TERMODINAMIKA (II)
Dr. Ifa Puspasari
PV Work Irreversible
(Pressure External Constant)
•
Kompresi ireversibel:
•
Kerja = Gaya x Jarak perpindahan
•
W = F x l
dimana
F = P
exx A
•
W = P
exx A x l
•
W = - P
exx ΔV
•
W = - P
exx (V
f– V
i)
• Tanda negatif diperlukan karena dalam kompresi, kerja dilakukan pada sistem sehingga kerja akan bertanda positif.
PV Work Reversible
(Pressure External Not Constant)
•
Kompresi reversibel
Pex = Pin dP (+) : kompresi (-) : ekspansi 𝑊 = − 𝑃𝑒𝑥𝑑𝑉 𝑉𝑓 𝑉𝑖PV Work Reversible
(Pressure External Not Constant)
•
𝑊
𝑟𝑒𝑣= − 𝑃
𝑒𝑥𝑑𝑉
𝑉𝑓 𝑉𝑖 •𝑃
𝑒𝑥= 𝑃
𝑖𝑛± 𝑑𝑃
•𝑊
𝑟𝑒𝑣= −
𝑃
𝑖𝑛𝑑𝑉 ± 𝑑𝑃 𝑑𝑉
𝑉𝑉𝑓 𝑖 𝑉𝑓 𝑉𝑖 •𝑊
𝑟𝑒𝑣= −
𝑉𝑉𝑓𝑃
𝑖𝑛𝑑𝑉
𝑖• Pada suhu tetap (proses isotermal):
•
𝑊
𝑟𝑒𝑣= −
𝑛𝑅𝑇𝑉𝑑𝑉 = −𝑛𝑅𝑇
𝑉𝑉𝑓 𝑉1 𝑖 𝑉𝑓 𝑉𝑖𝑑𝑉
•𝑊
𝑟𝑒𝑣= −𝑛𝑅𝑇 ln
𝑉𝑓 𝑉𝑖 dapat diabaikan karena nilainya kecilEkspansi Bebas
• Ekspansi gas dalam vakum (Pex = 0) disebut dengan ekspansi bebas.
• Tidak ada kerja yang dilakukan selama ekspansi bebas suatu gas ideal baik proses reversibel ataupun ireversibel.
•
𝑊 = −𝑃
𝑒𝑥∆𝑉
•
∆𝑈 = 𝑄 + 𝑊
•
∆𝑈 = 𝑄 − 𝑃
𝑒𝑥∆𝑉
• Jika proses terjadi pada volume tetap (ΔV = 0), maka
•
∆𝑈 = 𝑄
𝑉Ekspansi Isotermal
•
Untuk gas ideal, U merupakan fungsi dari T saja.
•
𝑈 = 𝑐
𝑉𝑛𝑅𝑇
•
Maka, untuk proses isotermal: ∆𝑈 = 0
•
Untuk proses isotermal ireversibel:
𝑄 = −𝑊 = 𝑃
𝑒𝑥𝑉
𝑓− 𝑉
𝑖•
Untuk proses isotermal reversibel:
𝑄 = −𝑊 = 𝑛𝑅𝑇 ln
𝑉
𝑓𝑉
𝑖Proses Isotermal dan Adiabatik
• Isotermal: T dijaga tetap. Mungkin memerlukan panas eksternal.
Perubahan Energi Internal untuk
Proses Adiabatik dan Isokorik
•
Untuk proses adiabatik:
𝑄 = 0
∆𝑈 = 𝑊
𝑎𝑑•
Untuk proses isokorik:
∆𝑉 = 0
∆𝑈 = 𝑄
𝑉Perubahan Energi Internal (ΔU)
•
Untuk proses isotermal:
∆𝑈 = 0
𝑄 = −𝑊 = 𝑃
𝑒𝑥𝑉
𝑓− 𝑉
𝑖•
Untuk proses ekspansi bebas dalam vakum:
𝑊 = 0
∆𝑈 = 𝑄
•
Untuk proses adiabatik:
𝑄 = 0
∆𝑈 = 𝑊
𝑎𝑑•
Untuk proses isokorik:
∆𝑉 = 0
∆𝑈 = 𝑄
𝑉•
Untuk proses isobarik:
Contoh Soal 1
•
Dua liter gas ideal pada tekanan 10 atm berekspansi
secara isotermal dalam keadaan vakum sehingga volume
totalnya 10 liter. Berapakah besarnya kalor yang diserap
dan berapakah besarnya kerja yang dilakukan dalam
Contoh Soal 1
• Dua liter gas ideal pada tekanan 10 atm berekspansi secara isotermal dalam keadaan vakum sehingga volume totalnya 10 liter. Berapakah besarnya kalor yang diserap dan berapakah besarnya kerja yang dilakukan dalam proses ekspansi tersebut? = 0 = 0 2 L 10 atm 10 L ∆𝑈 = 0 𝑄 = −𝑊 = 𝑃𝑒𝑥 𝑉𝑓 − 𝑉𝑖 = 0 × ∆𝑉 𝑄 = −𝑊 = 0
ΔU = 0
Q = 0
W = 0
Contoh Soal 2
•
Dua liter gas ideal pada tekanan 10 atm berekspansi
secara isotermal melawan tekanan 1 atm sehingga
volume totalnya 10 liter. Berapakah besarnya kalor yang
diserap dan berapakah besarnya kerja yang dilakukan
dalam proses ekspansi tersebut?
Contoh Soal 2
• Dua liter gas ideal pada tekanan 10 atm berekspansi secara isotermal melawan tekanan 1 atm sehingga volume totalnya 10 liter. Berapakah
besarnya kalor yang diserap dan berapakah besarnya kerja yang dilakukan dalam proses ekspansi tersebut?
= 1 atm = 1 atm 2 L 10 atm 10 L ∆𝑈 = 0 𝑊 = −𝑃𝑒𝑥 𝑉𝑓 − 𝑉𝑖 = − 1 atm 10 − 2 L 𝑄 = −𝑊 = 810,4 J
𝑊 = − 1 atm 8 L = −8 L. atm = −810,4 J Kerja dilakukan
oleh sistem Kalor diserap ke
Contoh Soal 3
•
Hitunglah kerja yang dilakukan jika 1,6 mol air
berevaporasi pada suhu 373 K pada tekanan atmosfer
1 atm. Asumsi gas ideal.
Contoh Soal 3
• Hitunglah kerja yang dilakukan jika 1,6 mol air berevaporasi pada suhu 373 K pada tekanan atmosfer 1 atm. Asumsi gas ideal.
H2O(l) → H2O(g)
Vi = volume of H2O liquid
1,6 mol H2O liquid = 1,6 mol 18 g/mol
1000 g/L = 0,0288 L 𝑉f = 𝑛𝑅𝑇𝑃 = 1,6 mol 0,082 L.atm/mol.K 373 K 1 atm = 48,94 L 𝑊 = −𝑃𝑒𝑥∆𝑉 = −𝑃𝑒𝑥 𝑉𝑓 − 𝑉𝑖 𝑊 = − 1 atm 48,94 − 0,0288 L = −48,91 L.atm = −4,956 kJ
Entalpi (H)
• Sebagian besar reaksi kimia berlangsung di udara terbuka, yaitu pada tekanan tetap, bukan pada suhu dan volume tetap.
Entalpi (H)
•
Pada tekanan tetap:
•
∆𝑈
𝑃= 𝑄
𝑃+ 𝑊
𝑃 •∆𝑈
𝑃= 𝑄
𝑃− 𝑃∆𝑉
•𝑈
2− 𝑈
1 𝑃= 𝑄
𝑃− 𝑃 𝑉
2− 𝑉
1 •𝑄
𝑃= 𝑈
2+ 𝑃𝑉
2− 𝑈
1+ 𝑃𝑉
1 •𝑄
𝑃= 𝐻
2− 𝐻
1 •∆𝐻 = ∆𝑈 + 𝑃∆𝑉
•
ΔH bertanda negatif untuk reaksi eksotermik yaitu yang
melepaskan panas selama reaksi.
•
ΔH bertanda positif untuk reaksi endotermik yaitu yang
menyerap panas dari lingkungan.
Entalpi (H)
• Perbedaan antara ΔH dan ΔU biasanya tidak signifikan pada sistem padatan
dan/atau cairan.
• Padatan dan cairan tidak mengalami perubahan volume yang signifikan jika dipanaskan.
• Perbedaan antara ΔH dan ΔU menjadi signifikan pada sistem yang
melibatkan gas.
• Jika VA adalah volume total dari gas reaktan, VB adalah volume total dari gas produk, nA adalah jumlah mol gas reaktan dan nB adalah jumlah mol gas
produk, pada tekanan dan suhu tetap, menggunakan persamaan gas ideal:
• 𝑃𝑉𝐴 = 𝑛𝐴𝑅𝑇 dan 𝑃𝑉𝐵 = 𝑛𝐵𝑅𝑇
• maka 𝑃𝑉𝐵 − 𝑃𝑉𝐴 = 𝑛𝐵𝑅𝑇 − 𝑛𝐴𝑅𝑇 = 𝑛𝐵 − 𝑛𝐴 𝑅𝑇
• atau 𝑃 𝑉𝐵 − 𝑉𝐴 = 𝑛𝐵 − 𝑛𝐴 𝑅𝑇
• atau 𝑃∆𝑉 = ∆𝑛𝑔𝑅𝑇
• dimana Δng adalah jumlah mol gas produk dikurangi jumlah mol gas reaktan.
Contoh Soal 4
•
Jika uap air diasumsikan sebagai gas ideal, dimana
perubahan entalpi molar untuk penguapan 1 mol air pada
1 bar dan 100°C adalah 41 kJ/mol. Hitunglah perubahan
energi internalnya jika:
a)
1 mol air diuapkan pada tekanan 1 bar dan 100°C.
b)1 mol air diubah menjadi es.
Contoh Soal 4
• Jika uap air diasumsikan sebagai gas ideal, dimana perubahan entalpi molar untuk penguapan 1 mol air pada 1 bar dan 100°C adalah 41 kJ/mol.
Hitunglah perubahan energi internalnya jika:
a) 1 mol air diuapkan pada tekanan 1 bar dan 100°C.
• ∆𝐻 = ∆𝑈 + ∆𝑛𝑔𝑅𝑇 • ∆𝑈 = ∆𝐻 − ∆𝑛𝑔𝑅𝑇 • ∆𝑈 = 41 kJ − 1 mol 8,314 × 10−3 kJ/mol.K 373 K • ∆𝑈 = 41 kJ − 3,10 kJ • ∆𝑈 = 37,90 kJ H2O(l) → H2O(g)
Contoh Soal 4
• Jika uap air diasumsikan sebagai gas ideal, dimana perubahan entalpi molar untuk penguapan 1 mol air pada 1 bar dan 100°C adalah 41 kJ/mol.
Hitunglah perubahan energi internalnya jika:
b) 1 mol air diubah menjadi es.
• Perubahan volume dapat diabaikan
• ∆𝑉 ≈ 0
• ∆𝐻 = ∆𝑈 + 𝑃∆𝑉
• ∆𝑈 = ∆𝐻
• ∆𝑈 = 41 kJ
Persamaan Termokimia
•
Persamaan reaksi setara dengan nilai ΔH
rnya disebut
persamaan termokimia.
•A + B → C, ΔH = (
) #
•Endotermik: A + B + Kalor → C, ΔH > 0
•Eksotermik: A + B → C + Kalor, ΔH < 0
•Contoh:
•H
2+ ½O
2→ H
2O
ΔH = -286 kJ
•2H
2+ O
2→ 2H
2O
ΔH = -572 kJ
•H
2O → H
2+ ½O
2ΔH = 286 kJ
•CH
4+ 2O
2→ CO
2+ 2H
2O
ΔH = -890 kJ
•N
2+ 3H
2→ 2NH
3ΔH = -92,3 kJ
Persamaan Termokimia:
Entalpi sebagai Sifat Ekstensif
•
Entalpi merupakan sifat ekstensif.
•
Sifat ekstensif adalah sifat yang nilainya tergantung pada
jumlah ataupun ukuran suatu zat di dalam sistem.
•
Contoh:
•
2H
2+ O
2→ 2H
2O
ΔH = -572 kJ
•
H
2+ ½O
2→ H
2O
ΔH = -286 kJ
Persamaan Termokimia
• Koefisien dalam persamaan termokimia setara mengacu pada jumlah mol reaktan dan produk yang terlibat dalam reaksi.
• Nilai dari perubahan entalpi standar ∆𝐻𝑟0 mengacu pada jumlah mol zat yang ditentukan oleh persamaan reaksi.
• Ketika suatu persamaan kimia dibalik, tanda pada nilai ∆𝐻𝑟0 juga dibalik.
Kapasitas Panas (C)
• Bagaimana mengukur panas yang dipindahkan ke sistem?
• Kenaikan suhu sebanding dengan panas yang ditransfer, Q ≈ koef x ΔT.
• Besarnya koefisien tergantung pada ukuran, komposisi dan sifat sistem.
Q = C ΔT
• Koefisien, C, disebut kapasitas panas. C berbanding lurus dengan
jumlah zat.
• Kapasitas panas molar, Cm, suatu zat adalah kapasitas panas untuk satu
mol zat. 𝐶𝑚 = 𝐶
Kapasitas Panas Spesifik (c)
• Kapasitas panas spesifik adalah besaran terukur yang
menggambarkan banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu zat (benda) sebesar jumlah tertentu (misalnya satu
derajat Celcius atau satu Kelvin).
•
𝑄 = 𝑐 × 𝑚 × ∆𝑇
•
𝑄 = 𝐶 × ∆𝑇
Hubungan antara C
P
dan C
V
Gas Ideal
• Kapasitas panas C pada volume tetap dilambangkan dengan CV dan pada tekanan tetap dilambangkan dengan CP.
• Pada volume tetap:
𝑄
𝑉= 𝐶
𝑉∆𝑇 = ∆𝑈
• Pada tekanan tetap:
𝑄
𝑃= 𝐶
𝑃∆𝑇 = ∆𝐻
• Untuk satu mol gas ideal:
•
∆𝐻 = ∆𝑈 + ∆ 𝑃𝑉
•∆𝐻 = ∆𝑈 + ∆ 𝑅𝑇
•∆𝐻 = ∆𝑈 + 𝑅∆𝑇
•𝐶
𝑃∆𝑇 = 𝐶
𝑉∆𝑇 + 𝑅∆𝑇
•𝐶
𝑃= 𝐶
𝑉+ 𝑅
•𝐶
𝑃− 𝐶
𝑉= 𝑅
Pengukuran
ΔU: Kalorimeter
• Kalor yang diserap pada volume tetap.
• Tidak ada kerja yang dilakukan karena ΔV = 0.
Pengukuran
ΔH: Kalorimeter
• Perubahan kalor pada tekanan tetap.
•
∆𝐻 = 𝑄
𝑃= 𝐶
𝑃∆𝑇
• Kalor yang diserap atau
dilepaskan pada tekanan tetap QP juga disebut dengan panas reaksi atau entalpi reaksi.
Contoh Soal 5
•
1g grafit dibakar dalam kalorimeter bom dengan oksigen
berlebih pada 298 K dan tekanan 1 atmosfer dengan
persamaan:
•
C (graphite) + O
2(g) → CO
2(g)
•
Selama reaksi, suhu naik dari 298 K ke 299 K. Jika
kapasitas panas dari kalorimeter bom adalah 20.7 kJ/K,
berapakah perubahan entalpi untuk reaksi di atas pada
298 K dan 1 atm?
Contoh Soal 5
• Jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter:
• 𝑄 = 𝐶𝑉∆𝑇
• Jumlah kalor dari reaksi akan mempunyai nilai yang sama tetapi
tandanya berlawanan karena kalor dilepaskan oleh sistem (reaksi) = kalor yang diterima oleh kalorimeter.
• 𝑄 = −𝐶𝑉∆𝑇 = − 20,7 kJ/K 299 − 298 K = −20,7 kJ
• Tanda negatif menunjukkan reaksi eksotermik.
• Jadi, ΔU untuk pembakaran 1 g grafit = -20,7 kJ.
• Untuk pembakaran 1 mol grafit = (12,0 g/mol)x(-20,7 kJ)/(1 g)
• = -2,48 x 102 kJ/mol.