IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM ACARA PODCAST DI CHANEL YOUTUBE DEDDY
CORBUZIER
TAHUN 2021 SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun oleh:
Frandito Alam Pasurya 171224049
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM ACARA PODCAST DI CHANEL YOUTUBE DEDDY
CORBUZIER
i SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun oleh:
Frandito Alam Pasurya 171224049
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
TAHUN 2021
ii
Disusun oleh:
Frandito Alam Pasurya 171224049
Telah disetujui oleh:
SKRIPSI
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM ACARA PODCAST DI CHANEL YOUTUBE DEDDY CORBUZIER
Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. Tanggal: 14 Juni 2021
iii SKRIPSI
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM ACARA PODCAST DI CHANEL YOUTUBE DEDDY CORBUZIER
Dipersiapkan dan disusun oleh:
Frandito Alam Pasurya 171224049
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 21 Juli 2021
dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji
Nama Lengkap Tanda Tangan
Ketua : Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum. ………..
Sekretaris : Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. ………..
Anggota I : Danang Satria Nugraha, S.S., M.A. ………..
Anggota II : Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. ………..
Anggota III : Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. ………..
Yogyakarta, 21 Juli 2021
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma
Dekan,
Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si.
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN Terima kasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Kedua orang tua, Bapak Budi Santoso dan Ibu Ari Martani, yang selalu menyayangi, mendoakan, dan memberi dukungan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.
3. Keluarga penulis, khususnya Mas Verdian Deki Pratama yang selalu memberi dukungan dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi.
4. Dosen pembimbing, Prof. Dr. Pranowo, M.Pd., yang telah membimbing, membantu dan memberi dukungan kepada penulis dari awal hingga akhir proses penyusunan skripsi.
5. Para dosen dan staf program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menjadi mahasiswa.
6. Teman-teman penulis, Agnes Dwi Yustika Sari, Ria Setyana, Neneng Tia Atianti, Evanka Vine Aurely, Meyta Indah, Ganes Regita, teman-teman PBSI angkatan 2017, dan semua orang yang turut membantu, memberi dukungan, pengalaman, dan semangat dalam menyelesaikan skripsi.
v
"Pendidikan sejati dimulai ketika kamu menyadari bahwa hidup itu liar dan kamu tidak tahu apa-apa tentangnya."
- Maxime Lagace MOTTO
"Selalu menjadi versi tingkat pertama dari dirimu sendiri, bukan versi tingkat kedua dari orang lain."
- Judy Garland
"Sukses tidak berarti tidak pernah membuat kesalahan, tetapi tidak pernah membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
- George Bernard Shaw
"Hidup dapat dipahami dengan berpikir ke belakang. Tapi, ia juga harus dijalani dengan berpikir ke depan. Karena hidup harus tetap maju kedepan untuk meraih
kesuksesan dan belajar dari masalalu.
(Penulis)
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 21 Juli 2021 Penulis,
Frandito Alam Pasurya
vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:
Nama : Frandito Alam Pasurya
Nomor Induk Mahasiswa 171224049
Demi kepentingan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, karya ilmiah saya yang berjudul:
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM ACARA PODCAST DI CHANEL YOUTUBE DEDDY CORBUZIER
Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Yogyakarta, 21 Juli 2021 Yang menyatakan,
Frandito Alam Pasurya
viii ABSTRAK
Pasurya, Frandito Alam. 2021. Implikatur Percakapan Dalam Acara Podcast Di Chanel Youtube Deddy Courbuzier. Skripsi. Yogyakarta:
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.
Penelitian ini mengkaji Implikatur Percakapan Dalam Acara Podcast Di Chanel Youtube Deddy Courbuzier. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pamakaian implikatur percakapan berdasarkan: (1) jenis implikatur percakapan, (2) fungsi implikatur percakapan, dan (3) makna implikatur percakapan. Penelitian ini menggunakan metode simak dan teknik catat. Instrumen penelitian ini adalah instrumen penunjang berupa perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras yang digunakan yaitu laptop, alat tulis, alat perekam, dan flash disk.
Sedangkan perangkat lunak yang digunakan berupa materi tentang materi tentang pragmatik dan implikatur khususnya. Analisis data dilakukan dengan empat tahap:
(1) mengidentifikasi data, (2) mengklasifikasikan data,(3) menginterpretasi data, dan (4) penarikan simpulan.
Hasil penelitian yang dilakukan peneliti adalah pertama, peneliti menemukan tiga jenis implikatur percakapan antartokoh dalam acara podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier. Implikatur yang ditemukan, yaitu implikatur percakapan umum, implikatur percakapan khusus dan implikatur percakapan berskala. Kedua, peneliti menemukan fungsi-fungsi implikatur percakapan, yaitu fungsi implikatur asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Ketiga, peneliti menemukan makna implikatur percakapan, yaitu makna menyatakan, menyarankan, menunjukkan, mengeluh, penolakan, ejekan, melaporkan, mendesak, mengkritik, kesepakatan, mengucapkan selamat, mengakui, penyangkalan, memuji, membandingkan, membuktikan.
Kata kunci : Pragmatik, Implikatur percakapan
ix ABSTRACT
Pasurya, Frandito Alam. 2021. Conversational Implicatures in Podcast Shows on Deddy Courbuzier's Youtube Chanel. Thesis. Yogyakarta:
Indonesian Language and Literature Education, Department of Language and Arts, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University.
This study examines Conversational Implicatures in Podcast Shows on Deddy Courbuzier's Youtube Chanel. This research is a qualitative descriptive study. This study aims to describe the use of conversational implicatures based on: (1) types of conversational implicatures, (2) the function of conversational implicatures, and (3) the meaning of conversational implicatures. This study uses the listening method and note-taking technique. The research instrument is a supporting instrument in the form of hardware and software. The hardware used are laptops, stationery, recording devices, and flash disks. While the software used is in the form of material about pragmatics and implicatures in particular.
Data analysis was carried out in four stages: (1) identifying the data, (2) classifying the data, (3) interpreting the data, and (4) drawing conclusions.
The results of the research conducted by the researcher are first, the researcher found three types of conversational implicatures between characters in the podcast program on Deddy Courbuzier's youtube channel. The implicatures found are general conversational implicatures, specific conversational implicatures and scaled conversational implicatures. Second, the researcher found the functions of conversational implicatures, namely assertive, directive, commissive, expressive, and declarative implicature functions. Third, the researcher found the meaning of conversational implicatures, namely the meaning of stating, suggesting, showing, complaining, rejection, ridicule, reporting, urging, criticizing, agreeing, congratulating, admitting, denying, praising, comparing, proving.
Keywords : Pragmatics, Conversational implicature
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Implikatur Percakapan Dalam Acara Podcast Di Chanel Youtube Deddy Courbuzier dengan lancar. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya doa, dukungan, bantuan, bimbingan dan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc. Ph.D., selaku Rektor Universitas Sanata Dharma.
2. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang telah mengesahkan skripsi ini.
3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang selalu memberikan semangat kepada penulis.
4. A. Danang Satria Nugraha, S.S., M.A., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang selalu memberikan semangat kepada penulis.
5. Prof. Dr. Pranowo, M.Pd., selaku dosen pembimbing yang selalu membimbing dan memberi motivasi bagi penulis dari awal hingga akhir penulisan skripsi.
6. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku triangulator yang bersedia memberi masukan dan membimbing penulis.
xi
7. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menjadi mahasiswa.
8. Theresia Rusmiyati, selaku staf sekretariat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang telah membantu kelancaran penulis selama menempuh studi.
9. Bapak Budi Santoso dan Ibu Ari Martani, yang selalu menyayangi, mendoakan, dan memberi dukungan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.
10. Keluarga penulis, khususnya Mas Verdian Deki Pratama yang selalu memberi dukungan dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi.
11. Teman-teman penulis, Agnes Dwi Yustika Sari, Ria Setyana, Neneng Tia Atianti, Felisitas Victoria Melati, Evanka Vine Aurely, Meyta Indah, Ganes Regita, teman-teman PBSI angkatan 2017, dan semua orang yang turut membantu, memberi dukungan, pengalaman, dan semangat dalam menyelesaikan skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat khususnya di bidang akademin dam dapat digunakan sebaik-baiknya.
Yogyakarta, 21 Juli 2021
Frandito Alam Pasurya
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
1.5 Batasan Istilah ... 4
1.6 Sistematika Penyajian ... 5
BAB II LANDASAN TEORI ... 7
xiii
2.2 Landasan Teori ... 9
2.2.1 Pragmatik ... 9
2.2.2 Implikatur ... 10
2.2.3 Implikatur Percakapan ... 14
2.2.4 Fungsi Implikatur ... 16
2.2.5 Konteks ... 18
2.2.6 Media Sosial Youtube ... 19
2.2.7 Konsep Modaliti ... 20
2.3 Kerangka Berpikir ... 21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 22
3.1 Jenis Penelitian ... 22
3.2 Sumber Data dan Data Penelitian ... 22
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 22
3.4 Instrumen Penelitian ... 23
3.5 Teknik Analisis Data ... 23
3.6 Triangulasi Data ... 23
BAB IV HASIL ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 25
4.1 Deskripsi Data ... 25
4.2 Hasil Analisis Data ... 25
4.2.1 Analisis Jenis Implikatur Percakapan ... 25
4.2.2 Analisis Fungsi Implikatur Percakapan ... 40
4.2.3 Analisis Makna Implikatur Percakapan ... 64
xiv
BAB V PENUTUP ... 93
5.1 Kesimpulan ... 93
5.2 Saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA ... 95
LAMPIRAN ... 97
BIOGRAFI PENULIS ... 173
1 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN
Sebagai makhluk sosial, manusia saling berhubungan dengan cara berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Kridalaksana (2008:28) mengemukakan bahasa adalah sistem lambang bunyi arbiter yang digunakan oleh masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Fungsi bahasa memiliki peran penting dalam komunikasi. Komunikasi mudah berkembang seiring dengan manfaat komunikasi yang didapatkan oleh penutur maupun mitra tutur.
Pemakaian bahasa dan fungsinya dalam berkomunikasi dapat ditemukan dalam beberapa acara baik di televisi, radio, dan media sosial lainnya, salah satunya di youtube. Semakin berkembangnya teknologi, kini media sosial youtube banyak digemari oleh banyak orang untuk mendapatkan banyak informasi dan hiburan. Salah satunya di chanel youtube pembawa acara yang cukup terkenal yaitu Deddy Courbuzer. Podcast bersama tokoh politik, artis dan masih banyak lagi merupakan konten youtube yang di buat oleh Deddy Courbuzer yang bergendre talk show.
Program acara podcast Deddy Courbuzier ini merupakan acara yang pertama kali di buat oleh konten kreator youtube di Indonesia. Podcast Deddy Courbuzier ini merupakan panutan bagi konten kreator lainnya yang membuat acara podcast di chanel youtube mereka agar menjadi acara yang bagus seperti podcast milik Deddy Courbuzier. Podcast Deddy Courbuzier merupakan acara podcast nomor satu di youtube untuk saat ini. Program acara podcast yang di buat oleh Deddy Courbuzer banyak diminati oleh orang-orang. Program acara seperti ini sudah banyak dilakukan oleh artis-artis maupun konten kreator lainnya untuk membuat suatu konten di youtube. Selain itu program yang di buat oleh Deddy Courbuzer ini adalah untuk mengetahui informasi-informasi atau pendapat apa saja yang yang diberikan oleh narasumber ketika membahas tentang suatu
masalah, peristiwa maupun yang lainnya. Maka dari itu banyak sekali percakapan yang ada di dalam wawancara podcast antara Deddy Courbuzer dan narasumber.
Selain menarik dan juga dapat memikat hati masyarakat luas, program ini juga tidak lepas dari penggunaan bahasa yang beragam dan menarik. Bahasa yang digunakan dalam percakapan podcast Dady Courbuzer ini ada beberapa yang menyimpang dari tuturan maksud sebenarnya. Kalimat-kalimat yang diutarakan dalam percakapan podcast tersebut biasanya terjadi secara spontan atau alami dari seorang penutur maupun lawan tutur.
Menurut peneliti banyak orang yang masih salah tanggap atau salah paham dalam berkomunikasi yang mengakibatkan perbedaan maksud dari penutur ke mitra tutur. Banyak sekali orang sebagai mitra tutur yang tidak memiliki latar belakang yang sama dengan penutur lalu mereka menyalah artikan maksud tuturan dari penutur yang mengakibatkan terjadi kesalah pahaman. Hal tersebut juga di ungkapkan oleh Huang, 2007 yang mengatakan perbedaan antara apa yang diucapkan oleh penutur dan apa yang di impliksikan sering sekali membuat mitra tutur mengalami kesulitan dalam memahami maksud tuturan dari penutur. Jika dalam percakapan sehari-hari antara penutur dan mitra tutur memiliki pengatahuan latar belakang (backgroundknowledge) yaitu konteks pragmatik, maka dari itu percakapan dikatakan sukses jika sesuai yang diharapkan satu sama lain.
Kajian pragmatik sangat berkaitan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan sangat menarik untuk diteliti menggunakan teori pragmatik yaitu implikatur percakapan. Implikatur percakapan yang muncul dalam acara podcast Deddy Courbuzer ini dikarenakan pembawa acara dan bintang tamu menyimpang dari prinsip kerjasama saat berkomunikasi. Kejadian tersebut tidaklah dilakukan secara sengaja namun terjadi secara spontan. Untuk menemukan atau memahami implikatur percakapan pada podcast Deddy Courbuzer konteks perlu diperhatikan.
Konteks ini sangat berpengaruh pada pemaknaan dalam sebuah tuturan dalam percakapan. Konteks tersebut meliputi semua situasi yang berada di luar teks seperti tempat, partisipan, dan sebagainya. Peneliti memilih podcast channel youtube Deddy Courbuzier karena isi video atau konten yang bersifat informatif,
edukasi, memberikan motivasi kepada seluruh masyarakat yang menonton, menghibur dan kaya akan implikatur percakapan didalamnya.
Berdasarkan alasan di atas peneliti tertarik untuk meneliti “Implikatur percakapan dalam acara podcast chanel youtube Deddy Courbuzer”. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pembaca dan meningkatkan pemahaman tentang kajian pragmatik khususnya implikatur percakapan dalam acara podcast chanel youtube Deddy Courbuzer. Tujuan umum dari penelitian ini juga ingin memberikan gambaran tentang kesepahaman antara pengguna bahasa baik mitra tutur maupun penutur agar dapat mewujudkan tujuan komunikasi.
Dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis percakapan dalam video podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier. Sebanyak 26 video akan dianalisis percakapannya periode Januari sampai Februari 2021 dan akan dijadikan data untuk menganalisis dalam penelitian ini. Setelah itu peneliti dapat menyimpulkan hasil dari penelitian yang telah ditemukan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Jenis-jenis implikatur percakapan apa saja yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
2. Fungsi implikatur percakapan apa saja yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
3. Makna pragmatik implikatur percakapan apa sajakah yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang sudah diuraikan di atas, tujuan penelitian ini antara lain:
1. Mendeskripsikan jenis-jenis implikatur percakapan apa saja yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
2. Mendeskripsikan fungsi implikatur apa saja yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
3. Mendeskripsikan makna pragmatik apa sajakah yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang pragmatik, memberikan sumbangan pengetahuan kepada pembaca tentang materi implikatur percakapan.
Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya agar lebih baik lagi dan berkembang, menaikkan pengetahuan pembaca supaya lebih mudah menangkap suatu arti yang diucapkan secara tersirat yang hendak diinformasikan ketika sedang berbicara dengan orang lain.
1.5 Batasan Istilah 1.5.1 Pragmatik
Pragmatik menurut Leech,1993 (dalam Handayani et al., 2014) merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mengkaji tentang wacana dan makna. Secara praktis pragmatik dapat didefinisikan sebagai studi mengenai makna ujaran dalam situasi tertentu.
1.5.2 Implikatur
Grice di dalam artikelnya yang berjudul “Logic and Conversation”
menyatakan jika tuturan bisa mengimplikasikan proposisi yang bukan bagian dari tuturan tersebut. Proposisi yang diimplikasikan itu dapat dikatakan implikatur (dalam Nurmiah, 2014).
1.5.3 Implikatur Percakapan
Implikatur percakapan merupakan fenomena terjadinya kerja sama antara penutur (Yule, 2006:78).
pemutar portable baik secara gratis maupun berlangganan (dalam Fadilah, Yudhapramesti, & Aristi, 2017)
1.6 Sistematika Penyajian
Sistematika penyajian dalam penelitian ini terdiri dari lima bab. Bab I 1.5.4 Konteks
Leech menyatakan bahwa konteks sebagai latar belakang pemahaman yang dimiliki oleh penutur ataupun lawan tutur, sehingga lawan tutur dapat memahami mengenai apa yang dimaksud oleh penutur kala membuat tuturan tertentu (dalam Nurmiah, 2014).
1.5.5 Youtube
Menurut Budiargo, 2015:47 Youtube merupakan aplikasi video online dan yang paling utama dari kegunaan situs ini adalah untuk tempat untuk mencari, melihat berbagai video asli dari segala penjuru dunia (David, Sondakh, &
Harilama, 2017) 1.5.6 Podcast
Secara sederhana podcast diartikan sebagai materi yang tersedia di internet yang dapat secara otomatis dipindahkan ke komputer atau media
merupakan pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab II merupakan landasan teori. Landasan teori memaparkan kajian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Landasan teori juga memaparkan teori-teori mengenai kajian pragmatik khususnya implikatur sebagai dasar untuk menyelesaikan penelitian ini. Selain itu, bab II memaparkan kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini.
Bab III merupakan metodologi penelitian yang terdiri atas jenis penelitian, sumber data dan data penelitian, metode dan teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisis data, dan triangulasi data. Bab IV merupakan hasil penelitian dan pembahasan. Bab ini memaparkan seluruh hasil penelitian sesuai dengan rumusan masalah. Bab V merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan
dan saran. Selain bab-bab tersebut, peneliti juga menyajikan daftar pustaka dan lampiran-lampiran pendukung penelitian.
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Penelitian Relevan
Saat ini sudah banyak sekali ditemukan penelitian tentang implikatur percakapan. Peneliti menemukan lima penelitian lain yang sama dengan penelitian ini. Penelitian pertama yang dilakukan Wiwiek Dwi Astuti yang berjudul
”Implikatur Percakapan Dalam Gelar Wicara “Sentilan Sentulan” Di Metro TV”
bertujuan untuk mendeskripsikan (1) wujud/fungsi implikatur percakapan dan (2) pelanggaran prinsip kerja sama dan/prinsip kesantunan dalam tayangan talk show (gelar wicara) “Sentilan Sentilun” di Metro TV dengan episode „Siapa Ikut Gerobak??‟ Metode yang digunakan adalah metode simak dengan teknik catat ujaran/tuturan tokoh-tokohnya dan/atau tamu-tamu yang dihadirkan dalam acara tersebut. Hasil yang diperoleh terkait dengan wujud/fungsi implikatur adalah penggunaan tuturan representatif (asertif), direktif (imposif), ekspresif, komisif, dan deklaratif. Selanjutnya, pelanggaran prinsip kerja sama beserta semua maksimnya lebih menonjolkan perbenturan dan permainan (percandaan). (Astuti, 2017)
Penelitian kedua yang dilakukan Catur Handayani, Sumarwati, Raheni Suhita yang berjudul “Implikatur Percakapan Dalam Acara Talk Show Mata Najwa Di Metro TV” bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan: 1) bentuk-bentuk implikatur percakapan pada acara Mata Najwa di Metro TV dan 2) fungsi implikatur percakapan pada acara Mata Najwa di Metro TV. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis dan expert judegment. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber data dan triangulasi teori. Hasil pembahasan dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat bentuk tindak tutur berimplikatur dalam percakapan pada acara Mata Najwayang berupa representatif, direktif, ekspresif, dan komisif.
(Handayani et al., 2014)
7
Penelitian ketiga yang dilakukan I Nyoman Adi Susrawan yang berjudul
“Implikatur Percakapan Dalam Komunikasi Antarsiswa Si SMP N 1 Sawan Singaraja” termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah metode observasi, wawancara, dan rekaman. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis melalui tiga tahap model alir, yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. mendesripsikan proses terjadinya implikatur percakapan dalam komunikasi antarsiswa di SMP N 1 Sawan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga bentuk lingual yang ditemukan, yaitu bentuk lingual perintah, bentuk lingual berita dan bentuk lingual kalimat tanya. (Smp & Singaraja, n.d.)
Penelitian keempat yang dilakukan Safynatul Fawziyyah dan B.Wahyudi Joko Santoso ysng berjudul “Implikatur Percakapan pada Iklan Kosmetik di Televisi: Kajian Pragmatik” menggunakan pendekatan pragmatis dalam penelitian ini untuk mengkaji makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu. Tuturan iklan yang dianalisis adalah tuturan pada iklan kosmetik. Data dikumpulkan melalui teknik simak dengan teknik dasar sadap dilanjutkan dengan teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Metode padan dengan teknik pilah unsur penentu digunakan untuk menganalisis data. Ditemukan tiga wujud implikatur:
implikatur representatif; implikatur direktif-representatif; dan implikatur ekspresif-representatif. Ditemukan sumber implikatur percakapan diantaranya pelanggaran pada bidal kualitas, bidal kuantitas, bidal relevansi, bidal cara, bidal ketimbangrasaan, dan bidal keperkenaan. (Fawziyyah, Wahyudi, & Santoso, 2017)
Penelitian kelima yang dilakukan Maryati K. Haliko yang berjudul
“Implikatur Percakapan Dalam Talk Show Hitam Putih Di Trans 7” merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini yaitu percakapan yang terdapat dalam talk show Hitam Putih di Trans 7 sehingga diperoleh 8 bentuk implikatur dan 8 fungsi implikatur. Metode pengumpulan data menggunakan metode simak.
Teknik pengumpulan data dilakukan teknik rekam dan teknik catat. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk implikatur percakapan dalam penelitian implikatur percakapan talk show Hitam Putih di Trans 7,
diperoleh 8 bentuk implikatur yaitu 1) sindiran (mengata-ngatai orang lain), 2) humor (sesuatu yang lucu), 3) perintah (perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu), 4) apresiasi (perhargaan terhadap sesuatu), 5) protes (menyatakan tidak setuju), 6) dukungan (sesuatu yang didukung), 7) pernyataan (hal yang menyatakan), dan 8) kritik (tanggapan baik buruk terhadap sesuatu).
Kedua, fungsi implikatur yang ditemukan dalam penelitian implikatur percakapan talk show Hitam Putih di Trans 7, diperoleh 8 fungsi implikatur yaitu 1) melemahkan semangat (lemahnya gairah seseorang), 2) menghibur (sesuatu yang dapat menghibur hati), 3) mengejek (mengolok-olok sesuatu), 4) membandingkan (mengetahui persamaaan atau selisihnya), 5) memotivasi (memberikan dorongan kepada orang lain), 6) mencari tahu (ingin mencari keterangan), 7) memberi semangat (memberikan kekuatan kepada orang lain), dan 8) memarahi memarahi (sangat tidak senang kepada orang lain). (Putih & Trans, 2017)
Kelima penelitian relevan diatas termasuk dalam ranah pragmatik, khusunya implikatur. Terdapat persamaan dan berbedaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti lakukan saat ini. Persamaan terletak dari pemakaian pendekatan pragmatik khususnya teori implikatur untuk mengkaji objek penelitiannya. Perbedaan terletak pada objek yang akan di teliti. Penelitian kali ini mengambil fokus pada penelitian implikatur percakapan dari podcast di chanel youtube Deddy Courbuzer yang belum pernah di teliti sebelumnya.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Pragmatik
Pragmatik mengalami perkembangan yang pesat dengan cakupan kajian yang luas dalam usianya yang relatif masih muda (Leech,1983:1). Kelahiran pragmatik sendiri tidak dapat dipisahkan dari pemikiran-pemikiran para filsuf (Wijana, 1996:5). Ada beberapa definisi mengenai pragmatik, yang hampir semuanya bermuara pada pendapat bahwa pragmatik mengkaji bahasa sebagaimana digunakan dalam konteks tertentu.
Tannenbaum, 2017 (dalam Pranowo, 2020) mendefinisikan pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji bahasa dari sudut pandang pengguna.
Berbeda degan Leech, 1993 ia berpendapat bahwa pragmatik secara praktis dapat didefinisikan sebagai studi mengenai makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu (Handayani et al., 2014). Wijana (1996:2) juga berpendapat bahwa pragmatik adalah cabang-cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan lingual, pragmatik mempelajari makna secara eksternal (Putih & Trans, 2017). Nadar dalam bukunya yang berjudul pragmatik dan penelitian pragmatik juga berpendapat bahwa pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu.
Pragmatik menurut Leech,1993 (dalam Handayani et al., 2014) merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang mengkaji tentang wacana dan makna. Secara praktis pragmatik dapat didefinisikan sebagai studi mengenai makna ujaran dalam situasi tertentu.
Mengenai definisi pragmatik yang bervariasi yang telah dipaparkan diatas, maka peneliti menyimpulkan pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mengkaji suatu tuturan dari penutur dan mitra tutur untuk berkomunikasi yang disebabkan oleh konteks percakapan agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika berkomunikasi.
2.2.2 Implikatur
Setelah memahami teori tentang pengertian pragmatik, tentu saja didalamnya berisikan materi tentang implikatur dalam pragmatik. Implikatur sering terjadi ketika sedang berbicara dengan lawan bicaranya bertujuan untuk jembatan penghubung antara yang diucapkan dengan yang diimplikasikan. Maka dari itu dalam penelitian ini akan berfokus pada penelitian menggunakan analisis implikatur bertujuan untuk mengetahui makna tersirat dari percakapan di chanel youtube Deddy Courbuzier.
Menurut Rustono mengatakan implikatur adalah implikasi pragmatis yang terdapat di dalam percakapan yang timbul sebagai akibat terjadinya prinsip percakapan (dalam Fawziyyah et al., 2017). Echols dalam (dalam Putih & Trans,
2017) mengatakan implikatur diturunkan dari kata “implicatum”. Istilah ini hampir sama dengan kata implication, yang artinya maksud, pengertian, keterlibatan. Grice (dalam Nurmiah, 2014) di dalam artikelnya yang berjudul
“Logic and Conversation” menyatakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut.
Proposisi yang diimplikasikan itu dapat disebut dengan implikatur. Grice juga mengungkapkan implikatur merupakan teori bagaimana makna mungkin tersirat dibandingkan tersurat (dalam Bahasa, 2017)
Rahardi (dalam Putih & Trans, 2017) memberikan contoh tuturan sebagai berikut.
(1) Bapak datang, jangan menangis!
Konteks situasi tuturan di atas adalah Bapak datang dari tempat tertentu.
Bapak memiliki sifat yang keras kepada anaknya yang sedang menangis. Tuturan tersebut tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa sang ayah sudah datang dari tempat tertentu. Penutur bermaksud memperingkatkan lawan tutur untuk tidak menangis, karena ayah akan bersikap keras dan kejam apabila dia masih terus menangis. Tuturan pada contoh (1) mengimplikasikan bahwa sang ayah adalah orang yang keras dan sering marah-marah pada anaknya yang sedang menangis. Situasi dan kondisi tersebut adalah suatu konteks dimana dan bagaimana tuturan itu digunakan. Dalam memahami sebuah tuturan seseorang diwajibkan mengetahui situasi dan kondisi supaya dapat mengerti akan makna tuturan yang sebenarnya.
Dilihat dari uraian pendapat dari para ahli diatas, peneliti menyimpulkan bahwa implikatur merupakan suatu maksud yang disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur yang bersifat tersirat dan tidak sesuai dengan yang dimaksud oleh penutur secara langsung, proses menafsirkan tuturan tersebut sangat ditentukan oleh situasi dan konteks pada saat tuturan tersebut dilakukan.
Selain pengertian implikatur Grice (dalam Oliver, 2013) berpendapat bahwa ada beberapa jenis-jenis implikatur yang ada. Jaszcolt dalam bukunya mengungkapkan ada dua implikatur yang ditekankan dalam Grice yaitu implikatur konvensional dan implikatur percakapan yaitu :
a. Implikatur Konvesional adalah kebalikan dari implikatur percakapan.
Implikatur konvensional tidak harus terjadi dalam percakapan, dan tidak bergantung pada konteks khusus untuk menginterpretasikannya. Seperti halnya presupposisi leksikal, implikatur konvensional diasiosiasikan dengan kata-kata khusus dan menghasilkan maksud tambahan yang disampaikan apabila kata-kata itu digunakan (Yule, 2006:78).
b. Implikatur percakapan merupakan percakapan yang muncul dengan menggunakan konteks tertentu, tanpa membentuk bagian dari kekuatan karakteristik atau syarat pada tuturan tersebut. Istilah “percakapan” yang dijelaskan oleh fakta bahwa contoh Grice sebagian besar diambil dari pembayangan/imajinasi percakapan. Implikatur percakapan merupakan fenomena terjadinya kerja sama antara penutur (Yule, 2006:78). Mulyana (2005:13) (dalam Putih & Trans, 2017) memberikan contoh percakapan sebagai berikut.
(2) Ibu : Ani, adikmu belum makan.
Ani : Ya, Bu. Lauknya apa?
(3) Guru : Kelasnya panas sekali, ya.
Murid : Jendelanya dibuka ya, Pak?
Percakapan antara Ibu dengan Ani pada contoh (2) mengandung implikatur percakapan yang bermakna “perintah menyuapi”. Memang dalam tuturan tersebut tidak ada sama sekali bentuk kalimat perintah. Tuturan yang ada hanya berupa kalimat pemberitahuan “adikmu belum makan”. Namun Ani memahami perkataan Ibunya yang memberitahukan bahwa adiknya belum makan.
Contoh pada (3) hampir sama dengan (2), yaitu perintah guru untuk melakukan sesuatu supaya keadaan dalam kelas tidak panas dan muridnya paham akan perintah guru, lalu muridnya membuka jendela agar keadaan dalam kelas tidak panas. Kesopanan memiliki kaitan dengan masalah kebudayaan sehingga masalah kebudayaan memiliki pengaruh terhadap implikatur yang dihasilkan dalam sebuah tuturan. Misalnya:
(4) A : Maukah kamu mengerjakan tugas hari ini bersamaku? B : Hari ini Paman Subur mau kerumahku.
Prinsip kerjasama dan maksim-maksim dapat digunakan untuk menjelaskan percakapan yang terjadi antara A dan B. Dalam percakapan tersebut
dapat dipahami bila A ingin melakukan sebuah tindakan bersama B, tetapi B sedang berusaha melakukan penolakan secara halus. Implikatur percakapan dalam contoh ini memiliki sebuah pertimbangan kesantunan yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia. Penggunaan implikatur dalam sebuah komunikasi memiliki sebuah pertimbangan, yaitu memperhalus tuturan dan menjaga etika kesopanan. Hal itu bisa tergambar dalam implikatur konteks budaya bangsa Indonesia, misalnya dalam berkomunikasi saat menolak, meminta, dan menegur.
Penanda munculnya implikatur dalam penelitian ini diambil dari teori prinsip kerjasama. Penanda kemunculan implikatur tersebut tidak lepas dari konteks situasi percakapan. Prinsip kerjasama sebagai acuan pragmatik karena memiliki peran vital yang sangat diperlukan dalam percakapan. Leech, 20011:120 (dalam Putih & Trans, 2017) mengatakan prinsip yang mengatur kerja sama antara penutur dan lawan tutur dalam sebuah percakapan dinamakan prinsip kerja sama. Seseorang membutuhkan Prinsip kerja sama untuk lebih mudah menjelaskan hubungan antara makna.
Prinsip kerjasama menurut Grice (dalam Putih & Trans, 2017) memiliki empat maksim yaitu :
- Maksim Kualitas
a. Jangan mengatakan apa yang Anda yakini salah b. Jangan mengatakan sesuatu yang Anda tidak miliki.
- Maksim Kuantitas
a. Buatlah tuturan Anda seinformatif yang diperlukan.
b. Jangan membuat tuturan Anda lebih informatif dari yang diperlukan.
- Maksim Relevansi
Berikan kontribusi yang relevan tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan itu.
- Maksim Cara
a. Menghindari ungkapan yang membingungkan.
b. Menghindari ambiguitas.
c. Berbicaralah secara singkat.
d. Berbicaralah secara teratur.
2.2.3 Implikatur Percakapan
Yule (2006:70-74) membagi implikatur percakapan menjadi tiga bagian, yaitu: implikatur percakapan umum (IPU), implikatur prcakapan berskala (IPB), dan implikatur percakapan khusus (IPK) (dalam Sakoikoi, 2018). Berikut penjabarannya.
1. Implikatur Percakapan Umum (IPU)
Yule (2006: 74) mengatakan jika implikatur percakapan umum adalah implikatur yang tidak memperhitungkan makna tambahan melainkan proses tuturan mengasumsikan arti percakapan hanya dengan mengamati struktur kata yang dipakai. Tidak hanya itu Cummings (2007:19) juga berpendapat yang sama yaitu implikatur percakapan umum tidak membutuhkan konteks untuk menghasilkan implikatur (dalam Sakoikoi, 2018). Sebagai contoh berikut ini:
(1) Dodi : Ati...Ati..Ati..!
Hayati : Assalamualaikum bang, aku siapkan minum.
Apa bila dikaji dari percakapan di atas antara Aziz dan Hayati, maka percakapan tersebut merupakan implikatur percakapan. Alasannya karena, tidak ada konteks yang spesifik dari percakapan tersebut.
2. Implikatur Percakapan Berskala (IPB)
Yule (2006:74) menyatakan jika implikatur percakapan berskala diisyaratkan dengan istilah-istilah untuk mengungkapkan kuantitas dari nilai berskala besar ke nilai skala terendah (dalam Sakoikoi, 2018). Implikatur berskala sebagai contoh berikut
(semua, sebagian besar, banyak, beberapa, sedikit, selalu, sering, kadang- kadang)
Pada saat melakukan percakapan berskala, biasanya penutur menggunakan salah satu kata yang mengandung nilai atau sebagai contoh kata di atas tadi untuk menunjukkan nilai. Sebagai contoh berikut ini.
(2) “Doni : Beberapa waktu terakhir sering sekali turun hujan.”
Kata “beberapa” dalam kalimat di atas menunjukkan skala nilai. Kata
“beberapa” tersebut mengandung arti tidak hanya satu, dua hari saja hujan mulai turun. Dengan adanya batasan implikatur berskala, konsekuensinya adalah dalam mengatakan “sebagian dari hari ini, sering sekali turun hujan”.
3. Implikatur Percakapan Khusus (IPK)
Yule (2006:74) menyatakan jika implikatur percakapan khusus terjadi di dalam konteks yang khusus di mana mitra tutur mengasumsikan data secara lokal.
Maka dari itu, implikatur percakapan khusus sangat membutuhkan konteks serta pengetahuan khusus untuk merumuskan apa yang dibutuhkan (dalam Sakoikoi, 2018). Sebagai contoh berikut ini:
(3) Andi : “Ta, berapa hutangku kemarin?”
Rita : “ Ahh... udah pakai dulu aja. Sering-sering PO ya!”
Contoh data di atas dapat diartikan bahwa Andi tidak perlu membayar hutangnya kepada Rita saat percakapan itu terjadi. Rita memberi kelonggaran kepada Andi untuk membayar di lain waktu karena Andi telah melakukan Po (Pree Order) yang menguntungkan bagi Rita. Percakapan tersebut juga menunjukkan bahwa trjalin keakraban antara Andi dan Rita, serta ada maksud yang disampaikan Rita terhadap Andi untuk sering-sering PO (Pree Order) dagangan yang di jual oleh Rita. PO (Pree Order) merupakan salah satu cara berdagang untuk memesan terlebih dahulu sebelum barang tersedia. Secara tidak langsung bahwa kata “PO” yang terdapat pada percakapan di atas merupakan konteks dan latar belakang khusus yang diketahui oleh kedua penutur tersebut.
Dengan demikian, implikatur percakapan khusus yaitu maksud yang digunakan dari percakapan dengan merujuk atau mengetahui konteks percakapan, hubungan antar mitra tutur dan penutur atau dari segi latar belakang pengetahuan yang sama. Dari pengetahuan khusus itu maka maksud dan tujuan percakapan bisa terimpretasikan dengan baik.
2.2.4 Fungsi Implikatur
Levinson ( dalam Nurmiah, 2014) mengatakan bahwa implikatur memiliki kegunaan. Ia menyebutkan ada empat fungsi implikatur pada kajian pragmatik adalah berikut.
1. Implikatur dapat memberikan penjelasan bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik.
2. Implikatur dapat memberikan penjelasan tentang perbedaan antara pengucapan lahiriah dari yang dimaksud si penutur atau si pemakai bahasa.
3. Implikatur dapat menyederhanakan struktur dan ini dari deskripsi semantik.
4. Implikatur dapat menjelaskan berbagai fakta secara lahiriah berkaitan atau berlawanan tetapi tetap berkaitan.
Seorang filsuf yaitu Austin (1962:45) mengatakan bahwa ada banyak kata kerja dalam bahasa Inggris seperti: ask (bertanya), request (meminta), require (membutuhkan) , order (menyuruh), plead (menuntut) yang semuanya itu dapat menandai tindak tutur (dalam Yuniarti, 2014). Searle (1976:21) mengklasifikasikan ada lima kelompok tindak tutur berdasarkan maksud penutur ketika berbicara ( dalam Syaifudin, 2019)
1. Asertif
Menurut Searle asertif yaitu tuturan yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan. Contohnya menyatakan, menyarankan, membual, mengeluh, dan mengklaim. Rani berpendapat asertif atau representatif yaitu tindak tutur yang membahas terkait apa dan bagaimana sesuatu itu adanya dalam suatu tuturan. misalnya pemberi pernyataan, pemberi saran, pelaporan, pengeluhan, dan sebagainya (dalam Pratama, Utami, & Huda, 2020). Berdasarkan pendapat dari kedua ahli tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tindak tutur asertif merupakan tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan suatu informasi yang benar sesuai fakta yang diyakini oleh penutur.
2. Direktif
Menurut Searle direktif yaitu tuturan yang dimaksudkan agar si mitra tutur melakukan tindakan sesuai tuturan. Contohnya memesan, memerintah, memohon, menasihati, dan merekomendasi. Rani berpendapat direktif yaitu suatu fungsi tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong mitra tutur untuk melakukan sesuatu hal, contohnya memerintah, melarang, menasehati, meminta, menyarankan, mengajak (dalam Pratama et al., 2020). Berdasarkan pendapat dari kedua ahli tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tindak tutur direktif merupakan tindak tutur yang berfungsi agar mitra tutur melakukan suatu hal apa yang penutur katakan.
3. Komisif
Menurut Searle yaitu tindak yang menuntut penuturnya berkomitmen melakukan sesuatu di masa depan. Contohnya adalah berjanji, bersumpah, menolak, mengancam, dan menjamin. Rani berpendapat komisif yaitu suatu fungsi tindak tutur untuk mendorong penutur melakukan sesuatu, contohya : bersumpah, berjanji dan mengusulkan sesuatu (dalam Pratama et al., 2020).
Berdasarkan pendapat dari kedua ahli tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tindak tutur komisif yaitu tindak tutur yang melibatkan penutur untuk melakukan sesuatu di masa mendatang.
4. Ekspresif
Menurut Searle yaitu ungkapan sikap dan perasaan tentang suatu keadaan atau reaksi terhadap sikap dan perbuatan orang. Contohnya memberi selamat, bersyukur, menyesalkan, meminta maaf, menyambut, dan berterima kasih.
Rani berpendapat ekspresif yaitu fungsi tindak tutur yang menyangkutkan perasaan dan sikap. Ekspresif berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis penutur kepada (dalam Pratama et al., 2020). Berdasarkan pendapat dari kedua ahli tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tindak tutur ekspresif yaitu berfungsi untuk mengungkapkan perasaan dari psikologis penutur kepada mitra tutur.
Contohnya mengucapkan bela sungkawa atas meningkatnya kasus covid 19 di Indonesia.
5. Deklaratif
Menurut Searle yaitu ilokusi yang menyebabkan perubahan atau kesesuaian antara proposisi dan realitas. Contohnya adalah membaptis, memecat, memberi nama, dan menghukum. Rani berpendapat deklaratif yaitu tindak tutur yang menghubungkan isi proposisi dengan kenyataan berdasarkan kebenaran. Contohnya menghukum, memecat, memaafkan, mengizinkan (dalam Pratama et al., 2020). Berdasarkan pendapat dari kedua ahli tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tindak tutur deklaratif berfungsi untuk mengubah sesuatu untuk menghasilkan hal yang baru sesuai dengan kenyataan.
2.2.5 Konteks
Kajian konteks dalam berbahasa dapat dilakukan melalui kajian pragmatik. Beberapa ahli berpendapat definisikan kontek dari sudut pandang yang berbeda-beda, tergantung permasalahan yang dihadapi. Menurut Widdowson, 1989 (dalam Pranowo, 2020) mengatakan kontek yang dimaksud yaitu aspek- aspek dari keadaan penggunaan bahasa aktual yang dianggap relevan dengan makna, atau dengan kata lain kontek adalah konstruksi skematik dalam pencapaian makna pragmatis yang ada kecocokan kode unsur linguistik dengan elemen skematiknya.
Sedangkan Leech (dalam Nurmiah, 2014) berpendapat bahwa konteks sebagai latar belakang pemahaman yang dimiliki oleh penutur ataupun lawan tutur, sehingga lawan tutur dapat memahami apa yang dimaksud oleh penutur kala membuat tuturan tertentu. Konteks merupakan hal-hal yang bergantung dengan lingkungan fisik dan sosial suatu tuturan ataupun latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur ataaupun lawan tutur dan yang membantu lawan tutur mengartikan makna tuturan dari penutur.
Istilah konteks dapat dipahami dalam arti sempit dan arti luas (Pranowo, 2020). Pengertian konteks dalam arti sempit adalah bagian lain dari teks sebelum dan sesudah ketika seseorang sedang bertutur atau biasa di sebut co-tex.
Sedangkan pengertian konteks dalam arti luas adalah segala faktor di luar teks
yang diperlukan dalam berkomunikasi. Pada dasarnya konteks memiliki kesamaan yang penting, yaitu satu titik utama dari konteksnya adalah lingkungan dimana wacana tersebut terjadi.
Dilihat dari beberapa pandangan dari para ahli mengenai kontek, maka peneliti menyimpulkan bahwa konteks merupakan sudut pandang atau latar belakang dari si penutur maupun mitra tutur untuk memahami percakapan antara mitra tutur dan penutur tergantung dengan situasi pada saat wacana diucapkan.
2.2.6 Media Sosial Youtube
Mandubergh mengartikan media sosial sebagai media yang mewadahi kerja sama di antara pengguna yang menghasilkan sebuah kontek (User generated content) (David et al., 2017).Youtube merupakan aplikasi dari media sosial untuk melihat video yang telah diluncurkan pada bulan Mei 2005. Menurut Budiargo, 2015:47 Youtube merupakan aplikasi video online dan yang paling utama dari kegunaan situs ini adalah untuk tempat untuk mencari, melihat berbagai video asli dari segala penjuru dunia (David et al., 2017). Kehadiran Youtube berdampak besar bagi mansyarakat dunia, khususnya para kreator film dst. Penggunaan Youtube juga sangat mudah dan tidak perlu memerlukan biaya yang mahal, maka dari itu seluruh warga dunia mudah sekali mengakses Youtube melalui gawai atau alat komunikasi lainnya. Hal tersebut membuat video apapun dapat dengan mudah diunggah untuk dipublikasikan. Jika video tersebut mendapatkan respon yang baik dari banyak orang, maka penontonnya akan terus bertambah. Jika penonton video yang diunggah tersebut semakin banyak maka banyak orang akan memasang iklan dalam video-video mereka berikutnya.
Peneliti menganggap bahwa Acara Podcast di Channel Youtube Deddy Courbuzier merupakan salah satu dari audio visual yang baik untuk digunakan sebagai pemebelajaran bahasa melalu media massa. Podcast di channel youtube Deddy Courbuzier juga termasuk kedalam Vlog ( Video Blog) yang menyajikan percakapan antar orang yang menggunakan ragam bahasa. Maka dari itu, peneliti menjadikan percakapan antar orang di video podcast di channel Youtube Deddy
Courbuzier sebagai bahan penelitian. Melalui video podcast ini kita dapat mengetahui pesan, makna dan maksud yang hendak disampaikan dari percakapan antar orang di video tersebut.
2.2.7 Konsep Multimodaliti
Analisis multimodaliti adalah analisis sarana komunikasi yang menyatukan antara mod visual dan mod bahasa. Norris (2004: 1) berpendapat bahwa semua interaksi bersifat multimodaliti. Kajian multimodaliti menerapkan seluruh interaksi sama ada interaksi verbal mahupun interaksi visual. Jewitt (2014) menjelaskan bahawa multimodaliti adalah:
“ ... an innovative approach to representation, communication and interaction which looks beyond language to investigate the multitude of ways we communicate: through images, sound and music to gestures, body posture and the use of space. Dalam konteks ini, multimodaliti ditakrifkan sebagai satu pendekatan inovatif untuk representasi, komunikasi dan interaksi yang melangkaui bahasa untuk mengkaji cara manusia berkomunikasi, yaitu melalui imej, bunyi dan muzik kepada gerak isyarat, postur badan dan penggunaan ruang (Jewitt, 2014). Bezemer dan Mavers (2011) pula mendefinisikan multimodaliti sebagai satu pendekatan antara disiplin yang memahami komunikasi dan representasi menjadi lebih daripada sekadar bahasa. Kajian multimodaliti dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang analisis seperti analisis kartun-komik- karikatur, iklan, muzik, sains, kaunseling, psikologi, patung serta tradisi yang terdapat dalam sesuatu budaya dan etnik ( dalam Abdullah et al., 2021).
Multimodaliti merupakan satu daripada cabang kajian Sistemik Fungsional Linguistik (SFL) oleh Halliday (1994) yang dilanjutkan kajian oleh Kress dan van Leeuwen dalam The Grammar of Visual Design (1996, 2006). Mengikut Teori SFL, multimodaliti terdiri daripada tiga komponen, iaitu makna representasi (representational meaning), makna interaktif (interactive meaning) dan makna komposisi (compositional meaning ). Komponen makna representasi menyerupai metafungsi ideasional, sementara makna interaktif menyerupai metafungsi interpersonal, dan makna komposisi menyerupai metafungsi tekstual. Namun
dalam kajian ini, analisis multimodaliti hanya terbatas kepada komponen interaktif menerusi metafungsi interpersonal (dalam Abdullah et al., 2021).
2.3 Kerangka Berpikir
Penelitian ini menggunakan dasar dari teori pragmatik. Setelah itu bercadang dalam keterkaitannya implikatur serta konteks yang jadi satu kesatuan, sehingga dalam mengkaji implikatur, kotek juga harus muncul. Peneliti hendak melaksanakan penelitian bersumber pada implikatur-implikatur yang ada pada percakapan video podcast di channel youtube Deddy Courbuzier. Secara garis besar kerangka berpikir dalam penelitian ini dideskripsikan 1) Pragmatik, 2) Konteks, 3) Implikatur percakapan, 4) Jenis-jenis implikatur, 5) Fungsi Implikatur, 6) Makna pragmatik
IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM ACARA PODCAST DI CHANEL YOUTUBE DEDDY CORBUZIER
Pragmatik
Implikatur
Jenis-jenis implikatur percakapan apa saja yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
Fungsi implikatur apa saja yang terdapat pada percakapan di podcast chanel youtube Deddy Courbuzer?
Makna pragmatik apa sajakah yang terdapat pada percakapan di podcast
youtube Courbuzer?
chanel Deddy
Contoh tabel identitas data tuturan dalam podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier terlampir.
No. Bintang Tamu Tanggal Judul Podcast
3.1 Jenis Penelitian
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskripsi kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati dan menganalisis bentuk-bentuk kebahasaan yang ada di dalam podcast chanel youtube Deddy Courbuzier. Lalu peneliti mendeskripsikan jenis-jenis, fungsi dan makna implikatur yang terdapat pada setiap percakapan tersebut.
3.2 Sumber Data dan Data Penelitian
Sumber data penelitiannya adalah video podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier. Data penelitiannya adalah tuturan Deddy Courbuzier yang dikumpulkan dari video yang dicurigai mengandung implikatur percakapan.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan suatu data.
Data merupakan hasil akhir yang didapatkan. Penelitian ini dilakukan untuk mencari jenis dan fungsi implikatur percakapan pada podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier. Teknik pengumpulan data yang di pakai oleh peneliti yaitu dengan teknik simak dan catat. Peneliti menyimak secara langsung percakapan pada podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier, kemudian secara teliti mencatat percakapan-percakapan yang ada di podcast chanel youtube Deddy Courbuzier.
Contoh tabel klasifikasi data jenis implikatur percakapan, fungsi implikatur percakapan, dan makna implikatur percakapan dalam podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier.
22
3.4 Instrumen Penelitian
Arikunto berpendapat instrumen penelitian yaitu alat yang di pakai oleh peneliti untuk mengumpulkan data supaya mempermudah pekerjaan dan hasilnya lebih baik, cermat, cepat dan sistematis agar mudah untuk diolah. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kemampuan yang dimilikinya pada saat menyimak percakapan pada video chanel youtube Deddy Courbuzier.
Penelitian ini dibantu dengan instrumen penunjang berupa perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras yang digunakan yaitu laptop, alat tulis, alat perekam, dan flash disk. Sedangkan perangkat lunak yang digunakan berupa materi tentang materi tentang pragmatik dan implikatur khususnya.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif. Milles dan Hurberman (dalam Putih & Trans, 2017) berpendapat bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sampai data bersifat jenuh. Langkah-langkah analisis data yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini antara lain : (1) mengidentifikasi data, (2) mengklasifikasikan data,(3) menginterpretasi data, dan (4) penarikan simpulan.
3.6 Triangulasi Data
Triangulasi data merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain menurut Moleong. Peneliti memerlukan bantuan dari dosen selain dosen pembimbing, yaitu Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum.
Dalam penelitian ini beliau berperan sebagai penyidik yang mengevaluasi dan
No. Data Konteks Jenis
Percakapan Implikatur
Fungsi Implikatur
Makna Implikatur
melakukan validasi terhadap kredibilitas kajian objek yang sudah di teliti oleh peneliti.
4.1. Deskripsi Data
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Judul yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini yaitu Implikatur percakapan dalam podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier. Pada bab ini memaparkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai implikatur percakapan dalam podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier pada periode Januari- Februari 2021. Sumber data dari penelitian ini yaitu video dari chanel youtube Daddy Courbuzier yang di unduh melalui internet. Data dari penelitian ini yaitu tuturan-tururan dari percakapan Deddy Courbuzier dan bintang tamu yang di undang podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier. Penelitian ini berfokus pada tuturan implikatur percakapan yang dilakukan Deddy Courbuzier dengan bintang tamu yang di undang ketika melakukan podcast. Data yang berhasil dikumpulkan yaitu 69 data yang diperoleh melalui hasil menyimak video yang di unduh di chanel youtube Deddy Courbuzier. Data diperoleh melalui metode simak dengan teknik catat yang dilakukan oleh peneliti sejak tanggal 14 Februari sampai 17 Maret 2021.
Data dari penelitian ini telah melalui tahap triangulasi data yang dilakukan oleh dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma yaitu Bapak Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. Triangulasi data dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2021.
4.2. Hasil Analisis Data
4.2.1 Analisis Jenis-jenis Implikatur Percakapan
Setelah menganalisis video dalam acara podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier, peneliti menemukan jenis-jenis implikatur percakapan dari tuturan Deddy Courbuzier dengan bintang tamunya. Implikatur percakapan di bagi berdasarkan jenis-jenis implikaturnya sesuai dengan landasan teori menurut ahli
25
yang telah di tuliskan di atas. Setiap jenis ditemukan pada percakapan dalam podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier berikut pemaparannya.
4.2.1.1 Implikatur Percakapan Umum (IPU)
Yule (2006: 74) mengatakan bahwa implikatur percakapan umum merupakan implikatur yang tidak memperhitungkan makna tambahan melainkan proses tuturan mengasumsikan makna percakapan hanya dengan mengamati struktur kata yang dipakai (dalam Sakoikoi, 2018). Berikut ini paparan dari data yang mengandung implikatur percakapan umum dalam acara podcast di chanel youtube Deddy Courbuzier.
Data (1)
Dedy : Jadi obat-obat itu mungkin isinya sibutramine?
Dr. Richard : Bisa jadi. Sekarang gini saya bilang kalau misalnya obat BPOM banyak ya obat bantu diet ya sekarang ya itu sudah di BPOMkan contohnya lah ekstrak ini lah ekstrak itu, ekstrak namanya juga tradisional bisa di BPOMkan ya. Pertanyaan saya kenapa ini produk cukup laris katanya pakai artis lagi endorsnya kenapa polosan?
Dedy : Berarti ngga di BPOM
Dr. Richard : Kenapa nggak di BPOM ? katanya laris Dedy : Berarti duitnya banyak
Dr. Richard : Bukann.. Karena ngga bisa diBPOMin (data 13) Konteks:
Tuturan terjadi di studio podcast Deddy Courbuzier. Suasananya santai dan tenang. Deddy mengundang Dr. Richard sebagai bintang tamu. Dr.
Richard yang menanyakan tentang obat diet yang tidak ada sertifikat BPOMnya atau surat izin dari pemerintah untuk menjualnya.
Data (2) Dedi Mulyadi
: Kakek Koswara itu cerita menyedihkan ya, itu dulu waktu mudaya dulu tahun 55 dia itu pengusaha bioskop jaman DI (Darul Islam) memberontak Misbar (Merimis Bubar). Dia sama temen-temennya bikin usaha di tanah milih orangtuanya iya kan namanya bioskop Mawar ya kan nama jalannya
mawar di Bandung.
Deddy : Ini kaya ini pak saya tahu sekarang ini mawar bukan bioskop pak sekarang...
Dedi Mulyadi Konteks:
: Apa tu? Aku ga ikutan lo ini hahahaha (data 22)
Tuturan terjadi di studio podcast Deddy Courbuzier. Suasananya santai dan tenang. Deddy mengundang Dedi Mulyadi untuk menjadi bintang tamu. Dedi Mulyadi menceritakan biografi hidup dari kakek Koswara dan Deddy membahas arti kata “Mawar” yang sekarang menjadi tempat prostitusi.
Data (3)
Deddy : Kalau kita bicaranya tentang halal atau haram soal musik itu kan sama kaya pisau, kalau buat nusuk orang kan jadinya haram.
Habib : Iya gua bilang gitu, iya sama kan beberapa. Misalnya Sunan Bonang deh, bahannya kan itu dari besi juga, dari kuningan juga. Dia disebut Sunan Bonang inti dakwahnya melalui bonang, bonang itu gamelan.
Nah sama gamelan dibuat dari besi, asal digunakan untuk kebaikan tidak masalah. (data 2)
Konteks:
Tuturan terjadi di studio podcast Deddy Courbuzier. Suasananya santai dan tenang. Konteks percakapan yaitu Deddy yang mengandaikan pisau dengan musik sesuai dengan kegunaannya. Lalu Habib Ja‟far menjelaskan tujuan dari dibuatnya musik tersebut bisa menentukan tujuannya untuk kejahatan atau kebaikan.
Data (4)
Deddy : Tunggu-tunggu, bentar-bentar. Lo kan gapunya kotak infaq kan? Tapikan pasti ada bantuan nih ada dong dari temen-temen.
Gus Miftah : Prinsipnya kita boleh nerima gaboleh minta beda dong.
Deddy : iya artinya mereka yang rakyat-rakyat ini gaperlu dimintain kan? Ada bantuan dari orang ya buat makan mereka kan bukan mintanya dari mereka kan.
(data 17) Konteks:
Tuturan terjadi di studio podcast Deddy Courbuzier. Suasananya santai
dan tenang. Deddy mengundang Gus Miftah untuk menjadi bintang tamu dalam podcastnya. Konteks percakapan yaitu ketika Deddy menanyakan tentang tidak ada kotak infaq pada saat pengajian Gus Miftah dan dana yang diperoleh dari pengajian tersebut.
Data (5)
Deddy : Baik sekarang zaman instagram, buhh zaman instagram itu pak selingkuhan itu zaman-zaman aplikasi, gimana itu pak dilihat wuhhh lebih bagus wehh bagusannn....
Baharudin : Wuihh pantesan ini baru terjawab sudahh, pantesan nggak nikah-nikah lagi inilah penyebabnya wkwkwk (data 52)
Konteks:
Tuturan terjadi di studio podcast Deddy Courbuzier. Suasananya santai dan tenang. Konteks percakapan yaitu visual juga salah satu termasuk faktor dari orang-orang melakukan korupsi, visual membuat orang menjadi ingin memiliki apa yang mereka lihat yang mengakibatkan timbulnya perilaku negatif seseorang.
Implikatur percakapan umum merupakan implikatur yang tidak mengutamakan konteksnya tetapi lebih mengutamakan struktur kata dalam percakapannya. Percakapan (1), (2), (3), (4), (5) merupakan contoh percakapan yang mengandung implikatur percakapan umum.
Data (1) merupakan percakapan antara Deddy Courbuzier dengan bintang tamunya yaitu Dr. Richard. Konteks percakapan Tuturan terjadi di studio podcast Deddy Courbuzier. Suasananya santai dan tenang. Deddy mengundang Dr.
Richard sebagai bintang tamu. Dr. Richard yang menanyakan tentang obat diet yang tidak ada sertifikat BPOMnya atau surat izin dari pemerintah untuk menjualnya. Implikatur yang terdapat pada data 1 merupakan implikatur percakapan umum. Yule (2006: 74) mengatakan bahwa implikatur percakapan umum merupakan implikatur yang tidak memperhitungkan makna tambahan melainkan proses tuturan mengasumsikan makna percakapan hanya dengan mengamati struktur kata yang dipakai Dari percakapan di atas percakapan yang mengandung implikatur di lihat dari tuturan Dr. Richard “Bisa jadi. Sekarang gini saya bilang kalau misalnya obat BPOM banyak ya obat bantu diet ya sekarang ya
itu sudah di BPOMkan contohnya lah ekstrak ini lah ekstrak itu, ekstrak namanya juga tradisional bisa di BPOMkan ya. Pertanyaan saya kenapa ini produk cukup laris katanya pakai artis lagi endorsnya kenapa polosan?”, dan “Bukann..
Karena ngga bisa diBPOMin”. Implikasinya yaitu bahwa menurut Dr. Richard ini obat diet yang sedang di bahas tersebut tidak baik dan tidak sehat karena produk tersebut ilegal dan tidak memiliki perizinan resmi seperti badan resmi BPOM.
Terlihat dalam percakapan Deddy dan Dr. Richard saling merespon pertanyaan dan menjawabnya hanya dengan melihat tatanan kata yang digunakan masing- masing dan dapat memahami maksud tanpa melihat konteks percakapannya. Dari pemaparan di atas data 1 dapat mengandung implikatur percakapan umum. Data 1 melanggar maksim kualitas.
Lalu data (2) merupakan percakapan antara Deddy Courbuzier dengan bintang tamunya yaitu Dedi Mulyadi. Implikatur yang terdapat pada data 2 merupakan implikatur percakapan umum. Yule (2006: 74) mengatakan bahwa implikatur percakapan umum merupakan implikatur yang tidak memperhitungkan makna tambahan melainkan proses tuturan mengasumsikan makna percakapan hanya dengan mengamati struktur kata yang dipakai. Dari percakapan di atas percakapan yang mengandung implikatur di lihat dari tuturan Deddy “Ini kaya ini pak saya tahu sekarang ini mawar bukan bioskop pak sekarang...”. Implikasinya bahwa kata “mawar” pada zaman sekarang bukan lagi menjadi nama bioskop, tetapi ditujukan menjadi tempat prostitusi ilegal. Data 2 dapat dikatakan mengandung implikatur percakapan umum karena mitra tutur mengerti apa maksud dari tuturan dari Deddy dengan melihat pengetahuan sebelumnya yang dimiliki oleh mitra tutur dan menggabungkan kosa kata yang di tuturkan oleh Deddy tanpa melihat konteks percakapannya. Maka dari itu data 2 dapat disimpulkan mengandung implikatur percakapan umum (IPU). Data 2 melanggar maksim kuantitas.
Implikatur yang terdapat pada data (3) yaitu implikatur percakapan umum.
Yule (2006: 74) mengatakan bahwa implikatur percakapan umum merupakan implikatur yang tidak memperhitungkan makna tambahan melainkan proses tuturan mengasumsikan makna percakapan hanya dengan mengamati struktur kata