• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

P U T U S A N

Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus permohonan pernyataan pailit pada tingkat kasasi telah memutus sebagai berikut dalam perkara:

1. PT BANK NEGARA INDONESIA (Persero), Tbk., diwakili oleh

Pemimpin Divisi Hukum Endang Hidayatullah, S.H., M.M., berkedudukan di Jalan Jenderal Sudirman Kavling 1, Jakarta Pusat;

2. CV TUGU KENANGAN (TOEGOE KENANGAN), diwakili oleh

Direktur Utama Sukaryo, dalam hal ini keduanya memberi kuasa kepada Timotius Tumbur Simbolon, S.H., dan kawan-kawan, Para Advokat, berkantor di Jalan Pasuruan Nomor 28, Menteng, Jakarta Pusat 10310, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggl 10 Juli 2017;

Para Pemohon Kasasi dahulu Para Pemohon Pailit; L a w a n:

1. CV TIMBUL JAYA PERKASA, diwakili oleh Direktur Sumarsono, berkedudukan di Jalan Cijagra Nomor 180, Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung,

2. SUMARSONO, selaku Direktur CV Timbul Jaya Perkasa,

bertempat tinggal di Jalan Jaka Utara RT 001, RW 005, Kelurahan Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, dalam hal ini keduanya memberi kuasa kepada Mula Satria, S.H., Advokat, berkantor di Sukarajin II Nomor 28, Kota Bandung, Jawa Barat, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 18 Juli 2017;

3. MUSTIKA FITRI, selaku Persero Komanditer CV Timbul Jaya

Perkasa, bertempat tinggal di Jalan Sukarajin II Nomor 28, RT 001, RW 012, Kelurahan Cikutra, Kecamatan Cibeuning Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat;

Para Termohon Kasasi dahulu Para Termohon Pailit; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Para Pemohon Kasasi dahulu Para Pemohon Pailit telah mengajukan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

permohonan pernyataan pailit di depan persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada pokoknya sebagai berikut:

1. Dalam perkara PKPU maupun Kepailitan “tidak berlaku azas ne bis in idem” sepanjang Debitur memiliki utang-utang kepada Para Krediturnya;

Bahwa dalam perkara ini azas ne bis in idem tidak berlaku karena ada utang-utang Para Termohon Pailit sebagai Para Debitur kepada Para Pemohon Pailit sebagai Para Kreditur;

2. Didalam perkara ini berlaku Undang Undang Kepailitan dan PKPU Nomor 37 Tahun 2004 sesuai azas hukum “lex specialis derogat legi generalis”, sehingga tuntutan terhadap Debitur yang bertujuan memenuhi kewajiban dari harta pailit di luar kepailitan ini “gugur demi hukum”;

Didalam perkara ini berlaku azas hukum “lex specialis derogat legi

generalis” sesuai Pasal 29 Undang Undang Kepailitan dan PKPU Nomor 37

Tahun 2004, yang menentukan: “Suatu tuntutan hukum di Pengadilan yang diajukan terhadap Debitur sejauh bertujuan untuk memperoleh pemenuhan kewajiban dari harta pailit dan perkaranya sedang berjalan, gugur demi hukum dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit terhadap Debitur”; Adapun perkara-perkara yang timbul yang tunduk kepada ketentuan hukum umum (legi generalis) sebagaimana diatur di dalam KUHPerdata dan sekarang harus tunduk kepada ketentuan khusus (lex specialis),

sebagaimana ditentukan di dalam Undang Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU sesuai azas “lex specialis” adalah:

2.1. Antara Para Termohon Pailit dengan Pemohon Pailit I pernah timbul perkara perdata yang sebagaimana telah diputus dalam Putusan Pengadilan Negeri Cirebon Nomor 02/Pdt.G/2012/PN.Cbn., tanggal 7 Januari 2013 juncto Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Nomor 182/PDT/2013/PT.BDG., tanggal 28 Mei 2013 juncto Putusan MA Nomor 1035 K/Pdt/2015, tanggal 31 Agustus 2015, yang hanya memutuskan “soal eksepsi” saja dan tidak sampai pada pokok perkara; 2.2. Hal-hal yang dinyatakan Para Termohon Pailit bahwa ada laporan

Polisi terhadap Pemohon Pailit I terkait dengan Perjanjian Kredit yang semata-mata hanya merupakan suatu tindakan Para Termohon Pailit untuk menunda-nunda pembayaran utangnya kepada Pemohon Pailit I, karena sama sekali tidak ada proses hukum terhadap Pemohon Pailit I atas laporan Polisi tersebut;

Oleh karena itu perkara-perkara tersebut sepenuhnya menjadi tunduk kepada Undang Undang Kepailitan dan PKPU Nomor 37 Tahun 2004

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

sesuai aZas “lex specialis derogat legi generalis”, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 29 Undang Undang Kepailitan dan PKPU Nomor 37 Tahun 2004 yang telah dikutip di atas;

Maka dengan demikian, dengan berlakunya azas “lex specialis derogat legi

generalis”, maka ketentuan khusus telah mengesampingkan ketentuan

umum sehingga tuntutan terhadap Debitur yang bertujuan memenuhi kewajiban dari harta pailit di luar kepailitan ini telah “gugur demi hukum”; 3. Hubungan hukum Pemohon Pailit I dengan Para Termohon Pailit;

Bahwa berdasarkan Perjanjian Kredit Nomor 2009/255/KMK NON KUK dan Perjanjian Fidusia Nomor 2009/140/FEO, masing-masing tanggal 30 November 2009, dimana Termohon Pailit I diwakili oleh Termohon Pailit II dan Termohon Pailit III telah menerima fasilitas kredit atau pinjaman dari Pemohon Pailit I sebesar Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) dengan syarat dan ketentuan antara lain sebagai berikut:

3.1. Jumlah Pinjaman : Rp10.000.000.000,00; 3.2. Bunga : 13,75% pertahun;

3.3. Jangka waktu : 12 bulan terhitung sejak tanggal 2 Desember 2009; 4. Bahwa perjanjian-perjanjian kredit tersebut diikat dengan Hak Tanggungan

Peringkat Pertama yang diberikan oleh Termohon Pailit II kepada Pemohon Pailit I dengan objek Hak Tanggungan berupa:

a. Sebidang tanah luas 14.760 m² (empat belas ribu tujuh ratus enam puluh meter persegi) berikut bangunan dan segala hak yang ada di atasnya, berada di Jalan Kalijaga, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat, sesuai Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 423/Pegambiran, tanggal 4 Desember 2006, atas nama Sumarsono (Termohon Pailit II) dengan nilai Hak Tanggungan adalah Rp12.398.400.000,00 (dua belas milyar tiga ratus sembilan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah);

b. Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) Nomor 163/2009, tanggal 2 Desember 2009, dibuat di hadapan Deddy Suardi, S.H., Notaris/PPAT di Cirebon;

c. Sertifikat Hak Tanggungan Nomor 1643/2009, tanggal 16 Desember 2009, diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota Cirebon;

5. Bahwa fasilitas kredit atau pinjaman tersebut telah diterima oleh Para Termohon Pailit dan menjadi utang Para Termohon Pailit, namun sampai berakhirnya tenggang waktu pelunasan pinjaman atau utang tersebut pada tanggal 10 Desember 2010 belum dilunasi oleh Para Termohon Pailit

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

kepada Pemohon Pailit I;

6. Bahwa berdasarkan catatan pembukuan Pemohon Pailit I, dimana jumlah utang Para Termohon Pailit kepada Pemohon Pailit I adalah sebesar Rp15.668.959.776,00 (lima belas milyar enam ratus enam puluh delapan juta sembilan ratus lima puluh sembilan ribu tujuh ratus tujuh puluh enam rupiah) dengan perincian sebagai berikut:

6.1. Tunggakan Pokok : Rp10.000.000.000,00 6.2. Tunggakan Bunga : Rp 4.363.483.766,00 6.3. Denda : Rp 1.298.450.010,00 6.4. Lain-lain/biaya : Rp 7.026.000,00

Jumlah : Rp15.668.959.776,00

7. Hubungan hukum Pemohon Pailit II dengan Para Termohon Pailit;

Bahwa Termohon Pailit I diwakili oleh Termohon Pailit II telah membuat dan menandatangani perjanjian dengan Pemohon Pailit II untuk melaksanakan pembangunan ruko dan Iain-lain pada Proyek Perumahan Kalijaga Residence di atas objek Hak Tanggungan tersebut di atas, sesuai;

7.1. Bukti Surat Perintah Kerja Nomor 07/KJR-SPK/TJP-TEK/III/2010, tanggal 29 Maret 2010 mengenai pekerjaan pembangunan ruko tipe T. 144/72; 7.2. Bukti Surat Perintah Kerja Nomor 011/KJR-SPK/TJP-TEKA/II/2010,

tanggal 8 Juli 2010 mengenai pekerjaan jalan, canstin taman dan

canstin trotoar;

8. Bahwa akibat dari perjanjian-perjanjian tersebut, antara Para Termohon Pailit dan Pemohon Pailit II telah timbul perkara perdata, sebagaimana diputus dalam Putusan Mahkamah Agung R.l. Nomor 2922 K/Pdt/2013, tanggal 19 Maret 2014 yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van

gewijsde), dimana Para Termohon Pailit terbukti memiliki utang kepada

Pemohon Pailit II sejumlah Rp1.561.610.000,00 (satu milyar lima ratus enam puluh satu juta enam ratus sepuluh ribu rupiah);

9. Para Termohon Pailit mempunyai utang kepada 2 (dua) Kreditur yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih;

Bahwa Pasal 1 angka 6 Undang Undang Kepailitan dan PKPU, menentukan: “Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung maupun yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitur, dan bila tidak dipenuhi memberi hak kepada Kreditur untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan Debitur”;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

10. Bahwa menurut Penjelasan terhadap Pasal 2 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU, yang dimaksud dengan “utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih” adalah kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana telah diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun putusan Pengadilan, Arbiter atau Majelis Arbitrase;

Dengan demikian kewajiban Para Termohon Pailit sebagaimana diuraikan di atas adalah merupakan utang-utang terhadap Pemohon Pailit I dan Pemohon Pailit II sebagai Para Kreditur yang harus dibayar oleh Para Termohon Pailit sebagai Para Debitur;

Dan dengan tidak dibayarnya utang-utang sebagaimana diuraikan di atas, maka telah terpenuhi fakta atau keadaan bahwa utang tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih oleh Para Pemohon Pailit kepada Para Termohon Pailit;

11. Pemohon Pailit I telah memohon dan menegur agar Para Termohon Pailit segera melunasi utang tersebut yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, namun sampai diajukannya permohonan pailit ini Para Termohon Pailit tidak menanggapinya dan juga tidak melunasinya, sesuai bukti-bukti surat dari Pemohon Pailit I sebagai berikut:

11.1. Nomor CRC/2/957, tanggal 21 Oktober 2010; 11.2. Nomor CRC/2/370A, tanggal 30 Oktober 2010; 11.3. Nomor CRC/2/1006, tanggal 4 November 2010; 11.4. Nomor CRC/2/024, tanggal 10 Januari 2011; 11.5. Nomor CRC/2/480, tanggal 6 Mei 2011; Dan Surat dari Kuasa Hukum Pemohon Pailit I: 11.6. Nomor 0187/TTS/II/15, tanggal 9 Februari 2015; 11.7. Nomor 0220/TTS/III/15, tanggal 9 Maret 2015;

12. Para Termohon Pailit juga mempunyai utang kepada kreditur lain;

Bahwa selain mempunyai utang kepada Pemohon Pailit I dan Pemohon Pailit II, Para Termohon Pailit juga mempunyai utang kepada Kreditur lain, yaitu kepada Sdr. Andi Miarno, beralamat di Jalan S. Barito Nomor 34, Semper Barat, Jakarta Utara, sejumlah Rp6.854.342.787,5 (enam milyar delapan ratus lima puluh empat juta tiga ratus empat puluh dua ribu tujuh ratus delapan puluh tujuh rupiah lima sen), sebagaimana diputus dalam Putusan Pengadilan Negeri Cirebon Nomor 70/Pdt.G.lnt/2015/PN.Cbn., tanggal 24 Mei 2016.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

13. Permohonan Pailit berdasar hukum untuk dikabulkan;

Bahwa berdasarkan bukti-bukti yang sah tersebut di atas dan bersesuaian dengan aturan hukum yang berlaku, maka permohonan pailit ini telah beralasan dan memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Undang Undang Kepailitan dan PKPU, yaitu Para Termohon Pailit sebagai Debitur yang memiliki 2 (dua) Kreditur, yang dimana utang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih (vide Pasal 2 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU); Bahwa dengan telah terpenuhinya syarat-syarat permohonan pailit ini, maka Majelis Hakim beralasan untuk mengabulkannya sesuai Pasal 8 ayat (4) Undang Undang Kepailitan dan PKPU, yang menentukan: “Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbuktl secara sederhana bahwa persayaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah dipenuhi”;

14. Penunjukan Hakim Pengawas dan Pengangkatan Kurator maupun Pengurus;

Bahwa Pasal 1 angka (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU menyebutkan: “Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitur Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-Undang ini”;

Bahwa Pasal 15 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU menentukan: “Dalam putusan pernyataan pailit harus diangkat Kurator dan seorang Hakim Pengawas yang ditunjuk dari Hakim Pengadilan”;

15. Bahwa sehubungan dengan permohonan pailit dan berdasarkan Pasal 1 angka (1) dan Pasal 15 ayat (1) Undang Undang Kepailitan dan PKPU maka Para Pemohon Pailit memohon dengan hormat kepada Majelis Hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar kiranya berkenan menunjuk Hakim Pengawas dari Hakim-Hakim Niaga pada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat serta menunjuk dan mengangkat Kurator yaitu:

- Saudara Ranto P. Simanjuntak, S.H., M.H., Kurator dan Pengurus, terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.l. dengan Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU.AH.04.03-20, tertanggal 23 Februari 2016, di Kantor Hukum "Ranto P. Simanjuntak & Partners” di Cityloft Sudirman Building, Lantai 11, Suite 11-09, Jalan KH. Mas Mansyur Nomor 121, Jakarta Pusat, maupun selaku Pengurus apabila PKPU dikabulkan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

- Saudari Melisa Juan, S.H., M.Kn., Kurator dan Pengurus yang terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.l. dengan Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU.AH.04.03-39, tertanggal 16 September 2015, di Kantor Hukum ’’Banong Nangoy Juan & Partners” di Gedung Plaza Centris Lantai 9, JaIan H.R. Rasuna Said Kav B-5, Jakarta Selatan, maupun seiaku Pengurus apabila PKPU dikabulkan; Bahwa, berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas Para Pemohon Pailit mohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar menjatuhkan putusan sebagai berikut:

1. Mengabulkan permohonan pailit yang diajukan oleh Para Pemohon Pailit terhadap Para Termohon Pailit/CV.Timbul Jaya Perkasa dan Sumarsono dan Mustika Fitri untuk seluruhnya;

2. Menyatakan bahwa Para Termohon Pailit mempunyai utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih;

3. Menyatakan Para Termohon Pailit dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya;

4. Menunjuk Hakim Pengawas dari Hakim Niaga pada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas untuk mengawasi pelaksanaan kepailitan ini;

5. Mengangkat sebagai Kurator yaitu:

- Saudara Ranto P. Simanjuntak, S.H,, M.H., Kurator dan Pengurus, terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.l. dengan Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU.AH.04.03-20 tanggal 23 Februari 2016, di Kantor Hukum "Ranto P. Simanjuntak & Partners” di Cityloft Sudirman Building, Lantai 11, Suite 11-09, JaIan KH Mas Mansyur Nomor 121, Jakarta Pusat, maupun selaku Pengurus apabila PKPU dikabulkan;

- Saudari Melisa Juan, S.H., M.Kn., Kurator dan Pengurus, terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia R.l. dengan Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU.AH.04.03-39, tanggal 16 September 2015, di Kantor Hukum "Banong Nangoy Juan & Partners” di Gedung Plaza Centris Lantai 9, Jalan H.R. Rasuna Said Kav B-5, Jakarta Selatan, maupun selaku Pengurus apabila PKPU dikabulkan;

6. Membebankan seluruh biaya perkara kepada Para Termohon Pailit;

Bahwa terhadap gugatan tersebut, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memberikan Putusan Nomor 34/Pdt.Sus-Pailit/2017/PN.Niaga.Jkt.Pst., tanggal 5 Juli 2017, yang amarnya sebagai

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

berikut:

1. Menolak permohonan Para Pemohon Pailit seluruhnya;

2. Menghukum Para Pemohon Pailit untuk membayar ongkos yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp516.000,00 (lima ratus enam belas ribu rupiah); Menimbang, bahwa sesudah putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut diucapkan dengan dihadiri oleh Kuasa Hukum Para Pemohon Pailit dan kuasa hukum Para Termohon Pailit pada tanggal 5 Juli 2017, terhadap putusan tersebut oleh Para Pemohon Pailit melalui kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 10 Juli 2017 mengajukan permohonan kasasi pada tanggal 12 Juli 2017, sebagaimana ternyata dari Akta permohonan Kasasi Nomor 45 Kas/Pdt.Sus-Pailit/2017/PN.Niaga.Jkt.Pst.,

juncto Nomor 34/Pdt.Sus-Pailit/2017/PN.Niaga.Jkt.Pst. yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat, permohonan tersebut disertai dengan memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat pada tanggal itu juga;

Bahwa memori kasasi dari Para Pemohon Kasasi/Para Pemohon Pailit tersebut telah disampaikan kepada Para Termohon Kasasi/Para Termohon Pailit pada tanggal 13 Juli 2017, kemudian Para Termohon Kasasi/Para Termohon Pailit mengajukan kontra memori kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 20 Juli 2017;

Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta keberatan-keberatannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam jangka waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, oleh karena itu permohonan kasasi tersebut secara formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa keberatan-keberatan kasasi yang diajukan oleh Para Pemohon Kasasi dalam memori kasasinya adalah:

1. Judex Facti salah dan keliru karena tidak menerapkan Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 mengenai “lex specialis derogat

legi generalis”;

Bahwa Judex Facti didalam mengadili perkara kepailitan harus dan wajib menerapkan ketentuan Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 yang dengan tegas menganut azas hukum “lex specialis

derogat legi generalis” atau “ketentuan khusus mengesampingkan ketentuan

umum”;

Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004, dikutip dibawah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

ini: “Suatu tuntutan hukum di Pengadilan yang diajukan terhadap Debitur sejauh bertujuan untuk memperoleh pemenuhan kewajiban dari harta pailit dan perkaranya sedang berjalan, gugur demi hukum dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit terhadap Debitur”;

Bahwa hukum kepailitan adalah ketentuan hukum khusus, sedangkan hukum perdata adalah ketentuan hukum umum, dan ternyata Judex Facti didalam putusan perkara kepailitan ini telah salah dan keliru karena tidak menerapkan ketentuan hukum khusus sebagaimana terdapat dalam Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 tersebut;

Bahwa sesuai ketentuan hukum khusus dalam Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 tersebut, maka:

- Tuntutan hukum di Pengadilan melalui gugatan/perkara perdata yang sebelumnya telah diajukan terhadap Debitur yang bertujuan untuk memperoleh pemenuhan kewajiban dari harta pailit “demi hukum gugur” sesuai azas hukum “lex specialis derogat legi generalis";

- Adapun Perkara Perdata No. 02/Pdt.G/2012/PN.Cbn., tanggal 7 Januari 2013 juncto Nomor 182/PDT/2013/PT.BDG., tanggal 28 Mei 2013 juncto Nomor 1035 K/Pdt/2015, tanggal 31 Agustus 2015, antara:

Andi Miarno sebagai Penggugat; Melawan 1. Sumarsono sebagai Tergugat I;

2. H. Eman Suryaman sebagai Tergugat II Dalam Konvensi/Penggugat Dalam Rekonvensi;

3. H. Asep Sulaeman Sabanda sebagai Tergugat III Dalam Konvensi/ Penggugat Dalam Rekonvensi;

4. Dirut PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk., Pusat cq Kepala Kantor Bank Negara Indonesia 46 wilayah Jawa Barat cq Kepala Kantor BNI 46 sebagai Tergugat IV;

5. Notaris Deddy Suryadi, S.H., sebagai Tergugat V;

6. Kantor Pertanahan Kota Cirebon sebagai Turut Tergugat; Adapun amar putusan perkara tersebut antara lain;

- Mengabulkan Eksepsi, dan;

- Menyatakan gugatan tidak dapat diterima;

- Bahwa sesuai amar putusan perkara perdata tersebut yang telah berkekuatan hukum tetap, maka sama sekali tidak ada akibat hukumnya terhadap utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I; - Sedangkan Perkara Nomor 70/Pdt.G.lnt/2015/PN.Cbn., tanggal 24 Mei

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

2016 (vide bukti P.19), masih dalam proses tingkat kasasi di Mahkamah Agung, antara:

Sumarsono (Direktur CV Timbul Jaya Perkasa) sebagai Penggugat; Melawan

1. Dirut PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk., Pusat cq Kepala Kantor Bank Negara Indonesia 46 wilayah Jawa Barat cq Kepala Kantor BNI 46 sebagai Tergugat I;

2. Wahyudi sebagai Pegawai Kantor Bank Negara Indonesia 46 Kota Cirebon sebagai Tergugat II;

3. Kantor Pertanahan Kota Cirebon sebagai Turut Tergugat, dan; 4. Andi Miarno sebagai Penggugat Intervensi;

Adapun amar putusan perkara tersebut antara lain:

- Menghukum Sumarsono (CV Timbul Jaya Perkasa) untuk membayar kerugian materiil Rp6.854.342.787,5 kepada Andi Miarno (Penggugat Intervensi);

- Bahwa berdasarkan Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004, maka kedua perkara perdata tersebut yaitu Nomor 02/Pdt.G/2012/PN.Cbn., juncto Nomor 182/PDT/2013/PT.BDG., juncto Nomor 1035 K/Pdt/2015, dan Nomor 70/Pdt.G.lnt/2015/PN.Cbn. juncto Nomor 581/Pdt/2016/PT.Bdg., gugur demi hukum;

- Pemohon Kasasi I sama sekali tidak pernah dihukum oleh Pengadilan atas perkara-perkara perdata tersebut di atas;

Dengan demikian Judex Facti ternyata telah salah dan keliru karena tidak menerapkan Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 mengenai lex specialis derogat legi generalis. Oleh karena itu telah beralasan hukum bagi Majelis Hakim Agung untuk membatalkan putusan

Judex Facti a quo;

2. Judex Facti salah dan keliru karena pertimbangan hukumnya menyimpang dari soal utang-utang Debitur kepada Para Krediturnya atau menyimpang dari hakekat perkara kepailitan;

Adapun pertimbangan hukum dalam perkara PKPU Nomor 08/Pdt.Sus-PKPU/2017/PN.NIAGA.JKT.Pst., tanggal 14 Februari 2017, halaman 24 paragraf 4 dan halaman 25 butir 2, dikutip sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa dalil Pemohon tersebut dibantah oleh Para Termohon PKPU yang menyatakan:

- Bahwa atas dalil dari Pemohon PKPU tersebut, Para Termohon PKPU dengan tegas menolak karena pemberian kredit modal kerja sebesar

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) dari Pemohon PKPU sebagian dari uang tersebut atas perintah Pemohon PKPU untuk ditransferkan kepada pihak lain yaitu sebesar Rp6.633.997.706,00 (enam milyar enam ratus tiga puluh tiga juta sembilan ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam rupiah). Dan atas permasalahan tersebut di atas, Para Termohon PKPU telah mengajukan gugatan wanprestasi di Pengadilan Negeri Kota Cirebon tertanggal 6 Oktober 2015 dengan Nomor Perkara Nomor 70/PdtG.lnt/2015/PN.Cbn., (bukti PT-1) dan telah diputus oleh Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo pada tanggal 24 Mei 2016 (bukti PT-2);

- Bahwa berkaitan dengan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Pemohon PKPU tentang besar pinjaman pokok yang telah diterima oleh Termohon PKPU juga telah dilaporkan oleh Termohon PKPU berkaitan dengan penyimpangan aliran pemberian uang fasilitas kredit yang telah dilakukan penyidikannya oleh pihak Polda Jabar berdasarkan Laporan Nomor Pol.LPB/871/XII/2011/Jabar, tanggal 19 Desember 2011”...

Bahwa kemudian pertimbangan hukum Judex Facti dalam halaman 19 paragraf 1, dikutip sebagai berikut: “Menimbang, bahwa dari permasalahan tersebut telah menjadi sengketa sebagaimana bukti Termohon I dan II dengan tanda PT-2 berupa tanda bukti lapor ke Polda Jabar dengan Nomor Pol.LPB/871/XII/2011/Jabar, tanggal 19 Desember 2011, bukti PT-3.1 berupa Risalah Pernyataan Permohonan Kasasi Nomor 70/Pdt.G.lnt/2015/PN.Cirebon juncto Nomor 581/Pdt/2016/ PT.Bdg dari Termohon I dan II, bukti PT-3.2 tanda Terima Risalah Memori Kasasi Nomor 70/Pdt.G.lnt/2015/PN.Crb juncto Nomor 581/PDT/2016/PT.BDG., dari Termohon I dan II, bukti PT-3.2 Tanda Terima Risalah Memori Kasasi Nomor 70/Pdt.G.Int/2015/PN.Crb., juncto Nomor 581/PDT/2016/PT.BDG., dari Pemohon Kasasi (Termohon I), PT.3.3, berupa Relas Penyerahan Kontra Memori Kasasi, PT-3.4 berupa Kontra Memori Kasasi dari BNI (Pemohon), bukti-bukti mana berupa fotocopy telah disesuaikan dengan aslinya, sehingga dapat dipergunakan sebagai bukti”;

Majelis Hakim Agung Yang Mulia,

Bahwa pertimbangan-pertimbangan hukum dalam perkara PKPU maupun perkara kepailitan tersebut di atas telah salah dan keliru karena menyimpang dari hakekat perkara PKPU maupun perkara kepailitan, yaitu soal utang-utang Debitur kepada Para Krediturnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih dan pembuktiannya sederhana (summarily proving);

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

Hal tersebut sebagaimana ditentukan didalam Pasal 2 ayat (1) Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004, sebagai berikut: ’’Debitur yang mempunyai dua atau lebih Kreditur dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadiian, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih Krediturnya”;

Bahwa ada putusan PKPU dari Pengadilan Niaga pada Pengadiian Negeri Jakarta Pusat Nomor 08/Pdt.Sus-PKPU/2017/PN.Niaga.Jkt.Pst., tanggal 14 Februari 2017 (vide bukti T.1) yang menolak permohonan PKPU, dan ternyata putusan PKPU tersebut telah merugikan Para Pemohon Kasasi dengan alasan:

- Pertimbangan hukum maupun putusan PKPU tersebut dasarnya adalah Laporan Polisi Nomor Pol.LPB/871/XII/2011/Jabar, tanggal 19 Desember 2011, yang tidak ada relevansinya dengan utang;

- Pertimbangan hukum maupun putusan perkara PKPU dasarnya adalah putusan perkara Perdata Nomor 70/Pdt.G.lnt/2015/PN.Cbn., juncto Nomor 581/PDT/2016/PT.BDG., yang sama sekali tidak ada akibat hukumnya terhadap utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I, dan perkara perdata tersebut telah gugur demi hukum sesuai Pasal 29 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004;

- Para Pemohon Kasasi sangat keberatan karena telah dirugikan oleh putusan PKPU tersebut, namun didalam Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 tidak jelas diatur upaya hukum terhadap putusan Pengadilan Niaga pada Pengadiian Negeri yang menolak permohonan PKPU;

- Keadaan sekarang adalah “ada utang-utang“ Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I dan Pemohon Kasasi II yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dan pembuktiannya sederhana;

- Untuk mendapat keadilan hukum bagi Para Pemohon Kasasi, “terbuka hak seluas-luasnya” bagi Para Pemohon Kasasi untuk mengajukan permohonan pailit terhadap Para Termohon Pailit/Para Termohon Kasasi dan terbuka upaya hukum kasasi sebagaimana ditentukan didalam Pasal 11 dan Pasal 12 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004; Oleh karena itulah putusan PKPU tersebut maupun putusan Judex Facti

a quo telah menyimpang dari hakekat perkara PKPU maupun perkara

kepailitan, dan Judex Facti telah salah dan keliru didalam memutus perkara

a quo karena ada utang-utang Para Termohon Kasasi kepada Para

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

Pemohon Kasasi yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih dan pembuktiannya sederhana;

Dengan demikian itu putusan Judex Facti a quo ternyata telah beralasan hukum untuk dibatalkan oleh Majelis Hakim Agung;

3. Judex Facti tidak menerapkan Pasal 8 ayat (4) Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 karena utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I adalah “sederhana” dan telah dijamin dengan Hak Tanggungan dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”;

Pasal 8 ayat (4) Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004, dikutip sebagai berikut:

“4. Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah dipenuhi”;

Kemudian Pasal 14 ayat (2) dan (3) Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, dikutip sebagai berikut: “Sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat irah-irah dengan kata-kata "Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa";

"Sertifikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berlaku sebagai pengganti

grosse acte hypotheek sepanjang mengenai hak atas tanah”;

Namun ada pertimbangan hukum Judex Facti pada halaman 19 paragraf (2) dan (3), dikutip sebagai berikut:

"Menimbang, bahwa dari bukti yang diajukan Termohon I dan II terlihat antara Pemohon dengan Termohon I dan II telah terjadi sengketa dan kasus (sengketa) sudah sampai tingkat kasasi";

“Menimbang, bahwa dari fakta tersebut jumlah uang yang menjadi hutang Termohon I dan II kepada Pemohon I menjadi tidak sederhana lagi dan sebagaimana ketentuan Pasal 8 ayat (4) hutang haruslah sifatnya sederhana”;

Bahwa pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut ternyata telah salah dan keliru dengan alasan hukum adalah sebagai berikut:

- Adapun dasar dan bukti yang sah adanya utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I adalah sederhana, yaitu:

- Perjanjian Kredit Nomor 2009/255/KMK NON KUK, tertanggal 30

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

November 2009, sejumlah Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah), (vide bukti P.11);

- Perjanjian Fidusia Nomor 2009/140/FEO, tertanggal 30 November 2009, (vide bukti P. P.12);

- Para Termohon Kasasi sama sekali tidak pernah membayar pinjaman tersebut kepada Pemohon Kasasi I;

- Bukti P.11 dan P.12 tersebut adalah bukti-bukti yang sah dan sederhana, dibuat dan ditandatangani oleh Para Termohon Kasasi dengan Pemohon Kasasi I, sehingga sah ada utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I;

- Utang tersebut adalah sederhana dan jumlahnya juga telah pasti, yaitu Rp12.398.400.000,00 (dua belas milyar tiga ratus sembilan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah), karena telah dijamin dengan Hak Tanggungan Peringkat Pertama dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yana Maha Esa“ sesuai akta-akta otentik yaitu Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor 163/2009, tanggal 2 Desember 2009, dibuat di hadapan Deddy Suardi, S.H., Notaris/PPAT di Cirebon dan Sertifikat Hak Tanggungan Nomor 1643/2009, tanggal 16 Desember 2009, diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota Cirebon, (vide bukti P.14 dan P.15);

- Bahwa Hak Tanggungan yang telah dipasang dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” sama kekuatan hukumnya dengan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) sesuai ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan (3) Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang telah dikutip di atas;

- Dengan demikian telah terdapat fakta sederhana bahwa ada utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I dan oleh karena itu pertimbangan hukum Judex Facti a quo telah salah dan keliru karena tidak menerapkan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (4) Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004;

Oleh karena itu telah ternyata bahwa pertimbangan hukum Judex Facti a

quo juga telah salah dan keliru, karena tidak menerapkan Pasal 14 ayat (2)

dan (3) Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan; Dan/atau pertimbangan hukum Judex Facti a quo telah salah dan keliru karena “tidak mengakui dan telah menolak Hak Tanggungan” yang telah dipasang irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa“

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

yang kekuatan hukumnya sama dengan putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, (vide bukti P.14 dan P.15);

Dengan demikian putusan Judex Facti a quo telah beralasan hukum untuk dibatalkan oleh Majelis Hakim Agung;

Mohon Perhatian Khusus Majelis Hakim Agung Yang Mulia

Adapun pertimbangan hukum Judex Facti pada halaman 18 paragraf 3, dikutip sebagai berikut: “Menimbang, bahwa hal tersebut Termohon membantahnya, dan untuk itu telah diajukan bukti yang diberi tanda PT-4. bukti tersebut sesuai dengan aslinya sehingga dapat dipakai sebagai bukti, dalam surat bukti yang diberi tanda stabilo orange ditarik uang sebesar Rp6.633.997.706,00 (enam milyar enam ratus tiga puluh tiga juta sembilan ratus sembilan puluh tujuh ribu tujuh ratus enam rupiah) yang menurut Termohon bukan untuk dirinya, dan dalam jawaban menyatakan hanya menerima pinjaman sebesar Rp3.336.002.294,00 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh enam juta dua ribu dua ratus sembilan puluh empat rupiah)”;

Bahwa pertimbangan hukum Judex Facti tersebut telah salah dan keliru karena telah menyimpang dari hakekat perkara kepailitan dengan alasan hukum dan “kurun waktu kejadian pembuatan utang tersebut”. sebagai berikut:

- Bahwa pertimbangan hukum Judex Facti yang menyatakan hanya menerima pinjaman sebesar Rp3.336.002.294,00 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh enam juta dua ribu dua ratus sembilan puluh empat rupiah) ternyata merupakan dalil saja, karena tidak didukung dengan bukti-bukti yang sah sehingga hal tersebut adalah merupakan kesalahan dan kekeliruan Judex Facti;

- Bukti-bukti Perjanjian Kredit Nomor 2009/255/KMK NON KUK dan Perjanjian Fidusia Nomor 2009/140/FEO, ditandatangani tertanggal 30 November 2009, (vide bukti P.11 dan P.12);

- Kemudian Bukti Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor 163/2009, dibuat di hadapan Deddy Suardi, S.H., Notaris/PPAT di Cirebon, ditandatangani tanggal 2 Desember 2009 dengan jumlah Hak Tanggungan Rp.12.398.400.000.00 (dua belas milyar tiga ratus sembilan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah), (vide bukti P.14);

- Setelah itu Sertifikat Hak Tanggungan Nomor 1643/2009, diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kota Cirebon, pada tanggal 16 Desember 2009, (vide bukti P.15);

Bahwa bukti P.14 dan P.15 tersebut adalah bukti-bukti otentik dan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

sederhana yang sama kekuatan hukumnya dengan putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, maka dengan demikian terdapat fakta sederhana adanya utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I dengan jumlah yang pasti adalah Rp12.398.400.000,00 (dua belas milyar tiga ratus sembilan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah);

Bahwa apabila benar “quod non” Para Termohon Kasasi hanya menerima uang pinjaman dari Pemohon Kasasi I sejumlah Rp3.336.002.294,00 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh enam juta dua ribu dua ratus sembilan puluh empat rupiah), maka penerimaan uang tersebut telah menjadi utang dari Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I;

Dan bahwa apabila benar “quod non” Para Termohon Kasasi pada tanggal 30 November 2009 hanya menerima pinjaman sejumlah Rp3.336.002.294,00 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh enam juta dua ribu dua ratus sembilan puluh empat rupiah), maka sesuai logika hukum dan sesuai “kurun waktu kejadian pembuatan utang tersebut” mustahil pada tanggal 2 Desember 2009 Para Termohon Kasasi bersedia membuat dan mendatangani Akta Pemberian Hak Tanggungan Nomor 163/2009, dibuat di hadapan Deddy Suardi, S.H., Notaris/PPAT di Cirebon dengan jumlah Hak Tanggungan Rp12.398.400.000,00 (dua belas milyar tiga ratus sembilan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah), karena tidak sebanding antara jumlah pinjaman Rp3.336.002.294,00 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh enam juta dua ribu dua ratus sembilan puluh empat rupiah) dengan jumlah Hak Tanggungan Rp12.398.400.000,00 (dua belas milyar tiga ratus sembilan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah), (vide bukti P.14);

Dan bahwa apabila benar “quod non" Para Termohon Kasasi pada tanggal 30 November 2009 hanya menerima pinjaman sejumlah Rp3.336.002.294,00 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh enam juta dua ribu dua ratus sembilan puluh empat rupiah), maka sesuai logika hukum dan sesuai “kurun waktu kejadian pembuatan utang tersebut” mustahil pada tanggal 16 Desember 2009 Kantor Pertanahan Kota Cirebon menerbitkan Sertifikat Hak Tanggungan Nomor 1643/2009, tanggal 16 Desember 2009 dengan jumlah Hak Tanggungan Rp12.398.400.000,00 (dua belas milyar tiga ratus sembilan puluh delapan juta empat ratus ribu rupiah), karena tidak sebanding jumlah pinjaman Rp3.336.002.294,00 (tiga milyar tiga ratus tiga puluh enam juta dua ribu dua ratus sembilan puluh empat rupiah) dengan jumlah Hak Tanggungan Rp12.398.400.000,00 (vide bukti P.15);

Bahwa ternyata pertimbangan hukum Judex Facti tersebut tanpa disertai

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

bukti yang sah seolah-olah hanya mengizinkan dan mengesahkan debitur atau Para Termohon Kasasi untuk mengemplang utangnya kepada Pemohon Kasasi I;

Dengan demikian Judex Facti ternyata telah salah dan keliru karena secara sederhana ada utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I; 4. Judex Facti salah dan keliru karena tidak menerapkan Pasal 2 ayat (1)

Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 yaitu Pemohon Kasasi II adalah Kreditur lain dari Para Termohon Kasasi.

Judex Facti didalam pertimbangan hukum halaman 19, paragraf 7 mengakui

adanya utang Termohon I dan II (CV Timbul Jaya Perkasa dan Sumarsono) kepada Pemohon II (CV Tugu Kenangan), dikutip sebagai berikut:

“Menimbang, bahwa hutang Termohon I dan II kepada Pemohon II dalam jawaban Termohon I dan II menyangkalnya namun tanpa argumentasi/ alasan, tetapi dari Bukti P-17a dan P-17b serta Bukti P-18, bukti-bukti tersebut berupa fotocopy yang sesuai dengan aslinya sehingga dapat dipakai sebagai bukti dan dari bukti P-18 Putusan MARI tekbukti Termohon I dan II mempunyai hutang sebesar Rp1.561.610.000,00 (satu miliar lima ratus enam puluh satu juta enam ratus sepuiuh ribu rupiah);

Maka dengan demikian sesuai pertimbangan Judex Facti a quo telah terdapat fakta sederhana bahwa ada lagi utang Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi II yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, maka dengan demikian telah terdapat fakta atau keadaan sederhana adanya 2 (dua) utang dari Para Termohon Kasasi yaitu kepada Pemohon Kasasi I dan Pemohon Kasasi II, sehingga Judex Facti ternyata telah salah dan keliru karena tidak menerapkan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (4) Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004;

Oleh karena itu putusan Judex Facti a quo ternyata telah beralasan hukum untuk dibatalkan oleh Majelis Hakim Agung;

Pesero Komanditer Dapat Dinyatakan Pailit

Bahwa Termohon Pailit lll/Termohon Kasasi III adalah Pesero Komanditer dan bukan Pesero Komplementer, sehingga Pesero Komanditer secara yuridis bertanggungjawab penuh atas utang-utang CV Timbul Jaya Perkasa dan beralasan hukum untuk dinyatakan pailit sesuai Pasal 5 Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004;

Majelis Hakim Agung Yang Mulia

- Terbukti secara fakta sederhana ada 2 (dua) utang dari Para Termohon Kasasi kepada Pemohon Kasasi I dan Pemohon Kasasi II, sehingga telah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

terpenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (4) Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004, dan oleh karena itu permohonan pailit telah beralasan hukum untuk dikabulkan oleh Majelis Hakim Agung;

- Dipandang dari sisi ketentuan hukum yang berlaku yaitu Undang Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 dan Undang Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, maka sama sekali tidak ditemukan alasan yang sah untuk mempertahankan atau menguatkan putusan Judex Facti;

- Putusan Judex Facti sangat menakutkan dan membahayakan Pemohon Kasasi I sebagai Bank yang telah memberi kredit kepada nasabah;

Dengan demikian Majelis Hakim Agung yang memeriksa dan mengadili perkara ini beralasan hukum untuk membatalkan putusan Judex Facti dengan mengadili sendiri perkara ini;

Menimbang, bahwa terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:

Bahwa keberatan-keberatan tersebut dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 12 Juli 2017 dan kontra memori kasasi tanggal 20 Juli 2017, dihubungkan dengan pertimbangan putusan Judex Facti dalam hal ini Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah salah menerapkan hukum, dengan pertimbangan sebagai berikut:

- Bahwa Judex Facti telah salah menerapkan hukum dengan menyatakan menolak gugatan atas dasar utang Termohon I dan Termohon II/Para Termohon Kasasi tidak terbukti secara sederhana, oleh karenanya kesimpulan Judex Facti bahwa dalil Pemohon I dan II atas utang Termohon I dan II tidak terbukti secara sederhana sebagai kesimpulan atas putusan yang kurang pertimbangan;

- Bahwa adanya utang Termohon I yang telah jatuh tempo jelas terlihat dari adanya Perjanjian Kredit dengan Hak Tanggungan yang menetapkan jumlah kredit, adanya dua Kreditur dari Termohon Pailit I juga sudah jelas terbukti yaitu Pemohon Kasasi I dan II;

- Bahwa karena CV bukan badan hukum, maka Para Persero dapat secara tanggung renteng bertanggung jawab terkait utang CV sesuai ketentuan Pasal 5 Undang Undang Nomor 37 Tahun 2004;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, Mahkamah Agung berpendapat, terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan oleh Para Pemohon Kasasi: PT BANK

NEGARA INDONESIA (Persero), Tbk., dan kawan tersebut dan membatalkan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 34/Pdt.Sus-Pailit/2017/PN.Niaga.Jkt.Pst., tanggal 5 Juli 2017, selanjutnya Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara ini dengan amar sebagaimana akan disebutkan di bawah ini;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dikabulkan dan Termohon Kasasi/Debitur dinyatakan pailit, sesuai ketentuan Pasal 15 ayat (1) Undang Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, harus diangkat Kurator dan seorang Hakim Pengawas;

Bahwa sesuai dengan ketentuan tersebut di atas, Hakim Pengawas yang ditunjuk adalah Hakim Pengawas yang terdapat di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, oleh karena itu Mahkamah Agung memerintahkan Ketua Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat untuk menunjuk seorang Hakim Pengawas dalam perkara ini;

Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Kurator yang diangkat haruslah yang independen, tidak mempunyai benturan kepentingan antara Para Debitur dan Para Kreditur, serta tidak menangani perkara Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang lebih dari 3(tiga) perkara;

Bahwa setelah memeriksa surat-surat usulan pengangkatan Kurator, Mahkamah Agung berpendapat bahwa usul pengangkatan Kurator yang diajukan oleh Para Pemohon Kasasi/Para Pemohon Pailit, yaitu Saudara Ranto P. Simanjuntak, S.H., M.H., Kurator dan Pengurus terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia R.I. dengan Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU.AH.04.0320, tanggal 23 Februari 2016, beralamat di Cityloft Sudirman Building Lantai 11, Suit 11-09, Jalan KH. Mansyur Nomor 121, Jakarta Pusat, sebagai Kurator telah memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan dalam Undang Undang, oleh karena itu beralasan untuk dikabulkan;

Menimbang, bahwa ketentuan Pasal 75 dan Pasal 76 Undang Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, menentukan bahwa besarnya imbalan jasa Kurator ditentukan setelah Kepailitan berakhir dan besarnya imbalan jasa yang dibayarkan kepada Kurator ditetapkan berdasarkan pedoman yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum dan perundang-undangan;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Para Pemohon

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

Kasasi dikabulkan dan Para Termohon Kasasi/Para Termohon Pailit berada di pihak yang kalah, maka harus dihukum untuk membayar semua biaya perkara dalam semua tingkat peradilan;

Memperhatikan Undang Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Undang Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2009, serta peraturan perUndang Undangan lain yang bersangkutan;

M E N G A D I L I

- Mengabulkan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. PT BANK

NEGARA INDONESIA (Persero), Tbk., dan 2. CV TUGU KENANGAN (TOEGOE KENANGAN) tersebut;

- Membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 34/Pdt.Sus-Pailit/2017/PN.Niaga.Jkt.Pst., tanggal 5 Juli 2017;

MENGADILI SENDIRI

1. Mengabulkan pemohonan pernyataan pailit dari Para Pemohon Pailit; 2. Menyatakan Para Debitur pailit;

3. Memerintahkan Ketua Pengadilan Negeri/Niaga Jakarta Pusat untuk menunjuk seorang Hakim Pengawas yang ada di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut untuk perkara a quo;

4. Mengangkat Saudara Ranto P. Simanjuntak, S.H., M.H., Kurator dan Pengurus terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia R.I., dengan Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus Nomor AHU.AH.04.0320, tanggal 23 Februari 2016, berkantor di Cityloft Sudirman Building, Lantai 11, Suit 11-09, Jalan KH. Mansyur Nomor 121, Jakarta Pusat, sebagai Kurator untuk perkara a quo,

5. Menetapkan imbalan jasa bagi Kurator akan ditentukan kemudian setelah Kepailitan berakhir;

- Menghukum Para Termohon Kasasi/Para Debitur untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan, yang dalam tingkat kasasi ditetapkan sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam rapat musyawarah Majelis Hakim pada hari Senin tanggal 27 November 2017 oleh Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., LL.M., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Dr. Nurul Elmiyah, S.H., M.H., dan I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H.,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 21 hal. Put. Nomor 1274 K/Pdt.Sus-Pailit/2017

Hakim-Hakim Agung, masing-masing sebagai Anggota, putusan tersebut diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis dengan dihadiri oleh Para Hakim Anggota tersebut dan Susi Saptati, S.H., M.H., Panitera Pengganti tanpa dihadiri oleh para pihak.

Hakim-Hakim Anggota: Ketua Majelis,

Ttd/. Prof. Dr. Takdir Rahmadi, S.H., LL.M. Ttd/. Dr. Nurul Elmiyah, S.H., M.H.

Ttd/. I Gusti Agung Sumanatha, S.H., M.H.

Panitera Pengganti, Ttd/. Susi Saptati, S.H., M.H. Biaya-biaya Kasasi: 1. M e t e r a i……….. Rp 6.000,00 2. R e d a k s i……….. Rp 5.000,00 3. Administrasi kasasi……….. Rp4.989.000,00 Jumlah ……… Rp5.000.000,00

Untuk SalinanMahkamah Agung R.I Untuk Salinan

Mahkamah Agung R.I

a.n. Panitera,

Panitera Muda Perdata Khusus

RAHMI MULYATI, S.H., M.H., NIP. 19591207 198512 2 002

19591207 198512 2 002

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itu akan dilakukan penelitian nilai delay untuk mengetahui kinerja dari jaringan nirkabel 4G di Surabaya, agar didapatkan hasil performansi dari TCP/IP, sehingga

Secara hukum, perjanjian yang dibuat menimbulkan akibat hukum dan para pihak yang terkait berhak mengajukan pembatalan perjanjian atau menjadikannya sebagai alasan

Hasil penelitian terhadap nilai bau menunjukkan perbedaan jarak tungku tidak berpengaruh signifikan (P>0,05) terhadap bau ikan asap, namun dengan semakin

Pada angket no 12 yang menjawab benar atau tahu berjumlah 63 orang atau 63%, kemudian yang menjawab salah/ tidak tahu berjumlah 37 orang atau 37% maka rata-rata

Hal itu sejalan dengan penelitian dari D (2017) nilai OR 11,7 sehingga dapat di simpulkan bahwa terdapat ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian preeklamsia pada

Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat sebuah judul tentang “Pembangunan Aplikasi Mobile Donor Darah Berbasis Geolocation Menggunakan Metode Reactive

Creamer merupakan produk emulsi lemak dalam air yang diproses dari nabati, biasanya banyak digunakan sebagai bahan tambahan untuk minuman kopi, susu, coklat,

Pemodelan hubungan antara angka korban kecelakaan dengan faktor penyebab kecelakaan lalu lintas yang diambil adalah hasil pemodelan kumulatif pada Tahun 2015– 2017