Identifikasi Aktivitas Rantai Pasok Industri Hijab
Pemula Berdasarkan Value Chain Analysis
Meri Prasetyawati (1), Wiwik Sudarwati( (2) (1), (2), (3)Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta
Jl. Cempaka Putih Tengah 27
ABSTRAK
Saat ini pemerintah sedang menggalakkan industri kreatif Indonesia melalui berbagai macam program pengembangan Ekonomi Kreatif hingga 2025. Salah satu industri kreatif yang saat ini sedang trend adalah industri kreatif bidang fesyen terutama fesyen hijab. Hijab saat ini telah diakui menjadi suatu trend mode yang membawa pengaruh positif terhadap meluasnya pasar hijab di Indonesia. Dampak dari meluasnya pasar hijab di Indonesia adalah pertumbuhan industri hijab sangat pesat. Banyak bermunculan industri hijab dalam skala menengah hingga kecil, yang pada akhirnya menimbulkan persaingan antar industri tersebut untuk bisa survive terutama bagi industri hijab pemula. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri hijab pemula ini untuk bisa bertahan dengan menciptakan nilai tambah ekonomi. Untuk dapat menciptakan nilai tambah ekonomi ini perlu dilakukan berbagai cara salah satunya adalah melihat apakah aktivitas yang dilakukan telah memiliki nilai tambah atau bahkan tidak memiliki nilai tambah. Setiap aktivitas akan menimbulkan biaya, maka perlu dikaji masalah aktivitas tersebut. Untuk itu tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi aktivitas dalam rantai pasok industri hijab pemula menggunakan value chain analisis.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu metode penelitian. Metode yang digunakan adalah value chain analysis. Langkah yang dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh aktivitas pada rantai pasok usaha hijab berdasarkan teori dalam value chain. Dimana dalam analisis value chain menurut (Porter, 1980) dapat digunakan sebagai alat analisis stratejik yang digunakan untuk memahami secara lebih baik terhadap keunggulan kompetitif, dimana perusahaan dapat meningkatkan nilai tambah (value added) maupun penurunan biaya sehingga dapat membuat usaha lebih kompetitif
Hasil dari identifikasi yang telah dilakukan terhadap aktivitas pada rantai pasok industri hijab pemula ini adalah industri hijab pemula ini perlu mempertimbangkan peran dari beberapa aktifitas dari proses usaha hijab, adapun yang harus dipertimbangkan adalah aktifitas inbound logistics, operation, outbound logistic, marketing and sales dan service. Dengan mempertimbangkan peran aktifitas rantai nilai pada proses hijab diharapkan dapat meningkatkan efisiensi cost dan meningkatkan daya saing industri hijab pemula
Kata kunci— Aktivitas rantai pasok, industri hijab pemula, value chain analysis
I. PENDAHULUAN
Industri Kreatif Subsektor fesyen/mode adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan kreasi desain pakaian, desain alas kaki, dan desain aksesoris mode lainnya, produksi pakaian mode dan aksesorisnya, konsultansi lini produk fesyen, serta distribusi produk fesyen.(Marie Elka P.2008) Industri kreatif ini sedang digalakkan oleh pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat indonesia. Ada 14 bidang industri kreatif yang akan dikembangkan oleh pemerintah antara lain bidang periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fasyen, film, video dan fotografy, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak,riset dan pengembangan. Berbagai program untuk peningkatan dan pengembangan industri kreatif telah dilaksanakan pemerintah. Kementrian ekonomi kreatif dalam bukunya yang berjudul pengembangan ekonomi kreatif menuju visi ekonomi kreatif indonesia 2025, menguraikan tentang potensi, tantangan serta program kerja pengembangan industri kreatif yang ada di indonesia salah satunya adalah industri kreatif bidang fesyen. Saat ini Persentase
kontribusi PDB kelompok industri kreatif fesyen mendominasi sektor industry kreatif pada tahun 2006 sebesar 44,18% .(Marie Elka P. 2007)
Hijab merupakan salah satu fesyen yang ada di Indonesia. Dalam Islam, hijab merupakan salah satu hukum yang harus ditaati oleh pemeluknya. Hijab berfungsi untuk menutup aurat, bagian-bagian tubuh yang wajib ditutupi dari pandangan orang lain dengan pakaian. Selama Ini hijab identik dengan busana yang menutupi tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki layaknya perempuan-perempuan di Arab dan Afganistan. Hijab menjadi identik dengan kaum fanatik dan puritan karena bentuk yang tidak modis dan berwarna suram. Namun di era yang sudah terbuka dengan informasi, terutama di negara seperti Indonesia, hijab lambat laun berubah. Hijab kini tampil dengan beragam varian bentuk dan warna. Tentu saja mengingat pasar hijab yang sedemikian besar, hijab kini mulai dilirik oleh industri fashion. Menurut data Kementerian Perindustrian, industri fashion muslim di Indonesia meningkat 7% setiap tahunnya.
Selain terbukanya era informasi, industri hijab juga tak lepas dari berkembangnya golongan kelas menengah di Indonesia. Karena golongan kelas menengahlah yang mempunyai pilihan untuk mengikuti mode pakaian. Saat ini, industri hijab mulai dilakoni industri kecil dan menengah (IMK), bahkan dikreasi oleh berbagai desainer pakaian. Banyak bermunculan industri hijab dalam skala menengah hingga kecil, yang pada akhirnya menimbulkan persaingan antar industri tersebut untuk bisa survive terutama bagi industri hijab pemula. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri hijab pemula ini untuk bisa bertahan dengan menciptakan nilai tambah ekonomi.
Ada beberapa penelitian yang membahas tentang industri kreatif bidang fesyen ini diantaranya adalah Strategi Pengembangan industri kreatif sektor fesyen studi kasus distro clothing antara lain (diaas satria, 2011) . Penelitian yang lain dengan judul Model pengembangan industri kecil bidang fesyen. Hasil dari penelitian ini adalah berupa model pengembangan industri kreatif bidang fesyen meliputi 4 (empat) komponen utama yaitu pelatihan, pembiayaan, pendampingan, dan jejaring usaha, lebih memfokuskan pada pembahasan komponen pendidikan dan pendampingan usaha (Muhammad Adam, 2011). Penelitian tersebut dilakukan lebih mengarah pada pengembangan industri kreatif fesyen secara menyeluruh.
Penelitian ini membahas tentang efisiensi yang dapat dilakukan oleh industri kreatif pemula hijab dengan pendekatan value chain analisis. Dimana dalam analisis value chain menurut (Porter, 1980) dapat digunakan sebagai alat analisis stratejik yang digunakan untuk memahami secara lebih baik terhadap keunggulan kompetitif, dimana perusahaan dapat meningkatkan nilai tambah (value added) maupun penurunan biaya sehingga dapat membuat usaha lebih kompetitif.
Analisis value chain ini dilakukan dengan mengidentifikasi aktivitas – aktivitas yang memiliki nilai tambah dan yang tidak memiliki nilai tambah. Eliminasi aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah akan meningkatkan margin perusahaan.
Permasalahan yang dihadapi adalah industri kreatif pemula hijab biasanya melakukan seluruh aktivitas proses produksinya tanpa memikirkan aktivitas yang dilakukannya memberikan nilai tambah atau tidak. Padahal setiap aktivitas yang dilakukan mengandung biaya. Semakin banyak aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar , hal ini mengakibatkan pemborosan. Aktor dari industri kreatif pemula hijab biasanya tidak memikirkan pemborosan yang diakibatkan oleh aktivitas yang tidak bernilai tambah tersebut, karena focus utamanya adalah bagaimana produknya terjual. Untuk itu perlu dirumuskan untuk Bagaimana mengidentifikasi aktivitas pada industri hijab pemula sehingga dapat mengurangi biaya produksi.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi aktivitas yang dilakukan oleh industri hijab pemula.(2) Mengoptimalkan aktivitas yang dilakukan oleh industri hijab pemula sehingga memiliki nilai tambah.
II. METODOLOGI
Dalam Metodologi Penelitian ini akan dijelaskan mengenai langkah – langkah dalam penyelesaian penelitian sesuai dengan diagram alirnya, termasuk juga tentang data yang dibutuhkan, bagaimana memperoleh data tersebut dan hasil dari setiap langkah penyelesaiannya.
A. Pengumpulan Data
Berdasarkan jenis datanya maka data yang dikumpulkan antara lain :
1. Data primer yaitu data yang diperoleh melalui wawancara langsung. Dari jenis data ini diperoleh data antara lain :
a) seluruh aktivitas yang dilakukan oleh industri hijab pemula mulai dari supplier hingga ke buyer.
b) Aliran proses mulai dari supplier hingga ke buyer c) Proses produksi hijab
2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dengan mencari studi literatur dari lembaga atau instansi. Dari jenis data ini diperoleh data tentang industri fashion muslim dll.
B. Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan melalui beberapa langkah yaitu : 1. Pemetaan Value Chain Produk Hijab
Langkah awal dalam menyelesaikan penelitian adalah dengan melakukan pemetaan rantai nilai produk hijab, dimana tujuan dalam pemetaan ini untuk mengetahui aliran input produk dan jasa dalam rantai nilai produk hijab. Didalam pemetaan ini akan dilakukan mulai dari segmen upstream, segmen midstream, dan dilanjutkan pada segmen downstream.
2. Analisis value chain
Langkah dalam menganalisis dengan menggunakan analisis value chain : a. Mengidentifikasi aktifitas value chain
Memisahkan kegiatan atau operasi pada industri hijab pemula menjadi beberapa aktivitas bisnis, dengan cara mengelompokkan aktifitas atas proses tersebut kedalam kategori primer atau pendukung.
b. Menghitung Maturity Level.
Bertujuan untuk mengidentifikasi aktifitas mana yang dilaksanakan sesuai standar, dilaksanakan tetapi tidak sesuai standard dan aktivitas mana yang tidak dilaksanakan.
.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Usaha
TWIN Hijab berdiri tahun 2014 memproduksi berbagai macam hijab. Produk yang telah dihasilkan antara lain : hijab pashmina, hijab segi empat, hijab 2 lobang, hijab 1 lobang dll. Usaha ini dilakukan sebagai home industri karena dilakukan di rumah sendiri. Sampai dengan saat ini TWIN Hijab belum memiliki visi dan misi yang jelas dan tertulis bahkan struktur organisasi pun beli ada. Tetapi TWIN Hijab memiliki motto bahwa memberikan yang terbaik serta pelayanan yang terbaik untuk pelanggan.
Strategi pemasaran yang digunakan dalam usaha industri kreatif pemula TWIN Hijab antara lain : a. Promosi produk Twins Hijab dilakukan dengan dua cara yaitu :1).Langsung menggunakan
alat - alat pemasaran seperti brosur atau katalog sehingga memudahkan calon pembeli memilih produk. Menawarkan produk kepada konsumen misalnya kepada keluarga,teman, atau tetangga. Memanfaatkan komunitas tempat berkumpul. Mendistribusikan ke toko - toko pakaian muslim. Menjalin kerja sama dengan kenalan atau relasi yang berada di daerah atau kota lain.
b. Online menggunakan media promosi melalui facebook, twitter, bbm, Shopee atau sosial media lainnya
Adapun aktivitas proses produksi Twins Hijab antara lain : a. Aktivitas pembelian dan pemilihan bahan b. Aktivitas pembuatan pola
c. Aktivitas pemotongan d. Aktivitas penjahitan e. Aktivitas pengepakan f. Aktivitas distribusi
B. Rantai Pasok Industri Kreatif Pemula Hijab
Rantai pasok industri Hijap Pemula TWINSHIJAB sangat sederhana dimana tidak banyak anggota/orang yang terlibat dalam proses pendistribusian produk hijab mulai dari bahan baku kain diproses menjadi produk hijab hingga didistribusikan sampai ke tangan konsumen. Anggota – anggota yang terlibat ini memiliki peranannya masing – masing dalam rantai pasok produk hijab. Anggota rantai pasok produk hijab tersebut adalah : pedagang kain, proses produksi, penjahitan, dan Perusahaan jasa pengiriman paket kilat (TIKI, JNE).
Pola Aliran ranti pasok industri Hijab pemula TWINSHIJAB secara sistematis dapat dilihat pada gambar 1
Gambar 1. Rantai pasok industri hijab pemula
C. Analisis Rantai Nilai
Rantai nilai adalah model yang digunakan untuk membantu menganalisis aktivitas – aktivitas spesifik yang dapat menciptakan nilai dan keuntungan kompetitif bagi organisasi. Analisis rantai nilai memperhatikan organisasi sebagai sebuah proses yang berkelanjutan dalam kegiatan penciptaan nilai. Analisis dilakukan dengan cara mempelajari potensi penciptaan nilai. Aktivitas dalam rantai nilai terbagi menjadi dua kategori yaitu aktivitas utama dan aktivitas pendukung. Pada aktivitas utama akan dikaji dari sisi pengadaan bahan baku, operasi dan pemasaran. Adapun aktivitas pendukung terdiri dari penyiapan infrastruktur penunjang industri, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan teknologi dan pengadaan. Tahapan rantai nilai pembuatan hijab di TWINS Hijab secara umum terlihan pada gambar berikut
D. E. F.
Gambar 2. Rantai nilai umum proses produksi hijab TWINS Hijab
Berdasarkan data yang diperoleh dari TWINS Hijab, maka bahasan penelitian ini akan dijelaskan bahwa penerapan activity based management system berfokus pada pengelolaan aktivitas secara terpadu dan pada aktivitas system yang bertujuan mengingatkan customer value dan laba. Manajemen berbasis aktivitas berfokus ke aktivitas yaitu serangkaian kegiatan yang membentuk suatu proses untuk pembuatan produk dan penyerahan jasa. Saat ini TWINS Hijab belum menerapkan activity based management system sebagai alat efisiensi biaya produksi. Untuk itu perlu diterapkan system ini untuk lebih bisa meningkatkan laba.
D. Identifikasi Aktifitas
Proses identifikasi, dan evaluasi setiap aktivitas yang dilakukan oleh TWINSHIJAB dalam proses pembelian bahan baku, pembuatan hijab hingga packing dan delivery dilakukan dengan tujuan untuk melakukan peninjauan dan perbaikan secara berkelanjutan terhadap aktivitas yang sudah terjadi dalam proses produksi.
Pedagang Kain Pembuatan HijabProses Distribusi Konsumen
Penyedia Bahan Utama
Proses pembuatan
Hijab Penjualan Konsumen
VC STAGES
Pedagang
Bahan
utama
Persiapan
hingga
pemotongan
Penjahitan
Online
Konsumen
Adapun aktivitas yang terjadi pada TWINSHIJAB dimulai dari pembelian bahan baku, masuk ke proses produksi hingga delivery. Dalam identifikasi aktifitas, setiap aktivitas yang dilakukan dikelompokkan ke dalam 4 Kegiatan yaitu 1. Kegiatan pembelian bahan baku, 2. Kegiatan proses pembuatan hijab 3. Kegiatan inspeksi dan packing dan 4. Kegiatan delivery. Hasil identifikasi aktivitas secara detail disajikan dalam table 1
Tabel 1. Aktivitas dalam proses pembuatan hijab
Kegiatan Ativitas
Pembelian bahan baku Pemilihan bahan
Bertransaksi (pembayaran ) bahan Pembuatan hijab Persiapan alat dan bahan
Membuat desain hijab Membuat pola
Memngukur bahan sesuai pola
Memotong bahan sesuai dengan pola atau ukuran Membawa kain yang telah terpotong ke tukang jahit Mengambil hasil jahitan
Inspeksi dan packing Inspeksi ( pengecekan ) Seluruh jahitan
Memperbaiki hasil jahitan atau memotong kelebihan benang Melipat hijab
Memasukkan ke dalam plastik Delivery dan Promosi Pengemasan sesuai pesanan
Pemberian nama dan alamat
Membawa produk jadi ke TIKI atau JNE Pengiriman oleh TIKI atau JNE
Promosi melalui instagram, facebook, tweeter, dan shopee Sumber : TWINS Hijab
A. Pemetaan Value Chain
Pemetaan dilakukan dengan melihat seluruh aktivitas yang dilakukan industri hijab pemula. Rantai nilai produk merupakan aktifitas yang berawal dari bahan mentah sampai dengan penanganan purna jual. Rantai nilai ini mencakup aktivitas yang terjadi karena hubungan dengan pemasok (Supplier Linkages), dan hubungan dengan konsumen (Consumer Linkages).Ditinjau rantai nilai pengrajin produk hijab di Bintaro tangerang selatan dapat dilihat pada gambar 3
UPSTREAM MIDSTREAM DOWNSTREAM
Aktivitas pembelian bahan : Aktivitas Proses Produksi : Aktivitas penjualan : - Kain
- Benang
- Acessoris hijab misalnya mote - Persiapan - Membuat desain - Membuat Pola - Pengukuran - Pemotongan kain - Menjahit - Penambahan accesoris - Pengecekan - Packing - Promosi instagram - Menerima pesanan - Menyiapkan pesanan - Mengirimkan pesanan
Gambar 3. Rantai Nilai Industri Hijab Pemula di Bintaro Tangerang Selatan
Rantai Nilai
pemasok
Rantai nilai
Dalam Pemetaan value chain terdiri dari tiga segmen utama : 1. Segmen Upstream
Segmen upstream terdiri dari supplier-supplier yang terdiri dari supplier bahan baku utama dan supplier bahan bahu penunjang. Bahan utama Hijab adalah kain dengan berbagai jenis kain yang cocok untuk hijab diantaranya kain dengan jenis royal fine, maxmara, katun silky, katun crepe, katun wolfis dll.
2. Segmen Midstream
Segmen midstream terdiri merupakan produsen dalam aktifitas value chain. Dalam segmen ini terdapat proses-proses penambahan nilai yaitu proses yang persiapan, membuat pola, pemotongan, menjahit, dan finishing.
3. Segmen Downstream
Segmen downstream merupakan keseluruhan kegiatan yang melibatkan pengiriman produk kepada konsumen akhir. Kegiatan utama dalam distribusi produk hijab.
Sedangkan untuk melihat aktivitas tersebut secara detail yang terbagi ke dalam aktivitas utama dan aktivitas pendukung, keseluruhan aktivitas tersebut dapat didistribusikan sebagai berikut :
Tabel 2. Identifikasi aktivitas berdasarkan value chain Jenis
Aktivitas
Kelompok Aktivitas
Aktivitas yang ada di IHP Bintaro
Aktivitas Primer
Inbound Logistic - Perencanaan kebutuhan bahan yang akan dibeli
- Transportasi Pengiriman bahan baku kain ke TWINS Hijab Operation - Persiapan
- Membuat desain - Membuat Pola - Pengukuran - Pemotongan kain
- Transportasi pengiriman kain yang telah dipotong dan terpola ke penjahit
- Transportasi pengambilan hasil jahitan hijab - Pengecekan hasil jahitan
- Pengemasan Outbound Logistic - Menerima pesanan
- Menyiapkan pesanan - Mengirimkan pesanan Pemasaran dan
penjualan
- Promosi instagram, shopee (update konten) - Penetapan harga
- Pemilihan agen distribusi Pelayanan (Services) - Komitmen kualitas produk
- Penyesuaian produk
Aktivitas Pendukung
Procurement - Perencanaan kebutuhan bahan yang akan dibeli - Pembelian bahan baku
- Pemilihan bahan utama dan pendukung Technology
Development Human Resource Management
- Kompensasi Untuk semua jenis personel
Firm Infrastruceture - Manajemen Umum
B. Model Aktivitas Value Chain TWINS Hijab
Keseluruhan aktivitas yang telah teridentifikasi tersebut digambarkan dalam suatu model value chain analisis.
M A R G I N M A R G I N
Gambar 4. Model rantai nilai actual TWINS Hijab
C. Analisis Value Chain
Aktivitas tersebut diatas dapat dijabarkan lagi secara detail dalam 2 kategori yaitu Aktivitas Primer dan Aktivitas Pendukung. Berdasarkan hasil identifikasi maka diperoleh aktivitas yang mendukung aktivitas primer dan aktivitas yang mendukung aktivitas pendukung.
Berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi dalam tinjauan literature, maka dapat dibuat suatu matriks penilaian dengan menggunakan pendekatan maturity model untuk melaksanakan value chain analysis. Dalam penelitian ini, kelima level maturity level adalah sebagai berikut: (1) skor 0 jika tidak ada aktivitas, (2) skor 1 – undefined – telah ada proses, namun masih apa adanya, tidak terdokumentasi dan tidak standar, (3) skor 2 – defined – proses telah dilakukan secara berulang, (4) skor 3 – manageable – proses telah terstandar dan konsisten serta terukur, (5) skor 4 – collaborative – proses telah terkolaborasi dengan supplier dan customer, (5) skor 5 – leading - proses telah terkolaborasi dengan supplier dan customer telah dievaluasi secara periodik untuk pengembangan.
Hasil identifikasi adalah sebagai berikut :
Tabel 4. Identifikasi Aktivitas dan Maturity level dalam Analisis Value Chain Jenis
Aktivitas
Kelompok Aktivitas
Aktivitas yang ada di IHP Bintaro MODUS Inbound Logistic - Perencanaan kebutuhan bahan yang akan dibeli 1
- Transportasi Pengiriman bahan baku kain ke TWINS Hijab 2 Operation - Persiapan 3 - Membuat desain 2 - Membuat Pola 2 - Pengukuran 3 - Pemotongan kain 3
- Transportasi pengiriman kain yang telah dipotong dan terpola ke penjahit
2 Infrastruktur perusahaan :
Manajemen Umum
Manajemen Sumber daya manusia : Perekrutan , pemberian kompensasi pada pegawai
Pengembangan teknologi : Pengadaan :
Pembelian bahan baku, pemilihan bahan baku Logistik Ke dalam : - Perencanaan kebutuhan bahan - Transportasi pembelian bahan - Operasi : -persiapan -membuat desain - membuat pola - pengukuran - pemotongan - transportasi pengiriman dan pengmbilan jahitan - peemeriksaan - pengemasan Logistik keluar : -menerima pesanan - menyiapkan pesanan -mengirimkan pesanan Pemasaran & penjualan : - Promosi - Penetapan harga - Penentuan agen distribusi Pelayanan : - Komitmen kualitas - Penyesuaian produk
Aktivitas Primer
- Transportasi pengambilan hasil jahitan hijab 2
- Pengecekan hasil jahitan 3
- Pengemasan 3
Outbound Logistic - Menerima pesanan 3
- Menyiapkan pesanan 3
- Mengirimkan pesanan 3
Pemasaran dan penjualan
- Promosi instagram, shopee (update konten) 3
- Penetapan harga 2
- Pemilihan agen distribusi 1
Pelayanan (Services)
- Komitmen kualitas produk 1
- Penyesuaian produk 2
Aktivitas Pendukung
Procurement - Perencanaan kebutuhan bahan yang akan dibeli - Pembelian bahan baku
- Pemilihan bahan utama dan pendukung
2 3 3 Technology Development Human Resource Management
- Kompensasi Untuk semua jenis personel
2
Firm
Infrastruceture
- Manajemen Umum 1
Berdasarkan hasil identifikasi aktivitas yang dilakukan oleh industri hijab pemula tersebut dapat dilihat, bahwa dalam aktivitas value chain, terdapat aktivitas yang belum dilaksanakan oleh industri hijab pemula, yaitu: aktivitas technologi Development. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang paling rendah tingkat maturitynya memiliki nilai rendah (skor 1) diantaranya:
1. Perencanaan kebutuhan bahan yang akan dibeli, Aktivitas ini dinilai rendah karena dalam hal perencanaan kebutuhan bahan yang akan dibeli pemilik TWINS Hijab hanya merencanakan kebutuhan tersebut pada saat akan pergi ke pasar mayestik untuk membeli bahan baku yang habis dan dilihat juga atas dasar perkiraan jumlah permintaan. Perencanaan tersebut tidak terdokumentasi dan kebutuhan tidak dihitung detail.
2. Pemilihan agen distribusi, Aktivitas pemilihan agen distribusi ini termasuk kategori nilai maturity rendah. Pada dasarnya dalam pemilihan agen distribusi , TWINS Hijab tidak memiliki kriteria khusus . sehingga tidak ada pemilihan agen distribusi secara spesifik. Tidak ada dokumentasi dalam pemilihan agen.
IV. PENUTUP
Berdasarkan hasil identifikasi diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil identifikasi menyebutkan bahwa industri hijab pemula telah melakukan aktivitas primer diantaranya inbound logistic, operation, Outbound Logistic, Pemasaran dan penjualan, services dan aktivitas pendukung meliputi procurement, technology development, Human resources management, firm infrastructure. Dimana dari kelompok aktivitas tersebut ada kelompok yang secara rata – rata menjalankan aktivitas secara berulang dan sesuai standar yaitu inbound logistic, outbound logistic, pemasaran dan penjualan. Dan ada pula yang secara rata – rata tidak menjalankan aktivitas yaitu human resources management.
2. Aktivitas yang masih memiliki nilai level maturity rendah bisa dioptimalkan dengan cara melakukan perencanaan pengembangan industri hijab pemula sehingga atas dasar perencanaan tersebut bisa dioptimalkan seluruh aktivitasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Harsono Budi (2014), Tiap orang Bisa Menjadi Pengusaha Sukses melalui UMKM, PT. Gramedia Jakarta Jerusalem Muhammad Adam ( 2011) , “Model pengembangan industri kecil bidang fesyen “, Prosiding
Seminar Nasional TIK, UNESA
Porter Michael E. (1993), “Competitive Advantage”, The Value Chain and competitive advantage, hlm. 33-59, New York: The Free Press.
Pangestu Marie Elka (2007), studi industri kreatif Indonesia 2007, Jakarta, Departemen Perdagangan RI Pangestu Marie Elka (2008), Pengembangan Industri kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025,
Jakarta, Departemen Perdagangan RI
Pujawan I Nyoman (2010), Supply Chain Management, ITS Surabaya, Gunawidya
Suhartini; Evi Yuliawati 2014, “Analisis Value Chain Untuk Peningkatan Daya Saing Produk Batik”, Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI A-18-1, Indonesia: Program Studi MMT-ITS Satria Dias (2011), strategi pengembangan industri kreatif untuk meningkatkan daya saing pelaku ekonomi