• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dosen Sejarah Peradaban Islam yang telah mengajar dan membimbing saya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Dosen Sejarah Peradaban Islam yang telah mengajar dan membimbing saya"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Adab dan Bahasa Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Menyusun Skripsi

Oleh:

David Khoiri Azhar NIM 163231037

JURUSAN SEJARAH PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN BAHASA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA 2022

(2)

i

(3)

ii

(4)

iii

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah, dengan mengucap syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia, kekuatan, serta kemudahan, sehingga saya mampu menyelesaikan Skripsi ini. Dengan ini saya persembahkan karya saya yang jauh dari kata sempurna ini kepada orang yang tetap setia di ruang dan waktu kehidupan saya, teruntuk :

1. Kedua Orangtua saya, Bapak Dalimin dan Ibu Sri Daryani yang selalu sabar, membimbing dan mengarahkan setiap langkah saya dengan segala doa dan harapannya.

2. Dr. Zamzami, M.Si, R. Mubdi Adlan Prabowo, S.H dan Haji Mohammad Robhan selaku keturunan dari ulama kaliyoso yang telah memberi ijin untuk penelitian dan penulisan karya ilmiah saya.

3. Teman-teman Komunitas Sejarah Kota Surakarta “Solo Societeit”

4. Teman-teman seperjuangan saya Sejarah Peradaban Islam angkatan 2016 5. Teman-teman Organisasi PMII Cabang Sukoharjo.

6. Narasumber-narasumber yang telah berkenan berbagi ilmu

7. Dosen Sejarah Peradaban Islam yang telah mengajar dan membimbing saya.

8. Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta tercinta sebagai tempat menimba ilmu saya

Terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala doa, harapan, kekuatan dan kepercayaan yang telah diberikan.

(5)

iv MOTTO

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan dan bersama kesulitan yang disebutkan tadi terdapat kemudahan, yang keduanya adalah dari

Allah Ta’ala.” (QS Al-Insyirah, ayat 5-6)

Dahulukan akhlak sebelum ilmu (David Khoiri Azhar)

Your story isn’t done yet, keep walking. A dream does not become reality trough magic. It takes sweat, determination, and hard work.

(Thole Ithok)

(6)

v

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam penulis limpahkan kepada junjungan Nabi Agung Muhammad SAW yang telah memberikan petunjuk kehidupan yang lurus dalam ajaran agama Islam yang sempurna. Dalam skripsi ini, penulis membahas mengenai

“Santri Pasukan Diponegoro” Jejaring Ulama Perang Diponegoro di Kaliyoso, Sragen 1825-1830. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sejarah Peradaban Islam di Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan, serta motivasi dari bebagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Mudofir, S.Ag., M.Pd. selaku Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta.

2. Bapak Prof. Dr. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag. selaku Dekan Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta.

3. Bapak Latif Kusairi, M.A. selaku Kepala Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta.

4. Bapak Yayan Andrian, S.Ag., M.Ed. Mgmt. selaku dosen pembimbing akademik yang telah membantu selama proses belajar di bangku perkuliahan.

5. Bapak Latif Kusairi, M.A. selaku pembimbing skripsi yang telah memberikan banyak saran dan arahan tentang penelitian ini.

6. Seluruh dosen Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta.

7. Para Staf Usaha dan Akademik yang telah memberikan bantuan untuk keperluan administrasi selama perkuliahan serta menyelesaikan skripsi.

8. Para Staf di Monumen Pers Surakarta yang sudah menyediakan sumber data penelitian ini.

9. Bapak Drs. Zamzami, MSi yang telah berkenan menjadi narasumber serta memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan skripsi ini.

(8)

vii

10. Bapak .M.R.P. Restu Budi Setiawan, S.Pd, M.Pd yang berkenan menjadi narasumber dalam penelitian ini.

11. Bapak Haji Mohammad Robhan selaku Tokoh masyarakat (sesepuh) di Desa Kaliyoso.

12. Bapak R. Mubdi Adlan, S.H yang berkenan menjadi narasumber dalam penelitian ini.

13. Bapak Dani Saptoni, S.S yang berkenan meminjamkan buku terkait dengan penulisan karya ilmiah ini.

14. Bapak Moh Ashif Fuadi, M.Hum yang berkenan meminjamkan buku terkait dengan penulisan karya ilmiah ini

15. Teman Jurusan Sejarah Peradaban Islam yang telah memberi motivasi dan semangat selama ini, yaitu Refanda Pratiwi, S.Hum. Chalimah Retnaningtyas, S.Hum. Ida Ayu Cahyani, S.Hum. Alifah Arzaqia, Salma Tiara, M Reza Alhabsy, S.Hum. Agus Yulian Saputro, Eko Prasetyo, Ahmad Mudhofir Annuroni, S.Hum. Crypton Umaro Amri, Fika Afia, Endah Pujiastuti, Ryas Basmala, S.Hum. Prima Dwi Andhika, S.Hum.

Saiful Haq, S.Hum..

16. Teman Organisasi PMII Cabang Sukoharjo yang telah memberi motivasi dan semangat selama ini, yaitu Mella R Elsa Putri, S.Pd. M Iskandar Dzulqurnain, S.E. Rendra Armayana, S.E. Farda Naylus S, S.Pd. Laila N Khasanah, S.H., Nafis Irsyad, S.H. Azizul Muchtar, S.Pd.. Andrian Pambudi, Irfan D Susanto, Kholiq Badrullah, S.Pd., Lailita Anggraini, S.Pd Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata kesempurnaan, oleh sebab itu kritik dan saran sangat bermanfaat bagi penulis.

Surakarta, 10 November 2022

Penulis

(9)

viii DAFTAR ISI

NOTA PEMBIMBING ...Error! Bookmark not defined.

PENGESAHAN ... i

PERSEMBAHAN ... iii

MOTTO ...iv

PERNYATAAN KEASLIAN ...Error! Bookmark not defined. KATA PENGANTAR ...vi

DAFTAR ISI... viii

ABSTRAK ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR BAGAN ... xii

DAFTAR ISTILAH ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xxii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan & Batasan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1. Tujuan umum ... 6

2. Tujuan Khusus ... 7

D. Tinjauan Pustaka ... 9

E. Metode Penelitian ... 14

F. Kerangka Konsep ... 18

G. Sistematika Pembahasan ... 20

BAB II GAMBARAN UMUM PERANG DIPONEGORO ... 22

A. Faktor Yang Mempengaruhi Perang Diponegoro ... 22

1. Perubahan Politik dan Pemerintahan ... 22

2. Polemik Patok Jalan ... 24

B. Laskar Diponegoro dan Garnisun Belanda ... 27

1. Kekuatan Laskar Diponegoro ... 27

2. Kekuatan Garnisun Belanda ... 30

3. Legiun Mangkunegaran ... 31

C. Ekspansi ke Ibu Kota Terakhir Mataram Islam ... 33

(10)

ix

1. Pertempuran di Delanggu ... 33

2. Perlawanan di Gawok ... 36

3. Laskar Diponegoro Tumpas ... 38

BAB III LASKAR DIPONEGORO DALAM JARINGAN SPIRITUAL ... 40

A. Demografi Kaliyoso ... 40

1. Kondisi Geografis ... 40

2. Kondisi Agama & Budaya... 42

B. Konsolidasi Perjuangan Laskar Diponegoro di Pesantren ... 44

1. Sang Ideolog dan Simpul Utama Jejaring Santri ... 44

2. Manifesto yang tak lagi sejalan ... 47

3. Hubungan Kyai Mojo dengan Ulama Kaliyoso ... 52

BAB IV JARINGAN LASKAR DIPONEGORO DI KALIYOSO ... 55

A. Terbentuknya Laskar Diponegoro di Pesantren ... 55

1. Sami’na Wa Atho’na Dari Titah Orang tua ... 55

2. Berkah Safar ke Utara Kasunanan ... 58

3. Tradisi Mahesa Lawung di Alas Krendhawahana Sebagai Sarana Islamisasi ... 65

B. Keterlibatan Pesantren Kaliyoso Dalam Laskar Diponegoro Melawan Kolonialisme ... 66

1. Spirit Perlawanan Mengusir Penjajah ... 66

2. Kode Rahasia Melumpuhkan Telik Sandi ... 69

3. Melawan Garnisun Mangkunegaran – Kasunanan ... 71

C. Tanah Perdikan Agama ... 72

1. Tugas Perdikan ... 72

2. Kedudukan Perdikan ... 73

D. Silsilah Kaliyoso ... 75

BAB V PENUTUP ... 77

A. Kesimpulan ... 77

B. Saran ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 80

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 83

(11)

x ABSTRAK

David Khoiri Azhar, 2022, “Santri Pasukan Diponegoro, Jejaring Ulama Perang Diponegoro di Kaliyoso, Sragen 1825-1830”, Skripsi : Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta.

Pembimbing : Latif Kusairi, S.Hum, M.A

Kata Kunci : Perang Diponegoro, Jejaring Ulama, Kaliyoso

Kaliyoso merupakan daerah perdikan agama yang berada di wilayah kekuasaan Keraton Kasunanan. Ajaran agama Islam pertama kali disebarkan oleh Kyai Abdul Jalal atau Bagus Turmudi yang berasal dari Pedan, Klaten yang masih memiliki garis keturunan dengan Prabu Brawijaya V. Babat alas dilakukan oleh Kyai Abdul Jalal setelah mendapat perintah dari mertua beliau yakni Kyai Jumal Korib yang merupakan salah satu guru di pondok pesantren milik Kyai Badheran disebelah utara Delanggu. Karena sanad keilmuan dan Sanan keluarga tersebut, Kaliyoso turut andil dalam perang Diponegoro dalam melawan pemerintah Kolonial Belanda.

Metode penelitian sejarah yang penulis terapkan dalam skripsi ini terdiri dari empat tahap yaitu heuristik (pengumpulan sumber), verifikasi (kritik sumber), intepretasi (penafsiran sumber), historiografi (penulisan sejarah). Penelitian menguraikan fakta sejarah yang menitikberatkan pada data primer berupa arsip, foto, artikel, wawancara dengan pelaku serta saksi sejarah itu sendiri, serta didukung dengan pustaka dan penelitian terdahulu yang relevan.

Hasil penelitian dari skripsi ini adalah, pertama, Kyai Mojo sebagai panglima perang dan penasehat agama banyak merekrut laskar dari kalangan ulama dan santri dengan memanfaatkan jejaring yang sudah sejak lama beliau rintis, salah satunya berhubungan dengan ulama Kaliyoso. Kedua, Kaliyoso merupakan nama pemberian dari Sinuhun Pakubuwana IV dan menjadi Tanah Perdikan Agama dibawah kekuasaan Kraton Kasunanan yang diberikan kepada Kyai Abdul Jalal sebagai bentuk apresiasi Sinuhun. Ketiga, Kaliyoso menjadi salah satu wilayah yang menyumbang pasukan untuk laskar Diponegoro pada tahun 1825-1830. Selain itu, Kaliyoso juga menyumbang amunisi dan alutsista beerupa Gada dan lainnya.

(12)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 ... 41

Gambar 4.1 ... 59

Gambar 4.2 ... 60

Gambar 4.3 ... 61

Gambar 4.4 ... 62

Gambar 4.5 ... 72

(13)

xii

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1 ... 4

Bagan 3.1 ... 54

Bagan 4.1 ... 55

Bagan 4.2 ... 63

Bagan 4 3 ... 75

(14)

xiii

DAFTAR ISTILAH

Abdi Dalem Pejabat atau pelayan kerajaan yang biasanya tinggal di lingkungan keraton.

Akal Bulus Sebuah ungkapan yang menjelaskan dari istilah tipu muslihat.

Akulturasi Suatu proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok masyarakat dengan suatu kebudayaannya dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing dimana unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun melebur ke dalam kebudayaan asli, dengan tidak menghilangkan kepribadian kedua unsur kebudayaan tersebut.

Akar Rumput Lapisan ari tingkatan suatu kelompok yang berada dipaling bawah.

Artilerie Sebutan untuk kesenjataan (persenjataan), pengetahuan kesenjataan, pasukan serta persenjataannya sendiri yang berupa senjata-senjata berat jarak jauh.

Angkuh Sebuah sifat yang menunjukkan kesombongan

Babad Naskah jawa yang ditulis dalam bentuk tawarikh dan terdiri dari kanto-kanto.

Balad Berasal dari Bahasa arab yang bermakna Negara

Batalyon Istilah yang berada dalam ilmu kemiliteran yang membawahi kompi, pleton, dan regu.

Bedil Senjata api dengan model senapan kuno.

(15)

xiv

Besluit Keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah belanda.

Blumbangan Tempat air yang digunakan untuk tujuan tertentu.

Boyong Berpindah tempat tinggal beserta seluruh keluarga dan seluruh barang miliknya.

Bumi Putera Penduduk asli dari suatu negara.

Circle Sebuah kelompok yang terdiri dari beberapa orang.

Deffensif Suatu operasi ketenteraan yang bersifat mempertahankan wilayah dengan menggunakan pasukan bersenjata.

Detasemen Satuan tetap yang berkekuatan kurang lebih sebesar Peleton hingga Kompi yang dibentuk untuk tugas-tugas tertentu.

Devide et Impera Strategi untuk menguasai sistem politik, ekonomi maupun sosial pada suatu organisasi atau kelompok masyarakat.

Tujuannya adalah memecah kekuatan baik politik, ekonomi, militer suatu kelompok dengan kekuatan besar menjadi kelompok-kelompok kecil. Secara umum strategi ini membatasi bahkan menghalangi kelompok-kelompok yang lebih kecil untuk bersatu.

Diplomasi Cara untuk menyampaikan suatu pesan yang punya tujuan khusus melalui seorang diplomat dalam perundingan.

Diplomasi sangat erat hubungannya dalam kegiatan politik.

Dogma Pokok ajaran (tentang kepercayaan dan sebagainya) yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.

(16)

xv

Effort Sebuah usaha untuk mendapatkan sesuatu.

Eksodus Perbuatan meninggalkan tempat asal (kampung halaman, kota, negeri) oleh penduduk secara besar-besaran.

Ekspansi Suatu proses atau tindakan yang dilakukan agar sesuatu menjadi lebih besar atau lebih luas.

Faksi Suatu kelompok dalam bidang ilmu politik dan pemerintahan.

Garnisun Sebutan untuk sekelompok pasukan yang bertempat di suatu lokasi, dan bertujuan untuk mengamankannya.

Gerilya Cara berperang yang tidak terikat secara resmi pada ketentuan perang (biasanya dilakukan dengan sembunyi- sembunyi dan secara tiba-tiba).

Gethek Alat trasnportasi air yang terbuat dari bambu dirakit menjadi satu kesatuan.

Gubernemen Pemerintah di masa penjajahan belanda.

Hegemoni Pengaruh kepemimpinan, dominasi, kekuasaan, dan sebagainya suatu negara atas negara lain.

Intervensi Campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang, golongan, negara dan sebagainya) yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan tertentu.

Hulu Titik awal dari aliran sungai atau tempat sumber airnya muncul.

(17)

xvi

Iklim Kebiasaan dan karakter cuaca yang terjadi di suatu tempat atau daerah.

Imperialisme Sebuah kebijakan di mana sebuah negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar negara itu bisa dipelihara atau berkembang. Sebuah contoh imperialisme terjadi saat negara-negara itu menaklukkan atau menempati tanah-tanah itu.

Indentifikasi Penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dan sebagainya.

Infanteri Pasukan tempur darat utama yaitu pasukan pejalan kaki yang dilengkapi persenjataan ringan, dilatih dan disiapkan untuk melaksanakan pertempuran jarak dekat.

Intelektual Orang yang memakai kecerdasan untuk belajar, bekerja, mengagas, membayangkan serta menjawab masalah tentang berbagai gagasan.

Interogasi Pemeriksaan terhadap seseorang melalui pertanyaan lisan yang bersistem.

Jaringan Sebuah sistem yang menghasilkan media transmisi atau media komunikasi dengan cara menghubungkan dua atau lebih individu.

Jihad Fi Sabilillah Sebuah semangat kekuatan untuk melakukan peperangan melawan musuh, dalam maksud mengagungkan nama Allah Ta’ala, dengan berperang secara terus menerus di dalam

(18)

xvii

sebuah medan perang maupun meberi bantuan keuangan, pangan, maupun ide pemikiran dalam strategi dan taktik untuk memenangkan sebuah peperangan.

Kadaster Sebuah sistem administrasi informasi yang menuliskan tentang catatan tanah.

Kaum Putihan Kelompok yang memiliki kecenderungan memahami ajaran agama sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa sinkretisasi dengan budaya atau ajaran terdahulu.

Kavaleri Pasukan perang khusus yang bertempur dengan mengendarai kuda sambil mengangkat senjata, namun pada saat ini juga merujuk pada pasukan militer khusus yang bertempur menggunakan kendaraan lapis baja atau tank.

Kegenialan Ungkapan kakaguman dari kecerdasan seseorang.

Kerajaan/Keraton Tempat kediaman raja atau istana raja.Di tempat ini seorang raja mengendalikan pemerintahan kerajaannya. Dengan demikian, keraton berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja.

Koalisi Kerjasama antara satu individua tau kelompok dengan suatu tujuan umum.

Kolega Teman dalam suatu jawatan.

Kompeni Sebutan untuk pemerintah belanda di hindia timur dan pasukan tentara belanda.

(19)

xviii

Kompi Istilah yang berada dalam ilmu kemiliteran yang membawahi pleton dan regu.

Konsolidasi Suatu tindakan atau upaya yang dilakukan untuk menyatukan, memperkuat, dan memperteguh hubungan antara dua kelompok atau lebih sehingga terbentuk suatu persatuan yang lebih kuat.

Kyai Sebutan untuk orang yang dituakan dan juga mengajarkan ajaran agama Islam.

Legacy Warisan atau tinggalan dari zaman terdahulu.

Manifesto Pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok.

Mediator Pihak netral yang membantu dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian masalah tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.

Mesiu Bahan kimia yang mudah meledak, biasanya berupa bubuk, dipakai untuk mengisi peluru.

Memoar Catatan atau rekaman tentang pengalaman hidup seseorang.

Misan Keturunan dari satu nenek atau sering disebut saudara sepupu.

Mobile Suatu pergerakan yang berpindah-pindah tempat dan terlihat aktif.

Muara Titik akhir dari aliran sungai.

(20)

xix

Nunggak Semi Pengambilan nama dari leluhur dengan tujuan tertentu.

Offensive Suatu operasi ketenteraan yang agresif dengan menggunakan pasukan bersenjata untuk menduduki sesuatu kawasan, memperoleh objektif atau mencapai matlamat strategik, operasi, atau taktikal yang lebih besar.

Oligarki Struktur kekuasaan yang dikendalikan oleh sejumlah kecil orang, yang dapat terkait dengan kekayaan, ikatan keluarga, bangsawan, kepentingan perusahaan, agama, politik, atau kekuatan militer.

Panji-panji Sejenis bendera identitas angkatan bersenjata yang digunakan dalam peperangan untuk memberitahu titik berkumpul kepada pasukan dan menandai lokasi panglima perang.

Patok Nagari Batas wilayah administratif dari keraton.

Pribumi Penghuni asli yang berasal dari tempat yang bersangkutan.

Propaganda Paham yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu.

Proyektil Suatu benda yang ditembakkan ke udara dengan penerapan beberapa gaya mekanik murni yang diterapkan oleh benda padat lainnya.

Punjer Pusat dari sesuatu hal.

Reload Sebuah kegiatan mengisi peluru dalam sebuah persenjataan.

(21)

xx

Reshuffle Perombakan tugas, pokok, fungsi seseorang dari suatu jabatan pemerintahan.

Residen Pegawai pemerintahan yang menduduki jabatan struktural sebagai pemimpin dari suatu daerah.

Resimen Pasukan tentara yg terdiri atas beberapa batalion yg biasanya dikepalai oleh seorang perwira menengah.

Represi Kondisi emosi dalam tekanan atau tegang, sehingga hal-hal yang tidak menyenangkan dapat masuk ke dalam taraf alam bawah sadar.

Resistance Perbuatan melawan atau menentang dari tidak sependapat dalam suatu sistem.

Ritus Tata cara dari sebuah upacara kemasyarakatan.

Sadranan Serangkian upacara yang dilakukan masyarakat jawa,terutama jawa tengah.

Safar Perjalanan dengan suatu tujuan dari satu wilayah menuju ke wilayah lain.

Sami’na Wa Atho’na Berasal dari Bahasa arab yang mempunyai arti kami dengar

dan kami taat tentang sesuatu hal.

Sanad Rangkaian atau urutan orang-orang yang menyampaikan ilmu agama islam sehingga terbentuklah suatu ajaran yang dapat diyakini oleh umat muslim.

Santri Orang yang mendalami agama Islam; orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh.

(22)

xxi

Sekutu Orang atau sekelompok orang yang bekerja bersama untuk mencapai beberapa tujuan umum.

Sengkuni Istilah penggambaran karakter seseorang yang dikenal jahat, suka mengadu domba, dan selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginanya.

Signifikan Sesuatu/seseorang yang dianggap penting atau berarti karena dapat memberikan pengaruh atau dampak, dan tidak bisa lepas dari suatu persoalan.

Spiritual Hubungan makhluk dengan Tuhan Yang Maha Esa / Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta, Tuhan disini tergantung dengan keyakinan atau kepercayaan yang dianut oleh mahkluk itu sendiri.

Tandus Kondisi tanah yang tidak dapat ditumbuhi tanaman atau tumbuhan karena kekurangan zat hara atau tidak subur.

Telik Sandi Suatu jabatan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari kelompok lain.

Tempuran Tempat bertemunya dua aliran sungai.

Titah Perintah yang harus ditaati.

Tonggak Peristiwa penting dalam suatu sejarah.

Uborampe Bahan-bahan yang dipersiapkan untuk membuat sesuatu.

Ulama Orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.

Wingit Istilah untuk suatu tempat yang dikeramatkan.

(23)

xxii

DAFTAR SINGKATAN

P Pangeran.

R Raden.

HB Hamengku Buwana.

PB Paku Buwana.

R.M.Ng Raden Mas Ngabei.

R.M.R.P Raden Mas Riyo Panji.

R.M.T Raden Mas Tumenggung.

Prof Profesor.

Dr Doktor.

S.Pd Sarjana Pendidikan.

M.Pd Magister Pendidikan.

Alutsista Alat Utama Sitem Pertahanan.

(24)

1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

“Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan.”

(Pangeran Diponegoro)

Hegemoni Belanda pada pertengahan abad 18 dan melemahnya kekuasaan kerajaan bumi putera karena tidak mampu melawan keberadaan bangsa asing serta perlakuan represi Belanda yang sewenang-wenangnya, intervensi dalam pemerintahan kerajaan, dan pemungutan pajak tanah yang tidak bisa dirasionalkan menjadi beberapa latar belakang terjadinya perang Diponegoro pada tahun 1825- 1830. Melihat kenyataan tersebut, memunculkan gagasan untuk berjuang melawan kapitalis barat oleh tokoh-tokoh kerajaan dan kalangan ulama-santri.1

Jihad fii sabilillah disuarakan laskar Diponegoro yang kebanyakan berasal dari

kalangan ulama-santri dengan tokoh penting Kyai Mojo sebagai panglima perang yang juga sebagai penasehat spiritual-intelektual Pangeran Diponegoro,2 Putra Kyai Badheran tersebut membangun jejaring ulama sejak dari kecil, menjadi santri dari Kyai ternama di Kasunanan Surakarta-Kasultanan Yogyakarta menjadikan Kyai Mojo mendapat dukungan dengan mudah.3

1 Kayatun, Skripsi: “Nyi Ageng Serang Dalam Perang Diponegoro” (Surabaya: UIN Sunan Ampel, 1995), hlm. 1.

2 Mohammad Ashif Fuadi, Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro di Pesantren, (Bojonegoro: CV Madza Media, 2020), hlm. 2.

3 Stephen Headley, The Islamization of Central Java: The Role Muslim Lineages In Kaliyoso, Vol. 4, Jurnal Studia Islamika, 1997, hlm. 68.

(25)

Selain dari garis sanad keilmuan, silsilah keluarga juga menjadi kuatnya laskar Diponegoro. Kyai Abdul Jalal merupakan salah satu prajurit yang tergabung dalam laskar Diponegoro dari garis sanad keilmuan dan silsilah dengan Kyai Mojo.4

Kesimpulannya bahwas Islam telah jauh lebih dalam masuk di dalam kehidupan masyarakat Kalioso, Islam tersebar lewat Ulama-Ulama penerus. Lewat surau- surau atau tempat menimba ilmu lainnya Islam mulai dikenal oleh masyarakat Kaliyoso.5 Ulama adalah mereka yang rela mengorbankan apapun demi tercapainya keadilan sosial dan tegaknya sebuah kebenaran. Nilai-nilai yang patut untuk kita teladani dalam kehidupan saat ini. Pernyataan tersebut relevan dengan apa yang akan penulis jabarkan dalam bab selanjutnya dalam studi kasus jaringan ulama dalam perang jawa.6

Jejaring Ulama yang dinamikanya mulai terbentuk pada abad ke-17 dan ke-18 disebabkan karena ibadah haji serta menimba ilmu. Pertumbuhan jaringan ulama di Indonesia sendiri melalui proses-proses historis serta sangat kompleks. Terdapat perubahan korelasi yang terjadi pada saat itu, Pertama berbentuk hubungan ekonomi dan perdagangan. Kedua, disusul oleh hubungan politik – keagamaan.

Dan yang terakhir diikuti hubungan intelektual – keagamaan. Dan hubungan kedua dan ketiga inilah yang melatarbelakangi Islam juga tersebar di daerah pedalaman dan subur seperti di daerah pesisir.7

4 Ibid. hlm. 68.

5 Drg.H. Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya (Jakarta: lentera basritama, 1999) hlm. 36.

6 Sufyan Al-Jazary, potret ulama (Solo: Jazera, 2011), hlm. 35.

7 Prof.Dr. Azymardi Azra, MA, Jaringan Ulama Timur dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (Jakarta: kencana, 2004), hlm. 1-2)

(26)

Kaum ulama dan santri dari awal perjuangan untuk mencapai kemerdekaan hingga dapat menikmati suasana damai dari efek kemerdekaan seperti saat ini mempunyai peranan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Motivasi serta semangat yang dikobarkan dari kaum putihan ini yang dapat meyakinkan kepada rakyat Indonesia yang pada saat itu harkat dan martabatnya dipandang sebelah mata oleh penjajah serta penghianat bangsa dengan cap sebagai inlander. Berbagai jalur ditempuh untuk rekonsiliasi dari kedua belah pihak, dari perlawaan sampai jalur diplomasi pernah dilakukan. Puncaknya ialah keyakinan syahid-lah yang memberikan mental pembangkang kepada mereka untuk melawan kaum imperialisme yang melegitimasi dirinya sebagai kaum kulit putih yang cerdas.8

Tak bisa dimungkiri bahwasanya setelah Perang Diponegoro bisa dijadikan alasan terjadinya gairah pemberontakan di pelbagai wilayah nusantara, terkhusus wilayah Dinasti Mataram Islam. Laskar Diponegoro yang terdiri dari para Ulama, Santri, dan pengikut setia melakukan langkah eksodus ke berbagai wilayah lalu mendirikan masjid, surau-surau, maupun pesantren dan tempat belajar. Banyak dari mereka mengganti nama dan identitas agar tidak terendus oleh pasukan Belanda saat itu, Salah satu ciri penanda dari laskar ini adalah sebuah pohon sawo kecik.9

8 Latiful Huluq, Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH Hasyim Asyari (Yogyakarta: lkis, 2000), hlm 87.

9 Stephen Headley, “The Islamization of Central Java: The Role of Muslim Lineages in Kalioso”, Studia Islamika Journal of Islamic Studies. Vol. 4. No 3, 1997, hal. 55-56.

(27)

Bagan 1.1

Jejaring Ulama Diponegoro di Kaliyoso

Sumber: Buku Silsilah Kaliyoso dan Buku Jejaring Ulama Diponegoro

Tak terkecuali Kyai Abdul Djalal, melakukan sebuah safar ke utara keraton kasunanan karena titah dari guru beliau. Sebelumnya melakukan misi tersebut beliau sudah nyantri di banyak tempat. Dalam berdakwah beliau dibantu oleh Kyai Khamdani yang merupakan adik Kyai Abdul Jalal dan Kyai Muhammad Korib serta Kyai Yahya yang merupakan keponakan beliau. Kyai Abdul diberi tanah perdikan Raja PakuBuwana VI. Karena gelar yang disandang oleh raja ialah Sayyidin Panatagama,10 yang memiliki arti seorang pemimpin yang memiliki kewajiban

10 Stephen Headley, “The Islamization of Central Java: The Role of Muslim Lineages in Kalioso”, Studia Islamika Journal of Islamic Studies. Vol. 4. No 3, 1997, hal. 55-56.

(28)

untuk mengatur hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama, maka dari itu tanah yang berada di sebelah selatan Semarang ini di jadikan sebagai tanah perdikan.

Tanah perdikan sudah dikenal sejak zaman Hindhu-Buddha, Tujuan raja memberikan hak istimewa untuk desa perdikan yaitu untuk memajukan agama dan memelihara makam raja atau orang yang dimuliakan. Selain itu, hak tersebut juga diberikan untuk orang yang memelihara pertapaan, pesantren, langgar, atau masjid, termasuk juga hadiah kepada orang atau desa yang berjasa pada raja. Pemberian oleh Raja yang berupa tanah perdikan inilah, terbangun surau-surau tempat menimba ilmu agama bermunculan. Salah satu contoh wilayah perdikan adalah Kaliyoso yang sekarang masuk kedalam wilayah administratif Kabupaten Sragen.

Di wilayah tersebut, Kyai Abdul Djalal mendirikan sebuah tempat untuk belajar ilmu agama dan membangun jaringan dengan pesantren di sekitarnya bahkan sampai ke pesantren sekitaran keraton Kasunanan.11

B. Rumusan & Batasan Masalah

Problematika dari penelitian ini ialah jejaring ulama di Kaliyoso, Sragen ketika perang jawa terjadi yakni pada tahun 1825-1830. Pemilihan masalah tersebut karena sejauh ini belum banyak sejarawan yang menuliskan tentang jaringan ulama di Kaliyoso, ditambah lagi jaringan ulama pada perang Jawa masih minim informasinya. Sementara batasan dari penelitian serta kepenulisan karya ilmiah ini hanya memaparkan jejaring ulama di Kaliyoso, Sragen yang ada sangkut pautnya

11 Ibid. hlm. 55-56.

(29)

dengan Kyai Abdul Djalal yang menjadi tokoh babat alas di tanah perdikan utara Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dari penelitian tersebut, maka penulis mengajukan rumusan masalah dalam penelitian ini:

1. Bagaimana proses terbentuknya wilayah Kaliyoso?

2. Bagaimana terbentuknya jaringan Ulama-Santri di Kaliyoso pada perang Diponegoro ?

3. Bagaimana pengaruh jaringan Ulama dan Santri di Kaliyoso tersebut pada perang Diponegoro ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Banyak sekali tujuan dari penelitian yang ingin penulis capai, tetapi pada akhirnya ada yang lebih inti dari semua tujuan yang ingin penulis capai. Selain untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penulis juga ingin memberikan informasi kepada masyarakat umum terkhusus kepada keturunan dari warga Kaliyoso, dan mahasiswa sejarah melalui karya ilmiah ini mengenai Ulama, Santri, dan perang Jawa yang melibatkan pasukan dari tanah perdikan. Selain itu penulis, tujuan penulis ialah:

1. Tujuan umum

Sebagai sarana untuk mengembangkan daya berpikir yang kritis, logis, dan analitis. Seringkali penulis jumpai semasa menjalani proses pembelajaran mata kuliah, karya ilmiah atau tulisan penulis beberapa ada yang tidak menerapkan tiga point diatas. Tujuan dari penulis mengajak diri sendiri dan juga pembaca untuk

(30)

menerapkan serta mengembangkan daya berfikir kritis, logis, serta analitis dalam melakukan suatu penulisan sejarah.

Mengaplikasikan metode penelitian sejarah dan historiografi yang telah dipelajari selama kuliah dalam bentuk nyata. Heuristik, Kritik, Interpretasi, dan Historiografi adalah teori dasar untuk memulai penelitian dan penulisan sejarah.

Sejarawan harus paham betul mengenai teori dasar ini untuk menghasilkan suatu karya ilmiah yang baik.

Memperoleh gambaran umum tentang perang Jawa yang pernah membuat para petinggi pemerintahan geram karena gerakan serta pemikiran Pangeran Diponegoro yang sangat komprehensif. Dimulai dari tanah leluhur yang diusik oleh kompeni dan tidak amanahnya para pemegang jabatan pemerintahan kala itu menjadi awal tonggak gerakan Pangeran Diponegoro dimulai. Selarong menjadi tempat dimana Perang Jawa berakhir, Kyai Mojo yang merupakan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro melakukan permainan politik di belakang Pangeran Diponegoro dan ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh musuh menjadikan kekuatan Laskar Diponegoro melemah yang pada akhirnya para pengikut melakukan eksodus ke berbagai wilayah.

2. Tujuan Khusus

Memberikan dinamika terbentuknya sebuah sistem jejaring ulama di Kaliyoso, Sragen 1825-1830. Hubungan sebuah keluarga maupun ikatan batin yang lain tidak akan terbentuk dengan begitu saja, banyak proses yang akan dilalui sehingga menciptakan sebuah hubungan yang erat. Penulis bertujuan untuk menelisik hingga memberikan hasil yang memuaskan kepada pembaca dengan kemampuan penulis.

(31)

Inti dari semuanya ialah penulis ingin memberikan warna dalam penulisan sejarah Hubungan ulama dari Laksar Diponegoro. Dewasa ini memang banyak dituliskan sejarah tentang Perang Jawa, akan tetapi masih sedikit yang menuliskan tentang Laskar Diponegoro yang berada di sisi utara Keraton Kasunanan ini.

Mengetahui kesadaran pendidikan agama dalam keadaan perjuangan kemerdekaan dari perlakuan represi kolonial. Ardian Nur Rizki pernah mengatakan

”Di Indonesia, Rumput hijau bahkan dijadikan sebagai medan pertempuran dalam upaya menghempas sistem penjajahan. Ketika perjuangan lewat organisasi politik, organisasi pendidikan, dan organisai agama sering menuai tindakan represi dari pemerintah kolonial, sepak bola hadir sebagai wahana estafet juang yang ideal”.

Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat diawasi pergerakannya oleh pemerintahan kolonial, sebab pendidikan kala itu merupakan pengaruh yang sangat bisa untuk melawan sistem yang diterapkan pemerintahan kolonial kepada bangsa Indonesia. Agama juga tak luput dari pengawasan pemerintahan, keterikatan hubungan yang kuat karena berlandaskan kepercayaan bisa dijadikan alat untuk menggempur bahkan mengusir penjajah dari daerah yang dikuasainya.

Mengetahui pengaruh sebuah jaringan ulama di dalam pertempuran kemerdekaan, keadilan, kesamaan, dan kesetaraan pada perang Jawa. Monopoli perdagangan dan sistem culturstelseel merupakan hal kecil dari bentuk penindasan serta perlakuan represi dari pemerintahan kolonial. Pribumi pada saat itu dipaksa untuk patuh terhadap sistem perbudakan yang merantas hak asasi masyarakat Indonesia. Semua dikeruk demi misi gold dan glory dari penjajah.

(32)

Manfaat penelitian adalah narasi yang objektif menggambarkan hal-hal yang diperoleh setelah suatu tujuan penelitian terpenuhi. Manfaat yang bisa didapat dari karya ilmiah ini ialah bertambahnya wawasan mengenai perang Jawa, dapat mengetahui bagaimana jaringan ulama terbentuk pada waktu itu.

D. Tinjauan Pustaka

Pembahasan mengenai Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro memang sudah banyak sekali dituangkan dari tinta ke dalam kertas putih, mulai dari biografi, tempat peperangan, bahkan strategi berperang, tetapi pemfokusan terhadap pasukan dari jalur Ulama masih sedikit refrensi yang di temukan. Meski begitu beberapa buku, jurnal dan babad yang di korespondesikan dengan sumber yang lain juga menjadi bagian dari penelitian ini, serta tambahan dari wawancara dengan beberapa narasumber.

E.R. Asura dalam tulisannya di dalam buku yang berjudul Kyai Abdul Jalal I Sang Penakluk Jogopaten Bulan Sabit di Atas Perdikan Kaliyoso, yang diterbitkan pada tahun 2014 menjelaskan tentang masa kecil Kyai Abdul Djalal, peristiwa dan perjalanan babat alas di tanah perdikan, hingga menyumbang santri untuk menjadi pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Langkah selanjutnya setelah berhasil menaklukkan alas Jogopaten adalah membangun sebuah surau dan tempat mengaji, sehingga semakin mengukuhkan prinsip bulan, menjadi penerangan siapa pun tanpa menyilaukan mata.

Dusun ini kemudian dijadikan tanah perdikan oleh Pakubuwana IV dengan nama Kaliyoso. Islam meluas sebagai rahmatan lil alamin. Kiprah pendiri Kaliyoso dan prinsip astra brata ini tidak saja menjadi anutan bagi anak keturunannya juga

(33)

masyarakat sekitar tanah perdikan Kaliyoso dan terus menyebar ke sekelilingnya.

Dalam buku inilah berkelindan tidak saja semangat perjuangan Kiai Abdul Jalal I tapi bagaimana rasa cinta dan asmara menyatu, Langkah yang kemudian dijadikan patron generasi selanjutnya trah Kaliyoso.

Persembahan Kodam Diponegoro yang berjudul Sewindhu Berdirinya Monumen Pangeran Diponegoro “Sasanawiratama” Tegalrejo-Yogyakarta, yang diterbitkan pada tahun 1977 oleh PANGDAM VII DIPONEGORO dan disempurnakan oleh DISJARAHDAM VII DIPONEGORO menjelaskan dari terpecahnya dinasti Mataram Islam menjadi 4 bagian yakni, Kasunanan- Kasultanan-Mangkunegaran-Pakualaman. Dalam bab Selanjutnya mulai diperinci dengan 4 tahapan dari situasi pra perang Jawa, tahap awal perang Jawa, tahap ketiga yakni ketika perang Jawa meletus dan tahap terakhir yakni masa-masa akhir perang Jawa dan perundingan di Magelang.

Sya’roni Martowikoro dalam karyanya yang berjudul Silsilah Leluhur Kalioso, penulis memperkirakan buku tersebut diterbitkan sekitar tahun 1950-an dibuktikan dengan tahun pencarian data di buku tersebut yang menyebut angka 1954 sebagai tahun pertama pencarian data. Di dalam buku ini di jelaskan secara rinci garis keturunan dari Trah Nitimenggolo serta sejarah singkat Kaliyoso, Sragen.

Pada tahun 2011 Iwan Santoso menyelesaikan sebuah tulisan sejarah yang berjudul Legiun Mangkunegaran (1808-1942), menjelaskan tentang organisasi kemiliteran yang sangat modern di Asia dengan mengadopsi strategi dari angkatan perang terkuat di dunia yang dibawah kendali Napoleon Bonaparte selain itu juga

(34)

menjelaskan mengenai tradisi kemiliteran mangkunegaran, legiun mangkunegaran, sekolah serdadu, kesejahteraan prajurit legiun mangkunegaran, serta pahlawan atau penghianat. Terakhir, dibab inilah yang menjadi data penulis karena menjelaskan mengenai perang Jawa secara rinci dari sub bab yang ada di dalamnya. Catatan sejarah penting digoreskan Legiun Mangkunegaran pada masa Perang Diponegoro (Perang Jawa), 1825-1830, yang dalam arus utama sejarah Republik Indonesia di sebut sebagai perlawanan Pangeran Diponegoro. Letnan Kolonel H.F. Aukes membahas jalannya perang ini dalam uraian sepanjang lebih dari 150 halaman dalam buku Het Legion van Mangkoe Nagoro. Ia mencatat, peran paling aktif Legiun Mangkunegaran terjadi ketika pemberontakan Diponegoro menyulut seluruh Jawa Tengah dalam bara api peperangan.- Sebagai pusat kekuasaan yang muncul dari perang gerilya selama belasan tahun, Praja Mangkunegaran memiliki tradisi militer yang sangat kuat. Setelah memasuki masa damai, perayaan-perayaan besar digelar untuk memperingati kesatuan-kesatuan militernya. Beragam kegiatan, seperti kompetisi menunggang kuda, serta pertunjukan teater dan tari- tarian,menggambarkan kejayaan pasukan Mangkunegaran di medan laga.

Buku Kuasa Ramalan Jilid II (1785-1855), yang disusun oleh Peter Carrey diterbitkan pada bulan November tahun 2011 bercerita tentang riwayat hidup Pangeran Diponegoro yang mengungkap secara rinci rahasia tokoh sejarah yang penuh teka-teki dan kharisma tersebut. Dalam bab 9 yang menceritakan tentang perlawanan terakhir perang jawa dimana terjadi konflik antara pihak Pangeran Diponegoro dengan Ulama menjadikan penulis sebagai rujukan dalam penulisan karya ilmiah ini.

(35)

Buku Pahlawan Dipanegara Berdjuang yang disusun oleh Sagimun M.D diterbitkan pada tahun 1960 oleh tjabang bagian bahasa/adat istiadat dan tjeritera rakyat djawatan kebudajaan Departemen P.P dan K. Buku ini bisa dikatakan paling awal dalam menceritakan kisah Pangeran Dipanegara, Tanah Mataram, Politik kolonial, serta Perang Jawa.

Penerbit Compas di tahun 2019 menerbitkan sebuah buku yang berjudul

Jejaring Ulama Diponegoro disusun oleh Zainul Milal Bizawie. Memaparkan sebuah jawaban tentang betapa sungguh beralasannya mereka yang khawatir terhadap kekuatan Islam beserta gerakannya di ranah politik. Melalui spektrum perjuangan Pangeran Diponegoro yang merupakan ulama, kaum terdidik, dan bangsawan. Setidaknya ada hal yang bisa dicatat sebagai kunci keberhasilan Pangeran Diponegoro mengobarkan Perang Jawa dan kaitannya dengan konteks gerakan kekinian. Kunci-kunci ini penting untuk dipelajari mengingat Perang yang berlangsung sejak 1825-1830 M ini merupakan perlawanan terbesar masyarakat Jawa yang amat merepotkan dan menguras kas penguasa kolonial Belanda.

Pangeran Diponegoro harus berhadapan dengan kraton-kraton yang telah dikuasai penjajah dan sesama pribumi yang pro kepada Belanda.

Jejaring ulama santri yang sejak lama dibangun dan dibina Pangeran Diponegoro sehingga dukungan meluas di tanah Jawa. Bahasan ini bahkan menjadi perhatian utama penulis yang mengurai secara rinci hingga jejaring itu terbentuk, baik karena garis keturunan, hubungan guru murid (sanad keilmuan), hubungan menantu, maupun perjuangan.

(36)

Buku Menelusuri Jejak Laskar Diponegoro di Pesantren yang disusun oleh Mohamad Ashif Fuadi. Memaparkan tentang bagaimana proses terbentuknya jejaring laskar Diponegoro serta pengajaran kitab kuning yang menjadi tradisi di pesantren, menyebarkan tarekat Syattariyah sebagaimana yang sudah dianut oleh Pangeran Diponegoro, serta mewarisi corak dakwah kultural walisongo yang bercorak moderat. Dalam tulisan tersebut juga diterangkan jejak-jejak laskar Diponegoro yang menguatkan bahwasanya perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan tidak berhenti pasca Perang Jawa, akan tetapi bergeser ke pesantren yang lebih strategis dengan mempertahankan semangat anti-kolonialis.

Jurnal Studia Islamika Indonesian Journal for Islamic Studies, Volume 4. No 3, 1997 yang disusun oleh Stephen Headley. Jurnal tersebut diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, berisi tentang hubungan ulama di kalioso dan sekitarnya hingga keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Bermula dari tanah pemberian Sunan kepada Kyai Abdul Djalal untuk melakukan eksodus ke Utara yakni Alas Jogopaten.

Penelitian mengenai Yayasan Umat Islam Kaliyoso (YAUMIKA) telah dikaji oleh Ida Ayu Cahyani (2021) dalam skripsinya yang berjudul “Sejarah dan Perkembangan Yayasan Umat Islam Kaliyoso (YAUMIKA) Serta Kontribusinya Bagi Masyarakat Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen. Di dalam penelitian ini mengkaji mengenai Yayasan Umat Islam Kaliyoso (YAUMIKA) dalam konteks sejarah serta perkembangan dari Yayasan Umat Islam Kaliyoso (YAUMIKA) beserta kontribusinya bagi masyarakat Kecamatan Kalijambe.

(37)

E. Metode Penelitian

Dalam metode penelitian sejarah ada beberapa tahapan yang harus penulis lalui, antara lain: Pertama, pengumpulan data yang berasal dari media cetak yang sezaman maupun dari media digital. Untuk media digital penulis dilarang asal- asalan untuk data penelitian tetapi media-media yang terpercaya ataupun jurnal yang bisa dipertanggung jawabkan. Kedua, memilah dan memilih bahan yang otentisitas dan kredibilitas dari sumber sejarah. Ketiga, menganalisis data satu dengan yang lainnya sehingga bisa ke tahap selanjutnya. Keempat, menyusun data yang disajikan dalam suatu tulisan sehingga menjadi suatu karya ilmiah.12

Berdasarkan uraian tesebut dapat disimpulkan bahwasanya metode penelitian merupakan tehnik dalam mendekontruksi masa lampau melalui empat tahapan, antara lain; pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber, penafsiran (interpretasi), penulisan sejarah (historiografi)

12 Wasino, Metode Penelitian Sejarah Dari Riset Hingga Penulisan (Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama, 2018), hlm. 11.

(38)

1. Heuristik

berasal dari kata Yunani heuristiken yang berarti menumukan atau mengumpulkan sumber. Dalam kaitan dengan sejarah tentulah yang dimaksud sumber yaitu sumber sejarah tersebar berupa catatan, kesaksian, dan fakta-fakta lain yang dapat memberikan penggambaran tentang sebuah peristiwa yang menyangkut tentang kehidupan manusia.13 Hal ini bisa dikategorikan sebagai sumber sejarah.

Bahan-bahan sebagai sumber sejarah kemudian dijadikan alat, bukan tujuan.

Dengan kata lain orang harus mempunyai data detail dahulu untuk menulis sejarah.

Kajian tentang sumber-sumber suatu ilmu tersendiri yang disebut heuristik.

Pengumpulan data yang penulis dapatkan merupakan dari banyak jalan, yakni Arsip foto Masjid Kaliyoso (Brang Lor) yang sekarang menjadi Masjid Jami’

Kaliyoso berada di kawasan pondok pesantren Kyai Abdul Djalal. Arsip Foto Batu Soye, merupakan tempat semedi Kyai Abdul Djalal sebelum babad alas jogopaten yang akhirnya menjadi tanah perdikan Kaliyoso, Sragen. Arsip Foto rumah beserta pekarangan Kyai Abdul Djalal ke I-IV, rumah tersebut juga digunakan untuk menyimpan pusaka yang diberikan oleh PakuBuwana ke-IV. Babad Dipanegara dari yang pertama sampai terakhir yang akan penulis korespondensikan dengan data yang lain. Selain itu penulis juga meminjam buku dari Perpustakaan pribadi, Perpustakaan Pribadi milik teman, Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta, Perpustakaan UMS, Perpustakaan UNS,

13 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Sleman: Penerbit Tiara Wacana, 2013), hlm.

77.

(39)

Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, Perpustakaan Sasana Pustaka Kasunanan, arsip masjid jami’ Kaliyoso, arsip YAUMIKA Kaliyoso, serta mewawancarai Narasumber yang berkredibilitas.

2. Kritik Sumber

Sumber-sumber yang telah dikumpulkan tersebut baik berupa benda, sumber tertulis maupun sumber lisan kemudian diverifikasi atau diuji melalui serangkaian kritik, baik yang bersifat intern maupun ekstern.

a) Kritik intern dilakukan untuk menilai kelayakan atau kredibilitas sumber.

Kredibilitas sumber biasanya mengacu pada kemampuan sumber untuk mengungkap kebenaran suatu perisiwa sejarah.

Sumber yang diperoleh dari Perpustakaan Pribadi, Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran, Perpustakaan Sasana Pustaka Kasunanan, arsip masjid jami’ Kaliyoso, arsip YAUMIKA Kaliyoso.

b) Kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keabsahan dan autentisitas sumber. Kritik terhadap autentisitas sumber tersebut misalnya dengan melakukan pengecekan tanggal penerbitan dokumen, pengecekan bahan yang berupa kertas atau tinta apakah cocok dengan masa di mana bahan semacam itu biasa digunakan atau diproduksi. Memastikan suatu sumber apakah termasuk sumber asli atau salinan. Apakah itu penulisan ulang atau hasil fotokopi.14

14 Ibid. hlm. 77.

(40)

3. Interpretasi

Setelah fakta-fakta disusun, kemudian dilakukan interpretasi. Interpretasi sangat esensial dan krusial dalam metodologi sejarah. Fakta-fakta sejarah yang berhasil dikumpulkan belum banyak bercerita. Fakta-fakta tersebut harus disusun dan digabungkan satu sama lain sehingga membentuk cerita peristiwa sejarah.

Hubungan kausalitas antar fakta menadi penting untuk melanjutkan pekerjaan melakukan interpretasi.

Interpetasi dalam penelitian ini lebih banyak menganalisis data dari arsip yang terkumpul dan buku-buku yang telah membahas perang jawa. Data tersebut kemudian dituangkan ke dalam isi atau pembahasan penelitian, selanjutnya didukung oleh referensi yang berhubungan dengan pembahasan itu.15

4. Historiografi

Historiografi merupakan tahap akhir dari penelitian sejarah, setelah melalui fase heuristik, kritik sumber dan iterpretasi. Pada tahap akhir inilah penulisan sejarah dilakukan. Sejarah bukan semata-mata rangkaian fakta belaka, tetapi sejarah adalah sebuah cerita. Cerita yang dimaksud ialah penghubungan antara kenyataan yang sudah menjadi kenyataan peristiwa dan suatu pengertian bulat dalam jiwa manusia atau pemberian tafsiran/ interpretasi kepada kejadian tersebut.16

15 Abd Rahman Hamid dan Muhammad Saleh Madjid, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Ombak,2011), Hlm. 47.

16 R. Moh. Ali, Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, (Yogyakarta: Lkis,2005),Hlm. 37.

(41)

Dengan kata lain penulisan sejarah merupakan representasi kesadaran penulis sejarah dalam masanya. Secara umum, dalam metode sejarah, penulisan sejarah (historiografi) merupakan fase atau langkah akhir dari beberapa fase yang biasanya haru dilakukan oleh peneliti sejarah. Penulisan sejarah (historiografi) merupakan cara penulisan, pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan.

F. Kerangka Konsep

Jaringan merupakan suatu bagan yang menggambarkan keterikatan dalam kegiatan yang dilakukan oleh kelompok.17 Jaringan Ulama yang dinamikanya mulai terbentuk pada abad ke-17 dan ke-18 disebabkan karena ibadah haji serta menimba ilmu. Pertumbuhan jaringan ulama di Indonesia sendiri melalui proses- proses historis serta sangat kompleks.18 Terdapat perubahan korelasi yang terjadi pada saat itu, Pertama berbentuk hubungan ekonomi dan perdagangan.

Kedua, disusul oleh hubungan politik – keagamaan. Dan yang terakhir diikuti hubungan intelektual – keagamaan. Dan hubungan kedua dan ketiga inilah yang melatarbelakangi Islam juga tersebar di daerah pedalaman dan subur seperti di daerah pesisir.19

17 KBBI Online, diakses melalui : https : //kbbi.kemdikbud.go.id, pada tanggal 10 November 2022

18 Prof.Dr. Azymardi Azra, MA, Jaringan Ulama Timur dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (Jakarta: kencana, 2004), hlm. 1-2.

19 Ibid. hlm. 1-2.

(42)

Dalam ilmu sejarah selain membahas tentang kehidupan manusia ataupun masyarakat, sejarah juga melihat hal lain yaitu runag dan waktu. Waktu menjadi konsep penting dalam ilmu sejarah. Sehubungan dengan konsep waktu dalam ilmu sejarah. Menurut Kuntowijoyo ilmu sejarah meliputi perkembangan, keberlanjutan atau kesinambungan, pengulangan maupun perubahan. Peristiwa sejarah dikatakan mengalami perkembangan apabila dalam kehidupan masyarakat bergerak dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Perkembangan tersebut terjadi bukan hanya karena adanya pengaruh dari luar tetapi juga karena faktor dalam masyarakat.20

Dalam paradigma sejarah, berdasarkan John Tosh menyatakan bahwa masyarakat merupakan sebuah proses yang berkesinambungan dan bukan entitas yang statis. Hal ini penting untuk mengetahui situasi dan kondisi sosial yang melatarbelakangi awal munculnya, perkembangannya serta arah perubahannya dari peristiwa sejarah. Perspektif ini perlu adanya suatu upaya yang berupa intepretasi atas peristiwa yang terjadi.21

Dalam penelitian ini, penulis mengkaji terkait dengan perkembangan masyarakat pedesaan, di mana mereka cenderung lebih bersosialisasi dengan kepribadian yang sederhana. Pola interaksi masyarakat pedesaan adalah dengan prinsip kerukunan, bersifat horizontal serta mementingkan kebersamaan. Pola solidaritas masyarakat pedesaan timbul sebab adanya kesamaan-kesamaan kemasyarakatan.22

20 Yulia Siska, Manusia dan Sejarah (Sebuah Tinjauan Filosofis), (Yogyakarta : Garudhawaca, 2015), hal. 39

21 Syamsul Bakri, Islam Melayu Mozaik Kebudayaan Islam di Singapura & Brunei, (Surakarta : PT Aksara Solopos, 2020), hal. 1

22 Yulianthi, Ilmu Sosial Budaya Dasar, ( Yogyakarta : Deepublish, 2015), hal. 75.

(43)

Masyarakat di Kaliyoso merupakan masyarakat pedesaan yang ditandai dengan pemikiran ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yakni perasaan setiap warga masyarakat yang amat kuat dengan hakekatnya, saling menghormati, dan memiliki hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat bersama. Dalam kehidupan masyarakat cara beradaptasi mereka begitu sederhana, yakni dengan menjunjung tinggi sikap kekeluargaan dan gotong royong antar sesama dan memiliki sikap sopan santun yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa pada umunya.

G. Sistematika Pembahasan

Agar mempermudah penulisan penelitian ini, maka penulis akan menyusunnya secara sistematis dan kronologi supaya mendapatkan hasil yang terbaik. Dengan dilandasi idealisme yang tinggi agar proposal ini dengan mudah menyajikan gambaran yang menunjukan suatu kontinuitas perkembangan kejadian secara baik.

Sesuai dengan permasalahan maka penulisan karya ilmiah ini terbagi kedalam lima bab, yaitu;

Bab pertama tersusun atas latar belakang, rumusan dan batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, kerangka konsep, dan sistematika penulisan. Dalam bab ini merupakan gambaran secara global mengenai bab-bab selanjutnya yang berisi mengenai pembahasan dari penelitian penulis.

Bab kedua berisi mengenai pembahasan dari gambaran umum perang Diponegoro yang menjadi titik awal dari terbentuknya jaringan ulama-santri di Kaliyoso, Kekuatan dikedua kubu, laskar Diponegoro dan garnisun Belanda dan pergerakan perjuangan laskar Diponegoro.

(44)

Bab ketiga berisi mengenai pembahasan dari pengaruh ulama dan santri di dalam perang Diponegoro. Tidak bisa kita bantah bahwasanya ketika perang Diponegoro pecah sinergitas yang membelot dari kompeni maupun Keraton sudah banyak pasukan mempersiapkan diri untuk berjihad mengusir para penjajah tersebut dan perpecahan manifesto laskar serta mengenal wilayah Kaliyoso yang ditinjau dari aspek sosial, agama, dan budaya.

Bab keempat berisi mengenai pembahasan dari babat alas Jogopaten dan Krendhawahana hingga terbentuk nama Kaliyoso hingga silsilah ulama kaliyoso dan peta jaringan ulama-santri yang tergabung dalam laskar Diponegoro.

Bab kelima berisi mengenai penutup yang tersusun atas kesimpulan dan saran.

Kesimpulan tersebut merupakan inti pembahasan dari isi penulisan karya ilmiah dan juga dilengkapi dengan saran-saran atas semua kekurangan dalam penulisan karya ilmiah tersebut.

(45)

BAB 2

GAMBARAN UMUM PERANG DIPONEGORO A. Faktor Yang Mempengaruhi Perang Diponegoro

1. Perubahan Politik dan Pemerintahan

Intervensi dari pihak Belanda terhadap politik dalam pemerintahan keraton Kasultanan Yogyakarta, serta kekecewaan dari berbagai lapisan masyarakat telah menimbulkan kebencian yang semakin mendalam terhadap kompeni. Tahun 1822 tonggak kepemimpinan Kasultanan dilanjutkan oleh Sinuhun HB V, sehubungan dengan belum cukup umur untuk memimpin dilakukan pengangkatan Dewan Perwalian Sultan HB V. Pangeran Diponegoro terpilih menjadi Dewan Perwalian, sementara dikalangan bangsawan lain ada beberapa yang tidak suka dengan terpilihnya Pangeran Diponegoro sebagai Dewan Perwalian. Diantaranya adalah Patih Danurejo IV dan Mayor Wironagoro yang saat itu menjabat sebagai Komandan Pasukan Keraton.23 keduanya adalah orang-orang yang taat terhadap pemerintah Belanda. Mereka berdua merasa khawatir apabila tugas-tugas mereka terhalang oleh sikap resistance Pangeran Diponegoro terhadap Belanda.

Pangeran Diponegoro sudah banyak melakukan tindakan yang membela rakyat semisal pemungutan pajak atas anjuran Patih Danurejo IV dan Mayor Wironagoro.

Keduanya merupakan sosok sentral dalam tindakan-tindakan yang merugikan rakyat dan sebagai individu yang sami’na wa atho’na kepada kekuasaan Belanda.24

23 Moelyono, Sewindhu Berdirinya Monumen P. Diponegoro “Sasanawiratama”, (Jogjakarta: Perwira Pengawas Monumen P. Diponegoro, 1977), hlm. 10

24 Sagimun M. D, Pahlawan Dipanegara Berdjuang, Bara Api Nan Tak Kunjung Padam, (Jogjakarta: Departemen P. P. & K, 1960), hlm. 68-69

(46)

Berulang kali jalur damai dipergunakan Pangeran Dipnegoro dan selalu menghindari tindakan represi dalam mengemukakan kepentingan rakyat, tapi usaha beliau selalu gagal, pihak Belanda juga enggan menerapkan peraturan yang sehat.25

Disisi lain berbagai jalan juga ditempuh untuk membuat Pangeran Diponegoro tidak nyaman berada dalam jabatan Dewan Perwalian sehingga beliau akan mengundurkan diri. Satu peristiwa yang membuat Pangeran Diponegoro masygul adalah, Pangeran Diponegoro yang saat itu tidak berada di keraton dengan sengaja tidak diundang dalam suatu acara penting yakni penobatan Sultan HB V. Dengan kejadian itu, beliau merasa diabaikan sebagai wali Sultan. Pangeran Diponegoro menduga itu perbuatan dari sekutu belanda, padahal tidak terbesit sedikit pun di pikiran beliau akan mengkudeta tahta pemerintahan.26

Sang pangeran pun pernah mengajukan permohonan reshuffle kepada residen Belanda, tetapi Smissaert yang saat itu menjabat sebagai residen menolak dan mempertahankan pegawai tinggi sultan yang setia dan taat kepada belanda itu. Patih Danureja IV merupakan orang kepercayaan residen, beliau begitu banyak mendapat wewenang dan melaksanakan Sebagian besar tugas karena Smissaert sering tidak berada di Yogyakarta.27 Residen lebih nyaman berada di Bedoyo, lereng gunung Merapi, ketika hari senin dan kamis tiba beliau baru turun ke Yogyakarta untuk melaksanakan tugas karesidenan.28

25 Ibid. hlm. 68-69

26 Moelyono, Sewindhu Berdirinya Monumen P.Diponegoro “Sasanawiratama”, (Jogjakarta: Perwira Pengawas Monumen P. Diponegoro, 1977), hlm. 10

27 Sagimun M. D, Pahlawan Dipanegara Berdjuang, Bara Api Nan Tak Kunjung Padam, (Jogjakarta: Departemen P. P. & K, 1960), hlm. 70.

28 Peter Carrey, KUASA RAMALAN Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 jilid 2, (Jakarta: Gramedia, 2012), hlm. 616.

(47)

Kecerobohan Smissaert bertambah dengan menolak tanda-tanda, semua gejala menunjukkan bahwa putusnya hubungan Pangeran Diponegoro dengan keraton sudah terjadi pada awal tahun 1824. Dalam kurun waktu dua tahun (1821-1823) dua teman dekat Diponegoro dipecat dari jabatan mereka gara-gara ulah Danurejo IV dan Ratu Ageng. Pastilah dari kejadian-kejadian yang sudah terjadi menimbulkan amarah besar dalam diri Pangeran Diponegoro. Bupati Kerjo dan Bupati Masaran di wilayah Sukowati menjadi korban dari ulah Danurejo IV. Alasan pemecatan yang dilakukan oleh Danurejo IV adalah agar mertuanya, Mas Tumenggung Sosrowirono yang merupakan paman dari Ratu Ageng bisa diangkat sebagai Bupati.29

2. Polemik Patok Jalan

Propaganda sengkuni yang menyulut kemarahan Pangeran Diponegoro bukan hanya itu saja, pada pertengahan tahun 1825 Patih Danureja IV atas perintah residen Belanda menyuruh orang-orang yang berada didalam pasukannya untuk memperbaiki jalan-jalan sekitar Yogyakarta dan pembuatan jalan baru yang satu diantaranya melewati daerah Tegalrejo. Sebuah jalan yang dikonsep oleh Patih Danurejo IV30 dengan maksud agar Pangeran Diponegoro menentang keraton Kasultanan dan untuk memupuk kebencian Pangeran Diponegoro. Tanpa ada komunikasi perizinan bahkan pemeberitahuan kepada Pangeran Diponegoro, patok-patok sudah terpasang. Bukankah hal ini membuktikan bahwa perbuatan itu tidak mencerminkan moral ketimuran dan melanggar adat serta peraturan,31

29 Ibid. hlm. 640-641.

30 Ibid. hlm. 616

31 Ibid. hlm. 616.

(48)

Pangeran Diponegoro yang mengetahui bahwa orang-orang suruhan Patih Danureja IV sudah melakukan pemasangan patok atau pancang. Beliau juga menyuruh orang- orang yang mendukung pergerakannya untuk mencabut patok yang sudah tertanam.

Setiap kali patok atau pancang di cabut oleh pihak Pangeran Diponegoro akan ditanam kembali oleh pihak Patih Danureja IV. Kurangnya ketegasan Smissaert terhadap persoalan pembuatan jalan tersebut, memutuskan untuk penangguhan sementara pembuatan jalan baru.32

Kejadian itu disusul peristiwa penyerahan tanah Rejowinangun oleh Patih Danurejo IV kepada Gubernemen tanpa sepengetahuan Wali Sultan dan Propaganda yang dilakukan Patih Danurejo adalah menghegemoni Residen Smissaert dengan dalih bahwa Pangeran Diponegoro tidak mau menjadi sekutu kompeni dan sudah menyiapkan sebuah pemberontakan. Mengetahui hasil konsolidasi Patih Danurejo IV dengan Smissaert, rakyat Tegalrejo dan sekitarnya mempersiapkan uborampe untuk mempertahankan muruah, mengorbankan harta, jiwa, dan raga.

Suasana semakin tegang dari hari ke hari, politik devide et impera Patih Danurejo IV dirasa berhasil. Mendengar pergerakan yang signifikan di daerah Tegalrejo, Belanda mengutus Pangeran Mangkubumi untuk berunding ke Tegalrejo dan membujuknya agar bersedia datang ke kedhaton.33

32 Moelyono, Sewindhu Berdirinya Monumen P.Diponegoro “Sasanawiratama”, (Jogjakarta: Perwira Pengawas Monumen P. Diponegoro, 1977), hlm. 10-11

33 Ibid. hlm. 12.

(49)

Karena kecintaan rakyat yang sangat besar terhadap Pangeran Diponegoro mereka tidak merelakan kepergian sang Pangeran untuk menghadap residen. Mereka sudah mengendus ada kelicikan dari pihak residen dan sekutu untuk menangkap Pangeran Diponegoro.34

Pangeran Mangkubumi yang bersedia menjadi mediator menggunakan kesempatan itu untuk keluar dan bergabung dengan Pangeran Diponegoro.

Keluarga Pangeran Mangkubumi juga ikut di boyong ke Tegalrejo agar tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan. Sebelum proyektil yang terbumbui oleh mesiu itu melesat dengan bantuan meriam menghujani Tegalrejo, wanita, anak, dan orang yang sudah sepuh diungsikan terlebih dahulu ke Selarong. Tidak kembalinya Pangeran Mangkubumi ke ndalem kedhaton, mendatangkan lagi utusan residen Smissaert untuk memanggil pulang P. Mangkubumi dan memberikan surat kepada P. Diponegoro yang berisi tentang maksud dan tujuan P. Diponegoro. Untuk membalas surat dari residen, P. Diponegoro menyerahkan kepada pamanya, P.

Mangkubumi. Baru lima baris kalimat yang dirangkai untuk membalas surat residen terdengar dentuman senjata tiga kali dari arah timur dan menandakan dimulainya pertempuran.

Sejak tahun 1825 dimulailah api pertempuran antara garnisun Belanda dan laskar Diponegoro. Suatu pertempuran untuk mempertahankan muruah bangsa dari kolonialsme35

34 Ibid. hlm. 13

35 Sagimun M. D, Pahlawan Dipanegara Berdjuang, Bara Api Nan Tak Kunjung Padam, (Jogjakarta: Departemen P. P. & K, 1960), hlm. 73.

(50)

Belanda dan menentang kapitalisme bangsa-bangsa eropa maupun sekutu Belanda, yang didukung oleh rakyat tertindas, pemimpin-pemimpin daerah, dan bangsawan yang sadar terhadap kedzhaliman penindas.36

B. Laskar Diponegoro dan Garnisun Belanda

Garnisun Belanda yang makin lama makin bertambah dan mendesak mundur laskar Diponegoro, membuat Pangeran Diponegoro, Pangeran Mangkubumi dan pasukannya untuk lari dari Tegalrejo. Selarong adalah tujuan dari pelarian dan menjadi pusat dari pergerakan laskar Diponegoro. Babak baru dimulai dengan membayar kontan atas penyerangan secara tiba-tiba di Tegalreja37

1. Kekuatan Laskar Diponegoro

Bara api perjuangan bumi putera semakin membara, dalam Babad Diponegoro disebutkan akan keberanian Laskar Diponegoro, hingga bisa menjebol pagar benteng karesidenan sampai merusak rumah residen bagian belakang. Rumah- rumah didalam kota banyak yang dibakar habis oleh Laskar Diponegoro dari Danurejan, Mangkukusuman, Ketandan, Kauman, hingga Krapyak. Demikian juga rumah-rumah orang belanda dan china juga tidak luput dibumi hanguskan oleh laskar Diponegoro.

Pertempuran semakin hari semakin meluas, Magelang diserang oleh laskar Diponegoro melalui sungai Ello, selain itu juga berusaha merebut Parakan untuk dijadikan pusat operasi yang menghubungkan daerah Pekalongan,38

36 Sagimun M. D, Pahlawan Dipanegara Berdjuang, Bara Api Nan Tak Kunjung Padam, (Jogjakarta: Departemen P. P. & K, 1960), hlm. 73.

37 Ibid. hlm. 21-23.

38 Moelyono, Sewindhu Berdirinya Monumen P. Diponegoro “Sasanawiratama”, (Jogjakarta: Perwira Pengawas Monumen P. Diponegoro, 1977), hlm. 21-23

Referensi

Dokumen terkait