• Tidak ada hasil yang ditemukan

Governansi Digital. Governansi Digital

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Governansi Digital. Governansi Digital"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

6 Governansi Digital

6

Governansi Digital

(2)

6 Governansi Digital

CHAPTER 6

DAMPAK DIGITAL GOVERNANCE TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Setelah mempelajari sesi modul ini mahasiswa diharapkan mampu menganalisis Dampak Digital Governance terhadap Partisipasi Masyarakat

PENDAHULUAN

Istilah pemerintahan digital menunjukkan penggunaan TIK, khususnya internet, untuk mengubah hubungan antara pemerintah dan masyarakat secara positif. Pemerintah digital dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan berbasis institusi dan proses serta meningkatkan kepercayaan keseluruhan pada kebajikan, kompetensi, kejujuran, dan prediktabilitas pemerintah.

Pemerintah digital dapat digunakan untuk meningkatkan daya tanggap dan aksesibilitas pemerintah. Situs web atau email memungkinkan cara baru yang nyaman untuk berinteraksi dengan pemerintah sehingga layanan pemerintah dapat diakses sepanjang waktu dan 7 hari seminggu. Dengan meningkatkan pelayanan publik, pemerintah dapat mengubah kemanjuran eksternal yaitu penilaian masyarakat bahwa pemerintah peduli dengan kebutuhan mereka.

Dengan demikian, daya tanggap dan aksesibilitas meningkatkan kepercayaan berbasis proses pada pemerintah (Tolbert dan Mossberger: 2006).

Pemerintah digital juga dapat digunakan untuk meningkatkan penilaian masyarakat tentang akuntabilitas dan keadilan pemerintah. Akses ke database yang dapat dicari yang berisi kebijakan, undang-undang, berita acara, rencana, dan informasi kontak memungkinkan peningkatan akuntabilitas pemerintah kepada publik. Selain itu, dengan menerbitkan pernyataan privasi dan keamanan serta kebijakan untuk menangani informasi pribadi, pemerintah dapat dianggap adil dan etis. Implementasi pemerintahan digital dapat meningkatkan transparansi dan persepsi tanggung jawab masyarakat dan dengan demikian, meningkatkan kepercayaan berbasis institusional masyarakat terhadap pemerintah.

Aspek lain dari pemerintahan digital dapat meningkatkan kepercayaan berbasis proses

dan institusional. Melalui pemerintahan digital, penyampaian layanan dapat lebih efisien dan

efektif. Di satu sisi, masyarakat yang menggunakan layanan publik online akan merasa bahwa

pemerintah efektif dengan menyediakan semua informasi yang relevan secara online. Di sisi

(3)

6 Governansi Digital

lain, masyarakat akan percaya bahwa pemerintah mengadopsi konsep e-business yang dapat mengubah citra pemerintah secara positif. Dengan demikian, dengan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemberian layanan publik, pemerintah dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat berbasis proses dan institusional kepada pemerintah. Selain peningkatan efisiensi dan efektivitas, pemerintahan digital memberikan kesempatan kepada warga untuk memberikan masukan dalam proses pengambilan keputusan politik. Melalui pemerintahan digital, layanan diasumsikan menjadi lebih responsif, mudah diakses, efisien, dan efektif.

PARTISIPASI DALAM ADMINISTRASI PUBLIK

Definisi partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dikemukakan oleh banyak ahli, seperti Almond Ec Verba yang membedakan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan pusat dan daerah. Pakar lainnya seperti Funstein juga mengemukakan arti penting partisipasi masyarakat serta kebutuhan untuk mengukur kadar partisipasi tersebut melalui hdda of citizen participation. Dalam Administrasi Pembangunan, Korten menyatakan betapa pentingnya partisipasi dalam berbagai proses pembangunan sehingga pembangunan dapat diialankan untuk meningkatkan martabat manusia sebagaimana tertuang dalam gagasan dasarnya people centered development.

Arti penting partisipasi pada intinya terletak pada fungsinya. Fungsi pertama adalah sebagai sarana edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai persoalan publik. Dalam fungsi ini, partisipasi masyarakat tidak akan mengancam stabilitas politik dan seyogyanya berjalan di semua jenjang pemerintahan. Fungsi lain dari partisipasi adalah sebagai sarana untuk menampilkan keseimbangan kekuasaan antara masyarakat dan pemerintah sehingga kepentingan dan pengetahuan masyarakat dapat terserap dalam agenda pemerintahan. Arti penting partisipasi dapat juga dilihat dari manfaatnya dalam meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat karena didasarkan pada kepentingan dan pengetahuan riil yang ada di dalam masyarakat. Partisipasi juga bermanfaat dalam membangun komitmen masyarakat untuk membantu penerapan suatu keputusan yang telah dibuat. Komitmen ini merupakan modal utama bagi keberhasilan sebuah implemenasi kebijakan. Partisipasi tidak lagi dapat dipandang sebagai kesempatan yang diberikan oleh pemerintah tetapi justru sebagai hak masyarakat.

Partisipasi sebagai nilai dasar demokrasi menjadi perhatian penting dalam administrasi

publik yang demokratis. Pada dasarnya, gagasan partisipasi dalam administrasi publik

(4)

6 Governansi Digital

mencakup dua ranah, yakni manajemen partisipatif dan partisipasi masyarakat dalam administrasi publik. Osborne & Gaebler mengungkapkannya ketika memasukkan dua prinsip yang menyentuh dua ranah tersebut dalam prinsip-prinsip reinventing government. Pertama, prinsip "community owned government: empowering rather than serving" yang menunjukkan betapa pentingnya partisipasi masyarakat dalam adminismasi publik. Kedua, prinsip

"decentralized government: frorn hirerarchy to participation and teamwork” yang menunjukkan betapa pentingnya manajemen partisipatif yang memungkinkan partisipasi karyawan dalam penyelenggaraan administrasi publik.

Dengan tidak bermaksud mengenyampingkan arti penting manajemen partisipatif, definisi ini memusatkan perhatiannya pada partisipasi masyarakat dalam administrasi publik.

'Wamsley & Wolf dengan menyunting buku berjudul "Refounding Democratic Public Administration" mengumpulkan banyak tulisan yang melukiskan betapa pentingnya melibatkan masyarakat dalam administrasi publik dalam posisi sebagai warga negara bukan sekadar sebagai pelanggan. Buku tersebut menekankan betapa pentingnya democratic government yang mengedepankan partisipasi masyarakat dalam administrasi publik. Tulisan Little dalam buku yang berjudul “Thinking Government: Bringing Democratic Awareness to Public Administration" menjelaskan konsepsi democratic public administration dengan memaparkan konsekuensi tiga substansi demoktasi. Government of the people berarti pemerintahan masyarakat akan membawa legitimasi bagi administrasi publik. Goverwnent by the people berarti menjamin adanya representasi administrator publik dan akuntabilitas administrasi publik terhadap masyarakat. Government for the people berarti bahwa administrasi publik akan benar-benar menjalankan kepentingan publik, bukan kepentingan birokrasi. Tulisan lain dipersembahkan oleh King & Stivers dengan judul “Government is Us:

Public Administration in an Anti Government Era." Gagasan yang diusung dua penulis tersebut adalah seyogyanya administrasi publik memandang warga negara sebagai warga negara (citizen) bukan sekadar sebagai pelanggan (customer) karena pemerintahan adalah milik masyarakat. Untuk itu, tema utama buku tersebut tertuang dalam kalimat yang berbunyi

"Government is Us is a democratic public administration that involves active citizenship and

active administration,". Kalimat tersebut bermakna bahwa Government is Us merupakan

tulisan yang berupaya mewujudkan administrasi publik demokratis yang melibatkan active

citizenship dan active administration. Maksud dari active administration adalah bahwa

(5)

6 Governansi Digital

pemerintah tidak sekadar meningkatkan kekuasaan administrasi tetapi memperkuat kerja kolaboratif dengan warga negata. Administrator publik seharusnya berbagi kuasa dengan masyarakat dan mengurangi kendali terhadap masyarakat serta meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat melalui kolaborasi penyelenggaraan pemerintahan dengan masyarakat.

Pemerintahan masyarakat ini merupakan partisipasi integratif antara masyarakat akif dengan administrator aktif untuk memenuhi kebutuhan, tujuan, dan sasaran bersama.

E-PARTISIPASI

Sebelum membahas E-Partisipasi lebih lanjut, terlebih dulu membahas proses pengambilan keputusan politik sebagai kerangka dasar untuk mengidentifikasi peran TIK dalam politik modern. Kemudian, akan diuraikan peran yang dimainkan oleh TIK dalam proses pengambilan keputusan politik dan potensi TIK.

Proses Pengambilan Keputusan Politik

Istilah E-partisipasi menunjukkan penggunaan TIK untuk melibatkan warga negara dalam proses pengambilan keputusan politik. Ilmuwan politik telah mengembangkan berbagai model untuk memberi kita kerangka kerja untuk analisis sistematis politik dan pembuatan kebijakan. Model-model ini mungkin juga membantu untuk pemahaman kita tentang E- partisipasi. Easton (1965) adalah salah satu pelopor pengembangan model untuk pembuatan kebijakan. Menurut modelnya, sistem politik adalah proses yang mengubah berbagai input menjadi output (lihat gambar 1).

Gambar 1

Model sistem politik dan kebijakan (Birkland 2001)

Sumber: Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

(6)

6 Governansi Digital

Seperti yang dikemukakan oleh Birkland (2001), "masukan/ input ke sistem pembuatan kebijakan adalah tuntutan yang ditempatkan pada sistem untuk melakukan sesuatu tentang masalah." Bentuk masukan yang paling jelas bagi sistem politik adalah pemungutan suara.

Pembuat kebijakan sering mengklaim hasil pemilu sebagai mandat untuk mengejar kebijakan tertentu. Terlebih lagi, di negara-negara seperti Swiss yang sistem politiknya memasukkan unsur demokrasi langsung, rakyat diperbolehkan memberikan suara langsung pada proposal kebijakan tertentu. Terlepas dari elemen partisipatif langsung tersebut, surat, kartu pos, atau pertemuan pribadi adalah cara warga negara untuk mengekspresikan keinginan mereka kepada perwakilan mereka. Masukan lainnya termasuk kegiatan kelompok kepentingan, partai, media, pelobi, serikat pekerja kota, dan sebagainya.

Proses politik yang mengubah input tersebut menjadi output mempengaruhi atau dipengaruhi oleh lingkungan struktural, sosial, ekonomi, dan politiknya. Lingkungan struktural mencakup kerangka konstitusional pembuatan kebijakan seperti pembagian kekuasaan antara cabang (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dan tingkat pemerintahan (tingkat federal dan negara bagian) serta peran media. Apalagi struktur sistem kepartaian mengorganisir aktor-aktor politik. Meskipun anggota parlemen diizinkan untuk bertindak secara independen demi kepentingan konstituen, perwakilan seringkali dibatasi untuk melakukannya oleh program politik partai yang mereka ikuti.

Akhirnya, lingkungan politik menggambarkan hubungan antara warga negara dan pemerintah mereka. Ini termasuk bagaimana perasaan dan kepercayaan warga tentang pemerintah mereka, tetapi juga kesiapan dan sikap umum mereka terhadap suatu masalah.

Lingkungan politik juga terdiri dari nilai-nilai politik yang dibagikan secara luas di antara para pemilih. Di negara seperti Prancis, di mana orang-orang percaya pada hak-hak pekerja yang kuat, inisiatif kebijakan yang memperkuat hak-hak majikan akan lebih sulit untuk diadopsi daripada di negara seperti Amerika Serikat di mana perusahaan bebas dan kapitalisme pasar adalah fitur utama dari budaya politik.

Sedangkan sistem politik diperlakukan oleh Easton (1965) sebagai kotak hitam di mana

proses transformasi tetap tidak dapat dijelaskan, Birkland (2001) berpendapat bahwa tantangan

dalam memikirkan pembuatan kebijakan bukan pada spesifikasi input dan output. Sebaliknya,

pertanyaannya adalah bagaimana input diubah menjadi output. Hasil dari, ia menyajikan model

(7)

6 Governansi Digital

sederhana di mana proses kebijakan melintasi enam langkah (lihat gambar 2). Meskipun model ini merupakan abstraksi yang kuat dari proses kebijakan dan menyiratkan bahwa pembuatan kebijakan selalu melintasi setiap langkah, ini membantu untuk menyusun pemikiran kita tentang partisipasi elektronik.

Gambar 2

Proses Pengambilan Keputusan Politik

Sumber: Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

“Kemunculan isu (Issue Emergence)” mengacu pada titik di mana sebuah isu menjadi terlihat dan penting bagi warga negara, pembuat kebijakan, atau kelompok kepentingan.

Biasanya masalah muncul ketika kebijakan nasional mencari implementasi lokal atau ketika administrasi publik telah mengevaluasi bahwa kebijakan saat ini tidak lagi berfungsi sesuai dengan asumsi awal. “Pengaturan agenda (Agenda Setting)” mengacu pada proses di mana serangkaian isu yang berpotensi menarik perhatian politisi dipersempit dan difokuskan ke daftar subjek yang benar-benar diperhatikan oleh politisi. Kesempatan untuk memasukkan masalah ke dalam daftar biasanya diberikan ketika “solusi menjadi satu dengan masalah, dan keduanya bergabung dengan kekuatan politik yang menguntungkan (Kingdon 2002, P. 204).

Proses "seleksi alternatif (Alternative Selection)" mempersempit rangkaian alternatif yang

mungkin menjadi rangkaian dari pilihan benar-benar dibuat. Alternatif dan proposal ini

biasanya dihasilkan oleh kelompok akademisi, konsultan, birokrat karir, dll. Melalui pidato,

bocoran ke pers atau percakapan lain dengan konstituen, politisi biasanya menguji ide dan

proposal ini. Setelah alternatif kebijakan yang berbeda dibuat dan dianalisis, satu alternatif

dipilih yang akan diputuskan oleh perwakilan atau konstituen.

(8)

6 Governansi Digital

Masalah dan solusinya kemudian dimasukkan ke dalam proses parlemen, sebagian besar sebagai usulan pemerintah. Asosiasi, kelompok kepentingan, atau serikat pekerja kemudian diundang untuk mengomentari inisiatif parlementer. Pada akhir prosedur ini, tindakan hukum biasanya diputuskan (misalnya, amandemen undang-undang) sebagian besar berdasarkan keputusan mayoritas. Setelah ini, masalah dianggap selesai dan untuk masalah politik khusus ini perdamaian ditegakkan, bahkan jika minoritas yang gagal masih bergumul dengan nasib mereka. Selanjutnya, tugas administrasi publik adalah melaksanakan dan menjalankan amandemen hukum. Akhirnya, administrasi publik harus memantau kebijakan dalam kaitannya dengan apakah kebijakan itu berjalan sesuai dengan asumsi awal atau apakah perubahan dalam kebijakan itu diperlukan. Dalam kasus terakhir, proses pembuatan kebijakan dimulai dari awal lagi.

Tahapan proses politik (Gambar 2) berhubungan dengan institusi politik. “Kemunculan isu (Issue Emergence)”” biasanya dilakukan di luar institusi politik, misalnya melalui pidato atau mosi dari kelompok kepentingan. “Pengaturan agenda” dapat didokumentasikan dalam pernyataan kebijakan suatu partai atau pemerintah, misalnya ketika pemerintah baru dipilih dan menerbitkan deklarasi tujuannya untuk periode parlemen berikutnya. “Seleksi alternatif (Agenda Setting” biasanya merupakan proses yang ditujukan untuk dengar pendapat parlemen atau pemerintah formal yang biasanya diakhiri dengan keputusan pemerintah dan parlemen.

“Pelaksanaan (Implementation)” adalah tugas administrasi, sedangkan “Evaluasi (Evaluation)” dapat dilakukan oleh aktor politik atau pejabat publik.

Proses pengambilan keputusan politik (Gambar 2) dapat bekerja secara berbeda di dua negara tertentu bahkan jika lembaga formal serupa. Perbedaannya berasal dari cara politisi dan warga benar-benar menghidupkan debat. Beberapa masyarakat memperdebatkan masalah politik sebagian besar di media, yang lain sebagian besar dalam kelompok kepentingan dengan sedikit atau tanpa liputan media. Beberapa politisi membawa masalah politik ke pemilih mereka melalui pertemuan dan aksi lokal. Di negara-negara lain masalah politik yang sama sebagian besar ditangani oleh pengumuman pers dan pidato dari pemerintah pusat.

Partisipasi Warga Negara

Pertanyaan yang ingin dijawab dalam bagian ini adalah apa sebenarnya partisipasi warga

negara dan di antara bentuk-bentuk partisipasi warga mana yang dapat kita bedakan. Sementara

(9)

6 Governansi Digital

perwakilan politik di tingkat lokal dapat lebih mudah mengintegrasikan warga negara dalam pengambilan keputusan, proses politik di tingkat federal seringkali terlepas dari perhatian warga. Sebuah artikel yang membahas masalah ini diterbitkan oleh Arnstein pada tahun 1969 yang mendefinisikan partisipasi warga sebagai istilah kategoris untuk kekuasaan warga.

[Citizen participation] is the redistribution of power that enables the have-not citizens, presently excluded from the political and economic processes, to be deliberately included in the future. It is the strategy by which the have-nots join in determining how information is shared, goals and policies are set, tax resources are allocated, programs are operated, and benefits like contracts and patronage are parceled out. In short, it is the means by which they can induce significant social reform which enables them to share in the benefits of the affluent society. (Arnstein 1969)

Gambar 3

Delapan Tingkat Partisipasi Warga Negara

Sumber:

Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

Arnstein (1969) memperkenalkan tipologi delapan tingkat partisipasi yang juga dapat membantu kita dalam menganalisis sejauh mana kekuasaan warga negara dalam pengambilan keputusan politik (lihat Gambar 3). “Manipulation” dan “Therapy” menggambarkan tingkat

“nonparticipation” di mana perwakilan menghubungi warga atas nama partisipasi untuk

“educate” atau “cure” mereka.

“Manipulation” terlibat ketika partisipasi terdistorsi menjadi sarana hubungan

masyarakat pemegang kekuasaan. Dalam melakukannya, warga dihubungi untuk merekayasa

dukungan mereka. Pada pertemuan virtual atau fisik, pejabat membujuk atau menasihati warga,

bukan sebaliknya. Bertopeng sebagai partisipasi warga, kegiatan terapeutik (“Therapy”)

menggunakan kelompok penyewa sebagai kendaraan untuk mempromosikan hal-hal seperti

(10)

6 Governansi Digital

kampanye kontrol-anak-Anda atau pembersihan. Dalam kasus seperti itu, perwakilan mencoba untuk menyembuhkan ketidakmampuan warga negara dengan asumsi bahwa ketidakberdayaan identik dengan penyakit mental. " Therapy " tidak menyenangkan karena melibatkan warga dalam aktivitas yang luas, tetapi fokusnya adalah menyembuhkan mereka daripada mengubah apa yang menciptakan ketidakmampuan mereka.

“Information,” “Consultation, dan “Placation” menggambarkan tingkat tokenisme di mana warga diberi informasi dan didengar oleh pembuat keputusan. Namun demikian, tokenisme tidak memastikan bahwa pemegang kekuasaan mempertimbangkan ide dan kepentingan mereka. Menginformasikan warga tentang hak, pendapat, dan tanggung jawab mereka adalah langkah pertama menuju partisipasi warga negara yang nyata. Namun, “Information” saja hanyalah komunikasi satu arah di mana tidak ada saluran balik yang disediakan bagi warga untuk membingkai pendapat mereka. Sebaliknya, “Consultation” mendorong warga untuk mengungkapkan pendapat dan keprihatinan mereka kepada pemegang kekuasaan. Meskipun merupakan langkah penting menuju partisipasi warga negara yang nyata, dalam banyak kasus perwakilan menggunakan pandangan ini hanya jika sesuai dengan kepentingan mereka sendiri atau partai. Jika tidak, mereka dibuang atau diberhentikan sebagai omong kosong. Dimana warga dapat secara langsung menasihati pemegang kekuasaan dan secara aktif terlibat dalam dewan keputusan tetapi masih dapat ditolak oleh pemegang kekuasaan. Misalnya, kelompok warga dialokasikan sejumlah kecil kursi di dewan keputusan. Dalam hal itu, pemegang kekuasaan masih bisa mengungguli dan mengecoh kelompok minoritas.

Citizen Power”

dimulai ketika warga memiliki suara langsung dalam perencanaan dan

pengambilan keputusan. “Partnership” adalah bentuk partisipasi warga negara di mana

politisi dan warga negara bekerja bersama-sama. Kolaborasi dengan ini diatur oleh struktur

yang telah ditetapkan sebelumnya. Struktur pemerintahan juga dapat mengambil bentuk di

mana warga negara memiliki peran dominan dalam pengambilan keputusan. “Delegated

Power” adalah situasi di mana warga negara memegang kekuasaan pengambilan keputusan

dan bertanggung jawab atas program dan keputusan yang diambil. Pada tahap ini, warga

negara mengambil kendali langsung atas perancangan program politik atau implementasi

kebijakan. Namun, “Delegated Power” berimplikasi bahwa warga negara tidak dapat

memutuskan dengan cara yang sepenuhnya independen. Pemegang kekuasaan masih dapat

memutuskan pendanaan atau mempertahankan hak veto untuk campur tangan jika program

(11)

6 Governansi Digital

politik atau keputusan yang diambil tidak sesuai dengan tujuan pemegang kekuasaan.

Sebaliknya, “Citizen Control” mengecualikan pengaruh eksternal tersebut dan memastikan bahwa aspek kebijakan dan manajerial sepenuhnya dikendalikan oleh warga negara. Jika pemegang kekuasaan ingin merebut kembali pengambilan keputusan, mereka harus bernegosiasi dengan warga negara yang diberdayakan.

Kerangka Kerja E-Partisipasi

Dimensi tingkat partisipasi menggambarkan sejauh mana warga negara terlibat dalam pembuatan kebijakan. Redistribusi kekuasaan sebenarnya memiliki keterbatasan dalam demokrasi perwakilan. Partisipasi bukanlah pengganti prinsip-prinsip demokrasi perwakilan seperti pemilihan umum yang bebas dan adil dan majelis perwakilan. Jika kita melihat Arnstein (1969) yang mempertimbangkan tangga partisipasi warga negara, pemerintah dalam demokrasi perwakilan menganggap tokenisme sebagai satu-satunya cara yang sesuai untuk memungkinkan warga negara berpartisipasi dalam keputusan politik. Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) membedakan tiga tahap e-participation, yaitu “Information,” “Consultation,” dan “Active Participation.” “Information”

menggambarkan alat yang menyebarkan hubungan satu arah di mana pemerintah memproduksi dan menyampaikan informasi untuk digunakan oleh aktor yang terlibat. “Consultation”

mencirikan hubungan dua arah di mana aktor politik memberikan umpan balik kepada pemerintah. Pemerintah mendefinisikan masalah untuk konsultasi, menetapkan pertanyaan dan mengelola proses, sementara aktor yang terlibat diundang untuk menyumbangkan pandangan dan pendapat mereka. Pada gilirannya, “Active Participation” menggambarkan hubungan di mana para aktor terlibat secara aktif dalam mendefinisikan proses dan isi pembuatan kebijakan.

Ini mengakui kedudukan yang setara bagi para aktor dalam menetapkan agenda, mengusulkan pilihan kebijakan dan membentuk dialog kebijakan meskipun tanggung jawab untuk keputusan akhir atau perumusan kebijakan berada di tangan pemerintah.

Kapan Harus Terlibat

Tahap dalam pengambilan keputusan menggambarkan di mana tahap proses pembuatan

kebijakan inisiatif benar-benar menggunakan partisipasi.Inisiatif partisipasi elektronik dapat

mencakup lebih dari satu tahap pengambilan keputusan atau bahkan dapat mengawal seluruh

siklus pembuatan kebijakan.

(12)

6 Governansi Digital

Siapa yang Harus Terlibat dan oleh Siapa

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, tahapan pengambilan keputusan terkait dengan aktor dan institusi yang berbeda. Oleh karena itu, dimensi aktor menggambarkan siapa yang terlibat oleh siapa. Biasanya, partai, anggota parlemen, atau administrasi publik memberikan informasi kepada warga, kelompok kepentingan, atau pakar atau mengundang mereka untuk mengungkapkan pandangan dan pendapat mereka.

Bagaimana dan dengan Apa yang Harus Dilibatkan

Sarana untuk melibatkan warga dan mendukung partisipasi dijelaskan oleh dimensi teknologi yang digunakan. Ikhtisar alat E-partisipasi disediakan di Tabel 1. Sepanjang tangga Arnstein, alat-alat ini dapat dikategorikan dalam dimensi yang berbeda. Di mana webcast, pertanyaan yang sering diajukan, dan blog berada dalam kategori nonparticipation, jajak pendapat, chat room, dan forum diskusi dapat dimasukkan ke dalam level tokenism. Dalam bentuk partisipasi yang didukung teknologi ini, pendapat diekspresikan tanpa keharusan untuk mengambilnya dalam proses pengambilan keputusan.

Tabel 1

Dimensi Utama Inisiatif Partisipasi Elektronik (Macintosh 2004)

Dimensi Deskripsi

Level of participation Apa tingkat detailnya, atau seberapa jauh keterlibatan masyarakat

Stage in decision-making Kapan harus ikut serta

Actors Siapa yang harus terlibat dan dengan siapa Technologies used Bagaimana dan dengan apa mengikutsertakan Sumber: Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

Bagaimana Dapat Mensistematisasikan Inisiatif Partisipasi Elektronik

Ada beberapa dimensi yang dapat membantu kita untuk mengidentifikasi jenis inisiatif E-partisipasi. Inisiatif e-partisipasi dapat diatur menurut dimensi yang diuraikan (dalam Tabel 1) . “tingkat partisipasi ( Level of participation)” , “tahap dalam pengambilan keputusan ( Stage in decision-making) ”, “pelaku ( Actors) ”, dan “teknologi yang digunakan ( Technologies used) ”.

Tabel 2

Alat Partisipasi Elektronik

(13)

6 Governansi Digital

Jenis Alat Deskripsi

Webcast Rekaman rapat secara real-time yang dikirimkan melalui Internet Pertanyaan yang

sering diajukan /

Frequently asked questions (FAQ)

FAQ adalah “pohon” pertanyaan dan jawaban yang dapat dicari menggunakan kata kunci atau dengan memasukkan pertanyaan atau pernyataan dalam “bahasa alami”.

Pohon dapat dijelajahi atau dicari untuk menemukan jawaban yang paling dekat dengan pertanyaan pengguna

Blog

adalah halaman web yang sering dimodifikasi yang terlihat seperti buku harian karena entri bertanggal terdaftar dalam urutan kronologis terbalik

Opinion poll

Survei Opinion polling berbasis web instan

Chat room

Ruang virtual tempat sesi obrolan berlangsung

Discussion forum

Forum diskusi adalah situs web untuk diskusi online grup tempat pengguna, biasanya dengan minat yang sama, dapat bertukar pesan terbuka. Dia biasanya menunjukkan daftar topik yang menjadi perhatian orang. Pengguna dapat pilih topik dan lihat "utas" pesan dan balasan lalu kirim pesan mereka sendiri

Panel

Panel mewakili satu set yang direkrut, sebagai lawan dari set yang dipilih sendiri, dari peserta yang telah setuju untuk memberikan pandangan mereka tentang berbagai masalah menggunakan TIK pada interval tertentu selama periode waktu tertentu.

Petitioning

Sistem berbasis web yang menampung petisi online dan memungkinkan orang lain untuk mendaftar dengan menambahkan nama dan alamat mereka secara online

Virtual community

Ruang online di mana pengguna dengan minat yang sama dapat berkumpul untuk

berkomunikasi dan membangun hubungan

Alert service

Peringatan komunikasi satu arah untuk memberi tahu orang-orang tentang item berita atau peristiwa, seperti, misalnya, konsultasi baru

Sumber: Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

Implementasi Inisiatif E-Partisipasi

Inisiatif e-partisipasi berlaku sepanjang proses pengambilan keputusan politik. Proses ini terdiri dari enam tahap (lihat Gambar 4). Phang dan Kankanhalli (2008) mengusulkan kerangka kerja eksploitasi TIK untuk inisiatif partisipasi elektronik. Dalam kerangka kerja mereka, mereka mengusulkan prosedur tiga tahap untuk pemanfaatan TIK dalam upaya partisipasi elektronik.

• Tahap pertama: Mengidentifikasi secara objektif yang akan dilayani oleh E-partisipasi (Identify Objective to be served by E-participation)

Tahap kedua: Pilih teknik partisipatif yang paling cocok (Select best-matching participatory technique)

• Tahap terakhir: Pilih perangkat TIK yang dapat mendukung teknik partisipatif dan, pada gilirannya, tujuan (Select ICT tools that can support the participatory technique and, in turn, the objective)

Mengingat ketiga tahap ini, tujuan partisipasi elektronik yang berbeda dapat diterapkan

dalam berbagai fase pembuatan kebijakan. Selama fase “munculnya masalah (issue

emergence)” dan “agenda setting”, infrastruktur digital dapat digunakan untuk pemeriksaan

(14)

6 Governansi Digital

masukan. Pada fase “seleksi alternatif (alternative selection)”, pertukaran informasi dan suplemen pengambilan keputusan dapat didukung oleh media digital. Selama “implementasi (implementation)” dan “pemberlakuan (enactment),” pendidikan dan pembangunan dukungan berdiri di latar depan. Pada fase terakhir, “evaluasi (evaluation)”, pertukaran informasi antar pemangku kepentingan dapat difasilitasi.

Gambar 4

Enam Tahap Proses Pengambilan Keputusan Politik Dan Dampak TIK

Sumber: Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

Bagaimana Pengaruh Inisiatif Partisipasi Elektronik Dievaluasi

Setelah mendiskusikan kemungkinan inisiatif partisipatif dan pendekatan sosioteknis

untuk E-partisipasi, pertanyaannya tentang bagaimana inisiatif tersebut dapat dievaluasi. Dari

sudut pandang penguatan demokrasi, setiap bentuk partisipasi penting dan harus didorong

untuk terjadi. Namun, karena ada sumber daya yang terbatas dalam hal waktu dan dana

keuangan, keseimbangan antara investasi dan efektivitas inisiatif E-partisipasi harus

ditemukan. Secara umum ada ketidakseimbangan antara jumlah waktu, komitmen keuangan

dan energi yang dikeluarkan pemerintah untuk melibatkan warga negara dalam proses

pengambilan keputusan dan perhatian pemerintah dalam evaluasi efisiensi dan efektivitas

upaya ini.

(15)

6 Governansi Digital

Oleh karena itu, pertanyaannya tetap: Bagaimana seseorang mengevaluasi inisiatif partisipasi elektronik pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan warga negara dalam proses pengambilan keputusan politik? Evaluasi 2009 dari inisiatif E-partisipasi di Eropa termasuk judul, deskripsi singkat, alamat web, area partisipasi, tingkat partisipasi, negara, bahasa, jenis pendanaan, tanggal mulai dan berakhir dan rincian kontak menunjukkan bahwa sebagian besar inisiatif ditujukan untuk penyediaan informasi dan dilakukan di tingkat Eropa dan regional. Taruhan terbesar kedua dan ketiga dari inisiatif partisipatif ditujukan untuk konsultasi dan musyawarah dan berlangsung di tingkat nasional, regional, dan lokal.

Pemungutan suara digital, pemungutan suara, dan tindakan kolaboratif termasuk pendapat warga terbukti kurang berkembang.

Macintosh dan Whyte (2008) mengusulkan kerangka kerja untuk evaluasi partisipasi elektronik. Mereka mengkonseptualisasikan tiga dimensi yang tumpang tindih yang ditentukan oleh “kriteria demokratik”, “kriteria proyek”, dan “kriteria sosioteknis” (lihat Gambar 5).

Kriteria demokrasi mencakup dampak proyek yang diantisipasi terhadap demokrasi. Kriteria proyek fokus pada tujuan, metode, dan harapan pemegang saham dari keterlibatan publik, dan kriteria sosioteknik bertujuan pada pengambilan publik, kegunaan, dan penerimaan inisiatif E- partisipasi. Untuk setiap dimensi, target spesifik ditentukan, misalnya representasi, keterlibatan dengan audiens yang lebih luas, atau aksesibilitas. Target dapat bervariasi dan ditentukan berdasarkan tingkat proyek individu. Dalam setiap inisiatif, pelaku yang berbeda mungkin menjadi sasaran. Metode standar yang berbeda digunakan untuk mengukur status target, misalnya wawancara semi terstruktur, uji lapangan, kuesioner, atau analisis log server web.

Target untuk dimensi yang berbeda adalah sebagai berikut: Untuk dimensi “demokrasi”

target representasi, keterlibatan, transparansi, konflik dan konsensus, kesetaraan politik, dan kontrol masyarakat dievaluasi. Untuk dimensi "proyek" yang melibatkan audiens yang lebih luas, memperoleh pendapat yang lebih baik, memungkinkan konsultasi yang lebih mendalam, analisis kontribusi yang hemat biaya dan memberikan umpan balik kepada warga tentang kontribusi mereka dievaluasi. Untuk dimensi "sosioteknik" kepercayaan dan keamanan, relevansi dan legitimasi, aksesibilitas, daya tarik, kejelasan konten, daya tanggap, navigasi dan organisasi, efisiensi dan fleksibilitas, dan pemulihan kesalahan dievaluasi.

Sementara pendekatan oleh Macintosh dan Whyte menciptakan gambaran tentang

efektivitas inisiatif E-partisipasi, perspektif biaya diabaikan. Oleh karena itu Veit dan Trenz

(16)

6 Governansi Digital

(2010) mengusulkan kerangka kerja yang didasarkan pada balanced scorecard terkenal oleh Kaplan dan Norton (1992). Balanced scorecard E-partisipasi didasarkan pada keduanya, mengadopsi aspek yang diusulkan oleh Macintosh dan Whyte serta balanced scorecard Kaplan dan Norton. Ini menggabungkan kedua pendekatan dengan memasukkan perspektif biaya untuk inisiatif E-partisipasi

Gambar 5

Tiga Dimensi Kriteria Yang Tumpang Tindih Dari E-Partisipasi (Berdasarkan Macintosh Dan Whyte 2008)

Sumber: Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

Gambar 6

Balanced Scorecard E-Partisipasi Berdasarkan Veit Dan Trenz 2010

(17)

6 Governansi Digital

Sumber: Daniel Veit dan Jan Huntgeburth (2013)

Beberapa implikasi dapat ditarik dari penilaian pendekatan balanced scorecard untuk solusi E-participation. Pertama, menerapkan pendekatan perencanaan terstruktur sehubungan dengan tujuan dan langkah-langkah dan inisiatif terkait. Oleh karena itu, memungkinkan kongruensi antara determinan ini. Kedua, hubungan antara tujuan yang berbeda diidentifikasi.

Sementara dalam banyak pendekatan ad-hoc untuk inisiatif E-partisipasi ini sebagian besar diremehkan, menggunakan pendekatan balanced scorecard integrasi pengaruh timbal balik ini diidentifikasi dan dimodelkan di muka. Selanjutnya, tujuan semu yang tidak dapat diukur diidentifikasi ex ante dan dapat dihilangkan dari tujuan proyek. Tentu saja, pendekatan balanced scorecard menyiratkan upaya substansial dalam perencanaan dan karenanya menciptakan biaya tambahan untuk inisiatif E-partisipasi. Namun, ini memastikan kemungkinan keberhasilan yang jauh lebih tinggi untuk usaha konkret.

EVALUASI PEMBELAJARAN

Buatlah resume pada chapter modul diatas!

REFERENSI

Veit, Daniel, jan Huntgeburth. 2013. Foundations of Digital Government: Leading and Managing in the Digital Era. New York: Dordrecht

West, Darrell M.2007. Digital Government: Technology and Public Sector Performance. New

Jersey: Princeton University Press

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil proses file carving dalam mengungkap barang bukti digital dan mengevaluasi kinerja perangkat lunak forensik

Oleh karena itu, pada April 2020 dibentuk tim Digital Marketing dengan memilih sosial media Instagram, yang di mana bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan

SINTESIS PARFUM 1-FENIL-1,3-BUTANADION DARI ASETOFENON DAN ETIL ASETAT SERTA ANALISISNYA DENGAN

Data sementara ini, menjadi dasar peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam mengenai: PERSEPSI JAMA’AH MAJELIS TAKLIM TERHADAP TABLIGH YANG DILAKUKAN OLEH

2) Dikembangkannya kelembagaan yang semi otonom yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat dan merasionalisasi (right seizing) kelembagaan unsur lini yang

Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan program pengabdian tersebut meliputi persiapan pelaksanaan program, pemaparan materi pada webinar, sesi

Keterlibatan Warga Negara dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Melalui Pembangunan Desa..

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai peranan KPU didalam menyelenggarakan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan