BAB I PENDAHULUAN. Kecamatan Cilandak, merupakan salah satu dari 10 Kecamatan yang

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kecamatan Cilandak, merupakan salah satu dari 10 Kecamatan yang berada diwilayah administrasi Jakarta Selatan. Jumlah pasar swalayan 14, minimarket 36 dan pasar impres 4 buah (Data BPS, Kecamatan Cilandak dalam Angka Tahun 2012). Di wilayah Jakarta Selatan sendiri perkembangan pasar Swalayan dan minimarket cenderung kian meningkat dari waktu ke waktu dimana hal ini tentu saja dapat menjadi menjadi ancaman bagi pedagang warung. Cilandak sebagai salah satu Kecamatan di daerah Jakarta Selatan juga mengalami permasalahan yang serupa dan oleh karena itu daerah penelitian yang diteliti dalam penelitian ini adalah wilayah kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, wilayah kelurahan Lebak Bulus termasuk dalam bagian dari kecamatan Cilandak. Permasalahan yang timbul dari perkembangan minimarket di kawasan Lebak Bulus adalah pendirian minimarket di wilayah ini cenderung hanya ditempat-tempat yang strategis saja seperti di jalan utama seperti Jalan Raya Fatmawati, Jalan Bumi Karang Tengah dan Jalan Raya Lebak Bulus. Hal ini menyebabkan letak pendirian minimarket mendominasi suatu wilayah yang mempunyai nilai jual tinggi dan berpotensi untuk berdagang. Letak posisi minimarket di wilayah ini seringkali berada di dekat wilayah perumahan/ pemukiman penduduk dan dekat komplek-komplek perumahan dan dengan pedagang warung kelontong yang biasanya melakukan usaha di daerah seperti

(2)

2

itu pula. Letak minimarket yang berada di wilayah kelurahan Lebak Bulus ini, sering berjarak amat dekat di wilayah ini. Sebagai contoh di Jalan Raya Fatmawati letak posisi minmarket Indomaret, Alfamaret, Lawrson dan Seveneleven semuanya itu berjarak kurang dari 500 meter. Hal ini sebenarnya telah diatur oleh peraturan pemerintah DKI yang menetapkan bahwa jarak pasar modern dan pasar tradisional tidak boleh kurang dari 500 meter dimana hal ini disebabkan oleh ritel modern seperti minimarket memiliki dampak langsung tehadap pedagang tradisional seperti warung kelontong.

Segmentasi dari jenis barang yang didagangkan oleh minimarket dan warung kelontong adalah sama, yaitu menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, tetapi minimarket memiliki keunggunlan dari dari semua aspek, mulai dari permodalan, tata letak penyajian barang, kenyamanan serta fasilitas lainnya dibandingkan dengan pedagang warung kelontong. Pedagang-pedagang kelontong di wilayah kelurahan Lebak Bulus sudah mulai resah dengan pesatnya perkembangan minimarket di wilayah itu, yang menyebabkan penurunan pendapatan dan penurunan pembeli yang datang ke warung kelontong

Dilihat dari sisi modal, modal yang dimiliki oleh pengusaha minimarket tergolong jauh lebih besar dari modal yang dimiliki oleh pedagang warung kelontong di kelurahan Lebak Bulus. Apalagi modal yang dimiliki oleh rantai minimarket dari luar negeri/ asing, seperti Seven Eleven, Circle K dan Lawrson sangat besar sehingga minimarket dapat beroperasi 24 jam full non-stop, dimana kondisi ini apabila dibiarkan lambat laun akan menggeser pedagang warung kelontong yang umumnya beroperasi mulai jam 7 pagi sampai dengan jam 9

(3)

3

malam. Selanjutnya dari dalam negeripun juga ada minimarket yang berkembang dengan pesat, peritel lokal seperti Indomaret, Alfamaret dan Alfamidi yang menjamur di daerah kelurahan Lebak Bulus dengan jarak kurang dari 1KM, dikhwatirkan akan menggeser pedagang warung kelontong. Pada akhirnya pedagang kelentong gulung tikar dan tidak dapat bersaing lagi dengan minimarket-minimarket yang berkembang di wilayah itu.

Permasalahan lainnya pendirian minimarket-minimarket di wilayah itu dimiliki oleh satu orang pengusaha, hal seperti ini bisa mengakibatkan mengguritanya minimarket di wilayah ini, yang sudah pasti cepat atau lambat akan menghimpit pendapatan pedagang warung kelontong yang berada diwilayah kelurahan Lebak Bulus ini. Pesatnya perkembangan minimarket didaerah pemukiman/ perumahan atau di jalan-jalan utama di suatu wilayah dan pada letak yang strategis, secara tidak langsung mendominasi jenis usaha ritel di daerah itu. Hal ini apabila tidak dibiarkan akan dapat memberikan kesulitan kepada para pedagang warung kelongtong. Pemerintah hendaknya membantu pedagang warung kelontong dengan membuat kebijakan dan regulasi mengenai pembatasan pendirian minimarket di suatu daerah. Perkembangan minimarket yang kurang tertata dengan baik di beberapa wilayah di Jakarta menimbulkan banyak sorotan bagi semua kalangan. Kondisi demikian menjadi sorotan pemerintah, Fraksi PPP DPRD Jateng Istajib AS menyatakan:

“ pendirian Alfamart dan Indomaret, baik di perkotaan maupun pedesaan sangat meresahkan pedagang kecil yang berlokasi di sekitarnya. Bahkan, tidak sedikit pedagang kecil yang usahanya mati akibat menjamurnya Warung modern”. " Persoalan ini sudah sering disuarakan. Namun, masyarakat melihat saudara gubernur (Bibit Waluyo-red) belum bersikap akan permasalahan ini,"

(4)

4

tandasnya. Menurut dia, matinya usaha pedagang kecil dan Warung kelontong ini menjadikan perekonomian masyarakat tersendat. Mereka harus mencari sumber lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karenanya, pemprov diminta untuk bisa mengatasi persoalan ini. (http://www.suaramerdeka.com, diakses pada tanggal 27 September 2013).”

Pendirian yang mudah bagi pengusaha ritel modern untuk mendirikan minimarket menyebabkan menjamurnya minimarket pada wilayah ibukota.

Dengan adanya modal yang cukup serta ijin usaha dan ijin mendirikan bangunan, pengusaha minimarket dapat membangun minimarket diwilayah-wilayah yang strategis. Modal untuk mendirikan suatu bangunan dan biaya operasional bagi pengusaha-pengusaha dalam dan luar negeri bukanlah hal yang sukar, karena modal mereka yang kuat dapat untuk mendirikan usaha minimarket dengan sistem franchise. Selanjutnya mereka dapat beroperasi dengan sistem ritel, dan bisa mendapat keutungan lebih besar dari usahanya, karena sistem pedagangan mereka seperti pembelian grosir dan fasilitas mendukung penjualan yang maksimal dibandingkan dengan warung kelontong, serta untuk mendapatkan barang dagangan yang lebih murah minimarket dapat memotong jalur distribusi karena bisa mendapatkan langsung dari penyalurnya sehingga tidak heran kalau minimarket dapat memberikan potongan-potongan harga dari barang yang dijualnya.

Seiring dengan perkembangan minimarket di wilayah kelurahan Lebak Bulus ini, konsumen di wilayah ini cenderung ingin berbelanja ditempat yang sejuk, nyaman, bersih dan teratur. Masyarakat di kelurahan Lebak Bulus yang umumnya adalah masyarakat dengan ekonomi yang cukup, merasa tidak perlu lagi ke warung kelontong, sebab semua yang di jual di warung kelontong didapat

(5)

5

pada minimarket dengan harga yang relatif murah dan lebih lengkap, mereka lebih ingin berbelanja dengan cara yang praktis, cepat dan lengkap dengan berbelanja di minimarket. Hal ini menyebabkan minimarket berkembang dan mendominasi perdagangan/ usaha barang sehari-hari di daerah kelurahan Lebak Bulus. Kondisi ini menyebabkan setiap tahunnya ada beberapa warung kelontong yang ditutup karena tidak dapat lagi beroperasi akibat tidak dapat bersaing lagi dengan pasar modern/ minimarket.

Keluarga pedagang warung kelontong merupakan pihak langsung yang terkena dampak dari perkembangan minimarket yang pesat di wilayah kelurahan Lebak Bulus. Banyaknya pendirian minimarket yang berdekatan dengan warung kelontong mengakibatkan penurunan pendapatan dari warung kelontong dan juga berkurangnya konsumen/ pembeli yang datang ke warung kelontong. Para pedagang warung kelontong keberatan dengan hadirnya minimarket di daerah tersebut, terlebih lagi dengan pendirian minimarket yang berdekatan tanpa memperhitungkan jarak dan harga jual barang sejenis. Hal tersebut semakin memperlemah kondisi keluarga pedagang warung kelontong karena tidak mampu lagi bersaing dengan minimarket yang mempunyai modal besar dan harga jual yang terkadang lebih murah dari harga yang dijual warung kelontong. Terlebih lagi letak posisi minimarket yang cenderung menempati posisi yang strategis, di jalan umum dan dekat dengan pemukiman penduduk, sudah pasti konsumen lebih memilih berbelanja di tempat yang strategis dan lengkap.

Pemerintah hendaknya mengkaji dan membuat suatu kebijakan untuk dibuat perencanaan agar bagaimana pedagang warung kelontong dapat bertahan

(6)

6

dalam bersaing dengan minimarket-minimarket yang berkembang diwilayah ini. Seperti zonasi antara minimarket dengan pasar tradisional atau warung kelontong di daerah kelurahan Lebak Bulus agar dampak minimarket tidak terlalu mempengaruhi pendapatan keluarga warung kelontong dan mensosialisaikan kegiatan seperti Koperasi Simpan Pinjam, kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk pedagang-pedagang warung kelontong di daerah ini yang masih kekurangan modal usaha mereka dan juga bila memungkinkan dibentuk suatu asosiasi keluarga pedagang warung kelontong.

Para pedagang warung kelontong mungkin mampu untuk bertahan untuk sekarang ini tetapi jikalau terus menerus minimarket berkembang di daerah kelurahan Lebak Bulus tidak menjadi hal yang mustahil bahwa warung kelontong tidak lagi eksis di wilayah itu. Akhirnya dari keluarga warung kelontong tersebut tidak lagi sejahtera karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Karakteristik warung kelontong dan pasar tradional di kelurahan Lebak Bulus ini memang tergolong dalam kondisi yang kurang baik dibandingankan dengan minimarket atau retail modern lainnya. Pasar tradisonal yang terdekat didaerah itu adalah pasar kaget Komplek Bona Indah dan Pasar Tradisional Pondok Labu. Kondisi pasar tersebut seperti seperti pada umumnya pasar tradisionil yaitu, kurang teratur, padat, becek, kotor dan terkadang rawan kejahatan. Hal seperti inilah yang membuat masyarakat di daerah kelurahan Lebak Bulus lebih memilih berbelanja di minimarket karena memang barang

(7)

7

dagangannya relatif sama, hanya saja di minimarket dikemas dengan baik, bersih dan menarik sehingga pembeli senang untuk berbelanja diminimarket.

Kondisi pasar di daerah DKI Jakarta memang umumnya tidak terurus dengan baik dimana mneurut PD Jaya , terdapat 153 pasar tradisional dalam kondisi yang kurang layak, karena revilalisasi yang dilakukan oleh PD Jaya berjalan lambat karena susah bersosialisasi dengan pedagang di pasar, Direktur utama PD Pasar Jaya, Djangga Lubis, menyatakan:

“ upaya revitalisasi fisik di pasar-pasar tersebut masih lamban. Ia menyebut tidak hanya kondisi fisik pasar tersebut yang memprihatinkan, tetapi pengelolaan dan operasionalnya juga masih buruk. PD Pasar Jaya, ujar Djangga, mengakui tidak tinggal diam dan membiarkan kondisi tersebut berlangsung. Dari tahun 2009 hingga 2012, telah dilakukan revitalisasi pada 52 pasar di Jakarta. "Hingga Februari 2012, sudah dirampungkan revitalisasi 14 pasar. Rencana tahun 2012 ini kami akan rombak 26 pasar," kata Djangga, Selasa (12/6). Revitalisasi berjalan lambat, dijelaskan Djangga, karena susahnya sosialisasi tentang revitalisasi dengan pedagang di pasar. Dalam peraturan, untuk peremajaan pasar harus mendapat persetujuan 60 persen dari total pedagan pasar ” (http://bola.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek- nasional/12/06/12/m5i5p5-memprihatinkan-kondisi-puluhan-pasar-tradisional-di-dki, diakses pada Februari 2014).

Jikalau semua faktor-faktor tersebut dibiarkan dan tidak ada perhatian dari pemerintah setempat, ditakutkan sebagian besar masyarakat akan beralih kepada pasar modern atau minimarket. Akibatnya penjualan pasar tradisionil mengalami penurunan pendapatan dan kehilangan banyak pelangganya serta mengurangi kesejahteraan hidup pedagang tersebut. Begitu pula dengan pedagang warung kelontong diharapkan mencari upaya untuk dapat bertahan dan berkembang dari gempuran minimarket modern seperti bergabung dalam pelaku usaha kecil (UMKM) dan juga ikut dalam program pemerintah dengan koperasinya agar

(8)

8

dapat menambah modal untuk usahanya tersebut /modal tambahan untuk bertahan dalam menghadapi persaingan dengan minimarket serta mendapatkan modal untuk perbaikan, memperbaiki fasilitas, kenyamanan, kebersihan dan kerapihan warung kelontong.

Warung kelontong harus berinovasi dan memperbaharui tempat usahanya jikalau tidak mau terkena dampak dari perkembangan minimarket. Dengan cara seperti itulah pedagang warung kelontong dapat bersaing dan dapat mempertahankan ekonomi keluarganya, memenuhi kebutuhan hidup serta hidup menjadi keluarga yang sejahtera.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah penelitian ini dampak pasar swalayan kecil (minimarket) terhadap ketahanan ekonomi keluarga pedagang rumahan (studi kasus di kel. Lebak Bulus, Jakarta Selatan) dengan rumusan masalah tersebut dapat ditimbulkan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran umum/ kondisi obyektif keluarga pedagang rumahan di wilayah kelurahan Lebak Bulus?

2. Bagaimana perkembangan warung kelontong dan minimarket di wilayah Kelurahan Lebak Bulus?

3. Bagaimana dampak minimarket terhadap ketahanan ekonomi keluarga pedagang warung kelontong di kelurahan Lebak Bulus?

(9)

9

1.3 Keaslian Penelitian

Berdasarkan data-data yang didapat oleh peneliti mengenai dampak minimarket terhadap ketahanan ekonomi pedagang warung kelontong adalah dari hasil wawancara kepada narasumber yang bersangkutan, yaitu pedagang warung kelontong sendiri, tokoh masyarakat, konsumen wilayah kelurahan Lebak Bulus, pengusaha minimarket dan aparatur pemerintah. Data-data kepustakaan yang di dapat sebagai penguat tesis ini.

Tesis ini yang yang berjudul dampak pasar swalayan kecil (minimarket) terhadap ketahanan ekonomi pedagang warung kelontong, studi kasus kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan sepengtahuan peneliti belum pernah ada peneliti lainnya yang membuat. Demikianlah tesis ini dapat dipertangungjawabkan. Penelitian yang sejenis dengan penelitian ini seperti: (1) Nanda Lendi Irawan, UI, 2009, “ Perbandingan Omset Toko Kelontong sebelum dan sesudah berkembangnya minimarket di kelurahan Jatibeting Baru Bekasi “. Penelitian ini oleh penelitinya menggambarkan bagaimanana omset dari toko kelontong yang menurun akibat perkembangan minimarket di kelurahan Jatibening Baru; (2) Ni Komang Ayu Triadi Dewi, Universitas Pendidikan Ganesha, 2013, “Dampak Minimarket Terhadap Eksistensi Warung Tradisional Di Kota Singaraja “ ; (3) Achmad Reza Safitri, UIN Syarif Hidayatullah, 2010, “ Dampak retail modern terhadap kesejateraan pedagang pasar tradisional Ciputat, Tanggerang Selatan ”. hasil penelitan yang didapat adalah penurunan omset pedagang pasar tradisional di Ciputat akibat keberadaan retail modern. Masih banyak pula

(10)

penelitian-10

penelitian lainya yang sejenis tetapi tidak mungkin dapat di masukan satu persatu, menurut sepengetahuan peneliti.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan adalah untuk mengkaji dan menganalisis dampak dari perkembangan minimarket terhadap pedagang warung kelontong yang berada di kelurahan Lebak Bulus Jakarta Selatan ini. Untuk mengetahui dampak yang mempengaruhi ketahanan ekonomi keluarga pedagang warung kelontong di kelurahan Lebak Bulus ini, oleh sebab itu penelitian ini secara garis besar tujuan:

1. Untuk mengetahui gambaran umum kondisi obyektif keluarga pedagang rumahan di wilayah kelurahan Lebak Bulus.

2. Mengetahui perkembangan keluarga pedagang rumahan setelah adanya minimarket di wilayah kelurahan Lebak Bulus.

3. Untuk mengetahui dampak kehadiran minimarket terhadap ketahanan ekonomi keluarga pedagang rumahan atau warung kelontong.

Hasil dari peneliatian ini diharapkan dapat memberikan pandangan bagi masyarakat dan pemerintah untuk memberikan perhatian untuk permasalahan ini, sebab itu manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi ilmu pengetahuan; untuk menyumbangkan hasil pemikiran analisis yang didapat dalam penelitian ini, agar bermanfaat demi kemajuan ilmi pengetahuan di Indonesia

(11)

11

2. Bagi Bangsa dan Negara; Agar dapat mempertimbangkan hasil yang didapat dari penelitian ini supaya dapat memperhatikan kesejahteraan pedagang warung kelontong, dengan membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan pasar tradisional.

3. Bagi pedagang warung kelontong dan pengusaha ritel; dapat mengetahui dampak yang di alami pedagang warung kelontong jikalau tidak memperbaharui kualitas dan fasiltas. Bagi pengusaha Minimarket memperhatikannya peraturan pemerintah tenatng zonasi ijin pendirian minimarket agar tidak berdekatan.

4. Memberikan masukan kepada pemerintah daerah DKI untuk dapat membuat kebijakan yang berhubungan dengan keberadaan minimarket

1.5 Sistematika Penulisan

Pada penulisan studi penelitian ini peneliti membagi menjadi 7 bab dan setiap bab masing-masing memiliki sub bab yang menjabarkan lagi secara rinci dari bab tersebut. Tergantung dari masalah yang dibahas dalam setiap babnya. Pembagian bab secara sistematika penulisanya sebagai berikut:

Pada bab pertama menjelaskan permasalahan mengenai pentingnya penelitian ini, keaslian penelitian yaitu adalah penelitian yang sudah terlebih dahulu dilakukan oleh penelitian lainnya, tujuan penelitian yaitu ingin menemukan jawaban dalam penelitian ini dan memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan/ akademis lainya serta bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Pada bab kedua ialah tinjauan pustaka mengurai secara sismtematis mengenai hasil penelitian yang pernah didapat terlebih dahulu dan hubungannya

(12)

12

dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Menujukan bahwa masih ada persoalan/ masalah yang belum terjawab dari penelitian-penelitian yang sebelumnya.

Pada bab ketiga membahas cara atau metode untuk peneliti melakukan studi penelitian dan analisis dan mengadung uraian mengenai alasan dan metode penelitian.

Pada bab keempat untuk mengetahui bagaimanakah kondisi secara umum wilayah kelurahan Lebak Bulus ini sendiri, terdiri dari beberapa unsur-unsur penduduk yang tinggal disana. Kondisi yang dimaksudkan mulai dari aspek jumlah penduduk, kondisi geografi dam sosial budaya.

Pada bab kelima untuk mengetahui kondisi dampak dengan masuknya minimarket terhadap keluarga pedagang warung kelontong di kelurahan Lebak Bulus. Membahas juga tentang pekembangan, kelebihan dan kekurangan dari minimarket dan warung kelontong yang bersaingan di kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Pada bab keenam membahas ketahanan ekonomi keluarga warung kelontong di kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pembahasan tersebut meliputi kondisi pendapatan dan pengeluaran untuk kebutuhan hidup pedagang warung kelontong serta dampak minimarket terhadap ketahanan ekonomi pedagang warung kelontong.

Pada bab ke tujuh kesimpulan dari hasil penelitian yang disertai dengan saran-saran bagi pedagang warung kelontong, pengusaha minimarket dan aparatur pemerintah Jakarta Selatan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :