1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkawinan merupakan sebuah media pemersatu dua insan dalam sebuah keluarga atau rumah tangga yang diakui secara resmi, baik dalam hukum agama maupun dalam hukum kenegaraan.
Perkawinan dengan segala aspeknya memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga sejak proklamasi kemerdekaan sampai sekarang, pemerintah Indonesia menaruh perhatian yang sangat besar terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perkawinan, terlihat dari banyaknya peraturan perundang- undangan yang dibuat untuk mengatur masalah seputar perkawinan.
Adapun peraturan perundang-undangan yang dimaksud adalah mulai dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan1 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 (selanjutnya disebut dengan “Undang-Undang Perkawinan”) berikut peraturan pelaksanaannya, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Di samping itu, terdapat pula aturan pelengkap yang sekaligus menjadi pedoman bagi para hakim di lembaga Peradilan Agama, yaitu Kompilasi Hukum Islam yang telah ditetapkan dan disebarluaskan melalui Intruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991.
1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 merupakan undang-undang pertama yang mencakup seluruh unsur-unsur dalam perkawinan dan perceraian. Lihat Abdul Halim Barkatullah dan Teguh Prasetyo, Hukum Islam Menjawab Tantangan Zaman yang Terus Berkembang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2006, hlm. 130.
2
Lebih lanjut, lahirnya Undang-Undang Perkawinan diharapkan akan dapat mewujudkan ketertiban perkawinan di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan adalah perihal pencatatan perkawinan, di mana ketentuan Pasal 2 ayat (2) mengatur bahwa
“Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Pencatatan perkawinan pasangan suami istri yang beragama Islam dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN) Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan setempat yang kemudian akan menerbitkan Akta Nikah atau Buku Nikah. Fungsi pencatatan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah pada Kantor Urusan Agama adalah dalam rangka menjamin ketertiban hukum (legal order)2 sebagai instrumen kepastian hukum dan kemudahan hukum, di samping sebagai bukti otentik tentang adanya suatu peristiwa perkawinan. Pencatatan perkawinan merupakan salah satu bentuk intervensi yang dilakukan oleh pemerintah atau Negara dalam rangka melindungi sekaligus menjamin terpenuhinya hak-hak sosial bagi setiap warga Negara, khususnya pasangan suami istri, serta anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut.3
2 Tioma R. Hariandja & Supianto, Efektivitas Pelaksanaan Isbat Nikah Terhadap Kepastian Hukum Status Perkawinan dan Hak Anak di Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember, Jurnal Rechtens, Vol. 5, No. 2, Desember 2016, hlm. 82-98.
3 Ahmad Sanusi, Pelaksanaan Isbat Nikah di Pengadilan Agama Pandeglang, Ahkam, Vol. XVI, No. 1, Januari 2016, hlm. 114.
3
Meskipun Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU- VIII/2010 tanggal 13 Februari 2012 menyatakan bahwa pencatatan perkawinan bukan merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan, melainkan hanya menjadi kewajiban administratif yang membuktikan terjadinya suatu perkawinan berdasarkan peraturan perundang-undangan, namun demikian pencatatan perkawinan menjadi penting dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hukum atas hak-hak yang timbul dari perkawinan.
Lebih lanjut, sebagaimana yang disampaikan oleh Bagir Manan4, bahwa pencatatan perkawinan adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan, namun tidak mengurangi keabsahan perkawinan itu sendiri.
Undang-Undang Perkawinan menentukan 2 (dua) asas legalitas yang berbeda sebagai dasar melakukan perkawinan, yaitu dasar sah suatu perkawinan dan syarat-syarat perkawinan. Lebih luas lagi, pencatatan perkawinan dimaksudkan agar negara dapat memberikan suatu perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan Hak Asasi Manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis.
Kendati telah diatur sedemikian rupa oleh negara, sampai saat ini masih banyak dijumpai pelanggaran-pelanggaran terkait hukum perkawinan yang secara sadar atau tidak sadar dilakukan oleh sebagian orang, terutama terhadap ketentuan tentang pencatatan perkawinan, yaitu dengan adanya perkawinan yang tidak tercatatkan.
4 Marwin, Pencatatan Perkawinan Dan Syarat Sah Perkawinan Dalam Tatanan Konstitusi, ASAS, Vol. 6, No. 2, Juli 2014, hlm. 108.
4
Hal ini, boleh jadi karena selama ini sebagian umat Islam masih ada yang memahami ketentuan perkawinan dari perspektif fikih sentris.
Menurut paham versi ini, perkawinan cukup apabila syarat dan rukunnya telah terpenuhi menurut ketentuan yang tertera dalam fiqih, tanpa harus melalui lembaga resmi, tanpa harus dicatat dan apalagi tidak perlu memakai akta nikah. Kondisi semacam ini telah dipraktekkan oleh sebagian masyarakat sejak lama bahkan sampai saat ini dengan menghidupkan gaya dan praktek perkawinan yang dikenal dengan nikah sirri tanpa melibatkan masyarakat dan petugas pencatat nikah sebagai petugas resmi suatu dari negara. Untuk itu, pernikahan perlu dilihat dari berbagai macam aspek dan unsur. Paling tidak ada tiga aspek/sisi yang mendasari pernikahan, yaitu agama, hukum dan sosial. Nikah yang disyariatkan dalam Islam mengandung ketiga aspek/sisi tadi. Pernikahan tidak bisa dilihat dari satu aspek/sisi saja, karena akan menyebabkan kepincangan.5
Perkawinan yang tidak tercatat merupakan perkawinan yang seringkali menimbulkan mudarat terhadap istri dan/atau anak.
Pasangan suami dan istri yang perkawinannya tidak tercatat tidak memiliki bukti otentik yang dapat melindungi hak-hak suami dan istri tersebut yang timbul dari perkawinan antara keduanya.6
5 A. Wasit Aulawi, Pernikahan Harus Melibatkan Masyarakat, Jurnal Dua Bulanan Mimbar Hukum, No. 28, September-Oktober 1996, hlm. 20.
6 Asrorun Ni‟am Sholeh, Fatwa-fatwa Masalah Pernikahan dan Keluarga, Jakarta:
eLSAS, 2008, hlm. 49.
5
Perkawinan yang tidak tercatat dapat menimbulkan sejumlah konsekuensi yuridis terhadap akibat-akibat perkawinan seperti hak- hak keperdataan, kewajiban pemberian nafkah dan hak waris.
Perkawinan tidak tercatat menyebabkan istri tidak diakui, sehingga ia tidak berhak atas nafkah dan waris. 7 Hal ini dikarenakan pencatatan perkawinan menjadi syarat formal untuk legalitas atas suatu peristiwa yang dapat mengakibatkan konsekuensi yuridis, baik dalam hak-hak keperdataan maupun kewajiban nafkah dan hak waris.
Salah satu upaya pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang perkawinannya tidak tercatat adalah dengan menghadirkan lembaga Isbat Nikah. Selain itu, pemanfaatan kebijakan hukum melalui prosedur permohonan Isbat Nikah bagi suami istri yang tidak melaksanakan perkawinan sesuai dengan peraturan perundang- undangan juga merupakan upaya untuk meningkatkan dampak positif hukum bagi masyarakat.8 Melalui Isbat Nikah, masyarakat dapat mencatatkan kembali perkawinannya yang telah dilangsungkan sebelumnya, yaitu perkawinan yang dilakukan hanya berdasarkan hukum Islam dan tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama setempat, yang lebih dikenal dengan nikah siri atau nikah di bawah tangan.9
7 Muhammad Zain, dkk, Membangun Keluarga Humanis, Jakarta: Graha Cipta, 2005, hlm. 39.
8 Cucu Solihah, Yuyun Yulianah, Hilman Nur dan Mumuh M. Rozi, Dampak Kebijakan Isbat Nikah Terhadap Perkawinan Siri Dan Campuran Di Kabupaten Cianjur, Jurnal Masalah-Masalah Hukum, Jilid 48, No. 4, Oktober 2019, hlm. 382.
9 Riswan Munthe & Sri Hidayani, Kajian Yuridis Permohonan Isbat Nikah pada Pengadilan Agama Medan, Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial, Vol. 9, No. 2, 2017, hlm.
121-132.
6
Kedudukan Isbat Nikah sendiri telah diakui dari sisi regulasi hukum, sebagaimana tertera dalam ketentuan Pasal 7 ayat (2) dan ayat (3) Kompilasi Hukum Islam, yang mengatur bahwa dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, maka dapat diajukan isbat nikahnya ke pengadilan agama. Isbat Nikah tersebut dapat diajukan atas beberapa alasan, di antaranya karena hilangnya akta nikah, atau karena terdapat keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan.10
Dengan diakuinya prosedur Isbat Nikah sebagai sarana untuk melakukan pencatatan perkawinan, perkara permohonan Isbat Nikah kemudian menjadi salah satu perkara yang banyak diajukan untuk diselesaikan di lembaga Peradilan Agama, termasuk di Pengadilan Agama Raha. Berdasarkan hasil penelusuran terhadap Laporan Tahunan Pengadilan Agama Raha periode Tahun 2018-2021, perkara terbanyak yang diterima di Pengadilan Agama Raha pada tahun 2018 adalah permohonan Isbat Nikah, yaitu sejumlah 358 perkara dari total perkara keseluruhan sebanyak 771 perkara, begitu pula pada tahun 2019 perkara permohonan Isbat Nikah menjadi perkara yang paling banyak diterima di Pengadilan Agama Raha, yaitu sejumlah 474 perkara dari total perkara keseluruhan berjumlah 990 perkara.
10 Khairuddin & Julianda, Pelaksanaan Itsbat Nikah Keliling dan Dampaknya terhadap Ketertiban Pencatatan Nikah (Studi Kasus di Kabupaten Bireuen), Samarah:
Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, Vol. 1, No. 2, Juli-Desember 2017, hlm. 319- 351.
7
Adapun pada tahun 2020, perkara permohonan Isbat Nikah yang diterima adalah yang terbanyak kedua setelah perkara Cerai Gugat (314 perkara), yaitu sejumlah 142 perkara, begitu pula pada tahun 2021 perkara permohonan Isbat Nikah menjadi perkara urutan kedua yang paling banyak diterima setelah perkara Cerai Gugat (428 perkara), yaitu sejumlah 211 perkara.11
Tingginya permohonan Isbat Nikah yang diterima di Pengadilan Agama Raha menunjukkan banyaknya perkawinan yang tidak tercatat di wilayah yurisdiksi Pengadilan Agama Raha, yaitu Kabupaten Muna, Kabupaten Muna Barat dan Buton Utara. Para pihak dalam perkara Isbat Nikah tersebut mengajukan permohonan untuk memperoleh penetapan/putusan pengadilan yang berisi pengesahan atas perkawinannya. Melalui penetapan/putusan pengadilan itulah, para pihak nantinya akan mendapatkan jaminan dan perlindungan hukum atas hak-hak timbul dari perkawinannya.
Namun demikian, masih berdasarkan hasil penelusuran terhadap Laporan Tahunan Pengadilan Agama Raha periode Tahun 2018-2021, ternyata tidak seluruh permohonan Isbat Nikah yang diajukan di Pengadilan Agama Raha kemudian berujung pada dikeluarkannya penetapan/putusan pengadilan yang menyatakan sah perkawinan yang telah dilangsungkan oleh para pihak berperkara.
11 Sumber: Laporan Tahunan Pengadilan Agama Raha Tahun 2018 - 2021.
8
Yang demikian terlihat dari adanya sejumlah permohonan Isbat Nikah yang dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima.
Berdasarkan uraian pemaparan tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pelaksanaan Isbat Nikah Terhadap Perkawinan Tidak Tercatat di Pengadilan Agama Raha.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah pelaksanaan pemberian putusan dan penetapan atas perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha?
2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan pemberian putusan dan penetapan atas perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis perihal faktor-faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima.
9 D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain:
1. Secara Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan hukum secara umum, dan secara khusus dalam pengembangan teori-teori hukum, dalil-dalil hukum serta asas-asas hukum di bidang perkawinan terkait pelaksanaan Isbat Nikah terhadap perkawinan yang tidak tercatat.
2. Secara Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat berkontribusi dalam pemecahan masalah (problem solving) atas kendala-kendala yang sering ditemukan di lapangan dalam pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya, serta peraturan lain yang berkaitan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi masyarakat Indonesia untuk mewujudkan suatu ketertiban perkawinan.
E. Orisinalitas Penelitian
1. Tesis dengan judul “Implementasi Aturan Pencatatan Nikah Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan di Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng”, oleh Fauziatul Munawwarah, Pascasarjana IAIN Parepare, Tahun 2019. Hasil penelitian tesis tersebut menyimpulkan terkait faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat tidak mencatatkan perkawinannya,
10
berikut alasan mengapa masyarakat ingin mencatatkan perkawinannya. Adanya upaya Kantor urusan Agama (KUA) dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencatatan perkawinan, begitu pula kebijakan administratif yang terjadi di KUA Kecamatan Marioriwawo dengan terlaksananya peran KUA dalam rangka menyampaikan kepada masyarakat dengan adanya Pencatatan Perkawinan sesuai aturan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Adapun perbedaan antara penelitian yang telah ada tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah bahwa penelitian sebelumnya fokus untuk mengkaji pengimplementasian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai Pencatatan Nikah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pencatatan nikah, serta kebijakan administratif yang dikakukan oleh KUA Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng dalam Pencatatan Nikah bagi masyarakat yang ingin melangsungkan pernikahan, sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis fokus mengkaji pelaksanaan pemberian putusan dan penetapan atas perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha, serta menganalisis perihal faktor-faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan perkara Isbat Nikah yang diajukan di Pengadilan Agama Raha dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima.
11
2. Tesis dengan judul “Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Dalam Menetapkan Perkara Isbat Nikah Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 (Studi Kasus Pengadilan Agama Masohi)”, oleh Harniansi Baharuddin, Pascasarjana IAIN Ambon, Tahun 2020. Hasil penelitian tesis tersebut menyimpulkan bahwa Hakim dalam pertimbangannya wajib untuk menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”. Hakim perlu meramu ratio legis dan mencari alasan atau konstruksi hukum untuk mempertimbangkan perkara isbat nikah di Pengadilan Agama Masohi dengan berpatokan pada beberapa pertimbangan, yaitu pertimbangan kemaslahatan, pertimbangan kepastian hukum bagi anak yang dilahirkan dari perkawinan, dan kepastian hukum status harta dalam perkawinan. Adapun perbedaan antara penelitian yang telah ada tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah bahwa penelitian sebelumnya fokus mengkaji pertimbangan hukum hakim dalam menetapkan perkara isbat nikah di Pengadilan Agama Masohi, sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis fokus mengkaji pelaksanaan pemberian putusan dan penetapan atas perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha, serta menganalisis perihal faktor-faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima.
12
3. Tesis dengan judul “Legalisasi Nikah Sirri pada Perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Palopo”, oleh Satriani Hasyim, Pascasarjana IAIN Parepare, Tahun 2021. Hasil dari penelitian tesis tersebut menyimpulkan bahwa: (1) Pernikahan yang dilaksanakan secara sirri, meskipun sah menurut ketentuan agama tetapi tidak tercatat, maka dalam perspektif hukum positif dianggap llegal dan tidak memiliki kekuatan hukum karena tidak memiliki bukti perkawinan yang sah. (2) Legalisasi nikah sirri melalui perkara isbat nikah di Pengadilan Agama Palopo yang dikabulkan hanya perkawinan yang dilaksanakan menurut ketentuan hukum Islam dan tidak terdapat halangan perkawinan menurut peraturan perundang- undangan maupun ketentuan hukum Islam. (3) Legalisasi nikah sirri melalui perkara isbat nikah berimplikasi terhadap status perkawinan yang dilangsungkan, di mana perkawinan tersebut kemudian telah mempunyai kekuatan hukum dan anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut mendapat pengakuan dari pemerintah atau negara, serta harta yang diperoleh sejak awal mula terjadinya perkawinan dapat dinyatakan sebagai harta bersama. Adapun perbedaan antara penelitian yang telah ada tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah bahwa penelitian sebelumnya fokus mengkaji eksistensi nikah sirri dalam sistem hukum positif di Indonesia, dan legalisasi nikah sirri melalui perkara isbat nikah di Pengadilan Agama Palopo serta implikasinya,
13
sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis fokus mengkaji pelaksanaan pemberian putusan dan penetapan atas perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha, serta menganalisis perihal faktor-faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan perkara Isbat Nikah di Pengadilan Agama Raha dinyatakan ditolak atau tidak dapat diterima.