50
Semiring Pseudo-Ternary
Maxrizal dan Ari Suparwanto Mahasiswa S2 Matematika FMIPA UGM,
Jurusan Matematika FMIPA UGM, e-mail: [email protected]; [email protected]
Diterima 22 November 2013, disetujui untuk dipublikasikan 4 Maret 2014 Abstrak
Dalam makalah ini akan diperkenalkan definisi dan sifat-sifat semiring pseudo-ternary. Selanjutnya, akan diperke- nalkan subsemiring pseudo-ternary dan ideal pada semiring pseudo-ternary. Lebih lanjut, ideal-ideal yang ter- bentuk pada semiring pseudo-ternary akan digunakan untuk membentuk semiring pseudo-ternary faktor.
Kata kunci: Semiring pseudo-ternary, Semiring pseudo-ternary faktor.
Pseudo-Ternary Semiring
Abstract
In this paper we introduce the notion of pseudo-ternary semiring. Furthermore, we will introduce pseudo-ternary subsemiring and ideals in pseudo-ternary semiring. Finally, ideals in pseudo-ternary semiring will be used for con- structing pseudo-ternary factor semiring.
Keywords: Pseudo-ternary semiring, Factor pseudo-ternary semiring.
1. Pendahuluan
Konsep semiring ternary diperkenalkan oleh Dutta dan Kar (2004). Semiring merupakan generalisasi dari ring ternary yang diperkenalkan oleh Lister pada tahun 1971. Himpunan S tak kosong yang dilengkapi operasi biner penjumlahan (+) dan operasi triner perkalian () disebut semiring ternary jika (S, +) merupakan semigrup abelian, (S,) merupakan semigrup dan (S, +, ) memenuhi sifat distributif. Perhatikan bahwa operasi triner menyebabkan sifat asosiatif pada (S,) didefinisikan sebagai berikut: untuk setiap a, b, c, d, S berlaku (abc)de = a(bcd) e = ab(cde).
Faktanya, definisi semiring ternary dimotivasi oleh struktur pada himpunan bilangan bulat negatif ( yang dilengkapi operasi biner penjumlahan dan ) triner perkalian biasa. Selanjutnya, konsep semiring ternary pada diperluas pada matriks persegi atas
sehingga Mn n ( yang dilengkapi operasi ) biner penjumlahan dan triner perkalian matriks biasa juga merupakan semiring ternary. Perhatikan bahwa
( )
Mn n merupakan matriks khusus dari matriks persegi panjang sehingga perlu diselidiki konsep yang lebih umum yaitu konsep semiring ternary pada matriks (Mm n . Untuk itu, dibentuk )
(Mn n (), , ) dengan definisi operasi biner A B A B dan operasi triner A B C AB CT . Perhatikan bahwa, operasi triner dibentuk agar
ketiga matriks persegi panjang bisa dioperasikan dengan metode perkalian matriks biasa.
Berdasarkan sifat-sifat penjumlahan dua matriks, (Mn n (), ) merupakan semigrup abelian dan well-defined pada Mn n ( karena )
( )
T
AB CMn n . Selanjutnya, akan diselidiki sifat asosiatif pada (Mn n (), ) . Ambil
, , , n n( ),
A B C DM maka berlaku
( ) ( T )
T T
A B C D E AB C D E
AB CD E
( ) ( )
( )
T
T T
T T
A B C D E A BC D E
A BC D E AD CB E
( ) ( T )
T T
A B C D E A B CD E
AB CD E
Perhatikan bahwa hanya berlaku sifat (A B C) D E A B (C D E). Hal ini disebabkan karena untuk sebarang matriks beru- kuran m n , hubungan B CDT T D CBT T belum tentu berlaku. Jadi, (Mn n (), , ) bukan meru- pakan semiring ternary, walaupun pada
(Mn n (), , ) juga berlaku sifat distributif.
Berdasarkan permasalahan di atas, dalam makalah ini didefinisikan suatu struktur baru yang
disebut semiring pseudo-ternary. Semiring pseudo- ternary bersifat lebih umum dari semiring ternary sehingga memberikan peluang untuk menyelidiki sifat-sifat pada semiring ternary yang masih tetap berlaku pada semiring pseudo-ternary. Selanjutnya, dijelaskan contoh dan sifat dari semiring pseudo- ternary, subsemiring pseudo-ternary dan ideal pada semiring pseudo-ternary. Pada bagian akhir makalah dikaji proses pembentukan semiring faktor pseudo- ternary.
2. Semiring Ternary
Berikut adalah beberapa definisi tentang semiring ternary dan sifat-sifat yang dimiliki oleh semiring ternary.
Definisi 1. Diberikan himpunan S yang dileng- kapi dengan operasi biner penjumlahan + : S S S dan triner perkalian + : S S S. Himpunan S disebut semiring ternary jika memenuhi:
1. (S, +) merupakan semigrup abelian.
2. (S,) merupakan semigrup, yaitu untuk setiap a,b,c,d,e S berlaku abc S dan (abc)de = a(bcd)e = ab(cde).
3. Berlaku sifat distributif kanan, kiri dan tengah, yaitu untuk setiap a,b,c,d S berlaku
(i) (a + b)cd = acd + bcd (ii) a(b + c)d = abd + acd (iii) ab(c + d) = abc + abd
Definisi 2. Suatu elemen disebut elemen nol dari semiring ternary S dinotasikan dengan “0” jika un- tuk setiap x,y S berlaku 0 + x = x dan 0xy = x0y = 0. Semiring ternary S yang mempunyai elemen nol disebut semiring ternary dengan elemen nol.
Pada pembahasan selanjutnya S merupakan notasi untuk semiring ternary dengan elemen nol dan S* merupakan notasi untuk semiring ternary tanpa elemen nol, yaitu S*S\ 0
.Definisi 3. Suatu elemen e S disebut elemen satuan dari semiring ternary S, jika untuk setiap x S ber- laku eex = exe = xee = x.
Proposisi 1. Jika elemen e S merupakan elemen satuan dari semiring ternary S maka untuk setiap x,y
S berlaku exy = xey = xye.
Definisi 4. Semiring ternary S disebut semiring ter- nary komutatif jika untuk setiap s s s1, ,2 3S maka
1 2 3 2 1 3 2 3 1
s s s s s s s s s .
Definisi 5. Diberikan sebarang s10 dari suatu semiring ternary S s, 1 disebut elemen pembagi nol kiri (tengah, kanan) dari S jika terdapat s s2, 3S1 dengan s2 0 dan s3 0 sehingga s s s1 2 3 0
2 1 3 2 3 1
(s s s 0,s s s 0). Elemen pembagi nol kiri yang sekaligus elemen pembagi nol tengah dan kanan disebut elemen pembagi nol.
Definisi 6. Diberikan semiring ternary komutatif.
Jika S tidak mempunyai elemen pembagi nol maka S disebut suatu semi-daerah integral ternary .
Definisi 7. Diberikan semiring ternary (S, +, ).
Himpunan T S disebut subsemiring ternary jika (T, +, ) juga merupakan semiring ternary.
Proposisi 2. Diberikan suatu semiring ternary (S, +, ) dan subhimpunan T S. Himpunan T meru- pakan subsemiring ternary jika dan hanya jika untuk setiap t t t1, ,2 3T, berlaku t1 t2 T dan t t t1 2 3T. Definisi 8. Diberikan suatu semiring ternary (S, +, ) dan subhimpunan I S dengan syarat untuk setiap
1,2
i i I berlaku i1 i2 I. Jika untuk setiap
1, 2
s s S dan iI berlaku s s i1 2 I
1 2 1 2
(is s s is, I), maka I disebut ideal kiri (kanan, tengah) dari S. Jika I merupakan ideal kiri, kanan dan tengah dari S, maka I disebut ideal dari S.
Definisi 9. Suatu relasi ekuivalensi pada semiring ternary S disebut relasi kongruensi jika memenuhi kondisi berikut:
untuk setiap a a b b c c, , , , . S berlaku a a dan b b (ab) ( ab)
,
a a b b dan c c (abc) ( a b c )
Definisi 10. Diberikan I ideal sejati dari semiring ternary S. Relasi
1 Bourne atas S didefinisikan sebagai berikut: untuk tiap s s, S,sIs jika hanya jika sa1 s a2 untuk suatua a1, 2I. Proposisi 3. Relasi Bourne 1 pada S merupakan relasi kongruensi pada S. Selanjutnya, relasi
1 ini disebut relasi kongruensi Bourne.Definisi 11. Diberikan I suatu ideal sejati dari semi- ring ternary S dan 1 kongruensi Bourne atas I.
Didefinisikan operasi biner penjumlahan dan triner perkalian pada S/I sebagai berikut:
untuk setiap s,t,u S,
( ) ( )( )( ) ( )
s I t I s t I s I t I u I stu I
Dengan operasi biner penjumlahan dan triner, (s I, , ) merupakan suatu semiring ternary dan disebut semiring ternary faktor Bourne.
3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan permasalahan pada bagian pendahuluan, berikut ini diberikan definisi dari semiring pseudo-ternary.
Definisi 12. Diberikan himpunan S yang dilengkapi dengan operasi biner : S S S dan operasi triner : S S S S. Himpunan S disebut semiring pseudo-ternary jika
S,
merupakan semigrup abelian,
S, merupakan semigrup pseudo-ternary yaitu untuk setiap a b c d e, , , , berlaku abc S dan S (abc)de = ab(cde), danBerlaku sifat distributif kanan, kiri dan tengah, yaitu untuk setiap a,b,c,d S, yaitu
(i) (a + b)cd = acd + bcd (ii) a(b + c)d = abd + acd (iii) ab(c + d) = abc + abd
Contoh 1. Himpunan matriks persegi panjang (Mn n (), , ) dengan definisi operasi biner A dan operasi triner B A B A B C AB CT merupakan semiring pseudo-ternary.
Contoh 2. Setiap semiring ternary merupakan semi- ring pseudo-ternary.
Selanjutnya, akan didefinisikan elemen nol pada semiring pseudo-ternary.
Definisi 13. Suatu elemen disebut elemen nol dari semiring pseudo-ternary S dinotasikan dengan “0”
jika untuk setiap x, y S berlaku 0 + x = x dan 0xy
= x0y = xy0 = 0.
Semiring pseudo-ternary S yang mempunyai elemen nol disebut semiring pseudo-ternary dengan elemen nol.
Selanjutnya, pada pembahasan di bawah ini S merupakan notasi untuk semiring pseudo-ternary dengan elemen nol dan S*S\ 0
.Definisi 14. Suatu elemen e S disebut elemen satuan dari semiring pseudo-ternary S, jika untuk setiap x S berlaku eex = exe = xee = x.
Jika S semiring pseudo-ternary maka untuk setiap x, y S berlaku xye = (exe)ye = ex(eye) = exy dan xye = (xee)ye = xe(eye) = xey. Perhatikan bahwa untuk setiap x, y S berlaku exy = xey = xye. Jadi, proposisi pada semiring ternary masih berlaku pada semiring pseudo-ternary.
Selanjutnya, didefinisikan sifat komutatif pada semiring pseudo-ternary.
Definisi 15. Semiring pseudo-ternary S disebut semiring pseudo-ternary komutatif jika untuk setiap
1, ,2 3
s s s S maka s s s1 2 3s s s2 1 3 s s s2 3 1. Contoh 3. Diberikan himpunan
0
0 0 , 0 0
A a a b
b
Semiring pseudo-ternary ( , , )A merupakan semiring pseudo-ternary komutatif.
Proposisi 4. Setiap semiring pseudo-ternary komuta- tif merupakan semiring ternary.
Bukti:
Perhatikan Definisi 12, untuk setiap a, b, c, d, f S berlaku (abc)df = ab(cdf). Akan dibuktikan (abc)df = a(bcd)f = ab(cdf). Perhatikan bahwa S semiring pseudo-ternary komutatif sehingga berlaku a(bcd)f = (abc)df = (bcd)af = bc(daf) = (bca)df = (abc)df. Jadi, S merupakan semiring ternary. ■
Contoh 4. Semiring pseudo-ternary ( , , )A pada Contoh 3, merupakan semiring ternary komutatif.
Perhatikan bahwa struktur matriks menyebabkan munculnya elemen-elemen pembagi nol. Hal itu juga berlaku pada semiring pseudo-ternary.
Definisi 16. Diberikan suatu semiring pseudo-ternary S. Misalkan s10 elemen S s, 1 disebut elemen pem- bagi nol kiri (tengah, kanan) dari S jika terdapat
2, 3 1
s s S dengan s20 dan s30 sehingga
1 2 3 0( 2 1 3 0, 2 3 1 0)
s s s s s s s s s . Elemen pembagi nol kiri yang sekaligus elemen pembagi nol tengah dan kanan disebut elemen pembagi nol.
Contoh 5. Diberikan S M2 3
0 dan dibentuk semiring pseudo-ternary ( , , )S . Misalkan A, B, C, S tak nol, dengan0 0 0 0
, , dan
0 0 0 0
0 0
0 0 0
a c
A B
b d
C e
Elemen A merupakan salah satu elemen pembagi nol di S.
Definisi 17. Semiring pseudo-ternary komutatif S yang tidak mempunyai pembagi nol maka S disebut semi-daerah integral pseudo-ternary .
Akibat 1. Setiap semi-daerah integral pseudo- ternary merupakan semi-daerah integral ternary.
Bukti:
Berdasarkan Proposisi 4 dan Definisi 6. ■
Contoh 6. Dibentuk h
( )a a 0
. Semiring pseudo-ternary ( , , )H merupakan suatu semi- daerah integral pseudo-ternary sekaligus semi-daerah integral ternary.Selanjutnya akan diselidiki sifat dari suatu subhimpunan pada semiring pseudo-ternary. Berikut ini diberikan definisi dari subsemiring pseudo- ternary.
Definisi 18. Diberikan semiring pseudo-ternary
S, ,
. Himpunan T disebut subsemiring S pseudo-ternary jika
T, , juga merupakan semi-
ring pseudo-ternary.
Proposisi 5. Diberikan suatu semiring pseudo- ternary
S, ,
dan subhimpunan T . Himpunan S T subsemiring pseudo-ternary jika dan hanya jika untuk setiap t t t1, ,2 3 , berlaku T t1 dan t2 T1 2 3
t t t . T
Contoh 7. Diberikan subhimpunan T Mm m (20). Struktur ( , , )T merupakan subsemiring pseudo- ternary dari semiring pseudo-ternary
(Mm m (20),).
Selanjutnya, akan diselidiki proses pembentukan semiring pseudo-ternary factor. Secara umum, untuk sebarang semiring pseudo-ternary S diberikan relasi dengan definisi berikut.
Definisi 19. Diberikan T subsemiring pseudo-ternary pada semiring pseudo-ternary S. Untuk setiap s , s , s dikatakan berelasi (Bourne) S dengan s I dinotasikan s jika hanya jika Is sa1 s a2 untuk suatu a a1, 2 . T
Proposisi 6. Relasi Bourne pada semiring I pseudo-ternary S merupakan relasi ekuivalen pada c.
Bukti:
Pertama, akan dibuktikan bersifat refleksif. I Diambil s S, maka sa1 untuk setiap s a1
a1 , sehingga T s . Dengan demikian, Is bersi-I fat refleksif. Kedua, akan dibuktikan bersifat I
simetris. Diambil s s, S dengan s , maka un-Is tuk suatu a a1, 2T, s a 1 s a 2 s a 2 s a1 s sI . Dengan demikian, bersifat simetris. Selanjutnya, 1 akan dibuktikan bersifat transitif. Diambil 1
, ,
s s s S dengan sIs dan sIs, maka untuk suatu a a a a1, , ,2 3 4T , berlaku sa1 s a2 dan
3 4
sa s a sehingga s(a1a3) s (a2a3) dan s(a2a3) s (a2a4). Akibatnya
1 3 2 4
( ) ( )
s a a s a a . Jadi, bersifat transi-1 tif. Dengan demikian, merupakan relasi ekui-1 valen. ■
Perhatikan bahwa relasi ekuivalen pada semiring pseudo-ternary S menyebabkan S terpartisi menjadi kelas-kelas ekuivalen yang saling asing.
Selanjutnya, kelas ekuivalen dari suatu elemen s dari sIs dinotasikan dengan s T dan semua himpunan kelas ekuivalen dari S dinotasikan dengan S T. Definisi 20. Diberikan kelas-kelas ekuivalen s T dan s T pada semiring pseudo-ternary S. Kelas
s T dan s T dikatakan sama, dinotasikan dengan s T s T jika dan hanya jika sIs.
Seperti halnya pada semiring, pada semiring pseudo-ternary juga dapat didefinisikan relasi kongruensi. Berikut definisi relasi kongruensi pada semiring pseudo-ternary S.
Definisi 21. Suatu relasi ekuivalen pada semiring pseudo-ternary S disebut relasi kongruensi jika me- menuhi kondisi: untuk setiap a a b b c c, , , , . S berlaku
1. a a dan b b (ab) ( ab) 2. a a , b b dan c c (abc) ( a b c ).
Selanjutnya, akan diselidiki kongruensi pada relasi Bourne pada semiring pseudo-ternary S. 1 Berdasarkan Proposisi 6, relasi merupakan relasi I ekuivalen pada S.
Pertama, akan ditunjukkan jika untuk setiap , , ,
s s t t S, sIs, dan tIt maka berlaku (at) (I s t). Misalkan sIs dan tIt. Berdasarkan Definisi 19 berlaku,
1 2
1 2
I I
s s s a s a
t t t b t b
untuk suatu a a b b1, , ,2 1 2T. Jika kedua persamaan dijumlahkan, maka diperoleh
1 1 2 2
(s t) (a b) ( s t) ( a b )
untuk suatu a a b b1, , ,2 1 2T atau
1 2
(s t) c (s t)c
untuk suatu c c1, 2T. Berdasarkan Definisi 19, berlaku (st) (I s t).
Kedua, akan ditunjukkan jika sIs, tIt, dan uIu' maka berlaku (stu) (I s t u ), untuk setiap s s t t u u, ', , ', , 'S. Diambil sIs, tIt dan
I '
u u . Berdasarkan Definisi 19,
1 2
' '
sIs s a s a , tIt' t b1 t' b2, dan uIu' u c1 u' c2 untuk suatu
1, , , , ,2 1 2 1 2
a a b b c c T. Jika ketiga persamaan dikalikan maka diperoleh (sa1)(tb1)(uc1) =
2 2 2
(sa )(tb )(uc ). Dari ruas kiri diperoleh
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
( )
stu stc sb u sb c ta u ta c a b u a b c . Karena a b c1, ,1 1T, maka a b c1 1 1T tetapi
1, 1 , 1 1, 1 , 1 1
stc sb u sb c ta u ta c dan a b u1 1 belum tentu di dalam T karena T hanya suatu subsemiring pseudo- ternary di S. Hal yang sama terjadi di ruas kanan.
Perhatikan bahwa, jika di ruas kiri disyaratkan
1, 1 , 1 1, 1 , 1 1
stc sb u sb c ta u ta c , dan a b u1 1 di dalam T
maka diperoleh stud1, dengan
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
d stc sb usb c ta uta c a b ua b c di dalam T. Hal yang sama terjadi di ruas kanan sehingga diperoleh s t u' ' 'd2. Syarat tambahan inilah yang memotivasi munculnya definisi ideal pada semiring pseudo-ternary S.
Definisi 22. Diberikan suatu semiring pseudo-ternary S dan subhimpunan I S dengan syarat untuk setiap
1,2
i i I maka berlaku i1 i2 I. Jika untuk setiap
1, 2
s s S dan iI berlaku s s i1 2 I
1 2 1 2
(is s s is, I) maka I merupakan suatu ideal kiri (kanan, tengah) dari S. Jika I merupakan ideal kiri, kanan dan tengah dari S maka I disebut suatu ideal dari S.
Perhatikan bahwa T subsemiring pseudo- ternary harus merupakan ideal di semiring pseudo- ternary S agar persamaan di ruas kiri dan kanan menjadi stud1s t u d2, untuk suatu d d1, 2T . Berdasarkan Definisi 19, berlaku (stu) (I s t u ). Jadi, relasi pada semiring pseudo-ternary S I merupakan relasi kongruensi.
Selanjutnya, akan diselidiki eksistensi dari semiring pseudo-ternary faktor dari semiring pseudo- ternary S. Diberikan ideal I dari semiring pseudo- ternary S dan relasi kongruensi pada S. I Didefinisikan operasi biner penjumlahan dan triner perkalian pada S I dengan S It I (s t) I dan
(S I t I U I)( )( ) ( s t) I , untuk setiap , ,s t uS. Akan dibuktikan bahwa S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner
merupakan semiring ternary.Pertama, akan dibuktikan S I yang dilengkapi operasi biner (+) merupakan semigrup komutatif.
Akan ditunjukkan operasi (+) pada S I well- defined. Diambil s I t I s I t I, , , S I dengan
, , ,
s s t t S. Akan ditunjukkan jika S I s I dan t I t I maka st I s t I. Berdasarkan Definisi 20, jika s Is I dan t I t I maka ber- laku sIs dan tIt. Karena relasi kongruensi I pada S dan berdasarkan Definisi 21, jika sIs dan tIt maka berlaku (st) (I s t). Berdasarkan Definisi 20, berlaku st I s t I. Jadi, operasi (+) pada S I well-defined.
Akan ditunjukkan operasi (+) pada S I bersifat asosiatif. Diambil s I t I u I, , S I dengan
, ,
s t uS . Dibentuk persamaan (s It I)u I
(s t I) u I (s t) u I s (t u) I
( ) ( )
s I t u I s I t I u I
Jadi, operasi (+) pada S I bersifat asosiatif.
Akan ditunjukkan operasi (+) pada S I bersifat komutatif. Diambil s I t I, S I dengan
,
s t . Dibentuk S s It I (s t) I t s I t I s I
. Jadi, operasi (+) pada S I bersifat komutatif.
Kedua, akan dibuktikan S I dilengkapi operasi triner
merupakan semigrup pseudo- ternary.Akan ditunjukkan operasi
pada S I well-defined. Diambil s I, t I , u I, s I' , 't I, '
u IS I dengan , , , , ,s s t t u u S. Akan ditunjukkan jika s Is I t I , t I dan u I u I maka stu Is t u I . Berdasarkan Definisi 20, jika
,
s Is I t I t I dan u I u I maka berlaku
I , I
s s t t dan uIu. Karena relasi kongruensi I pada S dan berdasarkan Definisi 21, jika sIs t, It dan uIu maka berlaku (stu) (I s t u ). Berdasarkan Definisi 20, berlaku stu Is t u I . Jadi, operasi () pada S I well-defined.
Akan ditunjukkan operasi
pada S Ibersifat asosiatif. Misalkan s I, t I , u I, v I,w IS I dengan , , , ,s t u v wS . Maka
(s I) (t I) (u I) (
v I) (w I)
(stu I) (
v I) (w I)(stu vw I)
( )
st uvw I
(s I) (t I) (uvw I)
(s I) (t I) (u I) (v I) (w I)
Jadi,
pada S I bersifat asosiatif.Ketiga, akan dibuktikan bahwa S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner
memenuhisifat distributif kiri, tengah dan kanan. Diambil
, , ,
s I t I u I v IS I dengan , , , ,s t u v w . Maka S
(s I) ( t I) (
u I) (v I)
(st) I
(u I) (v I)((s t uv I) )
((suv) (tuv I)
suv I tuv I
(s I u I v I)( )( ) (t I u I v I)( )( )
(s I) (t I) ( u I) (v I) ( s I) (tu I) (v I) ((s t v I) )
((stv) (suv I)
stv I suv I
(s I t I v I)( )( ) (s I u I v I)( )( )
(s I t I)( ) (u I) ( v I) (s I t I)( ) (uv I)
st u( v)
I
(stu) (stv)
I
stu I stv I
(s I t I u I)( )( ) (s I t I v I)( )( )
Jadi, S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner
memenuhi sifat distributif kiri, tengah dan kanan.Dengan demikian, S I yang dilengkapi operasi biner (+) dan triner
merupakan semiring pseudo-ternary dan disebut semiring pseudo-ternary faktor Bourne.Akibat 2. Jika S I merupakan semiring pseudo- ternary faktor komutatif maka S I semiring ternary faktor.
Bukti:
Berdasarkan Proposisi 4. ■ 4. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat diberikan dua kesimpulan, beberapa sifat pada semiring ternary masih berlaku pada semiring pseudo-ternary seperti sifat subsemiring pseudo-ternary, ideal dan pembentukan semiring pseudo-ternary faktor; setiap semiring pseudo-ternary komutatif merupakan semiring ternary.
Daftar Pustaka
Dutta, T. K. and S. Kar, 2004, On Ternary Semifield, Discussiones Mathematicae General Algebra and Applications, 24, 185-198.
Kar, S., 2011, Ideal Theory in Ternary Semiring 0, Bulletin of Malaysian Mathematics Sciences Society, 34, 69-77.
Kar, S. and B. K. Maity, 2007, Congruence On Ter- nary Semigroups, Journal of The Chung- cheong Mathematical Society, 20, 3.