BAB V
DISKUSI
Pengumpulan data untuk menelusuri perkembangan rawa sagpond berdasarkan analisis stratigrafi dan palinologi di daerah penelitian telah dilakukan dan hasilnya telah diuraikan dalam Bab IV. Dari hasil tersebut diperoleh data runtunan stratigrafi dan zonasi palinologi. Dan sejauh mana interpretasi dari kedua hasil analisis ini merefleksikan keaktifan Patahan Lembang, akan didiskusikan dalam Sub-bab 5.1 dan 5.2 berikut ini.
5.1 Keaktifan Patahan Lembang
Interpretasi terhadap inti bor di daerah penelitian menunjukkan telah terjadinya erosi, transportasi dan sedimentasi karena turunnya hanging wall akibat aktifitas Patahan Lembang, yang kemudian areal depresi tersebut menjadi lingkungan perairan rawa yang mengalami pendangkalan-pendalaman rawa seiring dengan proses depresi dan sedimentasi di areal tersebut hingga terbentuk runtunan-runtunan sedimentasi. Penyebaran areal sagpond ini menerus hingga ke utara daerah penelitian bahkan dengan akumulasi sedimen yang lebih tebal (Hidayat, 2009).
Dalam Bab IV disebutkan bahwa secara umum, profil stratigrafi sagpond bagian bawah hingga tengah lebih didominasi oleh tuf (kedalaman 300 cm sampai dengan 184 cm) dan bagian tengah hingga atas (kedalaman 184 cm sampai dengan 30 cm) lebih didominasi oleh gambut bersisipan paleosol, sedangkan dari kedalaman 30 cm hingga permukaan merupakan tanah urugan.
Endapan-endapan ini kemungkinan disuplai oleh sungai-sungai di sekeliling rawa pada saat itu (Sedimentasi di dalam cekungan yang terbentuk karena tektonik umumnya merupakan sedimentasi di daerah kontinen yang sumbernya seringkali berasal dari sungai-sungai di sekitarnya yang masuk ke dalam suatu danau-danau dangkal (Mitchell & Reading op.cit. Reading, 1986)).
Dominasi tuf pada interval kedalaman 300 cm - 152 cm yang umumnya merupakan hasil pengendapan lapukan material volkanik berwarna kemerahan (tufan) dan adanya fragmen-fragmen volkanik (tuf) serta tekstur yang lebih kasar bahkan kerikilan pada beberapa lapisannya menunjukkan bahwa pada interval kedalaman ini pengaruh sungai pada saat itu kemungkinan masih kuat (rezim sedimentasi tinggi). Sedangkan dominasi gambut pada kedalaman interval 152 cm hingga 30 cm yang umumnya kaya akan kandungan material organik menunjukkan bahwa pengaruh sungai pada saat itu kemungkinan sudah tidak terlalu kuat (rezim sedimentasi lebih rendah) dan pengaruh sedimentasi pada interval kedalaman ini kemungkinan lebih dikontrol oleh sistem sedimentasi rawa yang biasanya merupakan sistem sedimentasi yang lebih bersifat suspensi dan kaya akan kandungan organik (Boggs, 2001).
Tuf pada kedalaman 234 cm - 216 cm yang bertekstur pasiran, mengandung fragmen tuf batuapung (pumice) menyudut berukuran pasir hingga kerikil (~2cm) dan juga fragmen-fragmen tuf pada kedalaman 199 cm - 192 cm, kemungkinan terendapkan pada kondisi yang dipengaruhi oleh perubahan dasar cekungan (base level) akibat adanya aktifitas patahan sehingga terjadi proses erosi dari areal yang lebih tinggi (foot wall) di sekitarnya dan kemudian terendapkan di areal rawa sagpond tersebut (Sedimentasi di suatu areal lahan yang miring (landslide) memungkinkan terjadinya transportasi debris flow yang dicirikan oleh kenampakan endapan dengan kemas terbuka dan pemilahan buruk, ukuran fragmen dari kerikilan hingga bongkah yang berselimut matriks kasar dengan tekstur pasiran (Miall, 1992, op.cit. Walker & James, 1992)). Struktur reverse bedding pada endapan-endapan berfragmen kasar tersebut
kemungkinan terjadi karena fragmennya tersusun atas pumice yang cenderung ringan (berat jenis rendah) sehingga membentuk coarsening up/mengkasar ke atas (Boggs, 2001).
Kondisi pendangkalan-pendalaman rawa di sekitar areal Patahan Lembang oleh sebab adanya pergerakan penurunan (depresi) areal sagpond yang pernah terjadi di masa lalu, secara tidak langsung ditunjukkan dengan terbentuknya perulangan-perulangan runtunan stratigrafi pada interpretasi inti bor di daerah penelitian. Depresi topografi (penurunan areal) di lingkungan sagpond akibat adanya aktifitas pergerakan Patahan Lembang yang bermekanisme patahan normal ini (Bemmelen, 1949; Nossin et al., 1996), acapkali diawali oleh kondisi rawa yang mendalam. Kondisi pendalaman ini adakalanya dicirikan oleh terbentuknya endapan-endapan hasil erosi dari tinggian di sekitarnya (foot wall) yang umumnya merupakan tipe-tipe endapan bersifat tufan yang sumbernya kemungkinan besar berasal dari material-material volkanik di sekitar daerah penelitian (kemungkinan terutama dari hasil erupsi Gunung Tangkuban Parahu). Endapan-endapan tufan yang tersedimentasikan di dalam perairan rawa sagpond yang mendalam tersebut kemudian sumbernya berangsur berubah menjadi pengendapan material-material di sedimen rawa itu sendiri yang biasanya banyak mengandung bahan-bahan organik. Bahan-bahan organik yang terutama berasal dari tumbuhan di areal rawa tersebut, dan dalam lingkungan dengan kondisi keasaman yang memungkinkan, kemudian membentuk endapan-endapan gambut seperti yang tampak pada beberapa lapisan dalam profil inti bor di daerah penelitian. Pengendapan sedimen rawa ini mengiringi proses pendangkalan rawa dengan terus berlangsungnya proses sedimentasi di areal sagpond tersebut yang pada akhirnya kadang-kadang menjadi benar-benar mendangkal hingga tersingkap ke permukaan dengan dicirikan oleh kenampakan soil (paleosol) yang terbentuk pada saat itu. Kenampakan lapukan soil pada profil inti bor yang diinterpretasi sebagai paleosol ini tampak pada beberapa interval kedalaman (259 cm - 245 cm, 211 cm - 200 cm, 175 cm - 131 cm dan 100 cm - 84 cm). Perkiraan paleosol ini didasarkan pada interpretasi warna
yang cenderung menunjukkan kisaran yang cukup tinggi dalam skala warna Munsell, yakni antara 5 YR sampai 7,5 YR yang ditunjang oleh data lainnya. Adanya karakter endapan yang mencirikan pendalaman kembali setelah pembentukan endapan hasil proses pendangkalan ini mengindikasikan bahwa pada waktu itu areal rawa sagpond di daerah penelitian mengalami gerak penurunan sehingga awal pengendapan rawa pada kondisi yang relatif dalam terulang kembali.
Dalam Bab IV telah diuraikan bahwa dari profil inti bor, secara stratigrafi terlihat adanya beberapa perulangan pada lapisan-lapisan endapannya dan diinterpretasi terbagi ke dalam 9 (sembilan) runtunan stratigrafi, yaitu:
- runtunan stratigrafi A: interval kedalaman 300 cm sampai dengan 278 cm
- runtunan stratigrafi B: interval kedalaman 278 cm sampai dengan 245 cm
- runtunan stratigrafi C: interval kedalaman 245 cm sampai dengan 234 cm
- runtunan stratigrafi D: interval kedalaman 234 cm sampai dengan 200 cm
- runtunan stratigrafi E: interval kedalaman 200 cm sampai dengan 131 cm
- runtunan stratigrafi F: interval kedalaman 131 cm sampai dengan 84 cm
- runtunan stratigrafi G: interval kedalaman 84 cm sampai dengan 52 cm
- runtunan stratigrafi H: interval kedalaman 52 cm sampai dengan 30 cm
- runtunan stratigrafi I: interval kedalaman 30 cm sampai dengan 0 cm
Perulangan siklus/runtunan stratigrafi tersebut ditafsirkan sebagai akibat dari adanya mekanisme slip/pergerakan akibat aktivitas tektonik, dan bukan karena aktivitas pembebanan. Ini dicirikan oleh keberadaan paleosol yang berulang-ulang terjadi di dalam runtunan-runtunan tersebut dan dengan dasar pemikiran bahwa setiap kali areal tersebut mengalami pendangkalan (saat tersingkap ke
permukaan hingga terbentuk soil/paleosol), seringkali kemudian dilanjutkan dengan kembali terbentuknya gambut yang merupakan ciri dari suatu areal yang mengalami penggenangan, sedangkan areal yang tergenang perairan umumnya terjadi karena adanya depresi suatu lahan yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh aktifitas tektonik di areal tersebut. Dengan demikian, aktivitas pembebanan yang secara alami bisa saja terjadi dianggap pengaruhnya tidak terlalu besar di sini. Oleh karena adanya proses pendangkalan dan pendalaman rawa akibat mekanisme slip/pergerakan patahan di daerah penelitian, dari hasil data bor di daerah penelitian teramati sebanyak 9 (sembilan) runtunan stratigrafi. Dari 9 (sembilan) runtunan tersebut, 8 (delapan) di antaranya, yakni runtunan stratigrafi A sampai dengan H, diinterpretasi terbentuk karena adanya slip. Sedangkan runtunan stratigrafi I diyakini terbentuk bukan karena adanya slip. Batas antara runtunan stratigrafi H dan I ini diyakini hanya merupakan batas perubahan endapan karena isi runtunan stratigrafi H hanya merupakan tanah urugan yang sengaja ditutup oleh penduduk sekitar di atas areal sagpond ini. Dari hasil interpretasi data stratigrafi diperkirakan telah terjadi 7 (tujuh) kali slip hingga terbentuk 8 (delapan) runtunan stratigrafi tersebut. Ke-tujuh slip yang membentuk 8 (delapan) runtunan stratigrafi tersebut berdasarkan pada uraian berikut ini.
5.1.1 Interpretasi slip antara runtunan stratigrafi A dan B
Endapan gambut pada runtunan stratigrafi A kemungkinan terbentuk dari hasil endapan rawa yang biasanya kaya akan kandungan organik dan diduga merupakan kelanjutan endapan sagpond di bawahnya. Sebelum terbentuk runtunan stratigrafi B, diduga terjadi slip (Slip-1) sehingga rawa sagpond yang mengandung runtunan stratigrafi A mengalami penurunan dan dasar rawa pun menjadi lebih dalam dari sebelumnya. Proses sedimentasi kemudian berlanjut di atas runtunan stratigrafi A dan membentuk runtunan stratigrafi B.
5.1.2 Interpretasi slip antara runtunan stratigrafi B dan C
Endapan pada runtunan stratigrafi B merupakan tuf berwarna kemerahan yang menunjukkan bahwa endapan ini kemungkinan merupakan hasil endapan volkanik karena adanya erosi dari dinding-dinding foot wall. Endapan ini ditindih secara berangsur oleh gambut berwarna kehitaman yang menunjukkan bahwa endapan ini kemungkinan merupakan hasil endapan yang cukup kaya akan kandungan organik dari rawa sagpond. Sedimentasi yang menunjukkan proses pendangkalan rawa ini kemudian menjadi mendalam kembali dengan adanya slip berikutnya (Slip-2). Setelah Slip-2 terjadi kemudian berlangsung sedimentasi yang membentuk runtunan stratigrafi C.
5.1.3 Interpretasi slip antara runtunan stratigrafi C dan D
Runtunan stratigrafi C diawali dengan endapan tuf berwarna coklat muda kemerahan yang berubah menjadi gambut berwarna coklat kemerahan (interval kedalaman 237 cm - 234 cm) yang menunjukkan bahwa sedimentasi rawa sempat terjadi seiring dengan proses pendangkalan rawa. Endapan kemudian kembali membentuk tuf pada runtunan stratigrafi D karena kemungkinan areal sagpond kembali turun akibat adanya Slip-3 sebelum rawa sagpond sempat mendangkal hingga ke permukaan.
5.1.4 Interpretasi slip antara runtunan stratigrafi D dan E
Runtunan stratigrafi D diawali dengan endapan tuf berwarna coklat, bertekstur lebih kasar dan mengandung fragmen-fragmen tuf-pumice (pasiran hingga kerikilan pada interval kedalaman 234 cm - 216 cm ) dan cenderung membentuk struktur reverse bedding. Fragmen-fragmen tersebut kemungkinan terbentuk
karena adanya erosi dari dinding-dinding footwall di sekitarnya karena areal sagpond menjadi semakin turun akibat adanya Slip-3. Endapan kemudian berangsur menjadi gambut berwarna coklat muda-tua, gambutan dan mengandung sisa-sisa tumbuhan (interval kedalaman 216 cm - 212 cm) yang menunjukkan bahwa sedimentasi pendangkalan rawa terus berlanjut. Runtunan kemudian diakhiri paleosol, berwarna coklat muda kekuningan, tufan, bertekstur pasiran (interval kedalaman 212 cm - 200 cm) dan kemungkinan merupakan akhir dari runtunan ini karena kemudian slip terjadi lagi (Slip-4) sehingga rawa sagpond kembali menjadi dalam dan membentuk sistem pengendapan rawa sagpond berikutnya yaitu sedimentasi yang membentuk Runtunan stratigrafi E.
5.1.5 Interpretasi slip antara runtunan stratigrafi E dan F
Runtunan stratigrafi E yang terbentuk karena mendalamnya rawa akibat Slip-4, terdiri atas endapan tuf berwarna coklat tua dan mengandung fragmen-fragmen tuf di dalamnya (interval kedalaman 199 cm - 194 cm) yang kemudian berangsur menjadi tuf berwarna coklat kemerahan. Seperti halnya di atas, keberadaan fragmen-fragmen tuf ini kemungkinan terjadi karena hancurnya dinding-dinding foot wall yang didominasi oleh endapan-endapan volkanik (tuf) kemudian tererosi dan terendapkan dalam rawa sagpond. Pengendapan kemudian dilanjutkan dengan pengendapan material rawa hingga membentuk gambut berwarna hitam dengan kandungan organik yang semakin kaya ke arah atas (interval kedalaman 184 cm - 175 cm). Gambut tersebut diperkirakan kemudian melapuk menjadi paleosol berwarna kekuningan hingga kemerahan hingga kemudian menjadi berwarna coklat agak tua sampai coklat kemerahan (interval kedalaman 175 cm - 131 cm). Warna pada akhir runtunan dalam skala warna tanah Munsell (Munsell soil color charts) yang menunjukkan angka cukup tinggi yakni hingga 7,5 YR mencirikan bahwa kemungkinan di sini terjadi proses tersingkapnya endapan perairan ke permukaan (oksidasi).
Areal ini diduga kembali tergenang dengan adanya slip berikutnya (Slip-5) sehingga pengendapan rawa sagpond kembali berlangsung dan terendapkan runtunan stratigrafi berikutnya yakni runtunan stratigrafi F.
5.1.6 Interpretasi slip antara runtunan stratigrafi F dan G
Setelah terjadi Slip-5 kemudian terendapkan runtunan berikutnya (runtunan stratigrafi F), berupa gambut berwarna hitam yang kaya akan sisa - sisa tumbuhan (interval kedalaman 131 cm - 100 cm) dan kemudian melapuk menjadi paleosol berwarna coklat terang yang mengandung bebijian dan sisa-sisa akar tumbuhan (interval kedalaman 100 cm - 84 cm). Keberadaan akar-akar tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan rawa sagpond kembali menjadi dangkal. Namun, karena setelah ini slip terjadi lagi (Slip-6), maka rawa kembali mendalam dan proses awal pengendapan pada runtunan stratigrafi G pun terbentuk.
5.1.7 Interpretasi slip antara runtunan stratigrafi G dan H
Pengendapan material rawa hingga menjadi gambut kembali terbentuk yakni yang tampak pada runtunan stratigrafi G, berupa endapan gambut berwarna hitam gelap, yang menunjukkan bahwa kondisi rawa sagpond kembali menjadi kembali dalam (interval kedalaman 84 cm - 56 cm). Adanya sisa-sisa tumbuhan bahkan dengan struktur tumbuhan yang lebih jelas (berupa serat-serat tumbuhan dan potongan-potongan kayu) pada bagian atas runtunan ini (interval kedalaman 56 cm - 53 cm) diduga terjadi karena rawa sempat mengalami pendangkalan, sehingga tumbuhan di sekitar rawa juga sempat berkembang pada waktu itu, namun karena kemudian terjadi slip berikutnya (Slip-7), maka rawa menjadi kembali dalam dan menggenangi tumbuhan di sekitar rawa tersebut hingga
tumbuhan-tumbuhan tersebut kemudian mati dan tertindih oleh endapan-endapan pada runtunan berikutnya yang menunjukkan kondisi rawa yang semakin mendalam dengan kembali terbentuknya gambut berikutnya (runtunan stratigrafi H) di atas gambut pada runtunan stratigrafi G ini.
5.1.8 Interpretasi runtunan stratigrafi I
Dengan adanya Slip-7, kondisi rawa sagpond kembali mendalam dan kembali membentuk endapan gambut berwarna coklat tua hingga kehitaman pada runtunan stratigrafi H (interval kedalaman 53 cm - 30 cm). Runtunan ini (endapan gambut) merupakan penciri sedang berlangsungnya proses pengendapan di areal rawa yang tengah tergenang perairan, atau dengan kata lain sebagai penciri sedang berlangsungnya proses pengendapan pada kondisi rawa sagpond yang tengah mengalami pendalaman, dan belum mencapai tahap akhir sedimentasi sagpond yang biasanya dicirikan oleh pembentukan soil (paelosol), dikarenakan soil (top soil) yang menutupi endapan gambut pada runtunan stratigrafi I tersebut merupakan tanah urugan dan bukan merupakan lapukan soil (paelosol) sebagai bagian akhir dari runtunan stratigrafi H. Oleh karenanya, apabila tanah urugan pada runtunan stratigrafi I tersebut tidak ada, maka proses pengendapan gambut pada lingkungan rawa sagpond termuda di daerah penelitian diperkirakan masih hidup hingga kini bahkan kemungkinan proses pengendapan gambutnya pun masih terus berjalan hingga kini dengan adanya kondisi air rawa yang berlingkungan asam (pH 3,52) di areal rawa ini. Dengan demikian, sagpond di daerah penelitian, yang dalam perkembangannya berkaitan dengan proses penurunan lahan akibat adanya Aktifitas Patahan Lembang, menunjukkan bahwa sagpond tersebut secara tidak langsung mengindikasikan bahwa pengaruh keaktifan patahan ini masih terjadi di areal ini hingga sekarang.
5.2 Indikasi / Bukti Slip (Pergerakan Patahan) Berdasarkan Kumpulan Polen
Polen dan spora terendapkan cukup baik di setiap sampel yang diamati. Ini terekam dalam tabel kekayaan polen dan spora pada lampiran G. Banyaknya kandungan polen dan spora dalam endapan rawa sagpond di daerah penelitian berkaitan dengan kondisi sedimentasi pada saat pengendapan polen dan spora tersebut berlangsung. Dalam Sub-bab 5.1 dinyatakan bahwa batas-batas runtunan stratigrafi di daerah penelitian merupakan akibat adanya perubahan perubahan kondisi pengendapan lingkungan rawa sagpond yang disebabkan pergerakan-pergerakan (slip).
Dalam sistem sedimentasi, perubahan tipe endapan kemungkinan terjadi karena adanya perubahan kondisi tertentu dalam proses pengendapannya. Polen dan spora yang terendapkan dalam suatu lingkungan rawa biasanya terendapkan dalam sistem umum pengendapan yang sumbernya terutama berasal dari sungai-sungai di sekitarnya yang langsung masuk ke dalam lingkungan perairan rawa. Namun, adakalanya polen dan spora tersebut terendapkan dalam suatu rawa yang didominasi oleh tumbuhan perairan yang membentuk penutup (cap) pada permukaan rawa atau yang disebut rawa apung, yakni rawa yang perluasan vegetasinya melalui air (Polunin, 1990). Tumbuhan perairan tersebut akar-akarnya menggantung di dalam air dan tubuh tumbuhannya mengambang sehingga membentuk root mat di atas permukaan air (Susetyo, 1998). Keberadaan root mat di permukaan air rawa menjadikan material-material endapan yang masuk ke dalam rawa tidak langsung terendapkan ke dasar rawa, namun harus melewati jaringan akar-akar pada root mat tersebut, termasuk dalam proses pengendapan polen dan spora yang masuk ke dalam rawa ini. Dalam kondisi pengendapan yang demikian, berbagai tipe endapan (baik sedimen volkanik maupun non-volkanik) dan berbagai ukuran endapan (baik kasar maupun halus), seluruhnya memungkinkan untuk diendapkan melalui celah-celah root mat (serasah) tersebut (Gambar 5.1).
Gambar 5.1 Model pembentukan rawa apung yang membentuk root mat pada permukaannya (Susetyo, 1998).
Tipe pengendapan rawa seperti ini kemungkinan terjadi di daerah penelitian, mengingat masih terkandungnya polen dan spora di dalam endapan-endapan yang biasanya tidak memungkinkan untuk terpreservasi di dalam jenis-jenis endapan yang bertekstur kasar dan bersifat tufan (volkanik) tersebut (Polen dan spora biasanya terkandung dengan baik dalam sistem sedimentasi bertekstur halus dan material yang kaya akan kandungan organik, antara lain: sedimen organik, gambut maupun batubara (Bignot G., 1985)).
Perubahan akumulasi polen dan spora di daerah penelitian diyakini sebagai refleksi perubahan bentang vegetasi karena adanya perubahan topografi yang diakibatkan oleh aktifitas patahan. Hal ini berlandaskan pada dasar pemikiran berikut ini.
Rekonstruksi bentang vegetasi purba berdasarkan data palinologi dari wilayah Indonesia membuktikan terjadinya fluktuasi iklim yang bersifat global atau paling tidak regional selama Plistosen Atas hingga Holosen (Yulianto & Sukapti, 1998). Fluktuasi iklim di daerah tropis biasanya berdampak pada pergeseran jalur-jalur vegetasi yang lebih jelas terlihat terutama di areal-areal dataran tinggi (Walker, 1970). Fluktuasi perubahan iklim itupun terekam dari data mikrofosil atau makrofosil lainnya. Bahkan perubahan yang lebih spesifik dapat teramati dari perubahan fluktuasi yang berdasarkan pada data geokimia (kadar kandungan
unsur C, O atau N). Dari hasil data terdahulu terutama perubahan mintakat tumbuhan selama Kuarter Akhir di wilayah Sunda-Sahul berdasarkan analisis palinologi (Flenley, 1996) tampak bahwa fluktuasi tersebut terekam dengan baik hanya hingga sekitar rentang waktu 10.000 tahun yang lalu, namun setelah itu fluktuasi perubahannya menjadi semakin rendah (Yulianto, 2001). Dengan demikian, apabila masih terlihat adanya perubahan refleksi polen pada rentang waktu tersebut, kiranya kondisi apa yang mengontrol perubahan-perubahan tersebut, mengingat perubahan bentang vegetasi tidak selalu dikontrol oleh faktor perubahan iklim namun bisa saja terjadi karena adanya faktor perubahan topografi, terutama di wilayah-wilayah yang dikontrol oleh tektonik aktif.
Selain itu, berdasarkan literatur terdahulu, penelitian palinologi yang berkaitan dengan perubahan iklim khususnya di Jawa Barat (Kaars & Dam, 1995; Polhaupessy, 1980, 1981, 1990, 2001 dan Stuijts, 1993) umumnya dilakukan hingga sekitar 8.000 tahun yang lalu, karena setelah itu perubahan bentang vegetasi menjadi tidak jelas dan diduga tidak hanya terjadi secara alami namun mulai dipengaruhi oleh turut campurnya aktifitas manusia terhadap perubahan bentang vegetasi pada saat itu (Yulianto & Sukapti, 1998). Jika dibandingkan antara ketebalan inti bor di deerah penelitian dengan hasil bor yang dilakukan oleh Kaars & Dam (1995), maka diperkirakan inti bor di daerah penelitian masih berada jauh lebih muda dari kisaran umur tersebut (tidak lebih tua dari 7000 tahun yang lalu), sehingga kemungkinan perubahan bentang vegetasi pada saat itu bukan disebabkan oleh pengaruh perubahan iklim.
Di sisi lain, apabila refleksi polen dan spora dari komunitas vegetasi yang berkembang di suatu wilayah yang berpotensi tektonik dalam hal ini di sekitar areal yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh aktifitas patahan, maka besar kemungkinan rekaman-rekaman perubahan refleksi polen dan spora yang terjadi tersebut bukan dikontrol oleh perubahan iklim yang bersifat lebih luas (global) namun lebih dikontrol oleh faktor-faktor lokal yakni faktor-faktor perubahan topografi yang diakibatkan oleh aktifitas tetkonik di sekitarnya. Dan salah satu
contoh lingkungan yang sesuai dengan keadaan ini adalah perubahan refleksi polen dan spora yang terkandung dalam suatu endapan berlingkungan sagpond di sekitar areal patahan (dalam hal ini Patahan Lembang) seperti halnya yang terjadi di daerah penelitian.
Interpretasi palinologi pada endapan sagpond di sekitar areal Patahan Lembang menunjukkan adanya perubahan-perubahan persentase polen dan spora pada segmen-segmen komunitas tertentu yang terefleksikan dalam kelompok-kelompok zonasi atau sub-zonasi palinologi. Dalam diagram palinologi (Gambar 4.9) tampak batas-batas zonasi atau sub-zonasi tersebut seringkali berhimpit dengan batas runtunan stratigrafi.
Di dalam interpretasi slip berdasarkan analisis runtunan stratigrafi dinyatakan bahwa diduga lingkungan rawa sagpond, yang pembentukannya sangat dikontrol oleh aktifitas slip, masih berlanjut hingga kini (Interpretasi runtunan stratigrafi H dalam Sub-bab 5.1.8). Untuk itu, dengan melakukan analisis terhadap kandungan polen pada sampel modern (sampel tanah permukaan) yang diperkirakan sebagai lingkungan rawa sagpond termuda di sini, dapat dijadikan sebagai acuan sejarah perubahan lingkungan bentang vegetasi di areal sagpond yang berkembang seiring dengan aktifitas-aktifitas slip yang pernah terjadi pada saat itu. Termasuk refleksi polen pada runtunan stratigrafi I (Zonasi Palinologi IV) yang merupakan tanah urugan di atas areal rawa sagpond juga digunakan sebagai pembanding dalam interpretasi palinologi data inti bor karena tanah tersebut dianggap masih mewakili lingkungan termuda di areal rawa sagpond ini mengingat sumber tanah urugan pada runtunan stratigrafi Iini masih berasal dari permukaan rawa sagpond itu sendiri, sehingga besar kemungkinan kandungan polen-polennya mewakili lingkungan permukaan rawa sagpond yang tengah berkembang di areal rawa sagpond modern / sekarang.
Keberadaan polen dan spora pada sampel modern (Tabel 4.1 dan gambar 4.7 - 4.8) yang diambil dari tanah permukaan rawa sebagai pembanding kondisi rawa
sagpond yang mencapai akhir pendangkalan (sedimentasi mencapai permukaan) menunjukkan kandungan polen dan spora yang hampir sama dengan kandungan polen dan spora pada Zonasi Palinologi IV yang tampak lebih didominasi oleh kelompok rerumputan (khususnya Gramineae) dengan proporsi sekitar 70% dan kecilnya proporsi kelompok tumbuhan dataran tinggi, tumbuhan semak, tumbuhan perairan dan tumbuhan rawa. Sedangkan yang diambil dari dasar rawa sebagai pembanding kondisi rawa sagpond yang tergenang dengan dalam menunjukkan kandungan polen dan spora yang hampir sama dengan kandungan polen dan spora pada Zonasi Palinologi III-d yang tampak lebih didominasi kelompok tumbuhan perairan (khususnya Pandanus tectorius) dengan proporsi sekitar 40%. Berdasarkan hal ini, maka interpretasi slip dari bukti palinologi pada data kandungan polen dalam inti bor direfleksikan oleh perubahan-perubahan akumulasi proporsi polen dan spora pada batas-batas zona atau sub-zona palinologi berikut ini.
5.2.1 Bukti Rekaman Polen Pada Interpretasi Slip-1
Slip-1 diinterpretasi sebagai aktifitas yang membatasi terbentuknya endapan-endapan yang merefleksikan proporsi polen dan spora antara Sub-Zonasi I-a dengan Sub-Zonasi I-b. Batas ini diidentifikasi dari kandungan proporsi polen pada Sub-Zonasi I-a yang mengindikasikan kondisi rawa yang tidak terlalu dalam, Sub-Zonasi I-b yang mengindikasikan kondisi rawa yang menjadi lebih dalam.
Kondisi rawa yang tidak terlalu dalam pada Sub-Zonasi I-a direfleksikan oleh tingginya kehadiran tumbuhan dataran tinggi dan tumbuhan rawa; hadirnya tumbuhan semak-belukar (0,7% - 6,8%) dan tumbuhan perairan (2,2% - 3,4%); dan cukup tingginya rerumputan (20,3% - 35,8%). Dengan hadirnya kelompok tumbuhan perairan (Nuphar dan Pandanus tectorius) dalam sub-zonasi I-a ini
menunjukkan bahwa lingkungan rawa sagpond di daerah penelitian telah berkembang pada saat itu karena keduanya termasuk ke dalam tipe tumbuhan khas perairan.
Hal ini didukung oleh data stratigrafi pada interval kedalaman ini yakni Runtunan stratigrafi A (interval kedalaman 300 cm - 278 cm) berupa endapan gambut yang mengandung material organik. Endapan ini kemungkinan merupakan kelanjutan endapan sagpond di bawahnya (kelanjutan dari endapan dengan kedalaman lebih dari 3 m) yang diperkirakan terendapkan dalam lingkungan rawa.
Sedangkan kondisi rawa yang menjadi lebih dalam pada Sub-Zonasi I-b direfleksikan oleh meningkatnya frekuensi tumbuhan dataran tinggi; masih tingginya frekuensi tumbuhan rawa; rendahnya frekuensi tumbuhan perairan; dan menurunnya frekuensi rerumputan.
5.2.2 Bukti Rekaman Polen Pada Interpretasi Slip-2
Kondisi rawa setelah Slip-1 yang menjadi lebih dalam dari sebelumnya (Sub-Zonasi I-a), seiring dengan berjalannya proses sedimentasi, menjadikan rawa terisi oleh endapan-endapan rawa sehingga rawa mendangkal kembali. Ini direfleksikan oleh refleksi polen setelah Sub-Zonasi I-b, yaitu Sub-Zonasi I-c yang menunjukkan refleksi sedikit berkurangnya frekuensi tumbuhan dataran tinggi; tingginya tumbuhan rawa; meningkatnya tumbuhan perairan (Nuphar dan Pandanus tectorius); meningkatnya frekuensi Compositae (kelompok rerumputan) yang menunjukkan bahwa kemungkinan rawa mengalami pendangkalan.
Hal ini didukung oleh data stratigrafi pada interval kedalaman ini yakni Runtunan stratigrafi B (interval kedalaman 278 cm - 245 cm) berupa endapan tuf
berwarna kemerahan yang ditindih secara berangsur oleh gambut berwarna kehitaman, kemudian oleh soil (paleosol) berwarna coklat hingga sedikit kemerahan, yang menunjukkan kondisi rawa yang pada awalnya dalam kemudian mengalami pendangkalan.
Kondisi dangkal pada akhir Sub-Zonasi I-c ini kemudian berubah menjadi dalam kembali dengan adanya slip berikutnya yaitu Slip-2 dengan perubahan refleksi proporsi polen pada Sub-Zonasi I-d yang menunjukkan kondisi rawa yang kembali mendalam (dicirikan oleh kembali meningkatnya tumbuhan rawa (18% - 20%) dan menurunnya kelompok rerumputan yang sempat meningkat pada awalnya (35,8% - 9,1%).
Pendangkalan ini didukung oleh data stratigrafi pada interval kedalaman ini yakni Runtunan stratigrafi C (interval kedalaman 245 cm - 234 cm) berupa endapan tuf berwarna coklat muda kemerahan yang ditindih secara berangsur oleh gambut berwarna coklat kemerahan.
5.2.3 Bukti Rekaman Polen Pada Interpretasi Slip-3
Dengan adanya Slip-3, maka kondisi rawa kembali dalam seperti yang direfleksikan oleh karakter proporsi pada Sub-Zonasi I-e, yakni meningkatnya tumbuhan dataran tinggi bahkan mencapai puncaknya di sini (hingga mencapai 64,8%); meningkatnya tumbuhan rawa; dan menurunnya kelompok rerumputan (Compositae dan Gramineae). Kondisi rawa yang dalam ini kemudian menunjukkan pendangkalan kembali seperti yang terefleksikan dalam Sub-Zonasi I-f hingga I-g, yakni semakin menurunnya tumbuhan dataran tinggi dan tumbuhan rawa; dan meningkatnya kelompok rerumputan.
Perubahan ketiga sub-zonasi ini didukung oleh data stratigrafi pada interval kedalaman ini yang menunjukkan kondisi rawa yang tadinya dalam menjadi
mendangkal, yakni runtunan stratigrafi D (interval kedalaman 234 cm - 200 cm), berupa lapisan endapan tuf berwarna coklat yang mengandung fragmen-fragmen tuf-pumice bertekstur lebih kasar (pasiran hingga kerikilan pada interval kedalaman 234 cm - 216 cm ) dan cenderung membentuk struktur reverse bedding yang diperkirakan merupakan endapan hasil erosi dari endapan volkanik pada dinding-dinding foot wall. Endapan kemudian berangsur menjadi gambut berwarna coklat muda-tua dan mengandung sisa-sisa tumbuhan (interval kedalaman 216 cm - 212 cm) yang diperkirakan merupakan endapan hasil lapukan endapan rawa. Dan kemudian diakhiri oleh pengendapan soil (paleosol) berwarna coklat muda kekuningan bertekstur pasiran (interval kedalaman 212 cm - 200 cm) yang diperkirakan sebagai lapukan dari endapan rawa tersebut.
5.2.3 Bukti Rekaman Polen Pada Interpretasi Slip-4
Slip berikutnya yaitu Slip-4 diinterpretasi terjadi setelah pembentukan endapan pada Sub-Zonasi I-g yang menunjukkan pendalaman rawa lagi, yakni dengan adanya kenampakan refleksi polen pada Sub-Zonasi I-h yang mengindikasikan kembali meningkatnya tumbuhan dataran tinggi dan tumbuhan rawa; serta menurunnya rerumputan. Keadaan ini didukung oleh adanya perubahan karakter endapan dari paleosol (akhir runtunan stratigrafi D) menjadi endapan tuf bertekstur kasar (awal runtunan stratigrafi E).
5.2.4 Bukti Rekaman Polen Pada Interpretasi Slip-5
Pendalaman rawa yang direfleksikan oleh proporsi polen pada Sub-Zonasi I-h kemudian berangsur menjadi mendangal kembali yang ditunjukkan oleh refleksi proporsi polen pada Sub-Zonasi II-a hingga II-b, yakni dengan menurunnya frekuensi tumbuhan dataran tinggi, tumbuhan rawa dan tumbuhan perairan; serta
meningkatnya frekuensi rerumputan dengan proporsi yang cukup signifikan (peningkatan Gramineae hingga sekitar 71%). Peningkatan ini menunjukkan bahwa kemungkinan pada saat itu rawa menjadi sangat dangkal, bahkan diduga pendangkalannya hingga mencapai permukaan.
Pendangkalan maskimal di sini didukung oleh karakter runtunan stratigrafinya yakni runtunan stratigrafi E (interval kedalaman 200 cm - 131 cm) berupa runtunan endapan yang diawali oleh tuf berwarna coklat tua yang mengandung fragmen-fragmen tuf di dalamnya (interval kedalaman 199 cm - 194 cm) yang kemudian berangsur menjadi tuf berwarna coklat kemerahan, yang kemungkinan terjadi karena hancurnya dinding-dinding foot wall yang didominasi oleh endapan-endapan volkanik (tuf) kemudian tererosi dan terendapkan dalam rawa sagpond. Kemudian dilanjutkan dengan pengendapan material rawa hingga membentuk gambut berwarna hitam dengan kandungan organik yang semakin kaya ke arah atas (interval kedalaman 184 cm - 175 cm), hingga kemudian melapuk menjadi soil (Paleosol) berwarna kemerahan sampai kekuningan yang diduga telah tersingkapnya endapan perairan ke permukaan (oksidasi).
Areal ini diduga kembali tergenang dengan adanya slip berikutnya, yakni Slip-5 dengan kembali tergenangnya rawa oleh tubuh perairan, yang dicirikan oleh menurunnya proporsi Gramineae (Sub-Zonasi III-a) yang mengindikasikan bahwa rawa menjadi dalam kembali. Pendalaman rawa pada Sub-Zonasi III-a ini sekaligus mengindikasikan perubahan kontrol sedimentasi yang menunjukkan bahwa kemungkinan pengaruh sungai semakin melemah dan sebaliknya pengaruh rawa semakin kuat, ini terlihat dari meningkatnya proporsi Pandanus tectorius yang merupakan salah satu segmen tumbuhan perairan, dengan nilai yang cukup signifikan (hingga mencapai 83%).
5.2.5 Bukti Rekaman Polen Pada Interpretasi Slip-6
Penurunan proporsi Gramineae yang ditunjukkan oleh refleksi polen pada Sub-Zonasi III-a dilanjutkan dengan kondisi rawa yang kembali mendangkal seiring dengan proses sedimentasi, dicirikan oleh refleksi polen pada Sub-Zonasi III-b, yaitu dengan kembali meningkatnya proporsi rerumputan dan masih rendahnya tumbuhan dataran tinggi; serta sedikit berkurangnya tumbuhan perairan (proporsi Pandanus tectorius berkurang hingga menjadi sekitar 55%).
Indikasi rawa yang sempat mendalam kemudian mendangkal lagi tersebut terlihat pula dari interpretasi stratigrafi yakni karakter yang ditunjukkan runtunan stratigrafi F (interval kedalaman 131 cm - 84 cm) berupa pengendapan sedimen rawa berupa gambut berwarna hitam yang kaya akan sisa-sisa tumbuhan dan kemudian melapuk menjadi soil (Paleosol) berwarna coklat terang yang mengandung bebijian dan sisa-sisa akar tumbuhan.
Kemudian, diperkirakan rawa yang menjadi dalam dan selanjutnya sedikit mendangkal lagi ini kembali mendalam karena diduga terjadi lagi aktifitas slip berikutnya, yaitu Slip-6. Ini ditunjukkan oleh refleksi polen pada Sub-Zonasi III-c, yaitu meningkatnya kembali proporsi polen dari tumbuhan dataran tinggi dan tumbuhan perairan (Pandanus tectorius); serta menurunnya rerumputan. Pendalaman rawa ini juga jelas terlihat dari adanya peningkatan kembali hingga mencapai proporsi angka yang cukup signifikan (hingga 85%) pada frekuensi Pandanus tectorius dan menurunnya rerumputan hingga ke angka penurunan yang cukup signifikan (hingga sekitar 0% - 2%) dan ini merupakan pencapaian angka penurunan proporsi terendahnya di sini. Kondisi ini kemungkinan menunjukkan bahwa rawa mengalami penurunan yang cukup dalam pada saat itu. Karakter ini didukung oleh endapannya yakni endapan pada kedalaman 84 cm sampai dengan 52 cm (runtunan stratigrafi G) yang berupa endapan gambut berwarna hitam gelap. Adanya sisa-sisa tumbuhan dengan struktur tumbuhan yang lebih jelas (berupa serat-serat tumbuhan dan potongan-potongan kayu)
yang tampak pada bagian atas runtunan menunjukkan bahwa rawa sempat mendangkal sehingga sempat berkembang tumbuhan di areal rawa tersebut. Ini dicirikan oleh adanya perubahan proporsi polen pada bagian akhir dari Sub-Zonasi III-c ini yaitu dengan sedikit meningkatnya kelompok rerumputan (Compositae (hingga mencapai 20%), Cyperaceae (hingga 3%) dan Gramineae (hingga 9%)) dan kelompok tumbuhan rawa (Ilex (2%) dan Macaranga (23%); serta menurunnya kelompok tumbuhan perairan (Pandanus tectorius berkurang hingga mencapai angka 15%).
5.2.6 Bukti Rekaman Polen Pada Interpretasi Slip-7
Meskipun sedimentasi pada kondisi rawa sagpond yang cukup dalam pada saat itu tengah berlangsung, slip berikutnya (Slip-7) terjadi lagi. Dengan demikian, sebelum sempat membentuk soil, rawa sagpond ini telah mengalami penurunan kembali sehingga dasar rawa menjadi semakin dalam, sehinga kemudian itu berlangsung kembali pengendapan sedimen pada kondisi rawa yang mengalami pendalaman seperti yang tampak pada refleksi polen pada Sub-Zonasi III-d, yakni dengan semakin meningkatnya proporsi tumbuhan dataran tinggi dan tumbuhan rawa; sedikit berkurangnya tumbuhan perairan; dan masih rendahnya rerumputan. Proporsi tumbuhan perairan (Pandanus tectorius) yang tetap terkandung dalam proporsi tinggi (hanya berkurang sedikit menjadi sekitar 61%) dan sedikit menurunnya rerumputan (Compositae, Cyperaceae dan Gramineae). Rendahnya proporsi polen dari kelompok rerumputan pada refleksi polen dalam Sub-Zonasi III-d ini mengindikasikan bahwa pengendapan saat itu kemungkinan masih berlangsung dalam kondisi rawa yang tergenang perairan. Ini didukung pula oleh kembali terbentuknya endapan gambut berwarna coklat tua hingga kehitaman (runtunan stratigrafi H, antara kedalaman 52 cm - 30 cm) di atas sisa-sisa tumbuhan dengan struktur tumbuhan yang lebih jelas (berupa serat-serat
tumbuhan dan potongan-potongan kayu) yang tampak pada bagian atas runtunan stratigrafi G.
Di atas Sub-Zonasi III-d, terdapat runtunan stratigrafi I (interval kedalaman 30 cm hingga 0 cm) yang mengandung refleksi polen dari Zonasi IV. Karakter endapan yang merupakan suatu top soil ini sangat didukung oleh keberadaan kumpulan polen yang sangat merefleksikan karakter proporsi polen yang terkandung dalam endapan permukaan yaitu karakter proporsi polen yang sangat didominasi oleh kelompok rerumputan (71,3% - 79,3%), sedangkan sisanya merupakan proporsi dari kelompok tumbuhan dataran tinggi, tumbuhan rawa, tumbuhan semak dan tumbuhan perairan, masing-masing dengan proporsi yang kecil (berkisar antara 3% - 16%). Refleksi polen dari Zonasi IV ini menunjukkan proporsi yang hampir sama dengan refleksi polen yang terkandung dalam sampel tanah permukaan pada sampel modern (Tabel 4.1, gambar 4.8). Hal ini kemungkinan terjadi karena endapan soil pada runtunan stratigrafi I ini merupakan tanah urugan yang sengaja ditutup di atas areal rawa sagpond ini. Interpretasinya pun dianggap masih mewakili lingkungan termuda di areal rawa sagpond ini mengingat sumber tanah urugan pada runtunan stratigrafi Iini masih berasal dari permukaan rawa sagpond itu sendiri, dan besar kemungkinan kandungan polen-polennya tetap mewakili lingkungan permukaan rawa sagpond yang tengah berkembang di areal rawa sagpond modern yang berlangsung di masa sekarang.
Penelitian ini tentunya akan lebih baik apabila dilakukan dengan resolusi analisis palinologi yang lebih tinggi serta dukungan data palinologi pada titik-titik bor sekitarnya, data paritan (trenching), data penanggalan, data uji provenance pada endapan penyusun rawa sagpond sehingga diketahui lebih jelas dari mana sumber-sumber endapan tersebut berasal, dan data pendukung lainnya.
Berdasarkan hasil analisis stratigrafi dan palinologi pada inti bor sepanjang 300 cm tersebut, maka dibuat interpretasi slip berdasarkan proporsi kumulatif
polen (Gambar 5.2) dan tabel aktifitas pergerakan Patahan Lembang (Tabel 5.1) dan yang terjadi di daerah penelitian.
Gambar 5.2 Interpretasi slip di daerah penelitian berdasarkan siklus / runtunan stratigrafi dan proporsi kumulatif polen.
Zonasi Pali nologi Runtunan Srtr ati g ra fi c a b d D 0 296 292 288 284 280 276 272 268 264 260 256 252 248 244 240 236 232 228 224 220 216 212 208 204 200 196 192 188 184 180 176 172 168 164 160 156 152 148 144 140 136 132 128 124 120 116 112 108 104 100 96 92 88 84 80 76 72 68 64 60 56 52 48 44 40 36 32 28 24 20 Rerumputan Tumbuhan Perairan Tumbuhan Semak-Belukar Tumbuhan Rawa
Tumbuhan Dataran Tinggi
0 20 40 60 80 100% a b g a b c d e h II IV III F G E D H I A B I Slip-7 Slip-1 Slip-5 V V Litol og i d f C Slip-3 Slip-2 Slip-6 Slip-4
INTERVAL
KEDALAMAN LITOLOGI
ANALISIS
STRATIGRAFI INDIKASI PALINOLOGI
AKTIFITAS
SLIP
0cm – 30cm Top soil (Tanah
urugan) Runtunan stratigrafi I Sub-Zonasi Palinologi IV
30cm – 30cm -
30cm – 52cm Gambut, coklat tua
cenderung hitam
Runtunan stratigrafi
H Sub-Zonasi Palinologi III-d
52cm – 52cm Slip-7
52cm – 84cm
Gambut, hitam gelap mengandung serat-serat tumbuhan &
potongan-potongan kayu
Runtunan stratigrafi
G Sub-Zonasi Palinologi III-c
84cm – 84cm Slip-6
84cm – 100cm
Paleosol, coklat terang
mengandung bebijian & sisa-sisa akar
tumbuhan
Runtunan stratigrafi F
Sub-Zonasi Palinologi III-b
100cm – 131cm Gambut, hitam, kaya
sisa-sisa tumbuhan Sub-Zonasi Palinologi III-a
131cm – 131cm Slip-5 131cm – 176cm Paleosol, pasiran, kekuningan-kemerahan, berangsur menjadi coklat kemerahan-coklat tua Runtunan stratigrafi E
Sub-Zonasi Palinologi II-b
176cm – 184cm Gambut, hitam, kaya
kandungan organik Sub-Zonasi Palinologi II-a
184cm – 200cm
Tuf coklat tua, mengandung
fragmen-fragmen, berangsur menjadi tuf coklat
kemerahan
Sub-Zonasi Palinologi I-h
200cm – 200cm Slip-4
200cm – 212cm
Paleosol, tufan, coklat
muda-kekuningan, pasiran
Runtunan stratigrafi D
Sub-Zonasi Palinologi I-g 212cm – 216cm
Gambut, coklat muda-tua, mengandung
sisa-sisa tumbuhan
216 cm – 234 cm Tuf, coklat, pasiran,
kerikilan Sub-Zonasi Palinologi I-f
234 cm – 234 cm Slip-3
234 cm – 237 cm Gambut, coklat
kemerahan Runtunan stratigrafi
C Sub-Zonasi Palinologi I-d
237 cm – 245 cm Tuf, coklat muda
kemerahan, pasiran
245 cm – 245 cm Slip-2
245 cm – 259 cm Paleosol, coklat-kemerahan
Runtunan stratigrafi B
Sub-Zonasi Palinologi I-c
259 cm – 260 cm Gambut, coklat
tua-hitam
260 cm – 278 cm Tuf, coklat kemerahan Sub-Zonasi Palinologi I-b
278 cm – 278 cm Slip-1
278 cm – 300 cm Gambut, coklat tua –
hitam
Runtunan stratigrafi
A Sub-Zonasi Palinologi 1-a