• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN KONSERVASI MELALUI PERLUASAN BANGUNAN DI STASIUN MANGGARAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDEKATAN KONSERVASI MELALUI PERLUASAN BANGUNAN DI STASIUN MANGGARAI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENDEKATAN KONSERVASI MELALUI PERLUASAN BANGUNAN DI STASIUN

MANGGARAI

Norman Prakoso, Michael Isnaeni Djimantoro, Religiana Hendarti

Jurusan Arsitektur Universitas Bina Nusantara, [email protected]

ABSTRACT

This study describes the conservation conducted at Manggarai Station. The application on the conservation planning used the theory of Insertion. The research method employed in this study was qualitative method. The analysis included: (1) to consider the plan that has been made by the government, the existing conditions in the field, and the existing regulations regarding the heritage buildings and (2) to create a design based on the concept of conservation of historic building. It was concluded, that the expansion of the building at Manggarai Station in the future needs to consider the increasing number of users of the railway services as well as to consider the conservation of heritage buildings. The application of the theory of Insertion is intended to formulate the concept of the expantion of the existing building that can still in balance and proportionate with the original heritage building of the Manggarai Station. (NP).

Keywords : Station, Manggarai, Building, Conservation, Insertion

ABSTRAK

Penelitian ini menjelaskan tentang upaya konservasi yang dilakukan pada stasiun manggarai dengan melalukan perluasan bangunan menggunakan teori Insertion. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode secara kualintatif. Analisis dilakukan dengan mencocokan rencana yang telah dibuat oleh pemerintah, dan kondisi yang ada dilapangan, dicocokan dengan regulasi yang ada mengenai bangunan cagar budaya kemudian dibuat suatu penyelesaian berupa eksekusi desain berdasarkan konsep konservasi bangunan bersejarah. Disimpulkan, bahwa upaya perluasan bangunan pada stasiun manggarai cepat atau lambat perlu dilakukan mengingat terus meningkatnya jumlah pengguna jasa layanan kereta api, namun upaya perluasan yang dimaksud tetap harus mempertimbangkan aspek konservasi bangunan cagar budaya. Penerapan teori Insertion dimaksudkan agar dalam proses desain yang dilakukan dapat dibuat sebuah formulasi agar bangunan bisa berdampingan dengan bangunan lama secara seimbang dan proporsional. (NP).

Kata Kunci : Stasiun, Manggarai, Bangunan, Konservasi, Insertion

PENDAHULUAN

Stasiun Manggarai, merupakan salah satu stasiun tertua yang ada di Jakarta. Wilayah Manggarai di Jakarta sudah dikenal warga Batavia sejak abad ke-17. Awalnya merupakan tempat tinggal dan pasar budak asal Manggarai, Flores. Dalam kurun waktu selanjutnya, wilayah yang masuk dalam Gementee (setingkat Kotamadya) pada masa pemerintahan Meester Cornelis ini berkembang menjadi sebuah

(2)

kampung. Meskipun jalur kereta api Jakarta-Bogor sudah dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Nederlansch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) sejak 1873, di kampung Manggarai baru dibangun stasiun kereta api pada 1914 dan diresmikian pada 1 Mei 1918. Sebelumnya stasiun kereta api terdekat adalah stasiun Boekitdoeri yang terletak sekitar 400 meter dari selatan stasiun Manggarai.

Gambar 1 Kondisi Awal Stasiun Manggarai

Sejak 1913 perusahaan kereta api negara Staatsspoor en Tramwegen (SS) menguasai seluruh jaringan rel kereta api di Batavia dan Meester Cornelis. Perusahaan tersebut kemudian menata ulang jalur kereta api di dua kotapraja tersebut. Salah satunya adalah pembongkaran stasiun Boekitdoeri eks- NISM dan pembangunan stasiun baru di Manggarai. Pembangunannya dipimpin oleh arsitek Belanda bernama Ir. J. Van Gendt. Selain stasiun, Van Gendt juga membangun sekolah pendidikan perkeretaapian dan rumah-rumah dinas untuk para pegawai Staatsspoor en Tramwegen di sekitar stasiun ini.

Menurut Kepala Humas Daops I PT KAI Agus Komaruddin saat diwawancarai oleh Kompas pada tanggal 19 Agustus 2014 yang lalu , PT KAI akan menambah jumlah rel yang ada di stasiun Manggarai sebanyak tujuh jalur. Jika proyek ini telah terealisasi maka stasiun Manggarai akan memiliki 14 jalur. Penambahan jalur kereta dimaksudkan untuk mengakomodir pembangunan jalur kereta api rel ganda tujuan Manggarai-Bekasi, dan pembangunan jalur rel kereta langsung menuju bandara Soekarno-Hatta. Selain itu, kawasan stasiun manggarai akan dipersiapkan sebagai salah satu area Transit Oriented Development pada tahun 2020.

Gambar 2 Rencana TOD Manggarai 2020

(3)

Menurut catatan sejarah yang ada, dalam suasana euforia kemerdekaan bulan September 1945, stasiun Manggarai diambil alih oleh puluhan ribu demonstran massa pemuda dan buruh kereta api setelah melakukan aksi long march dari stasiun Jakarta Kota. Di area stasiun ini pula segala persiapan rahasia dilakukan untuk perjalanan Kereta Luar Biasa (KLB) pemindahan Presiden dan Wakil Presiden RI menuju Yogyakarta. Pada tanggal 3 Januari 1946 Presiden Soekarno beserta rombongan hijrah ke Yogjakarta untuk menghindari tentara Belanda melalui jalur 4 stasiun Manggarai menggunakan lokomotip C2849, sehingga stasiun ini bukan hanya warisan arsitektur zaman kolonial tetapi juga saksi bisu sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia pasca proklamasi yang dilakukan oleh presiden Soekarno.

METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi penelitian secara kualitatif. Menurut Sukmadinata (2005) dasar penelitian kualitatif adalah konstruktivisme yang berasumsi bahwa kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman sosial yang diinterpretasikan oleh setiap individu. Peneliti kualitatif percaya bahwa kebenaran adalah dinamis dan dapat ditemukan hanya melalui penelaahan terhadap orang-orang melalui interaksinya dengan situasi sosial mereka (Danim, 2002).

Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan strategi-strategi yang bersifat interaktif dan fleksibel. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang partisipan. Dengan demikian arti atau pengertian penelitian kualitatif tersebut adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).

HASIL DAN BAHASAN

Stasiun manggarai terletak di Jalan Manggarai Utara No. 1 (Manggarai, Tebet), Jakarta Selatan – 12850. Secara administratif ,lokasi berbatasan dengan kecamatan menteng, kecamatan matraman dan kecamatan setia budi. Secara khusus lokasi berbatasan dengan Sungai ciliwung , jalan manggarai utara 1 , bengkel perumka , dan jalan saharjo.

Berdasarkan rencana yang dikembangkan oleh PT. KAI , bahwa stasiun manggarai telah di proyeksikan untuk dilakukan pengembangan kawasan sesuai dengan Rencana TOD Manggarai.

Gambar 3 Rencana Pengembangan Lahan TOD Manggarai 2020

(4)

Tabel 1 Batas Wilayah Batas Wilayah

Utara Sungai Ciliwung

Timur Laut Jalan Manggarai Utara2

Timur Jalan Manggarai Utara 1

Tenggara Jalan Manggarai Utara 1

Selatan Balai Yasa

Barat Daya Jalan Bakti 1

Barat Jalan Bakti 1

Barat Laut Jalan Sultan Agung

Pada penelitian ini, lebih spesifik digunakan lahan sesuai dengan rencana pengembangan area stasiun berdasarkan Masterplan TOD Manggarai dengan mempertahankan bangunan eksisting stasiun yang ada di tengah area pengembangan. Stasiun Manggarai merupakan bangunan dengan kategori benda cagar budaya golongan A. Bangunan eksisting akan dipertahankan berdasarkan fungsinya saat ini, yaitu sebagai pusat kendali operasional stasiun, juga sebagai kantor administratif stasiun manggarai.

Hal ini disebabkan karena pemindahan dan proses instalasi jaringan stasiun yang rumit dan dapat mengganggu proses lalu lintas kereta api yang lewat sehingga beberapa ruangan yang ada pada bangunan lama akan tetap dipertahankan.

Berdasarkan konsep insertion ada beberapa formulasi-formulasi penyisipan bangunan baru kedalam sebuah lingkungan, formulasi tersebut merupakan penggabungan dari aspek letak bangunan, ukuran bangunan dan penghubunga bangunan baru dan bangunan lama yang akan dibuat. Adapun formulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 4 Gubahan Massa A

Dari segi letak dan ukuran bangunan , maka pada penelitian ini menerapkan formulasi 1’’. Pada formulasi 1’’ ukuran bangunan baru lebih besar dari bangunan eksisting dan letaknya terpisah. Hal ini berdasarkan hasil studi dari Masterplan TOD Manggarai, sehingga bangunan baru yang dihadirkan disesuaikan dengan rencana yang akan dibuat. Berdasarkan rencana Masterplan TOD Manggarai maka bangunan B merupakan rencana dari PT KAI. Jika disesuaikan dengan rencana penambahan jalur maka bangunan B merupakan bangunan baru yang mengakomodir penambahan jalur dan penambahan fungsi kereta bandara, sehingga gubahan masa B bersifat mutlak sesuai rencana PT.KAI.

(5)

Gambar 5 Gubahan Massa B

Kemudian dari segi posisi, bangunan baru yang akan dibuat berletak sejajar pada ground floor bangunan lama, sehingga dari segi posisi bangunan baru ini menggunakan formulasi A2. Sementara itu, bangunan C coba dihadirkan sebagai sebuah aksen. Konsep dari perancangan ini adalah bangunan baru berusaha dibuat seolah mengimpit bangunan lama. Hal ini bukan bertujuan untuk mendegradasi nilai historis bangunan lama, tetapi justru sebaliknya. Bangunan baru yang dibuat justru dihadirkan untuk membuat bangunan lama menjadi sebuah sentral. Hal ini bertujuan agar tercipta sebuah interaksi antara bangunan baru dan bangunan lama dengan pengolahan bentuk yang saling melengkapi.

Gambar 6 Gubahan Massa C

Kemudian bangunan C mengalami modifikasi bentuk agar tercipta kesan dinamis dan tidak kaku pada bangunan C. Pengolahan bentuk miring diadopsi dari elemen atap bangunan A. Kemiringan tersebut dijadikan sebuah gagasan untuk memodifikasi bentuk bangunan C yang disesuaikan dengan penggolahan struktur yang dibuat.

(6)

Gambar 7 Gubahan Massa D

Pada proses akhir pengolahan gubahan masa, bangunan tersebut terhubung melalui sebuah plaza besar. Hal ini bertujuan untuk menciptakan interaksi antara manusia, bangunan lama, dan bangunan baru. Pengolahan arah sirkulasi bangunan dibuat sedemikian rupa sehingga bangunan lama bisa berperan sebagai bangunan utama yang dijadikan sebagai objek konservasi.

Berdasarkan derajat keselarasan bangunan baru dan bangunan lama, maka pada perancangan ini diterapkan pengolahan bangunan baru secara contrasting. Pemilihan ini bertujuan untuk merespon unsur kekinian sehingga bangunan baru terkesan modern sebagai penanda zaman, namun dibuat sebuah konfigurasi pengolahan tampak yang justru bisa saling bersinergi.

Gambar 8 Tampak

Tampak depan bangunan baru berusaha diolah senetral mungkin, hal ini bertujuan untuk menggekspos ornament dan gaya arsitektur pada bangunan lama sehingga tidak terjadi sebuah benturan. Elemen kaca cermin banyak digunakan dengan tujuan bahwa tampak dari bangunan baru merupakan refleksi dari gaya arsitektur dari bangunan lama itu sendiri. Penggunaan atap green roof dan green wall pada bentukan masa didepan mensimbolkan bahwa bangunan baru yang akan dihadirkan bersifat netral dan menghormati bangunan lama yang ada, sehingga memperkuat konsep untuk menjadikan bangunan lama sebagai sentral.

(7)

Gambar 9 Perspektif

Plasa yang terbentuk, dimaksudkan sebagai sebuah area luas yang dapat menampung banyak orang.

Hal ini agar plasa tersebut menjadi sebuah area multi fungsi. Selain sebagai area penghubung bangunan lama dengan bangunan baru plasa ini juga sebagai area dimana masyarakat bisa merasakan interaksi antara bangunan konservasi dengan bangunan baru. Bangunan konservasi dijadikan sebagai pusat, sementara bangunan baru dijadikan sebagai latar untuk memperkuat posisi bangunan lama.

SIMPULAN DAN SARAN

Upaya perluasan bangunan stasiun Manggarai merupakan sebuah hal yang harus dilakukan, mengingat bangunan ini akan menjadi salah satu tulang punggung jalur perkereta apian yang menghubungkan wilayah di Jabodetabek. Namun, perluasan tersebut harus tetap mengedepankan pendekatan konservasi, dengan tidak merusak apalagi merubah tampilan bangunan lama yang merupakan salah satu bangunan bersejarah dan menjadi saksi bisu proses perjuangan Republik Indonesia.

Berdasarkan proses analisa, dan pengumpulan teori didapatkan bahwa perencanaan bangunan stasiun baru harus melihat beberapa aspek, antara lain aspek akses yang mudah dan kesinambungan antara bangunan baru dan bangunan lama. Pada perancangan ini didapat sebuah konfigurasi pengolahan masa yang bergaya contrasting, namun penekanannya tetap memperhatikan aspek bangunan lama dengan menggunakan elemen-element netral pada visualisasi tampak bangunan. Bangunan lama dijadikan sebuah sentral atau pusat dari seluruh bangunan baru yang dibuat. Penggunaan material kaca dimaksudkan untuk merefleksikan seluruh tampilah visual bangunan lama, sehingga tercipta sebuah kesinambungan antara bangunan lama yang bersifat konservasi, dengan bangunan lama yang lebih modern.

(8)

Dalam upaya pelestarian bangunan bersejarah, hendaknya seluruh pihak yang berwenang menyamakan persepsi dalam rangka pelestarian bangunan bersejarah. Sejauh ini, banyak kebijakan yang saling tumpang tindih antara satu lembaga dan lembaga lain yang diberi mandat untuk mengurus hal ini. Khususnya untuk bangunan stasiun, setidaknya ada tiga instansi pemerintahan yang terlibat, yaitu PT. KAI, Dinas kebudayaan dan pariwisata, dan Departemen perhubungan. Hendaknya ketiga instansi ini melakukan kolaborasi, jangan justru membuat kebijakan yang saling tumpang tindih.

Sehingga diharapkan kedepannya bangunan-bangunan konservasi berupa bangunan stasiun kereta api di Indonesia bisa dijadikan sebuah landmark di daerahnya masing-masing. Sehingga tercipta sebuah ikatan emosianal antara manusia , bangunan baru, dan bangunan konservasi yang bersejarah.

REFERENSI

Eko Budiharjo. (1997). Arsitektur Sebagai Warisan Budaya. Jakarta : Djambatan.

Joe Holmes. James van Hemert (2008). Transit Oriented Development. Research Monologue Series:

Urban Form, Transportation.

Kementerian Perhubungan Direktorat Perkereta Apian. (2013). Masterplan Perkereta Apian Jabodetabek 2020.

Milla Ardiani. (2009). Insertion Menambah Tanpa Merobohkan. Surabaya: Wastu Lanas Grafika.

RIWAYAT PENULIS

Norman Prakoso lahir di kota Jakarta pada tanggal 24 April 1991. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Arsitektur pada tahun 2015

Gambar

Gambar 1 Kondisi Awal Stasiun Manggarai
Gambar 3 Rencana Pengembangan Lahan TOD Manggarai 2020
Gambar 4 Gubahan Massa A
Gambar 5 Gubahan Massa B
+3

Referensi

Dokumen terkait