• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA VOKAL PENDEK DAN PANJANG BAHASA BALI. I Nengah Sudipa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKNA VOKAL PENDEK DAN PANJANG BAHASA BALI. I Nengah Sudipa"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

MAKNA

VOKAL PENDEK DAN PANJANG

BAHASA BALI

I Nengah Sudipa

(2)

Hak Cipta pada Penulis. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang :

Penulis: I Nengah Sudipa Perancang Sampul :

Made Henra Dwikarmawan Sudipa Penata Letak:

Swasta Nulus Diterbitkan oleh: SWASTA NULUS

Jl. Tukad Batanghari VI.B No. 9 Denpasar-Bali Telp. (0361) 241340 Email: [email protected] Cetakan Pertama : 2019, v + 92 hlm, 14,8 x 21 cm ISBN:

MAKNA

VOKAL PENDEK DAN PANJANG

BAHASA BALI

(3)

PRAKATA

Terbitnya buku kecil ini diandaikan seberkas sinar untuk menerangi prilaku yang semakin-redup pada ranah penggunaan sebuah bahasa daerah. Secercah cahaya seperti ini sangat diperlukan untuk menanggulangi adanya dinamika yang cenderung merongrong eksistensi bahasa Bali sebagai wahana komunikasi etnik di Bali.

Ukuran buku ini tipis tetapi sumbangannya akan kian tebal manakala pembaca menyadari bahwa punahnya sebuah bahasa lokal berawal dari masalah kecil. Katakanlah sebagai contoh yang dianggap sepélé bahwa kita tidak mampu membedakan makna bunyi vokal tunggal-pendek [a]  jan ’bermakna tangga’ dengan vokaljajar yang dilafalkan panjang [aa]  jaan ’berarti enak’. Tentu hal ini dampaknya sangat besar dalam penggunaan bahasa Bali yang tepat secara kaidah linguistik dan patut dari nilai budaya penuturnya.

(4)

Perda no 3/1992 yang disempurnakan menjadi Perda no. 1/2018. Perda yang ditetapkan pada sidang DPRD Bali Kamis 22 Maret 2018 ini, memberi payung yang menyejukkan lahirnya Pergub No. 80 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Buku ini juga dirancang sekaligus ikut menyiapkan rencana bahwa Perguruan Tinggi di Bali akan diberikan matakuliah Bahasa, Aksara dan Sastra Bali, dalam bentuk Mata Kuliah Dasar (MKD) yang diselaraskan dengan kondisi prodi bersangkutan. SEMOGA!

Denpasar, 31 Juli 2019 *** (enampuluhlimatahunusiaku)

(5)

DAFTAR ISI

Ilustrasi

Prakata ... iii

Daftar Isi ... v

I. PENDAHULUAN ... 1

II. MAKNA VOKAL PENDEK DAN VOKAL PANJANG ... 7 2.1 [a] vs [aa] ... 7 2.2 [i] vs [ii] ... 31 2.3 [u] vs [uu] ... 37 2.4 [é] vs [éé] ... 54 2.5 [o] vs [oo] ... 57 2.6 [e] vs [ee] ... 63 III. SIMPULAN ... 85 Pustaka Acuan ... 87 Glosarium ... 89 Indeks ... 92 Profile Penulis

(6)

Kutipan

Many languages show contrasts between long and short vowels and consonants. A distinctive difference in length is attributed by some phonologists to a unit called a chroneme. Thus, Italian has the following minimal pair that is based on long and short /l/:

Spelling IPA Meaning

Pala /ˈpala/ Shovel

Palla /ˈpalla/ Ball

A Dictionary of Linguistics and Phonetics (Crystal, 2008 :76) ...

Chroneme an abstract unit, used by some PHONOLOGISTS as a

means of describing phonologically CONTRASTIVE differences in the length of speech sounds. Both vowels and consonants may display phonemic contrasts in length: long and short vowels are found in German, long and short consonants in Estonian. The vowel-lenght differences in English, such as in bit [bit] and beat [bi:t]

“In phonology, minimal pairs are pairs of words or phrases in a

particular language, spoken or signed, that differ in only one

phonological element, such as

a phoneme, toneme or chroneme, and have distinct meanings.

They are used to demonstrate that two phones are two separate phonemes in the language.

Secara ringkas bisa dikatakan bahwa, chroneme dalam linguistik adalah unit bunyi secara teoritis yang dapat membedakan kata hanya dengan durasi vokal dan konsonan, seperti kutipan berikut:

In linguistics, Chroneme is a basic, theoritical unit of sound that can distinguish words by duration only of a vowel or consonant”

(7)

I.

PENDAHULUAN

Ilmu linguistik - pada sejumlah sumber - membagi diri dalam dua bidang besar (1)

Mikrolinguistik dan (2) Makrolinguistik.

Mikrolinguistik terdiri atas kajian : (a) Fonologi, (b) Morfologi, (c) Sintaksis dan (d) Semantik, sedangkan Makrolinguistik adalah kajian gabungan antara bahasa yang dikaitkan dengan bidang di luar kebahasaan, seperti yang terkait dengan sosiologi disebut sosiolinguistik, terkait dengan psikologi dinamai psikolinguistik dan lain-lainnya.

Kajian bunyi yang disebut Fonologi berintikan dua unsur yang membangunnya yaitu (1) fonem segmental dan (2) fonem suprasegmental. Yang disebut duluan merupakan bunyi yang disusun oleh fonem yang bisa disegmentasikan, seperti : makan terdiri atas fonem segmental : /m//a//k//a//n/, yang disebut belakangan juga diistilahkan prosodi adalah bunyi-bunyi yang tidak bisa disegmentasikan karena

(8)

berada di atas ‘supra’ fonem segmental, seperti : (1) tekanan bunyi ’stress’, (2) tinggi-rendahnya bunyi ‘pitch’, (3) lagu kalimat ‘intonation’, dan (4) pemanjangan bunyi ‘pause’

Khusus masalah pemanjangan bunyi yang sering ditandai dengan jajardua vokal : [aa], [ii], [uu], [ēē], [oo] dan [ee] bila disanding bunyi pendek, seperti [a], [i], [u], [é], [o] dan [e] dalam pasangan minimal akan memiliki makna berbeda. Persoalan pendek dan panjangnya bunyi vokal tidak terjadi pada bahasa Bali saja, melainkan secara lintas bahasa sangat sering muncul. Dalam Bahasa Inggris ada : Ship [ʃip] ‘kapal’ dibandingkan dengan bentuk sheep [ʃi:p] ‘biri-biri’;

love [lav] ‘cinta’, dengan laugh [la:f] ‘tertawa’; Bahasa

Jepang memiliki bentuk shujin [sujin] ‘suami’ berbeda makna dengan shuujin [su:jin] ‘orang yang dipenjara’,

kyonen [kyonén] ‘tahun lalu’ dan kyoonen [kyo:nén]

‘tahun meninggal’. Dalam bahasa Thai-Thailand ada contoh seperti pa [phaa] berarti terpisah ‘split’, sedangkan pa [pa:a] berarti hutan ‘forest’ (informan:

Mr. Ēpéng, 28 tahun, guide sewaktu berwisata ke Thailand, 23-26 Desember 2017). Pada bahasa

(9)

Data empiris yang dikumpulkan dalam buku ini - berasal dari pemakaian lisan dan tulisan - mengindikasikan bahwa ada sejumlah kasus yang perlu ditelaah. Telaah perbedaan pendek dan panjang bunyi vokal pada kosakata bahasa Bali, yang setelah disandingkan dalam pasangan minimal ‘minimal pair’ pasti memberi faedah yang signifikan. Signifikansi perbedaan makna muncul karena satu sama lain (vokal pendek vs vokal panjang) memang berbeda secara ortografi ‘ejaan’. Ejaaan yang berbeda antara [a] dengan [aa] pada contoh lad dan laad secara sederhanapun pasti menampakkan makna yang berbeda. Urutan dari daftar ini ditulis sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan dan gampang dipahami maknanya. Mudahnya memahami tentu berkat sumbangsih konsep meaning configuration yang terselip pada metabahasa, sebuah telaah makna bahasa dengan perangkat bahasa, seperti kutipan dari

buku Natural Language Semantics oleh Prof. Keith

Allan (2001:8)

A metalanguage is just another language, often

an artificial and not a natural one. One important practical constrain on a metalanguage is that (mostly)

(10)

normally communicate in a natural language of which they have fluent command.

Atas dasar itulah setiap leksikon dalam buku ini dipetakan bersandar atas : entitas, proses, alat dan

hasil sebagai contoh:

Don jelanané lad wiréh ibi ada linuh

‘Daun pintu itu lepas karena kemarin ada gempa’ Lapin aji tisu tikehé apang sing magenyi laad ulungin lengis

‘Bersihkan dengan tisu tikar itu supaya tidak kotor

bekas kejatuhan minyak’

Cara kerja Metabahasa:

Leksikon Entitas Proses/ Cara

Alat Hasil Makna Bahasa Indonesia Lad Pintu/

kosen

Cepat Gempa Pisah antara kosen-daun pintu

Lepas

Laad Minyak Pelan Tisu/lap Ada tersisa

(11)

profiles.arts.monash.edu.au permission

(12)

Buku Rujukan memuat Pendekatan Metabahasa

(13)

II.

MAKNA VOKAL PENDEK

DAN VOKAL PANJANG

2.1 [a] vs [aa]

B

bah ‘jatuh, terjatuh’ : manusia, ‘rebah’ : pohon Sing inget kén awak jag suba bah i mémé malun paoné

‘Tanpa sadar tiba-tiba terjatuh ibu di depan dapur’

Kanti bah bangun iraga nguber tukang misé, jag kapah-kapah liwat di rurungé jani

‘Sampai jatuh bangun mengejar tukang sampah itu, kok jarang lewat sekarang di gang ini’

Ulian angin baret atenga punyan padiné bah lakar kéweh manyi

‘Karena angin kencang, sebagian pohon padi itu

(14)

baah ‘luka yang membengkak’

Tatun baisné sayan baah wiréh anggona megaé selid sanja

‘Luka kakinya semakin bengkak karena dipakai bekerja siang malam’

Eda kuceka petingalanné ané enu barak apang tusing baah

‘Jangan diseka-seka matamu yang masih merah supaya tidak bengkak’

ban ‘ban, roda’

Dija lakar nganti ban suba sanja, sing dadi mani semengan apa?

‘Di mana akan mengganti ban sudah sore, tak bisa besok pagi?’

Dadi masi liwat truk meban akutus di jalan Tol ‘Bisa juga lewat truk beroda delapan di jalan Tol’ baan ‘dengan, oleh’

Imaluan setondén pada nawang pipis, meli jukut katukar baan uyah

‘Jaman dahulu sebelum sama-sama mengenal uang, membeli sayur dengan garam’

(15)

‘Kelapa dua butir bisa dipikul oleh adiknya yang masi kecil’

baan ‘meja’ biasanya untuk main kartu, ceki; papan untuk catur’

Suba makelo ngantosang lakar maceki, baané di bucu enu puyung

‘Sudah lama menunggu akan main ceki, mejanya yang dipojok masih kosong’

Selid sanja yén libur murid-muridé pada mapalyan rémi kanti duang baan

‘Siang malam kalau libur murid-murid itu asyik main kartu remi sampai dua meja’

Dija kadén janga baan caturé, sing nyak dini punduhanga suud nganggo

‘Dimana mungkin papan catur itu ditaruh, tidak mau di sini dikumpulkan habis pakai’

bang ‘merah’

Pucuk bang luung anggo bungan udeng apang bungah

‘Pucuk merah bagus dipakai bunga destar supaya berseri’

(16)

baang ‘berikan

Da baanga ngamah banyu ané mewadah pané, ento suba i puan masekeh ditu

‘Jangan diberikan makan sisa air yang ada di cobek, itu sudah dua hari disimpan disana’ bas ‘terlalu’

Jani suba liu anak bas momo ngulurin indria, engsap tekén awak lacur ipidan

‘Sekarang sudah banyak orang terlalu serakah menuruti keinginan, lupa akan diri miskin dahulu’

Bes kéné bes kéto culigné, luungan kalain suba

mulih

‘Terlalu begini, terlalu begitu cerewetnya, lebih baik tinggalkan saja pulang’

baas ‘beras’

Ento ada baas barak abaanga uli Jati Luwih, jakan dadi apang jaanan

‘Itu ada beras merah yang dibawakan dari Jati Luwih, bisa dimasak supaya lebih enak’

Eda tuah ngaba baas ajak saang yén kemo kundangan nah

(17)

‘Jangan bawa beras dan kayu api saja kesana kalau diundang ya’

batan ‘di bawah’

Duduk makejang saangé ané mapunduh batan selaané, aba ka paon jang di punapi

‘Ambil semua kayu api yang terkumpul di bawah tempat duduk, bawa ke dapur taruh di atas tungku’

Pules-pulesan batan punyan kayuné tengai-tengai sinah suba tis

‘Tidur-tiduran di bawah pohon kayu siang-siang pasti sudah sejuk’

baatan ‘keberatan, lebih berat’

Melahang ningting muncuk kayuné, romba ajak liu wiréh baatan ka bongkol

‘Baikkan mengangkat ujung atas kayu itu, tolong bersama karena lebih berat pada bagian

bawahnya’

Trek ané uli Karangasem tusing nyidayang menék wiréh baatan ngaba bias

‘Truk yang dari Karangasem tidak bisa naik karena keberatan bawa pasir’

(18)

D

dar->cedar ‘bunyi letusan senapan’

Nyén uyut main cedar cedaran sing tawanga lakar pules masandekan

‘Siapa ribut main senapan tidak tahu akan tidur istirahat’

daar ‘makan’

Ondén mirib ia medaar pantes gedeg makejang opaka

‘Belum mungkin dia makan pantas marah semua diomelin’

Uli tuni suba dini, lan medaar malu apang tusing seduk bareng ngantosang

‘Dari tadi sudah di sini, ayo makan dulu supaya tidak lapar bersama menunggu’

dara ‘burung merpati’

Ipidan ia demen ngubuh kedis dara kanti telah pipisné anggona meli mamaanné

‘Dulu dia senang memelihara burung merpati sampai habis uangnya dipakai membeli

(19)

daara ‘dimakan’

Pules uli ituni tusing makrisikan, pantes suba wareg basangné, jajanné onyo daara

Tidur dari tadi tidak bergerak-gerak, betul sudah kenyang, jajannya habis dimakan’

das ‘hampir’

Yén sing énggal alianga balian, ibi ia suba das mati kena cetik

‘Kalau tidak segera dicarikan dukun, kemarin dia sudah hampir mati kena racun’

Das maserod majalan di pundukané krana

sambilanga melaib

‘Hampir tergelincir berjalan di pematang karena sambil berlari’

daas –>daas-doos ‘terengah-engah’

Bas makelo mongkod punyan nyuhé, kanti

daas-doos negak dipapahné

Terlalu lama memanjat pohon nyiur, sampai

(20)

J

jan ‘tangga’

Jemakang jan ajebos lakar anggo menék menahin raab

‘Ambilkan tangga sebentar akan dipakai naik memperbaiki atap’

Dané sampun dados jan-banggul ngayah ring Pura Paibon

‘Beliau sudah menjadi tangga ‘media spiritual’ melayani umat di Pura Keluarga’

jaan ‘enak’

Ditu mara jaan, lang ajaka madaar acepok gén ‘Di sana baru enak, ayo kita makan sekali saja’ Babar jaan doén orahanga dedaran ané gaéna tekén I mémé

‘Selalu enak saja dikatakan makanan yang dibuat oleh ibunya’

jang ‘taruh’; ngejang ‘menaruh’

Mai aba, dini jang sepedané apang sing ujanan ‘Kesini bawa, di sini taruh sepeda itu supaya tidak kehujanan’

(21)

Sesai makacakan bajunné yén teka uli masuk, sing bisa ngejang di lemari

‘Setiap hari berserakkan bajunya kalau datang dari sekolah, tidak bisa menaruh di almari’ jaang ‘kejur, berdiri tegak’, biasanya rambut.

Nyén ento ané mebok jaang ‘Siapa itu yang rambutnya kejur?’

Suahin boké jangin lengis abedik apang tusing

jaang

‘Sisir rambutmu isi minyak sedikit supaya tidak

berdiri’

K

kal ‘akan’

Suba ujan-ujan, kal kija jani?, ngoyong ja jumah sing dadi mani pesu

‘Sudah hujan-hujan, mau kemana sekarang?, diam saja di rumah kok tidak bisa besok ke luar’ Yén sing baanga pipis, jag kal sing mulih-mulih, mekaad uli jumah

‘Kalau tidak dikasi uang, pasti akan tidak pulang-pulang, pergi dari rumah’

(22)

kaal->kual ‘nakal’

Kaal gati anaké cenik ento, sing dadi orahin suud

malaib kemo-mai

‘Nakal sekali anak kecil itu, tidak bisa dinasehati berhenti berlari kesana kemari’

Yén tusing kual sing apa lakar bani mulih peteng-peteng padidiana

‘Kalau tidak nakal tidak akan berani pulang malam-malam sendirian’

kadang ‘keluarga, sanak saudara’

Ramia kadang sané prasida rauh ka peken Anyar

’Ramai sanak saudara yang datang ke pasar Baru’

kaadang ‘buang, pisahkan, jauhkan’

Kéné suba lakar teka tamiuné, kaadang malu kulit rokoné ané makacakan

‘Begini sudah hampir datang tamunya,

singkirkan dulu kulit rokok yang berserakan’

Saangé ané enu matah kaadang aba ka batan baléné apang gampil

(23)

L

lad ‘lepas’

Dugas linuhé ané keras ento, don jelanané lad, ondén maan menain

‘Waktu gempa yang keras itu, daun pintu lepas belum dapat memperbaiki’

Kanti lad asan cadiké ngorahing pang telu pang pat, sing masih nyak mandus

‘Hampir lepas rasa mulutku memberitahu tiga empat kali, tidak juga mau mandi’

laad ‘bekas’

Malengis pipin ceningé, laad apa ento? ‘Berminyak pipimu nak?, bekas apa itu?

Jemak lap lantas gebeg kursiné apang ilang laad enceh kuluké

‘Ambil serbet lalu gosok kursi itu supaya hilang

bekas kencing anjing itu’

lap ‘alat pembersih, bersihkan, alat mengeringkan’ Béh adi kéné makacak cét kayuné di téhelé, énggalang lapin apang tusing neket

‘Kok bisa begini berserakan cet kayu di lantai, cepat bersihkan supaya tidak lengket’

(24)

Nguda enu beseg boknē, bah ento anduk belus anggona lap pantes kēto

‘Mengapa masih berair rambutmu, oh ya

handuk basah dipakai alat mengeringkan pantas begitu’

laap ‘labrak, terobos‘

Kapi sing baanga liwat jag laap doén apang énggalan suud

‘Kalaupun tidak dikasi lewat labrak saja supaya lebih cepat selesai’

Laap..uber apang simalu neked

‘Terobos.. kejar supaya pertama tiba’ lah ‘keadaan, situasi’

Tusing nawang lah jag ditu majujuk ngilidan anak mabalih mapééd

’Tidak tahu situasi kok disana berdiri menghalangi orang menonton pawai’ laah-> lahlaahina ‘ditulari’

Johang negak nyanan laahina kerék koréng baisné

‘Jauhkan duduk nanti ditulari kudis gatal kakinya’

(25)

M

mang->Komang ‘panggilan anak nomor urut ketiga, lihat Nyoman, Koming

Mang, mang mai malu, payu milu ka peken?

‘Komang..komang sini dulu, jadi ikut ke pasar?. Kija jani melali mang? nyéntrik gati

penganggoné

‘Kemana sekarang berwisata Komang? Aneh sekali pakaianmu’

mang ‘nama ikan laut menyerupai ular’

Sing bani ngelangi orahanga ada mang disisin pasihé

‘Takut berenang dikatakan ada ikan menyerupai

ular di pinggir laut’

maang ‘memberikan’

Ondén nyidayang maang pipis jani, tiang lakar nyilih malu ka pisaga

‘Belum bisa memberikan uang sekarang, saya akan pinjam dulu ke tetangga’

Cenik-ceniké suba nganggo motor diastun sing

(26)

‘Anak-anak sudah mengendarai sepeda motor walaupun tidak diberikan oleh orang tuaya’

Baang naké ngidih dedaaran, bes kekéné ja

kéweh alih-alihané jani

‘Berikan ya minta makanan, karena begini ya

sulit usaha hidup kini’ mapan ‘karena’

Ia tusing masekolah mapan bapanné suba ngalahin

‘Dia tidak bersekolah karena bapaknya sudah meninggal’

Mapan sing ngelah pipis, ia ngidih-ngidih kemo

mai

‘Karena tidak punya uang, dia meminta-minta kesana kemari’

maapan ‘bersemuka, berhadapan’

Ditu tiang ngoyong di umahné ané maapan ajak Pura Desa

‘Disana saya tinggal di rumah yang berhadapan dengan Pura Desa’

Dugas masekolah sambil ngungsi, muridé negak

(27)

Waktu bersekolah sambil mengungsi, murid-murid duduk berhadap-hadapan karena tidak ada meja’

N

nanang ‘ayah’

Kemo ajak nanangé meli kopi di warung apang angetan awaké

‘Sana dengan ayahmu membeli kopi di warung supaya badanmu agak hangat’

Nanang tusing nawang, panaké suba juang anak

‘Bapak tidak tahu, anakku sudah dilarikan orang’ naanang’menahan’

Daah duuh panakné naanang sakit basangné uli ibi sanja

‘Jerat jerit anaknya menahan rasa sakit perutnya sejak kemarin sore’

Kéweh maan meli tuak, bes makelo naanang bedak, kanggo yéh malu anggo ngilangan kita ‘Sulit dapat membeli nira, terlalu lama menahan haus, ya cukupkan dulu air dipakai

(28)

ngah->Nengah, panggilan anak nomor urut kedua’, lihat Madé, Kadék

Mai malu ngah negak dini ajaka nyatua-nyatua, makelo tusing taén tepuk

‘Sini dulu Nengah duduk sambil cerita-cerita, lama tidak pernah bertemu’

ngaah ‘sakit sekali’

Ngaah pesan yén busul mincid

‘Sakit sekali kalau bisul kecil’

ngas ‘bau seperti aroma kambing, domba’

Benehang nelahin bé kambingé apang ilang

ngasné aji limo

‘Baikkan membersihkan daging kambing itu dengan jeruk nipis supaya tidak berbau seperti domba’

ngaas(ang) ‘rontok’ : rambut, bulu

Adi bokké sayan ngaasang bedik-bedik bisa telah

‘Kok rambutmu semakin rontok sedikit-dikit bisa gundul’

(29)

nyang ‘pun’

Nyang aukud kanggo anggo jatu

‘Satu ekor pun bisa untuk simbol’

nyang ‘memangku bayi di pinggang kiri, kanan pinggang’

Baat ngenyang adinné uli kauh majalan, tuunang dini marérén ajebos

‘Berat memangku adiknya dari barat berjalan, turunkan di sini berhenti sejenak’

nyaang ‘pucat, seperti sakit’

Uli pidan muan ceningé kekéné jag nyaang apa sakit?

‘Sejak kapan wajah kamu begini kok pucat sakit apa?’

P

pa ‘per’, pateluan ‘pertigaan’, pampatan->pa+empat +an’ ‘perempatan’

Dija umah timpalé?, da bélok nah di pateluan jag beneng apang tusing paling

‘Di mana rumah temanmu?, jangan berbelok ya di pertigaan lurus saja supaya tidak sesat’

(30)

Biasa ada palinggih di pampatan wastanina catur muka

‘Biasa ada tugu suci di perempatan dinamakan

catur muka’

paa ‘paha’ lihat paan

Betén paa makamben apang luung maturan ka Pura

‘Di bawah paha memakai kain supaya sopan sembahyang ke Pura’

pak->bapak ‘ayah’

Tiang ten nawang pak-(bapak) napi madan Kamus

‘Saya tidak tahu yah apa namanya Kamus’ paak ‘dekat’

Béh makelo majalan, mirib suba paak tongos madunungan tiangé ipidan dugas SMA

‘Ah lama berjalan, mungkin sudah dekat rumah kos saya dulu sewaktu SMA’

Jani liunan negak motor diastun majalan paak ‘Sekarang lebih banyak menaiki sepeda motor walaupun berjalan dekat’

(31)

pang ‘biarkan’; ‘kali’

Sing taén ningeh yén orahin da pesu peteng, kené ba dadinné, pang suba apang tawanga asanné

‘Tidak pernah dengar kalau diberitahu jangan keluar malam, begini dah jadinya, biarkan supaya tahu akibatnya’

Pang telu pang pat orahina, enu doén pengkung

tusing nyak mandus

‘tiga kali empat kali diberitahu, masih saja keras kepala tidak mau mandi’

paang ‘kebal’

Ia anak paang kénkénang nebek tusing lakar metatu

‘Dia memang anak kebal, dibagaimanakanpun menusuk pasti tidak terluka’

Kemo mai ngalih kebisaan apang awakné paang ‘Kesana kemari mencari kesaktian supaya

dirinya kebal’ pat->patpat ‘empat’

Pat ping pat dadi enem belas

(32)

paat ‘pahat’

Pongét suba paaté apa buin sing mangan sinah makelo pragat ukirannya

‘Retak sudah ujung pahat itu apa lagi tidak tajam tentu lama selesai ukiran itu’

Alihang paat lakar anggo molongin tongos sereg ané mara gentosina

‘Carikan pahat untuk melobangi tempat kunci yang baru diganti’

pan ‘ayah dari’

Kija ento unuk-unuk majalan, suba tusing nepukin apa pan Kalér enu baanga pesu ‘Ke mana itu merunduk-runduk, sudah tidak melihat apa-apa ayah Kaler masih diberikan keluar’

paan ‘paha’, lihat paa

Yén tepuk paan cucuné ané montok, macita ngimbel

‘Kalau lihat paha cucuku yang mungil, ingin nyubit’

Apukang paan siapé amah kuluk, pocol ia ngoréng itunian

(33)

‘Satu potong paha ayam dimakan anjing, rugi dia menggoreng tadi’

R

rab ‘singkatan dari rabi ‘istri/suami bangsawan dari golongan sudra’

Nak mecanda nah, koné énggal lakar dadi rab? Kéto

‘Maaf bercanda ya, katanya segera akan menjadi

istri?,gitu

raab ‘atap’

Usak umahné kayang raabné asah ajak natahné dugas kena gejor

‘Rusak rumahnya sampai atapnya rata tanah waktu terjadi gempa besar’

Ngalih tukang jani wiréh telah raab umahné tuduh, mani nyén nawang lakar ujan

‘Cari tukang sekarang karena semua atap rumahnya bocor, siapa tahu besok turun hujan’ rat ‘negara’

Wantilan puniki kawangun duk Ida Ratu ngamel

(34)

‘Wantilan ini dibangun pada waktu Ida Ratu memegang negara’

Gelis jagi wénten pacentokan sang Ratu Ngamel

rat

‘Segera akan ada pemilihan Raja Penguasa

negara’

raat ‘keras’

Sungkan Ida Praméswari sampun dahat raat ‘Sakit Sang Permasuri sudah sangat parah’ Pikarsan Idadané majeng ring manggala karya

raat pisan

‘Permintaan para anggota kepada Ketua Panitia sangat keras’

S

sab->sabsab ‘cari dengan teliti’

Sabsab mai alih kemo sereg umahé tusing tepuk

‘Dicari kesana dicari kesini kunci rumah itu tidak ditemukan’

saab ‘tudung saji’

Dagingin saab rayunan Ida Bagus mangda nénten encegin buyung’

(35)

‘Isi tudung saji makanan Beliau supaya tidak dihinggapi lalat’

sang ‘panggilan, yang’

Sapasira jagi ngicén piteket, inggih dané sang angawé rat

‘Siapa akan memberikan nasehat, ya beliau

yang memegang tahta’

saang ‘kayu bakar, kayu api’

Suud jani ngalih saang di abian, suba ada lengis gas anggo nyakan

‘Berhenti sekarang mencari kayu bakar di kebun, sudah ada minyak tanah dipakai memasak’

T

tan, ten->nénten ‘tidak’

Napi madan meli mudah adep maal?, béh ampura tiang tan uning

‘Apa artinya beli murah jual mahal?, ah maaf saya tidak tahu’

Pecak gunungé meletus, jag ten wenten tamu rauh meriki

(36)

‘Sejak gunung meletus, kok tak ada tamu datang ke sini’

taan ‘deritakan’,

Ia makelo naanang sakit mah ‘Ia lama menderita sakit maag’

Nah kanggoang taanang malu cara jani, astitiang apang manian bisa luungan

‘Ya terima derita dulu seperti ini, doakan supaya besok-besok lebih baik’

tas ‘putus’->tastas ‘putus satu persatu’

Jag tas-tas apisan sing enu masisa talin baong kulukné

’Langsung sekali putus tidak ada sisa tali leher anjingnya’’

Sing dadi anggo capilé ané beli di Melbourne dugas 1985, talinné onyo tastas

‘Tidak bisa dipakai topi yang dibeli di Melbourne tahun 1985, talinya semua putus-putus’

taas ‘berguguran’

Don kayuné telah mataasan jani masan ujan ‘Daun kayu habis berguguran sekarang di musim hujan’

(37)

2.2 [i] vs [ii]

C

cing->cicing’anjing’,

Ci koné ngelah cing kacang doén

‘Kamu katanya punya hanya anjing kampung’ ciing ‘waspada’

Bes ciing sing bani ngidih apa, nyanan kena cetik ‘Terlalu waspada, tidak berani minta apa, bisa-bisa kena racun’

I

ing->sing, ‘tidak’

Makejang ngorahang ing nawang nyén ngutang baleman enu idup malun sominé

‘Semua bilang tidak tahu siapa membuang bara kayu api di depan jerami itu’

iing ‘ringan’

Béh ningting amonto ngaku baat, gameté akarung enu masa iing

(38)

L

ling  eling ‘tangis’

Ling doén anggona banih yén lakar ngidih apa

tekén nanangné

‘Tangis saja dipakai cara kalau mau minta apa dengan ayahnya’

liing-> ‘ngliling ‘menggulung benang,

panglilingan’alat untuk menggulung’

Sadurung nunun méménné ngliling benang nang kudang tukel

‘Sebelum menenun ibunya menggullung benang mungkin beberapa ikal’

Kéweh nyilih panglilingan jani wiréh liu anaké mesen benang

‘Sulit meminjam panggulungan benang

sekakarang karena banyak orang memesannya’

M

mik ‘cium’->ngemik ‘mencium’

Jegég cucun cainé Dét, pipinné barak mara suud

(39)

‘Cantik sekali cucumu Det, pipinya merah baru usai dicium oleh temannya’

Biasa pianakné ngemik mémé bapanné satondén majalan ka sekolah

‘Biasa anaknya mencium ibu ayahnya sebelum berangkat ke sekolah’

miik ‘harum’

Miik ngalub ampehang sang bayu ambun bunga

pucuké

‘Harum semerbak ditiup angin aroma bunga kembang sepatu itu

Lakar pesu, nganggo naké lengis miik apang makeseur bonné

‘Kalau ke luar, pakai dulu minyak harum supaya beterbangan baunya’

S

sig ‘di’.

Katemu sig umahné I Gendér’ ‘Bersua di rumahnya i Gender’

Mara tiang inget dugas melajah sig bapak Suwenané

(40)

‘Baru saya ingat waktu belajar di Bapak Suwena’

siig ‘sakit perut karena habis makan langsung berjalan atau lari’

Marérén apa malu, mara suud medaar jag suba malaib bisa siig

“Berhenti apa dulu, baru usai makan kok sudah berlari, bisa sakit perut’

Adi negak cara anak siig, lang lanturang pejalanné buin a kilo suba lakar neked jumah ‘Kok duduk kayak orang sakit perut, ayo lanjutkan perjalanan lagi satu kilo sudah akan sampai di rumah’

sing ‘tidak’

Acepok lemesina sinah tiang sing nyak narima tresnan beliné

‘Sekali merayu jelas saya tidak mau menerima cinta kakanda’

Sing ada kéné kéto, jag majalan ngantén

panakné, makejang anaké gresiuh

‘Tidak ada basa-basi, kok sudah kawin anaknya, semua orang gusar’

(41)

siing ‘cepat kering’

Siingang anduké ané belus lakar celepang di

tasé

‘Keringkan handuk yang masih basah akan dimasukkan di tas itu’

Jang di jemuhané, bajuné ané belus lakar siing kanti buin mani semengan

‘Taruh di jemurannya, baju yang basah akan

kering sampai besok pagi’

T

tis ‘teduh, teduh’->ngetis ‘berteduh’

Opek san guminé jani, lang mémbon sinambi

ngetis batan punyan binginé

‘Gerah sekali hawanya sekarang, yuk berlindung sambil berteduh di bawah pohon beringin’

Ēh nyeng lan tis gati toyané di calungé paak pangkungé

‘Oh dingin dan sejuk sekali air di genangan dekat sungai kering itu’

(42)

tiis ‘kering karena habis airnya merembes pelan-pelan’

Makejang pantinganné gantung apang tiis buin mani dogén bisa tuh

“Semua cucian digantung supaya kering habis

airnya besok saja bisa kering’

Tiisang piringé dini satondén anggo medaar

buin jebos

‘Keringkan piring itu di sini sebelum dipakai makan lagi sebentar’

ting->ting...ting ‘suara besi bersentuhan’

Apa ento cara ada dagang és ting..ting uyut paling kangin kauh

‘Apa itu seperti ada dagang es ting..ting ribut mondar-mandir ke barat ke timur’

tiing ‘bambu’

Tiing pentung bek punduhanga lakar anggo

ngaé piyadnyan karya ngeroras

‘Bambu besar banyak dikumpulkan akan dipakai membuat bangunan upacara’

Meli tiing pénjor sabilang lakar Galungan, ingetang nah

(43)

“Beli bambu untuk Penjor setip akan hari Raya Galungan, ingat ya’

2.3 [u] vs [uu]

B

bug->gelebug, ‘jatuh’

Apa mamunyi keras uli paon, mirib karung

magelebug indayang tingalin

‘Suara apa itu keras dari dapur, mungkin karung

jatuh coba lihat’

buug ‘becek, berlumpur’

Adéng-adéng majalan di rurungé ané buug, tingting sandalé apang tusing maglenyok

‘Pelan-pelan berjalan di jalan yang becek, angkat sendalnya supaya tidak terbenam’

buk ‘debu’

Ēh bek sajan buké duur méjané, jemakang sapu bulu lang bersihin

‘Eh banyak sekali debu di atas meja itu, ambilkan sapu bulu ayo bersihkan’

(44)

buuk ‘lusuh,usang, tua, bekas’

Enu dogén anggona baju ané suba buuk dadi terikin apang kenceng

‘Masih juga mengenakan baju yang sudah lusuh bisa disetrika supaya rapi’

Sing bani ngutang penganggo ané suba buuk makejang dini janga madugdug

‘Tidak berani membuang pakaian yang sudah

usang semua ditaruh di sini menggunung’

bung->’embung’

Mula jaan jukut bung yén daar enu kebus-kebus ‘Memang enak sayur embung kalau dimakan hangat-hangat’

buung ‘batal’

Bah ondén teka timpalé, buin misi ngrimis guminé, bisa buung ia mai

‘Oh belum juga datang temannya, apalagi suasana hujan grimis, bisa batal dia kesini’

(45)

D

uh->duh ‘kata seru’

Uh Dewa Ratu Agung, asapunapi mangkin titiang

niki, parekan sareng sami

‘Oh Paduka/Tuanku, bagaimana kami para abdi semua ini?’

duuh ‘mengaduh’

Suba makelo dadongné sakit, sabilang sandékala dingeh suba duuh-duuh

‘Sudah lama neneknya sakit, setiap menjelang malam kedengaran mengaduh-aduh’

dum ‘bagi’

Ajak kuda ja manyama, ajak monto ngedum kesugianné

‘Berapa orang saudaranya, sekian orang sama-sama membagi warisannya’

Ada bé kampih lang dum bareng ajak makejang ané nepukin

‘Ada ikan terdampar ayo bagi bersama dengan semua yang menemukan’

(46)

duum ‘lebih dahulu’

Duumin apang nyak masaut dogén, kanggo

apang tusing mendep sewai-wai

‘Dahului supaya bisa menjawab saja, cukup supaya tidak diam sehari-hari’

dur->cedur ‘suara dentuman’

Munyin apa uli tuni cedar-cedur sing siep-siep, masan anak masaré

‘Bunyi apa dari tadi berdentum tidak henti-henti, waktu orang tidur’

duur ‘di atas’ atau ‘kepala (H)

Sané encén sungkan, oh nika duur ratuné kanin antuk ladik, rerehang jodium

‘Mana yang sakit, oh itu kepala paduka luka kena pisau, ambilkan Yodium’

Jang sep payuké ento duur jalikanné

‘Taruh ntar periuk itu di atas kompor batu’ dut->dutdut, makledut ‘bergerak pelan’

Cén balihin sireh ceningé, rasané ada

dutdut,makledut mula nak pengeng

‘Mana cek kepalamu nak rasanya ada bergerak

(47)

duut ‘mengaduh’

Daat-duut naanang baisné kena dui, kénkénang

nyen bes majalan sing nepukin punyan canging ‘Mengaduh-aduh menahan kakinya kena duri, bagai manakan karena tetap berjalan tidak awas ada pohon berduri’

J

jug->ajug ‘ukur dengan cara tradisional: adepa(1.5 meter), asiku (0.50 m), alangkat (20 cm)

Kudang depa ya lantang talin sampiné ento, indayang jug anggo méteran

‘Berapa meter panjang tali sapi itu, coba ukur dengan alat meteran’

Apang tusing jokan liwat, ajug malu tegeh palinggihé ané anyar

‘Supaya tidak salah ukuran, ukur dulu tinggi bagunan suci yang baru’

juug’ramai’->majuug ‘beramai-ramai, bergabung, bertimbun, ramai’ lihat suug->masuug

Lakar Galungan peken-pekené enu pada majuug diastun ja suba ada swalayan

(48)

‘Menjelang Galungan pasar-pasar masih juga

ramai walaupun ya sudah ada supermarket’

Cenik-cenik milu majuug nuduk pipis di pasisi yén ada anak ngutang sekah

‘Anak-anak ikut beramai mengambil uang di pinggir pantai bila ada orang membuang sekah

‘sarana upacara’

K

kud->ukud ‘ekor, orang’.

Bangkungné gelah panak duang kud ‘Babi betina itu punya anak dua ekor’

Limang kud gén anaké negak macéki sambil magebagan wiréh suba peteng

‘Hanya lima orang duduk main kartu ceki sambil begadang karena sudah malam’

kuud ‘kelapa muda’

Nyak meli és kuud, lamon kéto lang ka pasar sénggol

‘Mau membeli es kelapa muda, kalau begitu ayo ke pasar malam’

(49)

L

lu ‘alu’

Ané anggo nebuk padi ipidan pastika ada ketungan, lesung muah lu

‘Yang dipakai menumbuk padi dulu pasti ada ketungan, lesung dan alu’

Kemo nyilih lu ka pisaga anggo nebuk lakar ngaé jaja uli’

‘Coba pinjam alu ke tetangga dipakai menumbuk untuk membuat jajan uli’ luu ‘sampah’

Da ngutang luu di malun sanggahé apang tusing cero

‘Jangan buang sampah di depan Pura supaya tidak kotor’

Dija-kija bek ada luu nyabran rerahinan di Bali ‘Dimana-mana banyak ada sampah setiap hari raya di Bali’

lung ‘patah’

Sing nyidayang macek buin, wiréh likingé suba amah barak tur lung

(50)

“Tidak bisa menancapkan lagi, karena besipaku itu sudah karatan dan patah’

Eh kéné dugas nyongcong batu ibi, sing tawang jag bisa lung linggisé

‘Eh begini waktu menggali batu kemarin, tidak diketahui kok bisa patah linggis itu’

luung ‘bagus’

Péh luung nok bajun cainé, dija meli?

‘Ah bagus kok baju kamu, di mana membeli”

Luung pesan Ning wiramané ibi sanja di TV, Bapa

kanti tusing nyidayang pules milu madingehang

‘Bagus sekali Nak nyanyian tadi malam di TV,

Bapak sampai tidak bisa tidur ikut mendengarkannya’

M

muk ‘lapuk tetapi sulit dibakar’; ‘tidur’

Pantes nréstés adegané, wiréh kayuné suba muk ‘Pantas kropos pilar kayu itu, karena kayunya sudah lapuk’

Mara ajahan negak, tis batan kipas anginé, pianakné suba muk

(51)

‘baru sebentar duduk, sejuk di bawah kipas angin, anaknya sudah tidur’

muuk ‘paksa’-> mamuuk ’trobos tanpa memakai pertimbangan’

Sing taén maitungan jag majalan, mula sesai

mamuuk gaénné

‘Tidak pernah merencanakan kok langsung berjalan, memang sering memaksa saja kerjanya’

Yén sing mamuuk bisa sing payu masekolah di Australia, bisa sing ngelah panak lekad di Melbourne

‘Kalau tidak memaksa bisa tidak jadi sekolah di Australia, bisa tidak punya anak lahir di

Melbourne’

N

nut ‘not balok’,

Lakar malajah magending pasti apang nawang

nut

(52)

nuut ‘mengikuti’

Sing taén nuut apa ané orahina tekén nanangné, pantes ba jani hidupné sengsara

‘Tidak pernah menurut apa yang diberitahu ayahnya, jelas sekarang hidupnya menderita’ Dugas ondén ada marga gedé, pragat nuut pengalapan apang teked ka sekolah

‘Sewaktu belum ada jalan raya, tetap mengikuti jalan air supaya sampai di sekolah’

nyud ‘ingin’

Liu jani anaké nyud luas ka Thailand ‘Banyak orang sekarang ingin ke Thailand Péh pesu paos uli tuni nyud tekén rujak ‘Ah keluar liur dari tadi pingin dengan rujak’ nyuud(ang) ‘mengakhiri’

Kéweh nyuudang tresnan I Jero ajak Ni Koming kadong suba makilit

‘Sulit mengakhiri cinta I Jero dengan Ni Koming sudah terlanjur intim’

Suudang malu cekianné wiréh jani galah lakar

(53)

‘Hentikan dulu permainan kartu ceki karena waktu potong babi sekarang, banyak anggota masyakarat sudah pada berdatangan

nyug ‘campur cairan agar hancur’

Apang aluhan adinné naar pil, nyug lantas wadahin lumur

‘Upaya lebih mudah adiknya minum obat,

campur dengan air lalu tempatkan di gelas’ Nyug tepungé malu ajaka ngaé godoh

mungpung bek ngelah biu

‘Campur tepung dulu mari kita buat pisang goreng mumpung banyak punya pisang’

nyuug ‘merapat, mendekat dengan paksa’ lihat suug Bes bales ujané, ajak liu nyuug maémbon batan raab kubunné

‘Terlalu deras hujan itu, banyak orang merapat berteduh di bawah atap pondoknya’

Masuug kramané yén suba ada sembako mudah

‘Beramai merapat rakyatnya kalau sudah ada sembako murah’

(54)

nyuh ‘kelapa’

Kudang bungkul maan ngalap nyuh di abian ituni semengan

‘Berapa butir dapat memetik kelapa di kebun tadi pagi’

Kudang bungkul ngalap nyuh di abian? ‘Berapa butir memetik kelapa kemarin di kebun?’

nyuuh(in)->suuh ‘menurun’

Tusing élah majalan nyuuhin margané ané mara pragat

‘Tidak mudah berjalan menuruni jalan yang baru selesai’

Tekekang magisian apang tusing nyerod wiréh natahé suuh

‘Eratkan berpegangan supaya tidak tergelincir karena halaman ini menurun’

P

puh->ipuh ‘engkot dengan hidung, tanduk’

Genit cunguh sampiné, ngipuh kemo mai kanti punyan biuné séndéh

(55)

‘Gatal hidung sapi itu, ngengkot sana sini sampai pohon pisang itu miring’

puuh ‘sejenis nama burung’

Meli taluh puuh di peken lakar anggo ubad apang énggalan seger

‘Membeli telor burung di pasar akan dipakai obat supaya lebih cepat sembuh’

pun->ipun ‘dia’; sampun ‘sudah’ Sareng sira (i)pun rauh meriki ‘Dengan siapa dia datang kesini’

Dija ngantosang men lakar ka pasih, (sam) pun sareng timpalné dauh pekenné

‘Di mana menunggu kalau akan ke pantai, sudah dengan temannya di barat pasar itu’

puun ‘terbakar, gosong’

Umah puun misi ujan bales, tusing kéweh ngematiang api

‘Rumah terbakar berisi hujan lebat, tidak sulit mematikan api’

Jagung puun daara, sajan saja jelema layah ‘Jangung gosong dimakan, memang dasar manusia lapar’

(56)

S

semuk ->sumuk ‘panas, gerah’

Da ulebanga jelananné apang tusing sumuk di tengah kamaré

‘Jangan ditutup pintu itu supaya tidak panas di dalam ruangannya’

semuuk ‘gagal tidak menetas’

Akuda lekad taluh siapé, péh ada masih ané

semuuk buin berek

‘Berapa menetas telor ayam itu, ah ada juga yang gagal lagi busuk’

setut ‘sangga’

Mabriyug balé dajané kena linuh, apang tusing makajeng ulung setut jinengé

‘Hancur bangunan di utara karena gempa, supaya tidak semua jatuh semua sangga bangunan penyimpenan padi itu’

setuut ‘seturut’

Ada doén timpalé ané tusing satuut tekén

parikrama ené, nah nak mula demokrasi adanné ‘Ada juga teman yang tidak sependapat dengan

(57)

T

tuh ‘kering’

Don kayuné lamun suba tuh pastika lakar ulung makacakan

‘Daun kayu yang sudah kering pasti akan jatuh berserakan’

Kanti tuh yéh matanné, ondén masi suud ngeling apa kadén tagiha

‘Sampai kering air matanya, belum juga usai menangis, apa mugkin yang diminta’

tuuh ‘usia’

Akuda suba tuuh bapanné, enu nyidayang magaé ka carik, ceteng sajan

‘Berapa usia bapaknya, masih juga bisa bekerja ke sawah, sehat sekali’

Dumogi panjang yusa, nutugang tuuh kayang kawekas, keto pengastiti iraga ajak makejang ‘Semoga panjang umur, sesuai usia sampai masa depan, begitu doa kita semua’

tur ‘lagi, dan’

Mogi labda karya tur rahayu, sapunika atur titiangé sareng ngrastiti ring sajroning yadnya

(58)

‘Semoga sukses dan selamat, begitu ucapan saya ikut mendoakan setiap ada upacara adat’ tuur ‘jemput’->nuur‘menjemput’

Nganggo motor jani yén nuur Ida Peranda, sing kayun Ida mamargi

‘Memakai mobil sekarang menjemput Sang Pendeta, tidak mau beliau berjalan kaki’ Samian kramané jagi nuur Ida Bhatara saking pasimpenan

‘Semua anggota masyarakat akan menjemput Simbol Tuhan dari tempat Beliau disimpan’ tut ‘lacak dan kejar pelan-pelan’->ngetut ‘melacak dan mengejar’

Dija kadén adinné mengkeb, lan tut ka

pagehané, mirib ditu ia negak jag sing ngenah Di mana mungkin adiknya bersembunyi, ayo

lacak ke pagar semak, bisa di sana dia duduk

tidak nampak’

tuut ‘turut, ikuti-nuut ‘mengikuti’

Umahné tusing joh uli dini, kowala misi nuut pengalapan apang paakan majalan

(59)

‘Rumahnya tidak jauh dari sini, tetapi harus

mengikuti jalan air supaya berjalan lebih dekat’

tu ->ratu ’paduka’

Sapunapi gatra tu? Mogi becik-becik tan kapiambeng

‘Bagaimana kabar paduka? Semoga baik-baik tidak ada halangan’

tuu ‘sungguh, sejati’

Saking tuu manah guru mituturin cening jani ’Dari fikiran guru yang sungguh-sungguh, sejati menasehati nanda sekarang’

Ajak makejang mautsaha saking tuu apang polih karahajengan lan kesukertaan

‘Bersama semua berusaha dengan sungguh supaya memperoleh keselamatan dan kesejahteraan’

tung->‘suara kulkul, kentongan’->makelentung ‘bersuara tung..tung’

Pang kuda suba kulkulé makelentung, sinah suba lakar majalan ngayah

‘Berapa kali sudah bersuara kentongan itu, sudah waktunya pergi kerja ikhlas’

(60)

tuung ‘terong’

Koné sing dadi naar tuung bes liu apang bayuné tusing oon

Katanya tidak boleh makan terong terlalu banyak supaya tenaga tidak kendur’

Jaanan tuungé magoréng tekénin ané medadah ‘Lebih enak terong yang digoreng daripada yang direbus’

2.4 [é] vs [éé]

G

gék-> jegék ‘sebutan, panggilan untuk perempuan’ Kelas kuda sampun masekolah Gék?

‘Sudah kelas berapa bersekolah Nak

(perempuan)?’

géék ‘suara bebek’

Layah suba bébéké uling tuni suba uyut

géék-géék

Lapar sudah bebek itu dari tadi sudah ribut bersuara geek-geek’

(61)

K

két ‘terikat, tersangkut’

Benehang majalan nyanan bajuné kétkéta di pagehan duiné

‘Baikkan berjalan nanti bajumu tersangkut di pagar duri itu’

kéét->kéétkéét ‘suara hewan atau benda’

Cara ada lipi ngamah katak, pireng kéét-kéét samping telagané

‘Seperti ada ular memakan kodok, terdengar suara keet-keet dekat kolam itu’

Kuangan lengis mirib kocét jelananné ento, awinan mamunyi kéét-kéét

‘Kurang minyak mungkin engsel pintu itu, makanya berbunyi keet-keet’

L

léd ‘lengkung’

Tunjangin taribé ento aji tiing, suba léd makelo-kelo bisa macepol

‘Sangga pelapon itu dengan bambu sudah

(62)

Baat punapiné misi saang, nyuh magenepan, ngenah suba léd bisa-bisa lung nepén jalikan beténné

Berat rak berisi kayu api, kelapa dan lainnya, nampak sudah lengkung bisa-bisa patah menindih tungku batu di bawahnya’ lééd ‘lambat’

Bes lééd majalan sesasi pekakné paling duri ‘Terlalu lambat berjalan selalu kakeknya paling belakang’

Laad-lééd madaar, énggalan apa nyanan bisa

kalahina tekén bisé

‘Lambat sekali makan, cepetin ya nanti bisa ditinggal bis lho’

lér->kalér ‘utara’

Nyansan peteng timpalné majalan, sing tawanga nyansan kalér lakukan

‘Semakin malam temannya berjalan, tidak diduga semakin keutara arahnya’

(63)

léér ‘sengaja membiarkan’

Kéto suba bapanné, aéng léérné tekén panak bajang masekolah, tundén melajah apa apang bisa memaca

‘Begitu sudah ayahnya, betul-betul membiarkan anaknya yang muda masih sekolah, suruh apa belajar supaya bisa membaca’

2.5 [o] vs [oo]

C

cog->kecog ‘melompat’

Sing dadi malaib majalan diundagé, (ke)cog ping telu neked suba baduur

‘Tidak bisa berlari jalan di tangga itu, lompat tiga kali baru sampai di atas’

coog ->mecoog ‘basah karena terus mengalir air liur’ Ningalin anak naar manisan, jag macoog suba bibihné, jemakang lap ni

‘Melihat orang makan permen, kok sudah basah bibirnya, ambilkan tisu ya’

(64)

G

gong ‘gong’ salah satu alat dalam kesenian tabuh. Alat yang biasa dipukul disaat ada pembukaan acara. Ada juga gong perdamaian dst.

Kuwangan gong buin abesik mara jangkep barunganné

‘Kurang gong lagi satu supaya lengkap perangkatnya’

goong ‘ulat’

Uh.. sing bani nyemak goong bisa genit limanné ‘Uh.. tidak berani mengambil ulat bisa gatal tangannya’

Mimih... don biyuné bek misi goong, kutang malu mara anggo mungkus bé

‘Ihh ... daun pisang itu penuh berisi ulat, buang dulu baru dipakai membungkus daging’

J

jot->ngejot ‘sumbangkan dengan cara mengantarkan makanan, hasil bumi ke tetangga atau keluarga’

(65)

‘Antarkan dulu sayur itu kepada sepupumu yang tinggal di utara rumah’

Méménné enu ngejot di pisaga, bes mara maan ngalap durén liu

‘Ibunya masih mengantar ke tetangga, karena baru saja dapat memetik durian banyak’ joot, lihat jeet ‘jerat’-> nyoot ‘menjerat’

Sing nyidayang malaib kuluké kena joot di baongné

‘Tidak bisa lari anjing yang kena jerat di lehernya’

Da tekekanga nyoot tatuné apang getihné nyidayang pesu lan tiis

‘Jangan ketat menjerat lukanya supaya darahnya bisa keluar lalu kering

K

kos->ngekos ‘sewa rumah dan tinggal di sana’

Jani suba nyumunin kuliah, awinan ia ngekos di Bukit apang paak Kampus

‘Sekarang sudah mulai kuliah, makanya dia sewa

(66)

koos ‘boros’

Amoné baang pipis telah, tabungané masi onyo, jag koos pesan dadiné

‘Segini dikasi uang habis, tabungannya juga kosong, kok boros sekali jadinya’

Sesai mebelanja nganggo Go-Jek, pantes koos pesan hidupné

‘Setiap hari berbelanja lewat Go-Jek, tentu boros hidupnya’

kori ‘pintu’

Misi kori maukir, misi paras kosoh lan batu tabas umahné madurgama pesan

‘Berisi pintu berukir, juga batu padas dan batu hitam rumahnya berwibawa sekali’

koori ‘ke belakang’

Eda nolih koori jag beneng majalan di pundukan apang tusing nyerod

‘Jangan menoleh ke belakang lurus saja berjalan di pematang supaya tidak tergelincir’

(67)

N

ngon ‘heran’

Sing ada anak ngon cara janiné, makejang suba ngelah motor

‘Tidak ada orang heran jaman sekarang, semua sudah punya mobil’

ngoon (an) ‘semakin malas’

Béh ujan misi sayong jag ngilgilang awaké lan

ngoonang bayuné lakar megaé

‘Ah hujan lagi kabut membuat badan menggigil dan tenaga semakin malas akan bekerja’

T

ton ‘aksi, lihat->ngeton ‘melihat’

Ampura titiang nénten ngeton wénten suwala patra ring méjané

‘Maaf hamba tidak melihat ada surat di meja itu’ Amerih sukaning awak tan ton laraning mitra ‘Mencari kesukaan diri sendiri tanpa lihat kesengsaraan teman’

(68)

toon lihat teen ‘tekan keras’

Sesai méménné men lakar bangun matoonan di kursiné

‘Setiap kali ibunya kalau mau bangun menekan

keras pada kursinya’

Toon dini makeplus ditu, sajan ya nak suba kulit

tua

‘Tekan di sini, muncul di sana, memang dasar kulit sudah rapuh’

tos->totos ‘turunan’

Niki soroh tos siap jago

’Ini memang turunan ayam Jago’

Cening mula totos dueg basa Inggris, pantes aluh ke Australi

‘Kamu memang turunan pandai bahasa Inggris, tidak mustahil gampang ke Australia’

toos, tees ‘tekan dengan alat berbidang lebar’ Ngaé jaja lempog, tepungé suud maulet lantas

matoos duur talenan ané lumbang

‘Membuat jajan lempog, tepung sesudah diolah lalu ditekan pada alas kayu yang lebar’

(69)

‘Jangan menekan dari sudut saja, supaya sama rata hasil setrikanya tarik dari leher kemeja itu baru ditindih’

2.6 [e] vs [ee]

B

ben ‘dengan’

I Dadong nyidayang majalan tegteg jani ben ada tungked

‘Nenek itu bisa berjalan tenang sekarang dengan adanya tongkat’

Ben ada gadget cara jani, makejang sarwa aluh,

dot meli nasi, dot meli baju élah koné

‘Karena ada gadget seperti sekarang, semua

serba mudah, mau beli nasi, ingin beli baju gampang katanya’

been ‘kaku pada bahu, leher’

Baongé been bes liunan nyuun nyuh

‘Leherku kaku karena terlalu bayak menjunjung kelapa’

(70)

Usuhin aji lengis apang palané ané been bisa iingan asanné

‘Gosok dengan minyak supaya bahu/pundak yang kaku bisa terasa lebih ringan’

bet ‘ramai, lebat, penuh’

Ingsak ajak liu apang padangé ané bet lanyah tusing enu jegjeg

‘Injak dengan banyak orang supaya rumput yang

lebat rata tidak masih berdiri’

Natahné sesai bet misi mis wiréh selid sanja umahné kalahina megaé

‘Halamannya setiap hari penuh berisi sampah karena siang malam rumahnya ditinggal bekerja’ beet->meet ‘ melempar, menghajar, memukul

dengan bambu atau dengan kayu pipih ’

Beneng sing lémpas baana meet kedisé duur punyan sotongé

‘Lurus dan tepat dia melempar burung yang ada di atas pohon jambu itu’

Kuluk mangonggang merebutin tulang, aget tusing kena baana meet aji tiing lantang

(71)

Anjing berkelahi memperebutkan tulang, untung tidak kena olehnya menghajar dengan bambu panjang’

C

ceng ‘terpusat, fokus sasaran’

Nyén lakar aliha jani, ento pasti lakar cenga tekén tukang tembaké

‘Siapa akan dicari sekarang, pasti itu akan

difokus oleh tukang tembak itu’

Abedik anaké cenik-cenik jani ngeceng malajah, liunan ngudik HP

‘Sedikit anak-anak sekarang memusatkan diri belajar, kebanyakan sibuk dengan HP’

ceeng ‘pandang dengan tajam’->nyeeng’memandang’ Pada nyeeng makelo mara inget ipidan taén matimpal ugas masekolah di Klungkung ‘Saling pandang lama baru ingat dulu pernah berteman waktu bersekolah di Klungkung’ Setondén maibukan, makedadu anaké ento

ceeng-ceengan malun pekené

(72)

D

da ‘jangan’

Sing dadi orahang da jag pengkung enu doén malali kemo

‘Tidak bisa diberitahu jangan kok keras kepala masih saja melancong ke sana’

dea ‘bujang tua untuk wanita’

Tusing ngantén kasambat dea tua yén anak luh, anak muani maadan truli (trunelingsir)

’Tidak menikah disebut bujang tua kalau wanita, anak laki dinamakan lajang tua’

dem-> padem ‘mati’

Buin akuda enu cariné, makejang suba pesu sinah nyaman lawangé ené suba dem

‘Masih berapa cekiannya, semua sudah keluar pasti teman kembar dua ini sudah mati’

deem ‘kalem, tenang air mukanya’

Sing makipek-kipekan mara ada anak mentas, negak ngepopongan sebengné deem

‘Tidak menoleh ke kanan ke kiri baru ada orang lewat, duduk terpaku wajahnya kalem’

(73)

G

gek->clegek ‘menelan, meneguk air sekali’

Ené..né Aqua, bes bedak guminé kebus, jag

gek-geka sépanan ningalin suba telah

‘Ini..ni air, terlalu haus udara panas, langsung

teguk tidak sempat lihat sudah habis’

geek->ngeek ‘sibuk bekerja di sawah’

Enu bapané ngeek diastun suba tua bungkut, sing nyak ngalih panyakap

‘Masih ayahnya bekerja di sawah walaupun sudah tua bungkuh, tidak mau mencari penggarap’

gem ‘cengkeram’

Gem likingé mara getok apang tusing nyaméh

‘Cengkeram paku itu baru dipukul supaya tidak melempas’

Méongé ngegem bikul kanti sing dadi makrisikan ‘Kucing itu mencengkram tikus itu sampai tidak bisa bergerak’

geem ‘tidak ramah, menakutkan’

(74)

‘Luar biasa menakutkan hanya baru jadi koordinator di jalan raya’

Sing enu inget taén matimpal, jani tuding tujuh

geem-geem mara dadi Bos di kantor

‘Tidak masih ingat pernah berteman, sekarang memerintahkan dengan tidak ramah baru jadi Bos di kantor’

gen->negen ‘pikul’

Nyén nyak (ne) gen cai, kené mokohné pasti baat

‘Siapa mau memikul kamu, begitu gemukmu pasti berat’

geen ‘berat’,

Apang tusing geen, lang itungang bareng-bareng

‘Supaya tidak berat, mari kita perhitungkan bersama-sama’

Bedik-bedik pesu pipis, lakar rapat pesu

sumbangan, jag geen dadi sinoman desané ené ‘Sedikit-dikit keluar uang, mau rapat keluar sumbangan, amat berat jadi anggota di desa ini

(75)

get->aget ‘untung’

Get san cai lekad di umah anaké sugih

‘Untung sekali kamu lahir di keluarga orang kaya’

geet ‘iris, kerat’

Tulungin geet biuné ento lakar anggo ngisinin banten cenik-cenik

‘Tolong iris pisang itu akan dipakai mengisi sesajen kecil-kecil’

J

jeg ‘kok’-kata penegas untuk menyatakan sesuatu keadaan atau kejadian tiba-tiba

Sing tawang-tawang suba jeg neked di umahné, ngambahin marga cliak-cliuk

‘Tidak tahu menahu kok sudah tiba di rumahnya, melewati jalan kelak-kelok’

jeeg ‘perawakan, sosok’ lihat jeleg

Nikén kurenanné ané uli Jawa, oh ento ané

jelegné berag cara suling

‘Mana suaminya yang asal Jawa, oh itu yang

(76)

Jeeg cara lindung uyahin, sing bakat baan ngisi,

belig melisah

‘Berperawakan seperti belut digarami, tidak bisa

dipegang, licin bergerak-gerak’

K

kem ‘nama buah’

Masan ujan liu buah kemé ulung mabrarakan betén punyanné

‘Musim hujan banyak buah kem berjatuhan berserakan di bawah pohonnya’

keem ‘mengeram’ lihat merem dan makeem

I Balangtamak ngantosang siap penginanné tuun uli makeem, mara majalan ka alasé

‘I Balangtamak menunggu ayam betinanya turun dari mengeram, baru berjalan ke hutan’ Catatan : I Balangtamak nama salah seorang tokoh cerita Bali.

Suba a minggu siapé makeem, mirib buin dasa dina mara lekad makejang

‘Sudah seminggu ayam itu mengeram, mungkin lagi sepuluh hari baru semua menetas’

(77)

L

lek ‘malu’

Sing nawang lek wak suba PNS milu majuug ngantiang bagian sembako

‘Tidak tahu malu sudah jadi PNS ikut berdesak-desakan menunggu pembagian sembako’ leek ‘baik, sampurna’.

Tusing maleek gegaéné yén gegésonan ‘Tidak sempurna pekerjaannya kalau tergesa-gesa’

M

meng->kémeng ‘heran berdiam diri’

Ningalin solah kurenanné buka kéto, ia sing mamunyi apa bes kémengné

“Melihat istrinya berprilaku begitu, dia tidak berucap apa-apa karena terlalu heran’

meeng->mameeng ‘kedengaran’

Sing mameeng apa sagét suba ia negak di balé daja, nak ngudiang koné?

(78)

merem ‘tidur’

Samian sampun pamileté merem ring hotél duaning bénjang semeng ruput jagi malali ‘Semua peserta sudah tidur di hotel karena besok pagi-pagi akan berwisata’

meerem ‘direndam, dikeram ayam’

Akuda liun taluhé meerem olih siap bapanné ané di abian?

‘Berapa banyak telor dieram oleh ayam milik ayahnya di kebun?’

Pengayahé suba pada meerem baas lakar jakana buin mani

‘Para pembantu sudah semua merendam beras untuk ditanak besok’

N

ngeb ‘ketakutan’

Ia ngeb pesan ningeh méménné brangti ‘Dia ketakutan sekali mendengar ibunya tersinggung’

(79)

ngeeb ‘memotong, mengiris’

Silih tiuké ané mangan lakar anggo ngeeb tabia ‘Pinjam pisau yang tajam akan dipakai

memotong lombok’

nged ‘lebat, banyak berbuah, penuh berbunga’ Demen atiné ningalin punyan pohé nged mabuah

‘Senang hatiku melihat pohon mangga lebat berbuah’

Liu maan ngadep bunga sawiréh makejang nyak

nged

‘Banyak dapat menjual bunga karena semua mau lebat (berbunga)

Nged-nged buin selaé lemeng lakar Galungan, pangrastiti Umat ring sarwa tetanduran

‘Lebat berbunga dan berbuah lagi 25 hari

Galungan, doa Umat kepada semua tumbuhan’ ngeed ‘merunduk, merendahkan badan’

Ada tamiu negak masila, lamen lakar majalan ingetang ngeed di malun dané nah

‘Ada tamu yang duduk bersila, kalau mau jalan ingat merunduk di depan beliau ya’

(80)

ngek ‘menekan dengan tangan keras-keras pada lokasi tertentu, biasanya tempat berair’

Ngekang batuné apang nyak patuh ajak luhluh

betoné

‘Tekan batu itu agar mau sama dengan campuran semen beton itu’

Dini ada bias madugdug, indayang ngek kétang abedik apang nyak rata

‘Di sini ada pasir menggunung, coba tekan begitu sedikit supaya mau rata’

ngeek ‘mengerjakan sawah’

Tuyuh pesan gegaéné ngeek ipidan satondén nganggo traktor

Berat sekali pekerjaan di sawah dulu sebelum menggunakan traktor’

ngeng ‘segan’

Bes sesai uyut sing nawang peteng jag magerengan, ngeng atiné ningalin

‘Hampir setiap hari ribut tidak tahu malam terus bertengkar, segan melihatnya’

(81)

ngeeng ‘suara orang menangis’

Enyén ento ngeeng-ngeeng di sisi sing nawang suba sanja

‘Siapa itu menangis di luar tidak tahu sudah sore’

nyeb ‘mual’

Kéto doén omonganné sing ada ané maleek ngalusang keneh, nyeb baana mireng

‘Begitu saja ceritanya tidak ada bagus yang menyejukkan pikiran, mual mendengarnya’ Béh nyeb basangé suud naar bé pasih matah ‘Oh mual perutku usai makan ikan laut mentah’ nyeeb<-seeb ‘menyiram bara api’->penyeeb

‘penyiram’

Alihang yéh sémér anggo nyeeb bea suud nunu saté

‘Carikan air sumur pakai menyiram bara seusai manggang sate’

Enu apiné kedus-kedus sawiréh penyeebé suba onyo

‘Masih apinya berasap karena bahan penyiram sudah habis’

(82)

nyeng ‘dingin air’

Jag nyeng asanné mara celebang limanné ka tukadé ané di gunung

‘Kok dingin rasanya baru dicelupkan tangan ini ke sungai yang ada di pegunungan’

nyeeng ‘menatap’

Eda nyeeng cara kéto, takut bena apa buin matan cainé barak

‘Jangan menatap seperti itu, takut rasanya apa lagi matamu merah’

nyet ‘keinginan’

Sing ngelah nyet lakar milu malali ka Vietnam? ‘Tidak ada keinginan akan ikut berwisata ke Vietnam?’

Nyet tiangé jani apang ngelah Kulkas tetelu

‘Keinginan saya sekarang agar punya Kulkas tiga’ nyeet ‘mengikat’-lihat jeet

Kanti leleh kéné kuluké majeet uli ibi sanja, énggalang kelésang

‘Sampai lelah begini anjing itu diikat dari kemarin sore, cepat lepaskan’

(83)

Tusing dadi nyeet kacing nganggo benang, bisa ceking kanti pegat yén makelo

‘Tidak boleh mengikat kelingking memakai benang, bisa tertekuk sampai putus kalau kelamaan’

P

peg->empeg ‘retak,patah’

Anggo sanané ané tusing empeg lakar negen nyuh duang dasa

‘Pakai galas yang tidak retak akan dipakai memikul kelapa dua puluh’

Ngelah panak tatelu, ané paling keliha ajak ané paling cerika tusing enu, maadan sanan peg (arti kias)

‘Punya anak tiga, yang pertama dan terakhir meninggal, yang masih hidup disebut ‘galas

patah’

peeg ‘dorong dengan badan’

Masuuk-suukan mabalih drama gong paak rangkiné, saling peeg apang maan majujuk maluan

Gambar

foto : nyepingin ’mengikat padi’

Referensi

Dokumen terkait