BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Moral Bushidō dalam Masyarakat Jepang
Setiap orang pasti mempunyai moral yang dipegang untuk menjadi pedoman hidupnya. Moral telah diajarkan sejak manusia kecil, dan keluarga merupakan salah satu tempat untuk pembelajaran moral. Moral bukan sebuah hukum yang menjadi pedoman seorang manusia untuk berbuat kebajikan.
Moral menurut Yoshizawa (1976) adalah suatu keberadaan yang tumbuh secara alami di dalam sebuah kelompok, terpisah dari agama, hukum, dan sebagainya. Moral yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat dapat menimbulkan sebuah permasalahan, yakni permasalah kebebasan yang tumbuh dalam suatu kelompok masyarakat, namun kebebasan tersebut membutuhkan sebuah alasan tertentu sehingga kebebasan ini dapat dijalankan dengan baik. Dari moral tersebut, timbullah pendidikan moral yang diajarkan kepada seseorang sejak kecil.
Menurut Yamazumi (1976), pendidikan moral adalah pendidikan yang mengajarkan seseorang untuk berperilaku sesuai dengan nilai yang benar dihadapan masyarakat. Tanpa pendidikan moral yang diberikan sejak dini, seseorang tidak dapat berperilaku dan bersikap sebagai seseorang yang layak untuk hidup ditengah masyarakat. Moral merupakan elemen yang paling penting untuk berinteraksi dengan orang disekitar kita, termasuk keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Begitu juga dengan masyarakat Jepang yang mempunyai pendidikan moral yang sedikit berbeda dengan masyarakat pada umumnya.
Masyarakat Jepang sudah diajarkan di rumah, masyarakat, sekolah, dan sebagainya mengenai sebuah ajaran moral sejak kecil, ajaran moral berakar dari bushidō
(武 士 道). Bushidō dikemukakan oleh Nitobe (2004). Mattulada (Suliyati, 2013)
menjelaskan bahwa Bushidō telah dipegang erat oleh para samurai sejak zaman Kamakura (sekitar tahun 1185) yang pada saat itu samurai mempunyai status sosial yang tinggi di masyarakat Jepang yang terdiri dari shinōkōshō (士農工商), yakni strata sosial pada masa Edo yang terdiri dari samurai ataushi (士), petani atau nō (農), buruh atau kō (工), pedagang atau shō (商). Samurai bertugas untuk mengatur tata kehidupan
masyarakat Jepang dan memungut pajak dari masyarakat Jepang. Bushidō lahir dari aliran agama Budha Zen yang mengajarkan bahwa tidak boleh menunda pekerjaan dan harus menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan tuntas.
Boye de Mente (Suliyati, 2003) menjelaskan bahwa Bushidō lahir dari ajaran Confusianisme yang masuk ke Jepang dari China. Ajaran tersebut mengajarkan bahwa manusia harus menjaga harmonisasi antara manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan alam. Suryohadiprojo (Suliyati, 2003) mengemukakan bahwa Shintō menjadi sebuah bagian dari lahirnya Bushidō yang mengajarkan samurai untuk setia kepada kaisar atau Tennō (天皇). Berikut adalah tujuh moral dalam ajaran Bushidō yang dikemukakan oleh Nitobe (2004) adalah:
1. Gi (義) yang berarti moral, 2. Yū (勇) yang berarti keberanian, 3. Jin (仁) yang berarti kebajikan, 4. Rei (礼) yang berarti kehormatan, 5. Makoto (誠) yang berarti kejujuran, 6. Meiyo (名誉) yang berarti reputasi, 7. Chūgi (忠義) yang berarti kesetiaan.
Seiring jalannya waktu, samurai dihapus oleh kaisar pada saat Restorasi Meiji tahun 1868. Pada saat Restorasi Meiji, masyarakat Jepang mengambil budaya yang datang dari Barat yang menyebabkan adanya perubahan pada struktur politik, ekonomi, sosial, dan lain lain. Salah satu perubahan dalam bidang pekerjaan, yaitu adanya pembagian kerja berdasarkan pakaian yang digunakan. Contohnya seperti white-collar worker yang umumnya menggunakan setelan jas yang pekerjaannya mengandalkan pemikiran. Blue-collar worker yang umumnya pekerjaannya mengandalkan otot. Pink-collar worker yang sebagian besar pekerjanya adalah wanita (Nitobe, 2004).
Hal ini menyebabkan adanya perubahan pada Bushidō yang seharusnya berisi tujuh moral menjadi lima moral yang disebut dengan gojyō no toku (五常の徳), yang dikemukakan oleh Nitobe (2004) sebagai berikut:
1. Jin (仁) yang berarti cinta, kasih sayang, kebaikan, 2. Gi (義) yang berarti keadilan, kebenaran,
3. Rei (礼) yang berarti kehormatan, etika, 4. Chi (智) yang berarti kebajikan, kebijakan, 5. Shin (信) yang berarti kepercayaan.
2.2 Teori Reigi (礼儀礼儀礼儀礼儀)
Reigi (礼儀) dalam kamus online Weblio (2014) adalah courtesy (sopan santun), etiquette (etiket), dan sebagainya. Reigi diambil dari kata rei (礼) yang artinya salute (menghormati), greeting (salam), bow (menunduk), salutation (pemberian hormat). Gi (儀) yang berarti ritual (upacara), thing (suatu hal).
Menurut Nitobe (Fujisawa, 2008), reigi merupakan salah satu ciri khas orang Jepang yang diakui oleh orang luar yang berakhlak baik dan merupakan budaya orang Jepang.
Berikut pernyataan Nitobe (Fujisawa, 2008) tentang reigi, yaitu: 「礼儀正 れ い ぎ た だ し さ は 、 趣味 し ゅ み の 良 よ さ に 障 さわ る か も し れ な い と い う 恐 おそ れ だ け 駆 か られて行動 こうどう するなら、それは貧 まず しい徳 とく である。そうではなくて、 礼儀正 れ い ぎ た だ しさは、他者 た し ゃ の 感情 かんじょう に対 たい する 共 感 的 きょうかんてき な心 こころ づかいが外 そと に現 あらわ れたものであるべきだ。」 Terjemahan:
“Jika reigi didorong oleh rasa takut, hal tersebut adalah kebajikan yang tidak baik. Reigi adalah suatu hal yang muncul dari dalam diri kita yang bersifat empati terhadap perasaan org lain.”
Apabila seseorang melakukan reigi atas dasar pemikiran bahwa reigi merupakan suatu hal yang wajib dilakukan, maka dia tidak melakukan reigi yang benar. Reigi harus dilakukan atas kemauan dan kesadaran sendiri, sehingga reigi yang dia lakukan tersebut dapat dikatakan sebagai reigi yang benar. Reigi seharusnya muncul dari dalam diri seseorang sebagai rasa simpati seseorang terhadap orang lain, bukan muncul sebagai kewajiban untuk melakukan reigi tersebut.
Nitobe (Fujisawa, 2008) membagi dua rei (礼), yaitu: 1. 他者 た し ゃ の 感情 かんじょう に対 たい する 共 感 的 きょうかんてき な心 こころ づかいがそ外 そと に現 あらわ れたもの a. 武士道 ぶ し ど う を支 ささ える 中 心 的 ちゅうしんてき な徳 とく である b. 仁 じん のいわば核心 かくしん をなすと思 おも われる c. 「他者 た し ゃ の 感情 かんじょう に対 たい する敬意 け い い 」は礼儀 れ い ぎ の根本 こんぽん なのである d. 礼儀 れ い ぎ の 中核 ちゅうかく に 共感 きょうかん が位置 い ち づけられる 2. 事物本来 じ ぶ つ ほ ん ら い の合目的性 ごうもくてきせい へのしかるべき顧慮 こ り ょ 、したがって社会的地位 し ゃ か い て き ち い への しかるべき敬意 け い い a. 印 象 的 いんしょうてき な新渡戸 に と べ の話 はなし がある。「経済学者 けいざいがくしゃ が需要 じゅよう について有効 ゆうこう や 無効 む こ う を 語 かた る よ う に 、 同 おな じ よ う に わ れ わ れ は 武士 ぶ し の 情 なさ け ( 慈悲 じ ひ ) を 有効 ゆうこう な も の と 呼 よ ん で よ か ろ う 。 な ぜ な ら 、 情 なさ け ( 慈悲 じ ひ ) は 受 う け 手 て の た め に な る か な ら な い か を 見極 み き わ め る 行 動 力 こうどうりょく を含 ふく めるからである」 b. 他者 た し ゃ に情 なさ けをかける、慈悲 じ ひ を施 ほどこ す、 共感 きょうかん をよせる等々 とうとう の行為 こ う い は、それが本当 ほんとう に「他者 た し ゃ のためになる」場合 ば あ い にのみ、情 なさ けであ りうる。 c. この実効性 じっこうせい の確保 か く ほ は、繰 く り返 かえ していうが、知性 ち せ い の認識 にんしき を欠 か いて は不可能 ふ か の う である。
Terjemahan:
1. Sesuatu yang muncul dari dalam diri kita yang bersifat empati terhadap org lain. Berikut penjelasan tentang rei tersebut:
a. Kebajikan yang secara terpusat mendukung bushidō
b. Terlihat sebagai inti dari jin (仁) atau cinta, kasih sayang, dan sebagainya.
c. Menghormati perasaan org lain adalah sumber atau akar dari reigi. d. Inti dari reigi adalah empati.
2. Pertimbangan atas kelayakan sesuatu hal yang asli dan juga penghormatan terhadap status sosial seseorang, berikut adalah penjelasannya:
a. Berikut pernyataan Nitobe, “berdasarkan permintaan dalam ekonomi ada permintaan efektif dan permintaan non-efektif. Sama dengan para bushi, kesetian merupakan sesuatu yang sah. Kesetian merupakan kegiatan yang dapat memastikan bahwa seorang bushi layak menjadi seorang pengawal atau tidak.
b. Kesetiaan merupakan tindakan yang dilakukan demi kepentingan orang lain.
c. Jika dilakukan berulang-ulang, orang tidak akan kehilangan
kesadaran akan akalnya sebagai manusia.
Reigi yang berasal dari dalam diri kita biasanya bersifat empati terhadap perasaan orang lain. Reigi tersebut merupakan pusat dari kebajikan yang sejak kecil kita tanam didalam diri kita. Reigi tersebut juga merupakan salah satu sarana untuk mendukung bushidō dalam kehidupan orang Jepang. Selain itu, reigi ini juga merupakan salah satu bentuk dari jin (仁) atau cinta dan kasih sayang terhadap seseorang kepada orang lain. Semakin besar reigi yang dimiliki oleh seseorang, semakin besar juga jin yang mereka miliki sehingga mereka dapat menghormati orang lain.
Dalam reigi tersebut, menghormati perasaan seseorang merupakan salah satu akar yang paling penting dalam bersosialisasi dengan orang lain. Empati juga merupakan hal yang paling penting dalam reigi. Apabila kita memiliki rasa empati terhadap seseorang, maka kita dapat mengerti perasaan orang lain tersebut sehingga kita
mempunyai dorongan untuk tidak melakukan hal yang dapat melukai perasaan seseorang (Fujisawa, 2008).
Tipe reigi yang kedua merupakan reigi dapat menjadi pertimbangan seorang pemimpin layak untuk diangkat menjadi seorang pemimpin atau tidak. Reigi merupakan suatu hal yang sah yang harus dipegang oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin haruslah menghormati masyarakat banyak ataupun para anggota kelompoknya dalam menjalankan tugasnya. Jika seorang pemimpin mempunyai reigi yang dalam terhadap orang lain, maka dia layak menjadi seorang pemimpin. Selain itu, reigi harus dilakukan demi kepentingan orang lain, bukan kepentingan diri sendiri.
Seseorang melakukan reigi agar menghormati dan menghargai perasaan atau kepentingan sendiri, bukan demi kepentingan sendiri seperti status sosial. Jika reigi dilakukan berulang-ulang dan diterapkan kedalam kehidupan manusia, seseorang tidak akan kehilangan akal budinya sebagai manusia. Seseorang akan berperilaku bagaimana seharusnya manusia berperilaku yang baik dan benar. Pemimpin yang mempunyai reigi yang tinggi tentunya akan setia kepada orang lain dan bersikap loyal kepada kelompok partai, negara, atau kelompok masyarakat.
Jika reigi merupakan rasa empati yang muncul dari seseorang dan tindakan yang dapat menentukan seseorang dapat menjadi pemimpin, maka dapat dikatakan bahwa reigi merupakan suatu kebijakan yang sulit untuk dilakukan. Reigi merupakan pendidikan yang tepat dan sejak kecil diajarkan kepada seseorang, selain itu bisa menjadi pelatihan intelektual seseorang dalam seumur hidupnya. Berikut pernyataan Nitobe (Fujisawa, 2008) tentang kebijakan reigi yang sulit untuk dijalankan tersebut:
「礼儀 れ い ぎ はその最高形態 さいこうけいたい において愛 あい に近 ちか づく。われわれは尊敬 そんけい の念 ねん を こめて次 つぎ のようにいうのである。礼儀 れ い ぎ (愛 あい )は『 「 寛容 かんよう であり、愛 あい は 情 なさ け深い。また、ねたむことをしない。愛 あい は高 たか ぶらない。誇 ほこ らない。 無作法 ぶ さ ほ う をしない、自分 じ ぶ ん の利益 り え き をもとめない、いらだたない、恨 うら みを いだかない。』」 Terjemahan:
Salah satu bentuk yang paling tinggi dalam reigi adalah ai (kasih sayang). Kami menyatakan bahwa konsep reigi (ai) adalah toleransi, ai adalah kesetiaan yang dalam. Tidak iri hati, ai tidak sombong dan tidak
membanggakan. Bertata krama yang baik, tidak menganggap keuntungan sendiri, tidak merasa marah, tidak menyimpan dendam.
Nitobe (Fujisawa, 2008) menjelaskan bahwa reigi merupakan salah satu tindakan yang sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan reigi merupakan salah satu bentuk dari ai (kasih sayang) terhadap orang lain. Dalam reigi, seorang manusia tidak boleh melakukan kegiatan demi keuntungan diri sendiri, tidak boleh marah terhadap orang lain, dan tidak boleh menyimpan dendam kepada orang lain. Nitobe (Fujisawa, 2008) juga menjelaskan bahwa reigi merupakan suatu pendidikan yang benar untuk orang Jepang yang sudah diajarkan sejak kecil yang harus dilakukan secara terus menerus. Dengan adanya ajaran reigi tersebut, manusia dapat hidup selayaknya seorang manusia.
Reigi merupakan sebuah moral untuk mengatur manusia hidup dan ai merupakan bentuk emosional yang menjadi salah satu bagian dari reigi. Ai merupakan bentuk emosional yang diperlihatkan kepada orang lain, dan dilakukan demi kepentingan orang lain bukan kepentingan diri sendiri. Jika seseorang mempunyai ai dalam dirinya, maka orang tersebut akan mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Selain itu, dalam ajaran ai tersebut, dia tidak boleh merasa iri hati kepada orang lain, tidak boleh membanggakan sesuatu dan bersikap sombong kepada orang lain, loyal kepada atasan atau lingkungan kerja, bertatakrama yang baik di lingkungan masyarakat, dan bersikap toleransi kepada orang lain. Tanpa ai, seorang pemimpin tidak bisa bersikap setia dan loyal kepada masyarakat, anggota kelompok partai, negara, dan sebagainya. Dari ajaran reigi ini timbul dorongan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan sebagai seorang manusia, salah satunya seperti bertanggung jawab atau sekinin (責任).
2.3 Teori Rinri-teki Sekinin (倫理的倫理的倫理的倫理的責任責任責任責任)
Dalam Weblio (2014), rinri (倫理) diartikan sebagai ethics (etika) atau morals (akhlak, moral). Sedangkan sekinin (責任) berarti tanggung jawab. Sehingga, rinri-teki sekinin (倫 理 的 責 任) dapat diartikan sebagai ethical responsibility (tanggung jawab etika).
Arti rinri (倫理) menurut Ōba (2005:36) adalah: 「倫理 り ん り とは、現 げん にわれわれがそうであるような人間 にんげん というあり方 かた を 可能 か の う にしている、もっとも基本的 き ほ ん て き な規範 き は ん の総体 そうたい だから、である。」 Terjemahan:
Yang artinya, moral adalah norma dasar yang pada umumnya mengatur bagaimana seharusnya manusia hidup.
Moral merupakan sebuah norma yang ada dimasyarakat yang berfungsi untuk mengatur kehidupan kelompok masyarakat tertentu. Moral menjadi pedoman seorang manusia untuk menjalankan kehidupannya, sebagaimana seorang manusia menjalankan kehidupan sehari-hari. Tanpa moral, manusia tidak dapat hidup di tengah kelompok masyarakat. Moral juga digunakan seseorang untuk melakukan pekerjaan. Dalam masyarakat kerja, moral juga menjadi pedoman seseorang dalam bekerja (Ōba, 2005:36).
Ōba (2005:24) juga menjelaskan pengertian dari bertanggung jawab, sebagai berikut: 「責任 せきにん を担 にな うということは、 消 極 的 しょうきょくてき には、呼 よ びかけられていると い う 事実 じ じ つ を 黙殺 もくさつ せ ず 、 答 こた え る こ と を 期待 き た い さ れ て い る と い う 事実 じ じ つ を 無視 む し しないことである。し かし、より 積 極 的 せっきょくてき には、 責任 せきにん を担 にな うと いうことは、応答 おうとう を期待 き た い しにくいときでも、呼 よ びかける努力 どりょく をやめ ず、答 こた えされないという感 かん じでも、答 こた えようとする姿勢 し せ い を崩 くず さない、 ということである。」 Terjemahan:
Bertanggung jawab secara pasif adalah tidak mengabaikan kenyataan dan
harapan seseorang yang meminta pertanggungjawaban. Tetapi,
bertanggung jawab secara aktif adalah berusaha untuk bertanggung jawab terhadap sesuatu walaupun kelihatannya tidak mungkin dan tidak berhenti berusaha.
Orang yang bertanggung jawab secara pasif maksudnya adalah seseorang tidak mengabaikan bahwa dia berbuat kesalahan kepada orang lain dan tetap memegang harapan orang lain tersebut atas pertanggungjawaban dari dirinya. Orang yang
bertanggung jawab secara pasif memiliki perasaan bersalah tetapi tidak melakukan suatu tindakan untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang dia perbuat (Ōba, 2005:24).
Orang yang bertanggung jawab secara aktif adalah tidak hanya perasaannya saja yang bersalah namun juga berusaha untuk menebus kesalahannya tersebut walaupun pertanggungjawaban tersebut mustahil untuk dilakukan (Ōba, 2004:24).
Berikut adalah penjelasan Ōba (2005:36) mengenai rinri-teki sekinin (倫理的責
任), yaitu: 1. それぞれにシステムとして限定 げんてい された法的 ほうてき な責任 せきにん 、政治的 せ い じ て き ・社会的 しゃかいてき な 責任 せきにん 2. あ ら ゆ る シ ス テ ム を 超越 ちょうえつ し た 形而上学的 けいじじょうがくてき ・ 宗 教 的 しゅうきょうてき な 無限定 む げ ん て い の 責任 せきにん の、ちょうど間 あいだ に位置 い ち する 3. 配慮 はいりょ や弁済 べんさい の義務 ぎ む にも還元 かんげん できず 4. 遂行不能 す い こ う ふ の う な超越的賦課 ちょうえつてきふか でもない Terjemahan:
1. Sebuah sistem yang dibatasi oleh tanggung jawab sebagai hukum, tanggung jawab sebagai politik dan tanggung jawab sebagai sosial.
2. Etika diletakkan tepat ditengah tanggung jawab sebagai agama yang tidak terbatas yang melampaui semua sistem.
3. Tidak mengurangi kewajiban untuk mempertimbangan dan menyelesaikan masalah.
4. Memenuhi pembebanan tanggung jawab.
Rinri-teki sekinin merupakan sistem yang membatasi setiap tindakan pertanggungjawaban berdasarkan hukum, politik, dan sosial. Setiap tindakan pertanggungjawaban tersebut pasti dilandasi oleh moral atau rinri (倫理). Moral juga menjadi pusat sebagai pertanggung jawaban secara agama sehingga semua tindakan tanggung jawab secara agama akan didasari oleh moral. Moral digunakan manusia sebagai dasar atau pegangan untuk mengambil tanggung jawab terhadap sesuatu dan moral tidak dapat digunakan untuk mengurangi atau mempertimbangkan suatu tindakan tanggung jawab (Ōba, 2005:36).
Moral juga merupakan elemen yang paling tinggi yang ada ditengah masyarakat, dan mengatur masyarakat baik secara perbuatan maupun perkataan. Moral menjadi pedoman hidup dalam kehidupan manusia yang paling penting dan tidak bisa dipisahkan dari manusia. Jika manusia hidup tanpa moral, maka dia tidak akan bisa hidup dan berbaur dengan masyarakat yang ada disekitarnya.
2.4 Konsep Tanggung Jawab
Dalam bahasa Jepang, tanggung jawab adalah sekinin (責 任). Sekinin (責 任)
diambil dari kata semeru (責める) dan makasu (任す). Semeru (責める) dalam kamus
Weblio (2014) diartikan sebagai torture (menyiksa), criminate (menyalahkan),
reprimand (menegur), censure (mengkritik), dan sebagainya. Sedangkan makasu (任す)
diartikan sebagai confide (mengutarakan), entrust (mempercayakan), commit (berkomitmen).
Pada umumnya, tanggung jawab merupakan suatu kata yang terasa sangat berat dan sulit untuk dipahami. Tanggung jawab berarti kewajiban untuk memperbaiki kesalahan atau kejahatan yang diperbuat pada masa lalu (Ōba, 2005:12).
Ketika seseorang hendak bertanggung jawab terhadap sesuatu, dia harus memikirkan lebih awal, yakni dia harus menyadari bahwa dirinya bisa merefleksikan “mengapa saya harus bertanggung jawab?” dan “sampai mana saya harus mempertanggungjawabkan sesuatu?” (Ōba, 2005:40).
Suatu hal yang dapat kita mengerti mengenai tanggung jawab (Ōba, 2005:12) adalah :
1. Tanggung jawab yang berhubungan dengan tindakan pada masa lalu.
2. Tanggung jawab yang dinilai berdasarkan norma saat ini.
3. Menebus kesalahan berdasarkan prosedur atau tata cara yang ada.
Menurut Takikawa (Okuda, 2013), tanggung jawab dibagi menjadi dua jenis, yaitu: 1. 過去 か こ に関 かん する 責任状況 せきにんじょうきょう a. ある行為 こ う い の結果 け っ か 、何 なん らかの問題 もんだい が生 しょう じた状 況 じょうきょう である
b. 事態 じ た い は加害 か が い /被害 ひ が い の関係 かんけい の関連 かんれん の中 なか で把握 は あ く される c. 被害 ひ が い の特定 とくてい 、被害 ひ が い と加害者 か が い し ゃ との関連性 かんれんせい に伴 ともな う加害者 か が い し ゃ への問責等 もんせきなど が 要請 ようせい される d. 規範 き は ん に対 たい する違反 い は ん が存在 そんざい しているのでなければならない 2. 未来 み ら い に関する 責任状況 せきにんじょうきょう a. 何 なん らかの果 は たされるべき課題 か だ い が生 しょう じている状 況 じょうきょう である b. なされるべき責務 せ き む を明確化 め い か く か するよう要請 ようせい される c. この責務 せ き む の明確化 め い か く か に際 さい して、何 なん らかの規範 き は ん が 参照 さんしょう される Terjemahan:
1. Tanggung jawab yang berhubungan dengan masa lalu adalah:
a. Adanya permasalahan yang muncul akibat hasil dari suatu tindakan. b. Mengetahui hubungan antara pihak yang merugikan dan dirugikan.
c. Pihak yang dirugikan meminta pertanggungjawaban berdasarkan
keterkaitan antara pihak yang merugikan dan dirugikan.
d. Harus ada penyimpangan terhadap norma.
2. Tanggung jawab yang berhubungan dengan masa yang akan datang, adalah:
a. Adanya sebuah tugas yang harus dipenuhi.
b. Meminta pertanggung jawaban sesuai dengan klarifikasi.
c. Sewaktu mengklarifikasikan pertanggungjawaban, norma yang ada juga diperiksa.
Takikawa (Okuda, 2013) menjelaskan bahwa bertanggungjawab akan kesalahan pada masa lalu adalah ketika seseorang melakukan suatu tindakan dan dari tindakan tersebut menghasilkan sebuah permasalahan dari tindakan itu. Pada saat seseorang akan melakukan sebuah pertanggungjawaban, hubungan antara pihak yang merugikan dan
yangdirugikan haruslah diketahui dan dipahami terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar pihak yang merugikan melakukan pertanggungjawabannya atas alasan yang benar. Setelah mengetahui dan memahami hubungan tersebut, pihak yang dirugikan dapat meminta pertanggungjawaban kepada pihak yang telah merugikannya. Dalam tindakan yang dilakukan pihak yang merugikan adanya penyimpangan norma yang ada dalam suatu kelompok sosial. Contohnya, seperti tanggung jawab yang dilakukan oleh pengendara mobil yang menabrak pejalan kaki karena pengendara mobil melanggar peraturan lalu lintas.
Takikawa (Okuda, 2013) mengemukakan bahwa bertanggungjawab akan masa yang akan datang adalah ketika seseorang memutuskan untuk melakukan suatu tindakan pada masa yang akan datang dan mengetahui permasalahan yang akan timbul pada saat itu. Dia harus mengetahui dengan jelas pertanggungjawaban yang akan dia pikul ketika adanya permasalahan yang timbul. Pada saat itulah, orang-orang dilingkungan sekitarnya akan memeriksa dia memiliki norma atau etika. Contohnya seperti orangtua yang akan mengadopsi seorang anak.
Berikut adalah struktur tanggung jawab menurut Takikawa (Okuda, 2013): 1. Stuktur tanggung jawab pada masa lalu
Seseorang meminta pertanggungjawaban atas sebuah penyebab yang bertentangan dengan norma kepada orang ke-3 yang memegang beban pertangungjawaban tersebut.
2. Struktur tanggung jawab pada masa yang akan datang
Seseorang meminta pertanggungjawaban atas suatu penyebab yang berdasarkan norma adanya penyelesaian atas suatu masalah kepada orang ke-3 yang memegang beban tanggung jawab tersebut.
Strukur tindakan tanggung jawab pada masa lalu adalah seseorang yang meminta pertanggungjawaban atau sebagai korban yang meminta pertanggungjawaban kepada orang ke-3 (organisasi / kelompok pelaku berada) atas seseorang yang berperilaku yang bertentangan dengan norma (pelaku) di masa lalu.
Struktur tindakan tanggung jawab pada masa yang akan datang adalah seseorang meminta pertanggungjawaban (korban) meminta pertanggung jawaban kepada orang
ke-3 (organisasi / kelompok pelaku berada) atas hasil yang akan muncul apabila seseorang bertentangan dengan norma dimasa yang akan datang.
Contohnya, seorang perdana menteri melakukan kesalahan pada masa lalu (pelaku) yang menyebabkan masyarakat (korban) meminta pertanggung jawaban kepada partai tempat perdana menteri tersebut berada (orang ke-3). Kemudian, partai tersebut meminta perdana menteri tersebut bertanggung jawab atas kesalahannya dan menyebabkan perdana menteri tersebut memutuskan untuk mengundurkan diri.
Konsep tanggung jawab menurut Takikawa (Okuda, 2013) dibagi menjadi sebagai berikut:
1. Tanggung jawab berdasarkan norma:
a. Tanggung jawab sebagai hukum (法的責任
ほうてきせきにん
), tanggung jawab ketika melanggar hukum.
b. Tanggung jawab sebagai moral (道徳的責任
どうとくてきせきにん
), tanggung jawab ketika melakukan penyimpangan moral.
c. Tanggung jawab sebagai politik (政治的責任
せいじてきせきにん
), tanggung jawab ketika melakukan penyimpangan aturan politik.
d. Tanggung jawab ilmiah (学問的責任
がくもんてきせきにん
); tanggung jawab ketika melakukan peyimpangan ilmu pengetahuan.
2. Tanggung jawab berdasarkan akibat:
a. Tanggung jawab berdasarkan tindakan (行為責任
こ う い せ き に ん
), tanggung jawab atas suatu tindakan.
b. Tanggung jawab berdasarkan hasil (結果責任
け っ か せ き に ん
), tanggung jawab atas hasil yang muncul.
c. Tanggung jawab yang berasal dari kemauan sendiri ( 自己責任
じ こ せ き に ん ); tanggung jawab atas pemikiran sendiri.
3. Tanggung jawab berdasarkan penanggung jawab:
a. Tanggung jawab pribadi (個人責任
こ じ ん せ き に ん
), tanggung jawab pribadi atas kemauan sendiri.
b. Tanggung jawab kelompok (集 団 責 任
しゅうだんせきにん
), tanggung jawab yang dilakukan secara berkelompok.
4. Tanggung jawab berdasarkan pihak yang meminta pertanggungjawaban:
a. Tanggung jawab umum (通常
つうじょう
の責任 せきにん
), tanggung jawab yang dilakukan atas dasar karakteristik pribadi.
b. Tanggung jawab sosial (社会的責任
しゃかいてきせきにん
), tanggung jawab karena kelompok sosial yang tidak bisa berbaur dengan kepribadian yang khusus.
5. Tanggung jawab berdasarkan subjek:
a. Tanggung jawab antar pribadi (対人責任
たいじんせきにん
), tanggung jawab yang berhubungan dengan orang lain.
b. Tanggung jawab terhadap suatu benda (対物責任
たいぶつせきにん
), tanggung jawab yang berhubungan dengan suatu objek atau benda.
6. Tanggung jawab berdasarkan kewajiban:
a. Tanggung jawab perkara perdata (民事責任
み ん じ せ き に ん
), tanggung jawab akan kerusakan.
b. Tanggung jawab sebagai pidana (刑事責任
け い じ せ き に ん
), tanggung jawab akan permasalahan pidana.
Manusia yang bijak mengambil keputusan untuk bertanggungjawab terhadap sesuatu, tentunya tidak terlepas dengan kredibilitas (信用性) masa lalu dan akan tetap menjaga kredibillitas tersebut demi tanggung jawab masa depan.
Menurut Sano (1996:26) bertanggung jawab diartikan sebagai berikut: 「『責任 せきにん ととる』ことを『社会的存在 しゃかいてきそんざい として個人 こ じ ん が、相互関係 そ う ご か ん け い のあ る種 しゅ の契約 けいやく に基 もと づいて暮 く らしている他 ほか の人 ひと に対 たい して 忠実 ちゅうじつ であるこ と』としている。」 Terjemahan:
Bertanggung jawab diartikan sebagai seseorang yang berada ditengah masyarakat hidup berdasarkan persetujuan bersama dan setia kepada orang lain
Sano (1996:26) mengatakan bahwa tanggung jawab merupakan persetujuan atau keputusan yang telah diambil secara bersama dengan masyarakat. Tanggung jawab bersama adalah dalam kehidupan bermasyarakat, haruslah berbuat kebaikan dalam situasi apapun, dan mempunyai norma sosial dan prinsip moral bersama. Tindakan tanggung jawab ini juga harus dilakukan oleh setiap orang yang berada dalam masyarakat tersebut jika melakukan sebuah kesalahan atau kegagalan tanpa terkecuali.