• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Universitas Kristen Petra

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perusahaan multinasional tak lepas kaitannya dengan kegiatan transfer pricing. Sebagai perusahaan yang berorientasi laba, maka sudah tentu perusahaan akan berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal melalui berbagai macam cara, termasuk efisiensi biaya. Hal tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan kegiatan transfer pricing.

Transfer pricing adalah suatu kebijakan perusahaan dalam menentukan harga transfer suatu transaksi baik itu barang- jasa, harta tak berwujud, ataupun transaksi finansial yang dilakukan oleh perusahaan (Setiawan 2014). Undang- Undang Perpajakan menyebut istilah transfer pricing dengan transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa. Sebagaimana diatur dalam pasal 18 ayat (4) Undang-Undang No. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan, yang menjelaskan bahwa hubungan istimewa antara Wajib Pajak Badan dapat terjadi karena kepemilikan atau penguasaan modal saham suatu badan oleh badan lainnya sebanyak 25% atau lebih, atau antara beberapa badan yang 25% atau lebih sahamnya dimiliki oleh suatu badan. Yuniasih et al.,(2012) mengatakan bahwa, transaksi antar pihak yang memiliki hubungan istimewa tersebut dapat mengakibatkan ketidakwajaran harga, biaya atau imbalan lain yang direalisasikan dalam suatu transaksi usaha.

Permasalahan transfer pricing telah menjadi isu yang mampu mencuri perhatian berbagai kalangan terutama otoritas perpajakan di berbagai belahan dunia. Suandy (2011) mengatakan, penelitian akhir-akhir ini telah menemukan bahwa lebih dari 80% perusahaan-perusahaan multinasional melihat transfer pricing sebagai isu pajak internasional. Tidak sedikit perusahaan multinasional yang memutuskan menggunakan praktik transfer pricing untuk meminimalkan pembayaran pajak mereka. Seperti kasus yang menimpa Google, Starbucks, dan Amazon di Inggris. Dalam artikel yang ditulis oleh Setiawan (2014), Starbucks pada tahun 2011 sama sekali tidak membayar pajak korporasi padahal berhasil mencetak penjualan sebesar £398 juta. Selain itu mereka juga mengaku rugi sejak

(2)

2

Universitas Kristen Petra

tahun 2008, dengan jumlah kerugiannya mencapai £112 juta atau sekitar Rp1,7 triliun. Padahal dalam laporan kepada investornya di Amerika Serikat, Starbucks mengatakan bahwa mereka memperoleh keuntungan yang besar di Inggris, bahkan penjualan selama 3 tahun (2008-2010) mencapai £1,2 milliar atau sekitar Rp 18 triliun. Dengan kerugian ini, Starbucks Inggris tidak pernah membayar pajak korporasi. Bahkan selama 14 tahun beroperasi di Inggris, Starbucks hanya membayar pajak sebesar £8,6 juta. Hal yang sama dilakukan oleh Google Inggris pada tahun 2011, yang juga berhasil mencatat pendapatan sebesar £398 juta tetapi hanya membayar pajak sebesar £6 juta. Amazon Inggris juga melakukan hal yang sama, dimana mereka berhasil melakukan penjualan di Inggris sebesar £3,35 miliar selama tahun 2011 tetapi hanya membayar pajak sebesar £1,5 juta.

Perusahaan-perusahaan multinasional tersebut menggunakan praktik transfer pricing untuk meminimalkan pembayaran pajak mereka. Dengan memanfaatkan celah-celah peraturan yang ada, mereka memindahkan keuntungan di Inggris ke luar negeri untuk memperoleh tarif pajak yang jauh lebih rendah.

Walaupun terlihat legal tetapi cara-cara seperti ini dianggap sebagai cara yang amoral (Setiawan, 2014). Pada hakekatnya, transfer pricing memungkinkan untuk membantu perusahaan multinasional dalam menghindari pajak berganda, tetapi dalam praktiknya tidak sedikit perusahaan multinasional yang memanfaatkan transfer pricing menjadi peluang untuk menghindari pajak demi meningkatkan keuntungan perusahaan (Yuniasih et al, 2012).

Dari sisi pemerintah, transfer pricing diyakini mengakibatkan berkurang atau hilangnya potensi penerimaan pajak suatu negara. Di pihak lain dari sisi bisnis, perusahaan cenderung berupaya meminimalkan biaya-biaya (cost efficiency) termasuk didalamnya minimalisasi pembayaran pajak perusahaan (corporate income tax) (Swenson, 2001). Oleh karena itu, adanya praktik transfer pricing ini sering dikaitkan dengan adanya motivasi pajak.

Beberapa penelitian yang mengkaitkan mengenai motivasi pajak dan kaitannya terhadap keputusan transfer pricing telah dilakukan. Yuniasih et al., (2012) mengatakan bahwa, pajak berpengaruh pada keputusan transfer pricing, dimana beban pajak yang semakin besar akan memicu perusahaan untuk melakukan transfer pricing dengan harapan dapat menekan beban tersebut.

(3)

3

Universitas Kristen Petra

Besarnya keputusan untuk melakukan praktik transfer pricing umumnya akan mengakibatkan pembayaran pajak menjadi lebih rendah. Begitu juga dengan Swenson (2001) yang menyatakan bahwa, tarif impor dan pajak berpengaruh pada insentif untuk melakukan transaksi transfer pricing. Bernard et al., (2006) menemukan bahwa harga transaksi pihak terkait berhubungan dengan tingkat pajak dan tariff rate negara tujuan.

Selain motivasi pajak, tunneling juga tidak lepas dari pertimbangan dalam keputusan transfer pricing. Kepemilikan saham di Indonesia cenderung terkonsentrasi menyebabkan munculnya pemegang saham mayoritas dan minoritas. Salah satu karakteristik kepemilikan terkonsentrasi adalah apabila dalam perusahan terdapat satu atau lebih pemegang saham terbesar sebagai pemegang saham pengendali yang mempunyai minimal 20% saham (peraturan Bapepam no. IX.H.1). Shleifer dan Vishny (1997) dalam Mutammimah (2009), mengemukakan bahwa, apabila kepemilikan terkonsentrasi sudah melewati batas tertentu, pemegang saham mayoritas dapat mengendalikan perusahaan secara penuh dan mereka cenderung membuat kebijakan yang dapat memberikan manfaat kepada diri mereka saja.

Masalah keagenan akan terjadi antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas, karena pemegang saham mayoritas dapat mengendalikan menajemen perusahaan sehingga dapat memegang kendali dalam pengambilan keputusan dibandingkan pemegang saham minoritas. Pemegang saham mayoritas dapat membuat keputusan yang menguntungkan bagi pihaknya sendiri tanpa memperdulikan hak-hak pemegang saham minoritas. Lemahnya perlindungan hak-hak pemegang saham minoritas, mendorong pemegang saham mayoritas untuk melakukan tunneling yang merugikan pemegang saham minoritas (Classens, et al 2002). Tunneling merupakan transfer sumber daya perusahaan yang dilakukan oleh pemegang saham pengendali atau pemegang saham mayoritas untuk kepentingan mereka sendiri namun pemegang saham minoritas ikut menanggung biaya yang mereka bebankan (Johnson et al,. 2000). Contoh tunneling adalah tidak membagikan deviden, menjual aset atau sekuritas dari perusahaan yang mereka kontrol ke perusahaan lain yang mereka miliki dengan harga di bawah pasar, dan memilih anggota keluarga yang tidak memenuhi

(4)

4

Universitas Kristen Petra

kualifikasi untuk menduduki posisi penting perusahaan (La Porta et al., 2000).

Tunneling dapat berupa transfer ke perusahaan induk yang dilakukan melalui transaksi pihak terkait atau pembagian dividen. Transaksi pihak terkait lebih umum digunakan untuk tujuan tersebut daripada pembayaran dividen karena perusahaan yang terdaftar di Bursa harus mendistribusikan dividen kepada perusahaan induk dan pemegang saham minoritas lainnya. Pemegang saham minoritas perusahaan yang terdaftar seringkali dirugikan ketika harga transfer menguntungkan perusahaan induk atau pemegang saham pengendali (Lo et al.,2010).

Beberapa penelitian mengenai tunneling incentive telah dilakukan, seperti Lo et al., (2010), menemukan bahwa konsentrasi kepemilikan di Cina berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing, dimana perusahaan bersedia mengorbankan penghematan pajak untuk tunneling keuntungan ke perusahaan induk. Yuniasi et al., (2012) juga menemukan tunneling incentive berpengaruh positif pada keputusan perusahaan untuk melakukan transfer pricing pada perusahaan manufaktur di Indonesia.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini mengangkat dua faktor yang dianggap dapat mempengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan transfer pricing yaitu pajak dan tunneling incentive, dengan mengkaji kembali penelitian-penelitian sebelumnya dan mengambil periode terbaru yaitu 2013-2015. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apakah pajak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing ?

2. Apakah tunneling incentive berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing ?

(5)

5

Universitas Kristen Petra

1.3 Batasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013-2015. Penelitian ini mengambil sampel perusahaan terbatas pada perusahaan manufaktur, karena menurut laporan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), bahwa sebagian besar penanaman modal asing dilakukan pada perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dari tahun 2013-2015 yaitu sebesar 55,4%, 45,6% dan 40,2%. Perusahaan manufaktur juga mempunyai kaitan intern perusahaan yang cukup substantial dengan induk perusahaan di luar negeri.

1.4 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini, yaitu :

1. Untuk mengetahui apakah pajak berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing.

2. Untuk mengetahui apakah tunneling incentive berpengaruh terhadap keputusan transfer pricing.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian ini antara lain:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah kajian literatur mengenai keputusan transfer pricing, khususnya dalam kaitannya dengan pajak dan tunneling incentive.

2. Manfaat Praktis

Diharapkan penelitian ini dapat membantu memberikan masukan bagi pembaca dalam mencegah dan menangani masalah transfer pricing.

1.6 Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun menjadi tiga bagian agar mempermudah untuk memahami setiap pembahasan. Uraian secara garis besar sistematika pelaporan penelitian adalah sebagai berikut:

(6)

6

Universitas Kristen Petra

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Batasan Masalah 1.4 Tujuan Penelitian 1.5 Manfaat Penelitian 1.6 Sistematika Penulisan 2. LANDASAN TEORI

2.1 Teori Agensi (Agency Theory) 2.2 Pajak

2.3 Tunneling Incentive 2.4 Transfer Pricing 2.5 Penelitian Terdahulu 2.6 Hipotesis

2.6.1 Pengaruh Pajak terhadap Keputusan Transfer Pricing 2.6.2 Pengaruh Tunneling Incentive terhadap Keputusan Transfer

Pricing

3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Penelitian

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.2.1 Pajak

3.2.2 Tunneling Incentive 3.2.3 Transfer Pricing 3.3 Populasi dan Sampel 3.4 Jenis dan Sumber Data 3.5 Metode Pengumpulan Data 3.6 Metode Analisis Data

3.6.1 Analisis Statistik Deskriptif 3.6.2 Analisis Regresi Logistik

3.6.2.1 Menilai Keseluruhan Model (Model Overall Fit) 3.6.2.2 Koefisien Determinasi (Cox and Snell R Square dan

Nagelkerke R Square)

(7)

7

Universitas Kristen Petra

3.6.2.3 Menguji Kelayakan Model Regresi (Hosmer adn Lemeshow’s Goddness of Fit Test)

3.6.2.4 Matriks Klasifikasi 4. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Sampel 4.2 Deskripsi Data

4.2.1 Variabel Transfer Pricing 4.2.2 Variabel Pajak

4.2.3 Variabel Tunneling Incentive 4.3 Analisis Regresi Logistik

4.3.1 Menilai Keseluruhan Model (Model Overall Fit)

4.3.2 Koefisien Determinasi (Cox and Snell R Square dan Nagelkerke R Square)

4.3.3 Menguji Kelayakan Model Regresi (Hosmer and Lemeshow’s Goddness of Fit Test)

4.3.4 Matriks Klasifikasi

4.3.5 Estimasi Parameter dan Interpretasinya 4.4 Pembahasan

4.4.1 Pengaruh Pajak terhadap Keputusan Transfer Pricing

4.4.2 Pengaruh Tunneling Incentive terhadap Keputusan Transfer Pricing

5. KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

5.2 Keterbatasan 5.3 Saran

Referensi

Dokumen terkait

Pakan konsentrat biasanya menggunakan pakan campuran sendiri (dedak, sagu, dan bahan pakan lokal lainnya). Akan tetapi pakan konsentrat pabrikan untuk sapi potong

Dengan melihat analisa hasil dalam penelitian ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuatan otot lengan dilakukan dengan cara melakukan push up dengan kemampuan passing atas

Peraturan Desa Nomor 01 Tahun 2014 tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Bleberan Kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul.. Diakses tanggal 10

Ujian regrasi yang dijalankan menunjukkan bahawa wujudnya hubungan positif yang signifikan antara kepimpinan dengan pengurusan personal dan sosial kecerdasan emosi dalam kalangan

segala sesuatu produk yang berstatus syubhat, karena telah diterangkan juga dalam Al-Quran bahwasannya Allah telah melarang umatnya untuk mengkonsumsi produk

(iv) penggunaan logo rasmi SKUM pada sijil penyertaan / penghargaan tertakluk kepada program dan aktiviti yang dijalankan oleh syarikat korporat, NGO dan badan-badan lain

Metode ini berbeda dari metode peleburan, dalam hal sumber unsur penentu tidak perlu pada air kristal asam sitrat, akan tetapi boleh juga air ditambahkan ke dalam bukan

Verifikasi hasil perhitungan dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan Excel dengan hasil perhitungan manual dengan metode yang ada pada buku teks untuk desain