Pengurangan Konsumsi Minyak Tanah dengan Energi Alternatif
Oleh
Kamis, 08 Maret 2007 21:19 - Update Terakhir Jum'at, 09 Maret 2007 21:15
Pola pengurangan konsumsi minyak tanah kini tidak lagi dilakukan dengan mekanisme harga. Pemerintah lebih memilih melakukan substitusi ke energi alternatif. Baik Elpiji maupun berbagai bahan bakar baru dan terbarukan. Pola ini diharapkan mampu menekan konsumsi minyak tanah untuk menekan subsidi. "Jadi untuk menekan subsidi minyak tanah dilakukan dengan mengalihkan ke pemakaian energi alternatif," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro saat menyampaikan sambutan pada acara
Seminar Nasional Membedah Permasalahan Minyak Tanah Bersubsidi dan Pengawasannya di Jakarta, Kamis (8/2).
Saat ini konsumsi minyak tanah mencapai sekitar 10 juta kilo liter per tahun. Bahkan
kecenderungannya terus mengalami kenaikan. Sehingga kebutuhan subsidi minyak tanah juga terus mengalami kenaikan. Untuk meringankan beban APBN dari subsidi minyak tanah itu dilakukan antara lain substitusi ke Elpiji.
Senada dengan Menteri ESDM, Kepala BPH Migas Tubagus Haryono mengungkapkan hingga kini ketergantungan masyarakat terhadap minyak tanah memang tergolong masih tinggi.
Padahal, sebenarnya minyak tanah harga ekonominya mahal. Subsidi membuat terjadinya gap harga yang juga memicu penyalahgunaan.
Untuk itulah BPH Migas yang kini memikul tanggungjawab pengawasan dan pengendalian minyak tanah harus bekerja keras menanggulangi tindak penyalahgunaan minyak tanah bersubsidi. Mengingat minyak tanah bersubsidi wilayah distribusinya ke seluruh pelosok tanah air maka BPH Migas diusulkan melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah.
Seminar yang diselenggarakan oleh BPH Migas itu diikuti oleh sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan. Tampil sebagai pembicara antara lain Wakil ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional Suarhatini Hadad, Anggota Komisi VII DPR-RI Kahar Muzakir, Koensatwanto I dari Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan, Wakil dari Hisawana Migas, PT Pertamina dan Kepala dinas Pertambangan Provinsi DKI.