• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semiring Pseudo-Ternary. Pseudo-Ternary Semiring

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Semiring Pseudo-Ternary. Pseudo-Ternary Semiring"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

50

Semiring Pseudo-Ternary

Maxrizal dan Ari Suparwanto Mahasiswa S2 Matematika FMIPA UGM,

Jurusan Matematika FMIPA UGM, e-mail: [email protected]; [email protected]

Diterima 22 November 2013, disetujui untuk dipublikasikan 4 Maret 2014 Abstrak

Dalam makalah ini akan diperkenalkan definisi dan sifat-sifat semiring pseudo-ternary. Selanjutnya, akan diperke- nalkan subsemiring pseudo-ternary dan ideal pada semiring pseudo-ternary. Lebih lanjut, ideal-ideal yang ter- bentuk pada semiring pseudo-ternary akan digunakan untuk membentuk semiring pseudo-ternary faktor.

Kata kunci: Semiring pseudo-ternary, Semiring pseudo-ternary faktor.

Pseudo-Ternary Semiring

Abstract

In this paper we introduce the notion of pseudo-ternary semiring. Furthermore, we will introduce pseudo-ternary subsemiring and ideals in pseudo-ternary semiring. Finally, ideals in pseudo-ternary semiring will be used for con- structing pseudo-ternary factor semiring.

Keywords: Pseudo-ternary semiring, Factor pseudo-ternary semiring.

1. Pendahuluan

Konsep semiring ternary diperkenalkan oleh Dutta dan Kar (2004). Semiring merupakan generalisasi dari ring ternary yang diperkenalkan oleh Lister pada tahun 1971. Himpunan S tak kosong yang dilengkapi operasi biner penjumlahan (+) dan operasi triner perkalian () disebut semiring ternary jika (S, +) merupakan semigrup abelian, (S,) merupakan semigrup dan (S, +, ) memenuhi sifat distributif. Perhatikan bahwa operasi triner menyebabkan sifat asosiatif pada (S,) didefinisikan sebagai berikut: untuk setiap a, b, c, d,  S berlaku (abc)de = a(bcd) e = ab(cde).

Faktanya, definisi semiring ternary dimotivasi oleh struktur pada himpunan bilangan bulat negatif ( yang dilengkapi operasi biner penjumlahan dan ) triner perkalian biasa. Selanjutnya, konsep semiring ternary pada  diperluas pada matriks persegi atas

 sehingga Mn n ( yang dilengkapi operasi ) biner penjumlahan dan triner perkalian matriks biasa juga merupakan semiring ternary. Perhatikan bahwa

( )

Mn n  merupakan matriks khusus dari matriks persegi panjang sehingga perlu diselidiki konsep yang lebih umum yaitu konsep semiring ternary pada matriks (Mm n  . Untuk itu, dibentuk )

(Mn n (), , )  dengan definisi operasi biner A  B A B dan operasi triner A  B C AB CT . Perhatikan bahwa, operasi triner  dibentuk agar

ketiga matriks persegi panjang bisa dioperasikan dengan metode perkalian matriks biasa.

Berdasarkan sifat-sifat penjumlahan dua matriks, (Mn n (), ) merupakan semigrup abelian dan  well-defined pada Mn n ( karena )

( )

T

AB CMn n  . Selanjutnya, akan diselidiki sifat asosiatif pada (Mn n (), ) . Ambil

, , , n n( ),

A B C DM maka berlaku

( ) ( T )

T T

A B C D E AB C D E

AB CD E

      

( ) ( )

( )

T

T T

T T

A B C D E A BC D E

A BC D E AD CB E

      

( ) ( T )

T T

A B C D E A B CD E

AB CD E

      

Perhatikan bahwa hanya berlaku sifat (A B C)    D E A B (C D E). Hal ini disebabkan karena untuk sebarang matriks beru- kuran m n , hubungan B CDT TD CBT T belum tentu berlaku. Jadi, (Mn n (), , )  bukan meru- pakan semiring ternary, walaupun pada

(Mn n (), , )  juga berlaku sifat distributif.

Berdasarkan permasalahan di atas, dalam makalah ini didefinisikan suatu struktur baru yang

(2)

disebut semiring pseudo-ternary. Semiring pseudo- ternary bersifat lebih umum dari semiring ternary sehingga memberikan peluang untuk menyelidiki sifat-sifat pada semiring ternary yang masih tetap berlaku pada semiring pseudo-ternary. Selanjutnya, dijelaskan contoh dan sifat dari semiring pseudo- ternary, subsemiring pseudo-ternary dan ideal pada semiring pseudo-ternary. Pada bagian akhir makalah dikaji proses pembentukan semiring faktor pseudo- ternary.

2. Semiring Ternary

Berikut adalah beberapa definisi tentang semiring ternary dan sifat-sifat yang dimiliki oleh semiring ternary.

Definisi 1. Diberikan himpunan S   yang dileng- kapi dengan operasi biner penjumlahan + : S  S  S dan triner perkalian  + : S  S  S. Himpunan S disebut semiring ternary jika memenuhi:

1. (S, +) merupakan semigrup abelian.

2. (S,) merupakan semigrup, yaitu untuk setiap a,b,c,d,e  S berlaku abc  S dan (abc)de = a(bcd)e = ab(cde).

3. Berlaku sifat distributif kanan, kiri dan tengah, yaitu untuk setiap a,b,c,d  S berlaku

(i) (a + b)cd = acd + bcd (ii) a(b + c)d = abd + acd (iii) ab(c + d) = abc + abd

Definisi 2. Suatu elemen disebut elemen nol dari semiring ternary S dinotasikan dengan “0” jika un- tuk setiap x,y  S berlaku 0 + x = x dan 0xy = x0y = 0. Semiring ternary S yang mempunyai elemen nol disebut semiring ternary dengan elemen nol.

Pada pembahasan selanjutnya S merupakan notasi untuk semiring ternary dengan elemen nol dan S* merupakan notasi untuk semiring ternary tanpa elemen nol, yaitu S*S\ 0

 

.

Definisi 3. Suatu elemen e  S disebut elemen satuan dari semiring ternary S, jika untuk setiap x  S ber- laku eex = exe = xee = x.

Proposisi 1. Jika elemen e  S merupakan elemen satuan dari semiring ternary S maka untuk setiap x,y

 S berlaku exy = xey = xye.

Definisi 4. Semiring ternary S disebut semiring ter- nary komutatif jika untuk setiap s s s1, ,2 3S maka

1 2 3 2 1 3 2 3 1

s s ss s ss s s .

Definisi 5. Diberikan sebarang s10 dari suatu semiring ternary S s, 1 disebut elemen pembagi nol kiri (tengah, kanan) dari S jika terdapat s s2, 3S1 dengan s2 0 dan s3 0 sehingga s s s1 2 3 0

2 1 3 2 3 1

(s s s 0,s s s 0). Elemen pembagi nol kiri yang sekaligus elemen pembagi nol tengah dan kanan disebut elemen pembagi nol.

Definisi 6. Diberikan semiring ternary komutatif.

Jika S tidak mempunyai elemen pembagi nol maka S disebut suatu semi-daerah integral ternary .

Definisi 7. Diberikan semiring ternary (S, +, ).

Himpunan T  S disebut subsemiring ternary jika (T, +, ) juga merupakan semiring ternary.

Proposisi 2. Diberikan suatu semiring ternary (S, +, ) dan subhimpunan T  S. Himpunan T meru- pakan subsemiring ternary jika dan hanya jika untuk setiap t t t1, ,2 3T, berlaku t1 t2 T dan t t t1 2 3T. Definisi 8. Diberikan suatu semiring ternary (S, +, ) dan subhimpunan I  S dengan syarat untuk setiap

1,2

i iI berlaku i1 i2 I. Jika untuk setiap

1, 2

s sS dan iI berlaku s s i1 2I

1 2 1 2

(is s s is, I), maka I disebut ideal kiri (kanan, tengah) dari S. Jika I merupakan ideal kiri, kanan dan tengah dari S, maka I disebut ideal dari S.

Definisi 9. Suatu relasi ekuivalensi  pada semiring ternary S disebut relasi kongruensi jika memenuhi kondisi berikut:

untuk setiap a a b b c c, , , , .  S berlaku a a  dan b b (ab) ( ab)

,

a a b b    dan c c (abc) ( a b c  )

Definisi 10. Diberikan I ideal sejati dari semiring ternary S. Relasi

1 Bourne atas S didefinisikan sebagai berikut: untuk tiap s s, S,sIs jika hanya jika sa1 sa2 untuk suatua a1, 2I. Proposisi 3. Relasi Bourne 1 pada S merupakan relasi kongruensi pada S. Selanjutnya, relasi

1 ini disebut relasi kongruensi Bourne.

Definisi 11. Diberikan I suatu ideal sejati dari semi- ring ternary S dan 1 kongruensi Bourne atas I.

Didefinisikan operasi biner penjumlahan dan triner perkalian pada S/I sebagai berikut:

untuk setiap s,t,u  S,

(3)

( ) ( )( )( ) ( )

s I t I s t I s I t I u I stu I

  

Dengan operasi biner penjumlahan dan triner, (s I, , )  merupakan suatu semiring ternary dan disebut semiring ternary faktor Bourne.

3. Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan permasalahan pada bagian pendahuluan, berikut ini diberikan definisi dari semiring pseudo-ternary.

Definisi 12. Diberikan himpunan S   yang dilengkapi dengan operasi biner : S S S dan operasi triner : S S S  S. Himpunan S disebut semiring pseudo-ternary jika

S,

merupakan semigrup abelian,

 

S, merupakan semigrup pseudo-ternary yaitu untuk setiap a b c d e, , , ,  berlaku abc  S dan S (abc)de = ab(cde), dan

Berlaku sifat distributif kanan, kiri dan tengah, yaitu untuk setiap a,b,c,d  S, yaitu

(i) (a + b)cd = acd + bcd (ii) a(b + c)d = abd + acd (iii) ab(c + d) = abc + abd

Contoh 1. Himpunan matriks persegi panjang (Mn n (), , )  dengan definisi operasi biner A   dan operasi triner B A B A  B C AB CT merupakan semiring pseudo-ternary.

Contoh 2. Setiap semiring ternary merupakan semi- ring pseudo-ternary.

Selanjutnya, akan didefinisikan elemen nol pada semiring pseudo-ternary.

Definisi 13. Suatu elemen disebut elemen nol dari semiring pseudo-ternary S dinotasikan dengan “0”

jika untuk setiap x, y  S berlaku 0 + x = x dan 0xy

= x0y = xy0 = 0.

Semiring pseudo-ternary S yang mempunyai elemen nol disebut semiring pseudo-ternary dengan elemen nol.

Selanjutnya, pada pembahasan di bawah ini S merupakan notasi untuk semiring pseudo-ternary dengan elemen nol dan S*S\ 0

 

.

Definisi 14. Suatu elemen e  S disebut elemen satuan dari semiring pseudo-ternary S, jika untuk setiap x  S berlaku eex = exe = xee = x.

Jika S semiring pseudo-ternary maka untuk setiap x, y  S berlaku xye = (exe)ye = ex(eye) = exy dan xye = (xee)ye = xe(eye) = xey. Perhatikan bahwa untuk setiap x, y  S berlaku exy = xey = xye. Jadi, proposisi pada semiring ternary masih berlaku pada semiring pseudo-ternary.

Selanjutnya, didefinisikan sifat komutatif pada semiring pseudo-ternary.

Definisi 15. Semiring pseudo-ternary S disebut semiring pseudo-ternary komutatif jika untuk setiap

1, ,2 3

s s sS maka s s s1 2 3s s s2 1 3s s s2 3 1. Contoh 3. Diberikan himpunan

0

0 0 , 0 0

A a a b

b

 

 

   

  

  

Semiring pseudo-ternary ( , , )A   merupakan semiring pseudo-ternary komutatif.

Proposisi 4. Setiap semiring pseudo-ternary komuta- tif merupakan semiring ternary.

Bukti:

Perhatikan Definisi 12, untuk setiap a, b, c, d, f  S berlaku (abc)df = ab(cdf). Akan dibuktikan (abc)df = a(bcd)f = ab(cdf). Perhatikan bahwa S semiring pseudo-ternary komutatif sehingga berlaku a(bcd)f = (abc)df = (bcd)af = bc(daf) = (bca)df = (abc)df. Jadi, S merupakan semiring ternary. ■

Contoh 4. Semiring pseudo-ternary ( , , )A  pada Contoh 3, merupakan semiring ternary komutatif.

Perhatikan bahwa struktur matriks menyebabkan munculnya elemen-elemen pembagi nol. Hal itu juga berlaku pada semiring pseudo-ternary.

Definisi 16. Diberikan suatu semiring pseudo-ternary S. Misalkan s10 elemen S s, 1 disebut elemen pem- bagi nol kiri (tengah, kanan) dari S jika terdapat

2, 3 1

s sS dengan s20 dan s30 sehingga

1 2 3 0( 2 1 3 0, 2 3 1 0)

s s ss s ss s s. Elemen pembagi nol kiri yang sekaligus elemen pembagi nol tengah dan kanan disebut elemen pembagi nol.

Contoh 5. Diberikan S M2 3

 

0 dan dibentuk semiring pseudo-ternary ( , , )S   . Misalkan A, B, C,  S tak nol, dengan

0 0 0 0

, , dan

0 0 0 0

0 0

0 0 0

a c

A B

b d

C e

 

Elemen A merupakan salah satu elemen pembagi nol di S.

(4)

Definisi 17. Semiring pseudo-ternary komutatif S yang tidak mempunyai pembagi nol maka S disebut semi-daerah integral pseudo-ternary .

Akibat 1. Setiap semi-daerah integral pseudo- ternary merupakan semi-daerah integral ternary.

Bukti:

Berdasarkan Proposisi 4 dan Definisi 6. ■

Contoh 6. Dibentuk h

( )a a 0

. Semiring pseudo-ternary ( , , )H   merupakan suatu semi- daerah integral pseudo-ternary sekaligus semi-daerah integral ternary.

Selanjutnya akan diselidiki sifat dari suatu subhimpunan pada semiring pseudo-ternary. Berikut ini diberikan definisi dari subsemiring pseudo- ternary.

Definisi 18. Diberikan semiring pseudo-ternary

S, , 

. Himpunan T  disebut subsemiring S pseudo-ternary jika

T, ,  juga merupakan semi-

ring pseudo-ternary.

Proposisi 5. Diberikan suatu semiring pseudo- ternary

S, , 

dan subhimpunan T  . Himpunan S T subsemiring pseudo-ternary jika dan hanya jika untuk setiap t t t1, ,2 3 , berlaku T t1  dan t2 T

1 2 3

t t t  . T

Contoh 7. Diberikan subhimpunan TMm m (20). Struktur ( , , )T   merupakan subsemiring pseudo- ternary dari semiring pseudo-ternary

(Mm m (20),).

Selanjutnya, akan diselidiki proses pembentukan semiring pseudo-ternary factor. Secara umum, untuk sebarang semiring pseudo-ternary S diberikan relasi dengan definisi berikut.

Definisi 19. Diberikan T subsemiring pseudo-ternary pada semiring pseudo-ternary S. Untuk setiap s , s , s dikatakan berelasi (Bourne) S  dengan s I dinotasikan s  jika hanya jika Is sa1 sa2 untuk suatu a a1, 2 . T

Proposisi 6. Relasi Bourne  pada semiring I pseudo-ternary S merupakan relasi ekuivalen pada c.

Bukti:

Pertama, akan dibuktikan  bersifat refleksif. I Diambil s  S, maka sa1  untuk setiap s a1

a1 , sehingga T s . Dengan demikian, Is  bersi-I fat refleksif. Kedua, akan dibuktikan  bersifat I

simetris. Diambil s s, S dengan s  , maka un-Is tuk suatu a a1, 2T, s a       1 s a2 s a2 s a1 s sI . Dengan demikian,  bersifat simetris. Selanjutnya, 1 akan dibuktikan  bersifat transitif. Diambil 1

, ,

s s s S dengan sIs dan sIs, maka untuk suatu a a a a1, , ,2 3 4T , berlaku sa1 sa2 dan

3 4

sa  s a sehingga s(a1a3) s (a2a3) dan s(a2a3) s (a2a4). Akibatnya

1 3 2 4

( ) ( )

saa  s aa . Jadi,  bersifat transi-1 tif. Dengan demikian,  merupakan relasi ekui-1 valen. ■

Perhatikan bahwa relasi ekuivalen pada semiring pseudo-ternary S menyebabkan S terpartisi menjadi kelas-kelas ekuivalen yang saling asing.

Selanjutnya, kelas ekuivalen dari suatu elemen s dari sIs dinotasikan dengan s T dan semua himpunan kelas ekuivalen dari S dinotasikan dengan S T. Definisi 20. Diberikan kelas-kelas ekuivalen s T dan s T pada semiring pseudo-ternary S. Kelas

s T dan s T dikatakan sama, dinotasikan dengan s Ts T jika dan hanya jika sIs.

Seperti halnya pada semiring, pada semiring pseudo-ternary juga dapat didefinisikan relasi kongruensi. Berikut definisi relasi kongruensi pada semiring pseudo-ternary S.

Definisi 21. Suatu relasi ekuivalen  pada semiring pseudo-ternary S disebut relasi kongruensi jika me- menuhi kondisi: untuk setiap a a b b c c, , , , .  S berlaku

1. a a  dan b b (ab) ( ab) 2. a a , b b  dan c c (abc) ( a b c  ).

Selanjutnya, akan diselidiki kongruensi pada relasi Bourne  pada semiring pseudo-ternary S. 1 Berdasarkan Proposisi 6, relasi  merupakan relasi I ekuivalen pada S.

Pertama, akan ditunjukkan jika untuk setiap , , ,

s s t t S, sIs, dan tIt maka berlaku (at) (I s t). Misalkan sIs dan tIt. Berdasarkan Definisi 19 berlaku,

1 2

1 2

I I

s s s a s a

t t t b t b

   

   

untuk suatu a a b b1, , ,2 1 2T. Jika kedua persamaan dijumlahkan, maka diperoleh

1 1 2 2

(s t) (ab) ( s t) ( ab )

(5)

untuk suatu a a b b1, , ,2 1 2T atau

1 2

(s  t) c (s t)c

untuk suatu c c1, 2T. Berdasarkan Definisi 19, berlaku (st) (I s t).

Kedua, akan ditunjukkan jika sIs, tIt, dan uIu' maka berlaku (stu) (I s t u  ), untuk setiap s s t t u u, ', , ', , 'S. Diambil sIs, tIt dan

I '

uu . Berdasarkan Definisi 19,

1 2

' '

sIs  s a  s a , tIt'   t b1 t' b2, dan uIu'   u c1 u' c2 untuk suatu

1, , , , ,2 1 2 1 2

a a b b c cT. Jika ketiga persamaan dikalikan maka diperoleh (sa1)(tb1)(uc1) =

2 2 2

(sa )(tb )(uc ). Dari ruas kiri diperoleh

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

( )

stustcsb u sb c ta u ta c a b u a b c . Karena a b c1, ,1 1T, maka a b c1 1 1T tetapi

1, 1 , 1 1, 1 , 1 1

stc sb u sb c ta u ta c dan a b u1 1 belum tentu di dalam T karena T hanya suatu subsemiring pseudo- ternary di S. Hal yang sama terjadi di ruas kanan.

Perhatikan bahwa, jika di ruas kiri disyaratkan

1, 1 , 1 1, 1 , 1 1

stc sb u sb c ta u ta c , dan a b u1 1 di dalam T

maka diperoleh stud1, dengan

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

dstcsb usb cta uta ca b ua b c di dalam T. Hal yang sama terjadi di ruas kanan sehingga diperoleh s t u' ' 'd2. Syarat tambahan inilah yang memotivasi munculnya definisi ideal pada semiring pseudo-ternary S.

Definisi 22. Diberikan suatu semiring pseudo-ternary S dan subhimpunan I  S dengan syarat untuk setiap

1,2

i iI maka berlaku i1 i2 I. Jika untuk setiap

1, 2

s sS dan iI berlaku s s i1 2I

1 2 1 2

(is s s is, I) maka I merupakan suatu ideal kiri (kanan, tengah) dari S. Jika I merupakan ideal kiri, kanan dan tengah dari S maka I disebut suatu ideal dari S.

Perhatikan bahwa T subsemiring pseudo- ternary harus merupakan ideal di semiring pseudo- ternary S agar persamaan di ruas kiri dan kanan menjadi stud1s t u  d2, untuk suatu d d1, 2T . Berdasarkan Definisi 19, berlaku (stu) (I s t u  ). Jadi, relasi  pada semiring pseudo-ternary S I merupakan relasi kongruensi.

Selanjutnya, akan diselidiki eksistensi dari semiring pseudo-ternary faktor dari semiring pseudo- ternary S. Diberikan ideal I dari semiring pseudo- ternary S dan  relasi kongruensi pada S. I Didefinisikan operasi biner penjumlahan dan triner perkalian pada S I dengan S It I  (s t) I dan

(S I t I U I)( )( ) ( s t) I , untuk setiap , ,s t uS. Akan dibuktikan bahwa S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner

 

merupakan semiring ternary.

Pertama, akan dibuktikan S I yang dilengkapi operasi biner (+) merupakan semigrup komutatif.

Akan ditunjukkan operasi (+) pada S I well- defined. Diambil s I t I s I t I, ,  ,  S I dengan

, , ,

s s t t S. Akan ditunjukkan jika S Is I dan t It I maka st I  s t I. Berdasarkan Definisi 20, jika s Is I dan t It I maka ber- laku sIs dan tIt. Karena  relasi kongruensi I pada S dan berdasarkan Definisi 21, jika sIs dan tIt maka berlaku (st) (I s t). Berdasarkan Definisi 20, berlaku st I s t I. Jadi, operasi (+) pada S I well-defined.

Akan ditunjukkan operasi (+) pada S I bersifat asosiatif. Diambil s I t I u I, , S I dengan

, ,

s t uS . Dibentuk persamaan (s It I)u I

   

(s t I) u I (s t) u I s (t u) I

        

( ) ( )

s I t u I s I t I u I

     

Jadi, operasi (+) pada S I bersifat asosiatif.

Akan ditunjukkan operasi (+) pada S I bersifat komutatif. Diambil s I t I, S I dengan

,

s t . Dibentuk S s It I  (s t) I t s I t I s I

    . Jadi, operasi (+) pada S I bersifat komutatif.

Kedua, akan dibuktikan S I dilengkapi operasi triner

 

merupakan semigrup pseudo- ternary.

Akan ditunjukkan operasi

 

pada S I well-

defined. Diambil s I, t I , u I, s I' , 't I, '

u IS I dengan , , , , ,s s t t u u  S. Akan ditunjukkan jika s Is I t I , t I dan u Iu I maka stu Is t u I   . Berdasarkan Definisi 20, jika

,

s Is I t I t I dan u Iu I maka berlaku

I , I

ss t  t dan uIu. Karena  relasi kongruensi I pada S dan berdasarkan Definisi 21, jika sIs t, It dan uIu maka berlaku (stu) (I s t u  ). Berdasarkan Definisi 20, berlaku stu Is t u I   . Jadi, operasi () pada S I well-defined.

(6)

Akan ditunjukkan operasi

 

pada S I

bersifat asosiatif. Misalkan s I, t I , u I, v I,w IS I dengan , , , ,s t u v wS . Maka

(s I) (t I) (u I) (

v I) (w I)

(stu I) (

v I) (w I)

(stu vw I)

( )

st uvw I

 

(s I) (t I) (uvw I)

 

(s I) (t I) (u I) (v I) (w I)

Jadi,

 

pada S I bersifat asosiatif.

Ketiga, akan dibuktikan bahwa S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner

 

memenuhi

sifat distributif kiri, tengah dan kanan. Diambil

, , ,

s I t I u I v IS I dengan , , , ,s t u v w . Maka S

(s I) ( t I) (

u I) (v I)

(st) I

(u I) (v I)

((s t uv I) )

 

((suv) (tuv I)

 

suv I tuv I

 

(s I u I v I)( )( ) (t I u I v I)( )( )

 

   

(s I) (t I) ( u I) (v I) ( s I) (tu I) (v I) ((s t v I) )

 

((stv) (suv I)

 

stv I suv I

 

(s I t I v I)( )( ) (s I u I v I)( )( )

 

   

(s I t I)( ) (u I) ( v I) (s I t I)( ) (uv I)

st u( v)

I

 

(stu) (stv)

I

 

stu I stv I

 

(s I t I u I)( )( ) (s I t I v I)( )( )

 

Jadi, S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner

 

memenuhi sifat distributif kiri, tengah dan kanan.

Dengan demikian, S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner

 

merupakan semiring pseudo-ternary dan disebut semiring pseudo-ternary faktor Bourne.

Akibat 2. Jika S I merupakan semiring pseudo- ternary faktor komutatif maka S I semiring ternary faktor.

Bukti:

Berdasarkan Proposisi 4. ■ 4. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat diberikan dua kesimpulan, beberapa sifat pada semiring ternary masih berlaku pada semiring pseudo-ternary seperti sifat subsemiring pseudo-ternary, ideal dan pembentukan semiring pseudo-ternary faktor; setiap semiring pseudo-ternary komutatif merupakan semiring ternary.

Daftar Pustaka

Dutta, T. K. and S. Kar, 2004, On Ternary Semifield, Discussiones Mathematicae General Algebra and Applications, 24, 185-198.

Kar, S., 2011, Ideal Theory in Ternary Semiring 0, Bulletin of Malaysian Mathematics Sciences Society, 34, 69-77.

Kar, S. and B. K. Maity, 2007, Congruence On Ter- nary Semigroups, Journal of The Chung- cheong Mathematical Society, 20, 3.

Referensi

Dokumen terkait

Demografi Secara keseluruhan, selama periode 8 minggu di bulan januari 2018 sampai April 2018 jumlah kuesioner yang dapat dikumpulkan dari dua jenis sampel yang

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 083/P/2016 TANGGAL 10 M E I

Telaah dokumen dilakukan untuk memperoleh informasi sekunder dari dokumen-dokumen pemerintah berkaitan dengan peraturan perundanganundangan yang terkait dengan

Ukuran dari ketersediaan (availability) sebuah peralatan bongkar muat di pelabuhan -dalam hal ini container crane- dapat direpresentasikan dalam rasio antara waktu

Hasil kajian bagi aspek pengendalian bahan kimia menunjukkan responden mempunyai tahap kemahiran tinggi iaitu min purata yang ditunjukkan adalah 4.44, berbeza dengan dapatan

Menurut Rohmawati dan Suyono (2012) salah satu konsep penting yang diajarkan dalam pelajaran kimia adalah asam dan basa. Konsep asam dan basa ini mempelajari tentang

Untuk mewujudkan penerapan PPK-BLU, maka Rumah Sakit Umum Daerah Sumberglgah membuat dokumen Rencana Strategis Bisnis (RSB) untuk implementasi lima tahunan dan

Dari hasil telaah sejumlah konstitusi (baik dengan sistem pemerintahan presidensial dan pemerintahan parlementer, maupun dengan sistem satu kamar dan sistem dua kamar di