--.--
- -- - ---o
Senin103
17
18
19
OJan
8Peb
8 Selasa
0
Rabu
0
Kamis0
Jumat
4
5
6
7
8
9
10
11
20
21
22
23
24
25
26
o
Mar OApr
OMei
OJun
OJul
0 Ags
o Sabtu 0 Minggu
12
13
14
15
16
27
28
29
30
31
OSep
OOkt
ONov
ODes
Pikiran Rakyat
Penilinpin Ideal Dalalll Nasl~ah Sunda
Oleh ELlS SURYANI N.S.
G
ONJANG-GANJING
yang melanda masyarakat berkenaan dengan kepemimpinan, layak untuk dicermati. Hal ini karena masalah kepemimpinan berkelin-dan dengan sifat, karak-ter, dan kebijakan "pim-pinan" dalarn menangani suatu masalah yang ter-jadi di masyarakat atau dalam suatu komunitas tertentu. Tulisan ini se-kadar mengungkapkan
sebagian "kearifan lokal" kepemimpin-an sebagaimkepemimpin-ana tertuang dalam nas-kah Sunda buhun abad 16 Masehi, khususnya yang menyangkut masalah tuntunan moral atau pedoman bagi pe-mimpin dalam melaksanakan tugas dan kepemimpinannya agar berhasil dan dicintai rakyat serta bawahannya.
Adalah naskah Sanghyang Hayu
yang merupakan naskah berbahan ni-pah abad XVI Maseru, beraksara Sunda
buhun, yang mengulas selain pedoman
hidup dan ajaran keagarnaan pada ma-. sanya, juga mengungkap tuntunan pe-rilaku bagi pemimpin ideal yang disega-ni, dihormati, serta dicintai rakyat atau bawahannya. Dalam naskah itu, dipa-parkan lima belas unsur penting yang harns dimiliki pemimpin, yang terang-kum ke dalarn lima kelompok, sebagai-mana dikemukakan Darsa (1998). (1)
Budi-guna- pradana (bijak-arif-saleh). (2)
Kaya-wak-cita(sehat,tktIat-bersab-da-hati. (3) Pratiwi-IJkasa-antara (bumi-angkasa-antara. (4)
Ma-ta-tutuk-talinga
(pengli- hatan-ucapan-pende-ngaran. (5)
Bayu-sabda-hedap
(energi-ucap-ani sabda .,itikad/kalbu
dan pikiran). Semuanya berhubungan satu sarna lain yang membangun sikap dan karakter pe-mimpin ideal.
Pemimpin yang baik dan ideal, menurut nas-kah Sanghyang Hayu,
juga harus berpegang teguh kepada prinsip astaguna "delapan kearifan" agar kepemimpinannya berjalan sela-ras, baik, dan harmonis. Pertama,
animan Oemah lembut), pemimpin
ha-rns memiliki sifat lemah lembut, dalarn arti tidak berperilaku kasar. Kedua,
ahiman (tegas), bersikap tegas, dalarn
pengertian tidak plin-plan (panceg
ha-t€). Ketiga, mahiman (berwawasan
lu-as), memiliki berbagai macam pengeta-huan dan berwawasan tinggi agar tidak .kalah dari bawahannya. Keempat,
la-giman (gesit/cekatan/terarnpil), ditun-tut terampil dan gesit serta cekatan da-lam bertindak atau melakukan suatu pekerjaan. Kelima, prapti (tepat sasar-an), memiliki ketajaman berpikir serta tepat sasaran karena jika keliru atau berspekulasi akan menghambat suatu pekerjaan. Keenam, prakamya (ulet/tekun), memiliki keuletan dan
ke-tekunan yang sangat tinggi. Ketujuh,
~
----...
isitna Gujur), dituntut memiliki
keju-juran, baik dalam perkataan, pemikir-an, maupun perbuatpemikir-an, agar dipercaya orang lain (rekan keIjafbisnisfperusa-haanfnegara lain) dan bawahannya. Den,gan demikian, teIjalin kesepaham-an ykesepaham-ang harroonis. Kedelapkesepaham-an, wasitwa (terbuka untuk dikritik), memiliki sikap
legowo dan bijaksana sehingga mau
menerima saran dan terbuka untuk di-kritikjika berbuat salah atau menyim-pang dari aturan (Darsa, 1998).
Naskah Sunda berbahan lontar ber-aksara dan berbahasa Sunda buhun
Sanghyang Siksakandang Karesian,
mengulas dan mengungkap sepuloo pe-doman yang harns dimiliki serta dilak-sanakan pemimpin dalam rangka mem-bina serta memimpin bawahannya, yang dikenal dengan sebutan dasa
pra-santa. Pertama, guna (bijaksanaf
keba-jikan), perintah yang diberikan dipaha-mi manfaat dan kegunaannya oleh ba-wahannya sehingga tidak teIjadi kesa-lahpahaman. Kedua, ramah (bertindak seperti orang tua yang bijak dan ramah atau bestari) atau keramahan men um-buhkan rasa nyaman dalam bekeIja dan beraktivitas. Ketiga, hook (sayang atau kagum), perintah dianggap sebagai re-presentasi kekaguman atas prestasi da-ri orang yang dipeda-rintahnya. Keempat,
pesok (memikat hati atau
reueusjbang-ga), harns mampu memikat hati bawah-annya dan merupakan kebanggaanjuga bagi bawahannya. Kelima, asih (kasih, sayang, ciota kasih, iba), perintah harns dilandasi dengan perasaan kemanusia-an ykemanusia-ang penOOgetarkemanusia-an kasih. Keenam,
karunya (ibafsayangfbelas kasih),
sebe-narnya hampir sarna dengan asih, teta-pi dalam karunyafkarunia periritah ha-
-- -
--rus terasa sebagai suatu kepercayaan. Ketujuh, mupreruk (membujuk dan menentramlqm hati), seyogianya mam-pu membujuk dan menentramkan hati dengan cara menumbOOkan semangat keIjanya. Kedelapan, ngulas (memuji di samping mengulas, mengoreksi), melalui cara bermacam-macam. Ke-sembilan, nyecep (membesarkan hati dan memberikan kata-kata pendingin yang menyejukkan hati). Kesepuluh,
ngala angen (mengambil hati), mampu
menarik hati dan simpati sehingga ter-sambung ikatan silaturahmi yang kental dan harmonis. Dasa Prasanta tersebut, apabila kita cermati, kaidahnya berpijak kepada kuantitas dan kualitas hubung-an hubung-antarmhubung-anusia, tetapi tidak dalam kondisi yang kaku dan otoriter. Proses komunikasinya tetap menggunakan asas silih asih, silih asah, dan silih asOO.
Kepemimpinan yang baik dan ideal menu rut kedua naskah itu ialah, pe-mimpin yang mampu berperan sebagai
leader, manager, entertainer, entre-preneur, commander, designer, dan teacher. Ini sebagaimana dikemuka-kan mantan Kapolwil Priangan yang kini menjabat Wakapolda Kalimantan Tengah, Anton Charliyan, dalam buku-nya Parigeuing (2009). Pemimpin yang memiliki ketujuh sifat itu, pada zaman dahulu, biasanya pemimpin yang sudah ngarajaresi, dan dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi (raja yang harum namanya). Hal ini karena raja sebagai pemimpin telah mampu memberdayakan serta menyejahtera-kan orang banyak. ***