PRO KONTRA
TEORI EVOLUSI
A. TEORI ABIOGENESIS
Menurut teori abiogenesis, makhluk hidup berasal dari benda tidak hidup atau dengan kata lain makhluk hidup ada dengan sendirinya. Oleh karena makhluk itu ada dengan sendirinya maka teori ini dikenal juga dengan teori Generatio Spontanea.
Generatio spontanea berarti penciptaan yang terjadi secara spontan. Artinya bahwa
kehidupan berasal dari benda tak hidup yang terjadi secara spontan. Aristoteles merupakan salah satu pelopor teori ini, teori ini diajukan oleh Aristoteles pada tahun 384–322SM.
Aristoteles menyatakan bahwa kehidupan berasal dari benda tak hidup yang terjadi secara spontan. Teori ini dikemukakan oleh Aristoteles berdasarkan pengamatan adanya larva lalat yang muncul secara tiba-tiba pada daging yang busuk. Aristoteles berkesimpulan bahwa larva lalat tersebut berasal dari daging yang busuk.
Gambar 1. Percobaan Pengamatan Aristoteles
Pendukung lain teori Abiogenesis adalah Nedham, seorang ilmuwan dari Inggris. Pada tahun 1713-1781 John Needham melakukan percobaan dengan mengisi beberapa labu tertutup dengan kaldu daging, kemudian dipanaskan tetapi tidak sampai mendidih. Selanjutnya labu tersebut ditutup dan disimpan pada suhu kamar. Setelah beberapa hari, ternyata semua labu menjadi keruh yang menunjukkan bahwa di dalam labu sudah berisi mikrobia. Berdasarkan hasil percobaannya, Needham menyimpulkan bahwa mikrobia yang menyebabkan kekeruhan dalam labu berasal dari kaldu daging yang disiapkan. Berdasarkan percoban tersebut, dapat disimpulkan bahwa kehidupan berasal dari benda mati.
Gambar 2. Percobaan Pengamatan Needham
Menurut paham generation spontanea, semua kehidupan berasal dari benda tak hidup secara spontan, seperti:
1. Ikan dan katak berasal dari lumpur 2. Cacing berasal daritanah
3. Belatung terbentuk dari daging yangmembusuk 4. Tikus berasal dari sekam dan kainkotor.
Setelah ditemukan mikroskop, Antonie van Leeuwenhoek melihat adanya mikroorganisme (animalculus) di dalam air rendaman jerami. Temuan ini seolah-olah menguatkan teori Abiogenesis. Para pendukung teori Abiogenesis menyatakan bahwa mikroorganisme itu berasal dari jerami yang membusuk. Akan tetapi, Leeuwenhoek menolak pernyataan itu dengan mengemukakan bahwa mikroorganisme itu berasal dari udara.
Para penganut abiogenesis tersebut di atas dalam menarik kesimpulan sebenarnya terdapat kelemahan, yaitu belum mampu melihat benda yang sangat kecil (bakteri, kista, ataupun telur cacing) yang terbawa dalam materi percobaan yang digunakan. Hal ini karena pada zaman Aristoteles belum ditemukan mikroskop. Walaupun ada kelemahan pada percobaan, tetapi cara berpikir dalam mencari jawaban mengenai asal usul kehidupan di bumi ini sudah mengacu pada pola metode ilmiah. Walaupun bertahan beratus-ratus tahun, teori Abiogenesis akhirnya goyah dengan adanya penelitian tokoh- tokoh yang tidak puas dengan paham Abiogenesis. Tokoh-tokoh ini antara lain: Francesco Redi (Italia, 1626 - 1697), Lazzaro Spallanzani (Italia, 1729 - 1799), dan Louis Pasteur (Perancis, 1822 - 1895).
B. TEORI BIOGENESIS
Teori Biogenesis menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup. Tokoh pendukung teori ini antara lain Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani, dan Louis
Pasteur. Francesco Redi merupakan orang pertama yang melakukan penelitian untuk membantah teori Abiogenesis.
1. Percobaan Francesco Redi
Francesco Redi melakukan penelitian menggunakan 8 tabung yang dibagi menjadi 2 bagian. Empat tabung masing-masing diisi dengan daging ular, ikan, roti dicampur susu, dan daging. Keempat tabung dibiarkan terbuka. Empat tabung yang lain diperlakukan sama dengan 4 tabung pertama, tetapi tabung ditutup rapat. Setelah beberapa hari pada tabung yang terbuka terdapat larva yang akan menjadi lalat.
Berdasarkan hasil percobaannya, Redi menyimpulkan bahwa ulat bukan berasal dari daging, tetapi berasal dari telur lalat yang terdapat dalam daging dan menetas menjadi larva. Penelitian ini ditentang oleh penganut teori Abiogenesis karena pada tabung yang tertutup rapat, udara dan zat hidup tidak dapat masuk sehingga tidak memungkinkan untuk adanya suatu kehidupan. Bantahan itu mendapat tanggapan dari Redi. Redi melakukan percobaan yang sama, namun tutup diganti dengan kain kasa sehingga udara dapat masuk dan ternyata dalam daging tidak terdapat larva.
Gambar 3. Percobaan Pengamatan Francesco Redi 2. Percobaan Lazzaro Spallanzani
Lazzaro Spallanzani pada tahun 1765 melakukan percobaan untuk menyanggah kesimpulan yang dikemukakan oleh Nedham. Lazzaro Spallanzani melakukan percobaan dengan memanaskan 2 tabung kaldu sehingga semua organisme yang ada di dalam kaldu terbunuh. Setelah didinginkan kaldu tersebut dibagi menjadi 2, satu tabung dibiarkan terbuka dan satu tabung yang lain ditutup. Ternyata pada tabung yang terbuka terdapat organisme, sedangkan pada tabung yang tertutup tidak terdapat organisme.
Percobaan Spallanzani ini pada prinsipnya sama dengan percobaan Redi, tetapi bahan yang digunakan adalah air kaldu.
a. Labu 1 : diisi 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15º C dan dibiarkan terbuka.
Labu 2 : diisi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat dengan sumbat gabus lalu dipanaskan dan pada daerah pertemuan gabus dengan mulut labu dapat diolesi lilin agar lebih rapat.
b. Kedua labu itu ditempatkan di tempat terbuka dan didinginkan. Setelah beberapa hari kemudian, hasil percobaan menunjukkan bahwa:
Labu 1 : terjadi perubahan, air kaldu menjadi keruh dan berbau tidak enak, serta banyak mengandung mikroba.
Labu 2 : tidak ada perubahan sama sekali, air tetap jernih dan tanpa mikroba. Tetapi, bila dibiarkan terbuka lebih lama terdapat banyakmikroba.
c. Dengan mikroskop tampak bahwa pada kaldu yang berasal dari labu 1 dan labu 2 terdapat mikroorganisme.
Spallanzani menyimpulkan bahwa timbulnya kehidupan hanya mungkin jika telah ada kehidupan sebelumnya. Jadi, mikroorganisme tersebut telah ada dan tersebar di udara. Pendukung abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Spallanzani, sebab udara diperlukan untuk berlakunya generation
spontanea. Sedangkan, paham biogenesis beranggapan bahwa udara itu merupakan
sumber kontaminasi.
Gambar 4. Percobaan Pengamatan L. Spallanzi 3. Percobaan Louis Pasteur
Orang yang memperkuat teori Biogenesis dan menumbangkan teori Abiogenesis hingga tak tersanggahkan lagi adalah Louis Pasteur (1822 - 1895)
seorang ahlibiokimia berkebangsaan Perancis. Pasteur melakukan percobaan penyempurnaan dari percobaan yang dilakukan Spallanzani. Louis Pasteur melakukan percobaan menggunakan labu leher angsa.
Pertama-tama kaldu direbus hingga mendidih, kemudian didiamkan. Setelah beberapa hari, air kaldu tetap jernih dan tidak mengandung mikroorganisme. Adanya leher angsa memungkinkan udara dapat masuk ke dalam tabung, tetapi mikroorganisme udara akan terhambat masuk karena adanya uap air pada pipa leher. Namun, apabila tabung dimiringkan hingga air kaldu sampai ke permukaan pipa, air kaldu tersebut akan terkontaminasi oleh mikroorganisme udara. Akibatnya setelah beberapa waktu, air kaldu akan keruh karena terdapat mikroorganisme. Kesimpulan percobaan Pasteur adalah mikroorganisme yang ada pada air kaldu bukan berasal dari cairan (benda tak hidup), melainkan dari mikroorganisme yang terdapat di udara. Mikroorganisme yang ada di udara masuk ke dalam labu bersama-sama dengan debu.
Gambar 5. Percobaan Pengamatan Louis Pasteur Hasil percobaan Louis Pasteur, yakni :
a. Air kaldu yang terdapat di dalam labu yang tidak berbentuk leher angsa, mengandungmikroorganisme.
b. Adapun labu yang berbentuk leher angsa dan berhubungan dengan udara luar, tidak terdapat mikroorganisme.
Berdasarkan hasil percobaan para ilmuwan tersebut maka muncullah teori baru yaitu teori Biogenesis yang menyatakan bahwa:
a. Setiap makhluk hidup berasal dari telur = omne vivum exovo b. Setiap telur berasal dari makhluk hidup = omne ovum exvivo
exvivo
4. Teori Cosmozoic /Kosmozoan
Teori Cosmozoic atau teori Kosmozoan menyatakan bahwa asal mula makhluk hidup bumi berasal dari ”spora kehidupan” yang berasal dari luar angkasa. Keadaan planet di luar angkasa diliputi kondisi kekeringan, suhu yang sangat dingin serta adanya radiasi yang mematikan sehingga tidak memungkinkan kehidupan dapat bertahan. Pada akhirnya spora kehidupan itu sampai ke bumi. Teori ini tidak dapat diterima oleh banyak ilmuwan.
Gambar 6. Batu Meteor 5. Teori Penciptaan (Special Creation)
Teori ini berpandangan bahwa makhluk hidup diciptakan oleh Tuhan seperti apa adanya. Paham ini hanya membicarakan perkembangan materi sampai terbentuknya organisme tanpa menyinggung asal usul materi kehidupan. Penciptaan setiap jenis makhluk hidup terjadi secara terpisah. Teori ini tidak berdasarkan suatu eksperimen.
6. Teori Evolusi Biokimia
Teori ini mencoba menggali informasi asal usul makhluk hidup dari sisi biokimia. Menurut Oparin dalam bukunya yang berjudul The Origin of Life (1936) menyatakan bahwa asal mula kehidupan terjadi bersamaan dengan evolusi terbentuknya bumi beserta atmosfernya. Alexander Oparin adalah ahli evolusi molekular berkebangsaan Rusia. Lebih lanjut, Oparin menjelaskan bahwa pada mulanya atmosfer bumi purba terdiri atas metana (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O), dan gas hidrogen (H2). Oleh karena adanya pemanasan dan energi alam, berupa sinar kosmis dan halilintar, gas-gas tersebut mengalami perubahan menjadi molekul organik sederhana, sejenis substansi asam amino.
Selama berjuta-juta tahun, senyawa organik itu terakumulasi di cekungan perairan membentuk primordial soup, seperti semacam campuran materi-materi di lautan panas. Tahap selanjutnya, primordial soup ini membentuk monomer. Monomer bergabung membentuk polimer. Polimer membentuk agregasi berupa protobion. Protobion adalah bentuk awal sel hidup yang belum mampu bereproduksi, tetapi mampu memelihara lingkungan kimia dalam tubuhnya. Di samping itu, protobion juga telah memperlihatkan sifat yang berhubungan dengan makhluk hidup, seperti dapat melakukan metabolisme, kemampuan menerima rangsang, dan bereplikasi sendiri. Terbentuknya polimer dari monomer-monomer telah dibuktikan oleh Sydney W. Fox. Dalam percobaannya, Fox memanaskan 18– 20 macam asam amino pada titik leburnya dan didapatkan protein.
Pendapat Alexander Oparin mendapat dukungan dari ahli kimia Amerika Serikat, bernama Harold Urey. Urey menyatakan bahwa atmosfer bumi purba terdiri atas gas-gas metana (CH4), amonia (NH3), uap air (H2O), dan gas hidrogen (H2).
Dengan adanya energi alam (berupa halilintar dan sinar kosmis), campuran gas-gas tersebut membentuk asam amino. Pada tahun 1953, seorang mahasiswa Harold Urey, yaitu Stanley Miller (USA) mencoba melakukan eksperimen untuk membuktikan kebenaran teori yang dikemukakan Urey. Percobaannya itu juga dikenal dengan eksperimen Miller-Urey.
Gambar 7. Percobaan Pengamatan Miller-Urey 7. Teori Evolusi Kimia menurut Harold Urey (1893)
Urey menyatakan zat-zat organik terbentuk dari zat-zat anorganik. Menurut Urey, zat-zat anorganik yang ada di atmosfer berupa gas karbondioksida, metana, amonia, hidrogen, dan uap air. Semua zat ini bereaksi membentuk zat organik
karena energi petir.
Menurut Urey, proses terbentuknya makhluk hidup dapat dijelaskan dengan 4 tahap, yaitu:
Tahap 1 : Molekul metana, amonia, hidrogen, dan uap air tersedia sangat banyak di atmosfer bumi.
Tahap 2 : Energi yang diperoleh dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar kosmis menyebabkan zat-zat bereaksi membentuk molekul-molekul zat yang lebih besar.
Tahap 3: Terbentuk zat hidup yang paling sederhana yang memiliki susunan kimia, seperti susunan kimia pada virus.
Tahap 4 : Zat hidup yang terbentuk berkembang dalam waktu jutaan tahun menjadi organisme (makhluk hidup) yang lebih kompleks
8. Evolusi Biologi
Teori biologi merupakan teori evolusi kimia, yang berpendapat bahwa bumi ini pada awalnya sangat panas sekali, kemudian suatu ketika bumi mengalami proses pendinginan. Dari proses-proses tersebut maka dapat dihasilkan bahan-bahan kimia. Bahan-bahan yang berat akan menyusun bumi sedangkan bahan yang ringan akan menyusun atmosfer nya ini asam amino tersebut belum menunjukkan gejala hidup.
Evolusi biologi dimulai pada saat pembentukan sel. Asam amino yang terbentuk dari evolusi kimia akan bergabung membentuk makromolekul. Hal ini dibuktikan pada penelitian Sidney W. Fox. Larutan yang mengandung monomer- monomer organik diteteskan ke pasir, batu, atau tanah yang panas sehingga mengalami polimerisasi. Hasil polimerisasi ini dinamakan proteinoid. Apabila proteinoid dicampur dengan air dingin terbentuklah kumpulan proteinoid yang menyusun tetesan kecil yang disebut mikrosfer. Mikrosfer memiliki beberapa sifat hidup yang mempunyai membran selektif permeabel namun belum dapat dikatakan hidup.
C. SEJARAH EVOLUSI
Charles Darwin (1809-1882) lahir di Shrewsbury di Ingris bagian barat. Bahkan sebagai seorang anak kecil, ia sudah memiliki minat yang sangat besar pada alam. Ketika ia tidak sedang membaca buku mengenai alam, ia akan memancing, berburu, dan mengumpulkan serangga. Ayah Darwin, seorang dokter yang sangat terhormat dan terkenal, melihat bahwa tidak ada masa depan bagi ahli ilmu alam, maka ayahnya
menyekolahkan Charles ke University of Endinburgh untuk belajar kedokteran. Berumur 16 tahun pada masa itu, Charles merasa bahwa sekolah kedokteran sangat membosankan dan memuakkan. Meskipun ia berhasil mendapatkan nilaidan angka yang baik, ia meninggalkan sekolahnya tanpa gelar dan kemudian mendaftarkan dirinya di Christ College di Cambridge University, dengan harapan menjadi seorang imam. Pada masa itu di Britsnia Raya, sebagian besar ahli ilmu alam dan sains lainnya masuk dalam kelompok imam. Darwin menjadi murid dari pastur John Henslow, professor botani di Crambidge University. Segera setelah Darwin menerima gelar BA pada tahun 1831, professor Henslow merekomendasikan lulusan muda tersebut ke kapten Robert Fitz Roy, yang sedang mempersiapkan kapal survey Beagle untuk suatu pelayaran mengelilingi dunia.
1. Pelayaran kapal HMS Beagle
Riset lapangan membantu Darwin membentuk pandangan mengenai suatu kehidupan. Saat Darwin berumur 22 Tahun, ketika ia berlayar da ri Britania Raya pada bula desember 1831, misi utama pelayaran tersebut adalah mendata daerah- daerah di sepanjang rentangan garis pantai Amerika Selatan yang masih kurang dikenal saat itu. Ketia anak buah kapal mengadakan survi di pesisir, Darwin menghabiskan sebagian besar waktunya di pantai, mengamati dan mengumpulkan ribuan specimen fauna dan flora yang eksotik dan beragam ketika kapal berlayar mengelilingi benua tersebut, Darwin mengamati berbagai adaptasi tumbuhan dan hewan yng menempati lingkungan yang sedemikian beranekaragam seperti hutan belantara Brasil, padang rumput luas Argentina, daerah terpencil Tierra del Fuego dekat antartika, dan ketinggian yang menjulang dari puncak pegunungan Andes.
Darwin menulis banyak sekali mengenai fauna dan flora dari berbagai daerah di Amerika Selatan. Ia mencatat bahwa tumbuhan dan hewan di benua itu memiliki ciri khas Amerika Selatan, yang sangat berbeda dari tumbuhan dan hewan di beunua Eropa. Namun hak tersebut belum mencengangkan. Akan tetapi, Darwin juga mencatat bahwa tumbuhan dan hewan di daerah yang beriklim sedang Amerika Selatan lebih dekat kekerabatannya dengan spesies yang hidup di daerha tropis benua tersebut di bandingkan dengan spesies di daerah yang beriklim sedang di daratan Eropa. Selain itu, fosil di Amerika Selatan yang ditemukan oleh Darwin, meskipun jelas berbeda dari spesies modern, sangat jelas khas Amerika Selatan dalam kemiripannya dengan tumbuhan dan hewan yang hidup di benua tersebut.
Saat kapal Beagle berlayar dari Galapagos, Darwin telah selasai membaca buku lyell yang berjudul Principles of Geology. Ide Lyell, bersama-sama dengan pengalamnnya di kepulauan Galapagos, telah membuat Darwin meragukan pandangan gereja bahwa bumi adalah statis dan diciptkan hanya beberapa ribuan tahun yang lalu. Dengan mengakui bahwa bumi ini sudah sangat tua dan secara spontan berubah, Darwin telah mengambil langkah penting menuju pengenalan bahwa kehidupan di Bumi juga telah berevolusi.
2. Pembelajaran Darwin Pada Adaptasi
Setelah kembali ke Britania Raya pada tahun 1836, Darwin mulai mengevaluasi kembali semua yang telah diamati selama pelayaran kapal beagle. Ia mulai memahami bahwa asal mula spesies baru dan adaptasi dengan lingkungan adalah dua proses yang saling berkaitan. Tampak bagi dia bahwa sebuah spesies baru timbul dari bentuk nenek moyangnya melalui akumulasi adaptasi yang terjadi secara bertahap terhadap lingkungan hidup yang berbeda. Sebagai contoh, jika suatu sawar geografis; seperti selat yang memisahkan pulau-pulau dikedua populasitersebut semakin lama semakin berbeda sehingga bisa dipisahkan menjadi dua spesies yang berbeda.
Dari kajian-kajian yang dilakukan bretahun-tahun setelah pelayaran Darwin, para ahli biologi telah menyimpulkan bahwa inilah yang terjadi pada burung fich di Galapagos itu. Satu diantara banyak perbedaan pada burung finh itu adalah paruhnya, yang telah dia daptasikan dengan makanan khas yang tersedia pada pulau tempat mereka tinggal. Darwin mengantisipasi bahwa menjelaskan bagaimana adaptasi seperti itu mucul, penting bagi pemahaman evolusi.
Pada awal tahun 1844-an Darwin telah mengetahui bagian-bagian penting dari teorinya mengenai seleksi alam sebagai mekanisme evolusi. Akan tetapi, ia masiuh belum mempublikasikan pemikirannya itu.
Kesehatannya pada waktu itu dalam keadaan buruk, dan ia jarang sekali meninggalkan rumah. Namun demikian, ia tidak teisoslasi dari komunitas ilmiah. Terkenal sebagai seseorang naturalis karena surat dan specimen yang dikirimnya ke Britania Raya selama pelayaran kapal beagle, Darwin sering sekali mengadakan korespondensi dan mendapat kunjungan dari Lyell Henslow, dan para sains lainnya. 3. Terjadinya Evolusi dan Seleksi Alam Sebagai Mekanisme Darwin
Darwinisme mempunyai art ganda. Segi pertamanya adalah pengenalan evolusi sebagai penjelasan untuk kesatuan dan keanekaragaman kehidupan. Segi keduanya adalah konsep Darwinian mengenai seleksi alam sebagai akibat evolusi adaptif. a. Pewarisan Dengan Modifikasi
Darwin memandang adanya kesatuan dalam kehidupan, dimana semua organisme berkerabat melalui garis keturunan dari prototype yang tidak diketahui yang hidup pada zaman dahulu kala. Ketika turunan organisme itu terpencar ke berbagai habitat yang berbeda selama jutaan tahun, organisme itu akan mengakumulasi modifikasi atau adaptasi, yang beraneka ragam, yang membuat mereka menjadi cocok dengan suatu cara hidup tertentu.
Dalam pandangan Darwinian, sejarah kehidupan diibaratkan sebagai sebuah pohon dengan banyak sekali cabang yang memunculkan cabang-cabang yang lebih kecil lagi dari batang yang sama, terus sampai ke ujung ranting yang paling muda, suatu symbol keanekaragaman organisme hidup, pada setiap titik percabangan pohon evolusi itu terdapat nenek moyang dimiliki bersama oleh semua garis cabang evolusi dari titik percabangan tersebut.
Spesies yang erat sekali hubungannya, seperti singa dan harimau, memiliki banyak sifat dan ciri yang sama karena garis turunan nenek moyangnya sama sampai kecabang terkecil pada pohon kehidupan itu. Banyak cabang evolusi bahkan cabang utama sekalipun merupakan ujung buntu sekitar 99% dari semua spesies yang pernah hidup di bumi ini sudah punah.
Bagi Darwin, hirarki alamiah dari skema Linneaus mereflesikan geneologi bercabang dari pohon kehidupan dengan organisme pada level taksonomik yang berbeda dihubungkan melalui turunan dari nenek moyang yang sama. Jika kita bisa mengakui bahwa singa dan harimau lebih erat hubungan kekerabatannya di bandingkan antara singa dan kuda, maka kita telah mengakui bahwa evolusi telah meninggalkan dalam bentuk derajat kekerabatan yang berbeda diantar spesies modern.
Karena taksonomi adalah penemuan manusia dengan sendirinya. Akan tetapi, bersama dengan banyak bukti lain, implikasi taksonomi pada evolusi tidak mungkin keliru. Analisis genetik, misalnya membeberkan bahwa spesies yang seperti singa dan harimau, meskipun sangat erat hubungankekeluargaannya atas dasar ciri anatominya dan kriteria lain, memang merupakan kerabat dekat dengan latar belakang hereditas yang sangat mirip.
b. Seleksi Alam dan Adaptasi
Ahli biologi evolosi Ernts Mayr telah menguraikan logika teori Darwin mengenai seleksi alam menjadi tiga inferensi berdasarkan lima observasi yaitu:
Semua spesies memiliki potensi fertilitas yang sedemikian besar sehingga jumlah populasinya akan meningkat secara eksponensial jika semua individu yang dilahirkan berhasil berproduksi dengan baik.
1) Populasi cenderung menjadi stabil dalam jumlah kecuali ada fluktusi musiman.
2) Sumber daya lingkungan adalah terbatas
3) Individu-individu dalam suatu populasi sangat jauh berbeda dalam hal ciri-ciri khasnya; tidak akan ada dua individu yang persis sama
4) Banyak diantara variasi tersebut dapat diturunkakan. Ketiga interferensi/kesimpulan tersebut adalah
1) Produksi individu yang lebih banyak dibandingkan dengan yang dapat didukung oleh lingkungan akan mengakibatkan adanya persaingan untuk mempertahankan keberadaan individu di dalam populasi itu, sehingga hanya sebagian keturunan yang dapat bertahan hidup pada setiap generasi.
2) Kelangsungan hidup dalam perjuangan untuk mempertahankan hidup tidak terjadi secara acak, tetapi bergantung sebagian pada susunan sifat terwarisi dari individu yang bertahan hidup. Individu yang mawarisi sifat-sifat baik yng membuat individu-individu tersebut cocok dengan lingkungannya, besar kemungkinan akan emnghasilkan lebih banyak keturunan dibandingkan dengan individu yang kurang cocok sifatnya terhadap lingkungannya.
3) Kemampuan individu untk bertahan hidup dan bereproduksi yang tidak sama ini akan mengakibatkan suatu perubahan secara bertahap dalam suatu populasi dan sifat-sifat menguntungkan akan berakumulasi sepanjang generasi.
c. Seluk beluk seleksi alam
Dalam hal ini, ada beberapa seluk beluk seleksi alam. Salah satunya adalah pentingnya populasi dalam evolusi. Suatu populasi adalah satuan terkecil yang dapat berkembang. Seleksi alam melibatkan interaksi antara individu organisme dan lingkungannya, tetapi individu tidak berkembang. Evolusi diukur hanya sebagai perubahan dalam pembagian relative variasi dalam suatu populasi selama beberapa generasi.
Hal pokok lainnya mengenai seleksi alam adalah bahwa seleksi alam hanya akan memperbesar atau memperkecil variasi yang dapat di wariskan. Seperti yang telah kita lihat bahwa suatu organisme bisa di modifikasi melalui hal-hal yang dialaminya sendiri selama masa hidupnya, dan ciri yang didapatkan seperti itu bahkan mungkin lebih mengadaptasikan organisme tersebut dengan lingkungannya, tetapi tidak ada bukti bahwa ciri-ciri atau sifat-sifat yang didapat selama maa hidup itu dapat diwariskan. Kita harus membedakan antara adaptasi yang didapatkan oleh organisme melalui tindakannya sendiri, dan adaptasi yang diwariskan yang berkembang dalam suatu populasi selama beberap generasi sebagai akibat dari seleksi alam.
Juga harus ditekankan bahwa ciri khas seleksi alam tergantung pada situasi: faktor lingkungan berbeda dari satu tempat ketempat lain dari dari suatu masa ke masa yang lain.suatu adaptasi dalam suatu situasi mungkin tidak berguna atau bahkan merugikan pada keadaan lain yang berbeda.
D. BUKTI-BUKTI EVOLUSI
Beberapa orang menolak Darwinisme dan menganggapnya sebagai hanya sebuah teori. Taktik untuk menghilangkan pandangan evolusi mengenai kehidupan ini memiliki dua kekurangan yaitu; pertama, taktik tersebut gagal untuk memisahkan dua tuntutan Darwin, bahwa spesies modern berkembang dari bentuk nenek moyangnya, dan bahwa seleksi alam adalah mekanisme utama untuk evolusi ini. Kesimpulan bahwa kehidupan telah berkembang didasarkan pada bukti-bukti sejarah.
Teori adalah unpaya kita untuk menjelaskan fakta-fakta dan memadukannya dengan konsep yang mencakup semuanya. Teori ilmiah mengalami evaluasi dan pembaharuan secara terus menerus. Sesungguhnya, para saintis akan membuang konsep evolusi seandainya fakatanya tidak konsisten dengan pengamatan dilapangan. Namun demikian, seiring dengan berkembangnya biologi, pnemuan-penemuan baru; termasuk penyingkapan rahsia biologi molekuler kian akan mensahkan dan menguatkan pandangan Darwinian mengenai kehidupan.
1. Biogeografi
Penyebara geografis spesies (biogeografi) merupakan hal yang pertama kali memberi ide akan adanya evolusi kepada Darwin. Pulau-pulau memiliki banyak spesies tumbuhan dan hewan yang bersifat indigenous (asli, tidak ditemukan d tempat lain). Namun sangat erat erat hubungan kekerabatannya dengan spesies di
daratan utama terdekat di pulau-pulau sekitarnya. Beberapa pertanyaan muncul. Kenapa dua pulau dengan lingkungan yang sangat mirip di tempat yang berbeda di Bumi ini dihuni bukan oleh spesies yang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat, tetapi oleh spesies secara taksonomi terkait dengan tumbuhan dan hewan pada dareatan yang terdekat, dimana liungkungan seringkali sangat berebeda.
Meskipun pola geografi seperti itu tidak sesuai jika seseorang membayangkan bahwa spesies di tempatkan satu persatu dalam lingkungan ynag sesuai, namun pola tersebut masuk akal dalam konteks sejarah evolusi. Dalam pandangan evolusi, kita menemukan spesies modern dimana mereka berada karena mereka berkembang dari nenek moyang yang menempati daerah itu. Sudut pandang evolusi biografi meramalkan bahwa armadillo (mamalia berkulit keras yang hanya hidup di Amerika) modern adalah turunan yang termodifikasi dari spesies yang terlebih dahulu menempati benua tersebut, dan bukti fosil menguatkan bahwa nenek moyang sepeti itu memang benar pernah ada
2. Catatan fosil
Pergantian (suksesi) bentuk fosil sesuai dengan apa yang diketahui dari jenis bukti lain mengenai cabang utama keturunan dalam pohon kehidupan. Sebagai contoh, bukti-bukti dari bidang biokimia, biologi molekuler, dan biologi sel menempatkan prokariota sebagai nenek moyang semua kehidupan dan memperkirakan bahwa bakteri mendahului semua kehidupan eukariota dalam catatan fosil. Contoh lain adalah penampakan kronologis dari kelas-kelas hewan vertebrata yang berbeda-deda dalam catatan fosil. Fosil ikan adalah yang paling tua dari semua vertebrata lain, kemudian disusul oleh amfibia, di ikuti oleh reptilian, kemudian mamalia dan burung. Urutan ini sesuai dengan sejarah keturunan vertebrata sebagaimana diungkapkan oleh banyak jenis bukti yang lain. Sebaliknya, ide bahwa semua spesies diciptakan satu demi satu pada waktu yang hamper samamempertkirakan bahwa semua kelas vertebrata akan muncul pertama kali pada catatan fosil pada bebatuan dalam umur yang sama, yang ternyata berlawanan dengan apa yang sesungguhnya di amati oleh para ahli paleontology.
Pandangan Darwinian mwngwnai kehidupan juga memperkirakan bahwa transisi evolusioner harus meninggalkan tanda-tanda dalam catatan fosil. Para ahli paleontology telah menemukan banyak bentuk transisi yang menghubungkan fosil yang lebih dengan spesies modern. Sebagai contoh fosil peralihan menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang yaitu seekeor ikan paus yang berkembang dari
nenek moyang yang hidup di darat, suatu transisi evolusioner yang mninggalkan banyak tanda, termasuk bukti-bukti fosil. Para ahli paleontology yang melakukan penggalian di Negara mesir dan Pakistan berhasil mengidentifikasi paus yang sudah punah yang memiliki tungkai belakang. Pada bebarapa tahun ini,
Para peneliti telah menemukan paus yang telah menjadi fosil yang menghubungkan mamalia air dengan leluhurnya yang hidup di daratan yang di tunjukkan pada tulang kaki basilosaurus yang sudah menjadi fosil, salah satu dari paus kuna itu. Paus tersebut sudah menjadi hewan air yang tidak lagi menggunakan kakinya untuk menyokong badannya dan untuk berjalan. Tulang kaki paus fosil yang lebih tua yang bernama ambulocetus lebih kuat dan kokoh. Ambulocetus mungkin merupakan hewan amfibia yang hidup di darat dan di air.
3. Anatomi Perbandingan
Pewarisan dengan modifikasi sangat jelas terlihat pada kemiripan anatomi pada spesies yang di kelompokkan ke dalam kategori taksonomi yang sama. Sebagai contoh, banyak elemen kerangka yang sama menyusun tungkai depan manusia, kucing, paus, kelelawar dan semua mamalia lain, meskipun tungkai tersebut memiliki fungsi yang sangat berbeda. Tentunya, cara terbik untuk membangun infrastruktur sayap kelelawar bukan merupakan cara terbaik untuk membangun sirip paus. Perbedaan anatomi seperti itu tidak masuk akal jika struktur tersebut secara unik direkayasa dan tidak saling berhubungan. Suatu penjelasan yang lebih mungkin adalah bahwa kemiripan dasar tungkai depan ini adalah akibat dari di turunkannya senua mamalia dari satu nenek moyang yang sama. Tungkai depan, sayap, sirip, dan lengan dari mamalia yang berbeda adalah variasi dari pokok struktur dasar yang sama. Akibat fungsi yang berbeda pada setap spesies, maka struktur dasarnya dimodifikasi.
Kemiripan dalam ciri khusus yang dihasilkan dari nenek moyang yang sama disebut homologi. Dan tanda-tanda anatomis evolusi seperti itu disebut struktur
homolog. Anatomi perbandingan konsisten dengan semua bukti-bukti lain dalam
memberikan bukti bahwa evolusi adalah suatu proses pemodelan ulang dimana struktur nenek moyang yang berfungsi dalam suatu kapasitas di modifikasi ketika mereka mengemban fungsi baru.
4. Struktur Homolog: Tanda-Tanda Anatomis Proses Evolusi.
Tungkai depan semua mamalia di bangun dari unsur kerangka yang sama, dan terlihat adanya hubungan arsitektur seperti yang kita harapkan jika tungkai depan
nenek moyang atau leluhur yang sama dimodifikasi menjadi beberapa struktur untuk mengemban berbagai jenis fungsi yang berbeda.
Beberapa struktur homolog yang paling menarik adalah organ vestigial (organ sisa yang tidak berguna lagi) yaitu struktur dengan arti penting yang kecil, jika ada, bagi organisme tersebut, organ vestigial merupakan sisa-sisa historis dari struktur yang memiliki fungsi penting pada leluhurnya.
5. Embriologi perbandingan
Organisme yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat akan mengalami tahapan yang sama dalam perkembangan embrionya. Semua embrio vertebrata akan mangalami suatu tahapan dimana mereka memiliki kantung insang pada bagian samping tenggorokannya. Pada tahapan perkembangan ini, persamaan pada ikan, katak, ular, burung, manusia, dan semua vertebrata lain jauh lebih terlihat dari pada perbedaannya. Sementara perkembangan itu berlangsung, berbagai vertebrata menjadi semakin bervariasi, dan akhirnya akan memiliki ciri khas pada kelasnya. Pada ikan, misalnya kantung insang berkembang menjadi insang; pada vertebrata darat, struktur embrio tersebut akan dimodifikasi untuk fungsi-fungsi lain, seperti saluran eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan tenggorokan pada manusia.
Embriologi perbandingan seringkali membentuk homologi pada beberapa struktur, seperti kantong insang, yang menjadi sedemikian berubah pada perkembangan selanjutnya sehingga asal mulanya yang sama tidak lagi terlihat dengan jelas saat membandingkan bentuknya yang telah berkembang secara lengkap. Dilihat dari prinsip Darwinian mengenai pewarisan yang di modifikasi, banyak ahli embriologi pada akhir abad ke-19 mengemukakan pandangan yang ekstrim yaitu “ontogeny memberikan ikhtisar filogeni”. Pendapat ini menganggap bahwa perkembangan organisme individu (antogeni) merupakan pengulangan sejarah evolusioner spesies (filogenni). Teori rekapitulasi ini adalah suatu pernyataan yang berlebihan. Meskipun semua vertebrata memiliki banyak ciri perkembangan embrio yang sama, tidak benar bahwa mamalia pertama-tama mengalami “tahapan perkembangan ikan”, kemudia tahapan amfibia, dan seterusnya. Ontogeny dapat memberikan petunjuk untuk filogeni tetapi penting untuk di ingat bahwa semua tahapan perkembangan bisa berubah sepanjang rentetan proses evolusi yang panjang.
Hubungan evolusi diantara spesies di cerminkan dalam DNA dan proteinnya, dalam gen dan produk gennya. Jika dua spesies memiliki pustaka gen dan protein dengan urutan monomer yang sangat bersesuaian, urutan itu pasti disalin dari nenek moyang yang sama. Jika dua pragraf yang panjang adalah sama meskipun ada penggantian satu huruf dibeberapa tempa, tentunya kita akan mengatakan bahwa paragraph itu berasal dari satu sumber yang sama.
Biologi molekuler mendukung pemikiran Darwin yang paling berani, bahwa semua bentuk kehidupan saling berhubungan sampai tingkat tertentu melalui cabang-cabang keturunan dari organisme yang paling awal. Bahkan organisme yang secara taksonomi berbeda jauh seperti manusia dan bakteri, memiliki bebrapa protein yang sama, misalnya sitokrom suatu protein yang terlibat dalam respirasi seluler pada semua spesies aerob. Mutasi telah menggantikan asam amino di beberapa tempat pada protein tersebut selama perjalanan panjang evolusi, tetapi molekul sitokrom pada semua spesies sangat mirip dalam struktur dan fungsi.
Suatu kode genetik yang sama merupakan bukti yang tak terbantahkan mengenai fakta bahwa semua kehidupan saling berhubungan. Dengan demikian, bahsa kode genetik telah diturunkan melalui semua cabang pohon kehidupan sejak permulaan munculnya kode genetik tersebut pada bentuk kehidupan yang lebih awal. Dengan demikian, biologi molekuler telah menambahkan babak terbaru pada bukti-bukti bahwa evolusi adalah dasar kesatuan dan keanekaragaman kehidupan.
E. EVOLUSI MODERN
Salah satu hambatan dalam memahami evolusi adalah adanya miskonsepsi umum bahwa tiap organisme berevolusi, dalam pengertian Darwinian, selama masa hidup organisme tersebut. Ternyata, seleksi alam memang bekerja pada tingkat individu. Sifat-sifat organisme mempengaruhipeluang organisme itu untuk bertahan hidup dan keberhasilan reproduksinya. Akan tetapi, dampak evolusioner seleksi alam ini hanya tampak dalam melacak bagaimana suatu populasi organisme berubah seiring dengan berjalannya waktu.
1. Genetika populasi
Sebagian besar ahli biologi mengatakan bahwa spesies merupakan hasil evolusi, tetapi Darwin saat itu tidak begitu berhasil mendapatkan pengakuan atas ide bahwa seleksi alam adalah mekanisme evolusi. Seleksi alam memerlukan proses penurunan sifat yang tidak dapat dijelaskan oleh Darwin. Teorinya didasarkan pada
apa yang dilihat seperti paradox pewarisan; yang sama menurunkan yang sama. Tetapi persis demikian. Yang kurang dari penjelasan Darwin adalah suatu pemahaman pewarisan yang dapat menjelaskan bagaimana variasi acak muncul dalam suatu populasi, namun tetap bertanggung jawab atas pewarisan populasi ini secara tepat dari induk kepada keturunannya. Meskipun Gregor dan Charles Darwin hidup pada masa yang sama, penemuan mendel tidak di hargai saat itu, dan ternyata yang dapat melihat dan menyadari saat itu bahwa Mendel telah menjelaskan prinsip dasar pewarisan yang sudah pasti saat itu dapat menyelesaikan paradox Darwin dan memberikan kredibilitas terhadap konsep seleksi alam.
a. Sintesis evolusioner modern menggabungkan konsep seleksi Darwinian dengan konsep pewarisan mendelian
Sungguh ironis, ketika artikel penelitian mendel ditemukan kembali dievaluasi ulang pada permulaan abad ke-20, banyak ahli genetika yakin bahwa hokum pewarisannya berentangan dengan teori Darwin mengenai seleksi alam. Sebagai bahan dasar seleksi alam, Darwin menekankan sifat kuantitatif yaitu sifat-sifat dalam suatu populasi yang terus bervariasi, seperti panjang bulu mamalia atau kecepatan binatang berlari menghindar dari pemangsa.
Titik balik yang mentukan teori evolusi adalah kelahiran genetika populasi yang menekankan luasnya variasi genetik di dalam populasi dan mengenali arti penting dari sifat kuantitatif. Dengan kemajuan dalam genetika populasi pada tahun 1930-an, Mendel dan Darwin dipersatukan dan dasar genetik variasidan seleksi alam dapat dipertemukan.
Suatu teori evolusi konfrehensif yang selanjutnya dikenal sebagai sintesis modern telah ditempa pada awal tahun 1940-an. Disebut sebagai sintesis karena teori ini memadukan penemuan-penemuan dan ide dari berbagai bidang yang berbeda, yang meliputi paleontology, taksonomi, biogeografi, dan genetika populsai. Diantara arsitek sintesis modern terdapat ahli genetika Theodosius Dobzthansky, ahli biogeografi dan ahli taksonomi Ernts Mayr, ahli paleontology George Gaylord Simpson, dan ahli botani G. Ledyard Stebbins. Sintesis modern menekankan arti penting populasi sebagai unit evolusi, dan ide tentang gradualisme untuk menjelaskan bagaimana perubahan besar dapat berkembang sebagai suatu akumulasi perubahan kecil yang terjadi selama periode waktu yang panjang. Tidak ada paradikma ilmiah yang dapat bertahan tanpa modifikasi
selama setengah abad. Banyak ahli biologi evolusi sekarang ini sedang menantan beberapa asumsi dalam sisntesis modern tersebut.
b. Struktur genetik suatu populasi ditentukan olehh frekuensi alel dan genotipenya. Suatu populasi adalah suatu kelompok individu terlokalisir yang digolongkan sebagai spesies yang sama. Sampai saat ini, kita akan mendefinisikan spesies sebagai suatu kelompok populasi yang tiap individunya mempunyai potensi untuk saling mengawini dan menghasilkan keturunan yang subur di alam bebas. Masing-masing spesies memilikisuatu wilayah geografis tempat individu tersebar secara tidak merata, tetapi pada umumnya terpusat pada beberapa populasi terlokalisir. Suatu populasi mungkin terisolasi dari populasi lain yang berspesies sama dan jarang sekali dapat mempertukarkan materi genetiknya.
Isolasi seperti itu sangat umum ditemukan pada populasi yang dibatasi oleh pulau-pulau yang saling berjauhan, danau-danau yang tidak saling berhubungan, atau daerah pegunungan yang dipisahkan oleh dataran rendah. Namun demikian, populasi tidak selalu terisolasi, juga tidak harus memiliki perbatasan yang jelas. Satu pusat populasi bisa aja berbaur dengan populasi lain dalam suatu wilayah pertemuan dimana anggota spesies itu ditemukan dalam jumlah sedikit. Meskipun populasi ini terisolir, individu-individu masih lebih terpusat pada bagian-bagian tengah populasinya sehingga lebih mungkin untuk kawin dengan anggota populasi yang sama dibandingkan dengan anggota poulasi lain. Dengan demikian, individu yang berada dekat dengan pusat populasinya.
c. Teorema Hardy-Weinberg menjelaskan suatu populasi yang tidak berevolusi. Sebelum kita mempertimbangkan mekanisme yang mempertimbangkan suatu populasi berevolusi, akan sangat membantu untuk memeriksa, sekedar sebagai perbandingan, struktur genetik suatu populasi yang tidak berevolusi. Kumpulan gen seperti itu dijelaskan oleh teorema Hardy-Weinberg, yang diambil dari nama dua saintis yang secara terpisah menghasilkan prinsip itu pada tahun 1908. Teorema tersebut menyatakan bahwa frekuensi alel dan genotipe dalam kumpulan gen suatu populasi tetap konstan selama beberapa generasi kecuali kalau ada yang bertindak sebagai agen lain selain rekombinasi seksual. Dengan kata lain, pergeseran seksual alel akibat meiosis dan fertilisasi acak tidak akan berpengaruh pada keseluruhan struktur genetik suatu populasi.
Untuk menggunakan teorema Hardy-Weinberg, mari kita kembali kepopulasi bunga liar rekaan kita yang terdiri dari 500 tumbuhan tersebut. Ingat bahwa 80%
diantara lokus warna bunga pada kumpulan gen memiliki alel A dan 20% memiliki alel a. bagaimana rekomendasi genetik selama reproduksi seksual akan mempengaruhi frekuensi kedua alel itu pada generasi populasi Bunga liar berikutnya. Parea ahli genetika populasi kadang-kadang mengacu persamaan umum tersebut sebagai persamaan Hardy-Weinberg. Persamaan itu memungkinan kita untuk menghitung frekuensi alel dalam suatu kumpulan gen jika kitamengetahui frekuensi genotipe, dan sebaliknya. Salah satu penggunaanya adlah untuk menghitung presentasepopulasi manusia yang membawa untuk penyakit keturunan tertentu. Sebagai contoh, satu diantara 10.000 bayi di Amerika Serikat lahir dengan kelainan fenilketorunia (PKU), suatu gangguan metrabolisme yang jika tidak di obati akan mengakibatkan hambatan perkembangan mental dan permasalahan lain. (Bayi-bayi yang baru lahir sekarang secara rutin diperiksa PKU. Dan gejalanya dapat dicegah dengan cara menjalankan diet yang ketat). Penyakit tersebut disebabkan oleh satu alel resesif, dan dengan demikian frekuensi individu dalam populasi individu dalam populasi Amerika Serikat yang lahir dengan PKU bertalian dengan pada persamaan Hardy- Weinberg.
Misalkan ada suatu kejadian PKU per 10.000 kelahiran, maka itu berarti = 0,0001. Dengan demikian, frekuensi alel resesif untuk PKU dalam populasi adalah = 0,01 P = 1 – q = 1 – 0,01 = 0,09
Frekuensi pembawa sifat, orang heterozigot yang tidak memiliki PKU namun dapat menurunkan alel PKU keturunannya sebanyak 2pq = 2 x 0,99 x 0,01 = 0,0198 (sekitar 2%).Dengan demikian, sekitar 2% dari populasi Amerika Serikat membawa alel PKU.
2. Penyebab mikroevolusi
Mikroevolusi merupakan perubahan dari generasi ke generasi dalam alel atau frekuensi genotipe suatu populasi. Jika teorema Hardy-Winberg menjelaskan suatu kumpulan gen dalam suatu kesetimbangan yaitu suatu populasi yang tidak berevolusi. Konsep Hardy-Weinberg menjelaskan apa yang akan diharapkan jika suatu populasi tidak berevolusi. Nilai kesetimbangan untuk frekuensi alel dan genotype yang dihitung dari persamaan Hardy-Weinberg memberikan dasar untuk melacak struktur genetic suatu populasi selama beberapa generasi. Jika frekuensi alel atau genotype menyimpang dari nilai yang diharapkan dari kesetimbangan Hardy-Weinberg, maka populasi dikatakan sedang berevolusi; definisi mengenai
evolusi pada tingkat populasi adalah evolusi adalah suatu perubahan dari generasi ke generasi dalam frekuensi alel atau genotype populasi, dan suatu perubahan dalam struktur genetic populasi. Karena perubahan dalam suatu kumpulan gen seperti itu adalah evolusi dalam skala kecil, maka keadaan ini secara lebih spesifik di sebut sebagai mikroevolusi.
Mikroevolusi tetap berlangsung sekalipun frekuensi alel berunah hanya untuk sebuah lokus genetic tunggal. Jika melacak frekuensi alel dan genotope dalam suatu populasi selama bebrapa generasi yang beruntun, bebertapa lokus bisa berada dalam kesetimbangan sementara frekuensi alel pada lokus yang lain sedang berubah.
Ukuran populasi yang besar. Dalam populasi yang kecil, hanyutan genetik, yang merupakan fluktuasi acak dalam kumpulan gen, dapat mengubah frekuensi alel Terisolasi dari populasi lain. Aliran gen, pemindahan gen antar populasi akibat pepindahan individu atau gamet, dapat mengubah kumpulan gen. Tidak ada mutasi netto. Dengan cara mengubah satu alel menjadi alel yang lain, mutasi akan mengubah kumpulan gen.
Perkawinan acak. Jika individu memiliki pasangan kawinnya yang memiliki sifat tertentu yang dapat diwariskan, maka percampuran acak gamet yang diperlukan untuk kesetimbangan Hardy-Weinberg tidak akan terjadi.
Tidak ada seleksi alam. Kelangsungan hidup dan keberhasilan reproduksi yang berbeda mengubah suatu kumpulan gen dengan cara menguntungkan penyebaran beberapa alel yang lain.
Kelima syarat yang diperlukan kesetimbangan Hardy-Weinberg memberikan suatu kerangka kerja untuk pemahaman proses yang menyebabkan mikroevolusi. Terdapat lima agen potensial mikroevolusi yaitu: hanyutan genetic, aliran gen, mutasi, perkawinan tidak acak, dan seleksi alam. Masing-masing agen potensial tersebut berasal salah satu dari kelima syarat yang diperlukan untuk kesetimbangan Hardy-Weinberg. Diantara semua penyebab mikroevolusi, hanya seleksi alamlah yang umumnya mengadaptasikan suatu populasi ke lingkungannya. Agen mikroevolusi lain kadang-kadang disebut sebagi nonDarwinian karena sifatnya yang umumnya tidak adaptif.
F. PRO DAN KONTRA TERHADAP TEORI EVOLUSI
Evolusi merupakan kata yang umum dipakai orang untuk menunjuk adanya perubahan, perkembangan atau pertumbuhan secara berangsur-angsur. Perubahan tersebut dapat terjadi karena pengaruh alam atau rekayasa manusia. Teori evolusi sesungguhnya adalah sebuah hipotesis tentang asal-usul mahluk hidup. Fakta bahwa banyak jenis mahluk hidup yang ada disaat sekarang tidak dijumpai pada kehidupan di masa jutaan bahkan milyaran tahun yang lalu (Widodo, 2002).
Pernyataan "evolusi merupakan sebuah teori dan sebuah fakta" merupakan sebuah pernyataan yang sering terlihat pada literatur-literatur biologi. Pernyataan ini sering menimbulkan kerancuan. Inti dari pernyataan ini adalah untuk membedakan dua pengertian evolusi. Yang pertama adalah "fakta evolusi", yaitu fakta perubahan yang terpantau pada sebuah populasi selama beberapa waktu. Sedangkan yang kedua adalah "teori evolusi" (merujuk pada sintesis evolusi modern), yang merupakan penjelasan ilmiah termutakhir mengenai bagaimana perubahan ini dapat terjadi (Rahardjo, 1995).
Evolusi sering dideskripsikan sebagai "fakta dan teori", "fakta namun bukan teori", ataupun "hanya sebuah teori, dan bukan fakta". Deskripsi ini mengilustrasikan kerancuan terminologi yang dapat menghambat diskusi evolusi.
Charles Darwin adalah tokoh yang sangat terkenal dalam kaitannya dengan evolusi. Darwin banyak mengemukakan gagasan-gagasannya tentang evolusi. Karena pemikirannya tersebut, Darwin dikenal sebagai Bapak Evolusi. Semenjak penerbitan buku Darwin “The Origin of Species”, evolusi mendapatkan banyak kritik dan menjadi tema yang controversial. Namun demikian, kontroversi ini pada umumnya berkisar dalam implikasi dari teori evolusi dibidang filsafat, sosial, dan agama. Didalam komunitas ilmuan, teori evolusi telah di terima secara luas dan tidak mendapat tentangan seperti yang sudah diprediksi oleh Darwin, implikasi yang paling controversial adalah evolusi manusia (Darwin, 2002).
Banyak yang tidak menerima bahwa segala jenis makhluk hidup, termasuk manusia berasal dari proses alam. Aliran yang sering dianggap berlawanan dengan teori evolusi adalah penciptaan yang mempercayai bahwa makhluk hidup dan segala jenisnya diciptakan oleh Tuhan secara terpisah, meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun sebenarnya biologi evolusi telah berakar sejak zaman Aristoteles.
Namun dari kontroversi yang ditimbulkan, Darwin adalah ilmuan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak terbukti. Sampai saat ini, teori
Darwin tentang evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas masyarakat sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan teori evolusi.
Banyak pakar menyatakan bahwa evolusi memang terjadi. Data dan fakta yang dapat dipergunakan dalam mendukung pernyataan ini ada pada contoh-contoh yang terdapat dilingkungan sekitar kita. Evolusi dapat dilihat dari dua segi yaitu sebagai proses historis dan cara bagaimana proses itu terjadi. Sebagai proses historis evolusi itu telah dipastikan secara menyeluruh dan lengkap sebagaimana yang telah dipastikan oleh ilmu tentang suatu kenyataan mengenai masa lalu yang tidak dapat disaksikan oleh mata. Hal ini berarti bahwa evolusi itu ada dan merupakan suatu kenyataan yang telah terjadi. Berikut ini merupakan bukti-bukti evolusi yang ada. a. Homologi
Homologi dapat dipergunakan dalam membuktikan adanya evolusi. Suatu organ dikatakan homolog apabila organ tersebut mempunyai struksur asal yang sama selanjutnya organ tersebut berbeda fungsinya. Sebagai contoh misalnya sayap burung homolog dengan kaki depan kuda ataupun tangan manusia. Organ- organ tersebut mempunyai struktur yang sama. Apabila munculnya kesamaaan struktur tersebut diakatakan sebagai suatu proses secara kebetulan, maka dalam ilmu pengetahuan istilah “kebetulan” disebut ketidaktahuan. Kesamaan dalam anggota gerak tidak saja meliputi faktor-faktor tertentu misalnya jumlah jari kaki ataupun jari tangan namun demikian juga tulang radius, ulna dan organ-organ lainnya. Faktor-faktor tersebut dimiliki oleh semua organisme Vertebrata tanpa kecuali. Pada umumnya rudimentasi anggota badan merupakan salah satu bagian dari evolusi, namun jumlah maksimum dari anggota yang mengalami rudimentasi sangatlah terbatas. Disisi lain persamaan fungsi antara sayap burung dengan sayap serangga (analogi) bukanlah merupakan bukti evolusi dikarenakan organ tersebut tidaklah berasal dari struktur asal yang sama.
b. Kesamaan Kode Genetik
Kesamaan tidak hanya nampak pada struktur yang makro saja namun demikian juga pada struktur mikro. Misalnya kode genetik untuk semua organisme bersel banyak mulai dari tumbuh-tumbuhan sampai dengan manusia mempunyai kode genetik DNA yang sama. Demikian pula kode genetik yang terdapat pada RNA.
Selain adanya persamaan kode genetik, kesamaan embrio pada beberapa organisme sangatlah menarik untuk diperhatikan. Dalam perkembangan embrio cicak, ular, kura-kura, ikan burung dan pada manusia menunjukan adanya persamaan embrio pada fase perkembanganya. Hampir semua embrio mempunyai stuktur dasar yang sama.
d. Bukti fosil
Fosil adalah sisa-sisa dari organisme yang telah membatu. Bukti fosil menunjukan bahwa sering diketemukannya fakta adanya bentuk-bentuk fosil yang sama. Hal demikian juga berlaku untuk fosil-fosil yang terdapat di lapisan tanah yang lebih dalam. Data fosil juga menunjukan bahwa fosil yang terdapat lapisan dalam membuktikan bahwa organisme tersebut sudah berada lama sebelum masa sekarang ini. Maka dengan demikian terdapat kehidupan pada masa lampau, dan waktu terus berjalan sejalan dengan banyaknya perubahan yang mungkin saja terjadi. Organisme yang hidup lama sebelumnya ternyata pada umumnya bersifat lebih primitif dibandingkan dengan organisme yang hidup sekarang ini. Hal ini tentulah tidak mengherankan karena selama itu tentulah terjadi seleksi alam dan mutasi sehingga hanya organisme dengan karakter dan sifat terbaik saja yang dapat tersu hidup, berbiak dan meneruskan keturunannya.
Bukti fosil yang paling lengkap adalah fosil kuda. Fosil kuda pada setiap zaman geologi ditemukan fosilnya. Evolusi kuda merupakan suatu contoh evolusi morfologi yang sangat menarik karena sejarahnya dapat ditelusuri fasil- fosilnya sejak masa eosin baik dari daratann Amerika Utara, sedikit dari Eropa dan Asia. Hal ini disebabkan oleh karena kuda hidupnya senantiasa berkelompok dalam jumlah yang cukup besar. Dari keadaan ini menimbulkan akibat munculnyaa jumlah fosil kuda dalam jumlah cukup besar.
Fosil kuda tertua dikenal dengan nama Hyracotherium atau Eohippus. Hewan ini berukuran sebesar kancil dengan tinggi sekitar 30 cm.. diperkirakan bahwa kuda primitif ini memakan semak belukar. Hal ini terlihat dari struktur giginya. Jumlah gigi sebanyak 22 pasang dengan gigi geraham yang terspesialisasi sedikit untuk menggiling makanan. Kaki depan terdiri dari empat jari dan satu jari rudimenter. Sedangkan kaki belakang dengan tiga jari dan dua jari rudimen.
Kuda primitif Hyracotherium atau Eohippus berevolusi menjadi kuda sekarang Equus, terjadi perubahan-perubahan sebagai berikut:
2) pemanjangan kaki depan dan kaki belakang, 3) reduksi jari-jari lateral dan pembesaran jari tengah, 4) punggung menjadi lurus dan datar,
5) gigi seri melebar,
6) gigi premolar berubah menjadi molar, 7) pemanjangan tengkorak,
8) pertambahan mahkota gigi dengan pertumbuhan bagian email, 9) volume otak bertambah besar dan kompleks.
e. Rudimentasi organ
Rudimentasi organ adalah bukti lain yang dapat dikemukakan. Banyak organ yang sebenarnya sangat berguna bagi suatu organisme namun demikian pada organisme lain tidak demikian pula halnya. Misalnya tulang ekor pada manusia. Pada kuda di saat berdiri maka kuda akan menumpukan pada jari tengahnya, sedangkan jari-jari lainya sudah mengalami rudimentasi sejalan dengan proses evolusinya.
f. Adanya variasi antar individu dalam satu keturunan
Di dunia ini tidak pernah dijumpai dua individu yang identik sama, bahkan anak kembar sekalipun pasti punya suatu perbedaan. Demikian pula individu yang termasuk dalam satu spesies. Misalnya perbedaan warna, ukuran, berat, kebiasaan, dan lain-lain. Jadi antar individu dalam satu spesies pun terdapat variasi. Variasi adalah segala macam perbedaan yang terdapat antar individu dalam satu spesies. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh berbagai faktor seperti suhu, tanah, makanan, dan habitat
g. Pengaruh penyebaran geografis
Makhluk hidup yang berasal dari satu spesies yang hidup pada satu tempat setelah mengalami penyebaran ke tempat lain sifatnya dapat berubah. Perubahan itu terjadi karena di tempat yang baru makhluk hidup tersebut harus beradaptasi demi kelestariannya. Selanjutnya, adaptasi bertahun-tahun yang dilakukan akan menyebabkan semakin banyaknya penyimpangan sifat bila dibandingkan dengan makhluk hidup semula. Dua tempat yang dipisahkan oleh pegunungan yang tinggi atau samudera yang luas mempunyai flora dan fauna yang berbeda sama sekali. Perbedaan susunan flora dan fauna di kedua tempat itu antara lain disebabkan adanya isolasi geografis.
Gambar 8. Perkembangan variasi paruh burung Finch. Terjadi karena terseleksi secara alami oleh jenis makanan yang berbeda.
Sumber : http://biologimediacentre.com/evolusi-pemahaman-teori-dan-bukti-evolusi/
Contohnya adalah mengenai bentuk paruh burung Finch yang ditemukan Darwin di kepulauan Galapagos. Dari pengamatannya tampak burung-burung Finch tersebut memiliki bentuk paruh dan ukuran yang berbeda, dan menunjukkan mempunyai hubungan dengan burung Finch yang ada di Amerika Selatan. Mungkin karena sesuatu hal burung itu bermigrasi ke Galapagos. Mereka menemukan lingkungan yang baru yang berbeda dengan lingkungan hidup moyangnya. Burung itu kemudian berkembangbiak dan keturunannya yang mempunyai sifat sesuai dengan lingkungan akan bertahan hidup, sedang yang tidak akan mati. Karena lingkungan yang berbeda, burung-burung itu menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang ada di Galapagos. Akhirnya terbentuklah 14 spesies burung Finch yang berbeda dalam bentuk dan ukuran paruhnya.
Ada banyak tokoh-tokoh yang mendukung teori evolusi, seperti : a. Joseph Dalton Hooker
Sir Joseph Dalton Hooker (1817-1911), seorang ahli tumbuh-tumbuhan yang telah banyak melakukan ekspedisi untuk mempelajari tanaman.
b. Thomas Henry Huxley
c. Alfred Russel Wallace
Thomas Henry Huxley (1825-1895), Pakar Biologi yang dikenal sebagai “Darwin’s
Bulldog”. Karena dia mendukung teori evolusi
demikian kuat. Tahun 1868 ditunjukkannya bahwa burung adalah keturunan dinosaurus.
Alfred Russel Wallace (1823-1813), Wallace memiliki pandangan yang sama terhadap evolusi Darwin, Namun Darwin dianggap terlebih dahulu menerbitkan makalahnya. Kedua orang ini hanya berselisih 1 tahun dalam penyelesaiannya. Wallace menyelasikan makalah ini pada tahun 1858.
2. Kontra Terhadap Teori Evolusi
Evolusi merupakan salah satu teori maupun cabang dalam khazanah ilmu pengetahuan. Teori tersebut menyatakan terjadinya sebuah perubahan pada makhluk hidup atau spesies secara gradual (perlahan-lahan). Perubahan yang dihasilkan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam menghasilkan spesies atau makhluk hidup yang baru. Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup berasal dari satu nenek moyang. Spesies yang ada sebelumnya lambat laun berubah menjadi spesies lain, dan semua spesies muncul dengan cara ini. Menurut teori tersebut, perubahan ini berlangsung sedikit demi sedikit dalam jangka waktu jutaan tahun (Dahler, 2011).
Pembahasan kebenaran atau kesahihan teori evolusi hingga sampai saat ini menjadi sebuah pembahasan yang belum menemukan sebuah konklusi. Berbagai klaim pun terjadi diantara kubu yang menganggap bahwa pendapat masing-masing
yang paling benar. Hal demikian terlihat jelas terutama dari kalangan evolusionis (pendukung) ataupun kreasionis (penentang). Mereka yang berpikiran kreasionis mengklaim Tuhan menciptakan tiap spesies dalam bentuknya yang purna, sekali dan untuk selamanya. Sebagai kalangan agamawan mengaggap kreasionisme sesuaidengan ajaran agama, karena hal tersebut sudah tersirat atau dinashkan dalam kitab suci agama samawi.
Ketidaksepakatan terhadap teori evolusi tersebut melahirkan gagasan Kreasionisme (teori penciptaan) yang menjadi sebuah antitesis terhadap teori Darwin. Kata kreasionisme berasal dari bahasa latin creatio yang berarti penciptaan. Kreasionisme sebagai alairan teologi dan filsafat menyangkal sama sekali adanya evolusi atau hanya mengakuinya dalamarti horizontal antara jenis (spesies) tumbuhan atau binatang yang sama,tetapi tidak dalam arti vertikal antara jenis-jenis yang berlainan (Dahler, 2011).
ID (Intellegent Design)adalah teori ilmiah yang menyatakan bahwa penjelasan terbaik terciptanya alam semesta dan kehidupan adalah dikarenakan adanya suatu kecerdasan (intellegent cause), bukan karena suatu proses tak langsung seperti seleksi alam. Sebagai sebuah teori yang mengkaitkan teorinya dengan perancangan cerdas, banyak yang menganggap ID tidak berbeda dengan kreasionisme. Walaupun demikian, sebenarnya ada perbedaan mendasar antara ID dengan kreasionisme.
Dalam teorinya, kreasionisme dimulai dengan memasukkan penjelasan- penjelasan yang berasal dari kitab suci agama tertentu, yang kemudian mencoba memberikan penjelasan ilmiah mengenai hal tersebut. Berbeda dengan kreasionisme, ID sama sekali tidak berkaitan dengan agama-agama tertentu. Proses analisa yang dilakukan pada ID mengacu pada tahapan metode ilmiah. Metode ilmiah sendiri tersusun atas empat proses utama, yaitu melakukan observasi, hipotesis, eksperimen, dan pengambilan kesimpulan. Berkaitan dengan asal-usul keragaman makhluk hidup, perlu ditekankan lagi bahwa ID tidak menolak evolusi sepenuhnya. Perbedaan pandangan ID hanya terjadi pada tahap makro evolusi (teori evolusi darwin). Menurut ID, evolusi hanya mungkin terjadi pada tingkat mikro, sehingga tidak mungkin spesiasi makhluk hidup benar-benar terjadi seperti yang diyakini oleh para pendukung teori darwin (Dembski, 2005).
Fakta Yang Menentang Teori Evolusi. Beberapa fakta menurut Harun yahya (2001) yang menentang adanya teori evolusi antara lain:
Ahli paleontologi evolusionis lainnya, Mark Czarnecki, berkomentar sebagai berikut: Kendala utama dalam membuktikan teori evolusi selama ini adalah catatan fosil; jejak spesies-spesies yang terawetkan dalam lapisan bumi. Catatan fosil belum pernah mengungkapkan jejak-jejak jenis peralihan hipotetis Darwin sebaliknya, spesies muncul dan musnah secara tiba-tiba. Anomali ini menguatkan argumentasi kreasionis bahwa setiap spesies diciptakan oleh Tuhan. Kehidupan muncul di muka bumi dengan tiba-tiba dan dalam bentuk kompleks.
Lapisan bumi tertua tempat fosil-fosil makhluk hidup ditemukan adalah Kambrium, yang diperkirakan berusia 500-550 juta tahun. Catatan fosil memperlihatkan, makhluk hidup yang ditemukan pada lapisan bumi periode Kambrium muncul dengan tiba-tiba tidak ada nenek moyang yang hidup sebelumnya. Fosil-fosil di dalam batu-batuan Kambrium berasal dari siput, trilobita, bunga karang, cacing tanah, ubur-ubur, landak laut dan invertebrata kompleks lainnya. Beragam makhluk hidup yang kompleks muncul begitu tiba- tiba, sehingga literatur geologi menyebut kejadian ajaib ini sebagai “Ledakan Kambrium” (Cambrian Explosion).
Sebagian besar bentuk kehidupan yang ditemukan dalam lapisan Kambrium memiliki sistem kompleks seperti mata, insang, sistem peredaran darah, dan struktur fisiologis maju yang tidak berbeda dengan kerabat modern mereka. Kendala utama dalam membuktikan teori evolusi selama ini adalah catatan fosil. Catatan fosil belum pernah mengungkapkan jejak-jejak jenis peralihan hipotesis Darwin.Ketika lapisan bumi dan catatan fosil dipelajari, terlihat bahwa semua makhluk hidup muncul bersamaan. Lapisan bumi tertua tempat fosil makhluk hidup ditemukan adalah kambrium, yang diperkirakan berusia 500-550 juta tahun.
b. Mata Trilobita
Trilobita yang muncul secara tiba-tiba pada periode kambrium memiliki struktur mata yang sangat kompleks. Mata ini terdiri dari jutaan partikel kecil menyerupai sarang lebah dan sebuah sistem lensa ganda. Sebagaimana ungkapan David Raup, seorang profesor geologi, mata ini merupakan “sebuah desain optimal, hingga dibutuhkan seorang rekayasawan optik yang sangat terlatih dan sangat imajinatif jika ingin membuatnya di masa kini”.
Mata ini muncul 530 juta tahun lalu dalam kondisi sempurna. Tidak diragukan lagi, kemunculan secara tiba-tiba dari desain menakjubkan ini tidak dapat dijelaskan dengan evolusi, dan membuktikan adanya penciptaan.
Lebih jauh lagi, struktur mata trilobita tetap bertahan hingga sekarang tanpa ada perubahan sedikit pun. Beberapa serangga seperti lebah dan capung memiliki struktur mata yang sama dengan trilobita. Keadaan ini menggugurkan anggap evolusionis bahwa makhluk hidup berevolusi secara progresif dari bentuk primitif ke bentuk kompleks.
c. Protein tidak terbentuk secara kebetulan
Protein merupakan bahan pembangun kehidupan yang tersusun dari ratusan asam amino berbeda yang bergabung dalam tatanan tertentu. Pernyataan bahwa protein terbentuk secara spontan dalam kondisi alamiah lebih tidak realistis dan tidak beralasan dibandingkan dengan pernyataan bahwa asam amino terbentuk secara kebetulan. Dengan perhitungan probabilitas, telah dibuktikan kemustahilan asam amino bergabung secara acak dalam urutan tertentu untuk membentuk sebuah protein. Sehingga mustahil protein dihasilkan secara kimiawi dalam kondisi bumi purba.
Daftar Pustaka
Ali, Abdullah dan Eni Rahma. (2006). Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Bambang, Mulyo Nianto. (2007). Kompetensi Dasar Geografi 1. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Browne, J. (1995). Charles Darwin Voyaging. Suatu biografi yang lengkap dan menarik. Princeton, NJ: Princeton University Press,
Dahler, Franz. (2011). Teori Evolusi: Asal dan Tujuan Manusia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Darwin, Charles. (2002). The Origin Of Spesies Asal-Usul Spesies. Yogyakarta: Ikon Teralitera.
Dembski, William. (2005). Mathematical Foundations of Intelligent Design Conceptual
Foundation of science.
Futuyma, D. J. (1998). Evolutionary Biologi, 3rd ed.surderland. MA: Sinauer Associates.
Rahardjo, Boy. (1995). Evolusi. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atmajaya.
Widodo. (2002). Perkembangan Teori Evolusi dan Darwinisme. Malang: Universitas Negeri Malang.
Yahya, Harun. (2001). Keruntuhan Teori Evolusi, (terj) Catur Sriherwanto dkk. Bandung: Dzikra.
biologimediacentre.com, “Evolusi: Pemahaman Teori dan Bukti Evolusi”, 12 Januari 2020,
https://biologimediacentre.com/evolusi-pemahaman-teori-dan-bukti-evolusi/ [diakses pada 11 April 2020].