• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bencana banjir termasuk bencana terbesar di dunia. Data Guidelines for Reducing Flood Losses, United Nations – International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) menunjukkan bahwa jumlah kejadian bencana di dunia yang terkait dengan banjir dari tahun 1975 – 2001 semakin meningkat, 20 kejadian pada tahun 1975 meningkat menjadi 147 kejadian pada tahun 2001 dengan jumlah kematian paling tinggi pada tahun 1999 sebanyak ± 35.000 jiwa

1

. Berdasarkan data yang di peroleh dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT,2010) kejadian dan korban banjir menempati urutan pertama di dunia dari berbagai bancana alam lain, yaitu mencapai 55%. Sebagian kota-kota besar, di daerah industri penting serta daerah pertanian yang subur di dunia berada di dataran banjir seperti New York, Tokyo, Osaka, Bangkok, Amsterdam, Jakarta dan sebagainya.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun 2017 bencana banjir terjadi sebanyak 997, pada tahun 2018 mengalami penurunan kejadian banjir menjadi 775, di tahun 2019 terjadi peningkatan angka kejadian banjir meningkat menjadi 1,271 banjir di indonesia

2

. Data BNPB menunjukan tahun 2019 menunjukan kejadian banjir di Jambi yang cukup tinggi, Kerinci termaksud didalam urutan ke 4 kabupaten yang sering terjadi banjir. Banjir menyebabkan 405 warga terdampak dan mengungsi

3

.

Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir dapat dikurangi dengan

serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui

pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna atau

disebut dengan kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan merupakan tanggung jawab

bersama para stake holder, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah,

masyarakat serta dunia usaha. Peran serta dari masyarakat sangat dibutuhkan

(2)

dalam mengurangi jumlah kerugian. Kesadaran akan kesiapsiagaan, masyarakat maupun stake holder akan memiliki persiapan untuk menghadapi kemungkinan adanya banjir. Bentuk kesiapsiagaan bencana dapat berupa persediaan logsitik, alat komunikasi, penyimpanan barang-barang berharga pada tempat yang aman, dan lain-lain. Segala bentuk kesiapsiagaan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana baik kerugian materil, korban jiwa, penyakit dan lainnya

4

.

Kesiapan dan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi banjir yang diharapkan adalah bersifat proaktif untuk dapat melakukan langkah-langkah pencegahan, tanggap darurat serta rehabiitasi yang bekerjasama dengan pemerintah, LSM untuk memelihara lingkungan yang dapat menyebabkan banjir agar dapat meminimalisir dampak yang ditimbulkan

4

.

Pengetahuan yang dimiliki masyarakat tentang banjir akan mempengaruhi sikap dan kepedulian untuk siap dan siaga dalam mengantisipasi banjir. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya berpartisipasi dan memiliki pemahaman tentang kesiapsiagaan menghadapi banjir untuk mengurangi resiko, mengantisipasi bencana dan mengurangi dampak negatif yang kemungkinan bisa terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka. Partisipasi pada lingkup yang paling kecil adalah kesiapsiagaan diri dan keluarga masing-masing

5

.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesiapsiagaan banjir baik dari masyarakat maupun pelayanan kesehatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa masih ada yang tidak mengetahui tentang banjir dan belum tahu kesiapan atau langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum banjir, saat banjir serta setelah banjir. Perlunya penelitian lanjutan dengan memberikan intervensi berupa pelatihan dan pendidikan tentang kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir dalam hal ini simulasi bencana agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir

5

.

Penelitian tentang kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana

sangat dibutuhkan untuk mengelola bencana pada masa datang. Manajemen

(3)

bencana merupakan upaya sistematis dan komprehensif untuk menanggulangi semua kejadian bencana secara cepat, tepat, dan akurat untuk menekan korban dan kerugian yang ditimbulkan. Menejemen bencana (disaster management) mengkaji bencana beserta segala aspek yang berkaitan dengan bencana, terutama risiko bencana dan bagaimana menghindari risiko bencana, pentingnya manajemen bencana untuk: (a) mempersiapkan diri menghadapi semua bencana atau kejadian yang tidak diinginkan, (b) menekan kerugian dan korban akibat dampak suatu bencana, (c) meningkatkan kesadaran semua pihak termasuk masyarakat untuk terlibat dalam proses penanganan bencana, dan (c) melindungi anggota masyarakat dari bahaya atau dampak bencana

6

.

Kesiapsiagaan dan ketrampilan masyarakat adalah kunci utama keselamatan dalam menghadapi bencana. Banjir akan menyebabkan risiko dan terbatasnya pemahaman terhadap karakteristik bencana di lingkungan yang dapat membahayakan keselamatan manusia. Tingginya potensi ancaman dan jumlah masyarakat yang terpapar risiko bencana alam seperti letusan gunung api, gempa bumi, tsunami maupun bencana hidrometeorologi seperti banjir maupun bencana lainnya menyebabkan perlunya peningkatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat secara terus menerus sehingga masyarakat dapat mengetahui bagaimana harus merespon dalam menghadapi situasi kedaruratan bencana.

Kesiapsiagaan Bencana ini dirancang dengan tujuan memandu setiap masyarakat untuk 1) mengetahui ancaman risiko didaerah sekitarnya, 2) kiat-kiat mitigasi praktis yang patut diperhatikan dan berpeluang besar membantu penyelamatan dan perlindungan diri, serta menyiapkan 3) Rencana Kesiapsiagaan keluarga.

Rencana Kesiapsiagaan masyarakat pada dasarnya memuat pengorganisasian

internal masyarakat seperti mengenal jenis ancaman melalui aplikasi ina-risk

personal (android apps), berdiskusi dan berbagi peran masing-masing antara

bapak, ibu, dan anak, termasuk anggota keluarga kelompok rentan (lansia) dan

penyandang disabilitas, serta melaksanakan latihan evakuasi mandiri minimal

(4)

satu kali (1) dalam setahun sehingga dapat mengukur dan mengevaluasi hal-hal yang perlu diperbaiki ke depannya

7

.

Ada lima parameter yang digunakan dalam mengkaji tingkat kesiapsiagaan untuk mengantisipasi bencana yaitu pengetahuan tentang risiko bencana, kebijakan dan panduan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan bencana dan mobilisasi sumber daya. Pengetahuan tentang bencana serta risiko bencana mencakup pengertian bencana alam, kejadian yang menimbulkan bencana, penyebab terjadinya bencana, ciri-ciri terjadinya bencana, dampak terjadinya bencana. Kebijakan dan panduan meliputi kebijakan pendidikan yang terkait dengan kesiapsiagaan masyarakat, UU No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Surat Edaran 70a/MPN/2010) kegiatan penyuluhan diharapkan mampu memobilisasi sumber daya di masyarakat untuk peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Parameter peringatan bencana yang meliputi tanda peringatan dan distribusi informasi akan terjadinya bencana. Parameter mobilisasi sumber daya adalah kemampuan masyarakat dalam memobilisasi sumber daya manusia (SDM) kepala keluarga dan anggota keluarga, pendanaan, dan prasarana-sarana penting untuk keadaan darurat.

5 desa yang berada di kecamatan Danau kerinci Barat yaitu desa Tanjung

Pauh Mudik, Pancuran Tiga, Punai Merindu,Bukit Pulai, Dan Sumur Jauh. Hujan

yang terus mengguyur kabupaten kerinci pada tanggal 25 april 2020 membuat

sejumlah luapan volume air menjadi besar datang dari daerah perbukitan yg tidak

dapat tertampung oleh drainase di sepanjang desa sehingga desa-desa yang

berada di kecamatan Danau Kerinci Barat terendam banjir. Banjir menyebabkan

jalan terendam dan air masuk ke rumah warga serta merusak rumah warga, yang

mana mengakibatkan kerusakan pada bagian dapur. Akibat dari banjir ini juga

mengakibatkan terganggunya aktivitas warga dan juga kerugian materil bagi

warga.

(5)

Berdasarkan uraian diatas, Besarnya potensi kejadian dan dampak yang ditimbulkan akibat banjir di Kabupaten Kerinci mendorong kebutuhan akan tindakan kesiapsiagaan di masyarakat untuk mengurangi kerugian akibat dampak tersebut. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait

“Gambaran kesiapsiagaan masyarakat dalam antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci.”

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kesiapsiagaan masyarakat dalam antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang kesiapsiagaan dalam antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci

2. Mengetahui gambaran Kebijakan dan panduan desa tentang kesiapsiagaan dalam antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci

3. Mengetahui gambaran Rencana tanggap darurat tentang kesiapsiagaan dalam antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci

4. Mengetahui gambaran peringatan bencana tentang kesiapsiagaan dalam

antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten

Kerinci

(6)

5. Mengetahui mobilisasi sumber daya dalam antisipasi bencana banjir di Kecamatan Danau Kerinci Barat Kabupaten Kerinci

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan dan bahan referensi dalam kajian keperawatan terkait pengaruh kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir.

1.4.3 Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan maupun sebagai tambahan referensi bagi peneliti berikutnya mengenai kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir.

1.4.4 Bagi Profesi Perawat

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi perawat

dalam melaksanakan tugas dalam segi pelayanan kesiapsiagaan menghadapi

bencana.

Referensi

Dokumen terkait

Berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil, yaitu: (1) akar penyebab terjadinya alat makan hilang adalah sulitnya petugas Gizi menelusuri keberadaan alat makan tersebut; (2)

Pemerintah Indonesia bersedia untuk melalui perundingan dengan negara yang bersangkutan menetapkan suatu garis batas sesuai dengan prinsip-prinsip hukum dan

Angka infeksi nasokomial terus meningkat mencapai sekitar 9 % atau lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia. Untuk mencegah infeksi

Perolehan skor yang didapat menunjukkan bahwa kinerja operasional perusahaan sudah dilakukan dengan baik, hampir seluruh aspek indikator penilaian yang terdiri dari

1. Keterampilan memilih strategi membaca yang tepat. Subketerampilan membaca ini menyatakan siswa agar menggunakan berbagai strategi pembelajaran membaca yang

Skripsi yang berjudul ” Pengaruh Diet Rendah Magnesium Terhadap Jumlah Makrofag dan Kadar TNF-α Pada Tikus Wistar Jantan ” ini diajukan untuk memenuhi salah

Dalam kajian ilustrasi Joan Cornella, penulis melakukan wawancara bersama seorang ilustrator untuk dimintai pendapatnya. Penulis melakukan wawancara via online

Selain berkurangnya ketakutan akan hal yang tidak nyata, penulis juga berharap karakter tersebut dapat menjadi media hiburan dalam hal horor karena di Indonesia masih sangat