• Tidak ada hasil yang ditemukan

J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat"

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR 18 TAHUN 1958

TENTANG

BATAS-BATAS KOTAPRAJA SUKABUMI DAN

DAERAH SWATANTRA TINGKAT II SUKABUMI

Presiden Republik Indonesia,

Menimbang : a. Bahwa berhubung dengan perkembangan Kotapraja Sukabumi

perlu batas Kotapraja tersebut diubah dan diperluas.

b. Bahwa untuk keperluan termaksud dalam sub a perlu sebahagian

dari wilayah desa Citamiang yang termasuk dalam wilayah

Daerah Swatantra Tingkat II Sukabumi, dimasukkan ke dalam

Kotapraja Sukabumi

c. Bahwa DewanÄdewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara

Kotapraja Sukabumi dan Daerah Swatantra Tingkat II Sukabumi

telah menyetujui perubahan batas seperti dimaksud sub b.

d. Bahwa penduduk desa yang bersangkutan telah menyatakan pula

persetujuannya.

Mengingat : a. Undang-undang Republik Indonesia (Yogyakarta) No. 14 tahun

1950, Undang-undang Republik Indonesia (Yogyakarta) No.17

tahun 1950, pasal 3 Undang-undang No.1 tahun 1957 tentang

pokok-pokok pemerintahan daerah, sebagaimana sejak itu telah

diubah.

b. Pasal-pasal 89, 131 dan 142 Undang-undang Dasar Sementara

Republik Indonesia.

Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

(2)

2

-MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN BATAS-BATAS

KOTAPRAJA SUKABUMI DAN DAERAH SWATANTRA

TINGKAT II SUKABUMI.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1.

(1) Kotapraja Sukabumi sebagai dimaksud dalam Undang-undang

Republik Indonesia (Yogyakarta) No.17 tahun 1950 diperluas dengan

memasukkan ke dalam wilayahnya bahagian dari desa Citamiang

yang pada waktu berlakunya Bogor Syurei No. 1 tanggal 15

Nopember 1942 termasuk dalam wilayah Kotapraja Sukabumi.

(2) Wilayah Daerah Swatantra Tingkat II Sukabumi sebagai dimaksud

dalam UndangÄundang Republik Indonesia (Jogyakarta) No.14

tahun 1950 dikurangi dengan bahagian dari desa yang tersebut dalam

ayat 1 pasal ini.

BAB II

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 2.

Semua peraturan daerah c.q. keputusan-keputusan Daerah Swatantra

Tingkat II Sukabumi yang dahulu berlaku dalam bahagian desa tersebut

dalam pasal 1 ayat 1, sesudah berlakunya UndangÄundang ini tidak

berlaku lagi.

(3)

Pasal 3.

Kesulitan-kesulitan yang timbul dalam pelaksanaan pemasukan bahagian

dari desa seperti dimaksud dalam pasal 1 ayat 1 ke dalam wilayah

Kotapraja Sukabumi diselesaikan oleh Menteri Dalam Negeri.

Pasal 4.

Mulai saat berlakunya undangÄundang ini segala urusan pemerintahan

yang tidak termasuk dalam urusan rumahÄtangga Kotapraja Sukabumi

dan yang menurut ketentuan dalam peraturan perundangan lain yang kini

masih berlaku dijalankan oleh atau atas nama pejabat yang berdasarkan

instruksi Menteri Dalam Negeri berwenang di Daerah Tingkat II

Sukabumi, diserahkan kepada dan dijalankan oleh atau atas nama pejabat

yang berdasarkan instruksi Menteri Dalam Negeri berwenang di

Kotapraja Sukabumi.

BAB III

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 5.

Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan.

(4)

4

-Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan

pengundangan undang-undang ini dengan penempatan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta

pada tanggal 17 Juni 1958.

Presiden Republik Indonesia,

ttd.

SOEKARNO

Diundangkan

pada tanggal 1 Juli 1958,

Menteri Kehakiman,

ttd.

G. A. MAENGKOM

Menteri Dalam Negeri,

ttd.

SANOESI HARDJADINATA

(5)

MENGENAI

USUL UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN BATAS-BATAS

KOTAPRAJA SUKABUMI DAN DAERAH SWATANTRA TINGKAT II SUKABUMI.

Penjelasan Umum.

1. Dengan Undang-undang Republik Indonesia (Yogyakarta) No. 17 tahun 1950 Kota

Sukabumi ditetapkan sebagai suatu Kotapraja berdasarkan Undang-undang Republik

Indonesia No. 22, tahun 1948 yang wilayahnya meliputi wilayah "Stadsgemeente"

Sukabumi dahulu.

Undang-undang pembentukan tersebut sama sekali tidak memperhatikan keadaan

yang nyata mengenai luasnya wilayah Kota Sukabumi menurut perkembangannya

pada waktu itu, sehingga sebagian dari desa Citamiang yang pada waktu Pemerintah

Jepang berkuasa, dengan Bogor-Syurei tanggal 15 Nopember 1942 No. 1 telah

dimasukkan ke dalam wilayah Kota Sukabumi, kembali lagi kepada Kabupaten

Sukabumi. Akan tetapi meskipun menurut hukum, sebahagian dari desa Citamiang

itu tidak termasuk wilayah Kotapraja Sukabumi namun dalam kenyataannya

penduduk dari desa tersebut sudah merasa menjadi penduduk kota, sedangkan

mengenai soal pemerintahan bahagian dari desa tersebut tetap berhubungan dengan

Pemerintah Daerah Kotapraja Sukabumi sesuai dengan keadaan pada waktu

Pemerintahan Jepang berkuasa.

2. Berhubung dengan itu, maka perlulah segera melalui saluran hukum memperluas

wilayah Kotapraja Sukabumi dengan sebahagian dari desa Citamiang yang belum

termasuk wilayah Kotapraja Sukabumi itu, sehingga dengan demikian seluruh desa

Citamiang termasuk wilayah Kotapraja Sukabumi.

3. Untuk mengatasi, lagi pula mengakhiri kesulitan-kesulitan dalam soal-soal

pemerintahan, baik yang mengenai pemerintahan daerah otonom maupun

pemerintahan yang dijalankan oleh fihak pamongpraja perlu diadakan

peraturan-peraturan peralihan yang tegas.

(6)

2

-Hal-hal yang mengenai penyerahan dan peralihan kewenangan hak, tugas dan

kewajiban yang bersangkutan dengan urusan kepada Pemerintah Kotapraja Sukabumi

diatur dalam pasal 2 dan 3, sedangkan hal-hal yang mengenai urusan kepamongprajaan

diatur dalam pasal 4.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1615

CATATAN

Disetujui D.P.R. dalam rapat pleno terbuka ke-53 pada tanggal 21 Mei 1958 pada hari

Referensi

Dokumen terkait

Pasal 11 ayat 2 Undang-undang Keadaan Bahaya tahun 1946, pasal 5 ayat 1, pasal 20 ayat 1 dan pasal IV Aturan Peralihan Undang-undang Dasar serta Maklumat Wakil Presiden

PENETAPAN "UNDANG-UNDANG DARURAT NO. 122 TAHUN 1951) UNTUK MEMPERPANJANG WAKTU BERLAKUNYA ATURAN HUKUMAN TERMAKSUD DALAM PASAL 3 AYAT 2 ORDONANSI (STAATSBLAD UNTUK INDONESIA

(LEMBARAN-NEGARA NO 12 TAHUN 1954) GUNA MENETAPKAN WAKTU BERLAKUNYA ATURAN-HUKUMAN YANG TERMAKSUD DALAM PASAL 3 AYAT 2 ORDONANSI (STAATSBLAD UNTUK INDONESIA TAHUN. 1948 NO 141)

Itulah pula gunanya redaksi pasal 2 ayat (1) rancangan ini yang dapat menjadi dasar untuk menetapkan jumlah yang terhutang tersebut; jika telah diadakan ketetapan, maka sesudah

Selatan dan Kalimantan Timur, berlaku pula bagi Daerah Swatantra tingkat. I Kalimantan Tengah dengan pengertian bahwa pasal 77 ayat 3

Maluku Utara, termaktub dalam pasal 14 ayat 1 sub 13 naskah Peraturan Pembentukan Negara Indonesia Timur (Staatsblad 1946 No. pasal 1 ayat 2 Undang- undang Negara Indonesia Timur

pelaksanaan penyerahan urusan-urusan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Tengah yang sesudah mulai berlakunya undang-undang ini masih

Tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf i, Pasal 16 ayat (1) huruf k, Pasal 41, Pasal 44, Pasal