• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Interior Smp Negeri 2 Deket Sebagai Sarana Pendidikan Dengan Kajian Disiplin Untuk Membentuk Karakter Siswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Desain Interior Smp Negeri 2 Deket Sebagai Sarana Pendidikan Dengan Kajian Disiplin Untuk Membentuk Karakter Siswa"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

ROFI’ATUL ILMIA NRP 3813100040 Dosen Pembimbing

Aria Weny Anggraita, S.T., M.MT. NIP 1982 0801 2009 122003

DEPARTEMEN DESAIN INTERIOR

Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2017

(2)
(3)

Nama : Rofi’atul Ilmia NRP

Dosen Pembimbing : : 3813100040 Aria Weny A., S.T., M.MT.

ABSTRAK

Sekolah yang disiplin perlu diciptakan agar anak dapat belajar tidak hanya keterampilan akademik akan tetapi juga melatih siswa untuk mencapai hal-hal non-akademik yang juga sangat penting bagi kehidupan, yaitu taat pada peraturan untuk membentuk kepribadian yang baik. SMP Negeri 2 Deket sebagai salah satu lembaga pendidikan untuk anak usia remaja yang mempunyai misi yaitu terwujudnya strategi pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, menyenangkan dalam upaya pelestarian fungsi lingkungan; serta terwujudnya sistem penilaian sesuai Standar Nasional.

Untuk menunjang misi tersebut, maka diperlukan pengaplikasian desain interior pada sekolah yang disesuaikan dengan pembentukan karakter siswa melalui kedisiplinan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan perilaku anak. Hal ini dapat dilalukan dengan cara mendesain interior sekolah yang dapat mengarahkan siswa agar lebih fokus dalam kegiatan dan aktifitas pendukung belajar mengajar, mendesain signage dan tata lay out ruang untuk mengarahkan siswa agar bersikap lebih disiplin di sekolah. Dengan desain interior yang tepat maka dapat memberikan solusi desain dari permasalahan kedisiplinan siswa yang ada di SMP Negeri 2 Deket.

Desain yang diterapkan untuk visualiasi konsep yang diinginkan adalah penggunaan beberapa kombinasi warna yang sesuai psikologis anak usia SMP untuk membentuk kedisiplinan siswa seperti kuning, biru, hijau, putih, dan coklat; penggunaan bentuk furnitur, dinding, plafon, dan pola lantai yang mengarahkan siswa lebih fokus dalam belajar serta dapat menunjang kedisiplinan anak usia 12-15 tahun; menerapkan signage dan sirkulasi yang lebih informatif untuk mengarahkan anak selalu berperilaku disiplin dan disesuaikan dengan karakter anak usia SMP

Kata kunci : Anak usia remaja, Karakter usia 12-15 tahun, Kedisiplinan, Sekolah Menengah Pertama, Signage dan Tata Lay out

(4)

Name : Rofi’atul Ilmia NRP

Supervisor : : 3813100040 Aria Weny A., S.T., M.MT.

ABSTRACT

Schools that are disciplined need to be created so that children can learn not only academic skills but also train students to achieve non-academic things that are also very important for life, that is obedient to the rules to form a good personality. SMP Negeri 2 Deket as one of the educational institutions for teenage children who have a mission that is the realization of an active learning strategy, creative, innovative, fun in the effort of preserving environmental functions; As well as the realization of an assessment system according to the National Standard.

To support the mission, it is necessary application of interior design in schools tailored to the formation of student characters through discipline will greatly affect the development and behavior of children. This can be done by designing the interior of the school that can lead the students to focus more on activities and teaching-learning support activities, designing the signage and layout of the space to direct students to be more disciplined in school. With the right interior design then it can provide design solution from disciplinary problem of students in SMP Negeri 2 Deket.

The design that is applied to visualize the desired concept is the use of some appropriate color combinations of junior high school children to form student disciplines such as yellow, blue, green, white, and brown; The use of furniture, walls, ceilings and floor patterns that lead students to focus more on learning and can support the discipline of children aged 12-15 years; Applying more informative signage and circulation to lead children always behave in discipline and tailored to the character of junior high school children.

Keyword : Character of 12-15 years old, Disciplined, Junior High School, Signage and Layouting, Teenager

(5)

v Akhir Desain Interior SMP Negeri 2 Deket sebagai Sarana Pendidikan dengan Kajian Disiplin untuk Membentuk Karakter Siswa ini dengan sebaik mungkin dan tepat pada waktunya.

Laporan Tugas Akhir ini disusun sebagai persyaratan akademis yang terdapat pada kurikulum Jurusan Desain Interior, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih pada pihak yang memberikan bantuan baik moril maupun materiil sehingga Laporan Tugas Akhir Desain Interior ini bisa terselesaikan. Ucapan terimakasih khusus penulis sampaikan untuk :

1. Bapak Maryono dan Ibu Rubi’ah yang senantiasa menemani dalam mengerjakan di rumah.

2. Aria Weny Anggraita, ST., MMT selaku dosen pembimbing.

3. Anggra Ayu Rucitra, ST., MMT ; Dr. Mahendra Wardhana, MT ; Caesario Budi, ST., MT selaku dosen penguji saya di Tugas Akhir.

4. Teman-teman seperjuangan kelas Tugas Akhir yang turut menemani berdiskusi dalam mencari ide desain.

Diharapkan dengan adanya Laporan Tugas Akhir Desain Interior ini dapat menambah wawasan mengenai ilmu bidang pendidikan dan psikologi siswa SMP yang berpengaruh terhadap pembentukan kedisiplinan dalam belajar. Akhirnya penulis menyadari bahwa Laporan Hasil Tugas Akhir Desain Interior ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu diharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk penyempurnaan Laporan Tugas Akhir Desain Interior ini.

Surabaya, 1 Agustus 2017

(6)

vi LEMBAR PENGESAHAN ... ii ABSTRAK ... iii KATA PENGANTAR ... v DAFTAR ISI ... vi DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 3 1.3. Tujuan ... 3 1.4. Manfaat ... 3 1.5. Lingkup Desain ... 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA, EKSISTING, DAN PEMBANDING 2.1. Sekolah ... 5

2.1.1. Deskripsi Sekolah ... 5

2.1.2. Pengertian dan Sejarah Sekolah Menengah Pertama ... 5

2.1.3. Ketentuan Desain Interior serta Sarana Prasana untuk Sekolah Menengah Pertama Negeri...6

2.2. Peran Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Anak SMP ... 16

2.2.1. Karakter Siswa SMP ... 18

2.2.2. Perkembangan Anak Usia SMP ... 20

2.2.3. Metode Mengajar Siswa ... 21

2.3. Kajian tentang Disiplin ... 31

2.3.1. Pengertian Disiplin ... 31

2.3.2. Fungsi Kedisiplinan di Sekolah... 31

2.3.3. Unsur-unsur Disiplin ... 35

(7)

vii

2.4.1. Ruang Kelas ... 39

2.4.2. Laboratorium IPA ... 46

2.4.3. Kantin Sekolah ... 49

2.5. Kajian tentang Psikologi Warna ... 53

2.5.1. Rasa Terhadap Warna ... 53

2.5.2. Makna Budaya Warna ... 54

2.6. Kajian tentang Psikologi Bentuk ... 58

2.7. Studi Anthropometri ... 61

2.8. Studi Eksisting ... 65

2.9. Studi Pembanding ... 74

2.9.1. SMP Negeri 2 Lamongan ... 74

BAB III METODE DESAIN 3.1. Metode Desain ... 77

3.2. Teknik Pengumpulan Data ... 79

3.3. Tahap Analisa Data ... 80

3.3.1. Analisa Bentuk Interior ... 80

3.3.2. Analisa Pengguna ... 80

3.3.3. Analisa Pencahayaan ... 81

3.3.4. Analisa Furnitur ... 81

3.3.5. Analisa Kebutuhan Ruang dan Sirkulasi ... 81

3.4. Tahap Penentuan Konsep ... 81

3.5. Tahap Perancangan atau Desain ... 81

3.6. Tahap Pengembangan Desain ... 81

(8)

viii

4.4. Analisa Riset ... 88

4.5. Konsep Desain ... 92

4.6. Aplikasi Konsep Desain pada Rancangan ... 93

BAB V PROSES DAN HASIL DESAIN 5.1. Pengaplikasian Konsep pada Permasalahan Objek ... 101

5.2. Alternatif Lay out ... 102

5.2.1 Alternatif Lay out 1 ... 103

5.2.2. Alternatif Lay out 2 ... 104

5.2.3. Alternatif Lay out 3 ... 104

5.2.4. Pemilihan Alternatif Lay out (Weighted Method) ... 105

5.3. Pengembangan Alternatif Lay Out Terpilih ... 106

5.4. Pengembangan Desain Ruang terpilih 1-Ruang Kelas... 107

5.4.1. Lay out furnitur dan deskripsinya ... 108

5.4.2. Gambar 3D dan deskripsinya ... 109

5.4.3. Detil Furnitur, elemen estetis dan deskripsinya ... 110

5.5. Pengembangan Desain Ruang terpilih 2-Kantin ... 112

5.5.1. Lay out furnitur dan deskripsinya ... 113

5.5.2. Gambar 3D dan deskripsinya ... 114

5.5.3. Detil Furnitur, elemen estetis dan deskripsinya ... 114

5.6. Pengembangan Desain Ruang terpilih 3-Lab.IPA ... 116

5.6.1. Lay out furnitur dan deskripsinya ... 116

5.6.2. Gambar 3D dan deskripsinya ... 117

5.6.3. Detil Furnitur, elemen estetik dan deskripsinya ... 118

VI. PENUTUP 6.1. Kesimpulan ... 121

(9)
(10)

x

Gambar 2.1. Budaya seragam putih biru untuk siswa SMP ... 6

Gambar 2.2. Ruang kelas dengan pembelajaran bekelompok ... 9

Gambar 2.3. Perpustakaan... 10

Gambar 2.4. Laboratorium IPA ... 10

Gambar 2.5. Musholla ... 12

Gambar 2.6. Ruang Bimbingan Konseling ... 12

Gambar 2.7. Ruang UKS ... 13

Gambar 2.8. Contoh Ruang OSIS ... 13

Gambar 2.9. Contoh Desain Kamar Mandi untuk Siswa ... 14

Gambar 2.10. Ruang Sirkulasi / Koridor ... 15

Gambar 2.11. Lapangan olahraga ... 16

Gambar 2.12. Kegiatan belajar di SMP N 2 DEKET, Lamongan ... 17

Gambar 2.13. Siswa SMP ... 18

Gambar 2.14. Contoh pertentangan anak dengan orang tua ... 19

Gambar 2.15. Kegiatan Belajar dengan Metode Ceramah ... 21

Gambar 2.16. Kegiatan Belajar dengan Metode Diskusi ... 23

Gambar 2.17. Kegiatan Belajar dengan Metode Eksperimen ... 26

Gambar 2.18. Kegiatan Belajar dengan Metode Sosio drama ... 27

Gambar 2.19. Kegiatan Belajar dengan Metode Karya Wisata ... 29

Gambar 2.20. Budaya antri pada siswa SMP untuk melatih kedisiplinan ... 32

Gambar 2.21. Desain pola lantai sebagai signage untuk mengarahkan orang bersikap disiplin ... 39

Gambar 2.22. Formasi Tradisional... 41

Gambar 2.23. Formasi Auditorium ... 41

Gambar 2.24. Formasi Chevron ... 42

Gambar 2.25. Formasi Kelas bentuk huruf U ... 42

(11)

xi

Gambar 2.31. Formasi Lingkaran ... 45

Gambar 2.32. Formasi Peripheral ... 46

Gambar 2.33. Contoh Ruang Laboratorium IPA ... 46

Gambar 2.34. Contoh Lay out Ruang Laboratorium IPA ... 48

Gambar 2.35. Contoh Kantin Sekolah ... 49

Gambar 2.36. Kantin Sekolah dengan sistem dilayani ... 50

Gambar 2.37. Kantin Sekolah dengan sistem warung ... 51

Gambar 2.38. Jenis Warna ... 53

Gambar 2.39. Contoh Bentuk Bujur Sangkar ... 59

Gambar 2.40. Contoh Bentuk-bentuk Diagonal ... 59

Gambar 2.41. Contoh Bentuk-bentuk Lengkung ... 60

Gambar 2.42. Posisi Tubuh saat siswa duduk di dalam kelas ... 62

Gambar 2.43. Anthropometri tempat penyimpanan dan posisi duduk Siswa SMP yang memiliki rata-rata usia 12-15 tahun ... 63

Gambar 2.44. Ukuran proporsi tubuh anak usia 12-15tahun tanpa aktivitas ... 63

Gambar 2.45. Ukuran proporsi tubuh anak usia 12-15tahun dengan aktivitas ... 64

Gambar 2.46. Anthropometri bekerja sambil berdiri ... 64

Gambar 2.47. Anthropometri Workspace Area Guru di dalam Kelas ... 65

Gambar 2.48. Desain SMP NEGERI 2 DEKET ... 65

Gambar 2.49. Logo SMP NEGERI 2 DEKET ... 67

Gambar 2.50. Struktur Organisasi SMP NEGERI 2 DEKET ... 67

Gambar 2.51. Denah Eksisting SMP NEGERI 2 DEKET ... 68

Gambar 2.52. Layout Ruang lantai 1,2, dan 3 pada SMP N 2 DEKET ... 70

Gambar 2.53. SMP Negeri 2 Lamongan ... 74

(12)

xii

SMP Negeri 2 Deket ... 88

Gambar 4.3. Lay out ruang kelas di SMP Negeri 2 Deket ... 89

Gambar 4.4. Bagan kesimpulan hasil observasi... 92

Gambar 4.5. Rancanagan konsep desain SMP Negeri 2 Deket ... 92

Gambar 4.6. Contoh lantai yang berfungsi sebagai signage ... 94

Gambar 4.7. Desain lantai untuk SMP Negeri 2 Deket untuk mengarahkan siswa bersikap disiplin…... 94

Gambar 4.8. Contoh dinding interior yang digunakan untuk signage... 95

Gambar 4.9. Desain dinding untuk SMP Negeri 2 Deket ...... 96

Gambar 4.10. Contoh ceiling dengan material gipsum pada interior sekolah...96

Gambar 4.11. Referensi furnitur untuk interior sekolah…...97

Gambar 4.12. Desain furnitur yang diterapkan pada ruang kelas…...97

Gambar 4.13. Desain furnitur yang diterapkan pada laboratorium IPA…....97

Gambar 4.14. Salah satu contoh elemen estetis dari elemen belajar siswa...98

Gambar 4.15. Warna yang diterapkan dalam interior SMP Negeri 2 Deket...99

Gambar 4.16. Contoh lay out furnitur pada ruang kelas yang merupakan aplikasi dari bentuk yang diterapkan dan berasal dari transformasi logo dari SMP Negeri 2 Deket …...99

Gambar 4.17. Aplikasi bentuk pada lay out ruang sekolah...100

Gambar 5.1. Denah Lay out Alternatif 1... 103

Gambar 5.2. Denah Lay out Alternatif 2... 104

Gambar 5.3. Denah Lay out Alternatif 3... 104

Gambar 5.4. Lay out Keseluruhan Terpilih ... 106

Gambar 5.5. Lay out Ruang Kelas ... 108

(13)

xiii

Gambar 5.10. Lay out Kantin ... 113

Gambar 5.11. Gambar 3D Kantin ... 114

Gambar 5.12. Detail Furnitur pada Area Kantin ... 115

Gambar 5.13. Detail Elemen Estetis pada Area Kantin ... 115

Gambar 5.14. Lay out Laboratorium IPA ... 116

Gambar 5.15. Gambar 3D Laboratorium IPA ... 118

Gambar 5.16. Detail Meja Praktikum pada Laboratorium IPA ... 119

Gambar 5.17. Detail rak peralatan praktikum pada Laboratorium IPA ... 119

Gambar 5.18. Elemen Estetis pada Laboratorium IPA berupa mural dinding ... 120

(14)

xiv Tabel 2.2. Luas Minimum Lantai Bangunan untuk SMP/MTs yang Memiliki

Kurang dari 15 Peserta Didik per Rombongan Belajar ... 7 Tabel 2.3. Makna dari Warna ... 54 Tabel 2.3. Foto Ruang dan analisa ruang pada SMP N 2 DEKET ... 71 Tabel 4.1. Tabel studi ruang dan fasilitas serta aktifitas di SMP

NEGERI 2 DEKET…...84 Tabel 4.2. Tabel Aplikasi Konsep Desain pada Rancangan SMP

NEGERI 2 DEKET...93 Tabel 5.1. Pengaplikasian Konsep pada Permasalahan ... 101 Tabel 5.2. Tabel Kriteria Weighted Method ... 102 Tabel 5.3. Tabel Weighted Method mengenai nilai kelayakan

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kedisiplinan merupakan bekal bagi anak untuk kehidupan masa depannya. Kedisiplinan pada siswa penting untuk dipersiapkan dan dibina semenjak dini. Untuk itu diperlukan kerjasama antar orang tua dengan sekolah karena adanya faktor-faktor dalam kedisiplinan yang perlu mendapat perhatian bersama. Jenis perilaku disiplin yang menyatu dalam segala aspek kepribadian adalah taqwa, patuh, sadar, rasional, mental, teladan, berani, dan kejujuran (Lemhanas, 1997). Kedisiplinan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan dari perbuatan dari para pelaku, maka diperlukan suatu latihan atau pelajaran tertentu agar diperoleh seseorang yang mempunyai kedisiplinan yang baik dan mandiri, sehingga dapat mengatur dan mengendalikan dirinya agar melakukan perbuatan yang secara sosial dapat diterima lingkungannya, dan menghindari apa yang dilarangnya.

Sekolah yang disiplin perlu diciptakan agar anak dapat belajar tidak hanya keterampilan akademik akan tetapi juga melatih siswa untuk mencapai hal-hal non-akademik yang juga sangat penting bagi kehidupan, yaitu taat pada peraturan untuk membentuk kepribadian yang baik. Sekolah juga harus memenuhi kebutuhan seorang anak yang meliputi Lingkungan yang aman dan nyaman, perhatian dari guru dan teman, membantu meningkatkan prestasi, menghormati keberadaan siswa, memberikan kegiatan yang menyenangkan salah satunya melalui kegiatan belajar kelompok, memberikan kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. (Blandford, 1998).Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka terjadilah berbagai penyimpangan perilaku atau masalah disiplin. Masalah disiplin di kelas atau sekolah antara lain : makan di dalam kelas, membuat suara gaduh, berbicara saat kegiatan belajar berlangsung, kurang tepat waktu, mengganggu siswa lain, tidak rapi, tidak memperhatikan pelajaran di kelas, dan bertindak kurang baik.

(16)

2

Gambar 1.1. Contoh perilaku anak sekolah yang tidak disiplin

Sumber : www.cdn2.tstatic.net (2017)

SMP Negeri 2 Deket, Kabupaten Lamongan sebagai salah satu lembaga pendidikan untuk anak usia remaja yang mempunyai misi yaitu terwujudnya strategi pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, menyenangkan dalam upaya pelestarian fungsi lingkungan; terwujudnya lulusan yang berkompetensi baik secara akademis maupun non akademis serta pendidik dan tenaga kependidikan yang unggul dan berakhlaqul karimah; terwujudnya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, ramah lingkungan dalam upaya mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan; serta terwujudnya sistem penilaian sesuai Standar Nasional. SMP Negeri 2 Deket sebagai lembaga pendidikan anak usia remaja yang membutuhkan sesuatu untuk menunjang misi tersebut, maka diperlukan pengaplikasian desain interior pada sekolah yang disesuaikan dengan pembentukan karakter siswa melalui kedisiplinan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan perilaku anak. Sehingga dengan penataan interior yang tepat dapat meningkatkan pencapaian perkembangan siswa untuk menjadi lebih disiplin serta menunjukkan ciri khas SMP Negeri 2 Deket.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, untuk meningkatkan prestasi siswa dan kualitas sekolah yang berada di tengah mobilitas kehidupan masyarakat sekarang, maka diperlukan suatu desain interior yang menarik dan dapat memberikan citra baru sesuai visi misi sekolah, coorporate identity, segmentasi sekolah, dan keadaan lingkungan sekolah. Konsep yang akan dipakai pada desain interior SMP Negeri 2 Deket adalah sekolah sebagai sarana pembentukan sikap disiplin pada siswa.

(17)

3 1.2 Rumusan Masalah

Dalam melakukan tujuan desain, penulis merumuskan permasalahan dalam objek desain yang telah diteliti, antara lain sebagai berikut:

1. Bagaimana mendesain interior sekolah untuk mengarahkan siswa agar lebih fokus dalam kegiatan dan aktifitas pendukung belajar mengajar.

2. Bagaimana mendesain signage dan tata lay out antar ruang untuk mengarahkan siswa agar bersikap lebih disiplin di sekolah.

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari tugas akhir yang berjudul Desain Interior SMP Negeri 2 Deket sebagai sarana pendidikan dengan kajian disiplin untuk membentuk karakter siswa, antara lain:

1. Dapat mendesain interior sekolah yang dapat mengarahkan siswa agar lebih fokus dalam kegiatan dan aktifitas pendukung belajar mengajar.

2. Dapat mendesain signage dan tata lay out antar ruang untuk mengarahkan siswa agar bersikap lebih disiplin di sekolah.

1.4 Manfaat

Dari tujuan diatas, maka manfaat yang ingin didapat dari Desain Interior SMP Negeri 2 Deket sebagai sarana pendidikan dengan kajian disiplin untuk membentuk karakter siswa, antara lain:

1. Dapat memberikan solusi desain dari permasalahan kedisiplinan siswa yang ada di SMP Negeri 2 Deket.

2. Siswa di SMP Negeri 2 Deket dapat berkembang secara visual dalam hal kedisplinan dalam belajar dari desain interior yang telah dirancang pada sekolah. 1.5Lingkup Desain

Dalam mendesain interior SMP Negeri 2 Deket, penulis harus memperhatikan lingkup desain yang sudah ditentukan, antara lain:

a. Desain tidak merubah struktur bangunan dan sistem Mechanical Electrical dari SMP Negeri 2 Deket.

(18)

4

b. Zoning area yang sesuai dengan analisa kebutuhan dan aktifitas pengguna diantaranya siswa, guru, kepala sekolah, dan karyawan.

c. Desain difokuskan pada ruang kelas, laboratorium, dan kantin sekolah yang merupakan area siswa untuk beraktifitas dan sikap disiplin sangat diperlukan dalam hal ini.

(19)

5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, EKSISTING DAN PEMBANDING

2.1. Sekolah

2.1.1. Deskripsi Sekolah

Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa atau murid di bawah pengawasan pendidik atau guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal yang umumnya wajib dalam upaya menciptakan anak didik yang mengalami kemajuan setelah mengalami proses melalui pembelajaran. Sekolah sebagai organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik itu yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, dimana fungsinya sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Pada dasarnya sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk suatu organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri. Terbentuknya lembaga sosial itu berawal dari norma-norma yang dianggap penting dalam kehidupan bermasyarakat dan individu yang saling membutuhkan kemudian timbul aturan-aturan yang dinamakan norma kemasyarakatan.

2.1.2. Pengertian dan Sejarah Sekolah Menengah Pertama

Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9. Pelajar sekolah menengah pertama umumnya berusia 13-15 tahun. Sekolah menengah pertama diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Pada masa penjajahan Belanda, sekolah menengah tingkat atas disebut sebagai meer uitgebreid lager onderwijs (MULO). Setelah Indonesia merdeka, MULO berubah menjadi sekolah menengah pertama (SMP) pada tanggal 13 Maret 1946. Pada tahun ajaran 1994/1995 hingga

(20)

6

2003/2004, sebutan SMP berubah menjadi Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Setelah tahun ajaran 2003/2004, SLTP berubah lagi menjadi SMP.

Gambar 2.1. Budaya seragam putih biru untuk siswa SMP

Sumber : www.beritaedukasi.com (2016)

Sekolah menengah pertama negeri di Indonesia umumnya menggunakan seragam putih biru untuk hari hari biasa, seragam coklat untuk pramuka/ hari tertentu, dan pada sekolah-sekolah tertentu menggunakan seragam putih-putih untuk upacara bendera. Upacara bendera dilaksanakan setiap hari Senin pagi sebelum dimulai pelajaran yang bertujuan untuk melatih kedisplinan siswa di sekolah.

2.1.3. Ketentuan Desain Interior serta Sarana Prasana untuk Sekolah Menengah Pertama Negeri

Ketentuan desain interior serta sarana prasana untuk SMP Negeri di Indonesia telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Standar sarana dan prasarana ini disusun untuk lingkup pendidikan formal, jenis pendidikan umum, jenjang pendidikan SMP sebagai berikut:

1. ATURAN BANGUNAN

a. Untuk SMP/MTs yang memiliki 15 sampai dengan 32 peserta didik per rombongan belajar, bangunan memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel 2.1.

(21)

7

Tabel 2.1 Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan terhadap Peserta Didik

Banyak rombongan

belajar

Rasio minimum luas lantai bangunan terhadap m2 /peserta didik

Bangunan satu

lantai Bangunan dua lantai Bangunan tiga lantai

15 3,7 3,9 4,0

b. Untuk SMP/MTs yang memiliki kurang dari 15 peserta didik per rombongan belajar, lantai bangunan memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Luas Minimum Lantai Bangunan untuk SMP/MTs yang Memiliki Kurang dari 15 Peserta Didik per Rombongan Belajar

Banyak rombongan

belajar

Luas minimum lantai bangunan (m2)

Bangunan satu

lantai Bangunan dua lantai Bangunan tiga lantai

13-15 970 1040 1070

c. Bangunan memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri dari koefisien dasar bangunan maksimum 30 %, koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah, jarak bebas bangunan yang meliputi garis sempadan bangunan dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

d. Bangunan memenuhi persyaratan keselamatan berikut: memiliki konstruksi yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk menahan gempa dan kekuatan alam lainnya, dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan petir.

(22)

8

e. Bangunan memenuhi persyaratan kesehatan berikut: mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai, memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan meliputi saluran air bersih, saluran air kotor dan/atau air limbah, tempat sampah, dan saluran air hujan, bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. f. Bangunan menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan

nyaman termasuk bagi penyandang cacat.

g. Bangunan memenuhi persyaratan kenyamanan berikut : bangunan mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu kegiatan pembelajaran, setiap ruangan memiliki pengaturan penghawaan yang baik, setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan.

h. Bangunan bertingkat memenuhi persyaratan berikut : maksimum terdiri dari tiga lantai, bangunan dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna.

i. Bangunan dilengkapi sistem keamanan berikut : peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya, akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi penunjuk arah yang jelas.

j. Bangunan dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 1300 watt. k. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan,

dan diawasi secara profesional.

l. Kualitas bangunan minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.

m.Bangunan sekolah dapat bertahan minimum 20 tahun.

n. Pemeliharaan bangunan sekolah adalah sebagai berikut : pemeliharaan ringan meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian daun jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air dan listrik, dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun dan pemeliharaan berat meliputi penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan minimum sekali dalam 20 tahun.

(23)

9 o. Bangunan dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan

sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. KELENGKAPAN PRASARANA DAN SARANA

Sebuah SMP sekurang-kurangnya memiliki prasarana beserta sarana yang ada di setiap ruang diatur dalam standar tiap ruang sebagai berikut:

a. Ruang Kelas

Fungsi ruang kelas adalah tempat kegiatan pembelajaran teori, praktek yang tidak memerlukan peralatan khusus, atau praktek dengan alat khusus yang mudah dihadirkan.

Gambar 2.2. Ruang kelas dengan pembelajaran berkelompok

Sumber : www.pinterest.com (2016)

1) Jumlah minimum ruang kelas sama dengan banyak rombongan belajar. 2) Kapasitas maksimum ruang kelas 32 peserta didik.

3) Rasio minimum luas ruang kelas 2 m2/peserta didik. Untuk rombongan

belajar dengan peserta didik kurang dari 15 orang, luas minimum ruang kelas 30 m2.

4) Ruang kelas memiliki jendela yang memungkinkan pencahayaan yang memadai untuk membaca buku dan untuk memberikan pandangan ke luar ruangan.

(24)

10

5) Ruang kelas memiliki pintu yang memadai agar peserta didik dan guru dapat segera keluar ruangan jika terjadi bahaya, dan dapat dikunci dengan baik saat tidak digunakan.

b. Ruang Perpustakaan

1) Ruang perpustakaan berfungsi sebagai tempat kegiatan peserta didik dan guru memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka dengan membaca, mengamati, mendengar, dan sekaligus tempat petugas mengelola perpustakaan.

Gambar 2.3. Perpustakaan

Sumber : www.pinterest.com (2016)

2) Luas minimum ruang perpustakaan sama dengan satu setengah kali luas ruang kelas. Lebar minimum ruang perpustakaan 5 m.

3) Ruang perpustakaan dilengkapi jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku.

4) Ruang perpustakaan terletak di bagian sekolah/madrasah yang mudah dicapai.

c. Ruang Laboratorium IPA

Gambar 2.4. Laboratorium IPA

(25)

11 1) Ruang laboratorium IPA dapat menampung minimum satu rombongan

belajar.

2) Ruang laboratorium IPA berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran IPA secara praktek yang memerlukan peralatan khusus. 3) Rasio minimum luas ruang laboratorium IPA 2,4 m2/peserta didik. Untuk

rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan

persiapan 18 m2. Lebar minimum ruang laboratorium IPA 5 m.

4) Ruang laboratorium IPA dilengkapi dengan fasilitas untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan.

5) Tersedia air bersih. d. Ruang Pimpinan

1) Ruang pimpinan berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan pengelolaan sekolah, pertemuan dengan guru, orang tua murid, unsur komite sekolah, petugas dinas pendidikan, atau tamu lainnya.

2) Luas minimum ruang pimpinan 12 m2 dan lebar minimum 3 m.

3) Ruang pimpinan mudah diakses oleh guru dan tamu sekolah/madrasah, dapat dikunci dengan baik.

e. Ruang Guru

1) Ruang guru berfungsi sebagai tempat guru bekerja dan istirahat serta menerima tamu, baik peserta didik maupun tamu lainnya.

2) Rasio minimum luas ruang guru 4 m2/pendidik dan luas minimum 40 m2.

3) Ruang guru mudah dicapai dari halaman sekolah ataupun dari luar lingkungan sekolah, serta dekat dengan ruang pimpinan.

f. Ruang Tata Usaha

1) Ruang tata usaha berfungsi sebagai tempat kerja petugas untuk mengerjakan administrasi sekolah.

(26)

12

2) Rasio minimum luas ruang tata usaha 4 m2/petugas dan luas minimum 16 m2.

3) Ruang tata usaha mudah dicapai dari halaman sekolah ataupun dari luar lingkungan sekolah, serta dekat dengan ruang pimpinan.

g. Tempat Beribadah

Gambar 2.5. Musholla

Sumber : www.google.com (2017)

1) Tempat beribadah berfungsi sebagai tempat warga sekolah melakukan ibadah yang diwajibkan oleh agama masing-masing pada waktu sekolah.

2) Banyak tempat beribadah sesuai dengan kebutuhan tiap SMP, dengan luas minimum 12 m2.

h. Ruang Konseling

1) Ruang konseling berfungsi sebagai tempat peserta didik mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir.

2) Luas minimum ruang konseling 9 m2.

3) Ruang konseling dapat memberikan kenyamanan suasana dan menjamin privasi peserta didik.

Gambar 2.6. Ruang Bimbingan Konseling

(27)

13 i. Ruang UKS

Gambar 2.7. Ruang UKS

Sumber : www.alatkesehatan.id (2017)

1) Ruang UKS berfungsi sebagai tempat untuk penanganan dini peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan di sekolah.

2) Luas minimum ruang UKS 12 m2.

j. Ruang Organisasi Kesiswaan

Gambar 2.8. Contoh Ruang OSIS

Sumber : www. caradesain.com/30-dekorasi-ruang-kelas-inspiratif (2017)

1) Ruang organisasi kesiswaan berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi kesiswaan.

2) Luas minimum ruang organisasi kesiswaan 9 m2.

k. Kamar Mandi

(28)

14

Gambar 2.9. Contoh Desain Kamar Mandi untuk Siswa

Sumber : www.jadhomes.com (2017)

2) Minimum terdapat 1 unit kamar mandi untuk setiap 40 peserta didik pria, 1 unit kamar mandi untuk setiap 30 peserta didik wanita, dan 1 unit kamar mandi untuk guru. Jumlah minimum kamar mandi setiap sekolah 3 unit. 3) Luas minimum 1 unit kamar mandi 2 m2.

4) Kamar mandi harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersihkan.

5) Tersedia air bersih di setiap unit kamar mandi. l. Gudang

1) Gudang berfungsi sebagai tempat menyimpan peralatan pembelajaran di luar kelas, tempat menyimpan sementara peralatan sekolah yang tidak/belum berfungsi, dan tempat menyimpan arsip sekolah yang telah berusia lebih dari 5 tahun.

2) Luas minimum gudang 21 m2.

3) Gudang dapat dikunci. m.Ruang Sirkulasi

1) Ruang sirkulasi horizontal berfungsi sebagai tempat penghubung antar ruang dalam bangunan sekolah dan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan bermain dan interaksi sosial peserta didik di luar jam pelajaran, terutama pada saat hujan ketika tidak memungkinkan kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung di halaman sekolah.

(29)

15

Gambar 2.10. Ruang Sirkulasi / Koridor

Sumber : www.pinterest.com (2017)

2) Ruang sirkulasi horizontal berupa koridor yang menghubungkan ruang-ruang di dalam bangunan sekolah dengan luas minimum 30% dari luas total seluruh ruang pada bangunan, lebar minimum 1,8 m, dan tinggi minimum 2,5 m. 3) Ruang sirkulasi horizontal dapat menghubungkan ruang-ruang dengan baik,

beratap, serta mendapat pencahayaan dan penghawaan yang cukup.

4) Koridor tanpa dinding pada lantai atas bangunan bertingkat dilengkapi pagar pengaman dengan tinggi 90-110 cm.

5) Bangunan bertingkat dilengkapi tangga. Bangunan bertingkat dengan panjang lebih dari 30 m dilengkapi minimum dua buah tangga.

6) Jarak tempuh terjauh untuk mencapai tangga pada bangunan bertingkat tidak lebih dari 25 m.

7) Lebar minimum tangga 1,8 m, tinggi maksimum anak tangga 17 cm, lebar anak tangga 25-30 cm, dan dilengkapi pegangan tangan yang kokoh dengan tinggi 85-90 cm.

8) Tangga yang memiliki lebih dari 16 anak tangga harus dilengkapi bordes dengan lebar minimum sama dengan lebar tangga.

9) Ruang sirkulasi vertikal dilengkapi pencahayaan dan penghawaan yang cukup.

n. Tempat Bermain/Berolahraga

1) Tempat bermain/berolahraga berfungsi sebagai area bermain, berolahraga, pendidikan jasmani, upacara, dan kegiatan ekstrakurikuler.

(30)

16

2) Tempat bermain/berolahraga memiliki rasio luas minimum 3 m2/peserta

didik. Apabila jumlah peserta didik kurang dari 334 orang, luas minimum tempat bermain/berolahraga adalah 1000 m2.

Gambar 2.11. Lapangan olahraga

Sumber : www.google.com (2017)

3) Di dalam luas tersebut terdapat tempat berolahraga berukuran minimum 30 m x 20 m yang memiliki permukaan datar, drainase baik, dan tidak terdapat pohon, saluran air, serta benda-benda lain yang mengganggu kegiatan olahraga.

4) Tempat bermain sebagian ditanami pohon penghijauan.

5) Tempat bermain/berolahraga diletakkan di tempat yang paling sedikit mengganggu proses pembelajaran di kelas.

6) Tempat bermain/berolahraga tidak digunakan untuk tempat parkir. 2.2. Peran Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Anak SMP

Lingkungan sekolah mempunyai peran penting dan andil yang kuat dalam proses pembelajaran seorang siswa secara umum, khususnya siswa SMP. Sekolah merupakan lingkunganyang sengaja diciptakan untuk membina anak-anak kearah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan ketrampilan sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari. Lingkungan sekolah merupakan pengaruh besar dalam pembentukan pemikiran manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan.

(31)

17

Gambar 2.12. Kegiatan belajar di SMP N 2 DEKET, Lamongan

Sumber : Dokumentasi Pribadi(2016)

Dilingkungan sekolah, remaja mendapat suatu pelajaran dan pengalaman yang berharga yang menjadi bekal untuk langkah-langkah pembelajaran di kehidupan selanjutnya. Sekolah diharapkan memberikan suatu wadah bagi pengembangan secara keseluruhan baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dibentuknya unit kegiatan siswa, memfasilitasi sarana dan prasarana yang memadai seperti sarana olahraga, musik maupun berdasarkan potensi-potensi lain. Setiap anak tentunya menpunyai karakteristik yang berbeda. Siswa adalah pembelajar yang unik, berbagai kemampuan ada dalam diri mereka. Guru di sekolah harus menyikapinya dalam proses belajar mengajar. Tentunya dalam mengajar, guru harus memahami setiap karakteristik siswanya. Jadi, guru bukan sebagai sumber utama dalam pemerolehan informasi. Siswa dapat mencari berbagai sumber informasi lain, misalnya dengan media elektronik, dengan orang tua, teman, dan lainnya. Dalam pembelajaran guru menempatkan siswa sebagai subjek bukan objek. Biarkan saja siswa untuk mengeluarkan kreativitasnya. Dengan demikian siswa akan memahami jika ia butuh akan “belajar”. Dengan mengetahui karakteristik perkembangan anak SMP ini, maka sekolah sebagai media pendidik dapat menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan siswa sehingga siswa dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya (Joyce&Well, 1996).

(32)

18

2.2.1. Karakter Siswa SMP

Secara umum, remaja dapat didefinisikan sebagai suatu tahap perkembangan pada individu, dimana remaja mengalami perkembangan biologis, psikologis, moral dan agama (Desmita, 2009). Remaja juga merupakan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa. Dapat dikatakan juga, bahwa remaja adalah masa transisi dari periode anak-anak menuju dewasa. Untuk memudahkan identifikasi, biasanya masa remaja dibatasi oleh waktu tertentu, WHO membagi 2 tahap usia remaja yaitu:

a. Remaja Awal : 10 – 14 tahun b. Remaja akhir : 15 – 20 tahun

Oleh karena itu, anak usia Sekolah Menengah Pertama dapat dikategorikan sebagai anak usia remaja awal. Pada umumnya ketika usia Sekolah Menengah Pertama adalah masa remaja awal setelah mereka melalui masa-masa pendidikan Sekolah Dasar. Remaja awal ini berkisar antara umur 10-14 tahun. Masa remaja awal atau masa puber adalah periode unik dan khusus yang ditandai dengan perubahan-perubahan perkembangan yang tidak terjadi dalam tahap-tahap lain dalam rentang kehidupan (Yusuf, 2000).

Gambar 2.13. Siswa SMP

Sumber : www.flickr.com/photos/sekolahtarsisius1(2017)

1. Ciri-ciri Masa Remaja/Usia SMP

Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja (Kartini Kartono, 1992).

(33)

19 a. Ciri Fisik/Biologis

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja perempuan dan perubahan suara pada remaja laki-laki. Saat itu, secara biologis remaja mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.

b. Ciri Psikologis

Secara umum, dari sisi psikologis seorang remaja memiliki beberapa ciri sebagai berikut:

1. Kegelisahan

Remaja mempunyai banyak idealisme angan-angan atau keinginan yang hendak diwujudkan di masa depan. Akan tetapi sesungguhnya remaja belum memiliki banyak kemampuan yang memadai untuk mewujudkan semua itu. Tarik menarik antara angan yang tinggi dengan kemampuan yang belum memadai mengakibatkan mereka diliputi perasaan gelisah.

2. Pertentangan

Gambar 2.14. Contoh pertentangan anak dengan orang tua

Sumber : www.okkikanggy.blogspot.co.id(2017)

Pertentangan pendapat remaja dengan lingkungan khususnya orang tua mengakibatkan kebingungan dalam diri remaja itu sendiri maupun pada orang lain.

(34)

20

3. Mengkhayal

Keinginan menjelajah dan berpetualang tidak semuanya tersalurkan. Biasanya terhambat dari segi biaya, oleh karena itu mereka lalu mengkhayal mencari kepuasan. Khayalan ini tidak selamanya bersifat negatif, justru kadang menjadi sesuatu yang konstruktif. Misalnya munculnya sebuah ide cemerlang.

4. Aktivitas kelompok

Berbagai macam keinginan remaja dapat tersalurkan setelah mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama.

5. Keinginan mencoba segala sesuatu

Remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mereka lalu menjelajah segala sesuatu dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya.

2.2.2. Perkembangan Anak Usia SMP

Selama di SMP seluruh aspek perkembangan manusia yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik mengalami perubahan sebagai masa transisi dari masa anak-anak menjadi masa dewasa. Masa remaja dan perubahan yang menyertainya merupakan fenomena yang harus di hadapi oleh guru.

a. Perkembangan aspek kognitif

Arajoo T.V (1986) menyatakan bahwa aspek kognitif meliputi fungsi intelektual seperti pemahaman, pengetahuan dan ketrampilan berpikir. Untuk siswa SMP perkembangan kognitif utama yang dialami adalah formal operasional, seperti peningkatan kemampuan analisis, kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan, kemampuan menarik generalisasi dari berbagai kategori objek yang beragam.

b. Perkembangan aspek afektif

Menurut Arajoo T.V (1986), ranah afektif menyangkut perasaan, modal dan emosi. Perkembangan afektif siswa SMP mencakup proses belajar perilaku dengan orang lain atau sosialisasi. Sebagian besar sosialisasi berlangsung lewat pemodelan dan peniruan orang lain.

(35)

21 c. Perkembangan psikomotorik

Wuest & Combardo (1974) menyatakan bahwa perkembangan aspek psikomotorik seusia SMP ditandai dengan perubahan jasmani dan fisiologis sex yang luar biasa. Salah satu perubahan luar biasa tersebut adalah perubahan pertumbuhan tinggi badan dan berat badan, sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka, dan kadang mengalami proses pencarian jati diri.

2.2.3. Metode Mengajar Siswa

Metode Mengajar Siswa di sekolah menurut Drs.Sriyono dalam bukunya yang berjudul Teknik Belajar Mengajar dalam Sistem Cara Belajar Siswa Aktif adalah sebagai berikut:

1) Metode Ceramah

Gambar 2.15. Kegiatan Belajar dengan Metode Ceramah

Sumber : www.google.com (2017)

Metode ceramah adalah penuturan atau penjelasan guru secara lisan, dimana dalam pelaksanaannya guru dapat menggunakan alat bantu mengajar untuk memperjelas uraian yang disampaikan kepada murid-muridnya. Metode ini menempatkan guru pada pusat perhatian. Gurulah yang lebih banyak berbicara sedangkan murid hanya mendengarkan dan atau mencatat hal-hal yang dianggap penting. Metode ini telah diapakai sejak berabad-abad yang silam.

(36)

22

Metode ini dianggap sebagai metode tertua dan hingga kini masih tetap dipakai namun kurang tepat digunakan untuk Sekolah Menengah Pertama.

Keuntungan menggunakan metode ceramah: a) Efisiensi waktu dan tenaga.

b) Mudah dilaksanakan dan pengaturan kelas tidak sulit.

c) Guru dapat menyampaikan pengalaman dan pengetahuannya secara maksimal tanpa melupakan tujuan utamanya (mengajar).

d) Dapat mencakup jumlah murid yang besar dengan materi yang luas, bila perlu.

e) Guru dapat menguasai kelas dengan mudah bila penyajian materinya baik dan menarik.

f) Meningkatkan status guru kalau ia dapat memberikan pandangan yag luas. g) Bila guru memiliki kepribadian yang hebat, maka metode ini dapat

menggugah semangat siswa untuk terus maju, berkembang dan meningkat. h) Melatih murid memusatkan perhatian, terampil menyeleksi; mencatat, dan

mengkritik sesuatu dengan bijaksana. Kerugian menggunakan metode ceramah: b) Menahan pelajar dalam keadaan pasif.

c) Tidak memperlancar pelajar memecahkan masalah.

d) Hampir tidak memberi kemungkinan bagi guru untuk memeriksa kemajuan belajar anak.

e) Sangat memerlukan kemampuan berceramah. f) Cenderung proses satu arah.

g) Sulit mengukur belajar anak. 2) Metode Tanya Jawab

Metode ini telah dipakai sejak dahulu kala. Metode ini berpengaruh amat besar dalam pengajaran. Pertanyaan-pertanyaan yang baik akan sangat bermanfaat dan menguntungkan para siswa. Dan pertanyaan-pertanyaan itu harus dari guru, bisa dari antar siswa. Socrates, seorang filosof Yunani, sering sekali menggunakan metode ini dan jarang menggunakan metode-metode lainnya. Dimaksudkan dengan metode ini agar para siswa dapat mencapai hakikat

(37)

23 kebenaran sesuatu, membiasakan mereka senang membaca dan menelaah sesuatu.

Manfaat metode tanya jawab: a) Mendorong siswa aktif berfikir.

b) Memberi kesempatan kepada siswa menanyakan hal-hal yang kurang jelas sehingga Bapak/Ibu guru dapat menjelaskan kembali. Dalam hal ini guru dapat menyuruh siswa lain yang sudah mengerti untuk menjelaskan kepada yang bertanya.

c) Perbedaan pendapat antara siswa dapat dikompromikan atau diarahkan pada suatu diskusi.

Kelemahan metode tanya jawab:

a) Akan menimbulkan penyimpangan pembicaraan.

b) Dapat menghambat cara berfikir anak bila tidak/kurang pandai membawakan. Misalnya, gruru meminta siswa-siswanya untuk menjawab persis seperti yang dia kehendaki, kalu tidak dinilai salah.

3) Metode Diskusi

Gambar 2.16. Kegiatan Belajar dengan Metode Diskusi

Sumber : www.google.com (2017)

Diskusi merupakan forum pembicaraan yang dipimpin oleh seorang pemimpin dengan proses pembicaraan yang terarah pada pemahaman dan pertimbangan mengenai suatu permasalahan yang disertai oleh pertukaran ide, pendapat, pengalaman, saran dari peserta diskusi sehingga menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh peserta. Yang termasuk dalam jenis metode diskusi antara lain: metode panel, metode simposium, debat, seminar.

(38)

24

Kelebihan metode diskusi adalah:

a) Melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar mengajar. b) Memupuk kepercayaan kepada diri sendiri.

c) Menggabungkan berbagai pendapat dari berbagai sumber. d) Menghasilkan pandangan baru.

e) Memudahkan pencapaian tujuan.

f) Melatih siswa belajar bertukar fikiran dan berfikir secara terarah. g) Memupuk sikap toleran, mau menerima dan memberi.

h) Mengembangkan kebebasan intelek siswa.

i) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menguji, mengubah dan memperbaiki pandangannya.

j) Memberi kesempatan kepada mereka untuk menjalin hubungan atau kerja sama berikutnya.

Kekurangan metode diskusi adalah:

a) Hasil diskusi tidak bisa dicapai dengan baik, sebab diskusi menyimpang dari pokok bahasan.

b) Diskusi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya jika peserta tidak mempunyai latar belakang pengetahuan tentang masalah yang didiskusikan.

c) Diskusi tidak menjamin prestasi.

d) Diskusi tidak akan melibatkan segenap peserta bila pemimpin kurang bijaksana.

e) Diskusi mungkin akan dikuasai atau diambil alih oleh siswa tertentu saja. 4) Metode Drill (Latihan Siap)

Drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali atau kontinyu untuk mendapatkan keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari. Lebih dari itu diharapkan agar pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari itu menjadi permanen, mantap dan dapat dipergunakan setiap saat oleh yang bersangkutan.

(39)

25 a) Bahan yang diberikan secara teratur, tidak loncat-loncat dan step by step

akan lebih melekat pada diri anak dan benar-benar menjadi miliknya. b) Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera diberikan guru

memungkinkan murid untuk segera melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahannya. Dengan demikian juga akan menghemat waktu belajarnya.

c) Pengetahuan atau keterampilan siap yang telah terbentuk sewaktu-watu dapat dipergunakan dalam keperluan sehari-hari baik untuk keperluan studi maupun untuk bekal hidup di masyarakat kelak.

Kerugian menggunakan metode drill:

a) Dapat membentk kebiasaan yang kaku. Respon yang terbentuk secara otomatis akan mempengaruhi tindakan yang bersifat irrationil, routine serta tidak menggunakan alat.

b) Menimbulkan adaptasi mekanis terhadap lingkungannya. Di dalam menghadapi masalah, siswa menyelesaikan secara statis.

c) Menimbulkan verbalisme. Respons terhadap stimulus yang telah terbentuk dengan latihan itu akan berakibat kurang digunakannya rasio sehingga inisiatif pun terhambat.

d) Latihan yang terlampau berat akan menimbulkan perasaan benci baik kepada mata pelajaran maupun kepada gurunya.

e) Latihan yang dilakukan dengan pengawasan yang ketat dan dalam suasana yang serius mudah sekali menimbulkan kebosanan dan kejengkelan. Akhirnya anak enggan berlatih dan malas atau mogok belajar.

5) Metode Resitasi

Metode ini digunakan terutama untuk merangsang anak tekun, rajin dan giat belajar. Resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, lebih luas daripada itu. Apabila kehidupan sekolah dewasa ini semakin dinamis, dilengkapi dengan laboratorium, perpustakaan dan lain-lain.

Keunggulan/manfaat metode resitasi:

a) Pengetahuan siswa akan lebih luas dan sifat verbalismenya akan semakin berkurang.

(40)

26

b) Mengisi waktu-waktu kosong diluar kelas.

c) Memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa. d) Penghayatan pekerjaan lebih intensif.

e) Kreativitas, usaha, tanggung jawab dan sikap mandiri siswa akan berkembang, apabila tugas yang diberikan itu sesuai dengan sifat individu mereka.

Kelemahannya antara lain:

a) Sulit mengetahui dan mengawasi siswa, apakah mereka benar-benar mengerjakan sendiri atau tidak.

b) Tugas-tugas yang terlampau berat akan menyebabkan murid kurang tenang.

c) Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan masing-masing individu. 6) Metode Demonstrasi dan Eksperimen

Gambar 2.17. Kegiatan Belajar dengan Metode Eksperimen

Sumber : www.google.com (2017)

Metode demonstrasi dimaksudkan sebagai suatu kegiatan memperlibatkan suatu gerak atau proses kerja sesuatu. Pelaksanaanya bisa jadi guru atau orang lain yang sengaja diminta memperlihatkan proses kerja sesuatu itu. Jadi aktivitas siswa lebih banyak pada mengamati apa yang didemonstrasikan. Adapun metose eksperimen yang dimaksudkan sebagai suatu cara memperoleh pengetahuan atau keterampilan dengan mencoba, berbuat atau melakukan sesuatu. Jadi aktivitas anak lebih banyak pada mempraktekkan sesuatu yang telah diamati.

(41)

27 Keuntungan dari metode demonstrasi dan eksperiment antara lain:

a) Pengetahuan anak tidak verbalistis dan memberikan kemungkinan berfikir lebih kritis.

b) Memberikan pengalaman yang riil.

c) Keragu-raguan siswa dapat hilang dengan mengamati dan mengadakan eksperimen.

d) Memberikan kemungkinan lebih berhasilnya interaksi belajar mengajar. Kelemahan dari metode demonstrasi dan eksperiment antara lain:

a) Bila tidak mengatasi kelas secara seksama, maka metode ini menjadi tidak wajar.

b) Bila alat pengajaran kurang memadai, maka hasilnya pun kurag memuaskan.

c) Kemungkinan eksperimen akan berlangsung lama sehingga menganggu pelajaran berikutnya.

7) Metode Sosio Drama

Gambar 2.18. Kegiatan Belajar dengan Metode Sosio drama

Sumber : www.google.com (2017)

Metode sosio drama adalah suatu metode mengajar yang dilakukan dengan cara mendramatisasikan suatu tindakan atau tingkah laku dalam hubungan sosial. Dengan kata lain guru memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan atau peranan tertentu sebagaimana yang ada dalam kehidupan masyarakat (sosial). Hendaknya murid diberi kesempatan untuk berinisiatif dan kreatif serta diberi bimbingan atau lainnya agar berhasil. Keuntungan menggunakan metode sosio drama antara lain:

a) Mendidik siswa mampu menyelesaikan sendiri problem sosial yang ia jumpai.

(42)

28

b) Memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa.

c) Mendidik siswa berbahasa yang baik dan dapat menyatakan pikiran serta perasaannya dengan jelas dan tepat.

d) Mau menerima dan menghargai pendapat orang lain. e) Memupuk perkembangan dan kreativitas anak.

Kelemahan menggunakan metode sosio drama antara lain:

a) Pemecahan problem sosial yang disampaikan oleh siswa belum tentu cocok dengan keadaan yang ada di masyarakat.

b) Karena waktu terbatas, maka kesempatan berperan secara wajar kurang terpenuhi.

c) Rasa malu dan takut akan mengakibatkan ketidakwajaran dalam memainkan peranan, sehingga hasilnya pun kurang memenuhi harapan. 8) Metode Problem Solving

Metode problem solving adalah suatu cara mengajar dengan menghadapkan siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau diselesaikan. Metode ini menuntut kemampuan untuk melihat sebab akibat, mengobservasi problem, mencari hubungan antara berbagai data yang terkumpul kemudian menarik kesimpulan yang merupakan hasil pemecahan masalah.

Kelebihan menggunakan metode problem solving antara lain:

a) Mendidik siswa mampu menyelesaikan sendiri problema sosial yang ia jumpai.

b) Memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa.

c) Mendidik siswa berbahasa yang baik dan dapat menyatakan pikiran serta perasaannya dengan jelas dan tepat.

d) Mau menerima dan menghargai pendapat orang lain. e) Memupuk perkembangan dan kreativitas siswa.

Kelemahan menggunakan metode problem solving antara lain:

a) Pemecahan problem sosial yang disampaikan oleh siswa belum tentu cocok dengan keadaan yang ada di masyarakat.

b) Karena waktu yang terbatas, maka kesempatan berperan secara wajar kurang terpenuhi.

(43)

29 c) Rasa malu dan takut akan mengakibatkan ketidakwajaran dalam

memainkan peranan, sehingga hasilnya pun kurang memenuhi harapan. 9) Metode Karya Wisata

Gambar 2.19. Kegiatan Belajar dengan Metode Karya Wisata

Sumber : www.google.com (2017)

Metode ini memungkinkan anak lebih mengenal realita kehidupan masyarakat, mampu mengamati, meneliti, dan mempelajari suatu objek di luar sekolah. Karya wisata tidak sama dengan tamasya, sebab mengandung tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh siswa. Misalnya anak diajak berkarya wisata ke pabrik makanan dan minuman, pabrik percetakan, perkebunan, dan sebagainya. Keuntungan menggunakan metode karya wisata antara lain:

a) Siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari objek karya wisata. b) Siswa memperoleh informasi langsung dari objek karya wisata.

c) Siswa belajar secara integral, sebab banyak segi yang tercakup dalam objek yang dikunjungi.

Kelemahan menggunakan metode ini antara lain : a) Dapat menghambat kegiatan belajar di kelas.

b) Siswa bisa bingung, kalau objek yang dikunjungi jauh atau sulit diteliti/diamati.

c) Memakan biaya, tenaga dan waktu 10) Metode Kerja Kelompok

Metode kerja kelompok dipakai dalam interaksi belajar mengajar agar murid-murid bisa bekerja bersama-sama atau bergotong-royong membahas dan

(44)

30

memecahkan suatu masalah. Tujuan dipakainya metode ini adalah untuk mempertinggi hasil belajar mengajar.

Kelebihan metode kerja kelompok adalah:

a) Murid mudah diawasi dan dibimbing, karena jumlahnya relatif kecil. b) Murid belajar berdiskusi, bertukar fikiran dan memecahkan masalah secara

demokratis.

c) Murid akan menjadi lebih dewasa, yang kurang berani atau pemalu akan lebih berani mengemukakan pendapatnya di muka kelompok sendiri kemudian di kelompok lain yang lebih besar dan dihadapan orang banyak. d) Membina semangat kerja sama/gotong-royong.

e) Pendapat kelompok menjadi lebih matang dan dapat dipertanggung jawabkan daripada pendapat individu.

f) Mempercepat penyelesaian suatu problem atau tugas. g) Membagikan semangat bersaing yang sehat antar kelompok. Kekurangan metode ini antara lain:

a) Sulit membentuk kelompok yang dapat bekerja sama secara baik. b) Timbul rasa kelompokisme yang kurang sehat.

c) Anggota kelompok yang malas mungkin akan menyerahkan segala-galanya kepada ketua kelompok atau rekannya yang rajin dan pandai. d) Penilaian terhadap individu sulit karena tersembunyi di balik kelompok. e) Seluruh waktu bisa jadi didominasi oleh kelompok yang pandai atau yang

berani bicara.

f) Jika terjadi pertentangan antar anggota kelompok, maka hasil pekerjaannya akan kurang baik.

g) Bila ada salah seorang anggota kelompok yang bersikeras mempertahankan ide atau pendapatnya akan menghambat penyelesaian tugas kelompok. Dari jenis-jenis metode belajar mengajar tersebut, metode belajar yang sesuai untuk diterapkan di SMP Negeri 2 Deket adalah metode diskusi seminar. Karena dalam metode ini siswa dilibatkan secara langsung, sehingga siswa dilatih untuk disiplin dalam proses belajar berlangsung.

(45)

31 2.3. Kajian tentang Disiplin

2.3.1. Pengertian Displin

Istilah disiplin berasal dari bahasa latin “Disciplina” yang menunjuk pada kegiatan belajar dan mengajar. Sedangkan istilah bahasa inggrisnya yaitu “Discipline” yang berarti: 1) tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri; 2) latihan membentuk, meluruskan atau menyempurnakan sesuatu, sebagai kemampuan mental atau karakter moral; 3) hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki; 4) kumpulan atau sistem-sistem peraturan-peraturan bagi tingkah laku (Mac Millan dalam Tu’u, 2004).

Disiplin berasal dari kata “disciple” yakni seseorang yang belajar secara suka rela mengiuti seorang pemimpin. Orang tua dan guru merupakan pemimpin dan anak merupakan murid murid yang menuju ke hidup yang berguna dan bahagia. Jadi, disiplin adalah merupakan cara masyarakat mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok (Hurlock, 2002).

Stara waji (2009) menyatakan bahwa disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan adalah sikap seseorang yang menunjukkan ketaatan atau kepatuhan terhadap peraturan atau tata tertib yang telah ada dan dilakukan dengan senang hati dan kesadaran diri.

2.3.2. Fungsi Kedisplinan di Sekolah

Disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa. Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata tertib kehidupan berdisiplin, yang akan mengantar seorang siswa sukses dalam belajar. Disiplin yang dimiliki oleh siswa akan membantu siswa itu sendiri dalam tingkah laku

(46)

32

sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Siswa akan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapinya. Aturan yang terdapat di sekolah akan bisa dilaksanakan dengan baik jika siswa sudah memiliki disiplin yang ada dalam dirinya.

Gambar 2.20. Budaya antri pada siswa SMP untuk melatih kedisiplinan

Sumber: www.i.ytimg.com (2017)

Kedisiplinan sebagai alat pendidikan yang dimaksud adalah suatu tindakan, perbuatan yang dengan sengaja diterapkan untuk kepentingan pendidikan di sekolah. Tindakan atau perbuatan tersebut dapat berupa perintah, nasehat, larangan, harapan, dan hukuman atau sanksi. Kedisiplinan sebagai alat pendidikan diterapkan dalam rangka proses pembentukan, pembinaan dan pengembangan sikap dan tingkah laku yang baik. Sikap dan tingkah laku yang baik tersebut dapat berupa rajin, berbudi pekerti luhur, patuh, hormat, tenggang rasa dan berdisiplin.

Di samping sebagai alat pendidikan, kedisiplinan juga berfungsi sebagai alat menyesuaikan diri dalam lingkungan yang ada. Dalam hal ini kedisiplinan dapat mengarahkan seseorang untuk menyesuaikan diri terutama dalam menaati peraturan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan itu. Dalam kontek tersebut kedisiplinan sebagai alat menyesuaikan diri di sekolah berarti kedisiplinan dapat mengarahkan siswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cara menaati tata tertib sekolah. Berfungsinya kedisiplinan sebagai alat pendidikan dan alat menyesuaikan diri akan mempengaruhi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Di sekolah yang kedisiplinannya baik,

(47)

33 kegiatan belajar mengajar akan berlangsung tertib, teratur, dan terarah. Sebaliknya di sekolah yang kedisiplinannya rendah maka kegiatan belajar mengajarnya juga akan berlangsung tidak tertib, akibatnya kualitas pendidikan sekolah itu akan rendah.

Tu’u (2004) menyatakan fungsi kedisiplinan di sekolah adalah sebagai berikut:

1. Menata Kehidupan Bersama

Manusia adalah makhluk unik yang memiliki ciri, sifat, kepribadian, latar belakang dan pola pikir yang berbeda-beda. Sebagai makhluk sosial, selalu terkait dan berhubungan dengan orang lain. Dalam hubungan tersebut diperlukan norma, nilai peraturan untuk mengatur agar kehidupan dan kegiatannya dapat berjalan lancar dan baik. Jadi fungsi disiplin adalah mengatur tata kehidupan manusia, dalam kelompok tertentu atau dalam masyarakat.

2. Membangun Kepribadian

Pertumbuhan kepribadian seseorang biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Disiplin yang diterapkan di masing-masing lingkungan tersebut memberi dampak bagi pertumbuhan kepribadian yang baik. Jadi lingkungan yang berdisiplin baik, sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang.

3. Melatih Kepribadian

Sikap, perilaku dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin tidak terbentuk serta merta dalam waktu singkat. Namun, terbentuk melalui suatu proses yang membutuhkan waktu panjang. Salah satu proses untuk membentuk kepribadian tersebut dilakukan melalui latihan.

4. Pemaksaan

Disiplin dapat terjadi karena dorongan kesadaran diri. Disiplin dengan motif kesadaran diri ini lebih baik dan kuat. Disiplin dapat pula terjadi karena adanya pemaksaan dan tekanan dari luar. Dikatakan terpaksa karena melakukannya bukan berdasarkan kesadaran diri, melainkan karena rasa takut dan ancaman

(48)

34

sanksi disiplin. Jadi disiplin berfungsi sebagai pemaksaan kepada seseorang untuk mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan itu.

5. Hukuman

Tata tertib sekolah biasanya berisi hal-hal positif yang harus dilakukan oleh siswa. Sisi lainnya berisi sanksi/hukuman bagi yang melanggar tata tertib tersebut. Ancaman sanksi/hukuman sangat penting karena dapat memberi dorongan dan kekutan bagi siswa untuk menaati dan mematuhinya. Tanpa ancaman hukuman/sanksi, dorongan ketaatan dan kepatuhan dapat diperlemah. 6. Menciptakan Lingkungan Kondusif

Sekolah merupakan ruang lingkup pendidikan (Wawasan Wiyatamandala). Dalam pendidikan ada proses mendidik, mengajar dan melatih. Sekolah sebagai ruang lingkup pendidikan perlu menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang baik. Kondisi yang baik bagi proses tersebut adalah kondisi aman, tenang, tertib dan teratur, saling menghargai, dan hubungan pergaulan yang baik, hal itu dicapai dengan merancang peraturan sekolah, yakni peraturan bagi guru-guru, dan bagi para siswa, serta peraturan-peraturan lain yang dianggap perlu. Kemudian diimplementasikan secara konsisten dan konsekuen. Apabila kondisi ini terwujud, sekolah akan menjadi lingkungan kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan. Di tempat seperti itu, potensi dan hasil siswa akan mencapai hasil optimal. Untuk sekolah, disiplin itu sangat perlu dalam proses belajar mengajar, alasannya yaitu: disiplin dapat membantu kegiatan belajar, dapat menimbulkan rasa senang untuk belajar dan meningkatkan hubungan sosial.

Apabila peraturan sekolah tanpa tata tertib, akan muncul perilaku yang tidak tertib, tidak teratur, tidak terkontrol, perilaku liar, yang pada gilirannya mengganggu kegiatan pembelajaran. Suasana kondusif yang dibutuhkan dalam pembelajaran menjadi terganggu. Dalam hal ini, penerapan dan pelaksanaan peraturan sekolah, menolong para siswa agar dilatih dan dibiasakan hidup teratur, bertanggung jawab dan dewasa.

Disiplin sekolah apabila dikembangkan dan diterapkan dengan baik, konsisten dan konsekuen akan berdampak positif bagi kehidupan dan perilaku siswa. Disiplin

(49)

35 dapat mendorong mereka belajar secara konkret dalam praktik hidup di sekolah tentang hal-hal positif yaitu melakukan hal-hal yang lurus dan benar, dan menjauhi hal-hal yang negatif. Dengan pemberlakuan disiplin, siswa belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baik itu, sehingga muncul keseimbangan diri dalam hubungan dengan orang lain.

Dalam hal itu, menurut Maman Rachman dalam Tu’u 2004, pentingnya disiplin bagi para siswa sebagai berikut:

a. Memberikan dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang. b. Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan

lingkungan.

c. Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukkan peserta didiknya terhadap lingkungannya.

d. Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya. e. Menjauhi siswa melakukan hal-hal yang dilarang sekolah.

f. Mendorong siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar. g. Peserta didik belajar dan bermanfaat baginya dan lingkungannya.

h. Kebiasaan baik itu menyebabakan ketenangan jiwanya dan lingkungannya. Lingkungan sekolah yang teratur, tertib, tenang tersebut memberi gambaran lingkungan siswa yang giat, gigih, serius, penuh perhatian, sungguh-sungguh dan kompetitif dalam pembelajarannya. Lingkungan disiplin seperti itu ikut memberi andil lahirnya siswa-siswa yang berhasil dengan kepribadian unggul. Di sana ada dan terjadi kompetisi positif diantara mereka.Untuk mencapai dan memiliki ciri-ciri kepribadian tersebut, diperlukan pribadi yang giat, gigih, tekun dan disiplin. 2.3.3. Unsur-unsur Disiplin

Hurlock (2002) menyatakan bahwa unsur-unsur disiplin meliputi: (1) peraturan sebagai pedoman perilaku, (2) konsistensi dalam peraturan, (3) hukuman untuk pelanggaran, (4) penghargaan untuk perilaku yang baik. Disiplin itu lahir, dan berkembang dari sikap seseorang di dalam sistem nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat. Terdapat unsur pokok yang membentuk disiplin, pertama sikap yang telah ada pada diri manusia dan sistem nilai budaya yang ada di dalam

(50)

36

masyarakat. Sikap atau attitude merupakan unsur yang hidup di dalam jiwa manusia yang harus mampu bereaksi terhadap lingkungannya, dapat berupa tingkah laku atau pemikiran. Sedangkan sistem nilai budaya merupakan bagian dari budaya yang berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman dan penunutun bagi kelakuan manusia.

Perpaduan antara sikap dengan sistem nilai budaya yang menjadi pengarah dan pedoman tadi mewujudkan sikap mental berupa perbuatan atau tingkah laku. Unsur tersebut membentuk suatu pola kepribadian yang menunjukkan perilaku disiplin atau tidak disiplin.

2.3.4. Penanggulangan Disiplin

Disiplin sekolah menjadi prasyarat terbentuknya lingkungan pendidikan yang kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah, guru dan orang tua perlu terlibat dan bertanggung jawab membangun disiplin siswa dan disiplin sekolah. Dengan keterlibatan dan tanggung jawab itu, diharapkan para siswa berhasil dibina dan dibentuk menjadi individu-individu unggul dan sukses. Keunggulan dan kesuksesan itu terwujud sebab sekolah berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan dan proses pendidikan. Siswa terpacu untuk mengoptimalkan potensi dan hasil dirinya.

Penanggulangan masalah disiplin yang terjadi di sekolah menurut Singgih Gunarsa dalam Tu’u 2004 dapat dilakukan melalui tahapan preventif, represif dan kuratif. Mendorong siswa melaksanakan tata tertib sekolah. Memberi persuasi bahwa tata tertib itu baik untuk perkembangan dan keberhasilan sekolah.

Disiplin individu yang baik menunjang peningkatan hasil belajar dan perkembangan perilaku yang positif. Langkah represif sudah berurusan dengan siswa yang telah melanggar tata tertib sekolah. Siswa-siswa ini ditolong agar tidak melanggar lebih jauh lagi, dengan jalan nasehat, peringatan atau sanksi disiplin. Langkah kuratif merupakan upaya pembinaan dan pendampingan siswa yang melanggar tata tertib dan sudah diberi sanksi disiplin. Upaya tersebut merupakan langkah pemulihan, memperbaiki, meluruskan, menyembuhkan perilaku yang salah dan tidak baik.

Gambar

Gambar 2.1. Budaya seragam putih biru untuk siswa SMP  Sumber : www.beritaedukasi.com (2016)
Gambar 2.2. Ruang kelas dengan pembelajaran berkelompok   Sumber : www.pinterest.com (2016)
Gambar 2.14. Contoh pertentangan anak dengan orang tua  Sumber : www.okkikanggy.blogspot.co.id (2017)
Gambar 2.15. Kegiatan Belajar dengan Metode Ceramah  Sumber : www.google.com (2017)
+7

Referensi

Dokumen terkait

(Lampiran 4) yang didedahkan dengan air-uji, yaitu limbah industri secara komposit (limbah pulp & paper, kelapa sawit, karet dan plywood) selama ujian akut dengan sistem

Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil ulangan bahwa kemampuan siswa menyelesaikan soal ulangan masih rendah yaitu dari 53 orang siswa di kelas XI MIA sekitar

Pada menu utama, terdapat 3 submenu yang dapat dipilih pengguna untuk digunakan yaitu: Belajar, Latihan, Video Tutorial lalu juga ada tabmenu yaitu Tentang

1. Penggunaan beberapa kombinasi warna yang sesuai psikologis anak usia SMP untuk membentuk kedisiplinan siswa seperti kuning, biru, hijau, putih, dan coklat. Penggunaan

Indonesia merupakan negara yang sebagian besar wilayahnya mempunyai potensi gempa.Untuk mengantisipasi kejadian gempa, struktur bangunan gedung bertingkat tinggi

Kompres hangat adalah suatu tindakan pemberian kompres hangat untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman, mengurangi nyeri dan mengurangi atau mencegah terjadinya spasme otot

Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana angkatan 2012 yang telah bersama-sama saling membantu dan

[r]