• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI METODE ROLE PLAYING PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SD ISLAM DARUL MAKMUR KECAMATAN AMPEK ANGKEK KABUPATEN AGAM SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI METODE ROLE PLAYING PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SD ISLAM DARUL MAKMUR KECAMATAN AMPEK ANGKEK KABUPATEN AGAM SKRIPSI"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI METODE ROLE PLAYING PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SD ISLAM DARUL MAKMUR

KECAMATAN AMPEK ANGKEK KABUPATEN AGAM

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi salah satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Strata (S1) Prongram Studi Pendidikan Agama Islam Pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

Keguruan

Acc Pembimbing untuk Munakasah

Dr. Muhiddinur Kamal, M.Pd

Oleh:

NAMA :RAHMA YUNI NIM : 2117066

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) BUKITTINGGI

2021 M / 1442

(2)

ABSTRAK

Skripsi ini ini berjudul dengan “Implementasi metode Role Playing pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Islam Darul Makmur Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam”. Oleh Rahma Yuni Nim 2117066. Prongram Studi Pendidikan Agama Islam Fakultar Tarbiyah Dan Ilmu KeguruanInstitut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Penelitian ini beranjak dari fenomena yang dialami anak kelas V.1 di SD Islam Darul Makmur Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam. Dimana sekolah ini menerapkan metode role playing yaitu metode yang digunakan guru untuk memudahkan tercapainya tujuan pembelajaran dengan cara memainkan peran agar siswa lebih mudah memahami materi, hal ini sesuai dengan Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Namun pada kenyatannya terdapat permasalahan pada siswa dalam proses pentransferan materi pembelajaran.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Metode Role playing pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada siswa kelas SD Islam Darul Makmur kelas V Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara utuh dan mendalam tentang realitas sosial dan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat yang menjadi subjek penelitian sehingga tergambar ciri-ciri, karakter, sifat, dan model dari fenomena tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Role Playing dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam materi tentang Kisah Keteladanan Luqman di SD Islam Darul Makmur Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam dapat disimpulkan bahwa guru dan siswa telah melaksanakan langkah- langkah pembelajaran metode role playing, namun dari langkah-langkah yang telah dilakukan masih belum maksimal walaupun sudah dijalankan semestinya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam proses pembelajaran. Masalah yang terlihat adalah siswa tidak memperhatikan yang temannya yang sedang memainkan peran, siswa meribut pada saat sedang diskusi kelompok, siswa masih sulit memahami materi, dan pembelajaran belum berjalan kondusif, Karena dalam pembuatan cerita yang dibuat guru masih dianggap kurang menarik oleh siswa, dan kurangnya arahan dari guru sehingga penampilan siswa kurang menarik.

Kata Kunci: Implementasi, Metode role playing, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya. Akhirnya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul berjudul “Implementasi metode Role Playing pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Islam Darul Makmur Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam”. Shalawat dan salam peneliti sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang mewariskan Al- Qur’an dan Sunnah sebagai petunjuk kebenaran sampai akhir zaman. Skripsi ini disusun guna memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

Dalam penulisan skripsi ini peneliti banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya. Oleh karena itu peneliti ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang telah mencurahkan kasih sayang dan perjuangan yang tak kenal lelah untuk masa depan dan kehidupan peneliti. Selanjutnya peneliti sampaikan ucapan terimakasih kepada Ayahanda tercinta Yusran dan Ibunda tercinta Nurbaiti yang selalu memotivasi peneliti dan selalu memberi semangat dalam keadaan suka maupun duka, yang tidak pernah lelah memberikan kasih sayang dan dukungan baik moril maupun materil sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik, selanjutnya peneliti sampaikan ucapan terimakasih kepada:

(5)

1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M.Hum, selaku rektor IAIN Bukittinggi. Serta bapak ibuk wakil rektor yang telah memberikan fasilitas kepada penulis dalam menambah ilmu pengetahuan di IAIN Bukittinggi.

2. Bapak Dr. Asy’ari, S.Ag, M.Si selaku wakil rektor I, bapak Dr. Novi Hendri selaku wakil rektor II, dan bapak Dr. Miswardi, M.Hum selaku wakil rector III, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

3. Ibu Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Dr. Zulfani Sesmiarni, M.Pd dan wakil-wakil dekan IAIN Bukittinggi.

4. Bapak Dr. Iswantir, M, M.Ag selaku dekan I, bapak Dr. Charles, M, Pd.I selaku wakil dekan II, dan bapak Dr, Supratman Zakir, M.Pd, M.Kom selaku wakil dekan III, fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan IAIN Bukittinggi.

5. Bapak Dr. Arifmiboy, S.Ag, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan fasilitas dan bantuan kepada peneliti dalam menambah Ilmu Pengetahuan di IAIN Bukittinggi.

6. Bapak Dr. Muhiddinur Kamal, M.Pd selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan, bantuan, bimbingan serta pelayanan dengan baik kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Bapak Dr. Endri Yenti, M.Ag selaku Penasehat Akademik (PA) yang telah mengorbankan waktu, tenaga, fikiran untuk memberikan ilmu, bimbingan dan arahan kepada peneliti demi selesainya skripsi ini.

(6)

8. Bapak dan ibu dosen serta karyawan/ti (IAIN) Bukittinggi yang telah membekali peneliti dengan berbagai macam ilmu pengetahuan.

9. Pimpinan serta karyawan/ti perpustakaan (IAIN) Bukittinggi yang telah menyediakan fasilitas kepada penulis untuk mengadakan meminjamkan buku.

10. Kepala Sekolah SD Islam Darul Makmur, yang telah membantu peneliti dalam melakukan penelitian, serta kepada Guru Tata Usaha dan guru-guru yang ikut andil dalam membantu peneliti.

11. Kepada Adik-adik dan Kerabat yang tidak pernah lelah selalu mendoakan, mengingatkan, mendampingi peneliti selama studi sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini.

12. Teman-teman seperjuangan pada Prodi Pendidikan Agama Islam BP:

2017 yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

13. Sahabat Dan teman-teman tercinta Rabiatul Fitri, Yolla Mei Dendra, Desi Novrita, Novita Sari, Indung Wulandari, Ahmad Fauzan dan anak-anak kost Arnedo yang selalu memberikan arahan dan bantuan kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

14. Serta ucapan terimakasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan.

(7)

Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini. Terakhir penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

(8)

i DAFTAR ISI

ABSTRAK ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ... ..i

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 10

C. Rumusan Masalah... 10

D. Tujuan Masalah ... 10

E. Manfaat Penelitian ... 11

F. Penjelasan Judul ... 12

G. Sistematika Penulisan ... 13

BAB II LANDASAN TEORI A. Metode Role Playing ... 14

1. Defenisi metode Role playing ... 14

2. Tujuan Role playing ... 21

3. Prosedur Penerapan Role Playing ... 4. Langkah-langkah metode role playing ... 27

5. Kelebihan dan kekurangan Role playing ... 30

6. Bentuk-bentuk Role Playing ... 31

7. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode Role Playing ... 32

8. Peranan guru\pimpianan ... 33

B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 33

1. Defenisi Pendidikan Agama Islam ... 35

2. Fungsi PAI... 35

3. Tujuan PAI ... 36

4. Ruang lingkup PAI ... 39

C. Penelitian Relefan ... 41

(9)

ii BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 45

B. Lokasi Penelitian ... 45

C. Informan Penelitian ... 46

D. Teknik Pengumpilan Data ... 47

E. Teknik Analisi Data ... 50

F. Teknik Keabsahan Data ... 51

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Temuan umum... 53

B. Temuan Khusus ... 59

BAB V PENETUP A. Kesimpulan... 71

B. Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan adalah suatu inventasi terhadap sumber daya manusia untuk mengembangkan potensi dan kemampuan manusia, terlebihlagi dalam pengembangan ekonomi sangat membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui keunggulan yang baik dalam kemampuan akademik dan penguasaan teknologi serta sikap mental sehingga dapat menjadi manusia yang handal pada bidangnya.1

Langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses pedewasaan atau kata lain bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya.

Sementara itu menurut Henderson pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan dan perkembangan yang diperoleh dari hasil interaksi antara individu manusia dengan lingkungan sosial dan fisik, yang dimulai sejak manusia lahir sampai sepanjang hidunya. Lingkungan masyarakat

1 Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), cet. 2, hlm. 97.

(11)

merupakan bagian dari aspek sosial yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai sarana untuk berkembang dengan baik dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidup.

Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa di suatu Negara. Hal ini dikarenakan karena pendidikan berpengaruh besar dalam pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa.2 Bangsa akan maju apabila memiliki generasi penerus yang menguasai ilmu pendidikan dan teknologi.

Oleh karnanya perlu dukungan dari setiap pihak dari proses pendidikan ini.

Menurut Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.3 Pendidikan merupakan sebuah proses kegiatan yang disengaja atau input siswa untuk menimbulkan suatu hasil yang diinginkan sesuai tujuan yang ditetapkan.4 Pendidikan tidak dimaksudkan untuk mencetak karakter dan kemampuan siswa sama seperti gurunya. Proses pendidikan diarahkan pada proses berfungsinya semua potensis siswa secara manusiawi agar mereka menjadi dirinya sendiri yang

2 Novi Mulyadi, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini , (Yongyakarta: Kalimedia, 2016), hlm. 21

3 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan, (Jakarta:

Kencana Prenada Media, 2016), hlm. 2

4 Purwonto, Evaluasi Hasil Belajar, (Bandung: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 18.

(12)

3

mempunya kemampuan dan kepribadian unggul. Pentingnya pendidikan bagi manusia memanglah tidak dapat dipengaruhi karena pendidikan merupakan suatu kebutuhan manusia sepanjang masa.5

Pendidikan dan pengajaran adalah misi agama islam. Al-Qur’an merupakan landasan paling dasar yang disajikan acuan dasar hokum tentang Pendidikan Agama Islam. Firman Allah tentang Pendidikan Agama Islam dalam Al-Qur’an Surat Al-alaq ayat 1-5:



















































Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Guru merupakan salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalam proses pendidikan sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran kedalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugag membimbing dan membina siswa agar menjadi manusia yang cakap, aktif, kreatif dan mandiri.

Mengajar maupun mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenga professional. Oleh sebab itu, tugas yang berat dari

5 Jamil Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi, (Yongyakarta: Ar- ruzz Media, 2013), hlm. 75

(13)

seorang guru ini pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan oleh guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi. Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, untuk itu mutu pendidikan di suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya.

Guru adalah faktor penentu bagi keberhasilan pendidikan di sekilah, karna guru merupakan sumber kegiatan belajar mengajar. Lebih lanjut dinyatakan bahwa guru meruakan komponen yang berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan disekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan atau kompetensi profesional seorang guru sangat menentukan mutu dalam menjalankan aktivitas kerjanya. Bilamana seorang guru memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya, pastilah diahanya menjalankan fungsi dan kedudukannya sebatas rutinitas belaka.

Untuk itu perlu kiranya ditanamkan sikap positif guru terhadap pekerjaannya.6

Guru merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran. Guru memiliki peran diantaranya menentukan kualitan pembelajaran yang dilakukan. Karena guru berperan penting dikelas dalam proses pembelajaran. Guru yakni mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi pembelajaran. Guru merupakan tokoh penting dalam menentukan keberhasilan siswa dalam menerima pelajaran yang disampaikan.

6 Martinis Yamin,Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, …, hlm. 97

(14)

5

Guru yang kreatif selalu mencari pendekatan baru dalam memecahkan masalah. Tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton.

Kemampuan guru dalam memilih dan memilah metode yang relevan dengan tujuan dan materi pelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pencapayan hasil belajar siswa.7

Salah satu alternative yang diambil oleh seorang guru dalam proses belajar mengajar, guna tercapainya tujuan pembelajaran yang sejalan dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Padahal saat ini guru harus mampu menggunakan model pembelajaran yang berfariasi dalam proses belajar mengajar disekolah. Proses belajar guru menjadi pemeran utama dalam penciptaan situasi interaktif yang edukatif yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar.

Dalam upaya mewujudkan peran pendidikan yang penting bagi suatu bangsa yaitu dengan melalui proses pembelajran yang berkualitas.

Proses pembelajaran dalam hal ini merupakan susunan dari beragam komponen atau dengan yang lain untuk berupaya meningkatkan hasil belajar peserta didik, kurikulum, materi, metode dan media. Namun guru juga harus bila menjalankan metode dengan baik, menggunakan media yang tepat, agar pembelajaran tepat pada sasaran.

7 Laila Mu’awanah, Implementasi Metode Role Playing dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Akhlak Terpuji Kelas IV semester genap di SD Islam Al Firdaus Magelang Tahun Pelajaran 2017/2018, (Jakarta: 23-25 Maret 2018) ISBN 978-602-50710, KNAPPPTMA KE-7

(15)

Pembelajaran merupakan serengkayan kegiatan yang melibatkan informasi dan lingkungan yang disusun secara terencana untuk memudahkan siswa dalam belajar. Sehingga, kondisi belajar yang optimal sangat menentukan keberhasilan kegiatan pembelajaran. Salah satu cara yang perlu dilakukan guru untuk menciptakan kondisi yang optimal tersebut adalah dengan menerapkan berbagai metode pembelajaran. 8

Belajar merupakan proses untuk mendapatkan suatu ilmu agar seseorang bisa berubah menjadi lebih baik, dalam hal ini juga pada pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), apabila pemahaman itu tidak didapat maka tidak tercapai hasil belajar yang maksimal. Sehingga peserta didik benar benar jenuh dan bosan dalam menerima materi Pendidikan Agama Islam (PAI), katrena proses belajar disekolah tidak jauh beda dengan mendengarkan ceramah di luar sekolah dan siswa beranggapan semuanya sama dan tidak ada yang baru serta akan menimbulkan penurunan minat siswa terhadap pelajaran pendidikan Agama Islam (PAI), bahkan akan bisa mempengaruhi keaktifan siswa dalam belajar. Maka dari itu guru harus harus merubah pikirannya tentang mengajar adalah hanya sebuah kewajiban, ketika setelah dia mengajar maka selesailah tugasnya, tidak lagi seperti itu. Melainkan seorang guru harus mampu menciptakan proses belajar mengajar yang aktif, efektif, dan menyenangkan serta dapat melibatkan siswa secara langsung dalam proses balajar mengajar, sehingga siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran dan senang dalam

8 Jamil Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi, Op.Cit, hlm. 75

(16)

7

mengiuti proses belajar mengajar, tidak lagi bosan dengan proses pembelajaran, dan tidak hanya menghafal pembelajaran, tetapi juga dapat memahami langsung pembelajaran yang disampaikan oleh guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.

Dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), strategi, metode dan teknikpun sangat diperlukan. Teknik pembelajaran seringkali disamakan artinya dengan metode pembelajaran.

Teknik adalah jalan, alat atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiaan siswa kearah tujuan yang ingin dicapai. Metode pembelajaran didefenisikan sebagai langkah-langkah atau prosedur pembelajaran yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajran adalah cara-cara yang akan digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran.9

Salah satu metode pembelajaran yang menyenangkan dan dapat membuat siswa aktif dalam proses belajar adalah dengan metode pembelajaran Role playing. Metode Role Playing pada dasarnya adalah pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan peserta didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.10 Role playing membantu siswa menerima karakter, perasaan dan ide-ide orang lain

9 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), Cet. VII, hlm. 2-3.

10 Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), hal. 87

(17)

dalam suatu situasi yang khusus. Role playing memungkinkan pesera didik mengidentifikasi situasi-situasi dari dunia nyata dengan ide-ide orang lain.

Identifikasi ide-ide tersebut mungkin adalah cara untuk mengubah perilaku dan sikap sebagaimana peserta didik menerima karakter orang lain.11

Metode Role Playing merupakan pembelajaran yang menekankan pada permaimanan peran, dengan memerankan peran siswa mencoba mengeksplorasi hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikan, sehingga secara bersama-sama para peserta didik mampu mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai, keterampilan, dan pengetahuan terhadap masalah yang dipecahkan. Diharapkan dengan penerapan metode role playing ini siswa akan lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan, siswa lebih antusian terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung. 12

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SD Islam Darul Makmur pada hari Senin tanggal 08 Maret 2021, dimana guru pengampu mata pelajran PAI kelas V adalah ibuk Uswati. S. Ag. Dengan jumlah siswa 26 orang, terdiri dari 13 peserta didik perempuan dan 12 peserta didik laki-laki, ditemukan bahwa materi PAI yang akan diajarkan hari itu adalah tentang kisah keteladanan Luqman. Dari jumlah tersebut terlihat ada beberpa siswa yang tidak memperhatikan dan tidak antusias pada saat teman-teman nya yang lain sedang memperagakan cerita. Ada juga

11 Oemar Alauddin Haddade, Permainan sebagai Media Pembelajaran Arab (Makassar:

Alauddin University Press, 2013), Cet, I, Hal. 57-58

12 Alamsyah, Said, 95 Strategi mengajar Multiple Intelligences, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hal. 247

(18)

9

sebagian dari mereka yang sibuk dengan aktifitas masing-masing ketika guru meminta mereka untuk menyimak dan memperhatikan serta berdiskusi dikelompoknya di dalam kelas, dan ada juga sebagian dari siswa yang serius dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu bersdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan siswa di SD Islam Darul Makmur kelas V.1, ternyata ada dari mereka ketika belajar Pendidikan Agama Islam jenuh, karena menurut mereka belajar seperti itu membuat mereka susah memahami pelajaran. Dengan demikian para siswa ini malas dan tidak aktif ketika proses pembelajran berlangsung. Dilihat dari segi gurunya, guru sudah berupaya maksimal daam pelaksanaan pembelajaran.

Temuan awal seperti diatas menurut penulis ada kaitannya dengan metode. Metode yang digunakan yaitu metode Role Playing. Karena banyak peserta didik yang kurang memahami pembelajran. Hal ini dikarenakan adanya dari siswa pada saat proses pembelajran berlangsung peserta didik sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

Berdasarkan dari permasalahan diatas tersebut, maka dalam penelitian ini penulis mengajukan judul “Implementasi metode Role Playing pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD

Islam Darul Makmur Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam”

dengan harapan semoga dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi penulis dan pembaca.

(19)

B. Fokus Penelitian

Pembatasan masalah dilakukan agar peneliti lebih terarah, terfokus, dan tidak menyimpang dari sasaran pokok penelitian. Oleh karena itu penulis menfokuskan kepada pembahasan tentang Implementasi Metode Role Playing pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di kelas V.1 pada materi tentang kisah keteladanan Luqman.

C. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang muncul dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:”Bagaimana implementasi metode role playing dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Islam Darul Makmur Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam ?”

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Metode Role playing pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pada siswa kelas SD Islam Darul Makmur kelas V Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam.

(20)

11

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Secara teoritis

Hasil penelitian ini dapat memperkaya pengetahuan dan juga mengembangkan ilmu yang di peroleh selama menjalani perkuliahan dalam mengatasi masalah-masalah saat pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

2. Secara Praktis

a. Bagi Sekolah, hasil penelitian ini dapat di gunakan sebagai masukan dalam metode pembelajaran sekolah, sehingga proses serta hasil kegiatan belajar mengajar optimal.

b. Bagi Guru, di harapkan dapat mengunakan metode variatif, yaitu menggunakan metode yang dapat melibatkan siswa secara aktif, salah satunya adalah metode pembelajaran Role Playing, agar proses belajar mengajar menjadi aktif, efektif dan menyenangkan c. Bagi peserta didik, di harapakan berani mengemukakan pendapat,

ide dan gagasan yang mereka miliki, dan juga dapat meningkatkan minat mendapatkan hasil belajar yang sesuai dengan tujuan yang di harapkan.

d. Bagi Peneliti, untuk menambah wawasan dan pegalaman penulis serta memenuhi dan melengkapi salah satu syarat-syarat dalam

(21)

mencapai gelar sarjana prongram studi Penddikan Agama Islam Strata-1 (S1).

F. Penjelasan Judul

Untuk menghindari kesalahan dalam memahami judul yang dikemukakan diatas maka penulis memberikan penjelasan tentang istilah- istilah yang dipakai dalam judul ini

Implementasi : Merupakan Pelaksanaan atau penerapan.13 Maksudnya pelaksanaan metode role playing di SD Islam Darul Makmur Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam.

Metode : Metode merupakan suatu cara yang

dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.14

Role playing: Metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian yang mungkin akan

13Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum (Jakarta: Quantum Learning, 2005), cet. Ke-3, hal. 70

14Puput Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: Refika Aditama, 2010), Cet. I, Hal. 15.

(22)

13

muncul pada masa mendatang.15 Pada umumnya kebanyakan siswa sekitar usia 9 atau yang lebih tua, menyenangi penggunaan metode ini karena berkenaan dengan isu-isu sosial dan kesempatan komunikasi interpersonal di dalam kelas.16

Pembelajaran : Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.17 Pendidikan Agama Islam: Prongram pendidikan yang menanamkan

nilai-nilai Islam melalui proses pembelajaran, baik dikelas maupun diluar kelas yang dikemas dalam bentuk mata pelajaran yang diberi nama Pendidikan Agama Islam (PAI)18

SD Islam Darul Makmur : SD Islam Darul Makmur adalah Sekolah Dasar Swasta yang terletak di Sungai Rotan Batu Taba Kecamatan Ampek

15Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani, Strategi pembelajran Aktif, (Yongyakarta: Pustaka insani Madani, 2008), Hal. 98.

16Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2015), cet. Ke- 17, hal. 214

17Rusman, Op. Cit. Hal 144

18Sysrifuddin, Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti, (Yongyakarta: Deepublish, 2018), Hal 14.

(23)

Angkek Kabupaten Agam Provinsi Sumatra Barat.

G. Sistematika Penulisan

Untuk lebih sistematisnya pembahasan ini penulis membagi dalam bab dan sub-sub sebagai berikut.

BAB I : PENDAHULUAN

Membahas yang berisikan tentang latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penjelasan judul dan sistematika penulisan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Landasan teoritis yang berisikan tentang pengerian Implementas, metode, role playing, pembelajaran, Pendidikan Agama Islam (PAI)

BAB III : METODE PENELITIAN

Metode penelitian berisikan jenis penelitian, lokasi penelitian, informan penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan Teknik Keabsahan Data.

BAB IV : HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian berisi temuan umum dan temuan khusus

BAB V : PENUTUP

Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

(24)

15 BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Metode Role Playing

1. Defenisi Metode Role Playing a. Defenisi metode

Metode barasal dari bahasa Yahudi yaitu Methodes yang berarti cara atau jalan yang akan ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk apat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.19 Berikut macam-macam pengertian metode menurut para ahli:

Menurut Puput Fathurrahman dan M. Sobry Sutikno, metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.20

Menurut Senn yang dikutib oleh Jujun S. Suriasumantri, metode merupakan suatu proseder atau cara mengetahui suatu yang mempunyai langkah langkah yang sistematis.21

19 Ihsan El Khuluqo, belajar dan pembelajaran, (Yongyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), Cet. I, Hal.129.

20 Puput Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Konsep Umum dan Konsep Islam, …, Hal. 15.

21 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1990), Cet. VI, Hal. 119

(25)

Sedangkan menurut Wina Sanjaya menyatakan bahwa metode ini ialah upaya untuk menginplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.22

Di dalam QS.al-Nahl (16): 125 juga membahas tentang metode yang berbunyi :















































Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Untuk QS An-Nahl (16): 125 di atas, adalah berkenaan dengan kewajiban belajar dan pembelajaran serta metodenya.

Dalam ayat ini, Allah swt menyuruh dalam arti mewajibkan kepada Nabi Muhammad SAW. dan umatnya untuk belajar dan mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang baik (billatiy hiya ahsan). Dari ayat ini, sehingga dapat dikorelasikan dengan

22 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2013), Cet. X, Hal. 126

(26)

17

ayat-ayat lain yang mengandung interpretasi tentang metode belajar dan pembelajaran berdasarkan konsep qur’ani.23

Dari pengertian metode yang telah dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa metode merupakan cara atau alat yang digunakan seorang guru untuk memudahkan siswanya dalam memahami pelajarannya.

b. Defenisi role playing

Role playing adalah sebuah permainan dalam sebuah cerita dengan tujuan dan cerita yang jelas sedangkan dalam dunia pendidikan, Role playing adalah suatu aktivitas pembelajaran terencana yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang spesifik.24

Sedangkan menurut Martinis Yamin role playing adalah metode pembelajaran sebagai bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa- peristiwa aktual, atau kejadian yang mungkin akan muncul pada masa mendatang.25

Role playing ialah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.

Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan peserta didik

23 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, hal. 421

24 Hisyam Zaini, Bermawy Munthe dan Sekar Ayu Aryani, Strategi pembelajran Aktif,…,Hal. 98.

25 Ibid, h. 161

(27)

dengan memerankan diri sebagai tokoh hidup atau benda mati.

Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, tergantung pada apa yang diperankan. Pada metode role playing, titik tekannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indra kedalam suatu situasi permasalahan yang secara nyata dihadapi. Siswa diperlakukan sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.

Sebagaimana dalam surat Al-Maidah ayat 31 yang berbunyi:





















































Artinya: Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.26

26 Depertemen Agama RI 2004, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Jakarta: Pustaka Jaya Ilmu), Hal. 112

(28)

19

Penjelasan ayat: Dari QS. Al-Maidah ayat 31 ini didalamnya terdapat pembelajaran Role Playing yaitu Allah memberikan pengajaran kepada Qabil yang sedang bingung bagaimana cara menguburkan mayat saudaranya (Habil) yang telah dibunuhnya dengan perumpamaan dua ekor burung gagak yang sedang berkelahi dan salah satu dari burung gagak tersebut mati, lalu burunggagak yang lain menggali-gali tanah untuk menutup mayat temannya itu. Sehingga Qabil pun mengetahui apa yang harus ia lakukan.

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa role playing merupakan salah satu metode yang dapat dipergunakan oleh pendidik dalam pembelajaran yang dimana peserta didik menjadi aktif dalam memainkan suatu peran tertentu, sehingga pada dasarnya Role playing merupakan salah satu sarana yang membantu peserta didik untuk belajar. Melalui kegiatan bermain peran, peserta didik berusaha untuk menyelidiki dan akan mendapatkan pengalaman yang kaya, baik pengalam dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan disekitarnya. 27

27 Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), Cet. I, Hal. 5.

(29)

Role playing membantu peserta didik menerima karakter, perasaan dan ide-ide orang lain dalam suatu situasi yang khusus.

Role playing memungkinkan pesera didik mengidentifikasi situasi- situasi dari dunia nyata dengan ide-ide orang lain. Identifikasi ide- ide tersebut mungkin adalah cara untuk mengubah perilaku dan sikap sebagaimana peserta didik menerima karakter orang lain.28 Metode ini efektif untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan hubungan antar pribadi dan dapat menciptakan dan meningkatkan suatu lingkungan keterampilan dalam hubungan antar manusia.

Chorsini dan Ahmad Munjin menyatakan bahwa role playing dapat digunakan sebagai :

a. Alat untuk mendiagnosis dan mengerti seseorang dengan cara mengamati perilakunya saat memerankan peran dengan spontan situasi-situasi atau kejadian yang terjadi dalam kehidupan sebenarnya.

b. Sebagai metode latihan untuk melatih keterampilanketerampilan tertentu, melalui keterlibatan mereka secara aktif dalam proses role playing, anggota kelompok dapat mengembangkan pengertian-pengertian baru dan mempraktekkan keterampilan- keterampilan baru.

c. Sebagai media pengajaran, melalui proses modelling anggota kelompok dapat belajar dengan lebih efektif keterampilan-

28 Oemar Alauddin Haddade, Loc. Cit.

(30)

21

keterampilan hubungan antar pribadi dengan mengamati berbagai macam cara dalam memecahkan masalah.29

Pada Permainan ini pada umumnya dimainkan lebih dari satu orang, tergantung pada apa yang diperankan. Titik tekandari pelaksanaan metode Role playing terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indra kedalam suatu situasi permasalahan yang secaranyata dihadapi. Dalam metode ini, peserta didik akan menemui bermagai macam pengakaman yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik juga dituntut untuk mengeluarkan pendapatnya pada waktu penyelesaian drama, dan disamping itu juga mereka dapat mengembangkan daya fantasinya dalam peran yang diinginkan.30

2. Tujuan Role playing

Proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk:

a. Menggali perasaannya.

b. Memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh terhadap sikap, nilai, dan persepsinya.

c. Mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah.

29 Ahmad Munjin dan Lilik Nur, Metode Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: PT Refika Aditama, 2013), Hal. 77-78

30 Rumayulis, Metedologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia,2014), Hal.

490

(31)

d. Mendalami mata pelajaran dengan berbagai macam cara. Hal ini akan bermanfaat bagi peserta didik pada saat terjun kemasyarakat kelak karena siswa akan mendapatkan diri dalam situasi dimana begitu banyak peran terjadi, seperti dalam lingkungan keluarga, bertetangga, lingkungan kerja.

e. Mengajarkan siswa untuk bersimpati dengan khasus yang akan dibahas dalam proses pembelajaran dikelas.31

Selain itu, menurut Hamzah B. Uno, tujuan dari role playing adalah untuk membantu siswa menemukan makna (jati diri) di dunia sosial dan memecahkan dilemma dengan bantuan kelompok. Artinya, dengan melalui bermain peran, siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan orang lain.32

Role Playing adalah suatu aktifitas pembelajaran yang terencana yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang spesifik. Role playing berdasarkan pada tiga aspek utama dari pengalam peran dalam kehidupan sehari-hari:

1) Mengambil peran (role taking) yaitu tekana ekspresi-ekspresi sosial terhadap pemegang peran.

2) Membuat peran (role-making) yaitu kemampua pemegang peran untuk berubah secara dramatis dari suatu peran ke peran yang

31 Lif Khoiru Ahmad, dkk, Strategi Pembelajaran Beriorientasi KTSP, (Jakarta: PT Prestasi Pustaka Raya, 2011), Hal. 34.

32 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif … , Hal, 26

(32)

23

lain dan menciptakan serta memodifikasi peran sewaktu-waktu diperlukan.

3) Tawar menawar peran (role negotiation) yaitu tingkat dimana peran-peran dinegosiasikan dengan pemegang-pemegang peran yang lain dalam perameter dan hambatan interaksi sosial.

Dalam proses role playing peserta didik diminta untuk:

a. Mengendalikan suatu peran khusus apakah mereka sendiri atau sebagai orang lain.

b. Masuk dalam situasi yang bersifat simulasi atau skenartio yang dipilih berdasar relevansi dengan pengetahuan yang sedang dipelajari.

c. Bertindak persis sebagaiman pandangan mereka terhadap orang yang diperankan dalm situasi-situasi tertentu ini, dengan menyepakati untuk bertindak seolah-olah peran-peran tersebut adalah peranperan mereka sendiridan bertindak berdasarkan asumsi tersebut.

d. Menggunakan pengalaman-pengalaman peran yang sama pada masa lalu untuk mengisi gap yang hilang dalam satu peran singka yang diperankan.

Dalam role playing, siswa dapat menggali perasaannya sendiri untuk medapatkan maknnya terhadap materi/mata pelajaran yang sulit bagi dirinya. Selain itu, dapat mengembangkan imajinasi dan untuk menghilangkan kebosanan siswa selama belajar serta

(33)

mendapatkan banyak manfaat yang diperolehnya ke dilingkungan sekitarnya.

Tujuan bermain peran, sesuai dengan jenis-jenis belajar adalah sebagai berikut :

1) Belajar dengan berbuat 2) Belajar dengan peniruan

3) Belajar melalui balikan, para pengamat mengomentari (menanggapi) perilaku para pemain/pemegang peran yang telah ditampilkan.

4) belajar melalui penilaian.33

Role playing dapat membuktikan diri sebagai suatu metode pembelajaran yang ampuh, dimana saja terdapat peran-peran yang dapat didefenisikan dengan jelas, yang memiliki interaksi yang mungkin dieksplorasi dalam keadaan yang bersifat simulasi (sekenario).34

3. Prosedur penerapan Role Playing

Alamsyah Said mengatakan bahwa ada prosedur penerapan bermain peran terdiri atas 4 langkah yaitu:

a. Pilih materi yang akan digunakan dalam bermain peran.

b. Buat aturan main dan tentukan profesi yang akan diperankan peserta didik.

33 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2003), Hal. 199.

34Depdikbud. 1999. Bahan Pelatihan Pendidikan Tindakan (Action Research), (Jakarta:Dirjen Dikdas dan Dikmenum)

(34)

25

c. Pilih 1 peserta didik lain, di mana tugas peserta didik tersebut sebagai pengamat dan mencatat kejadian penting dalam aktivitas peran.

d. Siapkan media dan alat yang akan digunakan (media dengan materi ajar).35

4. Langkah-langkah metode role playing

Istirani mengatakan bahwa metode role playing dapat disusun dalam beberapa langkah-langkah sebagai berikut:

1. Guru menyusun/menyiapkan scenario yang akan ditampilkan 2. Menunjuk beberapa peserta didik untuk mempelajarai scenario

dalam waktu beberapa hari sebelum KMB

3. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai 4. Guru membentuk kelompok peserta didik yang anggotanya 5 orang 5. Memanggil para peserta didik yang sudah ditunjuk untuk

melakonkan scenario yang sudah dipersiapkan

6. Masing-masing peserta didik berada dikelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan.

7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing kelompok peserta didik diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan teman- temannya.

8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya 9. Guru memberikan kesimpulan secara umum

35 Alamsyah Said, dkk, 95 Strategi Mengajar Multiple Intelligences, (Jakarta: PT. Fajar Interpratama Mandiri, 2015 ), cet. Ke-1, hal. 248

(35)

10. Evaluasi 11. penutup.36

Hamzah B. Uno mengatakan bahwa prosedur role playing terdiri atas Sembilan langkah yang yang dikutib dari karangan buku Istarani dengan judul model pembelajaran yaitu :

1. Pemanasan. Guru berupaya memperkenalkan siswa pada permasalahan yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajari.

2. Memilih pemain (partisipan). Siswa dan guru membahas karakter dan setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkan dalam pemilihan pemain ini, guru dapat memilih siswa yang sesuai untuk memainkan atau siswa sendiri yang mengusulkan akan memainkan siapa dan mendeskripsokan peran-perannya.

3. Menata panggung. Dalam hal ini guru mendiskusikan dengan siswa di mana dan bagaimana peran itu akan dimainkan. Apa saja kebutuhan yang diperlukan. Penataan panggung ini dapat sederhana atau kompleks.

4. Guru menunjuk beberapa siswa sebagai pengamat. Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa pengamat di sini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran. Untuk itu, walaupun mereka ditugaskan sebagai pengamat, guru sebaiknya

36 Istirani, 58 Model Pembelajaran Inovatif, (Medan: Media Persada, 2014), cet. Ke-3, Hal 75-76

(36)

27

memberikan tugas peran terhadap mereka agar dapat terlibat aktif dalam permainan peran tersebut.

5. Permainan peran dimulai. Permainan peran dilaksanakan secara spontan. Pada awalnya akan banyak siswa yang masih bingung memainkan perannya atau bahkan tidak sesuai dengan peran yang seharusnya ia lakukan. Bahkan, mungkin ada yang memainkan peran yang bukan perannya. Jika permainan peran sudah terlanjur jauh keluar jalur, guru dapat menghentikannya untuk tidak jadi masalah.

6. Guru bersama siswa mendiskusikan permainan tadi dan melakukan evaluasi terhadap peran-peran yang dilakukan.

7. Permainan peran ulang. Seharusnya, pada permainan peran kedua ini akan berjalan lebih baik. Siswa dapat memainkan perannya lebih sesuai dengam skenario.

8. Dalam diskusi dan evaluasi pada pembahasan diskusi dan evaluasi lebih diarahkan pada realitas.

9. Siswa diajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainan peran yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan membaut kesimpulan.

Berdasarkan langkah-langkah di dalam pemakaian metode Role Playing yang telah diuraikan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa langkah-langkah dalam menerapkan metode ini secara garis besar hampir sama. Hal tersebut oleh peneliti dijadikan acuan dalam

(37)

penyusunan langkah-langkah penerapan metode Role Playing dalam pembelajaran.

4. Kelebihan dan kekuranganRole playing

Sedangkan menurut Istarani, keunggulan metode bermain peran adalah:

a. Kelas akan menjadi lebih hidup karena menarik perhatian para siswa.

b. Peserta didik terlatih untuk dapat mendramatisasikan sesuatu dan juga melatih keberanian mereka.

c. Peserta didik dapat menghayati suatu peristiwa, sehingga mudah faham dan mengambil suatu kesimpulan berdasarkan penghayatan.

d. Siswa dilatih menyusun buah pikiran secara teratur.

e. Bermain peran dan permainan peranan menimbulkan diskusi yang hidup.37

Kelebihan-kelebihan yang lain dari metode Role playing adalah:

a. Peserta didik akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif.

b. Peserta didik melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan diperankan.

c. Bakat pada peserta didik akan dapat dipupuk, sehingga akan dimungkinkan muncul atau tumbuh bibit seni dari sekolah.

37 Istarani, 58 Model Pembelajaran Inovatif, ..., hal. 71-74

(38)

29

d. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.

e. Peserta didik memperoleh kebiasaan untuk menerima dan berbagi tanggung jawab dengan sesama.

f. Bahasa lisan peserta didik dapat dibina menjadi bahasa yang baik, agar mudah dipahami orang lain.38

Selanjutnya juga dikemukakan oleh Menurut Aris Shoimin kelebihan dari metode role playing sebaga berikut:

a. Peserta didik bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh

b. Permainan merupakan penemuan yang mudah dantepat dgunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.

c. Guru dapat mengevaluasi pengalam peserta didik melalui pengamatanpada waktu melakukan permainan.

d. Berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan.

e. Membangkitkan gairah dan semangat optimis dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi.

f. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan peserta didik sendiri.

38 Syaiful Bahri Djamarah dan Asmaw Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineke Cipta,2006), Hal. 89-90

(39)

g. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan professional siswa.39

Metode Role playingjuga mempunyai kekurangan, yaitu:

a. Memerlukan waktu yang relatif panjang/lama.

b. Memerlukan kreatifitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak pendidik maupun peserta didik.

c. Kebanyakan peserta didik yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk mempraktekkan suatu adegan tertentu.

d. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.

e. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan role playing mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi juga pembelajaran yang telah dirumuskan bisa saja tidak tercapai.

Ada beberapa yang harus diperhatikan oleh pendidik dalam menerapkan metode role playing (bermain peran) dalam pembelajaran khususnya mata peajaran Perndidikan Agama Islam, yaitu pemilihan materi yang relevan, memberikan naskah drama kepada peserta didik minimal 3 hari sebelum mereka bermain peran agar mereka memahami naskah yang akan ditampilkan tersebut. Dan juga pendidik harus membatasi masalah yang yang akan dipecahkan dalam drama tersebut agar sesuai dengan waktu yang tersedia. 40

39 Shoimin, metode pembelajaran, (Jakarta: PT Rineke Cipta, 2014) Hal162-163

40Ibid hlm 163.

(40)

31

5 Bentuk-bentuk Role Playing

Metode role playing terdiri dari beberaqpa bentuk, seperti permainan bebas, melakonkan suatu cerita dan juga ada yang sandiwara boneka dan wayang.

a. Permainan bebas.

Ketika peserta didik bermain secara bebas tampak bahwa mereka melakukan berbagai kegiatan secara spontan, menanggapi dunia sekitarnya dengan alam fantasi dan imajinasinya sendiri- sendiri dan permainan itu semata-mata untuk memenuhi hasrat terpendam tanpa maksud-maksud mengundang orang lain untuk melihat “pertunjukan” yang mereka sajikan.

b. Melakonkan suatu cerita.

Bentuk lain yang bisa juga didramatisasikan ialah melakonkan suatu cerita atau mempertunjukkan suatu tingkah laku tertentu yang disimak dari suatu cerita. Caranya dapat bermacam- macam. Cerita itu dibacakan keras-keras baik oleh guru maupun oleh salah seorang peserta didik dan kemudian peserta didik mencoba menirukan tingkah laku atau perbuatan yang diceritakan melalui pantonim.

c. Sandiwara boneka dan wayang.

Peserta didik juga dapat secara bebas memainkan boneka atau wayang yang dibawa mereka atau yang telah disediakan atau

(41)

disekolah. Ide-ide cerita dapat diransang melalui berbagai media seperti: cerita guru, cerita dari buku, radio, televisi, maupun film.

6. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Role Playing

Menurut Istarani ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelakasanaan metode role playing yaitu sebagai berikut:

a. Masalah yang dijadikan tema cerita hendaknya dialami oleh sebagian besar peserta didik-murid.

b. Penentuan pemeran hendaknya cara sukarela dan motivasi dari guru.

c. Jangan terlalu banyak “disutradarai” biarkan peserta didik mengembangkan kreatifitas dan spentanitas.

d. Kesimpulan diskusi dapat diresumekan oleh guru.

e. Bermain peran bukanlah sandiwara atau drama biasa melainkan merupakan peranan situasi sosial yang ekspresif dan hanya dimainkan satu babaj saja.41

7. Peranan guru\pimpianan

Guru atau pimpinan latihan mempunyai peranan yang penting.

Pada awal latihan, guru\pimpinan memberikan penjelesan tentang peran-peran yang akan ditampilkan dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh latihan itu.

41 Istarani, 58 Model Pembelajaran Inovatif, ..., hal. 78-82

(42)

33

Guru\pimpinan juga perlu mengusahakan suasana bermain yang menyenangkan dan mencegah timbulnya kecemasan atau praduga yang jelek. Selain itu pada akhir latihan guru\pimpinan perlu melakukan umpan baik dan menarik (destruktif) hendaknya dicegah, dalam hal ini guru\pimpinan bertindak sebagai wasit.42

B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 20 menyebutkan pembelajaran merupakan proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Muhammad Zairi juga menyebutkan bahwa pembeajaran merupakan keseluruhan pertautan kegiatan yang memungkinkan dan berkenaan dengan terjadinya interaksi belajar mengajar. Jadi pembelajaran merupakan suatu kejadian proses belajar mengajar dalam sebuah lingkungan belajar antara guru dengan peserta didik.

Beberapa ciri-ciri pembelajaran yang perlu diperhatikan guru adalah sebagai berikut:

a. Mengaktifkan motivasi.

b. Memberitahukan tujuan belajar.

c. Merancang kegiatan dan perangkat pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat terlihat secara aktif, terutama secara mental.

42Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta:

PT. Bumi Aksara, 2014), cet. Ke-11, hal. 199-200

(43)

d. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang berfikir peserta didik.

e. Memberikan bantuan terbatas kepada peserta didik tanpa memberikan jawaban final.

f. Menghargai hasil kerja peserta didik dan memberi umpan balik.

g. Menyediakan aktifitas dan kondisi yang memungkinkan terjadinya konstruksi pengetahuan.

Pembelajaran merupakan suatu proses antara guru dengan siswa, baik secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media.43

Sebuah proses pembelajaran ialah proses yang di dalamnya akan terdapat interaksi antara guru dengan siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai suatu tujuan belajar. Sedangkan tujuan pembelajaran sebenarnya adalah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan.44 Tujuan pembelajaran merupakan titik awal yang sangat penting dalam pembelajaran, sehingga baik arti maupun jenisnya perlu dipahami betul oleh setiap guru maupun calon guru. Tujuan pembelajaran merupakan komponen utama yang harus dirumuskan oleh guru dalam

43 Rusman, Model-Model Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Press, 2012) Hal 144

44 Supardi, Sekolah Efektif, Konsep Dasar & Pratiknya, (Jakarta : Rajawali Pers, 2013), ed. 1, hal. 26-27

(44)

35

pembelajaran. Mau di bawa kemana peserta didik, apa yang harus dimiliki oleh siswa, semuanya tergantung pada tujuan yang ingin dicapai.45

1. Defenisi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dipahami sebagai suatu prongram pendidikan yang menanamkan nilai-nilai Islam melalui proses pembelajaran, baik dikelas maupun diluar kelas yang dikemas dalam bentuk mata pelajaran yang diberi nama Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam kurikulum nasional, mata pelajaran PAI meruakan mata pelajaran wajib pada sekoah Umum mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi.46 Pendidikan agama Islam (PAI) adalah satu mata pelajaran yang bertujuan untuk membina, membimbing peserta didik secara maksimal.47

Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan usaha mengkaji ilmu secara terencana untuk membentuk pererta didik menjadi manusia beriman, serta dengan sadar dan tulus menerapkan nilai-nilai islam dalam segala sektor kehidupan yang sedang atau akan ditempuhnya.

Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam yaitu usaha sadar yang dilakukan kepada peserta didik untuk meyakini dan mengahayati dalam mengamalkan

45 https://digilib.uinsby.ac.id>... PDF diakses pada tanggal 12-03-2020, jam : 2151

46 Sysrifuddin, Pendidikan Agama Islam Dan Budi Pekerti, …,Hal 14.

47 Irna Andriani. Implementasi pendekatan Scintufic pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar.Vol 2, No2, Juli-Desember 2017. Hlm 147

(45)

agama Islam melalui bimbingan atau pengajaran yang mana semua itu memerlukan upaya yang sadar dan benar-benar dalam pengamalannya yang memperhatikan tuntunan yang ada di dalam agama Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.48

2. Fungsi PAI

Fungsi pendidikan agama islam sebagai mata pelajaran yang masih dipertahankan dalam sistem Pendidikan Nasional diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik, sehingga menjadi manusia muslim yang bertakwa (dalam arti bertaqwa kepada Allah SWT) dan sekaligus menjadi warga Negara Indonesia yang toleran, menerima kondisi multi kultural, serta menolak segala bentuk penindasan yang merendahkan harkat kemanusiaan karna perbedaan.49

Adapun fungsi Pendidikan Agama Islam ialah pengembangan (meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik), pengajaran (menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional), penyesuain (menyesuailkan diri dengan lingkungan sesuai dengan ajaran islam), pembiasaan, (melatih peserta didik untuk selalu mengamalkan ajaran Islam, menjalankan ibadah dan berbuat baik).

48 Rifki Amin, Pengembangan Pendidikan Agama Islam, (Yongyakarta: PT LKIS Printing Cemerlang, 2015) Hal 4-5

49Salmiwati. Urgensi Pendidikan Agama Islam Dalam Pengembangan Nilai-Nilai Multikultural. Jurnal Al-Ta’lim, jilid 1, Nomor 4 Februari 2013, Hal 336

(46)

37

Namun, yang paling penting adalah memberikan pedoman hidup bagi siswa untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.

3. Tujuan PAI

Tujuan Pendidikan Agama Islam ialah sesuatu yang diharapkan tercapai setalah sesuatu usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya bertahap dan betingkat. Tujuan Pembelajaran PAI, yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran Islam dengan baik dan sempurna sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam keseluruhan kehidupan dalam rangka mencapai kebahagian dunia wal akhirat.50

Tujuan dari pendidikan agama Islam bukanlah semata-mata untuk memenuhi kebutuhan intelektual saja, melainkan segi penghayatan juga pengalaman serta pengaplikasiannya dalam kehidupan dan sekaligus menjadi pegangan hidup. Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Selama hidupnya, dan mati pun tetap dalam keadaan muslim.

50Muhiddinur Kamal., Pengembangan Materi PAI Berwawasan Multikultural Sebagai Upaya Menanamkan Nilai-Nilai Keberagaman Siswa SMKN 1 Ampek Nagari Kabupaten Agam.

Vol. 13, No. 1, Februari 2018 .hlm 192.

(47)

Pendapat ini didasari firman Allah SWT, dalam Surat Ali- Imran ayat 102.





























Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali- kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.

Tujuan Pendidikan Agama Islam tidak hanya menyangkut masalah keakhiratan akan tetapi juga masalah-masalah yang berkaitan dengan keduniawian. Dengan adanya keterpaduan ini, pada akhirnya dapat membentuk manusia sempurna (insan kamil) yang mampu melaksanakan tugasnya baik sebagai seorang Abdullah maupun Khalifatullah. Yaitu manusia yang menguasai ilmu mengurus diri dan mengurus sistem.51

Sedangkan Pendidikan Agama Islam disekolah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

51 Syamsul Huda Rohmadi, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta: Araska, 2012), hal. 148-149

(48)

39

Jadi, dapat disimpulkan tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) disini akan mampu memprediksikan kebutuhan- kebutuhan dan setiap pendidikan agama islam dalam menyiapkan sumberdaya yang diperlukan selaras dengan kebutuhan siswa, orang tua, maupun masyarakat.52

4. Ruang Lingkup PAI

Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam juga identik dengan aspek-aspek pengajaran Agama Islam karena materi yang terkandung didalamnya merupakan perpaduan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Apabila dilihat dari segi pembahasannya maka ruang lingkup Pendidikan Agama Islam yang umum dilaksanakan di sekolah adalah:

a. Pengajaran keimanan, pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar tentang aspek kepercayaan, dalam hal ini tentunya kepercayaan menurut ajaran Islam, inti dari pengajaran ini adalah tentang rukun Islam.

b. Pengajaran akhlak, pengajaran akhlak adalah bentuk pengajaran yang mengarah pada pembentukan jiwa, cara bersikap individu pada kehidupannya, pengajaran ini berarti proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajarkan berakhlak baik.

52 Hendra Akhdiyah, Pendidikan Islam, (Bandung: Alfabeta, 2009), Hal. 24

Referensi

Dokumen terkait