Penghawaan dan Pengaruh Psikologi pada Aula Barat dan
Aula Timur ITB
Muhammad Fahry Aziz
Mata Kuliah Arsitektur Kolonial, Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung
Abstrak
Berpuluh-puluh tahun telah berlalu semenjak masa-masa penjajahan kolonial Belanda, namun masih ada beberapa macam peninggalan dan sejarah yang melekat kuat pada kebudayaan di Indonesia. Terutama pada aspek bangunan dan pembuatannya, masih banyak juga bangunan peninggalan Belanda saat ini, ada yang dijadikan cagar budaya, di alih fungsikan, bahkan ada juga yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah yang akhirnya dihancurkan. Tujuan dari studi kasus ini akan berfokus pada bangunan yang ada yaitu Aula Barat dan Timur ITB, bagaimana bangunan tersebut masih terasa nyaman walaupun umurnya hampir 1 abad, dan walaupun bangunan tersebut hanya digunakan untuk bangunan administrasi atau lainnya, apakah terdapat pengaruh psikologi yang dapat dirasakan oleh penggunanya dari rasa penghawaan yang ada. Adapun juga terdapat beberapa filosofi yang diimplementasikan pada objek pada Aula Timur dan Aula Barat ITB seperti akulturasi berbagai budaya di Indonesia dan bagaimana keberagaman yang abstrak dikemas ulang dengan lebih praktis dan eksekusinya pada bangunan ini.
Kata-kunci : interior, interaksi, psikologi, penghawaan,
Pendahuluan
Arsitektur kolonial banyak terdapat dan tersebar di beberapa kota bekas penjajahan Belanda di Indonesia. Peninggalan arsitektur kolonial sendiri menjadi daya tarik yang sarat dengan nilai sejarah yang tinggi. Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang banyak terdapat karya arsitektur kolonialnya. Hal tersebut terjadi akibat kebijakan dari Gubernur Jenderal J.P. de Graaf van Limburg Stirum yang pada tahun 1915 yang ingin memindahkan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. Beliau beralasan bahwa Kota Bandung dianggap lebih nyaman untuk ditinggali dengan suhu udara yang sejuk. Oleh karenanya, pemerintah Belanda akhirnya mendatangkan sejumlah arsitek handal dari negaranya untuk merencanakan tata kota serta pembangunan di Kota Bandung. Keberadaan karya-karya tersebut menunjukkan bahwa kota Bandung pernah menjadi pusat kegiatan kolonial pada masanya dan menjadi bagian penting dari sejarah kolonial di Indonesia. Selain itu terjadi pula akulturasi budaya yang harmonis dalam karya-karya arsitektur Indo-Eropa. Bangunan bangunan di Bandung yang masih ada saat ini cukup banyak contohnya adalah Aula Barat dan Timur ITB, Kantor Pos Besar, Gedung PLN, Gedung Merdeka dan Museum KAA, Bank OCBC NISP, Hotel Savoy Homann, Gedung Sate, dan masih banyak lagi lainnya. Ada sebagian bangunan yang dapat diakses langsung, dan juga sangat sulit dan membutuhkan banyak izin dari berbagai pihak, bahkan terdapat beberapa bangunan yang sudah bisa dikunjungi lagi karena menjadi sebuah markas angkatan militer.
456 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017
dikatakan pembahasan bangunan ini melalui pendekatan ilmu interior, namun harus dipahami bahwa interior sendiri adalah ilmu yang multidisiplin dimana banyak aspek yang membangun. Dan pembahasan bagaimana tiap-tiap elemen tadi dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan pengguna didalamnya tentang sifat-sifat dan karakteristik mereka masing-masing.
Kegiatan
Bangunan yang akan menjadi fokus saat ini adalah bangunan Aula Barat dan Timur ITB yang dapat dikatakan mudah dijangkau untuk semua orang untuk diambil data dan survei secara langsung. Bangunan ini sudah lama dibangun oleh arsitek Belanda bernama Henry Maclaine Pont, arsitek ini merupakan arsitek yang melahirkan arsitek indisch, sebuah gaya dan ciri khas yang mengakulturasikan antara unsur Nusantara dengan unsur Eropa ke dalam bangunan. Aula Barat dan Timur dibangun pada tahun 1918 dan selesai pada tahun 1920. Bangunan ini merupakan bangunan yang menjadi tiang pembangunan ITB, menjadi bangunan yang sering digunakan dalam berbagai acara sesuai fungsinya hingga saat ini juga demikian adanya. Pada saat itu gedung tersebut masih digunakan sebagai gedung administrasi dan juga gedung kuliah.
Walaupun sifatnya sementara dan dibangun secara mendadak, namun gedung tersebut ternyata berumur panjang, setelah kemudian terus digunakan secara berturutan untuk kursus penera, praktikum geodesi, Laboratorium Kimia Bahan Anorganik (di bawah naungan Laboratorium voor materialenkennis en onderzoek van bouwstoffen atau Laboratorium Penelitian Material dan Pengetahuan Bahan Bangunan), kursus guru gambar, hingga terakhir digunakan menjadi gedung perkuliahan dan studio Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Beberapa renovasi bangunan telah dialami bangunan ini, baik berupa penyekatan ruang untuk studio-studio, ruang dosen, penambahan gedung antara lain "Galeri Soemardja" (yang lama), pembangunan tungku bakar gerabah, hingga akhirnya komplek bangunan tersebut penuh sesak dan berkesan kumuh. Akhirnya di sekitar tahun 1992 komplek hulpgebouwen yang merupakan bangunan tertua di kampus ini dibongkar total dan dibangun kembali menjadi Gedung Seni Rupa yang baru. Hulpgebouwen bagian utara lebih dahulu dibongkar sekitar tahun 1992, di atasnya dibangun gedung FSRD berlantai empat, berikutnya hulpgebouwen bagian selatan dan sisa bangunan lama ikut dibongkar pada pertengahan tahun 1993.
Psikologi
Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam artian luas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental. Dalam perkembangannya penataan interior dapat mempengaruhi psikologi seseorang. Ada beberapa unsur ruang yang dapat memengaruhi sisi psikologis, seperti warna, bentuk, garis, tekstur, suara, bau, dan berbagai gambar dan simbol yang memiliki dampak terhadap keadaan emosi, juga karakteristik psikologi manusia.
Salah satu aspek desain interior yang dapat mempengaruhi Psikologis adalah penggunaan warna pada desain interior itu sendiri. Pada dasarnya setiap warna memiliki potensi untuk memberikan kesan positif maupun negatif kepada pengguna ruang. Yang akan mempengaruhi perilaku pengguna dan juga keadaan psikologis pengguna.
Mulai dari pondasi yang terdapat di Aula timur dan barat. Pondasi ini baru saja direstorasi, pondasinya awalnya diberikan plitur yang berwarna hitam pekat doff, membuat warna dan keaslian Nusantara Indonesia yang sering menggunakan kayu sebagai bahan utama pembuatan sebuah bangunan. Dalam interior, sebuah kayu memiliki sifat yang merangkul, memberikan kesan yang hangat dalam sebuah bangunan. Banyak pendapat dan artikel beberapa penulis bahwa pondasi-Gambar 1. Aula Timur dan Barat ITB merupakan salah satu bangunan yang bersejarah di Bandung dibuat oleh beberapa Arsitek terkenal, banyak aspek yang terdapat di bangunan ini sendiri, sangat tradisional dan unik menjadi ciri khas bangunannya dan akar dari pembangunan di ITB. (Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi, 2014.)
Gambar 2. Isi dalam bangunan Aula Timur. Pondasi dan ciri khas bangunannya masih asli yang sudah bertahan puluhan tahun menjadi wadah berbagai macam kegiatan yang ada di ITB.
458 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017
Masih material yang sama yaitu kayu, material ini menjadi material utama yang digunakan pada bangunan demi menjaga keunikan dan tradisionalnya, orisinalitas kayu menjadi sebuah estetika yang tidak dapat dipungkiri, dari serat, warna, ketahanan, dan efeknya pada lingkungan sekitarnya. Selanjutnya, yang akan dibahas adalah pintu dari Aula Barat dan Timur, tidak banyak perubahan pada pintu ini, namun sebagian sistem dari pintu tersebut memang harus diubah karena sudah tidak berfungsi dengan baik, namun masih menjaga keasliannya. Pintu ini memiliki kaca, membuat cahaya masuk dengan mudah dan cukup menyumbang cahaya yang masuk dan membantu kegiatan didalamnya.
Gambar 3 dan 4. Pondasi yang telah direstorasi dihilangkan warna plitur yang awalnya menghilangkan kesan asli dan tradisional Nusantara. Restorasi ini telah dibuat pada tahun 2013 lalu yang diketuai oleh dosen Arsitektur ITB yaitu Dr.Eng. Bambang Setiabudi, ST., MT.
( Sumber Foto : https://rinaldimunir.wordpress.com/2013/11/16/wajah-baru-aula-barat-itb-setelah-restorasi/ )
Gambar 5. Pintu yang memiliki kaca untuk memudahkan masuknya cahaya, bentuk cembung yang terbentuk juga terdapat di pintu ini. (Sumber Foto :
https://rinaldimunir.wordpress.com/2013/11/16/wajah-baru-aula-barat-itb-setelah-restorasi/ )
Jendela dan bouvenlicht juga ikut berperan penting pada pengaruh psikologi dan penghawaan di dalam bangunan, secara fungsional jendela-jendela ini memberikan cahaya langsung untuk menunjang berbagai aktifitas yang berada di dalam bangunan, namun disisi lain terdapat pengaruh psikologi pada penggunanya. Seperti sinar matahari yang diterima oleh manusia, dalam psikologi fenomena tersebut dapat meningkatkan mood dan produktivitas manusianya dan terdapat penjelasan secara ilmiah seperti menerima vitamin D, berbagai hormon, yang akhirnya menimbulkan
suasana yang positif dan cara berpikir yang tenang dan mental yang fokus. Namun sempat menjadi sebuah konflik dimana jendela-jendela tersebut ditutup atau di blokade dengan tirai dan semacam dengan alasan-alasan yang pragmatis yang mengurangi fungsi dan pensuasanaan bangunan. Walaupun sifat dari kayu merangkul, tapi di sisi lain berlawanan dengan aspek interior lainnya yaitu langit-langit. Langit-langit ini dibuat cukup tinggi, mungkin secara fungsional membuat bangunan ini menjadi lebih sejuk dan nyaman, namun apabila dipandang dari aspek psikologi ketinggian langit-langit ini membuat Aula Barat dan Timur ITB terlihat megah dan luas, seperti halnya masjid yang dibuat tinggi untuk membuat penggunanya merasa kecil dibandingkan kekuasaan dan kemegahan Tuhannya. Bentangan-bentangan yang besar dan didukung oleh warna dinding yang putih membuat bangunan ini terlihat lebih spacious.
Gambar 6 dan 7. Jendela dengan bentangan besar memudahkan cahaya langsung masuk kedalam bangunan dengan mudahnya dan memberikan penerangan yang cukup untuk berbagai kegiatan di dalam bangunannya, namun tidak berlebihan karena terdapat overstack yang melindungi dari cahaya maupun sinar yang berlebihan. (Sumber foto : Video RESTORATION PROJECT - BARAKGEBOUW A | Technische Hoogeschool Te Bandoeng ( Aula Barat ITB ) )
460 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017
Lalu pembahasan berlanjut menyinggung dimana kita berpijak. Sederhananya lantai, keindahan lantai ini sering luput, padahal peran lantai sangat penting dalam membangun dan mendukung keseluruhan interaksi yang dikomunikasikan kepada penggunanya. Seperti halnya yang sering ditegaskan oleh Francis D.K. Ching bahwa elemen pembentuk ruang ialah lantai, dinding, dan langit-langit. Sebagai contoh pernahkah anda melihat lantai-lantai kayu pada sebuah bangunan, bagaimana keunikan dari tiap kayunya tidak terdapat serat yang sama, penyusunan yang begitu rapat namun dari tiap papannya berbeda warna dan garis kayu tetapi tetap menghasilkan kesatuan dan perbedaan yang harmonis. Walaupun begitu, berbeda kasus dengan lantai-lantai yang digunakan pada bangunan Aula Barat dan Timur ITB yang warnanya lebih terang dan cerah, mungkin saja lantai ini material aslinya begitu adanya atau menggunakan finishing doff yang membuatnya terlihat tidak memantulkan banyak cahaya yang diterima sehingga tidak mengganggu mata kita saat berada di dalam ruangan. Material dan senyawanya tidak menjadikannya sebagai isolator yang baik, namun disitulah kelebihannya bahwa lantai ini mempertahankan suhu ruangan tetap rendah dan membuat ruangan ini tetap sejuk dan nyaman. Dan terkadang apabila kita melihat lantai-lantai ini, penyusunannya sangat rapi membuat lantai ini terlihat seperti satu lantai yang membentang luas dari ujung ke ujung ruangan.
Setelah banyak bahasan tentang interaksi interior dan beberapa aspek terhadap penggunanya, tidak lupa juga bahwa eksterior dari bangunan tersebut turut ikut serta dalam pengonsepan bangunan ini. Perlu diketahui juga banyak bangunan lama pada zaman itu mulai beradaptasi dengan iklim Indonesia seperti adanya overstack dan bentuk atapnya. Karena Aula Barat dan Timur ITB ini merupakan akulturasi dari bangunan Indonesia dan penerapannya cukup signifikan pada bangunan ini. Contoh penting adalah atapnya yang diambil dari salah satu atap rumah tradisional Sunda atau sering disebut Julang Ngapak dengan filosofinya sebagai burung yang membentangkan sayapnya. Membuat bangunan ini terlihat tradisional dan unik. Bangunan ini tidak dapat ditepis lagi kebenarannya tentang konsep yang matang dan sejarah yang dibawanya sangat berharga, kemegahan yang tidak lekang oleh waktu.
Gambar 10. Lantai yang rapi, bersuhu tetap rendah, dan tidak memantulkan cahaya berlebihan yang dapat mengganggu mata, tidak mengurangi keindahan Aula barat dan Timur ITB dengan konsep Indischnya. Dan lantai-lantai seperti ini sangat mirip dengan lantai-lantai yang sering digunakan bangunan lama Indonesia di Jawa berdasarkan bangunan-bangunan yang saya perhatikan. ( Sumber foto : Dokumentasi Direktorat Sarana dan Prasarana ITB, 2017. )
Pelajaran
Berbagai aspek yang terdapat pada bangunan ikut mendukung tiap bahasan di kegiatan ini, dari lampunya, dinding, pondasi, lantai, langit-langit, jendela, pintu, dan aspek lainnya. Rasa nyaman dan sejuk tetap dapat dirasakan dalam ruangan ini walaupun tidak terdapat pendingin ruangan di sudut-sudut ruangan, kemegahan bangunan, akulturasi budaya, adaptasi iklim di Indonesia, dan hal-hal yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi psikologis pengguna. Maka dari itu hal tersebut menjadi titik penting perhatian saya dalam membahas sebuah bangunan dari sisi penghawaan dan psikologinya, membuat orang merasakan banyak hal dalam ruangan tersebut secara positif sejauh yang saya rasakan. Desainnya yang sangat memperhatikan berbagai aspek sangatlah bermakna, apalagi interior sendiri merupakan ilmu multidisiplin, dan itulah tujuan dan pengertian utama dari interior, bagaimana ruangan tersebut memiliki nyawa seakan hidup dan berinteraksi dengan penggunanya.
Kesimpulan
Diharapkan artikel ini bisa meningkatkan kepekaan masyarakat-masyarakat awam tentang bangunan-bangunan lama di Indonesia, lebih menghargai karya-karya yang tak lekang oleh waktu, konservasi yang diperlukan di tiap aspek bangunannya. Restorasi bukanlah hal yang mudah, tiap bangunan lama sudah pasti menyimpan sejarah, kepedulian pada lingkungan sekitar dan kreativitas dalam bersolusi harus ada dalam darah, karena seharusnya pelestarian sebuah bangunan bukanlah sebuah masalah.
Edukasi tentang bangunan lama dan cara pelestariannya harus dimulai dari masyarakatnya, maksudnya adalah dari orang-orang yang berada di sekitar tempat itu, karena sangat disayangkan apabila sejarah-sejarah lama hilang begitu saja hanya karena pembangunan yang tidak memperhatikan keberlangsungan lingkungan kedepannya, dan tentu banyak yang dapat dipelajari dan memiliki hikmah yang cukup besar nantinya.
Daftar Pustaka
462 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017
https://rinaldimunir.wordpress.com/2013/11/16/wajah-baru-aula-barat-itb-setelah-restorasi/ http://www.wewengkonsumedang.com/2013/09/julang-ngapak-filosofi-sebuah-bangunan.html Eswari, A.W. (2014). Mengamati Metode Desain dari Henri Maclaine Pont
terhadap Gedung Aula Timur dan Barat ITB. Surakarta : Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret.
https://www.youtube.com/watch?v=-jLNys3cOuI berjudul RESTORATION PROJECT - BARAKGEBOUW A | Technische Hoogeschool Te Bandoeng ( Aula Barat ITB ). 2013.