• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengendalian Rob dan Banjir Kota Semarang Pattiro Semarang 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengendalian Rob dan Banjir Kota Semarang Pattiro Semarang 2014"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

1 | P a g e

HASIL AUDIT SOSIAL

Pengendalian Rob dan Banjir Kota Semarang

Pattiro Semarang

2014

(2)

2 | P a g e

A. MENGENAL ROB DAN BANJIR

Menurut kamus besar indonesia yang dimaksud peristiwa banjir adalah tergenangnya suatu wilayah daratan yang normalnya kering dan diakibatkan oleh sejumlah hal antara lain air yang meluap yang disebabkan curah hujan yang tinggi dan semacamnya. Istilah-istilah yang terkait dengan banjir ini ada banyak antara lain: banjir bandang, banjir maksimum, banjir tahunan dan masih banyak lagi lainnya. Sedangkan menurut Anonimus dalam Sukaimah (2002), rob adalah peristiwa masuknya air laut ke darat yang terjadi pada waktu air laut pasang.

Kota Semarang selalu menghadapi dua masalah ini yaitu banjir dan rob. Banjir telah ada sejak era Semarang kuno sedangkan rob baru terjadi sejak 26 tahun silam, tepatnya sejak tahun 1988. Rob terjadi karena permukaan tanah yang lebih rendah daripada muka air laut dan penurunan permukaan tanah.

Masalah ini selain menjadi musibah turun temurun, juga memberikan beban bagi birokrasi dan pemangku kepentingan lainnya. Hanya saja beban yang dirasakan warga semakin berat karena tidak tuntasnya pengendalian permasalahan rob dan banjir ini. Tidak tuntasnya pengendalian rob dan banjir oleh aparatur terkait menjadi pertanyaan yang selalu muncul di pikiran warga Kota Semarang. Sebab, berbagai program yang berkaitan dengan pengendalian rob dan banjir telah digulirkan.

Pada RPJMD Kota Semarang tahun 2010 – 2015 dari berbagai macam isu strategis disemua urusan penyelenggaraan Pemerintahan, yang menjadi prioritas untuk ditangani sebagaimana tertuang dalam “Sapta Program” berikut : Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, Penanggulangan Rob dan Banjir, Peningkatan infrastruktur, Peningkatan Pelayanan Publik, Kesetaraan Gender, Peningkatan pelayanan pendidikan dan Peningkatan pelayanan kesehatan.

Urusan pengendalian banjir dan rob melibatkan berbagai SKPD, dalam hal ini SKPD yang terlibat yaitu Dinas PSDA ESDM, Dinas Tata Kota dan Perumahan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan serta Badan Lingkungan Hidup. Pada peraturan UU No.14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Semarang tahun 2011 - 2031 daerah rawan bencana rob di Kota Semarang meliputi :

 Kecamatan Semarang Barat;

 Kecamatan Semarang Tengah;

 Kecamatan Semarang Utara;

 Kecamatan Semarang Timur;

 Kecamatan Genuk;

 Kecamatan Gayamsari; dan

 Kecamatan Tugu.

Sedangkan kawasan banjir di Kota Semarang meliputi:

 Kecamatan Gajahmungkur;

 Kecamatan Gayamsari;

 Kecamatan Ngaliyan;

(3)

3 | P a g e

 Kecamatan Semarang Barat;

 Kecamatan Semarang Tengah;

 Kecamatan Semarang Utara;

 Kecamatan Semarang Timur;

 Kecamatan Pedurungan; dan

 Kecamatan Genuk.

Bencana ini seringkali memakan korban dan memberikan dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat di Kota Semarang. Menurut Bakornas PB (2007), dampak bencana banjir akan terjadi pada beberapa aspek (sebagian besar di wilayah Indonesia bagian barat) dengan tingkat kerusakan berat pada aspek-aspek berikut:

1. Aspek penduduk, antara lain berupa korban jiwa/meninggal, hanyut, tenggelam, luka-luka, korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk terisolasi.

2. Aspek pemerintahan, antara lain berupa kerusakan atau hilangnya dokumen, arsip, peralatan dan perlengkapan kantor dan terganggunya jalannya pemerintahan.

3. Aspek ekonomi, antara lain berupa hilangnya mata pencaharian, tidak berfungsinya pasar tradisional, kerusakan dan hilangnya harta benda, ternak dan terganggunya perekonomian masyarakat.

4. Aspek sarana-prasarana, antara lain berupa kerusakan rumah penduduk, jembatan, jalan, bangunan gedung perkantoran, fasilitas sosial dan fasilitas umum, instalasi listrik, air minum dan jaringan komunikasi.

5. Aspek lingkungan, antara lain berupa kerusakan ekosistem, objek wisata, persawahan/lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul/jaringan irigasi.

Adanya dampak yang merugikan bagi masyarakat tentunya perlu diselesaikan, dengan banyaknya program maupun anggaran dalam pengendalian rob dan banjir maka perlu adanya evaluasi kinerja pada program ini. Evaluasi kinerja dapat dilakukan dengan metode audit sosial multi stakholder yang merupakan sebuah proses penilaian pada program maupun lembaga yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat dan melibatkan berbagai stakholder yang terkait.

B. METODE AUDIT SOSIAL MULTISTAKEHOLDER

a) Pengertian

Konsep audit sosial mengandung pengertian sebagai proses untuk memahami dan mengukur institutional performances dari aspek sosial (non f inansial). Audit sosial dapat memperlihatkan hasil nyata (outcome), dampak dan manfaat lembaga terhadap lingkungan sosial yang muncul sebagai akibat pelaksanaan pencapaian tujuan lembaga melalui pemantauan yang sistematik dan pandangan stakeholders secara demokratis. b) Tujuan dari audit sosial multistakholder ini adalah:

(4)

4 | P a g e

 Menguatkan kapasitas masyarakat sipil dalam ranah partisipasi dalam pelaksanaan program kebijakan pemerintah

 Memantau pelaksanaan pembangunan

 Menilai kinerja pemerintah sebagai penyedia pelayanan publik dan memberikan masukan atas temuan masalah yang muncul

 Mengidentifikasi permasalahan yang dimungkinkan muncul dalam pelaksanaan program dan kebijakan pemerintah serta mengindentifikasi kemanfaatan program dan kebijakan pemerintah

c) Alur Fasilitasi Pelaksanaan FGD ASMS

d) Aspek Komponen Akuntabilitas dan Integritas

 Aspek Eksistensi Kebijakan. Untuk mengukur dan mengetahui ketersediaan dukungan dalam bentuk peraturan dan atau kebijakan (in law), serta untuk mengetahui sejauhmana peraturan tersebut memadai dalam implementasinya

 Aspek Efektivitas Pelaksanaan. Untuk mengukur dan mengetahui kemampuan pelaksanaan (in practice) oleh pemerintah. Juga guna mengetahui praktek baik serta inovasi pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan atau program.

 Aspek Akses Masyarakat. Guna mengetahui seberapa mudah penerima manfaat memperoleh akses terhadap program, termasuk akses mengetahui setiap tahapan pelaksanaan program.

(5)

5 | P a g e e) Matriks Value Chain

Tabel 1 Matriks Value Chain

Eksistensi Kebijakan Efektifitas

Pelaksanaan

Akses Masyarakat

Perencanaan

Sejauhmana kebijakan yang ada mendorong penentuan indikator kinerja yang relevan dg isu strategis?

Bagaimana tingkat relevansi indikator kinerja dengan issu strategis

Sejauhmana kualitas keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dapat mendorong munculnya indikator kinerja yang relevan dengan issu strategis

Penganggaran

Sejauhmana peraturan yang ada mampu mendorong penganggaran program yang efisien dan rasional

Sejauhmana tingkat efisiensi dan rasionalitas anggaran

Sejauhmana keterlibatan masyarakat dalam proses penganggaran dapat memunculkan anggaran yang efisien dan rasional

Implementasi anggaran

Sejauhmana peraturan yang ada mendorong pelaksanaan program yang transparan dan akuntabel

Sejauhmana

pembelanjaan dan pelaksanaan program berjalan dengan efektif, efisien dan ekonomis

Sejauhmana masyarakat terlibat aktif dalam memantau pelaksanaan proyek pembangunan

f) Pertanyaan Kunci

Pertanyaan kunci adalah pertanyaan yang memandu agar forum dapat menghasilkan jawaban yang berupa informasi maupun fakta-fakta yang digunakan dalam menilai sebagaimana maksud dan tujuan dalam masing-masing komponen penilaian di atas. Pertanyaan kunci berdasarkan matriks value chain-komponen akuntabilitas dan inetgritas. Adapun pertanyaan kunci dalam pengendalian rob dan banjir adalah sebagai berikut :

(6)

6 | P a g e Tabel 2

Pertanyaan Kunci Berdasarkan Rantai Nilai dan Aspek Integritas Akuntabilitas

Eksistensi Kebijakan Efektifitas Pelaksanaan Akses Masyarakat

Perencanaan

1. Apakah ada

peraturannya?

2. Apakah peraturan terkait rob dan banjir yang ada mengarahkan

perencanaan

pengendalian banjir dan rob secara spesifik dan terukur

1. Apakah perencanaan pengendalian rob dan banjir sudah tepat sesuai regulasi terkait pengendalian rob dan banjir?

2. Apakah perencanaan pengendalian rob dan banjir sudah SMART?

1. Apakah dalam perencanaan pengendalian rob dan banjir sudah melibatkan masyarakat? Terutama di kawasan rawan bencana rob dan rawan bencana banjir?

2. Apakah ada usulan masyarakat terkait pengendalian rob dan banjir di kawasannya?

3. Apakah usulan tersebut pernah direalisasi?

Penganggaran

1. Apakah peraturan daerah terkait rob dan banjir mendorong alokasi anggaran yang memadai untuk pengendalian rob dan banjir?

1. Apakah anggaran untuk pengendalian rob dan banjir dialokasikan untuk program dan kegiatan sesuai regulasi?

2. Apakah anggaran program atau kegiatan pengendalian rob dan banjir rasional dan efisien?

1. Apakah SKPD berkolaborasi dengan masyarakat dalam menyusun perencanaan anggaran untuk pengendalian rob dan banjiryang efisien dan rasional?

2. Bagaimana bentuk kolaborasi SKPD dan masyarakat agar anggaran untuk pengendalian rob dan banjir dapat efien dan rasional??

3. Apakah masyarakat pernah mengusulkan program sekaligus besaran anggarannya?

4. Apakah usulan program dan besaran anggaran di realisasikan?

Implementasi anggaran

1. Apakah peraturan terkait rob dan banjir yang ada sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan

1. Apakah penyerapan anggaran pengendalian rob dan banijr dilakukan secara maksimal?

1. Apakah masyarakat telah ikut mengawasi pelaksanaan anggaran?

(7)

7 | P a g e

Eksistensi Kebijakan Efektifitas Pelaksanaan Akses Masyarakat

program yang transparan dan akuntabel?

2. Apakah program dan kegiatan pengendalian rob dan banjir yang telah dilakukan transparan dan akuntabel?

3. Apakah program dan kegiatan pengendalian rob dan banjir yang telah dilakukan menghasilkan output dan outcame sesuai dengan indikator

kinerja yang

direncanaka?

dalam pengawasan dan pelaksanaan anggaran?

3. Apakah ada dukungan masyarakat dalam bentuk lain? 4. Apakah ada pihak lain selain

pemkot semarang yang berperan dalam pengendalian rob dan banjir?

C. FAKTA BERDASASARKAN PERTANYAAN KUNCI PENGENDALIAN BANJIR DAN ROB DI KOTA SEMARANG

Pertanyaan kunci adalah pertanyaan yang memandu agar forum dapat menghasilkan jawaban yang berupa informasi maupun fakta-fakta yang digunakan dalam menilai sebagaimana maksud dan tujuan dalam masing-masing komponen penilaian . Pertanyaan kunci berdasarkan matriks value chain-komponen akuntabilitas dan inetgritas. Dibawah ini merupakan pertanyaan kunci dan penyampaian fakta pengendalian rob dan banjir di Kota Semarang.

1. Rantai Nilai Perencanaan

a) Eksistensi Kebijakan

No Value Chain - Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

1. Perencanaan – Eksistensi Kebijakan 1. Apakah ada peraturannya?

2. Apakah peraturan terkait rob dan banjir yang ada mengarahkan perencanaan pengendalian banjir dan rob secara spesifik dan terukur?

Pada pertanyaan kunci pertama di sepakati terdapat peraturan pengendalian rob dan banjir di Kota Semarang, adapun peraturan yang terkait adalah sebagai berikut:

(8)

8 | P a g e

 Perda Ruang Terbuka Hijau No.7 Tahun 2010

 Perda Pengendalian Lingkungan Hidup No.13 Tahun 2006

 Perda Rencana Induk Sistem Drainase Kota Semarang

Pada pertanyaan kunci kedua disepakati beberapa fakta yaitu sebagai berikut :

 Perda RTRW sudah mengarahkan perencanaan pengendalian rob dan banjir secara spesifik. Dalam pasal 36 terdapat rencana pengendlian rob dan banjir adalah sebagai berikut : (a) pengembangan kolam tampung air di Kecamatan Semarang Utara;

(b) pengembangan tanggul pantai di Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Genuk; (c) normalisasi aliran sungai di seluruh wilayah Kota Semarang; (d) pengendalian kawasan terbangun di Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan; dan (e) peningkatan kualitas jaringan drainase di seluruh wilayah Kota Semarang.

 Perda RTRW sudah mengarahkan pengendalian banjir melalui kawasan lindung, kawasan resapan dan Ruang Terbuka Hijau secara spesifik dan terukur. Dalam pasal Pasal 59 disebutkan apa yang diaksud dengan kawaasan resapan yaitu Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya serta meliputi kawasan yang memiliki kelerengan diatas 40% (empat puluh persen) dengan fungsi kawasan resapan air. Pada pasal ini juga disebutkan bahwa Kawasan resapan air ditetapkan dengan luas kurang lebih 433 (empat ratus tiga puluh tiga) hektar, terdapat di : Kecamatan Tembalang, Kecamatan Banyumanik, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Mijen, Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Gajahmungkur, Kecamatan Semarang Selatan, dan Kecamatan Candisari.

 Pada perda RTRW juga mengarahkan perencanaan pada Ruang Terbuka Hijau yang terdapat pada pasal 64 dimana Rencana ruang terbuka hijau direncanakan dengan luas kurang lebih 11.211 (sebelas ribu dua ratus sebelas) hektar meliputi : (a) ruang terbuka hijau privat dikembangkan seluas 10 % (sepuluh persen) dari luas wilayah kota dengan luas kurang lebih 3.737 (tiga ribu tujuh ratus tiga puluh tujuh) hektar; dan (b) ruang terbuka hijau publik dikembangkan seluas 20 % (dua puluh) dari luas kota dengan luas kurang lebih 7.474 (tujuh ribu empat ratus tujuh puluh empat) hektar.

 Perda RTH (Ruang Terbuka Hijau) mengarahkan pada penyediaan RTH sebagai salah satu upaya pengendalian banjir kiriman, dalam perda ini mengatur tentang penataan ruang terbuka hijau yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian.

 Perda pengendalian Lingkungan Hidup terkait erat dengan pengendalian rob dan banjir yaitu terdapat pada pasal 47 dimana Kegiatan pengendalian bencana meliputi kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, serta pemulihan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.

 Perda Rencana Induk Sistem Drainase secara spesifik dan terukur menyebutkan pengendalian rob dan banjir dimana perda ini dususun sebagai landasan perencanaan,

(9)

9 | P a g e pengelolaan, pengendalian, pelestarian lingkungan hidup dan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Adapun Rencana Induk Sistem Drainase memiliki tujuan menangani masalah banjir dan rob, mengendalikan daya rusak air, mewujudkan konservasi sumber daya air, menciptakan ketertiban bangunan dan lingkungan guna mengoptimalkan sistem drainase, mewujudkan peningkatan kualitas lingkungan kehidupan dan penghidupan masyrakat di wilayah perencanaan, sebagai dokumen dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan sebagai strategi pemanfaatan dan pengendalian ruang.

b) Efektivitas Pelaksanaan No Value Chain- Aspek

Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

1.2 Perencanaan – Efektivitas Pelaksanaan

1. Apakah perencanaan pengendalian rob dan banjir sudah tepat sesuai regulasi terkait pengendalian rob dan banjir?

2. Apakah perencanaan pengendalian rob dan banjir sudah SMART?

Pada pertanyaan kunci pertama diatas di sepakati beberapa fakta yaitu sebagai berikut:

 Pada perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 2011 – 2031 pasal 36 Rencana pengendalian rob dan banjir sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 huruf c meliputi:

a. Pengembangan kolam tampung air di Kecamatan Semarang Utara  sudah dilakukan oleh dinas terkait yaitu Dinas PSDA dan ESDM

b. Pengembangan tanggul pantai di Kecamatan Tugu, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Utara dan Kecamatan Genuk

c. Normalisasi aliran sungai di seluruh wilayah Kota Semarang  telah dilakukan secara rutin oleh dinas terkait yaitu Dinas PSDA dan ESDM

d. Pengendalian kawasan terbangun di Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Mijen dan Kecamatan Ngaliyan  Dinas PSDA dan ESDM membangun embung d beberapa titik (rencana sejak 2007 tertuang di RKPD dan Renja PSDA dan ESDM

e. Peningkatan kualitas jaringan drainase di seluruh wilayah Kota Semarang  telah menjadi program Dinas PSDA dan ESDM yang dilakukan setiap tahunnya.

 Belum 100% amanat perda tertuang dalam perencanaan jangka menengah dan tahunan  Amanah perda RTRW tentang Upaya perlindungan kawasan resapan air

(10)

10 | P a g e belum di tetapkan dalam RPJMD. Adapun dalam RTRW mengenai rencana kawasan resapan air tertuang pada pasal 59 yang meliputi : (a) melakukan rehabilitasi kawasan resapan air yang telah gundul melalui penghijauan; dan (b) mengarahkan pemanfaatan ruang di kawasan resapan air untuk fungsi hutan.

 Upaya perlindungan kawasan resapan air, masuk pada renja BLH : Penghijauan di kec.gunung pati dan mijen dengan cara menanam pohon buah.

 Pada pertanyaan kunci kedua diatas di sepakati beberapa fakta yaitu sebagai berikut:

 Program dan kegiatan yang di amanatkan di regulasi belum tertuang dalam dokumen perencanaan secara spesifik dan terukur  target RTH, perlindungan kawasan resapan. Pada perda RTRW pasal 59

(1) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 huruf a meliputi kawasan yang memiliki kelerengan diatas 40% (empat puluh persen) dengan fungsi kawasan resapan air. (2) Kawasan resapan air ditetapkan dengan luas kurang lebih 433 (empat ratus tiga puluh tiga) hektar, terdapat di :

 Kecamatan Tembalang;  Kecamatan Banyumanik;  Kecamatan Gunungpati;  Kecamatan Mijen;  Kecamatan Ngaliyan;  Kecamatan Gajahmungkur;

 Kecamatan Semarang Selatan; dan  Kecamatan Candisari.

 Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan SDA dalam RPJMD tidak memiliki indikator kinerja namun terdapat plafon anggaran setiap tahun

c) Akses Masyarakat

No Value Chain- Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

1.3 Perencanaan – Akses Masyarakat

1. Apakah dalam perencanaan pengendalian rob dan banjir sudah melibatkan masyarakat? Terutama di kawasan rawan bencana rob dan rawan bencana banjir?

2. Apakah ada usulan masyarakat terkait pengendalian rob dan banjir di kawasannya?

(11)

11 | P a g e 3. Apakah usulan tersebut pernah direalisasi?

Pada pertanyaan kunci diatas di sepakati beberapa fakta sebagai berikut :

 Sudah ada usulan masyarakat terkait pengendalian rob dan banjir, usulan ini juga berasal dari masyarakat yang terkena dampak dari bencana tersebut.

 Salah satu Usulan dari masyarakat yaitu pembangunan talud kalibanger yang masuk dalam dokumen perencanaan di usulkan 500 m namun realisasinya tidak sesuai karena pembangunannya hanya 100 m.

 Adapun usulan masyarakt melalui musrenbang, pokok – pokok pikiran anggota dewan, serta keputusan SKPD terkait.

 Usulan masyarakat yang masuk sangat banyak sehingga tidak dapat diakomodir atau diimplementasikan semua sehingga perlu kajian skala prioritas.

 Usulan masyarakat masih sporadis/belum terintegrasi terkait konsep pengendalian rob dan banjir sehingga perlu ada kajian lebih mendalam.

2. Rantai Nilai Penganggaran

a) Eksistensi Kebijakan

Pada pertanyaan kunci diatas di sepakati beberapa fakta sebagai berikut :

 Perda RTH hanya mendorong agar pemerintah mengalokasi anggaran untuk RTH bagi fasilitas publik namun tidak menyebutkan secara spesifik besaran anggaran yang dibutuhkan

 Pada penjelasan Perda RTH No.7 Tahun 2010 Pasal 188 Ayat (1) disebutkan Perencanaan RTH merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan kegiatan Perencanaan Teknis/Detail Engineering Design (DED), sehingga biaya perencanaan RTH tertuang dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) Perencanaan Teknis / DED, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari komponen Perencanaan Teknis maupun DED itu sendiri.

No Value Chain- Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

2.1 Penganggaran – Eksistensi Kebijakan

1. Apakah peraturan daerah terkait rob dan banjir mendorong alokasi anggaran yang memadai untuk pengendalian rob dan banjir?

(12)

12 | P a g e

 Perda Pengendalian Lingkungan Hidup No.13 Tahun 2006 hanya mendorong agar pemerintah mengalokasi anggaran untuk RTH bagi fasilitas publik namun tidak menyebutkan secara spesifik besaran anggaran yang dibutuhkan

 Perda Pengendalian Lingkungan Hidup No.13 Tahun 2006 pada Pasal 91 menyebutkan Pembiayaan pengendalian lingkungan hidup Daerah bersumber dari: a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD); b. penanggungjawab usaha; dan c. sumber-sumber lain yang sah.

 Perda Drainase menyebutkan mengenai pembiayaan pengendalian rob dan bajir pada pasal 47 yang menyebutkan Pembiayaan sistem drainase ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sistem drainase. Adapun jenis pembiayaan sistem drainase sebagaimana dimaksud meliputi:

a) Biaya sistem informasi drainase b) Biaya perencanaan

c) Biaya pelaksanaan kontruksi d) Biaya operasi, pemeliharaan e) Biaya pengadaan lahan

f) Biaya pemantauan, evaluasi dan pemberdayaan masyarakat

Sumber dana untuk setiap jenis pembiayaan sebagaimana dimaksud dapat berasal dari:

a) Pemerintah

b) Pemerintah daerah provinsi c) Pemerintah daerah

d) Pemerintah daerah lainnya

e) Sumber – sumber lain yang sah dan tidak mengikat

 Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 2011 – 2031 pasal 106 ayat 2 menyebutkan Perumusan program sektoral dalam rangka perwujudan struktur ruang dan pola ruang wilayah dan kawasan strategis sebagaimana dimaksud merupakan prioritas pelaksanaan pembangunan yang disusun berdasarkan atas kemampuan pembiayaan dan kegiatan yang mempunyai efek mengganda sesuai arahan umum pembangunan daerah.

 Pada Lampiran Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 2011 – 2031 terdapat tabel Prioritas pelaksanaan pembangunan disusun dalam indikasi program meliputi : a. usulan program utama; b. lokasi; c. besaran biaya; d. sumber pendanaan; e. instansi pelaksanaan; dan f. waktu pelaksanaan

(13)

13 | P a g e b) Efektivitas Pelaksanaan

No Value Chain- Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

2.2 Penganggaran – Efektivitas Pelaksanaan

1. Apakah anggaran untuk pengendalian rob dan banjir dialokasikan untuk program dan kegiatan sesuai regulasi?

2. Apakah anggaran program atau kegiatan pengendalian rob dan banjir rasional dan efisien?

Pada pertanyaan kunci diatas di sepakati beberapa fakta sebagai berikut :

 Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 2011 – 2031 Pasal 73 Ayat 2 menyebutkan bahwa Rencana pengelolaan kawasan rawan bencana rob meliputi : 1. Pembuatan kolam penampung air;

2. pengembangan stasiun pompa air pada kawasan terbangun untuk mengurangi genangan rob;

3. Pengerukan saluran drainase hingga sampai muara sungai 4. Pembuatan tanggul pantai

5. Peningkatan rekayasa teknis pada lokasi tertentu seperti pembuatan bangunan pemecah ombak, tanggul, kolam retensi dan kanal limpasan

6. Penghijauan kawasan pantai

 Program pembuatan tanggul pantai yang diamanatkan perda RTRW kepada dinas PSDA dan ESDM tidak masuk kedalam rencana kerja dinas terkait sehingga tidak dianggarkan.

 Program dan kegiatan dina PSDA dan ESDM dalam pengendalian rob dan banjir adalah sebagai berikut :

 Program Pengendalian Rob dan Banjir : operasional pompa kali semarang  Program Prembangunan Saluran drainase dan Gorong2

 Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi rawa dan jaringan pengairan lainnya : OP, Pembangunan talud, perbaikan pintu air

 Program peningkatan sapras drainase : OP, pengadaan alat

 Pada program dan kegiatan Badan Lingkungan hidup salah satunya adalah Pembuatan sumur resapan dan biopori terdapat pada perda drainase pasal 57 yang berbunyi : 1) Setiap orang yang melakukan alih fungsi lahan dari lahan terbuka menjadi lahan

terbangun wajib melaksanakan ketentuan debit antara sebelum dan sesudah terbangun sama (zero delta q policy).

(14)

14 | P a g e 2) Untuk mewujudkan debit antara sebelum dan sesudah terbangun sama (zero delta

q policy) sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dilakukan melalui pembangunan : embung, kolam retensi, kolam detensi, taman atap, kolam tandon, sumur resapan. Biopori, bioretensi dan penghijauan

 Pengadaan dan penanaman mangrove di wilayah pesisir ( RTRW pasal 73 dan perda kawasan pesisir )

 Pembuatan sabuk pantai ( 100m dari bis beton ) ( perda RTRW pasal 73)

 Penghijauan kawasan resapan air dan lahan kritis di Gunungpati dan Mijen ( perda RTRW pasal 73)

 Program pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan salah satunya adalah Program pengelolaan RTH terdapat pada perda RTH dan perda RTRW pasal 6 ayat 4 yang berbunyi : (4) Strategi peningkatan dan penyediaan ruang terbuka hijau yang proporsional di seluruh wilayah Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi :

a. mempertahankan fungsi dan menata ruang terbuka hijau yang ada; b. mengembalikan ruang terbuka hijau yang telah beralih fungsi;

c. meningkatkan ketersediaan ruang terbuka hijau di kawasan pusat kota;

d. mengembangkan kegiatan agroforestry di kawasan pertanian lahan kering yang dimiliki masyarakat;

e. mengembangkan inovasi dalam penyediaan ruang terbuka hijau; dan

f. mengembangkan kemitraan atau kerjasama dengan swasta dalam penyediaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau.

 Program dan kegiatan Bappeda salah satunya yaitu Pembuatan EWS ( early warning system ) di Kali Bringin sesuai dengan Perda RTRW Pasal 75 Ayat 2 yang berbunyi Rencana pengelolaan kawasan rawan bencana banjir meliputi :

1. menetapkan tingkat bahaya banjir permasing-masing kawasan;

2. memindahkan bangunan dan atau rumah yang ada di kawasan rawanbanjir permanen; dan

3. melakukan pengerukan saluran drainase dan sungai.

 Adapun program pembuatan EWS oleh Bappeda ini selaras dengan Perda Drainase Pasal 44 mengenai Sistem Informasi Drainse ayat 2 yang berbunyi sistem informasi drainase yang dimaksud meliputi data base sistem drainase dan sistem peringatan dini banjir.

 Program EWS (Early Warning System) juga selaras dengan Perda Pengendalian Lingkungan Hidup No.13 Tahun 2006 Pasal 47 yang berbunyi :

(1) Kegiatan pengendalian bencana meliputi kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, serta pemulihan lingkungan hidup, dilaksanakan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan.

(15)

15 | P a g e (2) Kegiatan pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

 penetapan daerah-daerah yang termasuk potensi rawan bencana;  pendidikan dan pelatihan untuk masyarakat di daerah potensi bencana;  pemberdayaan masyarakat rawan bencana;

 pemasangan alat peringatan dini; dan

 penyusunan sistem informasi dan basis data serta penanganan kebencanaan.

 Pada tahun anggaran 2014 ,terdapat kegiatan peningkatan pembangunan pusat – pusat pengendalian banjir untuk sub keg pengadaan dan pemasangan pagar pengaman rumah pompa boom lama II sebesar rp.120 juta. Budget pembangunan pagar rumah pompa dinilai tidak rasional dan efisien dikarenakan rumah pompa tersebut sudah dikelilingi oleh tembok, sehingga dana yang dibutuhkan sedikit/ tidak mencapai Rp. 120.000.000,-.

 Kegiatan pembebasan tanah waduk jatibarang di anggaran murni 2012 dianggarkan sebesar 55.304.000, lalu pada APBD perubahan 2012 ditambah menjadi 5.461.034.250, dan ternyata hanya terealisasi 34.545.400 , Hal ini menunjukkan adanya penambahan anggaran yang tidak rasional dan efisien hingga mencapai 98, 75 %, padahal pada akhirnya hanya mampu terealisasi 0,006 %

c) Akses Masyarakat

No Value Chain- Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

2.3 Penganggaran – Akses Masyarakat 1. Apakah SKPD berkolaborasi dengan masyarakat dalam menyusun perencanaan anggaran untuk pengendalian rob dan banjiryang efisien dan rasional?

2. Bagaimana bentuk kolaborasi SKPD dan masyarakat agar anggaran untuk pengendalian rob dan banjir dapat efien dan rasional??

3. Apakah masyarakat pernah mengusulkan program sekaligus besaran anggarannya? 4. Apakah usulan program dan besaran

anggaran di realisasikan?

(16)

16 | P a g e

 Ada ruang partisipasi bagi Masyarakat melalui form usulan musrenbang namun waktu yang dialokasikan tidak cukup sehingga tidak memungkinkan membahas penganggaran yg rasional dan efisien, adanya pembatasan usulan infrastruktur maksimal 3 (di juklak juknis musrenbang)

 Tidak ada bentuk kolaborasi antara SKPD dan Masyarakat dalam penganggaran untuk pengendalian rob dan banjir agar dapat efisen dan rasional

 Masyarakat pernah mengusulkan program sekaligus besaran anggarannya pada musrenbang

 Usulan program dan besaran anggaran di realisasikan contoh rumah pompa pedurungan tahun 2010 yang diajukan melalui proposal dan musrenbang

3. Rantai Nilai Implementasi Anggaran

a) Eksistensi Kebijakan

No Value Chain- Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

3.1 Implementasi Anggaran – Eksistensi Kebijakan

1. Apakah peraturan terkait rob dan banjir yang ada sudah cukup untuk mengatur pelaksanaan program yang transparan dan akuntabel?

 Pada penjelasan Perda Pengendalian Lingkungan Hidup No.13 Tahun 2006 Pasal 2 Huruf d terdapat penjelasan mengenai :

1) Asas Transparansi memberikan kejelasan agar pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan dengan keikutsertaan masyarakat secara terbuka mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi.

2) Asas Akuntabilitas dimaksudkan agar dalam melaksanakan pengendalian lingkungan hidup hasilnya dapat dipertanggung jawabkan kepada publik, sehingga kekurangan maupun keberhasilannya dapat diketahui bersama, dengan demikian diharapkan agar masyarakat ikut serta memberikan solusi dan penanganannya. 3) Asas Partisipasi memberikan kejelasan bahwa semua masyarakat dengan

kesadarannya sendiri berperan serta dalam tanggung jawabnya terhadap pelestarian lingkungan hidup.

 Pada perda Ruang Terbuka Hijau menjelaskan mengenai Peran Serta Masyarakat Pasal 200 yaitu :

1) Peran serta masyarakat dalam penataan RTH meliputi penyediaan lahan, pembangunan dan pemeliharaan RTH.

(17)

17 | P a g e 2) Tata cara peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan

sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Pelaksanaan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasi oleh Walikota termasuk pengaturannya pada tingkat Kecamatan sampai dengan Kelurahan.

4) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara tertib sesuai dengan Rencana RTH.

5) Pelaksanaan Penataan RTH harus menjadi gerakan sosial masyarakat

 Kemudian Pasal 201 Pada perda Ruang Terbuka Hijau disebutkan : (1) Tiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperanserta dalam pelaksanaan penataan RTH. (2) Peran serta masyarakat dalam rangka Penataan RTH sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berbentuk :

1) Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan gerakan sosial; 2) menumbuhkembangkan kemampuan kepeloporan masyarakat;

3) penyediaan lahan/tanah milik pribadi untuk penyelenggaraan RTH; 4) penyandang dana dalam rangka penyelenggaraan RTH;

5) memberi saran, pendapat dan/atau masukan dalam rangka ikut menentukan penetapan lokasi RTH;

6) memberikan bantuan dalam rangka mengidentifikasi berbagai potensi dan masalah dalam rangka penyelenggaraan RTH;

7) kerjasama dalam rangka penelitian dan pengembangan

8) memberikan informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyelenggaraan RTH;

9) pemanfaatan dan penyelenggaraan RTH pada halaman pekarangan sesuai ketentuan yang berlaku;

10) memberikan bantuan pelaksanaan pembangunan RTH;

11) memberikan bantuan keahlian dan pengetahuan dalam penyelenggaraan RTH; 12) bantuan dalam hal perumusan rencana pembangunan dan pengelolaan RTH; 13) ikut aktif menjaga, memelihara dan meningkatkan fungsi serta potensi RTH yang

ada; dan

14) melakukan pengawasan dalam hal pemanfaatan RTH sesuai ketentuan yang berlaku.

 Pada perda Drainase juga menyebutkan mengenai peran masyarakat yang terdapat pada pasal 59 yaitu :

1) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan serta dalam pengelolaan sistem drainase

2) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dilakukan melalui  Pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada pemerintah daerah

(18)

18 | P a g e  Perumusan kebijakan pengelolaan sistem drainase

 Pemberian saran dan pendapat dalam penyelesaian sengketa berkaitan dengan penyelenggaraan pengelolan sistem drainase dan

 Terlibat secara aktif dalam penyelenggaraan pengelolan sistem drainase 3) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dilakukan secara

perorangan atau dengan membentuk kelompok kerja masyaraat yang peduli terhadap drainase

 Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 2011 – 2031 pada pasal 160 menyebutkan Peran Serta Masyarakat :

1) Mengenai Peran masyarakat dalam penataan ruang dilakukan pada tahap :a. perencanaan tata ruang; b. pemanfaatan ruang; dan c. pengendalian pemanfaatan ruang.

2) Bentuk peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi :

 Masukan mengenai: persiapan penyusunan rencana tata ruang; 2. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan; 3. pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah atau kawasan; 4. perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan/atau 5. penetapan rencana tata ruang.  Kerja sama dengan Pemerintah Kota dan/atau sesama unsur masyarakat

dalam perencanaan tata ruang.

3) Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi :

 masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang;

 kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur masyarakat dalam pemanfaatan ruang;

 kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata ruang yang telah ditetapkan;

 peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang darat, ruang laut, ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;

 kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam; dan

 kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4) Bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi :

(19)

19 | P a g e  masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian

insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi;

 keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang yang telah ditetapkan;

 pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal menemukan dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar rencana tata ruang yang telah ditetapkan; dan  pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang terhadap

pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

b) Efektivitas Pelaksanaan

No Value Chain- Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

3.2 Implementasi Anggaran – Efektivitas Pelaksanaan

1. Apakah penyerapan anggaran pengendalian rob dan banijr dilakukan secara maksimal? 2. Apakah program dan kegiatan pengendalian

rob dan banjir yang telah dilakukan transparan dan akuntabel?

3. Apakah program dan kegiatan pengendalian rob dan banjir yang telah dilakukan menghasilkan output dan outcame sesuai dengan indikator kinerja yang direncanakan?

Pada pertanyaan kunci pertama di sepakati beberapa fakta sebagai berikut :

 Penyerapan anggaran pengendalian rob dan banijr belum dilakukan secara maksimal, hal ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini:

Program pengendalian banjir dan rob 2012-2014

Trend anggaran program pengendalian banjir dari tahun 2012 s/d tahun 2014 pada Dinas PSDA dan ESDM berdasarkan dokumen APBD Kota Semarang adalah sebagai berikut :

(20)

20 | P a g e

No Program/kegiatan 2012 2013 2014

1 Program pengendalian banjir Rp, 31.594.866.000 Rp, 70.956.466.000 Rp, 143.253.757.000 2 Program peningkatan sarana

dan prasarana drainase

Rp, 4.935.000.000 Rp, 6.430.000.000 Rp, 5.382.931.000

3 Program pembangunan

drainase dan gorong-gorong

Rp, 47.910.000.000 Rp, 7.200.676.000 Rp, 26.463.114.000

Tabel di atas menunjukkan bahwa anggaran pada program pengendalian banjir selalu mengalami peningkatan dari tahun 2012 hingga 2014. Berbeda dengan dua program lain yang besarannya cenderung naik turun dari tahun 2014 hingga 2014. Dalam perubahan anggaran pada tahun anggaran 2012 dan 2013 pun program pengendalian banjir selalu mendapat tambahan dana seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut:

No Program/kegiatan 2012 2013

Perubahan Realisasi Perubahan realisasi

1 Program pengendalian banjir Rp, 55.971.578.250 Rp, 18.909.990.457 Rp, 91.264.625.000 Rp, 35.721.665.105 2 Program peningkatan

sarana dan prasarana drainase Rp, 5.658.000.000 Rp, 3.548.694.628 Rp, 4.535.000.000 Rp, 3.884.991.300 3 Program pembangunan drainase dan gorong-gorong

Rp, 47.910.000.000 Rp, 38.305.556.926 Rp,

8.432.648.000

Rp, 7.012.797.124

Namun capaian realisasi anggaran pada program pengendalian banjir masih terbilang buruk. Pada tahun 2012 hanya terealisasi sebesar 33,78% dan pada tahun 2013 terealisasi sebesar 39,14%. Jauh dibawah target yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Semarang.

Berdasarkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ Walikota) tahun anggaran 2012 dan 2013, kegiatan-kegiatan dalam program pengendalian banjir yang tidak terlaksana dapat diketahui. Kegiatan yang belum terlaksana pada tahun anggaran 2012 antara lain:

a. Kegiatan pembebasan tanah kali bringin tahap I dan pembebasan tanah embung hulu kali bringin. Penyebab dari kegagalan kegiatan ini adalah proses pembebasan lahan yang kompleks, prosedurnya panjang dan memerlukan waktu relatif lama. b. Kegiatan penyediaan lahan kolam retensi kali semarang tidak dapat terlaksana.

Alasam yang dikemukakan adalah belum adanya kesepakatan antara penerima ganti yaitu PT PELINDO selaku pengelola lahan dengan PT TMB selaku pemegang hak guna bangunan diatas hak pengelolaan lahan

(21)

21 | P a g e c. Kegiatan pembebasan tanah waduk jatibarang (program JBIC) tidak dapat

dilaksanakan karena belum adanya kesepakatan dengan penerima ganti untung. d. Kegiatan pendampingan normalisasi kali tenggang, pendampingan normalisasi kali

garang dan kali banjir kanal barat, pendampingan pekerjaan kanal permukaan paket C3, pendampingan pembangunan kolam retensi polder banger, semua kegiatan tersebut merupakan kegiatan pendampingan operasional tali asih yang tidak terlaksana karena belum ada kesepakatan dengan penerima tali asih dan terkendala permendagri no 32 tahun 2011 tentang hibah dan bansos.

Kegiatan yang belum terlaksana dengan baik di tahun anggaran 2013 antara lain:

a. Peningkatan saluran drainase kali tenggang (ruas arteri s/d kaligawe). 2 dari 3 paket peninggian/peningkatan jalan tidak terlaksana. Yang pertama paket peninggian jembatan daendel dikarenakan gagal lelang. Yang kedua peninggian jembatan muktiharjo dikarenakan penyedia jasa tidak dapat menyelesaikan kontrak.

b. Lanjutan peningkatan saluran drainase kali tenggang (ruas arteri s/d muara) tidak dapat direalisasikan karena adanya perbedaan penghitungan volume dan biaya sehingga rekanan tidak dapat melakukan serah terima konstruksi.

c. Kegiatan pembebasan tanah kali bringing tahap I dan pembebasan tanah embung huli kali bringin tidak dapat dilaksanakan karena proses pembebasan lahan yang kompleks dan perlu verifikasi bukti kepemilikan lahan yang memakan waktu lama. d. Kegiatan penyediaan lahan kolam retensi kali semarang dikarenakan belum

adanya kesepakatan penerima ganti PT Pelindo selaku pengelola lahan dengan PT TMB selaku pemegang hak guna bangunan diatas hak pengelolaan lahan.

e. Kegiatan perencanaan pembebasan tanah program waduk jatibarang paket C tidak terlaksana

f. Pembebasan tanah sistem drainase kawasan masjid agung tidak terlaksana karena belum ada kesepakatan dengan penerima ganti rugi.

(22)

22 | P a g e

Urusan Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup :

No Program 2012 2013 2014

Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi

1 Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup 1.465.860.500 1.412.101.500 96,33% 2.366.254.000 2.253.359.880 95,23% 1.768.419.000 2 Program perlindungan

dan konservasi SDA 1.980.584.000 1.585.546.500 80,05% 2.930.205.000 2.756.837.100 94,00% 4.329.872.000

Capaian kinerja Urusan Lingkungan Hidup pada Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup selama tahun 2012 dapat dilihat dari beberapa indikator, Hasil – hasil kegiatan yang telah dicapai dalam program ini antara lain :

a) Terwujudnya peningkatan kualitas lingkungan yang dapat dilihat dari penurunan jumlah kasus pencemaran lingkungan dari 55 perkara pada tahun 2011 berkurang menjadi 48 perkara pada tahun 2012 dan dari kasus yang muncul baik pada tahun 2011 maupun 2012 dapat ditanagani 100%.

b) Penurunan jumlah industri/kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan pencemaran/kerusakan lingkungan dari 220 industri/kegiatan pada tahun 2011 menjadi 132 industri/kegiatan pada tahun 2012 dan 48 industri/kegiatan usaha telah diadukan masyarakat karena mencemari lingkungan .

c) Meningkatnya jumlah industri/kegiatan usaha yang telah menyusun dokumen kajian lingkungan dari 100 industri/kegiatan pada tahun 2011 menjadi 202 industri / kegiatan usaha pada tahun 2012.

(23)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 23 of 31 d) Penurunan jumlah industri/kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan pencemaran/kerusakan lingkungan dari 220 industri/kegiatan pada tahun 2011 menjadi 132 industri/kegiatan pada tahun 2012 dan 48 industri/kegiatan usaha telah diadukan masyarakat karena mencemari lingkungan .

e) Meningkatnya jumlah industri/kegiatan usaha yang telah menyusun dokumen kajian lingkungan dari 100 industri/kegiatan pada tahun 2011 menjadi 202 industri / kegiatan usaha pada tahun 2012.

f) Berkurangnya luas lahan dan/atau tanah yang kritis di Kota Semarang dari 729,23 Ha pada tahun 2012 menjadi 724,23 Ha pada tahun 2013.

g) Peningkatan respon terhadap pengaduan masyarakat dapat dilihat dari pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup yang diajukan sejumlah 48 dapat ditindaklanjuti 100%.

h) Dari 34 sungai di Kota Semarang yang dipantau kualitas airnya 61,7% melampaui Baku Mutu Air yang ditetapkan

i) Meningkatnya cakupan penghijauan wilayah rawan longsor dan sumber mata air dari 16,5 Ha pada tahun 2011 menjadi 21,5 Ha pada derah tangkapan Air Waduk Jatibarang

j) Meningkatnya penegakan hukum lingkungan melalui penyusunan berkas perkara dan pelimpahan bekas perkara kasus penambangan minerba eks galian C di Kota Semarang ke Kejaksanaan.

Capaian kinerja Urusan Lingkungan Hidup pada Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup selama tahun 2013 dapat dilihat dari beberapa indikator, Hasil – hasil kegiatan yang telah dicapai dalam program ini antara lain :

a) Terwujudnya peningkatan kualitas lingkungan yang dapat dilihat dari penurunan jumlah kasus pencemaran lingkungan dari 48 perkara pada tahun 2012 berkurang menjadi 33 perkara pada tahun 2013 dan dari kasus yang muncul baik pada tahun 2012 maupun 2013 dapat ditanagani 100%.

b) Penurunan jumlah industri/kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan pencemaran/kerusakan lingkungan dari 154 industri/kegiatan pada tahun 2012 menjadi 120 industri/kegiatan pada tahun 2013 .

c) Meningkatnya jumlah industri/kegiatan usaha yang telah menyusun dokumen kajian lingkungan dari 100 industri/kegiatan pada tahun 2012 menjadi 114 industri / kegiatan usaha pada tahun 2013.

d) Berkurangnya luas lahan dan/atau tanah yang kritis di Kota Semarang dari 724,23 Ha pada tahun 2012 menjadi 719,23 Ha pada tahun 2013.

(24)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 24 of 31 e) Peningkatan respon terhadap pengaduan masyarakat dapat dilihat dari pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup yang diajukan sejumlah 33 dapat ditindaklanjuti 100%.

f) Peningkatan jumlah titik pantau khususnya terhadap kualitas air yang telah dilakukan pada 34 sungai di Kota Semarang atau sebesar 53,1% dari total jumlah sungai yang ada sebanyak 64 sungai.

g) Meningkatnya penegakan hukum lingkungan melalui penyusunan berkas perkara dan pelimpahan bekas perkara kasus penambangan minerba eks galian C di Kota Semarang ke Kejaksanaan. Pada saat ini masih dalam tahap penyidikan dan pengumpulan data.

Capaian kinerja Urusan Lingkungan Hidup pada Program perlindungan dan konservasi SDA selama tahun 2013 dapat dilihat dari beberapa indikator, Hasil – hasil kegiatan yang telah dicapai dalam program ini antara lain :

a) Peningkatan mitigasi/adaptasi daerah rawan kekeringan akibat dampak perubahan iklim dengan dibangunnya Rain Harvesting / pemanen air hujan dari 39 unit pada tahun 2012 menjadi 49 unit pada tahun 2013

b) Peningkatan konservasi lahan kritis dari 21,5 Ha pada tahun 2012 menjadi 26,5 Ha pada Daerah Tangkapan Air Waduk Jatibarang pada tahun 2013.

c) Diketahuinya status kondisi awal lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa di 12 (dua belas) kelurahan di Kecamatan Gunungpati.

d) Terwujudnya peningkatan pengelolaan lahan galian Golongan C melalui pengendalian dan pengawasan kegiatan penambangan minerba di 15 lokasi serta pengawasan pengendalian terhadap pemanfaatan air tanah terhadap 66 industri dengan hasil sebagai berikut :

i. 2 (dua) kegiatan dari 15 kegiatan yang diawasi (13%), berijin dan masa berlaku perijian sampai dengan tahun 2013.

ii. 87% ijin penambangan minerba sudah habis masa berlaku perijinannya dan/atau dalam proses perpanjangan perijinan, namun demikian SKPD terkait belum dapat memproses perijinannya, dikarenakan belum ada dasar hukumnya (belum ditetapkannya Perda tentang Perijinan Penambangan Minerba).

iii. Hasil pengawasan pemanfaatan air tanah, terdapat 70 % dari 66 industri/ perusahaan belum melaksanakan upaya konservasi pemanfaatan air tanah.

(25)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 25 of 31

Dinas Kebersihan dan Pertamanan

No Program 2012 2013 2014

Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi

1

Program pengelolaan

RTH 3.784.284.800 3.591.321.740 94,90% 11.655.851.346 7.723.254.040 66,26% 16.850.500.722

Capaian kinerja Urusan Lingkungan Hidup pada Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau selama tahun 2012 dapat dilihat dari beberapa indikator, Hasil – hasil kegiatan yang telah dicapai dalam program ini antara lain :

Ruang terbuka hijau ini salah satu di dalamnya mencakup mengenai taman kota dan lingkungan. Taman yang seyogyanya menjadi salah satu ruang publik dengan fungsi ekologis dan estetika untuk lingkungan sekitarnya menjadi ruang pembentuk lingkungan sosial. Ruang ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat kota untuk mendapatkan nilai ekologis yang ada pada lingkungan sekitar aktivitas mereka, di Kota Semarang dalam meningkatkan RTH melalui peningkatan penghijauan turus jalan dan peningkatan taman-taman kota sebagai sarana publik, khususnya Kota Semarang melakukan terobosan dalam rangka meningkatkan RTH kota yaitu dengan dibangunnya taman eks Pasar Rejomulyo untuk djadikan RTH yang berintegrasi langsung untuk ruang publik.

Jumlah taman yang dikekola oleh Pemerintah Kota Semarang sebanyak 188 taman yang meliputi taman aktif maupun pasif. Adapun rehab taman yang dilaksanakan pada tahun 2012 antara lain:

a) Rehabilitasi Taman Progo b) Rehabilitasi Taman Kawi

c) Rehabilitasi Taman Stadion Diponegoro d) Rehabilitasi Taman Pamularsih

e) Rehabilitasi Taman Delta Kaligawe f) Rehabilitasi Taman ATN

g) Rehabilitasi Taman Sudirman h) Rehab Taman Bubakan

(26)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 26 of 31 Capaian kinerja Urusan Lingkungan Hidup pada Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau selama tahun 2013 dapat dilihat dari beberapa indikator, Hasil – hasil kegiatan yang telah dicapai dalam program ini antara lain :

Ruang terbuka hijau ini salah satu di dalamnya mencakup mengenai taman kota dan lingkungan. Taman yang seyogyanya menjadi salah satu ruang publik dengan fungsi ekologis dan estetika untuk lingkungan sekitarnya menjadi ruang pembentuk lingkungan sosial. Ruang ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat kota untuk mendapatkan nilai ekologis yang ada pada lingkungan sekitar aktivitas mereka, di Kota Semarang dalam meningkatkan RTH melalui peningkatan penghijauan turus jalan dan peningkatan taman-taman kota sebagai sarana publik, khususnya Kota Semarang melakukan terobosan dalam rangka meningkatkan RTH kota yaitu dengan dibangunnya taman eks Pasar sampangan untuk djadikan RTH yang berintegrasi langsung untuk ruang publik.

Jumlah taman yang dikekola oleh Pemerintah Kota Semarang sebanyak 237 taman yang meliputi taman aktif maupun pasif antara lain Taman dan patung Proklamator di Jalan Sukarno Hatta, Taman Tlogosari, Taman Tirto Agung, Taman Madukoro, Taman Ngalian dan Taman Adipura serta Taman Air Mancur di Jalan Pahlawan.

Dinas Kebersihan dan Pertamanan

No Program 2012 2013 2014

Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi

1

Program pengelolaan

RTH 3.784.284.800 3.591.321.740 94,90% 11.655.851.346 7.723.254.040 66,26% 16.850.500.722

Capaian kinerja Urusan Lingkungan Hidup pada Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau selama tahun 2012 dapat dilihat dari beberapa indikator, Hasil – hasil kegiatan yang telah dicapai dalam program ini antara lain :

(27)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 27 of 31 Ruang terbuka hijau ini salah satu di dalamnya mencakup mengenai taman kota dan lingkungan. Taman yang seyogyanya menjadi salah satu ruang publik dengan fungsi ekologis dan estetika untuk lingkungan sekitarnya menjadi ruang pembentuk lingkungan sosial. Ruang ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat kota untuk mendapatkan nilai ekologis yang ada pada lingkungan sekitar aktivitas mereka, di Kota Semarang dalam meningkatkan RTH melalui peningkatan penghijauan turus jalan dan peningkatan taman-taman kota sebagai sarana publik, khususnya Kota Semarang melakukan terobosan dalam rangka meningkatkan RTH kota yaitu dengan dibangunnya taman eks Pasar Rejomulyo untuk djadikan RTH yang berintegrasi langsung untuk ruang publik.

Jumlah taman yang dikekola oleh Pemerintah Kota Semarang sebanyak 188 taman yang meliputi taman aktif maupun pasif. Adapun rehab taman yang dilaksanakan pada tahun 2012 antara lain:

a) Rehabilitasi Taman Progo b) Rehabilitasi Taman Kawi

c) Rehabilitasi Taman Stadion Diponegoro d) Rehabilitasi Taman Pamularsih

e) Rehabilitasi Taman Delta Kaligawe f) Rehabilitasi Taman ATN

g) Rehabilitasi Taman Sudirman h) Rehab Taman Bubakan

i) Reha Taman Simongan (Sma Pho Kong)

Capaian kinerja Urusan Lingkungan Hidup pada Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau selama tahun 2013 dapat dilihat dari beberapa indikator, Hasil – hasil kegiatan yang telah dicapai dalam program ini antara lain :

Ruang terbuka hijau ini salah satu di dalamnya mencakup mengenai taman kota dan lingkungan. Taman yang seyogyanya menjadi salah satu ruang publik dengan fungsi ekologis dan estetika untuk lingkungan sekitarnya menjadi ruang pembentuk lingkungan sosial. Ruang ini dapat menjadi ruang bagi masyarakat kota untuk mendapatkan nilai ekologis yang ada pada lingkungan sekitar aktivitas mereka, di Kota Semarang dalam meningkatkan RTH melalui peningkatan penghijauan turus jalan dan peningkatan taman-taman kota sebagai sarana publik, khususnya Kota Semarang melakukan terobosan dalam rangka meningkatkan RTH kota yaitu dengan dibangunnya taman eks Pasar sampangan untuk djadikan RTH yang berintegrasi langsung untuk ruang publik.

Jumlah taman yang dikekola oleh Pemerintah Kota Semarang sebanyak 237 taman yang meliputi taman aktif maupun pasif antara lain Taman dan patung

(28)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 28 of 31 Proklamator di Jalan Sukarno Hatta, Taman Tlogosari, Taman Tirto Agung, Taman Madukoro, Taman Ngalian dan Taman Adipura serta Taman Air Mancur di Jalan Pahlawan.

Dinas Tata Kota dan Perumahan

No Program 2012 2013 2014

Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi % Anggaran Realisasi

1

Program Pengendalian

Pemanfaatan ruang 1.124.500.000 860.257.600 76,50% 1.004.000.000 947.932.000 92,26 650.000.000

Penataan ruang di tahun 2013 mencoba mengimplementasikan beberapa indikasi program tata ruang dalam RTRW Kota Semarang Tahun 2011-2031. Beberapa kegiatan fasilitasi dan koordinasi serta kegiatan studi telah dilaksanakan, dalam rangka menyusun acuan implementasi program RTRW antara lain:

1) Pengawasan dan Pengendalian Bangunan serta Tempat Usaha.

Terbentuknya Tim Pengawasan dengan tujuan agar dapat melaksanakan pengawasan terhadap bangunan dan tempat usaha yang belum berijin dan pengawasan terhadap pelaku pembangunan/usaha di 16 Kecamatan yang melakukan pelanggaran atas ijin yang sudah diterbitkan Pemerintah Kota Semarang

2) Sosialisasi Perda Bangunan dan Perda HO.

Terlaksananya sosialisasi Perda Bangunan dan Perda HO, supaya masyarakat paham akan aturan dalam pengajuan ijin bangunan dan ijin gangguan/ HO, sosialisasi ini dilaksanakan pada 8 Kecamatan yaitu Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Selatan, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Banyumanik, Kecamatan Tembalang, Kecamatan Gunungpati dan Kecamatan Tugu. 3) Peningkatan kapasitas personil pelayanan perijinan IMB.

(29)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 29 of 31 Terlaksananya pelatihan teknis bangunan gedung dan pengawas bangunan bagi personil DTKP sebanyak 30 personil, serta meningkatnya kualitas pelayanan ijin IMB dan ijin Gangguan.

4) Pembuatan dan updating database IMB dan HO.

Terlaksananya pelatihan dan pembuatan program data base IMB, HO dan Pengawasan dengan volume sebanyak 3.800 data IMB/HO.

Beberapa permasalahan yang dihadapi terkait Urusan Wajib Penataan Ruang pada tahun 2013 yaitu : Pemahaman stakeholder terkait RTRW masih rendah ssehingga implementasi pengendalian tata ruang belum optimal.

Pada pertanyaan kunci kedua di sepakati beberapa fakta sebagai berikut :

 Informasi tentang cakupan area stasius rumah pompa tidak disampaikan kepada masyarakat

 Papan pengumuman proyek pada beberapa kegiatan PSDA tidak terpasang pada saat pelaksanaan atau tidak terpasang terus menerus

 Informasi tentang DED proyek pengendalian rob dan banjir seringkali tidak bisa di akses oleh masyarakat

 Transparansi terkait pelaksanaan honor operator pompa belum transparan. Transparansi anggaran antara PSDA dengan operator pompa dalam pelaksanaan kegiatan operasional dan pemeliharaan pompa tidak berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari perbedaan informasi jumlah honor dan informasi rincian honor yang diterima oleh operator.

Pada pertanyaan kunci ketiga di sepakati beberapa fakta sebagai berikut :

 Program dan kegiatan pengendalian rob dan banjir yang telah dilakukan menghasilkan output dan outcame sesuai dengan indikator kinerja urusan Pekerjaan Umum pada tahun 2013 yang direncanakan hal ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini:

(30)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 30 of 31

 Program dan kegiatan pengendalian rob dan banjir yang telah dilakukan BELUM menghasilkan output dan outcame sesuai dengan indikator kinerja yang direncanakan

 Pada dokumen LKPJ tertuang bahwa capaian indikator bahwa lama genangan berkurangya menjadi 120 menit, namun ditemukan dari hasil survey terhadap 36 rumah pompa bahwa ada wilayah cakupan 8 Rumah Pompa jika turun hujan sekitar 4 jam, maka lama genangan akan surut 1x24 jam bahkan sampai 2x24 jam. Wilayah yang dimaksud adalah cakupan dari Rumah Pompa sebagai berikut : Kali Baru, Johar I & II, Polder Tawang, Buludrain, Kol. Soegiono, Gudang Senjata, Progo, Citarum

 Berdasarkan hasil survey untuk wilayah cakupan rumah pompa gebang sari dan kali pacar, rob sama sekali tidak diatasi karena kedua rumah pompa tersebut tidak bisa diaktifkan karena normalisasi Kali Tenggang belum selesai. Sehingga rob di wilayah ini dibiarkan begitu saja.

(31)

Hasil Audit Sosial – Pengendalian Rob dan Banjir di Kota Semarang-

Page 31 of 31 c) Akses Masyarakat

No Value Chain- Aspek Akuntabilitas Dan Inetgritas

Pertanyaan Kunci

3.3 Implementasi Anggaran – Akses Masyarakat

1. Apakah masyarakat telah ikut mengawasi pelaksanaan anggaran?

2. Bagaimana bentuk partisipasi dalam pengawasan dan pelaksanaan anggaran? 3. Apakah ada dukungan masyarakat dalam

bentuk lain?

4. Apakah ada pihak lain selain pemkot semarang yang berperan dalam pengendalian rob dan banjir?

Pada pertanyaan kunci diatas di sepakati beberapa fakta sebagai berikut :

 Masyarakat telah ikut mengawasi pelaksanaan anggaran

 Adapun bentuk partisipasi dalam pengawasan dan pelaksanaan anggaran salah satu contohnya adalah Masyarakat kemijen ikut mengawasi pembangunan polder banger, talud

 Pihak lain selain pemkot semarang yang berperan dalam pengendalian rob dan banjir antara lain : pemerintah provinsi, JICA, JPLOAN, HHSK

Gambar

Tabel 1  Matriks Value Chain  Eksistensi Kebijakan  Efektifitas
Tabel di atas menunjukkan bahwa anggaran pada program pengendalian banjir  selalu  mengalami  peningkatan  dari  tahun  2012  hingga  2014

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian yakni pada strategi penanganan banjir dan rob di Kota Semarang menghasilkan strategi bekerjasama dengan dinas/instansi, LSM, dan stakeholder

Dari hasil dan analisis pemetaan ancaman, kerentanan, dan kapasitas dapat dihasilkan peta risiko banjir rob kota Semarang menggunakan empat metode yang telah disebutkan

Perda No.14 Tahun 2011 Kota Semarang tentang Rencana Tata Wilayah Ruang dan Kota. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RJPMD) Kota Semarang

Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah.. (RTRW) Kota Semarang tahun 2011

Berikut ini merupakan peta kesesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) terhadap resiko bencana rob dan genangan di wilayah pesisir Kota Semarang, analisis ini dilakukan

Berdasarkan pada beberapa hal tersebut maka peran rencana tata ruang sebagai dasar bagi pemanfaatan ruang serta pengendalian terhadap pemanfaatan ruang di Kota Semarang yang

14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011-2031, kawasan Simongan harus di tata dan dirubah menjadi daerah permukiman saja (bukan zona

Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota.. Semarang