1 ruang | kreativitas tanpa batas
RUANG
April 2016#10
P E M E R I N T A H
VOL. 2: NARASI
2
3 ruang | kreativitas tanpa batas
RUANG #10:
PEMERINTAH
vol. 2: Narasi
Maria Shéhérazade Giudici
Davide Sacconi
Ayos Purwoaji
Derrick Andika Juda
Siti Amrina Rosada
Noa Haim
Sri Suryani
Rifandi S. Nugroho
Savitri Sastrawan
Roianisa Nurdin
2
edisi #10: Pemerintah
Apakah pemerintah dan masyarakat memiliki visi dan aspirasi yang sama tentang kota? Bagaimana membangun komunikasi yang produktif antara pemerintah dan masyarakat? Lantas, apa peranan arsitek dalam hal ini?
Pemerintah telah mengikutsertakan perencana kota dalam merencanakan pembangunan; namun uji kompetensi atau tender yang tidak terlaksana dengan baik, beserta kultur KKN yang masih mewabah, membuat banyak hasil pembangunan tidak terlaksana dengan baik atau mengusulkan strategi yang tidak tepat. Akhirnya, arsitek seringkali
terjebak dalam konlik antara pemerintah dan masyarakatnya. Idealnya, arsitek harus bersikap sebagai penengah
yang memediasi aspirasi masyarakat dengan visi pemerintah. Namun seringkali arsitek hanya berpihak pada satu sisi, atau malah memilih sisi ke-empat: pasar.
Bagian kedua dari Ruang edisi #10: Pemerintah, menawarkan “narasi” dalam membaca praktek-praktek yang berlangsung; seperti realita lapangan yang seolah berjarak dengan visi, fenomena-fenomena politis keruangan atau pengaturan pengalaman ruang-ruang kota yang membentuk manusia. Ruang bersyukur mendapat masukan dari berbagai macam latar belakang disiplin keilmuan. Penyelenggara negara, praktisi arsitektur dan perencana kota, akademisi, seniman, aktivis, pengamat, serta pecinta arsitektur dan kota menawarkan beragam sudut pandang
untuk membedah kompleksitas permasalahan tadi. Campuran antara bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ataupun bahasa Indonesia-Inggris memperkaya kemungkinan-kemungkinan yang membebaskan, bukan malah memenjarakan.
Semoga artikel-artikel ini memancing kita dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.
Wacana akan dibuka oleh Maria Sheheraza de Guidici dan Davide Sacconi dari AA School, “City and Power: 12 Tales from a Present Future”, yang membahas tentang relasi antara kota dan kekuasaan melalui sebuah kolaborasi eksperimental bersama 12 arsitek dan praktisi kolektif. Kemudian Ayos Purwoaji dari AYOREK Surabaya bercerita tentang “Kota dan Narasi yang Majemuk”, bahwasanya kota justru dibentuk oleh fragmen-fragmen kecil yang kemudian menjadi identitas kolektif. Sementara Derrick Andika Juda, desainer urban di AECOM Jakarta, menyumbangkan bagian dari tesis masternya yang bertajuk “Pasar Senen: How Life Between Buildings Matters in Market Revitalisation”. Selanjutnya, Siti Amrina Rosada menjabarkan observasinya tentang “Arsitek dalam Profesi: Peran, Posisi, dan Potensi”, yang kembali kepada pertanyaan: apakah menjalani profesi arsitek saja akan cukup untuk bersetia pada arsitektur?
Noa Haim, founder dari Collective Paper Aesthetic Rotterdam, bercerita tentang proyek yang terinspirasi dari karya Buckminster Fuller dan memiliki tujuan untuk menjadi instrumen berpikir untuk arsitektur dan perencanaan kota berdasarkan konsep partisipatif, “How Can We Make Places People Truly Love?”. Sri Suryani, seorang lulusan UCL yang tinggal di Jakarta, menangkap fenomena realitas kaum marjinal di ibukota tersebut melalui tulisan “Di Atas Kertas”. Lalu, Rifandi S. Nugroho dari komunitas Kami Arsitek Jengki Surabaya, membahas tentang “Tiga Orang
yang Berperan di Awal Kemerdekaan” dalam upaya mereleksikan gambaran akan pahit dan manisnya bersinergi
bersama pemerintah pada masa tersebut. Seorang seniman bernama D.A.E. Savitri Sastrawan, akan mengusung artikel “Bali: We Now Devote Ourselves to the God of (US) Dollar” yang bercerita tentang pergeseran nilai pada pariwisata Bali dan pergerakan seniman untuk mengekspresikan kritik mereka kepada pemerintah melalui
karya seni. Di akhir wacana, Roianisa Nurdin, penggagas CreativeMornings Jakarta, akan menutup rangkaian narasi
dengan mengangkat observasinya pada Umbrella Movement Hong Kong tahun 2014 silam, “Tentang Hong Kong: Okupasi Kota dan Bangkitnya Kesadaran Politik Kaum Muda”.
Dalam euforia memaknai kebebasan bicara dan berwacana secara lantang di ruang publik, fenomena di atas sedikit banyak memberi andil dalam melahirkan beragam subkultur yang memperkaya kehidupan di ruang kota. Meski pada akhirnya, bagaimana kita memaknai kehadiran mereka, akan kembali lagi kepada keberpihakan kita kepada nilai-nilai yang mereka bawa.
Selamat memilih sudut pandang, selamat menikmati Ruang!
City and Power: 12 Tales From A Present Future
Davide Sacconi & Maria S. Giudici
Kota dan Narasi Yang Majemuk
Ayos Purwoaji
Pasar Senen: How Life Between Buildings Matters in Market Revitalization
Derrick Andika Juda
Arsitek Dalam Profesi: Peran, Posisi dan Potensi
Siti Amrina Rosada
How Can We Make Places People Truly Love?
Noa Haim
Di Atas Kertas
Sri Suryani
Tiga Orang Yang Berperan Di Awal Kemerdekaan
Rifandi S. Nugroho
Bali: We Now Devote Ourselves To The God of (US) Dollars
D.A.E. Savitri Sastrawan
K O N T R I B U T O R
Ayos PurwoAji adalah seorang penggemar wacana dan arsip arsitektur. Sehari-hari menjalankan peran sebagai dosen ilmu budaya di sebuah universitas swasta di Surabaya.
DAviDe sAcconi is an architect and PhD candidate at the Architectural Association of London. He graduated with honors from the Università degli Studi di Roma Tre and earned his postgraduate research diploma at the Berlage
Institute of Rotterdam. He worked for IaN+ and MVRDV. In 2012-14
he has taught in the MArch Urban Design program at the Bartlett School of Architecture UCL and
since 2014 he has been a Visiting
Professor at the Syracuse University London Program, at the Liverpool University and visiting critic at the Architectural Association. Together with Luca Galofaro, Gianfranco Bombaci and Matteo Costanzo
(2A+P/A) he is the co-founder of
CAMPO, a space to study, debate and celebrate architecture.
DerricK juDA AnDiKA
is an urban designer working at a multidisciplinary built environment consultancy company in Jakarta. Graduated from School of Architecture, Planning and Policy
Development at Institut Teknologi
Bandung, he then pursued further education and obtained an MA degree in Urban Design from the University of Westminster, London, UK. He now lives in Jakarta and practices urban design at AECOM
Indonesia.. AP Ds Dj Dss ms D.A.e. sAviTri
sAsTrAwAn is a Balinese nomad, DewaAyuEka Savitri Sastrawan is an arts and language freelancer. She is an artist, a Bahasa
Indonesia - English translator, and
currently completing Masters in Global Arts at Goldsmiths, University of London. She previously studied Fine Art Painting
at ISI Denpasar, Bali and Chelsea
College of Art and Design, UAL, UK. Her research interest is to explore the interdisciplinary possibilities in the arts and language within the global society and culture.
maria shéhérazade Guidici
earned her MA in Architecture from Mendrisio Academy,
Switzerland, with an award winning
project for Venice developed in
Elia Zenghelis’ unit. She worked between 2005 and 2007 in
Bucharest-based ofice BAU before graduating at the Berlage Institute
roFiAnisA nurDin
menjadi sarjana Arsitektur ITB pada
tahun 2012. Menggemari sastra dan arsitektur kota, dan diam-diam berkhayal ingin mengambil kuliah
ilologi. Ketertarikannya kepada kota,
manusia, dan budaya membawanya ke dalam ranah industri kreatif dengan semangat kolaborasi melalui
Vidour yang digagas pada tahun
2011 dan CreativeMornings Jakarta yang digagas pada tahun 2014. Memori kolektifnya tersebar di kota-kota Asia Tenggara: Bandung, Ubud, Jakarta, George Town (Penang), dan Singapura.
siTi AmrinA rosADA,di tahun 2013 lalu menjadi lulusan Arsitektur Brawijaya, saat ini menetap di Palangka Raya. Sampai saat ini kebanyakan berkarya lewat
fotograi, tulisan, dan arsitektur.
sri suryAni, arsitek amatir. yang telah menyelesaikan program master di Development Planning Unit – The Bartlett UCL jurusan Building and Urban Design in Development pada bulan September 2015. Saat ini sedang belajar di Yayasan Ciliwung Merdeka dan penelitian mandiri tentang politik ruang dan pengetahuan. Berharap suatu saat bisa membangun taman kanak-kanak dan melukis setiap hari.
noA HAim(Jerusalem, 1975) master of architecture, designer, journalist and contributing editor based in Rotterdam, Nederland where she graduated from The
Berlage Institute (2004). Following
a presentation of her graduation work in a form of participatory activity within London Festival of Architecture 2008, she established her design studio Collective Paper
Aesthetics. In collaboration with
museums, science centres, cultural and educational organizations the studio is developing educational toys, hands-on furnishing and participatory pop-up spaces with the motto – everyone can play a designer!
riFAnDi sePTiAwAn nuGroHo adalah penggemar wacana dan arsip arsitektur. Saat ini bekerja paruh waktu di OMAH Library dan arsitek junior di RAW Architects. Pada tahun 2015 menyelenggarakan pameran arsip Harjono Sigit bersama teman-temannya di Surabaya.
nH
rsn
rn
sAr
R U A N G
editorial Board :
Ivan Kurniawan Nasution Mochammad Yusni Aziz
Roianisa Nurdin
web : www.membacaruang.com
facebook : /ruangarsitektur
twitter : @ruangarsitektur
tumblr : ruangarsitektur.tumblr.com
email : [email protected]
segala isi materi di dalam majalah elektron-ik ini adalah hak cipta dan tanggung jawab masing-masing penulis. penggunaan gambar untuk keperluan tertentu harus atas izin
pe-nulis.
CITY AND POWER: 12 TAlEs
fROm A PREsENT fuTuRE
Superstudio’s “Twelve Cautionary Tales for Christmas”,
deines as ‘premonitions of the mystical rebirth of
urbanism,’ that is to say, a condition in which architecture takes command and becomes, in a very explicit way,
a tool for the construction of subjects. It address the
relationship between the project of governance, the project of the city, and the project of our domestic space. ESSAY
ENGLISH
Architecture and politics, City as a project, Architectural representation
8
edisi #10: Pemerintah
in 1971
Superstudio published in Architectural Design “Twelve Cautionary Tales for Christmas”, twelve short stories illustrated with their own drawings, which put forward in a narrative form a critique of the role of architecture inthe making of the city. The twelve stories illustrate what Superstudio deines as ‘premonitions of the mystical rebirth of urbanism,’ that is to say, a condition in which architecture takes command and becomes, in a very explicit way, a tool for the construction of subjects. As such the ‘Cautionary Tales’ are not projections of a
desirable future but rather an exaggerated portrait of the present condition. The
science iction character of the narrative, juxtaposed to the technical precision
and evocative dimension of the drawings, constructs a detachment from actual reality that is the key to a ruthless and powerful critique. The chosen format itself becomes the device through which the authors can target precisely the
relationship between space and government, form and modern politics, without either seeking refuge in academic theories or falling into naïve utopias for a future that might never come.
Indeed the “Tales”, at their root, address the relationship between the project of governance, the project of the city, and the project of our domestic space. This relationship is not a new thing. For example, ancient Chinese cities, founded on the logic described in the Rites of Zhou, already present a sophisticated translation of ethical hierarchies in built form, as did the Roman colonial expansion grid. However, in these cases, the symbolic and military ambitions at stake are
always laid out in a way that includes a clear form of self-representation. In other
words, these traditional cities were always readable as projects. Moreover, the idea of power and authority in pre-modern times predated conceptually
the making of the city, which then became the it receptacle and embodiment
of that power. However, from the 1700s onwards, the system shifted: it is the urban space itself which constructs the very possibility of government, it is the ordering of the city which builds the consensus that any power needs to exist. Abraham Bosse’s famous frontispiece for Hobbes’ Leviathan already igures
forth this need to root power in the calculated composition of a mass of bodies
into an orderly people. In this shift, the built form ceases to be a representation
and becomes, as Le Corbusier would say a machine. As architects, this condition forces us to ask ourselves: have we yielded all our power of imagination and disruption by accepting this role, or on the contrary have we become all the more powerful, yet questionable, by becoming not only the accomplices but the very enablers of government? This conundrum is well expressed in the clinical, relentless descriptions of the original Superstudio “Tales” as well as in the illustrations which portray an architecture which is at the same time absolutely
generic and rareied, but becomes monumental in virtue of its sheer scale. The considerations on Superstudio’s approach and the relections on
the role of architects and architecture in critically address the project of the city
have been the starting point of the ‘The Supreme Achievement’, an exhibition,
9 ruang | kreativitas tanpa batas
Black Square – respectively, a space for architecture in Rome and a Milan-based publishing and educational platform.
In the Summer of 2015, inspired by the rereading of Superstudio’s ‘Cautionary Tales’, we invited twelve architects and collective practices to give
their own interpretation of this project in relationship to the contemporary condition, respecting the original format of one text and one image. Hereafter, to further elaborate and open up a discussion on these contributions, we organised a one-week workshop at CAMPO during which a group of students, speculated on the space of the self within the framework proposed by the twelve city visions. The work of the students opposed to the visionary character of the urban images the material presence of plaster models as the tool of investigation. The results of this process have been exhibited at CAMPO in September and will be collected and edited in a book to be published by Black Square Press at the beginning of 2016. The entire process has involved about 50 people between architects, students, and guest critics who have been engaged in an ongoing debate on the
question irst put forward by Superstudio: is architecture condemned to become
a machine of government?
In order to test the potential of this experimental approach, we
assembled a fairly heterogeneous group of contributors. We invited architects and collectives with different backgrounds, experiences and positions, coming
from three different continents and belonging to different generations. In spite of the differences, a common thread can be identiied among the participants; on the
one hand, a shared interest in the relationship between city and power, and, on the other hand, the particular relevance is given to architectural representation. They all use drawing as a heuristic device – that is to say, as a form of knowledge in its own right – rather than as a mere way to explain a project: for them, the drawing itself is the project.
Starting from these premises Amid/Cero9 (Spain), Aristide Antonas
(Athens), Behemoth (The Netherlands), Dogma (Belgium), Didier Faustino
(France), FORA + Beth Hughes (Portugal / UK), MAPOfice (Hong Kong), Alex
Maymind (USA), Microcities (France), Miniatura (Brazil), Philippe Morel (France) and Raumlabor (Germany) responded to the invite with a diverse and fascinating range of responses. The results have been quite extraordinary and surprising in many respects.
The restraints and the consequent clarity of the “Cautionary Tale” format revealed not only its enduring validity but, if possible, an even increased power vis-à-vis the contemporary reality and the variety of invited contributors. The material as a whole stands in its stunning visual and conceptual clarity, but at the same time, once we enter in the depth of the narrative and the details of the design, it is able to produce countless possibilities of cross references. The images and the texts offer themselves to the viewer as a living matter, where each
10
[image:12.420.70.386.203.525.2]edisi #10: Pemerintah
Figure 1. The Last Earth ©Phillippe Morel
the projects where the differences are neither recomposed nor irreconcilable, producing an understanding of the whole that is greater than the single parts. Each contribution insists on distinct attitudes that span from acceleration to opposition, from the poetic to the technological, from the ironically disenchanted to the resolutely pragmatic, giving form to a mosaic of visions and tools. Nevertheless, we can clearly read a common concern with the (im)possibility to investigate and represent the current transformations of the city, its dissolution in a system
of norms deining behaviors, where architecture seems to be progressively
11 ruang | kreativitas tanpa batas
Figure 2. Stadtfresser City ©Raumlabor
Within this common ground, an interesting edge seems to materialize
when it comes to deining a possible role of architecture within the condition
of urbanization. For example, Philippe Morel with Last Earth (Figure 1) brings to the extreme consequences the possibilities offered by mathematics and computational tools, uncovering the irresolvable internal contradictions brought about by the progressive naturalization of capital as an endless process of accumulation. In a city of planetary scale, the last one, where everything is
immediately and intrinsically available thanks to the computational management
of a ‘state of statistical chaos’, architecture, the city and man itself are reduced to irrelevant numbers subordinate to ‘an ideal gas law’. On a similar path, but
12
edisi #10: Pemerintah
and cultural possibilities offered by 3d printing technology applied to the urban scale. The mechanical precision of the drawings and the tech-journalist like the style of the text of Stadtfresser City (Figure 2) have an evocative quality that instrumentalizes the technical issue to open a more profound question of globalization, erasure of cultural differences and ultimately on the dissolution of architecture as language and knowledge. Precisely the relationship between knowledge production and life is at the center of the vision constructed by
Behemoth, the Italo-Iranian Holland-based trio. Produced by their sharply critical
[image:14.420.69.387.200.517.2]and ironic gaze, Penelope or the endless loom (Figure 3) materializes in an absurdly low-tech but highly sophisticated machine, an allegory of the actual condition of
13 ruang | kreativitas tanpa batas
labour within university campuses. Similarly to Morel’s proposal, the relationship between architecture and the city or between matter and man, are completely dissolved and substituted by the management of feedback loops, an ‘endless
loom‘ of economic, intellectual and affective relationships eficiently serving the
machine.
With a different perspective but with the same planetary gaze seen in Morel’s proposal, FOR-A and Beth Hughes collaborated to materialize The Assembly (Figure 4), a post-apocalyptic and very actual scenario at once, where, in
[image:15.420.35.351.192.520.2]a process of ‘metropolitan autopoiesis’, the territory is continuously reorganized by infrastructural systems that leave behind a landscape of obsolete technology.
14
edisi #10: Pemerintah
A glimpse of hope seems to reside in the possibility to ‘re-appropriate and co-opt’ these ‘wrecks of physical surplus’, in ‘extraterritorial exemptions’ where a new
relation with space might emerge; a very tight space of maneuver for architecture.
In a similar manner, architecture plays the role of a found opportunity within
a larger system, in The warehouse city (Figure 5), the poetic vision of Aristides Antonas. The collage, to certain extent, could be read together with The Assembly
– and here is not a chance the use of the collage being common to both projects – as a representation of the ‘inhabitation of the invisible laws’, of the time, space
[image:16.420.72.387.191.510.2]and relationships that the connective infrastructure can produce between
15 ruang | kreativitas tanpa batas
and through humans. The city is the endless interior of an ‘abstract warehouse’
where everything is represented and where the potential resides, more than in
the architecture, in the possibility to instrumentalize the ‘infrastructure protocols’
to construct new forms of co-existence. The recapture of the interior through a collective organization becomes the central theme of The city within (Figure 6), the
tale imagined by MICROCITIES (in collaboration with Giacomo Nanni, Cristina Crippa, Raffaele Alberto Ventura e Francesca Guidoni), where a ‘slow and secret
[image:17.420.36.351.187.509.2]invasion’ from within is able to regain control of a city now turned into desert by private interests and technocratic control. The project exposes the blurring
16
edisi #10: Pemerintah
[image:18.420.69.389.79.508.2]of private and public space, domestic and working condition, political and the economic sphere, that is at the core of the contemporary condition. The detailed precision of the account, the choice of the section as a tool for representation and the happy ending betray an optimistic vein to which architecture seems to be inevitably condemned. As a sort of counterpart, the project Master and Slave (Figure 7) by Didier Fiuza Faustino relies on a much more ambiguous and dystopian atmosphere. The city, or possibly the entire civilization, is condensed in an inhabited Moloch that is eroded from the inside, a conlict of devotion and domination, dependence, and fulillment that masters and slaves are obliged to
17 ruang | kreativitas tanpa batas
play in an uncanny and open-ended perversion.
An estrangement of a different nature is provoked by the cyclic conception of time of the City without a Monument (Figure 8) by the Brazilian duo
MINIATURA, where the city is a cycle that transforms the relationships between
man, architecture and the city in an endless time-space loop. A process, more
than an architectural form, that, containing ‘the repertoire of everything that was
and has to be done’ brakes with the idea of Modernity based on progress and
[image:19.420.35.352.188.506.2]memory. The theme of memory inds its most poetic moment in the visionary tale narrated by MAP Ofice. The French duo, based in Hong Kong, speculates on
18
edisi #10: Pemerintah
the relationship between the nature of man and its technological extension, between the volatile character of information and the permanence of matter, the inevitability of death and the construction of memory. The record of each life, one chip after the other, gives form to The Island of Memory (Figure 9), a cemetery, and archive at once of the entire collective knowledge. The tale can be read both as a subtle critique of the technological faith and as a light-hearted journey into the abyss of human nature, where the role of architecture is nevertheless dissolved in a direct projection of ourselves in the infrastructure of the landscape.
A step before death, Nocturnalia (Figure 10) by Cero9/Amid put
[image:20.420.70.388.203.526.2]forward the possibility of collective sleeping as the last and paradoxical frontier
19 ruang | kreativitas tanpa batas
of wakefulness, as a form of ‘resistance to a life exposed to a machinic process of
exploitation’. Civilization without homes surrounded by the endless productive ield
of work where architecture celebrates and gives form to the ultimate public space; an enormous dome with a golden ceiling beneath which the whole population sleeps together in the attempt to escape the nightmare of uniformity. Endlessly
monotonous walls, an ‘absolute homogeneity, and sameness’ that continues
unabated, is the theme of Alex Maymind’s The City of Walls (Figure 11), a direct reinterpretation of the Superstudio’s First City. The walls construct a background
condition, ‘ a quality with no quality that has a quality of its own’, against which
[image:21.420.37.350.208.525.2]the unbridled nature of the city can materialize. Thus, the city is paradoxically conceived as subtraction that constructs, as the gesture that carves out of
20
edisi #10: Pemerintah
the ininite straight stubbornness of the walls a political space. Finally, Dogma proposes The Block (Figure 12), a straightforward reinterpretation of what was once the basic unit of the city, now condensed in a single monumental gesture.
Architecture takes command over the city as an archetype that, through the precise articulation of its form can organize the relationship between ‘the two
[image:22.420.70.389.199.517.2]extremes of the human condition: solitude and togetherness’. The sheer scale of the artifact imposes a presence that nevertheless can be either rejected or eroded through inhabitation, opening up the possibility of a political dimension of co-existence by means of architecture.
21 ruang | kreativitas tanpa batas
These twelve cities are not mutually exclusive; they are all happening,
[image:23.420.35.349.200.521.2]after all, right here, right now, with their conlicts and their ambitions. Ultimately what emerges out of this complex mosaic of ideas is, against all odds, faith in architecture, in the possibility for architecture to exist perhaps beyond architects and against all the constraints of politics. A golden dome, a basement that becomes a city, the white noise of machines whose intricate construction doesn’t cease to fascinate us: the real Supreme Achievement resides in the capability to recognize the power of space, and to turn it from an instrument of power into a weapon that might as well return to us some sense of awareness, agency, and perhaps beauty.
22
edisi #10: Pemerintah
Maria Sheherazade Giudici & Davide Sacconi
“It is the urban
space itself which
constructs the
KOTA DAN NARAsI
YANG mAJEmuK
Narasi sebuah kota tidak ditulis secara absolut oleh pemerintah dan perencana kota, tetapi juga oleh partisipasi warga-warganya. Namun seringkali hal yang muncul secara organik tersebut dianggap sebuah penyimpangan oleh sang penguasa.
ESAI INDONESIA
Arsitektur, Pemerintah, Narasi Kota, Demokrasi
25 ruang | kreativitas tanpa batas
Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah anekdot stereotip yang sudah sering didengar oleh warga Surabaya:
Untuk Anda yang belum tahu, konon, ada dua hal yang paling menggiurkan bagi seorang Madura yang memiliki jiwa pedagang, yaitu: besi bekas dan tanah mangkrak di pinggir jalan.
Mendapatkan besi bekas tentu lebih gampang daripada mendapatkan tanah yang strategis. Lalu bagaimana cara orang Madura mendapatkan tanah tersebut?
Pertama-tama, ia akan menaruh sebuah meja di atas tanah tersebut. Testing the water. Bila dalam tiga hari tidak ada yang menggubris, ia akan mulai menaruh barang lain yang lebih besar, seperti misalnya sebuah gerobak. Jika dalam seminggu
gerobaknya masih utuh dan tidak terganggu. Ia akan segera kulakan bahan-bahan
dan mulai berjualan.
Awalnya ia akan pulang pergi. Tapi lambat laun, gerobak tersebut mulai beratap tenda terpal. Minimal agar para pembeli tak kepanasan atau kehujanan. Tak lama, muncul lincak atau bale-bale untuk bersantai. Kemudian, mulai hadir tembok semi permanen dari anyaman bambu dengan atap seng. Karena terlalu panas, atap seng tersebut diganti dengan genteng terakota.
Setelah setahun berlalu dan tidak muncul klaim apa pun dari tanah yang ia tempati.
Seorang Madura akan mulai gelisah dan kesepian. Ia pun mulai memanggil sanak
saudara untuk mengisi tanah kosong di kiri dan kanannya. Sebuah komunitas sederhana pun mulai terbentuk.
Pada sebuah titik, ketika komunitas yang ada sudah semakin kompleks. Mereka membutuhkan sebuah langgar. Masjid sederhana untuk beribadah. Karena toh sholat berjamaah itu dua puluh tujuh kali lebih baik daripada sholat sendirian.
Ketika sebuah masjid berdiri, sebuah pemukiman organik komunitas Madura menjadi paripurna. Sulit untuk menggusur sebuah pemukiman yang memiliki masjid, sekalipun itu berada di tanah ilegal. Karena, bagi Gusti Allah, semua tanah di bumi ini legal hukumnya. Dan barangsiapa yang mencoba-coba menggusur rumah Allah yang sudah berdiri, maka ia harus berhadapan dengan sekelompok Madura yang rela mati syahid.
Dan itu adalah opsi yang paling mengerikan.
26
edisi #10: Pemerintah
Bagi Henri Lefebvre, sosiolog Marxis asal Perancis, apa yang dilakukan oleh sekelompok orang Madura tersebut adalah sebuah praktik spasial. Praktik sosial yang melibatkan relasi dengan ruang. Sama seperti para pedagang kecil yang mengokupasi jalur pedestrian atau sekelompok transmigran yang mendirikan pemukiman di sempadan sungai. Mereka, para wong cilik ini, memahami setiap jengkal ruang sebagai sebuah kesempatan untuk bertahan hidup. Tak peduli apakah itu adalah ruang-ruang yang tersisa dari sebuah kota.
Lefebvre percaya bahwa representasi ruang sebuah kota dikendalikan oleh gagasan arsitek, urban planner, atau pemerintah yang memegang kontrol atas konsepsi dan prouksi tata ruang sebuah kota. Di atas sebuah peta, mereka, para pemegang otoritas ini, mulai menarik garis dan memetakan apa yang baik dan tidak baik bagi sebuah kota. Batas-batas dibuat antara pemukiman, ruang produksi dan ruang konsumsi. Dan kemudian ruas-ruas jalan ditarik untuk menghubungkan ketiganya.
Ketika representasi spasial ini hanya melibatkan sekelompok pemegang kontrol, maka yang terjadi pada akhirnya adalah praktik spasialiasi dominan. Sebuah narasi yang dipaksakan demi kenyamanan bersama yang bersifat homogen dan monolitik. Dus, atas dasar standar tersebut, nilai-nilai hidup dipaksakan. Sama halnya ketika Presiden Jokowi mampir ke Jambi untuk memberikan tanah dan pemukiman permanen, tanpa perlu memahami bahwa Suku Anak Dalam berpola hidup nomadik.
Pemerintah dan urban planner seringkali memahami kota sebagai sebuah narasi tunggal versi mereka. Sehingga apa yang dilakukan oleh pedagang kecil dan sekelompok transmigran tersebut dianggap subversif. Melenceng dari apa yang dibayangkan dari sebuah perencanaan.
Padahal, sebagai sebuah entitas yang tumbuh organik, kota justru dibentuk oleh fragmen-fragmen kecil yang kemudian menjadi identitas kolektif. Sehingga wajar bila kemudian muncul narasi-narasi subversif yang mengimbangi perencanaan tunggal yang dibuat oleh pemilik kontrol ruang. Sebagaimana teks, akan selalu ada pemaknaan yang berbeda dari pembaca.
27 ruang | kreativitas tanpa batas
Kami rindu lapangan yang hijau.
Harus sewa dengan harga tak terjangkau.
Tanah lapang kami berganti gedung.
Mereka ambil untung, kami yang buntung.
Kami hanya main bola,
tak pernah ganggu gedungmu.
Kami hanya main bola,
persetan dengan gedungmu.
28
edisi #10: Pemerintah
Bagi sebagian orang, kota adalah sebuah karya iksi. Seperti karya-karya eksponen
gerakan Archigram pada tahun 1960an yang memperlihatan bahwa kota memiliki daya spontan dan tidak terduga. Kota tidak lagi dibaca sebagai serentetan aturan dan birokrasi. Melainkan letupan-letupan kreatif yang bersifat futuristik. Ada optimisme dan kenakalan di sana.
Satu dekade kemudian, Italo Calvino, seorang pengarang Italia, menerbitkan sebuah novelet berjudul Invisible Cities. Dalam karya tersebut, ia membentuk
narasi tentang lima puluh lima kota melalui imajinasi dan kenangan dari seorang pengelana. Bagi Calvino, kota tak ubahnya seperti mimpi “yang terbuat dari jalinan keinginan dan ketakutan” masyarakat yang hidup di dalamnya. Kota, bagi Calvino, adalah sebentuk memori kolektif yang hidup.
Orhan Pamuk, dalam memoarnya yang terkenal Istanbul: Memories and the City,
juga menuliskan hal yang kurang lebih sama. Bagi Pamuk, Istanbul dibentuk oleh
dua hal. Pertama, ingatan kolektif tentang jatuhnya Ottoman, dan yang kedua, imajinasi para petualang dan pelancong Eropa abad pertengahan yang pernah
mengunjungi Istanbul seperti Gérard de Nerval, Théophile Gautier, dan Gustave Flaubert. Ketiganya -dikutuk oleh Pamuk, karena- menulis Istanbul melalui kacamata
eksotisisme orientalis. Warisan tersebut membentuk persepsi masyarakat Eropa
atas Istanbul untuk jangka waktu yang lama.
Dampak dari kedua hal tersebut dapat dirasakan Pamuk hingga hari ini. Istanbul
seakan membeku dalam waktu. Gamang dalam posisi yang mengambang. Tidak bisa mengejar kemajuan Eropa, namun berusaha lepas dari akar ketimuran Asia.
Rasa gamang itu disebut Pamuk sebagai hüzün. Sebuah melankoli, suasana murung,
yang menjangkiti keseharian masyarakat Istanbul. Seperti halnya selat Bosporus
yang selalu dirundung kabut tebal. Suram dan ngelangut. Perasaan yang sama juga hadir melalui karya Ara Güler, fotografer jalanan yang karyanya banyak dipakai sebagai ilustrasi bagi memoar Pamuk.
Sebagai sebuah karya iksi, kota dibangun oleh persepsi warganya. Namun secara
29 ruang | kreativitas tanpa batas
Pada sebuah kota kecil yang dikuasai kartel narkoba seperti Juárez, Meksiko, kekerasan menjadi realitas keseharian yang diinternalisasi oleh seluruh warga kota. Sehingga suara tembakan dan kematian menjadi banal dan wajar. Sedangkan kepribadian warga Jakarta menjadi begitu sabar karena dibentuk oleh hari-hari penuh antrian, kemacetan, dan penggusuran.
Dalam kasus lain, penataan sebuah kota memiliki kemampuan untuk merekayasa perilaku sosial sebuah masyarakat. Kota yang memiliki banyak mall dan gempuran citra billboard yang menghadang pandangan, warganya mudah sekali untuk menjadi konsumtif. Setiap akhir pekan, pusat-pusat perbelanjaan tersebut akan dipenuhi kelas pekerja yang membutuhkan leisure, yang menurut Lefebvre sebagai “radical break” dari kepenatan sehari-hari sebagai warga kota.
Keputusan warga untuk menghabiskan waktu di mall sebetulnya adalah investasi yang sudah bisa diramalkan oleh para pemodal. Dengan mendorong otoritas perancang ruang kota untuk membangun lebih banyak pusat perbelanjaan dibanding ruang publik yang bersifat rekreatif, maka warga sebetulnya tidak punya pilihan lain untuk melakukan leisure.
Pemerintah São Paulo sadar betul akan hal tersebut, sehingga menerbitkan pelarangan terhadap iklan luar ruang di kotanya dan menggalakkan ruang (dan kegiatan) publik sebanyak-banyaknya. Gunanya, sebagai sebuah alat yang efektif untuk membangun suasana demokrasi dan keterlibatan warga terhadap kotanya. Dukungan serta keterlibatan warga ini merupakan ramuan mujarab untuk mewujudkan lingkungan yang ramah dan berkelanjutan.
Sebaliknya, suasana demokratis akan sulit diwujudkan pada kota yang pelit ruang publik. Anda bisa bayangkan, apa jadinya Arab Spring tanpa Tahrir Square atau gelombang demokrasi di Cina pada tahun 1989 tanpa hadirnya lapangan Tiananmen?
Ayos Purwoaji
“Sebagai sebuah
karya iksi, kota
dibangun oleh
persepsi warganya.
Namun secara
resiprokal, diam-diam
kota juga membentuk
pengalaman
PAsAR sENEN: HOW lIfE
BETWEEN BuIlDINGs mATTERs
IN mARKET REVITAlIsATION
Pasar Senen possesses huge potentials to be a walkable, safe and vibrant commercial and business district. Although Senen sub-district has long been associated with crime, prostitution and anti-social behaviour, the potentials still prevail as it is pretty much centred on the bus terminal, Pasar Senen Train Station and the markets. A question arises: What enhancement does Pasar Senen require for the spaces between its buildings?
ESSAY
ENGLISH
Market Revitalisation, Pasar Senen, Urban Planning, Jakarta
32
edisi #10: Pemerintah
Jakarta Provincial Government has carried out many
traditional market revitalisation projects for the last
half-decade. A long while after Pasar Mayestik three years ago,
Pasar Blok A, Pasar Senen, Pasar Karang Anyar, Pasar Benhil
and, the latest addition, Pasar Lontar - Kebon Melati are now
under major refurbishment or at least being planned for it.
Amidst all those markets, Pasar Senen possesses huge potentials to be a walkable, safe and vibrant commercial and business district. Although Senen sub-district has long been associated with crime, prostitution and anti-social behaviour, the potentials still prevail as it is pretty much centred on the bus terminal, Pasar Senen Train Station and the markets.
The history of Pasar Senen began in the Dutch colonial era when Justinus Vinck,
a Dutch entrepreneur, developed Senen Market in east of Batavia in 1733. Pasar Senen, or Planet Senen as it was called few decades ago, became a poor area full
of shacks with high crime rate and prostitution after Indonesian Independence
33 ruang | kreativitas tanpa batas
© Derrick Juda
Ali Sadikin, the former Governor of Jakarta, initiated “Projek Senen” (Senen
Project) in 1970 to regenerate the dilapidated area. In addition to the localisation
of sex workers, a trade centre and a youth centre were built to improve Planet Senen. The later was inaugurated in 1974 and produced many artists and poets. Benyamin Sueb and Bing Slamet are two of the well-known ones.
Nowadays, there are six blocks of market/ trading areas which sell a wide range
of products, from food and clothing to used books and electronic appliances.
Since the opening of the irst three buildings, proper maintenance has been a rare
occurrence causing building facade, structure as well as utilities to deteriorate.
34
edisi #10: Pemerintah
Block VI, which sits next to the bus terminal to the north, is a large, but under-maintained traditional market. Block III, which got burned down in early 2014, is
still in the reconstruction process with temporary trading spaces provided for the affected tenants. Though the train station has been renovated and equipped with additional security guards, the overall condition of Pasar Senen is still unpleasant, polluted and threatening.
One of the notable experiences of visiting Pasar Senen is that motorcycles are simply everywhere. They spill over to the road, causing congestion, and even occupy the green passageway and spaces between buildings. A street market takes place on Jalan Stasiun Senen on weekdays, making the area even more crowded. Anxiety and insecurity intensify when walking around the area, mainly because it is cramped, chaotic and dark in some places, especially in the traditional
market (Block VI) and in the bus terminal area. The condition createsl eft-over
spaces that allow criminal activities to be conducted.
“People now are coming to markets not only for the price, but also for
the pleasant shopping environment.”
– Warson Aritonang, a shoe seller at Pasar Senen Block VI For the irst timers, they would ind the area is dificult to navigate as no straightaccess from the nearby station to the commercial and business area. Actually, there was a direct access, but a 3-metre wall and a car park area create barriers that separate the train station with the core area. People coming from it have to walk around and further to reach the market. Coming from the Transjakarta bus shelters is not even a better option. Two shelters, both are situated on the road
median, are not connected with proper, let alone safe, pedestrian crossings. It is
obvious that Pasar Senen has the advantage in terms of connectivity, accessibility and commercial activity. A train station, a bus terminal and two Transjakarta bus shelters serve the area. No wonder it’s always bustling with people especially
during the day when trading activity is at its peak. However, Pasar Senen, deinitely,
needs major changes and upgrades to thoroughly improve and rejuvenate the decaying area. A question arises: What enhancement does Pasar Senen require for the spaces between its buildings?
Besides the transit infrastructure; the youth sport centre, Gelanggang Olahraga Remaja Senen; and the nearby performing arts venue, Gedung Kesenian Bharata; are the other catalysts that can encourage the regeneration of the disordered area. The green passageway, currently is a motorcycle parking area, could be the ”wow factor” of Pasar Senen. The revamped and extended passageway will be a
green pedestrian corridor with commercials on both sides. It connects the train
35 ruang | kreativitas tanpa batas
Moreover, a war memorial and its barren plaza should be made inviting with more vegetation, public amenities and water features. The redesigned plaza will signify the new, regenerated Pasar Senen. Both corridor and plaza also aim to provide more space for people and draw them into Pasar Senen area. Further improvement to the area would be renovating the cinema building across the trade centre and the other corner buildings at the junction.
“First life, then spaces, then buildings - the other way around never
works. If you have more space for public life or city life, you will have
more people and public life.”
– Jan Gehl, founder of Gehl Architects, Urban Quality Consultant The area will always be a busy trading centre as it has been for almost three centuries. Having all those diamonds in the rough, Pasar Senen could be a successful regional trading centre as well as a prime example of a Transit Oriented Development (TOD) area in Jakarta.Yes, resolving the problems and maximising the potentials go beyond urban design. The traders and how they conduct trading activities should also be the main focuses along with involvement of urban design and any other major physical upgrades. Government (up-bottom) intervention and their concerted effort are crucially required to kick-start a regeneration program for Pasar Senen,
Derrick Juda
“It is obvious that
Pasar Senen has
the advantage
in terms of
connectivity,
accessibility
ARsITEK DAlAm PROfEsI:
PERAN, POsIsI, DAN POTENsI
Aktivitas arsitektur berhubungan dengan perancangan dan penciptaan yang melatih kepekaan dalam menemukan solusi yang paling layak dengan keadaan. Posisi arsitek berisinggungan langsung dengan warga dan instansi pemerintahan. Sehingga dalam mendesain, arsitek dapat memutuskan kepentingan mana yang akan tertuang dalam produk perencanaan. Sehingga perlu dipertanyakan, apa peran arsitek dalam pemerintahan?
ESAI INDONESIA
Amatirisme, Peran arsitek, Posisi arsitek, Komunitas
38
edisi #10: Pemerintah
Ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memutuskan untuk tetap
mengalihkan lokasi kehidupan warga Kampung Pulo ke sebuah rumah susun atas nama normalisasi Sungai Ciliwung, cukup banyak arsitek atau pihak berlatar belakang arsitektur menunjukkan ketidaksetujuannya dan menawarkan solusi yang dirasa lebih pantas ketimbang pengusuran.
Aktivitas arsitektur berhubungan dengan perancangan dan penciptaan yang melatih kepekaan dalam menemukan solusi yang paling layak dengan keadaan. Namun, potensi yang dimiliki para arsitek tadi seolah tidak diberikan tempat dalam kebijakan. Sehingga perlu dipertanyakan, apa peran arsitek dalam pemerintahan?
Untuk menjawab hal itu ada tiga macam perspektif yang akan dibahas: (1) kerangka birokrasi, (2) kerangka praktisi, dan (3) kerangka intelektual.
Arsitek dalam kerangka birokrasi
Dalam kerangka birokrasi, sebuah legalitas diperlukan oleh sebuah profesi untuk dapat berperan. Legalitas itu hadir dalam bentuk keprofesian. Dalam konteks profesi arsitek, hal ini memiliki lima parameter: (1) pekerjaan penuh waktu, (2)
menempuh pendidikan/pelatihan khsusus, (3) berada dalam organisasi profesi, (4) memiliki lisensi yang terairmasi, dan (5) memiliki kode etik [1]. Pada praktiknya,
kelima parameter tersebut terwakili dalam sebuah dokumen legal dari badan usaha konsultansi yang dikeluarkan oleh asosiasi profesi atau lembaga jasa, misalnya, surat
ijin usaha konstruksi, sertiikat badan usaha, atau sertiikat keahlian personil –posisi
kehadiran arsitek dalam badan usaha. Sebagaimana yang tertulis dalam naskah Rancangan Undang-Undang Arsitek, seorang arsitek membutuhakan lisensi untuk beroperasi.
Di satu sisi, pada pekerjaan pemerintahan, sebagian besar arsitek berpraktik melalui konsultan perencanaan yang mendapatkan pekerjaan dari instansi yang bersangkutan. Pekerjaan perancangan atau perencanaan yang dikerjakan
merupakan salah satu poin turunan ‘Kegiatan’ untuk mencapai sasaran dari ‘Program’ (instrumen kebjiakan) yang disusun oleh perangkat pemerintahan.
Sebagai contoh, Dinas Pariwisata Kota melakukan Pekerjaan Perencanaan Kawasan
Wisata Sungai menjadi salah satu poin Kegiatan Pembangunan Infrastruktur Wisata
untuk menyasar Program Pengembangan Tujuan Pariwisata Kota.
39 ruang | kreativitas tanpa batas
hingga makro, penataan dalam aspek tapak dan lingkungan sekitar. Peranan tersebut umum dilakukan arsitek saat ini, dan hal ini masih dalam proses legalisasi menjadi undang-undang.
Arsitek dalam kerangka
praktisi
Dalam kerangka konsultan perencana
[1], arsitek berperan dalam proses pra-perancangan (seperti survey lokasi dan studi objek desain) hingga menghasilkan produk perancangan berupa laporan, gambar, Rencana
Anggaran Biaya, dan Spesiikasi Teknis.
Selanjutnya, peranan mereka biasanya hanya seputar revisi atau rekomendasi teknis. Sementara itu, keberlanjutan pelaksanaan desain dipegang oleh pihak pengawas dan kontraktor. Realita ini mempertegas pernanan arsitek dalam penataan ruang sebatas produksi dokumen teknis dari sebuah kebijakan yang telah ditetapkan.
Ironisnya, konlik yang kerap muncul
dalam kebijakan pembangunan kota sendiri bukanlah seputar hal desain yang mikro, namun pada isi kebijakannya itu sendiri. Dalam contoh perancangan wisata sungai di atas, yang menjadi masalah bukanlah material atau bentuk bangunan, melainkan ketidaksetujuan terhadap penetapan lokasi sungai yang dijadikan daerah wisata. Arsitek memang berwenang dalam bentuk objek perancangan, namun, birokrasilah yang menentukan hal yang dirancang dan lokasi perancangan. Hal ini tertuang yang akan digunakan, langgam yang
ingin ditampilkan, lokasi pintu masuk kawasan, struktur bangunan yang sesuai dengan keahlian pekerja di lingkungan sekitar, atau titik lokasi tempat peristirahatan. Secara mikro, posisi arsitek sangatlah strategis, karena hasil rancangan akan terealisasi langsung dalam pembangunan.
Namun, jika kita lihat dengan skala makro, posisi arsitek nyatanya tak lebih dari sekrup atau gerigi dalam jalannya roda pemerintahan. Jika kembali ke contoh sebelumnya, Program Pengembangan Tujuan Pariwisata dari sebuah kota merupakan hasil kebijakan pemerintah kota. Peran arsitek hanyalah mengolah kebijakan tersebut menjadi produk arsitektural yang dapat direalisasikan. Pola ini menunjukkan bahwa peran arsitek sendiri bermain dalam menjalankan kebijakan, bukan dalam tataran pengolahan kebijakan.
Secara hukum, dalam konsep Naskah Akademik RUU Arsitek, arsitek
dideinisikan sebagai perancang
bangunan. Namun, peran arsitek tidak hanya sebatas bangunan saja, melainkan meliputi tugas penataan (penciptaan dan pewujudan) dari ruang dalam skala yang lebih luas. Ruang tersebut berwujud lingkungan binaan (built environment) yang diperuntukkan bagi kehidupan manusia
maupun masyarakat luas (umum) [2].
40
edisi #10: Pemerintah
dalam Kerangka Acuan Kerja. Struktur birokarasi tidak mengizinkan arsitek untuk berpartisipasi dalam menentukan arah kebijakan dalam realisasi proyek pada
sebuah lokasi. Peran arsitek dikerucutkan menjadi pengolah desain ‘yang sudah
ditentukan’ sesuai dengan konteks lingkungan.
Karenanya, ketika arsitek mengusulkan kampung susun bagi solusi konlik relokasi
permukiman Kampung Pulo, ia tidak memiliki tempat secara legal dan mempunyai
peran yang berbeda dalam struktur pemerintahan. Pemprov DKI mengambil
kebijakan untuk memindahkan permukiman Kampung Pulo, dan menyediakan peran untuk arsitek dalam merancang permukiman baru bagi penghuni yang direlokasi atau fungsi ruang baru di lokasi permukiman yang dibersihkan.
Arsitek dalam kerangka intelektual
Batasan mengenai peran, posisi, dan potensi arsitek ini dipersiapkan sejak masa perkuliahan. Peran arsitek dalam mendesain dilegitimasi dengan kurikulum pendidikan arsitektur yang dipisahkan dari kerangka holistik birokrasi dan politik. Sehingga wajar, misalnya, dalam sebuah presentasi karya, seorang mahasiswa hanya memaparkan hasil desainnya yang meningkatan kualitas ruang kampung kota dengan rekomendasi berupa peningkatan sarana utilitas dan infrastruktur. Namun, rekomendasi tersebut tidak mampu menjawab komentar tentang permasalahan dasar ruang kampung kota yang berupa kepemilikan lahan. Terhadap hal itu arsitek kadang malah mengalihkannya ke peran pihak lain yang lebih ahli, misalnya, bidang hukum.
Argumentasi ‘bukan peranan arsitek’ ini menenggelamkan arsitek dalam
wacana-wacana praktikal semata. Muncul sinisme yang mempertanyakan untuk apa banyak wacana dan teori, kritisi sana-sini, atau pengkajian ini-itu, jika bisa langsung berpraktik dengan mendesain sebaik mungkin? Untuk apa berpusing-pusing membaca, ketika di luar sana referensi desain berhamburan memanjakan mata. Wacana yang populer malah berkutat pada pengalaman ruang, visual culture, struktur, atau materi desain aplikatif lainnya, dan mendesain sebaik mungkin berarti sesuai dengan kaidah keprofesian. Sehingga, arsitek teralienasi dari produk desainnya sendiri.
41 ruang | kreativitas tanpa batas
skala middle, dan (c) planolog / urban planner, urban designer dan arsitek lansekap
– dalam skala makro [2].
Kenyataannya, arsitektur (termasuk arsitek dan hasil karyanya) berada dalam sebuah kerangka holistik kebijakan pembangunan. Hal ini berarti aktivitas arsitektur itu sendiri berhubungan dengan bidang-bidang lain tak hanya dalam konteks desain. Misalnya, setelah produk desain perancangan kawasan wisata sungai selesai, produk itu bisa dimanfaatkan oleh instansi pemerintahan untuk melegitimasi relokasi permukiman sekitar sungai atau desain ramah lingkungan yang dipakai bisa
menjadi justiikasi terhadap argumen aktivis lingkungan yang menjaga ekosistem
sungai. Namun, sekali lagi dengan peran berupa mendesain sebuah objek desain pada suatu lokasi perencanaan yang telah disediakan, maka bukan peran arsitek-lah untuk menjawab permasaarsitek-lahan itu.
Amatirisme sebagai harapan
Seorang peneliti poskolonial, Edward Said mengatakan bahwa “semakin tinggi pendidikan seseorang, dia akan semakin dibatasi oleh kawasan ilmu pengetahuan
yang relatif sempit” [3]. Spesialisasi merupakan tekanan utama dari sebuah profesi
yang berujung pada alienasi. Selain itu, Edward Said juga mengemukakan isu
keprofesian lain sebagaimana yang terjadi dalam konlik arsitek pada kerangka praktisi. Isu tersebut antara lain profesional yang memiliki batasan ruang gerak
dalam birokrasi, setiran dari kekuasaan terlembaga, dan kebutuhan akan kepakaran
yang terlisensi atau tersertiikasi.
Isu terakhir merupakan jawaban dari hilangnya peran masyarakat dalam
pengolahan kebijakan kota, selain partisipasi formalitas seperti Focus Group Discussion (FGD) satu arah ataupun sosialisasi. Ketiadaan lisensi yang legal untuk menentukan kebijakan menempatkan masyarakat sebagai objek kebijakan dalam pemerintahan. Di sisi lain, anggota masyarakat yang telah terlisensi akan menjadi
perangkat pemerintahan. Keperluan sebuah kepakaran untuk membuat/terlibat dalam sebuah ‘pengaturan’ merupakan releksi bahwa bentuk pemerintahan dari
dahulu sampai sekarang merupakan sebuah kekuasaan terlembaga.
Menurut David Ludden, konigurasi kekuasaan terlembaga terdiri dari: (1) kubu
penguasa yang mencanangkan kemajuan, (2) masyarakat yang hidupnya harus ditingkatkan, (3) ideologi ilmu pengetahuan yang menyediakan prinsip dan teknik untuk melaksanakan kemajuan, dan (4) tokoh-tokoh yang mendaulat dirinya
sebagai pakar dan tercerahkan [4]. Pada konigurasi tersebut jelas menunjukkan
42
edisi #10: Pemerintah
Posisi arsitek dan latar belakang keilmuan yang dilaluinya memiliki potensi untuk menjadi fasilitator antara pemerintah dan masyarakat, namun ruang gerak profesi arsitek dalam kerangka birokrasi dibatasi oleh badan hukum yang memayunginya.
Terhadap konlik-konlik keprofesian tersebut, Edward Said mengajukan solusi
berupa amatirisme. Amatirisme adalah aktivitas yang digerakkan oleh kepedulian
dan rasa, bukan oleh laba, kepentingan sendiri serta spesialisasi yang sempit [3].
Secara pratikal, amatirisme membawa seorang profesional, dalam konteks ini arsitek, untuk melakukan hal-hal di luar peran yang telah dikonstruksikan untuknya, sesuai dengan pemikirannya. Sebagai tambahan, semangat intelektual sebagai seorang amatir dapat memasuki dan mengubah kerutinan profesional menjadi lebih hidup dan radikal [3].
Gloriikasi terhadap frasa profesionalisme selama ini menjadikan amatirisme
dimengerti sebagai level awal terhadap sebuah gradasi yang berpuncak pada profesional. Amatirisme yang dimaksud oleh Edward Said adalah proses kerja melampaui batas profesi yang dikemudikan oleh kebenaran yang diimani, atau istilah populernya; keberpihakan. Menjadi amatir tanpa keberpihakan atau memahami
konsep amatirisme sebagai cara kerja ‘sesuka hati’ semata jelas membawa dampak
kesemerawutan yang malah menghambat progres yang ingin dicapai.
Dalam ruang kota yang sarat dengan konlik kepentingan, ‘keberpihakan’ menjadi
motivasi arsitek untuk bergerak diluar apa yang dibentuk legitimasi terhadap profesinya. Misalnya, pada friksi permukiman Kampung Pulo, konsep kampung susun yang ikut disusun oleh beberapa arsitek dalam komunitas Ciliwung Merdeka tidak hanya berhenti pada produk desain, namun berlanjut pada advokasi, sampai pengembangan komunitas. Gerakan Ciliwung Merdeka merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana usaha masyarakat membobol birokrasi agar bisa terlibat dalam kebijakan, juga bagaimana aktivitas arsitektur melampaui peran arsitek yang selama ini dikonstruksikan.
Contoh kasus lain bisa dilihat pada konlik Revitalisasi Hutan Kota Malabar di
43 ruang | kreativitas tanpa batas
mendampingi pemulihan Ngibikan pasca gempa, apakah itu termasuk aktivitas profesi arsitektur seperti yang telah dikerangkakan selama ini?
Beberapa kasus di atas merupakan contoh praktis bagaimana aktivitas arsitektur digerakan bukan sekedar tuntutan dari profesi, namun, dengan alasan keberpihakan. Pentingnya memiliki keberpihakan bagi seorang arsitek (dan profesional secara umum) pernah ditulis oleh Alm. Galih Widjil Pangarsa; bahwa tujuan keilmuan
arsitektur di Indonesia seyogyanya diletakkan di atas kebijakan menetapkan
muatan lokal, global dan universal dalam perspektif politik kebudayaan dan keilmuan yang tepat dan berpihak pada kaum lemah [5]. Profesionalisme dibentuk oleh
legitimasi, sehingga ia bukanlah sebuah konsep bebas nilai dan jelas diolah untuk menguntungkan penyusunnya. Konsep amatirisme memang jauh dari solusi praktis,
namun itu merupakan sebuah langkah awal dalam menghadapi konlik arsitek
dalam profesionalisme. Karena ternyata pertanyaannya bukan tentang peranan profesi arsitek, namun apa dan bagaimanakah peranan yang bisa dilakukan seorang yang mempunyai latar kelimuan arsitektur baik formal maupun informal.
Peran, posisi, profesi, dan potensi arsitek yang bertemu amatirisme saling berjalin dan membentuk sebuah kesimpulan, bahwa menjalani profesi arsitek saja tidaklah cukup untuk bersetia pada arsitektur.
-[1] Konsultan perencana dalam hal ini berarti badan usaha yang dipertemukan dalam pekerjaan perancangan, di mana arsitek menjadi bagian dari personilnya.
Foto sampul: KOMPAS.com / Roderick Adrian Mozes
referensi
[1] Dana Cuff, 1992. Architecture: The Story of Practice. Cambridge, US; London, UK: MIT
Press.
[2] Konsep Naskah Akademik RUU Arsitek per 14 April 2015. [e-book] http://www.dpr. go.id/doksileg/proses1/RJ1-20150626-021838-3596.pdf
[3] Edward Said, 1998. Peran Intelektual. Diterjemahkan oleh P Hasudungan Sirait dan Rin
Hindryati P. Jakarta: Penerbit Obor.
[4] Dalam Tania Murray Li, 2012. The Will to Improve: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia. Diterjemahkan oleh Hery Santoso dan Pujo Semed. Serpong,
Tangerang Selatan: Penerbit Marjin Kiri.
44
edisi #10: Pemerintah
Siti Amrina Rosada
“Peran, posisi, profesi,
dan potensi arsitek yang
bertemu amatirisme
saling berjalin dan
membentuk sebuah
kesimpulan, bahwa
menjalani profesi arsitek
saja tidaklah cukup
COllECTIVE PAPER AEsTHETICs:
HOW CAN WE mAKE PlACEs
PEOPlE TRulY lOVE?
Four years of practicing architecture and urban
planning in Italy, Spain and the Netherlands, working
on large scale projects all over the world made me think and re-think the Jerde partnership slogan: How can we make places people love? What are the qualities of these places? Are they measurable?
ESSAY
ENGLISH
Cultural Entrepreneur-ship, Modelling Tool, Octet Truss, Participatory Planning, World Game.
46
edisi #10: Pemerintah
According to the Tower of Babel as told in the book of genesis,
at the beginning of humanity all people were speaking one tongue
and worked together towards a common goal.
Seeing this, God confused their language and scattered them
all over the world.
How can we make places people truly love?
The design of Spaceship HEART for 2011 Shenzhen-Hong Kong Urbanism\ Architecture Bi-City Biennale, Curated by Terence Riley was a play proposal
following The Jerde Partnership’s slogan “Making Places People Love” [1]. Four years of practicing architecture and urban planning in Italy, Spain and the
Netherlands, working on large scale projects all over the world made me think and re-think the Jerde partnership slogan.
How can we make places people love? What are the qualities of these places? Are they measurable?
47 ruang | kreativitas tanpa batas
Biographical background
When I was nine years old my family moved to a “self-made” village in the lower galilee named Timrat [2]. For my parents, born in Israel in the 40’s and shaped
ideologically in the 60’s it was a dream comes true. Together with a group of 220 families, they apply in 1981 for a permit to build a new village categorized as “communal – rural locality”. For the next four years they were busy with planning and designing the regulations and the physical characteristic of the future village. With the years the regulations have changed and the village population was doubled, yet all the decisions are still taking in a format of members meetings and upon all members’ votes.
Thirty years later, in my graduation thesis at the Berlage Institute in Rotterdam titled “Vertical Kibbutz” [3] I was examining the translation of the communal –
rural collective principles into now-days mixed-use urban prototype. The search for a structural model which can match the self-governing quality as well as the character of growth and reduction in time, lead to the work of Buckminster Fuller and focused on the “octet truss” patent and the “world game” idea.
In 2008, four years after my graduation I have been asked by London Architecture Festival to present my graduation work in a format of Installation art. Together with
fablab team in Den Haag, we came up with a model of interlocking paper cubes, which with visitors can co-create their own visionary models of places. Following the success of the presentation, the cultural entrepreneurship Collective Paper Aesthetics was established in January 2009.
48
edisi #10: Pemerintah
Collective Paper Aesthetics
Collective Paper Aesthetics is a physical modeling tool to communicate in a playful manner complex systems. The principle tool is a paper lattice, to be folded into three-dimensional polyhedral packs. The pack is closing with paper joints, which are integrated, as the instructions, in the lattice itself. The single packages can be connect one to another using the same joints; on each “vector” two paper joints are positioned one is to close the package itself and the other to connect package to package. The polyhedral packs can be assembled in multiple different directions, generating varied three dimensional patterns.
© Collective Paper Aesthetics,
49 ruang | kreativitas tanpa batas
Footnotes:
[1] Jon Adams Jerde, was an American architect based in Venice, California,. He was the
founder and chairman of The Jerde Partnership, an architectural design and urban planning
irm specializing in the design of shopping malls.
[2] Timrat was established on the land of a Palestinian village named Ma’alul.
[3] Collective community in Israel that was traditionally based on agriculture.
In that sense, Collective Paper
Aesthetics is a tool to provoke thoughts
about architecture and planning and
not a proposal for a physical solution.
As an architect, the project is taking
the position of a mediator between
governments to public in order to have
a profound understanding about how
can we make places people truly love.
Tools for thoughts versus complete solutions
One can look at urban planning and architecture as livable experiment; when we make a design, even if many steps are planned in the way to avoid mistakes and errors, only realization and time can tell if a project is a success or not. Many of the complete “solutions” for living, designed in the 60’s and 70’s imposing polyhedral geometry as a key for sense of community were actually not well received by the market. While, participatory planning in terms of shaping the rules and regulations of a physical place is a popular tool among architects and planners.
© Collective Paper Aesthetics,
photographer Kobi ‘Kobtze’
Donner, Haifa 2014.
Noa Haim
“One can look at
urban planning and
architecture as livable
experiment; when we
make a design, even if
many steps are planned
in the way to avoid
mistakes and errors,
Ke mana perginya arsitektur yang saya pelajari ketika dihadapkan dengan realitas hunian padat di kota besar? Bagaimana mungkin kita bicara tentang perbaikan kualitas pemukiman hanya dengan aspek
isik dan lupa dengan perbaikan ekonomi?
ESAI INDONESIA
Kebijakan Perumahan, Pemukiman Ciliwung, Bukit Duri
oleh
Sri Suryani
52
edisi #10: Pemerintah
“Neng, ini sudah benar belom ngisinya?”
Saya tersentak, seketika menerima lembaran formulir yang ia sodorkan. “Sebentar kita lihat sama-sama, ya Pak.”
Pak Hidayat mengangguk cepat. Saya membuka lembaran kertas dan menelitinya
dengan seksama, “Rumah Bapak berisi satu keluarga ya?” “Iya, Neng. Anak Bapak
empat, dua sudah menikah dan mengontrak di tempat lain. Dua masih sekolah, masih tinggal bareng.” Saya mengangguk, “Kalau pekerjaan Bapak sehari-hari?”
Pagi tengah beranjak siang
ketika Pak Hidayat datang
mengenakan kaos berkancing
dan celana hitam, melapisi
sosok kurus jangkung.
Tergopoh-gopoh ia membawa
carik lembaran kertas.
53 ruang | kreativitas tanpa batas
“Saya tukang ojek. Di sini ‘kan deket stasiun, Neng. Bapak mangkal di Stasiun Tebet.”
ujar Pak Hidayat dengan lancar. Kemudian mengalirlah narasi penghidupannya mengojek: dari pukul enam sampai sepuluh pagi dan dari pukul lima sore hingga sekitar sepuluh malam. Sangat masuk akal jika menarik hubungan antara alur jam berangkat dan pulang kerja warga Jakarta sehari-hari. Tanpa sadar saya ingat potret para tukang ojek yang siaga menunggu saya setiba di stasiun Klender Baru setiap pulang naik kereta komuter, berseru, “Ojek, Neng, ojek?” seraya melambaikan tangan. Pak Hidayat adalah salah satu dari mereka.
54
edisi #10: Pemerintah
“Wah ini nggak tentu, Neng,” ia meringis. Saat saya dorong untuk memberi perkiraan, ia menerawang dan menjawab angka satu setengah juta rupiah per bulan, lalu menuliskannya di lembar formulir pendataan. Menyaksikan tulisan Pak Hidayat seperti berjalan di atas ranting yang rapuh. Beberapa kata tidak lengkap atau salah eja. Kali ini giliran saya yang meringis, dalam hati.
“Selanjutnya bagian simpanan atau tabungan juga belum Pak,”sebisa mungkin saya menyiapkan diri atas jawaban tak terduga. Pak Hidayat, sekali lagi, terkekeh dan menjawab dengan ragu. “Nggak tentu juga, Neng. Kadang sepuluh ribu-kadang
lima puluh ribu. Itu juga saya nabungnya di celengan.”
Siang itu sepertinya lebih pengap dari biasanya. Saya kehabisan kata-kata. Akhirnya Pak Hidayat kembali menuliskan jumlah perkiraan tabungan per bulan sebesar lima puluh ribu. Dari pertanyaan itu muncul cerita tentang istri Pak Hidayat yang membantu suaminya menjadi pengasuh anak dengan gaji tiga juta per bulan. Juga keluhan tentang pengeluaran bulanan untuk pendidikan anaknya: KJP (Kartu Jakarta Pintar) yang membebaskan biaya administrasi bulanan, tapi masih dibuntuti biaya pembelian seragam dan buku pelajaran. Pengeluaran PAM diganti dengan biaya sumur pompa komunal yang sewaktu-waktu butuh perawatan dan warga akan patungan membayarnya.
Menatap topik terakhir dalam formulir, saya menelan ludah. “Status rumah Pak
Hidayat rumah milik, ya... Bapak punya sertiikat kepemilikan tanah?”
“Nggak, Neng, itu rumah warisan dari orang tua saya. Paling ada struk pembayaran PBB dan listrik aja.” Pada kertas-kertas yang disebutkan, saya tenggelam dalam kekosongan. Pak Hidayat adalah satu dari kumpulan keluarga yang mendiami tanah seluas 2x4 meter di Bukit Duri. Sedikit demi sedikit mereka membangun rumah dari material bangunan yang memadai. Hingga waktu membuka kemungkinan untuk menambah jumlah lantai menjadi dua dan bertambahnya usia anak-anak membutuhkan kamar terpisah kala malam datang. Delapan meter persegi, dua lantai menjadi enam belas meter persegi, setara dengan delapan ruang parkir motor, dua parkir mobil, atau mungkin teras rumah seseorang di belahan Jakarta lain. Pada bidang itu, Pak Hidayat menghabiskan masa kecil hingga kini membangun
keluarga, membesarkan anaknya. Ilmu arsitektur yang saya pelajari meleleh tak
berbentuk. Pak Hidayat adalah arsitek bagi keluarganya.
“Kira-kira berapa biaya membangun rumah Pak?” Barangkali ini adalah pertanyaan paling berat yang terlontar.
55 ruang | kreativitas tanpa batas
Pikiran saya melayang tinggi pada Millenium Development Goals yang dicanangkan oleh UN untuk mengurangi pemukiman berkualitas minim yang diterjemahkan dengan berbagai cara oleh pemerintah pusat maupun daerah. Bappenas mengusahakan program SAPOLA (Slum Alleviation Policy and Action Plan) melalui skema 100–0–100 dijabarkan dalam skema 100% penyediaan air bersih--0%
pemukiman ‘kumuh’--100% sanitasi memadai. Bagaimana mungkin kita bicara tentang perbaikan kualitas pemukiman hanya dengan aspek isik dan lupa dengan
perbaikan ekonomi? Belum lagi proyek 1000 tower rumah susun tahun 2006 yang salah sasaran, kini digunakan oleh kelas menengah. Sementara itu pemerintah kota sibuk memainkan lakon lama Jakarta dan banjir dengan melakukan normalisasi
Sungai Ciliwung sejak PROKASIH (Program Kali Bersih) tahun 90an hingga
sekarang. Terlepas dari wacana banjir yang selalu menjadi alat politik, apakah relokasi ke rumah susun mampu memperbaiki hidup Pak Hidayat? Jauhkah lokasi sekolah dari rumah yang baru? Berapa biaya yang harus ditambah per bulan untuk
transport dan sewa unit beserta perawatan rusun?
Tiba-tiba konsep pembangunan berkelanjutan menjadi jauh dan samar. Krisis perumahan terjangkau juga terjadi di belahan dunia lain. London, misalnya, mengalami perubahan sistem perumahan sejak akhir tahun 1970an. Tatcher memberikan kebebasan jual-beli rumah bagi penghuni perumahan publik, yang berujung pada tidak terkontrolnya harga rumah. Sedikit demi sedikit, tercipta hirarki pusat-pinggir pada kota metropolitan ini. Hingga kini, wacana London dan krisis perumahan terus terjadi dan lagi-lagi menjadi alat politik setiap pemilihan umum. Phnom Penh, tetangga dalam satu kawasan regional, tunggang langgang menghadapi isu manajemen tanah dan tingginya investasi asing yang masuk dalam
bentuk pengembangan ‘ko