SKRIPSI
TRADISI MATTAMMU BULUNG DI DESA BENTENG PAREMBA KECAMATAN LEMBANG
(STUDI MANAJEMEN DAKWAH)
OLEH JURANA NIM 18.3300.018
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE
2022 M/1444 H
ii
TRADISI MATTAMMU BULUNG DI DESA BENTENG PAREMBA KECAMATAN LEMBANG
(STUDI MANAJEMEN DAKWAH)
OLEH
JURANA NIM 18.3300.018
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Pada program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Parepare
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE
2022 M/1444 H
iii
TRADISI MATTAMMU BULUNG DI DESA BENTENG PAREMBA KECAMATAN LEMBANG
(STUDI MANAJEMEN DAKWAH)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai Gelar Sarana Sosial (S.Sos)
Program Studi Manajemen Dakwah
Disusun dan diajukan oleh
JURANA NIM: 18.3300.018
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PAREPARE
2022 M/1444 H
iv
PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING
Judul Skripsi : Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang (Studi Manajemen Dakwah)
Nama Mahasiwa : Jurana Nomor Induk Mahasiswa : 18.3300.018
Fakultas : Ushuluddin, Adab dan Dakwah Program Studi : Manajemen Dakwah
Dasar Penetapan Pembimbing : B-1768/In.39.7/PP.00.9/08/2021
Disetujui Oleh
Pembimbing Utama : Dr. Hj. Muliati, M.Ag NIP : 196012311991032004 Pembimbing Pendamping : Dr. Nurhikmah, M.Sos.I NIP : 198109072009012005
v SKRIPSI
TRADISI MATTAMMU BULUNG DI DESA BENTENG PAREMBA KECAMATAN LEMBANG
(STUDI MANAJEMEN DAKWAH)
Disusun dan diajukan oleh:
JURANA NIM: 18.3300.018
Telah dipertahankan di depan Sidang Ujian Munaqasyah Pada tanggal 22 November 2022
Dinyatakan telah memenuhi syarat Mengesahkan
Dosen Pembimbing
Pembimbing Utama : Dr. Hj. Muliati, M.Ag NIP : 196012311991032004 Pembimbing Pendamping : Dr. Nurhikmah, M.Sos.I NIP : 198109072009012005
vi
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI
Judul Skripsi : Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang (Studi Manajemen Dakwah)
Nama Mahasiwa : Jurana Nomor Induk Mahasiswa : 18.3300.018
Fakultas : Ushuluddin, Adab dan Dakwah Program Studi : Manajemen Dakwah
Dasar Penetapan Pembimbing : B-1768/In.39.7/PP.00.9/08/2021 Tanggal Kelulusan : 22 November 2022
Disahkan oleh Komisi Penguji
Dr. Hj. Muliati, M.Ag (Ketua) Dr. Nurhikmah, M.Sos.I (Sekretaris) Dr. Hj. Darmawati, S.Ag., M.Pd (Anggota) Dr. Muhiddin Bakri, Lc., M.Fil.I. (Anggota)
vii
KATA PENGANTAR
، ِم ْي ِح َّرلا ِن َم ْح َّرلا ِللها ِم ْسِب َس ِماَنَألْا ِرْيَخ ى َ
الَع ُمِ ل َس ُ
نَو ْيِ ل َصُنَو .ِم َ ال ْسِإل ْ
ا َو ِناَمْيِإل ْ
ا ِةَم ْعِنِب ا َنَمَعْن َ أ ْي ِذ َّ
لا ِللهِ ُد ْمَح ْ دَّمَح ُ ل
ُ اَن ِدِ ي
ُد ْعَباَّم َ
أ َنْي ِعَم ْج َ
أ ِهِب ْح َصَو ِهِل َ ا ى َ
ل َع َو
Alhamdulillah,Puji syukur atas kehadirat Allah swt.yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah pada setiap pencipta-Nya. sehinggah penulis dapat mnyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Baginda Nabi Agung Muhammad saw. Yang telah diutus ke bumi sebagai lantera bagi setiap manusia, serta membawa manusia dari zaman jahiliah menuju zaman yang penuh dengan pengetahuan yang luar biasa seperti sekarang ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Ibunda Jama dan Ayahanda Baharuddin tercinta dimana dengan pembinaan dan berkah doa tulusnyalah sehingga penulis mendapatkan kemudahan dalam setiap langkah dan urusan yang penulis lalui sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Bapak dan Ibu Dosen pembimbing dalam hal ini Ibu Dr. Hj. Muliati, M.Ag dan Dr. Nurhikmah, M.Sos.I selaku pembimbing pertama dan kedua, yang selama ini telah tulus dan ikhlas meluangkan waktunya untuk menuntun dan mengarahkan penulis, memberikan bimbingan dan pelajaran yang tiada ternilai harganya, Sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih.
Selanjutnya, penulis juga menyampaikan terima kasih kepada :
1. BapakDr. Hannani, M. Ag selaku Rektor IAIN Parepare yang telah bekerja keras mengelolah dan mengembangkan pendidikan di IAIN Parepare.
viii
2. Bapak Dr. A. Nurkidam, M.Hum selaku Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, Bapak Dr Iskandar, S.Ag. M.Sos.I selaku Wakil Dekan I Bidang AKKK, serta ibu Dr. Nurhikmah, M. Sos. Iselaku Wakil Dekan Bidang AUPK.
3. Bapak Muh. Taufik Syam, M.Sos selaku ketua Program Studi Manajemen Dakwah yang telah meluangkan waktu dan mendidik penulis selama belajar di IAIN Parepare, serta telah mengembangkan prodi tercinta ini.
4. Dr. Nurhikmah, M.Sos.ISelaku Dosen Penasehat Akademik, yang dari awal masuk di kampus IAIN Parepare ini selalu mengarahkan dan membimbing penulis dalam urusan akademik.
5. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu-persatu yang selama ini telah sabar dalam mendidik dan menyampaikan materi perkuliahan
6. Jajaran staf administrasi Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah yang telah banyak membantu mulai dari proses menjadi mahasiswa sampai keberbagai pengurusan untuk berkas penyelesaian studi.
7. Kepala perpustakaan IAIN Parepare beserta jajarannya yang telah memberikan pelayanan kepada penulis selama menjalani studi di IAIN Parepare, terutama dalam penyusunan skripsi ini.
8. Kepada Saudara/i penulis Basri, Bahar, Bakri, Dwi, Jum, dan adik saya linda yang selalu mengsuport, membantu penulis selama kuliah di IAIN Parepare.
9. Kepada teman seperjuanganku Hasriani, Ina Alfiani Uci dan Haswandi sebagai tempat bertukar pikiran dalam menyusun tiap kata, kalimat dari skripsi ini. Mursia yang telah membantu, mengarahkan tentang apa saja yang harus penulis lakukan, Hasnawati yang selalu membantu penulis selama pengurusan skripsi ini. Serta teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu Semoga Allah swt. dapat menilai kebaikan ini sebagai amal jariyah dan memberikan rahmat dan pahala-Nya.
ix
Penulis berharap semoga dengan adanya skripsi ini tidak hanya dapat memberikan manfaat bagi penulis tapi juga dapat bermanfaat bagi teman-teman para pembaca dalam menyusun, mencari rujukan bahkan dapat menambah ilmu pengetahuan kita.
Parepare, 07 Agustus 2022 Penulis
JURANA
NIM. 18.3300.018
x
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Mahasiswa yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Jurana
NIM : 18.3300.018
Tempat/Tgl. Lahir : Indoapping,10 Juli 2000 Program Studi : Manajemen Dakwah
Fakultas : Ushuluddin, Adab dan Dakwah
Judul Skripsi : Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang (Studi Manajemen Dakwah)
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar merupakan hasil karya saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Parepare, 07 Agustus 2022 Penyusun,
JURANA
NIM. 18.3300.018
xi ABSTRAK
Jurana, Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang
“Studi Manajemen Dakwah” (Dibimbing oleh Muliati dan Nurhikmah).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemaknaan tradisi Mattammu Bulungbagaimana pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung dalam penerapan fungsi Manajemen Dakwah serta pesan dakwah dalam tradisi Mattammu Bulung.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori Interaksi Simbolikdan teori Ilmu Dakwahdengan pendekatan anropologi, pendekatan Agama, pendekatan Manajemen Dakwah, pendekatan Sosiologi dan pendekatan Hermeneutika.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, denganstudi kasusManajemen Dakwah dan dalam mengumpulkan data menggunakan metode penelitian observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Mattammu Bulungpada prosesnya perluh dipersiapkan ayam merah dan ayam dengengyang nantinya akan dibaca dan dimakan bersama, juga ketupat kosong yang nantinya akan digunakan sebagai tanda bahwa pelaksanaan tradisi mattammu Bulung telah selesai dilaksanakan. Mattammu Bulung merupakan tradisi atau ajaran dari nenek moyang masyarakat Desa Benteng Paremba yang sampai saat ini masih mereka pertahankan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen yang mereka dapatkan. Pelaksanaan tadisi ini meskipun tidak terdapat dalam Al-qur‟an atau bahkan tidak diajarkan oleh Rasulullah saw. tetapi keberadaannya tidak dapat disalahkan karena dalam tata cara pelaksanaanya dapat dikatakan sesuai dengan ajaran Islam, hal ini dapat kita lihat pada pergesaran yang dilakukan masyarakat pada tradisi tersebut serta beberapa unsur pelaksanaannya yang tidak sama seperti dulu lagi, sehingga yang dulunya dipercayakan kepada puttado sekarang masyarakat mempercayakannya kepada tokoh agama atau guru dengan harapan bahwa melalui tokoh agama ungkapan rasa syukur mereka dapat tersampaikan kepada sang pencipta.
Kata Kunci : Tradisi Mattammu Bulung, Fungsi Manajemen Dakwah, Pesan Dakwah
xii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PENGUJI ... vi
KATA PENGANTAR... vii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... x
ABSTRAK ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xi
BAB IPENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Rumusan Masalah ...6
C. Tujuan Penelitian...7
D. Kegunaan Penelitian...7
BAB IITINJAUAN PUSTAKA...9
A. Tinjauan Peneletian Relevan ...9
B. Tinjauan Teori ...13
C. Kerangka Konseptual ...19
1. Tradisi ...18
2. Mattammu Bulung ...21
3. Studi Manajemen Dakwah ...24
D. Kerangka Pikir...33
BAB IIIMETODE PENELITIAN ...35
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian...35
B. Lokasi dan Waktu Penelitian...38
xiii
C. Gambaran Umum Penelitian ...39
D. Fokus Penelitian ...40
E. Jenis dan Sumber Data ...40
F. Teknik Pengumpulan Data dan Pengelolahan Data ...41
G. Uji Keabsahan Data...42
H. Teknik Analisis Data ...44
BAB IVHASIL PENELITIAN ...45
A. Pemaknaan Tradisi Mattammu Bulung ...45
B. Pelaksanaan Tradisi Mattammu Bulung ...50
C. Pesan Dakwah dalam Tradisi Mattammu Bulung ...59
BAB VPENUTUP...71
A. SIMPULAN ...71
B. SARAN ...72
DAFTAR PUSTAKA ...73
xiv
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Gambar Halaman
1.1 Bagan Kerangka Pikir 33
xv
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Lampiran Halaman
1 2 3 4 5 6 7 8
Surat Penetapan Pembimbing
Surat izin melakukan penelitian dari IAIN Parepare Surat izin rekomendasi penelitian dari pemerintah Surat keterangan telah melakukan penelitian Surat keterangan wawancara
Pedoman wawancara Dokumentasi
Riwayat hidup penulis
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara kepulauan yang wilayahnya terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, sehingga tidak heran jika Indonesia termasuk kedalam salah satu negara terluas di dunia.Menjadi salah satu negara yang memiliki wilayah yang luas tentu bukanlah hal yang unik dimata dunia namun, Indonesia sendiri berbeda karena memiliki keberagaman suku yang kemudian menghasilkan kebudayaan yang beraneka ragam pula.
Kebudayaan yang diciptakan manusia dalam kelompok dan wilayah yang berbeda-beda menghasilkan keragaman kebudayaan. Tiap persekutuan hidup manusia (masyarakat, suku, atau bangsa) memiliki kebudayaannya sendiri yang berbeda dengan kebudayaan kelompok lain. Kebudayaan yang dimiliki sekelompok manusia membentuk ciri dan menjadi pembeda dengan kelompok lain.1
Perbedaan kebudayaan berpengaruh pada perbedaan kepribadian seseorang atau kelompok sebab karakter kebudayaan akan berpengaruh dalam membentuk karakter kepribadian manusia dalam kehidupan sosialnya. Seseorang atau sekelompok orang secara sadar atau tidak dalam setiap langkah kehidupannya dan dalam pola-pola pikirnya akan senantiasa dibentuk oleh sistem kebudayaan yang ada dalam kehidupan kelompoknya. Perbedaan karakter kepribadian yang dibentuk oleh karakter kebudayaan tersebut akan membawa dampak pada pertentangan.2
Perbedaan tersebut dapat kita lihat pada setiap masyarakat yang tinggal di wilayah yang berbeda, hal ini tidak dapat dipungkiri karena setiap masyarakat yang berbeda wilayah dan letak geografisnya tentu akan memiliki perbedaan atau
1 Herimanto dan Winarno, Ilmu social & Budaya Dasar (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h.33
2Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fak ta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplik asi, dan Pemecahannya (Kencana, 2011) h.35
ciri khas tersendiri dalam menjalani kehidupannya baik itu dari kepercayaan, ras, budaya, bahasa atau bahkan agama yang diyakini. Perbedaan itu yang pada akhirnya dijadikan sebagai landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang memiliki makna “Berbeda tapi tetap satu juga”.
Sebagaimana yang dijelaskan pula dalam al-Qur‟an, bahwa manusia pertama yangdiciptakan adalah Nabi Adam a.s., kemudian dari Nabi Adam a.s., melahirkanketurunan dan mereka inilah yang berkembang menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang bertebaran dimuka bumi ini.Allah swt.berfirman dalam QS. Al-Hujarat/49:13
Terjemahnya:
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan.Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.3
Ayat tersebut sudah sangat jelas bahwasanya manusia memang pada hakikatnya diciptakan dengan berbagai macam perbedaan, sehingga tidak heran jika perbedaan ini seringkali menimbulkan yang namanya konflik akibat perbedaan pendapat, pandangan, kepercayaan ataupun keyakinan. Lalu kemudian apa tujuan daripada perbedaan itu jika hanya akan menimbulkan yang namanya konflik. Kembali kepada ayat diatas dijelaskan bahwa tujuan daripada perbedaan itu ialah agar kamu saling mengenal satu samalain, mampu menghargai serta
3Kementerian, Al-Qur’an dan Terjemahnya Add-Ins Microsf Word Indonesia (Terjemah Kemenag 2019) Versi. 32-2.0 (Departemen Agama RI Al-Hikmah Al-Qur‟an dan Terjemahnya, 2010) h.517
mengetahui sungguh maha besar Allah swt yang mampu menciptakan satu nama yakni manusia namun dengan berbagai perbedaannya.
Perbedaan yang jelas terletak pada budaya manusia itu sendiri dan kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat.Di Indonesia sendiri, terdapat 6 agama yang diakui oleh negara yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu.4 Keenam agama tersebut haruslah hidup berdampingan satu sama lain dengan prinsip toleransi antar umat beragama. Selain perbedaan agama yang dianut juga terdapat perbedaan pada budaya atau tradisi masyarakat.
Sulawesi selatan itu sendiri merupakan salah satu provinsi yang berada di Indonesia yang di dalamnya terdapat empat suku besar yaitu Makassar, Toraja, Bugis dan Mandar.5Dalam masyarakat bugis sendiri terdapat sebuah konsep kebudayaan yang disebut dengan pangadereng.Pangadereng adalah wujud kebudayaan masyarakat Bugis yang selain mencakup pengertian sistem norma dan aturan-aturan adat serta tata-tertib. Juga mengandung unsur-unsur yang meliputi seluruh kegiatan hidup manusia bertingkah-laku dan mengatur prasarana kehidupan berupa peralatan-peralatan materil dan non-materil.6
Pangederang adalah sebuah konsep yang telah lama hidup dalam masyarakat Bugis yang terdiri dari empat unsur yaitu ade’, bicara, wari, dan rapang. Namun, setelah diterimanya Islam oleh masyarakat Bugis, maka hukum Islam atau syari‟ah terintegrasi ke dalam pengederang dan menjadi sara’ sebagai suatu unsur pokok pangederang dan unsur sara’ ini kemudian menjiwai keseluruhan unsur pangadereng lainnya. Unsur-unsur dari kepercayaan lama seperti pemujaan dan upacara bersaji kepada ruh nenek moyang atau attoriolong, pemeliharaan tempat keramat atau saukang, upacara turun sawah, upacara
4I Wayan Watra, Agama-Agama Dalam Pancasila di Indonesia (Prespek tif Filsafat Agama) , Cetakan Pertama, Februari 2020 h.V-VI
5Mattulada, Latoa: Satu Luk isan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis (Yogyakarta: Gajah Madah University Press, 1985), h.5
6Mattulada, Latoa: Satu Luk isan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis, h. 339
mendirikan dan meresmikan rumah dan sebagainya, semuanya dijiwai oleh konsep-konsep dari agama Islam.7
Suku bugis juga terdapat beberapa perbedaan bahasa salah satunya pada Kecamatan Lembang yang di mana masyarakatnya menggunakan bahasa Pattinjo atau biasa dikenal dengan sebutan Bugis Pattinjo, selain bahasanya yang berbeda masyarakat Bugis Pattinjo ini juga memiliki perbedaan dari mata pencahariannya. Perbedaan mata pencaharian ini disebabkan oleh letak geografis yang berbeda, Masyarakat yang bertempat tinggal di pesisir pantai pabbiring mayoritas pencahariannya adalah nelayan sedangkan masyarakat yang tinggal di kaki gunung dan pegunungan pabbuttu mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan pekebun.
Petani di Sulawesi Selatan khususnya petani Bugis sebagian besar sawahnya (Galung) masih berupa sawah tadah hujan (galung langi’).Sebagaimana halnya sawah irigasi, sawah tadah hujan dikelilingi pula dengan tanggul-tanggul sawah (petau) yang dilengkapi pintu air. Mereka tidak perlu terlalu bersusah-payah untuk mengairi sawah; cukup dengan membuat saluran pendek yang dihubungkan ke sungai kecil atau anak sungai yang letaknya tidak jauh dari sawah, yang menarik adalah masyarakat Bugis hanya mengadakan upacara adat pertanian untuk padi saja, dan pentingnya peranan mitos Dewi Sangiang Serri dalam budaya orang Bugis, membuktikan pentingnya peran padi dalam kehidupan orang Bugis.8
Umumnya pada masyarakat petani Bugis melakukan upacara-upacara adat pada tiga waktu, yaitu: sebelum turun sawah, pada saat turun sawah, dan setelah panen. Upacara-upacara pertanian yang dilakukan sebelum memulai menggarap sawah atau sebelum turun sawah adalah tudang sipulung, mattoana galung, dan pesta palili atau mappalili. Sedangkan untuk upacara-upacara
7Koentjaraningrat.“pengantar” dalam Matulada, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Cet. II; Jakarta: Djambatan, 1975), h.272
8Christian Pelras, The Bugis, terj. Abdul Rahman Abu, dkk., Manusia Bugis (Jakarta: Nalar, 2006), h.276-277
pertanian selama turun sawah yaitu, maddoja bine, mappamula taneng, mappanre to mangideng, maddumpu ase, maddupa buah ase, mattemu ase dan mappamula mangala. Adapun upacara-upacarasetelah panen yang biasa dilakukan masyarakat Bugis adalah pesta panen, manresipulung (makan bersama), maccera ase, dan mappanre galung.9
Hanya saja seiring berjalannya waktu, dan berkembangnya pola pemikiran masyarakat, atau karena meningkatnya pemahaman tentang ajaran Islam dalam diri masyarakat Bugis diberbagai daerah, sehingga dibeberapa daerah mulai meninggalkan upacara-upacara tersebut.10
Namun, kadang juga ditemukan dibeberapa daerah justru terjadi akulturasi antara budaya lokal dengan budaya Islam. Seperti yang terjadi pada masyarakat Bugis Pattinjo yang berada di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, tepatnya di desa Benteng Paremba yang bertempat tinggal di kaki gunung ini memiliki tradisi yang sampai saat ini masih mereka pertahankan dan masih mereka jalankan seperti: tudang sipulung, mappalili, maddompeng, mattanang, mattammu bulung, mangngappi, dan massangking. Beberapa tradisi tersebut meski masih dijalankan oleh masyarakat petani tetapi pelaksanaannya sudah tidak seperti dulu lagi dimana masyarakat akan bersama-sama melakukannya atau dengan kata lain bergotong royong, beberapa tradisi tersebut mulai dilakukan oleh beberapa orang saja dan bahkan terkadang dilakukan oleh masing-masing keluarga saja dalam hal ini tradisi mappalili, maddompeng, mattanang, mangngappi, dan massangking.
Sedangkan dalam pelaksanaan tradisi tudang sipulung dan mattammu bulung sampai saat ini masyarakat masih melakukannya dengan cara bersama-
9Muh. Yamin Data, Alat-Alat Pertanian Tradisional Sulawesi Selatan (Ujung Pandang:
Proyek Pengembangan Permusiuman Sulawesi Selatan, 1979), h.37-45
10Arwan Nasruddin, “Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang (Studi Unsur-Unsur Budaya Islam)”, (Skripsi Sarjana: UIN Alauddin Makassar, 2017), h.ii. File pdf diakses pada tanggal 22 juli 2021.
sama bahkan membebaskan masyarakat yang berada dari luar daerah untuk ikut serta dalam pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung apabila mereka ingin ikut serta dalam pelaksanaan tradisi tersebut, selama mereka juga memiliki sawah di daerah yang sama.
Tradisi Mattammu Bulung merupakan tradisi yang dilaksanakan ketika buah padi pertama akan muncul dengan usia padi sekitar dua bulan, pada proses pelaksanaannya perluh dipersiapkan ayam merah dan ayam dengeng yang nantinya akan dipotong dan dibaca untuk dimakan bersama, serta masyarakat akan membuat ketupat kosong dan ketupat yang di isi gabah berondong yang sudah kering dan digantung pada potongan bambu kecil atau kayu untuk ditancapkan pada setiap sawah sebagai tanda bawa pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung telah selesai dilaksanakan. Meskipun pada pelaksanaanya membutuhkan segala macam bahan dan perlengkapan, serta tidak ada yang mengetahui secara pasti tentang kapan waktu pelaksanaannya tetapi dengan dasar kepercayaan yang masyarakat yakini membuat mereka tetap mempertahankan dan melaksanakan tradisi tersebut.
Tradisi yang dilatarbelakangi oleh ide-ide budaya lokal inilah yang kemudian menjadikan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mendalam, karena pada pelaksanaannya memperlihatkan praktek-praktek budaya Islam.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah sebelumnya maka dapat dirumuskan pokok permasalahan dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana pemaknaan tradisi “Mattammu Bulung” di desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang?
2. Bagaimana proses pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung” di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang dalam penerapan fungsi Manajemen Dakwah?
3. Bagaimana pesan Dakwah dalam tradisi “Mattammu Bulung” di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui makna dari tradisi “Mattammu Bulung”di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang.
2. Untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung” di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang dalam penerapan fungsi Manajemen Dakwah.
3. Untuk mengetahui pesan Dakwah yang terdapat dalam pelaksanaan tradisi
“Mattammu Bulung” di Desa Benteng ParembaKecamatan Lembang.
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian atau biasa disebut sebagai manfaat penelitian merupakan dampak dari tujuan yang ingin dicapai dalam sebuah penelitian.11 Adapun manfaat yang diharapkan oleh peneliti dalam penyusunan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan yang mampu menambah wawasan tentang begitu pentingnya fungsi Manajemen dalam kehidupan manusia dan juga sebagai bahan referensi untuk peneliti selanjutnya yang memiliki pokok atau inti penelitian yang sama.
2. Kegunaan Praktis
Penelitian ini selain diharapkan dapat memberikan manfaat dari kegunaan Teoritis, peneliti juga berharap dapat memberikan manfaat dari segi Praktis yakni dapat menambah ilmu pengetahuan tentang adanya tradisi Matammu Bulung dan bagaimana sebaiknya kita menghargai apa yang orang tua kita yakini sebab tidak semua apa yang tidak pernah kitadapatkan dalam pelajaran agama Islam dapat dikatakan haram. Namun, budayakan untuk mengetahui lebih lanjut tentang sesuatu tersebut karena boleh jadi tujuan yang hendak kita capai itu sama yaitu
11Emilliyah Nurjanah, Kegunaan Penelitian (jember : 2013), h.7. File pdf diakses pada tanggal 07 Maret 2022
keridhoan Allah swt. hanya saja cara kita untuk mendapatkan keridhoan tersebut berbeda.
Peneliti selanjutnya juga berharap dengan adanya penelitian ini mampu menambah ilmu pengetahuan pada masyarakat tentang bagaimana sebenarnya tradisi Mattammu Bulung ini jika kita kaji penerapannya dalam fungsi Manajemen Dakwah dan bagaimana setiap gerak, bentuk maupun apa yang dilibatkan dalam pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung ini memiliki makna tersendiri yang dapat kita jadikan sebagai pembelajaran baru melalui sistem atau penerapan yang berbeda.
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Penelitian Relevan
Dalam tahap ini, peneliti akan mencantumkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang peneliti jadikan sebagai bahan acuan atau referensi karena berkaitan dengan pembahasan yang akan peneliti angkat. Hal ini dimaksud untuk mengetahui bahwa pembahasan yang akan di angkat belum pernah diteliti sebelumnya. Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan diantaranya yaitu:
1. Skripsi Arwan Nasruddin
Fakultas Adab dan Humaniora.Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam.Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar tahun 2017 tentang
“Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang (Studi Unsur-Unsur Budaya Islam).12
Skripsi ini membahas tentang “Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang (Studi Unsur-Unsur Budaya Islam).Pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana eksistensi Tradisi Mattammu bulung di desa Benteng Paremba kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang. 2) Bagaimana proses pelaksanaan tradisi Mattamu Bulung di desa Benteng Paremba kecamatan Lembang kabupaten Pinrang. 3) Bagaimana unsur-unsur budaya Islam dalam tradisi Mattamu Bulung di desa Benteng Paremba kecamatan Lembang kabupaten Pinrang.
Tujuan dalam penelitan ini adalah untuk mengetahui eksistensi tradisi Mattammu Bulung, mengetahui proses pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung, dan mengetahi unsur-unsur budaya Islam dalam tradisi Mattammu Bulung.
12Arwan Nasruddin, “Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang (Studi Unsur-Unsur Budaya Islam)”, (Skripsi Sarjana: UIN Alauddin Makassar, 2017), h.ii. File pdf diakses pada tanggal 22 juli 2021.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif- kualitatif untuk mengungkapkan tradisi Mattammu Bulung secara apa adanya dan untuk menganalisis fakta tersebut peneliti menggunakan pendekatan antropologi, agama, sosiologi, dan sejarah.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa: 1) Tradisi Mattammu Bulung adalah salah satu dari rangkaian ritual pertanian masyarakat desa Benteng Paremba yang lahir karena didasari mitos Sangiang Serri dalam I La Galigo.
Tradisi Mattammu Bulung adalah sebuah tradisi yang dilakukan untuk menyambut dan merayakan akan keluarnya biji padi pertama. 2) Pada hari pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung petani akan diminta membawa ayam hidup dan beras ke sawah. Di sana ayam dipotong dan dimasak bersama oleh para petani dan istri-istri petani. Setelah semua masakan siap, maka dilanjutkan dengan ritual mabbaca yang dipimpin oleh guru, dan setelah proses mabbaca dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah itu, ketua adat akan membagikan ketupat kosong yang diikat bersama bulu ayam kepada para petani untuk ditancapkan di pappammulaang sebagai makanan untuk padi. 3) Unsur- unsur Islam yang ditemukan dalam tradisi Mattammu Bulung adalah berdoa bersama, silaturahmi antar petani dan sebagian lagi berupa simbol-simbol budaya yang melambangkan ajaran Islam.
Berdasarkan penelitian di atas, maka dapat diketahui persamaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian selanjutnya yaitu memiliki tempat penelitian yang sama di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang dengan objek penelitian yang sama yaitu tradisi “Mattammu Bulung”.
Adapun yang membedakan penelitian terdahulu dengan penelitian selanjutnya yaitu studi kasus yang digunakan, pada penelitian terdahulu menggunakan “Studi Unsur-Unsur Budaya Islam” yang lebih berfokus pada eksistensi tradisi Mattammu Bulung, proses pelaksanaan tradisi MattammuBulung, serta unsur- unsur budaya Islam dalam tradisi Mattammu Bulungsesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam pokok permasalahan penelitian terdahulu tersebut. Sedangkan
pada penelitian selanjutnya peneliti menggunakan studi kasus “Studi Manajemen Dakwah” di mana peneliti ingin mengetahui makna dari tradisi “Mattammu Bulung”, proses pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung” dalam penerapan fungsi Manajemen Dakwah dan pesan Dakwah dalam pelaksanaan tradisi
“Mattammu Bulung”yang dalam proses pelaksanaannya terdapat ritual mabbaca yang dipimpin oleh guru.
2. Jurnal Nur Alhidayatillah
Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau desember 2017.Tentang
“Dakwah Dinamis Di Era Modern (Pendekatan Manajemen Dakwah).”13
Jurnal ini membahas tentang Dakwah Dinamis Di Era Modern (Pendekatan Manajemen Dakwah) Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Manajemen Dakwah dengan harapan dapat memberikan penjelasan mengenai fenomena dakwah di masa moderen yang dipengaruhi oleh perubahan- perubahan sosial yang terjadi di masyarakat bahwa perubahan-perubahan sosial yang terjadi tidak bisa dihindari karena meliputi semua aspek kehidupan masyarakat. Agama dan kehidupan sosial tidak bisa dipisahkan karena saling mempengaruhi.
Perbedaan penelitian Nur Alhidayatillah dengan peneliti selanjutnya terletak pada fokus penelitiannya yaitu pada penelitian sebelumnya lebih berfokus pada bagaimana menyusun strategi baru menggunakan pendekatan Manajemen Dakwah dalam penerapannya pada Dakwah dinamis yang terjadi akibat dari perubahan-perubahan sosial yang timbul pada masyarakat moderen sedangkan penelitian selanjutnya berfokus pada bagaimana pesan Dakwah dalam pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung”dengan menggunakan studi kasus “Studi Manajemen Dakwah”.Perbedaan selanjutnya terletak pada subjek, penelitian Nur Alhidayatillah menjadikan Dai‟ sebagai subjek penelitiannya sedangkan peneliti
13Nur Alhidayatillah, “Dak wah Dinamis Di Era Modern (Pendek atan Manajemen Dak wah)”.
(Jurnal Pemik iran Islam), Edisi Desember 2017 Vol. 41 No. 2, h.265
selanjutnya lebih kepada orang pintar “sandro”, tokoh agama dan masyarakat setempat yang juga melaksanakan tradisi tersebut. Adapun yang menjadi persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian selanjutnya yaitu pada studi kasus yang digunakan pada penelitian Nur Alhidayatillah menggunakan pendekatan Manajemen Dakwah begitupun yang peneliti selanjutnya gunakan yaitu studi Manajemen Dakwah untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung” dengan penerapan fungsi Manajemen Dakwah.
3. Skripsi Sumarni
Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Alaudin Makassar 2016.Tentang “Pesan- Pesan Dakwah dalam Tradisi Je’ne-Je’ne Sappara Di Desa Balang Loe Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto.”14
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang ditinjau dari sudut pandang Dakwah Kultural.Dan menggunakan pendekatan sosiologi komunikasi.
Penelitian ini memiliki pokok masalah yakni bagaimana proses Je’ne-Je’ne Sappara dan pesan Dakwah dalam pelaksanaan Je’ne-Je’ne Sappara di Desa Balang Leo Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto.
Persamaan penelitian Sumarni dengan penelitian selanjutnya yaitu memiliki pokok permasalahan yang sama seperti yang tertulis pada judul penelitian sebelumnya tentang Pesan-Pesan Dakwah dalam Tradisi Je’ne-Je’ne Sappara begitupun yang menjadi salah satu pokok permasalahan penelitian selanjutnya yaitu pesan Dakwah pada Tradisi “Mattammu Bulung”. Dengan adanya penelitian terdahulu ini peneliti selanjutnya berharap dapat menjadikannya acuan untuk memudahkan peneliti selanjutnya untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana persiapan yang harus dilakukan untuk mengkaji hal tersebut. Meskipun pada dasarnya tradisi yang akan diteliti,
14Sumarni, Pesan-Pesan Dakwah dalam Tradisi Je’ne-Je’ne Sappara di Desa Balang Leo Kecamatan Tarowang Kabupaten Jeneponto.2016 h.ii.File pdf diakses pada tanggal 28 juli 2022
lokasi dan bahkan metode pendekatan yang digunakan juga berbeda tetapi peneliti selanjutnya berharap dapat mendapatkan gambaran tentang bagaimana langkah yag seharusnya peneliti lakukan untuk mendapatkan jawaban dari pokok permasalahan yang peneliti selanjutnya telah cantumkan dalam penelitian peneliti selanjutnya.
B. Tinjauan Teori
1. Teori Interaksi Simbolik
Dasar-dasar interaksi sosial dalam sosiologi bermula dari pemikiran Max Weber mengenai tindakan sosial (social action).Gagasan social action dari weber ini sebagai konsep baru yang berbeda dari pemikir sosiologi sebelumnya, seperti Durkheim yang mencetuskan bahwa kajian utama sosiologi terletak ada fakta sosial. Bagi Weber, struktur sosial dan pranata sosial (sebagai fakta sosial) keduanya membantu untuk membentuk tindakan manusia yang penuh arti dan makna.
Mempelajari hubungan antar manusia dalam kehidupan sehari-hari, digunakanlah pendekatan tertentu yang dikenal dengan namainteractionist perspektive. Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, ditemukan pendekatan yang dikenal dengan nama interaksionisme simbolik (syimbolic interactionism). Pendekatan ini bersumber dari buah pikiran George Herbert Mead.Dari kata interaksionisme ini saja, jelas bahwa sasaran pendekatan ini adalah interaksi sosial.
Teori interaksionisme simbolik dalam sosiologi pada mulanya dicetuskan oleh G.H. Mead (1863-1931) dan C.H.Cooley (1846-1929).Kemudian, sampai pada masa modern (1962) dikembangkan oleh Herbert Blumer, Asumsi-asumsi dalam teori interaksionisme simbolik sejak awal dicetuskan terus berkembang.15
Herbert Blumer, salah seorang penganut pemikiran Mead, berusaha menjabarkan pemikiran Mead mengenai interaksionisme simbolik. Menurut
15George Ritzer, Sociology: A Multiple Paradigms Science, Boston: Allyn dan Bacon, 1973, h.67-68
Blumer, pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga, yaitu manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dimiliki sesuatu tersebut baginya. Dengan demikian, tindakan (act) seorang penganut agama Hindu di India terhadap seekor sapi (thing)akan berbeda dengan tindakan seorang penganut agama islam di pakistan, karena bagi masing-masing orang tersebut, sapi tersebut mempunyai makna (meaning) berbeda.
Selanjutnya Blumer mengemukakan bahwa makna yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang dan sesamanya.Mengapa dalam masyarakat kita, warna merah berarti berani dan putih berarti suci?Mengapa orang yang ideologinya radikal sering disebut kiri, sedangkan yang konservatif disebut kanan?Makna yang diberikan orang kepada konsep merah, putih, kanan, kiri ini muncul dari interaksi sosial. Keberanian tidak melekat pada warna merah dari pandangan ideologis pun tidak ada kaitannya dengan arah kiri atau kanan.
Pokok pikiran ketiga yang dikemukakan oleh Blumer adalah bahwa makna diperlukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran (interppretative process) yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya.
Pokok pikiran yang ditekankan oleh Blumer adalah bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima oleh seseorang, tetapi ditafsirkan terlebih dahulu. Apakah seseorang akan menanggapi dengan baik ucapan
“selamat pagi atau assalamu’alaikum” misalnya, bergantung pada penafsirannya apakah si pemberi salam tersebut beritikad baik atau beritikad buruk.
Dengan demikian, inti dari teori interaksionisme simbolik adalah sebagai berikut:
1. Manusia hidup dalam lingkungan simbol-simbol. Simbol-simbol itu dapat berupa benda, tanda, isyarat, kata-kata tertulis atau lisan, dan institusi sosial lainnya. Simbol berupa benda itu antara lain manusia. manusia satu sama lain memberikan tanggapan dan makna terhadap simbol yang ada dalam lingkungannya untuk melakukan interaksi satu sama lain. Dalam melakukan
interaksi, individu-individu itu satu sama lain berusaha saling menyesuaikan diri melalui interpretasi yang ada dalam dirinya. Seseorang mengetahui interpretasi yang bermakna dalam dirinya karena dilalui oleh proses belajar.
2. Melalui komunikasi, simbol-simbol itu dapat dipelajari untuk diketahui arti dan nilai-nilainya. Kemudian, individu menentukan sendiri simbol-simbol yang bermakna itu digunakan untuk mencapai tujuannya.
3. Sebelum melakukan suatu tindakan (berinteraksi), manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dalam pikirannya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Tahap ini disebut dengan proses berpikir. Pada tahap proses berpikir, individu sedang berinteraksi dengan dirinya memikirkan simbol-simbol yang bermakna untuk ditanggapi. Dalam situasi ini, seseorang melakukan tindakan didasarkan atas pertimbangan pemikiran untuk terlebih dahulu memilih kemudian memutuskan jenis stimulus yang akan ditanggapinya. Sebelum stimulus dipilih, individu mencoba berbagai tanggapan dalam pikirannya sebelum tanggapan yang sesungguhnya diberikan.16
Teori interaksionisme simbolik memandang bahwa interaksi antara individu dan kelompok terjadi dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar. Tindakan seseorang dalam proses interaksi itu tidak semata-mata merupakan hasil tanggapan langsung terhadap stimulus yang datang dari luar, tetapi hasil dari pemikiran mendalam yang kemudian diinterpretasikan terhadap stimulus.
2. Teori Dakwah
a) Pengertian Dakwah
Menurut bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu da'a- yad'u-da'watan, artinya mengajak, menyeru, memanggil.17Secara istilah
16George Ritzer, Sociology: A Multiple Paradigms Science, Boston: Allyn dan Bacon, 1973, h.68
17Samsul Munir Amin. Ilmu Dakwah, (Jakarta: AMZAH, 2013), h.1
dakwah adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama Islam kepada orang lain agar mereka menerima ajaran Islam tersebut dan menjalankannya dengan baik dalam kehidupan individual maupun bermasyarakat untuk mencapai kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat, dengan menggunakan media dan cara-cara tertentu.18Konsep dakwah berasal dari alQur'an dan as-Sunah, bukan dari pemikiran manusia ataupun temuan lapangan.Dari kedua sumber ini, pemikiran dakwah dikembangkan dengan ilmu tauhid, perilakunya dengan ilmu fikih, dan
kalbunya dengan ilmu akhlak.19
Tujuan utama dakwah sebagaimana telah dirumuskan ketika memberikan pengertian tentang dakwah adalah menjadikan manusia berada dalam jalan Allah agar terwujudnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang diridhoi oleh Allah Swt. Hal itu merupakan suatu nilai hasil yang diharapkan dapat dicapai oleh keseluruhan usaha dakwah, baik yang dilakukan dalam bentuk tabligh, amar makruf nahi munkar, maupun melalui dakwah bil hal atau melalui gerakan dakwah lainnya.20
Berdasarkan pengertian diatas dapat diketahui bahwa dakwah merupakan pengajaran untuk kita dapat menyeru, mengajak, memanggil manusia untuk senantiasa saling mengingatkan dalam bertindak, mengingatkan untuk senantiasa mengerjakan yang ma‟ruf dan sekali-kali janganlah engkau ingkar terhadap apa yang dilarangnya agar tujuan kita sebagai hamba Allah swt. dapat tercapai yaitu mendapatkan keridhoannya. b) Subjek dan Objek Dakwah
Dalam bahasa Arab subjek dakwah dikenal dengan istilah Da’i (orang yang berdakwah), setimbangan dengan Isim Fa’il (orang yang melakukan pekerjaan), yang akar katanya Da’a, Yad’u, Da’i.Menurut Abu al-Fath al-
18Samsul Munir Amin. Ilmu Dakwah,h.5
19Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h.69.
20Umdatul Hasanah, Ilmu dan Filsafat Dak wah, (Serang: Fseipress, 2013), h.23
Bayanuni subjek dakwah yaitu orang yang menyampaikan dan mengajarkan serta mengamalkan ajaran-ajaran Islam.21
Sementara itu, Jumu‟ah Amin Abdul Aziz berpendapat bahwa subjek dakwah yaitu pendidik dan pembangun generasi yang Islami.22Dalam hal ini lebih jauh beliau mengemukakan bawasannya pelaku dakwah adalah orang yang menyeru manusia kepada Islam dengan keutuhan dan keuniversalannya, dengan syi‟ar-syi‟ar dan sya‟riatnya, dengan akidah dan kemuliaan akhlaknya, dengan metode dakwahnya yang bijaksana dan sarana-sarananya yang unik dan dengan cara penyampaiannya yang benar. Salah satu tokoh terkemuka dalam bidang dakwah Abdul Karim Zaidan mengemukakan bawasannya subjek dakwah yaitu setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan yang telah baligh dan berakal.23Dalam hal ini tokoh agama yang memiliki tugas atau kedudukan mengatur dan memimpin jalannya pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung.
Sedangkan Sasaran atau objek dari dakwah bermacam-macam bentuk dan keadaannya ada yang sudah islam ada yang belum, ada yang cerdas dan ada yang bodoh, ada yang kaya dan miskin, ada yang tebal imannya dan masih tipis imannya, masyarakat sebagai sasaran dakwah dengan segala komplikasinya harus dipelajari atau di teliti terlebih dahulu. Karena berdakwah dikalangan anak-anak akan berbeda penyampaiannya dengan remaja atau orang tua begitu juga dengan cara berdakwah dikalangan buruh, mahasiswa, tentara, wanita dan sebagainya, semuanya mempunyai cara berdakwah yang berbeda-beda. Sedangkan sasaran dakwah terbagi menjadi 2 yaitu sasaran internal yang terdiri dari semua lapisan masyarakat yang sudah memeluk agama Islam dan sasaran eksternal yaitu masyarakat yang belum
21Muhammad Abu al-Fath al-Bayanuni, al Madk hal Ila Ilmu al-Dak wah (Madinah: Muassisu ar-Risalah, 1995), h.153
22Jumu‟ah Amin Abdul Aziz, Fiqh Dakwah, Terj. Abdul Salam Maskur, Prinsip dan Kaidah Asasi Dak wah Islam (Solo: Era Intermedia, 2003),h.66
23Abdul Karim Zaidan, Ushul ad-Da’wah (Iskandariyah: dar Umar bin Khattab, 1976), h.309
memeluk agama Islam.Sedangkan sumber-sumber atau materi dakwah bersumber dari al-Qur'an dan hadis, sejarah perjuangan nabi, dan ilmu pengetahuan umum. Isi dari dakwah secara global dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu : akidah (ima), Syari'ah ( Islam), dan akhlak (ikhsan). Dalam pelaksanaannya masing-masing materi dakwah tersebut dapat dijabarkan secara proporsional sesuai dengan kebutuhan sasaran dakwah.24
Pelaksanaan tradisi Mattammu Bulung yang menjadi objek ialah masyarakat yang melaksanakan tradisi tersebut dan tidak secara langsung masyarakat yang berada diwilayah tersebut meskipun haya sekedar mendengar pelaksanaan Mattammu Bulung tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tidak mendapatkan efek dari apa yang dilakukan oleh masyarakat melalui pandangan mereka atau apa yang mereka dengar.
c) Metode Dakwah
Metode Dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da'i (komunikator) kepada mad'u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.25Pembahasan di bidang metode dakwah sudah selayaknya mendapat perhatian yang serius.Berbagai pendapatan Da'wah bil lisan, Da'wah bil qolam (Dakwah melalui tulisan, media cetak) maupun da'wah bil hal (Dakwah dengan amal nyata, keteladanan) perlu dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan tuntutan modernitas.Aplikasi metode dakwah tidak cukup mempergunakan metode tradisional, melainkan perlu diterapkan penggunaan metode yang sesuai dengan situasi dan kondisi jaman di era sekarang.26
Beberapa metode Dakwah diatas dari makna katanya maka peneliti selanjutnya akan menggunakan metode Dakwah Bil-haldimana dalam ruang lingkup dakwah Bil-halini meliputi persoalan yang berhubungan dengan
24Sanusi Salahuddin, Pembahasan Sek itar Prinsip-Prinsip Dak wah Islam, (Semarang:
Ramadhani, 1964), Hal. 9-10.
25 M. Munir, Metode Dak wah,h. 7
26Samsul Munir Amin, Rek onstruk si Pemik iran Dak wah Islam, (Jakarta: AMZAH 2008), h.27
kebutuhan pokok manusia, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, material, ekonomis, maka kegiatan dakwah Bil-hal lebih menekankan pada pengembangan kehidupan dan penghidupan masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup yang lebih baik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Adapun pengembangan kegiatan dakwah Bil-hal dilakukan dengan cara melalui bentuk pengembangan kehidupan dan penghidupan manusia, yaitu berupa penyelenggaraan pendidikan pada masyarakat, kegiatan koperasi, pengembangan kegiatan transmigrasi, penyelenggaraan usaha kesehatan masyarakat (seperti mendirikan rumah sakit, poliklinik, balai pengobatan dan sebagainya), peningkatan gizi masyarakat, penyelenggaraan panti asuhan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan penggunaan media (media cetak, media informasi dan komunikasi) serta seni budaya.27
Oleh karena itu peneliti selanjutnya menggunakan metode Dakwah Bil-hal ini karena pesan Dakwah yang ingin di kaji yaitu pada pelaksanaan tradisi Mattammu Bulungyang dilakukan masyarakat secara turun temurun dan sampai saat ini masih mereka jalankan.
C. Kerangka konseptual 1. Tradisi
Kata tradisi seringkali disamakan dengan budaya atau kebudayaan.
Banyak orang yang berpendapat bahwasanya tradisi dan budaya itu memiliki makna yang sama karena kedua kata tersebut sulit untuk dipisahkan sehingga ketika seseorang membicarakan tradisi maka budaya juga pasti akan disinggung.
Kebudayaan berasal dari kata buddhayah (bahasa Sansekerta) sebagai bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal atau hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal.Culture (bahasa Inggris) dari kata Colere (bahasa latin) yang berarti mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah
27Nas, "Metodologi Dak wah", Juni 2011 (diakses pada tanggal 28 Juli 2022).
atau bertani. Colere atau Culture sebagai daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.28
Jurnal Dakwah risalah dijelaskan bahwa tradisi merupakan hasil dari upaya yang dilakukan masyarakat dalam rangka membentukkarakter-karakter kelompok yang nantinya akan menjadi identitas secara kolektif.29
Tradisi adalah kesamaan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun masih ada hingga kini dan belum dihancurkan atau dirusak.Tradisi dapat di artikan sebagai warisan yang benar atau warisan masa lalu.Namun demikian tradisi yang terjadi berulang-ulang bukanlah dilakukan secara kebetulan atau disengaja.30
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa budaya dan tradisi memang memiliki makna yang berbeda dimana budaya merupakan cara hidup sekelompok masyarakat yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan dan berkembang pada lingkungan tersebut seperti halnya batik yang dapat dipelajari dan dikembangkan sedangkan tradisi merupakan kebiasaan yang dijalankan secara turun temurun/ dari generasi kegenerasi sehingga menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok tertentu seperti halnya dengan “Mattammu Bulung”
yang merupakan salah satu tradisi diDesa Benteng Paremba Kecamatan Lembang yang peneliti angkat menjadi objek penelitian.
Tradisi sangat erat kaitannya dengan sebuah kepercayaan atau keyakinan yang betul-betul harus diketahui seluk beluknya karena menyangkut urusan hamba kepada tuhannya apalagi bagi umat Muslim yang diperintahkan hanya untuk bertakwa kepada Allah swt.atau melaksanakan apa yang diperbolehkan atau diperintahkan dan menjauhi segala larangannya karena disitulah kita melihat ketaatan seorang hamba kepada tuhannya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk
28Syahrial Syarbaini dan Rusdiyanta, Dasar-Dasar Sosiologi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013) h.99-100
29Nurhikmah, dkk Adaptasi Dak wah dalam Tradisi Tolak Bala Masyarak at Kota Parepare.(Jurnal Dakwah Risalah) Vol.32 No. 1. Juni 2021: Hal 21
30Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada Media Grup, 2007), h.69
mengkaji lebih dalam tentang pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung” dan untuk mengetahui hal tersebut peneliti akan mengkaji terlebih dahulu bagaimana proses pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung” menggunakan pendekatan studi Manajemen Dakwah melalui penerapan fungsi-fungsi Manajemen Dakwah seperti: Takhtith (perencanaan Dakwah), Thanzim (pengorganisasian Dakwah),Tawjih (penggerakan Dakwah) dan Riqobah (pengendalian dan evaluasi Dakwah). Setelah mengetahui proses pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung” dalam penerapan fungsi Manajemen Dakwah selanjutnya peneliti akan menggunakan teori hermeneutikauntuk mengetahui apa pesan Dakwah yang dapat kita ambil selama proses pelaksanaan tradisi “Mattammu Bulung”.
2. Mattammu Bulung
Tradisi mattammu bulung merupakan tradisi yang sampai saat ini masih di jalankan meskipun pelaksanaannya tidak dapat diketahui secara pasti karena tradisi ini dilaksanakan ketika masa pertengahan pertumbuhan padi, sedangkan penanaman padi dilaksanakan juga menyesuaikan kondisi atau cuaca.sehingga tidak heran jika tidak ada yang tahu secara pasti kapan waktu pelaksanaan tradisi tersebut.Tapi satu hal yang pasti bahwa ritual semacam ini lahir bersama dengan ritual-ritual pertanian lainnya.
Meskipun orang Bugis Makassar, bersama dengan orang Aceh, Melayu, Banjar, Sunda dan Madura dianggap termasuk di antara orang Indonesia yang paling kuat dan teguh memeluk ajaran Islam. Dan memang pada kenyataannya hampir semua orang Bugis adalah penganut agama Islam, kecuali komunitas kecil to-Lotang yang bermukim di Amparita (Sidenreng) sejak abad ke-17.31
Namun masih terdapat beberapa masyarakat Bugis terutama di daerah pedesaan yang masih memiliki kepercayaan-kapercayaan terhadap dunia gaib yang merupakan bentuk-bentuk kepercayaan pra Islam.Bentuk-bentuk kepercayaan mereka terhadap dunia gaib bisa terlihat dalam beberapa bentuk
31Christian Pelras, The Bugis, terj. Abdul Rahman, dkk., Manusia Bugis (Ce t. I; Jakarta:
Nalar, 2006), h.209.
ritual-ritual yang masih mereka jalankan, seperti dalam ritual pernikahan, ritual kematian, ataupun dalam ritual pertanian.Mattulladamenyebutkan konsep kepercayaan ini sebagai sisa-sisa kepercayaan periode La Galigo, yakni zaman pemerintahan raja-raja Bugis Makassar yang tertua.32
Kesadaran keagamaan kalangan orang Bugis telah muncul sejak awal sejarah kehidupan mereka. Mitos yang berkaitan dengan manusia-manusia langit yang turun ke bumi untuk mengisi bumi merupakan cikal-bakal keberagamaan masyarakat Bugis, melalui berbagai cerita rakyat berkaitan dengan tumanurung yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah masyarakat.33Cerita-cerita tentang tumanurung ini tertulis dalam I La Galigo yang sekaligus menjadi dasar keberagamaan masyarakat Bugis sebelum Islam.34
I La Galigo sendiri adalah suatu mitos yang disusun dalam satu sistem, yang diuraikan dalam bahasa sastra dengan tekanan pada yang akhir ini, sehingga karya tersebut sifatnya lebih menonjol sebagai karya sastra dari pada karya antropologi.35
Dari cerita dalam I La Galigo tentang Sangiang Serrikemudian melahirkan wujud kebudayaan masyarakat Bugis berupa ide dan pemahaman masyarakat Bugis bahwa padi merupakan sebuah bahan makanan yang harus diperlakukan berbeda dan istimewa, karena merupakan penjelmaan anak perempuan manurung pertama di bumi, yaitu Batara Guru.36
Kisah Sangiang Serri ini tergolong ke dalam little tradition.Artinya kisah ini telah diwariskan dari leluhur mereka dan dianggap benar-benar pernah terjadi
32Mattulada, Latoa: Suatu Luk isan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis (Yogyakarta: Gajah Madah University Press, 1985), h.59.
33Nurman Said, Membumik an Islam di Tanah Bugis (Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2011), h. 35
34Andi Rasdiyanah, Latoa: Lontarak Tana Bone (Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2014), h. 59-63
35R. A. Kern, I La Galigo, terj. La Side dan Sagimun M.D., I La Galig: Cerita Bugis Kuno, (Cet I; Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1989), h.1
36Mattulada, Latoa: Suatau Luk isan Analitis trehadap Antropologi Politik Orang Bugis.h.23
tanpa mencari tahu bukti-bukti kebenarannya.Kisah ini, kemudian membentuk pola pemikiran dan bentuk-bentuk kebudayaan masyarakat Bugis.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua adat di desa Benteng Paremba, beliau menuturkan bahwa :
“Asa manuru’ curitana to dolota, bobo’ tu’u pada tau mato’o …….”
Artinya:
“Sebenarnya menurut cerita dari nenek moyang kami, bahwa tanaman padi itu adalah jelmaan dari seorang wanita…”37
Kepercayaan ini sejalan dengan adanya mitos Sangiang Serri dalam I La Galigoyang mengisahkan bahwa sebenarnya padi adalah jelmaan dari seorang perempuan, anak pertama Batara Guru. Dan dari hasil wawancara diatas membuktikan bahwa masyarakat Bugis Pattinjo khususnya di desa Benteng Paremba masih meyakini kisah-kisah yang diceritakan dalam I La Galigo.
Masyarakat di desa Benteng Paremba masih mempertahankan tradisi pertanian tersebut, dan bahkan memperlakukan padi lebih istimewa daripada tanaman lainnya.Hal ini dapat kita lihat dari beberapa tradisi pertanian yang masih dilaksanakan oleh masyarakat tersebut seperti: tudang sipulung, mappalili, maddompeng, mattanang, mattammu bulung, mangngappi, dan massangking.
Dari beberapa tradisi tersebut ada yang pelaksanaannya tidak harus dilakukan oleh semua pihak atau dengan kata lain cukup dilakukan oleh beberapa orang saja dari pihak keluarga atau tetangga, dalam hal ini tradisi mappalili, maddompeng, mattanang, mangngappi, dan massangking.
Sedangkan dalam pelaksanaan tradisi tudang sipulung dan mattammu bulung sebaiknya dilakukan atau dihadiri oleh semua masyarakat petani di desa Benteng Paremba yang memiliki sawah di tempat itu karena pelaksanaanya yang bisa dikatakan sangat sakral atau inti dari pada pelaksanaan tradisi pertanian yang
37Tikkang/Pua Samma (Ketua Adat Desa Benteng Paremba) dalam Skripsi Arwan Nasruddin,
“Tradisi Mattammu Bulung di Desa Benteng Paremba Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang (Stu di Unsur-Unsur Budaya Islam)”,h.38-39
masyarakat Desa Benteng Paremba masih laksanakan sampai sekarang ini karena merupakan ajaran yang diwariskan oleh orang tua terdahulu mereka.
3. Studi Manajemen Dakwah a. Manajemen
Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen pada dasarnya merupakan seni, atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan.38
Sedangkan dalam bahasa Arab disebut dengan idarah, yang diambil dari perkataan adartasy syai‟a atau perkataan adarta bihi.
H. Malayu S.P. Hasibuan mengemukakan bahwa Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu.39
Dalam Al-Qur‟an ditemukan kata tadbir.Tadbir adalah bentuk masdar dari kata kerja dabbara, yudabbiru, tadbiran.Tadbir berarti penertiban, pengaturan, pengurusan, perencanaan dan persiapan. Adapun ayat dalam Al- Qur‟an yang menjelaskan tentang manajemen yaitu pada Q.S As-Sajadah/
32:5
38Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen (Cetakan ke -2, Maret 2006) h.6
39H. Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen: Dasar, Pngertian, dan Masalah, (Cet. I; Jakarta:
Bumi Aksara, 2001), h.2.
Terjemahnya:
Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (segala urusan) itu naik kepada-Nya) pada hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.40
Ayat diatas terdapat kata yudabbiru/ dabbara yang dimana kalimat yudabbiru/ dabbara sesuai dengan apa yang peneliti telah jelaskan pada sub- sub sebelumnya bahwa kata yudabbiru/ dabbara memiliki makna mengatur yang dimana mengatur adalah salah satu pengertian dari Manajemen sehingga jelas bahwa Manajemen dalam kehidupan sangat penting untuk diterapkan, bahkan dalam ayat al-qur‟an sekalipun disinggung tentang Manajemen atau mengatur.
b. Dakwah
Dakwah secara etimologi merupakan bentuk msdar dari kata da’a- yad’u yang mengandung makna memanggil, mengundang, mengajak, minta tolong, memohon, mendorong dan mendoakan.41
Dakwah adalah mengajak manusia agar berbuat kebaikan dan menurut petunjuk, menyeru mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.Jelasnya agar objek sebagai penerima Dakwah dapat melaksanakan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya.42
Adapun ayat dalam Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang Dakwah yaitu pada QS. Al-ahzab/33:46
40 Kementerian, Al-Qur’an dan Terjemahnya Add-Ins Microsf Word Indonesia (Terjemah Kemenag 2019) h.415
41Ibnu Manzur, Lisanul al Arab, Jilid III, (Qoiro: Dar al Hadis, 2003), h. 366-380
42Samsul Munir Amin, Ilmu Dak wah (Cetakan Pertama, Juli 2009) h.228