tersebut antara lain, hukum aqiqah dimana bayi laki-laki disunahkan menyembelih dua ekor kambing sedang bayi perempuan satu kambing, diyat laki-laki dua kali lipat diyat perempuan, perempuan disunahkan sholat di rumah sedang laki-laki di masjid.14
Menurut para ahli, gender didefinisikan sebagai isu perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan. Dalam bahasa Inggris istilah ini berkembang dengan beberapa variasi. Gender Bender adalah seseorang yang melakukan sesuatu seperti perbuatan lawan jenis. Tindakan laki-laki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya, perempuan yang melakukan tindakan seperti tindakan laki-laki. Gender Dysphora (dalam dunia kedokteran) adalah seseorang yang merasa bahwa ketika lahir dia memiliki organ kemaluan yang salah. Jadi seseorang merasa bahwa dia harusnya laki-laki tetapi memiliki kemaluan perempuan. Istilah lain yang berkembang adalah Gender
Reas’signment. Gender Reas’signment
adalah tindakan merubah anggota tubuh dengan cara operasi sehingga memiliki anggota tubuh lawan jenis dan nampak seperti lawan jenis.15
14 Sri Suhandjati Sukri (edit Bias Jender d alam
Pemahaman Islam, Yogyakarta: Gama Media, tt, jilid
pertama, hal 90
15 A S Horby, Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of
Nasaruddin Umar, seorang tokoh yang menulis disertasi doktoral tentang gender menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya.16 Hilary M. Lips dalam Sex and Gender an Introduction menerangkan bahwa gender adalah harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Linda l. Lindsey menjelaskan bahwa gender adalah semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan. H.T Wilson dalam
Sex and Gender mengartikan gender
sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka laki-laki dan perempuan.17
Julia Cleves Mosse menjelaskan dalam bukunya “Half The World, Half
a Change an Introduction to Gender and Development” bahwa gender
adalah seperangkat peran, seperti halnya kostum dan topeng teather, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita perempuan atau laki-laki. Perangkat perilaku khusus ini mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles “peran
2005, Edisi ke-7, hal. 644.
16 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan..., hal. 35. 17 Ibid, hal. 33-34.
gender”.18 Definisi lain, gender berkaitan dengan konstruk sosial yang diberikan masyarakat tentang peran, sikap, aktivitas, dan attribut/perlengkapan yang dianggap sesuai bagi laki-laki dan perempuan.19
Perbedaan redaksi para ilmuan dan feminis dalam mendefinisikan gender, menurut penulis tetap mengacu pada persamaan meaning atau maksud yang mereka kehendaki, yaitu adanya perbedaan tugas, peran dan hak antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat. Perbedaan tugas, peran dan hak ini, kadang merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak yang lain, tetapi secara umum perempuan sering dirugikan. Sebagai contoh kasus maskawin menjadi permasalahan keluarga Hindu India. Berdasarkan tradisi mereka, memiliki anak perempuan membutuhkan modal yang besar, karena mereka harus menyiapkan maskawin ketika anak perempuan menikah. Kondisi ini yang memunculkan pepatah di India “Membesarkan seorang anak perempuan sama saja seperti mengairi pohon rindang di halaman rumah orang lain.”20
Perbedaan antara perempuan dan laki-laki ini ditentang oleh sebagian kelompok feminisme tetapi sebagian
18 Julia Cleves Mosse, Gender dan Pembanguan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, hal. 3.
19 http://www.who.int/gender/whatisgender/en/index. html. Gender refers to the socially constructed roles, behaviours, activities, and attributes that a given society considers appropriate for men and women. 20 Julia Cleves Mosse, Gender .., hal. 67.
yang lain menganggap bahwa perbedaan ini sesuatu yang alami. Hal ini yang menyebabkan timbulnya perbedaan antara dua kelompok feminisme atau gender yang bertolak belakang.
a. Kelompok gender yang berpendapat bahwa perbedaan gender merupakan konstruk sosial sehingga perbedaan jenis kelamin tidak perlu mengakibatkan perbedaan peran dan perilaku gender dalam tatanan sosial.
b. Kelompok gender yang berpendapat bahwa perbedaan jenis kelamin akan selalu berdampak terhadap konstruksi konsep gender dalam kehidupan sosial, sehingga akan selalu ada jenis-jenis pekerjaan
berstereotrip gender.21
C. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
FEMINIS DAN GENDER:
Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan feminis serta gender tidak bisa terlepas dari sejarah pergerakan kaum feminisme di Barat. Maka pada pembahasan ini, penulis akan memulai dari pergerakan feminisme sampai akhirnya muncul istilah gender.
1. Sejarah Muncul dan Perkembangan Feminisme
Sejarah muncul dan perkembangannya Feminisme secara umum dibagi menjadi tiga gelombang yaitu:
a. Gelombang Pertama
21 Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan, 1999, Cet pertama, hal. 20.
Gerakan feminisme gelombang per-tama secara luas diketahui terjadi an-tara tahun 1880 dan 1920. Gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran Mary Wollstonecraft lewat bukunya yang berjudul ‘Vindication of the Rights
of Women’. Buku ini dipublikasikan
di Inggris pada tahun 1792.22 Buku ini memberi pengaruh sangat besar dalam pergerakan feminisme di du-nia, bahkan Winifred Holtby men-ganggap buku ini sebagai “Bible-nya gerakan perempuan di Inggris”.23 Wollstonecraft seorang pioner femi-nisme yang berusaha membongkar batasan-batasan pandangan subjek-tif tentang gender yang melebihkan laki-laki dan merendahkan perem-puan. Dia pernah menulis artikel tentang hal itu yang berjudul ‘the
Fictionality of Both Femininity and Masculinity.’24
Perhatian feminis gelombang pertama adalah memperoleh hak-hak politik dimana mereka menuntut hak suara dalam pemilihan umum. Selain itu, mereka juga menuntut akses pendidikan, kesempatan ekonomi yang setara bagi kaum perempuan, miliki hak pernikahan dan cerai. Feminis berargumentasi bahwa perempuan memiliki kapasitas rasio yang sama dengan laki-laki.25
22 Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 52.
23 Gill Plain and Susan Sellers, A History Of Feminist
Literary Criticism, Cambridge University Press, 2007,
hal. 9. 24 Ibid hal. 8.
25 Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 53.
Aksi politik feminisme yang dimotori oleh kaum feminis liberal telah membawa perubahan pada kondisi perempuan saat itu. Mereka berhasil mendapat hak pilihnya dalam pemilu pada tahun 1920, dan mereka juga berhasil memenangkan hak kepemilikan bagi perempuan, kebebasan reproduksi dan akses yang lebih dalam bidang pendidikan dan profesionalan.26
b. Femenisme Gelombang Kedua Gerakan feminisme sempat melemah ketika terjadi perang dunia pertama dan kedua. Gerakan ini menguat kembali pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an.27 Meskipun menguat kembali pada akhir tahun 1960an, gelombang kedua sudah muncul pada tahun 1949, hal ini ditandai dengan munculnya publikasi Simone de Beauvoir yang berjudul ‘Second Sex’. Buku ini dipublikasikan lima tahun setelah wanita Perancis mendapat hak kebebasan mereka yang pertama kalinya. Buku ini merupakan dokumen yang penting bagi feminis modern sebagimana buku Betty Friedan yang berjudul ‘The Feminine Mistique’.28 Beauvoir berargumen bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan berakar dari faktor biologis, tetapi sengaja diciptakan untuk memperkuat penindasan terhadap
26 Ann Cudd E dan O Robin Andreasen dalam Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...., hal. 31.
27 Shilpi Gole, “Feminist Literary Critism”, Language in
India. Vol 10, (4 april 2010), hal. 404.
28 Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 145.
kaum perempuan.29
Pada gelombang kedua, tuntutan kaum feminis tidak hanya pada bidang politik dan hukum, tetapi mereka menuntut hak mereka yang lebih luas. Pada gelombang kedua, para feminis mengangkat isu liberation atau kebebasan ditengah-tengah tekanan masyarakat
patriakhy. Para feminis menilai isu
(equality) persamaan tidak dapat dicapai dengan pemberian hak memilih sehingga mereka merasa gelombang kedua sebagai waktu yang tepat untuk muncul di ranah publik.30 Mereka menuntut persamaan dalam lapangan pekerjaan, baik dalam mendapatkan upah maupun mendapatkan kedudukan dalam tempat kerja, tuntutan dalam pendidikan, dan masalah pekerjaan rumah tangga.31
c. Feminisme Gelombang Ketiga Gerakan feminisme berlanjut sampai muncul gelombang ketiga pada awal tahun 1990an. Pada gelombang ketiga, gerakan ini memfokuskan sesuatu yang tidak terdapat pada tuntutan gelombang kedua. Gerakan ini masih melihat adanya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam ras, etnik atau bangsa tertentu.32 Mereka menuntut keseragaman dalam mendapatkan hak antara orang kulit putih dan hitam, karena dalam
29 Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...., hal. 32. 30 Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts...,
hal. 144.
31 Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404. 32 Ibid
sejarah, perempuan kulit hitam lebih menderita daripada perempuan kulit putih.33
Aktivis feminis pada gelombang ketiga sering mengkritik feminis pada gelombang kedua yang kurang memperhatikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi ras, eknik atau bangsa.34 Kritik feminis gelombang ketiga kepada feminis gelombang kedua secara jelas disampaikan Lesley Heywood dan Jennifer Drake yang mendeklarasikan diri sebagai
‘post-feminist’ dan menyatakan bahwa
mereka bersebrangan dan mengkritik feminis gelombang kedua.35
Feminis ini merupakan gerakan yang melahirkan isu gender. Muncul pertanyaan kenapa menggunakan istilah gender bukan isu perempuan, berikut perkembangan kemunculan gender dan sejarah latar belakang penamaan gender dan bukan menggunkan isu wanita atau perempuan.
a. Sejarah Munculnya Gerakan Gender Gerakan gender adalah salah satu hasil kreasi gerakan feminisme. Feminisme sebagaimana telah dibahas pada pembahasan sebelumnya adalah sebuah kelompok gerakan wanita yang protes terhadap pandangan dan sikap Barat terhadap perempuan. Pandangan Barat terhadap
33 Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah..., hal. 33. 34 Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
35 Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal 170
perempuan yang dipengaruhi oleh ajaran gereja menganggap perempuan sebagai penyebab Adam keluar dari surga, dan wanita sebagai sumber dosa.36 Ajaran-ajaran gereja inilah yang mendorong laki-laki berlaku semena-mena, baik dalam aspek ekonomi, pendidikan, sosial, maupun politik, sehingga wanita selalu tertindas. Tidak hanya itu, ketika gereja mendirikan institusi
Inquisisi untuk menghukum umat
kristiani yang menyeleweng dari ajaran gereja, perempuan menjadi korban paling banyak.37
Gender merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk meng-gambarkan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi biologis dan perbedaan dari segi peran serta sikap. Gerakan ini muncul pada awal 1970an.38 Dalam hal ini, Hamid ber-pendapat bahwa kondisi perempuan dalam tradisi Barat kuno merupakan faktor penting dalam melahirkan wacana dan bahkan teori feminisme dan gender. Untuk itu, ia menyim-pulkan bahwa kedua gerakan itu (feminisme dan gender) merupakan konstruk sosial masyarakat Barat
post-modern yang misi utamanya
adalah mengembangkan kesetaraan (equality).39
b. Kenapa Gender dan Bukan Perempuan
36 Alkitab, Kejadian 3:1-7, Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, 2008, Hal. 3.
37 Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat …, Jakarta: Gema Insani, 2005, hal. 16.
38 Ibid hal. 56.
Masalah gender adalah masalah pemberdayaan perempuan sehingga mereka bisa bersaing dengan laki-laki di ranah publik. Para feminis menginginkan perempuan bisa menjabat posisi strategis dalam pemerintahan, organisasi, maupun perusahaan meskipun harus keluar rumah. Yang menjadi pertanyaan, kenapa mereka menggunakan istilah gender dan bukan perempuan?
Penggunaan istilah perempuan sebagai jargon pergerakan akan menghambat pergerakan itu sendiri. Kata perempuan telah menempati posisi tertentu dalam masyarakat secara global. Sebagai contoh adalah perempuan berposisi sebagai ibu dalam keluarga. Padahal gerakan ini ingin membangun sebuah gambaran baru bahwa perempuan itu seorang yang mandiri, pemimpin dan gambaran lain yang jauh dari tugas tradisionalnya. Istilah gender adalah istilah yang menggambarkan peran laki-laki dan perempuan. Dengan menggunakan istilah ini, mereka ingin membangun gambaran baru tentang pembagian tugas yang seimbang (menurut feminis) antara laki-laki dan perempuan. Dengan nama baru ini, mereka ingin masyarakat bisa menerima peran baru yang usung aktivis feminis.40 D. LANDASAN TEORITIS DAN
IDEOLO-GIS KESETARAAN GENDER
Teori-teori dan ideologis kesetaraan
40 Julia Cleves Mosse, Gender & Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, Hal. 8.
gender semua bermuara pada teori sosial besar yaitu:
1. Teori Struktural-Fungsional.
Pendekatan teori ini adalah pendekatan teori sosiologi yang dit-erapkan dalam institusi keluarga. Kel-uarga sebagai sebuah institusi dalam masyarakat mempunyai prinsip-prin-sip yang serupa dengan prinprinsip-prin-sip-prinprinsip-prin-sip yang ada dalam masyarakat. William F. Ogburn dan Talcott Parsons adalah para sosiolog ternama yang mengem-bangkan pendekatan struktural-fung-sional dalam kehidupan keluarga pada abad ke-20. Pendekatan ini mengakui adanya segala keragaman dalam ke-hidupan sosial. Pengakuan keragaman ini merupakan sumber utama adanya struktur masyarakat dan pengakuan akan adanya perbedaan fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem.41
2. Teori Konflik
Teori Konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori Konflik menfokuskan pada perubahan sosial dan situasi konflik. Hal ini disebabkan terbatasnya sumber daya sedang setiap individu atau kelompok membutuhkannya.42
41 Ratna Megawangi, Membiarkan…, hal. 56.
42 Bernard Raho, http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_ konflik#cite_note-0
Secara teoritis, teori ini merupakan pengembangan dari paham materialisme yang memiliki pengaruh kuat pada abad ke-17. Thomas Hobbes (1588-1679) adalah orang yang paling berpengaruh dalam mengembangkan paham materialisme. Menurut Hobbes, manusia memiliki sifat dasar, yaitu sifat rakus yang tidak pernah terpuaskan, penipu, dan tidak ada rasa belas kasih. Sifat-sifat ini yang akan membuat kondisi masyarakat penuh dengan konflik.43
Pendapat Karl Marx yang kemudian dilengkapi oleh Friedrich Engels mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan biologis, tetapi merupakan bagian penindasan dari kelas yang berkuasa dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga.44 3. Teori Psikoanalisa/Identitas
Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh seksualitas. Freud menjelaskan bahwa kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu id, ego, dan superego.
Pertama id, id merupakan
pembawaan sifat-sifat fisik-biologis seseorang sejak lahir, termasuk nafsu seksual dan insting yang cenderung selalu agresif. Ia mendorong seseorang
43 Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 76-77. 44 Nasarrudin, Argumen Kesetaraan…., hal. 61.
untuk mencari kesenangan dan kepuasan. Yang kedua ego, ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Yang ketiga superego, superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan.45
Perkembangan kepribadian ses-eorang dipengaruhi oleh lima tahapan psikoseksual. Freud menghubungkan kepuasaan insting seksual dengan ang-gota badan tertentu. Kelima tahap itu adalah:
a. Oral stage, masa ini terjadi pada
bayi yang mengisap susu dari mulut (pada tahun pertama)
b. Anal stage, masa ini terjadi pada
tahun kedua, ketika seorang bayi mengeluarkan kotoran dari dubur.
c. Phallic stage, masa phallic terjadi
ketika anak mulai mengidentifikasi kemaluannya, seorang anak laki-laki mendapatkan kesenangan
erotis dari penis sedang perempuan
dari clitoris.
d. Talency stage, Talency stage
merupakan kelanjutan tingkat sebelumnya, pada masa ini, kecenderungan erotis ditekan sampai menjelang masa pubertas.
e. Genital stage, saat kematangan
seksualitas seseorang.46
Teori ini menyatakan bahwa pada masa Phallic yaitu sekitar umur 3-6 tahun, seorang anak bisa mendapatkan
45 Ibid hal. 46. 46 Ibid hal. 47.
kesenangan ketika memainkan alat kelaminnya. Ketika masa ini mereka bisa mengidentifasi diri mereka. Anak laki-laki merasa mirip ayah dan anak perempuan mirip ibu. Anak laki-laki merasa superior karena memiliki penis sedang perempuan merasa inferior karena tidak memiliki penis. Sejak saat itu terjadi sifat cemburu perempuan kepada laki-laki.47
4. Teori Feminism a. Feminism Liberal
Tokoh aliran ini antara lain Margaret Fuller (1810-1850), Harriet Martineu (1802-1876), Anglina Grimke (1792-1873), dan Susan Anthony (1820-1906). Dasar pemikiran kelompok ini adalah semua manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan seimbang dan serasi. Oleh karena itu, tidak terjadi penindasan antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Meskipun dikatakan sebagai feminis liberal, kelompok ini tetap menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan. Dalam beberapa hal, terutama fungsi reproduksi, aliran ini tetap memandang perlu perbedaan. Bagaimanapun juga perbedaan organ membawa kosekuensi logis di dalam kehidupan masyarakat. Kelompok ini menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam
47 Sigmund freud dalam Nasarrudin, Argumen
Kesetaraan…., hal. l 49.
semua peran, termasuk bekerja di luar rumah. Sehingga tidak suatu kelompok yang lebih dominan.48
Untuk merealisasikan tujuan mereka, aktivis feminis liberal melakukan dua hal penting. Pertama adalah dengan melakukan pendekatan psikologis. Mereka mengadakan diskusi-diskusi, tanya jawab dan sharing seputar buruknya kondisi perempuan di masyarakat yang dikuasai laki-laki. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran individu untuk melawan dominasi laki-laki. Kedua adalah dengan menuntut pembaharuan hukum yang dianggap tidak menguntungkan perempuan. Pembaharuan itu mencakup penghapusan hukum yang lama dan membuat hukum baru yang memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki.49
b. Feminism Marxis-Sosialis
Tokoh aliran ini adalah Clara Zetlin (1857-1933) dan Rosa Luxemburg (1871-1919). Aliran ini berupaya menghilangkan stuktur kelas dalam masyarakat yang berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara dua jenis kelamin lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Kelompok ini berpendapat bahwa ketimpangan gender di dalam masyarakat adalah akibat penerapan sistem kapitalis
48 Ibid hal. 65.
yang mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan di dalam lingkungan rumah tangga.50
Menurut feminisme Marxis, sebelum kapilatisme berkembang, kebutuhan keluarga untuk bertahan ditanggung seluruh anggota keluarga termasuk perempuan. Mereka merupakan kesatuan produksi. Tetapi setelah kapitalisme berkembang, institusi keluarga bukan lagi sebuah kesatuan produksi. Semua kebutuhan manusia berpindah dari rumah ke pabrik. Saat itu terjadi pembagian kerja berdasarkan seksual. Para suami bekerja di sektor publik dan mendapatkan upah sedang perempuan bekerja mengurus rumah tanpa mendapat upah. Karena nilai eksistensi manusia dinilai dari kepemilikan materi maka perempuan dinilai lebih rendah dari laki-laki. Untuk mengangkat derajat perempuan sejajar dengan laki-laki maka mereka harus ikut dalam kegiatan produksi dan kegiatan di sektor publik dan meninggalkan sektor domestik.51
c. Femenisme Radikal
Kelompok ini muncul pada permulaan awal abad ke-19. Feminisme Radikal menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, kelompok ini menuntut persamaan seks.
50 Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan…, hal. 66. 51 Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian…, hal. 49.
Menurut mereka, kepuasan seksual juga bisa diperoleh dari sesama perempuan sehingga mereka mentolerir lesbian.52
Menurut penulis, inti perjuangan semua aliran femisme ialah mereka berupaya memperjuangkan kemerdekaan dan persamaan status serta peran sosial antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak ada lagi terjadi ketimpangan gender di dalam masyarakat.
d. Teori Sosio-Biologis
Teori ini dikembangkan oleh Pierre van den Berghe, Lionel Tiger dan Robin Fox. Teori ini melibatkan faktor biologis dan sosial dalam menjelaskan relasi gender. Laki-laki dominan secara politis dalam semua masyarakat karena predisposisi biologis bawaan mereka. Dalam dunia hewan pun, jenis jantan memperlihatkan perilaku lebih kasar, mengancam, dan unggul dari pada betina. Kenyataan lain bahwa laki-laki umumnya lebih besar dan kuat fisiknya secara konstan dibanding perempuan yang sewaktu-waktu mengandung dan menjalani menstruasi. Kenyataan ini memainkan peran penting dalam aspek pembagian kerja menurut jenis kelamin. Masyarakat akan lebih diuntungkan kalau laki-laki yang bertugas sebagai pemburu dari pada perempuan, sedang
mengandung, melahirkan dan menyusui adalah tugas perempuan yang tidak mungkin diganti oleh laki-laki.53
E. KONSEP GENDER: NATURE VS
NURTURE
Teori Nature atau Biological Essensialism adalah sebuah teori umum
yang beranggapan perbedaan fungsi serta peran antara laki-laki dan perempuan disebabkan karena adanya perbedaan alamiah sebagaimana tercemin di dalam perbedaan anatomi biologis kedua makhluk tersebut. Teori ini meyakini ada hubungan yang kuat antara biologis (sex) dengan sifat atau karakter lekaki dan perempuan.54
Teori Nurture adalah sebuah teori
yang berpendapat bahwa perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki serta perempuan disebabkan oleh faktor budaya dalam suatu masyarakat. Teori Nuture menolak teori
Biological Essensialism, mereka meyakini
bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminim bukan pengaruh biologi melainkan kulturisasi.55
F. PENUTUP
Feminism sebuah gerakan yang muncul di Eropa karena kecewa terhadap perlakuan kaum pria terhadap perempuan. Mereka tidak memiliki akses terhadap kepemilikan materi, dalam dunia pendidikan tinggi, dan mereka juga tidak memiliki hak politik. Kondisi ini mendorong aksi perlawanan dengan melakukan gerakan
53 Ibid hal. 68.
54 Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 94. 55 Ibid
social bernama feminism. Latar belakang kehidupan sosial di Eropa ini telah disamaratakan terjadi di semua peradaban termasuk dalam agama dan budaya belahan bumi yang lain. Dengan dukungan uang dan kekuasaan, gerakan ini mampu masuk ke dalam dunia akademik dan politik. Dalam dunia akademik, berbagai penelitian yang mendekonstruksi system social berbagai Negara dan ajaran agama mampu dikritisi dan direkontruksi ulang dengan pendekatan gerakan feminism. Dalam dunia politik, mereka mampu menekan sebuah Negara untuk membuat kebijakan sesuai dengan pemahaman mereka.
Dalam melancarkan misinya, gerakan menggunakan branding kesetaraan gender. Penggunaan istilah gender untuk memperjuangkan hak kaum hawa karena gender adalah pembedaan laki-laki dan perempuan dalam hal peran di masyarakat. Mereka mengambil celah peran sebagai pintu masuk untuk menuntut kesetaraan. Mereka meyakinkan dan membuktikan bahwa banyak peran di masyarakat yang dulu hanya di lakukan laki-laki bisa dilakukan oleh perempuan. Sehingga pembedaan hak antara laki-laki dan perempuan dituntut untuk dikaji ulang karena peran laki-laki bisa dilaksanakan oleh kaum hawa.
DAFTAR PUSTAKA
Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Jakarta: Gema Insani Press, 2005, hal 255-257 Dinar Dewi Kania, “Isu Gender: Sejarah dan
Siti Zubaedah, Mengurai Problematika Gender
dan Agama, Jurnal Studi Gender & Anak,
ISSN: 1907-2791. Vol.5 No.2 Jul-Des 2010 pp.243-260.
Umi Sumbulah, “Agama Dan Keadilan Gender,”
Egalita, 2012.
Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan, 1999, Cetakan pertama. Hamid Fahmy Zarkasyi “Problem Kesetaraan
Gender dalam Studi Islam,” Islamia, Vol III
No.5,2010.
Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, Fifty Key
Concepts in Gender Studies, London: Sage
Publication, 2004
Julia T. Wood, Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18
Sheila dalam Dinar Dewi Kania, “Isu Gender:
Sejarah dan Perkembangannya” Islamia
voll No. 5,2010
Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Jender
Perspektif Al Qur’an, Jakarta: Paramadina
Sri Suhandjati Sukri (edit Bias Jender d alam
Pemahaman Islam, Yogyakarta: Gama
Media, tt, jilid pertama
A S Horby, Oxford Advanced Leaner’s Dictionary
of Current English, New York: Oxford
University Press, 2005, Edisi ke-7, hal. 644. Julia Cleves Mosse, Gender dan Pembanguan,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996
http://www.who.int/gender/whatisgender/en/ index.html.
Gill Plain and Susan Sellers, A History Of Feminist
Literary Criticism, Cambridge University
Press, 2007
Shilpi Gole, “Feminist Literary Critism”,
Language in India. Vol 10, (4 april 2010),
hal. 404.
Julia Cleves Mosse, Gender & Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, Hal.8.