1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Pada tahun 2020, jumlah penduduk muslim di Indonesia bahkan mencapai 229 Juta penduduk, atau sebesar 87,2% dari total penduduk, disusul dengan Pakistan, India, dan Bangladesh (Worldpopulationreview.com). Berikut datanya :
Tabel 1.1 : Data Populasi Muslim Dunia 2020 Berdasarkan Negara Negara Populasi Muslim Total Populasi
Indonesia 229.000.000 273.523.615 Pakistan 200.400.000 220.892.340 India 195.000.000 1.380.004.385 Bangladesh 153.700.000 164.689.383 Sumber : Worldpopulationreview.com (2020)
Dengan jumlah penduduk muslim yang mencapai 229 juta jiwa tersebut, Indonesia memiliki potensi dana sosial islam yang sangat luar biasa besar. Dana sosial islam tersebut antara lain zakat, infaq, dan dana sosial keagamaan lainnya (DSKL). Menurut Widiastuti dan Rosyidi (2015), zakat merupakan salah satu instrumen yang sangat penting dalam islam, karena merupakan rukun islam yang ke-tiga, bahkan zakat menjadi satu-satunya rukun islam yang bersifat hablum minannas (Hubungan dengan sesama manusia) dan lebih bersifat sosial sebagai bentuk tanggungjawab antar sesama manusia untuk saling tolong menolong. Zakat sendiri adalah suatu kewajiban yang merupakan realisasi dari firman Allah SWT pada QS. Adz Dzariyat ayat 19 sebagai berikut :
Yang artinya : “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”
Dengan pemberian harta oleh muzakki kepada mustahiq, maka akan terjadi redistribusi kekayaan, sehingga akan mengurangi angka kemiskinan dan
ketimpangan. Beik (2009) pun menyatakan bahwasanya zakat dapat mengurangi jumlah penduduk miskin, mengurangi kesenjangan kemiskinan dan pendapatan, serta mengurangi keparahan kemiskinan. Penelitian tersebut menjadi bukti yang nyata bahwa zakat berpotensi besar untuk mengurangi dan mengatasi permasalahan kemiskinan di Indonesia. Kemudian pada tahun 2019 lalu, Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (PUSKAS BAZNAS) melakukan sebuah penelitian Indikator Potensi Pemetaan Zakat (IPPZ) yang menghitung potensi zakat berdasarkan objek zakat yang terdapat dalam Undang Undang Nomor 23 tahun 2011 (PUSKAS BAZNAS, 2019). Indikator-indikator tersebut adalah :
1. Zakat Pertanian 2. Zakat Peternakan 3. Zakat Perusahaan 4. Zakat Uang 5. Zakat Penghasilan
Hasil dari penelitian tersebut adalah potensi zakat di Indonesia pada tahun 2019 mencapai Rp. 233,8 T, dengan rincian zakat penghasilan Rp. 139,07 T, zakat uang Rp. 58,76 T, Zakat Pertanian Rp. 19,79 T, zakat peternakan Rp. 9,51 T, dan zakat perusahaan 6,71%, berikut datanya :
Gambar 1.1 : Potensi Zakat di Indonesia Berdasarkan Kajian IPPZ Sumber : PUSKAS BAZNAS (2019)
Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, potensi dana sosial yang dimiliki oleh Indonesia tentu saja bukan hanya terletak pada instrumen zakat, melainkan juga pada instrumen lain seperti infaq dan
dana sosial keagamaan lainnya (DSKL). Potensi tersebut tercerminkan dari penghargaan yang didapatkan oleh Indonesia sebagai negara yang masuk peringkat 10 besar dalam berdonasi (CAF World Giving Index, 2019).
Di Indonesia, dana sosial islam seperti zakat, infaq, dan dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) dikelola oleh lembaga resmi bernama Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Dikutip dari website resmi BAZNAS yakni baznas.go.id, BAZNAS merupakan lembaga resmi yang didirikan oleh pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 8 tahun 2001 yang memiliki tugas untuk mengelola zakat, infaq, dan shodaqoh di tingkat nasional. Sedangkan LAZ, Menurut UU RI No. 23 tahun 2011 pasal 17, LAZ adalah lembaga yang didirikan untuk membantu BAZNAS dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan zakat.
Pendirian LAZ wajib mendapatkan izin dari menteri atau pejabat yang ditunjuk oleh menteri.
Dilansir dari Pengelola Informasi dan Dokumentasi BAZNAS (pid.baznas.go.id), terdapat 25 LAZ skala nasional yang sudah mendapat rekomendasi dari BAZNAS, salah satunya adalah LAZ Muhammadiyah atau LAZISMU, berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 730 Tahun 2016 Tanggal 14 Desember 2016. Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terdapat lembaga amil zakat (LAZ) Muhammadiyah skala daerah, yakni Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Muhammadiyah (LAZISMU) Bojonegoro yang beralamat di Jl. Teuku Umar 48-B Bojonegoro. LAZISMU Bojonegoro berperan untuk mengumpulkan, mendistribusikan, serta mendayagunakan dana zakat, infaq, dan DSKL di Kabupaten Bojonegoro.
Sebagai amil / lembaga pengelola dana zakat, infaq dan DSKL, tentunya BAZ dan LAZ sangat berperan untuk masyarakat luas. Namun pada tahun 2020, kegiatan lembaga-lembaga tersebut terganggu dengan kemunculan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-2019). COVID-19 pertama kali muncul pada akhir tahun 2019 yang lalu di Kota Wuhan, China. Virus ini sangat cepat menyebar bahkan sampai ke Indonesia, dibuktikan dengan 2 warga Depok, Jawa Barat yang telah terinfeksi virus ini pada awal bulan maret 2019 (Detik.com). Menurut situs Worldometers, sampai saat ini (1 Maret 2021) sudah terdapat total 1.341.314 kasus
positif COVID-19 di Indonesia, dengan rincian 153.074 kasus aktif, 1.151.915 sembuh, dan 36.325 meninggal dunia.
Dikutip dari situs berita suara.com, dalam diskusi Performa Zakat Online selama Ramadan 1441 H melalui akun youtube BNPB pada Jumat (5/6/2020), Direktur BAZNAS Arifin Purwakanta mengemukakan jumlah donatur (Muzakki) di BAZNAS selama Pandemi Covid-19, terutama saat Ramadhan 1441 Hijriah mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan pada saat pandemi COVID-19, banyak usaha-usaha mengalami kebangkrutan, pemberlakuan PSBB juga berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan, sehingga jumlah donatur di BAZNAS pun berkurang.
Selain berkurangnya jumlah donatur, pandemi COVID-19 juga mengakibatkan bertambahnya jumlah orang yang perlu dibantu (Mustahiq). Nilai pertambahan mustahiq tersebut setara dengan nilai penurunan jumlah muzakki, yakni sekitar 15-20%. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga pengelola zakat, salah satunya LAZISMU Bojonegoro yang bahkan baru berdiri selama 3 tahun. Namun menurut informan 1 (Kepala kantor LAZISMU Bojonegoro), jumlah pemasukan dana zakat, infaq, dan DSKL di LAZISMU Bojonegoro pada tahun berjalan di 2020 (Januari-November) justru malah lebih besar dari total pemasukan di tahun 2019. Hal ini tentunya sangat menarik untuk diteliti, karena pada kondisi pandemi yang segala macam kegiatan salah satunya ekonomi sangat terbatas, justru LAZISMU Bojonegoro mampu mengumpulkan dana yang lebih besar dari kondisi normal pada tahun sebelumnya.
Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan yang meliputi kegiatan pengumpulan dan pendistribusian dana zakat, infaq, dan DSKL di LAZISMU Bojonegoro pada sebelum dan selama pandemi COVID-19.
1.2 Kesenjangan Penelitian
Penelitian terdahulu seperti penelitian Ahsan, F. M., dan Sukmana, R. (2019) yang berjudul “Analisis Pengumpulan dan Pengelolaan Zakat, Infaq, dan Shodaqoh di LAZIS Muhammadiyah Lamongan”, hanya menganalisis kegiatan pengumpulan dan pengelolaan dana zakat, infaq, dan shodaqoh pada suatu lembaga zakat, tanpa melihat bagaimana cara mereka untuk beradaptasi dalam kondisi pandemi COVID- 19, karna pada saat itu memang pandemi COVID-19 belum merebak. Penelitian lain seperti penelitian Bin-Nashwan dkk (2020) yang berjudul Social Solidarity Amid the COVID-19 Outbreak: Fundraising Campaigns and Donors’ Attitudes hanya meneliti kegiatan pengumpulan dan penggalangan dana di masa pandemi, dan tidak berfokus pada pengumpulan dan pendistribusian dana zakat, infaq, dan DSKL. Sehingga belum ada penelitian mengenai pengelolaan dana sosial pada suatu lembaga zakat pada masa sebelum dan selama Pandemi COVID-19.
Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti kegiatan pengumpulan dan pendistribusian dana zakat, infaq, dan DSKL atau bisa disebut dana sosial pada suatu lembaga zakat pada sebelum dan selama masa pandemi, dengan judul
“Pengelolaan Dana Sosial di LAZISMU Bojonegoro Sebelum dan Selama Pandemi COVID-19”. Dengan rumusan masalah : Bagaimana pengelolaan dana sosial di LAZISMU Bojonegoro sebelum dan selama pandemi COVID-19?.
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui pengelolaan dana sosial di LAZISMU Bojonegoro sebelum dan selama pandemi COVID-19
1.4 Ringkasan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan strategi studi kasus eksploratori, dengan data primer dan data sekunder. Data primer berupa wawancara dengan pimpinan LAZISMU Bojonegoro, sedangkan data sekunder berupa dokumen-dokumen terdahulu yang dimiliki oleh LAZISMU Bojonegoro.
1.5 Kontribusi Penelitian
1. Bagi akademisi, untuk menambah referensi serta khazanah ilmu pengetahuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kegiatan pengelolaan dana sosial (Zakat, infaq, dan DSKL) di LAZISMU Bojonegoro sebelum dan selama pandemi COVID-19.
2. Bagi peneliti, sebagai sumber pustaka, referensi, serta acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai topik yang serupa.
3. Bagi LAZ terkait, sebagai proyeksi atau gambaran kegiatannya pada sebelum dan selama pandemi, untuk dijadikan bahan evaluasi serta acuan untuk menentukan kebijakan kedepan.
4. Bagi praktisi, untuk memberikan referensi ilmu pengetahuan tentang pengelolaan dana sosial (Zakat, infaq, dan DSKL) sebelum dan selama pandemi, untuk diterapkan pada BAZ ataupun LAZ yang dikelola.
5. Bagi masyarakat, untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjalankan kewajiban membayar zakat serta berdonasi dalam bentuk infaq dan DSKL pada masa pandemi.
1.6 Sistematika Penulisan
Penelitian pada penelitian ini akan membahas 5 bab dengan garis besar sistematika sebagai berikut :
BAB 1 : PENDAHULUAN
Menjelaskan mengenai latar belakang masalah, kesenjangan penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penelitian.
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA
Menjelaskan landasan teori dan penelitian terdahulu sebagai dasar teori penelitian ini.
BAB 3 : METODE PENELITIAN
Menjelaskan mengenai pendekatan penelitian, jenis dan sumber data yang digunakan, unit analisis, teknik pengumpulan data, teknik validasi data, serta teknik analisis data.
BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN
Menjelaskan mengenai hasil dan pembahasan inti dari penelitian yang dilakukan yang mencakup gambaran objek penelitian dan dekskripsi hasil penelitian.
BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN
Membahas mengenai simpulan dan saran dari penelitian ini untuk dijadikan sebagai landasan teori untuk penelitian-penelitian selanjutnya.