• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016 ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016 ISSN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU PENCARIAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU

Tumiur Sormin*, Yuliati Amperaningsih*

*Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang

Indonesia menduduki peringkat empat terbanyak di dunia untuk penderita tuberkulosis (TB) paru, pada tahun 2013 prevalensi sebanyak 297/100.000 penduduk, dimana kasus baru setiap tahun mencapai 460.000 kasus.Di Provinsi Lampung diketahui bahwa angka penemuan kasus baru tertinggi terjadi di Kabupaten Bandar Lampung, yakni di wilayah kerja Puskesmas Panjang. Penjaringan suspek TB memegang peranan yang sangat penting pada upaya penanggulangan penyakit TB dalam rangka memutus mata rantai penularannya dan salah satu hal yang penting diperhatikan adalah pola pencarian pengobatan.

Ketidaktepatan dalam pencarian pengobatan dapat mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita TB kronis yang merupakan sumber penularan dimasyarakat. Hasil presurvei 10 orang penderita TB paru dan diperoleh hasil bahwa 4 orang mengatakan tidak rutin berobat, sedangkan 3 orang mengatakan tidak mengetahui akibatnya jika berobat tidak rutin ke tenaga kesehatan. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Panjang Bandar Lampung. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian seluruh penderita TB paru yang datang berobat ke Puskesmas Panjang Bandar Lampung sebanyak 60 orang. Pengambilan sampel dengan accidental sampling, uji statistik yang digunakan adalah Chi Square. Hasil penelitian didapatkan 34 (56,70%) responden pengetahuan baik dan 26 (43,30%) responden pengetahuan kurang, 34 (56,70%) responden (56,70) sikap positip dan 26 (43,30%) responden sikap negatif terhadap penyakit TB. Sebanyak 38 (63,30%) responden mencari pengobatan ke tenaga kesehatan dan 22 (36,70%) reponden mencari pengobatan ke non tenaga kesehatan. Uji statistik pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan dihasilkan ρ value (0,007) dan sikap dengan perilaku pencarian pengobatan dihasilkan ρ value (0,001), artinya ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencarian pengobatan. Disarankan Menyebarluaskan informasi tentang TB paru yang menarik (leaflet).

Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Pengobatan, TB Paru

LATAR BELAKANG

Penyakit menular di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan kesakitan, kematian, dan kecacatan yang tinggi sehingga perlu

dilakukan penyelenggaraan

penanggulangan melalui upaya pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan yang efektif dan efisien (Kemenkes RI, 2014).

Indonesia menduduki peringkat empat terbanyak di dunia untuk penderita TB, prevalensi pada tahun 2013 ialah 297/100.000 penduduk, Kasus baru setiap tahun mencapai 460.000 kasus (Aditama, 2014). Angka penemuan kasus baru tertinggi di Provinsi Lampung adalah di Kabupaten Bandar Lampung, khususnya di

Puskesmas Panjang. Penjaringan suspek TB memegang peranan yang sangat penting pada upaya penanggulangan penyakit TB dalam rangka memutus mata rantai penularannya dan salah satu hal yang penting diperhatikan adalah pola pencarian pengobatan (Rye,2009;

Nizar,2010). Ketidaktepatan dalam pencarian pengobatan dapat mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita TB kronis yang merupakan sumber penularan dimasyarakat (Manaf, 1999 dalam Gaffar, 2000).

Penelitian Gaffar, 2000 tentang

faktor-faktor yang berhubungan dengan

pencarian pengobatan bagi tersangka

penderita TB paru di Kecamatan Banggai,

bahwa penderita tersangka TB paru tidak

mencari pengobatan (8,3%), mengobati

(2)

sendiri (16,3%), mencari pengobatan tradisional (9%), mencari pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan swasta (45,5%), dan mencari pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah (28,7%).

Melalui Riskesdas, 2010 diperoleh hasil cukup memprihatinkan dengan perilaku suspek TB mengatasi gejala TB yang dialaminya. Perilaku yang tetap meneruskan pengobatan ke tenaga kesehatan (32,3%), pengobatan program TB (11,1%), beli obat di apotik/toko obat ( 31,9%), minum obat tradisional (7,8%), bahkan ada yang tidak diobati (16,9%).

Alasan suspek TB tidak mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan, yang paling besar karena menganggap penyakit TB dapat sembuh sendiri (38,2%), tidak ada biaya (26,4%), anggapan penyakit tidak berat (16,3%), akses ke fasilitas kesehatan sulit (4,4%), tidak ada waktu (5,7%), dan yang lainnya (9,0%) (Kemenkes, 2010).

Hasil pre-survey peneliti ke Puskesmas Panjang, diperoleh bahwa 4 orang mengatakan tidak rutin berobat, mereka datang berobat jika dirasakan bertambah berat batuknya dan tidak sembuh dengan obat yang dibeli di toko obat. Sedangkan 3 orang mengatakan tidak mengetahui akibatnya jika berobat tidak rutin ke tenaga kesehatan.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencarian pengobatan pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2015.

METODE

Rancangan Penelitian dalam penelitian ini adalah korelatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru di

Puskesmas Panjang Bandar

Lampungdengan pendekatan cross sectional. Dilakukan dengan menggunakan pendekatan observasi dan pengumpulan data sekaligus pada waktu yang

bersamaan. Menggunakan analisis data univariat (distribusi frekuensi) dan analisis bivariat untuk menentukan hubungan antar variabel (Alimul, 2011).

HASIL

Analisis Univariat

Tabel 1: Distribusi Responden Berdasar- kan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Pencarian Pengobatan Pasien TB Paru

Variabel f %

Pengetahuan

Baik 34 56,7

Kurang 26 43,3

Jumlah 60 100,0

Sikap

Positif 34 56,7

Negatif 26 43.3

Jumlah 60 100.0

Perilaku Pencarian Pengobatan

Tenaga kesehatan 38 63,3 Non tenaga kesehatan 22 36,7

Jumlah 60 100,0

Pada tabel 1 diketahui bahwa responden pengetahuan baik sebanyak 34 (56,7%) responden pengetahuan kurang, 26 (43,3%) pengetahuan kurang, 34 (56,7%) responden sikap positip, 26 (43,3%) sikap negatif terhadap TB paru.

Sebanyak 38 (63,3%) responden mencari pengobatan ke tenaga kesehatan dan 22 (36,7%) responden mencari pengobatan ke tenaga non nakes.

Analisis Bivariat

Tabel 2: Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pencarian Pengobatan

Pengetahuan

Perilaku Pencarian

Pengobatan Total Nakes Non Nakes

Baik 27

(79,4%)

7 (20,6%)

34 (100%)

Kurang 11

(42,3%)

15 (57,7%)

26 (100%)

Total 38

(63,3%)

22 (36,7)

60 (100%) p-value=0,007 OR=5,26 (1,685-16,423)

(3)

Sebanyak 27 (79,4%) responden yang pengetahuannya baik, perilaku pencarian pengobatan dilakukan ke petugas kesehatan. Diantara responden yang pengetahuannya kurang, hanya ada 11 orang (42,3%) yang perilaku pencarian pengobatan dilakukan ke petugas kesehatan. Nilai P=0,007, artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Panjang Kotamadya Bandar Lampung.

Nilai OR=5,26, artinya responden yang pengetahuannya baik mempunyai peluang 5,26 kali untuk berperilaku mencari pengobatan ke petugas kesehatan

Tabel 3: Hubungan Sikap dengan Perilaku Pencarian Pengobatan

Sikap

Perilaku Pencarian

Pengobatan Total Nakes Non Nakes

Positif 28

(82,4%)

6 (17,6%)

34 (100%)

Negatif 10

(38,5%)

16 (61,5%)

26 (100%)

Total 38

(63,30%)

22 (36,7%)

60 (100%) p-value=0,001 OR=7,46 (2,285-24,395)

Sebanyak 28 orang (82,40%) yang sikapnya positif, perilaku pencarian pengobatan dilakukan ke petugas kesehatan. Diantara responden yang sikapnya negaatif, hanya ada 10 orang (38,50%) yang perilaku pencarian pengobatan dilakukan ke petugas kesehatan. Nilai P=0,001, artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Panjang Kotamadya Bandar Lampung. Nilai OR=7,467, artinya responden yang sikapnya positip, mempunyai peluang 7,467 kali untuk berperilaku mencari pengobatan ke petugas kesehatan

PEMBAHASAN

Perilaku Pencarian Pengobatan Pasien TB Paru

Hasil penelitian yang diperoleh bahwa sebanyak 38 orang (63,30%) reponden pergi mencari pengobatan ke tenaga kesehatan (baik swasta maupun pemerintah). Penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Wulandari, leni, 2012 tentang peran pengetahuan terhadap perilaku pencarian pengobatan penderita suspek TB paru di Indonesia,yang mendapatkan proporsi responden yang mencari pengobatan ke tenaga kesehatan sebanyak 76,5%.

Penelitian yang dilakukan oleh Bappeda Sumatera Barat, 2011 tentang pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tentang penyakit tuberkulosis paru di kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat, masyarakat menyatakan bahwa ketika merasakan adanya gejala, biasanya mereka membeli obat di warung dengan alasan penyakit masih ringan. Jika kondisinya tidak ada perubahan/parah, biasanya mencari pengobatan ke puskesmas atau ke tenaga pengobat tradisional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

cukup besarnya responden yang berobat ke

tenaga kesehatan. Penelitian terkait yang

diketahui bahwa pada akhirnya masyarakat

akan berobat ke tenaga kesehatan juga

ketika menyadari penyakitnya tidak

sembuh dengan pengobatan di luar tenaga

kesehatan. Dalam hal ini perlu dikaji lebih

lanjut, tenaga kesehatan apa yang banyak

dikunjungi pasien TB paru, apakah ke

institusi pemerintah, khususnya

puskesmas, rumah sakit, swasta, dokter

praktik atau yang lainnya. Jadi, jika semua

pelayanan kesehatan terlibat dalam

program P2 TB secara aktif, maka

kemungkinan besar jumlah pasien TB paru

tidak semakin meluas di masyarakat,

pasien TB Paru mendapatkan pengobatan

yang baik sehingga dapat meningkatkan

angka kesembuhan pasien TB.

(4)

Pasien TB paru yang masih mencari pengobatan ke non tenaga kesehatan pada penelitian ini sebanyak 22 orang (36,70%).

Keadaan seperti ini juga terjadi di tempat lain, seperti hasil penelitian yang diperoleh oleh Thawaf, 2000 di Puskesmas DTP Jayagiri Lembang Bandung, bahwa penderita tersangka TB paru mencari pengobatan ke fasilitas non Puskesmas sebanyak 69,3%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien TB paru yang tidak berobat ke tenaga kesehatan lebih sedikit dibandingkan dengan yang berobat ke non tenaga kesehatan. Namun hal ini menunjukkan bahwa masih ada pasien TB paru yang tidak begitu mempermasalahkan penyakit yang dideritanya (dengan tidak melakukan apa-apa).

Pasien TB paru yang tidak segera ditangani, pada hal menderita TB paru positip, hal ini berbahaya karena penderita akan menjadi sumber penularan ke masyarakat di sekitarnya, dan akan menyebarkan penyakitnya ke masyarakat luas. Keadaan ini perlu mendapat perhatian untuk tetap melakukan penemuan kasus TB paru positip, sehingga penderita TB paru positip segera terjaring dan memperoleh pengobatan yang tepat Pengetahuan pasien TB paru

Hasil penelitian yang menggambarkan bahwa sebanyak 34 orang (56,70%) reponden dengan pengetahuan baik tentang penyakit TB paru. Menurut Riskesdas, 2010, penderita TB paru tidak berobat ke tenaga kesehatan tetapi mengobati penyakitnya dengan cara membeli obat di apotik/toko obat (31,9%), minum obat tradisional (7,8%), dan yang tidak diobati (16,9%) dengan alasan menganggap penyakit TB dapat sembuh sendiri (38,2%), tidak ada biaya (26,4%), anggapan penyakit tidak berat (16,3%), akses ke fasilitas kesehatan sulit (4,4%), tidak ada waktu (5,7%). Penelitian yang dilakukan oleh Bappeda Sumatera Barat, 2011 di kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat, bahwa masih ada masyarakat yang menganggap penyakit TB paru penyakit biasa, penyakit karena guna-guna/kiriman

dari perbuatan manusia dan setan. Hasil pre-survei peneliti kepada 10 pasien TB paru di Puskesmas Panjang, diketahui bahwa 3 orang (30%) mengatakan tidak rutin berobat, karena tidak mengetahui akibatnya jika berobat tidak rutin ke tenaga kesehatan.

Mengetahui bahwa responden yang berpengetahuan baik tentang TB paru adalah lebih banyak, maka diharapkan pasien TB paru dapat mengaplikasikannya dalam proses pengobatannya. Jika pengetahuan yang dimiliki penderita ini dapat diterapkan dengan baik terhadap proses pengobatannya, maka sangat memungkinkan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan penderita TB paru. Disisi lain penderita dengan pengetahuan yang baik dapat menjadi sumber pengetahuan terhadap penderita lainnya sehingga semakin banyak pasien yang meningkat pengetahuan dan menerapkannya dalam proses pengobatannya.

Pasien TB paru yang kurang pengetahuannya tentang TB paru sebanyak 26 orang (43,30%). Sebagaimana penelitian terkait lainnya, dimana pasien TB paru positip dengan pengetahuan yang kurang atau salah mengerti, dan tidak pernah mendapat informasi tentang penyakit yang dialaminya, hal ini berbahaya menularkan penyakitnya kepada orang lain. Terutama tentang ketidaktahuan pasien terhadap cara penularan dan pengobatan, sangat memungkinkan bahwa pasien TB paru ini menjadi sumber penularan bagi masyarakat disekitarnya. Pasien TB paru dengan pengetahuan kurang dapat berubah menjadi pengetahuan baik jika memperoleh kesempatan belajar dan memiliki motivasi ingin tahu tentang informasi-informasi penyakit TB paru. Jika pengetahuan mereka telah berubah menjadi baik, menjadi dasar menerapkan pengobatan penyakitnya dengan baik.

Sikap pasien TB Paru

Hasil penelitian yang digambarkan

pada tabel 2, terlihat bahwa sebanyak 34

orang (56,70%) responden dengan sikap

(5)

positip tentang pengobatan penyakit TB paru, artinya lebih banyak responden yang bersikap positip dari pada yang bersikap negatif tentang pengobatan TB paru. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Sumekar (2010) tentang perilaku masyarakat dalam pencarian pengobatan TB paru di Kecamatan Rajabasa, bahwa sikap mempengaruhi pencarian pengobatan TB paru dimana 61,25% responden sikapnya tidak baik dan mencari pengobatan selain puskesmas.

Melihat hasil penelitian bahwa terbanyak adalah dengan sikap positip tentang pengobatan TB paru. Keadaan ini menjadi dasar bagi pasien untuk berperilaku mencari pengobatannya ke petugas kesehatan/ puskesmas. Namun responden yang bersikap negatif juga masih tinggi, yaitu adalah 26 orang (43,3%). Pasien dengan sikap negatif, apabila tidak ditangani cepat maka sangat memungkinkan tidak menjalankan proses pengobatannya dengan baik. Terutama berbahaya jika mereka tidak teratur dalam pengobatan, sehingga dapat menjadi resisten terhadap pengobatan. Hal ini juga akan berbahaya menularkan penyakitnya kepada orang lain di sekitarnya. Pasien yang bersikap negatif dapat dirubah jika diberi obyek sikap yang menggugah emosi/perasaannya, seperti memberi kesempatan menyaksikan secara langsung dampak pengobatan yang tidak baik bagi penderita TB paru. Sehingga jika sebuah situasi mampu merubah sikap negatifnya, diharapkan pasien dapat menjalankan pengobatannya dengan baik ke petugas kesehatan

Hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan P-value sebesar 0,007<α (0,05), yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Panjang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari, Leni, 2012 bahwa lebih sedikit pasien yang berpengetahuan baik

yang tidak berobat ke tenaga kesehatan dibandingkan dengan pasien yang pengetahuannya kurang dan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan.

Sebagaimana teori yang dikemukakan oleh Green, 1980 dalam Notoatmodjo, 2010, bahwa pengetahuan adalah faktor penting mempermudah timbulnya perilaku seseorang. Sedangkan Andersen, 1974, Green, 1986, Suchman, 1965, dalam Samad, 2001, mengatakan bahwa pengetahuan tentang sakit dan penyakit dapat digunakan sebagai dasar kelompok bangsa untuk menggunakan pelayanan kesehatan, dengan asumsi bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit, maka akan semakin tinggi menggunakan layanan kesehatan. Demikian juga oleh WHO, 1990 dalam Notoatmodjo, 2010, salah satu alasan pokok seseorang berperilaku kesehatan karena adanya pemikiran dan perasaan (though and feeling), meliputi antara lain pengetahuan.

Hasil penelitian Gaffar, 2000 di Kecamatan Banggai Kabupaten Banggai Kepulauan, bahwa penderita TB paru yang mencari pengobatan ke fasilitas fasilitas kesehatan pemerintah hanya 27,81%. Hasil penelitian Thawaf, 2000 di Puskesmas DTP Jayagiri Lembang Bandung, terbanyak penderita tersangka TB paru mencari pengobatan ke fasilitas non puskesmas, yakni 69,3%.

Riskesdas Kemenkes RI, 2010, bahwa upaya penderita suspect TB mengatasi gejala TB, yaitu membeli obat di apotik/toko obat (31,9%), minum obat herbal/tradisional (7,8%), dan tidak diobati (16,9%) dengan alasan yang paling besar karena menganggap penyakit TB dapat sembuh sendiri (38,2%), dan anggapan penyakit tidak berat (16,3%).

Berdasarkan teori di atas, serta beberapa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya proses pembelajaran kepada penderita TB paru.

Melalui proses belajar, pasien TB paru

memperoleh pengetahuan baru yang dapat

meningkatkan pengetahuannya tentang TB

paru dan dengan pengetahuan yang

(6)

dimilikinya merupakan dasar bagi mereka mengaplikasikannya dalam perilaku pemencari pengobatannya ke petugas kesehatan

Hubungan antara sikap dengan perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan P-value sebesar 0,000<α (0,05), yang berarti ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku pencarian pengobatan pasien TB paru di Puskesmas Panjang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumekar tentang perilaku masyarakat dalam pencarian pengobatan TB paru di Kecamatan Rajabasa, bahwa sikap mempengaruhi pencarian pengobatan TB paru dimana 61,2% responden sikapnya tidak baik dan mencari pengobatan selain puskesmas.

Notoatmodjo, 2010, sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Jadi sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan yang lain. Sedangkan Baron dan Bryne, Myers dan Gerungan dalam Wawan dan Dewi, 2010 menyatakan bahwa ada tiga komponen yang membentuk sikap, yaitu komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu pertama komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap sikap. Kedua, komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.

Riskesdas Kemenkes RI, 2010, yang menemukan bahwa upaya penderita suspect TB mengatasi gejala TB, membeli obat di apotik/toko obat (31,9%), minum obat herbal/tradisional (7,8%), dan tidak diobati (16,9%). Alasan suspek TB tidak mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan,

yang paling besar karena menganggap penyakit TB dapat sembuh sendiri (38,2%), tidak ada biaya (26,4%), anggapan penyakit tidak berat (16,3%), akses ke fasilitas kesehatan sulit (4,4%), tidak ada waktu (5,7%), dan yang lainnya (9,0%).

Berdasarkan teori dan hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa betapa pentingnya mempengaruhi komponen kognitif (komponen perseptual) pasien TB paru yang belum mencari pengobatan kepada petugas kesehatan.

Pengaruh yang perlu dilakukan terhadap pandangan, keyakinan yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana penderita TB paru mempersepsi pengobatan kepada tenaga kesehatan. Mempengaruhi komponen afektif (komponen emosional), yaitu yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang penderita TB paru terhadap pengobatan tenaga kesehatan, karena rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif yang dapat mempengaruhi penderita TB paru mencari pengobatan kepada tenaga kesehatan

KESIMPULAN

Terbanyak adalah pasien TB paru dengan perilku pencarian pengobatan ke tenaga kesehatan,yakni 38 orang (63,30%).

Terbanyak adalah pasien TB paru dengan pengetahuan baik, yakni 34 orang (56,70%). Terbanyak adalah pasien TB paru dengan sikap positip, yakni 34 orang (56,70%)

Ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan penderita TB paru (P-value=0,007 dan OR=5,26). Ada hubungan antara sikap dengan perilaku pencarian pengobatan penderita Tb paru (p-value=0,001 dan OR

=7,467)

Disarankan agar Puskesmas Panjang, pro-aktif menemukan kasus-kasus baru TB paru positip, dan mengarahkan penderita yang tidak mengobati penyakitnya untuk berobat ke puskesmas.

Perlu menyebarluaskan bahan-bahan

(7)

belajar yang dapat digunakan penderita TB paru mengetahui informasi-informasi tentang TB paru, seperti leaflet yang dapat dibaca berulang-ulang, dan memberi penyuluhan yang menarik dan mudah dimengerti pasien setiap kali mengunjungi Puskesmas. Bagi peneliti selanjutnya, perlu kiranya dikembangkan penelitian yang sifatnya eksperimen atau quasi eksperimen tentang berbagai intervensi yang dapat merubah perilaku pengobatan, pengetahuan dan sikap pasien TB paru menjadilebih baik

DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, Aziz. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Salemba Medika:

Jakarta

Aditama, Tjandra Yoga, Indonesia Peringkat Empat Pasien Tuberkulosis Terbanyak di Dunia, http://health.kompas.com, diunduh tanggal 16 Juli 2015

Gaffar, Abdul, 2000. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Pencarian Pertolongan Pengobatan Tersangka Penderita TB Paru di Wilayah Kecamatan Banggai Kabupaten Banggai Kepulauan (Tesis). Depok, FKM UI

Hastono, Sutanto Priyo, 2007. Analisis Data Kesehatan (Basic Data Analysis for Health Reseach Training), FKM UI

Kementerian Kesehatan RI, 2014.

Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2 Cetakan Ketiga. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta

Kementerian Kesehatan RI, 2010. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Kementerian Kesehatan RI, 2011. Strategi

Nasional Pengendalian TB 2010- 2014, Kemenkes RI, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Jakarta Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Ilmu

Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta

Sumekar, Dyah Wulan, 2010. Perilaku Masyarakat dalam Pencarian Pengobatan Tuberculosis Paru di

Kecamatan Rajabasa,

April2012.http//:lemlit.unila.ac.id/fi le/arsip%202010/prosiding%20Die s%20Dies%Natalis/KEOMPOK%2 0A/25%20

Dyah%20Wuan%20Sumekar%20- 20%PSKedoteran,pdf

Wawan, Dewi, 2010. Teori & Pengukuran Pengetahuan Sikap dan Perilaku Manusia, Yogyakarta, Nuhamedika Wulandari, Leni,2012. Peran Pengetahuan

terhadap Perilaku Pencarian

Pengobatan Penderita Suspek TB

Paru di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Rataan produksi susu real dan produksi susu yang telah distandardisasi ke dalam lama laktasi 305 hari dan umur setara dewasa dari sapi Friesian Holstein betina

Diharapkan dapat meningkatkan motivasi para guru, untuk menggunakan media pembelajaran yang bervariasi salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran permainan halma yang

Tempatnya alihidade pada kedudukan nol kemudian kita tarik garis pandang ke arah horizon apabila bayangan yang dipantulkan dua kali terlihat pada cermin satu

Merupakan constructor dengan satu parameter dengan tipe yang sama yang ditetapkan untuk setiap anggota variable class nonstatik objek yang disalin dari objek sebelumnya. Jika

Dapatan kajian yang dilakukan terhadap 53 orang pelajar semester dua sesi Disember 2018 menunjukkan bahawa terdapat hubungan yang signifikan antara pencapaian

Lahir Jenis Kelamin Program Studi Status Perkawinan Asal SLTA/PT Angkatan Tanggal Lulus Pekerjaan Agama IPK No.. Hanphone

Faktor Eksternal Observasi, Wawancara Dokumentasi 3 Strategi yang dilakukan untuk mengoptimalkan pemenuhan hak kesejahteraan sosial masyarakat miskin.. Mengurangi

Menurut Affan Gaffan, utnuk menganalisia perilaku pemilih, maka terdapat duan pendekatan yaitu pendekatan sossiologis (dikenal dengan mahzab Columbia) dan pendekatan