4
LANDASAN TEORI
2.1 Penelitian kerja dalam kaitannya dengan upaya peningkatan produktifitas.
Analisa dan penelitian kerja adalah suatu aktifitas yang ditujukan untuk mempelajari prinsip-prinsip atau teknik-teknik mendapatkan rancangan sistem dan tata kerja yang paling efektif dan efisien. Prinsip ini digunakan untuk mengatur komponen-komponen kerja pada sistem kerja seperti manusia, mesin, bahan baku dan fasilitas kerja lainnya.
Aktifitas penelitian kerja ini akan mencoba menganalisa dan meneliti 3 hal, yaitu:
• Siapa (who) yang akan melaksanakan pekerjaan ini, apakah sudah sesuai dengan persyartan (job requirement).
• Bagaimana (how) kegiatan tersebut akan diselesaikan, apakah metode yang diterapkan sudah dirancang sebaik-baik nya ditinjau dari kecepatan, kesederhanaan, kemudahan, maupun ketelitian penyelesaiannya.
• Dimana (where) kegiatan tersebut diselenggarakan, apakah lingkungan dan kondisi tempat kerja sudah layak.
Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2006) penelitian kerja terdiri dari dua elemen dasar pemikiran, yaitu : pemikiran ke arah usaha pencapaian efisiensi kerja dan pemikiran untuk memperhatikan perilaku manusia sebagai unsur pokok suksesnya usaha / kerja mereka.
2.1.1 Ruang Lingkup dan Fase Penelitian Kerja.
Pada tingkat unit terkecil dalam perusahaan, maka peningkatan produktifitas akan difokuskan melalui perekayasaan tata kerja. Istilah ini diterjemahkan dari methods engineering atau methods study dan pengukuran kerja.
2.1.2 Telaah Metode Kerja
Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2006), telaah metoda adalah kegiatan pencatatan secara sistematis dan peneriksaan secara seksama mengenai cara-cara yang berlaku atau diusulkan untuk melaksanakan kerja. Sasaran pokok dari studi ini adalah mencari, mengembangkan, dan menerapkan suatu metoda kerja yang lebih efektif dan efisien. Dan dapat diartikan sebagai upaya untuk menerapkan prinsip dan teknik pengaturan tata cara kerja yang optimal dalam sebuah sistem kerja. Yang dimaksud dengan sistem kerja komponen sistem yang terdiri dari manusia, mesin, fasilitas, material dan lingkungan kerja yang terintegrasi untuk menghasilkan output yang diinginkan.
Dalam perancangan dan pengaturan komponen dalam suatu sistem kerja harus memperhatkan hal-hal berikut ini:
• Komponen manusia : Posisi kerja seseorang agar mampu memberikan gerakan-gerakan yang efektif dan efisien.
• Komponen material : Penempatan material yang mudah terjangkau dan terdeteksi dengan baik.
• Komponen mesin : Penggunaan mesin yang dilihat dari produktifitas , efektifitas, dan efisiensi mesin tersebut.
• Komponen lingkungan fisik kerja : Keadaan lingkungan sekitar kegiatan tersebut yang dilihat dari pencahayaan, temperatur, dan kebisingan.
Tujuan pokok kegiatan telaah metoda kerja adalah sebagai berikut :
• Perbaikan proses, prosedur, dan tata cara pelaksanaan kegiatan tersebut.
• Perbaikan dan penghematan penggunaan material, tenaga mesin, dan tenaga kerja manusia.
• Pendayagunaan usaha manusia dan pengurangan keletihan yang tidak perlu.
• Perbaikan tata ruang kerja untuk mendapatkan keamanan dan kenyamanan di lingkungan kerja.
Beberapa pertimbangan untuk melaksanakan kegiatan telaah metoda kerja adalah sebagai berikut :
• Keuntungan ekonomis dan penghematan yang diharapkan dari studi telaah metoda ini yang dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan studi tersebut.
• Pengetahuan teknis yang melatar belakangi metoda kerja yang akan di telaah.
• Pertimbangan dampak negatif yang akan dari semua aspek yang ada.
Setelah mempertimbangkan hal-hal diatas secara benar, maka selanjutnya adalah langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mendapatkan hasil analisa yang baik.
1. Identifikasi operasi kerja yang harus diamati dan dipelajari.
Mengumpulkan semua data dan fakta yang ada terutama yang berkaitan dengan komponen sistem kerja. Hal tersebut dimaksudkan untuk menelaah prosedur atau metoda kerja yang sudah dianggap tidak tepat lagi untuk digunakan.
2. Dokumentasikan langkah, prosedur, tata kerja yang ada dan buat sistematika urutannya. Hal ini dilakukan untuk menganalisa aliran kerja yang sedang berlangsung untuk mendeteksi langkah kerja yang tidak produktif.
3. Buat beberapa alternatif usulan metoda kerja baru yang dianggap lebih efisien dan efektif. Pilih salah satu alternative yang diusulkan dengan cara pengukuran kerja yang mampu memberikan kesederhanaan (simplifikasi) prosedur yang harus ditempuh, kemudahan dan kenyamanan pelaksanaan, serta waktu yang lebih singkat.
4. Aplikasikan metoda kerja yang baru tersebut, dipantau, evaluasi sampai terbukti bahwa perbaikan yang telah dilakukan sudah berhasil.
Beberapa indikasi pada kondisi kerja yang perlu dilakukan kegiatan telaah metoda kerja:
• Adanya kemacetan dalam pelaksanaan penyelesaian jadwal kerja.
• Adanya target-target kerja yang tidak bisa dipenuhi dan tidak sesuai dengan perencanaan yang dibuat (kuantitas maupun kualitas).
• Adanya kecelakaan kerja yang sering dijumpai.
2.1.3 Pengukuran Kerja
Pengukuran kerja yang dimaksud disini adalah pengukuran waktu kerja.
Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2006), pengukuran waktu kerja adalah suatu aktifitas untuk menentukan waktu yang dibutuhkan seseorang operator (yang memiliki skill rata-rata dan yang terlatih baik) dalam melaksanakan sebuah kegiatan kerja dalm kondisi dan tempo kerja yang normal. Tujuan pokok aktifitas ini dengan sendirinya akan berkaitan erat dengan usaha menetapkan waktu baku (standard time).
Secara sejarah, terdapat 2 macam pendekatan di dalam menentukan waktu baku, yaitu pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up) dan pendekatan dari atas ke bawah (top-bottom). Menurut Sritomo Wignjosoebroto (2006), pendekatan bottom up dimulai dengan mengukur waktu dasar (Basic time) dari suatu elemen kerja, kemudian menyesuaikan dengan tempo kerja (rating performance) dan menambahkannya dengan kelonggaran waktu (allowances time) seperti waktu untuk kebutuhan personal dan antisipasi waktu terhadap delay, pendekatan ini lebih sering digunakan untuk menghitung dan menetepkan waktu baku. Sedangkan model pendekatan top-bottom, waktu standard sudah ditentukan oleh pihak manajemen kepada karyawan yang akan bekerja di tempat tersebut, dimana karyawan tersebut merupakan karyawan yang sudah biasa bekerja pada kondisi tersebut dengan tingkat upah di atas rata-rata.
Beberapa definisi yang terkait dengan prosedur penentuan waktu baku menurut Sritomo Wignjosoebroto (2006) :
• Waktu normal (Normal Time) adalah waktu yang diperlukan (tidak termasuk waktu longgar & delay) operator yang terlatih dan terampil melaksanakan suatu aktivitas dengan kondisi kerja yang normal.
• Tempo kerja normal adalah performansi kerja seorang operator yang terlatih dan terampil yang bekerja secara normal (tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat) selama 1 shift kerja.
• Waktu pengamatan (actual time) adalah waktu yang didapat dari pengukuran dan pengamatan suatu aktifitas elemen kerja yang dilakukan operator.
• Kelonggaran waktu (allowance time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk antisipasi kebutuhan melepas lelah (fatique), kebutuhan personal / pribadi, dan kondisi menunggu / menganggur yang tidak bisa dihindari maupun bisa dihindari.
Beberapa manfaat dari pengukuran kerja dengan menghasilkan waktu baku atau output standard dapat digunakan untuk kepentingan tertentu, antara lain adalah :
• Man power planning
• Estimasi biaya upah karyawan
• Penjadwalan produksi dan penganggaran
• Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi karyawan yang berprestasi.
• Indikasi output atau keluaran yang dapat dihasilkan oleh seorang pekerja
Ada beberapa cara untuk mengukur dan menetapkan waktu standard : 1. Stopwatch time study.
2. Sampling kerja (Work Sampling, Ratio delay study).
3. Standard Data.
4. Predetermined Motion Time System
2.1.3.1 Pengukuran kerja dengan menggunakan “Direct Stopwatch Time Study”
Metoda Direct Stopwatch Time Study merupakan teknik pengukuran waktu kerja dengan menggunakan alat pengukur waktu yaitu stop watch pada suatu aktifitas yang akan diukur atau diamati. Waktu yang didapat akan diolah atau dimodifikasi dengan mempertimbangkan tempo kerja operator. Tidak hanya stopwatch yang diperlukan sebagai timing device tetapi juga diperlukan form untuk mencatat segala informasi yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pengukuran suatu aktifitas tertentu, seperti misalnya sketsa layout area kerja, kecepatan mesin, product, informasi tentang operator, dan segala deskripsi yang bersifat elemental breakdown.
Langkah pengukuran waktu kerja dengan metode direct stop watch time study adalah sebagai berikut :
1. Amati kegiatan yang sudah dibagi elemen kerja nya, ukur dan catat hasil pengukuran kedalam form yang sudah disiapkan, stop watch akan berjalan secara kontinyu masukan angka pada kolom R (record).
2. Hitung kolom T (time) dengan cara pengurangan dengan waktu pada elemen yang sebelumnya. Kolom T ini merupakan waktu aktual.
3. Langkah selanjutnya adalah menentukan rata-rata pada setiap elemen kerjanya.
2.2 Penyeimbangan lintasan (Line balancing)
Menurut Hendra (2009), penyeimbangan lintasan berhubungan erat dengan produksi massal. Sejumlah pekerjaan perakitan dikelompokan ke dalam beberapa pusat pekerjaan, yang untuk selanjutnya kita sebut sebagai stasiun kerja. Waktu yang diizinkan untuk menyelesaikan elemen pekerjaan itu ditentukan oleh kecepatan lintas perakitan; semua stasiun kerja sedapat mungkin memiliki kecepatan produksi yang sama. Jika suatu stasiun bekerja dibawah kecepatan lintasan maka stasiun kerja tersebut akan memiliki waktu menganggur. Tujuan akhir penyeimbang lintasan adalah memaksimasi kecepatan di tiap stasiun kerja sehingga dicapai efisiensi kerja yang tinggi.
Perakitan merupakan proses manufaktur di mana bagian yang dirakit ditambahkan secara berurutan sesuai alur proses dan layout desain. Jalur perakitan yang efisien adalah jalur dengan pemanfaatan fasilitas dengan material handling minimum serta pengendalian produksi mudah. Ketika stasiun kerja memiliki kapasitas kerja yang berbeda, maka penting untuk melakukan pembagian kegiatan kerja berurutan dalam rangka mencapai pemanfaatan tenaga kerja, peralatan, dan waktu yang optimal. (Riyadh,2013; 71).
Tujuan keseimbangan lintasan secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Minimasi jumlah stasiun kerja.
2. Minimasi waktu menganggur (idle time) pada setiap stasiun kerja.
3. Minimasi antrian.
4. Maksimasi efisiensi lintasan.
5. Menyeimbangkan lintasan, dengan memberikan tugas yang sama pada setiap stasiun kerja yang nilainya sama berdasarkan waktu.
6. Memenuhi permintaan produksi yang dibuat.
Langkah-langkah dalam penyeimbangan lintasan :
1. Mengidentifikasi tugas-tugas individual atau aktifitas yang akan dilakukan.
2. Menentukan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap tugas.
3. Menetapkan precedence constrain, jika ada yang berkaitan dengan setiap tugas itu
4. Menentukan output dari lintasan perakitan yang dibutuhkan.
5. Menentukan waktu total yang tersedia untuk memproduksi output tersebut.
6. Menghitung waktu siklus yang dibutuhkan untuk menyelesaikan output yang dibutuhkan.dalam batas toleransi (batas waktu yang dibutuhkan).
7. Memberikan tugas pada pekerja.
8. Menentukan banyak stasiun kerja minimum yang dibutuhkan untuk menyelesaikan output yang diinginkan.
9. Menilai efektifitas dan efisiensi dari solusi.
10. Mencari terobosan-terobosan untuk perbaikan proses secara berkelanjutan.
Pendekatan persoalan mengenai line balancing 1. Penetapan waktu siklus / takt time.
Untuk memastikan batas waktu siklus sesuai dengan volume produksi yang ditetapkan, takt time dapat ditentukan dengan menghitung permintaan produk versus jam kerja dalam kondisi kapasitas produksi normal. (Sihombing. H,2011; 5207)
2. Jumlah stasiun kerja
3. Efisiensi.
4. Waktu tunggu.
5. Persentase waktu menganggur.
6. Efisiensi stasiun kerja
T = Takt time
Ta = Net Time available to work Td= Time demand (customer demand).
Dalam menyeimbangkan lintasan perakitan (diukur dalam satuan waktu), dapat menggunakan beberapa metode line balancing yang telah dikenal sebagai berikut:
1. Hegelson ve Birnie (Ranked Position Weight / RPW)
Hegelson ve birnie telah mengembangkan teknik rank positional weight, dalam metode ini, nilai urutan beban posisi akan ditentukan. Yang terdiri dari penjumlahan beberapa waktu aktivitas yang telah ditentukan urutan prosesnya. Pada saat ingin menentukan waktu siklus dan diagram precedence, aktivitas yang mempunyai berat beban posisi terbesar maka diletakan pada stasiun kerja awal, dan urutan aktivitas nya mengikuti berat beban posisi nya. (Eryuruk. S, 2008; 94).
Merupakan suatu metode yang digunakan untuk menyeimbangkan lintasan pada proses produksi dengan diketahui terlebih dahulu waktu-waktu yang ada dalam proses perakitan tersebut dengan tujuan agar proses perakitan berjalan dengan baik.
Langkah-langkah nya adalah sebagai berikut :
- Lakukan pembobotan dengan cara menetukan jalur terpanjang dari masing- masing operasi dengan melihat kepada precedence yang ada (position weight) - Jumlah kan waktu operasi dari jalur
- Urutkan operasi-operasi berdasarkan waktu terpanjang (position weight terbesar)
- Alokasikan seluruh operasi yang mempunyai ranking paling awal kepada stasiun yang lebih awal dengan memperhatikan precedence diagram
- Alokasikan seluruh operasi kepada seluruh stasiun yang ada.
- Pengalokasian operasi kepada salah satu stasiun, total proses tidak boleh melebihi Takt time yang telah ditentukan.
2. Largest candidate rules (LCR)
Dalam metode ini penentuan operasi pada setiap stasiun kerja dengan mengurutkan waktu operasi yang terbesar hingga yang terkecil. Waktu terbesar memiliki ranking 1, kemudian perankingan tersebut diikuti oleh waktu-waktu operasi selanjutnya. Pengalokasian operasi tiap komponen pada stasiun awal dimulai dengan operasi yang memiliki ranking pertama, tetapi hal ini harus tetap dilakukan dengan memperhatikan precedence diagram.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : - Urutkan tugas berdasarkan waktu terpanjang.
- Alokasikan operasi yang mempunyai ranking pertama kepada stasiun yang lebih awal dengan memperhatikan precedence diagram
- Alokasikan seluruh operasi kepada seluruh stasiun yang ada.
- Pengalokasian operasi kepada salah satu stasiun, total waktu proses tidak boleh melebihi waktu siklus yang telah ditentukan.
3. Kilbridge wester heuristic (Region approach / RA)
Metode ini membagi precedence diagram dalam beberapa wilayah secara vertical dan pada setiap wilayah tidak boleh ada dua operasi yang berurutan. Operasi yang tidak memilki pendahuluan ditempatkan pada wilayah yang paling awal.
Pengalokasian operasi pada stasiun diawali dengan operasi yang berbeda pada daerah yang lebih awal dengan tetap memperhatikan precedence diagram, dengan catatan bahwa ketika akan mengalokasikan operasi yang ada pada wilayah berikutnya, maka seluruh operasi yang ada pada wilayah sebelumnya harus sudah ditempatkan pada stasiun yang ada. Pada prinsipnya metode ini berusaha membebankan terlebih dahulu operasi yang memiliki tanggung jawab keterdahuluan yang besar.
Langkah-langkah nya adalah sebagai berikut :
- Bagi precedence yang ada kedalam beberapa wilayah (region)
- Pembagian dilakukan secara vertical,dimana dua wilayah tidak boleh ada operasi yang berurutan
- Operasi yang tidak memiliki pendahulu dioetakan pada wilayah yang pertama - Alokasikan operasi yang terletak pada wilayah yang paling awal kepada
stasiun yang lebih awal dengan memperhatikan precedence diagram
- Setiap operasi yang berada pada wilayah yang sama mempunyai hak yang sama untuk dialokasikan kepada stasiun yang ada
- Jika akan mengalokasikan operasi yang ada pada wilayah berikutnya, maka seluruh operasi yang ada pada wilayah sebelumnya harus sudah dialokasikan semuanya.
- Pengalokasian operasi kepada salah satu stasiun, total proses tidak boleh lebih dari waktu siklus yang ditentukan.
2.3 Peramalan produksi (Forecasting)
Menurut Nasution (1999), Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun jasa. Salah satu jenis peramalan adalah peramalan permintaan.
Peramalan permintaan merupakan tingkat permintaan produk – produk yang diharapkan akan terealisasi untuk jangka waktu tertentu pada masa yang akan datang
Menurut Eddy (2003), Prakiraan didefinisikan sebagai proses peralaman suatu variabel (kejadian) di masa datang dengan berdasarkan data variabel itu pada masa sebelumnya. Data masa lampau itu secara sistematik digabungkan dengan menggunakan suatu metode tertentu dan diolah untuk memperoleh prakiraan keadaan pada masa datang. Sementara, prediksi adalah proses peramalan suatu variabel di masa datang dengan lebih mendasarkan pada pertimbangan intuisi daripada data masa lampau. Prediksi peramalan yang baik sangat tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari si pembuat peramalan.
Menurut Gaspersz (2004), kegiatan peramalan adalah suatu fungsi bisnis untuk memperkirakan permintaan dan penggunaan produk sehingga produk tersebut dapat dibuat dalam jumlah yang tepat. sehingga peramalan merupakan suatu dugaan terhadap permintaan yang akan datang berdasarkan pada beberapa variabel peramalan, berdasarkan data deret waktu historis. Peramalan dapat menggunakan teknik-teknik peramalan yang bersifat formal maupun informal. Aktivitas peramalan ini biasa dilakukan oleh departemen pemasaran dan hasil-hasil dari peramalan ini sering disebut sebagai ramalan permintaan.
Beberapa teknik kuantitatif yang sering dipergunakan adalah seperti metode pemulusan eksponensial, rata-rata bergerak, regresi linier dan masih banyak lainnya.
Metode Regresi Linier merupakan metode yang dipergunakan sebagai metode peramalan apabila pola historis dari data aktual permintaan menunjukkan adanya suatu kecenderungan menaik dari waktu ke waktu. Pada dasarnya metode ini berusaha mencari fungsi hubungan antara sebab dengan akibat. Diasumsikan waktu mempunyai hubungan linier dengan ramalan dan pola data akan berlanjut, sehingga fungsi yang terbentuk akan menetukan ramalan dimasa datang dengan cara extrapolasi. Metode ini dapat dipakai untuk peramalan jangka panjang. Rumus perhitungan metode Linier Regresi :
dimana:
ŷ = nilai ramalan permintaan pada peiode ke-t a = intersep
b = slope dari garis kecenderungan,merupakan tingkat perubahan dalam permintaan.
x = indeks waktu ( t = 1,2,3,...,n) ; n adalah banyaknya periode waktu
Slope dan intersep dari persamaan regresi linier dihitung dengan menggunakan formula berikut:
dimana:
b = slope dari persamaan garis lurus a = intersep dari persamaan garis lurus x = index waktu
x-bar = nilai rata-rata dari x
y = variabel permintaan (data aktual permintaan)
y-bar = nilai rata-rata permintaan per periode waktu, rata-rata dari y
Teknik peramalan harus dipilih yang sedapat mungkin menghasilkan keakuratan yang tinggi dengan menghasilkan deviasi yang rendah antara hasil forecasting dengan realita. Selain melihat dari segi akurasi, teknik forecasting juga dapat dipilih berdasarkan tingkat ketanggapan (responsiveness) terhadap perubahan data. Lebih lanjut lagi, jika data memperlihatkan pola yang berulang, teknik forecasting yang dipilih juga harus dapat mempertimbangkan unsur trend.
Setelah teknik forecasting dipilih, kita tetap harus melakukan proses pengendalian terhadap proses forecasting. Pengendalian teknik forecasting dapat dilakukan sebagaimana pengendalian terhadap proses-proses di manufaktur dengan menggunakan control chart. Dengan menggunakan control chart, proses forecasting dapt dibedakan antara yang masih signifikan bermanfaat dengan keadaan abnormal yang sulit dijadikan pegangan. Oleh sebab itu, beberapa teknik forecasting sebaiknya secara bersamaan digunakan dan dilihat perkembangannya dengan control chart agar kita dapat beralih ke teknik yang lain ketika suatu teknik forecasting gagal.
ŷ = a + bx
( )
22
n . xy - x . y b =
n . x - x
∑ ∑ ∑
∑ ∑
x - b . x
a = n