Team Games Tour nament : M emadukan unsur Compet it ive dan Cooperat ive Dalam rangka Peningkat an Kualit as Pembelajaran PKn
Suyat o Jurusan PKn H
FISE UNY Abst ract
M any research have been done in searching t he advant ages and disadvant ages bot h cooperat ive and compet it ive models of t eaching. Each of t hem has some advant ages as w ell as disadvant ages. Accordingly, t he r est t ask of t eachers is t o t ake t he advant ages and eliminat e it s disadvant ages.
This art icle t ries t o propose Team Game Tour nam ent (TGT) as a means in int egr at ing cooperat ive and com pet it ive aspect s of inst ruct ional act ivit ies. Wit h it s dist inct ive feat ure, TGT can combine bot h cooperat ive and compet it ive spirit s of st udent . As a result , hopef ully, st udent s’ achievement w ill incr ease.
Teachers of PKn should change t heir circumst ances, chief ly t heir t radit ional inst ruct ional pract ices. Implement at ion of TGT in some right occasions is one of means in increasing inst ruct ional effect iveness.
Key w ords:Team Game Tournam net , compet it ive, cooperat ive, PKn. A. Pendahuluan
Di era globalisasi ini orang dit unt ut unt uk mem eliki keunggulan kompet it if hampir dalam semua aspek kehidupan. Orang sering mengident ikkan era ini dengan era persaingan bebas. Namun, kalau kit a cermat i lebih seksama, era globalisasi ini juga menunt ut individu unt uk mampu bekerjasama dengan orang lain dalam suasana saling ket er gant ungan yang posit if (posit ive int erdependence). Ironisnya, prakt ik pendidikan di Indonesia selama ini cenderung m enekankan aspek kompet isi sehingga m elahirkan individu-individu yang individualist is, bahkan egois. Dampakdari pr akt ik pendidikan semacam ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat besar. Bila orang yang memiliki sifat semacam ini menjadi pemimpin, maka ia cenderung akan m enjadi pemim pin yang kurang peduli t erhadap rakyat yang ia pimpin. Bila ia menjadi pengusaha, ia cender ung akan menjadi pengusaha yang melupakan anak buahnya, menganggap pengusaha lain sebagai saingan, bukan mit ra.
B. Teori dan Beberapa Proposisi t ent ang Belajar
Salah sat u perubahan yang cukup signifikan t ent ang t eori belajar sejak akhir t ahun 1960-an adalah perubahan dari t eori-t eori yang bersifat global t ent ang belajar kearah aspek yang lebih khusus t ent ang belajar (Klein, 2002- 262). Lebih lanjut ia kat akan bahw a ada t iga alasan ut ama penekanan pada prinsip belajar yang bersifat khusus. Pert ama, diakui adanya dua proses belajar yang berbeda sehingga membuat sulit unt uk mengembangkan t eori belajar yang bersifat t unggal unt uk m enj elaskan semua perilaku. Kedua, t eori-t eori belajar t radisional juga berasumsi bahw a beberapa hokum yang bersifat umum t ent ang belaj ar dapat dit erapkan unt uk semua makhluk
hidup. Dengan kat a lain, t ernyat a fact or bio-psikologis juga berpengaruh pada proses belajar. Ket iga, penerimaan yang berl ebihan pada pandangan kognit if t ent ang belajar m engakibat kan perhat ian lebih t erf okus pada prinsip-prinsip belajar yang bersif at khusus. Kenyat aan bahw a pr insip-prinsip asosiat if dan kognit if m embuat sulit unt uk m embangun sebuah t eori t ent ang belajar yang bersifat global at au universal.
Fries& Craw ford (1989) m enyat akan beberapa proposisi t ent ang belajar sebagai berikut : a) Learning is act ive and not passive;
b) Children are ‘inquirer s’, t hey act ively seek t o underst and t heir w orlds;
c) Since involvement is cr ucial t o learning, children learn more by t aking responsibilit y f or t heir ow n learning;
d) Children learn w hen t he lear ning meet s needs w hich are relevant t o t heir t ot al being; e) The explanat ory st age in learning is very import ant ;
f ) Children at all ages, but especially young children learn int uit ively t hrough concret e experiences;
g) Effect ive lear ning and t he learners’ self -est eem are closely relat ed; h) The role of t eacher is crucial in learning;
i) Children learn much t hr ough t heir ow n experiences and from each ot her w it hout inst r uct ion from adult ; and
j) The role of peer s and t he family in learning is import ant .
Lebih lanjut dikat akan bahw a proses yang t erjadi di dalam belajar meliput i:
a) There are t w o key f acet s of learning –t he process and t he product and neit her can be considered as part from t he ot her;
b) Learning is a global rat her t han a linear process;
c) Concept s can be underst ood at different levels of difficult y by children at different levels; d) The value of play in lear ning can’t be overest imat ed;
e) Learning involves risk-t aking;
f ) There is much unint ended learning in t he school; and g) There is w ide variat ion in learning st yle.
Hergenhahn& Olson (1997:6-7) m enyat akan bahw a belajar adalah sebuah perubahan t ingkah laku at au pot ensi t ingakh laku yang r elat ive permanen yang merupakan hasil dari pengalaman dan t idak dapat dilekat kan pada kondisi yang bersif at sem ent ara sepr t i diindikasikan oleh sakit, kelelahan at au pengaruh obat -obat an. Lebih lanjut dikat akan bahw a hanya perilaku yang dapat diperkuat yang dapat dipelajari. Sedangkan menurut Sadali (2001: 58), kualit as suat u pengajaran diukur dan dit ent ukan oleh seberapa besar kegiat an pembelajaran dapat m enjadi alat pengubah t ingkah laku individu kea rah yang sesuai dengan t ujuan yang t elah dit et apkan. Sehubungan dengan ini maka guru dalam mengelola kegiat an pembelajaran di kelas hendaknya mampu mengem bangkan pola int eraksi sehingga sisw a t er mot ivasi, punya kepercayaan diri, kreat if, r esponsive, int erakt if, dan evaluat ive. Hal ini sesuai dengan pengert ian pembelajaran yang dikemukakan Gagne& Briggs (1979:3) “ inst ruct ion is a human underst anding w hose purpose is t o help people learn” . Lebih lanjut mer eka mengat akan bahw a dalam kegiat an pembelajaran t erkandung makna sebagai cara yang dipakai oleh pengajar , ahli kurikulum, perancang m edia, dan sebagainya yang dit ujukan unt uk m engembangkan rencana t eror ganisir guna keperluan belajar.
unt uk mencapai t ujuan pembelajaran. M anusia yang t erlibat dalam pembelajaran t erdiri dari sisw a, guru, dan t enaga lainnya, sepert i laboran, narasumber, dan pust akaw an. M at erial meliput i buku-buku, papan t ulis, media, dan sumber belajar lainnya. Fasilit as dan perlengkapan t erdiri dari r uang kelas, comput er, perlengkapan audio-visual, dan sebagainya (Hamalik, 2001:57). Pendapat senada dikemukakan Sudjana (2001:8) yang mengart ikan pembelajaran sebagai suat u upaya yang sist emat ik dan disengaja ol eh pendidik unt uk m encipt akan kondisi-kondisi agar pesert a didik melakukan kegiat an belajar. Dengan demikian, dalam kegiat an pembelajarant erjadi int er aksi edukat if ant ara dua belah pihak, yait u peser t a didik (sisw a) yang m elakukan kegiat an belajar dengan pendidik (guru) yang melakukan kegaiat an membelajarkan.
M ulyasa (2003:100) menyat akan bahw a dalam set iap pembelajaran t erjadi int eraksi ant ara pesert a didik dengan lingkungannya sehingga t erjadi perubahan t ingkah laku kea r ah yang lebih baik. Oleh karena it u, t ugas guru yang ut ama dalam pembelajaran adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang t erjadinya perubahan t ingkah laku kea rah yang lebih baik. Dengan kaat a lain, unt uk mencapai t ujuan yang opt imal, proses pembelajaran harus m emiliki kualit as yang t inggi.
Ironisnya, implement asi di lapangan menunjukkan bahw a model pembelajaran yang digunakan guru msih jauh dari ideal. Banyak guru yang masih menggunakan st rat egi pembelajaran konvensional yang bersifat eksposit ori (pemaparan dengan ceramah). Penelit ian Suyat o (2004) t erhadap para guru SD di kecamat an Kalasan , Kabupat en Sleman, Yogyakar t a menemukan bahw a 85% r esponden menggunakan m et ode ceramah dalam mengajarkan dasar-dasar demokrasi kepada sisw anya. Kondisi ini sungguh memprihat inkan, mengingat t ujuan pembelajarn demokrasi t idak t erbat as pada penget ahuan t ent ang dasar-dasar demokrasi, t et api harus sampai t ingkat pemahaman, penghayat an, dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. At au kalau meminjam ist ilah Bloom, t idak hanya pada aspek kognit if , t et api sampai t ingkat paling t inggi, yait u evaluat ive. Oleh kar ena it u, agar pembelajaran PKn lebih ef ekt if, maka st rat egi semacam it u harus diubah.
Unt uk mengubah secara keseluruhan at au bersifat drast ic prakt ik guru yang sudah berlangsung selama ber t ahun-t ahun m emang bukan pekerjaan yang mudah. Guru sebagai ujung t ombak pendidikan perlu diubah mind-set -nya secara perlahan-lahan dengan cara diperkenalkan st r at egi pembelajaran yang bukan m erupakan yang bar u sama sekali. Salah sat unya adalah dengan penerapan TGT sebagai model pembelajaran PKn yang m enggabungkan unsur kooperat if dan kompet it if.
C. Pent ingnya Compet it ive and Cooper at ive Spirit s dalam Belajar PKn
Pent ingnya semangat kom pet it if dan kooper at if dalam belajar , t er masuk belajar PKn sudah t idak diragukan lagi. Dalam sit uasi yang kompet it if sisw a akan dipacu unt uk melakukan yang t erbaik at au m encurahkan segala pot ensi yang mer eka miliki unt uk memenangkan persaingan. Semangat kompet it if ini t er cer min dalam mot ivasi berpr est asi dan gairah unt uk belajar. Biasanya, sisw a dengan m ot ivasi t inggi cenderung akan memiliki prest asi akademik yang relat ive lebih baik disbanding mer eka yang mot ivasi berpr est asinya r endah. Oleh kar ena it u, t ugas seorang guru adalah m enumbuhkan dan menjaga mot ivasi berpr est asi yang t inggi, ant ara lain dengan penerapan TGT yang m engandung unsur rew ard and punishment .
Kemampuan unt uk bekerja secara kooperat if dengan orang lain memberikan kont ribusi secara langsung t erhadap pencapaian t ujuan pendidikan, khususnya pendidikan nilai, yang meliput i realisasi nilai, pendidikan karakt er, pendidikan kew arganegaraan, dan pendidikan moral. Uraian lebih lengkap t ent ang kont ribusi kerjasama secara kolaborat if ini dapat disimak dalam uraian berikut ini.
Realisasi nilai. Para sisw a harus belajar unt uk bekerja sama dengan orang lain dalam rangka unt uk m er ealisasikan nilai-nilai yang mereka anut dan apa yang m ereka inginkan. Ket rampilan yang mer eka pelajari dalam kerjasama kelompok akan sangat bermakna dalam kehidupan mer eka – dalam lapangan pekerjaan, lingkungan akademik, keluarga, kelompok social, dan di mana pun m er eka berada unt uk dapat berpart isipasi. Sikap dan ket rampilan kooperat if akan meningkat kan hubungan m er eka, produkt ivit as, kepuasan dalam semua sit uasi di at as.
Pendidikan karakt er. Beberapa karakt er yang diajarkan oleh para pendidik saat ini, yang sering disebut ‘t ar get -values’ at au nilai-nilai t arget , m eliput i hormat , t anggung-jaw ab, t oleransi at au menerima perbedaan, hemat , dan bangga dalam bekerja. Di dalam kelompok belajar yang bersifat kooperat if, para sisw a belajar unt uk saling menghargai dan memahami bahw a set iap orang m emilikikont ribusi yang berguna. M er eka berlat ih unt uk bert anggung jaw ab at as t ugas kelompok mer eka; bahw a kelopok t idak akan berhasil kecuali mereka m em enuhi t anggung jaw ab yang dibebankan kepada mereka. M ereka belajar unt uk bekerja sama dengan dan menghar gai orang lain yang berbeda dalam hal ras, agama, kelas social, kemampuan akademik, dan sebagainya. Dan apabila kerja sama it u efekt if, para sisw a akan bangga karena keberhasilan kelompok m er eka dalam m engerjakan t ugas. Loyalit as dan rasa m embant u (helpfulness),juga merupakan karakt er lain yang bias diperoleh dan dikembangkan dar i belajar kelompok.
Pendidikan Kew arganegaraan. Kemampuan w arga Negara unt uk bekerjasama secar a ef ekt if merupakan hal yang pokok dalam emokrasi.Dalam pembelajaran secara kooperat if , para sisw a belajar unt uk ber bagi, bergilir, saling mendengarkan, bersikap empat i, dan belajar unt uk menerima dan m enilai kont ribusi-kont ribusi yang berbeda yang bias dibuat at au disumbangkan oleh anggot a kelompok yang berbeda-beda. Singkat nya, banyak hal yang dipelajar i sisw a t erkait dengan pendidikan kew arganegaraan melalui belajar kooperat if. Para sisw a belajar unt uk peduli, t idak saja pada prest asi diri mereka sendiri, t et api juga prest asi kelompok. Lebih lanjut , mer eka diharapkan selanjut nya nunt uk t idak nhanya peduli t erhadap kelompoknya, t et api juga peduli t erhadap bangsa dan negaranya. Dan akhirnya, mer eka juga diharapkan t idak hanya at au menghilangkan sfat dan sikap egois, menghargai hak-hak or ang lain. Kemampuan uunt uk mendengarkan, bersijap empat i, dan unt uk menerima peran or ang lain, mem berikan kont ribusi t erhadap perilaku dan berpikir secara moral. M emahami dan memprakt ikkan keadilan di dalam membagi t ugas, berbagi peralat an, dan t anggung jaw ab dalam menyelesaikan t ugas juga merupakan pendidikan moral.
cooperat ive learning t idak hanya m engajarkan kerjasama t et api juga meningkat kan self-est eem sisw a, sikap hormat t erhadap or ang lain, dan prest asi akademik sisw a.
D. Team Game Tournament (TGT)
TGT t erdiri at as serangkaian kegiat an pembelajaran yang m eliput i: t eaching (pengajaran at au present asi oleh guru), Team st udy at au belajar secara t im at au kelompok, dan t ournament at au perlombaan dan Team Recognit ion (pemberian penghargaan kepada t im). Uraian secara rinci dari keemopat kegiat an ini dapat disajikan sebagai berikut .
1. Teaching. Kegiat an ini, sepert i kegiat an m engajar konvensional, berupa kegiat an di mana guru m enyampaikan at au m empresent asikan mat eri pelajaran. M at eri pelajaran bias berupa f akt a, konsep, prinsip, at au prosedur. Kegiat an ini lebih mer upakan pengant ar at au apersepsi dari serangkaian kegiat an pembelajaran TGT. Oleh karena it u, t ugas guru pada t ahap ini adalah menjelaskan hal-hal yang sifat nya mendasar t ent ang mat eri yang akan dipelajari sisw a, t ermasuk prosedur pelaksanaan TGT, sehingga para sisw a mendapat kan pemahaman yang benar dan memadai t erkait baik dengan mat er i maupun hal-hal yang harus dilakukan baik secara individu maupun kelompok.
2. Team st udy. Kegiat an ini merupakan lanjut an dari kegiat an pr esent asi guru dengan menekankan pada akt ivit as sisw a unt uk mendalami m at eri yang baru saja disampaikan guru dalam t ahap aw al, present asi. St rat egi belajar yang bersifat kooperat if ini memungkinkan sisw a unt uk saling bert ukar pikiran unt uk memperoleh pemahaman yang sama di ant ar a para anggot a t im. Tugas yang harus dilakukan at au diselesaikan oleh t im at au kelompok bias berupa lembar kerja at au menguasai mat eri yang t elah disampaikan. Secara kelompok, mer eka bert anggung jaw ab t erhadap penguasaan mat eri oleh para anggot anya. Oleh karena, keberhasilan kelompok dalam t urnam en at au perlombaan nant i akan sangat t er gant ung pada penguasaan mat eri oleh set iap anggot a kelompok yang bersangkut an. Oleh kar ena it u, biasanya anggot a yang lain dari kelompok yang bersangkut an akan memot ivasi dan m embant u sisw a lain yang ada dalam kelom poknya, sehingga mereka secara kelompok merasa opt imis unt uk memenangkan perlombaan karena para anggot anya sudah siap dengan penguasaan mat eri secara t unt as.
3. Tour nament . Yang dimaksud t ournam ent at au perlombaan di sini adalah suat u kegiat an di pert anyaan-pert anyaan yang diberi nomor urut disert ai kunci jaw aban yang bdit ulis di at as kart u yang t erpisah dari kart u soal. Turnam en ini bias dilakukan pada set iap akhir pecan, di mana para sisw a t elah mendfapat mat eri dar i guru dan t elah m endalaminya lew at belajar kelompok.
4. Team Recognit ion. Yang dimaksud dengan t eam recognit ion adalah pengakuan at au penghargaan at as pr est asi kelompok berupa pmberian peringkat kepada t im sesuai dengan skor yang m er eka peroleh. Skor t im adalah jumlah atau gabungan dari skor individu par a anggot a t i m yang bersangkut an. Ada t iga peringakt penghargaan mulai dari yang t erendah sampai yang t er t inggi, Good Team. Great t eam, dan Super Team.
Di dalam TGT, semangat bersaing baik ant ar sisw a maupun kelompok sangat nyat a, Kar en st rat egi ini m emang dirancang unt uk kompet isi. Para sisw a yang t ergabung dalam suat u kelompok akan berhadapan at au ber saing dengan kelompok lainnya. Sebagaimana t elah dikemukakan, keberhasilan kelompok akan sangat t ergant ung dari keberhasilan individu anggot anya, maka dalam kelompok it u akan muncul semacam nor ma yang berf ungsi sebagai penjaga kekompakan kelompok, sper t i solidrit s, saling m engingat kan, saling m endukung, saling member, dan yang t idak kalah pent ingnya gengsi kelompok, demi kesuksesan kelompok.
Unt uk menjaga kekompakan at au kohesifit as kelompok, guru sebaiknya m enganjurkan para sisw anya unt uk m ember nama kelom poknya sesuai dengan kesepakat an para anggiot anya. Kalau perlu, m er eka membuat slogan at au yel-yel unt uk m emberikan semangat dan ident it as kelompoknya. Dengan ident it as yang nyat a maka rasa solidarit s dan eksist ensi kelompok akan membant u para anggot anya unt uk m enjaga nama baik dan selalu bangga t erhadap kelompoknya. Konsekuensinya memang berat maka mer eka harus sukses dalam perlombaan yang mer eka hadapi. ikut mencant umkan nama dalam kelompok t et api t idak t urut m emberikan kont r ibusi t erhadap kelompoknya. M engapa para ahli mer ekomendasikan belajar kooperat if, ant ara lain karena st rat egi pembelajaran ini mem ungkinkan sisw a unt uk berint eraksi secara int ensif ant ar sisw a. Kalau dalam sebuah kelas ada 40 sisw a, peluang seorang sisw a unt uk mendapat giliran at au berbicara adalah seper empat puluh, maka peluang unt uk medapat giliran at au berbicara dalam sebuah kelompok yang hanya t erdiri dari empat siswa adalah seper empat . Dengan demikian, semakin kecil jumlah anggot a kelompok, semakin besar peluang sisw a unt uk berlkont ribusi dalam kelompoknya. Dengan demikian, peluang unt uk berbagi ide, m elat ih ket rampilan social, khususnya berkomunikasi secara lisan menjadi semakin int ens. t ingkat t inggi, yait u pada zona proksimal (proximal zone) perkembangan m ereka.
melalui penerapan TGT. Dengan TGT, penghar gaan t erhadap pr est asi kelompok t idak mengabaikan penghargaan t erhadap individu, karena prest asi kelompok dit ent ukan oleh prest asi individu.
G. Penut up
Dari uraian singkat di muka dapat disimpulkan bahw a TGT mampu nm engint egrasikan semangat kom pet isi dan kerjasama dalam belajar, dua hal ang sangat esensial dalaam belajar. Dengan TGT, guru dapat m enjaga dan m endorong t er us mot i vasi dan semangat belajar sisw a. Lebih dari it u, pendidikan melalui proses pembelajaran semacssm ini diharapkan mampu mencipt akan pesr t a didik yang t idak memiliki sift egois karena t ercip[ t a oleh semangat kompet isi yang int ens, t et api m emiliki jiw a vkebersamaa, sebagai hasil dari t empaan suasana yang penuh kooperat if.
Secara singkat , lew at TGT sisw a dilat ih unt uk bersaing secara sehat dan seklaigus bekerjasama unt uk m encapai prest asi t erbaik mer eka. Sisw a juga belajar bahw a set iap orang memiliki pot ensi unt uk memberikan kont ribusi t erhadap keberhasilan kelompok, sekecil apapun dengan pot ensi yang m erke milik secara individual. Dengan demikian, dengan TGT, pembelajaran PKn akan lebih menyenangkan, menant ang, dan bermakna bagi sisw a.
Daft ar Pust aka
Albert . L. (1987). A t eacher’s guide t o cooperat ive discipline. M innesot a: AGS.
Gagne, R.M .& Briggs, L.J. 1979. Principles of inst ruct ional design. New York: Holt, Renihart , and Winst on.
Hergenhahn, B.R.,& Olsaon, M .H. 1997. An int roduct ion t o t heories of learning. New Jerw sey: Prent ice-Hall.
Hamalik, o. 2001. Belajar dan pembelajaran. Jakart a: Bumi Aksara.
Kirschenbaum, H., 1995. 100 w ays t o enhance values and m oralit y in school and yout h set t ing.Bost on: Allyn and Bacon.
Klein, S. B., 2002, Learning principles and applicat ions, int ernat ional edit ion, four t h edit ion. Bost on: M cGraw Hill.
M ool, L.C., 1993, Vogot sky and educat ion, inst ruct ional implicat ions and applicat ions of socihist orical psychology. New York: Cambridge Universit y Pr ess.
M ulyasa, 2003, Kurikulum berbasis kompet ensi : konsep, karakt erist ik, dan implement asi, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sadali, 2001, Pengaruh penerapan m odel pem belajaran role playing t erhadap akt ivit as guru dan mur id dan hasil belajar pada m at a pelajar an IPS di sekolah dasar. Jurnal Lemlit UT Vol. 2, No. 1, 52-68.
Suyat o, 2004, St udy eksplorasi t ent ang penggunaan met ode pembelajaran dasar-dasar dem okrasi oleh para guru SD di Kecam at an Kalasan, Sleman, Yogyakart a, Laporan Penelit ian t idak dit erbit kan, FIS UNY.
Vr ies, L.,& Craw ford, J., 1989, Learning t hrough an int egr at ed curriculum, approaches and guidelines, Vict oria: M inist ry of Educat ion.