• Tidak ada hasil yang ditemukan

Zat ekstraktif kayu raru dan pengaruhnya terhadap penurun kadar gula darah secara in vitro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Zat ekstraktif kayu raru dan pengaruhnya terhadap penurun kadar gula darah secara in vitro"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

TERHADAP PENURUN KADAR GULA DARAH

SECARA IN VITRO

GUNAWAN TRISANDI PASARIBU

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Zat Ekstraktif Kayu Raru dan Pengaruhnya Terhadap Penurun Kadar Gula Darah Secara In Vitro adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi dimana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2009

Gunawan Pasaribu

(3)

ABSTRACT

GUNAWAN TRISANDI PASARIBU. The Wood Extractives of Raru and It’s Influences on Reducing Blood Sugar Level by In Vitro Testing. Under direction of WASRIN SYAFII and LATIFAH K. DARUSMAN

Raru stem barks are widely used as additional materials of nira (sugar palm) in order to make them more durable and to enrich the taste of toddy traditional beverages such as tuak (Batak’s beverages). The traditional knowledge from Sumatra reported that raru could reduce the blood sugar level. The aim of this research is to acquire the effectiveness of raru stem bark extractives on reducing blood sugar level by evaluated the inhibition of alpha glucosidase activity. Then isolated and identified compounds of raru stem bark’s extract which has antidiabetic properties by in vitro testing. There are four species of raru founded from exploration in five locations in Sumatra i.e. Cotylelobium melanoxylon Pierre, Shorea balanocarpoides Sym, Cotylelobium lanceolatum Craib, and Vatica perakensis King. All of the raru species contained flavonoid, saponin and tannin, and the crude extract obtained from reflux and maceration method has been able to inhibited alpha glucosidase 88 to 97%. From the screening step, Shorea crude extract had the best performance, equivalent with the inhibition activity of patented drug -Glucobay- 97%. The maximum spectrum of bioactive component gained from UV-Vis spectroscopy of Shorea was 288.6 nm. Infra red spectrum could identified the aromatic functional group were -OH, H, C=C, C-O and C-H. GCMS spectroscopy showed the molecule weight was 390, and the molecule formula was C20H22O8. Based on those spectroscopy data and Nuclear

Magnetic Resonance analysis, the plausible compound was 4-Glucosyl-3, 4’, 5-trihydroxystilbene.

(4)

RINGKASAN

GUNAWAN TRISANDI PASARIBU. Zat Ekstraktif Kayu Raru dan

Pengaruhnya Terhadap Penurun Kadar Gula Darah secara In Vitro. Dibimbing oleh WASRIN SYAFII dan LATIFAH K. DARUSMAN.

Raru merupakan sebutan untuk jenis-jenis kulit kayu yang ditambahkan pada nira aren yang bertujuan untuk meningkatkan cita rasa dan kadar alkohol serta mengawetkan minuman tradisional tuak. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa ada beberapa jenis kayu yang digolongkan sebagai kayu raru, antara lain Shorea maxwelliana King, Shorea faguetiana Heim. Cotylelobium melanoxylon Pierre., Vatica songa V.Sl. dari famili dipterocarpaceae dan Garcinia sp. dari famili Guttifera. Sebagian masyarakat Tapanuli juga mengenal kulit kayu raru sebagai obat diabetes.

Diabetes melitus adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. Kadar gula darah berhubungan dengan kemampuan pankreas dalam memproduksi insulin yang berfungsi mengubah glukosa menjadi glikogen. Diabetes atau kencing manis sering disebut sebagai penyakit akibat kelainan hormon ini, akibatnya tubuh menjadi tidak dapat menyerap glukosa dari darah.

Enzim α-glukosidase memiliki nama kimia α-D-glukosida glukohidrolase merupakan enzim yang berperan dalam pembentukan glukosa di dalam usus halus manusia. Enzim ini membantu dalam pemecahan rantai polisakarida pada ikatan

α(1-6) pada setiap titik percabangan yang tidak dapat dipecahkan oleh enzim fosforilase. Produk dari aktivitas enzim ini adalah polimer (α1-4) tak bercabang dan satu glukosa. Reaksi ini terjadi setelah aktivitas glikogen phosporilase dan glikogen transferase terjadi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui kandungan bioaktif kulit kayu raru, mengetahui efek farmakologis ekstraktif kulit kayu raru terhadap penurunan kadar gula darah melalui aktivitas inhibisi alfa glukosidase serta mengisolasi dan mengidentifikasi komponen bioaktif yang berperan dalam penurunan kadar gula darah.

Penyelidikan tentang pemanfaatan kulit kayu raru dan teknik pemanenan di masyarakat sebagai obat dan bentuk pemanfaatan lainnya dilakukan melalui wawancara mendalam (depth interview) dan diskusi.

Kulit kayu digiling menggunakan hammer mill dan disaring untuk menghasilkan serbuk 40-60 mesh. Serbuk kulit kayu raru diekstraksi dengan dua teknik yakni secara maserasi (perendaman) dengan etanol 70% dan refluks (penggodokan) dengan pelarut air selama 3 jam pada suhu 1000C. Ekstrak kemudian disaring dan dipekatkan dengan rotary vacum evaporator .

(5)

dan 10 L larutan sampel dalam DMSO. Setelah campuran reaksi diinkubasi selama 5 menit, 250 L larutan enzim ditambahkan dan selanjutnya diinkubasi selama 15 menit. Reaksi enzim dihentikan dengan penambahan 1000 L natrium karbonat dan p-nitrofenol yang dihasilkan dibaca absorbansinya pada 400 nm.

Sampel yang diuji dilarutkan dalam pelarut DMSO dengan konsentrasi 1%. Larutan standar yang dibuat dengan konsentrasi yang sama dengan larutan sampel, dengan melarutkan tablet Acarbose (Glucobay) dalam aquadest dan HCl 2N kemudian disentrifus, selanjutnya supernatan digunakan untuk membuat larutan standar. Persen inhibisi dapat dihitung dari persamaan: [(C – S)/ C] x 100%. Dengan S= absorbansi sampel (S1-S0 dengan S1= absorbansi sampel

dengan penambahan enzim dan S0= absorbansi sampel tanpa penambahan enzim)

dan C= absorbansi kontrol (DMSO), tanpa sampel (kontrol-blanko).

Uji Kualitatif Fitokimia Ekstrak meliputi uji alkaloid, saponin, flavonoid, triterpenoid atau steroid, tanin dan hidroquinon. Fraksinasi dilakukan dengan menggunakan kromatografi lapis tipis analitik, kromatografi kolom kilas, kromatografi lapis tipis preparatif dan kromatografi dua dimensi. Identifikasi dengan dengan menggunkan Spektrofotometer UV-Vis, FTIR, GCMS dan NMR.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari eksplorasi jenis raru di Sumatera Utara dan Riau diperoleh 4 (empat) jenis raru antara lain Cotylelobium melanoxylon Pierre, Shorea balanocarpoides Symington, Cotylelobium lanceolatum Craib, dan Vatica perakensis King.. Hasil penapisan fitokimia secara umum menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa golongan flavonoid, tanin dan saponin. Aktivitas inhibisi kulit kayu raru berkisar antara 88-97 % dan inhibisi terbaik adalah dari jenis Shorea balanocarpoides. Aktivitas inhibisi glucobay sebesar 97%. Hasil spektrum UV-Vis dari senyawa meunjukkan λ maks 288.6 nm dan spektrum infra merah mengindikasikan adanya gugus –OH, C-H, C=C, C-O dan C-H aromatik. Dari hasil spektrometri GCMS diketahui adanya dua peak yang sangat berdekatan (peak 15.76 dan 15.89). Berat molekul senyawa adalah 390 dengan rumus molekulnya C20H22O8. Dari data ini dan bantuan C dan

(6)

@ Hak Cipta milik IPB, tahun 2009

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya imiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah

b.Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

ZAT EKSTRAKTIF KAYU RARU DAN PENGARUHNYA

TERHADAP PENURUN KADAR GULA DARAH

SECARA IN VITRO

GUNAWAN TRISANDI PASARIBU

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Mayor Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

(8)
(9)

Judul Tesis : Zat Ekstraktif Kayu Raru dan Pengaruhnya Terhadap Penurun Kadar Gula Darah secara In Vitro

Nama : Gunawan Trisandi Pasaribu

NRP : E 251070071

Disetujui, Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Wasrin Syafii, M.Agr Prof. Dr. Ir. Latifah K. Darusman, MS Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi / Mayor Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan

Dr. Ir. Dede Hermawan, MSc. Prof.Dr.Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan anugrah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah yang berjudul ‘Zat Ekstraktif Kayu Raru dan Pengaruhnya Terhadap Penurun Kadar Gula Darah secara In Vitro’ yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Mayor Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Terimakasih dan penghargaan yang tulus penulis ucapkan kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Wasrin Syafii, M.Agr., selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Prof.Dr.Ir. Latifah K. Darusman, MS., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak memberi bimbingan, masukan dan saran dalam berbagai kesempatan diskusi yang terkait dengan penelitian ini, dan Dr. Ir. Ervizal Amzu, MS selaku penguji luar komisi yang ikut menyumbangkan pemikirannya untuk penyempurnaan karya ilmiah ini.

2. Departemen Kehutanan atas beasiswa yang diberikan sehingga penulis dapat menjalani pendidikan di Program Mayor Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan, Sekolah Pacasarjana IPB.

3. Kepala Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli atas bantuan dana penelitian yang diberikan.

4. Staf Dinas Kehutanan Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Simalungun, Staf Balai TNBT di Tanah Lakat untuk bantuan eksplorasi bahan penelitian.

5. Peneliti dan staf di Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka IPB yang telah banyak membantu selama pelaksanaan penelitian, Pak Edy Dj.,MSi, Mba Salina,S.Si., Pak Rafi, M.Si, Pak Waras, M.Si., Pak Zaim, M.Si., Ibu Nunuk, Nio, Endi dan Pak Mul.

6. Peneliti dan staf di Laboratorium Pusat Penelitian Kimia - LIPI Serpong yang telah banyak membantu dalam spektroskopi, Dr. Hanafi, Puspa D. Lotulung,M.Sc, Sofa, S.Si.

7. Bapak AKBP Jaswanto di Laboratorium Forensik Mabes Polri untuk bantuan spektroskopi GCMS.

8. Staf di Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Fahutan IPB yang telah banyak membantu dalam preparasi sampel penelitian.

9. Rekan-rekan Pascasarjana ‘ANTECH’ 2007, [Gerald, Sukma, Yusro, Yetvi, Loly dan Erna] M.Si., atas segala bantuan dan kebersamaan selama ini. Kepada teman-teman di PS Charisma HKBP Paledang Bogor untuk dukungan doa selama ini dan adik-adik di Perwira 10.

10.Keluarga Besar Pasaribu (Siborongborong) dan Keluarga Besar Hutagalung (Sibolga). Teristimewa buat istri tercinta (Risdawati Hutagalung) dan buah hati tersayang (Johansen Partogi Pasaribu) atas dukungan, doa dan pengorbanannya selama penulis menjalani studi.

11.Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, untuk semua dorongan dan bantuan yang diberikan.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang kehutanan.

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Siborongborong pada tanggal 27 Mei 1977 sebagai anak kelima dari pasangan S. Pasaribu (alm.) dan M. br. Nababan (alm.). Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, lulus pada tahun 2000. Kesempatan untuk melanjutkan ke program magister pada Mayor Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan, Sekolah Pascasarjana IPB pada tahun 2007. Beasiswa pendidikan diperoleh dari Departemen Kehutanan Republik Indonesia.

Penulis bekerja sebagai peneliti di Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli, Badan Litbang Kehutanan, DEPHUT sejak tahun 2002 dan ditempatkan di Pematang Siantar. Bidang penelitian yang menjadi tanggung jawab peneliti ialah teknologi hasil hutan, khususnya hasil hutan bukan kayu.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains Pada Program Mayor Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan, penulis menyusun tesis dengan judul ‘Zat Ekstraktif Kayu Raru dan Pengaruhnya Terhadap Penurun Kadar Gula Darah secara In Vitro’ di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Wasrin Syafii, M.Agr., sebagai ketua Komisi Pembimbing dan Prof.Dr.Ir. Latifah K. Darusman, MS., sebagai anggota Komisi Pembimbing.

(12)

DAFTAR ISI

Pemanfaatan Ekstraktif sebagai Obat... 8

Pemanfaan Ekstraktif sebagai Obat Diabetes... 10

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Sistem reaksi pengujian... 16

2 Hasil eksplorasi... 22

3 Hasil uji fitokimia ekstrak kulit kayu raru... 26

4 Penggabungan dalam fraksi-fraksi... 29

5 Aktivitas inhibisi alfa glukosidase Rf target... 30

6 Pengecekan nilai Rf dari KLTp... 31

(14)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Pohon raru (Cotylelobium melanoxylon Pierre)... 5

2 Foto daun ... 21

3 Rendemen ekstrak beberapa jenis raru dengan perbedaan metode ekstraksinya... 25

4 Aktivitas inhibisi alfa glukosidase ekstrak kasar raru dengan metode ekstraksi yang berbeda... ... 27

5 Kromatografi lapis tipis dengan variasi campuran pelarut pengembang... 28

6 Persen inhibisi alfa glukosidase fraksi shorea... 30

7 Spektrum serapan senyawa tunggal dalam etanol p.a... 33

8 Spektrum FTIR senyawa... 34

9 Spektrum GCMS senyawa... 35

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Bagan alir penelitian... 44

2 Rendemen ekstrak beberapa jenis Raru... 45

3 Aktivitas inhibisi α-glukosidase ekstrak kasar Raru... 46

4 Persen inhibisi alfa glukosidase fraksi Shorea... 47

5 Pergeseran kimia (Chemical shift) H-NMR... 48

6 Pergeseran kimia (Chemical shift) C-NMR... 49

7 13C NMR... 50

(16)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hutan merupakan sumber daya alam yang mempunyai empat fungsi utama yaitu sebagai penyangga tanah dan air (fungsi hidrologis), penyangga iklim bumi, sumber keanekaragaman hayati serta modal atau penunjang pembangunan. Hasil hutan digolongkan sebagai hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu, disamping jasa lingkungan dan sumber plasma nutfah. Hasil hutan bukan kayu dapat dibagi berdasarkan kelompok besar yang meliputi hasil hutan bukan kayu (HHBK) berbasis biomassa contohnya kayu bakar. Produk HHBK lainya adalah komoditi rotan dan bambu, buah yang dapat dimakan, tumbuhan obat, resin dan lateks, hidupan liar dan produk turunannya (Thadani, R. 2001).

Dalam rangka mengurangi tekanan terhadap hutan, dilakukan berbagai upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan hasil hutan. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan peningkatan rendemen pengolahan kayu di hutan maupun di industri pengolahan. Diharapkan dengan peningkatan rendemen, akan mengurangi limbah pengolahan dan menurunkan laju degradasi hutan. Saat ini telah dikembangkan berbagai upaya diversifikasi produk dari kayu ke produk non kayu, misalnya pemanfaatan batang sawit, batang kelapa dan berbagai kelompok palma lainnya. Pemanfaatan jenis-jenis kurang dikenal (lesser known species) dan limbah sekarang ini tidak masalah lagi karena kemajuan teknologi pengolahan kayu yang semakin tinggi. Pemanfaatan semua bagian kayu mulai dari daun, batang dan ranting menjadi pilihan saat ini agar nilai tambah sumber daya hutan dapat maksimal. Pemanfaatan semua komponen kimia kayu ke depan akan semakin berkembang, dimana tidak hanya sebatas untuk produksi papan, pulp, kertas saja, akan tetapi akan dikembangkan sebagai sumber bahan kimia alami seperti sumber etanol, vitamin C, arang aktif, dll.

(17)

Hutan tropis Indonesia memiliki sumber senyawa metabolit sekunder yang dapat dan telah digunakan sebagai sumber bahan baku obat tradisional (Zuhud, 1994). Tanaman obat merupakan salah satu andalan masa depan dalam pengembangan agribisnis di Indonesia. Kualitas produk tanaman obat ditentukan oleh kandungan senyawa bioaktif yang merupakan hasil metabolisme sekunder dari tanaman. Perumusan sistem agribisnis tumbuhan obat yang handal perlu dimulai dengan memadukan konsep panen biomassa dengan panen senyawa bioaktif. Data yang menghubungkan kehomogenan sifat fisik yang digabungkan dengan manajemen (sosial ekonomi) disebut juga dengan konsep bioregional.

Selama tiga dekade terakhir telah terjadi pertumbuhan pengobatan bahan alam yang cukup substansial di berbagai belahan dunia. Saat ini, 80 % populasi di negara berkembang menggunakan obat berbasis bahan alam untuk kebutuhan pelayanan kesehatan, dengan alasan pengobatan semacam ini tersedia secara luas dan mudah untuk mendapatkannya. WHO telah memprediksikan bahwa pada dekade yang akan datang, persentase yang sama dari penduduk dunia tetap akan menggunakan obat bahan alam. Pada banyak negara berkembang, penggunaan obat bahan alam didukung oleh efek samping dari obat bahan kimia, berikut semakin besarnya akses publik tentang informasi kesehatan. Saat ini, pengobatan berbasis tanaman memiliki pangsa pasar sekitar 30 % (WHO, 2005).

Obat dari bahan alam (tumbuhan) dapat disejajarkan dengan obat modern dengan melalui serangkaian pembuktian ilmiah melalui kajian komponen bioaktifnya. Menurut Puslitbang Biomedis dan Farmasi (2007), ada tiga kategori sediaan obat alami yang ditetapkan BPOM, yaitu jamu, herbal terstandar, dan

fitofarmaka. Jamu merupakan sediaan alami dengan bahan baku tanaman obat

dalam bentuk sederhana yang khasiat penggunaannya berdasarkan pada data atau

pengalaman empiris secara turun temurun. Herbal terstandar merupakan sediaan

obat alami yang telah terstandarsisasi dan lolos uji preklinik (uji khasiat dan

toksisitas pada hewan percobaan). Fitofarmaka merupakan sediaan alami dengan

bahan baku tanaman obat yang telah terstandardisasi dan lolos uji preklinis dan uji

klinis (pada pasien). Seperti halnya kulit kayu raru (sebutan untuk beberapa

(18)

dilakukan penelitian ilmiah untuk membuktikan pernyataan tersebut. Pengetahuan kandungan bioaktif akan meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat dari bahan alam di sarana pelayanan kesehatan.

Rumusan Masalah

Dalam rangka mencari sumber-sumber obat alami, diperlukan penelitian tentang kandungan bioaktif dari jenis tanaman hutan. Salah satu sumber tersebut adalah kulit kayu raru yang secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat anti diabetes (penurun kadar gula darah). Untuk itu, perlu dilakukan kajian ilmiah untuk membuktikan kearifan tradisional ini tentang khasiat obatnya.

Berdasarkan uraian diatas, yang menjadi rumusan permasalahan adalah bagaimana potensi senyawa yang terkandung dalam ekstrak beberapa jenis kulit kayu raru dan kemampuan ekstrak kulit kayu raru dalam menurunkan kadar gula darah.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah : a. Melakukan eksplorasi jenis-jenis raru.

b. Mengetahui kandungan bioaktif kulit kayu raru.

c. Mengetahui efek farmakologis ekstraktif kulit kayu raru terhadap penurunan kadar gula darah melalui inhibisi alfa glukosidase.

d. Mengisolasi dan mengidentifikasi komponen bioaktif yang berperan dalam penurunan kadar gula darah.

Hipotesis

a. Beberapa kulit kayu raru berpotensi sebagai sumber bahan bioaktif b. Ekstrak dari beberapa kulit kayu raru dapat menurunkan kadar gula darah

Manfaat Penelitian

a. Diperolehnya data dan informasi jenis-jenis raru.

b. Diperolehnya data dan infomasi tentang kandungan bioaktif dalam kulit kayu raru.

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Etnobotani

Etnobotani merupakan ilmu botani mengenai pemanfaatan tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangsa. Studi etnobotani tidak hanya mengenai data botani taksonomis saja, tetapi juga menyangkut pengetahuan botani yang bersifat kedaerahan, berupa tinjauan interpretasi dan asosiasi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan tumbuhan, serta menyangkut pemanfaatan tumbuhan tersebut lebih diutamakan untuk kepentingan budaya dan kelestarian sumber daya alam (Darmono, 2007). Ahli etnobotani bertugas mendokumentasikan dan menjelaskan hubungan kompleks antara budaya dan penggunaan tumbuhan dengan fokus utama pada bagaimana tumbuhan digunakan, dikelola, dan dipersepsikan pada berbagai lingkungan masyarakat, misalnya sebagai makanan, obat, praktik keagamaan, kosmetik, pewarna, tekstil, pakaian, konstruksi, alat, mata uang, sastra, ritual, serta kehidupan sosial. Penggunaan data tentang tumbuhan obat tradisional yang berasal dari hasil penyelidikan etnobotani merupakan salah satu cara yang efektif dalam menemukan bahan-bahan kimia baru dan berguna dalam pengobatan (Ersam, 2005). Raru sudah dikenal secara luas oleh masyarakat Tapanuli sebagai campuran dalam minuman tuak. Pencampuran ini diyakini dapat mengawetkan dan meningkatkan kadar alkohol dari nira aren yang dikonsumsi sebagai minuman tradisional. Sebagian masyarakat Tapanuli juga mengenal kulit kayu raru ini sebagai obat diabetes.

Kulit Kayu Raru

(20)

jaringan-jaringan kayu terhadap kerusakan mekanik dan menjaganya dari organisme-organisme perusak kayu, variasi suhu dan kelembaban (Fengel dan Wagener, 1995). Menurut Haygreen dan Bowyer (1999) kulit kayu tersusun oleh bahan-bahan kimia diantaranya selulosa 23.7%, hemiselulosa 24.9%, lignin 50.0%, ekstraktif 13.0% dan abu 0.9%

Raru merupakan sebutan untuk jenis-jenis kulit kayu yang ditambahkan pada nira aren yang bertujuan untuk meningkatkan cita rasa dan kadar alkohol (Santiyo, 2006). Menurut laporan Balai Penyelidikan Kehutanan, 1954 disebutkan bahwa ada beberapa jenis kayu yang digolongkan sebagai kayu raru, antara lain Shorea maxwelliana King, Vatica songa V.Sl. dari famili dipterocarpaceae dan Garcinia sp. dari famili Guttifera. Penelitian Erika, 2005 menyebutkan bahwa jenis Shorea faguetiana Heim. termasuk juga sumber kulit raru. Penelitian Pasaribu, et.al. (2007) menemukan bahwa salah satu kulit kayu raru yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Tengah diidentifikasi sebagai Cotylelobium melanoxylon Pierre. Lebih lanjut disebutkan bahwa jenis ini memiliki komponen kimia kayu berturut-turut adalah sebagai berikut : hemiselulosa 29,26%, alphaselulosa 37,35%, lignin 22,26% dan pentosan 17,31%. Selanjutnya kadar ekstraktif kayu raru yang larut dalam air dingin 3,19%, air panas 9,08%, alkohol benzene 1,76, NaOH 1% 19,27%.

(21)

Penambahan kulit raru pada tuak, dimaksudkan agar rasa dan alkoholnya cocok (Ikegami, 1997). Selanjutnya Soerianegara, (1987) menambahkan bahwa kulit digunakan oleh masyarakat lokal untuk mencegah buih pada nira aren dan untuk menghambat peragian pada minuman tuak.

Ekstraktif

Zat ekstraktif atau metabolit sekunder kayu meliputi sejumlah senyawa besar yang berbeda yang dapat diekstraksi dari kayu dengan pelarut netral baik yang polar maupun non-polar. Kandungan dan komposisi ekstraktif berbeda-beda diantara spesies kayu. Variasi ekstraktif juga dipengaruhi oleh tapak geografi dan musim (Fengel dan Wagener, 1995).

Zat ekstraktif merupakan bahan pengisi pada sel tanaman yang sebagian besar terdapat pada lumen kayu dan sebagian kecil pada dinding sel. Keberadaannya tidak merupakan ikatan kimia, hanya secara fisik saja di dalam dinding sel. Sifat ini mengakibatkan ekstraktif mudah sekali dilarutkan atau diekstraksi dengan menggunakan bahan pelarut netral atau air, etanol, metanol, aseton, etil asetat, eter, heksana, benzena dan lainnya.

Sjostrom (1995) dan Achmadi (1989) menyatakan bahwa secara kimiawi, zat ekstraktif kayu dapat digolongkan dalam tiga bagian, yaitu:

1. Komponen-komponen alifatik (lemak dan lilin)

Berbagai macam senyawa alifatik yang terdapat dalam resin seperti n-alkana, alkohol lemak, asam lemak, lemak (ester gliserol), lilin (ester dari alkohol), suberin (poliestolida). Kelompok alkana dan alkohol relatif sedikit, bersifat lipofilik dan mantap. Asam lemak umumnya terdapat sebagai ester dan merupakan komponen utama resin parenkim di dalam kayu daun jarum maupun kayu daun lebar. Ester dari alkohol lainnya, biasanya berupa alkohol alifatik atau terpenoid alami yang dikenal sebagai lilin.

2. Terpena dan terpenoid

(22)

(n=6), tetraterpena (n=8) dan politerpena (n>8). Terpena adalah hidrokarbon murni, sedangkan terpenoid mengandung gugus fungsi seperti hidroksil, karbonil, karboksil dan ester. Contoh dari terpenoid adalah poliprenol. Zat ekstraktif kayu daun jarum mengandung semua jenis terpena, dari monoterpena sampai tri dan tetraterpena, kecuali seskuiterpena yang tergolong sangat langka. Sedangkan pada kayu daun lebar mengandung terpena yang lebih tinggi, monoterpena ditemukan hanya pada kayu tropis saja (Sandermann, 1966 dalam Fengel dan Wagener, 1995). Terpena yang paling penting adalah α-pinena, β-pinena, dan limonena yang terdapat pada semua kayu daun jarum, camfena, mircena dan β-felandrena. Beberapa monoterpena merupakan unsur pokok oleoresin dari beberapa kayu tropika. Salah satu yang paling menonjol adalah kamfor dari Cinnamomum camphora.

3. Senyawaan fenolik

Golongan ini sangat heterogen, penggolongannya dibuat menurut lima kelas, yaitu a) tanin terhidrolisis, produk hidrolisisnya adalah asam galat dan elagat serta gula, biasanya glukosa sebagai produk utama, b) tanin terkondensasi (flavonoid), merupakan polifenol yang mempunyai rantai karbon C6C3C6, contohnya krisin dan taksifolin, c) lignan merupakan dimer

dari dua unit fenil propana (C6C3), contohnya konidendrin, pinoresinol dan

asam plikatat, d) stilbena (1,2-difeniletilena), mempunyai ikatan ganda terkonjugasi sehingga komponen-komponennya bersifat sangat reaktif, contohnya pinosilvin, e) tropolon; mempunyai kekhasan berupa cincin karbon beranggota tujuh yang tidak jenuh, contohnya α, β, dan τ-tujaplisin yang disolasi dari Thuja plicata.

Pemanfaatan Ekstraktif

Pemanfaatan zat ekstraktif sat ini sudah sangat luas yang dapat digolongkan berdasarkan penggunaannya antara lain:

(23)

pada kulit dan kayu dengan pelarut akan menghasilkan asam fenolat, terpen, lignan, lilin dan zat warna.

b.Sebagai bahan perekat. Penggunaan yang paling memberikan harapan saat ini dan dimasa depan adalah penggantian fenol dalam resin fenol-formaldehida untuk memproduksi papan komposit. Penggunaan tanin yang diekstraksi dari kulit kayu mulai berkembang penggunaannya pada industri perekatan. Sumber ekstrak tanin terutama dari jenis akasia.

c.Sebagai bahan pangan. Ekstraktif dari daun akan menghasilkan minyak atsiri, klorofil, karotenoid dan protein daun. Bagian dari daun terutama dari famili Leguminosae dengan proses pengeringan dan pelumatan dapat digunakan sebagai pakan ternak.

d.Sebagai bahan obat. Isolasi senyawa aktif dapat dilakukan pada berbagai bagian dari pohon. Seperti halnya isolasi flavonoid dihidrokuersetin dan kuersetin yang diekstrak dari kulit Douglas fir (Pseudotsuga menziesii) dan western larch (Larix occidentalis) kemungkinan besar cocok sebagai antioksidan (Fengel dan Wagner, 1995).

Pemanfaatan Ekstraktif sebagai Obat

Tumbuhan obat adalah semua tumbuhan baik yang sudah dibudidayakan maupun yang belum dibudidayakan yang dapat digunakan sebagai obat (Sandra dan Sjahril 1994). Pemanfaatan tumbuhan obat sudah banyak di Indonesia yang dikenal banyak dalam bentuk jamu-jamuan. Di sisi lain, pemanfaatan obat dari tumbuhan hutan belum banyak dilakukan, padahal potensi sumberdaya hutan sebagai sumber daya obat sangatlah tinggi.

Salah satu jenis tumbuhan hutan yang sudah dikenal luas pemanfaatannya adalah

Taxus brevifolia. Suwandi (2007) menyebutkan bahwa fungsi senyawa taxol dari Taxus brevifolia

adalah sebagai antikanker. Taxol merupakan senyawa toxoid yang mempunyai aktivitas antikanker. Selain itu, taxol juga memberi harapan sebagai antitumor yang lain seperti breast, head, neck, lung, colon

tumours. Taxol dikatakan merupakan antikanker yang lebih unggul dibanding dengan antikanker

lain, karena mempunyai mekanisme memblok pembelahan sel kanker. Saat ini kulit kayu pohon

Taxus brevifolia merupakan bahan baku resmi yang telah disetujui FDA. Taxol terutama

digunakan untuk ovarian cancer juga aktif terhadap platinium-resistant ovarian cancer yang

(24)

Tumbuhan dari famili Moraceae merupakan sumber utama senyawa flavonoida, aril-benzofuran, stilben tersubsitusi gugus isoprenil dan oksigenasi. Famili Clusiacea (Guttiferea) dikenal sebagai sumber senyawa santon, kumarin, benzofenon dan biflavonoid yang tersubstitusi gugus isoprenil oksigenasi. Beberapa keunggulan kimiawi tumbuhan tropika Indonesia, meliputi tiga spesies tumbuhan dari genus Artocarpus (Moraceae), yang terdapat di hutan tropika Sumatera Barat, yaitu Artocarpus bracteata dan Artocarpus dadah dan Artocarpus altilis asal Sri Lanka dan Taiwan sudah dilaporkan, sedangkan asal Indonesia belum pernah diteliti. Taksa ini dikenal sebagai sumber utama senyawa fenolat turunan flavonoida, aril-benzofuran, stilbenoid dan santon turunan flavonoida, terdiri dari 40 genus dan tidak kurang dari 3000 spesies, dari sejumlah senyawa yang dihasilkan mempunyai aktivitas biologi, sebagai promotor antitumor, antibakteri, antifungal, antiimflamatori, antikanker dan lain-lain. Keragaman kimiawi yang dihasilkan oleh ketiga spesies tersebut, seperti berikut ini; Artocarpus dadah, dari spesies ini telah ditemukan dua kelompok utama yang lazim, yaitu kelompok non-fenolat terdiri dari tiga turunan triterpenoid, yakni lupeol, lupeol asetat dan β-sitosterol dan dari kelompok fenolat yang termasuk turunan turunan flavan-3-ol, yaitu afzelekin-3-O-α-L-ramnosida. Afinitas kimiawi tumbuhan yang dilaporkan dari Artocarpus dadah termasuk kelompok langka dari tumbuhan genus Artocarpus yang dikenal sebagai sumber utama senyawa flavon di atau tri-oksigenasi dan terisoprenilasi pada posisi C-3, sebaran senyawa seperti pada Artocarpus dadah.

(25)

aktivitas antifungi terkuat terhadap Candida albicans dengan konsentrasi hambat minimum 1%.

Wen, et.al (2004) menyatakan bahwa ekstrak etanol dari kulit Cryptomeria japonica D. Don menunjukkan aktivitas antibakteri yang baik. Sembilan senyawa mencakup tujuh diterpenoids (ferruginol, asam isopimaric, iguestol, isopimarol, phyllocladan-16α-ol, sandaracopimarol dan sugiol) dan dua steroid (β-sitosterol dan β-sitostenone) telah diisolasi dengan HPLC dari subfraksi aktif dari fraksi larut hexan. Enam senyawa memperlihatkan antibakteri aktivitas sempurna; kemampuan mereka mengurangi aktivitas bakteri sebagai berikut: ferruginol> asam isopimaric> sugiol> sandara copimarol> iguestol> isopimarol. Ferruginol memiliki aktivitas antibakteri yang paling kuat di dalam semua senyawa.

Pemanfaatan Ekstraktif sebagai Antidiabetes

Senyawa aktif alkaloid dan flavonoid memiliki aktivitas hipoglikemik atau penurun kadar gula darah. Sedangkan senyawa tanin dan saponin dapat dipakai sebagai antimikroba (bakteri dan virus). Seperti halnya mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), bijinya mengandung saponin dan flavonoid yang bisa digunakan sebagai obat hipertensi dan diabetes (Dalimartha, 2001).

Kulit kayu pulai (Alstonia scholaris) mengandung alkaloid ditanin, ekitamin (ditamin), ekitanin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin dan triterpen. Daun mengandung pikrinin. Sedangkan bunga pulai mengandung asam ursolat dan lupeol. Ekstrak kulit kayu ini memiliki aktivitas antihiperglikemia yang baik. Kulit kayu dikeringkan dengan cara dijemur atau pemanasan (Dalimartha, 2001).

(26)

Pada penelitian Ragavan dan Krishnakumari (2006), tentang pengaruh ekstrak kulit batang Terminalia arjuna menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari kulit batang secara nyata dapat menurunkan glukosa darah tikus dari 302,62±22,35 menjadi 82,50 ±4,72 dan menurunkan aktivitas glukosa-6-phosfat, fruktosa-1, 6-disphospatase, aldosa dan meningkatkan aktivitas kultur phospoglukoisomerase dan heksokinase.

Hasil penelitian Sokeng, et.al (2005) tentang pengaruh ekstrak etanol kulit batang Bridelia ndellensis menyebutkan bahwa tidak ada efek hiperglikemik pada tikus setelah perlakuan. Akan tetap ekstrak dari fraksi etilasetat-disklorometan berpengaruh nyata dalam menurunkan glukosa darah tikus.

Diabetes

Diabetes melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. Kadar gula darah berhubungan dengan kemampuan pankreas dalam memproduksi insulin yang berfungsi mengubah glukosa menjadi glikogen. Diabetes atau kencing manis sering disebut sebagai penyakit akibat kelainan hormon ini, akibatnya tubuh menjadi tidak dapat menyerap glukosa dari darah (Hembing, 2005).

(27)

menjadi diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes dalam kehamilan, dan diabetes tipe lain (Widijanti A. dan Bernard T.R. 2008).

1. Diabetes Tipe 1, atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel β pankreas (reaksi autoimun). Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80-90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan sel beta ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai antibodi yang menunjukkan adanya proses autoimun, dan sebagian kecil tidak terjadi proses autoimun. Kondisi ini digolongkan sebagai type 1 idiopathic. Sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, tetapi usia tidak termasuk kriteria untuk klasifikasi.

2. Diabetes tipe 2 merupakan 90% dari kasus DM yang dulu dikenal sebagai non insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di jaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel beta. Akibatnya, pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin resistance. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif. Gejala minimal dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini, yang umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. Kadar insulin bisa normal, rendah, maupun tinggi, sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin.

3. DM dan kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus - GDM) adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistance (ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia). Faktor risiko GDM: riwayat keluarga DM, kegemukan, dan glikosuria. GDM ini meningkatkan morbiditas neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. Frekuensi GDM kira-kira 3-5% dan para ibu tersebut meningkat resikonya untuk menjadi DM di masa mendatang.

(28)

Enzim α-glukosidase memiliki nama kimia α-D-glukosida glukohidrolase merupakan enzim yang berperan dalam pembentukan glukosa di dalam usus halus manusia. Enzim ini membantu dalam pemecahan rantai polisakarida pada ikatan

α(1-6) pada setiap titik percabangan yang tidak dapat dipecahkan oleh enzim fosforilase. Produk dari aktivitas enzim ini adalah polimer (α1-4) tak bercabang dan satu glukosa. Reaksi ini terjadi setelah aktivitas glikogen phosporilase dan glikogen transferase terjadi.

Perkembangan yang terus meningkat pada ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dunia biokimia dan kedokteran, memberikan dampak pada penemuan senyawa baru yang dapat menghambat α-glikosidase secara tepat guna dan cepat. Senyawa ini disebut dengan inhibitor α-glukosidase (IAG), yang mempunyai aplikasi yang sangat luas, seperti informasi mekanisme kerja enzim α-glikosidase. Hal ini dapat terjadi karena bentuk dan fungsi senyawa IAG yang mirip terhadap enzim α-glukosidase. Dalam dua dekade ini telah banyak dilakukan penelitian untuk mencari dan mengembangkan inhibitor α-glukosidase. Saat ini telah dilaporkan banyak inhibitor α-glukosidase yang baru dan efektif, seperti acarbose dan voglibose dari mikroorganisme serta 1-deoxynojirimycin dari tanaman (Asano et al. 1995 dalam Liu,2006).

(29)

BAHAN DAN METODE

Waktu Dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2008-Juni 2009:

1.Laboratorium Pengolahan dan Pemanfaatan Hasil Hutan, BPK Aek Nauli. 2.Laboratorium Kimia Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB.

3.Laboratorium Uji Biofarmaka, Pusat Studi Biofarmaka IPB, Taman Kencana Bogor.

4.Laboratorium Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuaan Indonesia, Serpong.

Bahan dan Alat

Bahan penelitian berupa 5 (lima) jenis kulit kayu raru yang diambil dari Kawasan Hutan Kabupaten Tapanuli Tengah adalah Cotylelobium melanoxylon Pierre, dari Kabupaten Simalungun adalah Shorea balanocarpoides Symington, dari Kabupaten Tapanuli Utara Cotylelobium lanceolatum Craib, dari Kabupaten Bengkalis adalah Cotylelobium melanoxylon Pierre dan dari Kabupaten Indragiri Hulu, Propinsi Riau adalah Vatica perakensis King. Bahan lain yang dibutuhkan antara lain : etanol, metanol, aquades, eter, NH4OH, NaOH, HCl, H2SO4, kertas

saring, anhidrida asetat, pereaksi Meyer, Dragendrof, Wagner, enzim α -glucosidase, acarbose (glucobay).

Peralatan yang diperlukan antara lain hammer mill, alat-alat gelas, alat-alat ekstraksi, rotary vacum evaporator, botol uji, pipet ukur, mikropipet, neraca analitik, inkubator, spektofotometer, KLT, coloumn flash chromatogaphy, Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GCMS) dan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) JNM ECA 500.

Metode Penelitian

Penyiapan bahan

(30)

Penelitian Etnobotani

Dilakukan penyelidikan tentang pemanfaatan kulit kayu raru di masyarakat sebagai obat dan bentuk pemanfaatan lainnya. Dilakukan juga penyelidikan tentang teknik pemanenannya melalui wawancara mendalam (depth interview) dan diskusi.

Ekstraksi

Kulit kayu digiling menggunakan hammer mill dan disaring untuk menghasilkan serbuk 40-60 mesh. Serbuk kulit kayu raru diekstraksi dengan dua teknik yakni secara maserasi (perendaman) dengan etanol 70% dan refluks (penggodokan) dengan pelarut air selama 3 jam pada suhu 1000C. Ekstrak kemudian disaring dan dipekatkan dengan rotary vacum evaporator (Lampiran 1).

Rendemen ekstrak dihitung dengan rumus :

Rendemen = bobot ekstrak pekat (g) x 100% bobot sampel yg diekstrak (g)

Uji Inhibisi α-Glukosidase

Pengujian enzimatik dilakukan secara in-vitro pada ekstrak kasar dan fraksi-fraksi hasil pemisahan (Sutedja, 2003). Enzim yang digunakan adalah α -glukosidase (SIGMA G 3651-250UN).

Uji inhibisi α-glukosidase dilakukan dengan cara larutan enzim dibuat dengan melarutkan 1.0 mg α-glukosidase dalam buffer fosfat (pH 7.0) yang mengandung bovin serum albumin. Sebelum digunakan, sebanyak 1 mL larutan enzim tersebut diencerkan 25 kali dengan buffer fosfat (pH 7.0). Campuran reaksi terdiri dari 250 L p-nitrofenil α-D-glukopiranosa (SIGMA N 1377-5G) sebagai substrat, 490 L buffer fosfat (pH 7.0) dan 10 L larutan sampel dalam DMSO. Setelah campuran reaksi diinkubasi selama 5 menit, 250 L larutan enzim ditambahkan dan selanjutnya diinkubasi selama 15 menit. Reaksi enzim dihentikan dengan penambahan 1000 L natrium karbonat dan p-nitrofenol yang dihasilkan dibaca absorbansinya pada 400 nm.

(31)

2N kemudian disentrifus, selanjutnya supernatan digunakan untuk membuat larutan standar. Sistem reaksi pengujian selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Sistem reaksi pengujian

Blanko ( l) Kontrol (+) ( l) Kontrol (-) ( l) Sampel ( l)

Ekstrak - - 10 10

DMSO 10 10 - -

Buffer 490 490 490 490

Substrat 250 250 250 250

Inkubasi pada penangas air 370C selama 5 menit

Buffer 250 - 250 -

Enzim - 250 - 250

Inkubasi pada penangas air 370C selama 15 menit

Na2CO3 1000 1000 1000 1000

Persen inhibisi dapat dihitung dari persamaan: [(C – S)/ C] x 100%. Dengan S= absorbansi sampel (S1-S0 dengan S1= absorbansi sampel dengan

penambahan enzim dan S0= absorbansi sampel tanpa penambahan enzim) dan C=

absorbansi kontrol (DMSO), tanpa sampel (kontrol-blanko).

Uji Fitokimia Ekstrak

A. Uji alkaloid

Sebanyak 2 g contoh ditambah 10 ml kloroform dan beberapa tetes amoniak. Fraksi kloroform dengan cara menghisap fraksi kloroform perlahan-lahan dengan pipet tetes. Selanjutnya fraksi kloroform diasamkan dengan H2SO4

2M. Fraksi H2SO4 diambil kemudian ditambahkan pereaksi Meyer,

Dragendorf, Wagner. Jika terdapat endapan putih dengan pereaksi Meyer, endapan merah jingga dengan pereaksi Dragendorf dan endapan coklat dengan pereaksi Wagner, maka positif terdapat alkaloid.

B. Uji saponin

(32)

C. Uji flavonoid

Sebanyak 1 g contoh ditambah metanol sampai terendam lalu dipanaskan. Filtrat diuji pada spot plate. Jika setelah ditambahkan NaOH 10% (b/v) timbul warna merah, maka positif tedapat flavonoid.

D. Uji triterpenoid atau steroid

Sebanyak 2 g contoh ditambahkan 25 ml etanol lalu dipanaskan dan disaring. Filtrat diuapkan lalu ditambah eter. Lapisan eter dipipet dan diuji pada spot plate. Jika ditambahkan pereaksi Liberman Buchard (3 tetes) terbentuk warna merah/ungu, positif mengandung triterpenoid. Jika terbentuk warna hijau, maka positif mengandung steroid.

E. Uji tanin

Sebanyak 10 g contoh ditambah air, lalu dididihkan selama beberapa menit, kemudian disaring. Filtrat ditambah FeCl3 1% (b/v). Jika terbentuk warna

biru atau hitam kehijauan, maka positif mengandung tanin. F. Uji hidroquinon

Sebanyak 1 g contoh ditambah metanol sampai terendam lalu disaring. Kemudian ditambahkan NaOH sebanyak 1 tetes. Terbentuknya warna merah menunjukkan ekstrak positif mengandung hidroquinon.

Fraksinasi dan Identifikasi Senyawa

Fraksinasi dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolom kilas. Fraksinasi dimulai dengan mencari eluen (fase gerak) terbaik yang dapat memisahkan ekstrak kasar dengan menggunakan kromatogafi lapis tipis (KLT) analitik. Eluen dicoba dari mulai pelarut polar sampai non polar. Pemilihan eluen terbaik dilakukan dengan menggunakan pelat KLT aluminium silica gel GF254

dengan ukuran 1x10cm2, dengan jarak elusi sebesar 8.5 cm. Pelat KLT terlebih dahulu diaktifkan pada suhu 1050C selama 10 menit. Ekstrak pekat yang sudah dilarutkan dengan etanol 70% ditotolkan pada pelat KLT menggunakan eluen tunggal dan campuran. Eluen tunggal terdiri dari metanol, etanol, kloroform, diklorometana dan etil asetat.

(33)

Eluat dipisahkan berdasarkan volume retensi sebesar 5 ml. Dengan bantuan KLT fraksi-fraksi yang sama akan digabungkan. Fraksi-fraksi tersebut kemudian diuji aktivitas inhibisinya terhadap alfa glukosidase.

Untuk menjadikan fraksi menjadi satu spot yang terpisah, dilakukan kromatografi lapis tipis preparatif dengan fasa diam silica gel ukuran 20x20 cm dan fasa geraknya dengan pelarut metanol:kloroform dengan perbandingan 4:11.

Identifikasi dengan Spektroskopi UV-Vis

Identifikasi senyawa menggunakan spektrofotometer UV. Spektrum serapan diukur dalam larutan blanko yang sangat encer dengan pembanding blanko pelarut serta menggunakan spektrofotometer yang dapat merekam secara otomatis. Pelarut yang digunakan dalam pengukuran adalah etanol. Senyawa dalam sampel diukur pada panjang gelombang 200-400 nm.

Identifikasi dengan FTIR

Contoh dalam bentuk serbuk sebanyak ± 2 mg dihaluskan bersamaan dengan 0.198 gram KBr dalam mortal agate. Setelah dihaluskan dan bercampur maka serbuk ini dimasukkan ke dalam alat pencetak pelat KBr kemudian ditekan sehingga diperoleh serbuk lempeng yang transparan. Lalu, dimasukkan ke dalam spektrofotometer IR. Spektrum yang muncul biasanya digambarkan dalam bentuk kurva transmitan dengan bilangan gelombang.

Identifikasi dengan GCMS

(34)

Identifikasi dengan NMR

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Eksplorasi dan Etnobotani Raru

Jenis pohon raru tersebar secara endemik di Pulau Sumatra. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan di dua propinsi, Sumatera Utara dan Riau meliputi 5 (lima) kabupaten antara lain Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Simalungun, Bengkalis dan Indragiri Hulu yang merupakan sentra penghasil kulit raru.

Kegiatan eksplorasi pertama dilakukan pada Kawasan Hutan Lindung Register 13 (Lokasi : Siksikan) Desa Sipan Kecamatan Sarudik Kabupaten Tapanuli Tengah yang berada pada ketinggian ± 400 mdpl. Berdasarkan informasi dari masyarakat (Nababan dan Sianturi 14 Juli 2008, komunikasi pribadi) diketahui bahwa masyarakat memanfaatkan kayu untuk tiang rumah, perkapalan/pelabuhan. Selain itu secara etnobotani, masyarakat memanfaatkan kulit kayu raru sebagai obat diabetes dengan berbagai racikan seperti di bawah ini: a.Kulit raru direbus, airnya dicampur madu, kumis kucing dan sambiloto untuk

obat diabetes.

b.Kulit raru panjang 30 cm; lebar 5 cm direbus dengan air 1 liter. Direbus sampai airnya sisa ½ liter (direbus tanpa penutup), terjadi warna coklat pekat.

Dari hasil identifikasi jenis yang dilakukan di Herbarium Bogoriense, diketahui bahwa jenis kayu raru di daerah ini adalah Cotylelobium melanoxylon Pierre. Di masyarakat pedagang kulit raru, diketahui bahwa kulit raru yang terbaik untuk campuran tuak diperoleh dari daerah ini.

(36)

Eksplorasi ketiga dilakukan pada hutan rakyat, Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara yang berada pada ketinggian ± 800 mdpl. Berdasarkan wawancara dengan salah seorang narasumber (Aritonang 7 Agustus 2008, komunikasi pribadi), diketahui bahwa raru digunakan sebagai obat penyakit gula/diabetes. Cara masyarakat memanfaatkan kulit raru sebagai obat adalah dengan cara merebus beberapa gram kulit dan meminum filtratnya. Dari hasil identifikasi jenis yang dilakukan di Herbarium Bogoriense, diketahui bahwa jenis kayu raru di daerah ini adalah Cotylelobium lanceolatum Craib.

Eksplorasi keempat dilakukan pada kawasan hutan lindung kawasan CALTEX Duri, Kabupaten Bengkalis. Berada pada ketinggian 100 mdpl. Berdasarkan hasil wawancara masyarakat (Karna 14 Agustus 2008, komunikasi pribadi) diketahui informasi bahwa raru digunakan sebagai obat penyakit gula. Masyarakat merebus kulit raru untuk pemakaian obat. Dari hasil identifikasi jenis yang dilakukan di Herbarium Bogoriense, diketahui bahwa jenis kayu raru di daerah ini adalah Cotylelobium melanoxylon Pierre.

(a) (b) (c) (d) (e)

Gambar 2 Foto daun a) Cotylelobium melanoxylon Pierre; b) Shorea balanocarpoides Symington; c) Cotylelobium lanceolatum Craib d) Cotylelobium melanoxylon Pierre; e) Vatica perakensis King.

(37)

raru ini untuk tujuan pemakaian sebagai obat. Dari hasil identifikasi jenis yang dilakukan di Herbarium Bogoriense, diketahui bahwa jenis kayu raru di daerah ini adalah Vatica perakensis King.

Penyarian hasil eksplorasi kayu raru berdasarkan sampel herbarium yang diidentifikasi di Herbarium Bogoriense, LIPI Cibinong dan Bagian Botani Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Litbang Kehutanan disajikan pada Tabel 2 di bawah ini.

Resep 2 : kulit raru panjang 30 cm; lebar 5 cm direbus dengan air 1 liter. Direbus sampai

(38)

oligostilbenoid, senyawa ini terbentuk melalui kopling oksidatif antara radikal bebas stilben resveratol (E-3,5,4’-trihidroksi stilben) membentuk dimer, trimer sampai oktamer. Disamping itu, senyawa terpenoid, flavonoid, arilpropanoid dan turunan asam galat biasanya ditemukan dalam famili ini. Banyak diantara senyawa turunan oligostilben seperti disebut di atas memperlihatkan bioaktivitas yang seperti kemopreventif untuk kanker, antifungal, sitotoksik terhadap sel tumor, hepaprotektor, antiimflamasi, antibakteri dan anti HIV.

(39)

Cotylelobium

Dari 5 (lima) jenis raru hasil eksplorasi, difokuskan 3 (tiga) jenis kulit kayu raru sebagai bahan penelitian yaitu jenis Cotylelobium melanoxylon Pierre, Shorea balanocarpoides Symington, dan Vatica perakensis King. Penentuan jenis ini dilakukan berdasarkan perbedaan spesies yang mewakili masing-masing genus.

Metode ekstraksi yang dilakukan adalah dengan metode maserasi dengan dan metode refluks (Harborne, 1987). Metode maserasi dipilih dalam memisahkan senyawa-senyawa aktif kulit kayu raru selain berdasarkan pada efektivitas, kepraktisan, keamanan dan ekonomis dalam penggunaannya juga bertujuan untuk menghindari rusaknya senyawa-senyawa aktif yang tidak tahan dengan panas. Pemilihan pelarut etanol sebagai larutan pengekstrak dikarenakan etanol merupakan pelarut serbaguna yang baik untuk ekstrak pendahuluan. Metode ekstraksi lainnya yaitu refluks dipilih untuk melihat efektivitas metode penggodokan yang dilakukan masyarakat dengan hasil pengujian laboratoris.

Rendemen ekstrak dari 3 jenis raru dengan dua macam metode ekstraksi disajikan pada Gambar 3 di bawah ini. Metode ekstraksi maserasi digunakan untuk mengekstrak suatu komponen kimia yang tidak tahan panas.

(40)

Hasil ekstraksi dengan metode maserasi menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dari rendemen dengan metode refluks. Rendemen ekstrak dengan metode maserasi untuk jenis Shorea balanocarpoides, Vatica perakensis dan Cotylelobium melanoxylon berturut-turut adalah sebesar 14.93%, 12.76% dan 30.11%. Sementara rendemen dengan metode refluks untuk jenis Shorea balanocarpoides, Vatica perakensis dan Cotylelobium melanoxylon berturut-turut adalah sebesar 2.13%, 4.35% dan 4.35%.

Berdasarkan nilai rendemen yang diperoleh, diketahui bahwa metode ekstraksi dengan jenis pelarut yang berbeda mempengaruhi jumlah rendemen yang dihasilkan. Nilai rendemen dengan maserasi (etanol 70%) lebih tinggi daripada metode refluks (air). Etanol memiliki dua gugus yang berbeda kepolarannya yaitu gugus hidroksil yang bersifat polar dan gugus alkil yang bersifat non polar. Dengan adanya dua gugus ini diharapkan senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran yang berbeda akan terestrak ke dalam etanol. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa-senyawa yang terlarut dalam etanol 70% lebih banyak dari pelarut aquades.

Penapisan Fitokimia

Analisa fitokimia merupakan salah satu cara untuk mengetahui kandungan kualitatif senyawa metabolit sekunder dari suatu bahan alam. Golongan utama dari senyawa aktif ekstrak tumbuhan dapat diketahui melalui analisis ini. Dari masing-masing perlakuan dilakukan pengujian kualitatif fitokimia untuk mengetahui golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak kasar. Secara umum menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa golongan flavonoid, tanin dan saponin. Uji kualitatif fitokimia disajikan pada Tabel 3 di bawah ini.

(41)

Tabel 3 Hasil uji fitokimia ekstrak kulit kayu raru

Shorea Vatica Cotylelobium

Senyawa

Maserasi Refluks Maserasi Refluks Maserasi Refluks

Flavonoid +++ ++ ++ ++ ++ ++

Keterangan : (-): tidak terdeteksi; (+): positif ; (++): positif kuat; (+++): positif sangat kuat

Uji Inhibisi Alfa Glukosidase Ekstrak Kasar

Uji inhibisi terhadap enzim alfa glukosidase dilakukan untuk mengetahui aktivitas antihiperglikemik dari setiap ekstrak dan fraksi yang ada. Pada pengujian ini enzim alfa glukosidase akan menghidrolisis substrat p-nitrofenil-α

-D-glukopironosa menjadi p-nitrofenol yang berwarna kuning dan glukosa. Aktivitas enzim diukur berdasarkan absorbansi p-nitrofenol yang berwarna kuning. Dengan adanya ekstrak kulit kayu raru yang berperan sebagai inhibitor alfa glukosidase maka p-nitrofenol yang dihasilkan akan berkurang yang ditandai oleh berkurangnya intensitas warna kuning.

(42)

94.86 92.57 97.33

Jika dibandingkan dengan jenis inhibitor alfa glukosidase dari tumbuhan lain menunjukkan perbedaan aktivitas yang cukup signifikan. Seperti yang dilaporkan Subramanian, R., et.al (2008) yang melakukan pengujian aktivitas inhibisi alfa glukosidase terhadap Andrographis pianiculata dan andrographolide menunjukkan bahwa pada konsentrasi 62.5 mg/ml ekstrak Andrographis pianiculata memberikan inhibisi maksimal sebesar 89%. Inhibisi bervariasi dari 89-3.2% berturut-turut dari konsentrasi tertinggi sampai terendah dan selang 62.5-1.95 mg/ml. Andrographolide mampu menginhibisi 53.7-3.5% pada selang konsentrasi 10-1.25 mg/ml.

Fraksinasi

Salah satu dari jenis ekstrak kulit kayu raru dipilih sebagai fokus objek penelitian isolasi senyawa aktif. Jenis Shorea balanocarpoides Symington dengan metode maserasi dipilih karena beberapa pertimbangan antara lain dari aktivitas inhibisi alfa glukosidase yang paling tinggi dan dengan metode maserasi menghasilkan rendemen tertinggi serta kualitatif fitokimianya yang lebih baik.

(43)

dimaksud meliputi pencarian pelarut tunggal dan campuran. Pemilihan pelarut campuran didasarkan pada studi literatur yang dapat memisahkan saponin dan flavonoid. Fasa diam KLT menggunakan silica gel GF254 dan fasa geraknya

dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error). Dari beberapa percobaan yang dilakukan, pelarut yang memisahkan senyawa dengan spot-spot terpisah dengan baik adalah pelarut campuran metanol dan kloroform dengan perbandingan 4:11. Pola pemisahan ini dapat dilihat pada Gambar 5 di bawah ini.

Gambar 5 Kromatografi lapis tipis dengan variasi campuran pelarut pengembang.

Setelah fase gerak terbaik ditemukan, kemudian dilakukan pemisahan dengan kromatografi kolom kilas (flash chromatography). Fasa diam yang digunakan adalah silica gel yang bersifat polar dan fase gerak yang digunakan adalah metanol : kloroform dengan perbandingan 4:11. Laju alir yang digunakan adalah laju alir sedang yaitu 2.5 ml/menit dengan suhu berkisar 27-28oC. Sampel sebanyak 5 g dilarutkan terlebih dahulu menggunakan etanol 70% kemudian diinjek sebesar 5 mL. Elusi yang digunakan dalam fraksinasi ini adalah elusi isokratik. Elusi ini digunakan karena untuk menghemat pelarut dan waktu.

MeOH:CHCl3 1: 11

MeOH:CHCl3 3: 11

MeOH:CHCl3 4: 11

MeOH:CHCl3 5: 11

MeOH:CHCl3 5: 12

(44)

Tekanan udara yang dihasilkan oleh sistem pompa meningkatkan laju eluen dalam proses elusi sampel. Mekanisme partisi solut di antara eluen dan fase diam menjadi lebih cepat sehingga waktu pemisahan lebih cepat. Eluat dari colomnflash chromatography dipisahkan berdasarkan volume retensi senilai 5 ml. Proses elusi dihentikan ketika fraksi terakhir sudah menunjukkan warna yang sama dengan warna fraksi awal. Hasil fraksinasi yang diperoleh adalah 313 vial. Kemudian dilakukan penggabungan berdasarkan kesamaan Rf dan pola KLT. Diperoleh 16 fraksi (Tabel 4) yang kemudian dipekatkan dengan vacum rotary evaporator. Fraksi-fraksi yang diperoleh diuapkan kemudian dikarakterisasi keberadaan kristalnya.

Tabel 4 Penggabungan dalam fraksi-fraksi

Fraksi Tabung Berat (g) Jumlah spot Rf

(45)

97.05 96.34 96.14

Glucobay Fraksi 1 Fraksi 2 Fraksi 3 Fraksi 4 Fraksi 5

A

Hasil pengujian inhibisi alfa glukosidase fraksi-fraksi menunjukkan persen yang baik antara 83.13-99.39 % seperti yang disajikan pada Gambar 6 di bawah ini.

Gambar 6 Persen inhibisi alfa glukosidase fraksi Shorea

Dari hasil KLTp terhadap Rf target yaitu 0.40, 0.54, 0.67 dan 0.87 dilakukan pengujian aktivitas inhibisi alfa glukosidase. Hasil pengujian aktivitas inhibisi alfa glukosidase ke 4 sub fraksi tersebut ditunjukkan pada Tabel 6 di bawah ini.

Tabel 5 Aktivitas inhibisi alfa glukosidase Rf target

(46)

Berdasarkan nilai aktivitas inhibisi alfa glukosidase, diperoleh persentase inhibisi terbesar adalah pada Rf 0.40. Akan tetapi karena persentase beratnya yang terlalu kecil, ditetapkan untuk objek karakterisasi adalah Rf 0.54 yang memiliki berat yang cukup dan persen inhibisi yang tinggi juga (97.08%).

Dari hasil pengujian aktivitas inhibisi alfa glukosidase terhadap ke-5 fraksi tersebut, selanjutnya dilakukan penggabungan subfraksi dari fraksi 1,2,3 dan 5 berdasarkan nilai Rf 0.4, 0.54, 0.67 dan 0.87. Pemisahan senyawa ini dilakukan menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif (KLTp) silica gel F254 ukuran

20x20 cm. Data kuantitatif dari tiap subfraksi disajikan pada Tabel 6 di bawah ini. Dengan menggunakan KLTp ukuran 20x20 dilakukan penotolan dengan LINOMAT untuk tiap-tiap fraksi. Setelah dilakukan running tiap fraksi, dilakukan pengerukan (pemisahan pita) berdasarkan nilai Rf. Diperoleh 4 kelompok berdasarkan Rf yaitu kelompok Rf 0.40; 0.54; 0.67 dan 0.86. Kemudian hasil kerukan dilarutkan dalam Etanol 70% dan dipisahkan selanjutnya antara silica dengan ekstrak. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan kertas saring untuk memisahkan filtrat dengan silica. Kemudian filtrat dipekatkan dengan rotavapor dan dicek kembali Rf masing-masing sub fraksi dengan KLT analitik.

Tabel 6 Pengecekan nilai Rf dari KLTp

No Rf pita Jumlah pot Rf KLT Berat (mg)

1 0.40 1 0.40 8.2

2 0.54 1 0.54 35.4

3 0.67 1 0.67 7.7

4 0.87 1 0.87 11.9

(47)

asam valoneat dilactone dan gallagyldilactone menunjukkan bahwa sifat mencegah 5 α - reductase tidaklah kompetitif melawan substrat (testosterone) dan secara parsial kompetitif melawan kofaktor (NADPH). Sebagai tambahan, analisa penghambatan dari asam valoneat dilactone dan NADP+ menunjukkan inhibisi sinergis. Hasil ini mengusulkan bahwa baik asam valoneat dilacton maupun gallagyldilactone dapat mempengaruhi ikatan testosterone tetapi senyawanya dapat berinteraksi dengan enzyme-NADP+ kompleks untuk menginhibisi menghalangi 5 α - reductase.

Karakterisasi Senyawa Kimia

Karakterisasi dengan KLT Analitik dan KLT Dua Arah

Hasil karakterisasi dengan KLT analitik menunjukkan bahwa pada plat KLT terdapat satu spot pada Rf 0.54. Untuk melihat kemurnian dari senyawa yang diperoleh, dilakukan karekterisasi KLT analitik dua arah. Analisa yang dilakukan dengan menggunakan larutan pengembang metanol : kloroform (4:11) pada elusi pertama dan metanol : kloroform (5:12) pada elusi kedua.

Hasil KLT dengan peningkatan kepolaran dari larutan pengembang menghasilkan spot tunggal. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa yang diisolasi sudah cukup murni, walaupun masih terlihat spot yang agak besar.

Karakterisasi dengan Spektrofotomeri UV-Vis

(48)

Panjang gelombang

Gambar 7 Spektrum serapan senyawa tunggal dalam etanol p.a., pada spektofotometer UV-Vis (λ=200-400 nm; A=0.00-0.50).

Karakterisasi dengan Spektrofotomeri FTIR

(49)

Gambar 8 Spektrum FTIR senyawa.

Tabel 7 Prakiraan spektrum infra merah dari senyawa

Bilangan gelombang (cm-1) Literatur * Gugus

3366 3200-3600 -OH (alkohol, fenol)

2931 2850-2960 C-H (alifatik)

1451-1612 1450-1600 C=C (aromatik)

1385 1350-1470 C-H (alkana)

1196 1080-1300 C-O (alkohol)

655-694 675-870 C-H (aromatik)

*) Sumber : Fessenden & Fessenden J.S. (1986)

Dari hasil penelusuran dengan literatur, bahwa senyawa diduga memiliki gugus –OH, C-H, C=C, C-O dan C-H aromatik. Spektrum pada puncak serapan 3366 cm-1 menunjukkan senyawa mempunyai gugus fungsi –OH yang dapat berikatan hidrogen antar molekul. Serapan pada 2931 cm-1 menunjukkan adanya uluran C-H sedangkan tekukan C-H terdapat pada 655-696 cm-1. Uluran C=C terlihat pada serapan 1451-1612 cm-1 sementara uluran C-O terdeteksi pada puncak 1196 cm-1.

Fenil -OH

C-H alifatik

C=C

C-H C-O

(50)

Karakterisasi dengan GCMS dan NMR

Identifikasi struktur senyawa dilakukan dengan dengan spektrometri resonansi magnetik inti untuk hidrogen (H-NMR) dan resonansi magnetik inti karbon (C-NMR). Untuk mengetahui bobot molekul dari senyawa, dilakukan spektrometri GCMS. Dari hasil spektroskopi dengan GCMS, diketahui bahwa terdapat adanya dua peak (Gambar 9) yang sangat berdekatan (peak 15.76 dan 15.89). Diketahui bahwa senyawa belum murni dimana pada peak 15.76 terdapat beberapa campuran berat molekul 183 dan 390, sementara pada peak 15.89 terdapat beberapa campuran berat molekul 390 dan 183. Dengan mengacu pada Dictionary of Natural Products Database diketahui bahwa berat molekul 390 memiliki kemiripan struktur dengan petunjuk awal spektroskopi yaitu mengandung gugus aromatik dan glikosida.

15.00 15.20 15.40 15.60 15.80 16.00 16.20 16.40 16.60 16.80 17.00 17.20

100000

Gambar 9 Spektrum GCMS senyawa.

(51)

Karakterisasi dengan NMR

Pengecekan pergeseran kimia dilakukan pada H dan C NMR (Lampiran 5 dan Lampiran 6). Pola pergeseran yang dikarakterisasi diduga dari peak 15.89 pada berat molekul 390. Pergeseran ini memiliki kemiripan dengan pergeseran yang ditentukan berdasarkan prediksi menggunakan software Chem Draw Ultra 10.

Hasil spektrometri 1H-NMR menunjukkan adanya pergeseran pada puncak-puncak δH (ppm) 3,31 (doblet), 3,79 (quartet), 5,03 (doblet), 6,22 (doblet),

6,4 (doblet), 6,51 (doblet), 6,74 (doblet), 6,94 (doblet), 6,72 (doblet), 7,5 (doblet). Spektrometri 13C-NMR menunjukkan pergeseran kimia δC (ppm) 48,92 -216,71

ppm. NMR karbon ini mengindikasikan adanya gugus benzen (aromatik) pada geseran kimia 156,40 -159,19, gugus C-O pada geseran kimia 71,81-78,09 dan gugus CH3 pada geseran kimia 48,98.

Hasil spektroskopi 13C dan 1H NMR serta GCMS menunjukkan bahwa kuat dugaan senyawa adalah senyawa 4-Glucosyl-3,4',5-trihydroxystilbene atau 2--D-Glucopyranosyl-5-[2-(4-hydroxyphenyl)ethenyl]-1,3-benzenediol atau 4-C--D-Glucopyrano sylresveratrol atau Resveratrol 4-C-glucoside dengan berat molekul sebesar 390.389. Rumus molekulnya adalah C20H22O8. Struktur

molekul senyawa dugaan tersebut ditunjukkan pada Gambar 10 di bawah ini.

H O

O

O H O H

H O H O

O H

O H

(52)

Nanik (2008) melaporkan hasil penelitian tentang Shorea pinanga yang merupakan salah satu spesies dari genus Shorea yang telah diteliti sebagian, yaitu kayu batangnya. Dari kayu batang tersebut dilaporkan empat senyawa oligoresveratrol, yaitu: a-viniferin, laevifonol, ampelopsin A, dan (-)-hopeafenol. Dua senyawa yaitu (-)-a-viniferin dan (-)-hopeafenol menunjukkan aktivitas yang lemah terhadap benur udang Artemisia salina dan sel Murine leukimia P-388. Sedangkan kulit batang tanaman ini belum pernah dilaporkan kandungan senyawa oligoresveratrolnya.

Saroyobudiono, et.al. (2008) melaporkan derivat oligostilbenoid yang baru dari Shorea gibbosa yaitu diptoindonesin F (1), bersama lima yang sudah diketahui, oligostilbenoids, (−)-ampelopsin A (2), (−)-α-viniferin (3), ampelopsin E (4), (−)-vaticanol B (5), and (−)-hemsleyanol D (6), diisolasi dari ekstrak methanol dari bagian kulit kayu. Sruktur dari senyawa baru ditentukan berdasarkan data analisis spektroskopi, termasuk UV, IR, NMR 1-D dan 2-D, dan MS. Sifat sitotoksik dari senyawa oligostilbenoid sudah diuji aktivitas melawan sel murine leukemia P-388 dengan hasil bahwa seyawa 2 dan 4 menunjukkan sitotoksik yang terbaik.

(53)

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Dari hasil penelitian ini diperoleh beberapa kesimpulan yaitu :

1. Eksplorasi jenis raru di Sumatera Utara dan Riau diperoleh 4 (empat) jenis raru antara lain Cotylelobium melanoxylon Pierre, Shorea balanocarpoides Symington, Cotylelobium lanceolatum Craib, dan Vatica perakensis King. 2. Hasil penapisan fitokimia secara umum menunjukkan bahwa ekstrak

mengandung senyawa golongan flavonoid, tanin dan saponin.

3. Aktivitas inhibisi kulit kayu raru berkisar antara 88-97 % dan inhibisi terbaik adalah dari jenis Shorea balanocarpoides. Aktivitas inhibisi glucobay sebesar 97%.

4. Hasil spektrum UV-Vis dari senyawa menunjukkan λ maks 288.6 nm dan spektrum infra merah mengindikasikan adanya gugus –OH, C-H, C=C, C-O dan C-H aromatik.

5. Dari hasil spektrometri GCMS diketahui adanya dua peak yang sangat berdekatan (peak 15.76 dan 15.89). Berat molekul senyawa adalah 390 dengan rumus molekulnya C20H22O8. Dari data ini dan bantuan H dan

C-NMR, diduga struktur senyawa aktifnya adalah senyawa 4-Glucosyl-3,4',5-trihydroxystilbene yang termasuk golongan fenolik.

Saran

1. Perlu dilakukan pemurnian lebih lanjut untuk memperoleh senyawa tunggal. 2. Perlu dilakukan pengujian secara in vivo untuk mengetahui aktivitas

(54)
(55)

Lampiran 1 Bagan Alir Penelitian

kuantitatif

Serbuk kulit kayu (40-60 mesh)

Maserasi etanol

Ekstrak kasar

Fraksinasi

Uji inhibisi

α-glukosidase

Pilih terbaik Screening 3 (tiga) jenis kulit kayu raru

Kromatografi Kolom Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi Lapis Tipis Preparatif

Kromatografi Dua Dimensi

Spektrofotometer UV, FTIR, GCMS dan NMR Uji inhibisi

α-glukosidase

Uji kualitatif fitokimia

Refluks air

Pemilihan eluen terbaik 1.59 g

11.23 g

75 g 75 g

Gambar

Gambar 1  Pohon raru (Cotylelobium melanoxylon Pierre).
Tabel 1  Sistem reaksi pengujian
Gambar 2  Foto daun a) Cotylelobium melanoxylon Pierre; b) Shorea balanocarpoides Symington; c) Cotylelobium lanceolatum Craib d)Cotylelobium melanoxylon Pierre; e) Vatica perakensis King
Tabel 2  Hasil eksplorasi
+7

Referensi

Dokumen terkait