• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Tentukan bentuk akhir dari tiga persamaan di atas yang menampilkan secara eksplisit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "a. Tentukan bentuk akhir dari tiga persamaan di atas yang menampilkan secara eksplisit"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

OSK Fisika 2018 Number 1 BESARAN PLANCK

Pada tahun 1899 Max Planck memperkenalkan suatu sistem satuan iniversal sehingga besaran-besaran fisika dapat dinyatakan dalam tiga satuan Planck yaitu massa Planck 𝑀P, panjang Planck 𝐿P, dan waktu Planck 𝑇P. Ketiga satuan Planck tersebut dapat dinyatakan dalam tiga konstanta alamiah dalam mekanika kuantum serta dalam teori relativitas khusus dan relativitas umum yaitu konstanta Planck tereduksi ℏ = β„Ž/2πœ‹ = 1,05 Γ— 10βˆ’34Js, kelajuan cahaya dalam ruang hampa 𝑐 = 3 Γ— 108m/s, dan konstanta umum gravitasi 𝐺 = 6,67 Γ— 10βˆ’11Nm2kgβˆ’2. Ketiga satuan Planck ini 𝑀P, 𝐿P, dan 𝑇P dapat dituliskna dalam bentuk :

 𝑀P = 𝑀P(ℏ, 𝑐, 𝐺)

 𝐿P= 𝐿P(ℏ, 𝑐, 𝐺)

 𝑇P = 𝑇P(ℏ, 𝑐, 𝐺)

a. Tentukan bentuk akhir dari tiga persamaan di atas yang menampilkan secara eksplisit ketergantungan 𝑀P, 𝐿P, dan 𝑇P kepada ℏ, 𝑐, dan 𝐺.

b. Hitung nilai numerik dari ketiga satuan Planck di atas 𝑀P, 𝐿P, dan 𝑇P dalam sistem Satuan Internasional (SI).

Selanjutnya dengan menggunakan satuan Planck di atas dapat pula dibentuk 4 macam satuan Planck lainnya yaitu energi Planck 𝐸P = 𝑀P𝑐2, kecepatan Planck 𝑣P = 𝐿P/𝑇P, percepatan Planck π‘ŽP = 𝐿P/𝑇P2, dan rapat massa Planck 𝜌P = 𝑀P/𝐿P2.

c. Hitung nilai numerik 𝐸P, 𝑣P, π‘ŽP, dan 𝜌P dalam satuan SI.

Pembahasan :

a. Untuk menemukan hubungan satuan Planck dengan besaran-besaran yang diminta, kita bisa menggunakan analisis dimensi. Berikut dimensi masing-masing besaran 𝑀P = 𝑀 ℏ = 𝑀𝐿2π‘‡βˆ’1

𝐿P= 𝐿 𝑐 = πΏπ‘‡βˆ’1 𝑇P = 𝑇 𝐺 = π‘€βˆ’1𝐿3π‘‡βˆ’2

Dalam analisis dimensi akan ada kosntanta tanpa dimensi ikut dalam persamaan kita.

Namun di sini, nilai konstanta ini bisa kita asumsikan bernilai 1 karena hubungan besaran yang kita analisis adalah sebuah satuan.

Untuk Massa Planck 𝑀P = ℏπ‘₯𝑐𝑦𝐺𝑧

𝑀 = (𝑀𝐿2π‘‡βˆ’1)π‘₯(πΏπ‘‡βˆ’1)𝑦(π‘€βˆ’1𝐿3π‘‡βˆ’2)𝑧 𝑀 = 𝑀π‘₯βˆ’π‘§πΏ2π‘₯+𝑦+3π‘§π‘‡βˆ’π‘₯βˆ’π‘¦βˆ’2𝑧

Dari kesamaan pangkat untuk suku di sebelah kanan dan kiri akan kita dapatkan 1 = π‘₯ βˆ’ 𝑧 … (1)

2π‘₯ + 𝑦 + 3𝑧 = 0 … (2)

βˆ’π‘₯ βˆ’ 𝑦 βˆ’ 2𝑧 = 0 … (3)

Dari penjumlahan persamaan (2) dan (3) kita dapatkan π‘₯ + 𝑧 = 0 ⟹ π‘₯ = βˆ’π‘§

(2)

Maka dari persamaan (1) akan kita dapat 1 = βˆ’π‘§ βˆ’ 𝑧 = βˆ’2𝑧 ⟹ 𝑧 = βˆ’1

2 dan π‘₯ = 1 2

Kemudian akan kita dapatkan pula dari persamaan (3) 𝑦 = βˆ’π‘₯ βˆ’ 2𝑧 = βˆ’1

2βˆ’ (βˆ’1

2) ⟹ 𝑦 =1 2 Maka massa Planck akan berbentuk 𝑀P = ℏ12𝑐12πΊβˆ’12 ⟹ 𝑀P = βˆšβ„π‘

𝐺 Untuk Panjang Planck

𝐿P= ℏπ‘₯𝑐𝑦𝐺𝑧

𝐿 = 𝑀π‘₯βˆ’π‘§πΏ2π‘₯+𝑦+3π‘§π‘‡βˆ’π‘₯βˆ’π‘¦βˆ’2𝑧

Dari kesamaan pangkat kita dapatkan persamaan berikut π‘₯ βˆ’ 𝑧 = 0 ⟹ π‘₯ = 𝑧 … (4)

2π‘₯ + 𝑦 + 3𝑧 = 1 … (5)

βˆ’π‘₯ βˆ’ 𝑦 βˆ’ 2𝑧 = 0 … (6)

Dari persamaan (4) dan (6) kita peroleh

βˆ’π‘₯ βˆ’ 𝑦 βˆ’ 2π‘₯ = 0 ⟹ 𝑦 = βˆ’3π‘₯

Maka dari persamaan (5) akan kita dapatkan 2π‘₯ + (βˆ’3π‘₯) + 3π‘₯ = 1 ⟹ π‘₯ =1

2= 𝑧 dan 𝑦 = βˆ’3 2 Maka panjang Planck akan berbentuk

𝐿P= ℏ12π‘βˆ’32𝐺12 ⟹ 𝐿P = βˆšβ„πΊ 𝑐3 Untuk Waktu Planck

𝑇P = ℏπ‘₯𝑐𝑦𝐺𝑧

𝑇 = 𝑀π‘₯βˆ’π‘§πΏ2π‘₯+𝑦+3π‘§π‘‡βˆ’π‘₯βˆ’π‘¦βˆ’2𝑧

Dari kesamaan pangkat kita dapatkan persamaan berikut π‘₯ βˆ’ 𝑧 = 0 ⟹ π‘₯ = 𝑧 … (7)

2π‘₯ + 𝑦 + 3𝑧 = 0 … (8)

βˆ’π‘₯ βˆ’ 𝑦 βˆ’ 2𝑧 = 1 … (9)

Dari persamaan (7) dan (8) kita peroleh 2π‘₯ + 𝑦 + 3π‘₯ = 0 ⟹ 𝑦 = βˆ’5π‘₯

Maka dari persamaan (9) akan kita dapatkan

βˆ’π‘₯ βˆ’ (βˆ’5π‘₯) βˆ’ 2π‘₯ = 1 ⟹ π‘₯ =1

2= 𝑧 dan 𝑦 = βˆ’5 2 Maka waktu Planck akan berbentuk

(3)

𝑇P = ℏ12π‘βˆ’52𝐺12 ⟹ 𝑇P = βˆšβ„πΊ 𝑐5

b. Dengan memasukkan nilai numerik ℏ, 𝑐, dan 𝐺 akan kita dapatkan nilai numerik dari masing-masing satuan Planck

Massa Planck 𝑀P = βˆšβ„π‘

𝐺 = √(1,05 Γ— 10βˆ’34)(3 Γ— 108)

6,67 Γ— 10βˆ’11 β‰ˆ √4,72 Γ— 10βˆ’16

tadi kita nggak boleh pakai kalkulator kan ya... terus gimana dong cara menghitung akar untuk angka yang kurang enak? Tenang teman-teman, setiap kesulitaan pasti ada jalan keluar. Ada yang namanya metode hampiran, silahkan pelajari secara lengkap di buku kalkulus bab tentang aplikasi diferensial. Intinya adalah, kita bisa mendekati akar suatu bilangan dari akar suatu bilangan lain yang diketahui akarnya. Rumusnya adalah sebagai berikut, misalkan kita ingin mencari akar nilangan 𝐻, maka

√𝐻 β‰ˆ √π‘₯ + 𝑑π‘₯

√𝐻 adalah nilai akar yang kita cari, π‘₯ adalah bilangan terdekat dari 𝐻 yang nilainya rasional, dan 𝑑π‘₯ pergeseran dari nilai π‘₯. Rumus 𝑑π‘₯ adalah

𝑑π‘₯ = 1

2√π‘₯Ξ”π‘₯ dengan Ξ”π‘₯ = 𝐻 βˆ’ π‘₯

Baik mari kita coba gunakan untuk 𝐻 = 4,72. Nilai π‘₯ yang terdekat adalah 4 maka Ξ”π‘₯ = 4,72 βˆ’ 4 = 0,72

𝑑π‘₯ β‰ˆ 1

2√4Γ— 0,72 = 0,18

√4,72 β‰ˆ √4 + 0,18 = 2,18

Jika menggunakan kalkulator hasil yang kita dapatkan adalah √4,72 β‰ˆ 2,172556 … Hasilnya mendekati kan. Karena kita gak boleh pakai kalkulator kita pakai hasil yang dari hampiran

𝑀P β‰ˆ 2,18 Γ— 10βˆ’8 kg dari kalkulator 𝑀Pβ‰ˆ 2,172 Γ— 10βˆ’8 kg Panjang Planck

𝐿P= βˆšβ„πΊ

𝑐3 = √(1,05 Γ— 10βˆ’34)(6,67 Γ— 10βˆ’11)

(3 Γ— 108)3 β‰ˆ √3,7 Γ— 10βˆ’70 Dengan metode hampiran seperti sebelumnya kan kita dapatkan

𝐿P β‰ˆ 1,925 Γ— 10βˆ’35 m dari kalkulator 𝐿P β‰ˆ 1,923 Γ— 10βˆ’35 m Waktu Planck

𝑇P = βˆšβ„πΊ

𝑐5 = √(1,05 Γ— 10βˆ’34)(6,67 Γ— 10βˆ’11)

(3 Γ— 108)5 β‰ˆ √28,82 Γ— 10βˆ’98

(4)

Dengan metode hampiran akan kita dapatkan

𝑇P β‰ˆ 5,382 Γ— 10βˆ’49 s dari kalkulator 𝑇P β‰ˆ 5,374 Γ— 10βˆ’49 s c. Energi Planck

𝐸P = 𝑀𝑃𝑐2 = (2,18 Γ— 10βˆ’8)(3 Γ— 108)2 ⟹ 𝐸P = 1,962 Γ— 109 J Kecepatan Planck

𝑣P= 𝐿𝑃

𝑇𝑃 =1,925 Γ— 10βˆ’35

5,382 Γ— 10βˆ’49⟹ 𝑣P = 3,58 Γ— 1013 m/s Percepatan Planck

π‘ŽP = 𝐿𝑃

𝑇𝑃2= 1,925 Γ— 10βˆ’35

(5,382 Γ— 10βˆ’49)2 ⟹ π‘ŽP = 6,645 Γ— 1061 m/s2 Rapat Massa Planck

𝜌P= 𝑀𝑃

𝐿𝑃3 = 2,18 Γ— 10βˆ’8

(1,925 Γ— 10βˆ’35)3 ⟹ 𝜌P= 3,056 Γ— 1096 kg/m3 OSK Fisika 2018 Number 2 GERAK PARABOLA

Sebuah peluru ditembakkan ke atas dengan kecepatan awal dan sudut elevasi tertentu dari permukaan tanah. Ketika peluru tersebut berada di ketinggian 𝐻1 untuk pertama dan kedua kalinya, selang waktu antara keduanya adalah 𝑇1, sedangkan ketika peluru tersebut berada ketinggian 𝐻2 untuk pertama dan kedua kalinya, selang waktu antara keduanya adalah 𝑇2. Asumsikan 𝐻2 > 𝐻1 dan 𝑇1 > 𝑇2. Tentukan :

a. Selang waktu ketika peluru tersebut berada di ketinggian 𝐻3 untuk pertama dan kedua kalinya, dinyatakan dalam 𝐻1, 𝐻2, 𝐻3, 𝑇1 dan 𝑇2

b. Syarat untuk 𝐻3 (dinyatakan dalam 𝐻1, 𝐻2, 𝑇1 dan 𝑇2) agar selang waktu pada soal a ada nilainya.

Pembahasan :

a. 𝐻3 bisa berada di ketinggian berapa saja. Kita tinjau untuk 𝐻3 > 𝐻2 > 𝐻1. Sebenarnya dimanapun pemilihan posisi 𝐻3, hasilnya akan tetap sama. Lintasan gerak peluru adalah sebagai berikut

𝑦

π‘₯ 𝐻1

𝐻2 𝐻3 𝑇1 𝑇2 𝑇3

(5)

Misalkan kecepatan ketika peluru berada di ketinggian untuk komponen vertikal adalah 𝑣1𝑦. Perhatikan gambar di atas! Jika selang waktu 𝑇1 adalah Selang waktu ketika peluru tersebut berada di ketinggian 𝐻1 untuk pertama dan kedua kalinya, maka selang waktu ketika peluru berada di ketinggian 𝐻1 untuk pertama kalinya sampai mencapai titik tertinggi adalah 𝑇1/2. Ketika berada di titik tertinggi, kecepatan peluru arah vertikal bernilai nol, maka

𝑣𝑦 = 0 = 𝑣1π‘¦βˆ’π‘”π‘‡1

2 ⟹2𝑣1𝑦

𝑔 = 𝑇1… (1)

Kita tinjau posisi peluru untuk arah vertikal relatif terhadap titik di ketinggian 𝐻1. Waktu untuk mencapai posisi di ketinggian 𝐻2 adalah

𝐻2βˆ’ 𝐻1 = 𝑣1𝑦𝑑 βˆ’1 2𝑔𝑑2 𝑑2βˆ’2𝑣1𝑦

𝑔 𝑑 +2(𝐻2βˆ’ 𝐻1)

𝑔 = 0

Subtitusi persamaan (1) 𝑑2βˆ’ 𝑇1𝑑 +2(𝐻2βˆ’ 𝐻1)

𝑔 = 0

Solusi untuk 𝑑 di atas ada dua yaitu

𝑑 =

𝑇1 βˆ’ βˆšπ‘‡12βˆ’8(𝐻2βˆ’ 𝐻1) 𝑔

2 dan 𝑑′=

𝑇1+ βˆšπ‘‡12βˆ’8(𝐻2βˆ’ 𝐻1) 𝑔 2

Untuk 𝑑 adalah selang waktu dari posisi ketinggian 𝐻1 untuk pertama kali sampai ke posisi ketinggian 𝐻2 untuk pertama kali. Sedangkan 𝑑′ adalah selang waktu dari posisi ketinggian 𝐻1 untuk pertama kali sampai ke posisi ketinggian 𝐻2 untuk pertama kedua kalinya. Maka selisih antara 𝑑′ dan 𝑑 adalah 𝑇2 atau

π‘‘β€²βˆ’ 𝑑 = 𝑇2

𝑇1 + βˆšπ‘‡12βˆ’8(𝐻2βˆ’ 𝐻1) 𝑔

2 βˆ’

𝑇1βˆ’ βˆšπ‘‡12βˆ’8(𝐻2βˆ’ 𝐻1) 𝑔

2 = 𝑇2

βˆšπ‘‡12βˆ’8(𝐻2 βˆ’ 𝐻1) 𝑔 = 𝑇2 𝑇12βˆ’8(𝐻2βˆ’ 𝐻1)

𝑔 = 𝑇22 𝑇12βˆ’ 𝑇22 = 8(𝐻2βˆ’ 𝐻1)

𝑔 ⟹ 𝑔 =8(𝐻2βˆ’ 𝐻1) 𝑇12βˆ’ 𝑇22 … (2)

Dengan cara yang sama untuk posisi di ketinggian 𝐻1 dan 𝐻3 akan kita dapatkan 𝑔 =8(𝐻3βˆ’ 𝐻1)

𝑇12βˆ’ 𝑇32 … (3)

Persamaan (3) sama dengan persamaan (2)

(6)

8(𝐻2βˆ’ 𝐻1)

𝑇12βˆ’ 𝑇22 = 8(𝐻3βˆ’ 𝐻1) 𝑇12βˆ’ 𝑇32

𝑇12βˆ’ 𝑇32 = (𝑇12βˆ’ 𝑇22)𝐻3βˆ’ 𝐻1 𝐻2βˆ’ 𝐻1 𝑇32 = 𝑇12βˆ’ (𝑇12βˆ’ 𝑇22)𝐻3βˆ’ 𝐻1 𝐻2βˆ’ 𝐻1 𝑇32 = 𝑇12(1 βˆ’π»3βˆ’ 𝐻1

𝐻2βˆ’ 𝐻1) + 𝑇22(𝐻3βˆ’ 𝐻1 𝐻2βˆ’ 𝐻1) 𝑇32 = βˆ’π‘‡12(𝐻3βˆ’ 𝐻2

𝐻2βˆ’ 𝐻1) + 𝑇22(𝐻3βˆ’ 𝐻1 𝐻2βˆ’ 𝐻1) 𝑇32 =𝑇22(𝐻3βˆ’ 𝐻1) βˆ’ 𝑇12(𝐻3βˆ’ 𝐻2)

𝐻2βˆ’ 𝐻1

𝑇3 = βˆšπ‘‡22(𝐻3βˆ’ 𝐻1) βˆ’ 𝑇12(𝐻3βˆ’ 𝐻2) 𝐻2βˆ’ 𝐻1

b. Agar 𝑇3 memiliki nilai atau kalau kata soal ada nilainya, dia haruslah berupa bilangan real. Agar 𝑇3 merupakan bilangan real, suku di dalam akar haruslah lebih besar dari nol

𝑇22(𝐻3βˆ’ 𝐻1) βˆ’ 𝑇12(𝐻3βˆ’ 𝐻2) 𝐻2 βˆ’ 𝐻1 > 0 𝑇22𝐻3βˆ’ 𝑇22𝐻1 > 𝑇12𝐻3βˆ’ 𝑇12𝐻2

(𝑇12βˆ’ 𝑇22)𝐻3 < 𝑇12𝐻2βˆ’ 𝑇22𝐻1 ⟹ 𝐻3 <𝑇12𝐻2βˆ’ 𝑇22𝐻1 𝑇12βˆ’ 𝑇22 OSK Fisika 2018 Number 3 BOLA BERONGGA

Sebuah bola berongga berdinding tebal dimana jari-jari dinding luar dan dalamnya masing-masing adalah 𝑅0 dan 𝑅1. Densitas bola pada 𝑅1 < π‘Ÿ < 𝑅0 dianggap homogen, yaitu 𝜌. Bola menggelinding ke bawah tanpa slip dari keadaan diam pada suatu bidang miring dan kecepatannya ketika mencapai dasar bidang miring adalah 𝑣0. Bila bidang miringnya licin dan bola menuruni bidang miring dari keadaan dan posisi yang sama seperti sebelumnya, maka kecepatannya saat mencapai dasar bidang miring menjadi 5𝑣0/4. Tentukan :

a. Jari-jari girasi bola berongga tersebut terhadap sumbu yang melalui pusat bola.

b. Perbandingan nilai 𝑅1/𝑅0 dan

c. Perbandingan volume rongga bola terhadap volume total bola

Petunjuk : Untuk polinom 13π‘₯5βˆ’ 45π‘₯2 + 32 = 0, salah satu solusinya adalah π‘₯ = 1,215 Pembahasan :

a. Jari-jari girasi adalah jari-jari yang digunakan pada momen inersia jika benda tegar yang kita tinjau dianggap sebagai massa titik. Oleh karena itu kita perlu meninjau

(7)

moen inersia bola berongga tebal ini terkebih dahulu. Momen inersia untuk kulit bola tipis terhadap sumbu rotasi yang melalui pusatnya adalah

𝐼0 =2 3π‘šπ‘…2

Sekarang kita tinjau suatu elemen kulit bola tipis setebal π‘‘π‘Ÿ yang berjarak π‘Ÿ dari pusat bola dimana 𝑅1 < π‘Ÿ < 𝑅0.

Luas permukaan elemen kulit bola ini adalah 4πœ‹π‘Ÿ2. Karena kulit bola ini sangat tipis, luas permukaan luar dan dalamnya bisa kita asumsikana sama, maka volume kulit bola ini adalah 𝑑𝑉 = 4πœ‹π‘Ÿ2π‘‘π‘Ÿ. Massa elemen kulit bola ini adalah

π‘‘π‘š = πœŒπ‘‘π‘‰ = 4πœŒπœ‹π‘Ÿ2π‘‘π‘Ÿ

Massa total bola berongga ini adalah

∫ π‘‘π‘š

𝑀 0

= ∫ 4πœŒπœ‹π‘Ÿ2π‘‘π‘Ÿ

𝑅0

𝑅1

𝑀 = 4πœŒπœ‹ ∫ π‘Ÿ2π‘‘π‘Ÿ

𝑅0 𝑅1

=4

3πœŒπœ‹(𝑅03βˆ’ 𝑅13)

Momen inersia kulit bola ini terhadap sumbu rotasi yang melalui pusatnya adalah 𝑑𝐼 =2

3π‘‘π‘šπ‘Ÿ2 𝑑𝐼 =8

3πœŒπœ‹π‘Ÿ4π‘‘π‘Ÿ

∫ 𝑑𝐼

𝐼 0

=8

3πœŒπœ‹ ∫ π‘Ÿ4π‘‘π‘Ÿ

𝑅0

𝑅1

𝐼 =8 3πœŒπœ‹1

5(𝑅05βˆ’ 𝑅15) ⟹ 𝐼 = 8

15πœŒπœ‹(𝑅05βˆ’ 𝑅15)

Jika bola berongga bendinding tebal ini dianggap sebagai massa titik, jari-jari girasi nya atau 𝑅𝐺 adalah

𝑀𝑅𝐺2 = 8

15πœŒπœ‹(𝑅05βˆ’ 𝑅15)

π‘Ÿ π‘‘π‘Ÿ 𝑅0

𝑅1 elemen kulit

bola tipis

(8)

4

3πœŒπœ‹(𝑅03βˆ’ 𝑅13)𝑅𝐺2 = 8

15πœŒπœ‹(𝑅05βˆ’ 𝑅15) 𝑅𝐺2 =2(𝑅05βˆ’ 𝑅15)

5(𝑅03βˆ’ 𝑅13)⟹ 𝑅𝐺 = √2(𝑅05βˆ’ 𝑅15) 5(𝑅03βˆ’ 𝑅13)

b. Pertama kita tinjau kondisi ketika bola menggelinding tanpa slip. Karena bola menggelinding tanpa slip, ketik sampai di dasar bidang miring, bola bergerak translasi dengan kecepatan 𝑣0 dan rotasi dengan kecepatan sudut πœ”.

Menggunakan Hukum Kekekalan Energi Mekanik akan kita dapatkan π‘€π‘”β„Ž =1

2𝑀𝑣02+1 2πΌπœ”2

Karena bola menggelinding tanpa slip maka πœ” = 𝑣0/𝑅0 4

3πœŒπœ‹(𝑅03βˆ’ 𝑅13)π‘”β„Ž =1 2

4

3πœŒπœ‹(𝑅03βˆ’ 𝑅13)𝑣02+1 2

8

15πœŒπœ‹(𝑅05βˆ’ 𝑅15) (𝑣0 𝑅0)

2

π‘”β„Ž =1

2𝑣02 +1 5

𝑅05βˆ’ 𝑅15

(𝑅03βˆ’ 𝑅13)𝑅02𝑣02… (1)

Berikutnya kita tinjau kondisi ketika bidang miring licin. Karena bidang miring licin, maka tidak ada gaya gesek dan tidak tidak ada torsi yang menyebabkan bola berotasi, jadi ketika sampai di dasar bidang miring, bola hanya murni bergerak translasi dengan kecepatan 5𝑣0/4.

Menggunakan Hukum Kekekalan Energi Mekanik akan kita dapatkan π‘€π‘”β„Ž =1

2𝑀 (5𝑣0 4 )

2

⟹ π‘”β„Ž =25

32𝑣02… (2)

πœ” 𝑀

𝑣0 β„Ž

𝑀

5𝑣0 4 β„Ž

(9)

Persamaan (1) sama dengan persamaan (2) 25

32𝑣02 =1

2𝑣02+1 5

𝑅05βˆ’ 𝑅15

(𝑅03βˆ’ 𝑅13)𝑅02𝑣02 25

32=1 2+1

5

𝑅05βˆ’ 𝑅15 (𝑅03βˆ’ 𝑅13)𝑅02 9

32= 𝑅05 βˆ’ 𝑅15 5(𝑅05βˆ’ 𝑅13𝑅02)

45𝑅05βˆ’ 45𝑅13𝑅02 = 32𝑅05βˆ’ 32𝑅15 13𝑅05βˆ’ 45𝑅13𝑅02+ 32𝑅15 = 0| Γ— 1

𝑅15 13 (𝑅0

𝑅1)

5

βˆ’ 45 (𝑅0 𝑅1)

2

+ 32 = 0

Persamaan terkahir ini analog dengan bentuk polinom yang diberikan petunjuk yaitu 13π‘₯5 βˆ’ 45π‘₯2 + 32 = 0

Maka solusinya adalah 𝑅0

𝑅1 = 1,215 = 1215 1000βŸΉπ‘…1

𝑅0 = 1000

1215⟹ 𝑅1

𝑅0 = 200

243= 0,823 Alterntif Solusi Untuk Bagian a

kita bisa mencari jari-jari girasi dengan cara yang lebih mudah. Untuk persamaan energi sistem dari kondisi awal sampai ketika tiba di dasar bidang miring akan berbentuk

π‘€π‘”β„Ž =1

2𝑀𝑣02+1

2𝑀𝑅𝐺2πœ”2

Untuk kasus pertama berlaku πœ” = 𝑣0/𝑅0 π‘€π‘”β„Ž =1

2𝑀𝑣02+1

2𝑀𝑣02(𝑅𝐺 𝑅0)

2

Untuk kasus kedua πœ” = 0 π‘€π‘”β„Ž =1

2𝑀 (5𝑣0 4 )

2

=1

2𝑀𝑣02(25 16) Maka jari-jari girasi bola akan menjadi 1

2𝑀𝑣02 +1

2𝑀𝑣02(𝑅𝐺 𝑅0)

2

= 1

2𝑀𝑣02(25 16) 1 + (𝑅𝐺

𝑅0)

2

= 25 16 (𝑅𝐺

𝑅0)

2

= 9 16 𝑅𝐺

𝑅0 =3

4⟹ 𝑅𝐺 = 3 4𝑅0

(10)

Hasil ini akan sama dengan hasil pada bagian a, kalau tidak percaya coba saja masukkan nilai numeriknya, berapapun yang kamu pilih pasti hasilnya sama.

c. Volume rongga adalah 𝑉𝑅 = 4

3πœ‹π‘…13

Volume total bola bola adalah 𝑉𝐡 =4

3πœ‹π‘…03

Maka, perbandingan volume rongga terhadap volume total bola adalah 𝑉𝑅

𝑉𝐡 = 4 3 πœ‹π‘…13 4 3 πœ‹π‘…03

= (𝑅1 𝑅0)

3

= (0,823)3 ⟹ 𝑉𝑅

𝑉𝐡= 0,557 OSK Fisika 2018 Number 4 OSILASI AYUNAN BANDUL

Sebuah partikel bermassa π‘š diikat pada ujung tali tegar tak bermassa dengan panjang 𝐿.

Ujung tali yang satunya dipasang pada suatu titik tetap. Partikel tersebut diputar dengan kecepatan sudut konstan Ξ©βƒ—βƒ— = Ω𝑧̂ sehingga bergerak dalam bidang horizontal π‘₯𝑦. Sudut antara tali dengan sumbu vertikal 𝑧 adalah πœƒ. Percepatan gravitasi 𝑔 ke arah sumbu 𝑧 negatif.

a. Jika sudut konstan sebesar πœƒ = πœƒ0 adalah sudut apit tali dengan garis vertikal sehingga π‘š berada pada bidang horizontal yang tetap, tentukan πœƒ0 dinyatakan dalam 𝐿, 𝑔, dan Ξ©.

b. Ketika partikel tersebut berotasi terhadap sumbu vertikal, sudut πœƒ0 dapat divariasi dengan sudut infinitesimal 𝛿(πœƒ = πœƒ0+ 𝛿) sehingga partikel tersebut juga melakukan gerak osilasi terhadap 𝛿. Tentukan kecepatan sudut osilasi dinyatakan dalam 𝐿, 𝑔, dan Ξ©.

Pembahasan :

a. Kita tinjau keseimbangan partikel pada arah radial relatif terhadap lintasan melingkar partikel. karena kita tinjau relatif terhadap lintasan partikel, sedangkan pada lintasan ini partikel memiliki percepatan sentripetal yang arahnya radial ke dalam, maka dia akan mendapat gaya fiktif yaitu gaya sentrifugal yang arahnya menjauhi sumbu rotasi. Berikut diagram gaya pada partikel

π‘š 𝐿

Ξ© 𝑔 πœƒ

(11)

Keseimbangan gaya arah vertikal memberikan 𝑇 cos πœƒ0βˆ’ π‘šπ‘” = 0 ⟹ 𝑇cos πœƒ0 = π‘šπ‘” … (1) Keseimbangan gaya arah radial memberikan 𝑇 sin πœƒ0 βˆ’ π‘šΞ©2𝐿 sin πœƒ0 = 0 ⟹ 𝑇 = π‘šΞ©2𝐿 … (2) Subtitusi persamaan (2) ke (1)

π‘šΞ©2𝐿 cos πœƒ0 = π‘šπ‘” cos πœƒ0 = 𝑔

Ξ©2𝐿 ⟹ πœƒ0 = arccos ( 𝑔 Ξ©2𝐿 )

b. Sekarang kita tinjau kondisi ketika sudut apit antara tali dan garis vertikal bertambah sebesar 𝛿 menjadi πœƒ = πœƒ0 + 𝛿. Kita tinjau gerak rotasi sistem. Torsi pemulih sistem adalah proyeksi gaya berat dan gaya sentrifugal pada arah tangensial. Perhatikan gambar di bawah!

Besar torsi pemulih sistem adalah

βˆ‘ 𝜏 = π‘šπΏ2𝛼

π‘šπ‘” sin πœƒ 𝐿 βˆ’ π‘šΞ©2𝐿2sin πœƒ cos πœƒ = π‘šπΏ2𝛼 𝑔

𝐿sin πœƒ βˆ’ Ξ©2sin πœƒ cos πœƒ = 𝛼 𝑔

𝐿sin(πœƒ0+ 𝛿) βˆ’ Ξ©2sin(πœƒ0+ 𝛿) cos(πœƒ0+ 𝛿) = 𝛼 … (3) π‘šπ‘”

𝑇 πœƒ0

𝑇 sin πœƒ0 𝑇 cos πœƒ0

π‘šΞ©2𝐿 sin πœƒ0

π‘šπ‘” 𝑇′

πœƒ π‘šΞ©2𝐿 sin πœƒ

𝛼 πœƒ

πœƒ

(12)

Kita gunakan rumus trigonometri berikut untuk memodifikasi persamaan di atas sin(πœƒ0+ 𝛿) = sin πœƒ0cos 𝛿 + cos πœƒ0sin 𝛿

cos(πœƒ0+ 𝛿) = cos πœƒ0cos 𝛿 βˆ’ sin πœƒ0sin 𝛿 maka

sin(πœƒ0+ 𝛿) cos(πœƒ0 + 𝛿) = (sin πœƒ0cos 𝛿 + cos πœƒ0sin 𝛿)(cos πœƒ0cos 𝛿 βˆ’ sin πœƒ0sin 𝛿) sin(πœƒ0+ 𝛿) cos(πœƒ0 + 𝛿)

= sin πœƒ0cos πœƒ0cos2𝛿 + cos2πœƒ0sin 𝛿 cos 𝛿 βˆ’ sin2πœƒ0sin 𝛿 cos 𝛿

βˆ’ sin πœƒ0cos πœƒ0sin2𝛿

Untuk osilasi yang kecil, atau sudut 𝛿 kecil, maka kita akan berlaku hampiran berikut yaitu

cos 𝛿 β‰ˆ 1

sin 𝛿 β‰ˆ 𝛿 ⟹ sin2𝛿 β‰ˆ 𝛿2 β‰ˆ 0

Suku 𝛿2 bisa kita hampirkan ke nol karena 𝛿 sendiri suatu bilangan yang kecil, maka 𝛿2 akan sangat kecil dan mendekati nol sehingga

sin(πœƒ0+ 𝛿) = sin πœƒ0+ 𝛿 cos πœƒ0

sin(πœƒ0+ 𝛿) cos(πœƒ0 + 𝛿) = sin πœƒ0cos πœƒ0 + 𝛿 cos2πœƒ0βˆ’ 𝛿 sin2πœƒ0 Kita kembali ke persamaan (3)

𝑔

𝐿(sin πœƒ0+ 𝛿 cos πœƒ0) βˆ’ Ξ©2(sin πœƒ0cos πœƒ0+ 𝛿 cos2πœƒ0βˆ’ 𝛿 sin2πœƒ0) = 𝛼 Kita gunakan hasil dari bagian a yaitu

cos πœƒ0 = 𝑔

Ξ©2𝐿 ⟹ 𝑔

𝐿 = Ξ©2cos πœƒ0 Maka

Ξ©2cos πœƒ0(sin πœƒ0+ 𝛿 cos πœƒ0) βˆ’ Ξ©2(sin πœƒ0cos πœƒ0+ 𝛿 cos2πœƒ0βˆ’ 𝛿 sin2πœƒ0) = 𝛼 Ξ©2cos πœƒ0sin πœƒ0 + Ξ©2𝛿 cos2πœƒ0βˆ’ Ξ©2sin πœƒ0cos πœƒ0βˆ’ Ξ©2𝛿 cos2πœƒ0+ Ξ©2𝛿 sin2πœƒ0 = 𝛼 Ξ©2𝛿 sin2πœƒ0 = 𝛼

Karena arah 𝛼 berlawanan dengan arah bertambahnya 𝛿 maka 𝛼 = βˆ’π›ΏΜˆ sehingga Ξ©2𝛿 sin2πœƒ0 = βˆ’π›ΏΜˆ

π›ΏΜˆ + Ξ©2sin2πœƒ0𝛿 = 0

πœ”2 = Ξ©2sin2πœƒ0 ⟹ πœ” = Ξ© sin πœƒ0

Dari identitas trigonometri kita peroleh sin πœƒ0 = √1 βˆ’ cos2πœƒ0 = √1 βˆ’ 𝑔2

Ω4𝐿2

Kecepatan sudut osilasi partikel akan menjadi πœ” = Ω√1 βˆ’ 𝑔2 Ξ©4𝐿2

(13)

OSK Fisika 2018 Number 5 TUMBUKAN MASSA DAN BATANG

Tinjau sistem dibawah ini yang terdiri dari tiga buah massa π‘š1, π‘š2, dan π‘š3 yang saling lepas (tidak saling menempel). Seluruh gerakan sistem berada pada bidang horizontal.

Batang π‘š2 dengan panjang 3𝐿 dipasang pada poros licin. Massa π‘š3 yang hampir menyentuh batang π‘š2 berada pada posisi berjarak 2𝐿 dari poros, dan keduanya dalam keadaan diam. Massa π‘š1 bergerak lurus dengan kecepatan 𝑣0 dengan arah tegak lurus batang dan akan menumbuk batang pada jarak 𝐿 dari dari poros. Semua tumbukan yang terjadi bersifat lenting sempurna. Untuk selanjutnya dalam perhitungan gunakanlah oleh kalian π‘š1 = π‘š2 = π‘š3 = π‘š.

Setelah tumbukan terjadi, tentukan :

a. Kecepatan massa π‘š1 dan π‘š3 serta kecepatan sudut batang π‘š2.

b. Perbedaan momentum sudut total dan perbedaan energi kinetik sistem antara sebelum dan sesudah tumbukan.

Pembahasan :

a. Baik teman-teman. Kita akan bahas soal ini. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah tumbukan yang terjadi sebanyak dua kali. Loh koq bisa?? Jadi begini, kan semuanya benda saling lepas, begitupun antara π‘š2 dan π‘š3. Tumbukan pertama adalah tumbukan antara massa π‘š1 dan batang π‘š2, massa π‘š3 tidak ikut serta dalam tumbukan pertama ini karena dia tidak menempel pada π‘š2. Tumbukan kedua adalah tumbukan antara batang π‘š2 dan massa π‘š3, di sini massa π‘š1 tidak ikut serta karena dia sudah berbalik arah. Baik kita tinjau masing-masing tumbukan.

Tumbukan Pertama

Setelah tumbukan massa π‘š1 akan berbalik arah dan batang π‘š2 akan berotasi.

Momentum sudut sistem terhadap poros licin kekal karena jika kita tinjau terhadap poros ini, tidak ada torsi eksternal yang bekerja pada sistem. Misal kecepatan massa π‘š1 dan kecepatan sudut batang π‘š2 setelah tumbukan adalah 𝑣1 dan πœ”0. Momen inersia batang terhadap poros licin adalah

𝐼 =1

3π‘š2𝐿22 =1

3π‘š(2𝐿)2 = 3π‘šπΏ2 𝑣0

π‘š1 π‘š2

π‘š3 𝐿

2𝐿 3𝐿

poros licin

(14)

Kekekalan momentum sudut π‘šπ‘£0𝐿 = βˆ’π‘šπ‘£1𝐿 + 3π‘šπΏ2πœ”0 𝑣0+ 𝑣1 = 3πΏπœ”0… (1)

Karena poros licin dan tumbukan elastis energi sistem sebelum dan sesdah tumbukan kekal

1

2π‘šπ‘£02 = 1

2π‘šπ‘£12 +1

23π‘šπΏ2πœ”02 𝑣02βˆ’ 𝑣12 = 3𝐿2πœ”02

(𝑣0+ 𝑣1)(𝑣0βˆ’ 𝑣1) = 3𝐿2πœ”02 Subtitusi persamaan (1) 3πΏπœ”0(𝑣0βˆ’ 𝑣1) = 3𝐿2πœ”02

𝑣0βˆ’ 𝑣1 = πΏπœ”0 ⟹ 𝑣1 = 𝑣0βˆ’ πΏπœ”0… (2) Subtitusi persamaan (2) ke (1)

𝑣0+ 𝑣0βˆ’ πΏπœ”0 = 3πΏπœ”0 2𝑣0 = 4πΏπœ”0 ⟹ πœ”0 = 𝑣0

2𝐿

Subtitusi πœ”0 ke persamaan (2) 𝑣1 = 𝑣0βˆ’ 𝐿𝑣0

2𝐿 ⟹ 𝑣1 = 𝑣0 2 Tumbukan Kedua

Pada tumbukan kedua ini, setelah tumbukan, gerak rotasi batang π‘š2 akan berbalik arah dengan kecepatan sudut πœ” dan massa π‘š3 akan bergerak dengan kecepatan 𝑣3. Seperti sebelumnya, pada tumbukan ini juga berlaku Hukum Kekekalan Momentum Sudut dan Hukum Kekekalan Energi.

Kekekalan momentum sudut 3π‘šπΏ2πœ”0 = π‘šπ‘£32𝐿 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ”

𝑣0 π‘š1

π‘š2

𝑣0 π‘š1 π‘š2

πœ”0

𝑣3 π‘š3

π‘š2

πœ” π‘š3

π‘š2 πœ”0

(15)

3𝐿(πœ”0+ πœ”) = 2𝑣3… (3) Kekekalan energi

1

23π‘šπΏ2πœ”02 = 1

2π‘šπ‘£32+1

23π‘šπΏ2πœ”2 3𝐿2(πœ”02βˆ’ πœ”2) = 𝑣32

3𝐿2(πœ”0βˆ’ πœ”)(πœ”0+ πœ”) = 𝑣32 Subtitusi persamaan (3) 2𝑣3𝐿(πœ”0βˆ’ πœ”) = 𝑣32 2𝐿(πœ”0βˆ’ πœ”) = 𝑣3… (4)

Subtitusi persamaan (4) ke (3) 3𝐿(πœ”0+ πœ”) = 2[2𝐿(πœ”0βˆ’ πœ”)]

3πœ”0+ 3πœ” = 4πœ”0βˆ’ 4πœ” πœ”0 = 7πœ”

πœ” =πœ”0 7 =

𝑣0 2𝐿

7 ⟹ πœ” = 𝑣0 14𝐿 Subitusi πœ”0 dan πœ”

2𝐿 (𝑣0 2πΏβˆ’ 𝑣0

14𝐿) = 𝑣3 ⟹ 𝑣3 =6𝑣0 7𝐿

Jadi, kecepatan massa π‘š1 dan π‘š3 serta kecepatan sudut batang π‘š2 setelah seluruh tumbukan terjadi adalah

kecepatan massa m1 ⟹ 𝑣1 = 𝑣0 2 kecepatan massa m3 ⟹ 𝑣3 =6𝑣0

7𝐿 kecepatan sudut batang m2 ⟹ πœ” = 𝑣0

14𝐿

b. Untuk momentum sudut total sistem terhadap poros licin, secara logika kita, karena kekal, harusnya perbedaan momentum sudut sistem saat awal dan sesudah semua tumbukan haruslah nol. Akan kita buktikan.

Momentum sudut awal dan akhir sistem terhadap poros licin adalah 𝐿𝑖 = π‘šπ‘£0𝐿

𝐿𝑓 = βˆ’π‘šπ‘£1𝐿 + π‘šπ‘£32𝐿 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ”

Δ𝐿 = πΏπ‘“βˆ’ 𝐿𝑖 = βˆ’π‘šπ‘£1𝐿 + 2π‘šπ‘£3𝐿 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ” βˆ’ π‘šπ‘£0𝐿 Δ𝐿 = βˆ’π‘šπ‘£0𝐿 βˆ’ π‘šπ‘£1𝐿 + 2π‘šπ‘£3𝐿 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ”

Δ𝐿 =βˆ’π‘šπ‘£0𝐿 βˆ’ π‘šπ‘£1𝐿 + 3π‘šπΏ2πœ”0 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ”0+ 2π‘šπ‘£3𝐿 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ”

Lihat kembali persamaan kekekalan momentum sudut pada tumbukan pertama dan kedua

π‘šπ‘£0𝐿 = βˆ’π‘šπ‘£1𝐿 + 3π‘šπΏ2πœ”0 ⟹ βˆ’π‘šπ‘£0𝐿 βˆ’ π‘šπ‘£1𝐿 + 3π‘šπΏ2πœ”0 = 0 3π‘šπΏ2πœ”0 = π‘šπ‘£32𝐿 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ” βŸΉβˆ’3π‘šπΏ2πœ”0+ 2π‘šπ‘£3𝐿 βˆ’ 3π‘šπΏ2πœ” = 0 Maka perbedaan momentum sudut sistem nol atau Δ𝐿 = 0.

(16)

π‘š1 π‘š2 𝑣0 𝐡

𝐴

Untuk energi sistem, energi awal sebelum dan sesudah semua tumbukan akan kekal.

Hal ini karena tidak ada gaya luar non konservatif (seperti gaya gesek) yang melakukan usaha pada sistem.

Energi awal dan akhir sistem adalah 𝐸𝑖 =1

2π‘šπ‘£02 𝐸𝑓 =1

2π‘šπ‘£12+1

2π‘šπ‘£32+1

23π‘šπΏ2πœ”2 𝐸𝑓 =1

2π‘š (𝑣0 2)

2

+1

2π‘š (6𝑣0 7𝐿)

2

+1

23π‘šπΏ2( 𝑣0 14𝐿)

2

𝐸𝑓 =1

8π‘šπ‘£12+18

49π‘šπ‘£02+ 3

392π‘šπ‘£02 =49 + 144 + 3

392 π‘šπ‘£02 =196 392π‘šπ‘£02 𝐸𝑓 =1

2π‘šπ‘£02 Δ𝐸 = πΈπ‘“βˆ’ 𝐸𝑖 = 1

2π‘šπ‘£02βˆ’1

2π‘šπ‘£02 ⟹ Δ𝐸 = 0

OSK Fisika 2018 Number 6 BOLA PEJAL DAN BENDA MELENGKUNG

Suatu bola pejal A bermassa π‘š1 dan berjari-jari π‘Ÿ bergerak dengan kecepatan 𝑣0 ke arah sebuah benda B bermassa π‘š2(π‘š2 ≫ π‘š1) dengan sisi melengkung seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Bola A dan benda B berada di atas lantai licin.

Bola A kemudian melintasi permukaan benda B hingga terpental secara vertikal ke atas relatif terhadap benda B. Kemudian bola terjatuh kembali melewati lintasan yang sama.

Asumsikan setelah melewati bidang lengkung bola terhempas sangat tinggi sehingga dimensi balok dapat diabaikan.

c. Apabila gaya gesek antara bola A dan benda B diabaikan, tentukan waktu tempuh bola untuk kembali ke titik semula!

d. Apabila gaya gesek antara bola A dan benda B tidak diabaikan, tentukan ketinggian maksimum yang dapat dicapai bola!

Pembahasan :

(17)

π‘š2 𝐡 𝑒

𝐴

π‘š1 π‘š2

𝑣0 𝐡 𝐴

π‘š1

𝑉

a. Karena gaya gesek diabaikan, bola A tidak akan berotasi dan hanya bergerak translasi murni. Karena dimensi B bisa kita abaikan, ketinggian bola A lepas dari B bisa kita asumsikan nol, sehingga pertambahan energi potensial bola A menjadi nol pula.

Misalkan 𝑒 adalah kecepatan bola A relatif terhadap benda B ketika tepat akan terpantal ke atas dan lepas dari lintasan dan 𝑉 adalah kecepatan benda B. Momentum linear sistem pada arah horizontal kekal karena tidak ada gaya eksternal. Energi sistem juga kekal karena semua permukaan licin sehingga tidak ada

Kekekalan momentum linear arah horizontal π‘š1𝑣0 = (π‘š1+ π‘š2)𝑉 ⟹ 𝑉 = π‘š1𝑣0

π‘š1+ π‘š2 Kekekalan energi mekanik

1

2π‘š1𝑣02 =1

2π‘š1(𝑒2+ 𝑉2) +1 2π‘š2𝑉2 π‘š1𝑣02 = (π‘š1+ π‘š2)𝑉2+ π‘š1𝑒2 π‘š1𝑣02 = (π‘š1+ π‘š2) ( π‘š1𝑣0

π‘š1+ π‘š2)

2

+ π‘š1𝑒2 𝑣02 = π‘š1

π‘š1+ π‘š2𝑣02+ 𝑒2 𝑒2 = (1 βˆ’ π‘š1

π‘š1+ π‘š2) 𝑣02 = ( π‘š2

π‘š1+ π‘š2) 𝑣02 𝑒 = 𝑣0√ π‘š2

π‘š1 + π‘š2

Kecepatan 𝑒 juga adalah komponen kecepatan bola A untuk arah vertikal terhadap tanah. Selang waktu total untuk bola sejak lepas dari benda B sampai kembali lagi adalah

𝑦 = 𝑦0+ 𝑣𝑦𝑑 βˆ’1 2𝑔𝑑2

(18)

π‘š2 𝐡 𝑒

𝐴

π‘š2 𝑣′ 𝐴 𝐡

π‘š1

𝑉 π‘š1

𝑉′ 0 = 0 + 𝑒𝑑 βˆ’1

2𝑔𝑑2 𝑑 =2𝑒

𝑔 ⟹ 𝑑 =2𝑣0

𝑔 √ π‘š2 π‘š1+ π‘š2

Karena dimensi benda B dapat diabaikan, selang waktu untuk bola A melewati lintasan lengkung bisa kita abaikan. Dalam selang waktu 𝑑 ini, benda B sudah bergerak ke kanan sejauh

π‘₯ = 𝑉𝑑 = ( π‘š1𝑣0

π‘š1+ π‘š2) (2𝑣0

𝑔 √ π‘š2

π‘š1+ π‘š2) ⟹ π‘₯ = 2𝑣02

𝑔 ( π‘š1

π‘š1+ π‘š2√ π‘š2 π‘š1+ π‘š2)

Sekarang kita hitung dulu kecepatan bola A ketika dia berbalik arah, dalam hal ini berlaku pulahukum kekekalan momentum linier arah horizontal dan hukum kekekalan energi mekanik.

Kekekalan momentum linear arah horizontal

π‘š1𝑣0 = βˆ’π‘š1𝑣′+ π‘š2𝑉′ ⟹ π‘š1(𝑣0+ 𝑣′) = π‘š2𝑉′ … (1) Kekekalan energi mekanik

1

2π‘š1𝑣02 =1

2π‘š1𝑣′2+1

2π‘š2𝑉′2 π‘š1(𝑣02βˆ’ 𝑣′2) = π‘š2𝑉′2

π‘š1(𝑣0+ 𝑣′)(𝑣0βˆ’ 𝑣′) = π‘š2𝑉′2 Subtitusi persamaan (1) π‘š2𝑉′(𝑣0βˆ’ 𝑣′) = π‘š2𝑉′2 𝑣0βˆ’ 𝑣′= 𝑉′… (2)

Subtitusi persamaan (2) ke (1) π‘š1(𝑣0+ 𝑣′) = π‘š2(𝑣0βˆ’ 𝑣′)

(19)

(π‘š1+ π‘š2)𝑣′ = (π‘š2βˆ’ π‘š1)𝑣0 ⟹ 𝑣′ =π‘š2βˆ’ π‘š1

π‘š2+ π‘š1𝑣0… (3)

Waktu tempuh bola A untuk kembali ke tempat awalnya adalah

𝑇 = π‘₯ 𝑣′ =

2𝑣02 𝑔 (

π‘š1

π‘š1+ π‘š2√ π‘š2 π‘š1+ π‘š2) π‘š2βˆ’ π‘š1

π‘š2+ π‘š1𝑣0 ⟹ 𝑇 =2𝑣0

𝑔 ( π‘š1

π‘š2βˆ’ π‘š1√ π‘š2 π‘š2+ π‘š1) Maka waktu tempuh bola untuk kembali ke titik semula adalah

𝑑tot= 𝑑 + 𝑇 =2𝑣0

𝑔 √ π‘š2

π‘š1+ π‘š2+2𝑣0

𝑔 ( π‘š1

π‘š2βˆ’ π‘š1√ π‘š2 π‘š2+ π‘š1)

𝑑tot= 2𝑣0

𝑔 √ π‘š2

π‘š1+ π‘š2(1 βˆ’ π‘š1 π‘š2βˆ’ π‘š1)

𝑑tot= 2𝑣0

𝑔 √ π‘š2

π‘š1+ π‘š2(π‘š2βˆ’ 2π‘š1 π‘š2βˆ’ π‘š1 ) karena π‘š2 ≫ π‘š1 maka π‘š2

π‘š1+ π‘š2 β‰ˆπ‘š2

π‘š2 = 1 dan π‘š2βˆ’ 2π‘š1 π‘š2 βˆ’ π‘š1 β‰ˆπ‘š2

π‘š2 = 1 𝑑tot= 2𝑣0

𝑔

b. Agar bola A bisa terlempar sangat jauh ke atas maka 𝑣0 harus dibuat sangat besar nilainya. Karena sekarang permukaan benda B kasar, bola A akan slip ketika mulai memasuki lintasan lengkung pada benda B. Lintasan lengkung di B dapat kita asumsikan sangat pendek dan gaya gesek kinetik bisa kita asumsikan konstan dalam selang waktu selama bola A di B yang sangat singkat misalkan Δ𝑑. Misalkan kecepatan sudut rotasi bola ketika lepas dari B adalah πœ”. Kita tinjau kondisi ketika bola A terlepas dari B dalam keadaan menggelinding tanpa slip sehingga berlaku πœ” = 𝑒/π‘Ÿ.

Dalam selang waktu yang singkat ini, perubahan momentum sudut bola A adalah Δ𝐿 = 𝑓kπ‘ŸΞ”π‘‘ = πΌπœ” =2

5π‘š1π‘Ÿ2𝑒

π‘Ÿ ⟹ 𝑓kΔ𝑑 =2

5π‘š1𝑒 … (3)

Karena lintasan lengkung di B diasumsikan sangat pendek dan massa B jauh lebih besar dari bola A, perubahan momentum linear A akibat gaya gesek kinetik bisa kita anggap seperti terjadi di lintasan yang lurus dimana kecepatan awal bola A sebelum dikenaik impuls adalah 𝑣0 dan setelah dikenai impuls adalah 𝑒 maka

Δ𝑝 = βˆ’π‘“kΔ𝑑 = π‘š1(𝑒 βˆ’ 𝑣0)

(20)

Subtitusi persamaan (3)

βˆ’2

5π‘š1𝑒 = π‘š1(𝑒 βˆ’ 𝑣0) 7

5𝑒 = 𝑣0 ⟹ 𝑒 =5 7𝑣0

Ketinggian maksimum yang dicapai bola jika saat lepas dari B dia menggelinding tanpa slip adalah

β„Ž = 𝑒2

2𝑔= 25𝑣02 98𝑔

karena lintasan sangat di B sangat pendek sedangkan 𝑣0 sangat besar maka menurut saya mustahil bola A akan tepat menggelinding tanpa slip ketika tepat lepas dari B.

Maka kecepatan bola A ketika lepas dari B untuk kondisi ini ada di selang 𝑣0 ≀ 𝑣L ≀ 𝑒. Sehingga ketinggian maksimum yang dicapai bola A berada di selang

𝑣02

2𝑔 ≀ β„Žmaks <25𝑣02 98𝑔

OSK Fisika 2018 Number 7 PERLAMBATAN DI ATAS BIDANG MIRING AKIBAT BEBAN

Sebuah silinder pejal bermassa 𝑀 menggelinding tanpa slip menuruni bidang miring diam bersudut elevasi πœƒ dengan kecepatan awal 𝑣0. Seseorang ingin menghentikan silinder tersebut dengan memberikan beban. Pada pusat silinder tersebut dikaitkan tali sehingga tali membentuk sudut πœ™ terhadap permukaan bidang miring. Di ujung lain tali tersebut, diikatkan ke sebuah beban kotak π‘š yang memiliki massa sama dengan silinder.

Diketahui koefisien gesek antara kotak dan bidang miring adalah πœ‡ serta percepatan gravitasi 𝑔.

Asumsikan gesekan beban mampu mengehentikan gerak silinder. Tentukanlah : a. Jarak yang ditempuh silinder hingga berhenti!

b. Syarat sudut πœ™ yang dapat memenuhi asumsi di atas (nyatakan dalam πœƒ dan πœ‡)!

Pembahasan :

π‘š = 𝑀 𝑀

πœƒ

πœ‡ πœ™

(21)

a. Di asumsikan bahwa gesekan antara beban dan bidang miring dapat menghentikan gerakan silinder, maka tali penghubung antara keduanya haruslah tegang, di sini dapat kita ambil bahwa perlambatan kedua benda sama yaitu π‘Ž. Berikut diagram gaya pada kedua benda

Agar silinder bisa berhenti, sistem haruslah dipercepat ke atas berlawanan dengan arah gerak atau dengan kata lain sistem diperlambat dengan besar nilainya adalah π‘Ž.

Agar hal ini terpenuhi pula, tali yang menghubungkan kedua benda haruslah selalu tegang, karena jika tidak, silinder akan memiliki peluang untuk dipercepat. Baik, berikutnya kita tinjau gaya-gaya yang bekerja pada kedua benda.

Untuk Beban

Gaya gesek yang bekerja pada beban adalah gaya gesek kinetik karena terjadi gerak relatif antara permukaannya dengan permukaan bidang miring sehingga berlaku 𝑓k = πœ‡π‘.

Resultan gaya arah tegak lurus bidang miring 𝑁 βˆ’ 𝑀𝑔 cos πœƒ + 𝑇 sin πœ™ = 0

𝑁 = 𝑀𝑔 cos πœƒ βˆ’ 𝑇 sin πœ™ … (1)

Resultan gaya arah sejajar bidang miring 𝑓kβˆ’ 𝑀𝑔 sin πœƒ βˆ’ 𝑇 cos πœ™ = π‘€π‘Ž

πœ‡π‘ βˆ’ 𝑀𝑔 sin πœƒ βˆ’ 𝑇 cos πœ™ = π‘€π‘Ž … (2) Untuk Silinder

Pada silinder ini, karena dia menggelinding tanpa slip dan tidak terjadi gerak relatif antara permukaannya dengan permukaan silinder, maka gaya gesek yang bekerja adalah gaya gesek statik dan berlaku 𝛼 = π‘Ž/𝑅.

Resultan gaya arah sejajar bidang miring 𝑇 cos πœ™ βˆ’ 𝑓sβˆ’ 𝑀𝑔 sin πœƒ = π‘€π‘Ž … (3)

Resultan torsi berlawanan arah jarum jam 𝑓s𝑅 =1

2𝑀𝑅2(π‘Ž

𝑅) ⟹ 𝑓s =1

2π‘€π‘Ž … (4) Subtitusi persamaan (1) ke (2)

πœ‡(𝑀𝑔 cos πœƒ βˆ’ 𝑇 sin πœ™) βˆ’ 𝑀𝑔 sin πœƒ βˆ’ 𝑇 cos πœ™ = π‘€π‘Ž 𝑀𝑔(πœ‡ cos πœƒ βˆ’ sin πœƒ) βˆ’ 𝑇(πœ‡ sin πœ™ + cos πœ™) = π‘€π‘Ž … (5) Subtitusi persamaan (4) ke (3)

πœ™ 𝑇 𝑀𝑔

π‘Ž 𝑓k

𝑁

arah gerak

𝛼 πœ™

𝑀𝑔

π‘Ž

𝑓s 𝐾

arah gerak 𝑇

(22)

𝑇 cos πœ™ βˆ’1

2π‘€π‘Ž βˆ’ 𝑀𝑔 sin πœƒ = π‘€π‘Ž 𝑇 cos πœ™ = 𝑀𝑔 sin πœƒ +3

2π‘€π‘Ž ⟹ 𝑇 = 1

cos πœ™(𝑀𝑔 sin πœƒ +3

2π‘€π‘Ž) … (6) Subtitusi persamaan (6) ke (5)

𝑀𝑔(πœ‡ cos πœƒ βˆ’ sin πœƒ) βˆ’ 1

cos πœ™(𝑀𝑔 sin πœƒ +3

2π‘€π‘Ž) (πœ‡ sin πœ™ + cos πœ™) = π‘€π‘Ž 𝑀𝑔(πœ‡ cos πœƒ βˆ’ sin πœƒ) βˆ’ (𝑀𝑔 sin πœƒ +3

2π‘€π‘Ž) (πœ‡ tan πœ™ + 1) = π‘€π‘Ž 2𝑔[πœ‡ cos πœƒ βˆ’ sin πœƒ βˆ’ (πœ‡ tan πœ™ + 1) sin πœƒ] = π‘Ž[3(πœ‡ tan πœ™ + 1) + 2]

π‘Ž =2𝑔[πœ‡ cos πœƒ βˆ’ (πœ‡ tan πœ™ + 2) sin πœƒ]

3πœ‡ tan πœ™ + 5

Kecepatan awal sistem adalah 𝑣0, maka jarak yang ditempuh sampai berhenti adalah 𝑣𝑑2 = 𝑣02βˆ’ 2π‘Žπ‘ 

0 = 𝑣02βˆ’ 2π‘Žπ‘  ⟹ 𝑠 = 𝑣02 2π‘Ž 𝑠 = (3πœ‡ tan πœ™ + 5)𝑣02

4𝑔[πœ‡ cos πœƒ βˆ’ sin πœƒ (πœ‡ tan πœ™ + 2)]

b. Tadi kita definisikan arah π‘Ž adalah berlawanan arah gerak sistem. Maka agar silinder dapat berhenti, perlambatan π‘Ž haruslah lebih dari sama dengan nol, karena jika negatif, berarti arah π‘Ž berlawanan dengan arah arah yang kita definisikan, yang artinya pula sistem dipercepatan searah dengan arah gerak awalnya.

π‘Ž β‰₯ 0

2𝑔[πœ‡ cos πœƒ βˆ’ (πœ‡ tan πœ™ + 2) sin πœƒ]

3πœ‡ tan πœ™ + 5 β‰₯ 0 πœ‡ cos πœƒ βˆ’ (πœ‡ tan πœ™ + 2) sin πœƒ β‰₯ 0 πœ‡ tan πœ™ + 2 ≀ πœ‡ cot πœƒ

tan πœ™ ≀ cot πœƒ βˆ’2 πœ‡

Referensi

Dokumen terkait