1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan sebuah negara yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya alam nantinya dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan industri serta pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang digunakan berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. Berikut ini peranan wilayah/pulau dalam pembentukan PDB Nasional:
Gambar 1.1 Peranan Wilayah/Pulau dalam Pembentukan PDB Nasional persen (%)
Berdasarkan gambar di atas wilayah yang berkontribusi besar terhadap pembentukan PDB Nasional yaitu Pulau Jawa sebesar 58,29%. Sedangkan wilayah kedua penyumbang PDB Nasional terbesar Pulau Sumatera sebesar 22,21%. Dari keadaan wilayah yang berbeda, maka tidak memiliki kesamaan potensi sumberdaya antar pulau. Ketidakmerataan sumberdaya akan menimbulkan disparitas dalam laju pertumbuhan ekonomi antar wilayah/daerah. Seperti dalam pertumbuhan ekonomi 6 provinsi di Pulau Jawa berikut ini:
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017
2 Grafik 1.1 Pertumbuhan Ekonomi di Pulau Jawa Tahun 2013, 2014, dan
Tahun 2015 (%)
Berdasarkan Grafik 1.1 Provinsi yang mempunyai pertumbuhan terbesar di Pulau Jawa yaitu Provinsi DKI Jakarta sebesar 5,88 persen tahun 2015.
Sedangkan urutan kedua yaitu Provinsi Jawa Timur sebesar 5,44 persen, dan urutan ketiga yaitu provinsi Banten sebesar 5,37 persen. Ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi serta sumberdaya tercermin dalam konsentrasi kegiatan industri yang terjadi di daerah tertentu saja. Daerah-daerah dimana konsentrasi kegiatan industri terjadi memperoleh manfaat yang disebut dengan ekonomi aglomerasi (Agglomeration economies). Seperti teori dalam buku ekonomi pembangunan yakni ditinjau dari aspek lokasinya, pembangunan ekonomi daerah adalah tidak merata dan cenderung terjadi proses aglomerasi (pemusatan) pada pusat-pusat pertumbuhan (Lincolin Arsyad, 2013). Peningkatan pertumbuhan ekonomi akan mengontrol aspek pembangunan, artinya kecepatan pertumbuhan ekonomi mengindikasikan peningkatan taraf hidup masyarakat.
6.11 6.55 6.06 6.06 5.86 5.4 5.62
5.95 5.86
5.07 5.07 5.47
5.2 5.02
5.88 5.44
5.03 5.4 5.37
4.94 4.79
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
DKI Jakarta
Jawa Timur
Jawa Barat
Jawa Tengah
Banten Diy Nasional
2015 2014 2013
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017
3 Sebagaimana tujuan pembangunan ekonomi daerah yaitu mensejahterakan masyarakat dengan peningkatan taraf hidup dari masyarakatnya. Berikut ini persebaran kawasan industri yang belum merata di Pulau Jawa Tahun 2012:
Tabel 1.1 Persebaran Kawasan Industri Pulau Jawa Menurut Provinsi Tahun 2012
No Wilayah Jumlah Luas Are
(Ha) Persentase
1 DKI Jakarta 5 2475.00 6.37
2 Jawa Barat 30 17845.00 45.9
3 Jawa Tengah 8 2291.40 5.89
4 Jawa Timur 8 2499.00 6.43
Total 51 25110.4 64.59
Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang mempunyai kawasan persebaran industri terbesar di Pulau Jawa yang mempunyai luas area sebesar 17.845,00 Ha (45,9 persen), Selain itu Provinsi Jawa Timur juga merupakan kawasan terbesar kedua sebagai kawasan industri dengan luas area sebesar 2.499,00 Ha (6,43 persen). Berkembangnya aglomerasi industri di Provinsi Jawa Timur ini didasarkan atas beberapa faktor antara lain, ketenagakerjaan, infrastruktur serta kependudukan. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang mempunyai persebaran penduduk terbesar dibanding pulau lainnya, seperti pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.2Distribusi Penduduk Menurut Pulau Tahun 2015
Region
Jumlah penduduk (juta jiwa) Persentase Laki-laki perempuan Total Laki-
laki Perempuan Total Sumatera 27.925.699 27.273.053 55.198.752 21,8 21,5 21,6 Jawa 72.584.126 72.429.447 145.013.573 56,6 57,1 56,8 Bali &Nusa
Tenggara 6.963.764 7.127.702 14.091.466 5,4 5,6 5,5 Kalimantan 7.886.273 7.443.744 15.320.017 6,2 5,9 6,0 Sulawesi 9.315.204 9.387.094 18.702.298 7,3 7,4 7,3 Maluku dan
Papua 3.556.823 3.299.215 6.856.038 2,8 2,6 2,7 Total 128.231.889 126.950.255 255.182.144 100,0 100,0 100,0
Sumber: Direktori Kawasan Industri, 2017
Sumber: Bada Pusat Statistik, 2017
4 Jumlah persebaran penduduk terbesar berada di pulau jawa, dengan jumlah laki-laki 72.584.126 juta jiwa dan jumlah perempuan sebesar 72.29.447 juta jiwa, jadi total penduduk di pulau jawa pada tahun 2015 sebesar 145.013.573 juta jiwa.
Pulau Jawa yang mempunyai luas 7 persen dari total luas wilayah nasional, namun mempunyai jumlah penduduk terbesar yaitu sekitar 57 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Mengetahui keadaan tersebut peran pemerintah dalam pembangunan daerah sangat diperlukan. Sebagai wujud pengoptimalan sumber daya alam untuk terciptanya masyarakat Indonesia yang sejahtera.
Selanjutnya di Pulau Jawa sendiri terdapat 3 Provinsi yang mempunyai jumlah penduduk terbesar menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Gambaran lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.3Tiga Provinsi dengan Jumlah Penduduk Terbesar Berdasarkan Hasil SUPAS 2015
Provinsi Jumlah Penduduk (juta Jiwa) SP 2010 SUPAS 2015
Jawa Barat 43.053.732 46.668.214
Jawa Timur 37.476.757 38.828.061
Jawa Tengah 32.382.657 33.753.023
Provinsi Jawa Timur juga menjadi salah satu provinsi yang mendapatkan Anugerah Pangripta Nusantara (APN 2015) dengan predikat Provinsi Harapan 1 (Bappenas, 2017 Laporan Akhir APN). Anugrah Pangripta Nusantara merupakan penghargaan kepada daerah yang telah berhasil menyusun dokumen perencanaan secara baik. Jadi dengan adanya ekonomi ekonomi aglomerasi dapat memberikan pengaruh positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi.
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017
5 Sebagai akibatnya daerah-daerah yang termasuk dalam aglomerasi pada umumnya mempunyai laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah yang bukan aglomerasi. Jadi terdapat hubungan yang positif antara aglomerasi dari kegiatan-kegiatan ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi. Salah satu sebab adanya aglomerasi yaitu sifat manusia sebagai makhluk sosial akan cenderung berusaha untuk mencapai tujuannya dengan prinsip pemusatan (aglomerasi) didalam permukiman mereka. Aglomerasi itu sendiri merupakan faktor lokasi yang sangat penting, baik yang berwujud pengelompokkan industri, perumahan, pemusatan, pertokoan di pusat perbelanjaan, sama-sama menjadi sarana utama untuk meningkatkan efisiensi ekonomis ataupun kepuasan sosial, karena dalam proses itu terjadi kegiatan manusia dilokasi tertentu.
Dampak dari besarnya kawasan industri di Provinsi Jawa Timur akan menjadi modal tersendiri bagi wilayah sebagai modal pertumbuhan ekonomi wilayah di daerah tersebut. Misalnya sektor Industri di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2014 dan 2015 mempunyai kontribusi terbesar 2 tahun terakhir yaitu sebesar 28.95% dan 29.27%. Urutan kedua yaitu sektor perdagangan besar dan eceran mempunyai kontribusi sebesar 17.64% pada tahun 2015. Sedangkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mempunyai kontribusi sebesar 13.75% di tahun 2015. Sektor yang dominan terhadap nilai sektor industri yaitu sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.941,9 miliar rupiah pada tahun 2015.
Selain itu, industri tekstil dan pakaian jadi juga mempunyai kontribusi sebesar 692,2 juta rupiah. Seperti dijelaskan pada grafik dibawah ini:
6 Grafik 1.2 Sektor Kontribusi Terbesar pada PDRB Jawa Timur
Tahun 2014 dan 2015 (%)
Tingginya nilai industri pengolahan berdampak pada sumberdaya modal yang digunakan untuk mengelola industri tersebut. Salah satunya sumberdaya manusia yang mana akan terjadi percepatan kenaikan penduduk didaerah yang menjadi tempat tumbuhnya industri, sebagai akibat dari urbanisasi para pekerja.
Hal itu terjadi karena kondisi industri masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu saja. Persebaran sumberdaya yang tidak merata menimbulkan disparitas dalam laju pertumbuhan ekonomi antar daerah. Ketidakmerataan sumber daya ini tercermin pada konsentrasi kegiatan ekonomi yang terjadi pada daerah tertentu saja. Daerah-daerah dimana konsentrasi kegiatan ekonomi terjadi memperoleh manfaat yang disebut dengan ekonomi aglomerasi (agglomeration economies).
Hal itu sejalan dengan yang dikemukakan Montgomery (Kuncoro, 2002) bahwa aglomerasi adalah konsentasi spasial dari aktifitas ekonomi di kawasan perkotaan karena “penghematan akibat lokasi yang berdekatan (Economies of proximity) yang diasosasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekeja, dan konsumen”.
28.95
17.29
13.61 29.27
17.64
13.75
Industri Pengolahan Perdagangan besar, eceran Pertanian, kehutanan, dan perikanan 2014 2015
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2017 (diolah)
7 Berdasarkan fakta tersebut penulis akan meneliti tentang bagaimana aglomerasi yang terjadi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2011-2015.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pola spasial aglomerasi di wilayah Provinsi Jawa Timur?
2. Seberapa besar pengaruh aglomerasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur Tahun 2011-2015?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan diatas, penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi daerah aglomerasi di Provinsi Jawa Timur.
2. Menghitung besarnya pengaruh aglomerasi terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur tahun 2011-2015.
8 1.4 Manfaat Penelitian
Penulisan Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Mahasiswa
Memahami pengaruh aglomerasi tehadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur.
2. Bagi Umum
Memberikan informasi dan referensi untuk masyarakat yang membaca tentang pengauh aglomerasi tehadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur.
3. Bagi Pemerintah
Menjadi salah satu bahan masukan untuk pembangunan di pemerintahan Jawa Timur khususnya Povinsi dan atau Kabupaten//Kota.
9 1.5 Kerangka Pemikiran
Gambar 1.2 Kerangka Pemikiran
Pembangunan Ekonomi
Aglomerasi Industri (Sektor Industri Manufaktur) Aglomerasi
(Indeks Balassa) Konsentrasi Spasial
Tingkat Pengangguran Terbuka
Indeks Pembangunan Manusia Tingkat Kemiskinan
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Kesimpulan dan Saran
Pertumbuhan Ekonomi:
-Laju Pertumbuhan