2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Behavior Setting
2.1.1 Perilaku Sebagai Satu Pendekatan
Pendekatan perilaku memahami perilaku manusia atau masyarakat dalam memanfaatkan ruang. Pendekatan ini melihat bahwa aspek norma, kultur, psikologi masyarakat yang berbeda akan menghasilkan konsep dan wujud ruang yang berbeda (Rapoport 1977 dalam Setiawan 17)
Pendekatan perilaku memperkenalkan cognitive process yakni proses mental tempat orang mendapatkan, mengorganisasikan, dan menggunakan pengetahuananya untuk memberi arti dan makna terhadap ruang yang digunakkannya.
Hubungan antara lingkungan dengan perilaku manusia merupakan hal kompleks yang tidak bisa dijelaskan melalui environmental determinism (Setiawan 18). Environmental determinism menjelaskan mengenai perilaku manusia yang disebabkan oleh faktor lingkungan tertentu (Kopec 22). Sehingga dibagi tiga tingkatan kajian berikut (Stokols 1977 dalam Setiawan 19).
Tabel 2. 1 Substansi dan Unit Analisis Kajian Perilaku dan Lingkungan (hal-hal yang
mempengaruhi perilaku)
Pengaruh tingkatan
Proses Intrapersonal Dimensi Lingkungan
Proses Fisiologis Proses Psikologis Lingkungan Fisik Lingkungan Sosial Lingkungan Budaya
Mikro Psikologi Lingkungan
Intermediate Psikologi Ekologi
Makro Ekologi Lingkungan
Ekologi Manusia
Sumber : Stokols,Daniel 1977 dalam Setiawan, Haryadi B,2014:19
2.1.2 Behavioral Setting
Behavior setting didefinisikan sebagai suatu kombinasi yang stabil antara aktivitas dan tempat dengan kriteria sebagai berikut (Laurens 133).
a. Terdapat suatu aktivitas yang berulang, berupa suatu pola perilaku (standing pattern of behavior). Dapat terdiri atas satu atau lebih pola perilaku ekstra-individual (yaitu fakta operasioal bahwa sebuah setting tidak tergantung hanya pada seorang manusia atau objek saja)
b. Dengan tata lingkungan tertentu (circumjacent milieu : merujuk pada batas fisik dan temporal dari sebuah setting. Setiap behavior setting berbeda dari setting lainnya menurut waktu dan ruang)
c. Membentuk suatu hubungan yang sama antara keduanya (synomorphy) yang berarti “struktur yang sama” menunjuk adanya hubungan antara milieu dan perilaku.
Behavior setting dapat diartikan secara sederhana sebagai suatu interaksi antara suatu kegiatan dengan tempat yang spesifik (Setiawan, Haryadi B,2014:27)
Behavior setting dapat diartikan sebagai sistem sosial dalam skala kecil yang terdiri dari manusia dan objek fisik terangkai membentuk aktivitas tertentu dalam waktu dan tempat tertentu (Kopec, Dak,2010:22)
Istilah behavior setting dijabarkan dalam dua istilah berikut (Setiawan, Haryadi B,2014:28) yang keterkaitannya membentuk satu behavior setting tertentu.
a. System of setting
Ruang sebagai rangkaian unsur-unsur fisik atau spasial yang mempunyai hubungan tertentu dan terkait hingga dapat dipakai untuk suatu kegiatan tertentu.
b. System of activity
Sistem kegiatan sebagai suatu rangkaian perilaku yang secara sengaja dilakukan oleh satu atau beberapa orang.
Behavior setting dapat diasumsikan dengan penjelasan permisalan, seseorang yang berada dalam sebuah toko yang dibatasi ruang fisik nyata berupa lantai, dinding dan plafon. Orang tersebut berada dalam suatu sistem setting dimana ia mempunyai peran dan sebaliknya sistem tersebut mendukung aktivitas yang terjadi didalam toko. Sebuah program yang meliputi perilaku membeli dan menjual. Perilaku ini membentuk pola perilaku yang terjadi berulang-ulang.
Dalam perspektif teori behavior setting, terdapat prinsip synomorphy yang menyatakan bahwa aspek fisik dan sosial lingkungan harus jalan secara bersamaan (Kopec, Dak,2010:22).
Untuk mengetahui behavior setting dalam sebuah ruang dapat dilakukan pengujian. Pengujian derajat ketergantungan ini ditinjau dalam berbagai dimensi antara lain meliputi (Laurens, Ir. Joyce, 2001:136).
a. Aktivitas yang dilakukan dalam sebuah ruang interior; b. Penghuni dalam ruang interior tersebut;
c. Kepemimpinan
Dengan mengetahui fungsional penghuni, maka dapat diketahui peran sosial yang ada dalam komunitas tersebut, siapa berperan sebagai pemimpin, siapa yang mengarahkan acara atau kegiatan dalam setting , atau siapa yang mengendalikan behaviour setting. Di banyak setting, posisi pemimpin dapat dipisahkan, agar dapat dikenali kekuatan-kekuatan lain yang ada ikut ambil bagian dalam setting tersebut.
d. Populasi
Sebuah setting dapat mempunyai banyak atau sedikit partisipan. Komunitas dianggap lebih baik apabila memiliki banyak setting. Dimana penghuni bisa ikut aktif berpartisipasi.
e. Ruang
Ruang tempat terjadinya setting bisa beragam dari terbuka hingga ruang tertutup.
f. Waktu
Kelangsungan sebuah setting terjadi secara rutin atau sewaktu-waktu. Durasi setting yang sama dapat berlangsung sesaat atau terus menerus sepanjang waktu, misalnya pertokoan.
g. Obyek dan mekanisme perilaku yang dipakai dalam sebuah setting terdiri dari berapa pola aksi, seperti adanya stimulasi, respons dan adaptasi. Dalam melakukan pengujian ini akan terlihat adanya tumpang tindih antara dimensi atau tidak yang akan memperlihatkan jumlah behavior setting dalam sebuah ruang, namun jika pengujian yang dilakukan sudah menetapkan diawal mengenai jumlah behavior setting yang akan diuji maka dimensi yang
digunakkan tidak perlu semuanya, hanya dimensi yang sesuai dengan tujuan kepentingannya.
Dalam pengamatan behavior setting dapat dilakukan analisis melalui beberapa cara berikut (Laurens, Ir. Joyce, 2001:140).
a. Penggunaan Time Budget b. Melakukan sensus dan
c. Studi asal dan tujuan-suatu pendekatan makro tentang studi perilku yang dapat diterapkan pada skala urban maupun skala bangunan.
Hal yang dapat mewakili data pengamatan behavior setting (Laurens, Ir. Joyce, 2001:141).
a. Manusia (Siapa yang datang, kemana dan mengapa?, siapa yang mengendalikan setting?)
b. Karakteristik ukuran (Berapa banyak orang per jam ada dalam setting? Bagaimana ukuran setting secara fisik? Berapa sering dan berapa lama setting itu ada?)
c. Obyek (Ada berapa banyak obyek dan apa jenis obyek yang dipakai dalam setting? Kemungkinan apa saja yang ada bagi stimulasi, respons dan adaptasi?)
d. Pola aksi (Aktivitas apa yang terjadi di sana? Seberapa sering terjadi pengulangan yang dilakukan orang?)
2.1.3 Peranan Teori Behavioral Setting
Penerapan teori behavioral setting merupakan penting dalam dunia desain interior, hal ini karena selama ini desainer hanya berfokus pada fungsi sebuah desain semata sementara masyarakat butuh pengarahan mengenai apa yang seharusnya dilakukan ketika berada dalam sebuah tatanan desain interior. Pengarahan akan memudahkan masyarakat untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dengan kata lain, teori behavioral setting ini memetakan masyarakat kedalam kategori-kategori tertentu sehingga mudah bagi desainer untuk melakukan desain, mengenai unsur apa yang harus dimasukan kedalam sebuah desain interior dan masyarakat pengguna desain untuk melakukan aktivitasnya (Setiawan, Haryadi B,2014).
Dengan adanya teori behavioral setting maka akan tercipta keselarasan antara apa yang menjadi desain dari desainer interior dengan apa yang menjadi pola aktivitas manusia didalamnya. Seperti misalkan saja pada kasus sebuah rapat untuk menyusun agenda rapat direksi, akan ada orang yang menjadi pimpinan didalamnya sehingga orang yang ada didalamnya yang berperan sebagai bukan pimpinan akan bergerak dan memastikan akan keberadaan suatu behavior setting. Kasus ini menunjukan bahwa ada serangkaian aktivitas yang disusun, yang dilakukan bersama dengan orang lain didalamnya, tanpa adanya orang lain maka suatu behavioral setting tak akan terjadi (Setiawan, Haryadi B,2014).
2.1.4 Batasan Behavior Setting Dalam Desain Interior
Dalam Setiawan, Haryadi B,2014:50, diidentifikasikan dua tipe dasar unsur berikut.
a. Unsur tetap (fixed-feature space)
Unsur berbatas tetap dilingkupi oleh pembatas yang relative tetap dan tidak mudah digeser seperti dinding massif, langit-langit, jendela, pintu dan lantai.
b. Unsur tidak tetap (non-fixed element)
Unsur berikut berupa unsur yang dapat dengan mudah dipindahkan karena tidak tertanam seperti tempat tidur, meja dan lemari.
2.1.5 Komponen behavior setting
Behavior settings memiliki tiga komponen berikut(Kopec 22) a. Physical properties
Merupakan tempat terjadinya sebuah setting, hal tersebut dijelaskan sebagai berikut.
- Ruang (Rooms)
Ruang sangat penting karena sebagian besar waktu manusia modern saat ini banyak dihabiskan didalamnya. Hal paling penting dari pengaruh ruang tersebut terhadap perilaku manusia adalah fungsi atau pemakaian ruang tersebut. Fungsi ruang diharapkan mempunyai bentuk, perabot dan kondisi tertentu.
Masing-masing perancangan fisik mempunyai variabel independen yang berpengaruh terhadap perilaku pemakainya. Variabel tersebut sebagai berikut.
Warna ruang
Pengaruh warna pada setiap individu tidak sama, hal tersebut karena adanya perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang budaya. Namun demikian, adapun pengaruh psikologis yang hampir selalu memiliki pengaruh yang sama pada setiap orang (Setiawan 58-59).
Gambar 2.1. 1 Spektrum Warna Ukuran dan Bentuk
Ukuran dan bentuk merupakan variable yang tetap (fixed) sebagai pembentuk ruang dengan catatan bahwa ukuran dan bentuk tidak dapat dirubah, seperti dinding bata.
Pada perancangan ruang, ukuran dan bentuk disesuaikan dengan fungsi yang akan diwadahi sehingga perilaku pemakai yang terjadi adalah seperti yang diharapkan (Setiawan, Haryadi B,2014:59).
Perabot dan Penataannya
pembentuk ruang dengan catatan bahwa perabot dapat dipindahkan, seperti lemari.
Penataan simetris perabot dapat memberikan kesan kaku, teratur, disiplin dan resmi, sedangkan penataan asimetris lebih berkesan dinamis dan kurang resmi (Setiawan 60-61).
Suara, Temperatur dan Pencahayaan
Suara dapat mengganggu privasi seseorang jika terlalu bising lingkungan sekitarnya, misalnya kamar hotel yang dekat dengan jalan atau mesin. Temperatur ruang yang panas akan membuat pemakai kepanasan, berkeringat dan merasa pengap. Sebaliknya jika temperatur ruang yang dingin akan membuat kegiatan juga tidak akan berjalan maksimal.
Pencahayaan ruang difungsikan untuk memenuhi kebutuhan ruang akan cahaya dan untuk segi estetika. Sebagai unsur estetika, cahaya buatan dapat dirancang untuk menonjolkan objek atau memberi efek khusus pada ruangan.
- Rumah dan Perumahan
Rumah sebagai ruang lindung dalam kajian behavior setting
ditekankan pada arti rumah dari dimensi kultur dan perilaku manusia sebagai penghuni rumah tersebut. Adapun faktor yang berperan dalam pengambilan keputusan mengenai bentuk dan pola suatu rumah berikut (Setiawan 62).
Faktor Kultur
Bentuk rumah dipengaruhi oleh kemungkinan bahan local untuk membentuk suatu bentuk tertentu. Bentuk rumah tradisional yang sangat bervariasi dipandang sebagai konsekuensi yang wajar dari tersedianya material setempat. Rapoport menekankan bahwa banyak kasus telah membuktikan bahwa pada suatu daerah dengan iklim serta sumber material yang sama, dijumpai berbagai bentuk rumah yang sangat berbeda.
Faktor religi merupakan faktor yang dominan dibandingkan faktor lainnya.
Faktor ini melihat pada unsur rumah yang melangbangkan unsur dari alam semesta, misalnya yang sakral seperti gereja, semi sakral, dan profan.
Faktor Perilaku
Pada susunan dalam ruang rumah, didapati ruang privat dan publik. Namun bagi masyarakat Timur konsepsi ini belum terlalu jelas sehingga perilaku yang terjadi tidak signifikan pada setiap ruang. Hal ini terlihat pada penelitian yang dilakukan di kampung Yogyakarta, keterbatasan fisik dalam hal luasan area serta fasilitas membuat mereka saling berbagi dan memperkuat ikatan solidaritas antara penduduk kampung Yogyakarta.
b. Social components
Merupakan lingkungan sekitar tempat setting berada, yang akan dijabarkan dalam faktor berikut.
- Persepsi tentang Lingkungan (Environmental Perception)
Persepsi lingkungan adalah interpretasi tentang suatu setting oleh individu,didasarkan latar belakang budaya, nalar, dan pengalaman individu tersebut. Setiap individu, dengan demikian, akan mempunyai persepsi lingkungan yang berbeda. Akan tetap kecenderungan persepsi lingkungan yang sama merupakan hal yang mendominasi dalam kajian teori behavior setting(Setiawan 29-30).
Dalam konteks persepsi tentang lingkungan terdapat dua faktor yang menggambarkannya, berikut.
Aspek Emic
Menggambarkan suatu lingkungan yang dipersepsikan oleh kelompok dalam sistem tersebut.
Aspek Etic
Menggambarkan suatu lingkungan yang sama, dipersepsikan oleh pengamat atau outsider (misalnya desainer interior)
Lingkungan yang terpersepsikan adalah produk atau bentuk
persepsi lingkungan seseorang atau sekolompok orang. Persepsi lingkungan memiliki tiga aspek dasar berikut.
Proses kognisi (cognative)
Meliputi proses penerimaan (perceiving), pemahaman (understanding),
dan pemikiran (thinking) tentang suatu lingkungan. Hal ini merupakan proses penyerapan makna visual seseorang terhadap lingkungan disekitarnya.
Afeksi (affective)
Meliputi perasaan (feeling) dan emosi (emotions), keinginan (desires), serta nilai-nilai (values) tentang lingkungan. Hal ini merupakan psikologi manusia terhadap lingkungan yang ada di sekitarnya.
Kognasi (cognative)
Meliputi munculnya tindakan, perlakuan terhadap lingkungan sebagai respons dari proses kognisi dan afeksi. Keseluruhan proses ini menghasilkan apa yang disebut lingkungan yang terpersepsikan (Setiawan 30).
c. The environmental setting
Merupakan lingkungan tempat sebuah setting terjadi, terjadi, yang akan dijabarkan dalam faktor berikut.
- Teritori (Territory)
Teritori diartikan sebagai batas tempat organisme hidup menentukan tuntutannya, menandai, serta mempertahankannya, terutama dari kemungkinan intervensi pihak lain (Setiawan 39).
Teritori ada untuk memenuhi kebutuhan berikut.
Fisik
Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan akan lingkungan tempat perilaku tersebut terjadi atau berada.
Kebutuhan emosional memiliki aspek ruang privat (personal space) dan publik, serta konsep mengenai privasi. Hal ini digambarkan dengan penelitian yang menunjukkan kaburnya batasan antara ruang publik dan ruang privat yang membuat warga kampung Yogyakarta, yang pada kasus penelitian diteliti lebih erat rasa solidaritasnya.
Kultural
Kebutuhan kultural memiliki aspek area sakral (suci) dan profan (umum).
Altman (dalam Halim 254) membagi teritori menjadi tiga kategori berikut.
Teritori utama (primary)
Suatu area yang digunakan secara eksklusif, disadari oleh orang lain, dikendalikan secara permanen, serta menjadi bagian utama dalam kehidupan sehari-hari penghuninya.
Teritori sekunder (secondary)
Suatu area yang tidak terlalu digunakan secara eksklusif oleh seseorang atau sekelompok orang, mempunyai cakupan area yang luas, dikendalikan secara berkala oleh kelompok yang menuntutnya.
Teritori publik
Suatu area yang digunakan atau dimasuki oleh siapapun, tetapi harus mematuhi norma-norma serta aturan yang berlaku di area tersebut.
Teritori ini berkaitan dengan perasaan terhadap tempat (sense of place), identitas, dan simbol-simbol ruang.
- Kualitas Lingkungan (Environmental Quality)
Kualitas lingkungan didefinisikan secara umum sebagai suatu
lingkungan yang memenuhi preferensi imajinasi ideal seseorang atau sekelompok orang. Unsur kualitas lingkungan merupakan hal yang subjektif, karena setiap orang bisa memiliki standard yang berbeda, namun terdapat pula unsur-unsur dasar kualitas lingkungan yang
berkaitan dengan penyediaan prasarana seperti air bersih, sanitasi dan persampahan (Setiawan 37-38).
Ketiga komponen berikut ini yang mendasari adanya pola perilaku masyarakat yang terjadi dalam sebuah lingkungan, lebih lanjut ketiga komponen ini bisa saja bertambah diluar komponen diatas. Pada contohnya sebuah warga negara yang lebih memilih satu gereja tertentu dibandingkan gereja lainnya, hal ini bisa diasumsikan secara deduktif bahwa satuan golongan agama tertentu, atau faktor pertemanan bisa menjadi komponen lain yang mempengaruhi perilaku seseorang (Bartels, Erica M., 2003:17-18)
2.1.6 Psikologi Behavioral Setting
Penerapan teori behavior setting adalah berdasar pola perilaku pengguna, sehingga pola perilaku pengguna menjadi fokus utama dalam kajian ini. Pola perilaku pengguna merupakan hal yang beragam sehingga untuk mempermudah pembelajaran mengenai pola-pola tersebut dibaut pemetakkan yang jelas untuk mengklasifikasikan dan mempelajari pola perilaku tersebut. Pola perilaku tersebut tergolong berdasarkan karakter masing-masing individu, mereka terbagi berdasarkan pengalaman dan karakter masing-masing yang menyesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan. Berikut adalah beberapa penggolongan tersebut.
Manusia dikategorikan kedalam empat macam kriteria yaitu : a. Artisan
Merupakan salah satu dari place design principles yang tergolong karakter ruang non-social dimana dalam sebuah ruang seseorang dapat melakukan sebuah bentuk kegiatan pribadi yang tergolong aktif.
Contoh artisan : Cindy seorang gadis remaja berusia 23 tahun yang kini bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan di surabaya seringkali harus memasak untuk makanannya sendiri karena kesibukan anggota keluarga masing-masing yang menyita banyak waktu sehingga tidak mungkin melayani cindy seorang yang notabene memiliki selera makan yang “sulit”
Gambar 2.1. 2 Anak Kecil yang Mengerjakan PR Sumber : https://id.pinterest.com/pin/243475923583305693/ b. Teammate
Ruangan ini di desain agar seseorang dapat berinteraksi satu sama lain. Beda halnya dengan ruangan intelektual dan ruang artisan yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan pribadi/personal. Contoh : ruang keluarga, ruang makan, kolam renang, dsb.
Gambar 2.1. 3 Ruang Makan Tempat Keluarga Berkumpul Sumber : https://www.pinterest.jp/pin/279293614371897698/ c. Intellectual Living
Merupakan ruang untuk kaum intelektual di desain dengan tujuan agar penggunanya dapat berpikir dengan tenang, tanpa terusik dengan suara-suara yang menggangu. Dan yang paling dibutuhkan bagi seorang
intelektual adalah menciptakan suatu stimulasi untuk mencegah terjadinya kebosanan dalam menciptakan siasat-siasat baru. Yang menjadi perhatian dari kehidupan ini adalah mental dan pengendalian diri dari kehidupan kejiwaan agar kehidupan kejiwaan itu berkembang menjadi lebih baik. Contohnya menggunakan warna-warna yang tidak terang (redup) dapat membuat seseorang menjadi lebih rileks.
Gambar 2.1. 4 Ruang dengan Pencahayaan Redup Sumber : https://id.pinterest.com/pin/545920786065610743/ d. Sophisticate Living
Kehidupan orang-orang yang sophisticate merupakan kehidupan yang cenderung lebih ke arah sosial dan sangat sedikit menggunakan aktifitas fisik.
Sophisticate living biasanya terjadi pada kamar tamu, ruang tempat tinggal, ruangan musik, dan ruang konferensi. Lebih spesifiknya, adalah ruangan yang digunakan untuk melakukan aktifitas brainstorming (pengungkapan pendapat).
Gambar 2.1. 5 Ruang Rapat Tempat Bertukar pendapat Sumber : https://hu.pinterest.com/pin/446489750548159659/
Gambar 2.1. 6 Perpaduan Psikologi berdasarkan Prinsip Desain Ruang Sumber : Augustin, Sally (2009,139)
2.2 Cafe
2.2.1 Pengertian Cafe
Cafe dari (bahasa Perancis: cafe) secara harfiah adalah (minuman) kopi, tetapi kemudian menjadi tempat untuk minum-minum yang bukan hanya kopi, tetapi juga minuman lainnya termasuk minuman yang beralkhohol rendah.
Di Indonesia, cafe berarti semacam tempat sederhana, tetapi cukup
menarik untuk makan makanan ringan (“Cafe”, Wikipedia) Cafe menurut beberapa ahli didefinisikan sebagai berikut:
a. Sejenis restoran dimana pelayananya juga disajikan berupa hiburan music life show, dan lain-lain. (Endar dan Sulastiningrum 34)
b. Cafe merupakan warung kopi; kedai; tempat minum kopi dsb yang pengunjungnya dihibur dengan musik. (Kamus Besar Bahasa Indonesia 614)
c. Dengan berkembangnya jaman, cafe tidak hanya untuk menikmati makanan dan minuman tetapi juga sebagai tempat bersosialisasi dan mencari teman. (Barbati 1991)
d. Tempat makan dan minum kopi yang pengunjungnya dihibur dengan musik atau tempat yang menyajikan makanan dan minuman ringan. (Lawson 76)
e. Cafe adalah suatu restoran kecil yang berada diluar hotel. Cafe memiliki pilihan makanan yang sangat terbatas dan tidak menjual minuman yang beralkohol tinggi, tetapi tersedia minuman sejenis bir, soft drink, teh, kopi, rokok, kue, camilan dan lain-lain. (Budiningsih 2009)
f. Restoran kecil yang melayani atau menjual makanan ringan dan minuman, cafe biasanya digunakan untuk rileks (Dictionary of English Languange and Culture, Longman).
g. Restoran murah yang menyediakan makanan yang mudah dimasak atau dihidangkan kembali. (The New Dictionary and Theosaurus).
h. Kedai kopi atau tempat menikmati makanan dan minuman sambil menikmati hiburan (Capuresto, Chan).
Teori- teori yang berhubungan dengan cafe secara umum, antara lain:
a. Cafe merupakan tempat yang mirip dengan restoran, tetapi memiliki batasan khusus daripada restoran itu sendiri dilihat dari cara menyajikan makanan dan minuman.
b. Restoran kecil yang melayani atau menjual makanan ringan dan minuman, cafe biasanya digunakan untuk rileks.
c. Waktu operasional cafe biasanya dimulai dari pagi hari hingga malam hari (10.00- 22.00) atau pada sore hari hingga malam hari (18.00- 02.00).
2.2.2 Sejarah Cafe
Kata cafe berasal dari bahasa Perancis yaitu cafe yang berarti coffee dalam bahasa Indonesia kopi atau coffeehouse dalam bahasa Indonesia kedai kopi. Sejak abad ke 16, kedai kopi (al-maghah dalam bahasa Arab, qahveh-khaneh dalam bahasa Persia) telah menjadi tempat untuk bersosialisasi di daerah Timur Tengah dimana para pria bisa menikmati kopi atau teh, mendengarkan musik, membaca
buku dan bermain catur. Seiring perkembangan jaman di Mesir, Turki,dan Syria, kedai kopi menjadi hiburan bagi para pria untuk melihat TV, bermain catur atau menikmati “shisha”.
Kisah tentang asal kedai kopi milik orang Vienna bermula ketika ada sekarung biji berwarna hijau misterius yang tertinggal ketika Turki berhasil dikalahkan pada perang di Vienna tahun 1683. Seluruh karung kopi yang tertinggal dipersembahkan pada Raja Polish Jan III Sobieski, yang telah membawa kemengangan, yang kemudian diberikan kepada salah satu ajudannya, Franciszek Jerzy Kulczycki. Kulczycki menjadi kedai kopi pertama di Vienna.
Ditahun 1457, kedai kopi pertaman di buka di Istanbul. Di abad ke 17, kedai kopi pertama dibuka di Eropa di luar Ottoman Empire. Kedai kopi mejadi popular di Eropa sejak pengenalan kopi di abad 17. Kedai kopi Turki pertama di Inggris didirikan oleh Jacob atau Jacobs, seorang Yahudi asal Turki di tahun 1650. Sedangkan kedai kopi pertama di London didirikan dua tahun kemudian di St.Michael’s Alley di Cornhill. Pemiliknya adalah Pasqua Rosee, dibantu oleh pelayan Ragusan bernama Daniel Edwards, yang mengimpor kopi dan menjadi asisten Rosee semasa pembangunan kedai kopi tersebut. Kedai kopi kemudian ditemukan pada tahun 1670 di Boston dan 1671 di Paris.
Charles II mencoba untuk menjadikan kedai kopi sebagai tempat dimana segala berita dan skandal tentang raja dan pemerintahannya tidak berpengaruh kepada para penikmat kedai tersebut. Mereka yang ada di sana berasal dari level sosial yang tinggi, terbuka dan tidak melihat status sosial. Biasanya, kedai kopi berubah menjadi tempat bertemu dimana bisnis bisa dibawa disana dan bertukar berita. Kedai kopi berubah menjadi tempat berkumpul bagi para pedagang atau pengacara, penerbit dan pengarang dan wanita tidak diijinkan memasuki kedai kopi.
Di New York, kedai kopi di kota kecil digunakan sebagai tempat dimana kita dapat meninggalkan atau mengambil pesan. Tahun 1672 seorang pengusaha muda asal Armenia, yang dikenal dengan nama Pascal menjualnya secara umum, pertama-tama di sebuah pameran besar di Saint Germain dan kemudian di sebuah toko kecil yang berlokasi di Quai de l’Evole, dimana ia menjual kopi dengan harga dua sol, enam dernier (atau sekitar dua penny Inggris) satu cangkir. Adalah
Jean de la Rogue yang berperan penting dalam sejarah kopi di Perancis, ia menulis bahwa ketika tahun 1714 ia berjalan bergegas menuju jalan besar ke arah Jardin des Plants, dimana hampir tidak ada satu kota pun yang tidak memiliki kedai kopi atau cafe.
Penyebaran cafe atau coffee house di Eropa ini terjadi melalui jalur perdagangan, ke wilayah Italia yang dikenal dengan sebutan caffe yang hanya berbeda penulisan saja. Yang kemudian pada tahun 1839 muncul kata cafetaria dalam bahasa American English yang berasal dari bahasa Mexican Spanish untuk menyebutkan sbeuah kedai kopi. Pada awalnya cafe hanya berfungsi sebagai kedai kopi, tetapi sesuai dengan perkembangan jaman cafe telah memiliki banyak konsep, diantaranya sebagai tempat menikmati hidangan/dinner, tempat berkumpul hingga berbisnis (Grafe, Christoph and Franziska Bollerey, ed 2-3).
2.2.3 Perkembangan Cafe
Pada awalnya cafe and bar adalah dua bentukan shop yang berbeda namun pada perkembangan abad 17 di America dan Europe banyak pengunjung yang memesan kopi dan berbincang-bincang dengan rekan sembari menikmati kopi yang mereka beli sehingga banyak pemilik kedai yang akhirnya sadar akan keinginan masyarakat sehingga cafe dan bar kemudian menjadi satu kesatuan.
Bar diciptakan sedemikian untuk menarik minat seseorang untuk melihat staff yang sedang membuat minuman (seperti bartender), ketika orang merasa tertarik maka ia akan berkunjung dan akhirnya membeli. Sedangkan cafe merupakan tempat semi formal yang didirikan untuk orang yang ingin berbincang-bincang dari hal santai hingga untuk masalah pekerjaan/bisnis. Sehingga dengan demikian ketika kedua shop tersebut telah melebur menjadi satu, tata letak sebuah cafe membuat posisi bar berada di depan untuk menarik perhatian orang yang melihatnya dan kemudian membeli.
Dengan demikian maka sejak awal pembuatan sebuah cafe dengan konsep bar pengunjung telah melakukan pelayanan mandiri yang telah di terapkan pada bar sehingga ketika sebuah cafe didirikan dengan adanya bar di dalamnya pengunjung akan melakukan pemesanan dan pembayaran di bar seperti yang telah biasa mereka lakukan ketika membeli pada sebuah bar, hanya perbedaannya saat
ini bahwa bar tersebut memiliki tempat duduk untuk pengunjung yang ingin menikmati kopinya sembari berbincang-bincang dengan rekan kerja atau sekadar santai sore.
Ketika cafe dengan konsep bar ini mengalami perkembangan pada abad 19 ini, yang terjadi adalah orang mengalami kebosanan karena semakin banyak cafe dengan konsep bar tanpa adanya variasi yang berarti didalam sebuah cafe tersebut. Hal inilah yang akhirnya mendorong para pebisnis untuk berpikir lebih dan menghasilkan suatu kreasi baru sehingga pengunjung tak merasa bosan dan akhirnya pergi. Pada cafe yang memiliki konsep bar mereka meletakkan fasilitas-fasilitas baru seperti tersedianya Wi-Fi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat abad 19 ini, kemudian desain interior yang beragam juga mulai ditampilkan mulai dari berbagai desain unik dengan mengusung konsep minimalist, contemporer, industrial dan adanya spot-spot foto yang disediakan untuk pengunjung melakukan foto sehingga orang akan tertarik untuk berkunjung dan menjajaki makanan dan minuman yang ditawarkan oleh cafe tersebut (Grafe, Christoph and Franziska Bollerey, ed 4-11).
2.2.4 Posisi Cafe dalam Pasar
Dalam membuat sebuah cafe pemilik perlu melihat perkembangan cafe yang ada khususnya di Surabaya saat ini. Sehingga bisnis cafe yang akan dikembangkan memiliki kekuatan yang berbeda dari para pesaingnya dan bisa bertahan dalam persaingan bisnis. Hal ini dikenal dengan analisa SWOT sebagai berikut.
Tabel 2. 2 Analisa SWOT
Informasi Deskripsi
SWOT analisa
Strength: kekuatan usaha dibandingkan pesaing bisnis cafe lainnya.
Weakness: kelemahan usaha dibandingkan pesaing bisnis cafe lainnya.
Opportunity: peluang produk cafe untuk laku di pasar dalam hal ini wilayah Surabaya.
terjadi pada saat menjalankan usaha.
Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan cafe baik dari dalam maupun dari luar cafe maka bisnis akan bisa menonjolkan kekuatannya dan memasang strategi tertentu sehingga bisa bertahan dalam persaingan pasar.
Berikutnya yang perlu diperhatikan adalah sasaran pengunjung dari pihak cafe tersebut yang digambarkan sebagai berikut.
Tabel 2. 3 Analisa STP
Informasi Deskripsi
Strategi pemasaran
Segmentasi : menjelaskan secara terperinci siapa segmen yang akan dibidik atau dituju yang dikategorikan dalam segmen high end, middle up, middle low and low end. Target : menjelaskan detail ciri-ciri konsumen.
Positioning : menjelaskan secara detil posisi usaha menyangkut image seperti apa yang ingin dibentuk oleh usaha yang dimaksud.
2.2.5 Desain Interior Cafe
Dengan adanya perkembangan jaman, cafe menjadi semakin luas, yang artinya cafe tidak saja menjadi tempat menikmati makanan dan minuman tetapi juga menjadi tempat bersosialisasi dan mencari teman baru (Wainer Barban History 1991).
Pada dasarnya desain interior tidak dapat dipisahkan dari manusia. Secara tidak langsung lingkungan sekitar mempengaruhi aktivitas dan pola perilaku pengguna. Interaksi yang terjadi antara pengunjung dan elemen interior disekitarnya mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang ketika berada di sebuah cafe. Perpaduan yang tepat antara elemen interior di dalam sebuah cafe sangat menentukan keberhasilan cafe itu sendiri (Baraban dan Durocher 59). Seperti contohnya, perabot yang nyaman akan membuat orang betah untuk tempat tinggal berlama-lama disebuah cafe. Tetapi apabila perabot yang digunakan tidak nyaman, tentu mereka akan merasa tidak betah.
Sebuah cafe juga mempunyai beberapa persyaratan ruang yang dilihat dari segi keamanan, kenikmatan, dan kesehatan. Suatu hal yang prinsip pada ruang
cafe yang menyangkut persyaratannya adalah persyaratan tentang kenikmatan manusia yang dititikberatkan pada kebutuhan ruang gerak atau individu. Kebutuhan ruang gerak bagi manusia atau individu adalah 1,4-1,7 meter persegi.
Area sirkulasi merupakan area yang perlu diperhatikan dalam perancangan sebuah cafe. Perlu diperhatikan hendaknya sirkulasi antara pengunjung dan karyawan diatur agar tidak besilangan. Bersilangan di sini dapat diartikan bertemunya pelayan dan pengunjung dalam suatu area sirkulasi tanpa adanya sirkulasi alternatif. Hal ini dapat menyebabkan peristiwa tabrakan antar pengguna atau saling menunggu. Pelayan hendaknya memiliki sirkulasi terpisah agar dapat melayani tamu lain sekaligus, selain itu hendaknya sirkulasi area ini dibuat cukup lebar agar dapat dilalui oleh pengunjung, kereta makanan, ataupun waiters.
2.2.6 Area Pembentuk Interior Cafe
Sebuah cafe diciptakan untuk memberikan pelayanan kepada pengunjung yang ingin menikmati santai dengan makanan dan minuman ringan yang disajikan, pelayanan tersebut diharapkan mampu memberikan rasa nyaman dan santai kepada pengunjung. Dalam memberikan pelayanan tentu saja terdapat penunjang pelayanan yang diberikan, penunjang tersebut berupa area pembentuk interior cafe berikut (Pile 531)
a. Waiting area
b. Checking area or hanging space for coats c. Bar (posibbly combined with a cocktail lounge) d. Counter seating
e. Serving counter (for cafeteria service only)
f. Dinning room with table seating, possibly with banquettes or booths g. Private dinning room(s)
h. Rest rooms i. Chasier’s station
Sembilan area diatas merupakan area yang biasa digunakan dalam pembuatan sebuah restaurant/cafe dimana area tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan penggunaanya, jika perancangan yang dibuat berupa cafe maka waiting
area, checking area and private dinning room(s) bisa dihilangkan sesuai kebutuhannya saja.
Untuk area dapur tidak dimasukkan kedalam daftar area pembentuk interior cafe, hal ini dikarenakan dapur bukan merupakan bagian dalam pelayanan sebuah cafe. Namun dapur dan area tempat persiapan untuk pelayanan lainnya menempati 20-50% dari total area yang digunakan dalam sebuah perancangan cafe, ditempat tertutup yang tidak terjangkau oleh pengunjung.
2.2.7 Kriteria Perancangan Cafe Secara Umum
Sebuah cafe secara umum harus memiliki syarat kondisi sebagai berikut (Neufert 120):
a. Menarik perhatian dan tidak membuat pengunjung cepat bosan b. Penghawaan dan sirkulasi yang baik
c. Pencahayaan dalam ruang yang sesuai, tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap.
Elemen interior sebuah cafe sangat mempengaruhi tingkah atau sikap seseorang yang berada di dalam cafe tersebut, misalnya bila kursi yang digunakan oleh pengunjung tersebut sangat nyaman dan interior cafe tersebut sangat mendukung maka pengujung akan betah tinggal berlama – lama di cafe tersebut. Tetapi apabila sebaliknya kursi yang di duduki pengunjung tersebut tidak nyaman, pengunjung harus berganti – ganti posisi berulang – ulang maka pengunjung tidak akan betah berada di cafe tersebut. Sehingga alasan inilah menjadi pengaruh juga dalam penentuan keberhasilan bisnis cafe itu sendiri. (Baraban dan Durocher 59). Kriteria cafe secara umum sebagai berikut (Belammy 1995):
a. Desainer harus mampu menangkap dan menarik minat pengunjung dengan cara merangsang indera penglihatan dari pengunjung, dimana sama menariknya dengan makanan yang disajikan.
b. Cafe harus bisa mengangkat ciri khas tersendiri dari tema-tema tertentu. c. Cara baru untuk menarik minat pengunjung adalah dengan menggunakan
d. Pencahayaan dan tata suara yang baik dapat membantu menciptakan suasana dengan memasukkan kesan dramatis, misteri dan mendukung rasa ingin tahu pengunjung.
2.2.8 Prinsip Dalam Cafe
Dalam melakukan perancangan sebuah cafe seorang desainer interior perlu mempertimbangkan adanya prinsip dalam melakukan perancangan cafe, berikut akan dipaparkan empat prinsip yang mendasari perancangan sebuah cafe (Pile 531) :
a. Prinsip interior
Prinsip ini mengacu pada definisi desain interior yang mengembangkan sebuah desain berdasarkan kebutuhan pengguna desain sehingga ruang interior bisa digunakkan secara efektif dan efisien.
b. Prinsip jasa
Prinsip ini mengacu pada kepentingan pihak cafe untuk mendapatkan profit, sehingga pihak cafe akan berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen guna membuat konsumen puas dan melakukan pembelian berulang dan jika perlu merekomendasikan cafe terkait kepada teman-temannya sehingga cafe terkait semakin dikenal orang dan mendatangkan lebih banyak profit bagi cafe.
c. Prinsip konsumen
Prinsip ini mengacu pada kepentingan pihak konsumen untuk mendapatkan fasilitas maupun kenyamanan yang sesuai dengan harga yang mereka bayarkan, sehingga pihak cafe perlu menciptakan desain dan sistem yang sesuai dengan perilaku konsumen pada cafe terkait.
d. Prinsip cafe
Prinsip ini mengacu pada definsi cafe yang menyatakan bahwa cafe diciptakan sedemikian rupa sehingga membuat konsumen perlu untuk melakukan pelayanan secara mandiri terhadap dirinya sendiri.
Keempat prinsip diatas adalah prinsip yang menjadi pedoman baik bagi pengelola cafe untuk menjalankan usahanya maupun bagi konsumen yang melakukan pembelian di cafe.
2.2.9 Perilaku Dalam Interior Cafe
Dalam sebuah ruang interior cafe terdapat elemen pembentuk ruang berupa lantai, dinding dan plafon. Ketiga elemen pembentuk ruang diciptakan dengan tema dan konsep tertentu sehingga baik segi material, warna, bentuk, tekstur dan mungkin bau (jika mempunyai bau) akan disesuaikan dengan cafe. Konsep high class cafe dengan segmentasi high end tentu akan berbeda dengan konsep middle low/middle up cafe baik dari segi penataan lokasi, pemilihan warna, dan suasana yang ditimbulkan didalamnya. Pada entrance ways cafe akan terlihat jelas dari segi material, warna maupun bentukan yang dibuat untuk memberikan kesan “mahal” atau tidaknya sebuah cafe sehingga secara tak langsung menyeleksi orang yang bisa masuk ke dalam cafe tersebut (Ching, Francis D.K.,1996).
Dalam interior cafe penataan ruang, sirkulasi, pencahayaan, penghawaan, material, dan elemen dekoratif penunjang lainnya tentu akan juga memperlihatkan kelas sebuah cafe. Hal ini kemudian memberikan ransangan (stimuli) bagi pengunjung untuk berlaku dan bersikap didalam cafe tersebut. Cafe dengan segmentasi high end akan memunculkan desain berkelas dengan pemilihan warna “minimalist” serta kesan elegan biasanya dengan unsur warna emas atau pemilihan material meja marmer misalnya. Kemunculan desain berkelas kemudian memberikan ransangan bagi pengunjung untuk tidak secara sembarangan memasuki cafe dengan gaya desain seperti yang dideskripsikan diatas dikarenakan cafe seperti itu tentu akan membanderol harga makanan dan minuman ringan dengan harga yang lebih tinggi dari cafe pada umumnya sehingga reaksi orang akan memberikan batas antara cafe tersebut dan dirinya untuk kemudian menghindari cafe yang tak bisa dijangkaunya cafe (Pile 531).
2.2.10 Aktivitas Dalam Interior Cafe
Aktivitas dalam sebuah cafe terbagi dalam beberapa klasifikasi berikut : a. Aktivitas menjual dan membeli makanan yang dilakukan oleh pegawai
cafe dengan pengunjung cafe.
c. Aktivitas mengobrol yang dilakukan bersama lawan bicara.
d. Aktivitas bersantai seperti pengunjung yang lelah setelah melakukan aktivitas kerja dan ingin bersantai dalam suasana yang berbeda dari tempatnya bekerja.
2.3 Desain Interior
Menurut John F. Pile. (15) desain interior dikembangkan dengan tujuan untuk memasilitasi kegiatan yang dilakukan oleh manusia di dalam ruangan, disesuaikan dengan imajinasi dan pemikiran desainer berdasarkan kebutuhan penggunanya sehingga dalam mendesain selalu berusaha berkompromi tentang berbagai aspek agar selaras dengan harapan pemakainya.
Sebagai seorang desainer interior professional hal yang perlu diperhatikan bahwa pekerjaan harus di fokuskan kepada basic planning and fuctional daripada hal terkait estetika (Pile 19)
2.3.1 Ruang Interior
Dalam sebuah ruang interior terdapat unsur-unsur yang mengisi ruang dan membatasi ruang. Unsur-unsur tersebut mengisi ruang sesuai kebutuhan ruang yang ada untuk memberikan fasilitas yang sesuai dan nyaman kepada pengguna ruang. Unsur-unsur tersebut dibentuk dengan maksud dan tujuan tertentu, seperti :
a. Sebuah tiang menandakan adanya sebuah titik dalam ruang dan menjadikan titik tersebut terliat nyata.
b. Dua buah tiang membentuk sebuah membran ruang yang dapat kita lalui. c. Dengan menyangga sebuah balok, tiang-tiang berubah menjadi garis tepi
sebuah bidang datar transparan.
d. Sebuah dinding, sebuah bidang masif, menandakan adanya sebagian dari ruang yang tak berbentuk dan memisahkan antara ‘di sini’ dan ‘di sana’. e. Lantai membentuk dasar ruang dengan batas-batas teritorinya.
f. Atap memberi naungan untuk isi ruang yang ada dibawahnya.
Penanganan permukaan bidang-bidang dinding, lantai, dan langit-langit dapat menegaskan batas-batas spasial sebuah ruangan. Warna, tekstur, beserta polanya menyesuaikan dengan kebutuhan ruang yang diperlukan, seperti warna
putih yang dipakai untuk warna dinding diruang perkuliahan dipakai untuk membuat pengguna fokus terhadap kuliah yang diberikan sesuai dengan kebutuhan ruang tersebut dipakai.
Sifat akustik permukaan-permukaan ruang pun dapat mempengaruhi batas-batas ruang yang sudah jelas. Permukaan bidang yang lembut dan mampu menyerap suara dapat memperluas batas-batas akustik sebuah ruangan. Permukaan keras yang memantulkan suara dalam suatu ruang dapat memperkuat batas-batas fisik ruang tersebut. (Ching 1996)
2.3.2 Konsep Ruang Interior
Dalam ruang interior terdapat berbagai elemen yang mengisi baik sebagai elemen utama maupun elemen penunjang. Elemen-elemen tersebut merupakan hal yang dinamakan lingkungan sedang manusia sebagai objek hidupnya; sebut saja sebagai milieu. Lingkungan dan milieu memiliki hubungan seperti hukum aksi-reaksi, perilaku tertentu akan menentukan suasana ruang yang tercipta dalam ruang interior yang merupakan lingkungannya. Ketika perilaku dan aktivitas milieu menunjukkan pola A maka lingkungan harus mewadahi pola A tersebut sehingga terjadi keseimbangan dan aktivitas dapat berjalan dengan baik dan milieu akan merasa nyaman.
We have chosen to discuss this need first because it is probably at the root of all other needs, in other words, if we lack control, it will be difficult to satisfy any of the other needs; […], it must be easily differentiated from surrounding areas. One logical way to define space […] is to create clear, definite boundaries. Boundaries communicate to others-and to ourselves-where our place is,how big it is, where it begins, and where it ends. (Miller dan Schlitt 1940)
2.3.3 Warna dalam desain interior
Desain interior tak pernah lepas dari aspek warna. Dalam aplikasi sebuah desain, warna merupakan aspek penting lain yang perlu diperhatikan disamping bentuk dan ergonomi.
Warna hangat menarik perhatian seseorang. Warna orange atau merah misalnya, yang biasanya diletakkan di dinding belakang rak toko yang membuat
konsumen yang berbelanja yang sampai pada area rak belakang akan berputar dan kembali mengelilingi rak toko dari awal kembali, hal ini tentu akan membuat konsumen tertarik untuk membeli hal lainnya. Hal ini selanjutnya akan membuat profit toko bertambah. (Bellizzi, Crowley, and Hasty 1983 dalam Sally 11).
Penelitian mengungkapkan bahwa saturation and brightness memiliki pengaruh yang besar terhadap bagaimana manusia merespon sebuah warna secara emosional (Valdez dan Mehrabian 1994 dalam Sally 11). Warna saturation meningkatkan mood seseorang, sementara brightness sebaliknya. Warna yang dingin sering digunakan dalam ruang ketika orang membutuhkan ketenangan, sementara warna hangat digunakan dalam ruang ketika orang membutuhkan energy tambahan. Warna dingin memberikan perasaan santai dan menyenangkan.
Park and Guerin (2002) have investigated combinations of colors that are favored by different cultures around the world for interior color palettes. These preferences are important because the use of preffered colors improves people’s moods (Sally 127).
Penelitian yang dilakukan mengemukakan secara spesifik bahwa orang dari eastern cultures lebih menyukai warna “simple and cool in appearance”. Hal ini karena perbedaan budaya memiliki nilai dan pemaknaan yang berbeda dan seringkali pada Negara tertentu berhubungan dengan masalah politik, sehingga penting untuk desainer interior memiliki warna yang sesuai dalam desainnya.
Berdasarkan American Demographcs (Paul 2002 dalam Sally 129) mengidentifikasikan arti warna sebagai berikut.
a. Red
Competition, emotion, optimism, violence b. Orange
Extraversion, adventure, celebration c. Yellow
Creativity, imagination, optimism, newness d. Green
Nature, balance, fertility e. Blue
Dependability, protection, purity, peace, trust, loyality, patience, hope, perseverance
f. Purple/Violet
Spirituality, creativity, wit, sensitivity, vanity, moodiness g. Pink
Sweetness, delicacy, refinement, sentimentality h. Brown
Stability, harmony, hearth, neutrality i. Black
Sophistication, simplicity, power j. Gray
Neutrality, boredom, coolness, safety, conservatism k. White
Purity, calm
2.3.4 Psikologi Manusia
a. Psikologi Manusia Secara Umum
Terdapat empat kepribadian manusia secara umum berikut. - Sanguin
Orang sanguinis adalah orang yang sifatnya paling suka tampil eksis daripada 3 sifat dasar lainnya. Sanguinis itu biasanya merasa bahagia saat bisa jadi pusat perhatian, tampak heboh, mudah mencairkan suasana saat baru mengenal orang lain, dan pandai bergaul.
Sifat sanguinis yang terdeteksi sejak kecil biasanya membuat seseorang tampak senang bergaya saat difoto, rajin ikut berbagai kegiatan di sekolah atau lingkungan rumah, serta proaktif kalau dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Tak jarang si sanguinis ini dijadikan sebagai tameng saat harus membuat yel yel kekompakan atau saat diminta memperagakan suatu gerakan tarian tertentu untuk disaksikan oleh khalayak ramai. Sanguinis akan merasa bahagia tak terkira kalau kamu memuji aksinya dengan tulus dilengkapi senyuman. Pujian tersebut seakan jadi bukti eksistensi dan kepercayaan diri bagi si sanguinis.
Meskipun sanguinis itu memiliki emosi yang cenderung labil, suka narsis, tak ingin dikalahkan dan mudah meledak-ledak, tapi dialah yang jadi penyelamat saat harus bersentuhan dengan sesuatu yang disebut tampil di depan umum.
- Melankolis
Melankolis pandai menganalisis permasalahan secara mendalam sebelum memberitahukan hasil dari analisis tersebut. Disamping itu, ia pendengar yang baik.Melankolis merupakan orang dengan beragam pertimbangan. Orang yang melankolis biasanya pandai menyembunyikan perasaan, sehancur apapun hatinya saat harus menerima kenyataan pahit. Tapi akan selalu ada relung khusus di hatinya yang menyimpan kesedihan atau dendam akibat kenyataan pahit tersebut. Si melankolis bisa berdiam lama-lama bahkan jatuh terpuruk sebab sifat alamiahnya mampu menyeret ia ke dalam pusaran perasaan yang terlalu dalam. Orang-orang melankolis adalah orang yang selalu menuntut kesempurnaan. Kemampuannya dalam menganalisis dan merencanakan sesuatu membuat ia jadi serba perfeksionis dalam menjalani hidup. Saat menemukan orang yang kamar tidurnya tertata rapi atau isi notebook-nya penuh dengan nama folder yang spesifik, besar kemungkinan kalau orang tersebut adalah orang melankolis. - Koleris
Kata pemimpin dan optimis adalah dua kata yang paling tepat untuk
menggambarkan kepribadian orang-orang koleris. Kadang kala tak jarang orang lain menganggap si koleris terlalu diktator karena sifatnya yang suka memimpin, suka mengatur, dan punya sikap toleransi yang rendah terhadap kesalahan. Koleris bisa digambarkan sebagai pribadi yang berkemauan keras dan punya tekad yang sangat besar untuk mencapai impiannya. Hampir tak ada istilah bermalas-malasan dalam kamus si koleris karena setiap hari harus diisi dengan pelajaran dan hal-hal baru yang bermanfaat.
- Plegmatis
santai dan halus sehingga tak jarang tampak nyaris tak punya emosi. Plegmatis menganggap dunia begitu indah dan masalah yang datang menghadang itu bagai angin lalu saja. Wajahnya sering tersenyum manis ketika problem sedang hadir di depan mata. Plegmatis yang amat bersahabat dan berdamai dengan kehidupan. Kesabarannya memang membuat plegmatis selalu berhasil menjalani hidup dengan tenteram. Plegmatis tak segan untuk menghindari konflik dan memilih untuk mengalah walaupun kadang ia mengalah hanya demi hal yang salah. Berdebat hingga tarik urat sungguh bukanlah gaya seorang plegmatis karena sejatinya ia cuma ingin hidupnya rukun-rukun saja.
Sikap damai dan bersahabat yang dimiliki oleh sang plegmatis sering membuat ia malah ditindas dan dimanfaatkan oleh orang lain. Tidak hanya itu saja, prinsip menjalani hidup seperti air mengalir pun kerap membuatnya jadi tak punya tujuan hidup yang pasti.
b. Manusia dan Psikologi
Manusia terdiri dari dua entitas yaitu Tubuh dan Jiwa. Psikologi sendiri
merupakan disipilin ilmu yang mempelajari kedua entitas tersebut. Ada tiga posisi filosofis yang mewarnai perkembangan disiplin psikologi baik dalam posisi berseberangan maupun kompromi, yaitu :
- Tubuh dan jiwa merupakan entitas yang terpisah namun saling berhubungan
- Tubuh dan jiwa merupakan entitas yang terpisah dan tidak saling berhubungan
- Tubuh dan jiwa tidak dapat dipisahkan dan merupakan suatu kesatuan Ketiga hal tersebut dirumuskan dalam tiga teori berikut. Teori pertama yang dikemukakan oleh Rene Descartes (1596-1650) adalah teori Interactionism. Teori kedua dirumuskan oleh Gottfried W. Leibnitz (1646-1716) dengan teori Parallelism. Teori ketiga dirumuskan oleh Benedict “Baruch” Spinoza (1632-1677) dengan teori Double Aspectism.
Gambar 2.3. 1 Teori Interactionism Sumber : Halim, Deddy (2005,37)
Gambar 2.3. 2 Teori Parallelism Sumber : Halim, Deddy (2005,37)
Gambar 2.3. 3 Teori Double Aspectism Sumber : Halim, Deddy (2005,37)
Teori ketiga kemudian dipakai dalam sebuah teori pendekatan kehendak bebas atau disebut free will approach yang menunjukkan bahwa kontrol kognisi yang kuat atas tubuh membuat lingkungan fisik sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap perilaku.
Berbagai pendekatan yang dipakai yang menimbulkan pro dan kontra terhadap penyatuan maupun pemisahan terhadap kedua entitas manusia yakni tubuh dan jiwa memunculkan aliran psikologi perilaku yang dipelopori oleh Ivan Pavlov (1849-1936) yang berkembang menjadi Neo Behaviorism yang menganggap bahwa aspek tubuh merupakan hal yang paling penting dari manusia. Teori ini kemudian lebih sering dipakai untuk menjelaskan bagaimana mengingat dan mengenali lingkungan dan diterima dikalangan masyarakat karena berpatokan pada penilaian yang objektif.
Selanjutnya muncul pengaruh pemikiran Abraham Maslow (1908-1970) dengan hirarki teori kebutuhan manusia yang mendasari pola perilaku manusia menjadi lima tingkat kebutuhan yang terdiri dari psysiological needs, safety needs, belongingness and love needs, esteem needs and self actualization. Lima tingkatan kebutuhan ini dibagi menjadi dua golongan yaitu deficiency needs and growth needs. Pada golongan deficiency needs (psysiological needs, safety needs, belongingness and love needs, and esteem needs) dijelaskan bahwa manusia akan
memiliki motivasi untuk meraih tingkatan kebutuhan yang lebih tinggi jika merasa memiliki kekurangan pada tingkatan kebutuhan terendah, pada tahap ini perumpamaan yang dibuat pada tingkat kebutuhan psysiological needs adalah ketika orang merasa haus maka ia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya akan kehausan dan akan fokus pada kebutuhan lain yang lebih tinggi tingkatannya ketika kebutuhan akan hausnya terlah terpenuhi. Pada golongan growth needs (self actualization) dijelaskan bahwa manusia akan berusaha untuk mencari hal yang berkaitan dengan pengembangan diri, pertumbuhan, tantangan, dan pengalaman baru (Reisinger 272-276).
Gambar 2.3. 4 Bagan Maslow's Hierarchy of Needs Sumber : Halim, Deddy (2005,40)
Selanjutnya dengan revisi yang dilakukan pada tahun 1998 bersama
Lowery bagan hirarki Maslow menjadi delapan tingkat kebutuhan yang mengembangkan golongan gowth needs menjadi dua tingkatan atas dan bawah. Pada tingkatan bawah terdapat kebutuhan need to know & understand, and aesthetic needs, pada tingkatan atas terdapat self-actualization and transcendence (Reisinger 273).
punya kontrol terhadap perilakunya (growth needs) dan pada tahap mana kognisi manusia justru memiliki kontrol yang menentukan bentuk-bentuk perilaku yang dihasilkan oleh manusia (deficiency needs).
Dalam aplikasinya terhadap pola perilaku manusia sebenarnya tidak semua manusia memiliki porsi kebutuhan yang sama, artinya adalah bahwa ada sebagian manusia yang membutuhkan lebih banyak safety needs misalnya, dan sebagian lainnya yang membutuhkan lebih banyak need to know & understand.
Dalam aspek psikologi paling mendasar yang ada dikemukakan terdapat dua tipe manusia yakni introvert and extrovert yang memiliki pola perilaku yang berbeda. Pada tingkatan kebutuhan sosial orang introvert mungkin akan lebih membutuhkan belongingness & love needs, sementara orang extrovert akan lebih membutuhkan esteem needs (Reisinger 276).
Terdapat delapan bagian dalam kebutuhan menusia yang dijelaskan oleh Maslow, berikut merupakan rincian dari tiap kebutuhan tersebut.
- Psysiological needs
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi air, water, food, drink, shelter, sleep, warmth, waste elimination, sex, health, fitness. - Safety needs
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi protection, security, order, law, stability, being free of fear and deprivation. - Belongingness & love needs
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi belonging, love, affection, acceptance, approval relationships, family and things related to social needs.
- Esteem needs
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi recognition, reputation, achievement, competition, status, fame and things related to ego needs.
- Need to know & understand
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi knowledge, understanding, learning, meaning, awareness and things related to cognitive needs.
- Aesthetic needs
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi beauty, form, balance.
- Self actualization
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi personal growth, development, actualization, challenge, and new experiences. - Transcendence
Pada bagian ini hal yang dibutuhkan manusia meliputi supreme needs of helping others to self actualize.
Transcendence needs mengacu pada kebutuhan seluruh manusia di muka bumi, yang berhubungan dengan hal yang melebihi self-ego. Dalam pencarian manusia menemukan kebutuhan ini, banyak yang mengganti pola perilaku mereka dari external expression to an inner change and spiritual journey.
c. Manusia dan Alam
Alam merupakan tempat manusia berada. Alam diartikan sebagai iklim dan lingkungan. Iklim adalah elemen zat cair dan gas seperti misalnya jumlah uap air dalam udara, kelembapan, hujan dan berbagai macam gas dalam udara seperti oksigen, karbondioksida, karbonmonoksida, bahkan sampai cahaya dalam bentuk agregat. Sedangkan lingkungan adalah elemen zat padat seperti tumbuhan, pasir dan batuan.
Dalam penjelasan ini dapat diartikan bahwa manusia tidak bisa lepas dari alam tempat manusia berada, sehingga yang terjadi berikutnya manusia akan merespon iklim dan lingkungan yang diartikan sebagai kebudayaan. Perbedaan iklim dan lingkungan akan menciptakan kebudayaan yang berbeda. Jadi interior merupakan hasil akhir dari kebudayaan manusia dalam merespon alam.
Lingkungan agraris dengan iklim tropis basah seperti Indonesia menghasilkan perkampungan dengan atap genteng tanah liat untuk meredam panas namun masih memungkinkan terjadinya aliran udara pada ruang dibawah atap. Lingkungan pantai menggunakan atap dak beton yang massif sebagai antisipasi terhadap suhu panas yang kering. Sedangkan lingkungan pegunungan
bersalju dilengkapi dengan cerobong asap sebagai akibat adanya panas buatan yang dihasilkan dari dalam rumah untuk mengantisipasi suhu yang dingin.
Selanjutnya manusia mampu menguasai alam dengan baik. Dengan akal dan logikanya manusia menciptakan lingkungan tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisinya. Misalnya memilih material tertentu untuk menghasilkan suhu ruang yang dingin ditengah iklim tropis. Arsitektur dan interior pada awalnya hanya merupakan kebutuhan primer sebagai tempat bertahan hidup. Kemudian bertambah kebutuhan sekunder untuk mengakomodasi perilaku hidup sehari-hari dengan menciptakan berbagai ruang yang disesuaikan dengan pola aktivitas hidupnya. Kebutuhan berikutnya tersier berupa keinginan untuk memberi nilai lebih kepada ruang dengan menciptakan elemen dekoratif, lukisan dan pengolahan detil ruang sebagai pemenuhan kebutuhan manusia akan keindahan.
d. Psikologi dalam Desain
Psikologi manusia menanggapi reaksi desain yang ada disekitarnya tentu berbeda-beda, hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.
- Human reaction to static elements
Setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda, misalnya saja pada small space ada beberapa orang yang bisa tegang dan kaku sepanjang saat jika berada diruangan tersebut, ada pula yang hanya tegang pada waktu tertentu. Bentuk yang sama bisa memberikan efek yang berbeda pada masing-masing orang.
Orang secara umum menyukai area/ruangan yang familiar baginya, namun memiliki desain yang tidak mudah ditebak karena jika sama saja dengan rumahnya misal, akan membuat ia tak tertarik lagi dan bosan. Di area publik orang lebih suka desain yang bisa “ditipu” dari segi penglihatan, bau, suara, dan tekstur.
- Human Comfort
Sebuah ruang didesain dengan tujuan khusus, misalkan ruang makan maka tujuan utama ruang tersebut adalah menyediakan segala kebutuhan yang akan menunjang aktivitas makan tersebut. Namun sebelum mendesain dan meletakkan penunjang aktivitas yang berupa
perabot dan perlengkapannya, hal yang perlu dilakukan adalah mengamati dan jika dibutuhkan turut serta merasakan ketika berada diruang makan sehingga bisa mengetahui apa yang dibutuhkan dan bagaimana aktivitas tersebut bisa dilakukan dengan baik. Hal ini kemudian akhirnya menuju pada bagaimana ruangan tersebut dapat terasa nyaman bagi penggunanya selama pengguna berada dan melakukan aktivitas pada ruangan tersebut, berikut akan dibahas mengenai garis besar hal-hal yang telah diteliti merupakan hal yang membuat ruangan menjadi nyaman berdasarkan prikologi manusia (Sally 11-12).
Berdasarkan warna, ketika ruangan yang dibicarakan adalah area untuk makan dimana aktivitas yang terjadi didalamnya bukan hanya makan saja, namun juga bercengkerama dengan kerabat dan bersantai maka warna hangat akan memberikan rasa nyaman dan menarik orang untuk tinggal disana lebih lama
Berdasarkan layout ruangan dimana orang akan lebih menyukai ruangan yang lebih terbuka, tidak semua bangunan tertutup oleh lantai, dinding dan plafon. Hal ini adalah karena pengalaman manusia yang didapat dari pembelajaran dari leluhur yang telah tiada, dimana ketika jaman dahulu orang berjuang bertempur mereka menggunakan alat dan bahan seadanya yang ada dilingkungan alam karena saat itu belum ada teknologi yang berkembang, salah satunya adalah pohon yang bisa menjadi tempat perlindungan dari hewan buas, sekaligus tempat bernaung yang sejuk dan nyaman.
Cahaya buatan yang memerciki ruangan adalah faktor lain yang memberikan kenyamanan dalam sebuah ruang
Reis 2004 dalam Sally 16-18 mendefinisikan 16 ciri yang mendefinisikan kebutuhan manusia secara dasar dan umum :
Ruangan yang diciptakan memiliki kekuaatan seperti halnya gereja yang didesain dengan plafon tinggi sehingga orang didalamnya merasa kecil dan berfokus menghormati Tuhan yang Maha Agung dan Besar. Karena sifat dasar manusia adalah akan hormat dan menghargai apa yang diatasnya.
- Curiosity
Tempat yang didesain untuk mengasah kemampuan atau sebagai tempat pembelajaran, dimana ketika orang didalam ruangan tersebut memiliki keinginan untuk bisa mengeksplor dirinya lebih lagi misalnya.
- Independence
Tempat yang bisa membuat apa yang diperlukan orang dalam menjalankan aktivitasnya dapat dikatakan ruang yang independence. - Status
Sebuah status bukanlah ditentukan oleh lokasi ruangan , namun bagaimana ruangan itu bisa membuat orang mampu melakukan segala aktivitasnya dalam satu ruangan itu saja. Hal ini bisa dikatakan ruangan tersebut telah memenuhi kriteria status.
- Social Contact
Komunikasi merupakan hal penting sekalipun untuk orang yang paling introvert sehingga dalam sebuah ruang perlu diciptakan desain yang mampu membuat orang berkomunikasi meskipun tetap harus dibatasi jumlah komunikasinya berdasarkan kebutuhan ruangnya.
- Vengeance
Tempat untuk meletakkan simbol-simbol seperti penghargaan yang didapat, yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.
- Honor
Dalam artian trasdisional, dimana dalam sebuah ruang ada tempat khusus untuk meletakkan barang yang memiliki nilai bagi pengguna. Hal ini bisa menjadi lebih tradisional ketika penempatan barang tersebut dipahami maknanya bahkan oleh orang yang ‘buta desain’. - Idealism
Setiap orang memiliki idealismenya masing-masing. Seperti penempatan patung untuk orang buta, idealis bagi pengguna yang buta (Sally 18).
- Physical Exercise
Ruang untuk latihan fisik, dimana orang bisa melakukan uji coba/praktek.
- Romance
Seperti kamar rias untuk wanita, yaitu area yang memiliki kesan sentuhan kasih.
- Family
Tempat dimana orang berkumpul dan berkomunikasi. Sebuah tempat yang diciptakan memiliki area private dan public sesuai dengan kebutuhannya.
- Order
Penataan barang yang membuat apa yang dikerjakan seseorang menjadi lebih tertata seperti adanya rak dan cabinet.
- Eating
Tempat yang disediakan khusus untuk orang makan. - Acceptance
Penerimaan terhadap tren desain yang ada. - Tranquility
Desain tempat nyaman adalah yang bisa membuat relax dan mengurangi stress yang dialami oleh penggunanya.
- Saving
Ruang yang bisa difungskan untuk penyimpanan barang berharga. Kemudian reaksi psikologi manusia secara umum pada area publik digambarkan seperti berikut ini :
- Entryways
Entryways signal transition from one space into another ( Alexander et al.1977). Pada umumnya untuk menemukan pintu masuk, pria lebih memilih pintu yang teduh menaungi daripada wanita. Namun secara umum semua orang akan memiliki kesan pertamanya ketika memasuki
ruang depan/entryways. Disanalah orang akan memutuskan dan menilai baik desain maupun perkiraan karakteristik pemiliknya.
- Ceilings
Alexander and his colleagues (1977) menemukan bahwa plafon yang lebih rendah akan membuat orang yang berada didalamnya lebih intim dan membuat orang didalamnya merasa relax, dan sebaliknya.
Pada area formal disarankan tinggi plafon sekitar 10-12 feet. Kemudian untuk area semi formal 7-9 feet, serta 6-7 feet untuk area yang lebih intim. Ukuran ini tergantung pada kondisi cuaca dan iklim lingkungan sekitar.
Plafon yang tinggi akan membuat suara pantulan terasa lebih jauh dari yang seharusnya sehingga menciptakan suasana lebih formal.
- Seat Placement
People prefer to sot with their back against something really solid, such as a wall or a sturdy room divider. Research has shown that seats like this in coffee shops are always the first ones chosen by customers (Waxman,2006).
Psikologi dalam desain interior merupakan bagian yang tak terpisahkan. Oleh sebab itu psikologi manusia merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi desain interior yang akan diciptakan. Berikut merupakan lima hal yang menjadi isu pokok yang menghubungkan antara psikologi dengan desain interior :
- Kepribadian
Kepribadian manusia dibagi kedalam dua golongan yaitu introvert and extrovert. Introvert adalah kepribadian yang lebih dipengaruhi oleh dunia subjektif, orientasinya tertuju ke dalam. Extorvert adalah kepribadian yang lebih dipengaruhi oleh dunia objektif, orientasinya terutama tertuju ke luar. Pikiran, perasaan, serta tindakannya lebih banyak ditentukan oleh lingkungan. (Jung dalam Hall dan Lindzey, 1978: 125, par 1)
Hal ini selanjutnya berpengaruh terhadap desain yang mewakili masing-masing kepribadian manusia. Misalnya untuk orang yang berkepribadian extrovert
akan cenderung memilih rumah dengan banyak bukaan dengan material kaca yang mendominasi, dan sebaliknya orang introvert akan memilih rumah yang terdapat banyak ruang privasi yang menjaganya tetap aman didalam dari lingkungan luar. Hal in bukan merupakan hal yang pasti, seperti bisa saja orang extrovert menginginkan rumah seperti orang introvert dengan latar belakang bahwa ia telah banyak melakukan sosialisasi dengan lingkungan luar dan ingin mendapatkan privasi terbaik dalam rumahnya sendiri.
Dalam skala budaya Indonesia termasuk dalam golongan masyarakat yang introvert jika dibandingkan dengan masyarakat western yang extrovert. Sehingga selain faktor eksternal berupa alam yang terdiri atas iklim dan lingkungan terdapat pula faktor internal berupa kepribadian kolektif bangsa yang memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan sebuah desain interior.
Dalam kaitannya dengan manusia baik introvert maupun extrovert, semua manusia memiliki motivasi tertentu dalam melakukan sebuah tindakan. Motivasi tersebut dinamakan nilai. Nilai tumbuh dari harapan dan ketertarikan manusia, hasil dari interaksi antara individu dan beberapa obyek atau situasi dalam lingkungannya (Nickel&Dorsey 1968 dalam Halim, Deddy, 2005:72). Kebutuhan manusia baik fisik, psikologis atau sosial dalam lingkungan merupakan bagian dari menentukan sebuah nilai. Misalnya ada orang yang menginginkan rumah yang bisa dilihat dan dikunjungi teman-temannya, namun ada orang yang menginginkan rumahnya sebagai tempat yang privasi. Hal tersebut terjadi karena adanya nilai individual yang berbeda, seperti adanya pengalaman masa kecil yang miskin mendorong seseorang untuk mencuri di masa dewasa atau malah menjadi seorang dermawan.
Nilai individual seseorang mempengaruhi lingkungan tempat manusia tersebut berada. Oleh sebab itu seorang desainer interior sangat berperan dalam pengembangan lingkungan yang lebih baik untuk menciptakan sebuah nilai yang baik dalam setiap diri manusia. Namun apakah lingkungan yang mempengaruhi perilaku seseorang atau sebaliknya, hingga saat ini masih dipertanyakan. Hanya saja yang jelas nilai merupakan faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang.
Lingungan juga mempengaruhi nilai individual seseorang. Hal ini diumpamakan dengan pemasangan karpet di kantor yang membuat para karyawan